Dalam Kepercayaan kepada Tuhan, yang Terpenting adalah Menerapkan dan Mengalami Firman-Nya (Bagian Satu)

Dalam hal kepercayaanmu kepada Tuhan, selain melaksanakan tugasmu dengan semestinya, yang terpenting adalah memahami kebenaran, masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan berusaha lebih keras untuk memiliki jalan masuk kehidupan. Apa pun yang terjadi, ada pelajaran yang bisa dipetik, jadi jangan biarkan hal itu berlalu begitu saja. Engkau harus saling mempersekutukan kebenaran, sehingga engkau akan dicerahkan dan diterangi oleh Roh Kudus, dan engkau akan mampu memahami kebenaran. Melalui persekutuan, engkau akan memiliki jalan penerapan dan engkau akan tahu bagaimana cara mengalami pekerjaan Tuhan, dan tanpa kausadari, beberapa masalahmu akan terselesaikan, hal yang tak mampu kaupahami dengan jelas menjadi makin sedikit, dan engkau akan makin memahami kebenaran. Dengan cara ini, tingkat pertumbuhanmu akan meningkat tanpa kausadari. Engkau harus berinisiatif untuk mengejar kebenaran dan berusaha dengan segenap hatimu untuk memahami kebenaran. Ada orang yang berkata, "Aku telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun dan memahami banyak doktrin. Aku sekarang punya landasan. Sekarang, kehidupan di gereja kami di luar negeri baik, saudara-saudari berkumpul untuk mempersekutukan masalah iman kepada Tuhan sepanjang hari, dan dengan demikian, aku dipengaruhi oleh apa yang kulihat dan kudengar, dan terpelihara olehnya—dan itu sudah cukup. Aku tak perlu berusaha menyelesaikan masalah jalan masuk kehidupanku sendiri, atau masalah pemberontakanku sendiri. Jika setiap hari, aku mematuhi jadwalku untuk berdoa, makan dan minum firman Tuhan, menyanyikan lagu pujian, melaksanakan tugasku, dan melaksanakan tugas sebagaimana seharusnya, aku akan bertumbuh secara alami dalam hidupku." Inilah yang dipikirkan orang-orang percaya yang bingung itu. Orang-orang ini sama sekali tidak menerima kebenaran. Mereka hanya melakukan ritual keagamaan, berbicara dengan fasih, meneriakkan slogan kosong, mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin dan merasa bahwa mereka telah melakukannya dengan baik. Akibatnya, sementara orang lain mampu menerapkan beberapa kebenaran dan mengalami beberapa perubahan, orang-orang percaya yang bingung ini sama sekali tidak memiliki kesaksian pengalaman. Mereka bahkan tak mampu membahas tentang mengenal diri mereka sendiri. Mereka berakhir dengan tangan kosong dan tidak mendapatkan apa-apa. Bukankah mereka miskin dan menyedihkan? Tidak ada jalan untuk memperoleh keselamatan yang lebih nyata atau praktis dibandingkan dengan menerima dan mengejar kebenaran. Jika engkau tak mampu memperoleh kebenaran, kepercayaanmu kepada Tuhan hampa. Orang yang mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin kosong, yang selalu mengulang-ulang slogan, mengatakan hal-hal yang muluk-muluk, mengikuti peraturan, dan tidak pernah berfokus untuk menerapkan kebenaran, mereka tidak akan mendapatkan apa pun, seberapa pun lamanya mereka percaya. Siapakah orang yang mendapatkan sesuatu? Orang yang melaksanakan tugasnya dengan tulus dan yang mau menerapkan kebenaran, yang memperlakukan apa yang Tuhan percayakan kepada mereka sebagai misi mereka, yang dengan senang hati menghabiskan seluruh hidup mereka mengorbankan diri untuk Tuhan dan tidak membuat rencana untuk kepentingan mereka sendiri, yang rendah hati dan menaati pengaturan Tuhan. Mereka mampu memahami prinsip-prinsip kebenaran saat melaksanakan tugas mereka dan berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu dengan semestinya, memungkinkan diri mereka mencapai dampak dari kesaksian mereka bagi Tuhan, dan memenuhi maksud-maksud Tuhan. Ketika mereka menghadapi kesulitan saat melaksanakan tugasnya, mereka berdoa kepada Tuhan dan berusaha memahami maksud-maksud Tuhan, mereka mampu menaati pengaturan dan penataan yang berasal dari Tuhan, dan dalam semua yang mereka lakukan, mereka mencari dan menerapkan kebenaran. Mereka tidak mengulang-ulang slogan atau mengatakan hal yang muluk-muluk, tetapi hanya berfokus untuk melakukan segala sesuatu dengan praktis dan realistis, dan mengikuti prinsip dengan cermat. Mereka sepenuh hati dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, dan belajar untuk memahami segala sesuatu dengan segenap hati, dan dalam banyak hal, mereka mampu menerapkan kebenaran, yang mana setelah itu mereka pun memperoleh pengetahuan dan pemahaman, dan mereka mampu memetik pelajaran dan benar-benar mendapatkan sesuatu. Dan ketika mereka memiliki pemikiran yang keliru atau keadaan yang salah, mereka berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya; kebenaran apa pun yang mereka pahami, mereka memiliki penghargaan di dalam hati mereka, dan mampu menyampaikan kesaksian pengalaman mereka. Orang-orang semacam itu pada akhirnya memperoleh kebenaran. Mereka yang ceroboh dan dangkal tidak pernah berpikir tentang bagaimana menerapkan kebenaran. Mereka hanya berfokus mengerahkan upaya dan melakukan segala sesuatu, dan berfokus untuk memperlihatkan diri mereka sendiri dan pamer, tetapi mereka tidak pernah mencari cara untuk menerapkan kebenaran, dan ini membuat mereka sulit untuk memperoleh kebenaran. Renungkanlah, orang macam apakah yang dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran? (Orang yang pragmatis, praktis dan realistis, serta melakukan segala sesuatu dengan segenap hati.) Orang yang praktis dan realistis, yang melakukan segala sesuatu dengan segenap hati, dan memiliki hati: orang-orang semacam itu lebih memperhatikan kenyataan dan penggunaan prinsip-prinsip kebenaran ketika mereka bertindak. Selain itu, dalam segala sesuatu, mereka memperhatikan kepraktisan, mereka pragmatis, dan mereka menyukai hal-hal yang positif, kebenaran, dan hal-hal yang praktis. Orang-orang semacam inilah yang pada akhirnya memahami dan memperoleh kebenaran. Orang macam manakah engkau semua? (Orang yang tidak praktis, yang selalu ingin melakukan sesuatu demi penampilan, dan mengandalkan tipu muslihat.) Adakah yang bisa diperoleh dengan melakukan hal ini? (Tidak ada.) Sudahkah engkau menemukan cara untuk memecahkan masalahmu? Jika engkau mampu menyadari masalahmu dan mulai membalikkan keadaan, akan tahukah engkau ketika gagasan, imajinasi, dan perspektifmu tentang berbagai hal telah berubah? (Kurasa hal-hal itu sudah agak berubah.) Asalkan ada hasil dan kemajuan, engkau harus mempersekutukannya dan membiarkan orang lain belajar darinya. Meskipun pengalamanmu terbatas, itu tetap merupakan pengalamanmu mengalami pertumbuhan dalam hidupmu. Proses pertumbuhan dalam hidupmu adalah pengalamanmu dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, dalam kehidupanmu yang bertumbuh dengan mengalami firman Tuhan. Pengalaman ini paling berharga.

Karena mereka semua percaya kepada Tuhan, membaca firman Tuhan, dan melaksanakan tugas mereka, mengapa setelah beberapa tahun orang menjadi berbeda dari satu sama lain, pasang surut muncul, dan yang sebenarnya mengenai orang-orang terungkap? Masing-masing orang pun menjadi terpilah sesuai jenisnya. Ada orang-orang yang mampu berbicara tentang kesaksian pengalaman mereka, sementara yang lain sama sekali tidak memiliki kesaksian pengalaman. Ada orang-orang yang mampu memahami banyak kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan, sementara yang lain belum memperoleh kebenaran apa pun atau mengubah watak mereka sedikit pun. Ada orang-orang yang mendapatkan hasil dalam tugas mereka, mereka mampu mencari kebenaran untuk memecahkan masalah, dan lambat laun mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik. Ada orang-orang yang licin dan bermalas-malasan saat melaksanakan tugas mereka, hanya melakukannya dengan asal-asalan, dan tidak menerapkan kebenaran meskipun mereka memahaminya. Karena mereka semua menghadiri pertemuan, membaca firman Tuhan, dan melaksanakan tugas mereka, mengapa hasilnya berbeda-beda? Mengapa ada orang-orang yang mampu memulai jalan mengejar kebenaran sementara yang lain menempuh jalannya sendiri? Mengapa ada orang-orang yang mampu menerima kebenaran sementara yang lain tidak? Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa ada orang-orang yang mampu menerima dan taat ketika menghadapi diri mereka dipangkas, sementara yang lain merasa menentang, membantah, memberontak, bahkan membuat keributan? Mereka semua makan dan minum firman Tuhan dalam pertemuan, mendengarkan khotbah dan persekutuan, menjalani kehidupan bergereja, dan melaksanakan tugas mereka, jadi mengapa ada perbedaan besar di antara mereka? Dapatkah engkau memahami yang sebenarnya mengenai masalah ini? Ini adalah perbedaan antara kemanusiaan yang baik dan kemanusiaan yang buruk, dan ini berhubungan langsung dengan apakah orang mencintai kebenaran atau tidak. Sebenarnya, bagaimanapun kualitas seseorang, asalkan dia mampu menerima kebenaran, melaksanakan tugasnya dengan rajin, dan merenungkan serta mengenal dirinya sendiri, dia akan memiliki jalan masuk kehidupan, mengalami perubahan sejati, dan mampu melaksanakan tugasnya dengan memadai. Jika engkau tidak tekun dalam membaca firman Tuhan, dan engkau tidak memahami kebenaran, maka engkau tidak dapat merenungkan dirimu sendiri; engkau hanya akan puas dengan mengerahkan sedikit upaya dan tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran, dan menggunakan ini sebagai modal. Engkau akan melewati setiap hari dalam kekacauan, hidup dalam kebingungan, hanya melakukan segala sesuatu sesuai jadwal, tidak pernah menggunakan hatimu untuk memeriksa dirimu atau mengerahkan upaya untuk memahami dirimu sendiri; engkau selalu bersikap sembrono, maka engkau tidak akan pernah melaksanakan tugasmu sesuai standar yang dapat diterima. Untuk dapat mengerahkan segenap upayamu dalam melakukan sesuatu, pertama-tama engkau harus mengerjakannya dengan segenap hatimu; hanya ketika engkau terlebih dahulu mengerjakannya dengan segenap hatimu, barulah engkau dapat mengerahkan segenap upayamu, dan berusaha sebaik mungkin. Sekarang ini, ada orang-orang yang telah mulai bertekun dalam melaksanakan tugas mereka, mulai memikirkan bagaimana melaksanakan tugas mereka sebagai makhluk ciptaan dengan baik agar dapat memuaskan hati Tuhan. Mereka tidak bersikap negatif dan malas, mereka tidak dengan pasif menunggu Yang di Atas mengeluarkan perintah, tetapi melakukan inisiatif tertentu. Dinilai dari pelaksanaan tugasmu, engkau semua sedikit lebih efektif daripada sebelumnya, dan meskipun masih di bawah standar, telah ada sedikit pertumbuhan—ini bagus. Namun, engkau tidak boleh puas dengan keadaan status quo, engkau harus terus mencari, terus bertumbuh—hanya dengan cara demikianlah engkau akan melaksanakan tugasmu dengan lebih baik, dan mencapai standar yang dapat diterima. Namun, ada orang-orang yang, ketika melaksanakan tugas, mereka tidak pernah berupaya keras dan mengerahkan segenap upaya mereka, mereka hanya memberikan 50 sampai 60 persen dari upaya mereka, dan mereka hanya asal-asalan melaksanakan tugas mereka sampai selesai. Mereka tak pernah mampu mempertahankan keadaan normal: ketika tak seorang pun mengawasi mereka atau memberikan dukungan, mereka mengendur dan kehilangan semangat; ketika ada seseorang yang mempersekutukan kebenaran, mereka menjadi bersemangat, tetapi jika kebenaran tidak dipersekutukan kepada mereka selama beberapa waktu, mereka menjadi tidak semangat. Apa masalahnya jika mereka selalu berubah seperti ini? Seperti inilah sikap orang-orang ketika mereka belum memperoleh kebenaran, mereka semua hidup berdasarkan semangat, yang sangat sulit dipertahankan: harus ada seseorang yang berkhotbah dan menyampaikan persekutuan kepada mereka setiap hari; begitu tak seorang pun menyirami dan membekali mereka, dan tak seorang pun menyokong mereka, hati mereka kembali menjadi dingin, mereka kembali mengendur. Dan ketika hati mereka mengendur, mereka menjadi kurang efektif dalam tugas mereka; jika mereka bekerja lebih keras, keefektifan mereka meningkat, hasil pelaksanaan tugas mereka menjadi lebih baik, dan mereka mendapatkan lebih banyak. Apakah ini pengalamanmu? Engkau semua mungkin berkata, "Mengapa kami selalu mengalami kesulitan melaksanakan tugas kami? Ketika masalah-masalah ini diselesaikan, kami disegarkan; ketika masalah-masalah ini tidak diselesaikan, kami menjadi acuh tak acuh. Jika ada sedikit hasil ketika kami melaksanakan tugas kami, jika Tuhan memperkenan pertumbuhan kami, kami merasa senang, dan kami merasa akhirnya kami telah menjadi dewasa, tetapi tak lama kemudian, ketika kami menghadapi kesulitan, kami kembali menjadi negatif—mengapa keadaan kami selalu tidak konsisten?" Sebenarnya, alasan utamanya adalah engkau semua memahami terlalu sedikit kebenaran, tidak memiliki kedalaman dalam pengalaman dan jalan masuk, dan engkau masih belum memahami banyak kebenaran, engkau tidak memiliki tekad, dan hanya puas dengan mampu melaksanakan tugasmu. Jika engkau tidak memahami kebenaran, bagaimana engkau mampu melaksanakan tugasmu secara memadai? Sebenarnya, yang Tuhan tuntut dari manusia semuanya dapat dicapai oleh manusia; asalkan engkau semua mengizinkan hati nuranimu memainkan perannya, dan engkau mampu mengikuti hati nuranimu dalam melaksanakan tugasmu, maka akan mudah untuk menerima kebenaran—dan jika engkau mampu menerima kebenaran, engkau mampu melaksanakan tugasmu dengan memadai. Engkau semua harus berpikir seperti ini: "Selama bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, selama bertahun-tahun makan dan minum firman Tuhan, aku telah memperoleh banyak sekali, dan Tuhan telah menganugerahkan kasih karunia dan berkat yang besar kepadaku. Aku hidup di bawah kekuasaan dan kedaulatan Tuhan, dan Dia telah memberiku napas ini, jadi aku harus melibatkan seluruh pikiranku, dan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi tugasku—inilah kuncinya." Orang harus memiliki tekad; hanya mereka yang memiliki tekad yang benar-benar mampu mengejar kebenaran, dan hanya setelah mereka memahami kebenaran, barulah mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan benar, dan memuaskan Tuhan, serta mempermalukan Iblis. Jika engkau memiliki ketulusan seperti ini, dan tidak membuat rencana untuk kepentinganmu sendiri, tetapi hanya ingin memperoleh kebenaran dan melaksanakan tugasmu dengan benar, maka pelaksanaan tugasmu akan menjadi normal, dan keadaanmu akan tetap konsisten selama pelaksanaan tugasmu itu; keadaan apa pun yang kauhadapi, engkau akan mampu bertekun dalam melaksanakan tugasmu. Siapa pun yang mungkin datang untuk menyesatkan atau mengganggumu, dan entah suasana hatimu baik atau buruk, engkau akan tetap mampu melaksanakan tugasmu secara normal. Dengan demikian, Tuhan tidak lagi mengkhawatirkanmu, dan Roh Kudus akan dapat mencerahkanmu untuk memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan membimbingmu untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan sebagai hasilnya, pelaksanaan tugasmu pasti akan memenuhi standar. Asalkan engkau dengan tulus mengorbankan dirimu untuk Tuhan, melaksanakan tugasmu dengan mantap, dan tidak bertindak dengan cara yang licin atau melakukan tipu muslihat, engkau akan memenuhi syarat bagi Tuhan. Tuhan memeriksa pikiran, pemikiran, niat, dan motif orang. Jika hatimu merindukan kebenaran dan engkau mampu mencari kebenaran, Tuhan akan mencerahkan dan menerangimu. Dalam hal apa pun, Tuhan akan mencerahkanmu selama engkau mencari kebenaran. Dia akan membuat hatimu terbuka terhadap terang dan memberimu jalan penerapan, dan pelaksanaan tugasmu akan membuahkan hasil. Pencerahan Tuhan adalah kasih karunia dan berkat-Nya. Bahkan untuk hal-hal sepele, jika Tuhan tidak mencerahkan, orang tidak akan pernah mendapatkan inspirasi. Tanpa inspirasi, sulit bagi orang untuk menyelesaikan masalah mereka, dan mereka tidak akan memperoleh hasil dalam tugas mereka. Hanya dengan mengandalkan kecerdasan, kebijaksanaan, dan kualitas manusia, ada banyak hal yang tidak dapat orang atasi, bahkan setelah bertahun-tahun belajar. Kenapa tidak? Karena itu bukanlah waktunya yang Tuhan tentukan. Jika Tuhan tidak bertindak, sebaik apa pun kemampuan seseorang, itu tidak berguna. Ini harus dipahami dengan jelas. Engkau harus percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, dan bahwa manusia hanya bekerja sama. Jika engkau tulus, Tuhan akan melihat, dan Dia akan membuka jalan keluar untukmu di setiap situasi. Tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi; engkau harus memiliki keyakinan ini. Oleh karena itu, ketika engkau semua melaksanakan tugasmu, tidak perlu merasa was-was. Selama engkau mengerahkan segenap kemampuanmu, berusaha dengan segenap hatimu, Tuhan tidak akan memberimu kesulitan, juga tidak akan memberimu melebihi yang dapat kautangani. Engkau hanya perlu khawatir jika engkau mengatakan hal-hal yang tidak berarti, hanya berbicara tanpa bertindak, dan mengatakan hal-hal yang terdengar menyenangkan tetapi tidak melaksanakan tugasmu dengan semestinya—maka habislah dirimu. Jika engkau bersikap seperti ini terhadap tugasmu dan Tuhan, akankah engkau menerima berkat Tuhan? Sama sekali tidak. Jika engkau menghadapi Tuhan dengan bersikap asal-asalan dan menipu-Nya, Tuhan tidak akan mengindahkanmu, dan akan menyingkirkanmu; itulah akibat yang akan kauperoleh. Jika engkau menipu Tuhan, engkau menipu dirimu sendiri. Tuhan akan berkata, "Hati orang ini terlalu licik, dan tidak memiliki sedikit pun kejujuran. Dia tak bisa dipercaya atau apa pun tidak dapat dipercayakan kepadanya. Orang ini harus dikesampingkan." Apa maksudnya? Itu berarti engkau akan ditinggalkan sendirian dan diabaikan. Jika tidak bertobat, engkau akan sama sekali ditinggalkan. Engkau akan diserahkan kepada Iblis, roh jahat, dan roh-roh najis untuk dihukum. Seperti apakah keadaan orang ketika mereka dibiarkan sendiri dan diabaikan? Artinya Roh Kudus tidak lagi bekerja di dalam dirimu. Engkau tidak akan memahami apa pun dengan jelas, sementara orang lain akan selalu dicerahkan dan diterangi, engkau tidak akan; engkau akan tetap mati rasa. Engkau akan selalu mengantuk dan tertidur ketika seseorang mempersekutukan kebenaran dan jalan masuk kehidupan. Fenomena macam apa ini? Fenomena di mana Tuhan tidak bekerja. Jika Tuhan tidak bekerja, bukankah seseorang akan menjadi mayat berjalan? Sangat menakutkan jika percaya kepada Tuhan tetapi tidak merasakan hadirat-Nya. Orang seperti itu kehilangan kepercayaan diri mereka untuk hidup, motivasi mereka. Mereka kehilangan semua modal untuk hidup. Bernilaikah kehidupan seperti itu? Bukankah engkau lebih buruk daripada babi dan anjing? Karena tindakan dan perilakumu, Tuhan menganggapmu tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya. Tuhan membencimu dari lubuk hati-Nya, dan dengan demikian meninggalkanmu atau untuk sementara mengesampingkanmu. Aku bertanya-tanya, mengapa orang seperti itu tidak menyadari rasa sakit dan ketidaknyamanan di dalam hatinya? Apa yang salah dengan hati mereka? Apakah mereka memiliki perasaan hati nurani? Sekalipun engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, entah imanmu itu asli atau palsu, engkau telah memahami beberapa doktrin tentang cara berperilaku, dan mampu hidup dan bertahan tanpa mengandalkan siapa pun, tetapi jika engkau tahu bahwa engkau telah disingkapkan, bahwa Tuhan telah meninggalkanmu, dapatkah engkau tetap melanjutkan hidupmu? Apakah hidupmu masih memiliki makna? Pada saat itu, engkau akan menangis dan menggertakkan gigi dalam kegelapan. Di gereja, kita sering melihat orang-orang yang, setelah disingkapkan dan disingkirkan dan gereja hendak mengeluarkan mereka, menangis sampai mata mereka merah dan bahkan berpikiran untuk mati, tanpa keinginan untuk terus hidup. Sambil menangis, mereka bersumpah bahwa mereka akan bertobat, tetapi saat itu sudah terlambat. Ini adalah kasus di mana engkau tidak meneteskan air mata sampai engkau melihat peti mati. Jadi, jika engkau ingin bertobat, engkau harus melakukannya sekarang. Bergegaslah merenungkan masalah apa yang masih ada dalam pelaksanaan tugasmu, apakah engkau bersikap asal-asalan, apakah ada area di mana engkau tidak bertanggung jawab. Renungkan apakah engkau benar-benar telah memperoleh hasil dalam pelaksanaan tugasmu—jika sudah, renungkan mengapa engkau memperolehnya, dan jika belum, renungkan mengapa engkau belum memperolehnya. Dapatkan kejelasan tentang hal-hal ini melalui perenungan, dan jika masih ada masalah, carilah kebenaran untuk menyelesaikannya. Dengan melakukannya, engkau tidak akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasmu. Semua orang yang mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah saat mereka memilikinya, bukan saja menghadapi makin sedikit kesulitan dalam pelaksanaan tugas mereka, tetapi mereka juga akan makin efektif dalam melaksanakan tugas, dan memperoleh jalan masuk kehidupan selama melaksanakan tugas. Sebagai contoh, ada orang-orang yang mulai memahami kebenaran ketika mereka telah melalui beberapa kali pemangkasan. Mereka sering kali mampu merenungkan diri mereka sendiri, dan setiap kali mereka mendapati diri mereka telah melakukan kesalahan, mereka tahu bahwa mereka telah melanggar prinsip kebenaran, dan mereka berdoa kepada Tuhan, dan merasa sangat menyesal. Terkadang, mereka bahkan membenci diri mereka sendiri, dan menampar wajah mereka sendiri dengan berkata: "Bagaimana aku bisa melakukan kesalahan lagi dan menyakiti Tuhan? Aku sangat tidak berperasaan! Tuhan telah begitu banyak berfirman—mengapa aku tidak mengingatnya dalam waktu lama? Mengapa aku tidak bisa tunduk kepada Tuhan dan memuaskan-Nya? Aku benar-benar telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis. Tidak ada tempat bagi Tuhan di hatiku, dan aku tidak menghargai kebenaran. Aku selalu hidup berdasarkan falsafah Iblis, dan aku tidak memedulikan maksud-maksud Tuhan. Aku benar-benar tidak berhati nurani dan tidak bernalar. Aku sangat memberontak terhadap Tuhan!" Dengan demikian, mereka bertekad untuk bertobat dan bertekad untuk menerapkan kebenaran, melaksanakan tugas mereka dengan baik, dan memuaskan Tuhan. Mereka memang memiliki hati yang bertobat, tetapi membuang watak yang rusak bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan—orang harus menjalani beberapa ujian dan pemurnian sebelum mereka dapat sedikit berubah. Sekarang ada banyak orang yang mulai berfokus mengejar kebenaran, yang mau masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan menjadi orang yang tunduk kepada Tuhan. Lalu, bagaimana seseorang dengan hati yang benar-benar bertobat harus melakukannya? Di satu sisi, mereka harus lebih banyak berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran, menyelesaikan masalah yang mereka miliki dan menemukan jalan penerapan dalam pelaksanaan tugas mereka. Di sisi lain, mereka harus menemukan seseorang yang memahami kebenaran dan bersekutu dengan mereka, menelaah pemberontakan mereka sendiri, esensi natur mereka, dan area di mana mereka menentang Tuhan. Mereka harus mengetahui masalah ini dengan jelas, kemudian merenungkan firman Tuhan secara saksama dan mengerti bagaimana mereka harus menerapkannya; dengan berulang kali, mereka harus merenungkan firman Tuhan yang sangat penting itu, dan mengarahkan perenungan diri mereka pada masalah mereka sendiri dan esensi natur mereka sendiri, sampai mereka memiliki pemahaman yang benar. Dengan cara ini, mereka mampu benar-benar menyesal dan membenci diri mereka sendiri. Kemudian mereka harus mengungkapkan kesulitan mereka dalam melaksanakan tugas dan menggunakan kebenaran untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, kesulitan mereka dalam melaksanakan tugas menjadi makin sedikit, dan hasilnya telah tercapai. Jika orang benar-benar mau bertobat, cara inilah yang harus mereka lakukan. Inilah satu-satunya jalan menuju pertobatan sejati.

Apa hasil yang akan diperoleh dengan mengejar kebenaran? Di satu sisi, orang mengejar kebenaran adalah untuk membuang wataknya yang rusak; di sisi lain, orang mengejar kebenaran agar dirinya mampu menerapkan kebenaran saat melaksanakan tugasnya dan menjadi orang yang benar-benar tunduk kepada Tuhan. Ini adalah kesaksian pertobatan yang benar. Untuk benar-benar bertobat, orang harus memahami kebenaran dan menerapkannya sebelum hasilnya dapat diperoleh. Jika engkau tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, dan pertobatanmu hanyalah sesuatu yang engkau katakan, engkau tidak akan memperoleh hasil. Engkau tidak akan merasa damai dan tenang dengan cara ini. Jika yang kaulakukan hanyalah mengatakan dalam doa bahwa engkau benar-benar ingin bertobat, tetapi dalam melaksanakan tugasmu, engkau tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahmu dan tidak memperoleh hasil yang memuaskan dalam pelaksanaan tugasmu, maka engkau sedang berusaha menipu Tuhan. Pertobatan sejati terutama orang wujudkan dengan berlaku setia, bertindak sesuai dengan prinsip, menerapkan kebenaran, dan memberikan kesaksian yang benar dalam pelaksanaan tugasnya. Inilah yang menandakan terjadinya pertobatan sejati, dan semua ini juga merupakan kesaksian pertobatan yang sejati. Jika yang orang lakukan hanyalah berbicara kepada Tuhan dalam doanya bahwa dia bertobat, tanpa melaksanakan tugasnya dengan baik, bukankah dia sedang mencoba menipu Tuhan? Jika sesuatu setidaknya tidak dapat melewati hati nuraninya sendiri, lalu bagaimana hal itu dapat melewati Tuhan? Apa pun keadaanmu saat ini, selama engkau tidak dapat dengan tulus melaksanakan tugasmu untuk Tuhan, dan selama masih banyak masalah dalam pelaksanaan tugasmu, yang untuk menyelesaikannya engkau tidak mencari kebenaran, engkau memiliki masalah besar, dan engkau harus sungguh-sungguh berdoa tentang hal itu dan merenungkan dirimu sendiri. Jika engkau tidak dapat benar-benar bertobat dan selalu melaksanakan tugasmu dengan buruk, engkau pasti menghadapi bahaya disingkirkan. Tidak peduli berapa tahun engkau telah percaya kepada Tuhan—selama engkau selalu bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasmu, selalu mengejar keuntungan untuk dirimu sendiri, selalu memanfaatkan rumah Tuhan, tanpa menerima atau menerapkan kebenaran sedikit pun, maka engkau bukanlah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Engkau adalah orang yang muak akan kebenaran, pengikut yang bukan orang percaya yang hanya ingin mengenyangkan perutmu sendiri. Engkau mungkin masih tinggal di rumah Tuhan, dan engkau mungkin masih mengatakan bahwa engkau adalah orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi sebenarnya, engkau tidak lagi memiliki hubungan dengan Tuhan. Tuhan telah lama mengesampingkanmu, dan engkau telah menjadi sekam tanpa jiwa, mayat yang berjalan. Lalu, apa gunanya hidup? Siapa pun yang telah mencapai tahap ini sudah tidak memiliki tempat tujuan untuk dibicarakan. Satu-satunya jalan keluar mereka adalah segera datang ke hadapan Tuhan untuk mengaku. Jika engkau benar-benar tulus dan benar-benar bertobat, Tuhan akan melupakan pelanggaranmu. Namun, ada satu hal yang harus engkau ingat: kapan pun itu, entah engkau mengenal Tuhan, ataukah memiliki gagasan atau kesalahpahaman tentang Dia, engkau tidak boleh melawan atau menentang-Nya. Jika tidak, engkau pasti akan mengalami pembalasan. Jika engkau mendapati hatimu telah mengeras, dan berada dalam keadaan di mana engkau berkata, "Aku akan melakukannya dengan cara ini, mari kita lihat Tuhan bisa apa terhadapku. Aku tidak takut kepada siapa pun. Aku selalu melakukannya dengan cara ini sebelumnya," maka engkau berada dalam masalah. Ini adalah ledakan natur Iblis dalam dirimu; ini adalah sikap keras kepala. Engkau tahu betul bahwa apa yang engkau lakukan itu salah, dan ini saja sudah berbahaya, tetapi engkau juga tidak menganggapnya serius. Hatimu tidak takut, tidak merasa tertuduh atau bersalah, dan tidak merasa khawatir atau sedih—engkau bahkan tidak tahu bahwa engkau harus bertobat. Ini adalah keadaan keras kepala, dan itu akan menyebabkan masalah bagimu. Itu membuatmu dengan mudahnya dikesampingkan oleh Tuhan. Jika seseorang telah mencapai titik ini dan masih mati rasa, dan tidak tahu bahwa mereka harus berbalik, dapatkah hubungan mereka dengan Tuhan dipulihkan? Hubungan itu tidak akan dipulihkan dengan mudah. Lalu, bagaimana engkau bisa memulihkan hubungan yang normal dengan Tuhan yang membuatmu merasa adalah hal yang wajar dan dapat dibenarkan bagimu untuk menghampiri-Nya? Di mana engkau dapat tunduk, bersujud, dan mempersembahkan semua yang engkau miliki kepada-Nya, takut akan Dia dan menerima firman-Nya sebagai kebenaran, entah engkau memahaminya atau tidak, dan kemudian mencari kebenaran dan menerapkan ketundukan? Kapan engkau bisa dikembalikan ke keadaan ini? Seberapa jauh waktu atau perjalanan yang harus kautempuh untuk memulihkan keadaan ini? Aku khawatir pasti akan sulit karena ini bukan masalah waktu, atau lamanya perjalanan atau jarak yang harus kautempuh. Ini adalah pertanyaan tentang keadaan hidupmu, dan apakah engkau telah benar-benar masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Jika engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi sama sekali tidak mampu menggunakan kebenaran untuk memecahkan masalah yang ada dalam dirimu, dan engkau tidak menyadari keseriusan masalah ini, sering kali hidup dengan gembira dalam keadaan memberontak tanpa kesadaran apa pun, melakukan hal yang salah, mengucapkan kata-kata yang salah, menentang, melawan, dan memberontak terhadap Tuhan dengan hati yang keras, dan dengan keras kepala berpaut pada gagasan, imajinasi, pikiran, dan pandanganmu sendiri, tanpa menyadarinya sama sekali, maka engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran apa pun, bukan orang yang tunduk kepada Tuhan, dan masih jauh dari memenuhi tuntutan Tuhan. Engkau harus jelas tentang hal ini di dalam hatimu. Jika engkau tidak dapat melihat keadaanmu yang sebenarnya dengan jelas, dan selalu menganggap cara yang engkau yakini baik-baik saja, bahwa engkau mampu mengorbankan dirimu untuk Tuhan, bahwa engkau telah menderita dan membayar harga, dan yakin bahwa engkau pasti akan masuk ke dalam kerajaan surga, maka engkau sama sekali tidak bernalar. Engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran apa pun, tetapi engkau bahkan tidak mengetahuinya. Ini berarti bahwa engkau memiliki pikiran yang tidak jelas, bahwa engkau bingung, bahwa engkau adalah orang yang kacau, dan bahwa engkau tidak memiliki kualitas yang cukup untuk memahami kebenaran atau mengenal dirimu sendiri, dan dengan demikian engkau tidak dapat diselamatkan oleh Tuhan.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp