Bangkit Dari Penindasan Kejam

15 Oktober 2019

Oleh Mo Zhijian, Provinsi Guangdong

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Di banyak tempat, Tuhan telah bernubuat untuk mendapatkan sekelompok pemenang di tanah Sinim. Berhubung di belahan timur dunialah para pemenang harus didapatkan, jadi tempat Tuhan menginjakkan kaki dalam inkarnasi-Nya yang kedua tanpa ragu adalah tanah Sinim, tepat di mana naga merah yang sangat besar bergelung. Di sana Tuhan akan mendapatkan keturunan naga merah yang sangat besar sehingga ia akan dikalahkan dan dipermalukan sepenuhnya. Tuhan ingin membangkitkan orang-orang yang menderita lama sekali, membangunkan mereka sepenuhnya, dan membuat mereka berjalan keluar dari kabut dan menolak si naga merah yang sangat besar. Tuhan ingin membangunkan mereka dari mimpinya, membuat mereka tahu hakikat si naga merah yang sangat besar, memberikan hati mereka sepenuhnya kepada Tuhan, bangkit dari tekanan kekuatan kegelapan, berdiri di Timur dunia, dan menjadi bukti bagi kemenangan Tuhan. Hanya pada saat itulah Tuhan mendapatkan kemuliaan" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (6)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku ingin berbagi sesuatu yang berhubungan dengan Firman Tuhan ini.

Pada 28 November 2002, aku sedang mengkhotbahkan Injil bersama yang lain kepada seorang pemimpin gereja Kristen, ketika sekitar selusin polisi menyerbu ke dalam ruangan. Sebagian membawa pistol, sebagian membawa tongkat pemukul, dan mereka berseru agar kami meletakkan tangan di kepala dan menghadap ke dinding. Mereka menggeledah kami semua dan mengambil lebih dari 5.000 Yuan beserta barang-barang lainnya. Dua saudari yang lebih muda pun ketakutan, jadi aku berbisik kepada mereka, "Jangan takut. Tak apa-apa. Kita hanya perlu percaya kepada Tuhan." Beberapa petugas langsung berlari ke arahku dan memukuliku dengan tongkat mereka. Mereka benar-benar menghancurkan semuanya, seisi tempat itu. Seorang saudari bersembunyi di ruangan lain, satu petugas menerobos masuk dan menariknya keluar dengan kasar. Yang lain memperhatikan bahwa dia sangat cantik dan mulai merabanya. Dia tak bisa melawannya dan hanya bisa berteriak. Untunglah, pemilik tempat menghentikan mereka kemudian mereka meninggalkannya. Perlakuan polisi yang menjijikkan membuatku sangat marah. Lalu mereka masukkan kami semua ke dalam van dan membawa kami ke kantor polisi di mana mereka memborgol dan meninggalkan kami di lorong selama dua hari tanpa makanan atau minuman. Kemudian mereka mencoba mengorek informasi tentang gereja dari seorang saudara. Ketika dia tak mau bicara, mereka menekannya ke lantai dan memasukkan kotoran anjing ke mulutnya. Hal itu melebihi batas kemampuannya. Melihatnya disiksa, membuatku sangat marah. Polisi memang iblis, bukan manusia! Diam-diam aku ucapkan doa kepada Tuhan meminta-Nya untuk membimbing kami menjadi saksi dan bertahan melewati siksaan Iblis dan untuk tetap teguh.

Kami habiskan malam ketiga dengan diinterogasi di Biro Kepolisian Wilayah, satu per satu. Wakil pimpinan biro tersebut mencoba merayuku, "Katakan siapa pemimpin gereja kalian dan di mana gereja menyimpan semua uangnya maka kau bisa pulang. Keluargamu ingin kau pulang dengan selamat. Jika bukan demi dirimu sendiri, maka lakukanlah demi mereka." Hatiku sedikit tergoda. Aku berpikir, "Jika kuberi tahu beberapa hal tak penting pada mereka, mungkin mereka akan melepaskanku. Aku tak perlu menderita lagi. Aku bisa kembali ke rumah dan menjaga keluargaku." Saat itu juga aku teringat Firman Tuhan: "Terhadap mereka yang tidak menunjukkan kepada-Ku sedikit pun kesetiaan selama masa-masa kesukaran, Aku tidak akan lagi berbelas kasihan, karena belas kasihan-Ku hanya sampai sejauh ini. Lagipula, Aku tidak suka siapa pun yang pernah mengkhianati Aku, terlebih lagi, Aku tidak suka bergaul dengan mereka yang mengkhianati kepentingan teman-temannya. Inilah watak-Ku, terlepas dari siapa pun orangnya" (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Aku kembali tersadar. Bukankah aku baru saja berpikir untuk mengkhianati Tuhan? Aku sadar telah jatuh ke dalam jebakan Iblis. Jika aku mengkhawatirkan tentang diriku, keluargaku, mencari kenyamanan, dan menjadi seperti Yudas, mengkhianati Tuhan dan saudara-saudariku, itu hanya akan membuat Tuhan benci dan menyinggung watak-Nya. Aku berdoa kepada Tuhan, "Meskipun mereka membuatku cacat atau membunuhku, aku takkan mengkhianati-Mu atau menjadi seperti Yudas." Melihat aksi "polisi baik" mereka gagal, polisi menunjukkan bahwa dalam diri mereka semua adalah Iblis. Seorang petugas menginjak ibu jari kakiku dengan hak sepatunya lalu menekannya sekuat tenaga. Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa dan hanya bisa berteriak. Pakaianku basah dengan keringat. Aku terus berdoa kepada Tuhan agar membantuku melewati rasa sakitku, meminta-Nya untuk melindungi hatiku, memberiku iman dan kekuatan agar tak menyerah kepada Iblis. Ketika petugas itu berhenti, ibu jari kakiku hancur dan darah di mana-mana, dan kuku jariku pun terlepas seluruhnya. Polisi tak mendapatkan apa-apa dariku, tetapi mereka belum selesai. Mereka mengirim aku beserta satu saudara dan saudari ke divisi tim SWAT untuk interogasi lanjutan.

Ketika sampai di sana, polisi melepaskan pakaian kami, kami benar-benar telanjang, lalu mereka borgol tangan dan kaki kami. Mereka memaksa kami melompat-lompat untuk mempermalukan kami. Banyak polisi berkumpul untuk menonton, menunjuk dan menertawakan kami. Aku merasa tidak seperti manusia. Setiap kali melompat, api amarah dan kemurkaan membesar dalam diriku. Jika belum pernah merasakannya sendiri aku takkan percaya bahwa "Polisi masyarakat" bisa menyiksa kami dengan kejam, keji dan tak berperikemanusiaan. Aku benci para iblis dan binatang itu. Seperti yang Firman Tuhan katakan: "Selama ribuan tahun, negeri ini telah menjadi negeri yang najis, tidak tertahankan kotornya, penuh derita, hantu merajalela di mana-mana, menipu dan menyesatkan, membuat tuduhan tak berdasar, buas dan kejam, menginjak-injak kota hantu ini, dan meninggalkannya penuh dengan mayat; bau busuk menyelimuti negeri ini dan memenuhi udara dengan pekatnya, dan tempat ini dijaga ketat. Siapa yang bisa melihat dunia di balik langit? ... Kebebasan beragama? Hak dan kepentingan yang sah bagi warga negara? Semua itu hanya tipuan untuk menutupi dosa!" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Kita, orang-orang percaya, tak pernah melanggar hukum atau menyakiti orang lain. Kita hanya memberitakan Injil Tuhan agar orang lain menyembah-Nya, menerima kebenaran, bisa terbebas dari cengkeraman Iblis dan terselamatkan. Namun PKT tak mengizinkan kita percaya kepada Tuhan dan mengambil jalan yang benar, apalagi memberitakan Injil. Mereka lakukan segalanya untuk memburu, menahan, dan menyiksa kita dengan brutal, sangat bernafsu membunuh semua orang percaya Tuhan. Sekarang, dihadapkan dengan kebenaran ini, bahwa PKT itu sangat busuk, betapa mereka membenci kebenaran dan menentang Tuhan, aku membenci dan menolaknya dengan sepenuh hati. Aku akan menjadi saksi, mempermalukan Iblis, dan akhirnya mengalahkannya.

Para polisi menanyaiku lagi empat hari kemudian, menginginkan informasi tentang gereja. Aku tak mau bicara, sehingga mereka menyeretku dan saudara lain ke lapangan. Tangan dan kaki kami dibelenggu, dengan tas hitam di atas kepala, mereka menggantung kami pada pohon besar di tengah lapangan. Secara gila-gilaan mereka melepas banyak sekali semut untuk mengerubungi pohon, yang merayap di tubuh kami dan menggigit seluruh tubuh kami. Rasanya seperti mereka menggigiti tulangku dan aku berharap untuk mati. Aku tahu aku tak bisa bertahan. Aku berdoa kepada Tuhan agar menolongku agar aku tak mengkhianatinya. Aku meminta kekuatan dan tekad untuk bertahan dan meneruskan. Firman Tuhan terpikirkan olehku: "Supaya kemuliaan-Ku dapat memenuhi seluruh alam semesta, semua manusia harus menderita kesulitan terakhir bagi-Ku. Apakah engkau memahami kehendak-Ku? Ini adalah persyaratan terakhir yang Aku minta dari manusia, yaitu Aku berharap semua manusia bisa memberikan kesaksian kuat yang gemilang tentang Aku di hadapan naga merah besar, sehingga mereka bisa memberikan diri mereka kepada-Ku terakhir kalinya dan menggenapi persyaratan-Ku untuk yang terakhir. Bisakah engkau semua benar-benar melakukannya? Engkau tidak mampu memuaskan hati-Ku di masa lalu—bisakah engkau semua mematahkan pola ini dalam usaha yang terakhir?" ("Bab 34, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membuatku merasa sangat malu. Aku belum pernah menyenangkan Tuhan, dan kini akhirnya aku harus bertahan melawan Iblis, aku tahu aku tak bisa mengkhianati Tuhan atau mengecewakan hati-Nya karena rasa sakit di tubuhku. Tuhan adalah Pencipta sesungguhnya dan berada di atas segalanya. Untuk menyelamatkan kita, Dia Sendiri menjadi daging dan menerima penghinaan, diburu oleh PKT dan ditolak oleh dunia, tetapi Dia tetap mengungkapkan kebenaran demi kita semua. Tuhan membayar harga yang sangat mahal untuk kita. Apalah arti penderitaanku yang kecil ini? Kuputuskan aku bersedia mati demi memuaskan dan memuliakan Tuhan. Memikirkan ini, kekuatanku pun kembali. Inilah caraku bersandar kepada Tuhan untuk melewati siksaan ini, menit demi menit. Dua hari kemudian, aku benar-benar berada di titik puncak. Saat itu awal musim dingin dan di luar sedang hujan. Aku tergantung dan hanya mengenakan baju tipis, tanpa alas kaki. Aku tidak makan atau minum selama dua hari dan seluruh tubuhku terasa sakit. Aku merasa sangat kesakitan dan ingin mati saja. Jadi, aku terus berdoa kepada Tuhan, karena takut tubuhku yang lemah membuatku mengkhianati-Nya. Melalui rasa sakitku, aku memikirkan rasul Stefanus pada Zaman Kasih Karunia yang dilempari batu hingga tewas oleh massa karena memberitakan Injil Tuhan. Sebelum tewas, dia meminta Tuhan untuk mengambil rohnya, jadi aku ucapkan doa ini kepada Tuhan: "Ya Tuhan, aku tak bisa menahan rasa sakit ini lagi. Tolong ambil rohku. Aku lebih baik mati daripada mengkhianati-Mu!" Kemudian sebuah keajaiban luar biasa terjadi: Rohku meninggalkan tubuhku! Aku merasa berada di padang rumput luas, dengan rerumputan paling hijau dan hewan ternak sejauh mata memandang. Aku merasa sangat damai dan langsung menyanyikan pujian untuk Tuhan: "Puji Tuhan Yang Mahakuasa sekeras-kerasnya, semua yang ada di langit dan bumi memuji-Mu, memuji-Mu, semua akan memuji-Mu. Biarkan semua malaikat memuji-Mu. Biarkan tuan surgawi memuji-Mu, seluruh semesta memuji-Mu, Tuhan Yang Mahakuasa! Bintang yang bersinar memuji-Mu. Langit, bumi dan perairan memuji-Mu, semua akan memuji-Mu. Biarkan pegunungan dan bukit memuji-Mu, Tuhan Yang Mahakuasa. Biarkan ombak dan gelombang memuji-Mu. Memuji-Mu di tempat yang tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa! ... Memuji-Mu dengan lantang, Tuhan Yang Mahakuasa! Gemuruh guntur yang nyaring memuji-Mu, memuji-Mu, dengan lantang, memuji-Mu dengan lantang. Hamparan yang luas memuji Tuhan Yang Mahakuasa. Biarkan semua yang bernapas memuji-Mu. Nyanyian pujian mengguncang seluruh bumi. Puji Tuhan!" Aku benar-benar tenggelam dalam kegembiraan dan kedamaian luar biasa, benar-benar terbebas. Rasa sakit, lapar dan dingin yang kurasakan saat tergantung di pohon, rasa sakit yang kurasakan karena digigit semut, semuanya hilang. Ketika sadar, hari sudah malam dan polisi telah menurunkan aku dari pohon. Aku masih hidup dan lebih dari itu, semangatku diperbarui. Ini adalah ke-Mahakuasa-an dan perlindungan menakjubkan dari Tuhan! Aku bersyukur dan memuji Tuhan Yang Mahakuasa. Aku melihat hidup dan mati kita bergantung kepada Tuhan, dan imanku kepada-Nya makin besar. Tekadku makin besar untuk memberikan kesaksian bagi Tuhan.

Hari berikutnya, para polisi menanyaiku lebih banyak lagi, ingin agar aku berkhianat, menghujat, dan mengkhianati Tuhan. Dengan marah aku bilang, "Tuhan Yang Mahakuasa adalah sang Pencipta, satu-satunya Tuhan yang benar yang menguasai semuanya! Kau mengatakan kebohongan dan menjebak orang tak bersalah." Satu orang polisi berbadan besar pun marah dan mulai menghajarku dengan bangku seperti orang gila. Darah mengalir dari mulutku dan aku pingsan di lantai. Mereka membangunkanku dengan air es, menarikku dan menghajarku lagi. Saat itu aku merasa sangat lemah, tetapi aku teringat akan Firman Tuhan: "Pernahkah engkau menerima berkat-berkat yang diberikan kepadamu? Pernahkah engkau mencari janji-janji yang diberikan bagimu? Dalam tuntunan terang-Ku, engkau semua pasti akan menghancurkan kubu-kubu pertahanan kekuatan kegelapan. Engkau semua pasti tidak akan kehilangan cahaya yang membimbingmu, bahkan di tengah kegelapan. Engkau semua pasti akan menjadi penguasa atas seluruh ciptaan. Engkau pasti akan menjadi seorang pemenang di hadapan Iblis. Pada saat tumbangnya kerajaan naga merah yang sangat besar, engkau pasti akan berdiri di tengah kumpulan besar orang banyak untuk bersaksi tentang kemenangan-Ku. Engkau semua pasti akan teguh dan tidak goyah di tanah Sinim. Lewat penderitaan yang kautanggung, engkau semua akan mewarisi berkat-Ku dan pasti akan memancarkan kemuliaan-Ku ke seluruh alam semesta" ("Bab 19, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku merasa sangat tersentuh dan mengucapkan doa ini kepada Tuhan: "Mereka bisa menghajarku sampai mati, tetapi aku tak akan mengkhianati-Mu." Setelah disiksa selama berhari-hari oleh polisi, sekujur tubuhku lebam dan mengalami beberapa luka dalam yang parah. Bahkan sepekan setelah itu, urineku masih berwarna merah dan berdarah. Ginjal kananku rusak parah bahkan masih terasa sakit hingga hari ini.

Sebulan kemudian, polisi masih tak punya bukti, sehingga mereka memaksaku menandatangani bukti palsu, bukti yang mereka buat, sebelum mengirimku ke rumah tahanan. Tiga bulan kemudian, PKT mendakwaku dengan "mengganggu penegakan hukum" dan menghukumku satu tahun kerja paksa. Di kamp kerja paksa, tak ada cukup makanan dan aku harus bekerja lebih dari sepuluh jam sehari. Semua penjaga melecehkan dan menghinaku menggunakan tongkat ternak mereka dan mengurungku sendirian. Tanpa perawatan dan perlindungan Tuhan, para iblis jahat itu pasti menyiksaku sampai mati. Pada 7 November 2003, aku dibebaskan dan akhirnya aku bisa bebas dari neraka hidup itu.

Meski tubuhku terluka parah setelah disiksa oleh PKT, aku memperoleh kebijaksanaan. Aku menyaksikan natur iblis PKT yang membenci kebenaran dan Tuhan, dan aku menyaksikan perbuatan Tuhan yang menakjubkan, kedaulatan-Nya yang mahakuasa. Lalu imanku kepada Tuhan tumbuh makin kuat. Aku juga merasakan kekuatan Firman Tuhan. Firman Tuhan-lah yang membimbingku melihat rencana kotor Iblis, dan ketika aku berada di ambang kematian, Firman Tuhan memberiku keyakinan dan kekuatan untuk bertahan, hingga aku berhasil mengalahkan iblis PKT dan bertahan dari siksaan dan godaan mereka. Pengalaman ini membuatku menolak naga merah yang sangat besar dan memperkuat imanku untuk mengikuti Tuhan.

Pada tahun 2021 bencana semakin parah, apakah Anda ingin menemukan cara untuk dilindungi oleh Tuhan dan memasuki bahtera akhir zaman? Silakan hubungi kami sekarang.

Konten Terkait

Penganiayaan PKT yang Berat Malah Menguatkan Kasihku kepada Tuhan

Pada tahun 2000, aku cukup beruntung bisa mendengar Injil kerajaan Tuhan Yang Mahakuasa. Dengan membaca firman Tuhan, aku jadi mengerti misteri mengenai nama-nama Tuhan, misteri inkarnasi Tuhan, dan kebenaran mengenai berbagai hal seperti bagaimana ketiga tahap pekerjaan Tuhan menyelamatkan umat manusia, dan bagaimana ketiganya sepenuhnya mengubah, menyucikan, dan menyempurnakan manusia. Aku menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dan aku dengan senang hati menerima Injil kerajaan Tuhan. Setelah itu, aku secara aktif bergabung dengan kehidupan bergereja dan menyebarkan Injil serta bersaksi bagi Tuhan. Pada tahun 2002, aku menjadi terkenal di wilayah setempat karena mengkhotbahkan Injil dan selalu berada dalam bahaya ditangkap oleh polisi PKT (Partai Komunis Tiongkok). Aku tidak punya pilihan selain melarikan diri dari rumah sehingga bisa terus melakukan tugasku.

Hubungi kami via WhatsApp