Apa Arti Pelaksanaan Tugas yang Memadai? (Bagian Satu)

Pada pertemuan sebelumnya, topik utama persekutuan adalah empat syarat dasar bagi seseorang untuk disempurnakan melalui penerimaan penghakiman dan hajaran. Apa saja empat syarat dasar ini? (Syarat pertama adalah pelaksanaan tugas yang memadai. Yang kedua adalah memiliki mentalitas ketundukan kepada Tuhan. Yang ketiga adalah menjadi orang yang pada dasarnya jujur. Dan yang keempat adalah memiliki hati yang bertobat.) Ada beberapa rincian dalam masing-masing dari keempat syarat ini, juga penerapan konkret dan referensi yang spesifik. Sebenarnya, keempat topik ini sudah dibahas selama bertahun-tahun. Jika sekarang kita membicarakannya lagi, bukankah berarti kita membahas kembali sesuatu yang sudah dibahas? (Tidak.) Mengapa tidak? Sebab isi masing-masing dari keempat kondisi ini menyangkut kenyataan kebenaran dan jalan masuk kehidupan, yang merupakan topik yang tidak ada habis-habisnya. Sebagian besar orang belum mencapai tahap memasuki kenyataan kebenaran; mereka hanya memahami makna kebenaran secara dangkal, mereka hanya memahami beberapa doktrin sederhana. Meskipun mampu mempersekutukan beberapa kenyataan, mereka gagal memasuki kenyataan kebenaran. Jadi, apa pun aspek kebenarannya, itu harus sering dipersekutukan dan sering didengarkan. Dengan cara ini, pemahaman orang mengenai berbagai kebenaran akan makin mendalam melalui pengalaman mereka yang nyata, dan pengalaman mereka akan menjadi makin tepat.

Kita baru saja meringkas empat syarat dasar agar orang dapat disempurnakan melalui penerimaan penghakiman dan hajaran. Selanjutnya, mari kita mulai pembahasan kita dari syarat pertama: pelaksanaan tugas yang memadai. Ada orang-orang yang berkata: "Pembahasan selama dua tahun terakhir ini semuanya tentang pelaksanaan tugas; khususnya, bagaimana melaksanakan tugas, bagaimana melaksanakannya dengan baik, prinsip-prinsip apa yang harus dipatuhi saat melaksanakannya. Aku memahami hal-hal ini dengan sangat jelas di dalam hatiku. Dan selama beberapa tahun belakangan ini, kehidupan sehari-hariku semuanya tentang kebenaran yang berhubungan dengan pelaksanaan tugasku. Sejak mulai melaksanakan tugasku, aku sudah mencari, makan dan minum, juga mendengarkan kebenaran yang terkait dengannya, dan sekarang bahkan topik ini masih dibahas. Aku sudah memahaminya dalam hatiku sejak lama; bukankah itu benar-benar hanya tentang melaksanakan tugasmu dengan baik? Bukankah pelaksanaan tugas yang memadai hanya tentang mengikuti prinsip-prinsip yang telah disebutkan sebelumnya? Kasihilah Tuhan-mu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap pikiranmu, dan dengan segenap kekuatanmu; carilah prinsip, jangan bergantung pada kecenderunganmu sendiri, dan berkoordinasilah secara harmonis ketika melaksanakan tugasmu; selaraskan pelaksanaan tugasmu dengan jalan masuk kehidupan. Hanya itulah yang diperlukan." Hal-hal yang engkau semua jumpai dan alami dalam kehidupanmu sehari-hari hanyalah topik-topik ini, jadi hanya itulah yang engkau semua pahami. Sebanyak apa pun yang kaupahami, kita tetap perlu membahas kebenaran ini hari ini. Jika ada sesuatu yang diulang kembali, itu akan bermanfaat bagimu juga, dan engkau semua dapat merenungkannya kembali; jika itu adalah sesuatu yang belum pernah dibahas sebelumnya, terima dan pahamilah. Entah itu diulang ataupun tidak, engkau harus mendengarkannya dengan saksama. Pikirkan kebenaran apa yang tercakup di sini, apakah kebenaran ini bermanfaat bagi jalan masuk kehidupanmu, dan apakah kebenaran ini dapat membantumu melaksanakan tugas secara memadai. Jadi, meninjau kembali topik tentang pelaksanaan tugas yang memadai sangatlah diperlukan.

Mengenai pelaksanaan tugas yang memadai, pertama-tama mari kita kesampingkan dahulu arti "memadai" dan kita bicarakan tentang apa yang dimaksud dengan tugas. Di akhir nanti, engkau semua akan mengetahui apa yang dimaksud dengan tugas, apa yang dianggap memadai, dan bagaimana tugas harus dilaksanakan; engkau akan memiliki jalan penerapan untuk pelaksanaan tugas sesuai standar. Jadi, apa itu tugas? (Tugas adalah apa yang Tuhan percayakan kepada manusia untuk dilakukan, yaitu apa yang harus dilakukan oleh makhluk ciptaan.) Pernyataan ini hanya setengah benar. Secara teori, tidak ada yang salah dengannya, tetapi jika dicermati secara lebih mendalam, penjelasan ini tidak lengkap; harus ada prasyaratnya. Mari kita pelajari topik ini lebih jauh. Bagi setiap orang percaya maupun orang tidak percaya, bagaimana mereka menjalani hidup, apa yang mereka lakukan di dunia manusia ini, dan nasib hidup mereka, bukankah semua hal ini telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan? (Ya, benar.) Misalnya, ada orang-orang yang di dunia ini berkecimpung dalam industri musik. Menciptakan musik adalah misi mereka dalam hidup; dapatkah misi ini dianggap sebagai tugas mereka? (Tidak.) Ada orang-orang yang telah melakukan hal-hal luar biasa di dunia ini, yang berdampak pada seluruh umat manusia, berkontribusi, dan bahkan mengubah suatu zaman; inilah misi hidup mereka. Dapatkah misi hidup ini disebut sebagai tugas mereka? (Tidak.) Namun, bukankah misi hidup ini dan apa yang sudah mereka lakukan dalam hidup mereka adalah sesuatu yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka? Bukankah itu sesuatu yang harus dilakukan oleh makhluk ciptaan? (Ya.) Itu benar. Tuhan telah memberikan suatu misi kepada mereka, mempercayakan amanat ini kepada mereka, dan, di dalam keseluruhan umat manusia, sebagai bagian dari umat manusia itu sendiri, mereka mempunyai sesuatu yang harus mereka lakukan, suatu tanggung jawab yang harus mereka laksanakan. Bidang apa pun yang mereka geluti—entah itu seni, bisnis, politik, ekonomi, penelitian ilmiah, dan sebagainya—semuanya telah ditentukan dari semula oleh Tuhan. Namun demikian, ada satu perbedaan; seperti apa pun cara Tuhan menetapkannya, orang-orang ini berada di luar pekerjaan pengelolaan Tuhan. Mereka dianggap sebagai orang-orang tidak percaya, dan apa yang mereka lakukan berada di luar pekerjaan pengelolaan Tuhan. Jadi, dapatkah tanggung jawab mereka, amanat yang telah mereka terima, dan misi hidup mereka disebut sebagai tugas? (Tidak.) Mereka bukan sedang melaksanakan tugas, karena yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Seluruh manusia di dunia ini secara pasif menerima amanat Sang Pencipta dan misi yang telah Dia berikan, tetapi misi yang diterima oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, dan tanggung jawab yang mereka tunaikan, bukanlah tugas, karena tidak ada hubungannya dengan rencana pengelolaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia dan bukan bagian darinya. Mereka tidak menerima Tuhan, dan Tuhan tidak bekerja dalam diri mereka, jadi apa pun tanggung jawab yang mereka emban, dan apa pun amanat yang mereka terima atau misi apa pun yang mereka tunaikan dalam kehidupan ini, tidak dapat dikatakan bahwa mereka sedang melaksanakan tugas mereka. Jadi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan tugas? Prasyarat macam apakah yang harus ditambahkan agar dapat dengan jelas, akurat, dan komprehensif menerangkan konsep ini dan kebenaran yang terkait dengannya? Sudahkah engkau memahami konsep dari persekutuan kita barusan? Konsep apa? Konsep bahwa untuk setiap individu di antara umat manusia, betapa pun besarnya misi yang telah mereka terima, atau tingkat perubahan yang telah mereka akibatkan, atau tingkat kontribusi mereka terhadap umat manusia, misi dan amanat yang demikian tidak dapat disebut sebagai tugas. Ini karena tugas dan amanat tersebut tidak ada hubungannya dengan rencana pengelolaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia; semuanya itu hanya misi. Entah mereka bertindak aktif maupun pasif, yang mereka lakukan hanyalah menunaikan suatu misi; ini sudah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan. Dengan kata lain, selama tindakan mereka tidak ada hubungannya dengan rencana pengelolaan Tuhan, dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, maka pemenuhan misi tersebut tidak dapat disebut sebagai pelaksanaan tugas. Ini sudah tidak dapat diganggu gugat. Jadi, apa yang dimaksud dengan tugas? Beginilah seharusnya kita memahaminya: Tugas adalah amanat dan misi yang diberikan Tuhan dalam lingkup pekerjaan pengelolaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Bukankah menyatakannya dengan cara seperti ini lengkap dan tepat? Hanya apa yang tepatlah yang merupakan kebenaran; apa yang tidak tepat dan sepihak bukanlah kebenaran, melainkan doktrin belaka. Tanpa sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan tugas dan mengenalinya secara menyeluruh, engkau tidak akan tahu apa hubungan kebenaran dengan tugas. Sebelumnya, orang mungkin banyak salah paham terhadap pemahaman mereka akan tugas. Hal itu karena mereka tidak memahami kebenaran, sehingga menimbulkan segala macam gagasan dan ambiguitas. Pada waktu itu, orang menggunakan gagasan dan ambiguitas ini untuk menjelaskan tugas, dan kemudian memperlakukan tugas berdasarkan gagasan ini. Misalnya, ada orang-orang yang berpikir bahwa karena seluruh kehidupan orang telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan—dalam keluarga seperti apa dia dilahirkan, apakah dia kaya atau miskin dalam hidup, dan karier apa yang dikejarnya, semua itu telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan—maka apa pun yang dilakukan orang semasa hidupnya dan hal-hal yang ditunaikannya, semuanya adalah amanat yang diberikan oleh Tuhan, dan itu adalah misinya. Hanya karena ini menyangkut misi, maka mereka menganggapnya sebagai tugas. Demikianlah mereka dengan sembarangan terus bersikukuh dalam konsep mereka tentang tugas. Bukankah ini kesalahpahaman? Ada orang-orang yang sudah menikah dan mempunyai anak-anak berkata: "Mempunyai anak adalah amanat Tuhan yang telah Dia percayakan kepada kita, itu adalah misi kita. Merupakan tugas kita untuk membesarkan anak-anak kita hingga dewasa." Bukankah ini pemahaman yang salah? Dan ada pula orang lain yang berkata: "Kita ditempatkan di bumi ini untuk bertani. Karena itu adalah nasib kita, sebaiknya kita mengerjakannya dengan baik, karena itu adalah amanat dan misi yang diberikan Tuhan kepada kita. Betapa pun miskinnya kita atau betapa pun sulitnya keadaan yang kita hadapi, kita tidak boleh mengeluh. Bertani dengan baik di masa hidup ini adalah tugas kita." Mereka menyamakan nasib dengan misi dan tugas. Bukankah ini kesalahpahaman? (Ya.) Ini memang kesalahpahaman. Dan ada juga orang-orang yang berbisnis di dunia ini yang berkata: "Aku tidak berhasil dalam hal apa pun sebelumnya, tetapi sesudah berbisnis, kehidupanku menjadi cukup baik dan stabil. Kelihatannya Tuhan telah menakdirkanku untuk berbisnis dalam kehidupan ini, untuk menafkahi keluargaku dengannya. Jadi, jika dalam kehidupan ini aku berbisnis dengan baik dan memperluas bisnisku, menafkahi setiap anggota keluargaku, berarti inilah misiku, dan mungkin misi ini adalah tugasku." Bukankah ini kesalahpahaman? Orang menganggap urusan mereka sehari-hari, cara mereka mencari nafkah, gaya hidup yang mereka jalani, dan kualitas hidup yang mereka nikmati—semua hal yang berhubungan dengan misi mereka—sebagai tugas mereka. Ini tidak benar; ini adalah pemahaman yang menyimpang tentang apa yang dimaksud dengan tugas.

Jadi, apa yang dimaksud dengan tugas? Kebanyakan orang memiliki pemahaman yang menyimpang dan keliru mengenai masalah ini. Jika rumah Tuhan mengatur supaya engkau menanam padi-padian dan sayur-mayur, bagaimana engkau memperlakukan pengaturan ini? Ada orang-orang yang mungkin tidak mampu memahaminya dan berkata: "Bertani adalah untuk menghidupi keluarga; itu bukan tugas. Konsep tugas tidak mencakup aspek ini." Mengapa mereka memahami hal-hal dengan cara seperti ini? Itu karena mereka tidak memahami kebenaran yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas, dan mereka tidak memahami apa itu tugas. Jika orang sungguh memahami aspek kebenaran ini, mereka akan bersedia pergi dan menggarap lahan. Mereka akan tahu bahwa di rumah Tuhan, bertani bukan dilakukan demi menghidupi keluarga mereka, melainkan demi memungkinkan orang-orang yang melaksanakan tugas penuh waktu untuk dapat terus melaksanakannya secara normal. Pada kenyataannya, ini juga merupakan amanat yang diberikan Tuhan; pekerjaan itu sendiri mungkin tidak lebih penting daripada sebiji wijen, atau mungkin bahkan sebutir pasir, tetapi terlepas dari kepentingannya, itu adalah pekerjaan yang dihasilkan dalam lingkup pekerjaan pengelolaan Tuhan. Sekarang Tuhan berfirman bahwa engkau dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Bagaimanakah engkau memahaminya? Engkau harus menerimanya sebagai tugasmu, dan engkau harus menerimanya tanpa membuat alasan apa pun. Jika engkau hanya tunduk secara pasif dan pergi melakukan pekerjaan pertanian karena itulah yang telah diatur untukmu, itu tidak benar. Di sini ada satu prinsip yang harus engkau pahami: Gereja mengaturmu untuk melakukan pekerjaan pertanian dan menanam sayur-mayur bukan supaya engkau dapat menjadi kaya, juga bukan supaya engkau dapat bertahan hidup dan menghidupi keluargamu, melainkan demi memenuhi kebutuhan pekerjaan di rumah Tuhan pada saat bencana. Ini untuk menjamin kebutuhan makan sehari-hari semua orang yang melaksanakan tugas mereka secara penuh waktu di rumah Tuhan, sehingga mereka dapat melaksanakan tugas mereka dengan normal tanpa menghambat pekerjaan rumah Tuhan. Jadi, orang-orang yang bertani di gereja pertanian dianggap sedang melaksanakan tugas mereka; ini berbeda naturnya dengan para petani biasa di pertanian pada umumnya. Bagaimanakah natur pertanian untuk para petani biasa? Para petani biasa bertani untuk menafkahi keluarga mereka dan bertahan hidup; inilah yang telah Tuhan tetapkan bagi mereka. Inilah takdir mereka, jadi mereka bertani dari generasi ke generasi; ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan tugas mereka. Sekarang, engkau telah datang ke rumah Tuhan dan juga bertani, tetapi ini adalah tuntutan pekerjaan di rumah Tuhan; ini adalah bentuk pengorbanan bagi Tuhan. Ini berbeda naturnya dengan bertani di lahanmu sendiri. Ini adalah tentang menunaikan tanggung jawab dan kewajibanmu. Ini adalah tugas yang harus kaulakukan; ini adalah amanat dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadamu oleh Sang Pencipta. Bagimu, ini adalah tugasmu. Jadi, ketika membandingkan tugas ini dengan misi duniawimu, manakah yang lebih penting? (Tugasku.) Mengapa? Tugas adalah apa yang Tuhan tuntut darimu untuk dilakukan, inilah yang telah Dia percayakan kepadamu. Inilah salah satu alasannya. Alasan lain, yang utama, adalah ketika engkau melaksanakan tugas di rumah Tuhan dan menerima amanat Tuhan, engkau menjadi relevan dengan pekerjaan pengelolaan Tuhan. Di rumah Tuhan, setiap kali sesuatu diatur untuk kaulakukan, baik itu pekerjaan yang sulit atau melelahkan, entah engkau menyukainya atau tidak, itu adalah tugasmu. Jika engkau dapat menganggapnya sebagai amanat dan tanggung jawab yang telah Tuhan berikan kepadamu, artinya engkau berkaitan dengan pekerjaan-Nya menyelamatkan manusia. Dan jika apa yang kaulakukan dan tugas yang kaulaksanakan berkaitan dengan pekerjaan Tuhan menyelamatkan manusia, dan engkau dapat dengan sungguh-sungguh dan tulus menerima amanat yang telah Tuhan berikan kepadamu, bagaimana Dia akan menganggapmu? Dia akan menganggapmu anggota keluarga-Nya. Apakah itu berkat atau kutuk? (Berkat.) Itu adalah berkat yang luar biasa. Ada orang yang mengeluh ketika menghadapi sedikit kesukaran saat melaksanakan tugas, tanpa menyadari betapa besar berkat yang telah mereka terima. Bukankah benar-benar bodoh jika kita mengeluh tentang Tuhan sesudah mendapatkan begitu banyak kebaikan? Pada tahap ini, penting untuk memahami kebenaran, untuk menyadari bahwa itulah tugasmu dan itu harus diterima dari Tuhan. Sekarang, apakah engkau semua punya pemahaman atau wawasan baru mengenai apa itu tugas? Apakah engkau sudah benar-benar memahaminya? Apakah tugas itu penting agar dapat menerima keselamatan? (Ya.) Seberapa pentingkah itu? Dapat dikatakan bahwa ada hubungan langsung antara melaksanakan tugas dan menerima keselamatan. Apa pun misi yang engkau tunaikan dalam kehidupan ini, jika engkau tidak melaksanakan tugasmu, engkau tidak ada hubungannya dengan menerima keselamatan. Dengan kata lain, tidak peduli betapa hebat prestasi yang telah kaucapai dalam kehidupan ini di antara manusia, engkau hanya sekadar menunaikan misi; engkau belum melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, jadi engkau tidak ada hubungannya dengan menerima keselamatan atau pekerjaan Tuhan untuk mengelola umat manusia.

Di rumah Tuhan, selalu disebutkan tentang menerima amanat Tuhan dan bagaimana orang melaksanakan tugasnya dengan benar. Bagaimana tugas muncul? Secara umum, tugas muncul sebagai hasil dari pekerjaan pengelolaan Tuhan yang membawa keselamatan bagi umat manusia; secara khusus, saat pekerjaan pengelolaan Tuhan dilakukan dan dinyatakan di antara manusia, pada saat itulah muncul berbagai pekerjaan yang menuntut orang untuk bekerja sama dan menyelesaikannya. Ini telah memunculkan tanggung jawab dan misi untuk orang penuhi, dan tanggung jawab serta misi ini adalah tugas yang Tuhan limpahkan kepada umat manusia. Di rumah Tuhan, berbagai tugas yang membutuhkan kerja sama manusia merupakan tugas yang harus mereka penuhi. Jadi, apakah ada perbedaan dalam pengertian apakah tugas tersebut lebih baik dan lebih buruk, apakah tugas tersebut tinggi dan rendah, atau besar dan kecil? Perbedaan semacam itu tidak ada; selama sesuatu ada hubungannya dengan pekerjaan pengelolaan Tuhan, selama itu adalah tuntutan pekerjaan rumah-Nya, dan diperlukan untuk menyebarluaskan Injil Tuhan, maka itu adalah tugas orang. Inilah asal mula dan definisi tugas. Tanpa adanya pekerjaan pengelolaan Tuhan, akankah manusia di bumi—bagaimanapun cara hidup mereka—memiliki tugas? Tidak. Sekarang, engkau mengerti dengan jelas. Apa yang berhubungan dengan tugas? (Tugas berhubungan dengan pekerjaan pengelolaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia.) Benar. Ada hubungan langsung antara tugas umat manusia, tugas sebagai makhluk ciptaan, dan pekerjaan pengelolaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Dapat dikatakan bahwa tanpa penyelamatan umat manusia oleh Tuhan, dan tanpa pekerjaan pengelolaan yang telah dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi di antara manusia, manusia tidak akan mempunyai tugas apa pun untuk dibahas. Tugas muncul dari pekerjaan Tuhan; itulah yang Tuhan tuntut dari manusia. Dilihat dari sudut pandang ini, tugas merupakan hal penting bagi setiap orang yang mengikut Tuhan, bukan? Itu sangat penting. Secara umum, engkau sedang mengambil bagian dalam pekerjaan rencana pengelolaan Tuhan; secara lebih khusus, engkau sedang bekerja sama dengan melakukan berbagai jenis pekerjaan Tuhan yang dibutuhkan pada waktu yang berbeda dan di antara kelompok orang yang berbeda. Apa pun tugasmu, itu adalah misi yang telah Tuhan berikan kepadamu. Terkadang engkau mungkin diminta untuk menjaga atau melindungi suatu objek yang penting. Ini mungkin masalah yang relatif sepele yang hanya dapat dikatakan sebagai tanggung jawabmu, tetapi ini adalah tugas yang diberikan Tuhan kepada-Mu; engkau menerima tugas ini dari-Nya. Engkau menerimanya dari tangan Tuhan, dan ini adalah tugasmu. Berbicara mengenai pokok masalah, tugasmu dipercayakan kepadamu oleh Tuhan. Tugas itu meliputi terutama menyebarkan Injil, memberikan kesaksian, membuat video, menjadi seorang pemimpin atau pekerja di gereja, atau mungkin pekerjaan yang bahkan lebih berbahaya dan lebih penting. Apa pun itu, selama itu berkaitan dengan pekerjaan Tuhan dan keperluan pekerjaan penyebaran Injil, orang harus menerimanya sebagai tugas dari Tuhan. Dalam artian yang lebih luas lagi, tugas adalah misi seseorang, amanat yang dipercayakan oleh Tuhan; secara lebih khusus, tugas adalah tanggung jawabmu, kewajibanmu. Mengingat bahwa tugas adalah misimu, amanat yang dipercayakan kepadamu oleh Tuhan, dan adalah tanggung jawab dan kewajibanmu, pelaksanaan tugasmu tidak ada hubungannya dengan urusan pribadimu. Tugas tidak ada hubungannya dengan urusan pribadi. Mengapa topik ini diangkat? Karena orang harus mengerti cara memperlakukan dan cara memahami tugas mereka. Tugas adalah amanat yang diterima makhluk ciptaan dan misi yang harus mereka tunaikan dalam pekerjaan pengelolaan Tuhan. Orang mengetahui alasannya secara keseluruhan, tetapi bagaimana dengan detailnya yang lebih terperinci? Bagaimana orang seharusnya memperlakukan tugas agar dianggap memiliki pemahaman yang benar? Ada orang-orang yang memperlakukan tugas mereka sebagai urusan pribadi; apakah ini prinsip yang benar? (Tidak.) Mengapa salah? Melakukan sesuatu untuk diri sendiri bukanlah melaksanakan tugas. Melaksanakan tugas bukanlah melakukan sesuatu untuk diri sendiri, melainkan melakukan pekerjaan yang telah Tuhan percayakan kepadamu. Ada perbedaan di antara keduanya. Apa prinsip ketika melakukan berbagai hal untuk diri sendiri? Ini berarti melakukan apa pun yang engkau inginkan tanpa mengonsultasikannya dengan orang-orang lain, dan tanpa berdoa ataupun mencari Tuhan; ini berarti bertindak menurut keinginanmu sendiri dan tanpa memedulikan konsekuensinya asalkan itu menguntungkanmu. Apakah prinsip seperti ini dapat diterima dalam pelaksanaan tugas di rumah Tuhan? (Tidak.) Ada orang yang berkata: "Aku bahkan tidak menganggap serius urusanku sendiri ataupun mengerahkan banyak upaya untuk itu. Aku memperlakukan tugasku seolah-olah itu adalah urusanku sendiri, dan prinsip ini pastilah tepat." Apakah ini cara yang benar dalam menerima tugas? Tentu saja tidak. Kalau begitu, bagaimana seharusnya sikap orang terhadap tugas? (Menerimanya dari Tuhan.) "Menerimanya dari Tuhan." Ketiga kata ini mudah diucapkan, tetapi adapun bagaimana secara nyata menerapkan kebenaran yang terkandung di dalamnya, itu tergantung pada bagaimana engkau memperlakukan tugasmu. Kita baru saja mendefinisikan apa itu tugas. Tugas berasal dari Tuhan, merupakan amanat yang telah dipercayakan oleh Tuhan, dan berhubungan dengan pekerjaan rencana pengelolaan-Nya dan keselamatan manusia. Dari sudut pandang ini, apakah tugas ada hubungannya dengan prinsip-prinsip perilaku pribadimu? Apakah tugas ada hubungannya dengan preferensi pribadimu, kebiasaan hidupmu, atau rutinitas hidupmu? Tidak sedikit pun. Jadi, tugas berhubungan dengan apa? Tugas berhubungan dengan kebenaran. Ada orang-orang yang berkata: "Karena tugas ini diserahkan kepadaku, maka ini adalah urusanku sendiri. Dan aku memiliki prinsip tertinggi dalam pelaksanaan tugas, yang tak dimiliki oleh seorang pun darimu. Tuhan menuntut manusia untuk menunaikan tugas mereka dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan. Namun, selain itu, aku memiliki prinsip yang bahkan lebih tinggi, yaitu memperlakukan tugasku seolah-olah itu adalah urusan utamaku sendiri, dan melakukannya dengan tekun serta berusaha mencapai hasil terbaik." Apakah prinsip ini benar? (Tidak.) Mengapa salah? Jika engkau menerima tugasmu dari Tuhan dan di dalam hatimu sudah jelas bahwa Dia mempercayakannya kepadamu, bagaimanakah seharusnya engkau memperlakukan amanat ini? Ini berhubungan dengan prinsip-prinsip pelaksanaan tugas. Bukankah memperlakukan tugas sebagai amanat Tuhan jauh lebih luhur daripada memperlakukannya sebagai urusan diri sendiri? Ini tidak sama, bukan? Jika engkau memperlakukan tugasmu sebagai amanat Tuhan, sebagai pelaksanaan tugasmu di hadapan Tuhan, dan sebagai upaya untuk memuaskan Tuhan melalui pelaksanaan tugas, berarti prinsipmu dalam melaksanakan tugas bukan sekadar memperlakukannya sebagai urusanmu sendiri. Bagaimana seharusnya sikapmu terhadap tugasmu, yang dapat disebut sikap yang benar dan sesuai dengan maksud Tuhan? Pertama, engkau tidak sepatutnya menganalisis siapa yang mengatur tugas tersebut, oleh tingkat kepemimpinan mana tugas itu ditugaskan—engkau harus menerimanya dari Tuhan. Engkau tidak perlu menganalisisnya, engkau harus menerima bahwa tugas ini adalah dari Tuhan. Inilah syaratnya. Selain itu, apa pun tugasmu, jangan membedakan antara tugas yang tinggi dan rendah. Misalkan engkau berkata, "Meskipun tugas ini adalah amanat dari Tuhan dan merupakan pekerjaan rumah Tuhan, jika aku melakukannya, orang-orang mungkin akan memandang rendah diriku. Orang-orang lain dapat melakukan pekerjaan yang membuat mereka menonjol. Aku telah diberi tugas ini, yang tidak membuatku menonjol tetapi membuatku berupaya keras di balik layar, ini tidak adil! Aku tidak akan melaksanakan tugas ini. Tugasku haruslah sebuah tugas yang membuatku menonjol di depan orang lain dan memungkinkanku untuk menjadi terkenal—dan bahkan jika aku tidak terkenal atau menonjol, aku harus tetap mendapatkan manfaat darinya dan merasa nyaman secara fisik." Apakah ini sikap yang bisa diterima? Bersikap pilih-pilih artinya tidak menerima apa yang berasal dari Tuhan; artinya membuat pilihan sesuai preferensimu sendiri. Ini artinya tidak menerima tugasmu; artinya menolak tugasmu, yang adalah perwujudan dari pemberontakanmu terhadap Tuhan. Sikap pilih-pilih seperti itu dicemari oleh preferensi dan keinginan pribadimu. Ketika engkau mempertimbangkan keuntunganmu sendiri, reputasimu, dan sebagainya, maka sikapmu terhadap tugasmu bukanlah tunduk. Sikap apakah yang seharusnya engkau miliki terhadap tugasmu? Pertama, engkau tidak sepatutnya menganalisisnya, berusaha mencari tahu siapa yang sudah menugaskannya kepadamu; sebaliknya, sepatutnyalah engkau menerimanya dari Tuhan, sebagai tugas yang dipercayakan kepadamu oleh Tuhan, dan engkau seharusnya menaati penataan dan pengaturan Tuhan, dan menerima tugasmu itu dari Tuhan. Kedua, jangan membeda-bedakan antara tugas yang tinggi dan yang rendah, dan jangan memusingkan dirimu dengan natur dari tugas tersebut, apakah tugas itu akan membuatmu menonjol atau tidak, apakah tugas itu dilakukan di depan umum atau di belakang layar. Jangan mempertimbangkan hal-hal ini. Ada juga sikap yang lain: ketundukan dan kerja sama secara aktif. Jika engkau merasa mampu melaksanakan suatu tugas tertentu, tetapi engkau juga takut melakukan kesalahan dan disingkirkan, sehingga engkau menjadi ragu-ragu, berhenti melangkah maju, dan tak dapat mencapai kemajuan, maka apakah itu sikap tunduk? Misalnya, jika saudara-saudarimu memilihmu menjadi pemimpin mereka, engkau mungkin merasa berkewajiban untuk melaksanakan tugas ini karena engkau sudah dipilih, tetapi engkau tidak memperlakukan tugas ini dengan sikap proaktif. Mengapa engkau tidak proaktif? Karena engkau berpikiran dan merasa bahwa, "Menjadi pemimpin sama sekali bukan hal yang baik. Bagai telur di ujung tanduk atau genting menanti putus, biang menanti tembuk. Jika aku melakukan pekerjaan dengan baik, maka tidak akan ada penghargaan, tetapi jika aku melakukan pekerjaan dengan buruk, maka aku akan dipangkas. Dan dipangkas bahkan sama sekali bukan hal yang terburuk. Bagaimana jika aku digantikan, atau disingkirkan? Jika itu yang terjadi, bukankah semuanya sudah berakhir bagiku?" Pada saat itu, engkau mulai merasakan pergumulan dalam batinmu. Sikap apakah ini? Ini adalah sikap waspada dan salah paham. Ini adalah sikap yang tidak seharusnya orang miliki dalam tugas mereka. Ini adalah sikap berkecil hati dan negatif. Jadi, sikap yang positif itu seharusnya seperti apa? (Kami harus berhati terbuka dan berterus terang, serta memiliki keberanian untuk memikul beban.) Ini seharusnya berupa ketundukan dan kerja sama yang proaktif. Apa yang engkau semua katakan itu omong kosong. Bagaimana engkau bisa memiliki hati yang terbuka dan berterus terang sementara engkau begitu ketakutan seperti ini? Dan apa yang dimaksud dengan memiliki keberanian untuk memikul beban? Mentalitas apa yang akan memberimu keberanian untuk memikul beban? Jika engkau selalu takut kalau-kalau akan ada sesuatu yang tidak beres dan engkau tidak akan mampu menanganinya, dan engkau memiliki banyak rintangan batin, berarti pada dasarnya engkau tidak akan punya keberanian untuk memikul beban. "Berhati terbuka dan berterus terang," "memiliki keberanian untuk memikul beban," atau "pantang mundur meski maut mengadang" yang engkau semua bicarakan agak terdengar seperti slogan-slogan yang diteriakkan oleh anak-anak muda yang marah. Dapatkah slogan-slogan ini menyelesaikan masalah-masalah nyata? Yang diperlukan sekarang adalah sikap yang benar. Untuk memiliki sikap yang benar, engkau harus memahami aspek kebenaran ini. Inilah satu-satunya cara untuk mengatasi kesulitan batinmu, dan memungkinkanmu dengan mulus menerima amanat ini, tugas ini. Inilah jalan penerapannya, dan hanya inilah kebenarannya. Jika engkau menggunakan istilah seperti "berhati terbuka dan berterus terang" dan "memiliki keberanian untuk memikul beban" untuk mengatasi ketakutan yang kaurasakan, apakah ini akan efektif? (Tidak.) Ini menunjukkan bahwa hal-hal ini bukanlah kebenaran, juga bukan jalan penerapan. Engkau mungkin berkata, "Aku ini berhati terbuka dan berterus terang, aku ini orang yang teguh, tidak ada pemikiran lain atau kecemaran dalam hatiku, dan aku memiliki keberanian untuk memikul beban." Secara lahiriah, engkau memikul tugasmu, tetapi kemudian, sesudah merenungkannya selama beberapa saat, engkau masih merasa bahwa engkau tidak dapat memikulnya. Engkau mungkin masih merasa takut. Selain itu, engkau mungkin melihat orang-orang lain dipangkas, dan engkau bahkan menjadi makin takut, seperti anjing yang dicambuk ketakutan saat melihat tali pencambuknya. Engkau akan makin merasa bahwa tingkat pertumbuhanmu terlalu rendah, dan bahwa tugas ini seperti jurang yang luas dan tak terseberangi, dan pada akhirnya engkau akan tetap tidak mampu memikul beban ini. Itulah sebabnya meneriakkan slogan-slogan tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah nyata. Jadi, bagaimana engkau dapat benar-benar menyelesaikan masalah ini? Engkau harus secara aktif mencari kebenaran dan mengambil sikap tunduk dan kooperatif. Itu benar-benar dapat menyelesaikan masalah. Rasa malu, takut, dan khawatir tidak ada gunanya. Apakah ada hubungan antara apakah engkau akan disingkapkan dan disingkirkan atau tidak dengan menjadi pemimpin? Jika engkau bukan pemimpin, apakah watak rusakmu akan lenyap? Cepat atau lambat, engkau harus menyelesaikan masalah watak rusakmu. Selain itu, jika engkau bukan pemimpin, engkau tidak akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk berlatih dan kemajuanmu dalam hidup akan lambat, kesempatanmu untuk disempurnakan hanya sedikit. Meskipun ada sedikit lebih banyak penderitaan ketika menjadi pemimpin atau pekerja, hal itu juga mendatangkan banyak keuntungan, dan jika engkau mampu menempuh jalan mengejar kebenaran, engkau akan dapat disempurnakan. Sungguh berkat yang besar! Jadi, engkau harus tunduk dan bekerja sama secara aktif. Ini adalah tugas dan tanggung jawabmu. Apa pun jalan yang ada di depan, engkau harus memiliki hati yang tunduk. Inilah sikap yang harus engkau miliki dalam melaksanakan tugasmu.

Topik pelaksanaan tugas bukanlah hal asing bagi siapa pun; ini bukan subjek baru. Namun, bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan, topik ini sangat penting; ini adalah kebenaran yang harus dipahami dan dimasuki. Makhluk ciptaan harus melaksanakan tugasnya dengan baik sebelum dia diperkenan oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang untuk memahami apa arti melaksanakan tugas. Pelaksanaan tugas bukan semacam teori, juga bukan slogan, melainkan salah satu aspek kebenaran. Jadi, apa yang dimaksud dengan melaksanakan tugas? Dan masalah apa sajakah yang dapat diselesaikan dengan memahami aspek kebenaran ini? Paling tidak, pelaksanaan tugas dapat menyelesaikan masalah tentang bagaimana engkau seharusnya menerima dan memperlakukan amanat Tuhan, serta sikap dan tekad seperti apa yang seharusnya engkau miliki ketika menyelesaikan amanat yang telah dipercayakan Tuhan kepadamu. Engkau juga dapat mengatakan bahwa pelaksanaan tugas akan sekaligus mengatasi hubungan yang tidak normal antara manusia dan Tuhan. Ada orang yang menganggap pelaksanaan tugas sebagai modal, ada yang menganggap pelaksanaan tugas sebagai tugas pribadinya sendiri, dan ada yang menganggap pelaksanaan tugasnya sebagai pekerjaan dan usahanya sendiri, atau menganggap tugas sebagai semacam rekreasi, hiburan, atau hobi untuk mengisi waktu luang. Singkatnya, tidak peduli bagaimana sikapmu terhadap tugasmu, jika engkau tidak menerimanya dari Tuhan, dan jika engkau tidak memperlakukannya sebagai tugas yang harus dilakukan makhluk ciptaan dalam pekerjaan pengelolaan Tuhan, atau tugas yang mereka gunakan untuk bekerja sama, berarti apa yang sedang kaulakukan bukanlah melaksanakan tugas. Apakah benar jika engkau memperlakukan tugasmu sebagai urusan keluarga? Apakah benar jika engkau memperlakukan tugasmu sebagai bagian dari pekerjaan atau hobimu sendiri? Apakah benar jika engkau memperlakukan tugasmu sebagai urusan pribadi? Tidak ada satu pun dari semua itu yang benar. Mengapa topik ini perlu dibahas? Masalah apakah yang akan terselesaikan dengan mempersekutukan topik ini? Ini akan menyelesaikan masalah orang-orang yang memiliki sikap yang tidak benar terhadap tugas mereka, dan beragam cara mereka melaksanakan tugas mereka dengan asal-asalan. Hanya dengan memahami aspek kebenaran yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, sikap orang terhadap tugas mereka akan berubah. Sikap mereka perlahan-lahan akan menjadi sesuai dengan kebenaran, itu akan memenuhi tuntutan Tuhan, dan sesuai dengan maksud-Nya. Jika orang tidak memahami aspek kebenaran yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, akan muncul masalah dalam sikap mereka terhadap tugas mereka dan prinsip-prinsip di balik tugas mereka, dan mereka tidak akan mampu mencapai hasil dari pelaksanaan tugas. Tugas adalah amanat yang dipercayakan Tuhan kepada manusia; tugas adalah misi yang harus orang selesaikan. Namun, tugas tentu saja bukan pekerjaanmu sendiri, juga bukan batu loncatan bagimu untuk terlihat paling menonjol. Ada orang-orang yang menggunakan tugas mereka sebagai kesempatan untuk mengurus pekerjaan mereka sendiri dan membentuk kelompok tertutup; ada yang menggunakan tugas untuk memuaskan keinginan mereka; ada yang menggunakan tugas untuk mengisi kekosongan yang mereka rasakan di dalam diri mereka; dan ada yang menggunakan tugas untuk memuaskan mentalitas mereka yang percaya pada keberuntungan, beranggapan bahwa selama mereka melaksanakan tugasnya, mereka akan mendapat bagian dalam rumah Tuhan dan mendapatkan tempat tujuan indah yang Tuhan atur bagi manusia. Sikap terhadap tugas seperti itu tidak benar; sikap seperti itu dibenci Tuhan dan harus segera dibereskan.

Mengenai apa yang dimaksud dengan tugas, bagaimana orang seharusnya memperlakukan tugasnya, dan sikap serta pandangan yang harus dimiliki orang terhadap tugas, hal-hal ini sebagian besar sudah dipersekutukan. Engkau semua harus dengan saksama merenungkannya; memahami kebenaran dalam aspek-aspek ini adalah hal yang paling penting dan mendesak. Kebenaran apakah yang paling perlu engkau semua pahami sekarang ini? Di satu sisi, engkau perlu memahami kebenaran yang terkait dengan visi-visi dalam aspek ini; di sisi lain, engkau perlu memahami di mana letak kesalahpahaman dan pemahamanmu yang menyimpang tentang kebenaran ini dalam penerapan dan dalam kehidupan nyata. Ketika engkau menghadapi masalah yang menyangkut kebenaran tentang pelaksanaan tugas, jika perkataan dan kebenaran ini dapat membereskan keadaan batinmu, itu membuktikan bahwa engkau sudah benar-benar dan sepenuhnya memahami isi persekutuan; jika perkataan dan kebenaran ini tidak dapat menyelesaikan kesulitan yang kauhadapi sehari-hari dalam hal pelaksanaan tugasmu, itu menunjukkan bahwa engkau belum masuk ke dalam kebenaran ini. Sesudah mendengarkan kebenaran ini, sudahkah engkau semua merangkum dan merenungkannya? Setiap kali mencatat, apakah engkau langsung memahaminya, tetapi seiring berjalannya waktu, engkau lupa, seolah-olah engkau belum pernah mendengarnya? (Ya.) Ini karena engkau sendiri tidak memiliki jalan masuk sedikit pun; apa yang engkau semua terapkan pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan kebenaran ini dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Pada kenyataannya, kebenaran tentang pelaksanaan tugas ini adalah kebenaran paling mendasar yang harus dipahami dan dimasuki orang dalam proses percaya kepada Tuhan. Jika sesudah mendengar perkataan kebenaran ini engkau masih bingung dan kacau, berarti kualitasmu benar-benar terlalu buruk, dan engkau tidak punya tingkat pertumbuhan sama sekali. Engkau hanya dapat membaca firman Tuhan, hanya berdoa dan menghadiri pertemuan; engkau melakukan apa pun yang diminta, sama seperti orang yang beragama. Ini berarti bahwa engkau tidak memiliki jalan masuk kehidupan dan tingkat pertumbuhan sama sekali. Apa yang dimaksud dengan tidak memiliki tingkat pertumbuhan? Artinya, dalam proses percaya kepada Tuhan dan pelaksanaan tugasmu, begitu ada seseorang yang menyesatkanmu, engkau akan mengikutinya dan berhenti percaya kepada Tuhan; jika engkau melakukan sesuatu yang salah dan seseorang memangkasmu sedikit, berbicara kepadamu dengan cara yang agak keras, engkau mungkin akan meninggalkan kepercayaanmu; jika engkau mengalami kemunduran atau berbagai kesulitan dalam hidupmu, engkau mungkin mengeluh tentang Tuhan, dan melihat bahwa Dia tidak menganugerahimu kasih karunia dan tidak mengatasi kesulitanmu, engkau dapat berpaling dan meninggalkan rumah Tuhan, dan tidak lagi percaya. Jika engkau sudah masuk ke dalam beberapa aspek kebenaran tentang pelaksanaan tugas—kebenaran yang paling mendasar ini—itu membuktikan bahwa engkau sudah terhubung dengan kebenaran; engkau sudah terhubung dengan kenyataan kebenaran, dan sudah memiliki jalan masuk. Jika engkau tidak memiliki apa-apa dari kenyataan kebenaran ini, bahkan sedikit pun tidak, itu membuktikan bahwa kebenaran belum berakar dalam hatimu.

Aku baru saja bersekutu tentang apa itu tugas, juga asal-usul dan perkembangan tugas, supaya orang memahami apa tepatnya tugas itu. Apa manfaat mengetahui hal ini? Begitu orang memahami kebenaran tentang apa itu tugas, mereka akan mengetahui pentingnya tugas. Setidaknya, jauh di dalam lubuk hati, mereka akan merasa bahwa mereka harus mempunyai sikap yang benar terhadap tugas dan bahwa mereka tidak boleh bertindak sesuka hati. Setidaknya, konsep ini akan ada dalam benak mereka. Meskipun tugas adalah apa yang seharusnya kaulaksanakan, dan merupakan amanat serta misi yang diberikan Tuhan kepadamu, tugas bukanlah urusan pribadimu, juga bukan pekerjaanmu sendiri. Ini mungkin terdengar kontradiktif, tetapi memang inilah kebenarannya. Kebenaran apa pun mempunyai sisi nyata yang berhubungan dengan penerapan dan jalan masuk orang, serta tuntutan Tuhan. Kebenaran bukanlah sesuatu yang kosong. Beginilah kebenaran itu; hanya dengan mengalami dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran ini, barulah engkau dapat makin memahami aspek kebenaran ini. Jika engkau selalu mempertanyakan kebenaran, terus memunculkan keraguan, dan terus memeriksa serta menganalisis, kebenaran tidak akan pernah menjadi kebenaran bagimu. Kebenaran tidak akan berkaitan dengan kehidupan nyatamu dan tidak akan mampu mengubah apa pun mengenaimu. Jika orang menerima kebenaran dari lubuk hatinya dan menjadikan itu sebagai pedoman hidup dan bertindak, sebagai pedoman dalam berperilaku dan percaya kepada Tuhan, kebenaran akan mengubah hidupnya. Kebenaran akan mengubah tujuan hidupnya, arah hidupnya, dan caranya berinteraksi dengan orang lain. Inilah efek dari kebenaran. Memahami apa itu tugas tentunya akan sangat bermanfaat dan membantu orang dalam pelaksanaan tugasnya. Paling tidak, orang akan mengetahui bahwa tugas sangatlah penting bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan, dan bahkan lebih penting lagi bagi mereka yang tertarik atau memiliki tuntutan atau keinginan khusus untuk diselamatkan dan disempurnakan. Inilah kebenaran paling mendasar yang harus dipahami oleh siapa pun agar dapat diselamatkan, dan ini juga merupakan kebenaran paling mendasar yang harus orang masuki. Jika engkau tidak memahami apa itu tugas, berarti engkau tidak akan tahu cara melaksanakan tugasmu dengan benar, dan engkau juga tidak akan tahu sikap yang benar dalam menerima dan menganggap tugasmu. Ini berbahaya. Di satu sisi, engkau tidak akan mungkin mampu melaksanakan tugasmu dengan baik, dan engkau akan bertindak sesuka hati dan bersikap asal-asalan; di sisi lain, engkau mungkin akan melakukan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, atau bahkan melakukan perbuatan jahat yang melanggar ketetapan administratif Tuhan. Singkatnya, engkau mungkin akan diasingkan untuk bermenung diri, dan dalam kasus yang parah, engkau dapat disingkirkan. Oleh karena itu, meskipun memahami apa yang dimaksud dengan tugas merupakan aspek kebenaran yang sangat mendasar, hal ini berhubungan dengan keselamatan orang; ini bukannya tidak relevan, melainkan sangat penting. Setelah memahami apa itu tugas, bukan sekadar mengenal suatu doktrin, hasil yang diharapkan adalah untuk memungkinkan orang memahami maksud Tuhan dan memperlakukan tugasnya dengan sikap yang benar. Dalam pelaksanaan tugas apa pun, tidak ada hasil yang dapat dicapai hanya dengan mengerahkan upaya; selalu berpikir bahwa tugas dapat dilaksanakan secara benar hanya dengan mengerahkan upaya menunjukkan tidak adanya pemahaman rohani. Sesungguhnya, pelaksanaan tugas melibatkan banyak detail, termasuk memiliki pola pikir yang benar, prinsip-prinsip penerapan dan ketundukan sejati, serta memiliki hikmat rohani. Hanya ketika orang memiliki aspek-aspek kebenaran ini, barulah dia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan sepenuhnya menyelesaikan masalah tentang pelaksanaan tugas dengan sikap asal-asalan. Mereka yang tidak memiliki sikap yang benar terhadap tugas mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kenyataan kebenaran; mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan tidak memiliki hati nurani serta nalar. Jadi, untuk mengikut Tuhan, orang harus memahami makna penting dari pelaksanaan tugas; ini adalah hal yang sangat penting untuk mengikut Tuhan.

Sesudah memahami apa itu tugas dan asal-usulnya, engkau akan dapat membedakan antara natur tugas dan natur pekerjaan dalam masyarakat. Apakah perbedaan antara memperlakukan pekerjaan yang telah dipercayakan kepadamu oleh rumah Tuhan sebagai tugas dan memperlakukannya sebagai pekerjaan duniawi? Jika engkau memperlakukannya sebagai tugas, engkau perlu mencari maksud Tuhan dan kebenaran. Engkau akan berkata, "Ini tugasku, jadi bagaimana aku harus mengerjakannya? Apa yang Tuhan tuntut? Apa saja peraturan gereja? Aku harus dengan jelas memahami prinsip-prinsip yang ada di baliknya." Hanya penerapan dengan cara seperti inilah sikap yang benar dalam memperlakukan tugasmu; hanya inilah sikap yang seharusnya dimiliki orang terhadap tugasnya. Namun, sikap seperti apa yang seharusnya dimiliki orang ketika menangani pekerjaan atau urusan duniawi dalam kehidupan pribadinya? Lantas, perlukah mencari kebenaran atau prinsip? Engkau mungkin juga mencari prinsip, tetapi prinsip itu hanya tentang menghasilkan lebih banyak uang, menjalani kehidupan yang baik, mengumpulkan kekayaan, mencapai kesuksesan, dan memperoleh baik ketenaran maupun keuntungan. Hanya prinsip yang seperti itu. Prinsip itu sepenuhnya bersifat duniawi, merupakan tren masa kini; prinsip itu adalah prinsip Iblis dan umat manusia yang jahat ini. Apa saja prinsip pelaksanaan tugas? Prinsip itu pastinya harus memenuhi tuntutan Tuhan; prinsip itu berhubungan erat dan tak terpisahkan dari kebenaran dan tuntutan Tuhan. Sebaliknya, profesi atau pekerjaan yang digeluti orang di dunia tidak ada hubungannya dengan kebenaran atau tuntutan Tuhan. Selama engkau mampu, bersedia menanggung kesukaran, dan giat, jahat, serta cukup berani, engkau bisa menonjol di tengah masyarakat dan mungkin bahkan dapat membangun karier yang gemilang. Namun, prinsip dan filosofi ini tidak diperlukan di rumah Tuhan. Di rumah Tuhan, apa pun jenis tugas yang kaulaksanakan, apa pun natur tugas itu, entah itu dipandang tinggi atau rendah, mulia atau hina, entah tugas itu tampak mencolok atau tidak, entah itu dipercayakan kepadamu oleh Tuhan atau ditugaskan kepadamu oleh seorang pemimpin gereja, apa pun pekerjaan yang ditugaskan rumah Tuhan kepadamu, prinsip yang kaupegang teguh dalam melakukan pekerjaanmu tidak boleh melebihi prinsip-prinsip kebenaran. Prinsip itu harus berhubungan dengan kebenaran, berhubungan dengan tuntutan Tuhan, dan berhubungan dengan peraturan serta pengaturan kerja dari rumah Tuhan. Singkatnya, tugas dan pekerjaan yang digeluti orang di dunia seharusnya dibedakan satu sama lain.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp