Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (13) Bagian Satu

Pada pertemuan sebelumnya, kita terutama mempersekutukan dan menganalisis pepatah "Berusahalah sekuat tenaga untuk melaksanakan tugas sampai hari kematianmu" dalam budaya tradisional. Pepatah dan teori budaya tradisional yang Iblis gunakan untuk mengindoktrinasi orang adalah tidak benar, dan juga tidaklah benar bagi orang untuk mematuhi perkataan yang terdengar muluk-muluk tersebut. Sebaliknya, pepatah dan teori tersebut memiliki efek yang menyesatkan dan menyimpangkan orang, serta membatasi pemikiran mereka. Tujuan utama mendidik, mengindoktrinasi, dan memengaruhi masyarakat dengan gagasan dan pandangan keliru dalam budaya tradisional ini adalah untuk meyakinkan mereka agar tunduk pada dominasi kelas penguasa, dan bahkan melayani para penguasa dengan kesetiaan orang-orang yang mencintai negara dan partai mereka, dan yang bertekad untuk melindungi tanah air dan menjaga negara mereka. Hal ini cukup untuk memperlihatkan bahwa tujuan pemerintah pusat mempopulerkan pendidikan budaya tradisional adalah untuk memfasilitasi kendali penguasa atas manusia dan semua kelompok etnis, dan untuk lebih meningkatkan stabilitas rezim penguasa dan keharmonisan serta stabilitas masyarakat di bawah kendali mereka. Seperti apa pun cara kelas penguasa menyebarkan, menganjurkan, dan mempopulerkan pendidikan budaya tradisional, secara umum, pepatah-pepatah tentang perilaku moral ini telah menyesatkan dan menyimpangkan orang, dan benar-benar menghancurkan kemampuan mereka untuk membedakan apa yang sebenarnya dan apa yang adalah kebohongan, apa yang baik dan apa yang jahat, apa yang benar dan apa yang salah, serta hal yang positif dan hal yang negatif. Dapat juga dikatakan bahwa pepatah tentang perilaku moral ini benar-benar memutarbalikkan kebenaran, mencampuradukkan kebenaran dengan kebohongan, dan menyesatkan masyarakat umum, menyebabkan orang disesatkan oleh pendapat-pendapat dari budaya tradisional ini, dalam konteks di mana mereka tidak tahu apa yang benar dan apa yang salah, apa yang sebenarnya dan apa yang adalah kebohongan, apa yang positif dan apa yang negatif, apa yang berasal dari Tuhan, dan apa yang berasal dari Iblis. Cara yang budaya tradisional gunakan untuk mendefinisikan segala macam hal dan menggolongkan semua jenis orang sebagai baik atau buruk, baik atau jahat telah mengganggu dan menyesatkan dan menyimpangkan orang, bahkan memenjarakan pemikiran mereka dalam batasan berbagai pepatah tentang perilaku moral yang dianjurkan oleh budaya tradisional, sehingga mereka tidak mampu membebaskan diri mereka sendiri. Akibatnya, banyak orang yang bersedia bersumpah setia kepada raja setan, menunjukkan pengabdian buta sampai akhir dan menepati sumpah itu sampai mati. Keadaan ini terus berlanjut hingga saat ini, tetapi hanya sedikit orang yang menyadari keadaan mereka. Meskipun sekarang ini banyak orang yang percaya kepada Tuhan mampu mengenali kebenaran, ada banyak hambatan yang membuat mereka tidak mampu menerima dan menerapkannya. Dapat dikatakan, hambatan tersebut terutama berasal dari gagasan dan pandangan budaya tradisional yang telah lama berakar di hati mereka. Di satu sisi, orang mempelajari gagasan dan pandangan itu terlebih dahulu dan semua itu tetap menguasai, telah mengendalikan pemikiran mereka, yang menciptakan begitu banyak hambatan dan penentangan yang membuat orang tidak mampu menerima kebenaran dan tunduk pada pekerjaan Tuhan. Di sisi lain, ini disebabkan karena manusia memiliki watak yang rusak, yang sebagian disebabkan oleh cara budaya tradisional menyesatkan dan merusak manusia. Budaya tradisional telah sangat memengaruhi dan merusak pandangan orang dalam cara mereka menilai apa yang baik dan apa yang jahat, kebenaran dan kebohongan, serta menyebabkan orang memiliki banyak gagasan, ide, dan pandangan yang keliru. Hal ini menyebabkan orang menjadi tidak mampu untuk secara positif memahami hal-hal yang positif, hal-hal yang indah dan baik, hukum segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, dan kenyataan bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu. Sebaliknya, orang menjadi penuh dengan gagasan dan segala macam ide yang samar dan tidak realistis. Inilah akibat berbagai gagasan yang Iblis tanamkan dalam diri manusia. Dari sudut pandang lain, berbagai macam pepatah tentang perilaku moral dalam budaya tradisional adalah pepatah palsu yang merusak pemikiran orang, mengganggu pikiran mereka, dan merusak proses berpikir normal mereka, sangat memengaruhi penerimaan orang akan hal-hal positif dan kebenaran, dan juga sangat memengaruhi pemahaman dan pengertian murni orang tentang hukum dan aturan segala sesuatu yang Tuhan ciptakan.

Di satu sisi, berbagai pepatah tentang perilaku moral dalam budaya tradisional telah mengganggu cara berpikir yang benar yang orang gunakan untuk membedakan apa yang benar dan apa yang salah, serta mengganggu kehendak bebas mereka. Selain itu, setelah menerima berbagai pepatah tentang perilaku moral ini, manusia menjadi munafik dan palsu. Mereka pandai berpura-pura—bahkan sampai menyebut rusa sebagai kuda, memutarbalikkan kebenaran, dan memperlakukan hal-hal yang negatif, buruk, dan jahat sebagai hal yang positif, indah, dan baik, dan sebaliknya—dan mereka telah mencapai tahap memuja kejahatan. Di semua kelompok masyarakat, pada zaman atau dinasti mana pun, hal-hal yang manusia anjurkan dan hormati pada dasarnya adalah pepatah tentang perilaku moral dalam budaya tradisional tersebut. Di bawah pengaruh kuat pepatah tentang perilaku moral ini, dengan kata lain, di bawah indoktrinasi pepatah tentang perilaku moral dari budaya tradisional yang makin mendalam dan menyeluruh ini, orang tanpa sadar menggunakan pepatah-pepatah ini sebagai modal kehidupan dan hukum bertahan hidup. Orang sepenuhnya menerimanya tanpa mengenali yang sebenarnya mengenai pepatah-pepatah tersebut, memperlakukannya sebagai hal yang positif, dan sebagai ideologi dan standar yang menuntun mereka dalam cara mereka berinteraksi dengan orang lain, dalam cara mereka memandang orang dan hal-hal, dan dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. Orang memperlakukannya sebagai hukum tertinggi agar mereka dapat berhasil di tengah masyarakat, atau mencapai ketenaran dan martabat, atau menjadi orang yang dihargai dan dihormati. Sebagai contoh, di kelompok mana pun dalam masyarakat atau negara, selama periode apa pun—orang-orang yang mereka hargai, hormati, dan nyatakan sebagai orang-orang terbaik adalah mereka yang disebut manusia sebagai teladan moral. Kehidupan seperti apa pun yang dijalani orang-orang semacam itu di balik layar, apa pun niat dan motif tindakan mereka dan seperti apa pun esensi kemanusiaan mereka, bagaimanapun mereka sebenarnya berperilaku dan memperlakukan orang lain, dan seperti apa pun esensi orang yang ada di balik jubah indah perilaku mereka yang baik itu, tak seorang pun memedulikan hal-hal ini, dan tak seorang pun berusaha menyelidiki hal-hal ini lebih lanjut. Asalkan mereka setia, patriotik, dan menunjukkan kesetiaan kepada penguasa, orang akan memuja dan memuji mereka, dan bahkan meniru mereka sebagai pahlawan, karena semua orang menjadikan perilaku moral lahiriah seseorang sebagai dasar untuk menentukan apakah dia baik atau jahat, baik atau buruk, dan untuk menilai reputasinya. Meskipun Alkitab dengan jelas mencatat kisah tentang banyak orang kudus dan orang bijak dari zaman dahulu seperti Nuh, Abraham, Musa, Ayub, dan Petrus, serta kisah tentang banyak nabi dan sebagainya, dan meskipun banyak orang yang sudah tidak asing lagi dengan kisah-kisah semacam itu, tetap tidak ada negara, bangsa, atau kelompok yang secara luas menganjurkan karakter moral dan kemanusiaan para orang kudus dan orang bijak zaman dahulu ini—ataupun mendorong orang untuk meneladani mereka dalam menyembah Tuhan, atau bahkan meneladani hati mereka yang takut akan Tuhan yang mereka perlihatkan—baik di tengah masyarakat, di semua negara, ataupun di antara orang-orang. Tak satu pun negara, bangsa, atau kelompok yang melakukan hal ini. Bahkan negara-negara di mana agama Kristen menjadi agama negara, atau negara-negara yang mayoritas penduduknya memiliki kepercayaan beragama, mereka tetap tidak memuji dan menghormati karakter kemanusiaan para orang kudus dan orang bijak zaman dahulu ini, atau meneladani kisah-kisah mereka yang tunduk dan takut akan Tuhan, sebagaimana dicatat dalam Alkitab. Masalah apa yang ditunjukkan oleh hal ini? Manusia yang rusak telah jatuh ke titik di mana orang muak akan kebenaran, muak akan hal-hal positif, dan memuja kejahatan. Jika Tuhan itu sendiri tidak berfirman dan bekerja di antara manusia, dengan jelas memberitahu manusia apa hal yang positif dan apa hal yang negatif, apa yang benar dan apa yang salah, apa yang indah dan baik, dan apa yang buruk, dan seterusnya, maka manusia tidak akan pernah mampu membedakan antara yang baik dan yang jahat, dan tidak akan mampu membedakan apa hal yang positif dan apa hal yang negatif. Sejak permulaan umat manusia, dan bahkan dalam perkembangan manusia, perbuatan dan catatan sejarah tentang penampakan dan pekerjaan Tuhan ini telah disampaikan secara turun-temurun hingga hari ini di beberapa negara dan kelompok etnis di Eropa dan Amerika. Namun, manusia tetap tak mampu membedakan antara hal yang positif dan hal yang negatif, atau antara hal baik yang indah dan hal jahat yang buruk. Manusia bukan saja tidak mampu membedakan, tetapi mereka juga secara aktif dan rela menerima segala macam pernyataan dari Iblis, seperti pepatah tentang perilaku moral, serta definisi dan konsep Iblis yang salah tentang berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal. Apa yang diperlihatkan hal ini? Mungkinkah hal ini memperlihatkan bahwa manusia sama sekali tidak memiliki naluri untuk menerima hal-hal positif secara mandiri, atau tidak memiliki naluri untuk membedakan antara hal positif dan hal negatif, antara yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah, kebenaran dan kebohongan? (Ya.) Di kalangan manusia, ada dua hal yang terjadi secara bersamaan, yang satu berasal dari Iblis, sedangkan yang lainnya berasal dari Tuhan. Namun pada akhirnya, di semua kelompok masyarakat dan di sepanjang sejarah perkembangan manusia, firman yang Tuhan ucapkan, dan semua hal positif yang Dia ajarkan dan jelaskan kepada manusia tidak dapat dihormati oleh seluruh umat manusia, dan bahkan tidak dapat menjadi yang utama di kalangan manusia, juga tidak memunculkan pemikiran yang benar dalam diri manusia, ataupun membimbing mereka untuk hidup secara normal di antara segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Manusia tanpa sadar hidup di bawah bimbingan berbagai pernyataan, gagasan, dan konsep Iblis, dan hidup di bawah bimbingan pandangan-pandangan yang salah ini. Mereka menjalani hidup dengan cara seperti ini tidak secara pasif, melainkan secara aktif. Terlepas dari apa yang telah Tuhan lakukan, pencapaian-Nya dalam menciptakan dan mengendalikan segala sesuatu, dan banyaknya firman yang diucapkan selama pekerjaan Tuhan berlangsung di beberapa negara, serta definisi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang telah disampaikan secara turun-temurun hingga saat ini, manusia tanpa sadar tetap hidup di bawah berbagai gagasan dan pandangan yang Iblis tanamkan dalam diri manusia. Berbagai gagasan dan pandangan yang Iblis tanamkan dan anjurkan ini merupakan gagasan dan pandangan yang paling diterima di semua kelompok masyarakat, bahkan di negara-negara di mana agama Kristen tersebar luas. Sedangkan, sebanyak apa pun pernyataan positif, gagasan dan pandangan positif, serta definisi positif tentang orang, peristiwa, dan hal-hal yang Tuhan sampaikan kepada manusia dengan melakukan pekerjaan-Nya, semua itu hanya ada di sudut-sudut tertentu, atau lebih buruk lagi, hanya dimiliki oleh segelintir orang di kelompok etnis minoritas, dan hanya tertinggal di bibir segelintir orang, tetapi tidak dapat diterima secara aktif oleh manusia sebagai hal yang positif untuk membimbing dan menuntun mereka dalam menjalani kehidupan. Berdasarkan perbandingan kedua hal ini, dan dari perbedaan sikap manusia terhadap hal-hal negatif dari Iblis dan terhadap berbagai hal positif dari Tuhan, jelaslah bahwa semua manusia berada di tangan si jahat. Ini adalah fakta dan dapat ditegaskan dengan pasti. Fakta ini terutama berarti bahwa pemikiran, cara berpikir, dan cara manusia menghadapi orang, peristiwa, dan hal-hal, semuanya dikendalikan, dipengaruhi, dan dimanipulasi oleh berbagai gagasan dan pandangan Iblis, dan bahkan dibatasi oleh gagasan dan pandangan tersebut. Di sepanjang sejarah perkembangan manusia, pada tahap atau periode apa pun—entah di era yang relatif terbelakang, atau di era yang sudah maju secara ekonomi saat ini—dan apa pun wilayah, kebangsaan, atau kelompok orang, cara hidup manusia, landasan hidup, dan pandangan mengenai cara menghadapi orang, peristiwa, dan hal-hal, semuanya didasarkan pada berbagai gagasan yang Iblis tanamkan dalam diri manusia, bukan didasarkan pada firman Tuhan. Ini adalah hal yang sangat menyedihkan. Tuhan datang untuk melakukan pekerjaan-Nya dan menyelamatkan manusia dalam keadaan di mana manusia telah dirusak sedemikian dalam oleh Iblis, dan di mana pemikiran dan sudut pandang mereka, serta cara mereka memandang segala macam orang, peristiwa, dan hal-hal, dan cara mereka hidup dan berinteraksi dengan dunia, telah sepenuhnya dibatasi oleh gagasan Iblis. Dapat dibayangkan betapa berat dan sulitnya pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia dalam konteks seperti itu. Konteks macam apakah ini? Konteks saat Dia datang untuk melakukan pekerjaan-Nya adalah konteks di mana hati dan pikiran manusia telah sejak lama dipenuhi dan dibatasi oleh falsafah dan racun Iblis. Dia datang untuk melakukan pekerjaan-Nya tidak dalam konteks di mana manusia tidak memiliki ideologi apa pun, atau tidak memiliki pandangan apa pun mengenai orang, peristiwa, dan hal-hal, melainkan dalam konteks di mana manusia telah memiliki cara pandang terhadap berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal, dan di mana cara pandang, pemikiran, dan cara hidup seperti ini telah sangat disesatkan oleh Iblis. Dengan kata lain, Tuhan datang untuk melakukan pekerjaan dan menyelamatkan manusia dalam konteks di mana manusia telah sepenuhnya menerima gagasan dan pandangan Iblis, dan telah dipenuhi, ditanamkan, diikat, dan dikendalikan oleh gagasan-gagasan Iblis. Orang-orang semacam inilah yang Tuhan selamatkan, yang memperlihatkan betapa sulitnya pekerjaan-Nya. Tuhan ingin orang-orang yang telah dipenuhi dan dibatasi oleh gagasan-gagasan Iblis seperti itu mulai lagi mengenali dan membedakan antara hal yang positif dan hal yang negatif, antara keindahan dan keburukan, antara yang benar dan yang salah, antara kebenaran dan kekeliruan Iblis, dan pada akhirnya mencapai titik di mana mereka mampu membenci dan menolak segala macam gagasan dan kekeliruan yang Iblis tanamkan dari lubuk hati mereka, dan dengan demikian menerima semua pandangan dan cara hidup benar yang berasal dari Tuhan. Inilah makna spesifik penyelamatan Tuhan terhadap manusia.

Di masa mana pun manusia hidup, atau tahap perkembangan apa pun yang telah dicapai masyarakat, atau apa pun bentuk pemerintahan para penguasa—entah itu kediktatoran feodal atau sistem sosial demokratis—tak satu pun dari hal-hal ini mengubah fakta bahwa berbagai teori ideologis dan pepatah tentang perilaku moral yang Iblis anjurkan telah tersebar luas di semua kelompok masyarakat. Dari masyarakat feodal hingga masyarakat modern, meskipun cakupan, prinsip-prinsip panduan dan bentuk pemerintahan para penguasa terus berubah, dan jumlah berbagai kelompok etnis, ras, dan berbagai komunitas beragama juga terus berubah, racun dari berbagai pepatah dalam budaya tradisional yang Iblis tanamkan dalam diri manusia masih banyak dan tersebar luas, telah berakar sedemikian kuatnya dalam pemikiran manusia dan jiwa mereka yang terdalam, mengendalikan cara hidup mereka, dan memengaruhi pemikiran dan pandangan mereka tentang orang, peristiwa, dan hal-hal. Tentu saja, racun ini juga sangat memengaruhi sikap orang terhadap Tuhan, dan secara parah menggerogoti kesediaan dan kerinduan manusia untuk menerima kebenaran dan keselamatan dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, pepatah-pepatah representatif tentang perilaku moral yang berasal dari budaya tradisional telah selalu menguasai pemikiran orang di antara manusia, dan kedudukan serta peran dominannya di antara manusia tidak pernah berubah dalam masa atau konteks sosial apa pun. Pada masa mana pun seorang penguasa berkuasa, entah mereka rajin atau berpandangan kuno, entah bentuk pemerintahan mereka demokratis atau kediktatoran, tak ada satu pun dari hal-hal ini mampu membendung atau melenyapkan penyesatan dan kendali yang disebabkan gagasan dan pandangan budaya tradisional terhadap manusia. Apa pun masa sejarahnya, atau di kelompok etnis mana pun, atau seberapa besar iman manusia telah berkembang dan mengalami perubahan, dan sebanyak apa pun kemajuan dan perubahan manusia dalam cara berpikir mereka tentang kehidupan dan tren sosial, pengaruh pepatah tentang perilaku moral dalam budaya tradisional terhadap pemikiran manusia tidak pernah berubah, dan pengaruhnya terhadap masyarakat tidak pernah kehilangan keampuhannya. Dari sudut pandang ini, jelaslah bahwa pepatah tentang perilaku moral telah sedemikian dalamnya membatasi pemikiran orang, telah sangat memengaruhi bukan saja hubungan antara manusia, tetapi juga sikap manusia terhadap kebenaran, dan sangat memengaruhi dan merusak hubungan antara manusia ciptaan dan Sang Pencipta. Tentu saja, dapat juga dikatakan bahwa Iblis menggunakan gagasan budaya tradisional untuk menggoda, menyesatkan, melumpuhkan, dan membatasi manusia yang Tuhan ciptakan, dan menggunakan cara-cara ini untuk merebut manusia dari Tuhan. Makin luas gagasan tentang perilaku moral dalam budaya tradisional itu disebarluaskan di antara manusia, dan makin dalam gagasan tersebut menjadi berakar dalam hati manusia, makin jauh manusia dari Tuhan, dan makin kecil harapan mereka untuk diselamatkan. Renungkanlah, sebelum Adam dan Hawa digoda oleh ular agar memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, mereka percaya bahwa Tuhan Yahweh adalah Tuhan dan Bapa mereka. Namun, ketika ular menggoda Hawa dengan berkata, "Bukankah Tuhan berfirman, Engkau jangan makan semua pohon di taman ini?" (Kejadian 3:1), dan "Engkau belum tentu mati: Karena Tuhan tahu bahwa pada hari engkau memakannya, maka matamu akan terbuka dan engkau akan menjadi sama seperti Tuhan, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kejadian 3:4-5), Adam dan Hawa pun jatuh dalam godaan yang ular lakukan, dan hubungan mereka dengan Tuhan dengan segera berubah. Perubahan seperti apa yang terjadi? Mereka tidak lagi datang ke hadapan Tuhan dalam keadaan telanjang, tetapi mencari sesuatu untuk menutupi dan menyembunyikan diri mereka, dan menghindari terang hadirat Tuhan; ketika Tuhan mencari mereka, mereka bersembunyi dari-Nya dan tidak lagi berbicara berhadapan muka dengan-Nya seperti sebelumnya. Perubahan yang terjadi dalam hubungan Adam dan Hawa dengan Tuhan ini bukan karena mereka memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, tetapi karena perkataan yang diucapkan oleh ular—Iblis—menanamkan pemikiran yang salah dalam diri manusia, menggoda dan menyimpangkan mereka agar mereka meragukan Tuhan, menyimpang dari-Nya, dan bersembunyi dari-Nya. Jadi, manusia tidak ingin lagi melihat terang hadirat Tuhan secara langsung, dan tidak ingin datang ke hadapan-Nya dalam keadaan telanjang, dan terjadilah pemisahan antara manusia dan Tuhan. Bagaimana pemisahan ini bisa terjadi? Pemisahan ini terjadi bukan karena perubahan lingkungan, atau karena berjalannya waktu, tetapi karena hati orang telah berubah. Bagaimana hati orang berubah? Orang itu sendiri tidak mengambil inisiatif untuk berubah. Melainkan, karena perkataan yang ular ucapkan, yang menabur pertentangan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, mengasingkan mereka dari Tuhan dan membuat mereka menghindari terang hadirat Tuhan, menjauhkan diri dari pemeliharaan-Nya, dan meragukan firman-Nya. Apa akibat dari perubahan itu? Manusia tidak lagi seperti sebelumnya, hati dan pemikiran mereka tidak lagi semurni sebelumnya, dan mereka tidak lagi menganggap Tuhan sebagai Tuhan dan sebagai Pribadi yang paling dekat dengan mereka, melainkan meragukan Dia dan takut kepada-Nya, sehingga mereka menjadi terpisah dari-Nya dan memiliki mentalitas ingin bersembunyi dari Tuhan dan menjauh dari-Nya, dan ini adalah awal dari kejatuhan manusia. Awal kejatuhan manusia berasal dari perkataan yang Iblis ucapkan, perkataan yang beracun, yang menggoda, dan menyimpangkan. Pemikiran yang ditanamkan dalam diri orang oleh perkataan ini menyebabkan mereka meragukan Tuhan, salah paham, dan curiga terhadap-Nya, memisahkan mereka dari-Nya sehingga mereka bukan saja tidak mau lagi menghadap Tuhan, tetapi mereka juga ingin bersembunyi dari Tuhan dan bahkan tidak lagi memercayai perkataan-Nya. Apa yang Tuhan katakan tentang hal ini? Tuhan berfirman: "Dari semua pohon di taman ini engkau boleh makan dengan bebas. Tetapi dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat, engkau tidak boleh memakannya, karena pada hari engkau memakannya, engkau pasti mati" (Kejadian 2:16-17). Sedangkan, Iblis berkata bahwa orang yang memakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat belum tentu akan mati. Karena perkataan menyesatkan yang Iblis ucapkan, manusia mulai meragukan dan menolak firman Tuhan, yang berarti manusia memiliki pendapat tertentu tentang Tuhan di dalam hati mereka, dan mereka tidak lagi semurni sebelumnya. Karena manusia memiliki pendapat dan keraguan ini, mereka tidak lagi percaya pada firman Tuhan, dan tidak lagi percaya bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta dan bahwa ada hubungan yang tak terelakkan antara manusia dan Tuhan, dan bahkan tidak lagi percaya bahwa Tuhan dapat melindungi dan memelihara manusia. Sejak saat mereka tidak lagi memercayai hal-hal ini, manusia tidak lagi mau menerima pemeliharaan dan perlindungan Tuhan, dan tentu saja tidak lagi mau menerima perkataan apa pun yang keluar dari mulut Tuhan. Kejatuhan manusia dimulai sebagai akibat dari perkataan Iblis yang menggoda, dan dimulai dari gagasan dan pandangan yang Iblis tanamkan dalam diri manusia. Tentu saja, kejatuhan ini juga dimulai sebagai akibat dari Iblis yang menggoda, menyimpangkan, dan menyesatkan manusia. Gagasan dan pandangan yang Iblis tanamkan dalam diri manusia membuat mereka tidak lagi percaya kepada Tuhan atau firman-Nya, dan juga membuat mereka meragukan Tuhan, salah paham terhadap-Nya, mencurigai-Nya, bersembunyi dari-Nya, menyimpang dari-Nya, menolak apa yang Dia firmankan, menolak identitas diri-Nya, dan bahkan menyangkal bahwa manusia berasal dari Tuhan. Seperti inilah cara Iblis menggoda dan merusak manusia selangkah demi selangkah, mengganggu dan merusak hubungan mereka dengan Tuhan, dan juga menghalangi manusia untuk datang ke hadapan Tuhan dan menerima perkataan apa pun yang keluar dari mulut-Nya. Iblis selalu menghancurkan kesediaan manusia untuk mencari kebenaran dan menerima firman Tuhan. Karena tidak berdaya menolak berbagai pernyataan Iblis, orang tanpa sadar dikikis dan dipenuhi oleh pernyataan tersebut, dan mereka akhirnya menjadi bejat sampai-sampai menjadi musuh dan lawan Tuhan. Inilah pengaruh dan kerugian mendasar yang ditimbulkan oleh pepatah tentang perilaku moral terhadap manusia. Tentu saja, dengan mempersekutukan hal-hal ini kita juga menelaahnya dari sumbernya, sehingga orang dapat memperoleh pemahaman mendasar tentang bagaimana Iblis merusak manusia dan metode apa yang dia gunakan. Taktik utama Iblis untuk merusak manusia adalah dengan menargetkan pemikiran dan pandangan orang, menghancurkan hubungan antara manusia dan Tuhan, dan perlahan-lahan menjauhkan mereka dari Tuhan selangkah demi selangkah. Awalnya, setelah mendengar firman Tuhan, orang percaya bahwa firman itu benar, dan ingin bertindak serta melakukan penerapan berdasarkan firman tersebut. Dalam keadaan inilah Iblis menggunakan segala macam gagasan dan perkataan untuk sedikit demi sedikit merusak dan menghancurkan iman, tekad, dan cita-cita yang orang miliki, juga merusak beberapa hal positif dan harapan positif yang mereka miliki, menggantinya dengan pepatahnya, definisinya, pendapatnya, dan pengertiannya sendiri tentang berbagai hal. Dengan cara ini, orang tanpa sadar dikendalikan oleh gagasan Iblis, dan menjadi tawanan dan budaknya. Bukankah itu yang terjadi? (Ya.) Dalam sejarah manusia, makin dalam dan konkret manusia menerima gagasan Iblis, maka hubungan antara manusia dan Tuhan menjadi makin jauh, sehingga pesan bahwa "manusia adalah makhluk ciptaan dan Tuhan adalah Sang Pencipta" menjadi makin jauh dari manusia, dan tidak lagi dipercaya dan diakui oleh banyak orang. Sebaliknya, pesan ini dianggap sebagai mitos dan legenda, fakta yang tidak ada, dan kekeliruan jahat, dan bahkan dikutuk sebagai kebohongan oleh sebagian orang di tengah masyarakat zaman sekarang. Dapat dikatakan dengan pasti bahwa semua ini adalah akibat dan dampak dari berbagai kekeliruan jahat Iblis yang tersebar luas di antara manusia. Dapat juga dikatakan dengan pasti bahwa di sepanjang sejarah perkembangan manusia, dengan berkedok melakukan hal-hal positif seperti mengajar orang, mengatur perkataan dan tindakan mereka, dan sebagainya, Iblis telah menyeret manusia selangkah demi selangkah ke dalam jurang dosa dan kematian, menjauhkan manusia dari terang hadirat Tuhan, jauh dari pemeliharaan dan perlindungan-Nya, dan jauh dari keselamatan-Nya. Perjanjian Lama dalam Alkitab mencatat kisah-kisah tentang utusan Tuhan yang datang untuk berbicara kepada manusia dan tinggal di antara mereka, tetapi hal-hal seperti itu sudah tidak ada lagi dalam 2.000 tahun terakhir. Alasannya adalah, di antara semua manusia, tidak ada lagi orang seperti orang kudus dan orang bijak zaman dahulu yang dicatat dalam Alkitab—seperti Nuh, Abraham, Musa, Ayub, atau Petrus—dan semua manusia telah dipenuhi dan diikat oleh gagasan dan pernyataan Iblis. Inilah yang sebenarnya sedang terjadi.

Yang baru saja kita persekutukan adalah salah satu aspek dari esensi pepatah tentang perilaku moral dalam budaya tradisional, dan itu juga menandai, membuktikan, dan melambangkan perusakan Iblis terhadap manusia. Berdasarkan esensi permasalahan ini, semua manusia tanpa terkecuali—entah mereka adalah anak-anak kecil atau orang yang telah lanjut usia, atau berada di kelompok sosial apa pun, atau berasal dari latar belakang sosial apa pun—dibatasi oleh berbagai pernyataan Iblis, bahkan tanpa membedakan kedalamannya, dan hidup sepenuhnya dalam cara hidup yang dipenuhi dengan gagasan-gagasan Iblis. Tentu saja, apa fakta yang tidak dapat disangkal? Bahwa Iblis sedang merusak manusia. Yang Iblis rusak bukanlah berbagai organ tubuh manusia, melainkan pemikiran mereka. Merusak pemikiran manusia membuat semua manusia menentang Tuhan, sehingga manusia yang Dia ciptakan tidak dapat menyembah Dia, dan malah menggunakan segala macam gagasan dan pandangan Iblis untuk memberontak terhadap Tuhan, dan menentang, mengkhianati, serta menolak Dia. Inilah ambisi dan rencana licik Iblis, dan tentu saja ini adalah wajah Iblis yang sesungguhnya, dan dengan cara seperti inilah Iblis merusak manusia. Namun, sekalipun Iblis telah merusak manusia selama ribuan tahun, atau sebanyak apa pun fakta yang menunjukkan bahwa Iblis telah merusak manusia, atau betapa pun menyimpang dan tidak masuk akalnya berbagai gagasan dan pandangan yang Iblis gunakan untuk merusak manusia, dan sedalam apa pun pemikiran manusia dibatasi oleh hal-hal tersebut—singkatnya, terlepas dari semua ini, ketika Tuhan datang untuk melakukan pekerjaan-Nya menyelamatkan manusia, dan ketika Dia mengungkapkan kebenaran, meskipun manusia hidup dalam konteks seperti itu, Tuhan tetap mampu merebut mereka kembali dari kuasa Iblis, dan tetap mampu menaklukkan mereka. Dan tentu saja, Tuhan tetap mampu membuat manusia memahami kebenaran dalam hajaran dan penghakiman-Nya, mengetahui esensi dan hal yang sebenarnya tentang kerusakan mereka, menyingkirkan watak Iblis dalam diri mereka, tunduk kepada-Nya, takut akan Dia dan menjauhi kejahatan. Inilah hasil akhir yang pasti akan dicapai, dan juga sebuah kepastian bahwa rencana pengelolaan Tuhan selama 6.000 tahun pasti akan membuahkan hasil, dan bahwa Tuhan akan menampakkan diri kepada semua bangsa dan suku bangsa dengan kemuliaan-Nya. Sebagaimana firman Tuhan berkata, "Tuhan serius dengan apa yang Dia firmankan, apa yang Dia firmankan akan terlaksana, dan apa yang Dia lakukan akan bertahan untuk selamanya." Perkataan ini benar. Apakah engkau semua memercayai perkataan ini? (Ya.) Ini adalah fakta yang pasti akan terjadi karena tahap akhir pekerjaan Tuhan adalah pekerjaan yang memberikan kebenaran dan hidup kepada manusia. Hanya dalam waktu tiga puluh tahun lebih, banyak orang telah datang ke hadapan Tuhan, ditaklukkan oleh-Nya, dan kini mengikuti-Nya dengan tekad yang tak tergoyahkan. Mereka tidak menginginkan keuntungan apa pun dari Iblis, mereka bersedia menerima hajaran dan penghakiman Tuhan, serta keselamatan-Nya, dan mereka semua bersedia untuk kembali ke posisi mereka sebagai makhluk ciptaan serta menerima kedaulatan dan pengaturan Sang Pencipta. Bukankah ini pertanda rencana Tuhan akan membuahkan hasil? (Ya.) Ini adalah fakta yang sudah pasti dan juga fakta yang telah terjadi, dan tentu saja ini adalah sesuatu yang sedang terjadi sekarang dan telah terjadi. Bagaimanapun Iblis merusak manusia, atau cara apa pun yang dia gunakan, Tuhan akan selalu memiliki cara untuk merebut kembali manusia dari kuasa Iblis, menyelamatkan mereka, membawa mereka kembali ke hadapan-Nya, dan memulihkan hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Inilah kemahakuasaan dan otoritas Tuhan, dan entah engkau memercayainya atau tidak, cepat atau lambat hari itu akan tiba.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp