Yesus Melakukan Mukjizat-Mukjizat

14 Mei 2019

1) Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang

Yohanes 6:8-13 Salah satu dari murid-murid-Nya, Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Ada seorang anak kecil di sini, yang punya lima roti gandum dan dua ekor ikan kecil: tetapi apakah artinya itu dibanding dengan orang banyak ini?" Maka Yesus berkata: "Suruhlah mereka duduk." Di sana ada banyak rumput hijau. Maka mereka duduk, jumlahnya sekitar lima ribu laki-laki. Lalu Yesus mengambil roti itu; dan setelah mengucap syukur, Dia menyerahkannya kepada murid-murid-Nya dan murid-murid itu membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk, dan begitu juga yang dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Ketika mereka sudah kenyang, Dia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan sisanya, agar jangan sampai ada yang terbuang." Karena itu mereka mengumpulkan semuanya dan memenuhi dua belas keranjang dengan sisa potongan dari lima roti gandum, yang tersisa setelah mereka makan.

2) Kebangkitan Lazarus Memuliakan Tuhan

Yohanes 11:43-44 Dan ketika Dia sudah berkata demikian, Dia berseru dengan suara keras: "Lazarus, keluarlah!" Maka orang yang sudah mati itu datang keluar, tangan dan kakinya masih terikat dengan kain kafan dan wajahnya tertutup dengan kain. Yesus berkata kepada mereka: "Lepaskan dia dan biarkan dia pergi."

Di antara mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, kami telah memilih hanya dua ini karena keduanya berguna untuk menunjukkan apa yang hendak Aku bahas di sini. Kedua mukjizat ini sangatlah menakjubkan, dan keduanya sangat merepresentasikan mukjizat-mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan selama Zaman Kasih Karunia.

Pertama-tama, mari kita melihat perikop pertama: Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang.

Apa gagasan di balik "lima roti dan dua ikan"? Biasanya cukup untuk memberi makan berapa orangkah lima roti dan dua ikan itu? Jika engkau mendasarkan pengukuranmu pada nafsu makan kebanyakan orang, ini hanya akan cukup untuk dua orang. Inilah gagasan paling mendasar di balik "lima roti dan dua ikan." Namun, dalam perikop ini, ada berapa banyak orang yang diberi makan dengan lima roti dan dua ikan? Berikut ini adalah apa yang tercatat dalam Kitab Suci: "Di sana ada banyak rumput hijau. Maka mereka duduk, jumlahnya sekitar lima ribu laki-laki." Dibandingkan dengan lima roti dan dua ikan, apakah lima ribu jumlah yang besar? Menunjukkan apakah jumlah sebesar ini? Dari sudut pandang manusia, membagi lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang adalah hal yang mustahil, karena perbedaan antara jumlah orang dan makanan terlalu jauh. Bahkan kalaupun setiap orang hanya diberi satu gigitan kecil, tetap tidak akan cukup untuk lima ribu orang. Tetapi di sini, Tuhan Yesus melakukan suatu mukjizat—Dia bukan saja memastikan bahwa lima ribu orang itu bisa makan dengan kenyang, bahkan masih ada makanan yang tersisa. Tertulis dalam Kitab Suci: "Ketika mereka sudah kenyang, Dia berkata kepada murid-murid-Nya: 'Kumpulkanlah potongan-potongan sisanya, agar jangan sampai ada yang terbuang.' Karena itu mereka mengumpulkan semuanya dan memenuhi dua belas keranjang dengan sisa potongan dari lima roti gandum, yang tersisa setelah mereka makan." Mukjizat ini memampukan orang-orang untuk melihat identitas dan status Tuhan Yesus, dan melihat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan—dan dengan demikian, mereka melihat kebenaran mengenai kemahakuasaan Tuhan. Lima roti dan dua ikan cukup untuk memberi makan lima ribu orang, tetapi bagaimana seandainya tidak ada makanan apa pun, masih bisakah Tuhan memberi makan lima ribu orang ini? Tentu saja Dia bisa! Ini adalah mukjizat, sehingga tak terhindarkan orang-orang merasa ini tidak dapat dipahami dan merasa bahwa ini sangatlah luar biasa dan misterius, tetapi bagi Tuhan, melakukan hal semacam ini adalah perkara kecil. Karena ini adalah hal yang biasa bagi Tuhan, mengapakah ini harus dikhususkan dalam penafsirannya? Karena di balik mukjizat ini terdapat kehendak Tuhan Yesus, yang tidak pernah ditemukan oleh umat manusia sebelumnya.

mukjizat yang dilakukan Yesus,melihat mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus para murid merasa,lima roti dan dua ikan,5 roti dan 2 ikan

Pertama-tama, mari kita mencoba memahami orang-orang seperti apakah kelima ribu orang tersebut. Apakah mereka pengikut Tuhan Yesus? Dari Kitab Suci, kita tahu bahwa mereka bukanlah pengikut-Nya. Apakah mereka tahu siapa Tuhan Yesus? Tentu saja tidak! Setidaknya, mereka tidak tahu bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka adalah Kristus, atau mungkin sebagian dari mereka hanya mengenal siapa nama-Nya, dan mengetahui atau pernah mendengar sesuatu tentang hal-hal yang telah Dia lakukan. Keingintahuan mereka tentang Tuhan Yesus hanya muncul setelah mereka mendengar kisah-kisah tentang Dia, tetapi engkau tentunya tidak dapat mengatakan bahwa mereka mengikuti Dia, apalagi memahami-Nya. Ketika Tuhan Yesus melihat kelima ribu orang ini, mereka sedang lapar dan hanya bisa memikirkan tentang bagaimana agar bisa makan sampai kenyang, jadi dalam konteks inilah Tuhan Yesus memuaskan keinginan mereka. Ketika Dia memuaskan keinginan mereka, apakah yang ada di dalam hati-Nya? Bagaimanakah sikap-Nya terhadap orang-orang ini yang hanya ingin makan sampai kenyang? Pada saat ini, pikiran Tuhan Yesus dan sikap-Nya berkaitan dengan watak dan esensi Tuhan. Menghadapi lima ribu orang ini, yang perutnya kosong, yang hanya ingin makan sampai kenyang, menghadapi orang-orang yang penuh rasa ingin tahu dan harapan akan Dia, Tuhan Yesus hanya memikirkan bagaimana memanfaatkan mukjizat ini untuk mengaruniakan kasih karunia kepada mereka. Namun, Dia tidak berharap banyak bahwa mereka akan menjadi pengikut-Nya, karena Dia tahu bahwa mereka hanya ingin turut dalam kesenangan dan makan sampai kenyang, sehingga Dia melakukan yang terbaik dengan apa yang Dia miliki di sana, dan menggunakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang. Dia membuka mata orang-orang ini yang senang menyaksikan hal-hal menarik, yang ingin menyaksikan mukjizat, dan mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri hal-hal yang bisa dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi. Meskipun Tuhan Yesus menggunakan sesuatu yang kasatmata untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka, Dia sudah tahu dalam hati-Nya bahwa lima ribu orang ini hanya ingin makan kenyang, sehingga Dia tidak berkhotbah kepada mereka atau mengatakan apa pun—Dia hanya membiarkan mereka menyaksikan mukjizat ini saat itu terjadi. Dia sama sekali tidak bisa memperlakukan orang-orang ini dengan cara yang sama seperti Dia memperlakukan murid-murid-Nya yang sungguh-sungguh mengikuti-Nya, tetapi di dalam hati Tuhan, semua makhluk ciptaan berada di bawah kekuasaan-Nya, dan Dia akan membiarkan semua makhluk ciptaan yang ada di hadapan-Nya untuk menikmati kasih karunia Tuhan jika memang perlu. Meskipun orang-orang ini tidak mengenal siapa Dia dan tidak memahami-Nya atau memiliki kesan tertentu akan Dia, atau berterima kasih kepada-Nya bahkan setelah mereka makan roti dan ikan tersebut, ini bukanlah sesuatu yang Tuhan permasalahkan—Dia memberi kepada orang-orang ini kesempatan yang luar biasa untuk menikmati kasih karunia Tuhan. Beberapa orang mengatakan bahwa Tuhan berprinsip dalam apa yang Dia lakukan, bahwa Dia tidak menjaga atau melindungi orang-orang tidak percaya, dan bahwa Dia secara khusus tidak membiarkan mereka menikmati kasih karunia-Nya. Apakah benar demikian? Di mata Tuhan, selama mereka adalah makhluk hidup yang diciptakan sendiri oleh-Nya, Dia akan mengelola dan memelihara mereka, dan dengan berbagai cara, Dia akan memperlakukan mereka, merancang bagi mereka, dan mengatur mereka. Inilah pikiran dan sikap Tuhan terhadap segala hal.

Meskipun lima ribu orang yang makan roti dan ikan tidak berencana mengikuti Tuhan Yesus, Dia tidak mengajukan tuntutan kepada mereka; setelah mereka makan sampai kenyang, tahukah engkau semua apa yang Tuhan Yesus lakukan? Apakah Dia mengkhotbahkan sesuatu kepada mereka? Ke manakah Dia pergi setelah melakukan ini? Kitab Suci tidak mencatat bahwa Tuhan Yesus mengatakan apa pun kepada mereka, Dia hanya diam-diam pergi setelah melakukan mukjizat-Nya. Jadi apakah Dia mengajukan tuntutan kepada orang-orang ini? Apakah ada kebencian? Tidak, tidak ada satu pun dari hal-hal ini. Dia hanya tidak ingin lagi memikirkan orang-orang ini yang tidak dapat mengikuti Dia, dan pada saat itu hati-Nya sakit. Karena Dia telah menyaksikan kebejatan umat manusia dan Dia telah merasakan penolakan manusia terhadap-Nya, pada saat Dia melihat orang-orang ini dan berada bersama mereka, kebodohan dan kebebalan manusia membuat-Nya merasa sangat sedih dan hati-Nya sakit, dan satu-satunya yang Dia ingin lakukan adalah pergi meninggalkan orang-orang ini secepat mungkin. Tuhan tidak ingin mengajukan tuntutan apa pun terhadap mereka di dalam hati-Nya, Dia tidak ingin memikirkan mereka, dan bahkan lebih dari itu, Dia tidak ingin membuang tenaga-Nya untuk mereka. Dia tahu bahwa mereka tidak bisa mengikuti-Nya, tetapi sekalipun demikian, sikap-Nya terhadap mereka tetap sangat jelas. Dia hanya ingin memperlakukan mereka dengan baik, mengaruniakan kepada mereka kasih karunia, dan memang seperti inilah sikap Tuhan terhadap setiap makhluk ciptaan di bawah kekuasaan-Nya─memperlakukan setiap makhluk ciptaan dengan baik, menyediakan kebutuhan mereka dan memelihara mereka. Karena alasan inilah yakni bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang berinkarnasi, maka Dia secara sangat wajar mengungkapkan esensi Tuhan itu sendiri dan memperlakukan orang-orang ini dengan baik. Dia memperlakukan mereka dengan hati penuh belas kasihan dan toleransi, dan dengan hati yang seperti itulah Dia menunjukkan kebaikan kepada mereka. Tidak peduli bagaimana orang-orang ini memandang Tuhan Yesus, dan tidak peduli bagaimana hasil akhirnya, Dia memperlakukan setiap makhluk ciptaan berdasarkan posisi-Nya sebagai Tuhan atas segala ciptaan. Semua yang Dia ungkapkan, tanpa terkecuali, adalah watak Tuhan, apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya. Tuhan Yesus dengan diam-diam melakukan hal ini, dan kemudian dengan diam-diam juga Dia pergi—aspek watak Tuhan yang manakah ini? Dapatkah engkau mengatakan bahwa ini adalah kasih setia Tuhan? Dapatkah engkau mengatakan ini sebagai sikap Tuhan yang tidak mementingkan diri sendiri? Apakah ini adalah sesuatu yang mampu dilakukan oleh orang biasa? Tentu tidak! Secara esensi, siapakah lima ribu orang ini yang diberi makan oleh Tuhan Yesus dengan lima roti dan dua ikan? Dapatkah engkau mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berkesesuaian dengan-Nya? Dapatkah engkau semua mengatakan bahwa mereka semua memusuhi Tuhan? Dapat dikatakan dengan pasti bahwa mereka sama sekali tidak berkesesuaian dengan Tuhan, dan esensi mereka benar-benar memusuhi Tuhan. Namun demikian, bagaimanakah Tuhan memperlakukan mereka? Dia menggunakan sebuah metode untuk menjinakkan permusuhan manusia terhadap Tuhan—metode ini disebut "kebaikan." Artinya, meskipun Tuhan Yesus memandang mereka sebagai orang-orang berdosa, di mata Tuhan mereka bagaimanapun juga adalah ciptaan-Nya, sehingga Dia tetap memperlakukan orang-orang berdosa ini dengan baik. Inilah toleransi Tuhan, dan toleransi ini ditentukan oleh identitas dan esensi Tuhan sendiri. Jadi, ini adalah sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh manusia yang diciptakan oleh Tuhan—hanya Tuhan sendiri yang dapat melakukannya.

mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus,mukjizat yang dilakukan oleh Yesus

Ketika engkau dapat sungguh-sungguh menghargai pikiran dan sikap Tuhan terhadap umat manusia, ketika engkau dapat sungguh-sungguh memahami emosi dan kepedulian Tuhan terhadap setiap makhluk, engkau akan dapat memahami kesetiaan dan kasih yang dicurahkan kepada masing-masing orang yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Ketika ini terjadi, engkau akan menggunakan dua kata untuk menggambarkan kasih Tuhan—apa sajakah dua kata itu? Ada yang bilang "tanpa pamrih," ada lagi yang bilang "dermawan." Dari kedua kata ini, "dermawan" adalah yang paling tidak cocok untuk menggambarkan kasih Tuhan. Ini adalah kata yang digunakan orang untuk menggambarkan pemikiran dan perasaan terbuka seseorang. Aku benar-benar membenci kata ini, karena kata ini mengacu pada pemberian sumbangan secara acak, secara sembarangan, terlepas dari segala macam prinsip. Ini adalah ungkapan terlalu emosional orang-orang yang bodoh dan bingung. Ketika kata ini digunakan untuk menggambarkan kasih Tuhan, sudah pasti ada maksud menghujat di dalamnya. Aku punya dua kata yang lebih sesuai untuk menggambarkan kasih Tuhan—apakah dua kata tersebut? Yang pertama adalah "megah." Bukankah kata ini sangat menggugah? Yang kedua adalah "raya." Ada arti nyata di balik kedua kata ini yang Aku pakai untuk menggambarkan kasih Tuhan. Secara harafiah, "megah" menggambarkan volume atau kapasitas suatu hal, tetapi tidak peduli seberapa pun besarnya hal tersebut—itu adalah sesuatu yang bisa disentuh dan dilihat orang. Ini karena hal tersebut benar-benar ada, bukan sebuah objek yang abstrak, dan kata itu juga memberikan pemahaman yang relatif tepat dan nyata. Tidak peduli apakah engkau mengamatinya dari sudut datar atau tiga dimensi; engkau tidak perlu membayangkan keberadaannya, karena itu adalah hal yang sungguh-sungguh ada. Meskipun menggunakan kata "megah" untuk menggambarkan Tuhan terasa seperti mengukur kasih-Nya, akan tetapi itu juga memberikan perasaan bahwa kasih-Nya tidak dapat diukur. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan dapat diukur karena kasih-Nya bukanlah bersifat non-entitas, dan juga bukan sesuatu yang berangkat dari suatu legenda. Malahan, itu merupakan sesuatu yang dimiliki segala hal di bawah kuasa Tuhan, dan itu adalah sesuatu yang dinikmati semua makhluk dalam derajat yang berbeda dan dari sudut pandang berbeda. Meskipun orang-orang tidak dapat melihat atau menyentuhnya, kasih ini membawa pemeliharaan dan kehidupan bagi segala hal dan terungkap sedikit demi sedikit dalam kehidupan mereka, dan mereka menghitung dan bersaksi atas kasih Tuhan yang mereka nikmati setiap waktunya. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan tidak bisa diukur karena rahasia pembekalan dan pemeliharaan Tuhan atas segala hal adalah sesuatu yang sulit untuk dimengerti manusia, begitu juga pikiran-pikiran Tuhan untuk segala hal, terlebih untuk umat manusia. Dengan kata lain, tidak seorang pun tahu darah dan air mata yang ditumpahkan Sang Pencipta bagi umat manusia. Tidak ada yang bisa memahami, tidak ada yang bisa mengerti kedalaman atau bobot kasih Sang Pencipta atas umat manusia, yang diciptakan oleh tangan-Nya sendiri. Menggambarkan kasih Tuhan dengan kata megah adalah demi membantu orang untuk menghargai dan memahami ukuran dan kebenaran dari keberadaannya. Juga agar supaya orang dapat lebih dalam memahami arti sesungguhnya dari kata "Pencipta," dan agar supaya orang dapat memperoleh pengertian yang lebih dalam akan arti sebutan "ciptaan." Apakah yang biasanya digambarkan oleh kata "raya"? Biasanya kata itu digunakan untuk menggambarkan samudra atau semesta, seperti semesta raya, atau samudra raya. Luas dan kedalaman yang tenang dari alam semesta melampaui pemahaman manusia, dan merupakan sesuatu yang menarik imajinasi manusia, membuat mereka dipenuhi kekaguman akan semua itu. Misteri dan kedalamannya terlihat namun tak terjangkau. Ketika engkau memikirkan samudra, engkau memikirkan luasnya—terlihat tidak ada batasnya, dan engkau dapat merasakan misteri dan keinklusifannya. Inilah mengapa Aku menggunakan kata "raya" untuk menggambarkan kasih Tuhan. Ini demi membantu orang-orang merasakan betapa berharganya kasih Tuhan itu, dan merasakan keindahan yang mendalam dari kasih-Nya, dan bahwa kekuatan kasih Tuhan itu tidak terbatas dan luas. Ini demi membantu mereka merasakan kekudusan dari kasih-Nya, dan martabat serta sifat Tuhan yang tak terbantahkan yang diungkapkan melalui kasih-Nya. Sekarang apakah menurutmu "raya" adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kasih Tuhan? Apakah kasih Tuhan sesuai dengan dua kata, "megah" dan "raya" ini? Tentu saja! Dalam bahasa manusia, hanya dua kata ini yang secara relatif cocok, dan secara relatif sesuai untuk menggambarkan kasih Tuhan. Tidakkah engkau semua berpikir demikian? Seandainya Aku meminta engkau semua menggambarkan kasih Tuhan, akankah engkau semua menggunakan dua kata ini? Kemungkinan besar engkau semua tidak bisa, karena pemahaman dan penghargaanmu akan kasih Tuhan masih terbatas pada sudut pandang yang rata, dan belum naik mencapai ketinggian ruang tiga dimensi. Jadi seandainya Aku memintamu menggambarkan kasih Tuhan, engkau semua akan merasa bahwa engkau tidak punya kata-kata yang tepat; bahkan engkau semua tidak akan bisa berkata-kata. Dua kata yang telah Aku bahas hari ini mungkin sulit untuk engkau semua pahami, atau mungkin engkau semua sama sekali tidak setuju. Ini hanya menunjukkan fakta bahwa penghargaan dan pemahamanmu akan kasih Tuhan masihlah dangkal dan berada dalam cakupan yang sempit. Aku telah mengatakan sebelumnya bahwa Tuhan tidak mementingkan diri sendiri—engkau semua ingat kata tanpa pamrih. Dapatkah dikatakan bahwa kasih Tuhan hanya dapat digambarkan sebagai tanpa pamrih? Bukankan ini cakupan yang terlalu sempit? Engkau semua mesti lebih banyak merenungkan masalah ini agar mendapatkan sesuatu dari sini.

Di atas memuat apa yang telah kita pahami mengenai watak Tuhan dan esensi-Nya berdasarkan mukjizat pertama. Meskipun ini adalah kisah yang telah dibaca orang-orang selama beribu-ribu tahun, kisah ini menyajikan alur sederhana, dan memungkinkan orang-orang untuk melihat fenomena yang sederhana, namun di dalam alur yang sederhana ini kita dapat melihat sesuatu yang lebih berharga, yakni watak Tuhan dan apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Apa yang Ia miliki dan siapa Ia merepresentasikan Tuhan itu sendiri, dan merupakan ungkapan pikiran Tuhan sendiri. Ketika Tuhan mengungkapkan pikiran-Nya, ini merupakan ungkapan suara hati-Nya. Ia berharap bahwa akan ada orang-orang yang mampu mengerti diri-Nya, mengenal-Nya, dan memahami kehendak-Nya, dan Ia berharap akan ada orang-orang yang mendengar suara hati-Nya dan dapat bekerjasama secara aktif untuk memuaskan kehendak-Nya. Dan hal-hal ini yang dilakukan oleh Tuhan Yesus merupakan ungkapan tanpa suara dari Tuhan.

Selanjutnya, mari kita melihat perikop ini: Kebangkitan Lazarus Memuliakan Tuhan.

Apakah kesan engkau semua setelah membaca perikop ini? Makna penting dari mukjizat yang diperbuat Tuhan Yesus ini lebih besar dari yang sebelumnya karena tidak ada mukjizat yang lebih menakjubkan daripada membangkitkan orang yang sudah mati dari kubur. Tuhan Yesus melakukan hal seperti ini adalah hal yang teramat penting pada zaman itu. Karena Tuhan telah menjadi daging, orang-orang hanya dapat melihat penampilan fisik-Nya, sisi praktis-Nya, dan sisi kurang berarti dari diri-Nya. Bahkan seandainya ada beberapa orang yang melihat dan memahami sebagian karakter-Nya atau sejumlah kelebihan yang nampaknya Ia miliki, tidak seorang pun tahu dari mana Tuhan Yesus datang, apa esensi-Nya yang sebenarnya, dan apa lagi yang sebenarnya mampu Ia lakukan. Semuanya ini tidak diketahui oleh umat manusia. Begitu banyak orang menginginkan bukti akan hal ini, dan mengetahui kebenaran. Dapatkah Tuhan melakukan sesuatu untuk membuktikan identitas-Nya sendiri? Bagi Tuhan, ini adalah hal yang mudah—ini adalah perkara sepele. Ia dapat melakukan suatu perkara di mana saja, kapan saja untuk membuktikan identitas dan esensi-Nya, tetapi Tuhan melakukan berbagai hal berdasarkan suatu rencana, dan secara bertahap. Ia tidak melakukan suatu hal dengan sembarangan; Ia mencari waktu yang tepat, dan peluang yang tepat untuk melakukan hal yang paling berarti untuk disaksikan umat manusia. Ini membuktikan otoritas dan identitas-Nya. Jadi, dapatkah kebangkitan Lazarus membuktikan identitas Tuhan Yesus? Mari kita melihat perikop dari Kitab Suci ini: "Dan ketika Dia sudah berkata demikian, Dia berseru dengan suara keras: "Lazarus, keluarlah!" Maka orang yang sudah mati itu datang keluar." Ketika Tuhan Yesus melakukan ini, Ia hanya mengatakan satu hal: "Lazarus, keluarlah." Lazarus lalu keluar dari kuburannya—ini tercapai oleh karena satu kalimat yang diucapkan oleh Tuhan. Pada waktu itu, Tuhan Yesus tidak mendirikan sebuah mezbah, dan Ia tidak mengambil tindakan-tindakan lain. Ia hanya mengucapkan satu kalimat. Apakah ini seharusnya disebut mukjizat atau perintah? Atau apakah ini semacam sihir? Dari luar, nampaknya ini dapat dikatakan sebuah mukjizat, dan apabila engkau semua melihatnya dari sudut pandang modern, tentu saja engkau semua tetap dapat menyebutnya sebuah mukjizat. Akan tetapi, tentu saja ini tidak dapat dikatakan sebuah mantra untuk memanggil jiwa seseorang kembali dari kematian, dan tentu saja ini bukan sihir. Adalah benar untuk mengatakan bahwa mukjizat ini adalah peragaan yang paling normal, paling kecil dari otoritas Sang Pencipta. Ini adalah otoritas dan kemampuan Tuhan. Tuhan punya otoritas untuk membuat seseorang mati, untuk membuat jiwa pergi meninggalkan tubuhnya dan kembali ke alam maut, atau ke mana pun jiwa orang mati itu harus pergi. Kapan seseorang mati, dan ke mana mereka pergi setelah mati—hal-hal ini ditentukan oleh Tuhan. Ia dapat melakukan ini kapan pun dan di mana pun. Ia tidak dibatasi oleh manusia, peristiwa, benda, ruang, atau tempat. Apabila Ia ingin melakukan sesuatu Ia dapat melakukannya, karena segala hal dan semua makhluk hidup berada di bawah kekuasaan-Nya, dan segala sesuatu hidup dan mati oleh firman-Nya, otoritas-Nya. Ia dapat membangkitkan orang mati—ini juga adalah hal yang dapat Ia lakukan kapan pun, di mana pun. Ini adalah otoritas yang hanya dimiliki Sang Pencipta.

Jika engkau mampu dengan sungguh-sungguh menghargai pikiran dan sikap Tuhan terhadap umat manusia, jika engkau dapat dengan sungguh-sungguh memahami perasaan dan kepedulian Tuhan terhadap setiap makhluk ciptaan, maka engkau akan mampu memahami kesetiaan dan kasih yang dicurahkan kepada masing-masing orang yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Ketika ini terjadi, engkau akan menggunakan dua kata untuk menggambarkan kasih Tuhan. Apa sajakah kedua kata itu? Ada yang bilang "tanpa pamrih," ada lagi yang bilang "filantropis." Dari kedua kata ini, "filantropis" adalah kata yang paling tidak cocok untuk menggambarkan kasih Tuhan. Ini adalah kata yang digunakan orang untuk menggambarkan seseorang yang murah hati atau berpikiran luas. Aku membenci kata ini, karena kata ini mengacu pada pemberian sumbangan secara acak, tanpa pandang bulu, tanpa mempertimbangkan prinsip. Ini adalah kecenderungan yang terlalu sentimental, yang pada umumnya dilakukan oleh orang-orang yang bodoh dan bingung. Ketika kata ini digunakan untuk menggambarkan kasih Tuhan, sudah pasti ada konotasi menghujat di dalamnya. Aku memiliki dua kata yang lebih sesuai untuk menggambarkan kasih Tuhan. Apakah kedua kata tersebut? Kata pertama adalah "besar." Bukankah kata ini sangat menggugah? Kata kedua adalah "luas." Terdapat makna yang nyata di balik kedua kata yang Kugunakan untuk menggambarkan kasih Tuhan ini. Secara harfiah, "besar" menggambarkan volume atau kapasitas suatu hal, tetapi sebesar apa pun hal tersebut, itu adalah sesuatu yang bisa disentuh dan dilihat orang. Ini karena hal tersebut benar-benar ada, bukan sebuah objek yang abstrak, melainkan sesuatu yang dapat memberikan kepada manusia gagasan dengan cara yang relatif akurat dan nyata. Entah engkau melihatnya dari perspektif dua atau tiga dimensi, engkau tidak perlu membayangkan keberadaannya, karena itu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh ada dengan cara yang nyata. Meskipun menggunakan kata "besar" untuk menggambarkan kasih Tuhan terasa seperti sebuah upaya untuk mengukur kasih-Nya, tetapi itu juga memberikan perasaan bahwa kasih-Nya itu tidaklah dapat diukur. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan dapat diukur, karena kasih-Nya itu tidak kosong dan kasih-Nya bukanlah sesuatu yang bersifat legenda. Sebaliknya, kasih-Nya adalah sesuatu yang dirasakan oleh segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaan Tuhan, sesuatu yang dinikmati oleh semua makhluk ciptaan dalam tingkatan berbeda dan dari sudut pandang berbeda. Meskipun orang tidak dapat melihat atau menyentuhnya, kasih ini membawa pemeliharaan dan hidup bagi segala sesuatu pada saat kasih itu dinyatakan, sedikit demi sedikit dalam hidup mereka, dan mereka menghargainya dan memberi kesaksian tentang kasih Tuhan yang mereka nikmati itu di setiap saat yang berlalu. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan tak bisa diukur karena misteri bagaimana Tuhan membekali dan memelihara segala sesuatu adalah hal yang sulit orang pahami, begitu juga dengan pemikiran Tuhan untuk segala hal, terlebih untuk umat manusia. Dengan kata lain, tidak seorang pun tahu darah dan air mata yang telah ditumpahkan Sang Pencipta bagi umat manusia. Tidak seorang pun bisa memahaminya, tidak ada yang bisa memahami kedalaman atau bobot kasih yang Sang Pencipta miliki bagi umat manusia yang Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri. Menggambarkan kasih Tuhan dengan kata besar bertujuan membantu orang untuk menghargai dan memahami luasnya kasih Tuhan dan kebenaran akan keberadaan kasih tersebut. Juga bertujuan agar orang dapat lebih dalam memahami arti sesungguhnya dari kata "Pencipta," dan agar orang dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam akan arti sebutan "ciptaan." Apakah yang biasanya digambarkan dengan kata "luas"? Biasanya kata itu digunakan untuk menggambarkan samudra atau semesta, sebagai contoh: "alam semesta yang luas," atau "samudra luas." Luas dan kedalaman yang tenang dari alam semesta melampaui pemahaman manusia; merupakan sesuatu yang menarik imajinasi manusia, sesuatu yang membuat mereka merasakan kekaguman luar biasa. Misteri dan kedalamannya terlihat namun tak terjangkau. Ketika engkau memikirkan samudra, engkau memikirkan betapa luasnya samudra—terlihat seakan tanpa batas, dan engkau dapat merasakan kemisteriusan dan kapasitasnya yang besar untuk mencakup berbagai hal. Inilah sebabnya Aku menggunakan kata "luas" untuk menggambarkan kasih Tuhan, demi membantu manusia merasakan betapa berharga kasih-Nya, merasakan kedalaman dan keindahan kasih-Nya, dan merasakan bahwa kekuatan kasih Tuhan itu tak terbatas dan teramat luas jangkauannya. Aku menggunakan kata ini demi membantu manusia merasakan kekudusan kasih-Nya, dan martabat serta tak terbantahkannya diri Tuhan yang terungkap lewat kasih-Nya. Sekarang apakah menurutmu "luas" adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kasih Tuhan? Dapatkah kasih Tuhan diukur dengan menggunakan kedua kata ini yakni "besar" dan "luas"? Tentu saja! Dalam bahasa manusia, hanya dua kata ini yang agak tepat, dan relatif dekat untuk menggambarkan kasih Tuhan. Tidakkah engkau semua berpikir demikian? Jika Aku memintamu menggambarkan kasih Tuhan, akankah engkau semua menggunakan dua kata ini? Kemungkinan besar engkau semua tidak akan menggunakannya, karena pemahaman dan penghargaanmu akan kasih Tuhan masih terbatas pada lingkup perspektif dua dimensi, dan belum naik mencapai ketinggian ruang tiga dimensi. Jadi jika Aku memintamu menggambarkan kasih Tuhan, engkau semua akan merasa kekurangan kata-kata; atau bahkan engkau mungkin merasa tidak mampu berkata-kata. Dua kata yang telah Aku bahas hari ini mungkin sulit untuk engkau semua pahami, atau mungkin engkau semua sama sekali tidak setuju. Ini hanya menunjukkan bahwa penghargaan dan pemahamanmu akan kasih Tuhan masih dangkal dan terbatas dalam ruang lingkup yang sempit. Aku telah mengatakan sebelumnya bahwa Tuhan tidak mementingkan diri sendiri; engkau semua ingat kata "tanpa pamrih." Dapatkah dikatakan bahwa kasih Tuhan hanya dapat digambarkan sebagai tanpa pamrih? Bukankah ini lingkup yang terlalu sempit? Engkau harus lebih banyak merenungkan hal ini agar mendapatkan sesuatu dari hal ini.

Pembahasan di atas adalah apa yang kita lihat mengenai watak Tuhan dan esensi-Nya dari mukjizat yang pertama. Meskipun ini adalah kisah yang telah orang baca selama ribuan tahun, kisah ini menyajikan alur sederhana, dan memungkinkan orang untuk melihat fenomena yang sederhana, namun di dalam alur yang sederhana ini kita dapat melihat sesuatu yang lebih berharga, yakni watak Tuhan dan apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya. Hal-hal yang Dia miliki dan siapa diri-Nya ini merepresentasikan Tuhan itu sendiri, dan merupakan ungkapan pikiran Tuhan sendiri. Ketika Tuhan mengungkapkan pikiran-Nya, itu merupakan ungkapan suara hati-Nya. Dia berharap akan ada orang yang mampu memahami diri-Nya, mengenal-Nya, dan memahami kehendak-Nya, dan yang dapat mendengar suara hati-Nya dan mampu bekerja sama secara aktif untuk memuaskan kehendak-Nya. Hal-hal yang Tuhan Yesus lakukan ini merupakan ungkapan hati Tuhan yang tanpa bersuara.

Selanjutnya, mari kita melihat perikop berikut: Kebangkitan Lazarus Memuliakan Tuhan.

Kesan apa yang engkau semua dapatkan setelah membaca perikop ini? Makna penting dari mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan ini lebih besar dari yang sebelumnya, karena tidak ada mukjizat yang lebih menakjubkan daripada membangkitkan orang yang sudah mati dari kubur. Pada masa itu, sangatlah penting untuk Tuhan Yesus melakukan sesuatu yang seperti ini. Karena Tuhan telah menjadi daging, orang hanya dapat melihat penampilan fisik-Nya, sisi diri-Nya yang nyata, dan aspek diri-Nya yang kurang berarti. Bahkan sekalipun beberapa orang melihat dan memahami sesuatu dari karakter-Nya atau sejumlah kemampuan khusus yang nampaknya Dia miliki, tidak seorang pun tahu dari mana Tuhan Yesus datang, siapa Dia sebenarnya dalam esensi diri-Nya, dan hal-hal lain yang benar-benar mampu Dia lakukan. Semuanya ini tidak diketahui oleh umat manusia. Begitu banyak orang ingin menemukan bukti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan Yesus, dan mengetahui yang sebenarnya. Dapatkah Tuhan melakukan sesuatu untuk membuktikan identitas-Nya sendiri? Bagi Tuhan, ini adalah hal yang mudah—ini adalah perkara sepele. Dia dapat melakukan sesuatu di mana saja, kapan saja untuk membuktikan identitas dan esensi diri-Nya, tetapi Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk melakukan sesuatu—dengan perencanaan, dan dalam langkah demi langkah. Dia tidak melakukan sesuatu secara sembarangan, melainkan mencari waktu yang tepat, dan peluang yang tepat untuk melakukan sesuatu yang melaluinya Dia memungkinkan manusia untuk melihatnya, sesuatu yang benar-benar penuh makna. Dengan cara ini, Dia membuktikan otoritas dan identitas-Nya. Jadi, dapatkah kebangkitan Lazarus membuktikan identitas Tuhan Yesus? Mari kita melihat perikop dari Kitab Suci berikut: "Dan ketika Dia sudah berkata demikian, Dia berseru dengan suara keras: 'Lazarus, keluarlah!' Maka orang yang sudah mati itu datang ke luar .... " Ketika Tuhan Yesus melakukan ini, Dia hanya mengatakan satu hal: "Lazarus, keluarlah!" Lazarus lalu keluar dari kuburnya—ini terlaksana hanya karena beberapa patah kata yang diucapkan oleh Tuhan. Selama masa itu, Tuhan Yesus tidak mendirikan sebuah mezbah, dan Dia tidak melakukan tindakan lain apa pun. Dia hanya mengucapkan satu hal ini. Apakah ini seharusnya disebut mukjizat atau perintah? Atau apakah ini semacam sihir? Dari luar, nampaknya ini dapat dikatakan sebuah mukjizat, dan apabila engkau semua melihatnya dari sudut pandang modern, tentu saja engkau semua tetap dapat menyebutnya sebuah mukjizat. Namun tentu saja ini tidak dapat dianggap sebagai mantra untuk memanggil arwah seseorang kembali dari kematian, dan tentu saja ini bukan sihir, atau hal lain semacam itu. Adalah benar jika dikatakan bahwa mukjizat ini adalah peragaan yang paling normal, paling kecil dari otoritas Sang Pencipta. Ini adalah otoritas dan kuasa Tuhan. Tuhan memiliki otoritas untuk membuat seseorang mati, untuk membuat jiwa meninggalkan tubuhnya dan kembali ke alam maut, atau ke mana pun jiwa tersebut harus pergi. Waktu kematian orang, dan tempat yang akan mereka tuju setelah kematian—hal-hal ini ditentukan oleh Tuhan. Dia dapat mengambil keputusan-keputusan ini kapan pun dan di mana pun, tanpa dibatasi oleh manusia, peristiwa, benda, ruang, atau geografi. Jika Dia ingin melakukannya, Dia dapat melakukannya, karena segala sesuatu dan semua makhluk hidup berada di bawah kekuasaan-Nya, dan segala sesuatu berkembang biak, ada, dan binasa oleh firman-Nya dan otoritas-Nya. Dia dapat membangkitkan orang mati, dan ini juga adalah sesuatu yang dapat Dia lakukan kapan pun, di mana pun. Ini adalah otoritas yang dimiliki hanya oleh Sang Pencipta.

Yesus melakukan mukjizat

Ketika Tuhan Yesus melakukan hal-hal seperti membangkitkan Lazarus dari kematian, tujuan-Nya adalah memberikan bukti untuk disaksikan oleh manusia dan Iblis, dan membiarkan baik manusia maupun Iblis mengetahui bahwa segala sesuatu tentang manusia, hidup dan mati manusia, semuanya itu ditentukan oleh Tuhan, dan bahwa meskipun Dia telah menjadi daging, Dia tetap memegang kendali atas dunia jasmani yang dapat dilihat juga atas dunia rohani yang tak dapat dilihat manusia. Ini adalah agar manusia dan Iblis tahu bahwa segala sesuatu tentang manusia tidak berada di bawah kendali Iblis. Ini adalah pengungkapan dan peragaan otoritas Tuhan, dan ini juga cara Tuhan mengirimkan pesan kepada segala sesuatu bahwa hidup dan mati manusia berada di tangan Tuhan. Kebangkitan Lazarus oleh Tuhan Yesus adalah salah satu cara Sang Pencipta mengajar dan memberi instruksi kepada umat manusia. Ini adalah tindakan konkret di mana Dia menggunakan kuasa dan otoritas-Nya untuk memberi instruksi kepada umat manusia, dan membekali manusia. Ini adalah cara, tanpa menggunakan kata-kata, bagi Sang Pencipta untuk memungkinkan manusia memahami kebenaran bahwa Dialah yang memegang kendali atas segala sesuatu. Ini adalah cara bagi-Nya untuk memberi tahu umat manusia melalui tindakan nyata bahwa tidak ada keselamatan selain melalui Dia. Cara tak bersuara yang Dia gunakan untuk memberi instruksi kepada manusia ini bersifat kekal, tak terhapuskan, dan membuat hati manusia sangat terkejut dan mengalami pencerahan yang tak akan pernah sirna. Kebangkitan Lazarus memuliakan Tuhan—ini berdampak sangat dalam di dalam diri setiap pengikut Tuhan. Dalam diri setiap orang yang benar-benar memahami peristiwa ini, terpatri kuat pemahaman dan visi, bahwa hanya Tuhan yang mampu mengendalikan hidup dan mati manusia. Meskipun Tuhan memiliki otoritas semacam ini, dan meskipun Dia mengirimkan pesan tentang kedaulatan-Nya atas hidup dan mati manusia melalui kebangkitan Lazarus, ini bukanlah pekerjaan utama diri-Nya. Tuhan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa makna. Setiap hal yang Dia kerjakan bernilai besar dan merupakan permata yang tak terhingga harganya di dalam gudang harta. Dia tentu saja tidak akan menjadikan "perbuatan membangkitkan seseorang keluar dari kuburnya" sebagai hal atau tujuan satu-satunya atau yang utama dalam pekerjaan-Nya. Tuhan tidak melakukan sesuatu tanpa makna. Satu saja peristiwa kebangkitan Lazarus sudah cukup untuk menunjukkan otoritas Tuhan dan membuktikan identitas Tuhan Yesus. Inilah sebabnya Tuhan Yesus tidak mengulangi mukjizat sejenis ini. Tuhan melakukan berbagai hal berdasarkan prinsip-Nya sendiri. Dalam bahasa manusia, dapat dikatakan bahwa Tuhan menyibukkan pikiran-Nya hanya untuk perkara-perkara yang serius. Artinya, ketika Tuhan melakukan sesuatu, Dia tidak melenceng dari tujuan pekerjaan-Nya. Dia tahu pekerjaan seperti apa yang ingin Dia lakukan pada tahap ini, apa yang ingin Dia capai, dan Dia akan bekerja dengan ketat sesuai dengan rencana-Nya. Seandainya seseorang yang rusak memiliki kemampuan seperti ini, ia hanya akan memikirkan cara untuk mengungkapkan kemampuan ini agar orang lain tahu seberapa hebatnya dirinya, agar mereka tunduk kepadanya, sehingga ia dapat mengendalikan mereka dan melahap mereka. Inilah kejahatan yang berasal dari Iblis—inilah yang disebut kerusakan. Tuhan tidak memiliki watak seperti itu, dan Dia tidak memiliki esensi seperti itu. Tujuan-Nya dalam melakukan sesuatu bukanlah untuk memamerkan diri-Nya, melainkan untuk membekali umat manusia dengan lebih banyak pewahyuan dan tuntunan, dan inilah sebabnya orang melihat sedikit sekali contoh dalam Alkitab mengenai peristiwa semacam ini. Ini bukan berarti bahwa kuasa Tuhan Yesus terbatas, atau bahwa Dia tidak mampu melakukan hal-hal semacam itu. Tuhan hanya sekadar tidak ingin melakukannya, karena dibangkitkannya Lazarus oleh Tuhan Yesus memiliki makna penting yang nyata dan juga karena pekerjaan utama Tuhan dalam menjadi daging bukanlah untuk melakukan mukjizat, bukan untuk membangkitkan orang mati, melainkan untuk melakukan pekerjaan penebusan umat manusia. Jadi, sebagian besar pekerjaan yang diselesaikan Tuhan Yesus adalah mengajari orang-orang, membekali mereka, dan menolong mereka, dan peristiwa seperti membangkitkan Lazarus hanyalah sebagian kecil saja dari pelayanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Terlebih dari itu, engkau dapat mengatakan bahwa "pamer" bukanlah bagian dari esensi Tuhan, jadi Tuhan Yesus tidak secara sengaja menunjukkan pembatasan diri dengan tidak melakukan lebih banyak mukjizat, juga bukan karena keterbatasan lingkungan, dan tentunya juga bukan karena kurangnya kuasa.

Ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, Dia menggunakan satu kalimat: "Lazarus, keluarlah!" Dia tidak mengatakan apa pun lagi selain ini. Jadi, menunjukkan apakah kata-kata ini? Kata-kata ini menunjukkan bahwa Tuhan mampu melakukan apa saja hanya dengan berfirman, termasuk membangkitkan orang mati. Ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, ketika Dia menciptakan dunia, Dia melakukannya dengan firman—dengan mengucapkan perintah, perkataan yang berotoritas, dan demikianlah, segala sesuatu pun tercipta. Beberapa patah kata yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini adalah sama seperti firman yang diucapkan Tuhan ketika Dia menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatunya; dengan demikian, perkataan tersebut juga dipenuhi otoritas Tuhan dan kuasa Sang Pencipta. Segala sesuatu terbentuk dan berdiri teguh oleh karena firman yang keluar dari mulut Tuhan, dan dengan cara yang sama, Lazarus pun berjalan keluar dari kuburnya oleh karena firman yang keluar dari mulut Tuhan Yesus. Inilah otoritas Tuhan, yang ditunjukkan dan diwujudkan dalam daging inkarnasi-Nya. Otoritas dan kemampuan semacam ini adalah milik Sang Pencipta, dan milik Anak Manusia yang di dalam diri-Nya Sang Pencipta diwujudkan. Inilah pemahaman yang diajarkan kepada umat manusia oleh Tuhan melalui dibangkitkannya Lazarus dari kematian. Sekarang, kita akan menyelesaikan pembahasan kita mengenai topik ini.

Dikutip dari "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Lonceng Alarm Akhir Zaman telah berbunyi, dan bencana besar telah melanda. Apakah Anda ingin menyambut Tuhan dan mendapatkan kesempatan untuk dilindungi Tuhan bersama keluarga?

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp