Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (14) Bagian Dua
Entah peristiwa yang kaulihat terjadi di sekitarmu dianggap oleh manusia sebagai peristiwa yang baik atau buruk, entah itu yang kauinginkan atau tidak, entah itu memberimu sukacita dan kebahagiaan atau kesedihan dan penderitaan, engkau harus menganggapnya sebagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang mengandung pelajaran untuk dipetik dan mengandung kebenaran untuk dicari, dan engkau harus menganggapnya sebagai hal-hal yang berasal dari Tuhan. Semua itu tidak terjadi secara kebetulan, bukan terjadi karena manusia, bukan disebabkan oleh siapa pun, dan bukan sesuatu yang mampu dikendalikan oleh siapa pun. Sebaliknya, Tuhanlah yang mengendalikan semua hal ini; Tuhan mengatur dan menata semua hal ini. Munculnya suatu peristiwa tidak bergantung pada kehendak manusia, bukan pula seolah-olah manusia dapat mengendalikan suatu peristiwa hanya karena mereka menginginkannya terjadi. Tuhan-lah yang mengendalikan dan mengatur seluruh proses kemunculan, perkembangan, dan perubahan semua orang, peristiwa, dan hal-hal hingga mencapai hasil akhirnya. Jika engkau tidak percaya, maka cobalah untuk mengalami dan mengamati segala sesuatu berdasarkan firman dan prinsip yang telah Kukatakan. Lihatlah apakah yang Kukatakan itu benar. Lihatlah apakah pernyataan, "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia", yang kauyakini itu benar atau tidak, atau apakah pernyataan, "Tuhan mengendalikan dan mengatur kemunculan dan perkembangan semua orang, peristiwa, dan hal-hal hingga mencapai hasil akhirnya" itu benar atau tidak. Lihatlah mana dari kedua pernyataan ini yang benar, mana yang sesuai dengan fakta, mana yang memungkinkan orang untuk dididik kerohaniannya dan bermanfaat bagi mereka, dan mana yang memungkinkan orang untuk mengenal Tuhan dan memiliki iman yang sejati kepada-Nya. Jika engkau mengalami segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu dengan sudut pandang dan sikap bahwa Tuhan-lah yang mengendalikan dan mengatur segalanya, maka pandangan dan sudut pandangmu tentang segala sesuatu akan sama sekali berbeda. Jika engkau tetap memandang segala sesuatu dan semua peristiwa dari sudut pandang pepatah, "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia", maka, bahasa halusnya, ketika sesuatu menimpamu, engkau akan secara alami dan tanpa sadar terjerat oleh gagasan tentang benar dan salah, engkau akan berusaha meminta pertanggungjawaban orang, dan engkau akan menganalisis penyebab berbagai peristiwa, faktor-faktor yang menyebabkan konsekuensi buruk dalam berbagai hal, dan sebagainya, bukannya mencari prinsip-prinsip kebenaran dan maksud-maksud Tuhan berdasarkan firman-Nya. Makin engkau memercayai pepatah, "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia", makin engkau akan dikuasai oleh pandangan pengikut yang bukan orang percaya. Lalu hasil akhir dari semua yang kaualami akan makin bertentangan dengan kebenaran, dan imanmu kepada Tuhan hanya akan menjadi doktrin atau slogan. Pada saat itu, engkau akan berubah sepenuhnya menjadi pengikut yang bukan orang percaya. Dengan kata lain, makin engkau memercayai pernyataan, "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia", makin terbukti bahwa engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya. Jika di hatimu engkau tidak memiliki Tuhan atau firman Tuhan tidak ada di dalam hatimu, jika engkau sama sekali tidak mengakui atau menerima firman Tuhan, kebenaran, atau hal positif apa pun, jika semua itu sama sekali tidak memiliki tempat di hatimu, maka lubuk hatimu telah sepenuhnya dikuasai oleh Iblis, telah dipenuhi dengan pemikiran dan gagasan tentang evolusi dan materialisme, yang semuanya adalah perkataan jahat dari setan dan Iblis. Engkau memercayai semua fakta yang kaulihat dengan matamu, tetapi engkau tidak percaya bahwa Dialah yang mengendalikan segala sesuatu di alam semesta, bahwa Dia yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun, benar-benar ada. Jika engkau memandang segala sesuatu dari sudut pandang "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia", maka engkau tidak ada bedanya dengan Iblis dan kaum materialis. Namun, jika engkau memandang segala sesuatu dari sudut pandang "Segala sesuatu di dunia dikendalikan dan diatur oleh Tuhan", meskipun engkau tidak akan mampu melihat beberapa hal dengan jelas, engkau akan mampu mencari jawaban tentang peristiwa spesifik yang kaulihat terjadi di sekitarmu, mencari sumber masalahnya, dan mencari esensi dan kebenaran masalahnya di dalam firman Tuhan. Engkau tidak akan menyelidiki siapa yang benar dan siapa yang salah, engkau tidak akan hanya berusaha meminta pertanggungjawaban seseorang; sebaliknya, engkau akan mampu membandingkan masalah ini dengan firman Tuhan, mencari sumber masalahnya, mengenali inti masalahnya, dan engkau akan menyelidiki di mana letak kegagalan orang, apa kekurangan mereka, watak rusak apa yang mereka perlihatkan, bagaimana mereka memberontak, dan aspek mana dari semua itu yang tidak sesuai dengan Tuhan di sepanjang keseluruhan masalah itu. Engkau akan mampu mencari tahu apa maksud dan tujuan Tuhan dalam melakukan hal-hal tersebut, apa yang ingin Dia capai dalam diri manusia, hasil seperti apa yang ingin Dia capai, manfaat apa yang Dia ingin agar orang peroleh, dan prinsip-prinsip apa yang harus orang patuhi. Ketika engkau mampu mengenali dan memandang peristiwa tertentu dari sudut pandang ini, keadaan di dalam dirimu akan berubah. Sudut pandangmu tentang segala sesuatu tanpa sadar akan dibimbing dan diarahkan oleh firman Tuhan. Engkau tanpa sadar akan mendapatkan pencerahan dan arahan dalam firman Tuhan, serta prinsip-prinsip kebenaran yang harus kaupatuhi dan terapkan ketika hal-hal semacam itu menimpamu. Jika engkau benar-benar masuk ke dalam prinsip-prinsip kebenaran ini, engkau akan memiliki iman sejati dan mengandalkan Tuhan, engkau akan berdoa dan memohon dengan tulus, engkau akan memiliki ketundukan sejati, dan engkau akan mampu melakukan penerapan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran—apakah yang menjadi hasil akhirnya? Di sepanjang seluruh peristiwa, engkau akan melihat dengan jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi, engkau akan memetik pelajaran, engkau akan mampu memahami dengan benar segala sesuatu yang menimpamu, dan engkau akan dapat melihat bahwa semua itu berasal dari pengaturan Tuhan, dan bahwa semua itu mengandung niat baik Tuhan. Dan dengan cara seperti ini, sama seperti yang sering orang katakan, engkau akan "membuat hal yang baik dari hal yang buruk", engkau secara alami akan mampu memperlakukan setiap peristiwa yang orang kecam dan benci sebagai hal yang positif, dan engkau akan dapat mengakui bahwa itu dikendalikan dan diatur oleh Tuhan, dan harus diterima bahwa hal itu adalah dari Tuhan. Engkau akan melihatnya sebagai sesuatu yang mengandung usaha Tuhan yang sungguh-sungguh, maksud-maksud-Nya, dan harapan-Nya. Dalam proses mengalami hal ini, engkau tanpa sadar akan memahami apa maksud Tuhan dalam mengatur seluruh masalah ini. Tanpa sadar, engkau akan mengerti dan memahami maksud-maksud-Nya, dan setelah itu terjadi, tanpa sadar engkau akan memahami kebenaran di dalamnya, dan engkau akan mampu mengetahui yang sebenarnya tentang semua orang dan masalah yang terlibat di dalam seluruh peristiwa. Jika, di sepanjang seluruh peristiwa, engkau memandang masalah dari sudut pandang "Segala sesuatu di dunia dikendalikan dan diatur oleh Tuhan", engkau akan memetik banyak pelajaran darinya. Engkau akan memperoleh kebenaran, iman yang sejati kepada Tuhan, dan pemahaman tentang kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu. Engkau akan memahami maksud-maksud Tuhan dan pemikiran-Nya yang sungguh-sungguh dalam hal ini. Tentu saja, engkau juga akan memperoleh pemahaman dan pengalaman tentang ungkapan, "Tuhan maha hadir", yang dahulu hanya ada dalam kesadaranmu. Jika di sepanjang seluruh peristiwa, engkau memandang masalah dari sudut pandang "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia", engkau akan mengeluh, engkau akan mengabaikan Tuhan, dan engkau akan merasa bahwa Tuhan itu sangat jauh dan samar. Kata "Tuhan", identitas Tuhan, esensi Tuhan, dan segala sesuatu tentang Tuhan akan tampak sangat jauh dan hampa. Engkau akan meyakini bahwa kemunculan, perkembangan, dan hasil dari keseluruhan peristiwa itu semuanya tergantung pada manipulasi manusia, dan bahwa faktor manusialah yang memengaruhi keseluruhan peristiwa itu. Jadi, engkau akan terus merenungkan masalah ini dengan berpikir, "Siapa yang melakukan kesalahan pada tahap ini? Siapa yang dengan ceroboh menyebabkan terjadinya kerugian pada tahap itu? Siapa yang telah mengacaukan, mengganggu, dan menghancurkan tahap ini? Aku pasti akan membuat perhitungan dengannya." Engkau akan terpaku pada orang dan masalah, selalu hidup dalam ranah benar dan salah, sembari sama sekali mengabaikan firman Tuhan, kebenaran, tanggung jawab, tugas, dan kewajiban yang seharusnya dipenuhi makhluk ciptaan, serta sudut pandang dan posisi yang seharusnya kaujunjung tinggi. Tuhan sama sekali tidak akan lagi mendapat tempat di hatimu. Di sepanjang seluruh proses peristiwa itu, tidak akan ada kaitan di antara engkau dan Tuhan, atau di antara engkau dan firman Tuhan. Dengan kata lain, ketika dihadapkan pada sebuah keadaan, engkau hanya akan terpaku pada orang dan hal-hal. Engkau tidak akan mampu menemukan satu kata pun yang sesuai dengan kebenaran, atau pernyataan kebenaran yang berasal dari Tuhan untuk dijadikan perbandingan, engkau tidak akan mampu menggunakannya sebagai dasar untuk menganalisis keadaan itu, engkau tidak akan memetik pelajaran dari keadaan tersebut atau memperoleh pemahaman, engkau tidak akan memperkuat imanmu, atau mengenal Tuhan. Engkau tidak akan melakukan semua ini. Di sepanjang seluruh peristiwa, engkau akan berpaut pada pepatah populer, "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia", yang, lebih tepatnya, merupakan sebuah penjelasan dan sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya. Sebaliknya, jika dari awal peristiwa itu, engkau mampu menerimanya dari sudut pandang makhluk ciptaan, tanpa memeriksa apakah seseorang itu benar atau salah, tanpa menganalisis orang atau sesuatu secara berlebihan, dan tanpa terpaku pada orang atau hal-hal. Jika engkau secara aktif mencari jawaban dalam firman Tuhan, secara proaktif datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan mengandalkan-Nya, dan mencari pencerahan dan bimbingan Tuhan, membiarkan Tuhan bekerja dan mengatur. Jika sikapmu adalah sikap yang takut dan tunduk kepada Tuhan, sikap yang haus akan kebenaran, dan yang aktif bekerja sama dengan Tuhan—maka itu bukanlah sudut pandang dan sikap pengikut yang bukan orang percaya, melainkan sudut pandang dan sikap yang sudah seharusnya dimiliki seorang pengikut Tuhan sejati. Dengan sudut pandang dan sikap seperti itu, tanpa sadar engkau akan mengalami apa yang belum pernah kaualami sebelumnya, yaitu kenyataan kebenaran yang tidak kaumiliki sebelumnya. Kenyataan kebenaran ini sebenarnya adalah hasil yang Tuhan ingin capai dan peroleh dalam dirimu melalui kedaulatan-Nya atas seluruh peristiwa. Jika Tuhan mencapai apa yang ingin Dia capai, Dia tidak bertindak sia-sia karena Dia telah mencapai hasil yang diinginkan-Nya dalam dirimu. Apakah efek ini? Tuhan ingin engkau mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, bahwa tidak ada hal apa pun yang terjadi secara kebetulan, atau disebabkan oleh manusia, melainkan Tuhanlah yang memegang kendali. Tuhan ingin agar engkau mengalami keberadaan-Nya yang nyata dan memahami fakta kedaulatan-Nya dan pengaturan-Nya atas nasib segala sesuatu, dan bahwa ini adalah fakta, dan bukan pernyataan kosong.
Jika, melalui pengalamanmu, engkau benar-benar menyadari fakta bahwa Tuhan mengendalikan segalanya dan bahwa Dia mengatur nasib segala sesuatu, engkau akan mampu mengatakan pernyataan seperti yang Ayub katakan: "Aku sudah mendengar tentang Engkau hanya dari kata orang saja: tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Karena itu aku membenci diriku sendiri dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu" (Ayub 42:5-6). Apakah ini pernyataan yang bagus? (Ya.) Rasanya sangat senang mendengar pernyataan ini, dan membuat-Ku terharu. Apakah engkau semua ingin mengalami betapa benarnya pernyataan ini? Apakah engkau ingin memahami bagaimana perasaan Ayub ketika dia mengucapkan perkataan ini? (Ya.) Apakah itu hanya keinginan biasa, ataukah keinginan yang kuat? (Keinginan yang kuat.) Singkatnya, engkau memang memiliki tekad dan keinginan seperti ini. Jadi, bagaimana keinginan itu bisa terpenuhi? Caranya adalah seperti yang telah Kukatakan sebelumnya. Engkau harus berdiri dari sudut pandang makhluk ciptaan, dan memperlakukan semua orang, peristiwa, dan hal-hal yang menimpamu dari sudut pandang yang mengakui bahwa Tuhan adalah Penguasa segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu dikendalikan dan diatur oleh-Nya. Engkau harus memetik pelajaran darinya, memahami maksud-maksud Tuhan dalam segala sesuatu yang Dia lakukan, dan mengenali apa yang Tuhan ingin capai dan selesaikan dalam dirimu. Dengan melakukannya, suatu hari nanti, dan tak lama lagi, engkau akan merasakan hal yang sama seperti yang Ayub rasakan ketika dia mengucapkan perkataan itu. Ketika Kudengar engkau berkata bahwa engkau benar-benar ingin merasakan bagaimana perasaan Ayub ketika dia mengucapkan perkataan itu, Aku tahu bahwa lebih dari 99 persen orang belum pernah mengalami perasaan seperti itu sebelumnya. Mengapa demikian? Karena engkau semua tidak pernah berdiri dari sudut pandang makhluk ciptaan dan mengalami fakta bahwa Sang Pencipta mengendalikan segala sesuatu dan mengatur segalanya, seperti yang Ayub alami. Semua ini karena ketidaktahuan, kebodohan, dan pemberontakan manusia, serta kekeliruan dan kerusakan yang disebabkan oleh Iblis, yang membuat orang tanpa sadar menilai dan memperlakukan segala sesuatu yang terjadi pada mereka dari sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya, dan bahkan mengenali dan memperlakukan segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka dengan menggunakan beberapa metode dan landasan teori yang biasa digunakan oleh orang tidak percaya. Kesimpulan yang akhirnya mereka capai tidak ada kaitannya dengan kebenaran, bahkan ada yang bertentangan dengan kebenaran. Hal ini menghalangi orang untuk mengalami fakta dalam jangka panjang bahwa Sang Pencipta mengatur dan mengendalikan segala sesuatu ataupun memiliki perasaan yang Ayub miliki ketika dia mengucapkan perkataan itu. Jika engkau pernah mengalami ujian yang mirip dengan ujian yang Ayub alami, ujian besar atau kecil, dan engkau pernah merasakan tangan Tuhan bekerja dan merasakan fakta kedaulatan Tuhan melalui ujian-ujian tersebut, jika engkau juga telah mengenali maksud khusus Tuhan dalam mengendalikan dan mengatur hal-hal ini, serta jalan yang harus orang ikuti, maka pada akhirnya, engkau akan dapat mengalami efek positif yang Tuhan ingin capai dalam dirimu di sepanjang seluruh peristiwa, maksud baik dan harapan Tuhan untukmu, dan sebagainya. Engkau akan mengalami semua ini. Ketika engkau mengalami semua ini, engkau tidak akan lagi hanya percaya bahwa Tuhan mampu mengungkapkan kebenaran dan membekalimu dengan kehidupan, engkau akan menyadari secara nyata bahwa Sang Pencipta memang ada, dan engkau juga akan menyadari fakta bahwa Sang Pencipta telah menciptakan dan mengendalikan segala sesuatu. Saat engkau mengalami semua hal ini, imanmu kepada Tuhan dan keyakinanmu kepada Sang Pencipta akan meningkat. Hal ini juga sekaligus akan membuatmu menyadari fakta bahwa engkau telah berinteraksi dengan Sang Pencipta secara nyata, dan ini akan secara nyata dan sepenuhnya meneguhkan keyakinanmu kepada Tuhan, kepercayaanmu kepada Tuhan, caramu dalam mengikut Tuhan, serta fakta bahwa Tuhan mengendalikan segalanya dan maha hadir. Ketika engkau menerima peneguhan dan kesadaran ini, apakah menurutmu hatimu akan dipenuhi dengan sukacita dan kebahagiaan ataukah dipenuhi dengan penderitaan dan kesedihan? (Sukacita dan kebahagiaan.) Pasti akan dipenuhi sukacita dan kebahagiaan! Sebanyak apa pun penderitaan dan kesedihan yang telah kaualami sebelumnya, itu akan lenyap seperti kepulan asap, dan hatimu akan penuh dengan sukacita, engkau akan bergembira dan melompat penuh kebahagiaan. Ketika engkau melihat bahwa fakta kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu telah benar-benar diteguhkan dan dialami dalam dirimu, ini sama dengan engkau benar-benar bertemu, berjumpa, dan berinteraksi dengan Tuhan dengan berhadapan muka. Pada saat seperti itu, engkau akan merasakan hal yang sama seperti yang Ayub rasakan. Apa yang Ayub katakan pada waktu itu? ("Aku sudah mendengar tentang Engkau hanya dari kata orang saja: tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Karena itu aku membenci diriku sendiri dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.") Di luarnya, Ayub menggunakan perilaku dan tindakan membenci dirinya sendiri dan bertobat untuk memperlihatkan kebenciannya terhadap masa lalu, tetapi sebenarnya, di lubuk hatinya, dia merasa bersukacita dan bahagia. Mengapa? Karena dia secara tak terduga telah melihat wajah Sang Pencipta, dia telah berhadapan muka dengan-Nya, dan dia telah bertemu dengan Tuhan dalam suatu peristiwa, dalam peristiwa yang biasa-biasa saja dan tidak disengaja. Katakan kepada-Ku, makhluk ciptaan mana, pengikut Tuhan mana yang tidak rindu melihat Tuhan? Ketika keadaan seperti itu terjadi, ketika hal seperti itu terjadi, siapa yang tidak senang, siapa yang tidak gembira? Siapa pun pasti gembira; mereka akan merasa gembira dan bersukacita. Itu akan menjadi sesuatu yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka, dan hal yang layak diingat. Renungkanlah, bukankah mengalami ini sangat bermanfaat? Kuharap kelak, engkau semua akan benar-benar mengalami perasaan ini, memiliki pengalaman seperti ini, dan mengalami perjumpaan semacam itu. Ketika seseorang benar-benar melihat wajah Tuhan dan benar-benar mampu mengalami perasaan yang sama seperti yang Ayub rasakan saat bertemu dengan Tuhan Yahweh, itu menjadi tonggak sejarah dalam iman mereka kepada Tuhan. Ini adalah hal yang luar biasa! Semua orang menantikan hasil dan keadaan seperti itu, dan semua orang berharap untuk mengalaminya dan memiliki perjumpaan semacam itu. Karena engkau memiliki harapan seperti itu, engkau harus memiliki sudut pandang dan sikap yang benar saat mengalami segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu, mengalami dan memahami segala sesuatu dengan cara yang Tuhan ajarkan dan perintahkan, belajar menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan, dan belajar memandang segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan, dengan kebenaran sebagai standarmu. Dengan cara seperti ini, imanmu akan bertumbuh semakin besar tanpa kausadari, dan fakta bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu dan mengendalikan segala sesuatu akan secara berangsur diteguhkan dan ditegaskan di dalam hatimu. Ketika semua ini diteguhkan di dalam dirimu, akankah engkau tetap khawatir bahwa engkau tidak akan bertumbuh dalam tingkat pertumbuhanmu? (Tidak.) Namun, adalah normal bagimu untuk merasa sedikit khawatir sekarang, karena tingkat pertumbuhanmu sangat rendah, dan ada banyak hal yang tak mampu kaupahami—tidak mungkin bagimu untuk tidak khawatir, itu adalah sesuatu yang tidak dapat kauhindari. Ini karena ada banyak hal dalam diri manusia yang berasal dari pengetahuan, dari manusia, dari Iblis, dari masyarakat, dan sebagainya. Semua hal ini sangat memengaruhi sudut pandang yang orang gunakan untuk memperlakukan Tuhan dan cara pandang serta sikap yang harus mereka miliki ketika mengalami segala sesuatu. Oleh karena itu, mampu memiliki sikap dan sudut pandang yang tepat ketika sesuatu menimpamu bukanlah tugas yang mudah. Hal ini mengharuskanmu untuk bukan saja mengalami hal-hal positif, tetapi juga hal-hal negatif. Dengan mengenali dan memahami esensi dari hal-hal negatif ini, engkau akan memetik lebih banyak pelajaran dan mulai memahami perbuatan Tuhan serta kemahakuasaan dan hikmat-Nya dalam mengendalikan segala sesuatu.
Sekarang, apakah engkau semua sepenuhnya memahami bahwa pernyataan "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia" adalah tidak benar? (Ya.) Adakah aspek yang benar dalam pernyataan ini? Adakah unsur yang benar? (Tidak ada.) Sama sekali tidak ada? (Tidak ada.) Pemahamanmu, bahwa sama sekali tidak ada yang benar dalam pernyataan ini adalah tepat. Ini adalah pemahaman teoretis. Jadi, dalam kehidupan nyata, melalui pengamatan dan pengalaman, engkau akan mendapati bahwa pernyataan "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia" adalah keliru, tidak masuk akal, dan merupakan sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya. Ketika engkau menemukan fakta ini, dan dapat menggunakan fakta untuk menunjukkan kekeliruan dalam pernyataan ini, maka engkau akan meninggalkan dan melepaskannya sepenuhnya, dan tidak akan lagi menggunakannya. Engkau belum mencapai titik ini. Meskipun engkau telah menerima apa yang Kukatakan, kelak, ketika dihadapkan dengan keadaan tertentu, engkau akan berpikir, "Pada waktu itu kupikir tidak ada yang benar tentang pernyataan 'Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia', jadi mengapa sekarang menurutku pernyataan ini agak sedikit benar ya?" Engkau mulai memiliki konflik batin dan kembali mengalami pertentangan. Jadi, apa yang harus kaulakukan? Pertama, engkau harus mengubah sudut pandangmu. Lepaskanlah semua pemikiran dan sudut pandang yang bersumber dari berpaut pada pernyataan ini. Lepaskanlah semua tindakan yang muncul dari pernyataan ini. Jangan terpaku pada orang atau masalah. Pertama-tama datanglah ke hadapan Tuhan dalam doa, lalu carilah dasar dan prinsip dalam firman Tuhan. Dalam proses pencarian, engkau tanpa sadar akan memperoleh pencerahan dan mulai memahami kebenaran. Mungkin sulit bagimu untuk mencari prinsip seorang diri, jadi kumpulkan semua orang yang terlibat dalam masalah ini dan carilah bersama-sama dasar dan prinsip-prinsip kebenaran di dalam firman Tuhan. Kemudian doa-bacakan, persekutukan firman Tuhan yang relevan, dan lakukanlah perbandingan dengan firman Tuhan. Setelah membandingkannya dengan firman Tuhan, terimalah sudut pandang yang benar, dan sudut pandang yang salah pun akan dengan sendirinya kaulepaskan. Sejak saat itu, selesaikan dan tanganilah masalah berdasarkan prinsip-prinsip ini. Bagaimana menurutmu metode ini? (Bagus.) Selama proses mencari kebenaran, yang harus kaulepaskan adalah tindakan-tindakan yang muncul dari sudut pandang "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia". Carilah firman Tuhan yang relevan dan selesaikan serta tanganilah masalah berdasarkan firman Tuhan. Dengan mencari kebenaran dan menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini, sudut pandangmu yang keliru akan diluruskan. Jika engkau menangani segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran, maka arah dan pendekatanmu dalam menangani masalah akan berubah dengan sendirinya. Akibatnya, hasil dari masalah tersebut akan berkembang ke arah yang aman. Sedangkan, jika engkau menggunakan cara pandang dan sudut pandang "Keberhasilan dan kegagalan segala sesuatu tergantung pada manusia" untuk menyelesaikan dan menangani masalah, engkau akan menyebabkan masalah tersebut berkembang ke arah yang berbahaya. Sebagai contoh, ketika antikristus menyesatkan orang-orang di gereja, jika orang tidak mencari kebenaran tetapi hanya terpaku pada orang dan masalah, mendiskusikan siapa yang benar dan siapa yang salah, dan meminta pertanggungjawaban orang, hasil akhirnya adalah engkau akan menangani beberapa orang dan menganggap masalah itu selesai. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Kau berkata bahwa masalah itu berkembang ke arah yang berbahaya, tetapi aku belum melihat hasil yang berbahaya. Antikristus telah diusir, jadi bukankah masalahnya sudah selesai? Di manakah hasil yang berbahaya ini?" Apakah semua orang memetik pelajaran dari pengalaman ini? Apakah mereka memahami kebenaran darinya? Dapatkah mereka mengenali antikristus? Apakah mereka memahami maksud-maksud Tuhan? Sudahkah mereka menyadari kedaulatan Tuhan? Tak satu pun dari efek positif ini terjadi. Sebaliknya, orang terus hidup berdasarkan falsafah Iblis, saling tidak percaya dan saling bersikap waspada, dan saling melempar tanggung jawab. Ketika dihadapkan pada suatu keadaan, mereka dengan segera melindungi diri mereka sendiri, hanya berusaha melindungi diri mereka sendiri. Mereka takut mengambil tanggung jawab dan ditangani. Mereka tidak memetik pelajaran apa pun dan mereka tidak menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan, apalagi mencari maksud-maksud Tuhan. Dapatkah orang bertumbuh dalam hidupnya dengan cara seperti ini? Pada akhirnya, orang hanya tahu apa yang boleh atau tidak boleh mereka lakukan di depan pemimpin mereka, apa yang harus dikatakan dan dilakukan untuk membuat pemimpin mereka senang, serta perkataan dan tindakan apa yang akan membuat pemimpin membenci dan tidak menyukai mereka. Akibatnya, orang-orang menjadi waspada satu sama lain, menutup diri, menyamarkan diri mereka sendiri, dan tak seorang pun membuka diri. Jika orang menutup diri, bersikap waspada, dan menyamarkan diri seperti ini, apakah itu berarti mereka telah datang ke hadapan Tuhan? Tidak. Setelah mengalami banyak hal, orang belajar menghindari keadaan, dan mereka takut berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi masalah. Pada akhirnya, mereka sama sekali menutup diri, tidak membuka diri kepada siapa pun, dan tidak ada Tuhan di hati mereka. Percaya kepada Tuhan dengan cara seperti ini sepenuhnya didasarkan pada falsafah Iblis. Sebanyak apa pun pengalaman yang mereka lalui, mereka tak mampu memetik pelajaran apa pun, tak mampu mengenal diri mereka sendiri, apalagi menyingkirkan watak rusak mereka. Mampukah mereka memahami kebenaran dan mengenal Tuhan dengan cara seperti ini? Dapatkah mereka merasakan pertobatan sejati? Tidak. Sebaliknya, mereka belajar untuk bersikap waspada terhadap orang lain, melindungi diri mereka sendiri, mengamati perkataan dan ekspresi orang lain dengan saksama, dan mengikuti pendapat mayoritas. Mereka belajar untuk menggunakan tipu muslihat dan menjadi lebih bijaksana, dan lebih mampu menangani pertengkaran dan perselisihan. Saat menghadapi masalah, mereka menghindarkan diri mereka mengambil tanggung jawab dan malah melemparkannya kepada orang lain. Mereka tidak lagi memiliki hubungan dengan Tuhan, firman-Nya, atau kebenaran. Hati mereka makin menjauh dari Tuhan. Bukankah ini perkembangan yang berbahaya? (Ya.) Bagaimana arah perkembangan yang berbahaya ini terjadi? Jika orang memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak berdasarkan firman Tuhan, dan menjadikan kebenaran sebagai prinsip mereka; jika mereka mencari firman Tuhan sebagai landasan ketika menghadapi masalah, mencari jawaban di dalam firman-Nya, mengenali sumber masalah dari firman Tuhan dan membandingkannya dengan firman Tuhan, dan menggunakan firman-Nya untuk menyelesaikan semua masalah dan kesulitan, maka firman Tuhan akan memberikan jalan ke depan sehingga mereka tidak terhalang, tersandung, atau terperangkap dalam masalah ini. Pada akhirnya mereka akan memahami prinsip-prinsip penerapan yang Tuhan tuntut dalam hal-hal semacam itu dan memiliki jalan untuk diikuti. Jika semua orang datang ke hadapan Tuhan ketika dihadapkan dengan tantangan, menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan, belajar untuk mengandalkan Tuhan, dan mencari prinsip-prinsip kebenaran sebagai dasar dalam proses pencarian, akankah orang tetap bersikap waspada satu sama lain? Apakah orang akan tetap mencari siapa yang benar dan siapa yang salah tanpa menangani sumber masalahnya? (Tidak.) Meskipun ada orang yang tidak menerapkan kebenaran dan masih mengejar hal-hal semacam itu, mereka adalah orang asing, ditolak oleh semua orang. Jika orang mampu menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan ketika mereka menghadapi sesuatu, keadaannya akan berkembang ke arah yang aman. Orang-orang pada akhirnya akan memahami dan mengetahui firman Tuhan dan memperoleh kebenaran. Yang orang terapkan adalah kebenaran, dan apa yang mereka capai adalah tujuan yang benar untuk memperoleh kebenaran dan mampu bersaksi tentang Tuhan. Iman mereka akan bertumbuh, pemahaman mereka tentang Tuhan akan bertambah, dan mereka akan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Bukankah ini arah perkembangan yang aman? (Ya.) Apa yang menyebabkan hasil seperti itu? Apakah itu karena sudut pandang dan sikap yang orang miliki dalam segala hal sudah benar dan sesuai dengan kebenaran? (Ya.) Secara sederhana dan lugas, sudut pandang dan sikap ini berarti menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan, yang tentu saja membawa ke arah perkembangan yang aman dan langkah-langkah perkembangan yang aman, dan secara alami mencapai hasil memahami kebenaran dan mengenal Tuhan. Namun, jika orang tidak menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan, melainkan memperlakukan segala sesuatu dari sudut pandang manusia dan falsafah Iblis, tetap mengandalkan falsafah Iblis untuk memandang masalah dan terpaku pada orang dan hal-hal, maka segala sesuatu yang dihasilkan akan menjadi berbahaya. Hasil akhirnya adalah tak seorang pun akan memahami kebenaran dan memperoleh manfaat. Inilah akibatnya jika orang tidak tahu cara mengalami pekerjaan Tuhan. Oleh karena itu, di beberapa gereja ada suasana yang tidak harmonis di antara orang-orang yang melaksanakan tugas. Mereka selalu saling curiga, saling bersikap waspada, saling menyalahkan, saling bersaing, dan saling berdebat. Mereka secara diam-diam bertengkar di lubuk hati mereka. Ini menegaskan satu hal: tak seorang pun dalam kelompok ini yang mencari kebenaran, tak seorang pun menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan ketika dihadapkan dengan masalah. Mereka semua adalah pengikut yang bukan orang percaya dan tidak mengejar kebenaran. Sebaliknya, di beberapa gereja, ada orang-orang yang, meskipun tingkat pertumbuhannya rendah dan tidak memahami banyak kebenaran, mampu dengan tulus menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan dalam setiap keadaan, besar atau kecil, dan kemudian melakukan penerapan dan mengalami berdasarkan firman Tuhan, dan masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan. Meskipun orang-orang yang melaksanakan tugas mereka bersama-sama ini terkadang cekcok, berdebat, dan bertengkar, ada suasana tertentu di antara mereka, suasana yang tidak ditemukan di antara orang tidak percaya. Ketika mereka berkumpul untuk melakukan apa pun, suasananya sangat harmonis, seperti keluarga atau kerabat, tanpa jurang pemisah di antara hati mereka, dan mereka bersatu dalam pekerjaan mereka. Adanya suasana yang harmonis seperti itu memperlihatkan bahwa setidaknya para pengawas atau beberapa orang kunci mencari kebenaran dan menangani hal-hal dengan cara yang benar ketika menghadapi masalah, dan telah benar-benar mencapai hasil dalam menerapkan prinsip "menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan". Ada banyak orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi karena mereka tidak mengejar kebenaran atau menganggap serius firman Tuhan, mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tanpa jalan masuk kehidupan. Apa pun yang terjadi pada mereka, mereka tidak menerima bahwa itu adalah dari Tuhan dan malah selalu mengandalkan gagasan dan imajinasi manusia untuk memandang segala sesuatu. Mereka tidak dapat mengalami pekerjaan Tuhan. Di sebuah gereja, jika ada sedikit orang yang memiliki pemahaman rohani dan yang mampu memahami bahwa banyak hal telah diatur dan ditetapkan oleh Tuhan, mereka mampu mengandalkan Tuhan, secara aktif mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, dan menangani segala sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Di gereja seperti itu, suasana pekerjaan Roh Kudus muncul. Tentu saja, orang dapat merasakan suasana harmonis yang sangat menyenangkan ini, dan pola pikir mereka tentu saja berada dalam keadaan terbaik. Secara lebih spesifik, ada saling pengertian di antara orang, dan di dalam hati mereka, ada keinginan, tujuan, dan motivasi yang sama untuk mengejar kebenaran. Karena hal ini, mereka bisa bersatu. Di gereja semacam itu, engkau dapat mengalami suasana yang sangat harmonis. Suasana ini memenuhi orang dengan kepercayaan diri dan memotivasi mereka untuk mengejar kemajuan. Mereka merasa penuh kekuatan di hati mereka dan seolah-olah mereka memiliki tenaga yang tidak ada habisnya untuk mengorbankan diri untuk Tuhan. Perasaan ini sangat menyenangkan. Siapa pun yang menghadiri pertemuan di gereja ini dapat menikmati suasana ini dan menikmati rasa percaya diri. Pada saat seperti itu mereka merasa seolah-olah sedang hidup dalam pelukan Tuhan, seolah-olah berada di hadirat-Nya setiap hari. Ini adalah pengalaman yang benar-benar berbeda. Di gereja-gereja di mana Roh Kudus tidak bekerja, kebanyakan orang bukanlah pengejar kebenaran. Mereka tidak dapat menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan ketika menghadapi masalah, dan mereka mengandalkan cara dan metode manusia untuk mengendalikan segalanya. Dalam jemaat semacam itu, perasaan di antara orang berbeda dan hubungan antara orang dan suasana yang dihasilkan juga berbeda. Engkau sama sekali tidak merasakan suasana pekerjaan Roh Kudus ataupun suasana saling mengasihi. Sebaliknya, engkau hanya bisa merasakan keadaan yang dingin. Dengan kata lain, orang bersikap dingin terhadap satu sama lain. Mereka semua bersikap waspada satu sama lain, berdebat satu sama lain, secara diam-diam bersaing satu sama lain, dan berusaha untuk mengungguli satu sama lain. Tak seorang pun tunduk kepada yang lain, dan mereka bahkan saling menindas, mengucilkan, dan menghukum. Mereka seperti orang tidak percaya di tempat kerja, di dunia bisnis, dan politik, dan membuatmu merasa jijik, benci, dan takut, membuatmu tidak memiliki rasa aman. Jika engkau mengalami perasaan seperti itu dalam kelompok orang mana pun, engkau akan melihat keakuratan pernyataan, "Manusia telah dirusak begitu dalam oleh Iblis", dan itu akan membuatmu makin mencintai pekerjaan Roh Kudus. Tanpa pekerjaan Roh Kudus, yaitu ketika manusia, Iblis, pengetahuan, atau pengikut yang bukan orang percaya memerintah, suasananya sama sekali berbeda. Itu akan membuatmu merasa tidak nyaman dan sedih, dan engkau akan segera merasa terkekang dan tertekan. Perasaan ini berasal dari Iblis dan dari manusia yang rusak, dan itu akurat. Ini mengakhiri persekutuan tentang topik ini.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.