Firman Tuhan | "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II" (Bagian Dua)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Engkau semua telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan meskipun engkau memahami sedikit kebenaran, di dalam hatimu masing-masing terdapat penafsiran, keyakinan, dan imajinasimu sendiri—dan semuanya benar-benar tidak sesuai dan bertentangan dengan kebenaran dan maksud Tuhan. Apakah hal-hal ini? Hal-hal ini adalah gagasan manusia. Meskipun manusia sama sekali tidak memiliki kebenaran, pikiran mereka mampu menghasilkan banyak gagasan dan imajinasi, yang semuanya tidak sesuai dengan kebenaran. Segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran berkaitan dengan gagasan dan imajinasi manusia. Jadi, bagaimana gagasan manusia muncul? Ada berbagai macam penyebab. Sebagian penyebabnya adalah pengondisian budaya tradisional, penyebaran serta penanaman pengetahuan, dampak tren sosial serta ajaran keluarga, dan sebagainya. Di Tiongkok—negara yang telah dikuasai oleh ateisme selama ribuan tahun—apa pemahaman dan definisi orang tentang Tuhan? Meskipun Tuhan tidak terlihat dan tidak berwujud, Dia benar-benar ada, Dia bisa terbang ke sana kemari di udara, datang dan pergi tanpa jejak, menampakkan diri dan menghilang secara tiba-tiba, mampu berjalan menembus tembok, tidak dibatasi oleh benda atau ruang apa pun, dan dengan kemampuan yang luar biasa, benar-benar mahakuasa—inilah gagasan dan imajinasi yang orang miliki tentang Tuhan. Jadi, bagaimana gagasan dan imajinasi manusia muncul? Hal ini terutama berkaitan dengan pendidikan dan pengondisian budaya tradisional. Ajaran ateisme telah ada di Tiongkok selama ribuan tahun dan telah lama menanamkan benih ateisme di dalam lubuk hati orang-orang. Pada saat ini, Iblis dan segala jenis roh jahat telah melakukan banyak tanda dan mukjizat di antara manusia untuk menyesatkan dan mengendalikan mereka. Benih-benih ateisme ini tersebar luas di tengah orang-orang, dan mempunyai dampak yang sangat buruk. Roh-roh jahat ini bertindak sembarangan untuk menyesatkan, mengelabui, dan merusak manusia, sehingga manusia pun mengembangkan banyak gagasan dan imajinasi tentang Tuhan. Kesimpulannya, gagasan dan imajinasi manusia sepenuhnya berasal dari pengondisian masyarakat yang jahat dan indoktrinasi Iblis. Dari zaman dahulu hingga zaman sekarang, generasi demi generasi manusia telah menerima ajaran Iblis dan menerima penyebaran serta indoktrinasi dari budaya dan pengetahuan tradisional, dan dengan demikian telah menghasilkan segala macam gagasan dan imajinasi. Meskipun hal-hal ini belum secara langsung memengaruhi pekerjaan, studi, dan kehidupan normal manusia, gagasan dan imajinasi inilah yang telah menjadi hambatan besar bagi orang-orang untuk menerima dan tunduk pada pekerjaan Tuhan. Bahkan sekalipun manusia telah menerima pekerjaan Tuhan, hal-hal ini masih memberikan penghalang besar bagi mereka untuk mengenal dan tunduk kepada Tuhan, menyebabkan mereka memiliki iman yang sangat kecil, sering merasa negatif dan lemah, dan sangat sulit untuk tetap teguh dalam ujian, bahkan setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan. Inilah akibat dari memiliki gagasan dan imajinasi.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan berarti melakukan hal-hal yang baik dan menjadi orang baik. Sebagai contoh, mereka beranggapan bahwa seseorang baru dikatakan percaya kepada Tuhan jika dia bersedekah kepada fakir miskin. Jika seseorang melakukan banyak hal baik dan dipuji oleh orang lain, dia bersyukur kepada Tuhan dari hatinya dan berkata kepada orang-orang, "Jangan berterima kasih kepadaku. Kau harus bersyukur kepada Tuhan yang di Surga, karena Dialah yang mengajariku untuk melakukan hal ini." Setelah dipuji orang, dia merasa sangat puas dan tenang, dan dia yakin bahwa kepercayaan kepada Tuhan itu baik, bahwa dia diakui oleh manusia dan pasti juga akan diakui oleh Tuhan. Dari manakah perasaan tenang ini berasal? (Dari gagasan dan imajinasinya.) Apakah perasaan tenang itu asli atau palsu? (Palsu.) Namun, bagi orang itu, perasaan tenang itu asli, dan dia merasa sangat tenang, praktis, dan realistis, karena yang telah dia kejar adalah perasaan ditenangkan. Bagaimana perasaan tenang ini muncul? Kesan yang salah ini telah muncul karena gagasan orang itu, dan gagasannya itulah yang menyebabkan dia menganggap bahwa beginilah kepercayaan kepada Tuhan, bahwa dia harus menjadi orang seperti ini, bahwa dia harus bertindak dengan cara seperti ini, bahwa Tuhan pasti akan berkenan kepadanya karena telah melakukan hal-hal ini, dan bahwa dia pasti akan memperoleh keselamatan dan masuk ke dalam Kerajaan Surga pada akhirnya. Dari manakah kata "pasti" ini berasal? (Dari gagasan orang.) Gagasan dan imajinasinyalah yang memberi dia kepastian dan kesan yang salah ini, dan yang membuat dia merasa sangat nyaman. Dan bagaimanakah sebenarnya Tuhan menilai dan menentukan hal ini? Itu hanyalah semacam perilaku baik, yang dilakukan sesuai dengan gagasan dan kebaikan manusia. Suatu hari, orang ini melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip dan dia dipangkas, dan kemudian dia mendapati bahwa standar Tuhan untuk menilai orang yang baik tidak seperti yang dia pikirkan dan firman Tuhan tidak mengatakan hal seperti itu, sehingga dia merasakan pergumulan dalam batinnya dan berpikir, "Apakah aku bukan orang baik? Aku telah menjadi orang yang baik selama bertahun-tahun dan tak ada seorang pun yang pernah mengatakan bahwa aku bukan orang yang baik. Hanya Tuhan yang berkata aku bukan orang yang baik!" Bukankah ada masalah di sini? Bagaimana masalah ini bisa timbul? Masalah ini timbul karena gagasan mereka. Apa penyebab utama masalah ini? (Gagasan.) Penyebab utamanya adalah gagasan manusia. Gagasan manusia sering kali menyebabkan mereka salah paham terhadap Tuhan, sering mengajukan segala macam tuntutan dan penilaian terhadap Tuhan, serta memiliki segala macam standar untuk menilai Tuhan; hal ini menyebabkan orang sering menggunakan suatu pemikiran dan pandangan yang keliru untuk menilai apakah segala sesuatunya benar atau salah, apakah seseorang itu baik atau tidak, dan untuk menilai apakah seseorang setia kepada Tuhan dan percaya kepada Tuhan atau tidak. Apa sumber penyebab dari kekeliruan ini? Sumber penyebabnya adalah gagasan manusia. Gagasan manusia mungkin tidak memengaruhi apa yang mereka makan atau bagaimana mereka tidur, dan gagasan mereka mungkin tidak memengaruhi kehidupan mereka yang normal, tetapi gagasan-gagasan itu memang ada dalam pikiran dan pemikiran manusia, itu melekat pada orang seperti bayangan, selalu mengikuti mereka. Jika engkau tidak mampu menyingkirkannya pada waktunya, itu akan terus-menerus mengendalikan pemikiranmu, penilaianmu, perilakumu, pengetahuanmu akan Tuhan, dan hubunganmu dengan Tuhan. Apakah engkau melihatnya dengan jelas sekarang? Gagasan adalah sebuah masalah besar. Gagasan yang manusia miliki tentang Tuhan adalah seperti tembok yang berdiri di antara mereka dan Tuhan, yang menghentikan mereka untuk melihat wajah Tuhan yang sesungguhnya, yang menghentikan mereka untuk melihat watak dan esensi Tuhan yang sesungguhnya. Mengapa begitu? Karena manusia hidup di antara gagasan dan imajinasi mereka, serta menggunakan gagasan mereka untuk menentukan apakah Tuhan itu benar atau salah, dan untuk menilai, menghakimi, dan mengutuk semua yang Tuhan lakukan. Keadaan seperti apa yang sering dialami manusia dengan melakukan hal ini? Bisakah manusia benar-benar tunduk kepada Tuhan ketika mereka hidup di antara gagasan mereka? Bisakah mereka memiliki iman yang sejati kepada Tuhan? (Tidak, tidak bisa.) Sekalipun orang-orang sedikit tunduk kepada Tuhan, mereka melakukannya menurut gagasan dan imajinasi mereka sendiri. Ketika seseorang bersandar pada gagasan dan imajinasi mereka, itu menjadi tercemar dengan hal-hal pribadi yang berasal dari Iblis dan dunia, dan itu bertentangan dengan kebenaran. Masalah gagasan manusia tentang Tuhan adalah masalah yang serius; ini adalah masalah besar antara manusia dan Tuhan yang harus segera diselesaikan. Semua orang yang datang ke hadapan Tuhan membawa gagasan, mereka membawa berbagai macam kecurigaan tentang Tuhan. Atau, dapat dikatakan bahwa mereka membawa banyak kesalahpahaman tentang Tuhan di hadapan segala yang Tuhan berikan kepada mereka, di hadapan penataan dan pengaturan-Nya. Lalu akan seperti apa hubungan mereka dengan Tuhan? Manusia selalu salah memahami Tuhan, mereka selalu curiga kepada Tuhan, dan mereka selalu menggunakan standar mereka sendiri untuk menilai apakah Tuhan itu benar atau salah, selalu menimbang setiap perkataan dan pekerjaan-Nya. Perilaku macam apa ini? (Itu adalah pemberontakan dan penentangan.) Benar, itu berarti orang-orang memberontak, menentang, dan mengutuk Tuhan, dan itu berarti orang-orang menghakimi Tuhan, menghujat Tuhan, dan bersaing dengan-Nya, dan dalam kasus yang parah, orang-orang ingin membawa Tuhan ke pengadilan dan "berduel" melawan Dia. Apa taraf terparah yang dapat dicapai oleh gagasan manusia? Menyangkal Tuhan yang benar, menyangkal bahwa firman-Nya adalah kebenaran, dan mengutuk pekerjaan Tuhan. Ketika gagasan manusia mencapai taraf ini, mereka dengan sendirinya menolak Tuhan, mengutuk Tuhan, menghujat Tuhan, dan mengkhianati Tuhan. Mereka tidak hanya menyangkal keberadaan Tuhan, tetapi juga menolak untuk menerima kebenaran dan mengikuti Tuhan—bukankah ini menakutkan? (Ya.) Ini adalah masalah yang menakutkan. Dapat dikatakan bahwa gagasan dapat sepenuhnya merugikan manusia, tanpa manfaat apa pun. Itulah sebabnya hari ini kita mempersekutukan dan menelaah apa yang dimaksud dengan gagasan, dan gagasan apa yang orang miliki—ini sangat penting. Gagasan apa yang biasanya muncul di dalam dirimu? Manakah dari pemikiran, pemahaman, penilaian, dan pandanganmu yang berkaitan dengan gagasanmu? Bukankah ini layak dipikirkan? Perilaku orang tidak berkaitan dengan gagasan mereka, tetapi pemikiran dan pandangan di balik perilaku tersebut berkaitan langsung dengan gagasan mereka. Gagasan manusia tidak berada di luar lingkup pekerjaan Tuhan. Pertama: berbagai gagasan yang orang miliki mengenai kepercayaan kepada Tuhan. Yaitu, orang-orang memiliki imajinasi dan definisi yang berbeda-beda mengenai kepercayaan kepada Tuhan, apa yang harus mereka peroleh dari kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan jalan apa yang harus mereka tempuh dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, sehingga mereka memiliki segala macam gagasan. Kedua: gagasan manusia tentang inkarnasi Tuhan. Manusia memiliki jauh lebih banyak imajinasi dan definisi tentang inkarnasi, sehingga mereka dengan sendirinya memiliki banyak gagasan—ini saling berkaitan. Ketiga: gagasan yang manusia miliki tentang pekerjaan Tuhan. Manusia memiliki berbagai ragam imajinasi dan definisi tentang kebenaran yang Tuhan ungkapkan, watak yang Tuhan singkapkan, dan cara Tuhan bekerja, sehingga mereka memiliki banyak gagasan. Kita dapat membagi ketiga hal ini menjadi jauh lebih detail, tetapi ketiga hal ini pada dasarnya mencakup semua gagasan manusia, jadi mari kita persekutukan satu per satu.
Sekarang, mari kita bahas poin pertama, yaitu berbagai gagasan yang orang miliki tentang kepercayaan kepada Tuhan. Gagasan semacam ini cakupannya agak luas. Entah orang masih asing dengan kepercayaan kepada Tuhan, atau entah mereka pernah percaya kepada Tuhan sebelumnya atau tidak, mereka memiliki banyak gagasan dan imajinasi ketika mereka pertama kali mulai percaya kepada Tuhan. Ketika mereka pertama kali membaca Alkitab, orang-orang merasakan gejolak di dalam hati mereka, dan berpikir, "Aku akan menjadi orang yang baik; aku akan masuk ke dalam Surga." Setelah itu, mereka mulai memiliki segala macam imajinasi dan definisi atau gagasan pasti tentang kepercayaan kepada Tuhan, dan mereka pada akhirnya pasti akan memiliki berbagai gagasan. Sebagai contoh, orang-orang membayangkan hal-hal tentang mereka seharusnya menjadi orang seperti apa setelah mulai percaya kepada Tuhan. Seseorang berkata, "Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, aku tidak akan lagi merokok, minum minuman beralkohol, atau berjudi. Aku tidak akan pergi ke tempat-tempat buruk itu. Aku akan berbicara dengan sopan kepada orang-orang dan tersenyum." Apakah ini? Apakah ini sebuah gagasan, atau memang seperti itukah seharusnya perilaku orang? (Seperti itulah seharusnya perilaku orang.) Ini adalah wujud dari kemanusiaan yang normal, dan orang seharusnya bersikap seperti ini. Ini bukanlah gagasan, juga bukan imajinasi—cara berpikir seperti ini sepenuhnya rasional dan masuk akal. Ada saudara-saudara yang lanjut usia berkata, "Aku sudah tua dan aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Aku seharusnya memberikan contoh kepada generasi muda dalam caraku berbicara dan melakukan segala sesuatu. Orang seusiaku tidak boleh bercanda secara berlebihan atau bersikap dengan tidak pantas. Aku harus terlihat bermartabat dan beradab serta memiliki sikap seorang pria terhormat yang sopan." Jadi, ketika dia berbicara kepada orang-orang muda, raut wajahnya terlihat serius dan dipenuhi dengan kata-kata dan ungkapan sastra, dan ketika orang-orang muda melihatnya, mereka merasa tidak nyaman dan tidak ingin mendekatinya. Saudara-saudari menari dan memuji Tuhan di pertemuan, dan saudara lanjut usia itu menganggap bahwa dia harus mengendalikan nafsu di matanya dan hanya melihat apa yang pantas, jadi dia menahan dirinya agar tidak menonton, tetapi tetap menggerutu di dalam hatinya, "Orang-orang muda ini hidup begitu bebas; mengapa rasanya hidupku sangat sengsara? Tetap saja, sudah seharusnya merasa sedikit sengsara ketika percaya kepada Tuhan, mau bagaimana lagi, usia juga sudah setua ini!" Dia berkata dia tidak boleh menonton para penari, tetapi tetap saja dia mencuri-curi pandang, jelas sekali sedang berpura-pura. Bagaimana kepura-puraan ini bisa muncul? Bagaimana dia bisa berada dalam keadaan memalukan seperti ini? Hal ini karena dia memiliki imajinasi tentang perilaku dan ungkapan yang seharusnya dia miliki dalam kepercayaannya kepada Tuhan, dan karena dikuasai oleh imajinasi tersebut, ucapan dan tindakannya menjadi terselubung dan pura-pura. Sebagai contoh, ketika mereka bernyanyi di pertemuan, ada orang-orang yang bertepuk tangan sambil bernyanyi, bersikap dengan bebas, tetapi saudara lanjut usia ini mati rasa dan bodoh seperti orang mati, sama sekali tanpa semangat hidup atau keserupaan dengan manusia. Dia beranggapan bahwa karena dia sudah tua, dia harus terlihat seperti orang tua dan tidak bertingkah seperti anak kecil yang naif dan membuat orang-orang menertawakan dirinya. Singkatnya, semua yang dia ungkapkan hanyalah kepura-puraan dan dia hanya memaksakan dirinya untuk berpura-pura seperti orang penting. Apakah kerohanian orang lain terdidik ketika menyaksikan perilaku yang pura-pura tersebut? (Tidak.) Bagaimana perasaanmu ketika melihat hal ini? Pertama, engkau merasa dia munafik dan itu membuatmu merasa tidak nyaman. Kedua, engkau merasa dia palsu, ada juga perasaan muak dan jijik, dan ketika berbicara dengannya, engkau merasa tercekik dan terkekang, tidak dapat berbicara dengan bebas. Jika engkau tidak berhati-hati, engkau akan diceramahi oleh dia yang berkata, "Lihatlah bagaimana jadinya orang-orang muda seperti kalian, kalian sangat rusak! Kalian makan enak dan mengenakan pakaian bagus, makan seperti saat kita makan di Tahun Baru dan festival lainnya, tetapi kalian masih suka memilih-milih makanan dan merasa tidak puas. Saat kami masih kecil, yang bisa kami makan hanyalah sekam gandum dan sayuran liar." Dia memamerkan senioritasnya dan menceramahi orang lain, dan orang-orang muda menghindari dirinya. Dia tidak memahami hal ini dan bahkan mengkritik orang-orang muda karena tidak menghormati orang yang lanjut usia dan berperilaku buruk. Bukankah perkataannya sarat dengan gagasan dan kehendak manusia, tidak sesuai dengan kebenaran dan tidak mampu mendidik kerohanian orang lain? Namun, semua ini hanyalah masalah sepele. Yang terpenting adalah ini: mampukah dia memahami kebenaran dengan bertindak seperti ini? (Tidak.) Apakah ini membantu dan bermanfaat untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran? (Tidak.) Dengan menerapkan dan berperilaku seperti ini, hidup seperti ini hari demi hari, dapatkah itu memungkinkan dia untuk hidup di hadapan Tuhan? Pernahkah dia merenung, "Apakah pemahamanku tentang kepercayaan kepada Tuhan sesuai dengan kebenaran dan tuntutan Tuhan? Apa yang Tuhan tuntut? Orang seperti apa yang Tuhan kasihi? Apakah ada perbedaan antara pemahamanku dan apa yang Tuhan tuntut?" Tentu saja dia tidak pernah memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini sebelumnya. Jika dia memikirkannya, meskipun dia belum menemukan jawabannya, dia tidak akan berperilaku dengan cara yang bodoh seperti itu. Jadi, apa sumber penyebab dari cara dia bertindak ini? (Gagasan.) Dan apa sumber yang menyebabkan dia memiliki gagasan seperti itu? Ini karena dia memiliki pemahaman yang keliru tentang bagaimana orang yang percaya kepada Tuhan harus berperilaku dan mengekspresikan diri mereka sendiri. Dan bagaimana pemahaman keliru ini bisa muncul? Apa sumbernya? Ada pengondisian budaya tradisional dan ajaran yang diberikan oleh guru-guru di sekolah. Sebagai contoh, para remaja harus menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi anak-anak kecil, sedangkan orang lanjut usia harus bersikap sesuai dengan usia mereka, dan sebagainya. Karena itu, dia mengembangkan berbagai perilaku aneh, terkadang bertingkah aneh dan terkadang memperlihatkan ekspresi wajah yang aneh, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak terlalu terlihat normal. Entah dia bersikap aneh atau memperlihatkan ekspresi wajah yang aneh, selama dia tidak memahami kebenaran atau tuntutan Tuhan, dan dia tidak mencari kebenaran, maka cara dia bertindak pasti akan jauh dari kebenaran. Dalam hal yang sangat sederhana ini—hanya beberapa perilaku lahiriah—karena orang memiliki gagasan yang berakar di dalam hati merekalah sehingga mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal ini. Jika orang tidak memahami kebenaran, tidak memahami firman Tuhan, dan tidak memahami maksud Tuhan, mereka tidak akan memahami standar apa yang Tuhan tuntut dari manusia. Jika orang lanjut usia tidak memahami standar yang Tuhan tuntut dari manusia, mereka akan memiliki perilaku dan ekspresi yang aneh, serta melakukan tindakan yang tidak masuk akal; jika orang-orang muda tidak memahami standar yang dituntut oleh Tuhan, dan kepercayaan mereka kepada Tuhan didasarkan pada imajinasi dan gagasan mereka, mereka pun akan memiliki perilaku dan ekspresi yang salah. Perilaku dan ekspresi salah apa yang mereka miliki? Sebagai contoh, ada orang-orang muda yang membaca dalam firman Tuhan bahwa Tuhan menuntut manusia untuk hidup murni dan terbuka, segar dan bersemangat seperti anak-anak, dan mereka berpikir, "Kami akan selalu menjadi bayi di hadapan Tuhan dan kami tidak akan pernah bertumbuh dewasa, jadi kami harus berjalan dan berbicara seperti anak-anak. Sekarang aku tahu bagaimana menjadi salah satu umat pilihan Tuhan dan pengikut Tuhan, dan sekarang aku mengerti bagaimana rasanya menjadi seperti anak kecil. Dahulu aku suka menipu, terlihat begitu berpengalaman, mati rasa, dan bodoh, tetapi kelak, aku harus bertindak dengan lebih segar dan lebih bersemangat." Setelah itu, mereka mengamati bagaimana perilaku anak-anak muda zaman sekarang di tengah masyarakat, dan setelah mereka menyimpulkan bagaimana cara bertindak, mereka mulai menerapkannya di antara saudara-saudari, berbicara kepada semua orang dengan suara anak-anak, memberi tekanan pada tenggorokan mereka saat berbicara dan berbicara dengan nada bicara yang manis dan kekanak-kanakan. Dalam benak mereka, mereka menganggap bahwa hanya suara seperti inilah yang merupakan suara seorang anak, sedangkan pada saat yang sama, mereka melakukan gerakan-gerakan aneh tertentu yang membuat orang merasa sangat canggung dan tidak nyaman. Mereka belum memahami apa yang Tuhan maksudkan dengan menjadi murni dan terbuka, segar dan bersemangat seperti anak kecil, dan yang mereka lakukan hanyalah perilaku lahiriah yang pura-pura, tiruan, dan dibuat-buat. Pemahaman orang-orang semacam ini menyimpang. Apa masalah terbesarnya di sini? Mereka bukan saja tidak mampu memahami makna firman Tuhan secara murni, melainkan, mereka mencampur-adukkan firman Tuhan dengan perilaku, tindakan, dan tren orang-orang tidak percaya. Bukankah ini sebuah kesalahan? Mereka tidak datang dan mencari di hadapan Tuhan, mereka tidak membaca firman Tuhan, dan mereka tidak mencari kebenaran. Sebaliknya, mereka menganalisis dan mempelajari hal-hal menggunakan otak mereka sendiri, atau mereka mencari landasan teori di kalangan orang-orang tidak percaya, dalam budaya tradisional, atau dalam pengetahuan ilmiah. Bukankah ini sebuah kesalahan? (Ya, benar.) Inilah kesalahan terbesarnya. Adakah kebenaran dalam pengetahuan orang-orang tidak percaya? Jika engkau sedang mencari dasar untuk caramu berperilaku, engkau hanya dapat mencari kebenaran di dalam firman Tuhan. Bagaimanapun juga, sejauh mana pun tingkat pemahaman yang mampu dicapai manusia, setiap firman Tuhan dan setiap tuntutan-Nya terhadap manusia adalah nyata dan terperinci, serta sama sekali tidak sesederhana seperti yang dibayangkan dalam gagasan dan imajinasi manusia. Tuntutan Tuhan terhadap manusia bukanlah untuk memperindah penampilan lahiriah mereka, semua itu bukan perilaku sederhana, apalagi sekadar cara melakukan sesuatu, melainkan standar yang Tuhan tuntut dari manusia; itulah prinsip-prinsip dan standar-standar yang harus digunakan oleh manusia dalam berperilaku dan bertindak, dan prinsip-prinsip inilah yang harus orang kuasai dan miliki. Jika Aku tidak mempersekutukan masalah-masalah yang terperinci ini dengan jelas, orang hanya akan memahami beberapa doktrin dan akan merasa sulit untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran.
Yang baru saja kita persekutukan adalah gagasan dan imajinasi yang orang-orang miliki mengenai kepercayaan kepada Tuhan dalam kaitannya dengan perilaku lahiriah mereka. Apa lagi yang engkau semua ketahui sehubungan dengan perilaku lahiriah? Berbicara tentang gagasan, apakah gagasan itu benar ataukah salah? (Salah.) Apakah gagasan itu positif ataukah negatif? (Negatif.) Gagasan pasti bertentangan dengan tuntutan dan kebenaran Tuhan; itu tidak sesuai dengan kebenaran. Entah orang tiba-tiba membayangkannya atau memiliki dasar tertentu, bagaimanapun juga, tak ada satu pun darinya yang berhubungan dengan kebenaran. Jadi, apa tujuan mempersekutukan dan menelaah gagasan-gagasan ini? Yaitu pertama-tama untuk membuat orang mengetahui apa yang dimaksud dengan gagasan, dan pada saat yang sama menyadari bahwa itu adalah gagasan, serta memungkinkan orang memahami apa yang dimaksud dengan kebenaran sebelum masuk ke dalam kebenaran. Tujuannya adalah untuk memungkinkan orang memahami esensi kebenaran, yaitu menghadap Tuhan dengan sungguh-sungguh. Betapapun masuk akalnya gagasanmu atau sebanyak apa dasarnya, gagasan tetaplah gagasan; itu bukanlah kebenaran, dan itu juga tidak dapat menggantikan kebenaran. Jika engkau menganggap gagasan sebagai kebenaran, maka kebenaran tidak akan ada hubungannya denganmu, engkau tidak akan ada hubungannya dengan kepercayaan kepada Tuhan, dan kepercayaanmu tidak akan ada gunanya. Sebanyak apa pun engkau bekerja atau sesibuk apa pun engkau mengerjakan banyak hal untuk Tuhan, atau sebesar apa pun harga yang kaubayar untuk Tuhan, apa yang akan menjadi hasil akhirnya jika engkau melakukan semua ini berdasarkan gagasan dan imajinasimu? Apa pun yang kaulakukan tidak ada hubungannya dengan kebenaran atau dengan Tuhan; Tuhan akan mengutuknya dan tidak menyetujuinya—semua ini adalah hasil yang merugikan dan menguntungkan. Sekarang engkau semua seharusnya memahami betapa pentingnya bagi orang untuk meluruskan gagasan dan imajinasi mereka.
Apa langkah pertama dalam meluruskan gagasanmu? Langkah pertama adalah dengan mengenali dan memahami apa yang dimaksud dengan gagasan. Saat rumah Tuhan pertama kali mulai membuat film, sesuatu yang memuakkan terjadi pada Tim Produksi Film, yang berkaitan dengan gagasan orang. Aku menggunakan masalah ini untuk menelaahnya sekarang, bukan untuk menghukum siapa pun, melainkan untuk memungkinkanmu bertumbuh dalam kearifan, sehingga engkau mengingat masalah ini, dan agar engkau semua memperdalam pemahamanmu tentang gagasan melalui masalah ini dan mengetahui betapa berbahayanya gagasan terhadap orang-orang. Jika Aku tidak membahas hal ini, engkau semua mungkin menganggap bahwa ini bukan masalah besar. Namun, setelah Aku menelaahnya, engkau semua pasti akan menganggukkan kepalamu dan setuju bahwa ini adalah masalah besar. Dalam hal membuat film, ada pertanyaan tentang warna dan gaya pakaian apa yang harus dipilih. Ada orang-orang yang sangat konservatif, secara spesifik menggunakan warna abu-abu dan coklat muda. Aku merasa bingung dengan hal ini dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Mengapa mereka memilih warna-warna pakaian itu? Warna abu-abu dan coklat muda membuat seluruh pemandangan menjadi gelap, dan ketika Aku melihatnya, Aku merasa sangat tidak nyaman. Mengapa mereka tidak memilih warna-warna yang lebih cerah? Aku sudah mengatakan bahwa warna pakaian harus cerah dan gayanya harus pantas serta elegan. Jadi, mengapa orang-orang melupakan firman Tuhan dan tuntutan rumah Tuhan dan sama sekali tidak memperhatikannya, malah memilih kain berwarna abu-abu dan coklat muda untuk membuat pakaian? Mengapa mereka berperilaku dengan cara seperti ini? Bukankah hal ini layak untuk direnungkan? Apa sumber penyebabnya? Orang tidak memahami kebenaran, mereka tidak mendengarkan apa yang dikatakan, dan mereka tidak tunduk—sumber penyebabnya adalah di dalam diri mereka, manusia memiliki natur yang mengkhianati Tuhan. Natur apakah ini? Watak apakah ini? Yang paling krusial, orang-orang tidak mencintai kebenaran dan tidak mau menerima kebenaran, serta hati mereka mengeras. Orang-orang berkata mereka bersedia tunduk pada pengaturan Tuhan dan bersedia mencari kebenaran, tetapi ketika mereka melakukan segala sesuatu, mereka hanya melakukannya berdasarkan apa yang mereka sukai demi mencapai tujuan mereka sendiri. Jika ini adalah masalah kehidupan pribadimu, melakukan segala sesuatu sesuai keinginanmu bukanlah masalah besar, karena itu hanya berhubungan dengan jalan masuk kehidupanmu sendiri. Namun, sekarang engkau sedang melaksanakan tugasmu di gereja, dan konsekuensi tindakan seperti itu berkaitan dengan pekerjaan Tuhan dan kemuliaan Tuhan, serta berkaitan dengan reputasi gereja; jika orang bertindak sembarangan berdasarkan keinginan mereka sendiri, mereka akan cenderung mempermalukan Tuhan. Rumah Tuhan tidak mencampuri cara setiap orang berpakaian—prinsipnya adalah berpenampilan sopan dan pantas, agar orang lain terdidik ketika mereka melihatmu. Namun, pantaskah seseorang mengusulkan agar mengenakan pakaian serba abu-abu dan coklat muda saat membuat film? Apa esensi masalahnya? Ini adalah orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan mengandalkan gagasan mereka dan menganggap warna abu-abu dan coklat muda sebagai tanda dan simbol orang yang percaya dan mengikuti Tuhan. Dapat dikatakan bahwa mereka menggolongkan warna-warna ini sebagai warna-warna yang sesuai dengan kebenaran, sesuai dengan maksud Tuhan, dan sesuai dengan tuntutan Tuhan. Ini adalah sebuah kesalahan. Tidak ada yang salah dengan warna-warna itu sendiri, tetapi jika orang melakukan segala sesuatu berdasarkan gagasan mereka dan menjadikan warna-warna ini sebagai semacam simbol, maka itulah masalahnya. Konsekuensi ini disebabkan oleh gagasan manusia, dan gagasan serta penerapan ini muncul karena gagasan-gagasan ini ada di dalam hati orang. Orang-orang memperlakukan gagasan dan imajinasi ini seolah-olah itu adalah kebenaran, menganggap warna abu-abu dan coklat muda sebagai simbol pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan, sambil mengesampingkan kebenaran, firman Tuhan, dan tuntutan Tuhan serta meniadakannya, menggantinya dengan gagasan dan standar manusia—inilah sumber penyebab masalahnya. Sebenarnya, pemilihan warna dan gaya pakaian adalah hal lahiriah yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran, tetapi hal-hal yang tidak masuk akal ini terjadi karena gagasan orang, dan semua itu menimbulkan dampak negatif tertentu, sehingga kebenaran diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam kepercayaan orang kepada Tuhan, apa pun yang terjadi atau masalah apa pun yang mereka hadapi, gagasan mereka terus-menerus muncul dan mereka terus menggunakannya. Mereka selalu hidup berdasarkan gagasan mereka dan dikekang, dikuasai, serta dikendalikan oleh gagasan mereka. Hal ini menyebabkan semua pemikiran, perilaku, cara hidup, prinsip berperilaku, arah dan tujuan hidup, serta cara mereka memperlakukan firman dan pekerjaan Tuhan dipengaruhi oleh gagasan mereka, dan mereka sama sekali tidak dibebaskan dan dilepaskan oleh kebenaran. Dengan percaya kepada Tuhan dengan cara seperti ini dan selalu berpaut pada gagasan, setelah 10 atau 20 tahun hingga sekarang, gagasan-gagasan yang orang miliki sejak awal tetap tak tersentuh. Tak ada seorang pun yang pernah menelaahnya, orang-orang sendiri tidak pernah memeriksanya, apalagi pernah menerima diri mereka dipangkas. Orang tidak pernah menanganinya dengan sungguh-sungguh, jadi seberapa pun lamanya mereka telah percaya kepada Tuhan, apakah mereka memperoleh hasil, atau tidak? Mereka pasti tidak memperoleh hasil. Hubungan antara manusia dan Tuhan berangsur-angsur membaik melalui proses menelaah, memahami gagasan, lalu membereskannya secara terus-menerus. Bukankah hal ini ada sisi praktisnya? (Ya.) Namun, jika gagasanmu tetap berada pada tahap ketika engkau baru mulai percaya kepada Tuhan, itu berarti hubunganmu dengan Tuhan dapat dikatakan sama sekali belum meningkat. Dalam hal kepercayaan kepada Tuhan, gagasan apa lagi yang engkau semua andalkan dalam hidup yang belum kauluruskan? Gagasan manakah yang selalu kauanggap benar, sesuai dengan kebenaran, dan gagasan manakah yang kauanggap bukan masalah? Gagasan manakah yang dapat memengaruhi perilakumu, pengejaranmu, dan pandanganmu tentang kepercayaan kepada Tuhan, yang menyebabkan hubunganmu dengan Tuhan selalu suam-suam kuku dan tidak dekat ataupun jauh? Engkau secara keliru meyakini bahwa engkau sangat mengasihi Tuhan, bahwa kepercayaan dan kesetiaanmu kepada Tuhan telah bertumbuh, bahwa tekadmu untuk menderita telah bertumbuh, padahal bagi Tuhan, engkau sama sekali tidak memiliki kebenaran sedikit pun. Engkau semua harus menelaah hal ini, dan masing-masing darimu pasti akan memiliki banyak gagasan yang kauandalkan dalam hidup, yang masih ada dan yang belum kauluruskan. Ini adalah masalah yang sangat serius.
Mengenai gagasan orang tentang kepercayaan kepada Tuhan, Aku telah memberikan tiga contoh. Jadi sekarang, apakah engkau semua makin menyadari gagasan-gagasan manakah yang kaumiliki tentang kepercayaan kepada Tuhan? (Ya.) Jadi, katakan kepada-Ku, gagasan dan imajinasi apa lagi yang dapat menghalangi orang agar tidak menerapkan kebenaran dan memengaruhi pelaksanaan tugas mereka serta hubungan mereka yang normal dengan Tuhan? Dengan kata lain, gagasan manakah yang dapat menghalangi orang agar tidak datang ke hadapan Tuhan dan yang dapat secara langsung memengaruhi pengenalan mereka akan Tuhan? (Aku memiliki satu gagasan yang cukup kuat. Aku percaya bahwa jika aku mampu melaksanakan tugasku secara normal setiap hari, aku dapat memperoleh keselamatan.) Percaya bahwa engkau dapat memperoleh keselamatan dengan melaksanakan tugasmu adalah sebuah gagasan dan imajinasi. Jadi, pentingkah melaksanakan tugasmu sesuai dengan standar? Dapatkah orang yang tidak melaksanakan tugas mereka sesuai dengan standar memperoleh keselamatan? Jika orang melaksanakan tugasnya dengan sembrono, ini berarti dia sedang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan Tuhan. Orang yang melaksanakan tugasnya dengan sembrono bukan saja tidak dapat memperoleh keselamatan, tetapi dia juga akan dihukum. Engkau semua tidak mampu memikirkan hal-hal ini, engkau tidak memahaminya, dan engkau tidak dapat melihatnya dengan jelas, tetapi engkau tetap mengatakan hal-hal seperti, "Asalkan aku melaksanakan tugasku, aku dapat memperoleh keselamatan dan masuk ke dalam Kerajaan Surga." Apakah ini sesuai dengan firman Tuhan? Pemikiran seperti ini hanyalah angan-angan; bagaimana mungkin engkau dapat memperoleh keselamatan dengan begitu mudahnya? Apakah tidak menerima kebenaran dapat dianggap sebagai memiliki kepercayaan kepada Tuhan? Dapatkah seseorang memperoleh keselamatan tanpa membuang wataknya yang rusak? Ada terlalu banyak gagasan dan imajinasi di dalam diri engkau semua. Segala macam imajinasi, pemahaman, dan definisi yang tidak sesuai dengan kebenaran adalah gagasan. Gagasan apa lagi yang engkau semua miliki? (Menurutku, makin penting tugas yang kulaksanakan dan makin banyak prestasi yang kucapai menjadi kesaksian bagi Tuhan, maka makin banyak pahala yang akan kuperoleh, makin Tuhan akan berkenan, dan makin besar berkatku di masa depan.) Ini pun adalah gagasan. Singkatnya, semua gagasan adalah imajinasi dan pemikiran orang yang muncul begitu saja. Meskipun gagasan-gagasan ini mungkin memiliki dasar tertentu, tetapi gagasan-gagasan tersebut bukanlah berasal dari dasar apa pun dalam firman Tuhan atau kebenaran, melainkan berasal dari angan-angan orang dan dihasilkan oleh hasrat untuk diberkati. Ketika orang melakukan hal-hal yang dikuasai oleh pemikiran seperti itu, mereka melakukan segala macam hal, dan mereka membayar harga yang mahal sebelum akhirnya mendapati bahwa mereka telah melakukan kesalahan dan melanggar prinsip, bahwa segala sesuatunya tidak seperti yang mereka bayangkan, sehingga mereka menjadi negatif. Suatu hari, ketika mereka melihat ke masa lalu dan menyadari bahwa mereka telah menempuh jalan yang didasarkan pada gagasan dan imajinasi mereka, banyak waktu telah terbuang, dan mereka ingin kembali, tetapi tidak mungkin. Gagasan apa lagi yang engkau semua miliki yang belum kauluruskan? (Menurutku, karena aku percaya kepada Tuhan dan mengorbankan diriku untuk Tuhan, maka Tuhan harus memberkatiku dan memberiku keuntungan. Ketika aku memiliki masalah dan aku berseru kepada Tuhan, kurasa Tuhan seharusnya membukakan jalan bagiku, dan karena aku percaya kepada Tuhan, semuanya seharusnya berjalan dengan lancar. Itu sebabnya, ketika aku sedang melaksanakan tugasku dan menghadapi situasi sulit, aku salah paham dan membenci Tuhan, dan merasa Tuhan tidak seharusnya membiarkan hal itu terjadi padaku.) Kebanyakan orang memiliki gagasan ini; ini adalah semacam pemahaman yang orang miliki tentang kepercayaan kepada Tuhan. Orang-orang beranggapan bahwa orang percaya kepada Tuhan untuk mendapatkan keuntungan, dan jika mereka tidak mendapatkan keuntungan, berarti jalan tersebut pasti salah. Jadi sekarang, sudahkah gagasan tersebut diluruskan? Sudahkah engkau mulai meluruskannya? Ketika gagasan ini mengendalikan perilakumu atau memengaruhi arah yang kautuju, sudahkah engkau mencari kebenaran untuk meluruskannya? Di dalam hatinya, orang sering kali memiliki pola pikir tertentu tentang kepercayaan kepada Tuhan, beranggapan bahwa karena mereka percaya kepada Tuhan, maka segala sesuatunya harus aman, atau mereka berpikir, "Aku mengorbankan diriku dan melaksanakan tugasku untuk Tuhan, jadi Tuhan seharusnya memberkati keluargaku, memberkati seluruh keluargaku dengan kedamaian, membuatku tidak sakit, dan agar seluruh keluargaku bisa berbahagia. Dan meskipun aku melaksanakan tugasku, ini adalah pekerjaan Tuhan, jadi Tuhan seharusnya memikul semua tanggung jawab untuk itu dan mengatur segalanya dengan baik dan membuatku tidak menghadapi kesulitan, bahaya, atau pencobaan apa pun saat aku sedang melaksanakan tugasku. Jika hal seperti ini terjadi, kemungkinan itu bukan perbuatan Tuhan." Semua ini adalah gagasan manusia; manusia cenderung memiliki gagasan seperti itu ketika mereka tidak memahami pekerjaan Tuhan. Apakah gagasan-gagasan ini sering muncul saat engkau semua sedang melaksanakan tugasmu? (Ya.) Jika engkau selalu beranggapan bahwa gagasan dan imajinasimu benar-benar normal dan masuk akal dan bahwa memang seperti inilah seharusnya, dan engkau tidak mencari kebenaran untuk meluruskannya, engkau tidak akan mampu memperoleh kebenaran dan tidak akan memiliki jalan masuk kehidupan. Bagimu, kebenaran tidak akan bernilai atau bermakna, dan kepercayaanmu kepada Tuhan juga tidak akan ada artinya. Dalam kepercayaan orang-orang kepada Tuhan, jika mereka sering makan dan minum firman Tuhan, menghadiri pertemuan, mendengarkan khotbah, dan menjalani kehidupan rohani yang sangat normal, tetapi mereka bertindak, berperilaku, dan melaksanakan tugas mereka dengan mengandalkan gagasan mereka, mendasarkan segalanya pada gagasan mereka, dan menggunakan gagasan mereka untuk menilai benar atau salahnya segala sesuatu, bukankah orang-orang semacam ini hidup dalam gagasan mereka? Sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengar atau sebanyak apa pun mereka makan dan minum firman Tuhan, dapatkah orang-orang yang hidup dalam gagasan mereka berubah sama sekali? Dapatkah hubungan mereka dengan Tuhan menjadi lebih baik? (Tidak.) Jadi, apakah Tuhan berkenan terhadap iman seperti ini? (Tidak.) Tentu saja tidak. Itulah sebabnya sangat penting untuk menelaah gagasan-gagasan yang ada dalam diri manusia.
Kebanyakan orang tidak memiliki gagasan ketika mereka telah makan dan minum sampai kenyang dan semuanya baik-baik saja, ataupun ketika menjalankan ritual keagamaan tradisional. Namun, ketika Tuhan melakukan pekerjaan-Nya dan mengungkapkan kebenaran, ada banyak gagasan yang bermunculan. Manusia tidak memiliki gagasan ketika mereka belum melaksanakan tugas mereka dan hanya menghadiri pertemuan seperti biasanya, tetapi ketika Tuhan menuntut mereka untuk melaksanakan tugas mereka atau ketika mereka menghadapi kesulitan dalam tugas mereka, banyak gagasan yang bermunculan. Orang-orang tidak memiliki gagasan ketika mereka merasa nyaman secara fisik dan menikmati hidup, tetapi ketika mereka sakit atau menghadapi kesulitan, gagasan-gagasan bermunculan dengan sendirinya. Sebagai contoh, sebelum dia percaya kepada Tuhan, pekerjaan dan kehidupan keluarga seseorang semuanya berjalan dengan lancar, tetapi setelah dia mulai percaya kepada Tuhan, terjadilah hal-hal yang tidak dia sukai. Terkadang dia dihakimi, didiskriminasi, ditindas, dan bahkan ditangkap, disiksa, dan menderita penyakit yang berkepanjangan, yang membuatnya merasa tidak tenang dan berpikir, "Mengapa segala sesuatunya tidak pernah berjalan dengan baik selama bertahun-tahun aku percaya kepada Tuhan? Aku percaya kepada Tuhan yang benar, jadi mengapa Tuhan tidak melindungiku? Bagaimana bisa Tuhan melihatku dipukuli oleh orang jahat dan diinjak-injak oleh setan-setan dan tidak peduli?" Bukankah orang-orang memiliki gagasan seperti ini? Apa yang membuat mereka memiliki gagasan tersebut? Orang-orang beranggapan, "Karena sekarang aku percaya kepada Tuhan, maka aku adalah milik-Nya, dan Tuhan harus menjagaku, menyediakan makanan dan tempat tinggalku, mengurus masa depan dan nasibku, serta menjaga keamanan pribadiku, termasuk keamanan keluargaku, dan menjamin bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik bagiku, bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan damai dan tanpa insiden." Dan jika faktanya tidak seperti yang diharapkan dan dibayangkan, mereka berpikir, "Percaya kepada Tuhan tidaklah sebaik atau semudah yang kubayangkan. Ternyata aku masih harus menanggung semua penganiayaan dan kesengsaraan ini serta melewati banyak ujian dalam kepercayaanku kepada Tuhan. Mengapa Tuhan tidak melindungiku?" Apakah pemikiran seperti ini benar, atau salah? Apakah itu sesuai dengan kebenaran? (Tidak.) Jadi, bukankah pemikiran seperti ini menunjukkan bahwa mereka sedang mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tuhan? Mengapa orang yang memiliki pemikiran seperti itu tidak berdoa kepada Tuhan atau mencari kebenaran? Dengan mengizinkan manusia menghadapi hal-hal seperti itu, Tuhan pada dasarnya memiliki kehendak baik; mengapa manusia tidak memahami maksud Tuhan? Mengapa mereka tidak mampu bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan? Tuhan dengan sengaja membuat manusia menghadapi hal-hal seperti itu agar mereka dapat mencari kebenaran dan memperoleh kebenaran, sehingga mereka dapat hidup berdasarkan kebenaran. Namun, manusia tidak mencari kebenaran, tetapi selalu menggunakan gagasan dan imajinasi mereka sendiri untuk menilai Tuhan. Inilah masalah mereka. Dengan cara seperti inilah engkau harus memahami hal-hal yang tidak menyenangkan ini: tak ada seorang pun yang menjalani seluruh hidup mereka tanpa penderitaan. Bagi beberapa orang, ini ada hubungannya dengan keluarga, bagi beberapa orang, dengan pekerjaan atau perkawinan, dan bagi beberapa orang, dengan penyakit fisik. Semua orang harus menderita. Beberapa orang berkata, "Mengapa manusia harus menderita? Alangkah baiknya jika kita dapat menjalani seluruh hidup kita dengan damai dan bahagia. Tak bisakah kita tidak menderita?" Tidak—semua orang harus menderita. Penderitaan menyebabkan semua orang mengalami berbagai perasaan kehidupan jasmani, entah perasaan ini positif, negatif, aktif atau pasif; penderitaan memberimu berbagai perasaan dan pengetahuan, yang bagimu, semuanya merupakan pengalaman hidupmu. Itu adalah satu aspek, dan itu untuk membuat orang lebih berpengalaman. Jika engkau dapat mencari kebenaran dan memahami maksud Tuhan dari penderitaan ini, engkau akan makin dekat dengan standar yang Tuhan tuntut darimu. Aspek lainnya adalah bahwa itu adalah tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tanggung jawab apa? Inilah penderitaan yang harus kaualami. Jika engkau dapat menanggung penderitaan ini dan memikulnya, maka ini adalah kesaksian, dan bukan sesuatu yang memalukan. Ketika mereka menderita penyakit, ada orang-orang yang takut bahwa orang lain akan mengetahuinya; mereka menganggap bahwa menderita penyakit adalah sesuatu yang memalukan, padahal sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Sebagai manusia normal, jika meskipun sedang sakit, engkau mampu tunduk pada pengaturan Tuhan, menanggung segala macam penderitaan, dan tetap mampu melaksanakan tugasmu dengan normal, mampu menyelesaikan amanat yang Tuhan berikan kepadamu, apakah ini hal yang baik atau buruk? Ini adalah hal yang baik, ini adalah kesaksian atas ketundukanmu kepada Tuhan, ini adalah kesaksian atas kesetiaanmu dalam melaksanakan tugasmu, dan ini adalah kesaksian yang mempermalukan dan kemenangan atas Iblis. Oleh karena itu, setiap makhluk ciptaan dan setiap umat pilihan Tuhan harus menerima dan tunduk pada penderitaan apa pun. Beginilah caramu harus memahaminya, dan engkau harus memetik pelajaran ini dan mencapai ketundukan sejati kepada Tuhan. Hal ini sesuai dengan maksud Tuhan, dan itu adalah harapan Tuhan. Inilah yang diatur Tuhan bagi setiap makhluk ciptaan. Tuhan menempatkanmu dalam situasi dan kondisi ini setara dengan memberimu tanggung jawab, kewajiban, dan amanat, dan karena itu, engkau harus menerimanya. Bukankah ini adalah kebenaran? (Ya.) Selama itu berasal dari Tuhan, selama Tuhan yang menuntut hal seperti itu darimu, dan memiliki maksud ini terhadapmu, maka itu adalah kebenaran. Mengapa ini dikatakan sebagai kebenaran? Ini karena, jika engkau menerima firman ini sebagai kebenaran, engkau akan mampu mengatasi watak rusakmu, gagasanmu, dan pemberontakanmu, sehingga ketika engkau kembali menghadapi kesulitan, engkau tidak akan melawan keinginan Tuhan atau memberontak terhadap Tuhan. Dengan kata lain, engkau akan mampu menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan. Dengan demikian, engkau akan mampu menjadi kesaksian yang mempermalukan Iblis, dan engkau akan dapat memperoleh kebenaran dan memperoleh keselamatan. Jika engkau berpaut pada gagasan dan pemikiranmu sendiri, dan berpikir, "Sekarang aku percaya kepada Tuhan, jadi Tuhan seharusnya memberkatiku. Aku harus menjadi orang yang diberkati," lalu bagaimana engkau memahami berkat ini? Yang kaupahami tentang berkat adalah kemegahan dan kesejahteraan seumur hidup, memiliki segala sesuatu yang ingin kaumakan dan minum, tidak mengidap penyakit apa pun, dilahirkan memiliki segalanya, memiliki segala sesuatu yang siap untuk digunakan, dan menikmati kekayaan materiel tanpa harus bekerja untuk mendapatkannya. Selain itu, menjalani kehidupan yang tenang di mana segala sesuatunya berjalan dengan lancar, hidup dalam kenyamanan luar biasa tanpa penderitaan apa pun. Inilah yang kaumaksud dengan berkat. Namun, jika dilihat sekarang, apakah itu adalah berkat? Itu bukan berkat, itu adalah bencana. Menempuh jalan yang mendambakan kenyamanan daging akan membuatmu makin menjauh dari Tuhan, serta membuatmu makin tenggelam dalam dunia yang jahat ini, tidak mampu melepaskan dirimu. Ketika Sang Pencipta memanggilmu, ada banyak hal yang tidak bersedia kaulepaskan, dan engkau tidak mampu melepaskan kenyamanan daging ini. Sekalipun Tuhan memberimu amanat dan memintamu melaksanakan tugas, engkau terlalu memperlakukan dirimu berharga: hari ini engkau merasa tidak enak badan, besok suasana hatimu sedang tidak baik, engkau merindukan orang tuamu, engkau merindukan pasanganmu, setiap hari hanya memikirkan hal-hal duniawi, tidak melaksanakan tugas apa pun dengan baik, tetapi ingin mendapatkan lebih banyak kesenangan daripada orang lain. Engkau hidup seperti parasit. Mampukah engkau menerapkan kebenaran? Mampukah engkau menjadi kesaksian? Tidak, engkau tidak mampu. Orang-orang memiliki begitu banyak imajinasi mengenai kepercayaan kepada Tuhan. Mereka membayangkan bahwa setelah mereka mulai percaya kepada Tuhan, mereka akan memiliki kekayaan dan kedamaian sepanjang hidup mereka, bahwa semua kerabat mereka akan mendapat manfaat dari kehidupan mereka dan menatap mereka dengan rasa iri, bahwa mereka tidak akan pernah menjadi miskin, dan bahwa mereka tidak akan pernah sakit atau menghadapi bencana apa pun. Imajinasi seperti itu menyebabkan manusia memiliki banyak tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tuhan. Ketika engkau mulai memiliki tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tuhan, apakah hubunganmu dengan Tuhan normal, atau tidak normal? Tentu saja tidak normal. Jadi, apakah gagasan dan imajinasi ini membuatmu berpihak pada Tuhan, atau menentang Tuhan? Hal-hal tersebut hanya dapat membuatmu menentang Tuhan, bersaing dan menolak Tuhan, serta bahkan mengkhianati serta meninggalkan Tuhan, dan perilaku-perilaku ini menjadi makin serius. Dengan kata lain, begitu manusia memiliki gagasan ini, mereka tidak lagi mampu menjaga hubungan yang normal dengan Tuhan. Ketika orang memiliki gagasan tentang Tuhan, hati mereka kemudian menghasilkan perasaan yang memberontak dan negatif. Pada saat-saat seperti ini, mereka harus mencari kebenaran untuk meluruskan gagasan-gagasan tersebut. Ketika mereka memahami kebenaran, ketika mereka memahami amanat yang Tuhan berikan kepada mereka dan banyaknya tuntutan yang Tuhan miliki dalam kepercayaan mereka kepada-Nya, begitu mereka memahami hal-hal ini dan dapat berperilaku serta bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan, dengan begitu gagasan dan imajinasi mereka akan diluruskan. Setelah mereka mulai memahami kebenaran, mereka akan dengan sendirinya melepaskan gagasan mereka, dan pada saat itulah hubungan mereka dengan Tuhan akan menjadi makin normal. Meluruskan gagasan sama dengan meluruskan kesalahpahaman tentang Tuhan. Dengan kata lain, hanya jika mereka melepaskan dan meluruskan gagasan mereka, barulah mereka akan memahami apa yang dimaksud dengan kebenaran dan apa itu tuntutan-tuntutan Tuhan.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English...
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...