Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Kesaksian bagi Kristus di Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

XVIII. Apa yang Dimaksud dengan Mengikuti Kehendak Tuhan dan Apa yang dimaksud dengan Kesaksian Sejati?

3. Apa yang dimaksud dengan seseorang yang mengikuti kehendak Tuhan? Dan apa yang dimaksud dengan kesaksian iman yang sejati kepada Tuhan?

Ayat Alkitab untuk Referensi:

"Lalu Ayub bangun, mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian tersungkur dan menyembah, katanya: 'Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dengan telanjang aku juga akan kembali ke situ: Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh'" (Ayub 1:20-21).

"Dan Dia berfirman: 'Ambillah anak lelakimu, anak lelakimu satu-satunya, Ishak, yang engkau kasihi, bawalah ia ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran, di salah satu gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu.' Maka Abraham bangun pagi-pagi benar dan memasang pelana keledainya lalu membawa dua orang bujang bersamanya dan Ishak anaknya; ia juga membelah kayu untuk korban bakaran itu lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang diperintahkan Tuhan kepadanya. ... Tibalah mereka ke tempat yang Tuhan tunjukkan kepadanya, lalu Abraham mendirikan mezbah di sana, menyusun kayu dan mengikat Ishak, anaknya dan membaringkannya di mezbah itu, di atas kayu. Lalu Abraham mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anak lelakinya" (Kejadian 22:2-3, 9-10).

"Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan; sebab mereka murni. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba ke mana pun Dia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia, sebagai buah sulung bagi Tuhan dan Anak Domba. Dan di dalam mulut mereka tidak ditemukan kelicikan: karena mereka tidak bercacat di hadapan takhta Tuhan" (Wahyu 14:4-5).

Firman Tuhan yang Relevan:

Yesus mampu menunaikan amanat Tuhan—pekerjaan penebusan semua umat manusia—karena Dia memberi perhatian penuh pada kehendak Tuhan, tanpa rencana dan pertimbangan pribadi-Nya. Jadi, Dia juga sahabat karib Tuhan—Tuhan itu sendiri, sesuatu yang engkau semua pahami dengan sangat baik. (Sebenarnya, Dia adalah Tuhan itu sendiri yang tentang-Nya Tuhan memberikan kesaksian; Aku menyinggungnya di sini untuk menggunakan kenyataan tentang Yesus guna mengilustrasikan persoalan tersebut.) Dia mampu menempatkan rencana pengelolaan Tuhan sebagai pusat hidup, dan senantiasa berdoa kepada Bapa Surgawi serta mencari kehendak Bapa Surgawi. Dia berdoa, dan berkata: "Bapa! Terjadilah apa yang menjadi kehendak-Mu, dan bertindaklah tidak dengan menuruti niat-Ku; biarlah Engkau bertindak sesuai rencana-Mu. Manusia mungkin lemah, namun mengapa Engkau harus peduli terhadapnya? Bagaimana bisa manusia menjadi pusat kekhawatiran-Mu, manusia yang seperti seekor semut di tangan-Mu? Dalam hati-Ku, Aku hanya ingin memenuhi kehendak-Mu, dan Aku ingin agar Engkau bisa melakukan apa yang akan Engkau lakukan pada-Ku sesuai dengan maksud-Mu sendiri." Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus merasakan kesakitan, seolah-olah pisau sedang dipilin dalam hati-Nya, namun Dia tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengingkari firman-Nya; selalu ada kekuatan dahsyat yang mendorong-Nya menuju ke tempat Dia akan disalibkan. Pada akhirnya, Dia dipaku di kayu salib dan menjadi serupa dengan daging pendosa, menunaikan pekerjaan penebusan umat manusia, dan menaklukkan belenggu kematian dan dunia orang mati. Di hadapan-Nya, kematian, neraka, dan dunia orang mati kehilangan kekuatan mereka dan ditaklukkan oleh-Nya. Dia hidup selama tiga puluh tiga tahun, dan selama itu Dia selalu melakukan yang terbaik untuk memenuhi kehendak Tuhan sesuai dengan pekerjaan Tuhan pada saat itu, tidak pernah mempertimbangkan keuntungan atau kerugian pribadi-Nya sendiri, dan selalu memikirkan kehendak Bapa. Jadi, setelah Dia dibaptis, Tuhan berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Karena pelayanan-Nya di hadapan Tuhan yang selaras dengan kehendak Tuhan, Tuhan meletakkan beban berat menebus semua umat manusia di kedua bahu-Nya dan membuat-Nya terus melanjutkan demi mencapainya, dan Dia layak serta berhak untuk menyelesaikan tugas penting ini.

Dikutip dari "Bagaimana Melayani Selaras Dengan Kehendak Tuhan"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Mereka yang melayani Tuhan harus menjadi sahabat karib Tuhan, mereka harus dicintai oleh Tuhan, dan mampu menunjukkan loyalitas tertinggi kepada Tuhan. Terlepas dari apakah engkau bertindak di belakang orang, atau di depan mereka, engkau mampu memperoleh sukacita Tuhan di hadapan Tuhan, engkau mampu berdiri teguh di hadapan Tuhan, dan terlepas dari bagaimana orang lain memperlakukanmu, engkau senantiasa menapaki jalanmu sendiri, dan memberi perhatian penuh pada beban Tuhan. Hanya inilah sahabat karib Tuhan. Sahabat karib Tuhan mampu melayani-Nya secara langsung karena mereka telah diberi amanat agung Tuhan, dan beban Tuhan, mereka mampu menjadikan hati Tuhan seperti milik mereka sendiri, dan beban Tuhan seperti beban mereka sendiri, dan mereka tidak banyak berpikir apakah mereka memperoleh atau kehilangan masa depan. Bahkan bilamana mereka tidak memiliki masa depan, dan mereka tidak akan mendapat apa pun, mereka senantiasa akan percaya kepada Tuhan dengan hati penuh kasih. Maka, orang semacam ini adalah sahabat karib Tuhan. Sahabat karib Tuhan adalah juga orang kepercayaan-Nya; hanya orang kepercayaan Tuhan yang bisa berbagi keresahan-Nya, juga keinginan-Nya, dan meski daging mereka sakit dan lemah, mereka mampu menanggung rasa sakit dan meninggalkan apa yang mereka cintai demi memuaskan Tuhan. Tuhan memberi beban lebih banyak pada orang tersebut, dan apa yang Tuhan akan lakukan diungkapkan melalui orang-orang ini. Dengan demikian, orang-orang ini dicintai oleh Tuhan, mereka adalah pelayan Tuhan yang berkenan di hati-Nya, dan hanya orang seperti ini yang bisa memerintah bersama dengan Tuhan.

Dikutip dari "Bagaimana Melayani Selaras Dengan Kehendak Tuhan"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Dalam kepercayaannya kepada Tuhan, Petrus berusaha memuaskan Tuhan dalam segala hal, dan berusaha menaati segala yang berasal dari Tuhan. Tanpa mengeluh sedikit pun, ia sanggup menerima hajaran dan penghakiman, serta pemurnian, kesengsaraan, dan kekurangan dalam hidupnya, tak satu pun dari hal-hal itu yang dapat mengubah kasihnya kepada Tuhan. Bukankah ini kasih kepada Tuhan yang sesungguhnya? Bukankah ini pemenuhan tugas seorang ciptaan Tuhan? Hajaran, penghakiman, kesengsaraan—engkau mampu mencapai ketaatan sampai mati, inilah perkara yang seharusnya dicapai ciptaan Tuhan, inilah kemurnian kasih kepada Tuhan. Jika manusia dapat mencapai sejauh ini, dialah ciptaan Tuhan yang layak, dan tak ada yang dapat lebih memuaskan Sang Pencipta.

Dikutip dari "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada

Jalan yang Dijalani Manusia"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Begitu nama Petrus disebutkan, semua orang penuh dengan pujian .... Ia memberikan perhatian yang teliti tidak hanya untuk makan dan minum firman-Ku, tetapi terlebih lagi untuk memahami maksud-maksud-Ku, dan selalu bijaksana dan berhati-hati dalam pemikirannya, sehingga ia selalu cerdik dalam rohnya, karena itu ia dapat menyenangkan Aku dalam segala sesuatu yang dilakukannya. Dalam kehidupan sehari-hari, ia memperhatikan dengan saksama cara menyatukan pelajaran dari orang-orang yang pernah gagal di masa lalu agar dapat memacu dirinya sendiri untuk berusaha lebih keras, penuh ketakutan bahwa ia mungkin terjerumus dalam perangkap kegagalan. Ia juga memperhatikan dengan cermat demi mempelajari dan memahami secara menyeluruh iman dan kasih dari semua orang yang selama berabad-abad telah mengasihi Tuhan. Dengan cara ini tidak hanya dalam aspek negatif, tetapi yang lebih penting, dalam aspek positif ia mempercepat kemajuan pertumbuhannya, sehingga di hadirat-Ku ia menjadi manusia yang mengenal-Ku dengan sangat baik. Karena alasan ini, tidak sulit untuk membayangkan bagaimana ia dapat meletakkan segala yang dimilikinya dalam tangan-Ku, tidak lagi menjadi tuan atas dirinya sendiri bahkan dalam hal makan, berpakaian, tidur, atau tempat tinggal, tetapi membuat-Ku puas dalam segala hal dan atas dasar itu menikmati karunia-Ku. Seringkali Aku mengujinya, yang tentu saja membuatnya setengah mati, namun bahkan di tengah-tengah ratusan ujian ini, tak sekalipun ia kehilangan kepercayaan atau menjadi kecewa kepada-Ku. Bahkan ketika Aku mengatakan bahwa Aku sudah membuangnya, hatinya tidak menjadi lemah ataupun tenggelam dalam keputusasaan, tetapi seperti sebelumnya terus menjalankan prinsipnya untuk mengasihi-Ku dengan cara yang nyata. Ketika Aku memberitahukan kepadanya bahwa, meskipun ia mengasihi-Ku, Aku tidak memujinya, tetapi akan melemparkannya ke tangan Iblis pada akhirnya. Di tengah-tengah ujian ini, yang tidak mencapai hingga ke dagingnya tetapi merupakan ujian melalui firman, ia tetap berdoa kepada-Ku: "Oh, Tuhan! Di antara langit dan bumi dan begitu banyak hal, adakah manusia, makhluk apa pun, atau perkara apa pun yang tidak berada dalam genggaman tangan-Mu, Yang Mahakuasa? Ketika Engkau mau menunjukkan belas kasihan kepadaku, hatiku sangat bersyukur karena belas kasihan-Mu; ketika engkau ingin menghakimi Aku, meskipun aku mungkin tidak layak, aku semakin merasakan misteri yang dalam dari perbuatan-Mu, karena Engkau penuh dengan kuasa dan hikmat. Meskipun tubuhku mungkin menderita, aku terhibur dalam rohku. Bagaimana mungkin aku tidak memuji hikmat dan perbuatan-Mu? Bahkan jika aku mati setelah mengenal engkau, aku akan selalu siap dan bersedia. Oh, Yang Mahakuasa! Tentunya hal itu bukan karena Engkau sungguh-sungguh tidak ingin memperkenankan aku untuk melihat Engkau? Tentunya hal itu bukan karena aku sunguh-sungguh tidak layak untuk menerima penghakiman-Mu? Mungkinkah ada sesuatu dalam diriku yang Engkau tidak berkenan melihatnya?" Di tengah-tengah ujian semacam ini, meskipun Petrus tidak dapat memahami maksud-Ku dengan tepat, jelas bahwa ia menganggap dipakai oleh-Ku sebagai kemuliaan dan kebanggaan pribadi (meskipun sekadar menerima penghakiman-Ku agar manusia dapat melihat kemegahan dan murka-Ku), dan tidak merasa gundah karena sedang diuji. Karena kesetiaannya di hadirat-Ku, dan karena berkat-Ku atasnya, ia telah menjadi sebuah contoh dan teladan bagi umat manusia selama ribuan tahun.

Dikutip dari "Bab 6, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Ketika Ayub pertama kali menjalani ujiannya, semua hartanya dan semua anaknya diambil, tetapi sebagai akibatnya dia tidak jatuh atau mengatakan apa pun yang merupakan dosa terhadap Tuhan. Dia telah mengatasi pencobaan Iblis, dan dia telah mengalahkan harta materiel dan keturunannya, dan ujian kehilangan semua harta duniawinya, yang berarti dia mampu mematuhi Tuhan yang mengambil darinya dan mengucapkan syukur dan pujian kepada Tuhan karena hal itu. Seperti itulah perilaku Ayub selama pencobaan pertama dari Iblis, dan itu juga merupakan kesaksian Ayub selama ujian pertama dari Tuhan. Dalam ujian kedua, Iblis mengulurkan tangannya untuk menyakiti Ayub, dan walaupun Ayub mengalami penderitaan yang lebih berat daripada yang pernah dirasakannya sebelumnya, tetapi kesaksiannya itu cukup untuk membuat orang-orang merasa sangat terkejut. Dia menggunakan ketabahan, keyakinan, dan ketaatannya kepada Tuhan, serta ketakutannya akan Tuhan, untuk sekali lagi mengalahkan Iblis, dan tingkah lakunya serta kesaksiannya sekali lagi diperkenan dan disukai oleh Tuhan. Selama pencobaan ini, Ayub menggunakan tingkah lakunya yang sebenarnya untuk menyatakan kepada Iblis bahwa rasa sakit pada tubuhnya tidak dapat mengubah imannya dan ketaatannya kepada Tuhan atau merampas pengabdiannya kepada Tuhan dan sikapnya yang takut akan Tuhan. Dia tidak akan meninggalkan Tuhan atau menyerahkan kesempurnaan dan kejujurannya sendiri karena dia menghadapi kematian. Tekad Ayub membuat Iblis menjadi takut. Imannya membuat Iblis gentar dan gemetar. Kekuatan pertempurannya yang mempertaruhkan nyawa melawan Iblis menimbulkan kebencian dan permusuhan yang mendalam pada Iblis. Kesempurnaan dan kejujurannya membuat Iblis tidak dapat lagi melakukan apa pun kepadanya, sehingga Iblis menghentikan serangannya terhadap Ayub dan menghentikan tuduhannya terhadap Ayub di hadapan Tuhan Yahweh. Ini berarti bahwa Ayub telah mengalahkan dunia. Dia telah mengalahkan tubuhnya. Dia telah mengalahkan Iblis, dan dia telah mengalahkan kematian. Dia benar-benar dan sepenuhnya merupakan manusia kepunyaan Tuhan. Selama kedua ujian ini, Ayub tetap teguh dalam kesaksiannya, dan benar-benar menghidupi kesempurnaan dan kejujurannya, dan memperluas ruang lingkup prinsip hidupnya yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Setelah mengalami kedua ujian ini, Ayub mendapat pengalaman yang lebih kaya, dan pengalaman ini membuatnya lebih dewasa dan berpengalaman, membuatnya lebih kuat, dan memiliki keyakinan yang lebih besar, dan membuatnya lebih yakin akan kebenaran dan pentingnya kesalehan yang dia pegang teguh. Ujian Tuhan Yahweh terhadap Ayub memberinya pemahaman dan kepedulian yang mendalam tentang perhatian Tuhan kepada manusia, dan membuatnya dapat merasakan betapa berharganya kasih Tuhan, yang darinya perhatian dan kasih kepada Tuhan ditambahkan ke dalam sikapnya yang takut akan Tuhan. Semua ujian dari Tuhan Yahweh bukan saja tidak menjauhkan Ayub dari-Nya, tetapi juga membuat hatinya semakin dekat kepada Tuhan. Ketika rasa sakit jasmani yang dialami oleh Ayub mencapai puncaknya, perhatian yang dia rasakan dari Tuhan Yahweh membuatnya tidak punya pilihan selain mengutuk hari kelahirannya. Tingkah laku seperti ini tidak direncanakan sejak lama, tetapi merupakan ungkapan alami dari perhatian dan kasih kepada Tuhan dari dalam hatinya. Itu adalah ungkapan alami yang berasal dari perhatian dan kasihnya kepada Tuhan. Artinya, karena dia membenci dirinya sendiri dan dia tidak mau dan tidak sanggup membiarkan Tuhan tersiksa, maka perhatian dan kasihnya mencapai titik tanpa pamrih. Pada saat ini, Ayub meningkatkan penyembahan dan kerinduannya yang telah lama ada kepada Tuhan dan pengabdiannya kepada Tuhan sampai ke tingkat perhatian dan kasih. Pada saat yang sama, dia juga meningkatkan iman dan ketaatannya kepada Tuhan dan sikapnya yang takut akan Tuhan sampai ke tingkat perhatian dan kasih. Dia tidak membiarkan dirinya melakukan apa pun yang akan melukai hati Tuhan. Dia tidak membiarkan dirinya melakukan tindakan yang akan menyakiti Tuhan, dan tidak membiarkan dirinya menimbulkan kedukaan, kesedihan, atau bahkan ketidakbahagiaan kepada Tuhan karena alasannya sendiri. Di mata Tuhan, meskipun Ayub masih seperti Ayub yang dulu, iman Ayub, ketaatan, dan sikapnya yang takut akan Tuhan membuat Tuhan sangat puas dan gembira. Pada saat ini, Ayub telah mencapai kesempurnaan yang Tuhan harapkan untuk dia capai. Dia telah menjadi orang yang benar-benar layak disebut "tak bercela dan jujur" di mata Tuhan. Perbuatannya yang benar membuatnya dapat mengalahkan Iblis dan tetap teguh dalam kesaksiannya kepada Tuhan. Demikian juga, perbuatannya yang benar menjadikannya tak bercela, dan membuat nilai kehidupannya meningkat dan melebihi sebelumnya, dan menjadikannya orang pertama yang tidak lagi diserang dan dicobai oleh Iblis. Karena Ayub orang yang benar, dia dituduh dan dicobai Iblis; karena Ayub orang yang benar, dia diserahkan kepada Iblis; dan karena Ayub orang yang benar, dia mengatasi dan mengalahkan Iblis, dan tetap teguh dalam kesaksiannya. Sejak saat itu, Ayub menjadi orang pertama yang tidak akan pernah lagi diserahkan kepada Iblis. Dia benar-benar datang ke hadapan takhta Tuhan dan hidup dalam cahaya dengan semua berkat Tuhan tanpa incaran atau gangguan Iblis .... Dia telah menjadi manusia sejati di mata Tuhan, dia sudah dibebaskan ...

Dikutip dari "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Engkau mungkin mengatakan engkau telah ditaklukkan, tetapi bisakah engkau taat sampai mati? Engkau harus mampu mengikuti Dia sampai akhir terlepas dari apakah ada peluang atau tidak, dan engkau tidak boleh kehilangan iman kepada Tuhan dalam lingkungan apa pun. Pada akhirnya, engkau harus mencapai dua aspek kesaksian: kesaksian Ayub—ketaatan sampai mati—dan kesaksian Petrus—kasih yang tertinggi kepada Tuhan. Dalam satu hal, engkau harus seperti Ayub: dia tidak memiliki harta materi, dan sekujur tubuhnya ditimpa rasa sakit, kendati demikian, dia tidak meninggalkan nama Yahweh. Ini adalah kesaksian Ayub. Petrus mampu mengasihi Tuhan sampai mati. Ketika dia meninggal—ketika dia disalib—dia tetap mengasihi Tuhan; dia tidak memikirkan peluangnya sendiri atau mengejar pengharapan yang mulia atau pikiran yang muluk-muluk, dan dia hanya berusaha untuk mengasihi Tuhan dan mematuhi semua pengaturan Tuhan. Itulah standar yang harus engkau capai sebelum engkau dapat dianggap telah menjadi kesaksian, sebelum engkau menjadi orang yang telah disempurnakan setelah ditaklukkan.

Dikutip dari "Kebenaran Sesungguhnya di Balik Pekerjaan Penaklukan (2)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Apakah sebenarnya kesaksian yang benar? Kesaksian yang dibicarakan di sini memiliki dua bagian: salah satunya adalah kesaksian tentang ditaklukkan dan kesaksian lainnya adalah tentang disempurnakan (yang tentu saja adalah kesaksian setelah ujian yang lebih besar dan kesengsaraan di masa depan). Dengan kata lain, jika engkau mampu berdiri teguh selama kesengsaraan dan ujian, engkau telah memberikan langkah kesaksian kedua. Yang penting pada masa sekarang adalah langkah kesaksian pertama: mampu berdiri teguh selama setiap kejadian dari ujian hajaran dan penghakiman. Inilah kesaksian tentang ditaklukkan. Itu karena hari ini adalah waktu penaklukan. (Engkau harus tahu bahwa selama waktu pekerjaan Tuhan di bumi, pekerjaan utama Tuhan yang berinkarnasi di bumi adalah penggunaan penghakiman dan hajaran untuk menaklukkan kelompok orang-orang di bumi yang mengikuti-Nya.) Apakah engkau mampu atau tidak mampu memberikan kesaksian tentang ditaklukkan tidak hanya tergantung pada apakah engkau mampu mengikut sampai akhir, tetapi, yang terlebih penting, apakah ketika engkau mengalami setiap langkah pekerjaan Tuhan, engkau mampu memiliki pengetahuan yang benar tentang hajaran dan penghakiman Tuhan, dan apakah engkau benar-benar memahami semua pekerjaan ini. Tidak benar bahwa engkau akan dapat mengatasinya semampumu jika engkau mengikut sampai akhir. Engkau harus bisa dengan rela menyerah dalam setiap peristiwa dari hajaran dan penghakiman, harus mampu memiliki pengetahuan yang benar tentang setiap langkah pekerjaan yang engkau alami, dan harus mampu mencapai pengetahuan, dan ketaatan pada watak Tuhan. Inilah kesaksian tertinggi tentang ditaklukkan yang dituntut darimu. Kesaksian tentang ditaklukkan terutama mengacu pada pengetahuanmu tentang inkarnasi Tuhan. Letak pentingnya langkah kesaksian ini adalah pada inkarnasi Tuhan. Tidak penting apa yang engkau lakukan atau katakan di hadapan orang-orang di dunia atau mereka yang memegang kekuasaan; yang terpenting di atas segalanya adalah apakah engkau mampu mematuhi seluruh firman yang terucap dari mulut Tuhan dan semua pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, langkah kesaksian ini ditujukan kepada Iblis dan semua musuh Tuhan—roh-roh jahat dan musuh yang tidak percaya bahwa Tuhan akan mengambil rupa manusia untuk kedua kalinya dan datang untuk melakukan pekerjaan yang lebih besar, dan lebih jauh lagi, tidak percaya pada kenyataan tentang kedatangan Tuhan kembali menjadi daging. Dengan kata lain, kesaksian ini ditujukan kepada semua antikristus─semua musuh yang tidak percaya kepada inkarnasi Tuhan..

............

Kesaksian akhir zaman adalah kesaksian tentang apakah engkau dapat disempurnakan—yang berarti, kesaksian terakhir itu adalah bahwa, setelah mengerti semua firman yang diucapkan dari mulut Tuhan yang berinkarnasi, engkau memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan menjadi yakin tentang Dia, engkau hidup dalam semua firman yang terucap dari mulut Tuhan, dan mencapai kondisi yang Tuhan kehendaki darimu—gaya Petrus dan iman Ayub—sedemikian rupa sehingga engkau bisa taat sampai mati, menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan akhirnya mencapai gambar manusia yang sesuai dengan standar—yang berarti gambar seseorang yang telah ditaklukkan dan disempurnakan setelah mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan. Inilah kesaksian yang harus diberikan oleh seseorang yang pada akhirnya disempurnakan.

Dikutip dari "Penerapan (4)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Menjadi kesaksian yang menggema tentang Tuhan terutama berkaitan dengan apakah engkau paham tentang Tuhan yang praktis atau tidak, dan apakah engkau dapat taat di hadirat Pribadi ini yang bukan hanya biasa, tetapi juga normal ini, dan bahkan taat sampai mati. Jika engkau sungguh menjadi saksi bagi Tuhan melalui ketaatan ini, berarti engkau telah diterima oleh Tuhan. Mampu taat sampai mati, tidak suka mengeluh di hadirat-Nya, tidak menghakimi, tidak memfitnah, tidak memiliki gagasan sendiri, dan tidak memiliki niat lain, melalui ini, Tuhan akan memperoleh kemuliaan. Ketaatan di depan seseorang yang biasa, yang dipandang rendah oleh manusia dan mampu taat sampai mati tanpa gagasan apa pun—inilah kesaksian yang sejati. Adapun realitas yang Tuhan tuntut untuk orang masuk ialah bahwa engkau mampu menaati firman-Nya, mampu melakukan firman-Nya, mampu tunduk di hadirat Tuhan yang praktis dan mengenali kerusakanmu sendiri, mampu membuka hatimu di hadirat-Nya, dan pada akhirnya bisa didapatkan oleh-Nya melalui semua firman-Nya ini. Tuhan memperoleh kemuliaan ketika semua firman ini menaklukkan engkau dan membuat engkau sepenuhnya taat kepada-Nya; melalui firman ini, Ia mempermalukan Iblis dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ketika engkau tidak memiliki gagasan apa pun tentang kepraktisan Tuhan yang berinkarnasi, yaitu, ketika engkau tetap teguh dalam ujian ini, engkau memberikan kesaksian yang baik.

Dikutip dari "Orang yang Bisa Taat Sepenuhnya Kepada

Kepraktisan Tuhan Adalah Mereka yang Sungguh-Sungguh

Mengasihi Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Saat Tuhan datang, manusia seharusnya menikmati kemegahan-Nya dan murka-Nya, tetapi tidak peduli seberapa keras firman-Nya, Dia datang untuk menyelamatkan dan menyempurnakan umat manusia. Sebagai makhluk ciptaan, manusia seharusnya menggenapi tugas yang mereka harus lakukan, dan bersaksi untuk Tuhan di tengah pemurnian. Dalam setiap ujian, mereka harus menjunjung kesaksian yang seharusnya mereka berikan, dan memberikan kesaksian yang nyaring untuk Tuhan. Inilah sang pemenang. Tidak peduli bagaimana Tuhan memurnikanmu, engkau tetap penuh keyakinan dan tidak pernah kehilangan keyakinan dalam Tuhan. Engkau melakukan apa yang seharusnya manusia lakukan. Inilah yang diminta Tuhan dari manusia, dan hati manusia harus dapat kembali kepada-Nya secara penuh dan menghadap kepada-Nya setiap saat. Inilah seorang pemenang. Mereka yang disebut oleh Tuhan sebagai pemenang adalah mereka yang tetap mampu bersaksi, mempertahankan keyakinan, dan pengabdian mereka kepada Tuhan saat dipengaruhi dan diserang oleh Iblis, yaitu, saat berada dalam kekuatan kegelapan. Jika engkau tetap mampu menjaga kemurnian hati dan kasih tulusmu terhadap Tuhan apa pun yang terjadi, engkau memberikan kesaksian di hadapan Tuhan, dan inilah yang disebut oleh Tuhan sebagai pemenang.

Dikutip dari "Engkau Harus Mempertahankan

Pengabdianmu kepada Tuhan"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Dalam setiap tahap pekerjaan yang Tuhan lakukan di dalam diri orang, dari luar pekerjaan itu terlihat seperti interaksi antara orang-orang, seolah-olah lahir karena pengaturan manusia, atau muncul dari campur tangan manusia. Namun, di balik layar, setiap tahap pekerjaan, dan semua yang terjadi, adalah pertaruhan yang Iblis buat di hadapan Tuhan, dan orang-orang harus berdiri teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan. Misalnya, ketika Ayub diuji: Di balik layar, Iblis bertaruh dengan Tuhan, dan yang terjadi kepada Ayub adalah perbuatan manusia, dan campur tangan manusia. Di balik setiap tahap yang Tuhan lakukan di dalam dirimu, terdapat pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik semua itu ada pertempuran. Misalnya, jika engkau berprasangka terhadap saudara-saudarimu, tentu ada perkataan-perkataan yang ingin engkau ucapkan—perkataan yang engkau rasa mungkin jahat di mata Tuhan—tetapi jika engkau tidak mengatakannya, engkau merasakan ketidaknyamanan di dalam hatimu, dan pada saat itulah, pertempuran mulai terjadi dalam dirimu: "Apakah aku harus bicara atau tidak?" Inilah pertempurannya. Jadi, dalam segala sesuatu, engkau selalu menjumpai adanya pertempuran. Ketika terjadi pertempuran dalam dirimu, berkat kerja samamu dan penderitaanmu yang nyata, Tuhan bekerja dalam dirimu. Pada akhirnya, di dalam dirimu, engkau mampu mengesampingkan masalahmu itu dan tentu saja kemarahanmu pun akan padam. Itulah dampak kerja samamu dengan Tuhan. Ada harga tertentu yang harus orang bayar untuk segala upaya yang mereka lakukan. Tanpa adanya kesusahan yang nyata, mereka tidak dapat memuaskan Tuhan, mereka bahkan jauh sekali dari memuaskan Tuhan, dan mereka hanya meneriakkan slogan kosong! Dapatkah slogan-slogan kosong tersebut memuaskan Tuhan? Ketika Tuhan dan Iblis bertempur di alam rohani, bagaimanakah seharusnya engkau memuaskan Tuhan, dan bagaimanakah cara agar engkau berdiri teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya? Engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi kepadamu adalah sebuah ujian besar dan merupakan saat ketika Tuhan membutuhkan engkau untuk menjadi kesaksian. Dari luar, hal ini mungkin tidak terlihat seperti masalah besar, tetapi ketika terjadi, hal ini menunjukkan apakah engkau mengasihi Tuhan atau tidak. Jika engkau mengasihi-Nya, engkau akan mampu berdiri teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya. Jika engkau belum menerapkan kasih-Nya, ini menunjukkan bahwa engkau bukan seseorang yang melakukan kebenaran, bahwa engkau tidak memiliki kebenaran, dan tidak memiliki hidup. Engkau hanyalah sekam! Segala sesuatu yang terjadi kepada orang-orang terlaksana saat Tuhan mengharuskan mereka untuk berdiri teguh dalam kesaksian mereka bagi Dia. Belum ada kejadian besar yang terjadi kepadamu saat ini, dan engkau tidak memiliki kesaksian yang besar, tetapi setiap detail kehidupanmu sehari-hari adalah kesaksian bagi Tuhan. Jika engkau dapat membuat saudara-saudari, anggota keluarga, dan semua orang di sekitarmu kagum, jika pada suatu hari orang yang tidak beriman datang, dan mengagumi semua hal yang engkau lakukan, dan melihat bahwa semua yang Tuhan lakukan ajaib, engkau telah menjadi kesaksian. Walaupun engkau tidak memiliki pengertian dan kualitasmu rendah, melalui penyempurnaan Tuhan atas dirimu, engkau akan mampu memuaskan hati-Nya dan memperhatikan kehendak-Nya. Orang lain akan melihat pekerjaan besar apa yang dapat Ia lakukan kepada orang-orang dengan kualitas terburuk. Orang-orang dibuat menjadi mengenal Tuhan, dan menjadi penakluk Iblis dan menjadi orang yang setia kepada Tuhan sampai tingkat tertentu. Jadi, tidak ada yang lebih pemberani daripada kelompok orang ini. Ini akan menjadi kesaksian terbesar.

Dikutip dari "Hanya Mengasihi Tuhan-lah yang Berarti

Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Hari ini, engkau dapat berusaha untuk disempurnakan atau berusaha mencapai perubahan dalam sifat manusia lahiriahmu dan peningkatan kualitasmu, tetapi yang terpenting adalah engkau dapat memahami bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan saat ini memiliki arti dan bermanfaat: ini memungkinkan engkau yang tinggal di negeri kecemaran untuk melarikan diri dari kecemaran dan melepaskannya, itu memungkinkan engkau untuk mengatasi pengaruh Iblis, dan meninggalkan pengaruh gelap Iblis—dan dengan berfokus pada hal-hal ini, engkau dilindungi di negeri kecemaran ini. Pada akhirnya, kesaksian apa yang akan engkau berikan? Engkau tinggal di negeri kecemaran tetapi bisa menjadi kudus, dan tidak lagi najis dan cemar, engkau hidup di bawah wilayah kekuasaan Iblis tetapi melepaskan diri dari pengaruh Iblis, dan tidak dirasuki atau dilecehkan oleh Iblis, dan engkau hidup di tangan Yang Mahakuasa. Ini adalah kesaksian, dan bukti kemenangan dalam pertempuran melawan Iblis. Engkau dapat meninggalkan Iblis, apa yang engkau hidupi tidak menunjukkan Iblis, tetapi menunjukkan apa yang Tuhan minta agar dicapai manusia ketika Dia menciptakan manusia: kemanusiaan yang normal, rasionalitas yang normal, wawasan yang normal, tekad yang normal untuk mengasihi Tuhan, dan kesetiaan kepada Tuhan. Ini adalah kesaksian yang diberikan oleh makhluk Tuhan. Engkau berkata: "Kami hidup di negeri kecemaran, tetapi karena perlindungan Tuhan, karena kepemimpinan-Nya, dan karena Dia telah menaklukkan kami, kami telah melepaskan diri dari pengaruh Iblis. Bahwa kami bisa taat hari ini juga merupakan efek dari ditaklukkan oleh Tuhan, dan itu bukan karena kami baik, atau karena kami secara alami mengasihi Tuhan. Itu karena Tuhan memilih kami, dan menetapkan kami sejak semula, sehingga kami telah ditaklukkan hari ini, dapat menjadi kesaksian bagi-Nya, dan dapat melayani Dia; demikian juga, itu karena Dia memilih kami, dan melindungi kami, sehingga kami telah diselamatkan dan dibebaskan dari wilayah kekuasaan Iblis, dan dapat meninggalkan kecemaran dan disucikan di tengah bangsa naga merah yang sangat besar." Selain itu, apa yang engkau hidupi secara lahiriah akan menunjukkan bahwa engkau memiliki kemanusiaan yang normal, ada rasionalitas dalam apa yang engkau katakan, dan engkau hidup dalam gambar manusia normal. Ketika orang lain melihatmu, mereka seharusnya tidak berkata: "Bukankah ini gambar naga merah yang sangat besar? Perilaku saudari itu tidak pantas sebagai seorang saudari, perilaku saudara itu tidak pantas sebagai seorang saudara, dan mereka tidak menunjukkan sopan santun orang-orang kudus." Mereka seharusnya tidak berkata: "Tidak heran Tuhan berkata mereka adalah keturunan Moab, Dia benar sekali!" Jika orang melihat engkau semua dan berkata: "Meskipun Tuhan berkata engkau adalah keturunan Moab, apa yang engkau hidupi telah membuktikan bahwa engkau telah meninggalkan pengaruh Iblis; meskipun pengaruh itu masih ada di dalam dirimu, engkau dapat meninggalkannya," ini menunjukkan bahwa engkau telah benar-benar ditaklukkan. Engkau yang telah ditaklukkan dan diselamatkan akan berkata: "Memang benar bahwa kita adalah keturunan Moab, tetapi kita telah diselamatkan oleh Tuhan, dan meskipun keturunan Moab dahulunya dilupakan dan dikutuk, dan diasingkan di antara orang bukan Yahudi oleh orang Israel, hari ini Tuhan telah menyelamatkan kita. Memang benar bahwa kita adalah orang yang paling rusak dari semua orang—ini ditetapkan oleh Tuhan, ini adalah fakta, dan itu tidak dapat disangkal oleh semua orang. Tetapi hari ini kita telah lepas dari pengaruh itu. Kita membenci leluhur kita, kita bersedia untuk berpaling dari leluhur kita, untuk benar-benar meninggalkannya dan mematuhi semua ketentuan Tuhan, bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dan melaksanakan apa yang diwajibkan-Nya atas kita, dan memenuhi kehendak Tuhan. Moab mengkhianati Tuhan, dia tidak bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan dia dibenci oleh Tuhan. Tetapi kita harus peduli pada hati Tuhan, dan hari ini, karena kita memahami kehendak Tuhan, kita tidak mungkin mengkhianati Tuhan, dan harus meninggalkan nenek moyang kita!"

Dikutip dari "Kebenaran Sesungguhnya di Balik Pekerjaan Penaklukan (2)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Begitu Tuhan menjadi kehidupan di dalam diri manusia, mereka menjadi tidak sanggup meninggalkan Tuhan. Bukankah ini perbuatan Tuhan? Tidak ada kesaksian yang lebih hebat! Tuhan telah bekerja sampai titik tertentu; Dia telah memerintahkan kepada manusia agar melakukan pelayanan, dan dihajar atau mati, dan mereka tidak mundur, yang menunjukkan bahwa mereka telah ditaklukkan oleh Tuhan. Orang yang memiliki kebenaran adalah mereka, yang dalam pengalaman nyata, dapat berkukuh dalam kesaksian mereka, berteguh dalam pendapat mereka, berdiri di pihak Tuhan, pantang mundur, dan yang dapat memiliki hubungan normal dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan. Ketika banyak hal terjadi pada mereka, dapat sepenuhnya mematuhi Tuhan, dan dapat menaati Dia sampai mati. Pengamalan dan pernyataanmu dalam kehidupan nyata adalah kesaksian akan Tuhan, yaitu cara hidup manusia dan kesaksian akan Tuhan, dan inilah sesungguhnya menikmati kasih Tuhan; ketika engkau telah mengalami sampai titik ini, dampak ini seharusnya akan sudah telah tercapai.

Dikutip dari "Mereka yang Mengasihi Tuhan

akan Selamanya Hidup dalam Terang-Nya"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sebelumnya:Apakah hanya menikmati kasih karunia Tuhan dapat dianggap sebagai kesaksian iman yang sejati kepada Tuhan?

Selanjutnya:Mengapa pemerintah Komunis Tiongkok dengan sewenang-wenang menganiaya, menindas dan bertindak sangat keras terhadap Tuhan Yang Mahakuasa dan Gereja Tuhan Yang Mahakuasa?

media terkait