Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Apa perbedaan antara perkataan orang yang dipakai Tuhan di sepanjang zaman yang sesuai dengan kebenaran dengan perkataan yang diucapkan oleh Tuhan itu sendiri?

3

2. Apa perbedaan antara perkataan orang yang dipakai Tuhan di sepanjang zaman yang sesuai dengan kebenaran dengan perkataan yang diucapkan oleh Tuhan itu sendiri?

Firman Tuhan yang Relevan:

Kebenaran adalah pepatah kehidupan yang paling nyata, dan pepatah yang terpenting di antara semua umat manusia. Karena inilah yang dikehendaki Tuhan dari manusia, dan merupakan pekerjaan yang dilakukan sendiri oleh Tuhan, sehingga hal ini disebut pepatah kehidupan. Ini bukanlah pepatah yang dirangkum dari sesuatu, juga bukan kutipan terkenal dari tokoh besar; sebaliknya, ini adalah perkataan untuk umat manusia dari Tuhan atas langit dan bumi dan segala sesuatu, dan bukan beberapa kata yang dirangkum oleh manusia, melainkan kehidupan yang melekat dalam diri Tuhan. Dan itulah sebabnya kebenaran ini disebut sebagai yang tertinggi dari semua pepatah kehidupan.

Dikutip dari “Hanya Orang-Orang yang Mengenal Tuhan

dan Pekerjaan-Nya Dapat Memuaskan Tuhan”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Engkau harus mengerti ruang lingkup kebenaran yang sebenarnya dan engkau juga harus memahami apa yang berada di luar lingkup kebenaran.

Jika orang memperoleh wawasan dan sedikit pemahaman berdasarkan pengalamannya dari firman kebenaran, apakah itu diperhitungkan sebagai kebenaran? Setidaknya, bisa dikatakan bahwa mereka memiliki pemahaman tentang kebenaran. Semua perkataan dari pencerahan Roh Kudus tidak mewakili firman Tuhan, tidak mewakili kebenaran, dan tidak berhubungan dengan kebenaran. Hanya dapat dikatakan bahwa orang-orang itu memiliki sedikit pemahaman tentang kebenaran, dan sedikit pencerahan dari Roh Kudus. … Semua orang bisa mengalami kebenaran, tetapi situasi pengalaman mereka akan berbeda, dan apa yang setiap orang dapatkan dari kebenaran yang sama itu berbeda. Namun, bahkan setelah menggabungkan pemahaman semua orang, engkau masih tidak akan bisa menjelaskan kebenaran yang satu ini dengan utuh; kebenaran ini sangat dalam! Mengapa Aku mengatakan bahwa semua yang telah engkau dapatkan dan semua pengertianmu tidak bisa menggantikan kebenaran? Jika engkau mempersekutukan pemahamanmu dengan orang lain, mereka mungkin akan merenungkannya dua tiga hari, lalu selesai mengalaminya, tetapi seorang manusia tidak bisa benar-benar memahami seluruh kebenaran, bahkan bila mereka diberi waktu seumur hidup sekalipun, bahkan jika semua orang berkumpul bersama, mereka tidak bisa mengalaminya secara utuh. Oleh karena itu, bisa terlihat bahwa kebenaran itu sangat dalam! Tidak mungkin menggunakan kata-kata untuk menjelaskan kebenaran secara sempurna, kebenaran yang bisa disampaikan dalam bahasa manusia adalah pepatah manusia; umat manusia tidak akan pernah mengalaminya secara penuh, dan umat manusia harus hidup bergantung kepadanya. Secuil kebenaran bisa membuat seluruh umat manusia bertahan hidup selama ribuan tahun.

Kebenaran adalah kehidupan Tuhan itu sendiri, merepresentasikan watak-Nya, merepresentasikan hakikat-Nya sendiri, merepresentasikan semua yang ada dalam diri-Nya. Jika engkau berkata bahwa memiliki pengalaman itu berarti engkau memiliki kebenaran, maka bisakah engkau merepresentasikan watak Tuhan? Tidak bisa. Seorang manusia mungkin memiliki suatu pengalaman atau pengetahuan mengenai satu aspek atau satu sisi kebenaran, tapi mereka tidak bisa memberikan kebenaran itu kepada orang lain selamanya, jadi pengetahuan mereka bukanlah kebenaran, itu hanyalah sebuah tingkatan yang sudah dicapai seseorang, pengalaman—pengalaman yang tepat—yang harus dimiliki seseorang, pengertian yang tepat, yang merupakan aspek realistis dari mengalami kebenaran. Pengetahuan ini, pencerahan dan pengertian yang didasarkan pada pengalaman tidak akan pernah bisa menggantikan kebenaran; bahkan walau semua orang sudah mengalami kebenaran, dan mereka menyatukan semua kata-kata mereka, ini tidak dapat menggantikan kebenaran itu. Seperti yang telah dikatakan di masa lalu, “Aku meringkaskan ini dengan pepatah bagi dunia manusia: Di antara manusia, tidak ada seorang pun yang mengasihi-Ku.” Ini adalah pernyataan kebenaran, inilah esensi sejati kehidupan, inilah hal yang paling mendalam, inilah ungkapan Tuhan sendiri. Engkau dapat mengalaminya. Jika engkau mengalaminya selama tiga tahun, engkau akan memiliki pemahaman yang dangkal, jika engkau mengalaminya selama delapan tahun, engkau akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, tetapi pemahamanmu itu tidak akan pernah menggantikan pernyataan kebenaran itu. Jika orang lain mengalaminya selama dua tahun, mereka akan memiliki sedikit pemahaman, jika mereka mengalaminya selama sepuluh tahun, mereka akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam, dan jika mereka mengalaminya seumur hidup, mereka akan mendapatkan pemahaman yang sedikit lebih mendalam, tetapi, jika engkau menyatukan kedua pemahamanmu, tidak peduli seberapa dalam pemahaman, seberapa banyak pengalaman, seberapa luas wawasan, seberapa banyak cahaya, atau seberapa banyak contoh yang engkau berdua miliki, semua itu tidak dapat menggantikan pernyataan itu. Apa yang Aku maksud dengan ini? Maksud-Ku, kehidupan manusia akan tetap menjadi kehidupan manusia, dan tidak peduli berapa banyak pemahamanmu yang sesuai dengan kebenaran, yang sesuai dengan makna Tuhan, sesuai dengan persyaratan dari Tuhan, itu tidak akan pernah mampu menggantikan kebenaran. Mengatakan bahwa orang memiliki kebenaran berarti bahwa mereka memiliki suatu kenyataan, bahwa mereka memiliki suatu pemahaman tentang kebenaran Tuhan, bahwa mereka benar-benar memasuki firman Tuhan, bahwa mereka memiliki pengalaman nyata dengan firman Tuhan, dan bahwa mereka berada di jalur yang benar dalam iman mereka kepada Tuhan. Hanya satu pernyataan Tuhan sudah cukup untuk dialami seseorang seumur hidup; walaupun orang memiliki pengalaman beberapa masa hidup atau beberapa ribu tahun, mereka masih tidak akan dapat seutuhnya dan sepenuhnya mengalami kebenaran. …

… Jika engkau memiliki pengalaman tertentu dengan satu aspek kebenaran, dapatkah ini merepresentasikan kebenaran? Hal itu sama sekali tidak dapat merepresentasikan kebenaran. Dapatkah engkau menjelaskan kebenaran secara menyeluruh? Engkau benar-benar tidak bisa. Dapatkah engkau menemukan watak dan esensi Tuhan dari kebenaran? Engkau tidak bisa. Pengalaman kebenaran setiap orang hanyalah satu aspek saja, satu bagian, satu cakupan; mengalaminya dalam lingkup terbatasmu sendiri, engkau tidak dapat menyentuh semua kebenaran. Arti kebenaran mengungkapkan natur umum manusia. Seberapa banyak pengalamanmu yang sedikit itu? Sebutir pasir di pantai, setetes air di lautan. Karena itu, tidak peduli betapa berharganya pemahaman dan perasaanmu dari pengalamanmu, walaupun semua itu benar-benar tak ternilai—itu tidak dapat dianggap sebagai kebenaran. Sumber kebenaran dan makna kebenaran mencakup bidang yang sangat luas. Tidak ada yang dapat membantahnya. … Namun, hal-hal yang dimiliki orang, cahaya yang diperoleh orang, hanya cocok untuk diri mereka sendiri atau untuk orang lain dalam ruang lingkup tertentu, tetapi tidak akan cocok dalam ruang lingkup yang berbeda. Pengalaman seseorang sangat terbatas, betapa pun dalamnya, dan pengalaman mereka tidak akan pernah mencapai ruang lingkup kebenaran. Cahaya seseorang, pemahaman seseorang, tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan kebenaran.

Dikutip dari “Apakah Engkau Tahu

Apa Sesungguhnya Kebenaran Itu?”

dalam “Rekaman Pembicaraan Kristus”

Cara pengamalan manusia dan pengetahuannya tentang kebenaran semuanya berlaku pada ruang lingkup tertentu. Engkau tidak dapat mengatakan bahwa jalan yang ditempuh manusia sepenuhnya adalah kehendak Roh Kudus karena manusia hanya dapat dicerahkan oleh Roh Kudus dan tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh Roh Kudus. Hal-hal yang dapat dialami manusia semuanya berada dalam lingkup kemanusiaan normal dan tidak dapat melampaui rentang pikiran dalam pikiran manusia normal. Semua yang memiliki pengalaman pengungkapan praktis berada dalam rentang ini. Ketika mereka mengalami kebenaran, itu selalu merupakan pengalaman kehidupan manusia normal di bawah pencerahan Roh Kudus, bukan mengalami dengan cara yang menyimpang dari kehidupan manusia normal. Mereka mengalami kebenaran yang dicerahkan oleh Roh Kudus berdasarkan proses menjalani kehidupan manusia mereka. Selain itu, kebenaran ini bervariasi menurut orangnya, dan kedalamannya terkait dengan keadaan orang tersebut. Orang hanya dapat mengatakan bahwa jalan yang mereka tempuh adalah kehidupan manusia normal dari orang yang mengejar kebenaran, dan bahwa itu adalah jalan yang ditempuh oleh orang normal yang mendapat pencerahan Roh Kudus. Engkau tidak dapat mengatakan bahwa jalan yang mereka jejaki adalah jalan yang ditempuh oleh Roh Kudus. Dalam pengalaman manusia normal, karena orang yang mengejar tidak sama, maka pekerjaan Roh Kudus juga tidak sama. Selain itu, karena lingkungan yang mereka alami dan rentang pengalaman mereka tidak sama, karena campuran jiwa dan pikiran mereka, pengalaman mereka bercampur hingga derajat yang berbeda. Setiap orang memahami kebenaran sesuai dengan keadaan masing-masing yang berbeda. Pemahaman mereka tentang makna kebenaran yang sebenarnya tidak lengkap dan hanya satu atau beberapa aspek saja. Cakupan bagaimana kebenaran dialami oleh manusia selalu didasarkan pada keadaan masing-masing yang berbeda dan oleh karena itu tidak sama. Dengan demikian, pengetahuan yang diungkapkan tentang kebenaran yang sama oleh orang yang berbeda tidak sama. Artinya, pengalaman manusia selalu memiliki keterbatasan dan tidak dapat sepenuhnya menggambarkan kehendak Roh Kudus, dan pekerjaan manusia tidak dapat dianggap sebagai pekerjaan Tuhan, walaupun apa yang diungkapkan oleh manusia berhubungan sangat erat dengan kehendak Tuhan, walaupun pengalaman manusia sangat dekat dengan pekerjaan penyempurnaan yang akan dilakukan oleh Roh Kudus. Manusia hanya bisa menjadi pelayan Tuhan, yang melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepadanya. Manusia hanya dapat mengungkapkan pengetahuan di bawah pencerahan Roh Kudus dan kebenaran yang diperoleh dari pengalaman pribadinya. Manusia tidak memenuhi syarat dan tidak memiliki kondisi untuk menjadi saluran Roh Kudus. Dia tidak berhak mengatakan bahwa pekerjaan manusia adalah pekerjaan Tuhan.

Dikutip dari “Pekerjaan Tuhan dan Pekerjaan Manusia”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Persekutuan manusia berbeda dengan firman Tuhan. Apa yang manusia bahas dalam persekutuan menyampaikan penglihatan dan pengalaman pribadi mereka, mengungkapkan apa yang mereka lihat dan alami atas dasar pekerjaan Tuhan. Tanggung jawab mereka adalah mencari tahu, setelah Tuhan bekerja atau berbicara, apa yang seharusnya mereka lakukan atau masuki, dan kemudian menyampaikannya kepada para pengikut. Oleh karena itu, pekerjaan manusia menggambarkan jalan masuknya dan pengamalannya. Tentu saja, pekerjaan tersebut dicampur dengan pelajaran dan pengalaman manusia atau beberapa pemikiran manusia. Tidak peduli bagaimana Roh Kudus bekerja, apakah Dia bekerja pada manusia atau dalam diri Tuhan yang berinkarnasi, para pekerjalah yang selalu mengungkapkan siapa mereka. Meskipun Roh Kudus yang bekerja, pekerjaan itu pada dasarnya berlandaskan pada siapa manusia, karena Roh Kudus tidak bekerja tanpa landasan. Dengan kata lain, pekerjaan tidak dilakukan begitu saja, tetapi selalu sesuai dengan keadaan aktual dan kondisi nyata. Dengan cara seperti inilah watak manusia dapat diubah, konsep lama dan pemikiran lama dapat diubah. Apa yang manusia ungkapkan adalah apa yang dia lihat, alami, dan dapat bayangkan. Walaupun ini merupakan doktrin atau gagasan, semua ini dapat dijangkau oleh pemikiran manusia. Terlepas dari ukuran pekerjaan manusia, pekerjaan itu tidak dapat melebihi ruang lingkup pengalaman manusia, apa yang manusia lihat, atau apa yang manusia dapat bayangkan atau pikirkan. Apa yang Tuhan ungkapkan adalah siapa Tuhan itu sendiri itu, dan ini di luar jangkauan manusia, yaitu di luar jangkauan pemikiran manusia. Dia mengungkapkan pekerjaan-Nya memimpin semua umat manusia, dan ini tidak sesuai dengan rincian pengalaman manusia tetapi sebaliknya berkaitan dengan pengelolaan-Nya sendiri. Manusia mengungkapkan pengalamannya sementara Tuhan mengungkapkan keberadaan-Nya—keberadaan ini adalah watak-Nya yang melekat dan berada di luar jangkauan manusia. Pengalaman manusia adalah penglihatan dan pengetahuannya yang diperoleh berdasarkan pengungkapan Tuhan tentang keberadaan-Nya. Penglihatan dan pengetahuan ini disebut keberadaan manusia. Keduanya diungkapkan atas dasar watak manusia yang melekat dan kualitas yang sebenarnya. Karena itu, keduanya disebut juga keberadaan manusia. Manusia dapat membahas dalam persekutuan apa yang dia alami dan lihat. Apa yang belum dia alami atau lihat atau yang tidak terjangkau oleh pikirannya, yaitu hal-hal yang tidak dia miliki di dalam dirinya, tidak dapat dibahasnya dalam persekutuan. Jika yang manusia ungkapkan bukan pengalamannya, itu adalah imajinasi atau doktrinnya. Singkatnya, tidak ada kenyataan dalam perkataannya. Jika engkau tidak pernah berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, engkau tidak akan dapat secara jelas membahas hubungan dalam masyarakat yang rumit dalam persekutuan. Jika engkau tidak memiliki keluarga tetapi orang lain berbicara tentang masalah keluarga, engkau tidak dapat memahami sebagian besar dari apa yang mereka katakan. Jadi, apa yang manusia bahas dalam persekutuan dan pekerjaan yang dia lakukan menggambarkan keberadaan batinnya.

Dikutip dari “Pekerjaan Tuhan dan Pekerjaan Manusia”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru adalah surat-surat yang ditulis Paulus untuk jemaat-jemaat, dan bukan wahyu Roh Kudus, juga bukan ucapan langsung Roh Kudus. Surat-surat itu hanyalah kata-kata nasihat, penghiburan, dan dorongan yang ditulisnya untuk jemaat selama pekerjaannya. Jadi, surat-surat itu juga adalah catatan sebagian besar pekerjaan Paulus pada masa itu. Mereka ditulis untuk semua saudara-saudari seiman dalam Tuhan, untuk membuat saudara-saudari seiman di seluruh jemaat pada masa itu mengikuti nasihatnya dan menaati semua jalan Tuhan Yesus. Paulus sama sekali tidak mengatakan bahwa, baik jemaat-jemaat pada masa itu maupun masa yang akan datang, semua harus makan dan minum hal-hal yang dia tuliskan, Paulus juga tidak mengatakan semua perkataannya berasal dari Tuhan. Berdasarkan keadaan jemaat pada masa itu, ia hanya berbicara dengan saudara-saudari seiman, menasihati mereka, dan membangkitkan iman mereka; dan ia hanya berkhotbah atau mengingatkan orang-orang dan menasihati mereka. Kata-katanya didasarkan pada bebannya sendiri, dan ia mendukung orang melalui kata-kata ini. Ia melakukan pekerjaan seorang rasul jemaat pada masa itu, ia seorang pekerja yang dipakai oleh Tuhan Yesus, dengan demikian ia diberi tanggung jawab atas jemaat-jemaat, ia dibebani dengan tugas melakukan pekerjaan jemaat-jemaat, ia harus memahami bagaimana keadaan saudara-saudara seiman—karena itu, ia menulis surat untuk semua saudara seiman dalam Tuhan. Segala hal membangun dan positif yang dikatakannya kepada orang memang benar, tetapi tidak merepresentasikan ucapan Roh Kudus itu sendiri, dan Paulus tidak dapat merepresentasikan Tuhan. Adalah pemahaman yang sangat buruk, dan penghujatan yang sangat besar, jika orang menganggap catatan pengalaman manusia dan surat-surat seorang rasul sebagai kata-kata yang diucapkan oleh Roh Kudus kepada jemaat-jemaat! Hal itu secara khusus benar dalam hal surat-surat yang ditulis Paulus untuk jemaat-jemaat, karena surat-suratnya ditulis untuk saudara-saudara seiman berdasarkan keadaan dan situasi masing-masing jemaat pada masa itu, untuk menasihati saudara-saudara seiman di dalam Tuhan, supaya mereka dapat menerima anugerah Tuhan Yesus. Surat-suratnya ditulis untuk membangun saudara-saudara seiman pada masa itu. Dapat dikatakan bahwa ini merupakan beban dirinya sendiri, juga beban yang ditanggungkan kepadanya oleh Roh Kudus; bagaimanapun, dialah rasul yang memimpin jemaat-jemaat pada masa itu, yang menulis surat untuk jemaat-jemaat dan menasihati mereka—itu adalah tanggung jawabnya. Identitasnya semata-mata seorang rasul yang melakukan pekerjaan, dan ia semata-mata rasul yang diutus oleh Tuhan; ia bukan seorang nabi, atau seorang penubuat. Jadi, bagi Paulus, pekerjaannya sendiri dan kehidupan saudara-saudari seimanlah yang terpenting. Dengan demikian, ia tidak mungkin berbicara atas nama Roh Kudus. Kata-katanya bukanlah perkataan Roh Kudus, terlebih lagi tidak bisa dikatakan sebagai perkataan Tuhan, karena Paulus tidak lebih dari makhluk ciptaan Tuhan, dan tentu saja bukan inkarnasi Tuhan. Identitasnya tidak sama dengan identitas Yesus. Perkataan Yesus adalah perkataan Roh Kudus, itu adalah perkataan Tuhan, karena identitas-Nya adalah Kristus—Anak Tuhan. Bagaimana mungkin Paulus bisa setara dengan Dia? Jika orang melihat surat-surat atau perkataan Paulus sebagai ucapan Roh Kudus, dan menyembahnya sebagai Tuhan, dapat dikatakan mereka terlalu sembarangan. Lebih tegas lagi, bukankah ini artinya penghujatan? Bagaimana mungkin seseorang berbicara atas nama Tuhan? Dan bagaimana mungkin orang tunduk di hadapan catatan surat-surat Paulus dan kata-kata yang diucapkannya seolah-olah itu kitab suci, atau kitab surgawi? Dapatkah perkataan Tuhan diucapkan oleh manusia dengan tidak serius? Bagaimana mungkin seseorang berbicara atas nama Tuhan? Jadi, bagaimana pendapatmu—mungkinkah surat-surat yang ditulisnya untuk jemaat-jemaat tidak dicemari oleh gagasannya sendiri? Bagaimana mungkin surat-surat itu tidak dicemari dengan gagasan manusia? Ia menulis surat untuk jemaat-jemaat berdasarkan pengalaman pribadi dan taraf kehidupannya sendiri. Misalnya, Paulus menulis surat kepada jemaat Galatia yang memuat pendapat tertentu, dan Petrus menulis surat yang lain, yang mengemukakan pendapat lainnya. Manakah di antara keduanya berasal dari Roh Kudus? Tidak seorang pun bisa mengatakan secara pasti. Dengan demikian, yang dapat dikatakan hanyalah bahwa mereka keduanya menanggung beban bagi jemaat-jemaat, tetapi surat-surat mereka menggambarkan tingkat pertumbuhan mereka, surat-surat itu menggambarkan ketetapan dan dukungan mereka untuk saudara-saudara seiman, dan beban yang mereka tanggung bagi jemaat-jemaat, dan surat-surat itu hanya menggambarkan pekerjaan manusia; tidak sepenuhnya dari Roh Kudus. Jika engkau mengatakan bahwa surat-suratnya adalah perkataan Roh Kudus, engkau tidak masuk akal, dan engkau melakukan penghujatan! Surat-surat Paulus dan surat-surat lainnya dalam Perjanjian Baru setara dengan tulisan tokoh-tokoh rohani baru belakangan ini. Surat-surat itu sejajar dengan buku-buku Watchman Nee atau pengalaman hidup Lawrence, dan lain-lain. Hanya saja, buku-buku tokoh rohani yang baru ini tidak dikumpulkan ke dalam Perjanjian Baru, tetapi orang-orang ini pada hakikatnya sama: mereka orang-orang yang dipakai Roh Kudus selama waktu tertentu, dan mereka tidak dapat secara langsung merepresentasikan Tuhan.

Dikutip dari “Tentang Alkitab (3)”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Perkataan Tuhan tidak dapat diucapkan sebagai perkataan manusia, apalagi perkataan manusia diucapkan sebagai perkataan Tuhan. Manusia yang dipakai Tuhan bukanlah Tuhan yang berinkarnasi, dan Tuhan yang berinkarnasi bukanlah manusia yang dipakai Tuhan. Ada perbedaan substansial dalam hal ini. Mungkin setelah membaca perkataan ini, engkau tidak dapat menerima bahwa perkataan ini adalah perkataan Tuhan, dan hanya menerimanya sebagai perkataan manusia yang telah mendapatkan pencerahan. Jika demikian, engkau dibutakan oleh ketidaktahuan. Bagaimana mungkin perkataan Tuhan disamakan dengan perkataan manusia yang telah mendapatkan pencerahan? Firman Tuhan yang berinkarnasi memulai zaman yang baru, membimbing seluruh umat manusia, mengungkapkan misteri, dan mengarahkan manusia menuju zaman yang baru. Pencerahan yang diperoleh manusia hanyalah pengalaman atau pengetahuan semata. Pencerahan ini tidak dapat membimbing seluruh umat manusia menuju zaman baru atau mengungkapkan misteri Tuhan itu sendiri. Bagaimanapun juga, Tuhan tetaplah Tuhan dan manusia tetaplah manusia. Tuhan memiliki hakikat Tuhan dan manusia memiliki hakikat manusia. Jika manusia menganggap perkataan yang diucapkan Tuhan hanya sebagai pencerahan dari Roh Kudus, dan menganggap perkataan para rasul dan nabi sebagai perkataan yang diucapkan langsung oleh Tuhan, manusia itu salah. Bagaimanapun juga, engkau tidak pernah boleh mengubah yang benar menjadi salah, atau membicarakan hal yang tinggi sebagai hal yang rendah, atau hal yang dalam sebagai hal yang dangkal. Bagaimanapun juga, engkau tidak pernah boleh dengan sengaja membantah apa yang engkau ketahui sebagai kebenaran. Setiap orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada harus mempertimbangkan masalah ini dari sudut pandang yang benar, dan harus menerima pekerjaan dan perkataan-Nya yang baru sebagai seorang ciptaan Tuhan—jika tidak, engkau akan disingkirkan oleh Tuhan.

Dikutip dari “Kata Pengantar, Firman Menampakkan

Diri dalam Rupa Manusia”

media terkait