Prinsip-Prinsip Penerapan Ketundukan kepada Tuhan (Bagian Dua)
Mari kita lihat sikap Ayub dalam memperlakukan anak-anaknya. Ayub takut akan Yahweh, tetapi anak-anaknya tidak percaya pada Tuhan—bukankah di mata orang luar, ini memalukan bagi Ayub? Menurut pemahaman manusia, keluarga Ayub adalah keluarga yang besar, dia takut akan Tuhan Yahweh, tetapi anak-anaknya tidak percaya pada Tuhan, sehingga dia tidak memiliki kehormatan. Bukankah ide bahwa hal ini memalukan berasal dari gagasan manusia, dari manusia yang mudah terprovokasi? Manusia mungkin berpikir, "Ini sangat tidak terhormat. Aku harus memikirkan caranya supaya mereka percaya kepada Tuhan sehingga aku dihormati." Bukankah ini berasal dari keinginan manusia? Inikah yang dilakukan Ayub? (Bukan.) Bagaimana hal ini dicatat dalam Alkitab? (Ayub mempersembahkan korban dan berdoa untuk mereka.) Ayub hanya mempersembahkan korban dan berdoa untuk mereka. Sikap apakah ini? Dapatkah kalian melihat prinsip yang diterapkan Ayub? Kita tidak tahu apakah Ayub menghalangi atau mengganggu pesta anak-anaknya, tetapi yang jelas, dia tidak berpartisipasi—dia hanya mempersembahkan korban bagi mereka. Apakah dia pernah berkata dalam doanya, "Tuhan Yahweh, gerakkan mereka, buatlah mereka percaya pada-Mu, biarlah mereka memperoleh kasih karunia-Mu dan biarlah mereka takut akan Engkau dan menjauhi kejahatan seperti yang kulakukan"? Pernahkah dia berdoa seperti ini? Alkitab tidak mencatat hal ini. Tindakan Ayub adalah menjauhkan diri dari mereka, mempersembahkan korban untuk mereka, dan mengkhawatirkan mereka, jangan sampai mereka berdosa terhadap Tuhan Yahweh. Ayub menerapkan hal-hal ini. Apa prinsip-prinsip yang diterapkannya? Dia tidak memaksa mereka. Jadi, apakah Ayub ingin anak-anaknya percaya pada Tuhan, atau tidak? Tentu saja dia ingin. Sebagai seorang ayah yang percaya pada Tuhan, melihat anak-anaknya melekat pada dunia yang seperti ini, tanpa sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, tentu membuatnya sangat sedih. Dia tentu ingin anak-anaknya menghadap ke hadirat Tuhan, berkorban seperti dirinya, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, serta menerima kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Ini bukan masalah kehormatan, ini adalah tanggung jawab orang tua. Namun, anak-anaknya memilih untuk tidak percaya, dan sebagai seorang ayah, Ayub tidak ingin memaksa mereka. Seperti itulah sikapnya. Jadi apa yang dia lakukan? Apakah dia menyeret mereka dengan paksa, atau mencoba membujuk mereka? (Tidak.) Sama sekali tidak. Paling-paling, dia hanya memberi beberapa patah kata nasihat, dan ketika anak-anaknya tidak mendengarkan, dia menyerah. Dia memberi tahu mereka agar tidak terlalu melewati batas dalam melakukan apa pun, dan memisahkan diri dari mereka, membuat batasan yang jelas dengan mereka, setiap orang menjalani hidupnya masing-masing. Ayub mempersembahkan korban untuk mereka karena takut mereka akan menyinggung Tuhan. Dia tidak mempersembahkan korban untuk mereka, dia melakukannya karena dia memiliki hati yang takut akan Tuhan. Ayub tidak memaksa mereka, atau menyeret paksa mereka, dia juga tidak berkata: "Mereka ini anak-anakku dan aku harus membuat mereka percaya pada Tuhan agar Tuhan dapat memperoleh lebih banyak orang." Dia tidak berkata seperti itu, juga tidak merencanakan atau memperhitungkannya, juga tidak bertindak demikian. Dia tahu bahwa tindakan yang seperti ini berasal dari keinginan manusia, yang tidak disukai Tuhan. Ayub hanya menasihati anak-anaknya, dan berdoa untuk mereka, tetapi tidak memaksa mereka atau menyeret paksa mereka, dan bahkan membuat batasan yang jelas. Ini adalah rasionalitas Ayub, dan juga penerapan sebuah prinsip: Jangan mengandalkan keinginan atau niat baik manusia untuk melakukan apa pun yang bisa menyinggung Tuhan. Selain itu, mereka tidak percaya pada Tuhan dan Tuhan tidak menggerakkan mereka. Ayub mengerti maksud Tuhan: "Tuhan belum bekerja atas mereka, jadi aku tidak akan berdoa untuk mereka. Aku tidak akan meminta apa pun pada Tuhan dan aku tidak ingin menyinggung Tuhan dalam hal ini." Dia sama sekali tidak mau berdoa sambil menangis atau berpuasa agar anak-anaknya diselamatkan, agar mereka datang ke hadapan Tuhan Yahweh dan diberkati. Dia sama sekali tidak bertindak demikian; dia tahu tindakan seperti ini akan menyinggung Tuhan, dan Tuhan tidak akan menyukainya. Apa yang dapat engkau amati dari detail ini? Apakah ketundukan Ayub tulus? (Ya.) Bisakah orang biasa mencapai ketundukan seperti ini? Orang biasa tidak bisa. Anak-anak adalah harta yang paling berharga bagi orang tua, jadi saat anak-anak mereka berpesta seperti ini, dan melihat mereka mengikuti tren yang jahat, tidak datang ke hadirat Tuhan, kehilangan kesempatan untuk percaya kepada Tuhan dan diselamatkan—dan mungkin bahkan jatuh ke dalam kebinasaan dan dihancurkan—ini adalah cobaan yang terlalu sulit untuk diatasi secara emosional oleh orang biasa. Namun, Ayub sanggup melakukannya. Dia hanya melakukan satu hal, yaitu mempersembahkan korban bakaran bagi mereka, dan mengkhawatirkan mereka dalam hati. Itu saja. Anak-anaknya adalah keluarganya yang dia kasihi, tapi dia tidak melakukan hal berlebihan apa pun untuk mereka yang dapat menyinggung Tuhan. Apa pendapatmu mengenai cara Ayub menerapkan prinsip ini? Ini menunjukkan bahwa Ayub memiliki hati yang takut akan Tuhan dan dia benar-benar tunduk pada-Nya. Ketika berhadapan dengan masalah yang menyangkut masa depan anak-anaknya, dia tidak berdoa sama sekali, dia juga tidak bertindak berdasarkan keinginan manusia; dia hanya mengirim pelayan-pelayannya untuk melakukan sesuatu, Ayub tidak melakukannya sendiri. Alasan mengapa dia tidak berpartisipasi dalam pesta adalah dia tidak ingin terkontaminasi oleh hal-hal itu, dia juga tidak ingin terlibat di dalamnya. Dengan terlibat di dalamnya, dia akan menyinggung Tuhan, karena itulah dia menjauhkan diri dari tempat-tempat yang jahat. Adakah detail khusus dari penerapan Ayub? Pertama, mari kita bicara tentang cara Ayub memperlakukan anak-anaknya. Tujuan Ayub adalah tunduk pada penataan dan pengaturan Tuhan dalam segala hal; dia tidak berusaha memaksakan hal-hal yang tidak Tuhan lakukan, dia juga tidak melakukan perhitungan dan rencana berdasarkan keinginan manusia. Dia mendengar dan menantikan penataan dan pengaturan Tuhan dalam segala hal. Ini adalah prinsip umum. Apa saja metode terperinci dari penerapannya? (Dia tidak berpartisipasi dalam pesta anak-anaknya. Dia menjauhkan diri dan mempersembahkan korban bakaran bagi mereka tetapi dia tidak memaksa mereka untuk percaya pada Tuhan, juga tidak menyeret paksa mereka, dan dia membuat batasan yang jelas dengan mereka.) Ini adalah prinsip penerapan. Bagaimana tindakan orang biasa ketika menghadapi masalah ini? (Mereka berdoa kepada Tuhan agar anak-anak mereka percaya kepada-Nya.) Apa lagi? Jika Tuhan tidak melakukan itu, mereka menyeret anak-anak mereka ke gereja, agar anak-anak itu diberkati. Mereka melihat bahwa mereka telah memperoleh anugerah besar untuk masuk ke dalam kerajaan surga dan anak-anak mereka tidak, sehingga hati mereka merasa sakit dan menyesal. Mereka tidak ingin anak-anak mereka kehilangan anugerah ini, jadi mereka memutar otak mencoba mencari cara untuk menarik anak-anak mereka ke gereja, berpikir bahwa ini sama dengan memenuhi tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Mereka sebenarnya tidak peduli apakah anak-anak mereka mampu mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan. Ayub tidak melakukan hal ini, tetapi orang biasa tidak mampu melakukannya. Mengapa tidak? (Orang memiliki watak yang rusak. Mereka bertindak berdasarkan ikatan perasaan mereka.) Kebanyakan orang sama sekali tidak mempertimbangkan apakah bertindak dengan cara ini menyinggung Tuhan, atau tidak. Prioritas mereka adalah memuaskan diri sendiri, memperhatikan perasaan mereka, dan memuaskan keinginan mereka sendiri. Mereka tidak mempertimbangkan bagaimana Tuhan memegang kedaulatan atau menata berbagai hal, apa yang Tuhan lakukan atau apa maksud-Nya. Mereka hanya mempertimbangkan hasrat mereka, perasaan mereka, niat mereka, dan keuntungan mereka sendiri. Bagaimana Ayub memperlakukan anak-anaknya? Dia hanya memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, memberitakan Injil dan mempersekutukan kebenaran kepada mereka. Namun, entah mereka mendengarkan dia atau tidak, entah mereka taat atau tidak, Ayub tidak memaksa mereka untuk percaya kepada Tuhan—dia tidak menekan mereka, atau ikut campur dalam hidup mereka. Gagasan dan pendapat mereka berbeda dengan gagasan dan pendapatnya, jadi dia tidak ikut campur dengan apa yang mereka lakukan, dan tidak ikut campur dengan jalan apa yang mereka tempuh. Apakah Ayub jarang berbicara kepada anak-anaknya tentang kepercayaan kepada Tuhan? Dia pasti sudah cukup banyak berbicara kepada mereka tentang hal ini, tetapi mereka tidak mau mendengarkan, dan tidak menerimanya. Bagaimana sikap Ayub terhadap hal itu? "Aku telah memenuhi tanggung jawabku; mengenai jalan apa yang mereka ambil, itu terserah pada apa yang mereka pilih, dan itu terserah pada pengaturan dan penataan Tuhan. Jika Tuhan tidak bekerja dalam diri mereka, atau menggerakkan mereka, aku tidak akan berusaha memaksa mereka." Oleh karena itu, Ayub tidak berdoa untuk mereka di hadapan Tuhan, atau mencucurkan air mata kesedihan untuk mereka, atau berpuasa untuk mereka atau menderita dengan cara apa pun. Dia tidak melakukan hal-hal ini. Mengapa Ayub tidak melakukan satu pun dari hal-hal ini? Karena tak satu pun dari hal ini yang merupakan cara untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan; semua hal ini berasal dari gagasan manusia dan merupakan cara yang secara aktif memaksakan sesuatu. Ketika anak-anak Ayub tidak mau mengambil jalan yang sama dengannya, beginilah sikap Ayub; lalu ketika anak-anaknya meninggal, bagaimana sikapnya? Apakah dia menangis, atau tidak? Apakah dia melampiaskan perasaannya? Apakah dia merasa terluka? Hal ini tidak dicatat dalam Alkitab. Saat Ayub melihat anak-anaknya meninggal, apakah dia merasa patah hati atau sedih? (Ya.) Berbicara tentang kasih sayang yang dia rasakan terhadap anak-anaknya, dia pasti merasakan sedikit kesedihan, tetapi dia tetap taat kepada Tuhan. Bagaimana ketaatannya ditunjukkan? Dia berkata: "Anak-anak ini diberikan kepadaku oleh Tuhan. Entah mereka percaya kepada Tuhan atau tidak, hidup mereka ada di tangan Tuhan. Jika mereka percaya kepada Tuhan, dan Tuhan ingin mengambil mereka, Dia akan tetap melakukannya; jika mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka tetap akan dibawa pergi jika Tuhan mengatakan mereka akan dibawa pergi. Semua ini ada di tangan Tuhan; jika tidak, siapa yang bisa merenggut nyawa orang?" Singkatnya, apa maksud hal ini? "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). Dia mempertahankan sikap ini dalam memperlakukan anak-anaknya. Entah mereka hidup atau mati, Ayub tetap bersikap seperti ini. Cara penerapannya benar; dalam setiap cara yang dia terapkan, dalam sudut pandang, sikap dan keadaan yang digunakannya untuk memperlakukan segala sesuatu, dia selalu dalam posisi dan keadaan yang tunduk, menunggu, mencari, kemudian memperoleh pemahaman. Sikap ini sangat penting. Jika orang tidak pernah memiliki sikap seperti ini dalam apa pun yang mereka lakukan, dan memiliki gagasan pribadi yang sangat kuat serta menempatkan niat dan keuntungan pribadi di atas segalanya, apakah itu berarti mereka benar-benar tunduk? (Tidak.) Dalam diri orang-orang semacam itu, tidak terlihat adanya sikap yang sungguh-sungguh tunduk; mereka tidak mampu mencapai ketundukan sejati.
Ada orang-orang yang tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam melaksanakan tugas mereka, sebaliknya bersandar pada keinginannya sendiri dalam bertindak. Apa perwujudan yang paling umum terlihat pada orang yang gagasan pribadinya keras seperti itu? Mereka akan merencanakan segalanya di dalam pikirannya terlebih dahulu, memikirkan semua kemungkinan yang dapat terpikirkan, dan membuat rencana yang matang, tanpa memedulikan apa pun yang terjadi pada mereka. Ketika merasa tidak ada kekurangan dalam rencananya, mereka akan sepenuhnya melakukannya sesuai dengan keinginan mereka, tetapi rencana mereka sering kali tidak bisa mengikuti perubahan sehingga terkadang terjadi kesalahan. Di mana masalahnya? Saat kita bertindak sesuai keinginan kita sendiri, kesalahan sering terjadi. Jadi, apa pun yang terjadi, semua orang harus duduk dan mencari kebenaran bersama-sama, berdoa memohon bimbingan Tuhan. Dengan pencerahan dari Tuhan, hal-hal yang dihasilkan dari persekutuan akan sangat terang dan menyediakan jalan ke depan. Sebagai tambahan, dengan menyerahkan persoalannya kepada Tuhan, memandang Tuhan, bergantung pada Tuhan, membiarkan Tuhan memimpinmu, dan membiarkan Tuhan memelihara dan melindungimu—dengan menerapkan cara-cara ini, kita akan mendapatkan lebih banyak keamanan dan terhindar dari persoalan besar. Bisakah hal-hal yang dirancang benak manusia benar-benar sesuai dengan fakta-faktanya? Bisakah hal-hal itu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Tidak mungkin. Jika engkau tidak bergantung pada Tuhan dan tidak memandang pada Tuhan dalam melaksanakan tugas, sekadar bertindak sesuai keinginanmu, sepintar apa pun engkau, akan selalu ada saatnya gagal. Orang yang congkak dan selalu merasa dirinya benar cenderung mengikuti gagasannya sendiri, apakah orang yang demikian mempunyai hati yang takut akan Tuhan? Orang-orang yang gagasan pribadinya keras akan melupakan Tuhan saat melakukan sesuatu, lupa untuk tunduk pada Tuhan. Hanya pada saat menemui jalan buntu dan gagal mencapai apa pun, barulah mereka teringat bahwa mereka belum tunduk dan belum berdoa kepada Tuhan. Apa masalahnya? Di hati mereka, tidak ada Tuhan. Tindakan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki Tuhan dalam hatinya, melainkan hanya mengandalkan diri sendiri. Maka, baik saat melakukan pekerjaan gereja, saat melaksanakan tugas, saat mengerjakan urusan lainnya, atau saat mengerjakan urusan pribadi, harus ada prinsip di hatimu, harus ada suatu keadaan. Keadaan yang bagaimana? "Apa pun itu, sebelum sesuatu terjadi padaku, aku harus berdoa, aku harus tunduk pada Tuhan, aku harus tunduk pada kedaulatan-Nya. Segala sesuatu ada dalam pengaturan Tuhan, dan saat sesuatu terjadi, aku harus mencari maksud Tuhan, aku harus memiliki pola pikir seperti ini, aku tidak boleh berencana sendiri." Setelah mengalami hal seperti ini dalam jangka waktu tertentu, barulah manusia mulai melihat kedaulatan Tuhan dalam banyak hal. Jika engkau selalu memiliki rencana, pertimbangan, keinginan, motif yang egois, dan hasrat, tanpa sadar hatimu akan jauh dari Tuhan, engkau tidak akan bisa melihat tindakan Tuhan, dan Tuhan akan sering tersembunyi darimu. Bukankah engkau suka melakukan banyak hal menurut gagasanmu sendiri? Bukankah engkau membuat rencanamu sendiri? Engkau menganggap dirimu terpelajar, berpengetahuan, memiliki pikiran, cara dan metodologi untuk melakukan berbagai hal, engkau bisa melakukannya sendiri, engkau mampu, engkau tidak membutuhkan Tuhan, sehingga Tuhan berfirman, "Kalau begitu, pergilah dan lakukan sendiri. Entah itu berjalan dengan baik atau tidak, itu adalah tanggung jawabmu sendiri, Aku tidak peduli." Tuhan tidak memedulikanmu. Ketika orang beriman kepada Tuhan dengan mengikuti kehendak hati mereka sendiri seperti ini, dan hanya memercayai apa pun yang ingin mereka percayai, apa konsekuensinya? Mereka tidak akan pernah mampu mengalami kedaulatan Tuhan, mereka tidak akan pernah melihat tangan Tuhan, tidak akan pernah merasakan pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus, dan mereka tidak dapat merasakan bimbingan Tuhan. Dan apa yang akan terjadi seiring berjalannya waktu? Hati mereka akan makin menjauh dari Tuhan, dan efek-efeknya akan mulai muncul. Apa efeknya? (Meragukan dan menyangkal Tuhan.) Ini bukan hanya masalah meragukan dan menyangkal Tuhan. Ketika sudah tidak ada tempat untuk Tuhan di dalam hati orang, dan mereka berbuat sesuka hati dalam waktu yang lama, sebuah kebiasaan akan terbentuk. Ketika sesuatu terjadi pada mereka, hal pertama yang akan mereka lakukan adalah memikirkan solusinya sendiri dan bertindak menurut maksud, tujuan, dan rencana mereka sendiri. Mereka akan terlebih dahulu mempertimbangkan apakah itu bermanfaat bagi mereka; jika ya, mereka akan melakukannya, dan jika tidak, mereka tidak akan melakukannya. Mereka akan terbiasa untuk langsung mengambil jalan ini. Dan bagaimana Tuhan akan memperlakukan orang-orang seperti itu jika mereka terus bertindak demikian tanpa pertobatan? Tuhan tidak akan memedulikan mereka, dan akan mengesampingkan mereka. Apa yang dimaksud dengan dikesampingkan? Tuhan tidak akan mendisiplinkan atau menegur mereka; mereka akan makin memanjakan diri sendiri, tanpa penghakiman, hajaran, disiplin, atau teguran, apalagi pencerahan, penerangan, atau bimbingan. Itulah yang dimaksud dengan dikesampingkan. Bagaimana perasaan orang ketika Tuhan mengesampingkan mereka? Roh mereka merasa gelap, Tuhan tidak bersama mereka, mereka merasa tidak mengerti dengan jelas tentang visi-visi, mereka tidak memiliki jalan penerapan, dan mereka hanya melakukan hal-hal bodoh. Seiring berjalannya waktu seperti ini, mereka berpikir bahwa hidup tidak ada artinya, dan roh mereka kosong, sehingga mereka sama dengan orang-orang tidak percaya, dan mereka menjadi makin bobrok. Ini adalah orang yang ditolak dengan rasa muak oleh Tuhan. Beberapa orang berkata: "Mengapa aku makin merasa bahwa melaksanakan tugasku tidak ada artinya, dan makin lama, aku makin tidak bersemangat? Mengapa aku menjadi tidak punya motivasi? Ke mana perginya motivasiku?" Ada orang lain yang berkata: "Makin lama aku percaya, mengapa aku makin merasa bahwa imanku tidak sebesar ketika aku baru mulai percaya? Ketika aku mulai percaya, aku sangat menikmati saat-saat berhadapan dengan Tuhan, lantas mengapa sekarang aku tidak lagi merasakan kenikmatan itu?" Ke mana perginya perasaan itu? Tuhan telah bersembunyi darimu, maka dari itu engkau tidak bisa merasakan-Nya; engkau pun menjadi menyedihkan dan layu. Sampai selayu apa dirimu? Engkau menjadi tidak mengerti dengan jelas tentang visi-visi pekerjaan Tuhan, hatimu kosong, dan penampilanmu menjadi buruk serta menyedihkan. Apakah ini baik, ataukah buruk? (Buruk.) Ketika Tuhan meninggalkan mereka, orang menjadi bodoh dan tolol, dan mereka tidak memiliki apa-apa. Seperti itulah penampilan yang menyedihkan dari orang-orang yang meninggalkan Tuhan! Pada titik ini, mereka tidak lagi beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan adalah hal yang baik. Tak peduli seperti apa pun mereka memikirkannya, mereka tidak beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan adalah jalan yang benar. Menurut mereka, jalan ini tidak membawa mereka ke mana pun, dan mereka tidak akan menempuhnya, tidak peduli siapa pun yang menasihati mereka. Mereka tidak bisa terus percaya, jadi mereka harus lari ke dunia; bagi mereka, menghasilkan uang dan memperoleh kekayaan adalah satu-satunya pilihan yang mereka miliki, jalan yang paling realistis. Mereka mengejar promosi dan kekayaan, kebahagiaan dan kepuasan, kemajuan karier yang cepat, dan menghormati leluhur mereka. Hati mereka dipenuhi dengan hal-hal ini, jadi apakah mereka masih bisa melaksanakan tugas mereka? Tidak bisa. Jika orang hanya memiliki pemikiran seperti ini, tetapi masih memiliki sedikit keyakinan yang sejati dan bersedia untuk terus mengejarnya, lalu bagaimana sikap rumah Tuhan terhadap mereka? Selama mereka mampu berjerih payah, maka rumah Tuhan akan memberi mereka kesempatan; tuntutan Tuhan terhadap setiap orang tidaklah tinggi. Mengapa demikian? Tak ada orang yang hidup terpisah dari dunia ini, dan tidak ada satu orang pun yang tidak rusak. Siapa yang tidak memiliki gagasan untuk menentang Tuhan? Siapa yang tidak pernah melakukan pelanggaran dalam menentang Tuhan? Siapa yang tidak memiliki keadaan dan perilaku yang memberontak terhadap Tuhan? Terlebih lagi, siapa yang tidak pernah memiliki sejumlah gagasan, pemikiran, atau keadaan tidak percaya, keraguan, kesalahpahaman, atau spekulasi tentang Tuhan? Semua orang memilikinya. Jadi, bagaimana Tuhan memperlakukan orang? Apakah Dia meributkan hal-hal ini? Tidak pernah. Apa yang Tuhan lakukan? Ada orang-orang yang selalu memiliki gagasan tentang pekerjaan Tuhan. Mereka berpikir, "Selama orang percaya kepada Tuhan, Dia akan selalu menyingkapkan, menghakimi, menghajar dan memangkas mereka. Dia tidak melepaskan orang, dan Dia tidak memberi mereka kebebasan memilih." Apakah benar demikian? (Tidak.) Semua orang yang percaya kepada Tuhan dan datang ke rumah-Nya melakukannya secara sukarela; tidak ada satu pun dari mereka yang dipaksa. Ada orang-orang yang telah kehilangan iman; mereka telah pergi untuk memanjakan diri dalam hal-hal duniawi, dan tidak ada yang menghalangi mereka atau enggan melihat mereka pergi. Saat mereka mulai beriman kepada Tuhan maupun meninggalkan iman, mereka bebas melakukannya. Selain itu, Tuhan tidak memaksa siapa pun. Apa pun tuntutan-Nya terhadap orang-orang, Dia membiarkan mereka memilih jalan yang ingin mereka tempuh, dan Dia tidak memaksa siapa pun. Seperti apa pun cara Roh Kudus bekerja, atau seperti apa pun cara-Nya membimbing orang dan menuntun mereka untuk membaca firman Tuhan, Tuhan tidak pernah memaksa siapa pun. Dia selalu mengungkapkan kebenaran untuk membekali dan menggembalakan manusia, selalu mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, dan mengizinkan orang memahami kebenaran. Apa tujuan di balik mengizinkan orang memahami kebenaran? (Agar mereka bisa menerima kebenaran.) Jika engkau menerima kebenaran dan menerima firman Tuhan, berarti tingkat pertumbuhanmu mampu melawan pemberontakan dan watak rusak ini, pandangan dari pengikut yang bukan orang percaya, dan segala macam keadaan yang salah. Jika engkau mampu mengenali keadaan ini, engkau tidak akan disesatkan. Begitu orang memahami segala macam kebenaran, mereka tidak akan salah paham terhadap Tuhan, dan mereka akan memahami maksud-Nya. Pertama, mereka mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik. Selain itu, mereka hidup dalam keserupaan dengan manusia, dan mampu menempuh jalan hidup yang benar. Jika seseorang menempuh jalan hidup yang benar, memberikan kesaksian sebagaimana yang harus diberikan oleh makhluk ciptaan, akhirnya mampu mengalahkan Iblis, mengalami perubahan watak, memiliki ketundukan yang sejati kepada Tuhan serta rasa takut akan Tuhan, dan menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi syarat, berarti orang seperti itu telah memperoleh keselamatan, yang merupakan tujuan akhir.
29 September 2017
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.