Mengenai kedatangan Tuhan kembali, Alkitab dengan jelas berkata, "Tetapi mengenai hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, tidak juga malaikat di surga, maupun Anak, hanya Bapa-Ku yang di surga yang tahu" (Matius 24:36). Tak seorang pun tahu kapan Tuhan akan datang, tetapi Gereja Tuhan Yang Mahakuasa bersaksi bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali. Bagaimana engkau mengetahui hal ini?

16 November 2020

Ayat Alkitab untuk Referensi:

"Dan pada tengah malam terdengar teriakan, 'Lihat, mempelai laki-laki datang; keluarlah menyambutnya'" (Matius 25:6).

"Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku" (Wahyu 3:20).

"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku" (Yohanes 10:27).

Firman Tuhan yang Relevan:

Berhubung kita sedang mencari jejak langkah Tuhan, itu mengharuskan kita untuk mencari kehendak Tuhan, firman Tuhan, dan perkataan Tuhan—karena, di mana pun ada firman baru yang diucapkan Tuhan, suara Tuhan ada di sana, dan di mana pun ada jejak langkah Tuhan, perbuatan Tuhan ada di sana. Di mana pun ada pengungkapan Tuhan, di sanalah Tuhan menampakkan diri, dan di mana pun Tuhan menampakkan diri, di sanalah jalan, kebenaran, dan hidup ada. Dalam mencari jejak langkah Tuhan, engkau semua telah mengabaikan firman yang mengatakan bahwa "Tuhan adalah jalan, kebenaran, dan hidup". Itulah sebabnya, banyak orang, bahkan pada saat mereka menerima kebenaran, tidak percaya bahwa mereka telah menemukan jejak langkah Tuhan, apalagi mengakui penampakan Tuhan. Sungguh kesalahan yang sangat fatal! Penampakan Tuhan tidak dapat diselaraskan dengan gagasan manusia, terlebih lagi, Tuhan tidak dapat menampakkan diri atas permintaan manusia. Tuhan membuat pilihan-pilihan-Nya sendiri dan rencana-rencana-Nya sendiri saat Dia melakukan pekerjaan-Nya; lagipula, Dia memiliki tujuan-tujuan dan cara-cara-Nya sendiri. Apa pun pekerjaan yang dilakukan-Nya, Dia tidak perlu membahasnya dengan manusia atau meminta nasihat manusia, apalagi memberi tahu setiap orang mengenai pekerjaan-Nya. Inilah watak Tuhan, yang harus, terlebih lagi, dikenali oleh semua orang. Jika engkau ingin menyaksikan penampakan Tuhan, ingin mengikuti jejak langkah Tuhan, maka engkau harus terlebih dahulu meninggalkan gagasanmu sendiri. Engkau tidak boleh menuntut Tuhan melakukan ini atau itu, apalagi menempatkan-Nya dalam batas-batasmu sendiri dan membatasi-Nya dengan gagasanmu sendiri. Sebaliknya, engkau seharusnya menuntut dirimu sendiri tentang bagaimana engkau harus mencari jejak langkah Tuhan, bagaimana engkau harus menerima penampakan Tuhan, dan bagaimana engkau harus tunduk pada pekerjaan baru Tuhan: inilah yang seharusnya manusia lakukan. Karena manusia bukanlah kebenaran, dan tidak memiliki kebenaran, manusia harus mencari, menerima, dan taat.

Dikutip dari "Penampakan Tuhan Telah Mengantarkan Zaman yang Baru" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Saat ini, Tuhan telah melakukan pekerjaan baru. Engkau mungkin tidak dapat menerima firman ini, dan mungkin firman ini tampak aneh bagimu, tetapi Kusarankan kepadamu untuk tidak menyingkapkan kepolosanmu, karena hanya orang yang benar-benar lapar dan haus akan kebenaran di hadapan Tuhan yang dapat memperoleh kebenaran, dan hanya mereka yang benar-benar saleh yang bisa dicerahi dan dibimbing oleh-Nya. Hasil-hasil diperoleh lewat mencari kebenaran dengan ketenangan hati, bukan dengan pertengkaran dan perbantahan. Ketika Aku mengatakan bahwa "Saat ini, Tuhan telah melakukan pekerjaan baru", yang Kumaksudkan adalah kedatangan Tuhan kembali menjadi daging. Mungkin perkataan ini tidak mengganggumu; mungkin engkau membencinya; atau bahkan perkataan itu mungkin sangat menarik bagimu. Apa pun itu, Kuharap semua orang yang benar-benar merindukan penampakan Tuhan bisa menerima kenyataan ini dan memeriksanya dengan saksama, daripada langsung mengambil kesimpulan tentang hal ini; itulah yang seharusnya dilakukan orang bijak.

Menyelidiki hal semacam ini tidaklah sulit, tetapi itu menuntut setiap kita untuk mengetahui satu kebenaran ini: Dia yang adalah Tuhan yang berinkarnasi akan memiliki esensi Tuhan, dan Dia yang adalah Tuhan yang berinkarnasi akan memiliki pengungkapan Tuhan. Karena Tuhan menjadi daging, Dia akan melaksanakan pekerjaan yang ingin Dia lakukan, dan karena Tuhan menjadi daging, Dia akan mengungkapkan siapa Dia, dan akan dapat membawa kebenaran kepada manusia, menganugerahkan hidup kepadanya, dan menunjukkan jalan kepadanya. Daging yang tidak memiliki esensi Tuhan pasti bukan Tuhan yang berinkarnasi; ini tidak diragukan lagi. Jika manusia berniat untuk menyelidiki apakah daging itu adalah daging inkarnasi Tuhan, manusia harus menegaskannya dari watak yang Dia ungkapkan dan perkataan yang Dia ucapkan. Dengan kata lain, untuk menegaskan apakah itu adalah daging inkarnasi Tuhan atau bukan, dan apakah itu jalan yang benar atau bukan, orang harus membedakan berdasarkan esensi-Nya. Jadi, untuk menentukan apakah itu daging Tuhan yang berinkarnasi atau bukan, kuncinya terletak pada esensi-Nya (pekerjaan-Nya, perkataan-Nya, watak-Nya, dan banyak aspek lainnya), bukan pada penampilan lahiriahnya. Jika manusia hanya mengamati penampilan lahiriah-Nya, dan sebagai akibatnya mengabaikan esensi-Nya, ini menunjukkan bahwa manusia itu bodoh dan tidak tahu apa-apa.

Dikutip dari "Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Tuhan diam, dan tidak pernah menampakkan diri kepada kita, tetapi pekerjaan-Nya tidak pernah berhenti. Dia memeriksa seluruh bumi, dan menguasai segala sesuatu, dan melihat semua perkataan serta perbuatan manusia. Dia menjalankan pengelolaan-Nya dalam langkah-langkah yang terukur dan sesuai dengan rencana-Nya, secara diam-diam dan tanpa efek dramatis, tetapi langkah langkah-Nya maju, selangkah demi selangkah, semakin mendekat kepada umat manusia, dan takhta pengadilan-Nya ditempatkan di alam semesta dalam kecepatan cahaya, di mana setelah itu takhta-Nya segera turun ke tengah-tengah kita. Betapa megahnya pemandangan itu, sungguh pemandangan yang mulia dan menakjubkan! Seperti burung merpati, dan seperti singa yang mengaum, Roh datang ke tengah-tengah kita. Dialah hikmat, Dialah kebenaran dan kemegahan, dan Dia datang secara diam-diam ke tengah-tengah kita, memegang otoritas, serta dipenuhi dengan kasih dan belas kasihan. Tak seorang pun yang menyadari kedatangan-Nya, tak seorang pun yang menyambut kedatangan-Nya, dan, bahkan, tak seorang pun yang mengetahui segala sesuatu yang akan dilakukan-Nya. Kehidupan manusia berlanjut seperti sebelumnya, hatinya pun sama, dan hari-hari berlalu seperti biasa. Tuhan hidup di antara kita, seorang manusia sama seperti manusia lainnya, sebagai salah seorang pengikut yang paling tidak penting dan orang percaya biasa. Dia memiliki pengejaran-Nya sendiri, tujuan-Nya sendiri; dan lebih dari itu, Dia memiliki keilahian yang tidak dimiliki manusia biasa. Tak seorang pun yang telah memperhatikan keberadaan keilahian-Nya, dan tak seorang pun yang telah mengetahui perbedaan antara esensi-Nya dan esensi manusia biasa. Kita hidup bersama-Nya, tanpa dibatasi dan tidak takut, karena di mata kita, Dia hanyalah orang percaya yang tidak penting. Dia mengawasi setiap gerakan kita, dan semua pikiran dan ide kita terbuka di hadapan-Nya. Tak seorang pun yang tertarik dengan keberadaan-Nya, tak seorang pun yang membayangkan apa pun tentang fungsi-Nya, dan, bahkan, tak seorang pun yang memiliki kecurigaan sedikit pun tentang identitas-Nya. Satu-satunya yang kita lakukan hanyalah melanjutkan pengejaran kita seolah-olah Dia tidak ada hubungannya dengan kita ...

Secara kebetulan, Roh Kudus mengungkapkan sebuah bagian firman "melalui" Dia, dan walaupun rasanya sangat tidak terduga, kita tetap mengenalinya sebagai perkataan yang berasal dari Tuhan dan siap menerimanya dari Tuhan. Hal itu karena, terlepas dari siapa yang mengungkapkan firman ini, asalkan sumbernya dari Roh Kudus, kita harus menerimanya dan tidak boleh menyangkalnya. Perkataan berikutnya bisa jadi melalui aku, atau melalui engkau, atau melalui orang lain. Siapa pun itu, semuanya adalah kasih karunia Tuhan. Namun, siapa pun orangnya, kita tidak boleh menyembah orang ini, karena bagaimanapun juga, orang ini tidak mungkin adalah Tuhan, dan kita juga tidak akan memilih orang biasa seperti ini untuk menjadi Tuhan kita. Tuhan kita begitu besar dan terhormat; bagaimana orang yang begitu tidak berarti bisa menggantikan kedudukan-Nya? Terlebih lagi, kita sedang menantikan Tuhan untuk datang dan membawa kita kembali ke kerajaan surga, jadi bagaimana mungkin orang yang begitu tidak berarti mampu memenuhi tugas yang begitu penting dan berat ini? Jika Tuhan datang kembali, itu pastilah di atas awan putih, sehingga semua orang banyak dapat melihatnya. Betapa mulianya saat itu! Bagaimana mungkin Dia bisa bersembunyi dengan diam-diam di antara sekelompok orang biasa?

Namun orang biasa inilah, yang tersembunyi di tengah orang banyak, yang melakukan pekerjaan baru untuk menyelamatkan kita. Dia tidak memberi kita penjelasan apa pun, ataupun memberitahukan kepada kita alasan Dia telah datang, tetapi hanya melakukan pekerjaan yang ingin Dia lakukan dengan langkah-langkah yang terukur dan sesuai dengan rencana-Nya. Firman dan perkataan-Nya menjadi semakin sering diucapkan. Dari menghibur, menasihati, mengingatkan, dan memperingatkan, hingga menegur dan mendisiplinkan; dari yang bernada lembut dan lunak, hingga firman yang dahsyat dan megah—semua itu menganugerahkan belas kasihan kepada manusia dan menanamkan perasaan gentar dalam dirinya. Segala sesuatu yang Dia katakan tepat sasaran menyentuh rahasia terdalam yang kita sembunyikan di lubuk hati kita; firman-Nya menyengat hati, menyengat roh kita, dan membuat kita dipenuhi dengan rasa malu yang tak tertahankan, nyaris tak tahu ke mana harus menyembunyikan diri. Kita mulai bertanya-tanya apakah Tuhan dalam hati orang ini sungguh-sungguh mengasihi kita atau tidak dan apa sebenarnya yang direncanakan-Nya. Mungkinkah kita hanya bisa diangkat setelah menanggung berbagai penderitaan ini? Di otak kita, kita sedang memikirkan ... tentang tempat tujuan di kemudian hari dan nasib kita di masa depan. Namun, seperti sebelumnya, tak seorang pun di antara kita yang percaya bahwa Tuhan telah menjadi daging untuk bekerja di tengah-tengah kita. Walaupun Dia sudah menemani kita begitu lama, walaupun Dia sudah mengucapkan banyak firman berhadapan muka dengan kita, kita masih tetap tidak mau menerima seseorang yang begitu biasa sebagai Tuhan masa depan kita, apalagi memercayakan kendali atas masa depan dan nasib kita kepada orang yang begitu tidak berarti ini. Dari Dia kita menikmati persediaan air hidup tanpa akhir, dan melalui Dia, kita hidup berhadapan muka dengan Tuhan. Namun kita hanya bersyukur atas kasih karunia Tuhan Yesus di surga, dan tidak pernah memedulikan perasaan orang biasa yang memiliki keilahian ini. Namun, seperti sebelumnya, Dia melakukan pekerjaan-Nya, dengan rendah hati tersembunyi dalam daging, menyatakan ungkapan hati-Nya yang terdalam, seolah-olah tidak dapat merasakan penolakan umat manusia terhadap-Nya, seakan-akan selamanya mengampuni sifat kekanak-kanakan dan kebodohan manusia, dan selamanya toleran terhadap sikap tidak hormat manusia terhadap-Nya.

Tanpa kita sadari, manusia yang tidak berarti ini telah memimpin kita selangkah demi selangkah dalam pekerjaan Tuhan. Kita menjalani banyak ujian, menanggung hajaran yang tak terhitung banyaknya, dan diuji oleh kematian. Kita belajar tentang watak Tuhan yang benar dan megah, juga menikmati kasih dan belas kasihan-Nya, jadi menghargai kuasa Tuhan yang besar dan hikmat-Nya, menyaksikan keindahan Tuhan, dan melihat kerinduan Tuhan yang menggebu-gebu untuk menyelamatkan manusia. Dalam perkataan-perkataan orang biasa ini, kita jadi mengenal watak dan esensi Tuhan, memahami kehendak Tuhan, mengenal natur esensi manusia, dan melihat jalan menuju penyelamatan dan penyempurnaan. Firman-Nya membuat kita "mati", dan membuat kita "dilahirkan kembali"; firman-Nya membawa penghiburan bagi kita, tetapi juga membuat kita merasa bersalah dan merasa berutang; firman-Nya membawa sukacita dan damai sejahtera bagi kita, tetapi juga membawa rasa sakit tak terhingga. Terkadang kita seperti domba menuju pembantaian di tangan-Nya; terkadang, kita seperti biji mata-Nya, dan menikmati kasih-Nya yang lembut; terkadang, kita seperti musuh-Nya, dan di bawah tatapan mata-Nya diubah menjadi abu oleh murka-Nya. Kita adalah umat manusia yang diselamatkan oleh-Nya, kita adalah belatung di mata-Nya dan kita adalah domba terhilang yang siang dan malam ingin Dia temukan. Dia berbelas kasihan kepada kita, Dia membenci kita, Dia membangkitkan kita, Dia menghibur dan menasihati kita, Dia membimbing dan menerangi kita, Dia menghajar dan mendisiplinkan kita, dan Dia bahkan mengutuk kita. Siang dan malam, Dia tak pernah berhenti mengkhawatirkan kita, melindungi dan memelihara kita, siang dan malam, tidak pernah meninggalkan kita, melainkan mencurahkan segenap upaya-Nya demi kita, dan rela membayar harga apa pun untuk kita. Dalam perkataan tubuh daging yang kecil dan biasa ini, kita telah menikmati keseluruhan Tuhan dan melihat tempat tujuan yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Meskipun demikian, kesombongan masih menimbulkan masalah di dalam hati kita, dan kita tetap tidak mau secara aktif menerima orang seperti ini sebagai Tuhan kita. Walaupun Dia sudah memberi kita begitu banyak manna, begitu banyak hal untuk dinikmati, tak satu pun dari hal ini yang bisa mengambil kedudukan Tuhan di hati kita. Kita menghargai identitas dan status istimewa orang ini hanya dengan sangat enggan. Asalkan Dia tidak membuka mulut-Nya untuk menyuruh kita mengakui-Nya sebagai Tuhan, kita tidak akan pernah mau mengambil inisiatif untuk mengakui-Nya sebagai Tuhan yang segera akan datang tetapi yang sudah lama bekerja di tengah-tengah kita.

Tuhan melanjutkan perkataan-Nya, menggunakan berbagai metode dan sudut pandang untuk memperingatkan kita tentang apa yang harus kita lakukan dan sekaligus menyuarakan isi hati-Nya. Firman-Nya mengandung kekuatan hidup, menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh, dan memungkinkan kita memahami arti kebenaran. Kita mulai ditarik oleh firman-Nya, kita mulai berfokus pada nada dan cara bicara-Nya, dan tanpa sadar kita mulai tertarik dengan perasaan terdalam dari orang yang biasa-biasa saja ini. Dia mencurahkan segenap upaya-Nya untuk bekerja demi kita, kurang tidur dan kehilangan nafsu makan demi kita, menangis untuk kita, mendesah untuk kita, merintih karena penyakit kita, menderita penghinaan demi tempat tujuan dan keselamatan kita, dan keadaan kita yang mati rasa serta pemberontakan kita memeras air mata dan darah dari hati-Nya. Kondisi keberadaan hidup dan rasa memiliki semacam ini tidak dimiliki oleh manusia biasa, ataupun dimiliki atau diperoleh oleh manusia rusak mana pun. Dia menunjukkan toleransi dan kesabaran yang tidak dimiliki orang biasa, dan kasih-Nya bukanlah sesuatu yang telah dianugerahkan kepada makhluk ciptaan mana pun. Tak seorang pun selain Dia yang bisa mengetahui seluruh pikiran kita, atau memiliki pemahaman yang jelas dan lengkap tentang natur dan esensi kita, atau menghakimi pemberontakan dan kerusakan umat manusia, atau berbicara kepada kita dan bekerja dalam diri kita seperti ini atas nama Tuhan di surga. Tak seorang pun selain Dia yang dikaruniai dengan otoritas, hikmat, dan kewibawaan Tuhan; watak Tuhan serta apa yang dimiliki-Nya dan siapa Dia dinyatakan dalam seluruh keberadaannya, di dalam diri-Nya. Tak seorang pun selain Dia yang bisa menunjukkan jalan dan membawa terang kepada kita. Tak seorang pun selain Dia yang mampu mengungkapkan misteri yang belum Tuhan bukakan sejak penciptaan sampai sekarang. Tak seorang pun selain Dia yang mampu menyelamatkan kita dari perbudakan Iblis dan watak kita sendiri yang rusak. Dia mewakili Tuhan. Dia mengungkapkan isi hati Tuhan yang terdalam, nasihat Tuhan, dan firman penghakiman Tuhan terhadap seluruh umat manusia. Dia telah memulai zaman yang baru, era baru, dan mengantarkan datangnya langit yang baru dan bumi yang baru, serta pekerjaan yang baru, dan Dia telah memberi kita harapan, mengakhiri kehidupan yang kita jalani dalam ketidakjelasan dan memungkinkan seluruh keberadaan kita untuk melihat jalan menuju penyelamatan dengan kejelasan penuh. Dia telah menaklukkan seluruh keberadaan kita dan mendapatkan hati kita. Sejak saat itu dan seterusnya, pikiran kita telah menjadi sadar, dan roh kita tampak dihidupkan kembali: orang biasa yang tidak berarti ini, yang hidup di antara kita dan sudah lama ditolak oleh kita—bukankah ini adalah Tuhan Yesus, yang selalu ada dalam pikiran kita, dalam keadaan terjaga atau dalam keadaan bermimpi, dan yang selalu kita rindukan siang dan malam? Itulah Dia! Itu benar-benar Dia! Dialah Tuhan kita! Dialah jalan, kebenaran, dan hidup! Dia telah memungkinkan kita hidup kembali dan melihat terang dan menghentikan hati kita dari pengembaraan. Kita telah kembali ke rumah Tuhan, kita telah kembali ke hadapan takhta-Nya, kita berhadapan muka dengan-Nya, kita telah melihat wajah-Nya, dan kita telah melihat jalan yang terbentang di depan. Saat ini, hati kita sepenuhnya ditaklukkan oleh-Nya; kita tidak lagi meragukan siapa Dia, tidak lagi menentang pekerjaan dan firman-Nya, dan kita jatuh tersungkur di hadapan-Nya. Kita hanya berharap untuk mengikuti jejak langkah Tuhan sepanjang sisa hidup kita, dan disempurnakan oleh-Nya, dan membalas kasih karunia-Nya, dan membalas kasih-Nya bagi kita, dan menaati pengaturan dan rencana-Nya dan bekerja sama dengan pekerjaan-Nya, serta melakukan semua yang kita bisa untuk menyelesaikan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita.

Dikutip dari "Memandang Penampakan Tuhan dalam Penghakiman dan Hajaran-Nya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Pada tahun 2021 bencana semakin parah, apakah Anda ingin menemukan cara untuk dilindungi oleh Tuhan dan memasuki bahtera akhir zaman? Silakan hubungi kami sekarang.

Hubungi kami via WhatsApp