656 Watak Tuhan Kudus dan Tanpa Cacat
I
Seberapa marahnya pun Tuhan terhadap penduduk Niniwe, begitu mereka menyatakan puasa dan mengenakan kain kabung dan abu, hati-Nya mulai berangsur-angsur melembut dan Dia mulai mengubah pikiran-Nya. Sesaat sebelum Dia mengumumkan kepada mereka bahwa Dia 'kan menghancurkan kota mereka—sesaat sebelum mereka mengakui dosa-dosa mereka dan bertobat—Tuhan masih marah terhadap mereka. Setelah mereka melakukan serangkaian tindakan pertobatan, amarah Tuhan terhadap orang-orang Niniwe berangsur berubah menjadi belas kasihan dan toleransi kepada mereka.
II
Karena perbuatan jahat manusia, Tuhan murka dengan dahsyat; murka Tuhan itu tanpa cacat. Hati Tuhan tergerak karena pertobatan manusia, pertobatan inilah yang membuat hati-Nya berubah. Ketika Dia merasa tergerak, ketika hati-Nya berubah, dan ketika Dia menunjukkan belas kasihan dan toleransi-Nya kepada manusia, semuanya ini sama sekali tanpa cacat; semuanya bersih, murni, tak bercela, dan tak tercemar. Toleransi Tuhan hanyalah toleransi, dan belas kasihan-Nya hanyalah belas kasihan.
III
Watak-Nya menyingkapkan murka atau menunjukkan belas kasihan dan toleransi sesuai dengan berbagai perwujudan dan pertobatan manusia. Apa pun yang Dia singkapkan dan ungkapkan, semuanya itu murni dan langsung; esensi semua itu berbeda dengan esensi makhluk ciptaan mana pun. Tak ada sedikit pun cacat atau cela dalam prinsip tindakan, pemikiran, dan pikiran yang Tuhan ungkapkan, begitu juga dalam setiap keputusan yang Dia buat serta setiap tindakan yang Dia ambil.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II"