Cara Mengejar Kebenaran (16) Bagian Tiga

Ada aspek lain mengenai pengharapan orang tua terhadap anak-anak mereka, yaitu mewarisi bisnis keluarga atau usaha turun-temurun. Sebagai contoh, ada orang-orang yang berasal dari keluarga pelukis; aturan yang diturunkan dari leluhur mereka adalah bahwa di setiap generasi harus ada seseorang yang mewarisi usaha keluarga ini dan melanjutkan tradisi keluarga. Katakanlah di generasimu, peran ini jatuh ke tanganmu, tetapi engkau tidak suka melukis dan tidak berminat akan hal ini; engkau lebih suka mempelajari mata pelajaran yang lebih mudah. Dalam keadaan seperti itu, engkau berhak untuk menolak. Engkau tidak berkewajiban untuk mewarisi tradisi keluargamu, dan engkau tidak berkewajiban untuk mewarisi bisnis keluarga atau usaha turun-temurun, seperti usaha dalam bidang seni bela diri, kerajinan tangan atau keterampilan tertentu, dan sebagainya. Engkau tidak berkewajiban untuk melanjutkan apa yang mereka minta untuk kauwarisi. Ada orang-orang yang berasal dari keluarga yang di setiap generasinya menyanyikan lagu opera. Di generasimu, orang tuamu memaksamu untuk belajar menyanyikan lagu-lagu opera sejak engkau masih kecil. Engkau memang mempelajarinya, tetapi di lubuk hatimu engkau tidak menyukainya. Jadi, jika mereka memintamu untuk memilih suatu karier, engkau pasti tidak akan menggeluti karier yang ada kaitannya dengan opera. Engkau tidak menyukai profesi ini dari lubuk hatimu. Jika ini yang terjadi, engkau berhak untuk menolak. Karena nasibmu bukanlah berada di tangan orang tuamu—pilihan kariermu, orientasi minatmu, apa yang ingin kaulakukan, dan jalan seperti apa yang ingin kautempuh, semuanya berada di tangan Tuhan. Semuanya diatur oleh Tuhan, bukan oleh siapa pun dari antara anggota keluargamu dan tentunya bukan diatur oleh orang tuamu. Peran orang tua dalam kehidupan setiap anak hanyalah memberikan perwalian, perhatian, dan pendampingan selama anak bertumbuh. Peran yang lebih baik adalah jika orang tua mampu memberikan bimbingan, didikan, dan arahan yang positif kepada anak-anak mereka. Hanya inilah peran yang dapat mereka penuhi. Setelah engkau tumbuh dewasa dan menjadi mandiri, peran orang tuamu hanyalah sebagai pendukung emosional dan sandaran emosional. Saat engkau menjadi mandiri dalam pemikiran dan gaya hidupmu adalah saat tanggung jawab dan kewajiban orang tuamu terhadapmu telah terpenuhi; setelah itu, hubunganmu dengan mereka telah berubah, bukan lagi sebagai pendidik dan murid, pengasuh dan yang diasuh. Bukankah itu yang sebenarnya terjadi? (Ya.) Ada orang-orang yang orang tua, kerabat dan teman-temannya bukanlah orang-orang yang percaya kepada Tuhan; hanya dia sendiri yang percaya kepada Tuhan. Apa yang terjadi di sini? Ini berkaitan dengan penentuan Tuhan. Tuhan telah memilihmu, bukan mereka; Tuhan menggunakan tangan mereka untuk membesarkanmu menjadi orang dewasa dan kemudian Tuhan membawamu ke dalam rumah Tuhan. Sebagai anak, sikapmu terhadap pengharapan orang tuamu adalah engkau harus mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jika cara mereka memperlakukanmu tidak sesuai dengan firman Tuhan atau fakta bahwa "nasib manusia berada di tangan Tuhan", engkau dapat menolak pengharapan mereka dan mengutarakan pemikiranmu agar mereka mengerti. Jika engkau masih di bawah umur dan mereka dengan paksa menekanmu, memaksamu untuk mematuhi tuntutan mereka, engkau hanya dapat berdoa kepada Tuhan di dalam hatimu dan membiarkan Dia membukakan jalan keluar untukmu. Namun, jika engkau sudah dewasa, engkau tentu saja dapat berkata kepada mereka: "Tidak, aku tidak harus hidup berdasarkan cara yang kautetapkan untukku. Aku tidak harus memilih jalan hidupku, caraku mempertahankan kelangsungan hidup, dan tujuan pengejaranku berdasarkan cara yang kau tetapkan untukku. Kewajibanmu untuk membesarkanku sudah terpenuhi. Jika kita bisa hidup rukun satu sama lain, serta memiliki pengejaran dan tujuan yang sama, maka hubungan kita bisa tetap seperti sebelumnya; tetapi jika kita tidak lagi memiliki cita-cita dan tujuan yang sama, maka kita dapat saling mengucapkan selamat tinggal untuk saat ini." Bagaimana perkataan ini menurutmu? Beranikah engkau mengatakannya? Tentu saja, tidak perlu secara resmi memutuskan hubungan dengan orang tuamu dengan cara seperti ini, tetapi setidaknya, di lubuk hatimu, engkau harus memahami hal ini dengan jelas: meskipun orang tuamu adalah orang-orang terdekatmu, bukan mereka yang sebenarnya memberikan nyawa kepadamu, memungkinkanmu untuk menempuh jalan hidup yang benar, dan membuatmu memahami semua prinsip tentang cara berperilaku. Tuhan-lah yang melakukannya. Orang tuamu tidak mampu membekalimu dengan kebenaran atau memberimu saran yang benar yang berkaitan dengan kebenaran. Jadi, mengenai hubunganmu dengan orang tuamu, sebesar apa pun biaya yang telah mereka keluarkan, atau berapapun banyaknya uang dan upaya yang telah mereka keluarkan bagimu, engkau sama sekali tidak perlu membebani dirimu dengan perasaan bersalah. Mengapa? (Karena ini adalah tanggung jawab dan kewajiban orang tua. Jika orang tua melakukan semua ini agar anak-anak mereka dapat terlihat paling menonjol di antara teman-teman sebaya mereka dan demi memenuhi keinginan pribadi orang tua itu sendiri, maka ini adalah niat dan motif mereka sendiri; ini bukanlah apa yang Tuhan tetapkan untuk mereka lakukan. Oleh karena itu, sama sekali tidak perlu bagimu untuk merasa bersalah.) Ini hanyalah salah satu aspeknya. Aspek lainnya adalah bahwa pada saat ini engkau sedang menempuh jalan yang benar, engkau sedang mengejar kebenaran, dan engkau sedang datang ke hadapan Sang Pencipta untuk melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan; oleh karena itu, engkau tidak seharusnya merasa bersalah terhadap mereka. Tanggung jawab yang sudah seharusnya mereka penuhi terhadapmu hanyalah bagian dari pengaturan Tuhan. Jika engkau bahagia selama masa mereka membesarkanmu, itu adalah kebaikan khusus untukmu. Jika engkau tidak bahagia, tentu saja, itu juga adalah pengaturan Tuhan. Engkau harus bersyukur karena sekarang ini Tuhan telah mengizinkanmu untuk pergi dan membiarkanmu mengetahui dengan jelas esensi orang tuamu dan orang-orang macam apakah mereka. Engkau harus memiliki pemahaman yang tepat mengenai semua ini di lubuk hatimu, serta memiliki solusi dan cara yang tepat untuk menanganinya. Dengan demikian, bukankah engkau merasa lebih tenang di lubuk hatimu? (Ya.) Jika engkau merasa lebih tenang, itu bagus. Bagaimanapun, dalam hal ini, apa pun tuntutan orang tua terhadapmu sebelumnya atau apa pun tuntutan mereka sekarang, karena engkau memahami kebenaran dan maksud Tuhan, dan karena engkau memahami apa tuntutan Tuhan terhadap manusia—serta apa akibat pengharapan orang tua terhadapmu—engkau tidak boleh lagi merasa terbebani mengenai hal ini dalam keadaan apa pun. Engkau tidak perlu merasa bahwa engkau telah mengecewakan orang tuamu, atau merasa bahwa karena engkau telah memilih untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasmu, engkau telah gagal memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang tuamu dan tidak mampu mendampingi mereka serta memenuhi tanggung jawabmu untuk berbakti kepada mereka, yang menyebabkan mereka merasa hampa secara emosional. Engkau tidak perlu merasa bersalah mengenai hal ini. Semua ini adalah beban yang orang tua sebabkan pada anak-anak mereka, dan semua ini adalah hal-hal yang harus kaulepaskan. Jika engkau benar-benar percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, maka engkau harus percaya bahwa masalah tentang seberapa banyak kesukaran yang akan mereka alami dan seberapa banyak kebahagiaan yang akan mereka nikmati seumur hidup mereka, itu pun berada di tangan Tuhan. Apakah engkau berbakti atau tidak, itu tidak akan mengubah apa pun. Penderitaan orang tuamu tidak akan berkurang karena engkau berbakti, dan penderitaan mereka tidak bertambah karena engkau tidak berbakti. Tuhan telah menentukan nasib mereka sejak lama, dan tak satupun dari hal ini akan berubah karena sikapmu terhadap mereka atau karena dalamnya perasaan di antaramu. Mereka memiliki nasib mereka sendiri. Mengenai apakah mereka miskin atau kaya di sepanjang hidup mereka, apakah segala sesuatunya berjalan dengan lancar bagi mereka atau tidak, atau seperti apakah kualitas hidup, manfaat materiel, status sosial, dan kondisi kehidupan yang akan mereka nikmati, tak ada satu pun dari hal-hal ini yang ada kaitannya denganmu. Jika engkau merasa bersalah terhadap mereka, jika engkau merasa berutang sesuatu kepada mereka, dan merasa bahwa engkau seharusnya berada di sisi mereka, apa yang akan berubah sekalipun engkau berada di sisi mereka? (Tidak ada yang akan berubah.) Hati nuranimu mungkin akan bebas dan lepas dari rasa bersalah. Namun, jika engkau berada di sisi mereka setiap hari, melihat mereka tidak percaya kepada Tuhan, mengejar hal-hal duniawi, berbasa-basi dan bergosip, bagaimana perasaanmu? Akankah hatimu merasa nyaman? (Tidak.) Dapatkah engkau mengubah mereka? Dapatkah engkau menyelamatkan mereka? (Tidak.) Jika mereka jatuh sakit, dan engkau memiliki sarana untuk merawat mereka di sisi tempat tidur mereka dan sedikit meringankan penderitaan mereka, memberi mereka sedikit kenyamanan sebagai anak mereka, maka setelah mereka sembuh, tubuh mereka juga akan terasa nyaman. Namun, jika engkau menyebutkan satu hal tentang percaya kepada Tuhan, mereka akan membentakmu dengan mengucapkan delapan hingga sepuluh kalimat bantahan, mengucapkan kekeliruan menjijikkan yang cukup membuatmu muak selama dua masa kehidupan. Secara lahiriah, hati nuranimu mungkin merasa tenang, dan engkau mungkin merasa bahwa mereka tidak membesarkanmu dengan sia-sia, merasa bahwa engkau bukan orang yang tidak tahu berterima kasih, dan engkau belum pernah melakukan apa pun yang membuat tetanggamu menertawakanmu. Namun, hanya karena hati nuranimu merasa tenang, apakah itu berarti engkau benar-benar menerima berbagai gagasan, pandangan, pandangan hidup, dan cara hidup mereka di lubuk hatimu? Apakah engkau benar-benar sesuai dengan mereka? (Tidak.) Dua jenis orang yang menempuh jalan berbeda dan berpaut pada pandangan berbeda, sekalipun terdapat relasi atau hubungan secara fisik dan emosional di antara mereka, mereka tidak akan dapat saling mengubah sudut pandang masing-masing. Tidak masalah jika kedua belah pihak tidak membahas sesuatu bersama-sama, tetapi begitu membahas sesuatu, mereka akan mulai berdebat, pertentangan pun muncul, dan mereka akan saling membenci dan muak terhadap satu sama lain. Meskipun di luarnya, mereka memiliki hubungan darah, di dalam diri mereka, mereka adalah musuh, dua jenis orang yang tidak cocok bagaikan air dan api. Ketika inilah yang terjadi, jika engkau tetap berada di sisi mereka, untuk apa engkau melakukannya? Apakah engkau hanya mencari sesuatu yang menjengkelkan dirimu sendiri, atau apakah ada alasan lainnya? Engkau akan merasa menyesal setiap kali bertemu dengan mereka, dan ini disebut kesengsaraan yang disebabkan oleh dirimu sendiri. Ada orang-orang yang berpikir: "Aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan orang tuaku. Dahulu, mereka melakukan beberapa hal yang menjijikkan, menghujat Tuhan dan menentang kepercayaanku kepada Tuhan. Kini mereka sudah jauh lebih tua; mereka pasti sudah berubah sekarang. Jadi, aku tidak seharusnya meributkan hal-hal buruk yang pernah mereka lakukan; bagaimanapun juga, semua itu sudah hampir kulupakan. Selain itu, baik secara emosional maupun karena hati nuraniku, aku merindukan mereka, dan bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka. Jadi kupikir aku akan pulang dan memeriksa keadaan mereka." Namun, dalam sehari setelah kepulanganmu, engkau kembali merasakan kemuakan yang kaurasakan terhadap mereka di masa lalu, dan engkau menyesalinya: "Inikah yang disebut keluarga? Apakah mereka ini orang tuaku? Bukankah mereka musuhku? Dahulu mereka seperti ini, dan sekarang pun karakter mereka masih sama; mereka tidak berubah sedikit pun!" Bagaimana mungkin mereka berubah? Diri mereka yang semula akan selalu menjadi diri mereka. Apa kaukira mereka pasti akan berubah seiring bertambahnya usia dan engkau dapat hidup rukun dengan mereka? Engkau sama sekali tidak akan dapat hidup rukun dengan mereka. Begitu engkau pulang dan masuk ke rumah, mereka akan melihat apa yang kaubawa di tanganmu, melihat apakah ada barang-barang mahal seperti kerang laut, teripang, sirip hiu, atau perut ikan, atau mungkin tas dan pakaian buatan desainer, atau perhiasan emas dan perak. Begitu melihatmu hanya membawa dua kantong plastik, yang satu berisi bakpao dan yang satu lagi berisi beberapa pisang, mereka akan melihat bahwa engkau masih miskin dan mulai mengomel: "Putri si anu pergi ke luar negeri dan menikah dengan orang asing. Gelang yang dibelikan untuk orang tuanya adalah emas murni dan mereka memamerkannya setiap kali ada kesempatan. Putra si anu membeli mobil dan membawa orang tuanya bepergian dan jalan-jalan ke luar negeri setiap kali dia ada waktu luang. Mereka semua menikmati kejayaan anak-anak mereka! Putri si anu tidak pernah pulang dengan tangan kosong, Dia membelikan alat pembasuh kaki dan kursi pijat untuk orang tuanya, dan pakaian yang dibelinya terbuat dari kain sutra atau wol. Mereka memiliki anak-anak yang begitu berbakti; tidak sia-sia membesarkan mereka! Sedangkan di keluarga ini, kami membesarkan anak-anak yang tidak peduli dan tidak tahu berterima kasih!" Bukankah ini bagaikan tamparan di wajahmu? (Ya.) Bakpao dan pisangmu bahkan tidak dianggap oleh mereka, dan engkau masih berpikir ingin memenuhi tanggung jawabmu sebagai anak dan berbakti. Orang tuamu suka makan bakpao dan pisang dan engkau sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan mereka, jadi engkau membeli makanan ini untuk menyenangkan hati mereka dan menebus rasa bersalahmu. Namun, begitu pulang, engkau bukan saja tidak dapat menebus rasa bersalahmu, tetapi engkau juga dikritik; dengan diliputi kekecewaan, engkau berlari keluar dari rumah itu. Apakah ada gunanya engkau mengunjungi orang tuamu? (Tidak.) Engkau sudah sangat lama tidak pulang, tetapi mereka tidak merindukanmu; mereka tidak berkata: "Kepulanganmu saja sudah cukup. Tidak perlu membelikan kami apa pun. Senang sekali melihatmu menempuh jalan yang benar, menjalani kehidupan yang sehat, dan aman dalam segala hal. Bisa bertemu kembali dan berbincang dari hati ke hati sudah cukup memuaskan." Mereka tidak peduli apakah selama bertahun-tahun ini engkau baik-baik saja atau tidak, atau apakah engkau pernah menghadapi kesulitan atau masalah yang membutuhkan bantuan orang tuamu. Mereka tidak mengatakan sepatah kata pun yang menghiburmu. Namun, seandainya mereka benar-benar mengatakan hal-hal seperti itu, bukankah itu akan membuatmu tak mampu meninggalkan mereka? Setelah mereka memarahimu, engkau menegakkan tubuhmu dan merasa dapat dibenarkan sepenuhnya, tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun, berpikir: "Aku harus keluar dari rumah ini, ini benar-benar api penyucian! Mereka akan mengulitiku, memakan dagingku, dan masih ingin meminum darahku." Hubungan dengan orang tua adalah hubungan yang sulit untuk orang tangani secara emosional, padahal sebenarnya, hubungan ini bukannya sama sekali tidak bisa ditangani. Orang hanya dapat menangani masalah ini dengan benar dan rasional jika masalahnya ditangani berdasarkan pemahaman mereka akan kebenaran. Jangan mulai menanganinya dari sudut pandang perasaan, dan jangan mulai menanganinya dari wawasan atau sudut pandang orang-orang duniawi. Sebaliknya, perlakukan orang tuamu dengan cara yang sepatutnya menurut firman Tuhan. Apa sebenarnya peran orang tua, apa sebenarnya arti anak-anak bagi orang tua mereka, bagaimana anak seharusnya bersikap terhadap orang tua, dan bagaimana orang seharusnya menangani dan menyelesaikan masalah hubungan antara orang tua dan anak? Orang tidak boleh memandang hal-hal ini berdasarkan perasaan, dan mereka juga tidak boleh dipengaruhi oleh gagasan yang keliru atau perasaan mereka pada saat itu; mereka harus memperlakukan hal-hal ini dengan benar berdasarkan firman Tuhan. Jika engkau tidak dapat memenuhi tanggung jawab apa pun terhadap orang tuamu di lingkungan yang ditetapkan oleh Tuhan, atau jika engkau sama sekali tidak dapat berperan dalam kehidupan mereka, apakah ini berarti engkau tidak berbakti? Akankah hati nuranimu menuduhmu? Tetangga, teman sekelas, dan kerabatmu, semuanya akan mencaci maki dirimu dan mengkritikmu di belakangmu. Mereka semua akan menyebutmu anak yang tidak berbakti, dengan berkata: "Orang tuamu telah begitu banyak berkorban bagimu, menginvestasikan begitu banyak upaya untukmu, dan melakukan sangat banyak hal bagimu sejak kau masih kecil, dan kau, sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih, malah menghilang tanpa jejak, bahkan tanpa mengabari bahwa engkau baik-baik saja. Engkau bukan saja tidak pulang untuk merayakan Tahun Baru, engkau juga bahkan tidak menelepon, atau mengirimkan ucapan selamat kepada orang tuamu." Setiap kali mendengar perkataan seperti itu, hati nuranimu berdarah dan menangis, dan engkau merasa terkutuk. "Oh, mereka benar." Wajahmu merah padam, dan hatimu gemetar seolah-olah tertusuk jarum. Pernahkah engkau merasakan perasaan semacam ini? (Ya, sebelumnya.) Apakah perkataan tetangga dan kerabatmu bahwa engkau tidak berbakti itu benar? (Tidak, aku bukannya tidak berbakti.) Jelaskan pemikiranmu tersebut. (Meskipun aku sudah bertahun-tahun tidak berada di sisi orang tuaku, atau belum mampu mengabulkan keinginan mereka seperti yang dilakukan orang-orang duniawi, jalan kepercayaan kepada Tuhan yang kita tempuh ini telah ditentukan sejak semula oleh Tuhan. Ini adalah jalan hidup yang benar, dan merupakan hal yang benar. Itulah sebabnya kukatakan bahwa aku bukannya tidak berbakti.) Pemikiranmu masih berdasarkan doktrin yang orang-orang pahami di masa lalu; engkau tidak memiliki penjelasan yang realistis dan pemahaman yang realistis. Siapa lagi yang ingin membagikan pemikirannya? (Aku ingat ketika pertama kali ke luar negeri, setiap kali aku teringat bagaimana keluargaku tidak tahu apa yang kulakukan di luar negeri, bagaimana mereka mungkin akan mengkritikku dan mengatakan aku tidak berbakti, bahwa aku bukan anak yang berbakti karena tidak berada di sana untuk merawat orang tuaku. Aku merasa diikat dan dikekang oleh pemikiran ini. Setiap kali memikirkan hal ini, aku merasa berutang kepada orang tuaku. Namun, melalui persekutuan Tuhan hari ini, aku merasa bahwa orang tua mengasuhku sebelumnya adalah pemenuhan tanggung jawab mereka sebagai orang tua, dan bahwa kebaikan mereka terhadapku sudah ditentukan sejak semula oleh Tuhan, dan bahwa aku seharusnya bersyukur kepada Tuhan dan membalas kasih-Nya. Bahwa sekarang aku percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan hidup yang benar, yang merupakan hal yang benar, aku tidak seharusnya merasa berutang kepada orang tuaku. Selain itu, mengenai apakah orang tuaku dapat menikmati perawatan anak-anak mereka di sisi mereka atau tidak, itu juga telah ditentukan sejak semula oleh Tuhan. Setelah memahami hal-hal ini, aku mampu sedikit melepaskan perasaan berutang yang kurasakan di hatiku.) Bagus sekali. Pertama-tama, kebanyakan orang memilih untuk meninggalkan rumah demi melaksanakan tugas mereka karena di satu sisi, keadaan objektif mereka secara keseluruhan mengharuskan mereka untuk meninggalkan orang tua mereka. Mereka tidak dapat tinggal bersama orang tua mereka untuk merawat dan menemani mereka. Bukan berarti mereka dengan rela memilih untuk meninggalkan orang tua mereka; ini adalah alasan objektifnya. Di sisi lain, alasan subjektifnya, engkau pergi untuk melaksanakan tugasmu bukan karena engkau ingin meninggalkan orang tuamu dan untuk menghindari tanggung jawabmu, melainkan karena panggilan Tuhan terhadapmu. Agar dapat bekerja sama dalam pekerjaan Tuhan, menerima panggilan-Nya, dan melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan, engkau tidak punya pilihan lain selain meninggalkan orang tuamu; engkau tidak dapat berada di sisi mereka untuk menemani dan merawat mereka. Engkau tidak meninggalkan mereka untuk menghindari tanggung jawabmu, bukan? Meninggalkan mereka untuk menghindari tanggung jawabmu dan harus meninggalkan mereka untuk menjawab panggilan Tuhan serta melaksanakan tugasmu—bukankah kedua hal ini pada dasarnya berbeda? (Ya.) Di dalam hatimu, engkau terikat secara emosional dengan orang tuamu dan memikirkan mereka; perasaanmu tidak kosong. Jika keadaan objektifnya memungkinkan dan engkau dapat tetap berada di sisi mereka sembari melaksanakan tugasmu, engkau tentunya mau untuk tetap berada di sisi mereka, merawat mereka dan memenuhi tanggung jawabmu secara teratur. Namun, karena keadaan objektif, engkau harus meninggalkan mereka; engkau tidak bisa tetap berada di sisi mereka. Bukan berarti engkau tidak mau memenuhi tanggung jawabmu sebagai anak mereka, melainkan karena engkau tidak bisa. Bukankah hal ini pada dasarnya berbeda? (Ya.) Jika engkau meninggalkan rumah agar tidak perlu berbakti dan memenuhi tanggung jawabmu, itu berarti engkau tidak berbakti dan tidak memiliki kemanusiaan. Orang tuamu telah membesarkanmu, tetapi engkau ingin secepat mungkin melebarkan sayapmu dan hidup mandiri. Engkau tidak ingin bertemu dengan orang tuamu dan sama sekali tidak peduli saat mendengar orang tuamu mengalami kesulitan. Sekalipun engkau memiliki sarana untuk membantu mereka, engkau tidak melakukannya. Engkau hanya berpura-pura tidak mendengar dan membiarkan orang lain mengatakan apa pun yang ingin mereka katakan tentangmu—engkau sama sekali tidak mau memenuhi tanggung jawabmu. Ini berarti engkau tidak berbakti. Namun, hal inikah yang terjadi saat ini? (Tidak.) Banyak orang telah meninggalkan kabupaten, kota, provinsi, atau bahkan negara mereka untuk melaksanakan tugas mereka; mereka sudah berada jauh dari kampung halaman mereka. Selain itu, tidaklah nyaman bagi mereka untuk tetap berhubungan dengan keluarga mereka karena berbagai alasan. Sesekali, mereka menanyakan keadaan terkini orang tua mereka dari orang-orang yang berasal dari kampung halaman yang sama dan merasa lega setelah mendengar orang tua mereka masih sehat dan baik-baik saja. Sebenarnya, engkau bukannya tidak berbakti. Engkau belum mencapai taraf tidak memiliki kemanusiaan, di mana engkau bahkan tidak mau memperhatikan orang tuamu atau memenuhi tanggung jawabmu terhadap mereka. Engkau harus mengambil pilihan ini karena berbagai alasan objektif, jadi engkau bukannya tidak berbakti. Inilah kedua alasannya. Dan ada juga alasan lainnya: jika orang tuamu bukan tipe orang yang secara khusus menganiaya dirimu atau menghalangi kepercayaanmu kepada Tuhan, jika mereka mendukung kepercayaanmu kepada Tuhan, atau jika mereka adalah saudara-saudari yang percaya kepada Tuhan seperti halnya dirimu, jika mereka sendiri adalah anggota rumah Tuhan, lalu, siapakah di antaramu yang tidak berdoa kepada Tuhan di lubuk hatimu saat teringat orang tuamu? Siapakah di antaramu yang tidak memercayakan orang tuamu, beserta kesehatan, keselamatan, dan semua kebutuhan hidup mereka, ke dalam tangan Tuhan? Memercayakan orang tuamu ke dalam tangan Tuhan adalah cara terbaik untuk menunjukkan rasa hormat dan baktimu kepada mereka. Engkau tidak berharap mereka menghadapi segala macam kesulitan dalam hidup mereka, dan engkau tidak berharap mereka menjalani kehidupan yang buruk, makan dengan buruk, atau menderita kesehatan yang buruk. Jauh di lubuk hatimu, engkau tentunya berharap Tuhan akan melindungi mereka dan menjaga mereka agar tetap aman. Jika mereka orang-orang yang percaya kepada Tuhan, engkau berharap mereka akan mampu melaksanakan tugas mereka sendiri, dan engkau juga berharap mereka akan mampu tetap berdiri teguh dalam kesaksian mereka. Inilah yang dimaksud dengan orang memenuhi tanggung jawabnya sebagai manusia; hanya sejauh inilah yang mampu orang capai dengan kemanusiaan mereka sendiri. Selain itu, yang terpenting adalah setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan dan mendengarkan begitu banyak kebenaran, orang setidaknya harus memiliki sedikit pengertian dan pemahaman bahwa: nasib manusia ditentukan oleh Surga, hidup manusia ada di tangan Tuhan, dan dipelihara serta dilindungi Tuhan jauh lebih penting daripada memiliki anak-anak yang berbakti, mempedulikan, atau menemani mereka. Bukankah engkau merasa lega bahwa orang tuamu dilindungi dan dipelihara Tuhan? Engkau tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Jika engkau khawatir, itu berarti engkau tidak memercayai Tuhan, imanmu kepada-Nya terlalu kecil. Jika engkau benar-benar merasa khawatir dan cemas terhadap orang tuamu, engkau harus sering berdoa kepada Tuhan, memercayakan mereka ke dalam tangan Tuhan, dan membiarkan Tuhan mengatur dan menata segala sesuatunya. Tuhan berkuasa atas nasib manusia. Dia berkuasa atas keseharian mereka dan segala sesuatu yang terjadi pada mereka, jadi apa yang masih kaukhawatirkan? Engkau bahkan tidak mampu mengendalikan hidupmu sendiri,[a] engkau sendiri menghadapi banyak kesulitan; apa yang dapat kaulakukan agar orang tuamu hidup bahagia setiap hari? Satu-satunya yang dapat kaulakukan adalah memercayakan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan. Jika mereka adalah orang percaya, mintalah agar Tuhan menuntun mereka ke jalan yang benar sehingga mereka pada akhirnya dapat diselamatkan. Jika mereka bukan orang percaya, biarkan mereka menempuh jalan apa pun yang mereka inginkan. Bagi orang tua yang lebih baik dan memiliki sedikit kemanusiaan, engkau dapat berdoa agar Tuhan memberkati mereka sehingga mereka dapat menghabiskan tahun-tahun yang tersisa dari kehidupan mereka dengan bahagia. Mengenai bagaimana cara Tuhan bekerja, Dia memiliki pengaturan-Nya sendiri, dan manusia harus tunduk pada pengaturan tersebut. Jadi secara keseluruhan, orang memiliki kesadaran dalam hati nurani mereka tentang tanggung jawab yang harus mereka penuhi terhadap orang tua mereka. Apa pun sikap orang terhadap orang tua mereka karena kesadaran ini, entah mengkhawatirkan mereka atau memilih untuk menemani mereka, apa pun itu, orang tidak boleh memiliki rasa bersalah atau hati nurani yang terbebani karena tidak dapat memenuhi tanggung jawab mereka terhadap orang tua mereka akibat terpengaruh oleh keadaan objektif. Masalah ini dan masalah lain yang serupa tidak boleh menjadi kesulitan dalam kehidupan kepercayaan orang kepada Tuhan; semua ini harus dilepaskan. Ketika membahas topik yang berkaitan dengan memenuhi tanggung jawab kepada orang tua, orang harus memiliki pemahaman yang akurat seperti ini dan tidak boleh lagi merasa terkekang. Di satu sisi, di lubuk hatimu, engkau tahu bahwa engkau bukannya tidak berbakti, dan engkau bukan sedang melalaikan atau menghindari tanggung jawabmu. Di sisi lain, orang tuamu berada dalam tangan Tuhan, jadi apa yang masih perlu kaukhawatirkan? Kekhawatiran apa pun yang orang miliki, itu berlebihan. Setiap orang akan hidup lancar sesuai dengan kedaulatan dan pengaturan Tuhan hingga akhir hidup mereka, hingga mencapai akhir perjalanan mereka, tanpa ada penyimpangan. Jadi, orang tidak perlu lagi mengkhawatirkan masalah ini. Mengenai apakah engkau harus berbakti, apakah engkau telah memenuhi tanggung jawabmu terhadap orang tuamu, atau apakah engkau harus membalas kebaikan orang tuamu, ini bukan hal-hal yang harus kaupikirkan. Ini adalah hal-hal yang harus kaulepaskan. Bukankah benar demikian? (Ya.)

Mengenai topik pengharapan orang tua terhadap anak-anak mereka, kita telah mempersekutukan aspek studi dan pekerjaan. Fakta apakah yang harus orang pahami dalam hal ini? Jika engkau menuruti perkataan orang tuamu dan belajar sangat giat sesuai dengan pengharapan mereka, apakah itu berarti engkau pasti akan meraih kesuksesan besar? Dapatkah melakukan hal ini mengubah nasibmu? (Tidak.) Lalu, apa yang menantimu di masa depan? Yang menantimu adalah apa yang telah Tuhan atur bagimu, yaitu nasib yang sudah seharusnya kaumiliki, kedudukan yang sudah seharusnya kaumiliki di tengah masyarakat, jalan yang sudah seharusnya kautempuh, dan lingkungan hidup yang sudah seharusnya kaumiliki. Tuhan telah mengatur hal-hal ini untukmu sejak lama. Jadi, dalam hal pengharapan orang tuamu, engkau tidak boleh memikul beban apa pun. Jika engkau menuruti permintaan orang tuamu, nasibmu akan tetap sama; jika engkau tidak mengikuti pengharapan orang tuamu dan mengecewakan mereka, nasibmu juga akan tetap sama. Apa pun jalan di depanmu yang harus kautempuh, itulah yang akan kautempuh; itu telah ditetapkan oleh Tuhan. Demikian pula, jika engkau memenuhi pengharapan orang tuamu, memuaskan orang tuamu, dan tidak mengecewakan mereka, apakah itu berarti mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik? Dapatkah itu mengubah nasib mereka yang penuh penderitaan dan penganiayaan? (Tidak.) Ada orang-orang yang menganggap orang tua mereka telah memberi mereka sangat banyak kebaikan dalam membesarkan mereka, dan orang tua mereka telah sangat menderita selama waktu itu. Jadi, mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang baik, lalu menanggung kesukaran, berjerih payah, bertekun, dan bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang, dan memperoleh kekayaan. Tujuan mereka adalah memberi kepada orang tua mereka kehidupan yang istimewa di masa depan, tinggal di vila, mengendarai mobil mewah, serta makan dan minum enak. Namun, setelah bertahun-tahun bekerja dengan giat dan penuh semangat, meskipun kondisi dan keadaan hidup mereka telah meningkat, orang tua mereka meninggal tanpa sehari pun menikmati kemakmuran tersebut. Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini? Jika engkau membiarkan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, membiarkan Tuhan mengatur, dan tidak memikul beban ini, maka engkau tidak akan merasa bersalah ketika orang tuamu meninggal. Namun, jika engkau bekerja sangat keras untuk menghasilkan uang agar dapat membalas kebaikan orang tuamu dan membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih baik, tetapi mereka kemudian meninggal, bagaimana perasaanmu? Jika engkau menunda pelaksanaan tugasmu dan menunda dirimu untuk memperoleh kebenaran, akankah engkau tetap mampu hidup dengan nyaman selama sisa hidupmu? (Tidak.) Kehidupanmu akan terpengaruh, dan engkau akan selalu memikul beban "telah mengecewakan orang tuamu" selama sisa hidupmu. Ada seseorang yang berusaha keras untuk bekerja, berupaya, dan menghasilkan uang agar tidak mengecewakan orang tuanya dan membalas kebaikan orang tua dalam membesarkannya. Setelah itu, ketika dia menjadi kaya dan memiliki sarana untuk membeli makanan enak, dia mengundang orang tuanya untuk makan dan memesan semeja penuh makanan yang lezat, lalu berkata: "Silakan menikmati. Aku ingat ketika masih kecil, semua ini adalah makanan kesukaan kalian; ayo makanlah!" Namun, karena orang tuanya telah makin menua, mereka telah kehilangan sebagian besar gigi mereka dan kini selera makan mereka berkurang, sehingga mereka memilih makanan yang empuk dan mudah dicerna seperti sayuran dan mi dan merasa kenyang setelah hanya makan beberapa suap. Engkau merasa sedih melihat meja yang dipenuhi makanan yang tidak termakan itu. Namun, orang tuamu sudah merasa kenyang. Di usia yang sudah lanjut seperti ini, hanya makanan sebanyak inilah yang mampu mereka makan; ini hal yang normal, mereka tidak meminta banyak. Di dalam hatimu, engkau merasa tidak bahagia, tetapi tidak bahagia karena apa? Tidak ada gunanya bagimu untuk melakukan hal-hal ini. Telah ditetapkan sejak lama seberapa banyak kebahagiaan dan kesukaran yang akan orang tuamu alami selama hidup mereka. Hal ini tidak dapat diubah karena keinginanmu dan tidak dapat diubah untuk memuaskan perasaanmu. Tuhan telah sejak lama menetapkan hal ini, jadi apa pun yang manusia lakukan, itu tidak ada gunanya. Apa yang fakta-fakta ini beritahukan kepada manusia? Hal yang sudah seharusnya orang tuamu lakukan adalah membesarkanmu dan membiarkanmu tumbuh dengan sehat dan lancar, membuatmu menempuh jalan yang benar, dan memenuhi tanggung jawab dan kewajiban yang sudah seharusnya kaupenuhi sebagai makhluk ciptaan. Semua ini bukan bertujuan untuk mengubah nasibmu, dan memang semua ini tidak dapat mengubah nasibmu; peran mereka hanyalah membantu dan membimbingmu, membesarkanmu hingga menjadi dewasa dan mengarahkanmu ke jalan hidup yang benar. Hal yang tidak boleh kaulakukan adalah menggunakan tanganmu sendiri untuk menciptakan kebahagiaan bagi orang tuamu, mengubah nasib mereka, atau membuat mereka menikmati kekayaan yang berlimpah, serta makanan dan minuman yang enak. Ini adalah pemikiran yang bodoh. Beban ini bukanlah beban yang seharusnya kaupikul, ini adalah beban yang harus kaulepaskan. Engkau tidak boleh melakukan pengorbanan yang sia-sia atau melakukan hal yang sia-sia untuk membalas kebaikan orang tuamu, mengubah nasib mereka, dan memungkinkan mereka untuk menerima lebih banyak berkat dan menderita lebih sedikit, demi untuk memuaskan kebutuhan pribadi hati nurani atau perasaanmu, dan untuk menghindarkan dirimu agar tidak mengecewakan mereka. Ini bukanlah tanggung jawabmu, dan ini bukanlah hal yang harus kaupikirkan. Orang tua harus memenuhi tanggung jawab mereka terhadap anak-anak mereka berdasarkan keadaan mereka sendiri dan berdasarkan keadaan dan lingkungan yang telah Tuhan persiapkan. Hal yang harus anak-anak lakukan bagi orang tua mereka juga harus berdasarkan keadaan yang mampu mereka capai dan berdasarkan lingkungan tempat mereka berada; hanya itu saja. Segala sesuatu yang harus orang tua dan anak lakukan tidak boleh bertujuan untuk mengubah nasib pihak lainnya melalui kekuatan mereka sendiri atau keinginan egois mereka sendiri agar pihak lainnya dapat menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan lebih ideal karena upaya mereka sendiri. Baik orang tua maupun anak-anak, setiap orang harus membiarkan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya di tengah lingkungan yang diatur oleh Tuhan, bukannya berusaha mengubah segala sesuatu melalui usaha mereka sendiri atau dengan tekad pribadi apa pun. Nasib orang tuamu tidak akan berubah karena engkau memiliki pemikiran seperti ini mengenai mereka. Nasib mereka telah Tuhan tetapkan sejak lama. Tuhan telah menetapkanmu untuk hidup di tengah lingkup kehidupan mereka, untuk dilahirkan dari mereka, untuk dibesarkan oleh mereka, dan untuk memiliki hubungan ini dengan mereka. Jadi, tanggung jawabmu terhadap mereka hanyalah mendampingi mereka sesuai dengan keadaanmu sendiri dan melaksanakan beberapa kewajiban. Sedangkan mengenai keinginanmu untuk mengubah keadaan orang tuamu pada saat ini, atau keinginanmu untuk mereka menjalani kehidupan yang lebih baik, semua itu tidak ada gunanya. Atau, keinginanmu untuk membuat tetangga dan kerabatmu menghormatimu, untuk membawa kehormatan bagi orang tuamu, untuk menjaga gengsi orang tuamu di tengah keluarga, ini bahkan lebih tidak perlu. Ada juga ibu atau ayah tunggal yang ditinggalkan oleh pasangan mereka dan membesarkanmu hingga menjadi dewasa seorang diri. Engkau makin merasa betapa hal itu sangat sulit baginya, dan engkau ingin menggunakan seluruh hidupmu untuk membalas kebaikannya, dan membalas jasanya, bahkan sampai-sampai engkau mau melakukan apa pun yang dia katakan. Hal yang dimintanya darimu, hal yang diharapkannya darimu, serta apa yang engkau sendiri ingin lakukan, semua itu menjadi beban dalam hidupmu ini. Hal seperti ini tidak boleh terjadi. Di hadapan Sang Pencipta, engkau adalah makhluk ciptaan. Hal yang harus kaulakukan dalam hidup ini bukanlah sekadar memenuhi tanggung jawabmu terhadap orang tuamu, melainkan memenuhi tanggung jawab dan tugasmu sebagai makhluk ciptaan. Engkau hanya dapat memenuhi tanggung jawabmu terhadap orang tuamu berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran, bukan melakukan apa pun bagi mereka berdasarkan kebutuhan emosionalmu atau kebutuhan hati nuranimu. Tentu saja, memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu kepada mereka berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran adalah juga bagian dari tugasmu sebagai makhluk ciptaan; ini adalah tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada manusia. Pemenuhan tanggung jawab ini haruslah didasarkan pada firman Tuhan, bukan pada kebutuhan manusia. Jadi, engkau dapat dengan mudah memperlakukan orang tuamu berdasarkan firman Tuhan, memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu terhadap mereka. Sesederhana itu. Apakah ini mudah dilakukan? (Ya.) Mengapa hal ini mudah untuk dilakukan? Karena esensinya di sini, serta prinsip-prinsip kebenaran yang harus orang patuhi, sangat jelas. Esensinya adalah bahwa baik orang tua maupun anak tidak dapat mengubah nasib satu sama lain. Entah engkau berusaha keras atau tidak, entah engkau bersedia memenuhi tanggung jawabmu atau tidak, tak satu pun dari hal ini dapat mengubah nasib satu sama lain. Entah engkau menyimpan keinginan ini di dalam hatimu atau tidak, ini hanyalah perbedaan dalam hal kebutuhan emosional, dan hal ini tidak akan mengubah fakta apa pun. Jadi, bagi manusia, hal termudah yang dapat mereka lakukan adalah melepaskan beban yang diakibatkan oleh pengharapan orang tua. Yang pertama, engkau harus memandang semua hal ini berdasarkan firman Tuhan, dan yang kedua, engkau harus memperlakukan dan menangani hubungan dengan orang tuamu berdasarkan firman Tuhan. Sesederhana itu. Bukankah ini mudah? (Ya.) Jika engkau menerima kebenaran, semua hal ini akan mudah, dan selama proses pengalamanmu, engkau akan makin merasakan bahwa hal ini memang benar. Tak seorang pun mampu mengubah nasib seseorang; nasib orang hanya berada di tangan Tuhan. Sekeras apa pun engkau berusaha, itu tidak akan berhasil. Tentu saja, ada orang-orang yang akan berkata: "Hal-hal yang Kaukatakan semuanya adalah fakta, tetapi menurutku orang yang bertindak seperti ini tidak memiliki kehangatan manusia. Hati nuraniku selalu merasa tertuduh, rasanya aku tidak tahan." Jika engkau tidak tahan, puaskan saja perasaanmu; temani orang tuamu dan tetaplah tinggal di sisi mereka, layani mereka, berbakti, dan turuti perkataan mereka entah perkataan itu benar atau salah—jadilah seperti ekor kecil dan pelayan mereka, silakan saja melakukannya. Dengan demikian, tak seorang pun akan mengkritikmu di belakangmu, dan bahkan keluarga besarmu akan berkata betapa berbaktinya dirimu. Namun, pada akhirnya satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah dirimu sendiri. Engkau mungkin telah mempertahankan reputasimu sebagai anak yang berbakti, engkau telah memuaskan kebutuhan emosionalmu, hati nuranimu tidak pernah merasa tertuduh, dan engkau telah membalas kebaikan orang tuamu, tetapi ada satu hal yang telah kauabaikan dan telah hilang darimu: engkau tidak memperlakukan dan menangani semua masalah ini berdasarkan firman Tuhan dan engkau telah kehilangan kesempatan untuk melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan. Apa artinya? Artinya engkau telah berbakti kepada orang tuamu, tetapi engkau telah mengkhianati Tuhan. Engkau menunjukkan baktimu dan memuaskan kebutuhan emosional dari daging orang tuamu, tetapi engkau memberontak terhadap Tuhan. Engkau lebih memilih untuk menjadi anak yang berbakti daripada melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan. Ini adalah sikap yang paling tidak menghormati Tuhan. Tuhan tidak akan menganggapmu orang yang tunduk kepada-Nya atau orang yang memiliki kemanusiaan hanya karena engkau adalah anak yang berbakti, tidak pernah mengecewakan orang tuamu, memiliki hati nurani, dan memenuhi tanggung jawabmu sebagai seorang anak. Jika engkau hanya memuaskan kebutuhan hati nuranimu dan kebutuhan emosional dagingmu, tetapi tidak menerima firman Tuhan atau kebenaran sebagai dasar dan prinsip bagi caramu memperlakukan atau menangani masalah ini, berarti engkau memperlihatkan pemberontakan yang terbesar terhadap Tuhan. Jika engkau ingin menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi syarat, engkau harus terlebih dahulu memandang dan melakukan segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan. Ini disebut memenuhi syarat, memiliki kemanusiaan, dan memiliki hati nurani. Sebaliknya, jika engkau tidak menerima firman Tuhan sebagai prinsip dan dasar bagi caramu dalam memperlakukan atau menangani masalah ini, dan engkau juga tidak menerima panggilan Tuhan untuk pergi dan melaksanakan tugasmu, atau engkau lebih memilih untuk menunda atau melewatkan kesempatan untuk melaksanakan tugasmu agar bisa tetap berada di sisi orang tuamu, menemani mereka, membahagiakan mereka, membuat mereka menikmati masa senja mereka, dan membalas kebaikan mereka, maka Tuhan akan menganggapmu sesuatu yang tidak memiliki kemanusiaan atau hati nurani. Engkau bukan makhluk ciptaan, dan Dia tidak akan mengakuimu.

Catatan kaki:

a. Kalimat "Engkau bahkan tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri" tidak tertera dalam teks aslinya.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp