Hanya dengan Menerapkan Kebenaran dan Tunduk Kepada Tuhan Orang Bisa Mencapai Perubahan Watak (Bagian Dua)
Selanjutnya, Aku akan membahas tentang jenis orang yang ketiga, pengikut yang bukan orang percaya. Pengikut ini selalu skeptis terhadap Tuhan. Orang seperti ini, setelah mendengarkan firman Tuhan, mengakui dalam hati: "Khotbah ini benar, ini adalah firman yang diucapkan oleh tuhan yang berinkarnasi. Gereja ini sebagian besar ditempati oleh orang-orang baik. Ini adalah tempat yang baik, di mana orang tidak ditindas atau dianiaya, di mana mereka tidak meneteskan air mata dan tidak menderita rasa sakit; ini sesungguhnya rumah yang nyaman, tempat berlindung dari bencana. Orang-orang ini datang dari berbagai daerah, dari berbagai negara dan tempat, baik hati dan peduli, mampu membuka hati mereka dalam persekutuan, dan akrab satu sama lain dalam keharmonisan yang luar biasa, mereka semua adalah orang baik. Khotbah yang disampaikan oleh yang di atas itu baik dan penuh dengan energi positif, dan firman tuhan semuanya adalah kebenaran dan hal-hal yang positif. Mendengarkan khotbah-khotbah ini menyehatkan dan menguntungkan roh. Orang-orang hidup di hadirat tuhan, mengalami kenyamanan, sukacita, dan kebahagiaan; ada perasaan seperti hidup di surga duniawi. Akan lebih baik lagi jika orang dapat menjadi individu yang berbakat dan memberikan kontribusi di rumah tuhan." Mereka menganggap firman Tuhan dan isi khotbah sebagai teori-teori positif, ajaran-ajaran, dan doktrin-doktrin yang baik dari para tokoh terkenal dan orang-orang hebat, tetapi apakah mereka menerapkannya? (Tidak.) Mengapa tidak? Itu karena menerapkan kebenaran-kebenaran ini melibatkan tingkat kesulitan tertentu; mereka harus mengalami penderitaan dan membayar harga! Mereka berpikir tidak ada salahnya untuk sekadar mengetahui cara mengucapkan firman ini dan tidak perlu menerapkannya, bahwa orang tidak perlu terlalu serius dalam percaya kepada Tuhan, sama seperti, dalam agama, kepercayaan kepada Tuhan hanyalah hobi, yang tidak masalah jika engkau hanya mengerahkan sedikit upaya dan menghadiri pertemuan. Mereka tidak dapat sepenuhnya dan dengan tulus menerima firman Tuhan dan mereka bahkan memiliki gagasan-gagasan tentang firman Tuhan. Contohnya, ketika Tuhan berkata bahwa menjadi orang yang jujur berarti mengatakan hal yang sebenarnya dan tidak pernah berbohong, mereka tidak mengerti dan berpikir: "Bukankah semua orang berbohong? Bersikap terbuka dengan semua orang, tidak waspada, tunduk sepenuhnya kepada tuhan, bukankah itu bodoh?" Mereka berpikir bertindak seperti itu bodoh, bahwa orang tidak boleh berperilaku seperti ini. Mereka mengakui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, tetapi meminta mereka untuk menerapkannya sesuai dengan firman Tuhan adalah hal yang sia-sia bagi mereka. Dengan demikian, orang-orang seperti itu memperlakukan firman Tuhan dengan sikap setengah hati, hanya mengakui bahwa semua firman Tuhan itu benar dan kebenaran, tetapi menolak untuk menerima dan menerapkannya. Ketika rumah Tuhan membutuhkan orang untuk mengerahkan upaya, mereka bersedia melakukannya, tetapi apa tujuan mereka melakukannya? Mereka melakukannya demi mendapatkan berkat dan menikmati lebih banyak kasih karunia Tuhan; dan jika mereka mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam kerajaan surga, itu akan menjadi keberuntungan yang lebih besar lagi. Harapan-harapan seperti inilah yang mereka miliki; itulah keyakinan mereka. Namun, bagaimana dengan sikap mereka terhadap kebenaran dan firman Tuhan? Bagi mereka, firman Tuhan dan kebenaran adalah pilihan dan tidak diperlukan, sesuatu yang harus diamati di waktu luang mereka sebagai cara untuk menghibur diri mereka sendiri dan menghabiskan waktu senggang mereka; mereka sama sekali tidak menganggap firman Tuhan sebagai kebenaran atau kehidupan. Orang seperti apakah ini? Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Pengikut ini menolak untuk mengakui bahwa kebenaran dapat menyucikan dan menyelamatkan manusia, dan tidak memahami tentang apa itu kebenaran dan kehidupan. Terkait masalah percaya kepada Tuhan dan menerima keselamatan, serta bagaimana menyelesaikan natur manusia yang berdosa, mereka hanya memiliki pemahaman yang tidak jelas dan tidak tertarik. Mereka berkata: "Manusia tidak hidup di dalam ruang hampa, selama kita hidup, kita harus makan; sesungguhnya, kita tidak jauh berbeda dengan hewan. Kita manusia hanyalah hewan yang lebih tinggi, yang ada semata-mata demi kelangsungan hidup kita." Mereka tidak tertarik dengan kebenaran, jadi entah berapa tahun mereka telah percaya kepada Tuhan atau berapa banyak khotbah yang telah mereka dengar, mereka tetap tidak dapat dengan jelas mengatakan apakah firman Tuhan adalah kebenaran, apakah percaya kepada Tuhan dapat mengaruniakan keselamatan, atau seperti apakah akhir dan tujuan manusia di masa depan. Jika mereka tidak jelas tentang hal-hal ini, betapa parahnya kebingungan mereka! Mereka tidak tertarik pada bagaimana Tuhan bekerja untuk menyelamatkan manusia, atau bagaimana manusia menerima keselamatan dengan menerima penghakiman dan hajaran Tuhan, atau bagaimana manusia dapat mencapai ketundukan kepada Tuhan dengan memasuki kenyataan kebenaran. Lebih jelasnya, mereka tidak tertarik pada bagaimana menjadi orang yang jujur, bagaimana melaksanakan tugas mereka, dan hal-hal semacam itu. Terutama ketika orang lain menyebutkan bahwa orang-orang harus memiliki ketundukan mutlak kepada Tuhan, mereka semakin menolak dan berpikir: "Jika manusia selalu tunduk kepada tuhan, lalu apa gunanya memiliki otak? Manusia akan menjadi budak jika mereka selalu tunduk kepada tuhan." Di sinilah pandangan pengikut yang bukan orang percaya mulai menyingkapkan diri mereka. Mereka percaya bahwa tunduk kepada Tuhan adalah tindakan yang berlebihan, merendahkan diri sendiri, kehilangan martabat, bahwa Tuhan seharusnya tidak membuat tuntutan seperti itu kepada manusia dan bahwa manusia seharusnya tidak menerimanya. Khotbah-khotbah tertentu seperti yang membahas tentang memampukan orang untuk mendapatkan kasih karunia, melakukan perbuatan baik, dan memiliki perilaku yang baik, mereka dapat dengan enggan menerimanya, tetapi sehubungan dengan Petrus yang disempurnakan dengan menerima ratusan ujian, mereka tidak dapat memahami hal itu. Mereka berpikir, "Bukankah itu mempermainkan dan menyiksa manusia? Memang benar bahwa tuhan berdaulat atas segalanya, tetapi meskipun demikian, dia tidak bisa memperlakukan orang seperti itu!" Mereka tidak menerima pekerjaan Tuhan sebagai kebenaran; mereka memandang cara Tuhan menyelamatkan manusia ini seperti cara seorang tuan memperlakukan budaknya, melakukan apa pun yang diinginkannya terhadap mereka, inilah korelasi yang mereka simpulkan. Dapatkah orang seperti ini memahami kebenaran? (Tidak.) Apakah ada orang seperti itu di gereja? (Ya.) Akankah orang seperti ini meninggalkan gereja dengan sendirinya? (Tidak.) Mengapa mereka tidak ingin pergi? Karena mereka mengharapkan keberuntungan, berpikir, "Di luar sana adalah dunia yang gelap dan jahat; tidak mudah untuk bertahan hidup. Apa bedanya di mana aku menghabiskan waktuku? Lebih baik aku menghabiskannya di gereja. Di sini, aku bahkan dapat menikmati kasih karunia tuhan dan tidak ada ruginya bagiku. Ada banyak makanan dan minuman, dan orang-orang di sini cukup baik, tidak ada yang akan merundungku. Terlebih lagi, ketika engkau melaksanakan tugasmu dan mengorbankan dirimu sendiri serta membayar harga, engkau bahkan akan mendapatkan berkat dari tuhan. Ini adalah kesepakatan yang tidak boleh kulewatkan!" Jadi, setelah memikirkannya, mereka menyimpulkan bahwa akan sepadan untuk tetap tinggal di gereja. Jika suatu hari nanti gereja sepertinya tidak lagi bermanfaat dan mereka tidak merasa ada lagi yang bisa didapat dari gereja, mereka akan kehilangan minat untuk percaya kepada Tuhan dan ingin meninggalkan gereja. "Bagaimanapun juga," pikir mereka, "Aku tidak rugi banyak dan tidak juga mencurahkan segenap hati dan pikiranku. Aku memiliki keterampilan, aku memahami profesiku, dan aku memiliki ijazah, jadi aku tetap dapat bertahan hidup di dunia seperti yang selama ini kulakukan; aku bisa mengumpulkan kekayaan atau mendapatkan pekerjaan di pemerintahan. Bagus sekali!" Inilah cara mereka memandang segala sesuatu. Di mata orang seperti ini, firman yang diucapkan oleh Tuhan dan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan bahkan memiliki nilai yang lebih rendah daripada pidato presiden; begitulah mereka menghina firman Tuhan. Ketika orang-orang seperti ini menggunakan pandangan itu untuk percaya kepada Tuhan dan melakukan pelayanan "dengan sukarela," menetap dan bahkan menghabiskan waktu di rumah Tuhan, tidak ingin meninggalkannya, apa tujuan mereka melakukan hal ini? Mereka sedikit berharap: "Jika tuhan menunjukkan toleransi dan berbelas kasihan kepadaku, mengizinkanku masuk ke dalam kerajaan, cita-citaku akan terwujud. Namun, jika aku tidak dapat masuk ke dalam kerajaan, aku masih akan menikmati kasih karunia tuhan dalam jumlah yang cukup besar, jadi aku tidak akan rugi." Ketika mereka menggunakan sudut pandang menunggu dan melihat seperti ini untuk percaya kepada Tuhan, dapatkah mereka menerima kebenaran? Dapatkah mereka menerapkan kebenaran? Dapatkah mereka menyembah Tuhan sebagai Sang Pencipta? (Tidak.) Dengan pandangan seperti itu, keadaan apa yang muncul di dalam diri mereka? Mereka akan sering mengeluh tentang Tuhan dan salah memahami-Nya. Mereka akan menilai setiap tindakan Tuhan melalui serangkaian penilaian, penyelidikan, dan pemeriksaan, dan kemudian sampai pada kesimpulan berikut ini: "Ini sepertinya bukan sesuatu yang tuhan lakukan. Seandainya ini bukan sesuatu yang tuhan lakukan." Mereka menyimpan penentangan, pemeriksaan, penghakiman, dan sikap menunggu dan melihat di dalam hati mereka, dapatkah ini disebut pemberontakan? (Ya.) Hal yang dimiliki mereka bukan lagi kerusakan dan pemberontakan orang normal. Orang macam apakah mereka ini? (Pengikut yang bukan orang percaya.) Bagaimana sikap pengikut yang bukan orang percaya? Mereka memusuhi Tuhan. Ketika manusia yang percaya kepada Tuhan menyingkapkan watak yang rusak dan terkadang gagal untuk taat, Tuhan mengucapkan bahwa ini adalah watak yang memberontak, bahwa mereka memiliki esensi pemberontakan. Namun, apa yang Dia ucapkan tentang mereka yang tidak percaya? Dan bagaimana dengan Iblis, apakah Tuhan akan mengucapkan bahwa Iblis adalah pemberontak? (Tidak.) Lalu, apa yang akan Tuhan ucapkan? Tuhan akan mengucapkan bahwa Iblis adalah musuh, antitesis-Nya, dan sama sekali bertentangan dengan-Nya. Sikap pengikut yang bukan orang percaya terhadap Tuhan adalah sikap yang penuh ketelitian dan keraguan yang jeli, serta perlawanan, keluhan, pertentangan, dan permusuhan. Semakin sering engkau mempersekutukan kebenaran dan ketundukan kepada Tuhan, orang seperti itu akan semakin muak. Semakin sering engkau mempersekutukan bagaimana cara memperoleh keselamatan dan disempurnakan dengan menerima hajaran dan penghakiman Tuhan, serta pemangkasan, mereka akan semakin muak, menolak untuk menerima semua itu. Begitu mereka mendengar persekutuan tentang hal-hal ini, mereka mulai duduk gelisah di kursi mereka, menjadi gugup dan resah seolah-olah mereka duduk di atas kursi panas atau seperti semut di atas kompor listrik. Namun, jika engkau membiarkan mereka pergi ke tempat dansa atau pub, mereka tidak akan kesal; mereka akan senang. Mereka akan merasa bahwa berada di tempat-tempat seperti itu terasa bebas dan menyenangkan, seandainya mereka dapat hidup seperti itu, itu akan sangat sepadan. Terus-menerus mendengar kebenaranlah yang membuat mereka kesal, sehingga mereka menolak untuk mendengarkan. Dapatkah mereka menerima kebenaran jika mereka bahkan tidak ingin mendengarkannya? Sama sekali tidak. Mereka membawa keadaan negatif, menentang, dan penuh kebencian di dalam diri mereka, dan mereka selalu mengamati dan memperhatikan dengan ragu-ragu. Apa yang mereka amati? Mereka selalu mengamati firman Tuhan. Ini bukan lagi masalah rendahnya tingkat pertumbuhan mereka; mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya dan orang jahat. Orang seperti ini, dari awal hingga akhir, akan selalu melawan Tuhan, mengamati, mengawasi dengan ragu, dan menentang, sama sekali tidak menerima kebenaran, berpikir: "Siapa pun yang dengan tulus mengorbankan diri mereka untuk tuhan adalah orang bodoh. Siapa pun yang mengejar kebenaran dan menerapkan kebenaran adalah orang bodoh. Engkau mengesampingkan keluargamu, tidak memperhatikan sanak keluargamu sendiri, dan hanya berfokus pada percaya kepada tuhan; setelah semua kepercayaan itu, engkau hanya berakhir melarat dan dipandang rendah. Lihatlah betapa bergayanya orang-orang tidak percaya dan apa yang engkau semua kenakan? Aku tidak sebodoh engkau semua, aku harus memiliki satu atau dua rencana cadangan, aku akan mengejar kesenangan daging terlebih dahulu, itu namanya realistis." Inilah sifat asli pengikut yang bukan orang percaya. Ketika Tuhan pertama kali menampakkan diri dan mulai melakukan pekerjaan-Nya, pengikut-Nya sangat sedikit, paling banyak sekitar sepuluh ribu orang, dan hanya ada sekitar seribu orang yang melaksanakan tugas mereka. Setelah itu, ketika pekerjaan Injil mulai berkembang dan pekerjaan ini mulai menunjukkan hasil, jumlah orang yang melaksanakan tugas perlahan-lahan meningkat. Beberapa orang, yang melihat peluang untuk menonjol dan menunjukkan bakat mereka, juga bergabung dan mulai melaksanakan tugas. "Sungguh aneh!" Aku berkata, "Pekerjaan rumah Tuhan sudah mulai terungkap; bagaimana bisa sekarang ada lebih banyak orang yang melaksanakan tugas mereka? Di mana orang-orang ini bersembunyi selama ini?" Sebenarnya, orang-orang ini sudah merencanakannya sejak lama: "Jika pekerjaan rumah tuhan semakin berkembang, aku akan datang. Jika pekerjaan itu tidak berkembang, aku tidak akan datang. Tentunya aku tidak akan menyumbangkan upaya apa pun untuk itu!" Orang macam apa mereka ini? Mereka adalah oportunis. Semua oportunis adalah pengikut yang bukan orang percaya, mereka hanya ingin bersenang-senang. Dari luar, tampak seolah-olah manusialah yang melakukan pekerjaan rumah Tuhan, tetapi pada kenyataannya, Tuhanlah yang memimpin dan membimbing semuanya; Roh Kuduslah yang bekerja. Ini sudah pasti. Tuhanlah yang melakukan pekerjaan-Nya sendiri; kehendak-Nya berjalan tanpa hambatan. Tidak ada manusia yang dapat menyelesaikan pekerjaan yang begitu monumental, ini melebihi kemampuan manusia. Semua ini adalah hasil dari otoritas firman Tuhan dan otoritas Tuhan sendiri. Manusia tidak dapat memahami hal ini; mereka berpikir: "Ketika rumah Tuhan berkuasa, aku akan mendapatkan bagianku. Jadi, jangan lupa mencatat namaku di buku pahala!" Orang macam apa ini? Dalam kata-kata orang tidak percaya, mereka memiliki "niat jahat", bisakah kita mengatakan mereka seperti ini? (Ya.) Betapa jahatnya motif yang mereka miliki! Tentu saja, jika seseorang dapat menerima kebenaran, pada awalnya, mereka mungkin memiliki motif dan pandangan seperti itu, atau iman mereka mungkin terlalu kecil, Tuhan tidak akan mengingat mereka. Dalam menyingkapkan pandangan dan sikap ini, Tuhan hanya ingin membuat manusia berjalan di jalan yang benar dalam hidup, untuk membuat mereka berada di jalur yang benar dengan percaya kepada Tuhan tanpa ragu-ragu mengamati atau memeriksa. Tuhan bukanlah sesuatu yang dapat engkau pahami melalui pengamatan atau dideteksi dengan teleskop. Keberadaan Tuhan dan pekerjaan penyelamatan-Nya bukanlah hasil yang dapat engkau peroleh dengan menggunakan segala bentuk penelitian. Inilah faktanya. Entah siapa pun yang mengakui-Nya, percaya kepada-Nya, atau mengikuti-Nya, fakta bahwa Tuhan melakukan pekerjaan yang begitu besar ada untuk dilihat dan disentuh oleh mereka. Apa yang Tuhan ingin capai, tidak ada yang bisa menghalangi dan tidak ada yang bisa mengubah, juga tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghalangi. Ini adalah fakta yang telah Tuhan wujudkan.
Kita baru saja membahas tentang jenis orang yang ketiga yaitu pengikut yang bukan orang percaya. Orang seperti ini percaya kepada Tuhan dengan kehati-hatian yang jeli, dengan bersikap oportunis dan mengamati. Jika tidak ada harapan untuk menerima berkat, mereka akan berpikir lebih baik melarikan diri dan menyiapkan strategi keluar untuk diri mereka sendiri. Jika orang seperti itu mulai merenungkan diri sekarang dan merasakan penyesalan, tidak akan terlambat bagi mereka. Akan selalu ada secercah harapan bagi mereka hingga kematian mereka; tetapi jika mereka dengan keras kepala menolak untuk bertobat dan terus bersikap waspada penuh keraguan, selalu menentang Tuhan, Tuhan pasti akan memperlakukan mereka seperti orang tidak percaya dan membiarkan mereka sendirian di tengah malapetaka. Dalam hal esensi manusia, manusia pada awalnya tidak lebih dari segenggam debu yang diberi napas oleh Tuhan, yang menjadikan engkau manusia berdarah-daging yang hidup, memberimu kehidupan. Kehidupanmu berasal dari Tuhan. Ketika Tuhan tidak menggunakanmu, Dia memberimu makanan, pakaian, dan segala sesuatunya. Namun, ketika Dia berniat menggunakanmu, engkau melarikan diri dan terus-menerus melawan Tuhan, selalu menentang-Nya, dapatkah Tuhan tetap menggunakanmu? Tuhan seharusnya mengesampingkanmu. Entah itu pada masa awal penciptaan dunia, atau pada Zaman Hukum Taurat atau Zaman Kasih Karunia, atau sampai pada akhir zaman di zaman sekarang, Tuhan telah mengucapkan banyak firman kepada manusia. Baik melalui inspirasi maupun komunikasi tatap muka secara langsung, dapat dikatakan bahwa Tuhan telah mengucapkan terlalu banyak firman untuk dihitung. Dan apa tujuan Tuhan mengucapkan begitu banyak firman? Tujuannya adalah untuk membuat manusia memahami dan menghayati maksud Tuhan, mengetahui kehendak Tuhan, dan mengetahui bahwa setelah mendapatkan firman ini, manusia akan mampu mencapai perubahan dalam watak mereka, menerima keselamatan, dan memperoleh kehidupan. Setelah itu, manusia dapat menerima firman ini. Inilah tujuan Tuhan dalam mengucapkan begitu banyak firman. Setelah menerima firman ini dan menerima berbagai cara pekerjaan Tuhan, apakah hasil yang pada akhirnya akan dicapai manusia? Mereka akan mampu mengikut Tuhan sampai akhir dan menghindari disingkirkan dan ditinggalkan di tengah jalan, dan dengan demikian ada harapan untuk tetap bertahan sampai akhir. Entah apakah Tuhan mendisiplinkanmu, memangkasmu, atau menyingkapkanmu, atau apakah ada saat-saat ketika Dia meninggalkanmu atau mengujimu, apa pun yang Tuhan lakukan, manusia tidak dapat menyangkal fakta tentang maksud dan upaya Tuhan yang tulus dalam mengucapkan firman ini, bukan? (Benar.) Jadi, manusia tidak boleh berdalih dengan Tuhan atas hal-hal sepele, selalu menghakimi niat mulia Tuhan dengan tolak ukur mereka yang picik dan salah memahami Tuhan. Entah pandangan salah apa yang dulu engkau percayai, entah seperti apa keadaan di dalam dirimu, selama engkau dapat menerima firman Tuhan sebagai hidupmu, dan menjadikannya sebagai prinsip yang kauterapkan serta sebagai arah dan tujuan jalan yang kautempuh, perlahan-lahan engkau akan dapat memenuhi tuntutan Tuhan selangkah demi selangkah. Apa yang mengkhawatirkan? Yang mengkhawatirkan adalah ketika orang mendengarkan dan memperlakukan firman Tuhan seolah-olah firman itu adalah doktrin, peraturan, frasa belaka, dan slogan, atau bahkan memperlakukan firman Tuhan sebagai objek pengamatan, dan memperlakukan Tuhan sebagai sasaran pengamatan dan perlawanan mereka, ini bermasalah. Orang-orang seperti itu bukanlah penerima keselamatan Tuhan, Tuhan tidak memiliki sarana untuk menyelamatkan mereka. Bukan berarti Tuhan tidak menyelamatkan mereka, tetapi karena mereka tidak menerima keselamatan-Nya, itulah yang bisa dikatakan dan ini adalah fakta.
Apa hal terpenting yang akan memampukan seseorang untuk mengikuti Tuhan sampai akhir dan mencapai perubahan watak? Menerima dan menerapkan kebenaran, inilah hal yang terpenting dan ini adalah aspek penerapan yang paling penting dalam mengejar kebenaran. Menerapkan dan mengalami firman Tuhan adalah aspek terpenting dalam melakukan penerapan; ini terkait langsung dengan jalan masuk kehidupan seseorang. Seseorang yang dengan tulus percaya kepada Tuhan, apa pun masalah yang dihadapinya, harus belajar mencari dan menerapkan kebenaran dalam situasi apa pun. Hanya inilah yang dimaksud dengan mengalami pekerjaan Tuhan dan mengalami pengalaman semacam ini selama beberapa tahun akan memampukan seseorang untuk memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan. Oleh karena itu, kapan pun itu, orang tidak boleh melupakan hal menerapkan dan mengalami firman Tuhan ini. Ketika menghadapi masalah, engkau harus selalu merenungkan dalam hati: "Apa yang harus kulakukan untuk menerapkan dan mengalami firman Tuhan dalam hal ini? Aspek kebenaran mana yang terlibat dalam hal ini? Apa yang harus kulakukan untuk menerapkan kebenaran?" Ini berarti mengerahkan upaya untuk mengejar kebenaran dan setelah beberapa tahun menerapkan dan mengalami dengan cara ini, engkau perlahan-lahan akan masuk ke jalur yang benar untuk percaya kepada Tuhan, engkau akan berjalan di jalan kehidupan yang benar, dan engkau akan memiliki arah. Selalu menggunakan kecerdasanmu untuk menganalisis dan mengamati apa pun masalah yang engkau hadapi dan selalu mengandalkan caramu sendiri untuk menyelesaikan berbagai hal bukanlah pendekatan yang baik. Jika engkau melakukan penerapan dengan cara ini, akan mustahil untuk mencapai kesesuaian dengan Tuhan dan perubahan watak, engkau tidak akan pernah mencapainya, ini adalah jalan yang salah. Sia-sia bagimu untuk mencari keselamatan melalui pengejaran ketenaran, kekayaan, dan status. Tak terhitung banyaknya orang yang telah gagal dan tersandung di cara ini. Beberapa orang dikenali sebagai pemimpin palsu dan beberapa orang sebagai antikristus, semuanya disingkirkan. Tidak ada gunanya mengejar ketenaran di gereja. Lebih baik mengikuti jalan Petrus, mengejar kebenaran adalah cara yang paling aman dan terjamin. Apakah engkau sekarang mengerti apa yang paling penting? Yang terpenting adalah menerima dan menerapkan kebenaran. Membaca firman Tuhan adalah untuk merenungkannya dan memperoleh kebenaran. Jangan mengamatinya, jangan sama sekali mengamatinya, dan jangan memiliki suasana hati yang menentang atau memusuhi. Begitu engkau berada dalam keadaan seperti ini, segeralah periksa dirimu sendiri dan selesaikanlah. Masalah-masalah kerusakan yang ada di dalam dirimu terus-menerus diselesaikan, keadaanmu menjadi semakin baik, dan perwujudan kerusakanmu semakin berkurang, yang pada akhirnya akan membuahkan hasil: Hubunganmu dengan Tuhan akan menjadi semakin normal, hatimu akan semakin takut akan Tuhan dan menjadi semakin dekat dengan Tuhan, engkau akan melaksanakan tugasmu dengan hasil yang semakin baik, dan kasih serta imanmu kepada Tuhan akan bertumbuh semakin besar. Hal ini menegaskan bahwa engkau telah menyerap firman Tuhan ke dalam hatimu, tempat firman itu telah berakar. Pada akhirnya, engkau akan melihat hasilnya, dan engkau akan berkata: "Dengan terus-menerus merenungkan diriku sendiri dan menangani perwujudan kerusakanku, aku telah mencegah konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki. Aku merasa menyesal di dalam hatiku dan membenci diriku sendiri karena telah melayani sebagai hamba Iblis. Untungnya, Tuhan menyelamatkanku, memungkinkanku menemukan kembali jalanku, menerima kebenaran, dan tunduk kepada-Nya. Aku tidak lagi khawatir apakah aku akan diselamatkan atau tidak, juga tidak khawatir tentang kemungkinan untuk disingkirkan dan dikeluarkan nantinya. Sekarang aku yakin bahwa aku akan menjadi penerima keselamatan dari Tuhan, bahwa aku berada di jalan yang benar, dan aku percaya kepada Tuhan sejati, Sang Pencipta. Aku tidak memiliki keraguan apa pun akan hal ini." Pada saat inilah engkau akan memiliki iman kepada Tuhan di dalam hatimu dan engkau dapat mengandalkan-Nya dalam setiap situasi. Setelah itu, engkau akan benar-benar masuk ke dalam tempat perlindungan dan engkau tidak perlu lagi mengkhawatirkan apakah engkau hanyalah pelaku pelayanan atau apakah engkau semua akan mati dalam suatu bencana. Pada saat inilah hatimu akan dipenuhi damai dan sukacita. Apa yang menyebabkan orang memiliki kekhawatiran ini? Itu karena mereka tahu terlalu sedikit tentang pekerjaan Tuhan, memiliki terlalu sedikit pemahaman tentang kebenaran, dan bahkan memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan. Karena engkau belum memahami maksud Tuhan dalam firman-Nya, belum memahami kehendak Tuhan, dan engkau selalu salah memahami Tuhan. Karena engkau selalu salah memahami-Nya, engkau selalu khawatir dan tidak pernah merasa aman. Terkadang engkau berada dalam suasana hati yang menentang; lambat laun, meskipun engkau mungkin tidak melakukan kesalahan besar, engkau terus melakukan banyak kesalahan kecil, sampai pada suatu hari engkau tiba-tiba melakukan kesalahan besar dan benar-benar disingkirkan. Melakukan kesalahan besar bukanlah masalah yang sepele. Beberapa orang disingkirkan, dikeluarkan, diusir, atau tidak mendapatkan satu pun pekerjaan Roh Kudus, bukankah ada sumber penyebab di balik semua ini? Tentu saja ada sumber penyebabnya; masalahnya di sini adalah tentang jalan mana yang mereka tempuh. Beberapa orang memilih untuk mengikuti jalan Petrus, yaitu jalan mengejar kebenaran. Yang lain memilih untuk mengikuti jalan Paulus, yaitu jalan mengejar mahkota dan pahala. Esensi dari kedua jalan ini berbeda, demikian pula konsekuensi dan hasil yang mereka dapatkan. Mereka yang disingkirkan tidak pernah menempuh jalan mengejar dan menerapkan kebenaran. Mereka selalu menyimpang dari jalan ini dan hanya melakukan apa yang mereka kehendaki, bertindak sesuai dengan keinginan dan ambisi mereka sendiri, melindungi status, reputasi, dan harga diri mereka sendiri, serta memuaskan keinginan mereka sendiri, segala sesuatu yang mereka lakukan berpusat pada hal-hal ini. Meskipun mereka juga telah membayar harga, menghabiskan waktu dan tenaga, dan bekerja dari fajar hingga senja, apa hasil akhirnya? Karena hal-hal yang mereka lakukan dikutuk sebagai kejahatan di mata Tuhan, hasilnya adalah mereka disingkirkan. Apakah mereka masih memiliki kesempatan untuk diselamatkan? (Tidak.) Ini adalah konsekuensi yang sangat serius! Ini sama seperti ketika orang sakit: Penyakit ringan yang tidak segera diobati dapat berkembang menjadi penyakit berat atau bahkan menjadi mematikan. Misalnya, jika seseorang menderita flu dan batuk, mereka akan segera sembuh jika mereka mendapatkan perawatan medis yang normal. Namun, beberapa orang mengira bahwa mereka memiliki tubuh yang kuat sehingga tidak menanggapi flu mereka dengan serius atau mengobatinya. Akibatnya, penyakit itu berlarut-larut dalam waktu yang lama dan mereka mengidap pneumonia. Setelah terkena pneumonia, mereka masih merasa bahwa mereka masih muda dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat sehingga mereka tidak mengobatinya selama beberapa bulan. Mereka tidak memedulikan batuk mereka setiap hari hingga batuknya menjadi tidak terkendali dan tak tertahankan, dan menjadi batuk darah. Jadi, mereka pergi ke rumah sakit untuk diperiksa dan mengetahui bahwa mereka sudah mengidap TBC. Orang lain menyarankan mereka untuk segera berobat, tetapi mereka masih berpikir bahwa mereka masih muda dan kuat, tidak perlu khawatir, sehingga mereka tidak mencari pengobatan yang tepat. Hingga suatu hari, pada akhirnya, tubuh mereka terlalu lemah untuk berjalan dan ketika mereka pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan, mereka sudah menderita kanker stadium lanjut. Ketika orang-orang memiliki watak rusak yang tidak diobati, hal ini juga dapat menimbulkan akibat yang tidak dapat disembuhkan. Memiliki watak yang rusak bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tetapi seseorang dengan watak yang rusak harus mencari kebenaran untuk segera menyelesaikannya; hanya dengan cara inilah watak yang rusak dapat perlahan-lahan ditahirkan. Jika mereka tidak berfokus untuk menyelesaikannya, kerusakan itu akan menjadi semakin parah, dan mereka dapat menyinggung dan menentang Tuhan, serta dibenci dan ditolak dan disingkirkan oleh-Nya.
Beberapa orang yang memiliki esensi natur antikristus, orang-orang seperti Paulus. Mereka terus-menerus berfokus untuk memperoleh berkat, mendapatkan mahkota, dan menerima upah, serta mereka mencoba membuat kesepakatan dengan Tuhan. Mereka selalu ingin menjadi pemimpin dan rasul yang dapat mengendalikan umat pilihan Tuhan, tetapi pada akhirnya mereka hanya membuat Tuhan membenci dan menolak mereka. Mereka berjalan di jalan yang menentang Tuhan, yang merupakan jalan yang salah. Beberapa orang tidak mencintai kebenaran; mereka tahu bahwa mengejar ketenaran, kekayaan, status, dan keuntungan adalah salah, tetapi mereka tetap saja memilih jalan yang salah. Tuhan telah dengan sabar dan sungguh-sungguh mendorong umat pilihan-Nya, memberikan kepada mereka segala macam penghiburan, nasihat, pengingat, peringatan, penyingkapan, pemangkasan, dan teguran. Tuhan telah mengucapkan begitu banyak firman, tetapi manusia tidak menanggapinya dengan serius, memperlakukannya seolah-olah itu hanya angin yang lewat di telinga mereka. Mereka tidak menerapkannya, tetapi tetap saja, mereka menjaga status, harga diri, dan keangkuhan mereka berdasarkan motif dan keinginan mereka sendiri. Mereka bersekongkol di mana-mana demi keuntungan mereka sendiri dan merencanakan serta bertindak di mana-mana demi wajah dan masa depan mereka sendiri, memeras otak mereka dan melakukan apa pun yang diperlukan. Di dalam hati, mereka bahkan berpikir, "Aku telah mengorbankan diriku untuk Tuhan, ada mahkota mulia yang disediakan bagiku," dan bahkan mengucapkan perkataan yang diucapkan Paulus. Sebenarnya, mereka tidak tahu jalan apa yang sedang mereka tempuh dan mereka juga tidak tahu bahwa mereka telah dihukum oleh Tuhan. Ketika suatu hari nanti hal ini menyebabkan bencana besar, akankah mereka mengenal pertobatan? Ketika saat itu tiba, mereka akan menentang, mengatakan, "Aku bekerja keras dan telah memberikan kontribusi penting; jika bukan kontribusi, setidaknya aku telah menderita; jika bukan penderitaan, setidaknya aku telah membuat diriku sangat lelah!" Hal-hal yang telah mereka lakukan itu tidak bernilai sepeser pun, bisakah itu menjadi perbuatan baik? Apakah itu melakukan tugas mereka? Apakah itu menerapkan kebenaran? Mereka terlibat dalam pengelolaan pribadi. Selama periode ini, mereka memperlengkapi diri dengan banyak perkataan dan doktrin yang terdengar sangat mendalam; mereka dapat berbicara dan memberi ceramah serta mengorbankan diri mereka sendiri dengan bepergian, tetapi mereka tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun. Mereka cukup mampu mengumpulkan orang-orang di sekitar mereka, menarik semua orang ke dalam lingkaran mereka. Mereka menjadi raja di atas gunung, tanpa ada tempat bagi Tuhan di dalam hati mereka. Bukankah ini perbuatan jahat? Karena mereka sama sekali tidak menerapkan kebenaran, hasil akhir bagi mereka seharusnya sudah jelas. Namun, bahkan dalam situasi seperti ini pun mereka masih menginginkan mahkota; seberapa tidak tahu malunya mereka? Inilah yang disebut keberanian yang tak tahu malu! Mengapa orang-orang seperti itu dapat berdebat, bahkan ketika pada akhirnya mereka disingkirkan? Mereka mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, melakukan segala macam kejahatan; bagaimana mungkin mereka masih bisa berdebat dengan Tuhan dan membela diri mereka sendiri dengan begitu yakin? Masalah apa yang membuat mereka bisa menentang Tuhan seperti ini? Menurut engkau semua, apakah ada rasionalitas di balik tindakan mereka? Apakah mereka memiliki hati nurani dan nalar? Setelah mendengar begitu banyak firman Tuhan, entah bagaimana Tuhan memperlakukan mereka atau apakah perlakuan ini sesuai dengan gagasan mereka, orang normal setidaknya harus mengakui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran dan semuanya benar. Bahkan jika ada beberapa kalimat yang tidak sesuai dengan gagasan mereka, mereka tidak seharusnya menghakimi Tuhan; mereka harus memiliki hati yang tunduk. Jika orang dapat mengakui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran dan tunduk di hadapan Tuhan, bukankah ini memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan? (Ya.) Dalam kasus seperti ini, jika terkadang muncul beberapa gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan, bukankah mudah untuk mencari kebenaran untuk menyelesaikannya? Kuncinya adalah manusia harus mengakui firman dan pekerjaan Tuhan, ini adalah prasyaratnya. Mengapa pengikut yang bukan orang percaya dan antikristus, orang-orang yang mirip dengan Paulus, masih bisa menentang Tuhan? (Mereka tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan.) Di sinilah letak sumber permasalahannya. Sefasih apa pun mereka, serajin apa pun mereka bepergian, sebanyak apa pun mereka menderita, dan sebesar apa pun harga yang mereka bayar, mereka tidak pernah menerima firman Tuhan sebagai kebenaran, dapatkah mereka memahami kebenaran? (Tidak.) Jadi, bagaimanapun cara Tuhan menangani mereka, mereka tetap saja keberatan atau menolak untuk menyerah. Mereka sama sekali tidak memiliki sedikit pun nalar yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan, yang menegaskan fakta bahwa mereka tidak pernah menerima kebenaran. Jika, selama bertahun-tahun, mereka telah mampu menerima firman Tuhan sebagai kebenaran dan menerapkan serta mengindahkan firman Tuhan, mereka tidak akan bersikap lancang dan menentang. Mereka tidak akan menentang pengaturan Tuhan dan perlakuan Tuhan terhadap mereka. Mereka tidak akan memiliki suasana hati seperti ini; paling-paling, mereka hanya akan merasa sedikit kesal atau tidak terlalu ceria. Semua manusia yang rusak memiliki kelemahan yang normal, tetapi ada beberapa batasan yang setidaknya harus mereka patuhi. Pertama, mereka tidak boleh menyerah dalam melaksanakan tugas mereka. "Kapan pun itu, tugas apa pun yang Tuhan percayakan kepadaku, entah aku melakukannya dengan baik atau tidak, aku harus memberikan yang terbaik, mengerahkan upaya semaksimal mungkin. Meskipun Tuhan tidak lagi menyukaiku atau meremehkanku, setidaknya aku harus melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadaku dan melaksanakannya dengan baik." Ini masuk akal; tugas seseorang tidak boleh diabaikan. Selain itu, orang tidak boleh menyangkal Tuhan. "Bagaimanapun Tuhan memperlakukan atau menanganiku, atau bagaimanapun saudara-saudariku mengucilkan atau menyingkapkanku, atau bahkan jika semua orang meninggalkanku, posisi Tuhan dalam hatiku tetap sama dan posisi yang harus kutempati sebagai manusia tidak berubah. Tuhan selalu menjadi Tuhanku, esensi dan identitas-Nya tidak berubah, dan aku akan selamanya mengakui Dia sebagai Tuhanku." Tentunya juga ada alasan ini. Apa lagi yang ada? (Bagaimanapun Tuhan memperlakukan dan menghukum kami, kami harus tunduk kepada-Nya.) Ini adalah hal yang paling mendasar, ini adalah standar minimum yang setidaknya harus orang miliki. Engkau berkata, "Aku tidak mengerti maksud Tuhan dan aku tidak mengerti mengapa Tuhan bertindak seperti ini. Aku merasa sedikit dirugikan dan aku memiliki pembenaran atas hal ini, tetapi aku tidak mengatakan apa pun karena aku adalah makhluk ciptaan dan harus tunduk kepada Tuhan. Ini adalah tugas makhluk ciptaan. Meskipun saat ini aku belum memahami atau mengetahui dengan pasti cara menerapkan atau mencari kebenaran, aku harus tetap tunduk." Apakah ini masuk akal? (Ya.) Ketika mereka yang tidak menerima kebenaran dan yang tidak memiliki nalar yang sudah mengalami pemangkasan, perwujudan apa yang mereka perlihatkan? Mereka berkata, "Apakah aku akan disingkapkan dan disingkirkan? Jika aku tidak memiliki masa depan atau nasib apa pun, dan aku tidak dapat memperoleh berkat, aku tidak akan percaya!" Apakah orang seperti ini memiliki iman yang sejati kepada Tuhan? Hubungan mereka dengan Tuhan tidak normal, menentang, dan bermusuhan. Watak seperti ini adalah watak Iblis yang menentang Tuhan. Dapatkah mereka mengakui Tuhan sebagai Tuhan mereka? Di dalam hati mereka, mereka mungkin berkata, "Jika dia benar-benar tuhan, mengapa dia tidak mengasihiku? Jika dia benar-benar tuhan, mengapa dia tidak menggunakanku untuk sesuatu yang penting? Yang kulihat hanyalah seorang manusia, bagaimana mungkin ada tuhan di mana pun di dunia ini? Engkau semua bodoh. Di manakah tuhan? Di dalam hatiku, dia hanya ada jika aku percaya kepadanya; jika aku tidak percaya kepadanya, dia tidak ada, dan dia bukan tuhan." Begitulah mereka menyingkap sudut pandang mereka. Mereka telah mendengarkan begitu banyak firman Tuhan selama bertahun-tahun; jika mereka menerima firman ini, apakah mereka akan mengembangkan sudut pandang seperti ini? (Tidak.) Lebih serius lagi, apa yang akan mereka lakukan sekarang? Mereka akan menghasut orang lain dan melakukan sesuatu: "Engkau masih percaya? Bagaimana engkau bisa begitu bodoh? Bukankah mereka sudah lama mengatakan bahwa bencana akan datang? Kapan itu akan datang? Bukankah Tuhan sudah mengatakan bahwa dunia akan dimusnahkan? Di manakah pemusnahan itu? Engkau bodoh, engkau telah rugi besar! Berhentilah percaya! Untuk apa kalian percaya? Lihatlah betapa pintarnya aku, aku menghasilkan beberapa ribu yuan sebulan, berapa penghasilan kalian sebulan? Lihatlah apa yang sedang populer di dunia sekarang. Engkau lihat apa yang kukenakan? Semuanya bermerek!" Mereka akan membujuk dan menyesatkan orang, membuat beberapa orang berada dalam keadaan bingung. Bukankah ini orang jahat yang menyusup ke dalam rumah Tuhan untuk mengganggu gereja? Sikap apa yang dimiliki orang-orang seperti itu dalam melaksanakan tugas mereka? "Aku melaksanakan tugasku jika aku sedang bersemangat. Jika aku ingin melaksanakannya, akan kulaksanakan. Jika tidak, tak akan kulaksanakan. Aku tidak harus mencurahkan hati dan kekuatanku. Melaksanakan tugas bukanlah melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, melainkan melakukan sesuatu untuk gereja. Dan aku bahkan tidak dapat melihat Tuhan di mana pun. Aku bahkan tidak tahu apakah tuhan mengingatku dan mereka masih ingin aku mencurahkan hatiku, tenagaku, pikiranku, apa gunanya? Sudah cukup baik jika aku bisa melewatinya dengan menggumamkan beberapa patah kata." Inilah sudut pandang yang mereka miliki. Mereka berpikir bahwa mencurahkan kekuatan, hati, dan pikiran untuk melaksanakan tugas adalah hal yang bodoh dan tidak berguna. Jika engkau semua bertemu dengan orang seperti itu sekarang, apakah engkau akan disesatkan dan dipengaruhi oleh mereka? Jika engkau semua tidak memiliki landasan dan tidak memahami kebenaran, engkau pasti akan disesatkan dan dipengaruhi, dan seiring berjalannya waktu, engkau akhirnya akan mengalami kerugian.
Dalam kepercayaan kepada Tuhan, tujuan makan dan minum firman Tuhan, serta masalah-masalah utama apa yang harus diselesaikan dengan makan dan minum firman Tuhan, harus jelas. Jika orang percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun tanpa pernah berfokus pada makan dan minum firman Tuhan, masalah kerusakannya tidak hanya tidak akan terselesaikan, tetapi mereka juga tidak akan memahami sedikit pun kebenaran yang seharusnya dipahami. Jadi, apa akibatnya? Dia sangat mudah untuk disesatkan dan mengambil jalan yang salah. Jika seseorang tidak memahami kebenaran, mereka kemungkinan besar akan tersandung. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah, bahkan ketika dihadapkan dengan tanda masalah sekecil apa pun, akan sulit bagi mereka untuk mempertahankan pijakan mereka. Oleh karena itu, akan sangat bermanfaat bagi orang-orang untuk lebih banyak membaca firman Tuhan dan mempersekutukan kebenaran lebih sering. Ada sesuatu yang Tuhan firmankan di dalam Alkitab yang sangat penting: "Langit dan bumi akan berakhir, tapi firman-Ku tidak akan berakhir" (Matius 24:35). Apakah maksud firman ini bagi manusia? Apa artinya bahwa firman Tuhan tidak akan berakhir? Sampai kapan pun, kebenaran dan firman Tuhan akan selalu menjadi kebenaran, ini tidak akan berubah. Baik itu nilai atau makna dari firman ini bagi manusia, maupun konotasi dan kenyataan dari firman ini, itu tidak akan pernah berubah. Firman ini akan tetap menjadi firman yang asli dan tidak akan menjadi sesuatu yang lain, esensi dari firman Tuhan tidak bisa berubah. Contohnya, Tuhan memerintahkan manusia untuk jujur; firman ini adalah kebenaran dan tidak akan pernah berakhir. Mengapa tidak akan pernah berakhir? Dari tuntutan Tuhan agar manusia bersikap jujur, orang dapat melihat aspek esensi Tuhan yang setia, yang telah ada sejak dahulu kala dan akan terus ada selamanya. Esensi Tuhan tidak akan berubah karena perubahan waktu, tempat, atau ruang; esensi Tuhan akan tetap ada selamanya. Apa alasan keberadaan esensi Tuhan yang kekal ini? Karena ini adalah hal yang positif dan esensi yang dimiliki oleh Sang Pencipta; ini tidak akan pernah berakhir dan akan selamanya menjadi kebenaran. Jika engkau mengalami semua kebenaran yang diungkapkan oleh Sang Pencipta dan mewujudkannya ke dalam dirimu, menerapkan semuanya, dan menjalaninya, bukankah engkau akan dapat hidup layaknya seorang manusia? Bukankah hidup akan memiliki nilai? Apakah engkau akan ditinggalkan? Mengalami dan hidup dalam semua kebenaran yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu, bukankah ini jalan keluar bagimu? Hanya jalan ini yang dapat memungkinkan manusia untuk bertahan hidup. Jika manusia tidak dapat menerima kebenaran dan tidak mengikuti jalan mengejar kebenaran, mereka pada akhirnya akan berakhir dan dimusnahkan. Engkau mungkin berkata, "Bukankah aku hidup dengan baik sekarang?" Namun, jika engkau belum memperoleh kebenaran, engkau akan disingkirkan cepat atau lambat. "Langit dan bumi akan berakhir, tapi firman-Ku tidak akan berakhir"; kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam; kalimat ini juga merupakan peringatan terbesar bagi manusia. Hanya firman Tuhan yang merupakan kebenaran dan hanya jika engkau menerima kebenaran, engkau dapat berdiri teguh. Artinya, jika engkau makan dan minum firman Tuhan, menerapkannya, dan hidup dalam keserupaan dengan kemanusiaan, engkau tidak akan disingkirkan. Di sinilah letak nilai firman Tuhan! Jadi, dapatkah firman Tuhan menjadi kehidupan seseorang? Apa yang dimaksud dengan kehidupan di sini? Itu artinya engkau dapat hidup, engkau diselamatkan. Jika engkau menerima firman ini dan memahami serta menerapkannya, engkau akan menjadi orang yang hidup di mata Tuhan. Jika engkau bukan orang yang jujur, tetapi orang yang licik, engkau hanyalah mayat berjalan di mata Tuhan, orang yang sudah mati, dan seperti segala sesuatunya, engkau akan berakhir. Apa pun yang tidak ada hubungannya dengan firman Tuhan atau kebenaran, baik itu berwujud maupun tak berwujud, harus berakhir ketika Tuhan mengubah zaman dan memperbarui dunia. Hanya firman Tuhan yang tidak akan berakhir dan hanya segala sesuatu yang berkaitan dengan firman Tuhan yang tidak akan berakhir. Menerapkan firman Tuhan adalah hal yang sangat penting!
Orang-orang tahu bahwa menerapkan dan mengalami firman Tuhan itu penting, tetapi mereka juga harus memiliki jalan penerapan. Inilah jalan masuk kehidupan dan mereka harus mengutamakannya di dalam hati mereka dan mengalaminya setiap hari. Jika engkau selalu khawatir bahwa engkau tidak memiliki kesaksian pengalaman dan takut jika suatu hari nanti engkau akan disingkirkan, itu adalah masalah. Mereka yang tidak mencintai kebenaran tidak pernah menerapkan atau mengalami firman Tuhan. Ini bukan hanya karena mereka tidak memiliki iman, melainkan karena mereka dihasut oleh natur Iblis. Engkau hanya ingin menerima berkat, tetapi tidak mencintai kebenaran; jika engkau dikuasai oleh motif ini, tidak akan ada hasil yang baik bagimu. Jadi, apa yang harus engkau lakukan? Engkau tentu tidak bisa membiarkannya menyebar tanpa terkendali di dalam dirimu; engkau harus mencari kebenaran dan merenungkan dirimu sendiri: "Mengapa aku tidak menerapkan kebenaran? Mengapa aku selalu khawatir akan disingkirkan? Keadaan ini tidak benar, aku harus menyelesaikannya." Bukankah itu merupakan kemajuan jika engkau tahu cara mencari kebenaran dan menyelesaikan masalahmu? Ini adalah hal yang baik. Orang-orang yang tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah mereka adalah orang yang mati rasa, dungu, memberontak, dan keras kepala. Beberapa orang tahu bahwa ini adalah masalah, tetapi mereka tidak berusaha memperbaikinya. Mereka berpikir, "Bukankah normal jika aku berpikir seperti ini? Mengapa aku harus menyelesaikan niatku untuk menerima berkat? Jika aku menyelesaikannya, aku akan rugi." Bukankah ini keras kepala? Beberapa orang mati rasa; mereka tidak menyadari bahwa keinginan untuk menerima berkat adalah masalah niat dan watak. Mereka berpikir, "Bukankah normal bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan untuk ingin diberkati? Memiliki niat ini bukanlah masalah." Apakah pemikiran dan pandangan seperti itu benar? Jika niat orang untuk menerima berkat tidak diselesaikan dan watak mereka yang rusak tidak ditahirkan, dapatkah mereka benar-benar tunduk kepada Tuhan? Apa konsekuensi dari hidup dengan watak yang rusak? Ini seperti ketika seseorang merasa tidak enak badan; mereka tahu bahwa mereka akan terkena flu, jadi mereka segera mencari obat untuk diminum. Namun, orang lain yang mati rasa; mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka menderita radang. Mereka hanya mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka tidak enak badan akhir-akhir ini, tanpa menyadari bahwa mereka mengalami tanda-tanda awal flu dan tidak menanggapinya dengan serius. Beberapa orang bahkan berpikir, "Ini hanya flu, apa hal terburuk yang bisa terjadi?" Mereka seharusnya minum air tetapi tidak melakukannya, mereka seharusnya minum obat tetapi mereka juga tidak melakukannya; mereka hanya menahannya saja. Akibatnya, mereka terserang flu dan sakit selama beberapa hari, yang membuat mereka mengalami banyak masalah. Orang-orang memperlakukan keadaan-keadaan mereka yang berbeda dengan sikap yang sama seperti mereka memperlakukan penyakit mereka. Beberapa orang dapat menyelesaikan masalah kecil dengan cepat, tetapi mereka tidak menyelesaikan masalah besar sama sekali. Dengan menunda-nunda seperti ini, watak mereka yang rusak tetap belum terselesaikan, menyebabkan mereka tidak memiliki jalan masuk kehidupan dan kerugian bagi hidup mereka. Bukankah ini bodoh dan bebal? Orang-orang yang terlalu bodoh tidak dapat memperoleh kebenaran dan akhirnya kehilangan hidup mereka. Dalam kepercayaan kepada Tuhan seperti ini, mereka tidak akan pernah mampu menerima keselamatan dari Tuhan.
Mengejar kebenaran harus dimulai dengan merenungkan dan mengenal diri sendiri. Apa pun situasi yang dihadapi seseorang, mereka harus selalu merenungkan keadaan batin mereka, mengenali, dan menyelesaikan pikiran dan pandangan yang salah atau keadaan memberontak yang mereka miliki. Setelah jangka waktu tertentu, ketika mereka dihadapkan pada lingkungan atau peristiwa yang berbeda, mereka akan mengembangkan beberapa pandangan dan keadaan yang salah, dan mereka harus mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Dengan terus merenungkan dan mengenal diri sendiri, serta terus menyelesaikan pandangan dan keadaan yang salah, watak rusak seseorang makin lama akan makin berkurang, dan akan mudah bagi mereka untuk menerapkan kebenaran. Inilah proses pertumbuhan kehidupan. Apa pun situasi yang dihadapi seseorang, mereka harus mencari kebenaran, dan apa pun yang diniatkan atau direncanakan seseorang, yang sesuai dengan kebenaran harus ditaati, dan yang tidak sesuai dengan kebenaran harus dibatalkan. Selain itu, mereka harus bercita-cita untuk keadilan dan harus berjuang demi kebenaran, demi pengenalan akan Tuhan, dan demi memenuhi tuntutan Tuhan. Dengan cara ini, mereka dapat lebih sering menemukan kekurangan dan perwujudan rusak mereka, dan mengembangkan hati yang merindukan kebenaran. Setelah mengalami cara ini selama beberapa waktu, mereka akan dapat memahami beberapa kebenaran, dan iman mereka kepada Tuhan akan menjadi semakin besar. Tanpa memiliki jalan penerapan seperti itu, seseorang tidak dapat dikatakan sedang menerapkan kebenaran. Orang yang hidup dalam watak yang rusak tidak memeriksa apakah perkataan dan tindakan mereka selaras dengan kebenaran atau bertentangan dengan prinsip-prinsip, tetapi hanya memeriksa apakah mereka telah melanggar hukum atau melakukan kejahatan, dan hanya itu saja, tidak memedulikan watak mereka yang rusak dan sama sekali tidak peduli dengan keadaan pemberontakan mereka. Meskipun dari luar mereka mungkin tidak melanggar hukum atau melakukan kejahatan, faktanya mereka masih hidup berdasarkan watak yang rusak di bawah kuasa Iblis, maka orang seperti itu belum hidup dalam kenyataan kebenaran dan mereka bukanlah orang yang akan menerima keselamatan. Ketika orang-orang hidup selama beberapa dekade di dunia dan dapat memahami hal-hal duniawi, mereka mengira bahwa mereka pintar, sempurna, dan luar biasa, tetapi di hadapan kebenaran, manusia yang rusak semuanya bodoh dan memiliki kekurangan mental, sama seperti manusia yang tidak penting akan selamanya menjadi bayi di hadapan Tuhan. Pengejaran untuk menerima keselamatan bukanlah hal yang sederhana; ini membutuhkan pemahaman akan banyak kebenaran, bertumbuh hingga tingkat tertentu, memiliki kemauan keras, memiliki lingkungan yang sesuai, perlahan-lahan menerapkan kebenaran. Dengan cara ini, iman seseorang akan tertanam sedikit demi sedikit dan keraguan serta kesalahpahaman mereka tentang Tuhan akan menjadi semakin berkurang. Ketika keraguan dan kesalahpahaman mereka tentang Tuhan berkurang, iman mereka bertambah, dan saat dihadapkan pada berbagai situasi, mereka akan mampu mencari kebenaran. Ketika mereka memahami kebenaran, mereka akan mampu menerapkan kebenaran, mereka akan memiliki semakin sedikit hal-hal negatif dan pasif, memiliki lebih banyak hal positif dan baik, dan mereka semakin sering dapat melakukan kebenaran dan menaati Tuhan. Ini adalah memiliki kenyataan kebenaran. Bukankah ini menunjukkan bahwa mereka telah tumbuh dewasa? Bahwa hati mereka telah menjadi semakin tangguh? Apa yang dimaksud dengan ketangguhan? Ini adalah ketika seseorang memiliki iman yang sejati, memahami kebenaran, memiliki kemampuan untuk mengenali, dapat mengandalkan Tuhan untuk mengalahkan kedagingan, memiliki kemampuan untuk mengalahkan dosa, dapat berdiri teguh dalam kesaksian mereka, memiliki ketaatan yang sejati kepada Tuhan, dapat menderita dan membayar harga demi menerapkan kebenaran, dapat dengan setia melaksanakan tugas mereka, dan memiliki tekad untuk mengejar kebenaran dan berusaha disempurnakan. Bukankah ini menunjukkan perkembangan yang berkelanjutan? Dengan cara ini, orang dapat memulai jalan mengejar kebenaran dan disempurnakan. Tidak ada keadaan atau kesulitan yang dapat membebani orang seperti itu atau menghentikan mereka mengikuti Tuhan. Inilah orang yang paling diberkati oleh Tuhan, orang yang diharapkan oleh Tuhan.
Dalam keadaan apakah engkau semua saat ini? (Terkadang, ketika kami menghadapi kesulitan, kami menjadi sedikit negatif, tetapi kami mampu berjuang keras dan mencoba mengatasinya.) Memiliki tingkat pertumbuhan berarti mampu mengambil inisiatif untuk mengatasi kesulitanmu ketika engkau menyadarinya. Mengetahui bahwa engkau mengalami kesulitan tetapi tidak bertindak untuk mengatasinya atau meresponsnya, membawa-bawa keadaan negatif, melaksanakan tugasmu dengan cara yang pasif dan asal-asalan, ini adalah keadaan yang umum dan biasanya terlihat. Ada hal yang lebih buruk lagi, yaitu tidak mengenali orang seperti apa dirimu dan tidak mengetahui seperti apa keadaanmu sekarang, tidak mengetahui apakah keadaanmu itu baik atau buruk, benar atau salah, negatif atau positif. Inilah yang paling menyusahkan. Orang seperti ini tidak mengetahui masalah-masalah terperinci dari jalan masuk kehidupan mereka, apalagi dari mana harus mulai menerapkan kebenaran. Mereka hanya memiliki antusiasme tetapi tidak memahami kebenaran apa pun atau memiliki ketajaman, dan mereka tidak dapat berbicara tentang kesaksian pengalaman apa pun. Kapan orang seperti itu dapat memberikan kesaksian yang berkumandang bagi Tuhan? Beberapa orang dapat mengucapkan banyak perkataan dan doktrin, tetapi jika engkau bertanya kepada mereka, "Apakah engkau menjadi saksi bagi Tuhan?" mereka sendiri bahkan tidak tahu. Mereka mengira bahwa mereka melaksanakan tugas mereka dengan setia, tanpa kecerobohan atau asal-asalan. Mereka mengira bahwa segala sesuatu tentang diri mereka adalah baik dan bahwa mereka lebih baik daripada orang lain dalam segala hal. Ketika orang lain lemah, mereka bahkan menasihati: "Mengapa kau lemah? Cintailah Tuhan, ayolah! Sudah sampai di titik ini dan kau masih lemah?" Orang seperti itu jelas tidak memiliki kenyataan; mereka tidak memahami keadaan normal dan proses perubahan watak hidup seseorang. Mereka hanya mengulangi perkataan yang biasa didengar seperti "Ini bukan saatnya menjadi lemah!" dan "Kau masih mengkhawatirkan keluargamu sekarang?" menggunakan doktrin semacam itu untuk mendorong orang lain dan menceramahi mereka, tanpa pernah menyelesaikan masalah nyata apa pun. Tidak mampu memahami keadaan diri sendiri dan sungguh tak mampu mengenal diri sendiri adalah perwujudan paling nyata dari tingkat pertumbuhan yang tidak dewasa. Tidak mampu menerapkan kebenaran dan sebaliknya hanya mengikuti beberapa aturan menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tidak dewasa. Keinginan untuk memenuhi tugas dan melakukan segala sesuatunya dengan baik, tetapi tidak mengetahui prinsip apa yang harus diikuti dan hanya melakukan segala sesuatu berdasarkan kemauan sendiri menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tidak dewasa. Mendengarkan kesaksian pengalaman orang lain dan tidak mampu mengenalinya, juga tidak mampu mengatakan dengan jelas manfaat apa yang harus diperoleh dari hal ini atau pelajaran apa yang harus diambil menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tidak dewasa. Tidak mampu mengalami dan menerapkan firman Tuhan dan tidak tahu apa artinya meninggikan dan bersaksi bagi Tuhan, ini semua merupakan tanda-tanda tingkat pertumbuhan yang tidak dewasa. Di tahap manakah engkau semua berada saat ini? (Kami cenderung lebih sering bersikap negatif.) Situasi ini bahkan lebih menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tidak dewasa. Orang-orang yang terlalu bodoh dan tidak peduli tidak memiliki tingkat pertumbuhan apa pun. Hanya ketika mereka dapat memahami banyak kebenaran, mengenali berbagai hal, menyelesaikan masalah mereka sendiri, memiliki lebih sedikit keadaan negatif dan lebih banyak keadaan normal, memikul beban yang berat, serta memimpin dan membekali orang lain, barulah mereka benar-benar memiliki tingkat pertumbuhan. Engkau harus berusaha memperoleh kebenaran; semakin engkau berusaha, semakin engkau akan bertumbuh. Jika engkau tidak berusaha, engkau tidak akan bertumbuh, dan bahkan mungkin mengalami kemunduran. Untuk percaya kepada Tuhan, engkau harus hidup berdasarkan kebenaran; dengan semakin memahami kebenaran, engkau akan memiliki tingkat pertumbuhan. Jika engkau tidak memahami kebenaran, engkau tidak akan memiliki tingkat pertumbuhan. Ketika engkau mulai mencari kebenaran dan mampu menyelesaikan masalahmu sendiri, tingkat pertumbuhanmu akan meningkat.
15 Oktober 2017
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.