Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (5) Bagian Satu

Apa yang telah kita persekutukan pada pertemuan kita sebelumnya? (Tuhan pertama-tama bersekutu tentang kisah Xiaoxiao dan Xiaoji. Setelah itu, Engkau mempersekutukan tentang perilaku apa yang dianggap baik oleh manusia, Engkau juga berbicara tentang beberapa tuntutan yang Tuhan miliki terhadap manusia, dan ada penekanan khusus pada prinsip-prinsip kebenaran yang harus kami pahami tentang menghormati orang tua.) Sebelumnya, kita telah mempersekutukan topik yang berkaitan dengan mengejar kebenaran yang paling sesuai dengan gagasan manusia. Itu juga merupakan sebuah topik negatif, yaitu perilaku yang dianggap benar dan baik berdasarkan gagasan manusia. Kita telah memberikan beberapa contoh yang membahas topik ini dan beberapa contoh lagi tentang tuntutan yang Tuhan ajukan untuk mengatur perilaku manusia. Inilah kurang lebihnya hal-hal spesifik yang telah kita persekutukan. Tidak banyak pembahasan besar dalam persekutuan ini, tetapi kita membahas banyak detail mengenai pengetahuan, penerapan, dan pemahaman orang akan kebenaran. Hari ini, kita akan meninjau kembali semua hal ini secara singkat. Secara umum, apa yang dianggap manusia sebagai perilaku yang baik? Bukankah kita seharusnya memiliki kesimpulan atau definisi yang luas tentang hal ini? Sudahkah engkau semua membuat kesimpulan? Sudahkah engkau mempersekutukan hal ini di pertemuan? (Sudah. Setelah Tuhan bersekutu dengan kami beberapa kali, kami mampu memahami bahwa perilaku baik yang dianggap benar oleh manusia hanyalah semacam perilaku. Itu tidak merepresentasikan kebenaran, itu hanyalah cara orang untuk menyamarkan diri mereka sendiri.) Berdasarkan beberapa pernyataan yang telah dirangkum manusia mengenai perilaku lahiriah—apa sebenarnya esensi dari perilaku ini? Apakah ada kaitan antara esensi manusia dan perilaku baik lahiriah manusia? Perilaku baik lahiriah ini membuat orang tampak sangat baik dan bermartabat; mereka yang memilikinya dihormati dan dipuji oleh orang lain, mereka sangat dihormati dan memberikan kesan yang baik. Apakah kesan yang baik ini selaras dengan esensi watak rusak manusia? (Tidak.) Lalu, dari sudut pandang ini, apa sebenarnya natur perilaku baik manusia? Bukankah itu hanya tindakan dan kepura-puraan yang dangkal? (Ya, benar.) Apakah tindakan dan kepura-puraan yang dangkal ini merupakan perwujudan yang tepat dari kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Itulah sebabnya, perilaku yang orang anggap benar dan baik dalam gagasan mereka sebenarnya hanyalah tindakan dan kepura-puraan manusia yang dangkal. Itu adalah natur dari perilaku-perilaku tersebut. Semua itu bukan perwujudan hidup dalam kemanusiaan yang normal dan juga tidak memperlihatkan kemanusiaan yang normal; semua hanyalah tindakan lahiriah. Tindakan-tindakan ini menutupi watak rusak manusia, menutupi esensi natur Iblis manusia, dan menipu mata orang lain. Orang-orang menerapkan perilaku baik ini untuk mendapatkan sanjungan, penghargaan, dan penghormatan dari orang lain—perilaku semacam itu tidak dapat membantu orang untuk memperlakukan satu sama lain dengan kejujuran, atau untuk berinteraksi satu sama lain dengan ketulusan, apalagi untuk hidup dalam keserupaan dengan manusia. Perilaku baik ini bukanlah tindakan yang berasal dari kejujuran yang segenap hati, juga bukan perwujudan alami dari kemanusiaan yang normal. Semua itu sama sekali tidak merepresentasikan esensi manusia, tetapi murni penyamaran dan kepalsuan yang dilakukan manusia—semua itu adalah perhiasan manusia yang rusak. Semua hal itu menutupi esensi Iblis manusia. Itulah esensi perilaku baik manusia, itulah yang sebenarnya. Jadi, apa esensi perilaku yang Tuhan tuntut dari manusia? Dalam dua persekutuan kita yang sebelumnya, kita telah membahas beberapa pendekatan yang Tuhan tuntut sehubungan dengan perilaku orang dan beberapa pendekatan yang Dia tuntut dari orang dalam kehidupan yang mereka jalani, sehubungan dengan perilaku mereka. Apa sajakah itu? (Orang tidak boleh merokok, atau mabuk-mabukan, dan mereka tidak boleh memukul atau melecehkan orang lain secara verbal. Mereka harus menghormati orang tua mereka, dan memiliki kepatutan orang kudus. Mereka tidak boleh menyembah berhala, berzina, mencuri, menyalahgunakan barang milik orang lain, ataupun mengucapkan saksi dusta, dan sebagainya.) Apa inti dari semua tuntutan ini? Dengan kata lain, atas dasar apa Tuhan mengajukan semua tuntutan ini? Keadaan mendasar apa yang menjadi landasan semua tuntutan ini? Bukankah tuntutan ini diajukan dalam konteks dan dengan alasan bahwa manusia telah dirusak oleh Iblis dan manusia memiliki natur berdosa? Dan bukankah tuntutan ini berada dalam lingkup kemanusiaan yang normal? Bukankah itu adalah hal-hal yang mampu dilaksanakan oleh manusia normal? (Ya, benar.) Semua tuntutan ini diajukan sepenuhnya berdasarkan keadaan mendasar bahwa seseorang yang memiliki kemanusiaan yang normal mampu mencapainya. Jika demikian, apa esensi perilaku yang Tuhan tuntut dari manusia? Dapatkah kita berkata bahwa esensi perilaku yang Tuhan tuntut adalah keserupaan dengan manusia sejati yang dijalani oleh manusia normal, serta yang setidaknya harus dimiliki oleh manusia normal? Contoh-contoh yang telah kita berikan: bahwa orang harus memiliki kepatutan orang kudus, dan mengendalikan diri mereka, serta bermoral, mereka tidak boleh memukul atau melecehkan orang lain secara verbal, atau merokok, mabuk-mabukan, berzina, mencuri, atau menyembah berhala, dan mereka harus menghormati orang tua mereka, dan pada Zaman Kasih Karunia, orang-orang juga dituntut untuk bersabar, bersikap toleran, dan sebagainya—apakah tuntutan yang Tuhan ajukan ini hanya terbatas pada semacam tindakan? Tidak, Tuhan telah menetapkan standar tentang bagaimana orang harus hidup dalam kemanusiaan yang normal. Apa yang Kumaksud dengan "standar"? Yang Kumaksud adalah standar tuntutan Tuhan. Sebagai manusia, kehidupan seperti apa yang harus kaujalani agar dapat memiliki kemanusiaan yang normal? Engkau harus memenuhi tuntutan yang telah Tuhan ajukan. Kita baru menyebutkan sebagian dari tuntutan yang Tuhan ajukan terhadap manusia. Tuntutan seperti tidak memukul atau melecehkan orang lain secara verbal, tidak merokok, mabuk-mabukan, berzina, atau mencuri, dan sebagainya, adalah hal-hal yang mampu dilaksanakan oleh manusia normal. Meskipun semua hal ini lebih rendah daripada kebenaran dan tidak sesuai dengan kebenaran, semua ini adalah beberapa standar dasar untuk menilai apakah seseorang memiliki kemanusiaan atau tidak.

Apa esensi dari perilaku yang Tuhan tuntut dari manusia yang baru saja kita rangkum? Hidup dalam kemanusiaan yang normal. Jika seseorang mampu hidup atau berperilaku sesuai dengan tuntutan Tuhan, itu berarti orang ini memiliki kemanusiaan yang normal di mata Tuhan. Apa maksudnya memiliki kemanusiaan yang normal? Maksudnya, seseorang telah memiliki standar perilaku yang Tuhan tuntut, dan memenuhi standar kemanusiaan yang normal dalam hal perilaku, tindakan, dan kehidupan yang mereka jalani karena mereka bertindak dan hidup dalam kemanusiaan yang normal sesuai dengan yang Tuhan tuntut. Apakah bisa dikatakan seperti itu? (Ya.) Apakah seseorang percaya kepada Tuhan atau tidak, memiliki iman yang sejati atau tidak, jika dia mencuri, menipu, atau memanfaatkan orang lain, atau jika dia sering mengumpat, jika menyangkut reputasi, status, citra, atau kepentingan lainnya, dia masih bisa menyerang dan melukai orang lain, atau jika dia bahkan bertindak terlalu jauh sampai berani melakukan dosa perzinaan—jika masih memiliki masalah-masalah ini saat dia hidup dalam kemanusiaannya, terutama setelah dia mulai percaya kepada Tuhan, apakah kemanusiaannya normal? (Tidak.) Entah engkau sedang menilai orang tidak percaya atau orang percaya, standar perilaku yang Tuhan tetapkan ini hanyalah standar terendah dan minimum untuk menilai kemanusiaan seseorang. Ada orang-orang yang setelah menjadi orang percaya, meninggalkan diri mereka sendiri dan sedikit mengorbankan diri mereka, dan mampu membayar sedikit harga, tetapi tidak pernah memenuhi standar perilaku yang telah Tuhan atur. Jelas bahwa orang-orang semacam ini tidak hidup dalam kemanusiaan yang normal—mereka bahkan tidak hidup dalam keserupaan dengan manusia yang paling mendasar. Apa artinya ketika seseorang tidak hidup dalam kemanusiaan yang normal? Itu berarti dia tidak memiliki kemanusiaan yang normal. Karena dia bahkan tidak mampu memenuhi standar tuntutan yang Tuhan miliki untuk perilaku manusia dalam hal hidup dalam kemanusiaan, kemanusiaannya sangat buruk, dan dia hanya dapat dinilai buruk. Standar minimum untuk menilai kemanusiaan seseorang adalah dengan melihat apakah perilakunya memenuhi standar tuntutan yang telah Tuhan tetapkan atas perilaku manusia atau tidak. Lihatlah apakah setelah percaya kepada Tuhan, dia mengekang dirinya sendiri, apakah dia memiliki kepatutan orang kudus dalam apa yang dikatakan dan dilakukan, apakah dia memanfaatkan orang lain atau tidak saat berinteraksi dengan mereka, apakah dia memperlakukan anggota keluarga dan saudara-saudari mereka di gereja dengan kasih, toleransi, dan kesabaran, apakah dia memenuhi tanggung jawabnya terhadap orang tuanya dengan segenap kemampuannya, apakah dia masih menyembah berhala ketika tak ada orang yang melihat, dan sebagainya. Kita dapat menggunakan semua hal ini untuk menilai kemanusiaan seseorang. Entah orang tersebut mencintai dan mengejar kebenaran atau tidak, pertama-tama nilailah apakah mereka memiliki kemanusiaan yang normal—apakah perkataan dan perilakunya memenuhi standar perilaku yang telah Tuhan tetapkan. Jika dia tidak memenuhi standar perilaku tersebut, maka engkau dapat menilai kemanusiaan dirinya berdasarkan tingkatan yang mereka hidupi, entah itu: rata-rata, buruk, sangat buruk, atau sangat buruk sekali, dalam urutan itu—ini penilaian yang akurat. Jika seorang percaya mengutil dan mencopet ketika mereka pergi ke supermarket atau ke tempat umum, jika mereka panjang tangan, kemanusiaan seperti apakah yang mereka miliki? (Kemanusiaan yang buruk.) Ada orang-orang yang memaki dengan kata-kata kasar dan bahkan memukul orang lain ketika sesuatu membuat mereka marah. Makian mereka bukanlah penilaian yang adil atas esensi orang lain, melainkan tuduhan yang sewenang-wenang dan penuh dengan kata-kata kotor. Orang semacam itu mengatakan apa pun yang memungkinkan mereka melampiaskan kebencian mereka, tidak menahan apa pun. Beberapa orang, khususnya, mengatakan hal-hal yang buruk kepada orang tua mereka, saudara-saudari, kerabat mereka yang bukan orang percaya, dan bahkan kepada teman mereka yang bukan orang percaya, perkataan yang tidak ingin kaudengar agar tidak mengotori telingamu. Kemanusiaan seperti apa yang orang semacam ini miliki? (Kemanusiaan yang buruk.) Engkau juga bisa mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kemanusiaan. Lalu, ada juga yang matanya selalu tertuju pada uang. Ketika orang-orang ini melihat seseorang yang memiliki uang, yang makan enak dan mengenakan pakaian bagus, serta yang memiliki kehidupan yang berkecukupan, mereka selalu ingin memanfaatkan orang tersebut. Mereka selalu meminta sesuatu darinya secara tidak langsung, memakan makanannya, menggunakan barang-barangnya, atau meminjam barang darinya dan tidak mengembalikannya. Meskipun mereka tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar dari orang lain dan tindakan mereka tidak sama dengan penggelapan atau penyuapan, perilaku yang suka mencuri ini benar-benar hina dan tercela, dan hal ini memunculkan kebencian terhadap mereka. Lebih parah lagi, ada orang yang memperhatikan kecantikan lawan jenisnya. Mereka sering memandang lawan jenisnya, dan bahkan berzina, melakukan dosa percabulan. Beberapa dari orang-orang ini masih lajang, sementara yang lainnya telah berkeluarga—bahkan ada beberapa orang yang melakukan perzinaan meskipun usianya sudah sangat lanjut. Lebih parah lagi, beberapa orang berusaha merayu sesama jenis, dan berbuat tidak pantas. Ini benar-benar menjijikkan. Yang jauh lebih sulit dipercaya adalah orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi tidak percaya bahwa kebenaran lebih tinggi daripada segalanya atau bahwa firman Tuhan menyelesaikan segalanya. Orang-orang ini sering menemui peramal secara diam-diam untuk diramal, mereka membakar dupa untuk menyembah Buddha atau berhala lainnya, dan beberapa orang bahkan menggunakan boneka voodoo untuk mengutuk orang lain, atau mengadakan pemanggilan arwah, dan sejenisnya. Melakukan sihir jahat semacam ini adalah masalah yang jauh lebih serius; orang-orang seperti ini adalah pengikut tetapi bukan orang percaya, dan mereka tidak ada bedanya dengan orang tidak percaya. Apakah keadaannya ringan atau parah, begitu seseorang memiliki perwujudan ini, kita dapat berkata bahwa dia hidup dalam kemanusiaan dengan cara yang tidak normal dan ternoda, dan bahwa beberapa dari perilaku mereka bahkan keliru atau tidak masuk akal—perilaku mereka adalah perilaku yang benar-benar berdosa. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, beberapa orang berpakaian dengan sangat terbuka, mereka menganggap penting tampil seksi seperti orang tidak percaya, dan mereka mengikuti tren duniawi. Mereka sama sekali tidak menyerupai orang kudus. Beberapa orang berpakaian lebih elegan saat mereka pergi ke pertemuan, tetapi setibanya di rumah, mereka mengganti pakaian mereka dengan pakaian masa kini orang tidak percaya. Dari apa yang mereka kenakan, mereka tidak terlihat seperti orang percaya; tidak ada perbedaan antara mereka dan orang tidak percaya. Mereka cekikikan dan membuat lelucon dari segala sesuatu, mereka sangat memanjakan diri sendiri dan tidak memperlihatkan pengekangan diri. Apakah orang-orang semacam ini hidup dalam kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Mereka mengejar tren duniawi dan ingin tubuh mereka terlihat seksi, menarik perhatian orang lain, serta membuat orang menoleh ke arah mereka. Mereka menghabiskan sepanjang hari merias diri dan berdandan, berusaha menarik perhatian lawan jenis. Kehidupan yang dijalani orang-orang ini relatif buruk. Mereka bahkan tidak mampu menahan diri dalam hal cara mereka berpakaian, berbicara, berperilaku, dan mereka tidak memiliki kepatutan orang kudus. Jadi, ketika kita menilai mereka berdasarkan standar perilaku yang Tuhan tuntut, jelaslah bahwa kemanusiaan yang mereka jalani sangat buruk. Dari contoh-contoh nyata ini, kita dapat memahami bahwa tuntutan Tuhan mengenai perilaku manusia dan apa kehidupan yang mereka jalani sepenuhnya sejalan dengan tuntutan kemanusiaan yang normal—jadi, tentu saja, mereka yang memiliki kemanusiaan yang normal mampu melaksanakannya. Apa maksud pernyataan ini? Itu berarti engkau hanya memiliki keserupaan dengan manusia, menyerupai orang normal, dan memiliki tingkat kemanusiaan normal yang minimal jika kehidupan ini yang kaujalani. Dengan melihat perincian spesifik dari tuntutan Tuhan, kita dapat memahami bahwa hidup dalam kemanusiaan dengan cara seperti ini bukanlah kepalsuan atau kepura-puraan, juga bukan menipu orang lain. Sebaliknya, seperti itulah caranya kemanusiaan yang normal seharusnya diwujudkan dan kenyataan yang seharusnya dimiliki. Hanya mereka yang hidup dalam perwujudan kemanusiaan yang normal inilah yang memiliki keserupaan dengan manusia, tanpa tipu muslihat sedikit pun. Orang hanya dapat memperoleh rasa hormat dari orang lain dan hidup bermartabat dengan hidup dalam kemanusiaan yang normal seperti ini. Dan hanya dengan hidup dalam kemanusiaan yang normal seperti ini dan memiliki kepatutan orang kudus, barulah perwujudan manusia yang normal membawa kemuliaan bagi Tuhan. Sebab, semua yang kaujalani akan menjadi positif dan merupakan kenyataan dari hal-hal yang positif, serta tidak akan menjadi kepura-puraan. Engkau akan hidup dalam keserupaan dengan manusia berdasarkan tuntutan Tuhan.

Esensi perilaku baik manusia dan esensi perilaku yang Tuhan tuntut kedua-duanya telah diterangkan dengan jelas dan dapat dipahami. Oleh karena itu, bagaimana orang harus bertindak, dan bagaimana mereka harus hidup dalam kemanusiaan yang normal juga seharusnya sudah jelas, bukan? Orang-orang tidak akan terlalu ekstrem atau berbelit-belit mengenai pertanyaan tentang hidup dalam kemanusiaan yang normal. Apakah hidup dalam kemanusiaan yang normal berkaitan dengan hal-hal sepele dalam kehidupan orang yang tidak ada kaitannya dengan kemanusiaan? Ada orang-orang tak masuk akal yang tidak mampu memahami masalah ini dengan jelas. Mereka berkata, "Karena persekutuan Tuhan sangat terperinci, kita juga harus bersikap teliti dalam setiap aspek hidup kita. Misalnya, apakah ubi lebih bergizi saat dikukus atau dipanggang?" Apakah ini berkaitan dengan hidup dalam kemanusiaan yang normal? Sama sekali tidak. Apa yang harus dimakan dan cara makan adalah akal sehat yang sekarang dimiliki semua orang. Selama tidak dilarang memakan sesuatu, engkau boleh memakannya sesukamu. Jika seseorang menganggap mereka harus mencari kebenaran dalam hal-hal sepele yang masuk akal seperti itu, dan bahwa mereka harus menerapkan hal tersebut seolah-olah itu adalah kebenaran, bukankah orang itu menggelikan dan tak masuk akal? Ada beberapa orang yang sekarang sangat teliti dengan hal-hal seperti ini, yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Orang-orang ini mengira mereka sedang mengejar kebenaran, menyelidiki, dan memeriksa hal-hal sepele seolah-olah itu adalah kebenaran. Bahkan ada orang yang marah karena berdebat mengenai hal ini. Masalah macam apakah ini? Bukankah ini masalah kurangnya pemahaman rohani yang parah? Fakta bahwa beberapa orang mencari kebenaran tentang makan ubi seolah-olah itu adalah kebenaran, sungguh menggelikan dan menjengkelkan. Orang-orang semacam ini adalah orang yang tidak ada harapan karena mereka tidak memahami firman Tuhan, dan mereka tidak memahami apa yang dimaksud dengan mengejar kebenaran. Mereka tidak mampu memahami hal-hal paling sederhana yang masuk akal dalam hidup dan tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah ini—jadi, apa gunanya mereka hidup selama ini? Bagaimana orang-orang ini dapat membawa semua hal yang tidak penting seperti ini ke dalam pertemuan dan berdiskusi serta mempersekutukannya seolah-olah itu adalah topik yang di dalamnya orang dapat mencari kebenaran? Alasan utamanya adalah karena orang-orang ini memiliki pemahaman yang menyimpang dan tidak memiliki pemahaman rohani. Dalam konteks apa mereka bersikap teliti? Mengapa pemikiran dan gagasan ini muncul di dalam diri mereka? Bagaimana mereka bisa berdiskusi dan mempersekutukan cara makan ubi dalam pertemuan? Apakah karena masalah yang selama ini Kupersekutukan terlalu spesifik dan menyebabkan beberapa kesalahpahaman muncul di antara orang-orang yang suka mempersoalkan hal-hal sepele dan berdebat? Ketika masalah dan situasi ini muncul, Aku merasa berbicara kepada orang-orang ini seperti memperlakukan monyet seolah-olah mereka adalah manusia. Monyet adalah makhluk yang hidup di pegunungan dan hutan. Meskipun monyet mirip manusia dan banyak tingkah laku serta kebiasaannya yang mirip dengan manusia, dan meskipun ada masanya ketika manusia menganggap monyet sebagai nenek moyang mereka, bagaimanapun juga, monyet tetaplah monyet. Monyet harus tinggal di hutan dan pegunungan. Bukankah salah jika kita menempatkan monyet di dalam rumah untuk tinggal bersama manusia? Apakah kita seharusnya memperlakukan monyet seolah-olah itu adalah manusia? (Tidak, tidak boleh.) Jadi, engkau semua monyet ataukah manusia? Jika engkau semua adalah manusia, sebanyak apa pun Aku harus berbicara atau sekeras apa pun Aku harus bekerja, adalah sesuatu yang pantas dan bermanfaat bagi-Ku untuk mengatakan semua hal ini kepadamu. Jika engkau semua adalah monyet, apakah pantas bagi-Ku untuk memperlakukanmu seperti manusia dan menghabiskan waktu-Ku untuk membahas kebenaran dan maksud Tuhan denganmu? Apakah itu bermanfaat? (Tidak.) Kalau begitu, engkau semua manusia ataukah monyet? (Kami adalah manusia.) Kuharap demikian. Bagaimana engkau semua memandang persekutuan tentang cara makan ubi di pertemuan? Akankah engkau juga bersikap teliti dalam hal seperti ini? Sebagai contoh, beberapa orang bertanya: "Apakah aku harus mengenakan baju berwarna biru atau putih? Jika aku mengenakan pakaian berwarna putih, warna putih yang seperti apa? Jenis putih apa yang merepresentasikan kekudusan dan cocok untuk orang kudus? Jika warna biru cocok untukku, lalu warna biru yang mana? Warna biru manakah yang paling sesuai dengan tuntutan dan standar yang Tuhan miliki terhadap manusia, serta yang dapat membawa kemuliaan terbesar bagi Tuhan?" Pernahkah engkau semua bersikap teliti dengan hal ini? Adakah yang pernah memikirkan gaya rambut, atau cara berbicara dan nada suara yang bagaimana yang pantas untuk orang kudus? Pernahkah engkau semua bersikap teliti tentang hal-hal ini? Beberapa orang telah bersikap teliti dan berupaya keras untuk hal ini. Ada beberapa orang yang dulunya suka mewarnai rambut mereka menjadi pirang, mewarnainya dengan warna merah, atau warna aneh lainnya, tetapi setelah mereka mulai percaya kepada Tuhan, mereka melihat bahwa saudara-saudari lain di gereja tidak mewarnai rambut mereka, jadi mereka berhenti melakukannya. Hanya setelah beberapa tahun, barulah mereka sepenuhnya memahami bahwa warna atau gaya rambut apa pun yang orang miliki tidaklah penting. Yang penting adalah apakah seseorang hidup dalam kemanusiaan yang normal dan mencintai kebenaran. Orang-orang yang selama ini bersikap teliti dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan hidup dalam kemanusiaan yang normal, secara berangsur mulai memahami bahwa tidak ada gunanya melakukan semua hal ini karena sama sekali tidak berkaitan dengan kebenaran. Ini hanyalah beberapa masalah dalam lingkup kemanusiaan yang normal dan tidak berkaitan dengan kebenaran. Jika kemanusiaan yang kaujalani memenuhi tuntutan dan standar Tuhan, itu sudah cukup. Pernahkah engkau semua merasa agak bingung dan dibingungkan dengan masalah ini di masa lalu? (Ya, pernah.) Meskipun tidak seekstrem seperti berdebat tentang cara makan ubi saat pertemuan, engkau juga telah dibingungkan oleh beberapa hal sepele dan tidak penting dalam hidup. Ini adalah fakta. Jadi, bukankah seharusnya ada kesimpulan yang pasti tentang hal ini? Apakah engkau semua jelas tentang prinsip mana yang harus orang ikuti ketika hidup dalam kemanusiaan yang normal berdasarkan tuntutan dan standar Tuhan? Apakah engkau tahu bagaimana mencari kebenaran ketika kelak engkau menghadapi beberapa keadaan tertentu? Beberapa orang berkata, "Meskipun aku tidak terlalu ekstrem, seperti menanyakan cara makan ubi, jika masalah tertentu muncul dalam kehidupan sehari-hariku, aku tetap akan merasa bingung selama beberapa waktu." Jadi, berikan Aku sebuah contoh—masalah apa yang membuatmu merasa bingung selama beberapa waktu? Akankah engkau semua berkata bahwa wanita yang berdandan itu salah? Apakah ini sejalan dengan tuntutan Tuhan untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal? (Itu tidak salah.) Apa yang dimaksud "itu tidak salah" di sini? (Asalkan dandanannya sesuai dengan dandanan orang kudus dan tidak terlalu menor, maka itu pantas.) Asalkan dandanannya tidak menor, itu pantas. Ada beberapa orang yang bertanya, "Jika berdandan seadanya itu pantas, apakah itu berarti Engkau ingin kami berdandan?" Apakah Aku mengatakan itu? (Tidak, Engkau tidak mengatakannya.) Berdandan bukanlah masalah, itu sejalan dengan hidup dalam kemanusiaan yang normal. Prinsip yang menentukan untuk berdandan adalah asalkan dandanannya tidak terlalu menor, itu pantas. Itulah standarnya. Jadi, sampai sejauh mana wanita boleh berdandan agar dandanannya sesuai dengan hidup dalam kemanusiaan yang normal? Di manakah batasannya? Apa yang dimaksud dengan "dandanan yang menor"? Dandanan seperti apakah yang dianggap menor? Jika dibuat batasan yang jelas, orang akan tahu apa yang harus dilakukan. Bukankah ini adalah detailnya? Berikan Aku sebuah contoh yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan dandanan yang menor. (Dandanan yang menor adalah jika seseorang membedaki wajahnya hingga menjadi sangat putih, memakai lipstik hingga bibirnya menjadi sangat merah, dan membuat alis matanya menjadi sangat hitam sehingga terlihat sangat tidak wajar dan tidak nyaman untuk dipandang.) Itu membuat orang terkejut ketika mereka melihatnya, seperti melihat hantu, dan orang lain tidak dapat melihat bentuk atau wajah alami orang tersebut. Orang-orang di beberapa negara dan etnis, serta profesi tertentu, berdandan sangat menor. Sebagai contoh, bukankah dandanan yang dipakai oleh orang-orang di bar dan klub malam adalah salah satu representasi dari dandanan yang menor? Semua orang ini memakai dandanan yang menor dan itu tidak mendidik kerohanian—tujuan mereka berdandan adalah untuk menggoda orang lain. Dandanan semacam inilah yang dimaksud dengan dandanan yang menor. Lalu, dandanan seperti apakah yang sesuai dengan hidup dalam kemanusiaan yang normal? Dandanan yang biasa, seperti yang dipakai para wanita di tempat kerja, terlihat sangat bermartabat dan anggun. Asalkan dandananmu tidak keluar dari batasan ini, maka itu pantas. Di Tiongkok, tidaklah modis di kalangan generasi yang lebih tua untuk berdandan. Jika orang tua biasa yang tidak memiliki status atau kedudukan tertentu dalam masyarakat selalu mengenakan pakaian bagus dan berdandan saat keluar rumah, orang akan berkata bahwa mereka tidak berperilaku sesuai usia mereka. Namun, itu berbeda dengan di dunia Barat. Jika engkau akan bertemu seseorang atau pergi bekerja dan engkau tidak berdandan sedikit pun, orang akan berkata bahwa engkau tidak menghormati pekerjaanmu, tidak profesional, dan bersikap tidak hormat terhadap orang lain. Ini adalah semacam budaya. Tentu saja, dalam keadaan seperti ini, berdandan harus dibatasi pada tingkat di mana engkau terlihat bermartabat dan anggun, dan seperti orang terhormat bagi orang lain. Singkatnya, jika engkau berdandan, itu harus membuatmu terlihat seperti orang terhormat dan tidak membangkitkan hawa nafsu di hati orang—dandanan seperti inilah yang pantas. Itulah prinsipnya dan sesederhana itu. Beberapa orang bertanya, "Bolehkah jika aku tidak berdandan saat keluar rumah? Aku tidak terbiasa berdandan." Engkau harus mencari di dalam firman Tuhan. Apakah Tuhan berkata bahwa tidak berdandan itu salah? Tuhan tidak mengatakan ini. Rumah Tuhan tidak pernah mewajibkan orang berdandan. Jika engkau suka berdandan, Aku telah memberimu standar dan batasan ini, dan memberitahumu apa yang harus kaulakukan agar dandananmu pantas. Jika engkau tidak suka berdandan, rumah Tuhan tidak mengharuskannya. Namun, engkau harus ingat satu hal: meskipun engkau tidak diharuskan berdandan, engkau tidak boleh keluar rumah dengan penampilan yang berantakan dan tidak terawat, seperti seorang pengemis. Sebagai contoh, ketika engkau keluar untuk memberitakan Injil, jika engkau tidak membuat dirimu terlihat rapi atau mencuci mukamu sebelum meninggalkan rumah, dan hanya berpakaian seadanya, lalu berkata, "Tidak apa-apa. Asalkan kita memahami kebenaran, cara kita berpakaian tidak penting!" Apakah itu mendidik kerohanian? Sebagai seseorang yang percaya kepada Tuhan, engkau juga harus memiliki prinsip dalam hal pakaian dan penampilan. Standar minimum dari prinsip ini adalah engkau harus hidup dalam kemanusiaan yang normal, tidak melakukan apa pun yang mempermalukan Tuhan, atau mempermalukan karakter dan martabatmu sendiri. Setidaknya, engkau harus membuat orang lain menghormatimu. Meskipun engkau tidak saleh, setidaknya engkau harus mampu mengendalikan dirimu, bermartabat, dan jujur, serta memiliki kepatutan orang kudus. Jika engkau mampu memberikan kesan ini kepada orang, itu sudah cukup. Ini adalah tuntutan paling mendasar untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal.

Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, pertanyaan tentang perilaku lahiriah manusia dan hidup dalam kemanusiaan yang normal tersebut seharusnya tidak menjadi beban atau kesulitan karena ini adalah hal paling mendasar yang setidaknya harus dimiliki oleh orang yang normal. Masalah-masalah ini seharusnya mudah dipahami; ini bukan hal abstrak. Oleh karena itu, pertanyaan tentang perilaku lahiriah manusia dan hidup dalam kemanusiaan yang normal ini seharusnya tidak menjadi masalah penting yang sering dibicarakan dalam kehidupan bergereja. Sesekali membicarakannya boleh saja, tetapi jika engkau memperlakukannya sebagai topik untuk mencari kebenaran, sering membahasnya, mendiskusikannya dengan sungguh-sungguh dan serius, ini menunjukkan engkau sedikit mengabaikan tugasmu yang seharusnya. Siapakah orang yang biasanya mengabaikan tugas mereka yang seharusnya? Mengajukan pertanyaan seperti bagaimana cara makan ubi dan memperlakukan pertanyaan ini seolah-olah itu adalah topik untuk mencari kebenaran, menyelidiki, dan mempersekutukannya di pertemuan, terkadang di beberapa pertemuan, sementara para pemimpin gereja tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya—bukankah semua ini adalah perwujudan dari orang-orang yang rentan terhadap penyimpangan dan tidak memiliki pemahaman rohani? (Ya, benar.) Pertanyaan apa yang paling banyak dibahas dalam pertemuan? Yang paling banyak dibahas adalah pertanyaan yang berkaitan dengan kebenaran dan watak rusak manusia. Kebenaran dan firman Tuhan adalah topik kehidupan bergereja yang tidak berubah; masalah-masalah yang berkaitan dengan topik paling mendasar dan umum tentang perilaku lahiriah manusia dan kemanusiaan yang normal tidak boleh menjadi topik utama persekutuan dalam pertemuan dan kehidupan bergereja. Jika saudara-saudari saling menasihati, mengingatkan, dan bersekutu tentang hal ini di luar pertemuan, itu sudah cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mempersekutukan dan mendiskusikannya. Itu akan memengaruhi pertemuan normal orang, makan dan minum firman Tuhan, serta jalan masuk kehidupan mereka. Kehidupan bergereja adalah kehidupan makan dan minum firman Tuhan. Penekanannya harus pada mempersekutukan kebenaran dan menyelesaikan masalah nyata, dengan demikian, kemajuan hidup orang tidak akan terhambat. Jika engkau memiliki rasa kemanusiaan yang normal, seharusnya jelas bagimu bagaimana menerapkan semua hal ini sesuai dengan prinsip. Jika engkau selalu menanyakan tentang masalah-masalah yang sepele, hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan prinsip-prinsip kebenaran, selalu memperdebatkan hal-hal sepele, tetapi merasa bahwa engkau berpengetahuan luas dan terpelajar, bukankah masalah ini harus dianalisis? Sebagai contoh, ada orang yang sangat memperhatikan caranya berpakaian, dan selalu bertanya apakah orang percaya boleh mengenakan pakaian yang tidak biasa; ada orang yang baru saja percaya kepada Tuhan selalu bertanya apakah orang percaya boleh minum minuman keras atau tidak; ada orang yang menikmati kegiatan berbisnis dan selalu bertanya apakah orang percaya harus menghasilkan banyak uang atau tidak; dan ada orang yang selalu bertanya kapan hari Tuhan akan datang. Orang-orang ini tidak mau mencari kebenaran tentang masalah-masalah ini untuk menemukan jawaban yang benar. Meskipun tidak ada firman yang sesuai mengenai hal ini, Tuhan telah memaparkan prinsip-prinsip untuk menangani masalah ini dengan sangat jelas. Jika seseorang tidak berupaya keras membaca firman Tuhan, dia tidak akan menemukan jawabannya. Sebenarnya, semua orang tahu tujuan percaya kepada Tuhan dan apa yang dapat diperoleh darinya. Hanya saja, ada sebagian orang yang tidak mencintai kebenaran, tetapi tetap ingin mendapatkan berkat. Di situlah letak masalah mereka. Oleh karena itu, hal yang terpenting adalah apakah seseorang itu mampu menerima kebenaran atau tidak. Ada orang-orang yang tidak pernah menganggap penting makan dan minum firman Tuhan ataupun mempersekutukan kebenaran. Mereka hanya terpaku pada pertanyaan yang tidak penting dan selalu ingin mempersekutukan semua pertanyaan ini di pertemuan dan mendapatkan jawaban yang pasti, dan para pemimpin serta pekerja tidak mampu membatasi mereka. Masalah macam apa ini? Bukankah orang-orang ini sedang melalaikan tugas mereka yang sebenarnya? Jika engkau tidak menerapkan kebenaran dan selalu ingin menempuh jalan yang salah, mengapa engkau tidak mulai merenungkan, mengenal, dan menelaah dirimu sendiri? Engkau selalu menjadi penyenang orang, tidak bertanggung jawab dalam tugasmu, keras kepala, bertindak sekehendak hatimu, sewenang-wenang, dan gegabah. Mengapa engkau tidak menganggap serius masalah ini? Mengapa engkau tidak menyelidiki dan menganalisisnya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa engkau menyalahkan dan salah paham terhadap Tuhan setiap kali sesuatu menimpamu? Mengapa engkau selalu menilai dirimu sendiri dan mengeluh bahwa Tuhan dan gereja tidak adil? Bukankah ini masalah? Bukankah seharusnya engkau mempersekutukan dan menganalisis masalah-masalah ini dalam kehidupan bergereja? Ketika rumah Tuhan membagi gereja dan membersihkan orang-orang, engkau tidak pernah tunduk dan tidak pernah puas, engkau selalu memiliki gagasan dan menyebarkan kenegatifan. Bukankah ini masalah? Bukankah engkau seharusnya menyelidiki dan menganalisis persoalan ini? Engkau selalu mengejar status, bermain politik, dan mengatur statusmu. Bukankah ini masalah? Bukankah seharusnya engkau mempersekutukan dan menganalisis persoalan ini? Gereja saat ini sedang melakukan pekerjaan pembersihan, dan beberapa orang berkata, "Asalkan orang agak efektif dalam tugasnya, mereka tidak akan diberhentikan, jadi jika aku terus sedikit efektif dalam tugasku dan tidak diberhentikan, itu sudah cukup." Apa masalahnya di sini? Bukankah orang-orang ini sedang menentang secara pasif? Jika orang dapat memperlihatkan watak licik seperti ini, bukankah ini perlu dibereskan? Bukankah masalah yang berkaitan dengan watak rusak dan esensi natur manusia jauh lebih serius daripada cara makan ubi? Bukankah itu layak dibahas, dipersekutukan, dan dianalisis dalam pertemuan dan dalam kehidupan bergereja agar umat pilihan Tuhan dapat memperoleh kemampuan untuk mengenali? Bukankah ini adalah contoh yang bagus tentang jenis perilaku yang negatif? Masalah tentang watak yang rusak berkaitan langsung dengan perubahan watak manusia, dan itu berhubungan dengan keselamatan manusia. Ini bukan masalah sepele, jadi mengapa engkau semua tidak mempersekutukan dan menganalisis masalah-masalah ini dalam pertemuan? Jika engkau tidak pernah mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah penting seperti ini dalam pertemuan, dan justru terus-menerus mempersekutukan hal-hal yang sepele dan membosankan, menghabiskan seluruh pertemuan untuk mempersekutukan satu masalah sepele, tidak mampu menyelesaikan masalah substantif apa pun, serta membuang-buang waktu—bukankah engkau sedang melalaikan tugasmu yang seharusnya? Jika engkau terus bertindak dengan cara seperti ini, engkau semua akan menjadi orang-orang tidak berguna, berkualitas buruk, kacau, tidak melaksanakan tugas dengan baik, serta tidak memenuhi standar kebenaran. Engkau semua tidak mempersekutukan hal-hal yang seharusnya kaupersekutukan dalam pertemuan, dan engkau semua terus-menerus mempersekutukan hal-hal yang seharusnya tidak kaupersekutukan dalam pertemuan. Engkau selalu mempersekutukan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran dalam pertemuan, hal-hal yang merupakan pemahamanmu yang menyimpang dan masalah pribadi yang sepele, membuat semua orang menyelidikinya bersamamu, membuang-buang waktu tanpa tujuan. Hal ini bukan saja memengaruhi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, tetapi juga menunda kemajuan normal pekerjaan gereja. Bukankah ini berarti sedang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja? Perilaku seperti ini seharusnya digolongkan sebagai gangguan. Ini adalah gangguan yang disengaja dan orang yang bertindak dengan cara seperti ini seharusnya dibatasi. Ke depannya, pertemuan seharusnya hanya untuk makan dan minum firman Tuhan, mempersekutukan kebenaran, membereskan masalah yang berkaitan dengan watak yang rusak, serta menyelesaikan kesulitan dan masalah dalam tugas manusia. Masalah apa pun yang sepele dan tidak penting atau yang menyangkut masalah akal sehat sehari-hari tidak boleh dipersekutukan dalam pertemuan. Saudara-saudari dapat menyelesaikan masalah-masalah ini dengan bersekutu satu sama lain dan tidak perlu dipersekutukan dalam pertemuan.

Di gereja, selalu ada orang-orang dengan pemahaman yang menyimpang dan sedikit tidak masuk akal tentang firman Tuhan dan berfokus pada hal-hal sepele. Ketika Aku bersekutu tentang perilaku baik manusia, orang-orang ini benar-benar berupaya keras dalam perilakunya. Mereka tidak tahu mengapa kita harus mempersekutukan hal-hal ini. Katakan kepada-Ku, mengapa kita harus mempersekutukan masalah ini? Apa yang ingin kita capai dengan mempersekutukan masalah ini? Pertama-tama, mari kita berbicara tentang mengapa kita harus mempersekutukan masalah ini. Dalam konteks apa topik tentang perilaku baik manusia dan standar perilaku yang dituntut Tuhan dikemukakan? Topik ini dikemukakan dalam konteks saat kita sedang mempersekutukan topik tentang "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran". Masalah ini secara langsung berkaitan dengan bagaimana manusia harus mengejar kebenaran. Perilaku baik yang orang perlihatkan sebagai hasil dari menerapkan kebenaran yang berkaitan dan berhubungan dengan kebenaran. Sebaik apa pun suatu perilaku yang orang anggap baik, jika itu tidak berkaitan dengan orang menerapkan kebenaran, maka perilaku tersebut adalah sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Beberapa orang akan berkata, "Itu salah! Bukankah engkau berkata bahwa perilaku baik tidak memenuhi standar kebenaran? Aku tidak mengerti." Dapatkah engkau semua menjelaskan masalah ini? Dalam konteks mempersekutukan "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran", Aku telah menganalisis perilaku yang orang anggap baik menurut gagasan mereka, dan Aku mengkritik serta mengutuk mereka. Pada saat yang sama, Aku memberi tahu manusia standar apa yang telah Tuhan tetapkan mengenai perilaku manusia, dan Aku telah memberi mereka jalan yang benar yang digunakan untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal, dan dengan demikian, memungkinkan mereka memiliki standar yang digunakan untuk menilai kehidupan yang mereka jalani dalam kemanusiaan yang normal. Di atas landasan ini, efek yang pada akhirnya Kucapai adalah memberi tahu orang-orang bahwa perilaku yang mereka anggap baik berdasarkan gagasan mereka bukanlah standar kebenaran, tidak melibatkan kebenaran, dan juga tidak berkaitan dengan kebenaran. Dengan demikian, menghentikan orang secara keliru menganggap bahwa menjaga perilaku yang baik artinya mengejar kebenaran. Pada saat yang sama, aku memberi tahu orang bahwa mereka baru memenuhi standar untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal jika mereka telah memenuhi standar perilaku yang Tuhan tuntut. Karena Aku telah menjelaskan bahwa semua perilaku baik yang dianjurkan oleh manusia hanyalah kedok, kepalsuan, kepura-puraan, dan untuk pamer, dan bahwa semua itu tidak benar, dicemari oleh rencana Iblis, sekarang setelah semua hal ini disingkirkan dan dicabut dari dalam diri manusia, tidakkah mereka tahu cara menerapkannya? Mereka berpikir, "Kalau begitu, aku harus hidup berdasarkan apa? Apa standar yang sebenarnya dari perilaku yang Tuhan tuntut?" Standarnya adalah tuntutan, kriteria, dan pernyataan konkret yang Tuhan miliki tentang perilaku manusia—sesederhana itu. Asalkan manusia hidup dalam kenyataan yang Tuhan tuntut, mereka telah memenuhi standar untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal. Mereka tidak akan berdebat atau bingung tentang masalah ini. Ketika manusia memenuhi standar yang seharusnya dijalani oleh kemanusiaan yang normal, bukankah mereka telah menyelesaikan masalah nyata di jalan mengejar kebenaran? Bukankah mereka telah menyingkirkan rintangan dan penghalang untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal? Setidaknya, saat ini, perilaku lahiriah yang dipuji oleh manusia, seperti terpelajar dan santun, bersikap ramah dan mudah didekati, rendah hati dan mudah bergaul, tidak lagi menjadi tujuan pengejaran manusia. Atau lebih tepatnya, ini bukan lagi tujuan yang harus diupayakan oleh orang-orang yang mengejar kebenaran untuk diwujudkan secara lahiriah, juga bukan standar kehidupan yang harus dijalani oleh manusia normal. Itu telah diganti dengan keharusan orang untuk mengekang diri, memiliki kepatutan orang kudus, dan sebagainya. Semua tuntutan Tuhan ini adalah standar bagi manusia untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal; semua itu adalah keserupaan yang dijalani oleh kemanusiaan yang normal. Dengan demikian, apakah kondisi, tujuan, dan arah yang paling mendasar untuk mengejar kebenaran sudah ditetapkan? Hal yang paling pokok dan mendasar telah ditetapkan, yaitu bahwa tujuan hidup dalam kemanusiaan yang normal bukanlah agar orang menjadi terpelajar dan santun, lembut dan sopan, bersikap ramah dan mudah didekati, elegan dan sopan, menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi orang muda, dan sebagainya, melainkan, itu bertujuan agar mereka hidup dalam kemanusiaan yang normal seperti yang Tuhan tuntut. Tidak ada penyamaran dan tidak ada rencana Iblis dalam hal ini; sebaliknya, itu adalah perwujudan, ekspresi, dan perilaku manusia normal. Bukankah demikian? (Ya, benar.) Dari sudut pandang ini, ketika kita bersekutu tentang perilaku baik manusia yang termasuk dalam topik tentang hal-hal yang menurut gagasan manusia benar dan baik serta bersekutu tentang standar perilaku yang Tuhan tuntut—apakah hal ini berkaitan dengan mengejar kebenaran? (Ya.) Benar, semua hal ini berkaitan. Sampai tingkat tertentu, ini menentukan arah dan tujuan dasar bagi pengejaran manusia akan kebenaran. Ini berarti, setidaknya, tujuanmu untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal akan benar sebelum engkau mulai mengejar kebenaran. Tujuan ini bukanlah pendekatan buatan manusia, bukan kepura-puraan atau penyamaran, melainkan hidup dalam kemanusiaan yang normal yang Tuhan tuntut. Meskipun topik ini masih agak jauh dari mengejar kebenaran yang sebenarnya, topik ini penting bagi arah menyeluruh dari pengejaran akan kebenaran. Ini adalah standar perilaku yang paling sederhana dan mendasar yang harus dipahami manusia. Betapa pun jauhnya topik persekutuan ini dari mengejar kebenaran, dan betapa pun jauhnya dari standar kebenaran, karena topik itu berkaitan dengan tuntutan Tuhan dan standar perilaku yang telah Tuhan berikan kepada manusia, tentu saja, topik itu juga berkaitan dengan standar kebenaran sampai tingkat tertentu. Oleh karena itu, orang harus memahami masalah-masalah ini. Tuntutan yang Tuhan miliki terhadap perilaku manusia ini adalah standar yang harus dipatuhi dan tidak boleh diabaikan. Setelah memahami masalah-masalah ini, setidaknya, manusia tidak akan berusaha untuk menjadi orang yang terpelajar dan santun, lembut dan sopan, elegan dan sopan, rendah hati dan mudah bergaul, atau bersikap ramah dan mudah didekati ketika hidup dalam kemanusiaan yang normal, dan dalam perilaku lahiriah mereka—khususnya, seperti bagaimana orang-orang di Barat mengharapkan para pria untuk menunjukkan perilaku yang sopan, membukakan pintu bagi para wanita, menarikkan kursi untuknya ketika mereka akan duduk, dan memberikan prioritas kepada para wanita di tempat umum—setelah orang memiliki kemampuan untuk mengenali perilaku baik ini, mereka setidaknya tidak akan menganggap semua hal itu sebagai standar ketika mereka berjuang untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal, atau ketika mereka mengejar perilaku manusia normal. Sebaliknya, mereka akan meninggalkan semua hal ini di dalam hati dan pikiran mereka, serta tidak akan lagi dipengaruhi dan dibatasi oleh hal tersebut. Ini adalah sesuatu yang harus engkau semua lakukan. Jika ada orang yang masih berkata, "Wah, orang itu sangat tidak terpelajar dan santun," bagaimana reaksimu? Engkau akan melirik mereka, dan berkata kepada mereka, "Kau salah. Ini adalah rumah Tuhan. Apa yang kaumaksud dengan 'terpelajar dan santun'? Itu bukanlah kebenaran dan bukanlah keserupaan dengan manusia yang harus kita jalani." Beberapa orang berkata, "Pemimpin kami tidak menghormati yang lanjut usia dan tidak mengasihi orang muda. Umurku sudah lanjut, tetapi dia tidak memanggilku Tante, dia hanya memanggilku dengan nama depanku. Dia seharusnya tidak melakukan itu. Cucu-cucuku usianya lebih tua darinya! Dengan melakukan ini, bukankah dia sedang memandang rendah diriku? Dia juga tidak ramah atau tidak baik dengan orang lain. Menilai dari perilakunya, dia sepertinya tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin." Apa pendapatmu tentang pandangan ini? Menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi orang muda bukanlah kebenaran. Engkau seharusnya tidak menilai orang berdasarkan perilaku dan tindakan lahiriah mereka, tetapi berdasarkan firman Tuhan dengan kebenaran sebagai standarmu. Inilah satu-satunya prinsip untuk menilai orang. Lalu, bagaimana seharusnya kita menilai para pemimpin dan pekerja? Engkau harus melihat apakah mereka melakukan pekerjaan nyata atau tidak, apakah mereka mampu memimpin umat pilihan Tuhan untuk makan dan minum firman Tuhan dan memahami kebenaran atau tidak, apakah mereka mampu atau tidak menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah di dalam gereja dan menyelesaikan beberapa pekerjaan penting, sebagai contoh, bagaimana perkembangan pekerjaan penginjilan? Bagaimana kehidupan bergereja? Apakah umat pilihan Tuhan melaksanakan tugas mereka dengan baik? Bagaimana perkembangan berbagai tugas para ahli? Sudahkah pengikut tetapi bukan orang percaya, orang jahat, dan antikristus dikeluarkan? Ini adalah pekerjaan gereja yang sangat penting. Menilai pemimpin dan pekerja terutama dilakukan dengan melihat seberapa baiknya mereka melaksanakan pekerjaan tersebut. Jika mereka efektif di semua area ini, itu berarti mereka adalah pemimpin yang cakap. Sekalipun perilaku mereka sedikit kurang baik, itu bukan masalah besar. Hanya dengan melihat perilaku lahiriah bukanlah standar untuk menilai apakah seorang pemimpin atau pekerja layak atau tidak. Jika seseorang melihat hal ini dari sudut pandang manusia, sepertinya pemimpin itu tidak sopan karena dia tidak pernah memanggil wanita yang lebih tua dengan sebutan Bibi atau Nenek. Namun, jika dia menggunakan firman Tuhan untuk menilai dirinya, artinya pemimpin ini memuaskan, dan umat pilihan Tuhan telah memilih orang yang tepat karena dia mampu memikul setiap aspek pekerjaan gereja, dia berguna dan bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan semua umat pilihan Tuhan, dan dia melaksanakan pekerjaan penginjilan dengan baik. Semua orang harus menerima kepemimpinannya dan mendukung pekerjaannya. Jika seseorang tidak mendukung pekerjaan pemimpin ini, atau mempersulitnya, atau jika dia mencari pijakan yang dapat digunakan untuk mengkritik pemimpin ini hanya karena dia tidak memiliki perilaku lahiriah yang baik seperti menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi orang muda, ini tidak bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Ini artinya bertindak dengan cara yang tidak berprinsip terhadap pemimpin dan pekerja, dan ini adalah perwujudan dari mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja. Orang-orang semacam ini bukan orang benar; mereka sedang melakukan kejahatan. Jika engkau melihat seorang pemimpin atau pekerja yang tidak menghormati orang yang lanjut usia, dan akibatnya engkau menganggap mereka bukan orang yang baik, tidak menerima kepemimpinan mereka, dan bahkan engkau mengutuk mereka, kesalahan apa yang sedang kaulakukan? Ini adalah akibat buruk dari menilai orang dengan menggunakan standar manusia, berdasarkan pandangan budaya tradisional. Jika semua orang mampu menilai orang dan memilih pemimpin dan pekerja berdasarkan firman Tuhan dan kebenaran, hasilnya akan akurat dan sesuai dengan maksud Tuhan. Manusia akan mampu memperlakukan orang lain dengan adil, dan mempertahankan kemajuan pekerjaan gereja secara normal. Tuhan akan dipuaskan, dan manusia pun akan dipuaskan. Bukankah demikian?

Sejak Aku menganalisis apa yang disebut "perilaku baik" manusia, dan mempersekutukan standar tuntutan yang Tuhan miliki untuk perilaku manusia, sudut pandang yang manusia gunakan untuk memandang seseorang, dan standar yang mereka gunakan untuk menilai perilaku baik telah berubah; karena sudut pandang yang manusia gunakan untuk memandang seseorang berbeda, hasil penilaian orang juga berbeda. Jika manusia menggunakan firman Tuhan sebagai dasar penilaian mereka, hasilnya pasti akan benar, adil, objektif, dan untuk kepentingan semua orang. Jika sudut pandang, cara, dan dasar penilaian manusia adalah hal-hal yang manusia anggap benar dan baik, apa akibatnya? Seseorang mungkin akhirnya salah menuduh atau menghukum orang baik, atau dia mungkin disesatkan oleh orang munafik, dan tidak mampu menilai dan memperlakukan seseorang dengan adil. Karena dasarnya salah, hasil akhirnya pasti akan salah, tidak adil, dan tidak sesuai dengan maksud Tuhan. Jadi, perlukah menganalisis dan mempersekutukan esensi gagasan orang tentang perilaku baik? Apakah ini ada kaitannya dengan mengejar kebenaran? Hal itu sangat erat kaitannya! Meskipun topik ini hanya membahas tentang manusia yang hidup dalam kemanusiaan yang normal dan pendekatan serta tindakan lahiriah manusia, ketika orang memiliki standar yang benar yang Tuhan tuntut untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal, mereka akan memiliki dasar dan kriteria yang benar dan terstandar untuk menilai orang lain, memandang orang dan hal-hal, berperilaku, serta bertindak. Jadi, dalam hal ini, bukankah arah, jalan, dan tujuan pengejaran mereka akan kebenaran menjadi lebih akurat? (Ya, pasti.) Ini akan menjadi lebih akurat dan lebih terstandar. Meskipun topik-topik ini sedikit sederhana, semua ini memiliki kaitan yang paling praktis, nyata, dan paling dekat dengan cara manusia memandang orang dan hal-hal, serta dengan perilaku dan tindakan manusia—topik-topik ini sama sekali tidak kosong.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp