Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Firman Tuhan adalah Kekuatanku dalam Hidup

51

Oleh Saudara Xu Zhigang, Kotamadya Tianjin

Dahulu, aku sangat terpengaruh oleh nilai-nilai tradisional Tiongkok, dan membeli real estat untuk anak-anak dan cucu-cucuku menjadi tujuan hidupku. Untuk mencapai hal ini, aku mengabdikan diri untuk belajar tentang teknologi perbaikan otomotif. Aku juga membuka bengkel reparasi, dan bisnis berjalan dengan lancar. Pada saat itu dalam hidupku, aku percaya aku mengendalikan nasibku sendiri, jadi ketika saudari iparku memberitakan Injil Tuhan Yesus kepadaku, aku tidak hanya menolak untuk menerimanya, aku juga benar-benar mengejeknya, karena aku merasa bahwa aku bisa hidup dengan baik-baik saja tanpa percaya kepada Tuhan. Namun, masa-masa indah itu tidak bertahan lama. Bisnis bengkelku semakin memburuk, dan sekeras apa pun aku bekerja, aku tidak bisa membalikkan keadaan. Aku bersusah payah berusaha mengubah situasi, dan aku lelah dan sengsara, jadi aku beralih ke minum alkohol sepanjang hari untuk menghilangkan kecemasanku. Pada gilirannya, suatu hari, aku tidak memperhatikan saat mengemudi dan akhirnya mengalami kecelakaan. Mobilku hancur sampai tak dapat dikenali, tetapi untungnya dan ajaibnya, aku selamat. Tak lama kemudian, pada musim semi tahun 1999, istriku memberitakan Injil Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman kepadaku. Aku mulai memahami beberapa kebenaran dengan membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa dan belajar bahwa alasanku hidup dalam keadaan yang begitu menyedihkan dan tak berdaya adalah karena aku telah menerima prinsip-prinsip hidup yang ditanamkan oleh Iblis pada manusia. Aku dahulu ingin mengandalkan usahaku sendiri untuk menciptakan rumah yang bahagia untuk diriku sendiri, dan hasilnya adalah aku dibodohi sampai pada titik di mana aku mendapati diriku dalam penderitaan yang ekstrem, dan hampir kehilangan nyawaku. Tuhan Yang Mahakuasalah yang membawaku kembali dari ambang kematian dan membawaku ke rumah-Nya, dan aku sangat bersyukur kepada-Nya karena telah menunjukkan belas kasihan kepadaku. Sejak saat itu, setiap hari aku membaca firman Tuhan, serta menghadiri pertemuan dan bersekutu dengan saudara-saudariku, dan terang pun memenuhi hatiku. Aku menikmatinya, dan bersukacita bahwa aku telah menemukan jalan sejati dalam kehidupan. Namun, tak lama kemudian, aku menjadi target penangkapan oleh pemerintah PKT (Partai Komunis Tiongkok) karena kepercayaanku kepada Tuhan, dan aku terpaksa meninggalkan keluargaku dan bersembunyi. Pada saat itu, meskipun mengalami periode kelemahan, aku percaya bahwa ke mana pun aku pergi dan seperti apa pun Iblis mungkin mengejarku, firman Tuhan akan membimbingku. Lebih dari sepuluh tahun kemudian, melalui bimbingan dan perbekalan firman Tuhan, berangsur-angsur aku mulai memahami beberapa kebenaran, dan hidupku sangat memuaskan. Sepanjang waktu berikutnya, ketika aku ditangkap dan mengalami penganiayaan, aku mengalami bahkan lebih nyata lagi bahwa firman Tuhan adalah kekuatanku dalam hidup, karena firman Tuhanlah yang memungkinkanku untuk berdiri teguh, tegak, dan tanpa rasa takut di tengah penyiksaan dan aniaya Iblis yang kejam, sehingga aku akhirnya bisa sepenuhnya mempermalukan Iblis. Setelah pengalaman ini, aku lebih menghargai firman Tuhan, dan aku tidak bisa lepas dari firman Tuhan bahkan untuk sesaat saja.

Pada suatu hari bulan Februari 2013, aku keluar menyebarkan Injil bersama beberapa saudara-saudari, tetapi dalam perjalanan pulang, kami diberhentikan oleh sebuah sedan. Tiga petugas polisi keluar dari mobil itu dan menanyakan identitas kami, dan ketika mereka mendengar aksen nonlokalku, mereka secara paksa menggeledahku tanpa memberikan alasan. Mereka merogoh dari kantongku sebuah kartu dari Bank Pertanian Tiongkok yang berisi lebih dari 700 yuan, lebih dari 300 yuan uang tunai, ponsel, pemutar MP5, dan beberapa informasi Injil. Begitu salah satu petugas itu mengetahui bahwa aku percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, sikapnya menjadi sangat ganas, dan dia memborgolku dengan paksa dan mendorongku ke dalam mobil. Di kantor polisi, mereka menyuruhku untuk berdiri di dinding, di mana seorang petugas bertanya dengan tegas, "Siapa namamu? Di mana rumahmu? Siapa yang berkhotbah tentang kepercayaan kepada Tuhan kepadamu?" Saat dia melihat aku tidak mau menjawab, dia langsung menjadi marah, merobek mantel buluku, lalu membalikkan tubuhku dan menarik sweterku dari belakang ke atas kepala, dan memukuli punggungku secara kejam dengan pentungannya. Setiap beberapa kali pukulan, dia akan bertanya kepadaku, "Kau mau bicara sekarang?" Setelah berkali-kali memukulku sampai lima belas kali, daging di punggungku terasa terkoyak, dan tulang belakangku terasa seperti patah, sakit sekali. Namun, seperti apa pun dia memukulku, aku menolak bicara. Akhirnya, dengan marah dia berteriak, berkata, "Baiklah, aku menyerah! Memukulmu seperti ini membuat pergelangan tanganku sakit, dan kau tetap tidak mau bicara!" Dalam hatiku, aku tahu Tuhan sedang melindungiku. Aku tidak mungkin menahan pemukulan yang sekeras itu. Diam-diam aku bersyukur kepada Tuhan.

Mereka melihat bahwa pemukulan tidak efektif terhadap diriku, jadi mereka mengubah taktik. Salah satu dari polisi jahat ini membawa tongkat sepanjang sekitar satu meter dan berdiameter enam sentimeter, dan dengan seringai menyeramkan berkata, "Mari kita buat dia 'mencicipi kelezatan' berlutut di atas benda ini dan kemudian melihat apakah dia mau bicara!" Aku telah mendengar bahwa setelah berlutut di atas tongkat seperti ini selama 30 menit, seseorang tidak dapat berdiri tegak atau berjalan. Menghadapi siksaan semacam ini, aku merasa bahwa tingkat pertumbuhan spiritualku terlalu kecil, dan dagingku tidak akan mampu menanggungnya. Aku takut, jadi dengan seluruh kekuatanku, aku berseru kepada Tuhan, "Tuhan! Tingkat pertumbuhanku terlalu kecil, dan aku takut tidak tahan dengan siksaan semacam ini. Tolong lindungi hatiku dan beri aku kekuatan untuk menanggung siksaan ini dan tidak mengkhianati-Mu." Aku berseru kepada Tuhan terus-menerus, dan Tuhan tahu dagingku lemah. Dia mendengar doaku, karena pada akhirnya, para polisi jahat ini memutuskan untuk tidak menggunakan siksaan sejenis ini. Fakta-fakta di depan mataku menunjukkan belas kasihan dan perlindungan Tuhan bagiku, yang meningkatkan imanku kepada-Nya sekaligus mengurangi ketakutanku. Meskipun mereka memutuskan untuk tidak menggunakan metode penyiksaan itu, mereka tetap tidak mau melepaskanku. Sebaliknya, mereka memikirkan metode penyiksaan lain. Mereka memaksaku untuk berlutut di lantai dengan pinggangku tegak lurus, dan kemudian menyuruh seorang petugas laki-laki gemuk besar setinggi lebih dari 1,8 meter berdiri di atas betisku dengan kedua kaki dan menginjaknya sekuat-kuatnya. Saat dia berdiri di atas kedua betisku, aku merasakan sakit yang membakar, lalu berdoa kepada Tuhan dengan seluruh kekuatanku, "Tuhan! Aku tidak bisa menahan siksaan yang tidak manusiawi ini, tetapi aku ingin memuaskan-Mu, jadi aku memohon kepada-Mu untuk memberiku iman, kekuatan, dan keinginan untuk menanggung penderitaan. Aku ingin berdiri teguh dalam kesaksianku untuk-Mu." Syukur kepada Tuhan, karena sekali lagi Dia mendengar doaku. Petugas polisi yang gemuk itu tidak bisa mempertahankan keseimbangan di atas betisku, jadi tak lama kemudian dia turun dariku. Petugas polisi jahat di sebelahnya menjadi marah dan berkata, "Dasar bodoh tak berguna! Mengapa kau turun darinya terlalu cepat?" Setan-setan ini benar-benar jahat dan kejam tiada duanya. Mereka memikirkan setiap metode yang mungkin untuk menyiksaku, dan semata-mata ingin membunuhku, seolah-olah hanya kematianku yang akan memuaskan mereka. Mereka memaksaku untuk tetap dalam posisi berlutut tegak dan tidak membiarkanku bergerak. Kemudian, salah satu petugas polisi memandang mereka yang lain dengan pandangan penuh arti, dan kemudian semuanya keluar, meninggalkanku sendirian di ruangan itu dengan petugas polisi itu berjaga-jaga. Dia menghampiriku dan berusaha mengambil hatiku, tersenyum palsu sambil berkata, "Ibuku juga percaya kepada Tuhan. Ceritakan bagaimana kau menjadi percaya. Aku ingin percaya kepada Tuhan bersamamu, jadi bawa aku untuk bertemu dengan atasanmu." Mendengar kebohongannya dan melihat senyumnya yang tidak jujur, tiba-tiba aku merasa sangat jijik. Tepat ketika aku akan mengungkap tipuannya, tiba-tiba aku teringat akan firman Tuhan: "Engkau harus memiliki keberanian-Ku di dalam dirimu …. Tetapi demi Aku, engkau juga tidak boleh menyerah pada kekuatan gelap apa pun. Andalkan hikmat-Ku untuk berjalan dengan cara yang sempurna; jangan biarkan konspirasi Iblis menguasai" ("Bab 10, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan memberikan bimbingan yang tepat waktu bagiku, memungkinkanku untuk memahami bahwa, aku membutuhkan hikmat di hadapan Iblis, bahkan melebihi kebutuhanku akan keberanian. Setiap saat kita harus mengandalkan Tuhan untuk memberi kita hikmat untuk melawan Iblis. Melalui pencerahan dan bimbingan dari firman Tuhan, aku tahu apa yang harus dilakukan, jadi aku berkata, "Jika kau benar-benar ingin percaya, kau hanya perlu membaca firman Tuhan di rumah. Kau tidak perlu pergi keluar dan menemui siapa pun." Tepat setelah aku selesai bicara, petugas polisi jahat yang memukuliku masuk dan berkata dengan jahat kepadaku, "Kau benar-benar bikin sakit kepala, susah diatasi!" Aku tahu Iblis telah gagal dan terhina, jadi dalam hati aku bersyukur kepada Tuhan. Aku melihat bahwa Tuhan selalu bersamaku, membimbingku, mendorongku, dan secara ajaib menangkal kekerasan dari tangan hitam iblis. Kasih Tuhan untukku sangat luar biasa! Pada saat itu, meskipun terjebak dalam sel, aku merasa bahwa hubunganku dengan Tuhan lebih dekat daripada sebelumnya, dan aku merasa sangat didukung dan tenang. Mereka memaksaku berlutut selama lebih dari dua jam. Akhirnya, setelah pukul satu pagi, saat mereka menyadari interogasinya tidak membuahkan hasil, mereka tidak bisa melakukan apa pun selain pergi dengan perasaan kecewa.

Pada pagi hari kedua, polisi membawaku ke kantor cabang Biro Keamanan Umum. Setelah aku masuk ke ruang interogasi, kepala polisi kriminal itu bertanya dengan marah, "Siapa namamu? Di mana rumahmu? Siapa yang memperkenalkanmu untuk percaya kepada Tuhan? Sudah berapa lama kau percaya kepada Tuhan? Siapa kontakmu? Ceritakan semuanya, atau aku berjanji kau akan menyesal!" Namun, apa pun yang dia tanyakan, aku tidak memberi tahu apa pun kepadanya. Sepanjang hari dia menginterogasiku menggunakan taktik kasar dan lembut, tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dariku, dan akhirnya, dengan marah, dia berteriak, "Kau tidak mau bicara?! Kalau begitu mari kita lihat bagaimana kau menyukai kehidupan di rumah tahanan! Jika kau ingin segalanya menjadi sulit, kami tentu bisa melakukannya! Jika kau tidak memberi kami jawaban yang kami inginkan, kami akan tetap mengurungmu di sana selamanya!" Maka dari itu, aku dibawa ke rumah tahanan dan dikunci di sel yang menampung sejumlah terbesar pelanggar serius. Saat aku memasuki sel, darahku menjadi dingin karena suasana yang suram dan menakutkan di tempat itu. Dinding selnya setinggi empat meter, gelap dan lembap, hanya ada satu jendela kecil yang membiarkan masuk sedikit sinar matahari, dan ada bau tengik pekat yang membuat udara nyaris mustahil untuk dihirup. Kamar mungil ini penuh sesak dengan penjahat; ada pembunuh, pengguna narkoba, dan perampok, semuanya pelanggar serius. Masing-masing dari mereka tampak biadab dan jahat, dan beberapa di antaranya tinggi, berotot tebal, dengan wajah jelek berserabut, dan tubuh-tubuh dipenuhi tato naga, burung phoenix, ular, dan sejenisnya. Beberapa tahanan sekurus garu, seperti kerangka hidup, dan melihat mereka saja sudah membuatku gemetar. Ada tatanan kekuasaan di kalangan para tahanan, dan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa berada di bagian paling bawah, sama sekali tidak memiliki hak untuk bicara. Tombol panggilan darurat yang dipasang di dinding pada awalnya dimaksudkan untuk digunakan oleh para tahanan dalam situasi darurat untuk memanggil petugas pemasyarakatan, tetapi orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa tidak punya hak untuk "menikmati" penggunaannya sama sekali. Sekejam apa pun pelecehan yang terjadi, tak seorang pun akan merespons.

Pada hari pertamaku di dalam sel, kepala tahanan mengejekku setelah mengetahui situasiku, mengatakan, "Karena kau percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, suruhlah Dia mengeluarkanmu dari sini. Jika Tuhanmu begitu baik, mengapa Dia membiarkanmu berakhir di tempat ini?" Tahanan jahat di sampingnya ikut mengejek, "Menurutmu siapa yang lebih baik, kepala tahanan kita di sini atau Tuhanmu?" Mendengar mereka meremehkan dan menghina Tuhan membuatku marah. Aku ingin berdebat dengan mereka, tetapi tidak berdaya untuk melakukannya. Aku ingat bahwa Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan menyatakan bahwa esensi pelaku kejahatan adalah setan, dan ini benar sekali! Setan-setan ini benar-benar tidak masuk akal, dan pantas dikutuk! Saat aku tidak menanggapi, kepala tahanan itu marah dan menamparku dengan kejam dua kali, setelah itu dia memukul daguku dengan keras, menjatuhkanku ke lantai. Aku sangat takut dihadapkan dengan iblis-iblis ini, dan mau tidak mau aku memanggil Tuhan, "Ya Tuhan! Kau tahu aku pengecut dan lemah, dan bahwa aku selalu takut pada preman dan gangster. Tolong lindungi aku, beri aku iman dan kekuatan, dan izinkan aku untuk tidak kehilangan kesaksianku dalam situasi ini." Iblis-iblis ini melihat bahwa aku tidak mau bicara, jadi mereka memikirkan cara berbeda untuk menyiksaku. Seorang penjahat yang tampak seperti kerangka mendatangiku dan memaksaku untuk mundur ke tembok. Dia kemudian meminta dua tahanan lain untuk memegangi pundakku pada dinding, setelah itu dia mencubit paha bagian dalamku sekuat-kuatnya, pertama kiri, lalu kanan, dan setiap kalinya aku akan merasakan ngilu yang sangat menyakitkan. (Setelah itu, kakiku dipenuhi beberapa benjolan besar, yang bahkan sampai hari ini belum hilang). Kemudian, dia dengan kejam memukul bagian luar pahaku dengan tinjunya. Tak lama setelah itu, aku berjongkok di lantai, dan hampir tidak mungkin bagiku untuk berdiri lagi. Meski begitu, mereka tidak berhenti menyiksaku. Saat itu pertengahan musim dingin dan cuacanya sangat dingin, tetapi iblis-iblis ini menyuruhku melepas pakaian dan berjongkok di dinding di bawah keran. Mereka terus-menerus menuangkan air padaku dan dengan sengaja membuka jendela, membuatku sangat kedinginan sehingga tidak bisa berhenti menggigil. Ketika salah satu tahanan melihat bahwa aku menggertakkan gigi untuk menahan siksaan, dia mengambil sepotong papan busa dan mengayunkannya kepadaku seperti kipas untuk meniupkan udara dingin ke arahku, seketika membuatku merasa seolah-olah darahku membeku, dan gigiku tidak bisa berhenti bergemeletuk. Aku mau tidak mau berdoa dalam hati kepada Tuhan, "Ya Tuhan! Aku tahu niat baik-Mu ada di balik apa yang terjadi padaku sekarang, jadi aku memohon bimbingan-Mu dalam memahami kehendak-Mu, karena jika sendirian, aku benar-benar tidak dapat menanggung siksaan iblis-iblis ini. Ya Tuhan! Tolong beri aku iman dan kekuatan yang lebih besar, agar aku punya kemauan dan tekad untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini." Setelah berdoa, aku mengingat firman Tuhan: "'Sebab penderitaan ringan kami, yang hanya sementara, mengerjakan bagi kami kemuliaan yang lebih besar dan kekal.' Di masa lalu, engkau semua telah mendengar perkataan ini, namun tidak ada yang memahami arti sebenarnya dari perkataan ini. Saat ini, engkau tahu betul maknanya yang sesungguhnya. Firman ini adalah apa yang akan Tuhan genapi di akhir zaman. Dan firman ini akan digenapi atas diri mereka yang sangat menderita oleh karena si naga merah yang sangat besar di tanah tempat ia berada. Naga merah yang sangat besar menganiaya Tuhan dan merupakan musuh Tuhan, jadi di negeri ini, orang-orang yang percaya kepada Tuhan menjadi sasaran penghinaan dan penganiayaan. Itu sebabnya firman ini akan menjadi nyata di tengah-tengahmu" ("Apakah Pekerjaan Tuhan Begitu Sederhana Seperti yang Dibayangkan Manusia?" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Dengan merenungkan firman Tuhan, aku memahami kehendak Tuhan. Fakta bahwa aku sekarang menderita karena kepercayaanku kepada Tuhan adalah sesuatu yang mulia dan itulah kehormatanku. Iblis sedang menyiksaku dengan tujuan membuatku mengkhianati dan menyangkal Tuhan karena aku tidak bisa menahan penderitaan kedagingan, jadi aku sama sekali tidak boleh tunduk kepada Iblis. Pada saat itu, tiba-tiba aku teringat bagaimana petugas polisi jahat itu pernah mengancam akan mengambil nyawaku di rumah tahanan, dan aku tiba-tiba tersadar—para tahanan itu begitu kejam menyiksa dan melecehkanku karena mereka diperintahkan untuk melakukannya oleh polisi jahat itu! Baru pada saat itulah aku dengan jelas melihat bahwa "Polisi Rakyat" yang sok suci ini sebenarnya sangat jahat dan tercela. Mereka menggunakan para tahanan ini untuk melakukan pekerjaan kotor mereka. Mereka benar-benar kejam sampai ke sumsum tulangnya, dan tidak lain merupakan iblis yang dapat melakukan pembunuhan tanpa harus menumpahkan darah dengan tangannya sendiri! Iblis sedang mencoba setiap metode yang memungkinkan untuk membuatku tunduk kepada mereka, tetapi hikmat Tuhan dijalankan berdasarkan tipu daya Iblis. Tuhan menggunakan lingkungan ini untuk memberiku iman yang benar kepada-Nya, untuk memungkinkanku melihat dengan jelas wajah buruk dan esensi jahat Iblis, dan dengan demikian membangkitkan kebencian sejati bagi mereka di hatiku. Setelah aku memahami kehendak Tuhan, hatiku menjadi cerah dan aku menemukan kekuatanku. Aku tidak bisa membiarkan diriku dibodohi oleh Iblis. Sebesar apa pun rasa sakit atau kelemahan kedagingan yang aku rasakan, aku harus berdiri teguh dalam kesaksianku untuk Tuhan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena memberiku kekuatan untuk mengatasi penyiksaan dan aniaya setan-setan ini, dan sekali lagi untuk mengalahkan Iblis.

Di rumah tahanan, makanan sehari-hari kami terdiri dari kubis beku yang direbus dalam air, acar sayuran, dan roti jagung kukus kecil, yang sama sekali tidak mengenyangkan perut. Pada malam hari, kepala tahanan dan gerombolannya tidur di atas panggung tidur, sementara kami semua harus tidur di lantai. Saat aku berbaring di atas lantai es, memandangi para tahanan di sekitarku, aku memikirkan keadaanku yang menyedihkan dan segera merasakan dingin yang kesepian mencengkeram hatiku. Aku teringat ketika aku bersama saudara-saudariku, dan setiap hari terasa bahagia dan penuh sukacita. Namun sekarang, aku menghabiskan setiap hari dengan para penjahat ini, dan aku juga harus menanggung penindasan dan penghinaan mereka, dan aku merasakan kesengsaraan yang luar biasa dan tak terkatakan …. Aku pergi ke hadapan Tuhan dan berdoa kepada-Nya, "Ya Tuhan! Aku tidak tahu berapa lama lagi aku harus hidup seperti ini, dan aku tidak tahu bagaimana menjalani hari-hari mendatang. Sekarang, dagingku lemah, dan aku tidak ingin menghadapi situasi ini lagi. Ya Tuhan! Tolong beri aku tekad untuk menanggung penderitaan, dan bimbing aku dalam memahami kehendak-Mu, sehingga aku dapat memuaskan-Mu dalam situasi ini." Setelah berdoa, firman Tuhan terlintas dengan jelas dalam pikiranku: "Banyak sudah malam-malam tanpa tidur yang telah diderita Tuhan demi pekerjaan umat manusia. Dari tempat yang tinggi sampai ke kedalaman yang paling rendah, Dia telah turun ke neraka hidup tempat manusia tinggal untuk melewati hari-hari-Nya bersama manusia, tidak pernah mengeluh tentang kejorokan di antara manusia, tidak pernah mencela manusia karena ketidaktaatannya, tetapi menanggung penghinaan terbesar sementara Dia melakukan pekerjaan-Nya sendiri. … demi semua umat manusia, agar seluruh umat manusia dapat menemukan istirahat lebih cepat, Dia telah menanggung penghinaan dan menderita ketidakadilan untuk datang ke bumi, dan secara pribadi masuk ke dalam 'neraka' dan 'dunia orang mati,' ke dalam sarang harimau, untuk menyelamatkan manusia. Bagaimana mungkin manusia berhak untuk menentang Tuhan? Alasan apa yang dimilikinya untuk sekali lagi mengeluh tentang Tuhan? Bagaimana ia masih memiliki nyali untuk memandang Tuhan lagi? Tuhan dari surga telah datang ke negeri yang paling kotor dan jahat ini, tanpa pernah melampiaskan keluhan-Nya, atau berkeluh-kesah tentang manusia, tetapi sebaliknya dengan tenang menerima kerusakan[1] dan penindasan yang disebabkan manusia. Tidak pernah Dia membalas tuntutan-tuntutan manusia yang keterlaluan, tidak pernah Dia menuntut manusia secara berlebihan, dan tidak pernah Dia membuat tuntutan yang tidak masuk akal terhadap manusia. Dia hanya melakukan semua pekerjaan yang dikehendaki oleh manusia tanpa mengeluh: mengajar, mencerahkan, menegur, memurnikan lewat firman, mengingatkan, menasihati, menghibur, menghakimi, dan mengungkapkan" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (9)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku mengingat firman Tuhan tersebut dan memikirkan penderitaan yang Tuhan alami demi umat manusia selama dua kali Dia berinkarnasi ke dunia, dan mataku tanpa sadar berlinang air mata. Tuhan Yesus dipaku pada kayu salib, menggunakan nyawa-Nya sendiri untuk menebus umat manusia yang telah dirusak oleh Iblis. Hari ini, Tuhan Yang Mahakuasa telah kembali berinkarnasi dan telah datang ke Tiongkok, bangsa yang paling menentang Tuhan, di mana Dia mempertaruhkan nyawa-Nya untuk mengucapkan firman-Nya dan menyelamatkan kita. Siapa yang bisa mengetahui kesulitan dan penderitaan yang telah Dia alami untuk melakukan itu? Siapa yang bisa menghargainya? Sementara itu, aku, seorang anggota dari umat manusia yang rusak, merasa sangat sengsara dan tidak menginginkan apa pun selain membebaskan diri dari situasiku setelah baru menghabiskan beberapa hari dengan para penjahat itu. Tuhan, yang kudus dan benar, telah hidup bersama kita di dunia yang jahat dan terpuruk ini selama beberapa dekade. Bukankah Tuhan jauh lebih menderita? Terlebih lagi, aku menderita untuk membebaskan diri dari kerusakan dan untuk mendapatkan keselamatan sejati. Namun Tuhan tidak bersalah dan bukan dari dunia ini, juga bukan dari neraka di bumi ini, tetapi murni karena kasih-Nya kepada umat manusia, Dia datang ke kedalaman sarang naga merah yang sangat besar, rela mengorbankan hidup-Nya demi menyelamatkan umat manusia. Kasih Tuhan sungguh luar biasa! Jika aku memang memiliki kasih kepada Tuhan, seharusnya aku tidak merasa bahwa keadaanku sendiri tidak tertahankan, dan seharusnya aku tidak merasa terlalu sedih. Di hadapan kasih Tuhan, aku tidak merasakan apa pun selain penyesalan dan rasa malu. Dan saat aku merenungkan kasih Tuhan, aku merasakan gelombang kehangatan dalam hatiku. Tuhan itu benar-benar hebat, dan kasih-Nya bagi umat manusia sangat dalam dan sangat nyata! Jika aku tidak mengalami langsung keadaan seperti itu, aku tidak akan tahu kasih dan keindahan Tuhan. Meskipun mengalami keadaan ini menghancurkan tubuhku, ini sangat bermanfaat bagi hidupku. Saat memikirkan hal ini, hatiku dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan, dan aku menemukan tekad untuk berdiri teguh dalam kesaksianku akan Tuhan, terlepas dari rasa sakit yang luar biasa.

Di rumah tahanan, kepala tahanan sering memberitahuku tentang semua cara yang digunakan oleh petugas pemasyarakatan untuk menyiksa "penjahat" yang percaya kepada Tuhan: Mereka menusukkan paku payung ke jari-jari orang-orang percaya, menyebabkan rasa sakit yang tak terperikan; mereka mengisi botol air dengan air mendidih dan memaksa orang-orang percaya untuk memasukkan salah satu jari mereka, dan setelah kulitnya terbakar, mereka menyuruh orang percaya itu mengeluarkan jari mereka dan kemudian menggosokkan bubuk cabai pada jari yang melepuh tersebut …. Saat aku mendengarkan siksaan yang mengumpalkan darah ini diterangkan, aku terbakar amarah, dan kebencianku pada pemerintah PKT, rezim iblis ini, semakin dalam. Rezim ini menggambarkan dirinya dalam setiap cara yang positif sambil melakukan setiap tindakan yang jahat. Mereka menyatakan "kebebasan berkeyakinan beragama" dan "semua orang menikmati hak dan kepentingan warga negara yang sah", serta "tahanan diperlakukan seperti keluarga", sambil diam-diam melecehkan dan menyiksa orang-orang, tidak memedulikan kehidupan manusia, dan tidak memperlakukan orang-orang sebagai manusia. Bagi seseorang yang percaya kepada Tuhan, memasuki dunia mereka sama seperti memasuki neraka, tempat di mana mereka akan disiksa dan direndahkan, dan di mana mereka tidak akan pernah tahu apakah mereka akan keluar hidup-hidup. Pikiran itu menakutkan bagiku, karena aku takut siksaan itu akan digunakan pada diriku sendiri. Setiap kali aku mendengar petugas pemasyarakatan membuka jendela kecil di pintu besi, hatiku melompat ke tenggorokan, karena aku takut akan diseret keluar dan disiksa. Aku menghabiskan setiap hari diliputi ketakutan, dan aku merasa sangat terjebak. Dalam kesengsaraanku, aku hanya bisa berdoa dalam hati kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Hatiku lemah sekarang, dan aku merasa sangat takut, tetapi aku ingin memuaskan-Mu, jadi tolong beri aku iman dan kekuatan. Aku ingin mengandalkan-Mu untuk mengatasi pencobaan Iblis!" Setelah berdoa, aku menemukan bimbingan dalam firman Tuhan: "Jangan takut, Tuhan Semesta Alam Yang Mahakuasa pasti akan bersamamu; Dia menolongmu dan Dia adalah perisaimu" ("Bab 26, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Ketika manusia siap mengorbankan nyawa mereka, semuanya menjadi tidak penting, dan tidak ada orang yang bisa mengalahkannya. Apakah yang lebih penting daripada nyawa? Karenanya, Iblis menjadi tidak mampu bertindak lebih jauh dalam manusia, tidak ada yang bisa dilakukannya dengan manusia" ("Bab 36, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan memberiku penghiburan dan dorongan yang luar biasa. "Ya," pikirku. "Tuhan yang aku percayai adalah Tuhan atas ciptaan yang menciptakan langit dan bumi dan semua hal di dalamnya, yang berdaulat atas semua hal, dan yang mengendalikan segala sesuatu dan semua orang. Selain itu, bukankah hidup dan mati setiap orang digenggam di tangan Tuhan? Tanpa izin Tuhan, Iblis si setan tidak akan berani melakukan apa pun kepadaku. Bukankah fakta bahwa aku menghabiskan sepanjang hari dalam keadaan takut-takut dan ngeri hanyalah karena ketakutanku akan kematian dan ketakutanku akan penderitaan fisik? Iblis menggunakan kelemahan ini untuk menyerangku, membuat aku menyerah kepadanya dan mengkhianati Tuhan. Ini adalah tipu daya Iblis untuk memangsa orang-orang. Namun, jika aku bersedia menyerahkan hidupku, apakah akan ada sesuatu yang benar-benar tidak dapat aku tanggung?" Aku memikirkan pengalaman Ayub: ketika Iblis bertaruh dengan Tuhan, Ayub mengalami penderitaan daging, tetapi tanpa izin Tuhan, seperti apa pun Iblis menyiksa Ayub, ia tidak bisa merenggut nyawanya. Sekarang, aku ingin mengikuti teladan Ayub dan memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, karena meskipun tubuhku disiksa sampai mati oleh setan, jiwaku berada di tangan Tuhan. Seperti apa pun iblis-iblis ini bisa menganiaya dan menyiksaku, aku tidak akan pernah menyerah pada pelecehan kejamnya. Aku bersumpah aku tidak akan pernah menjadi Yudas! Aku bersyukur atas bimbingan tepat waktu yang aku temukan dalam firman Tuhan karena telah menuntunku keluar dari ikatan dan kendala kematian dan tidak membiarkanku menjadi mangsa rencana jahat Iblis. Berkat perlindungan Tuhan, aku tidak menderita siksaan semacam itu, dan dalam hal ini, aku kembali melihat kasih dan belas kasihan Tuhan untukku.

Beberapa hari kemudian, petugas polisi jahat itu datang lagi untuk menginterogasiku, berharap mendapatkan informasi tentang para pemimpin gereja dariku, tetapi ketika aku tidak menjawab, dia menjadi sangat biadab. Dia memelototiku sambil meraih daguku dan memiringkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, lalu berkata sambil menggertakkan gigi, "Apakah ada manusia di dalam dirimu? Silakan kalau begitu, percayalah kepada Tuhan! Aku akan memasang fotomu di internet dan menciptakan beberapa cerita tentangmu, dan aku akan membuat semua orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa berpikir kau mengkhianati Tuhan dan menjual saudara-saudarimu. Tak seorang pun akan berbicara denganmu lagi. Dan kemudian, aku akan membawamu ke tempat yang tidak diketahui siapa pun, menggali lubang, dan menguburmu hidup-hidup, dan tidak ada yang akan mengetahuinya." Dalam kemarahannya, iblis ini menjelaskan tipu daya dan rencana jahat rahasia mereka yang tak tahu malu, dan ini juga cara khas mereka untuk memanipulasi orang-orang—menjebak, memfitnah, membuat tuduhan kejahatan palsu, dan pembunuhan. Mereka sama sekali tidak menghargai kehidupan orang lain, dan tidak ada yang tahu berapa banyak perbuatan tak manusiawi dan kejam yang telah mereka lakukan secara rahasia! Kali ini, mendengar teriakan ancamannya, aku tenang, dan aku tidak merasa takut sama sekali, karena Tuhan adalah dukunganku yang kuat. Tuhan bersamaku, jadi aku tidak perlu takut apa pun. Semakin biadab Iblis, semakin ia menunjukkan keburukan dan ketidakmampuannya; semakin ia menganiaya orang-orang percaya, semakin ia mengungkap esensinya yang jahat dan reaksioner dalam memusuhi Tuhan, melakukan hal-hal yang tak bermoral, dan menentang Surga dan alam; semakin ia mencederai orang-orang yang percaya kepada Tuhan, semakin ia mengilhami tekadku untuk percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan sampai akhir: aku ingin mengabdikan hidupku untuk Tuhan dan meninggalkan Iblis sekali untuk selamanya! Sebagaimana firman Tuhan: "Manusia sudah lama mengumpulkan kekuatannya, mendedikasikan usahanya, membayar harga, untuk ini, untuk menyingkapkan wajah Iblis dan membuat orang-orang, yang selama ini dibutakan dan mengalami segala penderitaan dan kesulitan agar bangkit dari rasa sakit mereka dan meninggalkan si Iblis tua yang jahat ini" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Pada titik ini, darahku mendidih marah, dan aku bersumpah dalam hati: selama apa pun aku harus tinggal di sana, dan seperti apa pun iblis-iblis itu menyiksaku, aku tidak akan pernah mengkhianati Tuhan. Polisi itu melihat bahwa aku tidak mau menjawab, dan pada akhirnya membawaku kembali ke sel. Jadi, berkat bimbingan firman Tuhan, aku mengatasi upaya berulang-ulang dari para iblis ini untuk memaksaku memberi pengakuan dan juga penyiksaan mereka. Aku tidak pernah mengungkapkan informasi apa pun tentang gereja, dan setelah menghabiskan lebih dari 50 hari di rumah tahanan, polisi terpaksa melepaskanku tanpa tuduhan.

Setelah mengalami penangkapan, aku melihat dengan jelas esensi iblis dari pemerintah PKT. Mereka bertarung melawan Surga dan memusuhi Tuhan. Mereka menolak untuk menyembah Tuhan, dan juga menghalalkan segala cara untuk menipu dan mengendalikan orang-orang, menghentikan orang-orang agar tidak percaya atau menyembah Tuhan. Pemerintah PKT berusaha membuat orang-orang menjauhi Tuhan dan menentang Tuhan, sehingga mereka pada akhirnya dihancurkan di neraka bersamanya. Mereka sangat tercela, keji, dan jahat! Namun, yang lebih penting, pengalaman ini memberiku pemahaman yang tulus tentang keajaiban dan hikmat Tuhan serta otoritas dan kuasa firman-Nya. Di negara seperti itu, di mana Tuhan dipandang sebagai musuh sengit, orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah duri di mata dan daging pemerintahan atheis. Namun, pemerintah sama sekali tidak dapat mengekang mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Seperti apa pun mereka menindas, memenjarakan, dan menyakiti tubuh kita, mereka tidak dapat menghalau keinginan kita untuk pergi menuju terang dan mengejar kebenaran, dan mereka tidak dapat menggoyahkan tekad kita untuk percaya dan mengikuti Tuhan. Aku ditangkap dan secara langsung mengalami kekejaman biadab dari setan-setan ini. Iblis sia-sia ingin membuatku menyerah pada aturan despotiknya dengan menangkap dan menganiayaku, tetapi firman Tuhan terus membimbingku, dan memberiku hikmat, iman, dan kekuatan yang memungkinkanku untuk berdiri teguh di tengah penganiayaan Iblis yang kejam. Melalui pengalaman nyataku, aku melihat perbuatan Tuhan yang menakjubkan, imanku kepada Tuhan meningkat pesat, dan aku memperoleh pemahaman yang lebih nyata tentang firman Tuhan. Aku mengalami bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, dan bahwa firman Tuhan adalah kekuatan dalam dan sumber kehidupan manusia. Dengan bimbingan firman Tuhan, aku tidak perlu takut apa pun, dan sebanyak apa pun kesulitan dan hambatan yang mungkin aku hadapi di jalan di depan, aku ingin mengikuti Tuhan sampai akhir!

Catatan kaki:

1. "Kerusakan" digunakan untuk menyingkapkan ketidaktaatan umat manusia.

MediaTerkait