Perenungan Setelah Menolak Tugasku

30 Juli 2025

Oleh Wu Yu, Tiongkok

Dalam beberapa tahun terakhir, aku telah melakukan pekerjaan pembersihan di gereja, dan telah melihat beberapa pengawas diberhentikan satu per satu, dan beberapa dikeluarkan. Khususnya, dua pengawas yang sebelumnya bertanggung jawab dalam pekerjaan pembersihan memiliki kualitas dan kemampuan kerja sangat bagus, serta memiliki lingkup tanggung jawab yang luas. Mereka telah menjadi pengawas selama dua hingga tiga tahun, tetapi diberhentikan karena mereka tidak melakukan pekerjaan nyata dan tidak menerima kebenaran. Akibatnya, aku berpikir bahwa menjadi pengawas itu terlalu berbahaya. Menjadi pengawas berarti memiliki lingkup tanggung jawab yang luas dan menghadapi banyak masalah. Jika tidak melakukannya dengan baik, kita akan membawa kekacauan dan gangguan pada pekerjaan gereja serta meninggalkan pelanggaran setelahnya, jadi ada kemungkinan untuk diberhentikan atau disingkapkan dan disingkirkan. Kupikir lebih baik menjadi anggota tim saja, karena risikonya lebih kecil dan tidak perlu terlalu khawatir, tetapi masih ada harapan untuk diselamatkan. Pada awal Agustus 2023, pengawas harus pergi ke tempat lain untuk melaksanakan tugasnya, dan memintaku untuk mengambil alih pekerjaannya. Aku berpikir, "Sebagai anggota tim, ada orang yang bertanggung jawab untuk membantu melakukan pemeriksaan akhir dan membimbing pekerjaan, jadi aku tidak akan melakukan kejahatan besar hingga disingkapkan dan disingkirkan. Berbeda halnya dengan menjadi pengawas. Seseorang harus bertanggung jawab atas pekerjaan secara keseluruhan, dan dia menghadapi banyak masalah serta memikul tanggung jawab yang besar. Jika aku tidak menangani berbagai hal dengan benar dan menyebabkan kekacauan pada pekerjaan gereja, aku akan meninggalkan jejak pelanggaran. Jika aku melakukan banyak perbuatan jahat, bukankah aku akan disingkapkan dan disingkirkan, serta kehilangan kesempatanku untuk diselamatkan? Lebih baik menjadi anggota tim, jadi aku tidak harus memikul tanggung jawab besar. Itu aman dan terjamin, dan aku punya harapan untuk diselamatkan." Setelah memikirkan ini, aku menolak, dengan alasan bahwa kualitasku biasa saja, kemampuan kerjaku terbatas, dan aku tidak layak untuk dibina. Setelah itu, pengawas menulis surat kepadaku dua kali lagi dan memintaku untuk memikirkannya. Aku terjebak dalam dilema, "Jika tidak menerimanya, berarti aku tidak taat, tetapi jika aku menerimanya, mengingat bahwa pekerjaan pembersihan melibatkan prinsip di setiap kesempatan, jika aku tidak menangani berbagai hal dengan baik dan melanggar prinsip, aku akan meninggalkan pelanggaran dan perbuatan jahat setelahnya. Jika itu ringan, aku akan diberhentikan, tetapi jika itu serius, maka aku bahkan akan diusir. Bukan hanya reputasi dan statusku yang akan rusak, tetapi aku mungkin juga tidak akan memiliki kesudahan atau tempat tujuan yang baik." Setelah berpikir panjang, aku menolak. Saat bertemu pengawas, dia berkata, "Kau mendapatkan suara terbanyak dari saudara-saudari. Kau harus mencari maksud Tuhan." Aku tak bisa berkata apa-apa. Hatiku rasanya seperti ditarik ke dua arah, dan aku berdoa kepada Tuhan berulang kali, "Tuhan, aku tahu aku harus tunduk dalam hal yang kuhadapi ini, tetapi aku tidak bisa tunduk. Aku takut bahwa aku tidak akan mampu melaksanakan tugasku sebagai seorang pengawas dengan baik, sehingga mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, dan disingkapkan serta disingkirkan. Aku tidak tahu kebenaran mana yang harus kumasuki untuk keluar dari kesulitan ini. Aku mohon kepada-Mu, tuntunlah aku!"

Suatu kali, aku membaca sebuah bagian firman Tuhan yang sangat menyentuh hatiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Bagaimana seharusnya engkau bertindak berdasarkan hati nurani? Bertindak dengan ketulusan, layak atas kebaikan Tuhan, layak atas kehidupan yang Tuhan berikan ini, dan layak atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk memperoleh keselamatan ini. Apakah itu efek hati nuranimu? Begitu engkau memiliki standar minimal ini—hati nurani—engkau akan dilindungi dan engkau tidak akan melakukan kesalahan besar. Engkau tidak akan begitu cenderung melakukan hal-hal untuk memberontak terhadap Tuhan atau melepaskan tugasmu, engkau juga tidak akan begitu cenderung bertindak dengan sikap asal-asalan. Engkau juga tidak akan begitu cenderung bersiasat demi status, ketenaran, dan keuntunganmu sendiri, dan demi jalan keluarmu sendiri. Inilah peran yang dimainkan hati nurani. Hati nurani dan nalar harus menjadi bagian dari kemanusiaan seseorang. Keduanya adalah hal yang paling mendasar dan paling penting. Orang macam apa yang tidak memiliki hati nurani dan tidak memiliki nalar kemanusiaan yang normal? Secara umum, mereka adalah orang yang tidak memiliki kemanusiaan, dan orang yang kemanusiaannya sangat buruk. Secara lebih spesifik, karakteristik apa yang ditemukan dalam diri orang-orang semacam itu? Apa saja perwujudan spesifik yang mereka miliki dari ketiadaan kemanusiaan mereka? (Mereka egois dan hina.) Orang-orang yang egois dan hina bersikap asal-asalan dalam tindakan mereka dan membiarkan hal-hal berlalu begitu saja jika itu tidak memengaruhi mereka secara pribadi. Mereka tidak memikirkan kepentingan rumah Tuhan, juga tidak memikirkan maksud Tuhan. Mereka tidak memiliki rasa terbeban atau tanggung jawab dalam hal melaksanakan tugas mereka atau bersaksi tentang Tuhan. ... Apakah orang semacam ini memiliki hati nurani dan nalar? (Tidak.) Apakah orang tanpa hati nurani dan nalar merasa bersalah karena bertindak dengan cara ini? Mereka tidak merasa bersalah; hati nurani orang semacam ini tidak ada gunanya. Hati nurani mereka tidak pernah merasa bersalah, jadi dapatkah mereka merasakan teguran atau pendisiplinan Roh Kudus? Tidak, mereka tidak bisa" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dengan Menyerahkan Hatinya kepada Tuhan, Orang Dapat Memperoleh Kebenaran"). Tuhan berfirman bahwa mereka yang tidak memiliki hati nurani atau nalar adalah orang yang sangat egois dan tercela. Mereka hanya mempertimbangkan kepentingan mereka sendiri, tidak memikirkan pekerjaan gereja, dan tidak memikul beban atau memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan gereja. Setelah merenung, aku menyadari bahwa aku adalah orang seperti ini. Ketika saudara-saudari memilihku, seharusnya aku menerima tugas ini. Namun, aku takut tanggung jawab dalam melaksanakan tugas ini terlalu besar, sehingga jika tidak melaksanakannya dengan baik, aku akan meninggalkan pelanggaran, dan jika aku berbuat jahat, aku akan diberhentikan dan disingkirkan: Bukan hanya reputasi dan statusku yang akan rusak, aku bahkan akan berisiko kehilangan kesudahan dan tempat tujuan yang baik. Karena itu, aku menolak, beralasan bahwa kualitasku rata-rata, kemampuan kerjaku buruk, dan aku tidak layak dibina. Pengawas menyuratiku beberapa kali untuk bersekutu denganku, tetapi aku terus mencari alasan untuk menolak. Aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri dan menolak menerima tugas ini. Aku benar-benar tidak memiliki hati nurani dan nalar! Aku tidak ingin hidup dengan cara yang egois dan tercela seperti ini lagi, jadi aku menerima tugas ini.

Beberapa bulan kemudian, aku dialihtugaskan menjadi anggota tim karena kualitasku yang buruk berarti bahwa aku tidak mampu melakukan pekerjaan itu. Kemudian, para pemimpin menulis surat dan mengatakan bahwa ada sebuah tim yang kekurangan orang untuk mengatur materi tentang mengeluarkan orang, dan mereka tidak sepenuhnya memahami prinsip-prinsipnya. Mereka memintaku untuk pergi ke sana dan menjadi pemimpin tim untuk membantu mereka. Aku berpikir, "Jika aku tidak mengatur materi tentang mengeluarkan orang dengan baik dan salah menggolongkan seseorang, aku harus bertanggung jawab atas hal itu. Jika aku gagal melihat segala sesuatu dengan jelas dan bertindak dengan cara yang melanggar prinsip, meninggalkan pelanggaran serta perbuatan jahat, maka aku akan segera diberhentikan dan disingkirkan. Lebih aman menjadi anggota tim." Karena itu, aku mengelak lagi, beralasan bahwa kualitasku buruk, kemampuan kerjaku buruk, dan aku tidak layak dibina. Setelah itu, para pemimpin menyuratiku untuk bersekutu denganku dan menunjukkan bahwa natur dari penolakanku yang berulang kali terhadap tugasku adalah menolak untuk menerima kebenaran. Aku menyadari dengan jelas bahwa persekutuan para pemimpin adalah pengingat dan peringatan dari Tuhan, dan aku merasa sedih juga bersalah, "Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi mengapa aku tidak berubah sama sekali? Mengapa aku begitu keras kepala?" Aku menyadari bahwa keadaan ini akan sangat berbahaya jika aku tidak segera mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, jadi aku mencari firman Tuhan yang relevan dengan keadaanku. Aku membaca firman Tuhan: "Ada orang-orang yang takut bertanggung jawab saat melaksanakan tugas mereka. Jika gereja memberi mereka tugas, pertama-tama mereka akan mempertimbangkan apakah pekerjaan itu menuntut mereka untuk bertanggung jawab atau tidak, dan jika ya, mereka tidak akan menerima tugas itu. Syarat mereka untuk melaksanakan tugas adalah, pertama, tugas itu harus tugas yang santai; kedua, tugas itu tidak menyibukkan atau melelahkan; dan ketiga, apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak perlu bertanggung jawab. Hanya tugas semacam itulah yang mau mereka lakukan. Orang macam apakah ini? Bukankah ini orang yang licin dan licik? Mereka tidak mau memikul tanggung jawab sekecil apa pun. Mereka bahkan takut daun yang jatuh dari pohon bisa mencelakakan mereka. Tugas apa yang mampu dilaksanakan oleh orang semacam ini? Apa gunanya mereka berada di rumah Tuhan? Pekerjaan rumah Tuhan ada kaitannya dengan pekerjaan melawan Iblis dan penyebaran Injil Kerajaan. Tugas apa yang tidak memerlukan tanggung jawab? Apakah menurutmu menjadi seorang pemimpin memikul tanggung jawab? Bukankah tanggung jawab mereka lebih besar, dan bukankah mereka harus lebih bertanggung jawab? Terlepas dari apakah engkau memberitakan Injil, bersaksi, membuat video, dan sebagainya—pekerjaan apa pun yang kaulakukan—selama itu berkaitan dengan prinsip kebenaran, itu mengandung tanggung jawab. Jika engkau melaksanakan tugasmu tanpa prinsip, itu akan memengaruhi pekerjaan rumah Tuhan, dan jika engkau takut bertanggung jawab, engkau tidak mampu melaksanakan tugas apa pun. Apakah jenis orang yang takut memikul tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya adalah pengecut, atau ada masalah dengan watak mereka? Engkau harus mampu membedakannya. Sebenarnya, ini bukan masalah sifat pengecut. Mengapa mereka begitu berani dalam hal menjadi kaya, atau ketika mereka melakukan sesuatu demi keuntungan mereka sendiri? Mereka akan mengambil risiko apa pun demi hal-hal ini. Namun, ketika mereka melakukan berbagai hal bagi gereja, bagi rumah Tuhan, mereka sama sekali tidak mengambil risiko. Orang-orang semacam itu egois dan hina, yang paling licik dari semuanya. Siapa pun yang tidak bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya berarti tidak sedikit pun tulus kepada Tuhan, apalagi memiliki kesetiaan. Orang macam apa yang berani bertanggung jawab? Orang macam apa yang memiliki keberanian untuk memikul beban yang berat? Seseorang yang memimpin di depan dan maju menerjang dengan berani pada saat yang paling genting dalam pekerjaan rumah Tuhan, yang dengan berani memikul beban yang berat dan tidak takut menanggung kesulitan dan bahaya ketika mereka melihat pekerjaan yang paling penting dan krusial. Seperti itulah orang yang setia kepada Tuhan, prajurit Kristus yang baik. Apakah benar bahwa semua orang yang takut bertanggung jawab dalam tugas mereka merasa takut karena mereka tidak memahami kebenaran? Tidak; itu adalah masalah dengan kemanusiaan mereka. Mereka tidak memiliki rasa keadilan atau rasa tanggung jawab, mereka adalah orang-orang yang egois dan tercela, mereka bukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dengan tulus, dan mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun. Karena alasan ini saja, mereka tidak dapat diselamatkan. ... Jika engkau selalu melindungi dirimu sendiri setiap kali sesuatu terjadi padamu, dan menyiapkan jalan keluar cadangan dan rencana cadangan untuk dirimu sendiri, apakah engkau sedang menerapkan kebenaran? Ini bukan menerapkan kebenaran—ini adalah bersikap penuh tipu daya. Sekarang ini engkau sedang melaksanakan tugasmu di rumah Tuhan. Apa prinsip pertama melaksanakan tugas? Pertama-tama, engkau harus melaksanakan tugas dengan segenap hatimu, mengerahkan segenap upaya yang engkau bisa, dan dengan demikian melindungi kepentingan rumah Tuhan. Ini adalah prinsip kebenaran, prinsip yang harus kauterapkan. Melindungi diri sendiri dengan menyiapkan jalan keluar cadangan dan rencana cadangan adalah prinsip penerapan yang diikuti oleh orang tidak percaya, dan falsafah tertinggi mereka. Dalam segala hal, mempertimbangkan diri sendiri terlebih dahulu, menempatkan kepentingan diri sendiri di atas segalanya, dan tidak memikirkan orang lain, meyakini bahwa kepentingan rumah Tuhan dan kepentingan orang lain tidak ada hubungannya dengan diri sendiri, mengutamakan kepentingan sendiri dan kemudian memikirkan jalan keluar—bukankah seperti inilah orang tidak percaya itu? Seperti inilah tepatnya orang tidak percaya itu. Orang semacam ini tidak layak untuk melaksanakan tugas" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Delapan (Bagian Satu)). Saat aku merenungkan firman Tuhan, hatiku terasa tertusuk. Tuhan telah menyingkapkan bahwa tipe orang yang egois, tercela, dan licik akan takut untuk mengemban tanggung jawab. Ketika menghadapi berbagai hal, mereka selalu mempertimbangkan kepentingan mereka sendiri terlebih dahulu, dan terus-menerus berpikir bagaimana menyiapkan jalan keluar bagi dirinya sendiri, alih-alih melindungi kepentingan gereja. Mereka tidak mau memikul tanggung jawab sama sekali. Tipe orang seperti ini tidak menerima kebenaran dan tidak memiliki kemanusiaan. Mereka adalah orang-orang tidak percaya di mata Tuhan, dan mereka tidak pantas untuk melaksanakan tugas. Aku adalah orang seperti ini. Rumah Tuhan telah membinaku untuk melakukan pekerjaan pembersihan selama beberapa tahun, dan aku telah menguasai beberapa prinsip yang relevan serta memahami beberapa cara untuk menangani masalah. Ketika para pemimpin menugaskanku untuk menjadi pemimpin tim, aku khawatir akan dimintai pertanggungjawaban jika tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Demi melindungi kepentinganku sendiri, aku mencari berbagai alasan dan dalih, seperti buruknya kualitasku dan kemampuan kerjaku, untuk mengelak dan menghindar. Aku tahu betul apa yang dibutuhkan oleh pekerjaan gereja, dan bahwa akulah kandidat yang cocok, tetapi aku bertindak licik dan tidak mau menjadi pemimpin tim atau memikul tanggung jawab apa pun karena mempertimbangkan kesudahan dan tempat tujuanku sendiri. Para orang tidak percaya yang mengutamakan keuntungan selalu memperhitungkan serta bersiasat demi kepentingannya sendiri dalam segala hal yang mereka lakukan; mereka melakukan apa pun yang menguntungkan bagi mereka. Semua pemikiran dan ideku juga untuk keuntunganku sendiri, dan ketika dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang melibatkan tanggung jawab, aku bertindak licik dan mundur. Aku sama sekali tidak memiliki kesetiaan atau ketundukan kepada Tuhan, dan sama saja dengan orang tidak percaya atau pengikut yang bukan orang percaya. Aku benar-benar tidak layak untuk melaksanakan tugas! Ketika memahami ini, aku sangat menyesal dan mencela diriku sendiri.

Kemudian, aku merenungkan diriku sendiri: Mengapa, ketika aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku terus-menerus ingin menolak tugasku? Apa akar penyebab masalahnya? Suatu hari, aku membaca firman Tuhan: "Antikristus tidak pernah menaati pengaturan rumah Tuhan, dan mereka selalu sangat mengaitkan tugas, ketenaran, keuntungan dan status dengan harapan untuk mendapatkan berkat dan tempat tujuan di masa depan, seolah-olah begitu reputasi dan status mereka hilang, harapan mereka untuk mendapatkan berkat dan upah pun hilang, dan ini rasanya seperti kehilangan nyawa mereka. Mereka berpikir, 'Aku harus berhati-hati, aku tidak boleh lengah! Rumah tuhan, saudara-saudari, para pemimpin dan pekerja, dan bahkan tuhan, semuanya tidak dapat diandalkan. Aku tidak dapat memercayai seorang pun dari mereka. Orang yang paling bisa kuandalkan dan yang paling layak dipercaya adalah diriku sendiri. Jika aku tidak membuat rencana untuk diriku sendiri, lalu siapa yang akan memedulikanku? Siapa yang akan memikirkan masa depanku? Siapa yang akan memikirkan apakah aku akan mendapatkan berkat atau tidak? Oleh karena itu, aku harus membuat rencana dan perhitungan yang saksama demi diriku sendiri. Aku tidak boleh melakukan kesalahan, bahkan sama sekali tidak boleh ceroboh, jika tidak, apa yang harus kulakukan jika ada orang yang mencoba mengambil keuntungan dariku?' Jadi, mereka pun bersikap waspada terhadap para pemimpin dan pekerja rumah Tuhan, karena takut ada orang yang akan mengenali dan mengetahui yang sebenarnya tentang mereka, sehingga mereka kemudian akan diberhentikan dan impian mereka untuk mendapatkan berkat akan hancur. Mereka berpikir bahwa mereka harus menjaga reputasi dan status mereka demi harapan mereka untuk mendapatkan berkat. Seorang antikristus memandang berkat sebagai sesuatu yang lebih besar daripada surga, lebih besar daripada hidup, lebih penting daripada mengejar kebenaran, perubahan watak, atau keselamatan pribadi, dan lebih penting daripada melakukan tugas mereka dengan baik, dan menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar. Mereka berpikir bahwa menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar, melakukan tugas mereka dengan baik dan diselamatkan, semua itu adalah hal-hal remeh yang hampir tidak layak disebutkan atau dikomentari, sedangkan mendapatkan berkat adalah satu-satunya hal di sepanjang hidup mereka yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Dalam apa pun yang mereka hadapi, sebesar atau sekecil apa pun, mereka menghubungkannya dengan memperoleh berkat, dan sangat berhati-hati dan penuh perhatian, serta selalu mencadangkan jalan keluar untuk diri mereka sendiri" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Dua Belas). Tuhan menyingkapkan bahwa antikristus tidak bisa tunduk pada tugas yang diatur gereja bagi mereka terutama karena mereka terlalu mementingkan memperoleh berkat. Tidak ada yang dipercayai antikristus selain dirinya sendiri. Mereka percaya bahwa mereka hanya bisa mengandalkan diri sendiri, bahwa hanya merekalah yang akan benar-benar memikirkan dirinya, dan bahwa mereka senantiasa harus berhati-hati dan waspada, sangat takut bahwa tunduk pada pengaturan rumah Tuhan akan merugikan berkat mereka dan menghancurkan impian mereka untuk memperoleh berkat. Ketika merenungkan diriku sendiri, bukankah perilakuku sama dengan perilaku antikristus? Aku sangat mementingkan memperoleh berkat. Gereja mengatur agar aku menjadi pengawas dan kemudian pemimpin tim, tetapi aku tanpa sadar mempertimbangkan kesudahan dan tempat tujuanku sendiri, bersikap hati-hati dan penuh perhitungan. Aku merasa bahwa melaksanakan tugas sebagai pengawas atau pemimpin tim melibatkan tanggung jawab yang besar, dan bahwa jika tidak melakukan pekerjaan itu dengan baik, aku akan meninggalkan pelanggaran. Jika pelanggarannya serius, aku bahkan mungkin akan disingkapkan dan disingkirkan. Di sisi lain, anggota tim biasa hanya memiliki sedikit tanggung jawab, dan meskipun aku tidak akan memperoleh prestasi yang menonjol, aku tidak akan meninggalkan pelanggaran, disingkapkan, dan disingkirkan. Yang kupikirkan adalah bertindak dengan cara apa pun yang menguntungkan bagiku, dan aku sama sekali tidak mempertimbangkan kepentingan gereja. Aku hidup dengan sepenuhnya mengandalkan racun Iblis seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya", "Jangan mencari jasa, tetapi menghindarlah agar tidak disalahkan", dan "Kehati-hatian adalah pangkal keselamatan". Aku mengira memerhatikan kepentinganku sendiri itu sangatlah wajar—dan tidak melakukannya adalah bodoh. Maksud Tuhan adalah agar dengan menjadi pengawas dan pemimpin tim, aku mendapatkan lebih banyak pelatihan dan mampu mencari kebenaran untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip. Namun, aku mencurigai Tuhan berdasarkan pandanganku yang menyimpang. Aku merasa bahwa menjadikanku seorang pengawas adalah cara untuk menyingkapkan dan menyingkirkanku. Aku menganggap Tuhan itu seperti semua orang yang memiliki status dan kekuasaan di dunia ini, yang belum tentu adil dan benar terhadap orang-orang, dan orang yang melakukan kesalahan sekecil apa pun akan disingkirkan. Bukankah ini penghujatan terhadap Tuhan? Aku begitu licik dan jahat! Sangatlah wajar dan dapat dibenarkan jika aku percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, yang merupakan tanggung jawab yang wajib kupikul. Namun, aku telah dirugikan oleh racun Iblis, dan telah menjadi egois, jahat, dan licik. Aku berulang kali menolak tugasku demi melindungi kepentinganku, dan sama sekali tidak memperhatikan maksud Tuhan. Hidup berdasarkan falsafah Iblis ini hanya akan membuatku makin menentang Tuhan, dan pada akhirnya aku akan dibenci, ditolak, serta disingkirkan oleh Tuhan. Setelah memahami ini, aku merasa sangat menyesal dan mencela diriku sendiri, jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku begitu egois, tercela, jahat, dan licik. Sejak aku mulai percaya kepada-Mu, aku hanya mengejar berkat dan tidak memperhatikan maksud-Mu atau memikirkan pekerjaan gereja. Ya Tuhan, aku bersedia untuk bertobat dan berhenti menempuh jalan yang salah."

Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan memperoleh beberapa pemahaman tentang bagaimana prinsip rumah Tuhan dalam memperlakukan orang. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada orang-orang yang tidak percaya bahwa rumah Tuhan memperlakukan orang dengan adil. Mereka tidak percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa di rumah-Nya, bahwa kebenaranlah yang berkuasa di sana. Mereka yakin bahwa tugas apa pun yang orang laksanakan, jika muncul masalah dalam tugas itu, rumah Tuhan akan segera menangani orang itu, mencabut kelayakan mereka untuk melaksanakan tugas, mengusir mereka, atau bahkan mengeluarkan mereka dari gereja. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Rumah Tuhan memperlakukan setiap orang berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Tuhan itu adil dalam memperlakukan setiap orang. Dia tidak hanya melihat bagaimana orang berperilaku dalam satu peristiwa saja; Dia melihat esensi natur orang itu, melihat niatnya, dan sikapnya. Terutama, Dia melihat apakah, ketika orang melakukan kesalahan, mereka mampu merenungkan dirinya, apakah mereka menyesal, dan apakah mereka mampu mengetahui yang sebenarnya tentang esensi masalahnya berdasarkan firman-Nya, sehingga mereka memahami kebenaran, membenci dirinya sendiri, dan sungguh-sungguh bertobat. Jika orang tidak memiliki sikap yang benar, dan sepenuhnya dicemari oleh niat pribadi, jika mereka dipenuhi dengan siasat licik dan tidak memperlihatkan apa pun selain watak yang rusak, dan jika, ketika masalah muncul, mereka bahkan berpura-pura, berdalih, dan membenarkan dirinya sendiri, serta bersikeras menolak untuk mengakui kesalahan mereka, maka orang semacam itu tidak dapat diselamatkan. Mereka sama sekali tidak menerima kebenaran, dan mereka bukan orang yang tepat; mereka telah tersingkap sepenuhnya. Mereka yang tidak mampu menerima kebenaran sedikit pun, pada esensinya adalah pengikut yang bukan orang percaya dan hanya bisa disingkirkan. ... Katakan kepada-Ku, jika seseorang melakukan kesalahan, tetapi akhirnya memiliki pemahaman yang sejati dan bersedia untuk bertobat, apakah rumah Tuhan tidak akan memberi mereka kesempatan? Saat rencana pengelolaan Tuhan selama 6.000 tahun akan segera berakhir, ada begitu banyak tugas yang harus dilaksanakan. Namun, jika engkau tidak memiliki hati nurani atau nalar, dan tidak melaksanakan tugasmu yang semestinya, jika engkau telah memperoleh kesempatan untuk melaksanakan tugas tetapi tidak tahu cara menghargainya, tidak sedikit pun mengejar kebenaran, membiarkan waktu yang terbaik berlalu begitu saja, maka engkau akan disingkapkan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa di rumah Tuhan, kebenaran dan keadilan berkuasa. Rumah Tuhan memberhentikan dan menyingkirkan orang menurut prinsip-prinsip, dan tidak ada seorang pun yang akan ditangani secara sewenang-wenang karena perilaku mereka pada waktu tertentu atau dalam masalah tertentu. Semuanya didasarkan pada perilaku konsisten orang, sikap mereka dalam menerima kebenaran, dan apakah mereka telah benar-benar bertobat. Jika seseorang terus-menerus mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, dan tidak bertobat atau berubah tidak peduli bagaimana orang lain membantunya, dia akan diberhentikan dan disingkirkan. Namun, jika seseorang memperlihatkan watak rusak ketika melaksanakan tugasnya atau membawa kekacauan dan gangguan pada pekerjaan gereja, tetapi dapat segera merenung, mengenal diri sendiri, bertobat, dan berubah, rumah Tuhan akan memberinya kesempatan lagi untuk melaksanakan tugas. Aku ingat bahwa sejak aku mulai melakukan pekerjaan pembersihan, aku pernah mengacaukan dan mengganggu pekerjaan karena tidak memahami prinsip-prinsipnya, dan akibatnya aku melakukan pelanggaran. Namun, rumah Tuhan tidak memberhentikan atau menyingkirkanku karena pelanggaranku, tetapi memberikan persekutuan dan bantuan kepadaku. Setelah itu, karena aku bersedia untuk bertobat, aku diizinkan untuk terus melaksanakan tugas. Adapun mereka yang diberhentikan dan disingkirkan, ini bukan karena mereka melaksanakan tugas sebagai pemimpin tim atau pengawas, tetapi karena mereka menempuh jalan yang salah. Mereka telah melakukan pelanggaran, tetapi tidak menerima pemangkasan, dan tidak bertobat. Baru setelah itulah mereka diberhentikan dan disingkirkan. Aku teringat akan seorang saudari di tim yang bukan merupakan pengawas. Namun, saat melaksanakan tugasnya, dia bersaing dengan para saudari yang bekerja sama dengannya untuk mendapatkan ketenaran dan keuntungan, lalu dia menjatuhkan mereka dari belakang. Ini mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, dan setelah diberi persekutuan, dia tetap tidak bertobat. Pada akhirnya, dia diberhentikan. Selain itu, dua pengawas sebelumnya diberhentikan bukan karena besarnya tanggung jawab yang mereka pikul, melainkan karena mereka tidak pernah mengejar kebenaran dan tidak melakukan pekerjaan nyata. Ketika mereka dipangkas atau saudara-saudari bersekutu untuk membantu mereka, mereka tidak sungguh-sungguh bertobat atau berubah. Penghentian mereka sama sekali tidak ada kaitannya dengan tugas apa yang mereka laksanakan atau seberapa besar tanggung jawab mereka. Aku sadar bahwa keyakinanku—menjadi pemimpin tim itu berbahaya karena mengemban tanggung jawab yang besar, dan menjadi anggota tim itu relatif aman dan terjamin—itu keliru dan tak masuk akal, serta tidak sesuai dengan prinsip kebenaran. Rumah Tuhan memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugas, dan maksud Tuhan adalah agar aku mencari kebenaran pada orang, peristiwa, dan hal-hal yang kuhadapi, dan agar aku menguasai serta memahami lebih banyak prinsip kebenaran. Seharusnya aku menghargai kesempatan langka ini dan menerima tugasku.

Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan menemukan sebuah jalan penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jadi, bagaimanakah seharusnya perilaku orang jujur? Mereka harus tunduk pada pengaturan Tuhan, sepenuh hati dalam melaksanakan tugas yang seharusnya mereka laksanakan, dan berusaha keras memenuhi maksud Tuhan. Ini terwujud dengan sendirinya dalam beberapa tindakan: Pertama, engkau menerima tugasmu dengan hati yang jujur, tidak memikirkan kepentingan dagingmu, tidak setengah hati dalam melakukannya, dan tidak berencana licik demi keuntunganmu sendiri. Tindakan-tindakan tersebut adalah perwujudan kejujuran. Tindakan lainnya adalah engkau mengerahkan segenap hati dan kekuatanmu agar dapat melaksanakan tugasmu dengan baik, melaksanakan tugas-tugas yang rumah Tuhan percayakan kepadamu dengan semestinya, dan mengerahkan hati dan kasihmu pada tugasmu agar dapat memuaskan Tuhan. Perwujudan inilah yang seharusnya ditunjukkan oleh orang jujur dalam melaksanakan tugas mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Tidak ada hubungan antara tugas manusia dan apakah dia menerima berkat atau mengalami celaka. Tugas adalah sesuatu yang harus dilaksanakan dengan baik oleh manusia; itu adalah panggilan surgawinya, dan dia seharusnya melakukannya tanpa mencari imbalan, dan tanpa syarat atau tanpa berdalih. Hanya inilah yang dapat disebut melaksanakan tugas. ... Engkau tidak seharusnya melaksanakan tugasmu demi menerima berkat, dan engkau tidak seharusnya menolak untuk melaksanakan tugasmu karena takut mengalami celaka. Kuberitahukan satu hal kepadamu: Pelaksanaan tugas manusia adalah apa yang seharusnya dia lakukan, dan jika dia tidak melaksanakan tugasnya, maka ini adalah pemberontakannya" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perbedaan antara Pelayanan Tuhan yang Berinkarnasi dan Tugas Manusia"). Tuhan berfirman bahwa orang jujur dapat tunduk pada penataan dan pengaturan Tuhan, dan akan mencurahkan hati serta tenaga untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mereka tidak membuat rencana licik untuk diri mereka sendiri, atau mempertimbangkan keuntungan dan kerugian bagi kepentingan mereka sendiri. Terlebih lagi, tugas adalah tanggung jawab yang wajib kita pikul, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan berkat apa yang kita terima atau kemalangan apa yang kita derita. Kita tidak boleh menolak tugas karena takut akan kemalangan, juga tidak boleh menerima tugas demi berkat. Sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan bahwa orang melaksanakan tugas mereka. Setelah memahami ini, aku tahu bagaimana cara memperlakukan tugasku. Meskipun kualitas dan kemampuan kerjaku biasa saja, sebagai makhluk ciptaan, aku harus melakukan apa yang semestinya kulakukan. Aku dapat mencari tahu lebih banyak tentang hal-hal yang tidak kupahami saat melaksanakan tugasku, dan, dalam lingkup kualitas serta kemampuanku sendiri, berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas yang seharusnya kulaksanakan dengan baik. Inilah sikap yang seharusnya kumiliki. Demi menebus utang masa laluku, aku secara proaktif menawarkan diri untuk membantu saudara-saudari mengatur materi pembersihan, dan para pemimpin setuju. Meskipun aku belum mencapai banyak jalan masuk atau perubahan, melalui penyingkapan kali ini, aku telah memperoleh beberapa pemahaman tentang perspektif yang salah di balik pengejaran dalam imanku, telah belajar cara melaksanakan tugasku dengan baik untuk memikirkan maksud Tuhan, dan aku bersedia tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Setelah Aku Didiagnosis Kanker

Pada tahun 1997, aku mulai percaya pada Tuhan Yesus karena aku tidak bisa menyembuhkan radang usus yang telah kuderita bertahun-tahun, dan...

Hubungi kami via WhatsApp