Firman Tuhan | "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik V: Kekudusan Tuhan (II)" (Bagian Dua)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Ada orang-orang yang bertanya: "Firman Tuhan mengharuskan manusia untuk mengambil posisi sebagai makhluk ciptaan dan melaksanakan tugasnya sebagai makhluk ciptaan. Kami tidak diperbolehkan menjadi manusia super atau manusia yang hebat, tetapi aku selalu merasakan ambisi dan keinginan seperti itu. Aku tidak puas menjadi manusia biasa. Lalu, apa yang harus kulakukan?" Masalah ini sangat sederhana. Mengapa engkau tidak mau menjadi manusia biasa? Jika engkau terlebih dahulu menyelidiki sampai ke inti pertanyaan ini, masalahmu akan mudah diselesaikan. Tuhan menuntut agar manusia menjadi orang yang jujur. Inilah hal yang paling bermakna. Jika engkau memahami kebenaran tentang apa yang dimaksud dengan menjadi orang jujur, engkau akan tahu bahwa menjadi orang yang jujur berarti menjadi orang yang memiliki kemanusiaan yang normal, manusia sejati. Apa sajakah ciri-ciri lahiriah dari orang yang jujur? Menjadi orang yang jujur berarti menjadi manusia yang normal. Seperti apa naluri, pemikiran, dan nalar alami dari manusia yang normal? Bagaimanakah perkataan dan perbuatan manusia yang normal terlihat? Manusia yang normal mampu berbicara dari hatinya. Mereka akan mengatakan apa pun yang terkandung dalam hati mereka tanpa kepalsuan atau kebohongan apa pun. Jika mereka mampu memahami suatu hal yang mereka hadapi, mereka akan bertindak berdasarkan hati nurani dan nalar mereka. Jika mereka tidak mampu memahaminya dengan jelas, mereka juga akan membuat kesalahan dan gagal, mereka akan memiliki kesalahpahaman, gagasan, dan imajinasi pribadi, dan mereka akan dibutakan oleh ilusi di depan mata mereka. Ini adalah ciri-ciri lahiriah dari kemanusiaan yang normal. Apakah ciri-ciri lahiriah dari kemanusiaan yang normal ini memenuhi tuntutan Tuhan? Tidak. Manusia tidak mampu memenuhi tuntutan Tuhan jika mereka tidak memiliki kebenaran. Ciri-ciri lahiriah dari kemanusiaan yang normal ini ada pada manusia biasa yang rusak. Ini adalah hal-hal yang manusia miliki sejak lahir, hal-hal yang merupakan bawaannya. Engkau harus membiarkan dirimu menunjukkan ciri-ciri dan penyingkapan lahiriah ini. Sambil membiarkan dirimu menunjukkan ciri-ciri dan penyingkapan lahiriah ini, engkau harus memahami bahwa hal-hal tersebut adalah naluri alami, kualitas, dan natur bawaan manusia. Apa yang harus kaulakukan setelah engkau memahami hal ini? Engkau harus memandangnya dengan benar. Namun, bagaimana engkau menerapkan pandangan yang benar ini? Hal ini dilakukan dengan lebih banyak membaca firman Tuhan, makin memperlengkapi dirimu dengan kebenaran, membawa hal-hal yang tidak kaupahami, hal-hal yang tentangnya engkau memiliki gagasan, dan hal-hal yang mungkin membuatmu lebih sering membuat penilaian yang salah terhadap Tuhan untuk kaurenungkan dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan semua masalahmu. Jika engkau mengalami hal seperti ini untuk sementara, tidak jadi masalah jika engkau gagal dan tersandung beberapa kali. Hal yang terpenting adalah engkau mampu dengan jelas memahami hal-hal ini dalam firman Tuhan dan mengetahui cara menerapkannya berdasarkan prinsip dan maksud Tuhan. Ini menunjukkan bahwa engkau telah memetik pelajaran. Setelah melewati beberapa tahun kegagalan dan tersandung, jika engkau memahami dengan jelas esensi manusia yang rusak, memahami sumber kegelapan dan kejahatan di dunia, dan mengenali berbagai jenis orang, peristiwa, dan hal-hal, maka engkau akan mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Karena engkau bukan manusia super atau manusia yang hebat, engkau tak mampu mengerti dan memahami segala sesuatu. Mustahil bagimu untuk memahami dunia secara sekilas, memahami manusia secara sekilas, dan memahami segala sesuatu yang terjadi di sekelilingmu secara sekilas. Engkau orang biasa. Engkau harus mengalami banyak kegagalan, banyak periode kebingungan, banyak penilaian yang salah, dan banyak penyimpangan. Hal ini dapat sepenuhnya menyingkapkan watakmu yang rusak, kelemahan dan kekuranganmu, ketidaktahuan dan kebodohanmu, memampukanmu memeriksa kembali dirimu dan mengenal dirimu sendiri, serta memiliki pengetahuan tentang kemahakuasaan Tuhan, hikmat sepenuhnya, dan watak-Nya. Engkau akan mendapatkan hal-hal positif dari-Nya, dan mulai memahami kebenaran dan memasuki kenyataannya. Akan ada banyak hal di tengah pengalamanmu yang tidak berjalan seperti yang engkau inginkan, dan terhadap hal itu engkau akan merasa tidak berdaya. Dengan mengalami semua ini, engkau harus mencari dan menunggu; engkau harus memperoleh jawaban dari Tuhan untuk setiap masalah, dan memahami dari firman-Nya esensi mendasar dari setiap masalah dan esensi dari setiap jenis orang. Beginilah caranya orang yang biasa dan normal berperilaku. Engkau harus belajar berkata, "Aku tak bisa," "Itu di luar kemampuanku," "Aku tak bisa memahaminya," "Aku belum mengalaminya," "Aku tak tahu apa-apa," "Mengapa aku begitu lemah? Mengapa aku begitu tak berguna?" "Kualitasku sangat buruk," "Aku sangat mati rasa dan bodoh," "Aku sangat bodoh sehingga perlu waktu beberapa hari sebelum aku mampu memahami hal ini dan menanganinya," dan "Aku perlu membahas hal ini dengan seseorang". Engkau harus belajar menerapkan dengan cara seperti ini. Ini adalah ciri lahiriah dari pengakuanmu bahwa engkau adalah manusia yang normal dan dari keinginanmu untuk menjadi manusia yang normal. Mereka yang menganggap dirinya sebagai orang yang hebat dan perkasa, yang menganggap dirinya bukan manusia biasa melainkan manusia yang unggul dan manusia super, mereka tidak pernah berkata "Aku tak mampu", "Itu di luar kemampuanku," "Aku tak mampu memahaminya," "Aku tak tahu, aku harus belajar, aku harus mencarinya, aku harus mencari orang untuk kuajak bersekutu, aku harus mencari dari Yang di Atas." Mereka tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu. Terutama setelah mereka memperoleh status, orang seperti ini tidak ingin orang menganggap bahwa mereka adalah manusia biasa, dan sama seperti orang lain, ada hal-hal yang tidak mampu mereka lakukan, atau hal-hal yang tidak mampu mereka pahami atau ketahui maksudnya. Sebaliknya, mereka selalu ingin orang salah mengira mereka sebagai manusia super. Oleh karena itu, ketika sesuatu terjadi pada diri mereka, mereka tidak perlu lebih sering membawa masalah tersebut ke hadapan Tuhan dan mempersembahkan hati yang tulus kepada-Nya. Mereka tidak perlu mencari. Mereka memahami, mempelajari, dan mengerti segala sesuatu yang terjadi pada mereka dalam hitungan menit. Mereka tidak memiliki kerusakan atau kelemahan. Tidak ada sesuatu pun yang tidak mampu mereka pahami, tidak ada sesuatu pun yang belum mereka alami. Meskipun ada sesuatu yang belum mereka alami, mereka akan memahaminya secara sekilas. Mereka benar-benar manusia super yang sempurna. Inikah perwujudan kemanusiaan yang normal? (Bukan.) Jika demikian, apakah mereka adalah manusia yang normal? Tentu saja bukan. Orang semacam ini tidak mengakui bahwa mereka adalah manusia biasa, bahwa mereka memiliki kelemahan, kekurangan, dan watak yang rusak. Jadi, mampukah mereka lebih sering menghadap ke hadirat Tuhan dengan hati yang tulus untuk mencari dan berdoa? Tentu saja tidak. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, dan mereka juga belum hidup dalam kemanusiaan yang normal.
Katakan kepada-Ku, bagaimana engkau menjadi manusia yang biasa dan normal? Bagaimana engkau, seperti yang Tuhan firmankan, dapat dengan benar menempatkan dirinya sebagai makhluk ciptaan—bagaimana engkau mampu untuk tidak berusaha menjadi manusia super, atau sosok yang hebat? Bagaimana seharusnya engkau berlatih menjadi orang biasa dan normal? Bagaimana ini bisa dilakukan? Siapa yang akan menjawab? (Pertama-tama, kami harus mengakui bahwa kami adalah manusia biasa, manusia yang sangat biasa-biasa saja. Ada banyak hal yang tidak kami pahami, tidak kami mengerti, dan tidak mampu kami ketahui maksudnya. Kami harus mengakui bahwa kami rusak dan bercacat. Setelah itu, kami harus memiliki hati yang tulus dan sering menghadap ke hadirat Tuhan untuk mencari.) Pertama, jangan memberi gelar pada dirimu sendiri dan menjadi terikat oleh gelar tersebut, dengan berkata, "Aku ini seorang pemimpin, kepala tim, aku pengawas, tak seorang pun tahu urusan ini lebih baik daripadaku, tak seorang pun mengerti keahlian ini lebih daripadaku." Jangan terjebak dalam gelar yang kau tunjuk sendiri. Begitu engkau melakukannya, itu akan mengikat tangan dan kakimu, dan apa yang kaukatakan dan lakukan akan terpengaruh. Pemikiran dan penilaian normalmu juga akan terpengaruh. Engkau harus membebaskan diri dari belenggu status ini. Pertama-tama, turunkan dirimu dari gelar dan kedudukan resmi ini dan tempatkanlah dirimu sebagai orang biasa. Jika engkau melakukannya, mentalitasmu akan menjadi sedikit normal. Engkau juga harus mengakui dan berkata, "Aku tidak tahu bagaimana melakukan ini, dan aku juga tidak mengerti itu—aku harus melakukan penelitian dan belajar," atau "aku tidak pernah mengalami ini, jadi aku tidak tahu harus berbuat apa." Ketika engkau mampu mengatakan apa yang sebenarnya kaupikirkan dan mengatakannya dengan jujur, engkau akan memiliki nalar yang normal. Orang lain akan mengetahui dirimu yang sebenarnya, dan dengan demikian akan memiliki pandangan yang normal tentang dirimu, dan engkau tidak perlu berpura-pura, engkau juga tidak akan merasa sangat tertekan, sehingga engkau akan dapat berkomunikasi dengan orang-orang secara normal. Hidup seperti ini adalah hidup yang bebas dan mudah; siapa pun yang mendapati hidupnya melelahkan, mereka sendirilah yang menyebabkannya. Jangan berpura-pura atau menyembunyikan sesuatu. Pertama-tama, engkau harus membuka diri tentang apa yang kaupikirkan di dalam hatimu, tentang pikiranmu yang sebenarnya, sehingga semua orang menyadari dan memahaminya. Sebagai hasilnya, kekhawatiranmu dan hambatan serta kecurigaan di antaramu dan orang lain semuanya akan sirna. Selain itu, engkau juga terbelenggu oleh sesuatu yang lain. Engkau selalu menganggap dirimu sebagai kepala tim, pemimpin, pekerja, atau seseorang yang bergelar, berstatus, dan berposisi: jika engkau berkata engkau tidak mengerti sesuatu, atau tidak mampu melakukan sesuatu, bukankah engkau sedang merendahkan dirimu sendiri? Ketika engkau mengesampingkan semua belenggu ini di dalam hatimu, ketika engkau tidak lagi menganggap dirimu sebagai pemimpin atau pekerja, dan ketika engkau tidak lagi berpikir dirimu lebih baik daripada orang lain, dan merasa bahwa engkau hanya manusia biasa, yang sama dengan orang lain, dan bahwa ada beberapa area di mana engkau lebih rendah dari orang lain—ketika engkau mempersekutukan kebenaran dan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dengan sikap ini, maka dampaknya akan berbeda, demikian juga suasananya akan berbeda. Jika, dalam hatimu, engkau selalu memiliki perasaan waswas, jika engkau selalu merasa stres dan terbelenggu, dan jika engkau ingin melepaskan diri dari hal-hal ini tetapi tidak bisa, maka engkau harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, merenungkan dirimu, melihat kekuranganmu, dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Jika engkau mampu menerapkan kebenaran, engkau akan memperoleh hasil. Apa pun yang kaulakukan, jangan berbicara dan bertindak dari posisi tertentu atau menggunakan gelar tertentu. Pertama-tama, kesampingkan semua hal ini, dan tempatkan dirimu pada posisi seorang manusia biasa. Ketika seseorang berkata, "Bukankah engkau pemimpinnya? Bukankah engkau yang bertanggung jawab atas tim? Engkau seharusnya memahami hal ini." Sebagai tanggapan, engkau berkata: "Di manakah dalam firman Tuhan yang mengatakan bahwa jika engkau seorang pemimpin atau ketua tim, engkau mampu memahami segalanya? Aku tidak memahami hal ini. Jangan menggunakan matamu untuk menilaiku. Kau terlalu banyak menuntut. Memang benar, aku adalah seorang pemimpin, tetapi pemahamanku tentang kebenaran masih terlalu dangkal dan aku tidak tahu keputusan apa yang harus kuambil karena aku belum mengalami hal ini dan aku masih belum mampu memahaminya. Aku perlu berdoa dan mencari. Tuhan telah berfirman, jangan tergesa-gesa mencari solusi tentang apa yang tak kaupahami. Kau selalu ingin aku memahaminya sekarang juga dan mengambil keputusan sekarang juga. Bagaimana jika aku mengambil keputusan yang salah? Siapa yang akan bertanggung jawab atas hal ini? Mampukah kau bertanggung jawab? Apakah kau ingin aku melakukan kesalahan? Dalam melakukan hal ini, apakah kau bertanggung jawab atasku? Kita harus bekerja bersama, berdoa dan mencari bersama-sama, dan menangani masalah ini dengan baik." Mampukah engkau melakukan ini? Apakah ini mudah untuk dilakukan? Jika engkau mampu berbicara kepada orang lain dengan tulus hati, maka engkau dapat berkata, "Sebenarnya, tingkat pertumbuhanku juga sangat rendah. Jika aku tidak mencari dan berdoa, aku bisa melakukan kesalahan kapan saja. Terkadang aku tidak bisa lepas dari kesalahan. Menurutmu, seberapa besar tingkat pertumbuhanku? Engkau sudah terlalu mengagumiku." Ketika orang lain mendengar apa yang kaukatakan, mereka akan merasa dalam hati bahwa engkau adalah orang yang sangat jujur yang mampu berbicara dari hati. Kemudian, mereka tidak akan menuntut terlalu banyak darimu, tetapi sebaliknya bekerja sama denganmu. Jika engkau menerapkan hal ini, engkau akan menjadi lebih rasional dalam segala hal yang kaulakukan, engkau tidak akan dikekang dan terikat oleh ketenaran, keuntungan, dan status, dan hatimu akan terbebaskan. Engkau akan mampu berbicara dan bertindak dengan hati terbuka, dan engkau akan mampu bekerja sama secara harmonis dengan orang lain serta memperlakukan saudara-saudari dengan benar. Pada saat ini, keadaanmu akan menjadi makin normal, dan tindakanmu menjadi makin masuk akal. Setiap orang akan dapat melihat hal ini dan berkata, "Pemimpin ini sudah benar-benar berubah. Dia benar-benar memiliki hati nurani dan nalar, dan dia telah hidup dalam kemanusiaan yang normal. Karena orang seperti inilah pemimpin kita, kita juga mendapatkan banyak manfaat!" Pada saat ini, ketika engkau melakukan pekerjaan lagi, entah engkau mencari dan berdoa atau pergi menemui orang lain untuk mengadakan persekutuan, apa yang kaulakukan adalah benar dan layak, dan engkau tidak akan merasa khawatir. Dalam segala hal yang kaulakukan, engkau melakukannya dengan kukuh dan mantap. Engkau tidak tergesa-gesa mencari solusi, tetapi membiarkan semuanya berjalan secara alami. Apa pun yang kauhadapi, engkau mampu membawanya ke hadapan Tuhan dan mempersembahkan hatimu yang tulus. Ini adalah prinsip yang dapat kauterapkan dalam segala hal. Setiap orang, entah pemimpin dan pekerja atau saudara-saudari, adalah manusia biasa. Mereka semua harus menerapkan prinsip ini. Setiap orang mempunyai andil dan tanggung jawab dalam menerapkan firman Tuhan. Mungkin engkau adalah seorang pemimpin, pekerja, ketua tim, penanggung jawab, atau orang yang sangat dihormati dalam kelompok. Siapa pun dirimu, engkau harus belajar menerapkan dengan cara seperti ini. Lepaskan gelar dan aura kemuliaan yang kaukenakan di kepalamu, lepaskan mahkota yang telah orang lain anugerahkan kepadamu. Kemudian, engkau akan merasa mudah untuk menjadi manusia yang normal dan, dengan mudah, engkau akan bertindak berdasarkan hati nurani dan akal sehat. Tentu saja, setelah itu, tidak cukup sekadar mengakui bahwa engkau tidak mengerti dan tidak tahu. Ini bukanlah solusi akhir yang dapat menyelesaikan masalah. Apa solusi akhirnya? Bawalah segala persoalan dan kesulitan ke hadapan Tuhan untuk kaudoakan dan kaucari. Tidaklah cukup jika satu orang berdoa sendirian. Sebaliknya, engkau harus memanjatkan doa mengenai masalah ini dan memikul tanggung jawab serta kewajiban ini bersama semua orang. Itulah cara yang luar biasa untuk melakukan segala hal! Engkau akan terhindar dari upaya menjadi sosok yang hebat dan manusia super. Jika engkau mampu melakukan hal ini, secara tidak sadar engkau akan mengambil posisi yang tepat sebagai makhluk ciptaan dan melepaskan dirimu dari kekangan ambisi dan keinginan untuk menjadi manusia super dan tokoh yang hebat.
Berdiri di posisi yang tepat sebagai makhluk ciptaan dan menjadi manusia biasa: Apakah ini mudah untuk dilakukan? (Tidak mudah.) Di manakah kesulitannya? Begini: Orang-orang selalu merasa bahwa di atas kepala mereka ada banyak lingkaran halo dan gelar. Mereka juga ingin memiliki identitas dan status sebagai tokoh yang hebat dan manusia super serta terlibat dalam semua praktik dan pertunjukan lahiriah yang pura-pura dan salah. Jika engkau tidak melepaskan hal-hal ini, jika perkataan dan perbuatanmu selalu dikekang dan dikendalikan oleh hal-hal ini, engkau akan merasa sulit untuk masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan. Akan sulit untuk tidak tergesa-gesa mencari solusi terhadap hal-hal yang tidak kaupahami dan sulit untuk lebih sering membawa masalah tersebut ke hadapan Tuhan serta mempersembahkan hati yang tulus kepada-Nya. Engkau tak akan mampu melakukan hal ini. Justru karena statusmu, gelarmu, identitasmu, dan semua hal semacam itu salah dan tidak benar, karena semuanya bertentangan dan berlawanan dengan firman Tuhan, hal-hal ini mengikatmu sehingga engkau tidak mampu menghadap ke hadirat Tuhan. Apa akibat dari hal-hal ini bagimu? Semua itu membuatmu pandai menyamarkan diri, berpura-pura mengerti, berpura-pura pintar, berpura-pura menjadi tokoh yang hebat, berpura-pura menjadi selebritas, berpura-pura mampu, berpura-pura bijaksana, bahkan berpura-pura tahu segalanya, mampu segalanya, dan mampu melakukan segalanya. Hal ini membuat orang lain akan memuja dan mengagumimu. Mereka akan mendatangimu dengan segala masalah mereka, mengandalkanmu dan menghormatimu. Dengan demikian, seolah-olah engkau memasukkan dirimu ke dalam kesusahan. Katakan kepada-Ku, apakah mengalami kesusahan enak rasanya? (Tidak.) Engkau tidak paham, tetapi engkau tidak berani berkata bahwa engkau tidak paham. Engkau tidak bisa mengerti, tetapi engkau tidak berani berkata bahwa engkau tidak bisa mengerti. Engkau jelas-jelas melakukan kesalahan, tetapi engkau tidak berani mengakuinya. Hatimu menderita, tetapi engkau tidak berani berkata, "Kali ini benar-benar salahku, aku berutang kepada Tuhan dan kepada saudara-saudariku. Aku telah menyebabkan kerugian besar bagi rumah Tuhan, tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk berdiri di hadapan semua orang dan mengakuinya." Mengapa engkau tidak berani berbicara? Engkau yakin, "Aku harus menjaga reputasi dan lingkaran halo yang telah diberikan oleh saudara-saudariku, aku tidak boleh mengkhianati rasa hormat dan kepercayaan besar yang mereka miliki terhadapku, apalagi harapan besar yang telah mereka miliki terhadapku selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, aku harus tetap berpura-pura." Seperti apakah penyamaran seperti itu? Engkau telah berhasil menjadikan dirimu sebagai tokoh yang hebat dan manusia super. Saudara-saudari ingin datang kepadamu untuk bertanya, berkonsultasi, dan bahkan memohon nasihatmu tentang masalah apa pun yang mereka hadapi. Tampaknya mereka bahkan tidak mampu hidup tanpamu. Namun, bukankah hatimu menderita? Tentu saja, ada orang-orang yang tidak merasakan penderitaan ini. Antikristus tidak merasakan penderitaan ini. Sebaliknya, mereka bergembira atasnya karena menganggap bahwa status mereka di atas segalanya. Namun, rata-rata orang yang normal menderita saat mengalami kesusahan. Mereka merasa bahwa mereka bukan apa-apa, sama seperti manusia biasa. Mereka tidak yakin bahwa mereka lebih kuat daripada orang lain. Mereka tidak hanya menganggap bahwa mereka tidak mampu melaksanakan pekerjaan nyata apa pun, tetapi mereka juga akan menunda pekerjaan gereja dan menunda umat pilihan Tuhan, sehingga mereka akan disalahkan dan mengundurkan diri. Ini adalah orang yang bernalar. Apakah masalah ini mudah untuk diselesaikan? Mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menyelesaikan masalah ini, tetapi sulit bagi orang yang tidak memiliki nalar. Jika, setelah memperoleh status, engkau tanpa malu-malu menikmati manfaat status sehingga engkau disingkapkan dan disingkirkan karena gagal melakukan pekerjaan nyata, engkau telah menanggungnya sendiri dan pantas mendapatkan apa yang kaudapatkan! Engkau tidak pantas mendapatkan bahkan sedikit pun rasa kasihan atau belas kasihan. Mengapa Aku mengatakan ini? Karena engkau bersikeras untuk berdiri di posisi yang tinggi. Engkau sendiri yang memasukkan dirimu ke dalam kesusahan. Engkau melukai dirimu sendiri. Jika engkau tidak ingin berada dalam kesusahan, engkau harus melepaskan semua gelar dan lingkaran cahaya ini dan memberi tahu saudara-saudarimu mengenai keadaan dan pemikiran sebenarnya di dalam hatimu. Dengan cara ini, saudara-saudari dapat memperlakukanmu dengan benar dan engkau tidak perlu menyamar. Sekarang setelah engkau membuka diri dan menjelaskan keadaanmu yang sebenarnya, bukankah hatimu terasa lebih nyaman, lebih tenang? Mengapa berjalan dengan memikul beban yang begitu berat di atas pundakmu? Jika engkau mengungkapkan keadaanmu yang sebenarnya, apakah saudara-saudari akan meremehkanmu? Akankah mereka benar-benar meninggalkanmu? Sama sekali tidak. Sebaliknya, saudara-saudari akan berkenan kepadamu dan mengagumimu karena engkau berani mengungkapkan isi hatimu. Mereka akan berkata bahwa engkau adalah orang yang jujur. Hal ini tidak akan menghalangi pekerjaanmu di gereja, juga tidak akan menimbulkan dampak negatif sedikit pun terhadapnya. Jika saudara-saudari benar-benar melihat bahwa engkau memiliki kesulitan, mereka akan dengan sukarela membantumu dan bekerja sama denganmu. Bagaimana menurutmu? Bukankah akan seperti ini jadinya? (Ya.) Selalu menyamar agar orang lain menghormatimu adalah hal yang paling bodoh. Cara yang terbaik adalah menjadi manusia biasa yang memiliki hati yang biasa, mampu membuka diri terhadap umat pilihan Tuhan dengan cara yang murni dan sederhana, serta sering berbagi secara tulus. Jangan pernah menerima jika orang lain menghormatimu, mengagumimu, memujimu secara berlebihan, atau mengucapkan kata-kata yang menyanjungmu. Semua hal ini harus ditolak. Sebagai contoh, ada orang-orang yang mungkin berkata, "Bukankah engkau adalah profesor di sebuah universitas? Karena engkau sangat berpengetahuan, engkau pasti memiliki pemahaman yang baik tentang kebenaran." Katakan kepada mereka, "Profesor universitas macam apa aku ini? Pengetahuan sebanyak apa pun tidak dapat menggantikan kebenaran. Pengetahuan ini telah membuatku sangat menderita. Pengetahuan ini sama sekali tak berguna. Jangan memandang tinggi terhadapku, aku hanya manusia biasa." Tentu saja, ada orang-orang yang sulit melepaskan statusnya. Mereka memang ingin menjadi manusia biasa dan berada di posisi yang tepat sebagai makhluk ciptaan. Mereka tidak ingin menderita seperti itu, tetapi mereka tidak bisa menahan diri. Mereka selalu memandang diri mereka sebagai orang yang unggul dan tidak bisa turun dari posisi tinggi mereka. Ini sangat bermasalah. Mereka suka ketika orang-orang mengerumuni mereka, menatap mereka dengan tatapan kagum. Mereka suka jika orang-orang mendatangi mereka dengan segala masalah yang mereka miliki, mengandalkan mereka, mendengarkan mereka, dan menghormati mereka. Mereka suka karena orang-orang yakin bahwa mereka adalah orang-orang unggul yang ahli dalam segala hal, bahwa mereka mahatahu sehingga mereka memahami segala sesuatu, bahkan mereka berpikir bahwa alangkah baiknya dan indahnya jika orang-orang menganggap mereka sebagai pemenang. Hal ini tidak dapat diperbaiki lagi. Ada orang-orang yang menerima pujian dan mahkota yang diberikan oleh orang lain dan memainkan peran sebagai manusia super dan tokoh yang hebat untuk sementara waktu. Namun, mereka merasa tidak nyaman dan menderita kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan? Siapa pun yang ingin menyanjungmu sebenarnya sedang menjerumuskanmu ke dalam kesusahan, dan engkau harus menjauhi mereka. Atau, carilah kesempatan untuk mengungkapkan kenyataan tentang kerusakanmu kepada mereka, bicaralah kepada mereka tentang keadaanmu yang sebenarnya, dan ungkapkan kekurangan dan kegagalanmu. Dengan cara ini, mereka tidak akan memuja atau menghormatimu. Apakah ini mudah untuk dilakukan? Sebenarnya hal ini mudah untuk dilakukan. Jika engkau benar-benar tak mampu melakukan hal ini, itu membuktikan bahwa engkau terlalu congkak dan sombong. Engkau benar-benar menganggap dirimu sebagai manusia super, tokoh yang hebat, dan engkau sama sekali tidak membenci dan tidak muak terhadap watak seperti ini di dalam hatimu. Oleh karena itu, engkau hanya bisa menunggu tersandung, yang mempermalukanmu di mata orang lain. Jika engkau adalah orang yang benar-benar memiliki nalar, engkau akan benci dan merasa jijik terhadap watak rusak yang selalu ingin berperan sebagai manusia super dan tokoh yang hebat. Setidaknya engkau harus memiliki perasaan seperti ini. Hanya dengan begitu barulah engkau mampu membenci dirimu dan memberontak terhadap dagingmu. Bagaimana seharusnya engkau berlatih untuk menjadi manusia sederhana, manusia biasa, manusia yang normal? Pertama-tama, engkau harus menyangkal dan melepaskan hal-hal yang kaupegang yang kauanggap sangat baik dan berharga, serta perkataan dangkal dan indah yang orang lain tujukan kepadamu untuk mengagumi dan memujimu. Jika di dalam hatimu, engkau tahu dengan jelas orang seperti apa dirimu, apa esensimu, apa kekuranganmu, dan kerusakan apa yang kauperlihatkan, engkau harus mempersekutukannya secara terbuka dengan orang lain, sehingga mereka dapat melihat bagaimana keadaanmu yang sebenarnya, apa pemikiran dan pendapatmu, sehingga mereka tahu apa pengetahuan yang kaumiliki tentang hal-hal seperti itu. Apa pun yang kaulakukan, jangan berpura-pura atau menyembunyikan sesuatu, jangan sembunyikan kerusakan dan kelemahanmu sendiri dari orang lain sehingga tidak ada yang mengetahuinya. Perilaku palsu semacam ini merupakan penghalang di dalam hatimu, ini juga merupakan watak yang rusak, dan dapat mencegah orang bertobat dan berubah. Engkau harus berdoa kepada Tuhan, dan teruslah merenungkan dan menganalisis hal-hal palsu, seperti pujian yang orang lain berikan kepadamu, sanjungan yang mereka limpahkan kepadamu, dan mahkota yang mereka berikan kepadamu. Engkau harus melihat kerugian yang ditimbulkan hal-hal ini terhadapmu. Dalam melakukannya, engkau akan mampu menilai dirimu sendiri, engkau akan mencapai pengetahuan diri, dan tidak akan lagi menganggap dirimu sebagai manusia super, atau sosok yang hebat. Setelah memiliki kesadaran diri seperti itu, akan menjadi mudah bagimu untuk menerima kebenaran, menerima firman Tuhan dan apa yang Tuhan kehendaki dari manusia di dalam hatimu, menerima keselamatan Sang Pencipta atasmu, dengan teguh menjadi orang biasa, orang yang jujur dan dapat diandalkan, dan menjalin hubungan yang normal antara dirimu—seorang makhluk ciptaan, dengan Tuhan—Sang Pencipta. Inilah tepatnya yang Tuhan kehendaki dari manusia, dan inilah sesuatu yang sepenuhnya dapat dicapai oleh mereka. Tuhan hanya mengizinkan manusia biasa dan normal untuk datang ke hadapan-Nya. Dia tidak menerima kepura-puraan dan selebritas palsu, tokoh yang hebat, dan manusia super. Jika engkau melepaskan lingkaran halo palsu ini, mengakui bahwa engkau adalah manusia biasa dan normal, dan datang ke hadirat Tuhan untuk mencari kebenaran dan berdoa kepada-Nya, hatimu terhadap-Nya akan jauh lebih tulus, dan engkau akan merasa jauh lebih nyaman. Pada saat seperti itu, engkau akan merasa bahwa engkau membutuhkan Tuhan untuk mendukung dan membantumu, dan engkau akan mampu lebih sering datang ke hadapan Tuhan untuk mencari dan berdoa kepada-Nya. Katakan kepada-Ku, apakah menurutmu lebih mudah menjadi tokoh yang hebat, manusia super, atau manusia biasa? (Manusia biasa.) Secara teori, menjadi manusia biasa itu mudah, tetapi menjadi tokoh yang hebat atau manusia super itu sulit, itu selalu menimbulkan penderitaan. Namun, ketika orang menentukan pilihannya sendiri dan menerapkannya, mau tak mau mereka ingin menjadi manusia super atau tokoh yang hebat. Mereka tidak dapat menahan diri. Hal ini disebabkan oleh esensi natur mereka. Oleh karena itu, manusia memerlukan penyelamatan Tuhan. Di masa depan, ketika seseorang bertanya kepadamu, "Bagaimana orang bisa berhenti berusaha menjadi manusia super dan tokoh yang hebat?" mampukah engkau menjawab pertanyaan ini? Yang perlu kaulakukan hanyalah menerapkan cara yang Kujelaskan. Jadilah manusia biasa, jangan menyamarkan dirimu, berdoalah kepada Tuhan, dan belajarlah membuka dirimu secara sederhana dan bicaralah kepada orang lain dari hati. Penerapan seperti ini dengan sendirinya akan membuahkan hasil. Secara bertahap, engkau akan belajar menjadi manusia yang normal, engkau tidak lagi merasa lelah dengan hidup, tidak lagi menderita, dan tidak lagi merasa sakit. Semua orang adalah manusia biasa. Tak ada perbedaan di antara mereka, kecuali bahwa karunia pribadi mereka berbeda dan kualitas mereka bisa cukup berbeda. Jika bukan karena penyelamatan dan perlindungan Tuhan, mereka semua akan melakukan kejahatan dan menerima hukuman. Jika engkau mampu mengakui bahwa engkau adalah manusia biasa, jika engkau mampu keluar dari imajinasi dan ilusi hampa manusia dan berusaha menjadi orang yang jujur dan melakukan perbuatan yang jujur, jika engkau mampu tunduk kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, engkau tidak akan memiliki masalah dan engkau akan sepenuhnya hidup dalam keserupaan dengan manusia. Sesederhana itu, lalu mengapa tidak ada jalannya? Apa yang telah Kufirmankan sekarang sangatlah sederhana. Sebenarnya, memang demikian adanya. Mereka yang mencintai kebenaran mampu menerimanya dengan sepenuhnya, dan mereka juga akan berkata, "Sebenarnya Tuhan tidak menuntut terlalu banyak dari manusia. Semua tuntutan-Nya dapat dipenuhi dengan hati nurani dan nalar manusia. Tidaklah sulit bagi orang untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Jika orang bertindak dari hatinya dan memiliki kemauan dan keinginan untuk menerapkannya, hal ini mudah untuk dicapai." Namun, ada orang-orang yang tidak mampu mencapai hal ini. Bagi mereka yang selalu memiliki ambisi dan keinginan, yang selalu ingin menjadi manusia super dan tokoh yang hebat, tidaklah mudah untuk menjadi manusia biasa, meskipun mereka ingin. Mereka selalu merasa diri lebih unggul dan lebih baik daripada orang lain, sehingga seluruh hati dan pikiran mereka dipenuhi keinginan untuk menjadi manusia super atau tokoh yang hebat. Mereka bukan hanya tidak mau menjadi manusia biasa dan mempertahankan status mereka sebagai makhluk ciptaan, melainkan mereka bersumpah bahwa mereka tidak akan pernah menyerah dalam usaha mereka untuk menjadi manusia super dan tokoh yang hebat. Hal ini tidak dapat diperbaiki lagi.
Ada orang-orang yang, dalam apa pun yang mereka hadapi, tidak mencari kebenaran dan tidak berdoa kepada Tuhan. Mereka hanya bertindak berdasarkan keinginan, karunia, dan kualitas mereka sendiri. Bahkan ketika mereka berdoa kepada Tuhan, mereka hanya melakukan sekadarnya, dan di dalam hati, mereka berpikir, "Apakah Tuhan mencerahkanku atau tidak, itu urusan-Nya. Aku hanya akan bertindak dengan cara yang menurutku terbaik." Mereka merasa benar-benar mampu menangani masalah ini sendiri dan benar-benar kompeten dalam pekerjaan yang mereka laksanakan. Bagi mereka, berdoa kepada Tuhan hanyalah hal yang dilakukan sekadarnya saja. Seperti apakah orang-orang tersebut? Mampukah mereka mengakui bahwa mereka adalah manusia biasa dan normal? Mampukah mereka masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan? (Sama sekali tidak.) Apakah orang-orang seperti itu menganggap bahwa mereka mampu melakukan apa pun? (Ya.) Mereka yakin bahwa meskipun mereka tidak bertindak berdasarkan firman Tuhan, mereka mampu menangani apa pun, dan mereka mampu menyelesaikan segala sesuatu tanpa repot, atau kesulitan, tanpa mencari firman Tuhan. Jalan manakah yang ditempuh oleh orang-orang seperti ini? Apakah itu jalan berusaha menjadi manusia super dan tokoh yang hebat? (Ya.) Sebesar apa pun kekacauan yang mereka buat atau sebanyak apa pun pelanggaran yang mereka lakukan, itu tidak ada artinya bagi mereka. Asalkan mereka telah melakukan banyak hal, mengumpulkan prestasi tertentu, dan merasakan keunggulan tertentu, mereka merasa bahwa mereka memiliki sumber daya dan kemampuan. Mereka menganggap diri sebagai orang-orang yang telah bekerja keras dan mencapai banyak hal untuk rumah Tuhan. Mereka tidak membutuhkan firman Tuhan. Mereka tidak membutuhkan pekerjaan Tuhan. Mereka sendiri mampu melakukan apa saja. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah datang ke hadirat Tuhan. Mereka membual bahwa tidak ada yang tak mampu mereka lakukan. Ketika mereka menghadapi sesuatu, mereka tidak pernah berdoa kepada Tuhan, atau mencari prinsip-prinsip kebenaran, apalagi bersekutu dengan saudara-saudari mereka. Mereka juga tidak pernah mencari dari Yang di Atas, apalagi mencari kebenaran dalam firman Tuhan. Mereka berpendapat bahwa banyak hal yang tidak disinggung dan tidak ada penjelasan konkret dalam firman Tuhan, sehingga tidak menjadi masalah jika mereka sendiri yang mengatasi hal-hal seperti itu. Tanpa menyadarinya, mereka telah mengesampingkan Tuhan. Tanpa menyadarinya, mereka meremehkan orang lain dan menginjak-injak semua orang. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan untuk menjadi selebritas, tokoh yang hebat, dan manusia super. Pada akhirnya, orang seperti ini tidak bisa teguh. Jika engkau meminta mereka untuk belajar mengakui bahwa mereka adalah manusia biasa, bahwa mereka mampu melakukan kesalahan, melakukan pelanggaran, dan gagal, dan bahwa mereka memiliki banyak kesalahan dan kekurangan, mampukah mereka melakukan hal ini? (Tidak.) Jika engkau menyuruh mereka untuk melepaskan lingkaran halo dan mahkota itu, melepaskan penghargaan tinggi yang diberikan kepada mereka oleh saudara-saudari mereka, dan melepaskan gengsi dan status mereka di gereja, akankah mereka setuju? (Tidak akan.) Mereka akan berkata, "Bagaimana bisa aku dengan puasnya melepaskan ketenaran dan mahkota yang kuperoleh dengan susah payah seperti ini? Aku tidak sebodoh itu!" Mereka sangat ingin lebih banyak orang memperlakukan mereka sebagai manusia super dan tokoh yang hebat. Mereka tidak suka orang melihat kesalahan dan kekurangan mereka dan memperlakukan mereka sebagai manusia yang normal. Terlebih lagi, mereka tidak suka jika orang mengungkapkan kesalahan, kegagalan, dan tingkah laku mereka. Mampukah orang-orang seperti itu sering datang ke hadirat Tuhan untuk berdoa dan mencari kebenaran? (Tidak.) Meskipun mereka menghadap ke hadirat Tuhan untuk berdoa, akankah mereka memiliki hati yang tulus? Tidak. Semua yang mereka katakan dan lakukan adalah demi mahkota dan gengsi mereka sendiri. Mereka melakukan segala sesuatu agar dapat dilihat oleh semua orang, tetapi tidak mau menerima pemeriksaan Tuhan dan tidak mampu mempersembahkan hati yang tulus kepada Tuhan, karena mereka tidak memiliki hati yang tulus. Mereka sama sekali tidak mampu memahami maksud Tuhan dalam firman Tuhan dan tidak mampu bertindak berdasarkan tuntutan Tuhan. Oleh karena itu, meskipun orang seperti ini ingin mencari kebenaran dan ingin menyingkirkan keinginan menjadi selebritas atau tokoh yang hebat, mereka tidak tulus. Mereka tidak mampu memberontak terhadap daging, dan mereka juga tidak mampu menerapkan kebenaran. Orang macam apa mereka? Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Mereka adalah antikristus. Begitu antikristus memiliki status, pengaruh, dan sedikit gengsi di antara orang-orang, mereka akan mengerahkan diri untuk mendirikan kerajaan mereka sendiri, mulai menempuh jalan yang tidak ada jalan kembalinya. Sebanyak apa pun engkau melibatkan mereka dalam persekutuan tentang kebenaran atau memangkas mereka, itu tak akan ada gunanya. Di rumah Tuhan, bersekutu tentang kebenaran, berbicara tentang kesaksian pengalaman, berusaha untuk mengasihi Tuhan dan bersaksi tentang Tuhan, dan terlibat dalam persekutuan tentang pemahaman murni dan prinsip-prinsip kebenaran—hal-hal positif ini hanya efektif bagi mereka yang mencintai kebenaran dan memiliki aspirasi yang besar akan Tuhan. Bagi mereka yang tidak mencintai kebenaran, mereka yang hanya mengejar berkat, dan mereka yang suka berperan sebagai manusia super dan tokoh yang hebat, hal-hal yang positif ini sama sekali tak ada gunanya. Kebenaran apa pun, firman yang benar, dan hal-hal positif, semuanya diperuntukkan bagi mereka yang mencintai kebenaran, mencintai firman Tuhan, dan memiliki aspirasi yang besar akan Tuhan. Setelah mendengarkan kebenaran, mereka yang tidak memiliki kualifikasi ini juga akan berkata bahwa kebenaran itu benar dan kebenaran itu baik, tetapi mereka akan merenungkannya dan berpikir, "Untuk apa aku hidup? Aku hidup demi gengsi, status, mahkota, lingkaran halo, dan upah Tuhan. Tanpa hal-hal ini, masihkah aku punya martabat? Apa makna hidupku? Bukankah percaya kepada Tuhan hanyalah sarana untuk mengejar upah dan mahkota? Sekarang setelah aku membayar harga dengan segenap hati dan darahku, dan setelah sedemikian lama menanti, akhirnya saatnya telah tiba bagi Tuhan untuk mengupahi orang yang baik dan menghukum orang yang jahat. Inilah saatnya aku harus dinobatkan dan menerima upahku. Bagaimana aku bisa menyerahkan ini kepada orang lain? Menjadi manusia normal, manusia biasa, sama seperti orang biasa lainnya, apa gunanya hidup seperti itu? Aku tidak sebodoh itu!" Bukankah orang seperti itu tidak dapat diperbaiki lagi? (Ya.) Jangan berusaha membujuk orang-orang seperti itu. Kebenaran bukan untuk mereka, dan yang mereka inginkan bukanlah kebenaran. Orang semacam ini hanya mencari berkat dan mahkota. Keinginan dan ambisi mereka melampaui batas yang manusia normal perlukan. Ada orang-orang yang tidak mampu membayangkan mengapa orang seperti ini berpaut pada status dan kekuasaan dan tidak mau melepaskannya. Inilah esensi dan natur bawaan orang seperti ini. Engkau tidak mampu memahaminya karena esensimu berbeda dengan esensi mereka, dan mereka juga tidak mampu memahamimu. Mereka tidak paham mengapa engkau begitu bodoh. Engkau tidak menginginkan mahkota, lingkaran halo, dan gengsi yang siap pakai dan sebaliknya menjadi manusia biasa. Mereka menganggapmu sebagai orang yang tidak dapat dipahami. Tipe orang seperti ini berpikir, "Engkau mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh, engkau menerapkan apa yang Tuhan perintahkan, engkau melakukan apa yang Tuhan perintahkan, dan engkau tunduk pada apa pun yang Tuhan perintahkan kepadamu. Bagaimana engkau bisa begitu bodoh?" Mereka menganggap bahwa menjadi orang yang jujur dan menerapkan kebenaran adalah hal yang bodoh, tak tahu apa-apa, dan dungu. Mereka yakin bahwa mereka pandai mengejar ilmu dan berperan sebagai orang yang unggul. Dengan beranggapan bahwa mereka memahami segalanya, mereka menyimpulkan bahwa "kehidupan orang yang tidak memiliki status dan gengsi, tidak mengenakan mahkota di kepala mereka, dan tidak berharga di antara manusia serta tidak memiliki otoritas untuk berbicara adalah tidak berharga. Jika orang tidak hidup demi ketenaran, mereka harus hidup demi keuntungan. Jika bukan demi keuntungan, mereka harus hidup demi ketenaran". Bukankah ini logika Iblis? Hidup berdasarkan logika Iblis, mereka tidak dapat diperbaiki. Mereka tak pernah mampu menerima firman Tuhan, hal-hal positif, atau nasihat benar apa pun. Jika mereka tidak mampu menerima hal ini, apa yang harus mereka lakukan? Kita tidak bermaksud mengucapkan firman ini untuk mereka. Firman ini hanya ditujukan kepada orang yang memiliki kemanusiaan yang normal, hanya kepada orang yang memiliki aspirasi yang besar akan Tuhan. Firman ini hanya untuk orang-orang seperti ini. Hanya orang-orang seperti inilah yang mampu dengan sungguh-sungguh mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan, memperoleh pemahaman akan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, melaksanakan tugas mereka sesuai tuntutan Tuhan, menerapkan dan mengalami firman Tuhan di lingkungan yang telah Tuhan atur, dan secara bertahap masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Sedangkan orang-orang yang menghina serta menentang hal-hal positif dan firman Tuhan di dalam hati mereka tidak mampu menyesuaikan diri untuk menjalani hidup yang biasa dan sederhana, tidak mampu menjadi manusia biasa, tidak mampu menghadap ke hadirat Tuhan dengan sungguh-sungguh, serta tidak mampu mencari dan menantikan hal-hal yang tidak mereka pahami dengan sepenuh hati. Mereka tidak puas menjadi orang seperti itu. Oleh karena itu, mustahil bagi orang seperti itu untuk diselamatkan. Kerajaan surga tidak dipersiapkan bagi orang-orang seperti ini. Apakah engkau paham? (Kami paham.) Siapa pun yang mampu menjadi makhluk ciptaan yang biasa dan normal seperti yang Tuhan firmankan, dan berdiri di posisi yang tepat sebagai makhluk ciptaan, siapa pun yang bersedia menjadi orang bodoh yang dipandang rendah oleh orang lain, dan mampu menerima dan tunduk pada firman apa pun yang Tuhan ucapkan, sering menghadap ke hadirat Tuhan, sering mencari, dan memiliki hati yang tulus, mampu menjadi salah satu pemenang yang Tuhan maksudkan. Siapa pun yang menjadi salah satu pemenang yang Tuhan maksudkan, pada akhirnya akan menerima apa yang Tuhan janjikan kepada manusia. Ini sudah pasti.
Ketika Tuhan mempertimbangkan apakah orang itu baik atau buruk, apakah mereka mengejar kebenaran atau tidak, dan apakah mereka mampu memperoleh keselamatan dari Tuhan atau tidak, Dia mempertimbangkan pemahaman mereka terhadap firman-Nya dan sikap mereka terhadap firman-Nya. Dia mempertimbangkan apakah mereka mampu menerapkan kebenaran yang mereka pahami, atau tidak. Dia mempertimbangkan apakah mereka mampu menerima kebenaran atau tidak ketika mereka dipangkas dan ketika mereka mengalami ujian. Dia mempertimbangkan apakah mereka menginginkan dan menerima Tuhan dengan hati yang tulus, atau tidak. Tuhan tidak melihat tingkat pendidikan mereka, kualitas mereka, berapa banyak karunia yang mereka miliki, seberapa jauh mereka telah berjalan, atau berapa banyak pekerjaan yang telah mereka laksanakan. Tuhan tidak mempertimbangkan hal-hal seperti ini, Dia juga tidak menginginkan hal-hal seperti ini. Katakan bahwa engkau selalu ingin membawa keinginan dan ambisimu kepada Tuhan dan menukarnya dengan upah serta mahkota, tetapi engkau selalu menolak dan mengabaikan firman Tuhan. Meskipun Tuhan telah mengucapkan beribu-ribu firman, tak satu firman pun dari Tuhan yang tertanam di dalam hatimu. Bahkan satu firman pun dari nasihat Tuhan, peringatan-Nya, atau pengingat-Nya, atau bahkan penghakiman, hajaran, atau ajaran-Nya, tak satu pun dari firman ini yang kaumiliki di dalam hatimu. Engkau tidak menjadikan satu firman pun yang Tuhan ucapkan sebagai semboyanmu di dalam hatimu. Hatimu tidak mengingat satu firman pun dari Tuhan, dan pada saat yang sama, engkau tidak membayar harga apa pun untuk menerapkan dan masuk ke dalam firman Tuhan. Jika semua ini benar, dari sudut pandang Tuhan, kesudahan dan tempat tujuanmu sudah ditentukan. Jika, di hadirat Tuhan, di hadirat Sang Pencipta, engkau tidak bersedia menjadi manusia biasa atau manusia sederhana; jika, di hadapan Sang Pencipta, engkau berani bertindak kurang ajar; jika engkau selalu ingin berperan sebagai tokoh yang hebat, manusia super, individu yang luar biasa, dan engkau tidak tetap berada di posisi yang Tuhan berikan kepadamu, apa yang masih ingin kauperoleh dari Tuhan? Akankah Tuhan memberikannya kepadamu? Jika orang ingin memperoleh apa yang Tuhan janjikan kepada manusia, mereka harus terlebih dahulu mengikuti jalan Tuhan. Ini adalah orientasi umum. Untuk orientasi khususnya, mereka harus mendengarkan dan menerapkan firman Tuhan. Jalan ini tidak akan pernah salah mengarahkan mereka. Dengarkan dan terapkan firman Tuhan, jadikan firman Tuhan sebagai kenyataan kehidupanmu, sebagai dasar, prinsip, arah, dan tujuan perkataanmu, caramu berperilaku, caramu memandang segala sesuatu, dan caramu melakukan segala sesuatu. Artinya, apa yang kaukatakan dan penilaian yang kaubuat harus didasarkan pada firman Tuhan. Kapan pun engkau memilih untuk berhubungan dengan satu tipe orang dan menghindari atau menolak tipe orang lain, engkau harus memiliki dasar firman Tuhan. Meskipun engkau marah dan mengutuk orang lain, tindakanmu harus berdasarkan prinsip dan konteks, dan pada dasarnya sesuai dengan kebenaran. Dengan cara ini, engkau akan hidup dalam kenyataan firman Tuhan dan menerima perkenanan Tuhan. Berusaha untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran adalah proses mengejar kebenaran dan hidup dalam kemanusiaan yang normal untuk menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi syarat. Ini juga merupakan proses membebaskan dirimu dari upaya menjadi manusia super, orang yang luar biasa, dan selebritas atau tokoh yang hebat. Jika engkau ingin melepaskan dirimu dari jalan untuk berjuang menjadi manusia super, selebritas, dan tokoh yang hebat, atau cara pengejaran semacam ini, engkau harus terlebih dahulu bersikap sederhana, merendahkan dirimu, mengakui bahwa engkau adalah seorang manusia, seseorang yang tidak berarti, dan orang yang tidak mampu melakukan apa pun tanpa bimbingan Tuhan—hanya seorang manusia biasa. Engkau harus mengakui bahwa engkau tidak ada apa-apanya tanpa Tuhan dan firman Tuhan. Engkau adalah orang yang bersedia menerima kedaulatan dan pengaturan Sang Pencipta. Tanpa napas yang Tuhan berikan kepadamu—tanpa semua yang telah Dia berikan kepadamu—engkau hanyalah mayat dan tak berguna. Tentu saja, sambil mengakui hal-hal ini, engkau harus datang ke hadapan Tuhan dan menerima semua firman kehidupan yang telah Dia ucapkan. Yang terpenting, engkau harus masuk ke dalam kenyataan firman yang Tuhan ucapkan ini, menjadikan firman Tuhan sebagai hidupmu, menjadikan firman Tuhan sebagai landasan dan dasar bagi hidup dan keberadaanmu, dan menjadikannya sebagai sumber dan dukungan untuk kelangsungan hidupmu di sepanjang hidupmu. Ini adalah maksud Tuhan dan tuntutan-Nya yang tertinggi bagi manusia.
Saat ini, topik utama persekutuan kita adalah bagaimana cara memperlakukan firman Tuhan, bagaimana cara makan dan minum firman Tuhan, bagaimana manusia harus menghargai firman Tuhan, dan bagaimana mereka harus menerapkan firman Tuhan agar mereka mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan memperoleh keselamatan. Terutama, kita telah terlibat dalam persekutuan tentang pentingnya firman Tuhan. Hal-hal inilah yang justru merupakan kekuranganmu, dan hal-hal yang harus manusia miliki. Jika Aku tidak bersekutu dengan cara seperti ini, engkau tak akan mampu memahami hal-hal seperti itu dengan jelas. Tampaknya engkau memiliki pengetahuan bawah sadar, tetapi engkau tak mampu menjelaskan secara gamblang apa yang kauketahui. Ini seperti menulis sebuah artikel, ketika garis besarnya sudah dipetakan, tetapi engkau masih belum mampu menyempurnakan isinya. Inilah situasimu yang sebenarnya. Persekutuan hari ini mengenai hal-hal ini merupakan pengingat dan peringatan bagimu. Bagi setiap orang, firman Tuhan adalah hal yang terpenting, dan tidak ada yang menggantikan kebenaran. Setelah engkau memahami poin ini, engkau seharusnya memiliki jalan bagi cara penerapan. Engkau harus berbuat lebih banyak untuk makan dan minum firman Tuhan dan menerapkan firman Tuhan agar engkau mampu masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan. Apa yang harus kaulakukan jika engkau merasa bahwa tingkat pertumbuhanmu terlalu rendah, kemampuanmu untuk memahami masih kurang, dan engkau tak mampu menembus atau memahami firman Tuhan yang mendalam dan tak mampu menerapkannya pada dirimu sendiri? Mulailah dengan makan dan minum dari yang dangkal. Dalam hatimu, hafalkan firman sederhana yang mudah kaupahami dan mampu kauterapkan sendiri, jadikan itu sebagai prinsip yang kauikuti dalam penerapan, dan bertindaklah berdasarkan firman Tuhan. Jika Tuhan berfirman pergilah ke timur, pergilah ke timur. Jika Tuhan berfirman pergilah ke barat, pergilah ke barat. Jika Tuhan berfirman berdoalah lebih banyak, berdoalah lebih banyak. Lakukan apa pun yang Tuhan firmankan. Lebih baik dianggap bodoh oleh orang lain daripada menjadi orang yang Iblis anggap sebagai orang yang pintar dan pandai. Hanya mereka yang memilih untuk menerapkan kebenaran dengan tujuan semata-mata untuk mendapatkan perkenanan Tuhanlah yang merupakan orang-orang yang benar-benar cerdas dan bijaksana.
25 September 2021
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...