Apa Arti Pelaksanaan Tugas yang Memadai? (Bagian Tiga)

Selanjutnya, mari kita bersekutu tentang apa saja perwujudan dari pelaksanaan tugas yang tidak memadai. Aku akan mempersekutukan satu contoh terlebih dahulu, dan engkau semua dapat menilai apakah orang ini melaksanakan tugasnya dengan memadai dan sesuai dengan tuntutan Tuhan. Ada seseorang yang dipilih menjadi pemimpin di gereja dan dijamu oleh suatu keluarga yang setengah percaya, di mana sebagian anggota keluarganya adalah orang percaya dan sebagian lainnya tidak. Namun, mereka semua mempunyai satu sifat khas, yaitu mereka sangat mahir membaca suasana hati dan menyanjung orang-orang yang berkuasa. Apa dampak yang tanpa sengaja ditimbulkan oleh sifat ini terhadap si pemimpin? (Sifat ini akan menimbulkan pencobaan.) Sifat ini menimbulkan pencobaan. Apakah ini suatu berkat atau kemalangan baginya? Masih belum diketahui apakah ini suatu berkat atau kemalangan; mari kita lanjutkan. Setelah menerima kedatangan si pemimpin, keluarga ini menghidangkan daging dan makanan enak setiap kali makan. Mengapa mereka menerima si pemimpin seperti ini? Apakah karena kasih? Akankah mereka menerima saudara-saudari seperti ini? Tentu saja tidak. Sementara si pemimpin di sana, mereka memasak daging untuknya setiap hari. Akhirnya, si pemimpin, yang senang dengan hidangannya, berkata kepada keluarga tersebut, "Seluruh keluargamu mengasihi Tuhan. Ibumu dapat memasuki kerajaan, begitu pun putramu, kau, dan istrimu. Di masa depan, seluruh keluargamu dapat memasuki kerajaan." Mendengar ini, keluarga tersebut menjadi sangat gembira dan berpikir, "Seluruh keluarga kami dapat memasuki kerajaan, bahkan orang tidak percaya di antara kami pun bisa masuk. Tampaknya tidak sia-sia kami memberinya daging; kami harus terus menyajikan daging kepadanya." Pada kenyataannya, keluarga ini tidak terlalu mengerti tentang apa yang dimaksud dengan masuk ke dalam kerajaan, tetapi mereka tahu bahwa itu adalah hal yang baik. Siapa di antara orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang tidak ingin masuk ke dalam kerajaan surga dan menerima berkat? Mereka berpikir, "Selama si pemimpin berkata bahwa kami bisa masuk ke dalam kerajaan, berarti kami bisa, bukan? Perkataan pemimpin itu sifatnya final; bagaimanapun juga, dia mewakili Tuhan!" Setelah itu, makin sering si pemimpin berkata bahwa mereka bisa masuk ke dalam kerajaan, makin mewah makanan yang mereka sajikan kepadanya. Lambat laun, si pemimpin tidak lagi ingin mengunjungi keluarga lainnya karena mereka tidak memberinya hal-hal baik ini atau tidak menyanjungnya seperti ini. Tak lama kemudian, berat badan si pemimpin makin bertambah; kepalanya juga menjadi makin gemuk, dari "kepala manusia" menjadi "kepala babi". Pada pertemuan rekan kerja, dia tampak mencolok. Tidak bertemu dengannya sebulan saja, berat badannya bertambah sangat banyak, sehingga mereka segera bertanya tentang pekerjaannya. Mereka mendapati masalah serius dan memangkasnya dengan tegas, menganalisis esensi masalahnya sebelum akhirnya mengganti pemimpin palsu ini. Penyelidikan lebih lanjut menyingkapkan lebih banyak masalah: Pemimpin palsu ini tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun dan sangat menikmati manfaat dari statusnya setiap hari. Dia menyukai orang-orang yang menyanjungnya, mempromosikan mereka, dan menekan orang-orang yang tidak memberinya hadiah. Dia bahkan menuntut agar istrinya memberinya lebih banyak ayam untuk disantapnya. Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai pelaksanaan tugas pemimpin palsu ini? Bagaimana sikapnya terhadap tugasnya? Dia sebenarnya tidak melakukan pekerjaannya; lebih tepatnya, dia pergi ke suatu tempat hanya untuk menjadi seorang pejabat. Kalau tidak, bagaimana mungkin berat badannya bisa bertambah sebanyak itu? Ada dua alasan untuk ini: Di satu sisi, dia sengaja memilih tuan rumah di mana dia bisa makan daging, tinggal di sana dan terus memanjakan diri; di sisi lain, dia jelas tidak memiliki rasa tanggung jawab saat melaksanakan tugasnya, dan dia tidak menanggung kesukaran apa pun. Jika seorang pemimpin atau pekerja memiliki rasa tanggung jawab, saat melihat beratnya beban kerja gereja dan banyaknya masalah yang harus segera diselesaikan, bukankah dia akan merasa tertekan dan khawatir? Kekhawatiran ini akan memicunya untuk bertindak; dia akan segera mulai mengatasi masalah ini, mengerahkan tenaga dan menanggung kesulitan. Secara fisik, berat badannya pasti akan turun; itu adalah hukum alam. Dalam keadaan apakah orang akan terus makan lebih banyak dan berat badannya bertambah? Hanya jika dia makan sepuas hati sepanjang hari dan tidak berfokus pada hal-hal lainnya, bebas dari beban, merasa tinggi dan angkuh, terputus dari komunitas dan tempat kerja, serta memanjakan diri dalam kenikmatan daging. Hanya dengan demikian, berat badan orang dapat terus bertambah, berubah dari "kepala manusia" menjadi "kepala babi" hanya dalam waktu sebulan. Jadi, seberapa baikkah pemimpin ini melaksanakan tugasnya? Natur perannya sebagai seorang pemimpin sudah berubah; bukan lagi tentang melaksanakan tugas tetapi tentang memanjakan diri dalam kenikmatan dan manfaat dari status. Dia bertindak seperti pejabat pemerintah. Tidak hanya melalaikan pekerjaan nyata, dia juga melakukan kesalahan. Jika orang lain tidak menyanjungnya atau memberinya makanan lezat, dia menekan mereka. Di samping itu, dia menghasut saudara-saudari untuk memangkas mereka bersamanya, yang akhirnya membangkitkan kemarahan orang banyak. Orang-orang mulai merasa muak dengan dirinya dan menjauhkan diri darinya. Mengesampingkan alasan pencopotannya, mari kita membahas apakah pelaksanaan tugasnya memadai atau tidak. Masalahnya yang paling serius adalah menikmati manfaat dari status dan tidak melakukan pekerjaan nyata. Dia tidak melayani umat pilihan Tuhan; dia bertindak kepada mereka seperti seorang pejabat dan sama sekali tidak melaksanakan tugasnya. Dalam pekerjaannya sebagai pemimpin, dia tidak menunjukkan sedikit pun kesetiaan dalam pelaksanaan tugasnya, apalagi mencurahkan hati dan tenaganya. Dia hanya memberikan hati dan tenaganya untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Dia memeras otak, memikirkan cara untuk menikmati manfaat dari statusnya, dan dia tidak mempersekutukan kebenaran kepada keluarga tuan rumah agar mereka tidak "menjilat" seperti ini. Selain itu, dia menipu mereka, mengatakan bahwa hanya dengan menjadi tuan rumah yang seperti itu, mereka akan dapat masuk ke dalam kerajaan dan mendapatkan upah. Bukankah ini melakukan kejahatan? Jika dia memperlakukan keluarga tuan rumahnya seperti ini, apa yang akan dia lakukan dalam pekerjaan gereja? Bagaimana dia akan memperlakukan umat pilihan Tuhan? Pastinya akan penuh dengan tipu muslihat dan sikap asal-asalan. Apakah orang ini benar-benar tahu apa itu tugas? Apakah dia tahu apa pekerjaan yang telah Tuhan percayakan kepadanya? Bagaimanakah anggapannya terhadap amanat ini? Dia menganggapnya sebagai modal dan dasar untuk menikmati manfaat dari statusnya, dan akibatnya, dia melakukan banyak kejahatan, mengganggu kehidupan bergereja dan merugikan jalan masuk kehidupan saudara-saudari. Pelaksanaan tugas yang seperti itu bukan hanya tidak memadai, melainkan juga sudah berubah menjadi perbuatan jahat. Jika tidak ada komponen yang memadai dalam pelaksanaan tugas, dapatkah dia diingat oleh Tuhan? (Tidak.) Jelas tidak bisa, dan ini sungguh menyedihkan. Sangat menyedihkan jika orang tidak memahami kebenaran. Apakah lebih menyedihkan jika orang memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya? (Ya.) Ini adalah Kasus Pertama, kasus "Kepala Manusia yang Berubah Menjadi Kepala Babi". Kasus ini relatif sederhana: Ini menyangkut menikmati manfaat dari status, melaksanakan tugas tanpa sedikit pun kesetiaan, dan sama sekali tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Pemimpin ini memperlakukan tugasnya yang diberikan oleh Tuhan sebagai modal untuk memanjakan diri dalam manfaat dari statusnya. Ini mudah dikenali. Ingatlah nama Kasus Pertama, supaya di kemudian hari engkau semua dapat membuat perbandingan, mengenali orang lain, dan memotivasi dirimu sendiri. Bagaimana pendapatmu mengenai kasus yang telah Kubicarakan ini? Apakah engkau membenci orang dan tindakan seperti itu? (Ya.) Jika engkau semua menerima amanat Tuhan, dapatkah engkau melakukan tindakan seperti itu? Jika engkau semua dapat lebih bernalar daripada pemimpin palsu itu dan cukup mampu mengendalikan diri, serta dapat memperjuangkan kebenaran, berarti masih ada harapan. Namun, jika engkau bisa memanjakan diri dengan makan dan minum serta menikmati manfaat dari status seperti dia, engkau akan disingkapkan dan disingkirkan; engkau akan sepenuhnya menjadi pemimpin palsu dan seseorang yang dibenci Tuhan. Sekarang engkau memiliki ketajaman akal untuk menilai dan memahami kebenaran. Sejauh mana engkau dapat mengendalikan dan menahan diri menentukan seberapa besar harapanmu untuk diselamatkan; semua itu berbanding lurus. Jika engkau tidak dapat menahan diri, dan terus bertindak sesuai dengan kesukaanmu sendiri, hidup dalam watak rusak dan memanjakan diri dalam manfaat dari status, merasa senang dan mabuk kepayang ketika orang lain menyanjungmu, tanpa merenungkan diri atau bertobat dengan sungguh-sungguh, berarti harapanmu untuk menerima keselamatan adalah nol.

Selanjutnya, mari kita membahas kasus lain. Selama menyebarkan Injil, banyak orang di gereja pergi ke berbagai tempat untuk mengabarkan Injil. Pekerjaan mengabarkan Injil adalah tugas bagi setiap orang. Terlepas dari caramu memperlakukannya atau apakah engkau menganggap tugas ini baik atau tidak, secara umum, ini adalah amanat yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Berbicara mengenai amanat Tuhan kepada manusia, ini menyangkut tanggung jawab dan juga tugas orang. Karena menyangkut tugas orang, amanat Tuhan juga menyangkut cara orang melaksanakan tugas mereka. Selama proses mengabarkan Injil, ada orang-orang yang secara khusus mencari area dan keluarga yang kaya. Ketika melihat seseorang mengendarai mobil bagus atau tinggal di rumah yang besar, mereka merasa iri dan cemburu. Jika mereka mendapatkan keluarga yang menjamu mereka dengan baik, mereka berlama-lama di sana dan memendam iri hati. Mereka berpikir bahwa karena mereka sudah berkontribusi dalam proses pengabaran Injil, mereka seharusnya menikmati kasih karunia. Lalu, seperti apa jadinya pengabaran Injil mereka? Yang mereka lakukan hanyalah memanjakan diri dalam kenikmatan daging, menukar jerih payah mereka dengan kenikmatan fisik, yang berarti menjual jerih payah mereka. Dua atau tiga tahun kemudian, mereka telah memperoleh banyak orang dengan mengabarkan Injil di sana dan bahkan mendirikan sebuah gereja, dengan demikian mereka mengumpulkan sejumlah modal. Kemudian mereka mulai terlena, dan pada saat kembali ke kampung halaman "dengan mulia", mereka tampak berseri-seri, praktis sudah menjadi orang yang trendi. Mereka membawa pulang peralatan rumah tangga serta produk-produk elektronik kelas atas, dan berdandan perlente dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penduduk setempat tidak mengenali mereka lagi, berpikir bahwa mereka pasti mendadak mendapatkan banyak uang di suatu tempat. Bukankah ada masalah di sini? Sudah bertahun-tahun mereka menjadi orang percaya, selalu melaksanakan tugas mereka jauh dari rumah. Pada awalnya, tidak ada satu pun barang berharga di rumah mereka, tetapi sekarang mereka membawa pulang semua pakaian indah dan peralatan bagus yang diberikan orang-orang; mereka berbusana modis dan berperalatan lengkap. Mereka menganggap ini sebagai kasih karunia Tuhan. Namun, dari mana sebenarnya barang-barang itu berasal? Dapat dikatakan bahwa barang-barang itu adalah hasil pertukaran dengan upaya mereka mengabarkan Injil. Ada orang-orang yang melihat mereka selama bertahun-tahun beriman kepada Tuhan dan bekerja keras dalam mengabarkan Injil, jadi orang-orang itu memberikan beberapa barang bagus kepada mereka. Apakah "memberi" ini termasuk amal? Apakah ini merupakan bentuk belas kasihan? Jika mereka memperoleh barang-barang bagus ini karena mengabarkan Injil, jika orang lain memberikannya kepada mereka karena sanjungan, pantaskah mereka menganggapnya sebagai kemurahan atau kasih karunia Tuhan? Terus terang saja, mereka memanfaatkan kesempatan mengabarkan Injil untuk mendapatkan barang-barang ini. Jika mereka selalu meratapi kemiskinan mereka di hadapan orang lain, sembari juga mengatakan bahwa mereka suka barang ini atau itu, dan kemudian orang-orang dengan enggan memberikannya kepada mereka, bukankah itu seperti minta paksa atau pemerasan? Ada pengabar Injil yang suka berkata kepada orang-orang, "Kami, para pengabar Injil, adalah utusan tuhan, yang diutus oleh tuhan. Engkau semua menerima Injil tuhan dari kami. Betapa luar biasa berkat dan keuntungan yang kaudapatkan! Mengingat betapa kayanya engkau semua dan betapa besar kasih karunia tuhan yang sudah kaunikmati, bukankah seharusnya kau menunjukkan rasa syukur? Bukankah seharusnya kau membagikan sebagian dari barang-barangmu yang berlebih atau tidak terpakai kepada kami?" Setelah dibujuk seperti itu, karena malu, sebagian orang akhirnya menyerah, dan para pengabar Injil itu berpikir bahwa tindakan mereka memang benar. Apakah orang-orang itu benar-benar memberikannya dengan sukarela? Terlepas dari apakah orang-orang itu memberikannya dengan sukarela atau tidak, apakah barang-barang ini patut diterima oleh para pengabar Injil itu? (Tidak.) Ada yang berdalih: "Mengapa aku tidak boleh menerimanya? Aku sudah bekerja keras mengabarkan Injil; bukankah menerima sedikit barang-barang ini adalah kasih karunia tuhan?" Apa yang kaulakukan ketika mengabarkan Injil? Apakah ini pekerjaanmu untuk mencari nafkah? Mengabarkan Injil bukanlah suatu transaksi; itu adalah tugasmu. Ketika engkau menuntut sesuatu dari orang, pada dasarnya engkau menuntut sesuatu dari Tuhan. Namun karena engkau tidak dapat mencapai Tuhan dan tidak berani meminta kepada-Nya, engkau berkomunikasi dengan orang-orang, dan menyesatkan mereka dengan menyampaikan banyak teori rohani. Engkau merasa telah mendapatkan kebaikan dengan memperoleh beberapa orang melalui pengabaran Injil dan engkau berhak menerima sejumlah imbalan atas upayamu. Engkau beranggapan bahwa meminta uang secara langsung tidaklah baik, jadi engkau meminta barang, percaya bahwa dengan cara ini, upayamu tidak akan sia-sia. Apakah dengan cara ini engkau melaksanakan tugasmu? (Tidak.) Natur tindakanmu sudah berubah. Engkau telah mengubah pengabaran Injil menjadi apa? Engkau sudah mengomersialkan Injil Tuhan, menukarkannya dengan materi. Perilaku macam apakah ini? (Oportunisme.) Ini adalah oportunisme? Apakah menyebutnya oportunisme menurunkan tingkat keparahannya? Bukankah itu sebenarnya berbuat jahat, bukankah itu adalah perbuatan jahat? (Ya.) Mengapa itu dianggap perbuatan jahat? Mengabarkan Injil adalah melaksanakan tugas dan memberikan kesaksian bagi Tuhan; ketika memberikan kesaksian bagi Tuhan, engkau sekaligus menghantarkan Injil kepada seseorang dan Tuhan memperoleh orang tersebut, dan dengan demikian engkau telah menyelesaikan misimu. Apa pun yang sepatutnya kauterima karena sudah menyelesaikan misimu, Tuhan akan memberikannya kepadamu; engkau tidak perlu meminta kepada siapa pun, dan tidak seorang pun mempunyai alasan untuk menukarkan amal dengan Injil ini. Injil Tuhan tak ternilai harganya, tak dapat dibeli dengan uang sebanyak apa pun, juga tak dapat ditukarkan dengan apa pun. Ketika engkau menggunakan pengabaran Injil sebagai kesempatan untuk memperoleh keuntungan materiel, engkau kehilangan kesaksianmu; pendekatan ini menghujat Tuhan dan merupakan tanda penghinaan terhadap-Nya. Selain itu, apa natur dari membuat orang-orang berterima kasih kepadamu setelah engkau mengabarkan Injil kepada mereka? Naturnya adalah mencuri kemuliaan Tuhan! Injil dan pekerjaan Tuhan bukanlah komoditas. Tuhan menganugerahkan Injil-Nya kepada manusia dengan cuma-cuma, gratis, dan tidak melibatkan transaksi apa pun. Namun, orang menjadikan Injil Tuhan sebagai komoditas untuk dijual kepada orang lain, dengan menuntut uang dan materi dari mereka. Ini tidak memberikan kesaksian dan mengaibkan nama Tuhan. Bukankah ini perbuatan jahat? (Ya.) Sungguh perbuatan jahat. Apakah ini pelaksanaan tugas yang memadai? (Bukan.) Apakah naturnya lebih parah daripada kasus yang baru saja kita bahas, "Kepala Manusia yang Berubah Menjadi Kepala Babi"? (Ya.) Bagian manakah yang parah? (Mengaibkan Tuhan.) Ini mengaibkan Tuhan, menghujat Tuhan, dan mencuri kemuliaan Tuhan. Mengambil Injil Tuhan dan menjualnya kepada orang-orang, memperdagangkannya kepada mereka seolah-olah Injil Tuhan adalah suatu komoditas, dan kemudian menarik keuntungan secara berlebihan serta mencari keuntungan pribadi darinya. Makhluk macam apa yang akan melakukan hal seperti ini? Mereka adalah bandit dan orang jahat, yang berperilaku seperti Iblis! Jelas-jelas Tuhan-lah yang menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu, serta umat manusia, tetapi Iblis dan roh-roh jahat menyesatkan orang-orang dengan mengatakan bahwa merekalah yang menciptakan manusia, langit, dan bumi, membuat orang-orang menyembah mereka sebagai Tuhan dan Sang Pencipta. Bukankah ini mencuri kemuliaan Tuhan? Ini adalah dosa, ini adalah perbuatan jahat, ini melawan Tuhan. Apakah perilaku manusia yang menjual Injil sama dengan perilaku Iblis? (Ya.) Apa tujuan mereka menjual Injil? Untuk membuat orang-orang menganggap mereka sebagai utusan Injil, seolah-olah Injil berasal dari mereka dan mereka mempunyai kuasa untuk mengambil keputusan. Bukankah ini mencuri kemuliaan Tuhan? (Ya.) Dosa macam apa yang telah dilakukan dengan mencuri kemuliaan Tuhan? Apa naturnya? Ini adalah perbuatan jahat melawan Tuhan; ini adalah perilaku yang menghujat Tuhan. Apakah mengabarkan Injil dengan cara ini masih dianggap sebagai melaksanakan tugas? Ini sepenuhnya berbuat jahat; ini melawan Tuhan. Mengabarkan Injil seperti ini tidak memberikan kesaksian bagi Tuhan sama sekali, jadi ini bukanlah pelaksanaan tugas; ini murni berbuat jahat. Ada orang-orang yang berkata: "Mengabarkan Injil adalah pekerjaan yang berat, jadi adil jika mereka mendapatkan barang-barang bagus. Apa masalahnya? Ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang salah di kalangan orang-orang tidak percaya." Apakah pernyataan ini benar? Itu tergantung pada apa niatmu, apa yang kaudambakan, dan apa naturnya. Jika engkau melakukannya demi keuntungan pribadi, yang kaujual adalah Injil Tuhan serta kebenaran, dan yang pada akhirnya kaudapatkan adalah keuntungan pribadi. Itu benar-benar perbuatan jahat. Apakah berlebihan jika mengelompokkannya sebagai perbuatan jahat? (Tidak.) Itu tidak berlebihan sedikit pun. Ketika seseorang sudah menerima tugas dan melaksanakannya, tetapi kemudian konsekuensi seperti itu muncul, siapa yang harus disalahkan? (Orang itu sendiri.) Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Lalu bagaimana konsekuensi ini muncul? Ini berhubungan langsung dengan natur jahat orang. Ada orang-orang yang tidak mengejar kebenaran, tetapi mereka punya rasa malu, karakter, dan hati nurani, sehingga mereka tidak akan melakukan hal seperti itu. Jika seseorang benar-benar bertindak demikian, itu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak memiliki kemanusiaan; dia serakah dan memiliki watak yang kejam. Ini bukan hanya membuatnya gagal melaksanakan tugasnya secara memadai, melainkan juga benar-benar mengubah tindakannya menjadi perbuatan jahat. Ada orang-orang yang berkata: "Bagaimana ini dapat dikelompokkan sebagai perbuatan jahat? Mereka telah berhasil memperoleh banyak orang dengan mengabarkan Injil; kenyataan bahwa mereka sudah mendapatkan hasil yang jelas seharusnya menghapus pemikiran bahwa mereka melakukan kejahatan, bukan?" Apakah pernyataan ini benar? (Tidak.) Mengapa tidak benar? Mengabarkan Injil adalah tugas mereka, tanggung jawab mereka. Apa niat dan tujuan di balik tugas mereka? Prinsip-prinsip apa yang membimbing mereka dalam melaksanakan tugas? Apakah mereka bertanggung jawab dalam bertindak? Berdasarkan faktor-faktor ini, kita dapat menentukan apakah orang itu melaksanakan tugasnya atau melakukan kejahatan. Meski mereka sudah melaksanakan tugas, titik awal pelaksanaannya salah; mereka tidak bertindak sesuai dengan prinsip dan sudah melakukan banyak perbuatan jahat. Tidak ada sedikit pun perwujudan dari penerapan kebenaran. Apa esensi dari pengabaran Injil seperti ini? (Menjual Injil.) Sebaiknya disebut apakah kasus ini? Kasus "Menjual Injil". Dengan mendengar namanya saja, engkau tahu bahwa natur dari masalah ini sangat serius. Bagaimana orang bisa menjual Injil Tuhan? Natur dari masalah menjual Injil ini sangat serius. Jadi, setiap kali menjual Injil disinggung, tidakkah seharusnya orang tahu apa masalahnya, bagaimana keadaan, perilaku, dan metodenya? Ini adalah Kasus Kedua, dan naturnya lebih serius dibandingkan kasus sebelumnya.

Kasus berikut juga merupakan salah satu kasus yang terjadi selama proses pengabaran Injil. Di masa lalu, rumah Tuhan telah menetapkan prinsip dan metode pengabaran Injil, termasuk metode yang menyangkut belas kasihan dan menjalin pertemanan. Ini memungkinkan sebagian orang menemukan celah untuk dimanfaatkan. Orang-orang seperti apa yang memanfaatkan celah ini? Orang-orang dengan natur jahat yang tidak mencintai kebenaran. Dalam proses pengabaran Injil, memang ada orang-orang jahat yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menemukan pasangan dan terlibat dalam hubungan yang romantis dan intim. Ketika hal seperti ini terjadi, mereka menganggap bahwa ada alasan di baliknya, padahal sesungguhnya individu-individu jahat dari Iblis inilah yang sedang memanfaatkan celah. Mereka menggunakan kesempatan mengabarkan Injil untuk berhubungan dengan lawan jenis; ketika menemukan orang yang cocok atau mereka sukai, orang-orang ini melakukan segala daya upaya agar mendapat kesempatan untuk berinteraksi dan memikatnya. Dari luar, mereka tampak mengabarkan Injil demi memperoleh orang, padahal kenyataannya, mereka melakukan itu demi memuaskan nafsu pribadi. Mereka melakukan semua ini dengan kedok mengabarkan Injil, memperluas pekerjaan Tuhan, memberikan kesaksian bagi Tuhan, membaktikan diri kepada Tuhan, dan juga melaksanakan tugas mereka. Tidak seorang pun melakukannya secara tidak sengaja; sebenarnya, mereka sadar sepenuhnya tetapi tetap berpura-pura bingung. Ketika melakukan hal-hal ini, setiap orang tahu di dalam hatinya bahwa ini adalah dosa, dibenci Tuhan, dan tidak diizinkan Tuhan, tetapi mereka tidak dapat mengendalikan nafsu kedagingan mereka, dan mereka berusaha keras mencari alasan dan pembenaran diri atas dosa yang mereka lakukan. Dapatkah ini menutupi masalah mereka sendiri? Jika engkau melakukan dosa seperti itu sekali atau dua kali dan kemudian bertobat, Tuhan mungkin masih mengampunimu, tetapi jika engkau terus menolak untuk berubah, engkau dalam bahaya. Ada orang-orang yang mungkin merasa agak gelisah setiap kali melakukan dosa seperti itu, mereka bertanya-tanya, "Dapatkah aku diselamatkan jika bertindak seperti ini?" Namun kemudian mereka berpikir, "Ini bukanlah kejahatan besar; paling-paling ini hanyalah perwujudan dari kerusakan. Aku tidak akan melakukannya lagi; itu tidak akan mempengaruhi kesudahan dan tempat tujuanku." Apakah bersikap seperti ini saat melakukan pelanggaran merupakan bentuk pertobatan sejati? Jika bahkan tidak ada penyesalan di hati mereka, bukankah mereka akan terus mengulanginya? Menurut-Ku itu sangat berisiko. Dapatkah orang seperti itu melaksanakan tugas secara memadai? Dalam pelaksanaan tugas mereka, masih ada unsur-unsur "pekerjaan untuk pribadi"; mereka mencampuradukkan "pekerjaan untuk orang banyak dan pribadi", yang merupakan ketidakmurnian yang luar biasa! Ini pasti menyinggung watak Tuhan. Orang-orang ini tidak dapat dianggap "memadai" dalam melaksanakan tugas mereka; ini lebih serius daripada meminta barang atau menjual Injil. Mengapa ini lebih serius? Ini menjijikkan; ini adalah transaksi daging dan nafsu. Jadi, apa natur dari masalah ini? Dengan sengaja berbuat dosa meski mengetahui jalan yang benar. Kata "dengan sengaja" mengubah natur masalahnya. Sebenarnya, mereka tahu bahwa aturan dan prinsip dalam pengaturan kerja dirancang agar orang menerapkan kebijaksanaan dan mencegah Iblis mengendalikan mereka. Tujuannya adalah membawa orang-orang ke hadirat Tuhan, tetapi mereka memanfaatkan celah dan kesempatan untuk melampiaskan nafsu jahat mereka dengan bebas; ini disebut berbuat dosa dengan sengaja. Apa yang dikatakan Alkitab mengenai hal ini? ("Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu" (Ibrani 10:26).) Bahkan jika salib korban penghapus dosa tidak ada lagi, apakah orang-orang ini masih mempunyai kesempatan untuk diselamatkan? Itu tergantung pada situasinya. Ada orang-orang yang bertindak karena keharusan, atau mencela diri sendiri di dalam hati, tetapi mereka terpaksa bertindak demikian karena keadaan pada saat itu. Jika mereka tidak terlalu sering bertindak demikian, tidak lebih dari tiga kali, mereka dapat dimaafkan. Apa artinya mereka dapat dimaafkan? Artinya, pada pelanggaran pertama, jika mereka dapat menyadarinya, mencari kebenaran, menunjukkan tanda-tanda penyesalan, dan berbalik tanpa melakukan pelanggaran lagi, sementara meminta untuk melaksanakan tugasnya, mereka dapat diberi kesempatan untuk menebus dosa mereka. Masih ada harapan untuk keselamatan dalam kasus-kasus seperti itu, tetapi seberapa besar harapan itu tergantung pada pengejaran individu. Tidak seorang pun dapat memberikan penilaian yang pasti untukmu, tidak seorang pun dapat memberimu jaminan; itu terutama tergantung pada pengejaranmu sendiri. Aku tidak akan menjanjikan apa pun kepadamu, dengan mengatakan bahwa selama engkau tidak melakukan dosa ini lagi, engkau pasti akan diselamatkan; Aku tidak akan menjanjikan itu karena Aku tidak tahu seperti apa pelaksanaan tugasmu di masa mendatang. Jika engkau melampaui jumlah pengampunan yang mungkin diberikan, engkau berulang kali menolak untuk berubah, dan engkau tidak melakukan perbuatan baik selama mengabarkan Injil yang dapat mengimbangi perbuatan jahatmu, engkau benar-benar sudah tamat. Engkau sudah melakukan begitu banyak kejahatan tanpa sedikit pun berbuat baik; engkau mengabarkan Injil hanya untuk terlibat secara sembrono dalam hubungan yang intim, tidak melaksanakan tugasmu dengan baik. Ini tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan tugasmu. Ini bukan lagi masalah ada atau tidaknya korban penghapus dosa. Seharusnya dikelompokkan sebagai apakah orang-orang semacam itu? Mereka harus dikelompokkan sebagai setan kotor dan roh jahat. Mereka bukanlah manusia normal. Mereka tidak hanya berbuat dosa; mereka tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan tugas mereka. Apakah masih ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan? Tidak, tidak ada. Orang-orang seperti itu sudah diusir dari rumah Tuhan; mereka telah disingkirkan, dan Tuhan tidak akan menyelamatkan mereka. Apa yang mereka lakukan dan cara mereka berperilaku bukan hanya tidak berhubungan dengan tugas mereka; itu bahkan tidak dapat dianggap sebagai masalah pelaksanaan tugas yang memadai. Hasil akhir dan kesudahan bagi orang-orang seperti itu akan ditentukan berdasarkan pengelompokan mereka. Bukankah kasus ini cukup menjijikkan? Naturnya bahkan lebih parah dibandingkan kasus kedua yang baru saja kita bahas. Di antara orang-orang seperti itu, ada beberapa orang yang natur kasusnya lebih parah. Dapatkah mereka berbalik? Dapatkah mereka memiliki hati yang bertobat, berhenti melakukan hal seperti itu, dan tetap berjerih payah dengan mengabarkan Injil di rumah Tuhan? Apakah ada orang seperti ini? (Tidak.) Dapatkah mereka berjerih payah dengan sukarela? (Tidak.) Sebenarnya, beberapa dari mereka telah memperoleh beberapa orang selama mengabarkan Injil. Namun sekarang, seperti apakah semua pekerjaan yang sudah mereka lakukan ini? Itu sama seperti berjerih payah, bukan melaksanakan tugas. Sebenarnya, orang-orang ini bukannya tidak berupaya, melainkan jalan yang mereka tempuh sudah menentukan nasib dan kesudahan mereka. Di antara mereka yang juga mengabarkan Injil, apakah masing-masing dari mereka akan menghadapi pencobaan seperti itu? Dapat dikatakan bahwa setiap orang akan menghadapi pencobaan seperti itu pada tingkat yang berbeda-beda dalam situasi yang berbeda-beda, tetapi apakah itu berarti bahwa masing-masing dari mereka akan terjerumus ke dalam pencobaan dan berbuat dosa? (Tidak.) Tidak semua orang dapat berbuat dosa, tidak semua orang dapat melakukan hal seperti itu. Terkutuklah mereka yang melakukan hal semacam ini, dan dengan demikian mereka disingkapkan. Ini menunjukkan bahwa ada yang salah dengan watak dan kemanusiaan mereka. Siapa yang dapat mereka salahkan karena mendapatkan kesudahan yang seperti itu? (Diri mereka sendiri.) Mereka hanya bisa menyalahkan diri mereka sendiri, tidak ada yang lain.

Selama mengabarkan Injil, ada orang-orang yang, apa pun pelanggaran yang mereka lakukan, tidak pernah mencari kebenaran untuk mengatasinya, tidak berdoa kepada Tuhan, dan tidak pernah merenungkan diri, yang menunjukkan bahwa mereka bersikukuh tidak mau bertobat. Pada akhirnya, orang-orang ini disingkirkan. Aku pernah mendengar tentang seseorang yang, ketika mengabarkan Injil, memiliki seorang wanita dan bahkan tidak mengizinkannya untuk mencari pasangan dan menikah; natur dari kasus ini sangat parah. Orang macam apakah ini? (Orang jahat.) Bolehkah individu yang jahat seperti itu tinggal di rumah Tuhan? (Tidak.) Rumah Tuhan tidak punya tempat untuk para tiran seperti itu; mereka mengaibkan Tuhan! Dengan melakukan hal seperti itu, mereka memengaruhi persepsi orang yang tak terhitung jumlahnya tentang Tuhan dan menyebabkan begitu banyak orang salah paham terhadap-Nya! Orang akan berkata, "Bagaimana bisa orang yang percaya kepada Tuhan melakukan hal seperti itu?" Ini saja sudah merupakan penghinaan bagi Tuhan. Jika gereja tidak mengusir dan menangani individu-individu seperti itu, tetapi membiarkan mereka terus mengabarkan Injil dan memberi mereka kesempatan untuk bertobat, itu benar-benar salah. Ini bukanlah pelanggaran pertamanya; natur perilakunya sangat parah, dan dia harus langsung diusir. Jika tidak, itu akan mengaibkan Tuhan dan memberikan kepada Iblis pengaruh untuk menghakimi dan mengutuk rumah Tuhan. Agar Iblis tidak berkesempatan untuk mendapatkan pengaruh, orang-orang yang terbiasa berbuat cabul harus diusir dari gereja. Orang-orang seperti itu adalah roh-roh cabul yang telah mengaibkan Tuhan, dan Tuhan benar-benar tidak akan menyelamatkan mereka. Betapa pun efektifnya pengabaran Injil mereka atau betapa pun banyaknya orang yang sudah mereka peroleh, jika mereka tidak menempuh jalan yang benar, mereka sudah menghancurkan dan kehilangan diri mereka sendiri. Orang-orang seperti itu tidak boleh ada di dalam rumah Tuhan; mereka adalah target untuk dibuang. Jadi, apakah perbuatan mereka dianggap sebagai pelaksanaan tugas? Tidak, semua kontribusi mereka sudah dihapus sepenuhnya di mata Tuhan dan tidak akan diingat oleh-Nya. Mereka bukan hanya tidak memadai; natur pelaksanaan tugas mereka sudah berubah menjadi melakukan kejahatan. Bagaimana Tuhan menangani orang-orang yang melakukan kejahatan? Dia membuang mereka. Apa yang dimaksud dengan dibuang? Artinya, mereka dikeluarkan dari antara orang-orang yang telah dipilih dan disiapkan Tuhan untuk diselamatkan. Mereka tidak termasuk di antaranya. Sebaliknya, mereka dikelompokkan ke dalam roh jahat, setan kotor, dan orang yang tidak diselamatkan. Seberapa besar kesempatan mereka untuk memperoleh keselamatan? (Nol.) Meski mereka melaksanakan tugas dan mengikuti Tuhan juga, pada akhirnya jenis orang seperti ini mencapai titik ini dan disingkirkan. Jadi, ini adalah jenis orang yang lain. Apakah natur kasus ini lebih serius dibandingkan kasus sebelumnya? (Ya.) Ini bahkan lebih serius dan ditargetkan. Kasus ini harus digabungkan dengan kasus ketiga; ini digolongkan dalam kelompok kasus khusus dan khas pada contoh ketiga, dan ini ditargetkan. Sebaiknya kasus ini kita namakan apa? Mari kita namakan "Orang-Orang Jahat Akan Disingkirkan". Pelaksanaan tugas tiga jenis orang dalam ketiga kasus ini pada dasarnya sama dengan berjerih payah tanpa hasil. Apa artinya berjerih payah tanpa hasil? Artinya, mereka mengubah tugas mereka menjadi sekadar berjerih payah, dan meski begitu, mereka tidak berjerih payah dengan baik atau melaksanakan tugas mereka dengan benar. Mereka tidak memperlakukan tugas mereka sebagai tugas, dan bahkan melakukan berbagai kesalahan serta perbuatan jahat dan pada akhirnya disingkirkan, tanpa mendapatkan kesudahan yang baik. Natur dari ketiga kasus ini sangat serius.

Ada kasus lainnya, dan naturnya juga cukup parah. Ada seseorang yang telah melaksanakan pekerjaan selama bertahun-tahun, dan dari luar, dia tampak mengejar kebenaran serta dengan sungguh-sungguh mengorbankan diri untuk Tuhan. Dia meninggalkan hidup perkawinan dan berkeluarga, meninggalkan karier serta masa depannya, pergi ke berbagai tempat untuk melaksanakan tugasnya, dan juga melakukan pekerjaan remeh. Namun dalam proses melaksanakan tugas, dia memahami sedikit saja kebenaran karena dia tidak benar-benar mengejar kebenaran, dan dia beranggapan bahwa dia melakukannya dengan baik hanya karena dia dapat berbicara tentang beberapa kata dan doktrin. Yang lebih serius adalah orang ini tidak menerapkan kebenaran sama sekali. Jadi, pelaksanaan tugasnya sekadar mengkhotbahkan beberapa doktrin dan mengikuti peraturan, biasa berperilaku baik terhadap sesama dan tidak menyinggung siapa pun. Adapun bagaimana cara melaksanakan pekerjaan gereja dan masalah apa yang masih ada, dia tidak memperhatikan, tidak berupaya, dan tidak mencari kebenaran untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Singkatnya, sikapnya terhadap pekerjaan adalah dangkal dan acuh tak acuh; kelihatannya dia tidak bermalas-malasan, tetapi dia juga tidak berlelah-lelah. Dia tidak terlihat bertindak asal-asalan, tetapi hasil pekerjaannya tidak terlalu bagus. Dalam suatu kejadian tertentu, karena kelalaian dan sikapnya yang asal-asalan, dia mengakibatkan hilangnya uang persembahan untuk Tuhan sebesar lebih dari 10 juta RMB. Seberapa banyak 10 juta RMB itu? Saat mendengar nominal ini, orang-orang kebanyakan akan menganggapnya sebagai nominal yang sangat besar. Mereka akan ternganga tak percaya dan nyaris tak berani memikirkannya, karena mereka belum pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidup mereka. Namun, setelah menyebabkan hilangnya uang persembahan untuk Tuhan sebesar lebih dari 10 juta RMB, "saudara tua" ini tidak menyesal, tidak ada tanda-tanda pertobatan, dan tidak merasa sedih. Saat gereja mengusirnya, dia masih mengeluh. Makhluk macam apa yang akan melakukan hal ini? Mari kita bahas dua pokok masalah. Pertama, sejumlah uang ini hilang saat engkau sedang bekerja, dan kesalahan siapa pun itu, engkaulah yang bertanggung jawab. Engkau bertanggung jawab untuk menjaganya, tetapi engkau gagal melakukannya. Ini adalah kelalaian terhadap tugas, karena ini bukanlah uang manusia; ini adalah persembahan, dan orang harus memperlakukannya dengan penuh kesetiaan. Jika persembahan itu hilang, bagaimana seharusnya orang memikirkannya? Bahkan kematian tidak akan cukup untuk menebusnya! Berapa harga nyawa manusia? Jika kerugiannya terlalu besar, bahkan menyerahkan nyawa seseorang pun tidak akan cukup untuk menggantinya! Kuncinya adalah natur dari masalah ini terlalu parah. "Saudara tua" ini tidak menganggap serius hilangnya uang persembahan yang sangat banyak itu; orang ini terlalu menjijikkan! Kehilangan persembahan sebesar lebih dari 10 juta RMB sama seperti kehilangan 100 atau sekian RMB baginya; dia tidak melaporkannya sama sekali kepada Yang di Atas, sama sekali tidak menyesali masalah ini, dan tidak berkata kepada orang-orang di sekitarnya, "Mari kita analisis bagaimana uang ini bisa hilang dan apa yang harus kita lakukan. Haruskah kita menggantinya atau mencari solusi yang lain? Atau mungkin kita harus memberitahu Yang di Atas, mengakui tanggung jawab dan mengundurkan diri, serta berdoa kepada Tuhan untuk mengakui dosa-dosa kita?" Dia bahkan tidak memiliki sikap ini; apakah ini menjijikkan? (Ya.) Ini semua terlalu menjijikkan! Kapasitasnya untuk melakukan perbuatan jahat yang begitu besar memperlihatkan sikapnya terhadap tugasnya dan terhadap Tuhan. Kedua, setelah diusir, bukan hanya tidak terima, tidak mengakui dosanya, dan tidak bertobat, melainkan dia malah mengeluh. Orang seperti ini benar-benar tidak bernalar. Coba pikirkan apa yang mungkin dia keluhkan. Dia mengeluh, "Aku sudah percaya kepada tuhan selama lebih dari 20 tahun, aku belum pernah menikah, aku telah menyerahkan begitu banyak hal, menanggung begitu banyak penderitaan, dan sekarang mereka mengusirku, menolakku. Aku akan mencari tempatku sendiri!" Tidak lama kemudian, dia menikah. Katakan kepada-Ku, jika orang pada umumnya—yang memiliki hati nurani dan kemanusiaan—memiliki sedikit hati nurani, akankah dia menikah secepat itu? Akankah dia tertarik melakukannya? Umumnya, orang yang memiliki bahkan sedikit hati nurani dan kemanusiaan, ketika diperhadapkan pada masalah yang serius seperti itu, akan merenungkan kematian, seraya berpikir, "Hidupku sudah berakhir, bagaimana aku bisa melakukan tindakan seperti itu setelah percaya kepada Tuhan selama lebih dari 20 tahun? Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri dan aku pantas diusir! Jangankan 10 juta, mengganti satu juta saja aku tidak mampu. Sekalipun aku dijual, aku tidak akan bisa menebusnya, hidupku sama sekali tidak berharga!" Mengapa engkau tetap melakukannya padahal engkau tahu bahwa engkau tidak akan mampu menggantinya? Tidak tahukah engkau bahwa uang itu adalah persembahan bagi Tuhan? Uang itu bukanlah uangmu; tanggung jawabmu adalah menjaganya. Itu bukanlah sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu; itu adalah sesuatu yang harus kaujaga. Itu adalah hal yang terpenting, dan kecerobohanmu merupakan kelalaian dalam tugas. Setelah menghilangkannya, tentu saja engkau tidak boleh melalaikan tanggung jawab atasnya. Sebagai seseorang yang percaya kepada Tuhan, bukankah engkau mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga persembahan ini agar tidak terjadi kemalangan? Bukankah engkau seharusnya meminimalkan risiko terjadinya kesalahan? Jika engkau bahkan tidak dapat melakukan itu, siapakah dirimu? Bukankah engkau setan yang hidup? (Ya.) Itu benar-benar menjijikkan dan tidak berkemanusiaan! Terlebih lagi, setelah diusir, dia tidak hanya berhenti percaya kepada Tuhan dan menikah, tetapi dia juga mengganggu orang-orang percaya di keluarganya. Natur dari hal ini bahkan lebih serius. Dia telah melaksanakan tugasnya selama bertahun-tahun, meninggalkan banyak hal, melakukan banyak pengorbanan, melaksanakan banyak pekerjaan, mengambil risiko, dan menjalani masa hukuman di penjara. Namun, faktor-faktor eksternal ini tidak menentukan nasib orang. Apa yang menentukannya? Jalan yang orang pilih. Seandainya dia menempuh jalan mengejar kebenaran, dia tidak akan berakhir seperti ini dan tidak akan menyebabkan kerugian yang besar seperti itu bagi rumah Tuhan. Kemalangan yang sangat besar seperti itu sudah pasti bukanlah suatu hal yang terjadi secara kebetulan; itu berkaitan langsung dengan kualitas kemanusiaannya dan jalan yang dipilihnya. Apakah menurutmu Tuhan mengetahui jalan yang ditempuhnya? (Ya.) Tuhan mengetahuinya. Jadi, apakah kejadian ini dimaksudkan untuk menyingkapkannya atau menyingkirkannya? Untuk menyingkapkan dan juga menyingkirkannya. Dari sudut pandang manusia, dia tampak melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan kesetiaan, pengorbanan, kesediaan untuk membayar harga, dan kemampuan untuk menanggung kesukaran. Lalu, mengapa Tuhan melakukan sesuatu yang seperti ini kepadanya? Mengapa Tuhan menyingkapkannya? Apa yang ingin disingkapkan? Apakah hanya untuk menyingkapkan kesudahannya? Tidak, itu dimaksudkan untuk menyingkapkan iman, kemanusiaan, esensi dan naturnya. Semua ini sekarang sudah disingkapkan. Mungkinkah Tuhan masih menyelamatkan orang seperti itu? Apakah Tuhan masih menaruh secercah harapan kepadanya? Tuhan sama sekali tidak menaruh harapan kepada orang seperti itu. Apakah Tuhan masih mempunyai kasih atau belas kasihan yang tersisa untuknya? Sama sekali tidak. Ada orang-orang yang mungkin berkata: "Jika Tuhan tidak memiliki kasih atau belas kasihan untuknya, apakah yang tersisa hanyalah kebenaran, kemegahan, dan kemurkaan?" Benar. Orang jahat seperti itu tidak lagi membutuhkan kasih atau belas kasihan, itu tidak dibutuhkan lagi, karena dia sudah sangat menyinggung watak Tuhan. Yang tersisa dari Tuhan untuknya hanyalah kebenaran, kemegahan, dan kemurkaan. Kesudahannya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan pengelolaan Tuhan, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia; dia sudah disingkirkan dan dikeluarkan. Oleh karenanya, di mana pun orang itu berada sekarang, di mata Tuhan, dia hanyalah orang mati yang hidup, mayat berjalan yang tinggal di antara setan-setan najis dan roh-roh jahat, di antara mereka yang berwajah manusia tetapi berhati binatang dan merupakan binatang yang berpakaian manusia. Inilah kualitasnya, dan dia sudah dibuang dari pandangan Sang Pencipta. Mengingat kesudahannya dan sikap akhirnya terhadap peristiwa besar ini yang terjadi dalam hidupnya, apakah pelaksanaan tugasnya selama ini ada hubungannya dengan kata "memadai"? (Tidak.) Bagaimana engkau tahu bahwa pelaksanaan tugasnya tidak memadai bahkan sebelum peristiwa ini terjadi? Apakah melalui penilaian dan dugaan, ataukah engkau melakukan evaluasi ini dengan mengamati esensinya? (Dengan mengamati esensinya.) Benar. Contohnya adalah Paulus. Andai saja dia mengejar kebenaran, andai saja dia bisa berusaha untuk disempurnakan seperti Petrus, dia tidak akan mengucapkan kata-kata hujatan seperti itu. Setiap kesudahan ada penyebabnya; kesudahan yang dialami orang ini mempunyai alasan yang mendasarinya. Dari kenyataan bahwa orang ini bisa mencapai titik ini sekarang, dan dari sikapnya terhadap Tuhan, sikapnya terhadap persembahan, dan sikapnya terhadap perbuatan jahatnya sendiri, itu sudah cukup untuk membuat orang melihat dengan jelas jalan apa yang dia tempuh dan seperti apa imannya yang sesungguhnya kepada Tuhan. Ini sepenuhnya menyingkapkan esensinya serta jalan yang dia tempuh. Jika dia menempuh jalan mengejar kebenaran, jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan jika dia dapat dengan sungguh-sungguh memperlakukan tugasnya sebagai tanggung jawab serta kewajibannya, bagaimana dia akan menangani situasi ini ketika kemalangan itu terjadi tanpa bisa dihindari? Dia pasti tidak akan bersikap seperti sekarang, yaitu menentang dan mengeluh. Sisi setannya telah disingkapkan; esensi natur di lubuk jiwanya telah disingkapkan sepenuhnya. Dia bukanlah manusia, dia itu setan. Jika dia manusia, dia tidak akan berakhir seperti ini setelah lebih dari 20 tahun percaya kepada Tuhan. Jika dia manusia, berapa besar penyesalan yang akan dia rasakan atas hilangnya persembahan yang besar itu? Berapa banyak air mata yang akan dia cucurkan? Betapa besar ketakutannya? Dia pasti akan merasa bertanggung jawab dan bersalah atas dosa yang mengerikan itu, percaya bahwa dirinya tidak dapat diampuni, dan merasa harus bertobat serta mengakui dosa-dosanya kepada Tuhan. Setidaknya, sekalipun gereja mengusirnya, dia tidak akan berhenti percaya, juga tidak akan mengkhianati Tuhan, apalagi mengganggu iman keluarganya kepada Tuhan. Apa yang dapat kita mengerti dari berbagai perilaku yang selanjutnya diperlihatkan oleh orang ini? Dia adalah pengikut yang bukan orang percaya yang tidak mencintai kebenaran, dan kemanusiaannya juga berniat buruk. Ini adalah kasus keempat. Bagaimana seharusnya kita menamai kasus ini? ("Kehilangan Sepuluh Juta dalam Kotak Persembahan.") Kita harus menambahkan reaksinya di sana dan menamakan kasus ini "Hilangnya Persembahan Sebesar Sepuluh Juta Tanpa Tanda Pertobatan". Bukankah nama itu lebih baik? Nama itu berfungsi sebagai peringatan untuk orang lain; setidaknya, nama itu membuat orang menyadari di mana letak parahnya tindakan saudara tua tersebut.

Terjadinya semua peristiwa tersebut, berbagai perilaku yang ditampilkan oleh orang-orang tersebut, serta sikap mereka terhadap Tuhan setelah peristiwa itu terjadi, semuanya muncul dan terungkap dalam proses pelaksanaan tugas. Oleh karena itu, sampai batas tertentu, jalan yang ditempuh orang dalam percaya kepada Tuhan dan kesudahan orang pada akhirnya berkaitan erat dengan pelaksanaan tugasnya; bahkan dapat dikatakan berkaitan langsung. Topik pelaksanaan tugas harus menjadi subjek tetap, begitu pula dengan kebenaran mengenai aspek ini. Ini adalah kebenaran paling mendasar yang harus dipahami orang, dan merupakan topik yang harus terus dibahas dalam proses pertumbuhan hidup dan kepercayaan manusia kepada Tuhan. Hal ini karena pelaksanaan tugas melekat erat dengan perubahan watak manusia, jalan masuk kehidupan, dan jenis jalan yang mereka tempuh serta jenis kesudahan yang pada akhirnya mereka peroleh. Sekarang, kita sudah secara luas mempersekutukan pelaksanaan tugas dan juga beberapa kasus. Tujuan utamanya adalah agar engkau semua mengerti bagaimana melaksanakan tugasmu dengan cara yang diperkenan Tuhan, apa konsekuensinya jika engkau melakukan kejahatan, dan pentingnya pelaksanaan tugas yang memenuhi standar. Peristiwa dalam kasus-kasus ini menjadi makin parah dan makin mengerikan, tetapi Aku tidak mereka-reka. Itu benar-benar terjadi di kalangan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan orang-orang yang melaksanakan tugasnya. Apa artinya? Ada orang-orang yang berkata: "Eh, tidak ada masalah jika kita tidak melaksanakan tugas kita, tetapi masalah selalu muncul saat kita melaksanakan tugas. Jadi, bolehkah kalau kita tidak usah melaksanakan tugas kita?" Bagaimana jalan pikiran ini? Bukankah ini seperti berhenti makan karena takut tersedak? Bukankah ini bodoh? Engkau harus belajar mencari kebenaran untuk mengatasi masalah ini; ini adalah sikap proaktif dan sejenis sikap yang seharusnya dimiliki orang yang normal. Jika engkau takut kalau-kalau muncul masalah saat sedang melaksanakan tugas yang akan membuatmu dihukum, diusir, disingkirkan, atau dibuang, dan akhirnya kehilangan harapan untuk memperoleh keselamatan, dan engkau berhenti melaksanakan tugasmu atau menggunakan pendekatan yang negatif dan berlawanan terhadapnya, sikap macam apa itu? (Sikap yang buruk.) Ada orang-orang lain yang berkata: "Kemanusiaan kita terlalu buruk untuk dapat melaksanakan tugas, jadi mengapa kita tidak berpuas diri dengan berjerih payah saja? Tuhan tidak memberikan tuntutan yang tinggi kepada orang-orang yang berjerih payah, dan tidak ada standar atau prinsip apa pun. Mengerahkan upaya saja sudah cukup. Lakukan apa pun yang diminta, taatlah, jangan memikul tanggung jawab yang penting, dan jangan berambisi menjadi seorang pemimpin atau pekerja. Mampu bertahan saja sampai akhir akan menjadi berkat terbesar." Bagaimana motif ini? Bukankah motif ini relatif tercela dan hina? Dapatkah orang yang tidak berambisi seperti itu memperoleh keselamatan dari Tuhan? Dapatkah orang yang tidak berkemanusiaan berjerih payah secara memadai? Mereka yang tidak berkemanusiaan tidak dapat berjerih payah secara memadai; mereka tidak akan menjadi orang yang berjerih payah yang setia yang tetap bertahan.

Jumlah contoh yang disebutkan selama beberapa persekutuan terakhir ini relatif banyak. Peristiwa-peristiwa itu mudah diingat, tetapi kebenaran yang telah Kupersekutukan sulit untuk dipahami. Namun, ada manfaatnya: Dengan membahas peristiwa-peristiwa itu, engkau semua dapat mengingat atau mulai memahami kebenaran yang sedikit disinggungnya. Jika kita tidak membahas kasus-kasus ini, mungkin akan diperlukan lebih banyak upaya untuk mencapai hasil seperti ini. Membahas kasus-kasus ini berguna sebagai pendorong sekaligus peringatan, yang membantu orang menemukan jalan yang benar darinya. Ini membimbingmu untuk mengetahui jalan mana yang harus ditempuh dalam imanmu agar engkau tidak melanggar ketetapan administratif Tuhan, tidak membuat kesalahan besar, atau tidak menempuh jalan yang salah. Tujuan utamanya adalah membantu orang melaksanakan tugasnya secara memadai. Setelah mendengar tentang keempat kasus ini, bagaimana perasaanmu? Apakah engkau memiliki pemahaman baru tentang pelaksanaan tugas secara memadai? Apakah mudah bagi orang untuk melaksanakan tugasnya secara memadai? (Tidak mudah.) Di manakah letak kesulitannya? Apakah karena orang tidak memahami kebenaran dan tidak mampu menemukan prinsip, sehingga mereka terus melakukan kesalahan? (Tidak.) Jadi, di mana letak kesulitannya? Dalam hal ini: Orang tidak mencintai kebenaran dan juga tidak mengejarnya. Dalam proses melaksanakan tugas, jika orang tidak mengejar kebenaran dan tidak menerapkannya, ditambah lagi dengan wataknya yang kejam, jahat, dan congkak, ini dapat dengan mudah menimbulkan konsekuensi tertentu dan mendatangkan kesudahan yang tidak diharapkan atau tidak diinginkan orang. Adakah orang yang mengharapkan kesudahan yang buruk bagi dirinya? (Tidak.) Adakah orang yang mengharapkan kesudahan yang biasa-biasa saja, dengan berpikir bahwa selama dia bisa bertahan hidup pas-pasan sampai akhir tanpa mati, itu tidak masalah? (Ya.) Orang macam apakah ini? Mereka adalah orang-orang yang tidak mengejar kebenaran; mereka hanya membuang-buang waktu menunggu kematian. Adapun orang-orang seperti itu, pelaksanaan tugas mereka pasti benar-benar asal-asalan, sehingga mereka cenderung melakukan kesalahan atau berbuat dosa, dan sangat sulit melaksanakan tugas mereka sesuai standar. Orang-orang seperti apa yang mampu melaksanakan tugasnya sesuai standar? (Orang-orang yang mengejar kebenaran.) Siapa lagi? (Orang-orang yang memiliki kemanusiaan.) Apa saja yang termasuk dalam kemanusiaan? (Hati nurani dan nalar.) Orang yang memiliki hati nurani dan nalar, yang memiliki kemanusiaan, akan melaksanakan tugasnya dengan mudah sesuai standar jika mereka mengejar kebenaran. Ada orang-orang yang berkata: "Kau terus membicarakan contoh-contoh negatif yang serius dari orang-orang yang gagal melaksanakan tugasnya secara memadai, dan ini membuat kami kehilangan kepercayaan diri. Kapan kami akan mencapai standar pelaksanaan tugas secara memadai? Adakah contoh-contoh positif mengenainya?" Jadi, mari kita bahas sesuatu yang lebih positif dan membangkitkan semangat. Sekarang ini, banyak orang mulai fokus mengejar kebenaran, dan mereka juga mulai menjadi lebih rajin saat melaksanakan tugasnya. Misalnya, ada orang-orang yang dapat bekerja sama secara harmonis dengan orang lain saat melaksanakan tugasnya. Apa yang dimaksud dengan kerja sama yang harmonis? Inilah salah satu perwujudannya: Ini bukan hanya tentang semua orang hidup rukun di luar, tanpa konflik ataupun intrik. Kerja sama yang harmonis berarti saat menghadapi berbagai persoalan di tempat kerja—entah engkau mempunyai wawasan tentangnya atau tidak, dan entah sudut pandangmu benar atau salah—engkau tetap dapat berunding dan bersekutu dengan orang lain, mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan kemudian mencapai kesepakatan. Itulah kerja sama yang harmonis. Apa tujuan mencapai kesepakatan? Tujuannya adalah untuk melaksanakan tugas dengan lebih baik, untuk melakukan pekerjaan gereja dengan lebih baik, dan mampu memberikan kesaksian tentang Tuhan. Jika engkau ingin pelaksanaan tugasmu dapat memenuhi standar, selama proses melaksanakan tugas, engkau harus terlebih dahulu mencapai kerja sama yang harmonis. Sekarang ini ada orang-orang yang sudah menerapkan kerja sama yang harmonis. Setelah memahami kebenaran, meski mereka tidak mampu sepenuhnya menerapkan kebenaran, dan meski ada saat-saat kegagalan, kelemahan, dan penyimpangan di sepanjang jalannya, mereka tetap berusaha mencapai prinsip-prinsip kebenaran. Jadi, mereka punya harapan untuk mencapai kerja sama yang harmonis. Misalnya, kadang-kadang engkau mungkin beranggapan bahwa apa yang sedang kaulakukan itu benar, tetapi engkau mampu untuk tidak merasa diri benar. Engkau dapat berdiskusi dengan orang lain dan bersekutu tentang prinsip-prinsip kebenaran bersama-sama sampai hal itu menjadi jelas dan nyata, sehingga semua orang memahaminya, dan sepakat bahwa dengan melakukannya, hasil yang terbaik akan tercapai. Selain itu, semua orang sepakat bahwa hal itu tidak menyimpang dari prinsip, mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan, dan akan melindungi kepentingan rumah Tuhan semaksimal mungkin. Penerapan dengan cara ini sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Meskipun hasil akhirnya mungkin tidak selalu seperti yang kaubayangkan, jalan, arah, dan tujuan penerapanmu sudah benar. Jadi, bagaimana Tuhan melihatnya? Bagaimana Tuhan mendefinisikannya? Tuhan akan berkata bahwa pelaksanaan tugasmu sudah memadai. Apakah memadai berarti bahwa tugasmu sudah dilaksanakan sesuai dengan maksud Tuhan? Tidak. Memadai masih jauh dari memenuhi maksud Tuhan, menerima penegasan dari Tuhan, dan melakukan penerapan dengan sepenuhnya memenuhi tuntutan Tuhan. Memadai hanya berarti bahwa engkau berada di jalan yang benar, niatmu benar, dan arahmu benar, tetapi engkau belum mencapai standar yang tinggi dalam bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran seperti yang dituntut oleh Tuhan. Misalnya, mengenai ketundukan, katakanlah rumah Tuhan mengatur agar engkau melakukan sesuatu dalam proses pelaksanaan tugasmu. Bagaimana seharusnya engkau menerapkannya agar dapat memenuhi standar dalam melaksanakan tugasmu? Saat pertama kali mendengar tentang tugas itu, engkau mungkin punya beberapa pendapat. Namun setelah mempertimbangkannya, engkau berpikir, "Tuhan telah berkata bahwa kita harus belajar mencari dan tunduk dalam perkara-perkara yang tidak kita pahami. Jadi, aku harus mencari. Meski aku tidak memahami kebenaran atau tidak tahu bagaimana cara menerapkannya, tugas itu telah diberikan kepadaku, jadi aku harus taat dan tunduk. Sekalipun hanya mengikuti peraturan, aku harus mengikutinya terlebih dahulu." Jika engkau dapat menerapkannya dengan cara ini, berarti engkau memenuhi standar. Namun, adakah kesenjangan antara memenuhi standar ini dan menerima penegasan Tuhan? (Ya.) Kesenjangan ini ditentukan oleh sejauh mana engkau memahami kebenaran. Meski engkau dapat tunduk, engkau tidak memahami maksud Tuhan dan belum sepenuhnya mengidentifikasi prinsip-prinsip kebenaran ataupun menerapkannya; engkau hanya mematuhi peraturan. Engkau sudah mematuhi hal-hal mendasar yang harus dilakukan, sesuai dengan standar hati nurani dan peraturan, jadi dalam hal pelaksanaan, tidak ada masalah, dan dalam hal natur tindakanmu, tidak ada yang salah. Namun, ini tidak memenuhi standar penerapan kebenaran; engkau masih belum memahami maksud Tuhan. Engkau hanya secara pasif dan refleksif melaksanakan tugasmu; engkau tidak melaksanakannya dengan benar sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Engkau belum mencapai tingkat di mana engkau dapat memberikan kesaksian tentang Tuhan atau memenuhi maksud Tuhan. Engkau belum memenuhi standar untuk memberikan kesaksian. Oleh karena itu, melaksanakan tugasmu dengan cara ini sekadar memadai, dan belum mendapat perkenanan Tuhan.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp