Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Domba Tuhan Mendengar Suara-Nya (Seri Wajib bagi Orang Percaya Baru)

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Bab 7 Aspek-Aspek Lain dari Kebenaran yang Harus Engkau Pahami dalam Imanmu kepada Tuhan

5. Iman kepada Tuhan Seharusnya Bukan Hanya untuk Mencari Kedamaian dan Berkat

Firman Tuhan yang Relevan:

Apa yang diterima manusia saat ia percaya kepada Tuhan? Apa yang engkau ketahui tentang Tuhan? Seberapa jauh engkau telah berubah karena kepercayaanmu kepada Tuhan? Engkau semua tahu bahwa kepercayaan manusia kepada Tuhan bukanlah sekadar demi keselamatan jiwa dan kesejahteraan fisiknya belaka, bukan pula sekadar untuk memperkaya kehidupannya dengan cara mengasihi Tuhan, dan lain sebagainya. Masalahnya, jika engkau mengasihi Tuhan demi kesejahteraan fisik atau kenikmatan sesaat, maka sekalipun pada akhirnya kasihmu kepada Tuhan mencapai puncaknya dan engkau tidak meminta apa pun, kasih yang engkau cari ini tetap bukan kasih yang murni dan itu tidak berkenan di hati Tuhan. Orang-orang yang menggunakan kasih kepada Tuhan untuk memperkaya kehidupan mereka yang membosankan dan demi mengisi ruang hampa dalam hati mereka adalah orang-orang yang mencari kehidupan yang mudah, bukan yang berupaya sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Kasih seperti ini adalah kasih yang terpaksa, pencarian kenikmatan emosional semata, dan Tuhan tidak membutuhkan kasih semacam ini. Jadi, kasih seperti apa yang engkau miliki? Apa tujuanmu mengasihi Tuhan? Seberapa besar kasih sejati yang engkau miliki bagi Tuhan saat ini? Kasih kebanyakan orang di antaramu adalah seperti yang disebutkan sebelumnya. Kasih semacam ini hanya mempertahankan status quo; kasih semacam ini tidak dapat bertahan untuk selamanya, ataupun berakar dalam diri manusia. Kasih semacam ini bak bunga yang tidak menghasilkan buah setelah mekar dan kemudian layu. Dengan kata lain, setelah engkau telanjur mengasihi Tuhan dengan cara seperti itu dan tidak ada yang membimbingmu dalam perjalanan berikutnya, engkau akan jatuh. Jika engkau hanya bisa mengasihi Tuhan pada masa mengasihi Tuhan dan tidak ada perubahan watak setelahnya, engkau akan terus dilingkupi oleh pengaruh kegelapan, tidak sanggup melepaskan diri, dan tetap tidak sanggup untuk terbebas dari ikatan dan pembodohan si Iblis. Orang seperti itu tidak dapat sepenuhnya didapatkan oleh Tuhan; pada akhirnya, roh, jiwa, dan tubuh mereka akan tetap dimiliki Iblis. Hal ini tidak terbantahkan. Semua orang yang tidak dapat sepenuhnya didapatkan oleh Tuhan akan kembali ke tempat asal mereka, yakni kembali kepada Iblis, dan mereka akan turun ke lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang untuk menerima penghukuman selanjutnya dari Tuhan. Orang-orang yang didapatkan oleh Tuhan adalah mereka yang memberontak melawan Iblis dan melepaskan diri dari kuasanya. Orang-orang seperti ini akan sah terhitung sebagai anak-anak kerajaan. Begitulah cara anak-anak kerajaan dipanggil.

Dikutip dari "Pandangan yang Harus Dimiliki Orang Percaya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sekarang ini, engkau harus berada di jalur yang benar karena engkau percaya kepada Tuhan yang nyata. Dalam beriman kepada Tuhan, engkau seharusnya tidak hanya mencari berkat, tetapi berusaha untuk mengasihi Tuhan dan mengenal Dia. Melalui pencerahan-Nya dan pengejaranmu sendiri, engkau dapat makan dan minum firman-Nya, mengembangkan pemahaman yang benar tentang Tuhan, dan memiliki kasih sejati kepada Tuhan yang datang dari hatimu. Dengan kata lain, kasihmu kepada Tuhan adalah yang paling tulus, sedemikian tulusnya sehingga tidak ada yang dapat menghancurkan atau menghalangi kasihmu kepada-Nya. Maka engkau berada di jalur iman yang benar kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa engkau adalah milik Tuhan, karena hatimu telah menjadi milik Tuhan dan kemudian engkau tidak dapat menjadi milik yang lain. Berkat pengalamanmu, harga yang engkau bayar, dan pekerjaan Tuhan, engkau dapat mengembangkan kasih yang spontan bagi Tuhan. Maka engkau dibebaskan dari pengaruh Iblis dan hidup dalam terang firman Tuhan. Hanya ketika engkau telah terbebas dari pengaruh kegelapan, engkau dapat dianggap telah mendapatkan Tuhan. Dalam kepercayaanmu akan Tuhan, engkau harus mencari tujuan ini. Inilah tugas masing-masing dari engkau sekalian. Tidak seorang pun boleh berpuas diri dengan hal-hal sebagaimana adanya. Pikiranmu tidak boleh bercabang dua terhadap pekerjaan Tuhan atau menganggapnya enteng. Engkau harus memikirkan Tuhan dalam segala hal dan setiap saat, dan melakukan segala hal demi Dia. Dan ketika engkau berbicara atau melakukan sesuatu, engkau harus menempatkan kepentingan rumah Tuhan terlebih dahulu. Hanya ini yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dikutip dari "Engkau Harus Hidup demi Kebenaran Karena Engkau Percaya kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sekarang, manusia sudah melihat bahwa mereka yang melayani Tuhan tidak boleh hanya tahu tentang menderita bagi-Nya, tetapi lebih dari itu, mereka harus mengerti bahwa percaya kepada Tuhan adalah untuk tujuan berusaha mengasihi-Nya. Tuhan menggunakan engkau bukan sekadar untuk memurnikan atau membuatmu menderita, tetapi supaya engkau tahu perbuatan-Nya, tahu makna sejati dari kehidupan manusia, dan secara khusus agar engkau tahu bahwa melayani Tuhan bukan tugas yang mudah. Mengalami pekerjaan Tuhan bukanlah tentang menikmati anugerah, tetapi lebih tentang menderita karena kasihmu kepada-Nya. Karena engkau menikmati anugerah Tuhan, engkau juga harus menikmati hajaran-Nya—engkau harus mengalami semua hal ini. Engkau bisa mengalami pencerahan Tuhan dalam dirimu dan engkau juga bisa mengalami penanganan Tuhan dan penghakiman-Nya. Dengan begitu, engkau akan mengalami segala segi. Tuhan telah melakukan pekerjaan penghakiman terhadapmu, dan Dia juga telah melakukan pekerjaan hajaran terhadap dirimu. Firman Tuhan telah menangani engkau, tetapi juga telah mencerahkan engkau, menerangi engkau. Ketika engkau ingin lari, tangan Tuhan tetap menggapaimu. Semua pekerjaan ini dimaksudkan supaya engkau tahu bahwa semua yang berkaitan dengan manusia ada di dalam pengaturan Tuhan. Engkau mungkin berpikir bahwa percaya kepada Tuhan adalah tentang penderitaan atau melakukan banyak hal bagi-Nya, atau bagi kedamaian dagingmu atau supaya keadaanmu baik-baik saja, supaya semua nyaman—tetapi tidak satu pun darinya adalah tujuan yang harus dimiliki manusia dalam memercayai Tuhan. Jika itu yang engkau percayai, berarti cara pandangmu salah dan engkau tidak bisa disempurnakan. Tindakan Tuhan, watak Tuhan yang benar, hikmat-Nya, firman-Nya, dan keajaiban dan diri-Nya yang tidak terselami adalah segalanya yang harus dipahami manusia. Gunakan pemahaman ini untuk menyingkirkan keinginan pribadi dan juga harapan pribadi dan gagasan dalam hatimu. Hanya dengan menyingkirkannya, engkau bisa memenuhi syarat yang diminta Tuhan. Hanya dengan cara inilah engkau bisa memiliki hidup dan menyenangkan Tuhan. Mempercayai Tuhan bertujuan untuk menyenangkan Dia dan hidup dalam watak yang Dia minta, sehingga tindakan dan kemuliaan-Nya menjadi nyata lewat sekelompok orang yang tidak layak ini. Inilah cara pandang yang benar untuk percaya kepada Tuhan dan juga tujuan yang harus engkau capai. Engkau harus memiliki cara pandang yang benar dalam memercayai Tuhan dan berusaha mendapatkan firman Tuhan. Engkau perlu makan dan minum firman Tuhan dan harus bisa hidup dalam kebenaran dan terutama melihat perbuatan praktis-Nya, melihat perbuatan-Nya yang menakjubkan di seluruh alam semesta, dan juga melihat perbuatan praktis-Nya dalam daging. Lewat pengalaman nyata, manusia bisa menghargai betapa Tuhan melakukan pekerjaan-Nya atas mereka dan apa yang menjadi kehendak-Nya bagi mereka. Semua ini untuk menyingkirkan watak mereka yang rusak dan jahat. Singkirkan dari dirimu kecemaran dan ketidakbenaran, bersihkan niat yang salah dan engkau bisa mengembangkan iman sejati dalam Tuhan. Hanya dengan iman sejatilah engkau bisa benar-benar mengasihi Tuhan. Engkau hanya bisa mengasihi Tuhan dengan murni atas dasar kepercayaanmu kepada-Nya. Apakah engkau bisa mengasihi Tuhan tanpa percaya kepada-Nya? Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak bisa membiarkan dirimu bingung tentangnya. Sebagian orang merasa bersemangat begitu mereka melihat iman dalam Tuhan memberi mereka berkat, tetapi langsung kehilangan energi begitu tahu bahwa mereka harus mengalami pemurnian. Apakah itu percaya kepada Tuhan? Pada akhirnya, engkau harus mencapai ketaatan yang sempurna dan mutlak di hadapan Tuhan dalam imanmu. Engkau percaya kepada Tuhan, tetapi masih menuntut-Nya, memiliki banyak gagasan agamawi yang tidak bisa engkau lepaskan, keinginan pribadi yang mengikat, dan masih mencari berkat daging, dan ingin Tuhan menyelamatkan dagingmu, menyelamatkan jiwamu—semua itu adalah ungkapan orang yang punya cara pandang salah. Bahkan walau orang dengan kepercayaan agamawi memiliki iman kepada Tuhan, mereka tidak mencari perubahan watak, tidak mengejar pengenalan akan Tuhan, dan hanya tertarik mencari apa yang daging mereka inginkan. Banyak di antara engkau sekalian yang memiliki iman yang termasuk dalam golongan orang agamawi. Ini bukan iman sejati dalam Tuhan. Untuk percaya kepada Tuhan, manusia harus memiliki hati yang mau menderita bagi-Nya dan mau menyerahkan diri bagi-Nya. Jika mereka tidak memenuhi dua persyaratan ini, hal itu tidak dianggap sebagai iman kepada Tuhan dan mereka tidak akan mampu mengalami perubahan watak. Hanya mereka yang dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran, mencari pengenalan akan Tuhan, dan mengejar kehidupan adalah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.

Dikutip dari "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sekarang apakah engkau mengerti artinya kepercayaan kepada Tuhan? Apakah kepercayaan kepada Tuhan itu melihat tanda dan mukjizat? Apakah tentang naik ke surga? Percaya kepada Tuhan tidak mudah sama sekali. Praktik-praktik agamawi semacam itu harus disingkirkan; mengejar kesembuhan orang sakit dan mengusir setan, berfokus pada tanda dan mukjizat, mendambakan lebih banyak kasih karunia, damai dan sukacita, berupaya meraih harapan masa depan dan kenyamanan daging—semua itu tindakan agamawi, dan tindakan agamawi semacam itu merupakan jenis kepercayaan yang samar. Pada zaman sekarang, apa yang dimaksud dengan kepercayaan yang sejati kepada Tuhan? Maksudnya adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai realitas hidupmu dan pengenalan akan Tuhan dari firman-Nya supaya mendapatkan kasih sejati-Nya. Lebih jelasnya: Kepercayaan kepada Tuhan supaya engkau bisa menaati Tuhan, mengasihi-Nya, dan melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan Tuhan. Inilah tujuan percaya kepada Tuhan. Engkau harus mendapat pengetahuan tentang keindahan Tuhan, tentang betapa berharganya Tuhan, tentang bagaimana Tuhan melakukan karya keselamatan dalam diri semua makhluk ciptaan dan menjadikan mereka sempurna—inilah pengetahuan minimum yang engkau harus miliki dalam kepercayaanmu kepada Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan pada dasarnya adalah berpindah dari hidup dalam daging kepada hidup mengasihi Tuhan, dari hidup dalam kewajaran menjadi hidup dalam Tuhan, keluar dari wilayah kekuasaan Iblis dan hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan, mampu taat kepada Tuhan bukan kepada daging, membiarkan Tuhan memiliki seluruh hatimu, membiarkan Tuhan membuat engkau sempurna, dan membebaskan dirimu dari watak jahat yang rusak. Kepercayaan kepada Tuhan pada dasarnya adalah membiarkan kuasa dan kemuliaan Tuhan bermanifestasi dalam dirimu, sehingga engkau bisa melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan rencana Tuhan dan bisa memberikan kesaksian bagi Tuhan di hadapan Iblis. Kepercayaan kepada Tuhan tidak harus melihat tanda dan mukjizat, atau untuk kepentingan dagingmu sendiri. Kepercayaan itu seharusnya mengejar pengenalan akan Tuhan dan mampu menaati Dia, dan sama seperti Petrus, menaati Dia sampai mati. Itulah yang harusnya dicapai. Makan dan minum firman Tuhan adalah supaya engkau mengenal Tuhan dan memuaskan Tuhan. Makan dan minum firman Tuhan memberi engkau pengenalan yang lebih besar tentang Tuhan, dan hanya sesudahnya engkau bisa menaati Tuhan. Hanya jika engkau mengenal Tuhan, maka engkau bisa mengasihi-Nya dan tujuan dari hal ini hanyalah agar manusia percaya kepada Tuhan. Jika, dalam kepercayaan kepada Tuhan, engkau selalu berusaha mencari tanda dan mukjizat, cara pandang kepercayaan ini salah. Kepercayaan kepada Tuhan pada dasarnya adalah penerimaan firman Tuhan sebagai realitas kehidupan. Hanya dengan melakukan firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya dan melakukannya dalam diri sendiri, engkau sudah menggenapi tujuan Tuhan. Dalam memercayai Tuhan, manusia harus mengejar supaya disempurnakan oleh Tuhan, mampu menundukkan diri kepada Tuhan, dan taat sepenuhnya kepada Tuhan. Jika engkau bisa menaati Tuhan tanpa keluhan, memikirkan kerinduan Tuhan, mendapatkan kehormatan seperti Petrus, dan ketika Tuhan berbicara kepadamu, Dia berbicara seperti kepada Petrus, maka barulah engkau dikatakan mencapai keberhasilan dalam kepercayaan kepada Tuhan dan itu menjadi tanda bahwa engkau sudah menjadi milik Tuhan.

Dikutip dari "Segala Sesuatu Terlaksana oleh Firman Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Engkau berharap bahwa imanmu kepada Tuhan tidak akan mendatangkan tantangan atau kesengsaraan, ataupun kesulitan sekecil apa pun. Engkau selalu mengejar hal-hal yang tidak berharga, dan tidak menghargai hidup, namun menempatkan pikiran yang terlalu muluk-muluk melampaui kebenaran. Engkau sungguh tidak berharga! Engkau hidup seperti babi—apa bedanya antara engkau, babi, dan anjing? Bukankah mereka yang tidak mengejar kebenaran, melainkan mengasihi daging, adalah binatang? Bukankah mereka yang mati tanpa roh adalah mayat berjalan? Berapa banyak firman yang telah disampaikan di antara engkau sekalian? Apakah hanya sedikit pekerjaan yang dilakukan di antaramu? Berapa banyak yang telah Kuberikan di antaramu? Lalu mengapa engkau tidak mendapatkannya? Apa yang harus engkau keluhkan? Bukankah engkau tidak mendapatkan apa-apa karena engkau terlalu mengasihi daging? Dan bukankah ini karena pikiranmu yang terlalu muluk-muluk? Bukankah karena engkau terlalu bodoh? Jika engkau tidak mampu memperoleh semua berkat ini, dapatkah engkau menyalahkan Tuhan karena tidak menyelamatkanmu? Yang engkau cari adalah agar bisa memperoleh kedamaian setelah percaya kepada Tuhan―agar anak-anakmu bebas dari penyakit, suamimu memiliki pekerjaan yang baik, putramu menemukan istri yang baik, putrimu mendapatkan suami yang layak, lembu dan kudamu dapat membajak tanah dengan baik, cuaca bagus selama satu tahun untuk hasil panenmu. Inilah yang engkau cari. Pengejaranmu hanyalah untuk hidup dalam kenyamanan, supaya tidak ada kecelakaan menimpa keluargamu, angin badai berlalu darimu, wajahmu tak tersentuh oleh debu pasir, hasil panen keluargamu tidak dilanda banjir, terhindar dari bencana, hidup dalam dekapan Tuhan, hidup dalam sarang yang nyaman. Seorang pengecut sepertimu, yang selalu mengejar daging—apakah engkau memiliki hati, apakah engkau memiliki roh? Bukankah engkau adalah binatang? Aku memberimu jalan yang benar tanpa meminta imbalan apa pun, tetapi engkau tidak mengejarnya. Apakah engkau adalah salah satu dari orang-orang yang percaya kepada Tuhan? Aku memberikan kehidupan manusia yang nyata kepadamu, tetapi engkau tidak mengejarnya. Bukankah engkau tidak ada bedanya dari babi atau anjing? Babi tidak mengejar kehidupan manusia, mereka tidak berupaya supaya ditahirkan, dan mereka tidak mengerti makna hidup. Setiap hari, setelah makan sampai kenyang, mereka hanya tidur. Aku telah memberimu jalan yang benar, tetapi engkau belum mendapatkannya. Engkau tidak memperoleh apa pun. Apakah engkau bersedia melanjutkan kehidupan ini, kehidupan seekor babi? Apakah arti penting kehidupan bagi orang-orang seperti itu? Hidupmu hina dan tercela, engkau hidup di tengah-tengah kecemaran dan kecabulan, dan tidak mengejar tujuan apa pun; bukankah hidupmu yang paling tercela? Apakah engkau masih berani memandang Tuhan? Jika engkau terus mengalami dengan cara demikian, bukankah engkau tidak akan memperoleh apa-apa? Jalan yang benar telah diberikan kepadamu, tetapi apakah pada akhirnya engkau dapat memperolehnya, itu tergantung pada pengejaran pribadimu sendiri.

Dikutip dari "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sebenarnya, seberapa besar engkau mengasihi Tuhan sekarang ini? Dan seberapa banyak engkau mengetahui segala yang telah Tuhan lakukan bagimu? Ini adalah hal-hal yang perlu engkau pelajari. Ketika Tuhan datang ke dunia, segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan dalam diri manusia dan izinkan untuk manusia lihat adalah agar manusia bisa mengasihi-Nya dan benar-benar mengenal-Nya. Bahwa manusia mampu menderita bagi Tuhan dan telah sampai sejauh ini, salah satu sebabnya, adalah karena kasih Tuhan, dan sebab lainnya, adalah karena keselamatan dari Tuhan; selain itu, ini adalah hasil pekerjaan penghakiman dan hajaran yang telah Tuhan lakukan dalam diri manusia. Jika engkau tidak mengalami penghakiman, hajaran, dan ujian dari Tuhan, dan jika Tuhan belum membuat engkau menderita, maka, jujur saja, engkau tidak benar-benar mengasihi Tuhan. Semakin besar pekerjaan Tuhan dalam diri manusia dan semakin besar penderitaan manusia, maka semakin menunjukkan seberapa bermaknanya pekerjaan Tuhan, dan hati manusia itu semakin mampu benar-benar mengasihi Tuhan. Bagaimana engkau belajar mengasihi Tuhan? Tanpa siksaan dan pemurnian, tanpa ujian-ujian yang menyakitkan—dan apalagi, jika semua yang Tuhan berikan kepada manusia hanyalah kasih karunia, kasih, dan kemurahan—apakah engkau akan mampu memperoleh kasih kepada Tuhan yang sejati? Di satu sisi, selama ujian dari Tuhan, manusia menjadi mengenal kekurangan-kekurangannya, dan melihat bahwa ia tidak penting, hina, dan rendah, bahwa ia tidak memiliki apa-apa dan bukan apa-apa; di sisi lain, selama ujian-Nya Tuhan menciptakan situasi yang berbeda-beda bagi manusia yang membuatnya semakin mampu mengalami kasih Tuhan. Walaupun kesengsaraan yang dialami berat, dan kadangkala tak tertahankan—dan bahkan mencapai tahap dukacita yang meremukkan—setelah mengalaminya, manusia melihat betapa baiknya pekerjaan Tuhan dalam dirinya, dan hanya atas dasar inilah lahir dalam diri manusia kasih yang sejati kepada Tuhan. Sekarang ini manusia melihat bahwa dengan kasih karunia, kasih, dan kemurahan Tuhan saja, ia tidak mampu benar-benar mengenal dirinya sendiri, apalagi mampu mengetahui hakikat manusia. Hanya melalui pemurnian dan penghakiman dari Tuhan, hanya selama pemurnian seperti itulah manusia bisa mengenal kekurangan-kekurangannya, dan mengetahui bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Maka, kasih manusia akan Tuhan dibangun atas dasar pemurnian dan penghakiman Tuhan. Jika engkau hanya menikmati kasih karunia Tuhan, dengan kehidupan keluarga yang penuh damai atau berkat secara materi, berarti engkau belum memperoleh Tuhan, dan keyakinanmu kepada Tuhan telah gagal. Tuhan telah menjalankan tahap pekerjaan kasih karunia dalam daging, dan telah memberikan berkat-berkat materi kepada manusia—tetapi manusia tidak bisa disempurnakan dengan kasih karunia, kasih, dan kemurahan saja. Dalam pengalaman-pengalamannya, manusia menjumpai sejumlah kasih Tuhan, dan melihat kasih dan kemurahan Tuhan. Namun setelah mengalaminya selama beberapa waktu, ia melihat bahwa kasih karunia dan kasih dan kemurahan-Nya tidak mampu membuat manusia sempurna. Serta tidak mampu menyingkapkan apa yang rusak dalam diri manusia, tidak mampu menghilangkan watak manusia yang rusak, maupun menyempurnakan kasih dan imannya. Karya kasih karunia Tuhan adalah karya satu periode, dan untuk mengenal Tuhan, manusia tidak dapat mengandalkan pada menikmati kasih karunia Tuhan.

Dikutip dari "Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Kasih Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Banyak orang yang mengikut Tuhan hanya peduli dengan cara memperoleh berkat atau menghindari malapetaka. Ketika pekerjaan dan pengaturan Tuhan disebut, mereka terdiam dan kehilangan minat. Mereka yakin bahwa mengetahui perkara yang membosankan semacam itu tidak akan membuat hidup mereka bertumbuh atau memberikan manfaat, sehingga walaupun mereka telah mendengar pesan-pesan tentang pengelolaan Tuhan, mereka tidak menanggapinya dengan serius. Mereka tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang berharga untuk diterima, apalagi menerimanya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Orang-orang semacam itu memiliki satu tujuan yang sangat sederhana dalam mengikut Tuhan: untuk memperoleh berkat, dan mereka terlalu malas untuk berurusan dengan apa pun yang tidak melibatkan tujuan ini. Bagi mereka, percaya kepada Tuhan untuk memperoleh berkat adalah tujuan yang paling sah dan inti dari iman mereka. Mereka tidak tergerak oleh apa pun yang tidak dapat mencapai tujuan ini. Demikianlah halnya dengan kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan pada masa kini. Tujuan dan motivasi mereka kelihatannya benar, karena bersamaan dengan percaya kepada Tuhan, mereka juga mencurahkan tenaga bagi Tuhan, mempersembahkan diri kepada Tuhan, dan menjalankan tugas mereka. Mereka menyerahkan masa muda mereka, meninggalkan keluarga dan pekerjaan, dan bahkan menghabiskan waktu bertahun-tahun menyibukkan diri jauh dari rumah. Demi tujuan akhir mereka, mereka mengubah minat mereka, pandangan hidup mereka, dan bahkan mengubah arah yang mereka tempuh, tetapi mereka tidak dapat mengubah tujuan iman mereka kepada Tuhan. Mereka sangat sibuk demi menggapai cita-cita mereka sendiri. Tidak peduli seberapa jauh jalan yang harus ditempuh, dan tidak peduli berapa banyak kesulitan dan rintangan yang ada di sepanjang jalan, mereka tetap berpegang pada keyakinan mereka dan tidak takut mati. Kekuatan apa yang membuat mereka dapat terus mendedikasikan diri mereka dengan cara ini? Apakah hati nurani mereka? Apakah karakter mereka yang agung dan mulia? Apakah tekad mereka untuk melakukan pertempuran dengan kekuatan jahat sampai pada akhirnya? Apakah iman yang membuat mereka memberikan kesaksian tentang Tuhan tanpa mengharapkan balasan? Apakah kesetiaan yang membuat mereka rela menyerahkan segalanya untuk melakukan kehendak Tuhan? Ataukah semangat pengabdian yang membuat mereka selalu melepaskan keinginan pribadi mereka yang berlebih-lebihan? Bagi orang-orang yang tidak pernah mengenal pekerjaan pengelolaan Tuhan ini, mereka berkorban begitu banyak, sungguh sebuah keajaiban yang menakjubkan! Untuk saat ini, kita tidak perlu membahas berapa banyak yang telah diberikan oleh orang-orang ini. Meskipun demikian, perilaku mereka sangat layak untuk dianalisis. Selain untuk segala keuntungan yang sangat mereka harapkan, mungkinkah ada alasan lain bagi orang-orang yang tidak pernah memahami Tuhan ini untuk berkorban begitu besar bagi-Nya? Dalam hal ini, kita menemukan masalah yang sebelumnya tidak teridentifikasi: Hubungan manusia dengan Tuhan semata-mata demi kepentingan diri sendiri. Hubungan ini adalah hubungan antara penerima dan pemberi berkat. Singkatnya, hubungan ini seperti hubungan antara karyawan dan majikan. Karyawan bekerja hanya untuk memperoleh imbalan yang diberikan oleh majikan. Dalam hubungan semacam ini, tidak ada kasih sayang, hanya ada kesepakatan; tidak ada tindakan mencintai dan dicintai, hanya ada derma dan belas kasihan; tidak ada pengertian, hanya ada kepasrahan dan tipu daya; tidak ada keintiman, hanya ada jurang pemisah yang tak terjembatani. Ketika segala sesuatunya sampai pada titik ini, siapakah yang mampu membalikkan kecenderungan semacam ini? Berapa banyakkah orang yang benar-benar mampu memahami betapa menyedihkannya hubungan semacam ini? Aku yakin bahwa ketika orang membenamkan diri dalam kegembiraan semata-mata karena diberkati, tidak ada yang dapat membayangkan betapa buruk dan memalukannya hubungan dengan Tuhan yang semacam ini.

Hal yang paling menyedihkan mengenai iman umat manusia kepada Tuhan adalah bahwa manusia itu melakukan pengelolaannya sendiri di tengah-tengah pekerjaan Tuhan dan tidak memperhatikan pengelolaan Tuhan. Kegagalan manusia yang terbesar terletak pada fakta bahwa, sementara mereka berusaha untuk tunduk kepada Tuhan dan menyembah Dia, manusia membangun tujuan idamannya sendiri dan memperhitungkan cara memperoleh berkat terbesar dan mencapai tujuan yang terbaik. Bahkan ketika orang mengerti betapa malang, jahat, dan menyedihkan keadaan mereka, berapa banyakkah yang rela meninggalkan cita-cita dan harapan mereka? Siapakah yang dapat menghentikan langkah mereka dan berhenti memikirkan diri sendiri saja? Tuhan membutuhkan orang-orang yang mau erat bekerja sama dengan Dia untuk menyelesaikan pengelolaan-Nya. Dia menghendaki orang-orang yang mau mengabdikan pikiran dan tubuh mereka pada pekerjaan pengelolaan-Nya untuk tunduk kepada-Nya. Dia tidak membutuhkan orang-orang yang mengulurkan tangan mereka dan memohon kepada-Nya setiap hari, apalagi orang-orang yang hanya memberi sedikit dan kemudian menunggu untuk dibalas kebaikannya. Tuhan memandang rendah orang-orang yang hanya memberikan sedikit kontribusi dan kemudian berpuas diri dengan pencapaiannya. Dia membenci orang-orang berdarah dingin yang tidak menyukai pekerjaan pengelolaan-Nya dan hanya suka berbicara tentang pergi ke surga dan memperoleh berkat. Dia bahkan memiliki kebencian yang lebih besar terhadap mereka yang memanfaatkan kesempatan yang disediakan oleh pekerjaan yang dilakukan-Nya dalam menyelamatkan umat manusia. Alasan-Nya karena orang-orang ini tidak pernah peduli dengan apa yang Tuhan ingin selesaikan dan dapatkan melalui pekerjaan pengelolaan-Nya. Mereka hanya peduli dengan bagaimana mereka dapat memanfaatkan kesempatan yang disediakan oleh pekerjaan Tuhan untuk memperoleh berkat. Mereka tidak memedulikan hati Tuhan, dan sepenuhnya disibukkan dengan masa depan dan nasib mereka sendiri. Orang-orang yang membenci pekerjaan pengelolaan Tuhan dan sama sekali tidak memiliki minat terhadap bagaimana Tuhan menyelamatkan umat manusia serta kehendak-Nya, hanya melakukan apa yang menyenangkan mereka terlepas dari pekerjaan pengelolaan Tuhan. Perilaku mereka tidak diindahkan Tuhan, tidak disetujui Tuhan, apalagi berkenan kepada Tuhan.

Dikutip dari "Manusia Hanya Dapat Diselamatkan dalam Pengelolaan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Apa yang seharusnya engkau kejar sekarang? Yang seharusnya engkau kejar adalah apakah engkau mampu menyatakan perbuatan Tuhan, apakah engkau mampu menjadi ungkapan dan manifestasi Tuhan, dan apakah engkau cocok dipakai oleh-Nya. Berapa banyak pekerjaan yang Tuhan sudah lakukan dalam dirimu? Berapa banyak yang sudah engkau lihat, berapa banyak yang sudah engkau sentuh? Berapa banyak yang sudah engkau rasakan, dan alami? Entah Tuhan sudah menguji, menangani, atau mendisiplinkan dirimu—tidak masalah apa pun itu, tindakan dan pekerjaan-Nya telah dikerjakan dalam dirimu, tetapi sebagai orang percaya kepada Tuhan, sebagai seseorang yang mau mengejar disempurnakan oleh-Nya, apakah engkau mampu menyatakan tindakan Tuhan lewat pengalaman praktismu sendiri? Bisakah engkau hidup dalam firman Tuhan lewat ini? Apakah engkau mampu memberkati orang lain lewat pengalaman praktismu sendiri dan mengorbankan dirimu untuk pekerjaan Tuhan? Untuk bisa menyaksikan perbuatan Tuhan, engkau harus mampu menyatakan apa tindakan-Nya, dan ini dilakukan lewat pengalamanmu, pengetahuanmu, dan penderitaan yang sudah engkau alami. Apakah engkau seseorang yang menyaksikan tindakan Tuhan? Apakah engkau memiliki aspirasi ini? Jika engkau mampu menjadi saksi bagi nama-Nya dan bahkan, tindakan-Nya, dan juga hidup dalam gambaran yang Dia inginkan dari umat-Nya, berarti engkau adalah saksi bagi Tuhan. Bagaimana caramu benar-benar bersaksi bagi Tuhan? Mencari dan merindukan untuk hidup dalam firman Tuhan, menjadi kesaksian melalui kata-katamu, memungkinkan orang mengenal dan melihat tindakan-Nya—jika engkau benar-benar mencari semua ini, Tuhan akan menyempurnakanmu. Jika yang engkau cari hanyalah disempurnakan oleh Tuhan dan diberkati pada akhirnya, berarti cara pandang imanmu terhadap Tuhan tidaklah murni. Engkau harus mengejar untuk melihat perbuatan Tuhan dalam kehidupan nyata, cara menyenangkan Dia ketika Dia menyatakan kehendak-Nya kepadamu, mencari cara menyaksikan kebesaran dan hikmat-Nya, dan cara menunjukkan disiplin dan penanganan-Nya kepadamu. Semua ini harus engkau cari tahu. Jika kasihmu kepada Tuhan hanya supaya engkau bisa berbagi kemuliaan Tuhan setelah Dia menyempurnakan engkau, itu tidak cukup dan tidak bisa memenuhi persyaratan Tuhan. Engkau harus mampu menjadi saksi bagi perbuatan Tuhan, memenuhi tuntutan-Nya, dan mengalami pekerjaan yang Dia sudah lakukan dalam diri orang-orang dengan cara yang praktis. Entah itu rasa sakit, air mata, atau kesedihan, engkau harus mengalaminya secara praktis. Dengan begini, engkau bisa menjadi saksi Tuhan. Di bawah kekuasaan siapa sekarang engkau menderita dan mencari penyempurnaan? Apakah untuk menjadi saksi Tuhan? Apakah untuk berkat daging atau prospek masa depan? Semua niat, motivasi, dan tujuan pribadimu dalam pengejaran harus diluruskan dan tidak bisa dibimbing oleh kehendakmu sendiri.

Dikutip dari "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sebelumnya:Kepatutan Orang Kudus yang Harus Dimiliki Orang yang Percaya kepada Tuhan

Selanjutnya:Arti Penderitaan dan Penderitaan Seperti Apa yang harus Ditanggung oleh Orang Percaya