Teguran Tuhan Yesus terhadap Orang-orang Farisi

14 Mei 2019

1. Penghakiman Orang-orang Farisi terhadap Tuhan Yesus

(Markus 3:21-22) Ketika teman-temannya mendengar hal itu, mereka keluar untuk mendapatkan-Nya: karena kata mereka, Dia sudah tidak waras. Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Dia kerasukan Beelzebul, dan dengan kekuatan pangeran Iblis Dia mengusir Iblis."

2.Teguran Tuhan Yesus terhadap Orang-orang Farisi

(Matius 12:31-32) Aku berkata kepadamu, Semua jenis dan dosa hujat kepada manusia akan diampuni: tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Dan barangsiapa yang berkata-kata melawan Anak Manusia, ia akan diampuni: tetapi jika ia berkata-kata melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang.

(Matius 23:13-15) Tetapi celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik, karena engkau menutup Kerajaan Surga terhadap manusia: padahal engkau sendiri tidak pernah pergi ke sana, namun engkau menghalangi orang-orang yang berusaha masuk ke sana. Celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik, karena engkau mengganyang rumah janda-janda, namun engkau berpura-pura menaikkan doa yang panjang: karena itulah engkau akan menerima hukuman yang lebih berat. Celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik! Karena engkau melintasi lautan dan daratan untuk menjadikan satu orang bertobat menjadi pengikutmu, tetapi begitu ia bertobat, engkau menjadikannya anak neraka yang dua kali lebih jahat daripada dirimu sendiri.

Ada dua perikop terpisah di atas—mari kita melihat yang pertama: Penghakiman Orang Farisi terhadap Tuhan Yesus.

Dalam Alkitab, pemeriksaan orang-orang Farisi atas Tuhan Yesus sendiri dan hal-hal yang Ia perbuat adalah: "kata mereka, Dia sudah tidak waras. … Dia kerasukan Beelzebul, dan dengan kekuatan pangeran Iblis Dia mengusir Iblis" (Markus 3:21-22). Penghakiman yang dilakukan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap Tuhan Yesus bukanlah mengulangi kata-kata orang lain ataupun buah khayalan semata—melainkan kesimpulan yang mereka ambil mengenai diri Tuhan Yesus berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengar tentang tindakan-Nya. Meskipun kesimpulan mereka dibuat seakan-akan atas nama keadilan dan nampak seolah-olah punya alasan yang kuat, kecongkakan mereka dalam menghakimi Tuhan Yesus sulit disembunyikan bahkan oleh diri mereka sendiri. Gejolak kebencian mereka terhadap Tuhan Yesus mengungkapkan ambisi gila mereka sendiri dan wajah jahat setan dalam diri mereka, juga sifat jahat mereka melawan Tuhan. Hal-hal yang mereka katakan dalam penghakiman mereka terhadap Tuhan Yesus didorong oleh ambisi, kecemburuan, dan sifat buruk dan jahat dari kebencian mereka terhadap Tuhan dan kebenaran. Mereka tidak memeriksa sumber tindakan Tuhan Yesus, mereka juga tidak memeriksa esensi dari apa yang Ia katakan atau lakukan. Tetapi mereka secara buta, terburu-buru, gila, dan dengan niat jahat yang disengaja menyerang dan mencela apa yang telah Ia lakukan. Ini bahkan sampai pada tahap secara sembarangan mencela Roh-Nya, yakni Roh Kudus, Roh Tuhan. Inilah yang mereka maksud ketika mengatakan "Dia sudah tidak waras," "Beelzebul dan oleh kuasa pangeran Iblis." Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa Roh Tuhan adalah Beelzebul dan pangeran para Iblis. Mereka menggolongkan pekerjaan yang dilakukan oleh daging yang Roh Tuhan kenakan sebagai kegilaan. Mereka tidak hanya menghujat Roh Tuhan dengan menuduh-Nya sebagai Beelzebul dan pangeran Iblis, mereka juga mengutuk pekerjaan Tuhan. Mereka mengutuk dan menghujat Tuhan Yesus Kristus. Esensi dari perlawanan dan penghujatan mereka terhadap Tuhan sepenuhnya sama dengan esensi Iblis dan perlawanan serta penghujatan Iblis terhadap Tuhan. Mereka tidak hanya merepresentasikan manusia-manusia yang rusak, lebih dari itu, mereka adalah perwujudan Iblis. Mereka adalah saluran bagi Iblis di tengah umat manusia, dan mereka adalah kaki tangan dan utusan Iblis. Esensi dari penghujatan dan fitnah mereka terhadap Tuhan Yesus Kristus adalah pergumulan mereka melawan Tuhan demi status, penentangan mereka terhadap Tuhan, pengujian mereka yang tanpa henti terhadap Tuhan. Esensi perlawanan mereka terhadap Tuhan, dan sikap bermusuhan mereka terhadap-Nya, juga perkataan mereka dan pikiran mereka secara langsung menghujat dan membangkitkan amarah Roh Tuhan. Karena itulah, Tuhan menetapkan penghakiman yang pantas atas apa yang mereka katakan dan lakukan, dan menetapkan bahwa perbuatan mereka adalah dosa penghujatan terhadap Roh Kudus. Dosa ini tidak dapat diampuni baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang, seperti yang tercatat dalam perikop berikut: "hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni." Dan "tetapi jika ia berkata-kata melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang." Pada saat ini, mari kita membahas arti sesungguhnya dari firman Tuhan ini "ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang." Arti dari firman itu dibuat menjadi sangat jelas melalui cara Tuhan menggenapi firman "ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang."

Semua yang telah kita bahas berhubungan dengan watak Tuhan, dan sikap-Nya terhadap manusia, perkara, dan berbagai hal. Tentunya, kedua perikop di atas pun tidak terkecuali. Apakah engkau semua memperhatikan sesuatu di dalam kedua perikop Kitab Suci ini? Sebagian orang mengatakan bahwa mereka melihat murka Tuhan. Yang lain mengatakan mereka melihat sisi dari watak Tuhan yang tidak menolerir pelanggaran manusia, dan bahwa apabila orang melakukan sesuatu yang menghujat Tuhan, mereka tidak akan beroleh pengampunan-Nya. Terlepas dari fakta bahwa orang-orang melihat dan menyadari kemarahan dan ketidaktoleranan Tuhan terhadap pelanggaran umat manusia dalam kedua perikop ini, mereka tetap tidak benar-benar paham akan sikap-Nya. Kedua perikop ini memuat sebuah implikasi dari sikap dan pendekatan Tuhan yang sebenarnya terhadap orang-orang yang menghujat dan membuat-Nya marah. Perikop dalam Kitab Suci ini memuat arti sesungguhnya dari sikap dan pendekatan-Nya: "barangsiapa berkata-kata melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang." Ketika orang-orang menghujat Tuhan, ketika mereka membuat-Nya marah, Ia mengeluarkan putusan, dan putusan ini adalah kesudahan akhir dari-Nya. Tertulis demikian di dalam Alkitab: "Aku berkata kepadamu, Semua jenis dan dosa hujat kepada manusia akan diampuni: tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni." (Matius 12:31) Dan "celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik!" (Matius 23:13). Akan tetapi, apakah dicatat dalam Alkitab seperti apa kesudahan yang menimpa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, juga orang-orang yang berkata Ia sudah gila setelah Tuhan Yesus mengatakan semua hal ini? Apakah ada tertulis bahwa mereka menderita suatu hukuman? Sudah jelas tidak ada. Mengatakan "tidak ada" di sini bukan berarti itu tidak tertulis, tetapi sesungguhnya tidak ada hukuman terhadap mereka yang dapat dilihat dengan mata manusia. Kata "tidak ada" tersebut memperjelas suatu hal, yaitu sikap dan prinsip Tuhan dalam menangani hal-hal tertentu. Perlakuan Tuhan terhadap orang-orang yang menghujat atau melawan-Nya, atau bahkan mereka yang memfitnah Dia—orang-orang yang secara sengaja menyerang, memfitnah, dan mengutuk-Nya—Ia tidak menutup mata atau telinga. Ia memiliki sikap yang jelas terhadap mereka. Ia membenci orang-orang ini, dan dalam hati-Nya Ia mengutuk mereka. Ia bahkan secara terbuka menyebutkan kesudahan yang akan menimpa mereka, supaya orang-orang tahu bahwa Ia punya sikap yang jelas terhadap orang-orang yang menghujat-Nya, dan supaya mereka tahu bahwa Ia akan menentukan kesudahan mereka. Akan tetapi, setelah Tuhan mengatakan semua hal ini, orang-orang tetap sulit melihat kebenaran tentang cara Tuhan menangani orang-orang tersebut, dan mereka tidak dapat memahami prinsip di balik kesudahan dari Tuhan, putusan-Nya terhadap mereka. Dengan kata lain, umat manusia tidak dapat melihat sikap khusus dan cara-cara yang dimiliki Tuhan dalam menangani mereka. Ini berkaitan dengan prinsip Tuhan dalam melakukan banyak hal. Tuhan menggunakan kemunculan berbagai peristiwa untuk menangani perilaku jahat sebagian orang. Dengan kata lain, Ia tidak mengumumkan dosa mereka dan tidak menetapkan kesudahan mereka, tetapi Ia secara langsung menggunakan kemunculan peristiwa untuk membiarkan mereka dihukum, untuk mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Ketika fakta-fakta ini terjadi, tubuh orang-orang inilah yang menderita hukuman; semuanya itu masih bisa dilihat dengan mata manusia. Ketika menangani perilaku jahat sebagian orang, Tuhan hanya mengutuk mereka dengan kata-kata, tetapi pada saat yang sama, murka-Nya ditimpakan kepada mereka, dan hukuman yang mereka terima mungkin adalah hal yang tidak dapat dilihat orang, tetapi kesudahan semacam ini mungkin jauh lebih berat dibanding kesudahan yang masih dapat dilihat orang yaitu mereka dihukum atau dibunuh. Ini karena dalam keadaan di mana Tuhan telah menetapkan untuk tidak menyelamatkan jenis orang semacam ini, untuk tidak lagi menunjukkan belas kasihan dan toleransi terhadap mereka, untuk tidak lagi memberikan peluang bagi mereka, sikap-Nya terhadap mereka adalah menyisihkan mereka. Apakah arti dari "menyisihkan"? Secara terpisah kata ini berarti mengesampingkan sesuatu, tidak lagi memperhatikannya. Dalam hal ini, ketika Tuhan "menyisihkan," ada dua penjelasan berbeda tentang artinya: Penjelasan pertama adalah Ia telah menyerahkan hidup orang tersebut, dan semuanya yang berkenaan dengan orang tersebut kepada Iblis untuk ditangani. Tuhan tidak akan lagi bertanggung jawab dan Ia tidak akan lagi mengelola orang itu. Tidak peduli apakah orang tersebut gila, atau bodoh, dan tidak peduli apakah dalam kehidupan atau dalam kematian, atau apakah mereka masuk neraka sebagai hukuman, itu tidak akan lagi menjadi urusan Tuhan. Ini berarti bahwa makhluk tersebut tidak lagi punya hubungan dengan Sang Pencipta. Penjelasan kedua adalah bahwa Tuhan telah menentukan bahwa Ia sendiri ingin melakukan sesuatu terhadap orang ini, dengan tangan-Nya sendiri. Mungkin Ia akan memakai jasa orang semacam ini, atau mungkin saja Ia menggunakan orang semacam ini sebagai sebuah kontras. Mungkin Ia akan punya cara khusus untuk menangani orang semacam ini, cara khusus untuk memperlakukan mereka—seperti halnya Paulus. Inilah prinsip dan sikap dalam hati Tuhan mengenai bagaimana Ia telah menetapkan untuk menangani orang semacam ini. Jadi ketika orang melawan Tuhan, memfitnah dan menghujat-Nya, apabila mereka mencela watak-Nya, atau apabila mereka menghabiskan kesabaran Tuhan, akibatnya tidak terbayangkan. Akibat paling berat adalah Tuhan menyerahkan hidup mereka dan semua yang berkenaan dengan mereka kepada Iblis untuk selama-lamanya. Mereka tidak akan diampuni untuk waktu yang kekal. Ini berarti orang ini telah menjadi makanan di mulut Iblis, mainan dalam tangannya, dan sejak saat itu Tuhan tidak lagi punya urusan apa-apa dengan mereka. Dapatkah engkau semua membayangkan bagaimana penderitaan Ayub ketika dicobai Iblis? Bahkan dengan syarat bahwa Iblis tidak diizinkan membahayakan hidup Ayub, Ayub masih sangat menderita. Dan bukankah lebih sulit membayangkan siksaan Iblis terhadap seseorang yang telah sepenuhnya diserahkan kepada Iblis, yang sepenuhnya berada di dalam tangan Iblis, sepenuhnya kehilangan kepedulian dan belas kasihan Tuhan, yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta, yang telah diambil haknya untuk menyembah Tuhan, dan diambil haknya sebagai ciptaan di bawah kekuasaan Tuhan, yang hubungannya dengan Tuhan segala ciptaan telah sepenuhnya terputus? Penganiayaan Iblis terhadap Ayub adalah sesuatu yang bisa dilihat dengan mata manusia, tetapi apabila Tuhan menyerahkan hidup seseorang kepada Iblis, konsekuensinya merupakan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan siapa pun. Itu akan sama seperti orang yang dilahirkan kembali sebagai seekor sapi, atau seekor keledai, atau sama seperti orang yang dikendalikan, dirasuki oleh roh tercemar dan jahat, dan lain sebagainya. Inilah kesudahan, akhir dari orang-orang yang diserahkan kepada Iblis oleh Tuhan. Dari luar, nampaknya orang-orang ini yang menghina, memfitnah, mengutuk, dan menghujat Tuhan Yesus tidak menanggung akibat apa-apa. Akan tetapi, sebenarnya Tuhan memiliki sikap dalam menangani segala hal. Ia mungkin tidak menggunakan bahasa yang jelas untuk memberitahu orang-orang kesudahan dari cara Ia menangani setiap jenis orang. Terkadang Ia tidak berbicara secara langsung, tetapi melakukan hal-hal tertentu secara langsung. Ketika Ia tidak mengatakan apa-apa, bukan berarti tidak ada kesudahannya—mungkin kesudahan ini akan jauh lebih berat. Dari luar, kelihatannya Tuhan tidak berbicara kepada sebagian orang untuk mengungkapkan sikap-Nya; sebenarnya, Tuhan tidak ingin lagi berlama-lama memikirkan mereka. Ia tidak ingin melihat mereka lagi. Karena apa yang mereka lakukan, tingkah laku mereka, karena sifat mereka dan esensi mereka, Tuhan hanya ingin mereka menghilang dari hadapan-Nya, Ia ingin menyerahkan mereka secara langsung kepada Iblis, memberikan roh, jiwa, dan tubuh mereka kepada Iblis, membiarkan Iblis melakukan apa pun yang ia inginkan. Jelaslah di sini sejauh mana Tuhan membenci mereka, sejauh mana Ia jijik akan mereka. Apabila seseorang membuat Tuhan marah sampai pada titik di mana Ia bahkan tidak ingin melihat mereka lagi, di mana Ia akan sepenuhnya menyerah atas mereka, sampai pada titik di mana Tuhan tidak lagi ingin berurusan dengan mereka—apabila sampai pada tahap di mana Ia menyerahkan mereka kepada Iblis untuk berbuat semaunya, membiarkan Iblis mengendalikan, menguasai, dan memperlakukan mereka dengan cara apa pun—maka orang ini sudah sepenuhnya berakhir. Hak mereka sebagai manusia telah selamanya dibatalkan, dan hak mereka sebagai ciptaan telah berakhir. Bukankah ini hukuman yang paling berat?

Semua yang di atas ini adalah penjelasan lengkap dari firman: "ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, dan tidak di dunia yang akan datang," dan ini juga merupakan pembahasan sederhana dari perikop-perikop ini. Menurut-Ku engkau semua kini sudah memiliki pemahaman tentang hal ini!

dari "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Ketika bencana melanda, bagaimana seharusnya kita orang Kristen menghadapinya? Anda diundang untuk bergabung dengan pertemuan online kami, di mana kita dapat menyelidiki bersama dan menemukan jalannya.
Hubungi kami via Messenger
Hubungi kami via WhatsApp

Konten Terkait