Aku Melepaskan Perasaan Berutang Budi kepada Putraku
Oleh Su Li, TiongkokSejak kecil, aku sangat mengagumi ibuku. Dia menanggung banyak sekali kesulitan demi aku dan saudara-saudariku. Setiap...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Waktu aku kecil, kakekku suka sekali mendengarkan opera dan sering mengajakku menonton pertunjukan. Aku melihat betapa anggunnya para aktor di panggung, bagaimana nyanyian mereka menyentuh hati, dan bagaimana penonton menghujani mereka dengan tepuk tangan serta sorak-sorai. Aku sungguh mengagumi mereka, dan tanpa sadar berpikir, "Suatu hari nanti, jika aku bisa naik ke panggung dan menerima tepuk tangan serta pujian, maka hidup yang kujalani akan dipenuhi ketenaran dan kegemerlapan!" Aku sangat ingin bergabung dengan sanggar drama dan menjadi seorang pemain opera. Namun keluargaku miskin, dan kondisi keuangan kami tidak memungkinkan, jadi impianku untuk tampil di panggung sirna bagai fatamorgana.
Setelah menikah, aku memiliki seorang anak perempuan. Setelah putriku masuk taman kanak-kanak, aku melihat anak-anak seusia putriku, ada yang ikut les menari, ada juga yang ikut les musik. Terutama saat pertunjukan Hari Anak, mereka memesona banyak guru serta orang tua, dan dihujani tepuk tangan. Aku memutuskan agar putriku belajar menari, karena ini tidak hanya akan membantunya memiliki postur tubuh bagus dan keanggunan, tetapi juga memberinya kesempatan tampil di panggung. Namun putriku takut melakukan split dan kayang, dan dia tetap tidak mau belajar bagaimanapun aku membujuknya. Aku berpikir, "Aku tidak bisa begitu saja menuruti keinginanmu. Kau harus belajar satu keterampilan agar kelak bisa menjadi pusat perhatian di atas panggung." Pada tahun 2012, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dan menyadari bahwa takdir setiap orang ada di tangan Tuhan, dan bahwa segala sesuatu yang dilakukan orang sepanjang hidup mereka telah ditakdirkan dan diatur oleh Tuhan. Namun, aku tidak melepaskan harapanku untuk melihat putriku tampil di panggung. Belakangan, kupikir belajar alat musik juga bisa membuatnya tampil di panggung, jadi aku membawanya ke toko musik untuk memilih alat musik. Namun putriku tidak tertarik. Dengan marah aku berkata kepada putriku, "Kau harus memilih satu. Hanya dengan belajar satu keahlian barulah kau punya kesempatan tampil di panggung, dan dengan begitu kau bisa hidup dengan glamor. Bayangkan berapa banyak orang akan mengagumimu nantinya!" Ketika melihatku sangat marah, putriku dengan enggan memilih guzheng. Awalnya, putriku tidak mau mempelajarinya, jadi aku mencari guru guzheng yang berpengalaman dan memaksanya untuk belajar. Untuk menumbuhkan minatnya pada guzheng, aku sering memberinya semangat, dan gurunya juga memujinya karena punya bakat alami. Perlahan-lahan, putriku mulai tertarik pada guzheng dan dengan cepat bisa memainkan beberapa lagu. Suatu hari, putriku dengan gembira berkata kepadaku, "Ibu, nanti aku bisa main guzheng untuk memuji Tuhan!" Saat melihat betapa pengertiannya putriku, aku merasa lega sekaligus bangga.
Kemudian, untuk membantu putriku mendapatkan lebih banyak pengalaman naik panggung, setiap kali mendengar ada pertunjukan, aku akan aktif mendaftarkannya. Meskipun aku mengidap penyakit saraf terjepit di tulang belakang dan tidak bisa berdiri lama, aku tetap bersikeras menemaninya saat latihan. Dia membuat kemajuan pesat dan sangat menonjol dalam pertunjukan, dan selalu tampil di posisi utama. Dia juga mendapat pujian dari para guru dan juri, dan aku senang sekali. Untuk menemaninya ke pertunjukan, aku harus bangun sekitar jam 3 pagi untuk bersiap-siap. Aku begitu sibuk ke sana kemari mengurusnya sampai-sampai tidak sempat makan. Setelah seharian repot melakukan ini itu, aku lalu akan merasa pusing dan merasa kelelahan baik secara fisik maupun mental. Namun ketika melihat putriku cemerlang di panggung, aku membatin, "Meskipun impianku untuk tampil di panggung tidak terwujud, kenyataan bahwa aku bisa membuat putriku menjadi pusat perhatian telah membuat semua jerih payah dan kelelahan ini sepadan!" Karena kelelahan akibat pertunjukan, ditambah lagi dengan tekanan pelajaran sekolah, tubuh putriku tidak kuat, dan dia tidak mau berlatih guzheng lagi. Aku mencoba membujuk dan merayunya untuk terus berlatih, dan akhirnya, dia dengan enggan setuju. Setiap hari sepulang sekolah, aku akan menyuruh putriku memanfaatkan waktu untuk berlatih guzheng. Ketika putriku ingin pergi keluar di akhir pekan, aku mengharuskannya menyelesaikan latihan guzheng sebelum pergi. Jika dia tidak menurut, aku akan memarahinya, "Menurutmu untuk apa Ayah dan Ibu bekerja keras serta berhemat demi membayar les dan menyuruhmu berlatih? Bukankah untuk menolongmu bisa naik panggung dan sukses nantinya? Tidak bisakah kau membuat kami bangga?" Ketika melihatku begitu cemas dan marah, putriku tidak punya pilihan selain menangis sambil berlatih guzheng. Saat SMP, tekanan belajarnya sangat berat, dan dia juga harus sering berlatih untuk berbagai pertunjukan, jadi dia tidak mau berlatih guzheng lagi. Aku memarahi putriku, "Mau sesibuk apa pun, kau harus tetap berlatih guzheng. Kalau kau berlatih dengan baik, kau bisa naik panggung dan hidup terkenal!" Namun dia tetap tidak mau berlatih. Dengan marah kulempar buku-buku dan tempat alat pemetiknya ke lantai, lalu berkata, "Oke. Tidak usah berlatih. Semoga kau senang saat dewasa nanti menjadi pemulung." Ketika melihatku begitu marah, putriku buru-buru berlatih. Terkadang, putriku merasa diperlakukan tidak adil lalu menangis dan berkata, "Mengapa Ibu selalu berusaha mengatur nasibku?" Aku akan berkata kepadanya dengan marah, "Bukankah semua yang Ibu lakukan ini demi kebaikanmu? Kenapa kau tidak mengerti apa yang baik untukmu?" Putriku akan berkata dengan marah, "Aku memang tidak suka bermain guzheng! Ibulah yang selama ini memaksaku belajar!" Pertengkaran kami selalu berakhir dengan tidak enak. Ketika ada jadwal pertunjukan dan pertemuan yang berbentrokan, aku akan menyuruh putriku menghadiri pertunjukan dulu. Jika putriku ingin menghadiri pertemuan, aku akan segera berkata, "Pertemuan masih bisa di lain waktu, tetapi kesempatan tampil tidak boleh dilewatkan. Kalau kau lewatkan kesempatan ini, hilanglah kesempatanmu tampil cemerlang di panggung." Karena ini, putriku jadi sering tidak ikut pertemuan.
Kemudian, putriku berhasil masuk SMA seni. Setiap kali aku bercerita tentang putriku, rekan kerja dan teman-teman akan memandangku dengan iri dan kagum. Kesombonganku sangat terpuaskan. Perlahan-lahan, putriku jadi fokus sepenuhnya pada belajar dan bermain guzheng. Untuk bisa masuk ke akademi musik impiannya dan mengungguli teman-temannya, dia mulai menambah jam latihan guzheng. Aku juga mengeluarkan banyak uang untuk menyewa guru privat bagi putriku. Ketika melihat kemampuan putriku bermain guzheng meningkat, aku sangat senang. Ketika putriku pulang liburan, aku ingin dia ikut pertemuan, tetapi dia akan beralasan seperti "PR-ku belum selesai" atau "Aku belum latihan guzheng". Saat menyadari putriku sudah hampir setahun tidak ikut pertemuan, aku merasa sedikit cemas. Namun melihatnya sangat sibuk dengan pekerjaan rumah dan latihan guzheng, aku membatin, "Apa sebaiknya putriku tidak usah les guzheng di akhir pekan agar bisa pergi menghadiri pertemuan?" Namun kemudian aku berpikir lagi, "Dia sudah susah payah meningkatkan kemampuannya bermain guzheng; kalau akhir pekan tidak latihan, bukankah dia akan ketinggalan dari yang lain? Dia tidak boleh mengendurkan latihannya. Namun, jika dia lama tidak ikut pertemuan, hidupnya juga akan mengalami kerugian." Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk meluangkan waktu bersekutu dengannya. Suatu hari, putriku bilang padaku dia tidak mau sekolah lagi. Dia bilang suasana di sekolah tidak baik, ada yang merokok, pacaran, dan terlibat geng. Dia bilang sulit untuk fokus belajar dan merasa sangat tertekan. Ketika mendengar putriku berkata tidak mau sekolah, aku berpikir, "Kau sudah susah payah masuk sekolah seni, kalau kau berusaha dua tahun lagi saja, kau akan bisa ikut ujian masuk akademi seni. Begitu kau berhasil masuk, impianmu untuk naik ke panggung yang lebih besar akan terwujud, saat itulah kerabat, teman, guru, serta teman sekelasmu akan kagum dan ingin jadi sepertimu, dan kau juga akan bisa membuatku bangga." Jadi aku berkata dengan marah, "Kau akhirnya berhasil masuk SMA seni. Jika berhenti sekolah, bukankah kau akan kehilangan masa depan yang cerah?" Ketika melihatku begitu cemas dan marah, putriku hanya menangis dan berangkat ke sekolah. Saat melihat putriku yang merasa diperlakukan sedemikian tidak adil, hatiku hancur, tetapi agar putriku bisa tampil di panggung dan menonjol, aku merasa tidak punya pilihan selain melakukan itu.
Saat pertemuan, aku menceritakan keadaanku kepada Saudari Li Ling, dan dia menemukan satu bagian firman Tuhan untuk kubaca. Tuhan berfirman: "Jika anak-anak mereka terpapar beberapa fenomena dari tren-tren jahat atau mendengar argumen atau pemikiran dan sudut pandang tertentu yang keliru selama tahun-tahun awal mereka, tanpa kemampuan membedakan tentang hal-hal ini, mereka mungkin akan mengikuti atau menirunya. Orang tua harus mendeteksi masalah ini sejak dini dan segera memberikan koreksi serta bimbingan yang akurat. Ini juga merupakan tanggung jawab mereka. Singkatnya, tujuannya adalah untuk memastikan anak-anak memiliki pemikiran dan sudut pandang yang positif dan benar mengenai cara mereka berperilaku, bagaimana mereka memperlakukan orang, dan bagaimana mereka memandang berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal, agar mereka dapat berkembang ke arah yang baik dan bukan ke arah yang buruk. Misalnya, mereka harus mengajari anak-anak mereka bahwa nasib orang di sepanjang hidupnya berada di tangan Tuhan. Orang tidak percaya sering berkata, 'Hidup dan mati telah ditetapkan sejak semula; kekayaan dan kehormatan ditentukan oleh Surga.' Besarnya penderitaan dan kenikmatan yang seharusnya orang alami dalam hidup telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan dan tidak dapat diubah oleh manusia. Di satu sisi, orang tua harus memberi tahu anak-anak mereka tentang fakta-fakta objektif ini, dan di sisi lain, mengajari mereka bahwa hidup bukan tentang kebutuhan fisik, apalagi tentang kesenangan. Ada hal-hal yang lebih penting untuk orang lakukan dalam hidup ini daripada makan, minum, dan mencari hiburan; mereka harus percaya kepada Tuhan, mengejar kebenaran, dan mengejar diselamatkan oleh Tuhan. Jika orang hanya hidup untuk kesenangan, untuk makan, minum, dan mencari hiburan secara jasmani, maka mereka seperti mayat berjalan, dan hidup mereka tidak ada nilainya sama sekali. Mereka sama sekali tidak menciptakan nilai yang positif atau bermakna, dan mereka tidak pantas untuk hidup atau menjadi manusia. Sekalipun seorang anak tidak percaya kepada Tuhan, orang tuanya setidaknya harus menuntunnya untuk menjadi orang baik dan orang yang melaksanakan tugasnya yang semestinya. Tentu saja, jika dia termasuk di antara umat pilihan Tuhan dan bersedia berpartisipasi dalam kehidupan bergereja dan melaksanakan tugasnya sendiri setelah dia menjadi dewasa, itu jauh lebih baik. Jika anak-anak mereka seperti ini, orang tua terlebih lagi harus memenuhi tanggung jawab mereka terhadap anak-anak mereka berdasarkan prinsip-prinsip yang telah Tuhan nasihatkan kepada manusia untuk diikuti. Jika engkau tidak tahu apakah mereka akan percaya kepada Tuhan atau apakah mereka termasuk di antara umat pilihan Tuhan, engkau harus tetap memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang seharusnya kaupenuhi sebagai orang tua semaksimal mungkin, membagikan pemikiran dan hal-hal positif yang telah kauketahui kepada anak-anakmu. Setidaknya, pastikan bahwa pertumbuhan mental mereka berkembang ke arah yang baik, dan bahwa pikiran mereka bersih dan sehat. Jangan biarkan mereka mengejar tren-tren duniawi atau mengejar ketenaran, keuntungan, dan status. Beberapa orang tua memiliki pengharapan bahwa anak-anak mereka akan lebih menonjol daripada orang lain, dan karenanya memaksa mereka untuk mempelajari segala macam keterampilan dan pengetahuan sejak usia dini. Yang jauh lebih parah, beberapa orang tua membawa anak-anak mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai ajang pencarian bakat, kontes akademik, atau acara kompetitif, atau membuat mereka mengejar berbagai tren sosial, menghadiri acara-acara seperti konferensi pers, acara penandatanganan, dan sebagainya. Sebagai orang tua, setidaknya mereka tidak boleh menuntun anak-anak mereka untuk mengejar tren-tren sosial. Jika orang tua menuntun anak-anak mereka untuk mengejar tren-tren duniawi, maka di satu sisi, jelas bahwa mereka tidak memenuhi tanggung jawab mereka sebagai orang tua, dan tidak membimbing anak-anak mereka dalam menetapkan tujuan hidup yang benar agar kehidupan mereka berkembang ke arah yang baik. Di sisi lain, mereka jelas sedang menuntun anak-anak mereka ke arah tanpa jalan kembali, menyeret mereka ke dalam tren jahat pengejaran akan ketenaran, keuntungan, dan status. Mengenai jalan yang akan ditempuh anak-anak mereka di masa depan atau karier yang akan mereka kejar, orang tua tidak boleh menanamkan hal-hal seperti ini kepada anak-anak mereka, 'Lihatlah si anu, pianis itu. Dia mulai bermain piano pada usia empat atau lima tahun. Dia tidak pernah suka bermain-main, tidak berteman, dan hanya berlatih piano serta pergi ke les piano setiap hari. Dia juga berkonsultasi dengan berbagai guru dan mengikuti berbagai kompetisi piano. Lihatlah betapa terkenalnya dia sekarang, makan enak, berpakaian bagus, dikelilingi oleh aura keistimewaan dan dihormati di mana pun dia berada.' Apakah jenis didikan seperti ini dapat mendorong perkembangan pikiran anak yang sehat? (Tidak.) Jadi, didikan macam apa ini? Ini adalah didikan setan. Jenis didikan seperti ini merusak pikiran anak muda mana pun. Didikan seperti ini mendorong mereka untuk menginginkan ketenaran, mendambakan berbagai aura keistimewaan, serta prestise, status, dan kesenangan. Didikan seperti ini membuat mereka mendambakan dan mengejar hal-hal ini sejak usia muda, membuat mereka merasa cemas, sangat ketakutan, serta khawatir, dan bahkan menyebabkan mereka membayar segala macam harga untuk mendapatkan hal-hal tersebut, bangun pada dini hari dan begadang untuk mengerjakan tugas sekolah mereka dan mempelajari berbagai keterampilan, serta kehilangan masa kecil mereka, menukar tahun-tahun berharga itu dengan hal-hal ini" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Setelah membaca firman Tuhan, akhirnya aku mengerti bahwa tanggung jawab orang tua yang sebenarnya adalah memastikan anak-anaknya tumbuh sehat dan bahagia secara fisik maupun rohani selama mereka masih di bawah umur, untuk memberikan bimbingan positif dalam pikirannya, dan membiarkan mereka menikmati masa kanak-kanak. Bukan justru orang tua memaksakan harapan mereka kepada anak-anaknya, ataupun menuntun mereka untuk mengejar ketenaran, reputasi, kehormatan, status, dan kesenangan. Mau tak mau, aku pun merenung: Sejak kecil putriku tidak suka belajar alat musik, tetapi untuk membuatnya menjadi terkenal dan dihormati semua orang, aku memaksanya belajar guzheng; dan ketika dia mendapat pujian dari para juri dan guru, aku merasa impian yang belum kuraih akhirnya terwujud melalui putriku, sehingga tekadku untuk membinanya menjadi makin kuat; setiap kali mendengar ada pertunjukan, aku akan mendaftarkannya tanpa persetujuannya, karena takut dia akan kehilangan kesempatan untuk tampil gemilang di panggung; setiap kali putriku ingin pergi main, aku akan memarahinya karena takut dia akan menunda latihannya. Untuk meningkatkan kemampuan musik putriku, aku tidak segan-segan mengeluarkan banyak biaya untuk menyewa guru profesional guna membimbingnya, semuanya demi membinanya agar menjadi terkenal dan menjadikanku terhormat. Aku tidak pernah memikirkan betapa besar tekanan dan penderitaan yang ditanggung hati putriku yang masih belia, yang selalu kupikirkan hanyalah mewujudkan keinginanku. Di bawah didikanku, putriku menjadi sangat mementingkan reputasi dan statusnya, dan dia menambah jam berlatihnya demi mengungguli teman-teman sekelasnya, kehilangan keceriaan dan kepolosan yang dahulu dimilikinya. Di antara kami mulai timbul jarak, dan putriku juga kehilangan minat untuk makan dan minum firman Tuhan serta menghadiri pertemuan, dia juga mulai makin jauh dari Tuhan. Semua ini akibat diriku. Dahulu anakku mau ikut pertemuan dan makan minum firman Tuhan, tetapi aku tidak membimbingnya untuk percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan yang benar, malah aku membawanya masuk ke dalam tren-tren jahat untuk terus-menerus mengejar reputasi serta status. Seperti inikah cara memenuhi tanggung jawab sejati seorang ibu? Ketika memikirkan hal ini, aku sangat menyesali cara mendidikku yang penuh paksaan yang menimbulkan luka besar dan trauma bagi anakku.
Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan menjadi mengerti alasanku memperlakukan putriku seperti ini. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Engkau melihat ada orang-orang yang hidup demi anak-anak mereka—engkau tahu cara hidup ini tidak benar, tetapi bisakah engkau tidak hidup demi anak-anakmu? Atau engkau melihat ada orang-orang yang berjerih lelah dan menyibukkan diri mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan—dalam hatimu, engkau tahu jalan ini salah, tetapi bisakah engkau tidak berjerih lelah dan menyibukkan dirimu demi hal-hal yang sama? Jika jalan yang sedang kautempuh justru adalah jalan mengejar ketenaran dan keuntungan, dan engkau tahu itu jalan yang salah, tetapi meskipun engkau ingin, engkau tidak bisa menempuh jalan mengejar kebenaran, ini berarti engkau tidak memegang kendali atas bagaimana engkau hidup di dunia ini! Apa akar dari hal ini? Itu karena orang belum menerima pekerjaan Tuhan atau memperoleh kebenaran. Apa penopang rohani manusia? Di mana mereka mencari penopang rohani? Untuk penopang rohani, orang mencari kebersamaan keluarga; kebahagiaan pernikahan; kenikmatan materi; kekayaan, ketenaran, keuntungan, status, hubungan, dan karier; serta kebahagiaan generasi berikutnya. Adakah yang tidak mencari hal-hal ini sebagai penopang rohani mereka? Mereka yang memiliki anak menemukan penopang rohani dari anak-anak mereka; mereka yang tidak memiliki anak menemukannya dalam karier mereka, dalam pernikahan, status mereka di tengah masyarakat, serta dalam ketenaran dan keuntungan. Oleh karena itu, cara hidup yang dihasilkan semuanya sama; tunduk pada kendali dan kuasa Iblis, dan meskipun tidak ingin seperti itu, semua orang berjerih lelah dan menyibukkan diri demi status, ketenaran, keuntungan, karier dan masa depan mereka, demi pernikahan mereka, keluarga mereka, dan masa depan anak-anak mereka, dan demi kenikmatan daging. Apakah ini jalan yang benar? Betapa pun sibuknya orang menyibukkan diri di dunia ini, betapa pun suksesnya karier mereka, betapa pun bahagianya keluarga mereka, betapa pun besarnya keluarga mereka, betapa pun terpandangnya status mereka—apakah mereka mampu menempuh jalan yang benar dalam hidup? Dengan mengejar ketenaran dan keuntungan, atau dunia, atau karier, apakah manusia mampu melihat fakta bahwa Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang berdaulat atas takdir manusia? Tidak mungkin. Terlepas dari apa yang manusia kejar atau jalan seperti apa yang mereka tempuh, jika mereka tidak mengakui fakta bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas takdir manusia, maka jalan yang mereka tempuh itu salah. Itu bukan jalan yang benar, melainkan jalan yang bengkok, jalan kejahatan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka mengenakan belenggu ini sementara berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Melalui penyingkapan firman Tuhan, aku menyadari bahwa Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk merusak dan mencelakai manusia, menanamkan gagasan dan pandangan kepada manusia seperti "Jadilah lebih menonjol dari orang lain", "Dapatkan kedudukan di atas orang lain", dan "Bawalah kehormatan bagi nenek moyangmu", mendorong manusia untuk tanpa henti mengejar ketenaran dan keuntungan. Demi mendapatkan ketenaran dan keuntungan, mereka menjadi makin jahat dan makin menderita. Sejak kecil, aku selalu bermimpi menjadi seorang aktor panggung, naik ke panggung untuk membuat semua orang kagum dan ingin menjadi sepertiku, juga untuk meraih status serta ketenaran. Namun ketika mimpiku tidak terwujud, aku jatuh dalam kekecewaan dan penderitaan. Kemudian, aku memaksakan mimpiku kepada putriku, memaksanya belajar guzheng. Aku berharap suatu hari nanti dia akan naik ke panggung dan bersinar. Ketika kulihat putriku tidak mau belajar guzheng, aku menjadi cemas dan marah, lalu naik pitam terhadapnya. Ketika putriku ingin menghadiri pertemuan, aku melarangnya, karena takut itu akan menghambat latihannya. Seperti inikah cara memenuhi tanggung jawab sebagai seorang ibu? Yang kulakukan itu sungguh jahat! Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi perspektif di balik pengejaranku tidak berubah sedikit pun, aku masih hidup menurut pemikiran dan sudut pandang Iblis, mengejar ketenaran dan keuntungan sama seperti orang tidak percaya. Aku lebih memilih putriku menyimpang dari Tuhan dan mengkhianati-Nya daripada tidak mengejar ketenaran dan keuntungan demi memuaskan kesombonganku. Aku benar-benar dibutakan oleh ketenaran serta keuntungan, dan pikiranku dikaburkan oleh semua itu, aku juga membuat diriku menderita dan anakku terluka. Aku menyadari bahwa ketenaran dan keuntungan adalah belenggu tak kasat mata yang dikenakan Iblis padaku, dan semua itu membawa kami pada kesedihan dan penderitaan yang tak berkesudahan! Aku teringat bagaimana beberapa selebriti meraih ketenaran dan keuntungan di industri hiburan, tetapi akhirnya menderita depresi lalu meloncat dari gedung untuk mengakhiri hidup mereka karena kekosongan jiwa dan penderitaan. Aku melihat bahwa bahkan ketika seseorang meraih status dan ketenaran, itu hanya bisa memuaskan kesombongan mereka untuk sementara, tetapi tidak bisa mengatasi kekosongan dan penderitaan batin mereka. Sebaliknya, hal-hal tersebut pelan-pelan menjauhkan mereka dari Tuhan, membuat mereka mengingkari-Nya, dan kesudahan dari hal ini adalah mereka akan dilahap oleh Iblis! Ketika menyadari ini, aku berdoa kepada Tuhan, mengatakan bahwa aku tidak akan lagi mengejar ketenaran dan keuntungan, aku juga bersedia tunduk pada kedaulatan serta pengaturan-Nya.
Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan memperoleh beberapa lagi pemahaman tentang diriku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Segala sesuatu yang orang tua lakukan untuk mewujudkan pengharapan mereka terhadap anak-anak mereka sebelum mereka menjadi dewasa bertentangan dengan hati nurani, nalar, dan hukum alam. Terlebih lagi, itu bertentangan dengan penetapan dan kedaulatan Tuhan. Meskipun mereka yang belum mencapai usia dewasa tidak memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, atau untuk berpikir secara mandiri, nasib mereka tetap berada di bawah kedaulatan Tuhan; nasib mereka tidak ditentukan oleh orang tua mereka. Para orang tua yang bodoh itu tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini. Selain di benaknya, mereka memiliki pengharapan bagi anak-anak mereka, mereka juga membayar harga yang lebih besar melalui perilaku mereka, melakukan segala sesuatu yang ingin dan bersedia mereka lakukan bagi anak-anak mereka, dan entah itu berarti mengeluarkan uang, waktu, tenaga, atau hal-hal lain, mereka melakukannya dengan senang hati dan sukarela. Meskipun orang tua melakukan hal-hal itu secara sukarela, konsekuensi apa yang mereka datangkan? Jika mereka akhirnya mencelakakan anak-anak mereka, itu tidak manusiawi, dan perilaku semacam ini sama sekali bukan tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi orang tua; mereka sudah melampaui lingkup tugas yang seharusnya mereka penuhi sebagai orang tua. Mengapa Kukatakan demikian? Karena orang tua mulai berusaha merencanakan dan mengendalikan masa depan anak-anak mereka sebelum mereka menjadi dewasa, dan juga berusaha menentukan masa depan anak-anak mereka. Bukankah itu bodoh? (Ya.) Sebagai contoh, katakanlah Tuhan telah menetapkan bahwa seseorang itu akan menjadi pekerja biasa, dan dalam kehidupan ini, dia hanya akan mampu memperoleh upah dasar untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, tetapi orang tuanya bersikeras agar dia menjadi seorang selebritas, orang kaya, pejabat tinggi, merencanakan dan mengatur masa depannya sebelum dia menjadi dewasa, membayar apa yang disebut berbagai macam harga, berusaha mengendalikan kehidupan dan masa depannya. Bukankah itu bodoh? (Ya.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (18)"). Aku membaca bagian firman Tuhan ini berulang kali, dan hatiku sangat tertusuk dan tersiksa. Aku menyadari bahwa harapan, usaha, dan pengorbananku untuk putriku bertentangan dengan kemanusiaan dan melawan penetapan serta kedaulatan Tuhan. Nasib seorang anak bukanlah sesuatu di mana orang tuanya berdaulat atasnya, dan aku harus menghormati pilihan anakku, tunduk pada penetapan Tuhan, serta tidak memaksa putriku melakukan hal-hal yang tidak disukainya. Apa yang dilakukan seseorang dalam hidupnya dan bagaimana caranya mencari nafkah sudah ditetapkan oleh Tuhan. Sama seperti dulu aku sangat ingin menjadi pemain opera, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan keinginanku. Aku bahkan tidak bisa mengubah nasibku sendiri, tetapi ingin mengubah nasib putriku. Aku sangat bodoh!
Kemudian aku merenungkan: Apa artinya benar-benar memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua? Aku membaca firman Tuhan: "Dengan menelaah esensi dari pengharapan orang tua terhadap anak-anak mereka, kita dapat melihat bahwa pengharapan-pengharapan tersebut bersifat egois, bertentangan dengan kemanusiaan, dan semua itu tidak ada hubungannya dengan tanggung jawab orang tua. Ketika orang tua memaksakan segala macam pengharapan dan tuntutan terhadap anak-anak mereka, orang tua memberikan tekanan ekstra yang sangat besar terhadap mereka—mereka tidak sedang memenuhi tanggung jawab mereka. Jadi, apa sajakah tanggung jawab yang seharusnya orang tua penuhi? Setidaknya, mereka seharusnya mengajari anak-anak mereka untuk menjadi orang jujur yang mengatakan yang sebenarnya dan melakukan segala sesuatu dengan cara yang jujur, serta mengajari mereka untuk berbaik hati dan tidak melakukan hal-hal yang jahat, membimbing mereka ke arah yang positif. Inilah tanggung jawab mereka yang paling dasar. Selain itu, mereka harus membimbing anak-anak mereka dalam mempelajari pengetahuan dan keterampilan praktis, dan sebagainya, berdasarkan kualitas dan kondisi mereka. Jika orang tua percaya kepada Tuhan dan memahami kebenaran, mereka seharusnya menuntun anak-anak mereka untuk membaca firman Tuhan dan menerima kebenaran, sehingga mereka mengenal Sang Pencipta, dan memahami bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dan bahwa Tuhan ada di alam semesta ini; mereka harus menuntun anak-anak mereka untuk berdoa kepada Tuhan serta makan dan minum firman Tuhan agar mereka dapat memahami beberapa kebenaran, sehingga setelah dewasa mereka akan dapat percaya kepada Tuhan, mengikuti Tuhan, dan melaksanakan tugas makhluk ciptaan, bukannya mengejar tren-tren duniawi, terperangkap dalam berbagai hubungan antarpribadi yang rumit, dan tergoda, dirusak, dan dihancurkan oleh berbagai tren jahat dunia ini. Inilah sesungguhnya tanggung jawab yang seharusnya orang tua penuhi. Tanggung jawab yang harus mereka penuhi dalam peran mereka sebagai orang tua adalah memberikan bimbingan yang positif dan bantuan yang tepat kepada anak-anak mereka sebelum mereka mencapai usia dewasa, serta segera merawat mereka dalam kehidupan jasmani mereka yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Jika anak-anak mereka sakit, orang tua harus segera menyediakan perawatan bagi mereka kapan pun diperlukan; mereka tidak boleh memaksa anak-anak untuk tetap pergi ke sekolah dan mengabaikan pengobatan karena takut menunda pekerjaan sekolah anak-anak mereka. Ketika anak-anak perlu memulihkan diri, mereka harus dibiarkan memulihkan diri, dan ketika mereka perlu beristirahat, mereka harus dibiarkan beristirahat. Memastikan kesehatan anak-anak mereka adalah keharusan; jika anak-anak tertinggal dalam pekerjaan sekolah mereka, orang tua dapat mencari cara untuk mengejar ketinggalan setelah itu. Inilah tanggung jawab yang harus dipenuhi orang tua. Di satu sisi, mereka harus membantu anak-anak mereka untuk memperoleh pengetahuan yang kokoh; di sisi lain, mereka harus membimbing dan mendidik anak-anak mereka agar mereka menempuh jalan yang benar, dan memastikan kesehatan mental mereka agar tidak terpengaruh oleh tren-tren tidak sehat dan praktik-praktik jahat masyarakat. Pada saat yang sama, mereka juga harus mendorong anak-anak mereka untuk berolahraga dengan semestinya demi menjaga kesehatan jasmani mereka. Ini adalah hal-hal yang harus orang tua lakukan, bukannya memaksakan pengharapan atau tuntutan yang tidak realistis terhadap anak-anak mereka. Orang tua harus memenuhi tanggung jawab mereka baik dalam hal yang anak-anak butuhkan dalam kerohanian mereka maupun hal yang mereka butuhkan dalam kehidupan jasmani mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (18)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasakan kesedihan yang tak terlukiskan. Sebelumnya, kupikir dengan meminta putriku mempelajari berbagai keterampilan, dan membawanya ke panggung terkenal agar menjadi tenar, sehingga semua orang akan mengagumi dan memujinya, aku telah memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Namun tanggung jawab orang tua yang sebenarnya adalah memastikan kesehatan batin serta kebahagiaan anak-anaknya, sambil membantu mereka membangun pemikiran dan sudut pandang yang positif, membimbing mereka agar memiliki tujuan hidup yang benar, membina mereka berdasarkan minat dan hobinya, dan membimbing mereka untuk tunduk pada penetapan serta kedaulatan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua juga harus memelihara anak-anaknya dalam hal kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan transportasi. Misalnya: Mereka harus memberitahukan makanan apa yang sehat untuk dimakan dan makanan apa yang berbahaya bagi tubuh, merawat mereka ketika sakit, memberi mereka obat bila diperlukan, bila perlu menyuntikkannya, serta mencukupi kebutuhan hidup dasar mereka dengan penuh perhatian. Inilah hal-hal yang seharusnya dilakukan orang tua. Meskipun di luarnya aku seakan sibuk ke sana kemari demi kebaikan putriku, pada kenyataannya, aku hanya ingin dia memberiku kemuliaan dan kebanggaan, bahkan dengan merenggut kegembiraan masa kecilnya dan menghalanginya menghadiri pertemuan serta makan dan minum firman Tuhan. Aku sungguh egois! Seharusnya aku membimbingnya sesuai dengan kualitas, minat, dan hobinya, bukan malah dengan paksa menekannya dan menjejalkan pendidikan kepadanya. Selain itu, aku seharusnya membimbing anakku untuk datang ke hadapan Tuhan, memintanya berdoa, makan dan minum firman Tuhan, menyembah Dia, dan menjauhi berbagai tren jahat dunia. Setelah memahami maksud Tuhan, aku tidak lagi mengajak putriku mengikuti berbagai pertunjukan, melainkan membimbingnya untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, aku juga menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya untuk makan dan minum firman Tuhan serta menghadiri pertemuan.
Kemudian, ketika aku dan putriku mengadakan pertemuan, kami menonton sebuah pementasan drama, berjudul "Selamat Tinggal, Kampusku yang Tak Berdosa". Setelah menontonnya, putriku sangat tersentuh dan mengerti bahwa Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mencelakai manusia, dan dengan makan dan minum firman Tuhan, putriku mengerti bahwa hanya dengan melaksanakan tugasnya, dia dapat menempuh jalan hidup yang benar. Suatu hari, ketika putriku pulang sekolah, dia dengan tegas berkata kepadaku, "Bu, aku merasa sangat tertekan di sekolah, dan aku ingin hidup bebas dan merdeka seperti saudara-saudari. Aku ingin berhenti sekolah dan melaksanakan tugasku di gereja." Aku sangat kaget, sambil berpikir, "Perjuanganmu untuk sampai di titik ini tidaklah mudah. Jika kau berhenti sekolah, kau akan mengubur impianmu untuk tampil di panggung untuk selamanya. Bukankah itu berarti semua usahamu sebelumnya akan sia-sia?" Saat itu, aku menyadari bahwa aku masih ingin mengejar ketenaran dan keuntungan, dan aku berdoa kepada Tuhan dalam hatiku, "Tuhan, putriku ingin berhenti sekolah, tetapi aku masih tidak rela. Tuhan, mohon kuatkan tekadku dan bantu aku terbebas dari belenggu ketenaran dan keuntungan." Setelah berdoa, aku teringat firman Tuhan: "Dengan menelaah esensi dari pengharapan orang tua terhadap anak-anak mereka, kita dapat melihat bahwa pengharapan-pengharapan tersebut bersifat egois, bertentangan dengan kemanusiaan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (18)"). "Tak seorang pun dari antaramu yang melaksanakan tugas di rumah Tuhan saat ini secara kebetulan—dari latar belakang apa pun salah seorang dari antaramu berasal untuk melaksanakan tugas, itu bukanlah secara kebetulan. Tak seorang pun dari orang-orang yang melaksanakan tugas di rumah Tuhan yang dipilih secara acak oleh seseorang; tugas apa yang dilaksanakan seseorang, itu sudah ditakdirkan oleh Tuhan dari semula sebelum segala zaman. Apa artinya mengatakan bahwa ini sudah ditetapkan? Apakah detailnya? Artinya, dalam seluruh rencana pengelolaan-Nya, Tuhan telah sejak lama merencanakan berapa kali engkau akan datang ke dalam dunia, dari garis keturunan dan keluarga mana engkau akan dilahirkan pada akhir zaman, bagaimana keadaan keluarga tersebut, apakah engkau akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, apa saja yang akan menjadi kelebihanmu, tingkat pendidikanmu, seberapa pandai engkau berbicara, apa kualitasmu, dan seperti apa penampilanmu nantinya, di usia berapa engkau akan datang ke rumah Tuhan dan mulai melaksanakan tugasmu, dan tugas apa yang akan kaulaksanakan pada waktu tertentu. Tuhan telah menetapkan setiap langkah untukmu sejak awal. Ketika engkau belum dilahirkan dan ketika engkau datang ke dunia ini dalam beberapa kehidupan terakhirmu, Tuhan telah mengatur tugas apa yang akan engkau laksanakan pada tahap akhir pekerjaan ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa waktu untuk seseorang datang ke rumah Tuhan dan melaksanakan tugasnya adalah sesuatu yang telah lama Tuhan atur. Tuhan telah lama menetapkan waktu kapan putriku akan datang dan melaksanakan tugasnya, dan aku tidak boleh bersikap seperti dahulu lagi, berusaha mengendalikan segala sesuatu dalam hidupnya demi reputasi dan statusku sendiri. Karena putriku telah memilih untuk mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasnya, ini adalah penetapan dan pengaturan Tuhan, aku pun harus memberinya bimbingan positif dan membiarkannya menempuh jalan yang benar. Inilah tanggung jawab yang harus kupenuhi. Dengan pertimbangan ini, dengan senang hati aku menyetujui permintaan putriku. Tidak lama kemudian, putriku berhenti sekolah dan datang ke rumah Tuhan untuk melaksanakan tugasnya. Ketika melihat putriku kembali ceria dan bersemangat seperti biasanya, aku merasa sangat senang, aku juga menyadari bahwa hanya dengan tunduk pada penetapan serta pengaturan Sang Penciptalah orang dapat hidup tenang, bebas, dan bahagia. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan uang atau ketenaran sebanyak apa pun!
Setelah itu, aku membaca dua bagian firman Tuhan, dan makin mengerti tentang nilai dan makna hidup manusia. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Selain percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran, serta melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, segala hal lain yang orang lakukan dalam hidup adalah kosong dan tidak layak untuk diingat. Sekalipun engkau telah mencapai prestasi yang mengguncang dunia, melakukan perjalanan ke luar angkasa dan ke Bulan, itu sia-sia; sekalipun engkau telah membuat kemajuan ilmiah yang telah memberikan manfaat atau bantuan bagi umat manusia, itu sia-sia. Semua ini akan berlalu. Apakah satu-satunya hal yang tidak akan berlalu? (Firman Tuhan.) Hanya firman Tuhan, hanya kesaksian bagi Tuhan, semua kesaksian dan pekerjaan yang bersaksi tentang Sang Pencipta, serta perbuatan baik manusia yang tidak akan berlalu. Hal-hal ini akan bertahan selamanya, dan hal-hal ini sangat berharga. Jadi, lakukanlah itu dengan segenap kekuatanmu dan manfaatkanlah kemampuanmu sebaik-baiknya. Jangan dikendalikan oleh orang, peristiwa, atau apa pun; korbankan dirimu dengan tulus bagi Tuhan, dan kerahkan segenap daya serta hati dan usahamu untuk melaksanakan tugasmu. Ini adalah hal yang paling Tuhan berkati, dan ini sepadan dengan seberapa pun penderitaannya!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Melaksanakan Tugas sebagai Makhluk Ciptaan dengan Baik, Barulah Hidup itu Menjadi Berharga"). "Sekarang engkau mengikuti Tuhan, mendengarkan firman Tuhan, dan menerima amanat Sang Pencipta. Terkadang engkau merasa itu sedikit sulit dan melelahkan, dan terkadang engkau mengalami sedikit penghinaan dan menjalani pemurnian, tetapi ini adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk. Apa yang akan kauperoleh pada akhirnya? Yang akan kauperoleh adalah kebenaran dan hidup, dan pada akhirnya, pengakuan dan peneguhan Sang Pencipta terhadapmu. Tuhan akan berkata, 'Engkau mengikuti-Ku, dan Aku memandangmu dengan penuh kasih sayang dan berkenan kepadamu.' Jika Tuhan tidak mengatakan apa pun selain bahwa engkau adalah makhluk ciptaan di mata-Nya, maka hidupmu selama ini tidak sia-sia, dan engkau berguna. Sungguh luar biasa diakui oleh Tuhan secara verbal, dan itu bukanlah hal kecil. Jika orang mengikut Iblis, apa yang akan mereka dapatkan? (Kehancuran.) Sebelum mereka hancur, akan menjadi apakah mereka? (Mereka akan menjadi setan.) Mereka akan menjadi setan. Sebanyak apa pun keterampilan yang orang peroleh, sebanyak apa pun uang yang mereka hasilkan, sebanyak apa pun ketenaran dan keuntungan yang mereka peroleh, sebanyak apa pun keuntungan materi yang mereka nikmati, atau setinggi apa pun status mereka di dunia sekuler, di dalam dirinya, mereka akan menjadi makin rusak, makin jahat dan kotor, makin memberontak dan munafik, dan akhirnya, mereka akan menjadi setan-setan hidup; mereka akan menjadi bukan manusia. Jadi bagaimana orang-orang seperti itu terlihat di mata Sang Pencipta? Hanya 'bukan manusia', dan itu saja? Apa pandangan dan sikap Sang Pencipta terhadap orang-orang semacam itu? Dia merasa muak terhadap mereka, merasa jijik terhadap mereka, membenci mereka, dan menganggap mereka sudah tidak ada harapan, dan pada akhirnya Dia mengutuk, menghukum, dan menghancurkan mereka. Orang menempuh jalan yang berbeda dan pada akhirnya akan menemui kesudahan yang berbeda. Jalan manakah yang kaupilih? (Percaya kepada Tuhan dan mengikut Dia.) Memilih untuk mengikut Tuhan berarti memilih jalan yang benar: Itu berarti menempuh jalan terang" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Melaksanakan Tugas sebagai Makhluk Ciptaan dengan Baik, Barulah Hidup itu Menjadi Berharga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa hanya dengan percaya kepada Tuhan, mengejar kebenaran, dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, orang dapat memperoleh kebenaran serta hidup dalam keserupaan dengan manusia. Hidup mengejar reputasi dan status adalah mengikuti Iblis, dan sekalipun seseorang dipandang tinggi oleh orang lain, itu hanyalah sementara, dan mereka tetap berjalan menuju kebinasaan. Sekarang, baik aku maupun putriku sedang melaksanakan tugas kami, dan kami telah menjauhkan diri dari berbagai pencobaan serta serangan tren jahat di masyarakat. Putriku tidak lagi merasa tertekan atau menderita, dan hatiku juga merasa lega dan merdeka. Ketika putriku menghadapi kesulitan dalam tugasnya, saudara-saudari membantunya dengan kasih, dan semua orang memperlakukannya dengan tulus. Putriku memiliki kebiasaan buruk, dan para saudari dengan sabar menunjukkan itu serta membantunya, dan dalam waktu kurang dari setengah tahun, putriku berhasil memperbaiki banyak kebiasaan buruknya. Terkadang, putriku melihat masalahku dan mengambil inisiatif untuk mempersekutukan kebenaran denganku. Ketika melihat putriku menempuh jalan yang benar serta membuat kemajuan dan perubahan, aku bersyukur kepada Tuhan dari lubuk hatiku! Jika bukan karena firman Tuhan yang membimbing kami, aku dan putriku pasti masih hidup dalam penderitaan yang disebabkan oleh Iblis, dan kami pasti hanya akan terus memberontak terhadap Tuhan dan makin menjauh dari-Nya, dan pada akhirnya, kami akan binasa bersama Iblis. Syukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan kami!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Su Li, TiongkokSejak kecil, aku sangat mengagumi ibuku. Dia menanggung banyak sekali kesulitan demi aku dan saudara-saudariku. Setiap...
Aku memiliki tiga kakak perempuan. Ketiga kakakku dan suami-suami mereka bekerja di kementerian pemerintahan. Ada yang menjadi ketua...
Oleh Qiu Yan, TiongkokAku tumbuh besar di pedesaan, dan orang tuaku tidak berpendidikan tinggi, jadi mereka tidak punya pilihan selain...
Oleh Wen Nuan, TiongkokSejak kecil, putraku bertubuh lemah dan pertumbuhannya juga lambat. Rumah kami dekat dengan sekolah, jadi aku sering...