Aku percaya Tuhan itu ada, tetapi aku masih muda, aku harus bekerja keras untuk keluargaku dan karierku, dan ada begitu banyak hal yang masih ingin kulakukan. Apakah aku tetap akan diselamatkan jika aku menunggu sampai aku tua dan memiliki waktu untuk percaya kepada Tuhan?

24 Agustus 2021

Ayat Alkitab untuk Referensi:

"Apa untungnya jika seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Atau apa yang bisa diberikan seseorang sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26).

Firman Tuhan yang Relevan:

Sekaranglah saatnya Roh-Ku melakukan pekerjaan besar, dan saatnya Aku memulai pekerjaan-Ku di antara bangsa-bangsa kafir. Lebih dari itu, sekaranglah saatnya Aku menggolongkan semua makhluk ciptaan, menempatkan setiap dari mereka ke dalam kategorinya masing-masing, supaya pekerjaan-Ku dapat berlangsung lebih cepat dan lebih mampu mencapai hasil. Karena itu, yang masih Kuminta dari engkau semua adalah engkau mempersembahkan segenap dirimu untuk seluruh pekerjaan-Ku, dan terlebih lagi, engkau dapat mengenali dengan jelas dan melihat dengan tepat seluruh pekerjaan yang sudah Kulakukan di dalam dirimu, serta mengorbankan seluruh upayamu untuk pekerjaan-Ku agar dapat mencapai hasil yang lebih besar. Inilah yang harus engkau pahami. Jangan lagi saling berebut di antara engkau semua, jangan lagi mencari jalan keluar, dan jangan lagi mencari kenyamanan bagi dagingmu, supaya itu tidak menunda pekerjaan-Ku dan menunda masa depanmu yang indah. Tindakan itu tidak akan melindungimu, itu hanya akan mendatangkan kehancuran bagimu. Bukankah itu menunjukkan kebodohanmu? Apa yang engkau nikmati dengan serakah sekarang, itulah tepatnya yang merusak masa depanmu, sedangkan penderitaan yang engkau tanggung sekarang, itulah tepatnya yang melindungimu. Engkau harus menyadari hal-hal ini dengan jelas, agar engkau tidak jatuh ke dalam pencobaan dan sulit melepaskan dirimu darinya, dan agar engkau tidak terjerumus di dalam kabut tebal dan tidak mampu menemukan matahari. Saat kabut tebal itu tersibak, engkau akan mendapati dirimu berada di tengah penghakiman pada hari besar itu.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan Menyebarkan Injil juga Merupakan Pekerjaan Menyelamatkan Manusia"

Mereka yang hidup di luar firman-Ku, melarikan diri dari derita ujian, bukankah mereka semua terlunta-lunta di seluruh dunia? Mereka mirip dedaunan musim gugur yang melayang ke sana kemari, tanpa tempat untuk mendarat, apalagi memiliki firman penghiburan-Ku. Walaupun hajaran dan pemurnian-Ku tidak mengikuti mereka, bukankah mereka adalah pengemis yang terus berkelana dari satu tempat ke tempat lain, menyusuri jalan-jalan di luar kerajaan surga? Apakah dunia benar-benar adalah tempat perhentianmu? Benarkah dengan menghindari hajaran-Ku, engkau dapat memperoleh sedikit senyum kepuasan dari dunia? Sungguhkah engkau dapat menggunakan kenikmatan fanamu untuk menutupi kekosongan hatimu yang tidak dapat disembunyikan? Engkau mungkin dapat membodohi setiap orang dalam keluargamu, tetapi engkau tidak pernah dapat membodohi-Ku. Karena imanmu terlalu kecil, sampai saat ini, engkau masih tidak berdaya untuk menemukan satu pun kesukaan yang hidup tawarkan. Aku mendesakmu: lebih baik secara tulus menjalani separuh hidupmu demi Aku daripada menghabiskan seluruh hidupmu dalam kehidupan yang biasa saja dan disibukkan oleh pekerjaan kedagingan, dengan menanggung semua penderitaan yang nyaris tak dapat ditanggung oleh manusia. Apa gunanya terlalu memandang tinggi dirimu sendiri dan lari dari hajaran-Ku? Apa gunanya bersembunyi dari hajaran sesaat-Ku hanya untuk menuai rasa malu dan hukuman kekal? Sebenarnya, Aku tidak memaksakan tuntutan-Ku kepada siapa pun. Jika seseorang sungguh-sungguh bersedia tunduk pada semua rencana-Ku, Aku tidak akan memperlakukannya dengan buruk. Namun, Aku mengharuskan semua orang untuk percaya kepada-Ku, seperti Ayub percaya kepada-Ku, Yahweh. Jika iman engkau semua melebihi iman Tomas, imanmu akan mendapatkan penghargaan dari-Ku, dalam kesetiaan engkau semua, engkau akan mendapatkan kebahagiaan-Ku, dan engkau pasti akan menemukan kemuliaan-Ku dalam hari-harimu.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Makna Menjadi Seorang Pribadi Sejati"

Bangkitlah, saudara-saudara! Bangkitlah, saudari-saudari! Hari-Ku tidak akan tertunda; waktu adalah kehidupan, dan memanfaatkan kembali waktu berarti menyelamatkan kehidupan! Waktunya tidak lama lagi! Jika engkau semua gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, engkau dapat belajar untuk mengulanginya lagi berulang kali. Namun, hari-Ku tidak akan tertunda lagi. Ingatlah! Ingatlah! Ini adalah perkataan nasihat-Ku yang baik. Akhir dunia telah terbuka di depan mata kalian, dan malapetaka dahsyat akan segera tiba. Mana yang lebih penting: hidup kalian, ataukah tidur, makanan, minuman, dan pakaian kalian? Waktunya telah tiba bagimu untuk menimbang hal-hal ini. Jangan ragu lagi! Engkau terlalu takut untuk menganggap serius hal-hal ini, bukan?

Betapa menyedihkan! Sungguh malang! Betapa butanya! Betapa kejamnya orang-orang! Engkau semua sungguh-sungguh menulikan telinga terhadap firman-Ku—sia-siakah Aku berbicara kepadamu? Engkau semua masih begitu lalai—mengapa? Mengapa demikian? Tidak pernahkah engkau memikirkan hal itu sebelumnya? Untuk siapa Aku mengatakan semua hal ini? Percayalah kepada-Ku! Akulah Juruselamatmu! Akulah Tuhanmu Yang Mahakuasa! Waspadalah! Waspadalah! Waktu yang terhilang tidak akan pernah kembali—ingatlah ini! Di dunia ini tidak ada obat yang menyembuhkan penyesalan! Jadi, bagaimana Aku harus berbicara kepadamu? Apakah firman-Ku tidak layak engkau pertimbangkan dengan teliti dan berulang kali? Engkau semua begitu lalai dengan firman-Ku dan begitu tidak bertanggung jawab dengan hidupmu; bagaimana Aku dapat menahannya? Bagaimana Aku bisa?

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 30"

Selama proses manusia mempelajari pengetahuan, Iblis menggunakan segala macam metode, entah itu menceritakan berbagai kisah, sekadar memberinya suatu pengetahuan tertentu, atau memungkinkannya untuk memuaskan keinginan atau ambisinya. Ke jalan mana Iblis ingin menuntun dia? Orang-orang mengira tidak ada salahnya mempelajari pengetahuan, bahwa hal itu sepenuhnya alami. Untuk mengatakannya secara lebih halus, menumbuhkan aspirasi luhur atau memiliki ambisi adalah memiliki dorongan, dan ini haruslah menjadi jalan yang benar dalam kehidupan. Bukankah merupakan cara hidup yang lebih mulia bagi manusia jika mereka dapat mewujudkan aspirasi mereka sendiri, atau berhasil membangun karier? Dengan melakukan hal-hal ini, orang tidak hanya dapat menghormati leluhurnya, tetapi juga berkesempatan untuk meninggalkan jejak dirinya dalam sejarah—bukankah ini hal yang baik? Ini adalah hal yang baik di mata orang-orang duniawi, dan bagi mereka hal ini tentunya merupakan hal yang tepat dan positif. Namun, apakah Iblis, dengan motifnya yang jahat, membawa manusia ke jalan semacam ini dan hanya itu tujuannya? Tentu saja tidak. Sebenarnya, sebesar apa pun aspirasi manusia, serealistis dan sepantas apa pun keinginan manusia, semua yang ingin dicapai manusia, semua yang dicari manusia, terkait erat dengan dua kata. Kedua kata ini sangat penting bagi setiap orang sepanjang hidupnya, dan itulah hal-hal yang ingin Iblis tanamkan dalam diri manusia. Apakah kedua kata ini? Kedua kata ini adalah "ketenaran" dan "keuntungan". Iblis menggunakan metode yang sangat lembut, metode yang sangat sesuai dengan gagasan manusia, dan yang tidak terlalu agresif, untuk membuat orang tanpa sadar menerima cara dan hukumnya untuk bertahan hidup, mengembangkan tujuan dan arah hidup mereka, dan mulai memiliki aspirasi hidup. Semuluk apa pun kedengarannya penjabaran tentang aspirasi hidup orang, aspirasi ini selalu berkisar pada ketenaran dan keuntungan. Segala sesuatu yang dikejar oleh orang hebat atau terkenal mana pun—atau, yang sebenarnya dikejar oleh semua orang—sepanjang hidup mereka, hanya berkaitan dengan dua kata ini: "ketenaran" dan "keuntungan". Orang mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk menikmati status yang tinggi dan kekayaan yang besar, serta menikmati hidup. Mereka mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk mencari kesenangan dan menikmati kesenangan daging dengan semaunya sendiri. Demi ketenaran dan keuntungan yang mereka inginkan ini, orang-orang tanpa sadar dan dengan senang hati menyerahkan tubuh, hati, dan bahkan semua yang mereka miliki, termasuk prospek dan nasib mereka kepada Iblis. Mereka melakukannya tanpa keraguan, tanpa sejenak pun merasa ragu, dan tanpa pernah terpikir untuk mendapatkan kembali semua yang pernah mereka miliki. Dapatkah orang tetap memegang kendali atas diri mereka sendiri setelah mereka menyerahkan diri kepada Iblis dan menjadi setia kepadanya dengan cara ini? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali dan sepenuhnya dikendalikan oleh Iblis. Mereka telah sama sekali dan sepenuhnya tenggelam dalam rawa ini, dan tidak mampu membebaskan diri mereka. Begitu seseorang terperosok dalam ketenaran dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa yang cerah, apa yang adil, atau hal-hal yang indah dan baik. Ini karena, bagi manusia, godaan ketenaran dan keuntungan terlalu besar; inilah hal yang dapat dikejar orang tanpa henti sepanjang hidup mereka dan bahkan sampai selama-lamanya. Bukankah inilah situasi sebenarnya?

—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"

Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan adalah demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka memikul belenggu berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis.

—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"

Tuhan mencari orang-orang yang merindukan penampakan-Nya. Dia mencari orang-orang yang dapat mendengar firman-Nya, orang-orang yang tidak melupakan amanat-Nya, dan mempersembahkan hati dan tubuh mereka kepada-Nya. Dia mencari orang-orang yang tunduk dan tidak menentang seperti bayi di hadapan-Nya. Jika engkau dapat mengabdikan dirimu kepada Tuhan tanpa dihalangi oleh kekuatan apa pun, Tuhan akan memandangmu dengan kemurahan, dan akan melimpahkan berkat-Nya kepadamu. Jika engkau memiliki status yang tinggi, reputasi yang bagus, banyak pengetahuan, banyak aset, dan dukungan banyak orang, tetapi engkau masih tidak terganggu oleh semua ini dan masih datang ke hadapan Tuhan untuk menerima panggilan-Nya dan amanat-Nya serta melakukan apa yang diminta-Nya darimu, maka semua yang kaulakukan akan menjadi tujuan yang paling bermakna di bumi dan upaya umat manusia yang paling adil. Jika engkau menolak panggilan Tuhan demi status dan tujuanmu sendiri, semua yang kaulakukan itu akan dikutuk dan bahkan dibenci oleh Tuhan. Mungkin engkau adalah seorang presiden, ilmuwan, pendeta, atau penatua, tetapi setinggi apa pun jabatanmu, jika engkau mengandalkan pengetahuan dan kemampuanmu dalam usahamu, engkau akan selalu menjadi orang yang gagal dan akan selalu kehilangan berkat-berkat Tuhan karena Tuhan tidak menerima apa pun yang kaulakukan, dan Dia tidak mengakui usahamu sebagai pekerjaan yang adil, atau menerima bahwa engkau bekerja untuk kepentingan umat manusia. Dia akan berkata bahwa segala sesuatu yang kaulakukan itu menggunakan pengetahuan dan kekuatan umat manusia untuk menolak perlindungan Tuhan dari manusia, itu menyangkal berkat-berkat Tuhan. Dia akan berkata bahwa engkau sedang membimbing umat manusia menuju kegelapan, menuju kematian, dan menuju awal keberadaan tanpa batas di mana manusia telah kehilangan Tuhan dan berkat-Nya.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Berdaulat Atas Nasib Seluruh Umat Manusia"

Tuhan meratapi masa depan manusia, Dia berduka atas kejatuhan manusia, dan merasa pedih karena manusia sedang berbaris, selangkah demi selangkah, menuju kemerosotan dan jalur tanpa jalan kembali. Tak seorang pun pernah memikirkan hal ini: Menuju ke manakah manusia semacam ini yang telah sepenuhnya menghancurkan hati Tuhan dan meninggalkan-Nya untuk mencari si jahat? Justru karena alasan inilah tak seorang pun berusaha merasakan murka Tuhan, tak seorang pun berusaha mencari cara yang menyenangkan Tuhan atau berusaha untuk lebih mendekat kepada Tuhan, dan terlebih lagi, tak seorang pun berusaha untuk menghargai kesedihan dan kepedihan Tuhan. Bahkan setelah mendengar suara Tuhan, manusia terus berjalan di jalan mereka sendiri, terus berpaling dari Tuhan, menghindar dari kasih karunia dan pemeliharaan Tuhan, serta menjauhi kebenaran-Nya, lebih memilih menjual diri mereka kepada Iblis, musuh Tuhan. Dan siapakah yang pernah berpikir, jika manusia tetap keras kepala, bagaimana Tuhan akan memperlakukan manusia yang begitu sepenuhnya mengabaikan-Nya? Tak seorang pun tahu bahwa alasan Tuhan berulang kali mengingatkan dan menasihati manusia adalah karena Dia telah mempersiapkan di tangan-Nya malapetaka yang belum pernah ada sebelumnya, yang tidak akan tertahankan bagi daging dan jiwa manusia, yang bukan sekadar hukuman untuk daging, tetapi hukuman yang menargetkan jiwa manusia. Engkau perlu tahu hal ini: Kemurkaan apa yang akan Tuhan tumpahkan ketika rencana-Nya tidak terjadi, dan ketika peringatan serta nasihat-Nya tidak berbalas? Itu akan menjadi sesuatu yang belum pernah dialami atau diketahui oleh makhluk ciptaan mana pun. Oleh karena itu Kukatakan, malapetaka ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak akan pernah terulang. Karena rencana Tuhan adalah menciptakan umat manusia hanya satu kali ini saja, dan menyelamatkannya hanya satu kali ini saja. Ini adalah yang pertama, dan juga yang terakhir. Oleh karena itu, tak seorang pun mampu memahami niat yang tekun serta antisipasi yang sangat diinginkan yang dengannya Tuhan menyelamatkan umat manusia kali ini.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia"

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp