93. Aku Tidak Lagi Mengkhawatirkan Penyakit Istriku

Oleh Li Qiu, Tiongkok

Pada musim semi tahun 2005, istriku, Huijuan, dan aku cukup beruntung menerima Injil Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, dan kemudian, kami berdua mulai melaksanakan tugas di gereja. Setiap kali menghadapi kesulitan dan tantangan dalam tugas kami, kami berdoa, mencari, dan membaca firman Tuhan bersama-sama, dan kami juga saling membantu serta bersekutu satu sama lain. Di bawah bimbingan firman Tuhan, kami memahami beberapa kebenaran. Tanpa kami sadari, sepuluh tahun lebih telah berlalu, dan kami berdua berusia 60-an. Kesehatan kami telah menurun, terutama kesehatan istriku. Dia menderita tekanan darah tinggi dan harus sering minum obat. Terkadang, ketika kondisinya menjadi sangat parah, dia merasa pusing dan tidak bisa bergerak. Jantung dan perutnya juga dalam kondisi yang cukup buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, kami saling merawat, bersekutu, dan mendukung satu sama lain, aku juga merasa damai dan puas.

Suatu hari pada September 2023, aku menerima surat dari para pemimpin tingkat atas, yang memintaku untuk menjadi penanggung jawab pekerjaan penginjilan di wilayah lain. Aku sangat senang membacanya, dan aku tahu ini berarti Tuhan sedang memberiku kasih karunia dan meninggikanku. Meskipun aku memahami beberapa prinsip dan telah memiliki beberapa pengalaman dalam memberitakan Injil, aku masih sangat kurang dalam mempersekutukan kebenaran. Jika aku pergi ke tempat lain untuk melaksanakan tugasku, aku akan mendapat lebih banyak kesempatan untuk berlatih, aku akan sering dapat berkomunikasi dengan saudara-saudari, dan aku akan berkembang dengan sangat cepat. Selain itu, pekerjaan penginjilan adalah pekerjaan sentral rumah Tuhan, dan maksud Tuhan yang paling mendesak adalah agar lebih banyak orang datang ke hadapan-Nya serta menerima keselamatan-Nya, jadi aku harus memikirkan maksud Tuhan dan bekerja sama dalam pekerjaan penginjilan. Saat memikirkan hal ini, aku menoleh dan memandang sekilas istriku, berpikir, "Apa yang akan terjadi padanya jika aku pergi? Dia akan ditinggal sendirian di rumah. Dia sudah menderita tekanan darah tinggi dengan tekanan sistolik sekitar 160 hingga 180 mmHg dan tekanan diastolik sekitar 120 hingga 130 mmHg. Ketika serangan terjadi, dia merasa seolah-olah tempat tidur terbalik dan ruangan runtuh, dan dia berbaring di tempat tidur, terlalu takut bahkan untuk bergerak. Akankah dia mampu mengatasi hal itu tanpa aku di sisinya untuk merawatnya?" Mau tak mau aku diliputi kecemasan ini. Aku melihat air mata di mata istriku, dan aku bertanya padanya, "Ada apa?" Dia berhenti sejenak lalu berkata, "Jika kau pergi, aku tidak punya siapa-siapa untuk mencurahkan isi hatiku. Aku sudah makin tua, dan tubuhku sakit-sakitan. Dengan dirimu di sampingku berarti ada seseorang yang kuandalkan dan yang merawatku." Istriku mengucapkan apa yang sedang kupikirkan dalam hatiku: "Akankah dia sedih dan kecewa jika aku pergi? Jika keadaannya memburuk dan tekanan darahnya tiba-tiba melonjak, apa yang akan dia lakukan? Putra kami sedang melaksanakan tugasnya di gereja dan tidak bisa bersama kami, tetapi aku masih bisa merawatnya ketika aku berada di sisinya. Orang sering berkata, 'sahabat di masa muda, pasangan di hari tua,' dan seiring bertambahnya usia, perkataan tersebut berarti kami seharusnya tinggal bersama, saling menjaga." Saat memikirkan hal ini, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku terus memikirkan masalah itu, tetapi tidak bisa mengambil keputusan. Saudari-saudari yang tinggal di dekat sini mengunjungi istriku, tetapi aku benar-benar khawatir, berpikir, "Bagaimana jika dia jatuh sakit dan terjadi sesuatu? Apakah dia akan mampu mengatasinya tanpaku? Siapa yang akan merawatnya? Mungkin aku harus mengirim surat kepada para pemimpin, menjelaskan kesulitan nyata kami dan meminta mereka mencari orang lain." Namun kemudian aku berpikir, "Mengawasi pekerjaan penginjilan adalah tanggung jawab yang berat, dan karena tugas ini datang kepadaku, itu adalah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Jika tidak kulaksanakan, itu akan menjadi ketidaktaatan, tetapi apa yang akan terjadi pada istriku jika aku pergi? Aku juga tidak bisa mengabaikan istriku begitu saja." Jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku ingin melaksanakan tugas ini, tetapi penyakit istriku adalah kesulitan nyata. Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa. Kumohon bimbinglah aku." Pada saat itu, aku teringat satu bagian firman Tuhan: "Mengutamakan kepentingan rumah Tuhan ... apa pun yang sedang kaulakukan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Hubunganmu dengan Tuhan?"). Aku mengerti bahwa aku adalah makhluk ciptaan, dan bahwa aku harus tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan serta memprioritaskan pekerjaan gereja. Memberitakan Injil dan melaksanakan tugasku adalah tanggung jawab yang tidak dapat dihindari, dan aku harus tunduk.

Keesokan paginya, aku melihat istriku terbaring di tempat tidur. Tekanan darahnya melonjak lagi, dia terlalu pusing untuk bangkit dari tempat tidur, dan wajahnya pucat dan kuyu. Hatiku kembali gelisah, dan aku berpikir, "Penyakitnya bisa menyerang kapan saja—bagaimana jika dia bangun untuk minum dan dia pingsan, dan itu menimbulkan penyakit-penyakit lainnya atau bahkan kelumpuhan? Dengan kondisinya yang seperti ini, aku tidak akan bisa tenang meninggalkannya! Khususnya saat dia makin menua, kemungkinan kondisinya memburuk akan lebih tinggi, dan dia akan jauh lebih membutuhkan perawatanku. Aku bisa menulis surat kepada para pemimpin untuk menanyakan apakah istriku bisa pergi bersamaku untuk melaksanakan tugas bersama, dan dia bisa melaksanakan tugas sebagai tuan rumah. Dengan begitu, aku tidak perlu mengkhawatirkannya." Kemudian, aku menulis surat, tetapi saat kubaca surat yang telah kutulis, aku merasa sangat tidak nyaman. Aku bertanya pada diriku sendiri, "Untuk apa aku menulis surat ini? Bukankah ini berarti aku membuat persyaratan? Aku adalah orang percaya, tetapi ketika dihadapkan pada tugas yang tidak sesuai dengan keinginanku, aku membuat dalih untuk menolak. Seperti inikah caraku tunduk? Bukankah aku hanya meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu sesuai kehendakku? Apakah aku masih memiliki nalar sama sekali?" Aku melihat kembali betapa tidak nyamannya istriku, dan pikiranku kacau balau. Di satu sisi tugasku adalah memberitakan Injil, dan di sisi lain ada penyakit istriku. Aku mengkhawatirkannya, tetapi aku juga tidak ingin meninggalkan tugasku. Pada saat itu, pusing istriku mereda, dan kami berdua berlutut untuk berdoa kepada Tuhan. Aku berkata, "Tuhan, aku bersedia menerima tugasku, tetapi tingkat pertumbuhanku terlalu kecil untuk melepaskan istriku. Kumohon bimbinglah aku."

Selama saat teduhku, aku membaca firman Tuhan dan menemukan beberapa jalan penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tuhan tidak pernah bermaksud untuk memaksa, mengikat, atau memanipulasi manusia. Tuhan tidak pernah mengekang atau mendesak orang, dan terlebih lagi, Dia tidak memaksa orang. Yang Tuhan berikan kepada manusia adalah kebebasan penuh—Dia mengizinkan manusia untuk memilih jalan yang harus mereka tempuh. Sekalipun engkau berada di rumah Tuhan, dan sekalipun engkau telah ditentukan sejak semula dan dipilih oleh Tuhan, engkau tetap bebas. Engkau dapat memilih untuk menolak berbagai tuntutan dan pengaturan Tuhan, atau engkau dapat memilih untuk menerimanya; Tuhan memberimu kesempatan untuk memilih dengan bebas. Namun, apa pun yang kaupilih, atau dengan cara apa pun engkau bertindak, atau apa pun sudut pandangmu dalam menangani masalah yang sedang kauhadapi, atau cara dan metode apa pun yang akhirnya kaugunakan untuk menyelesaikannya, engkau harus bertanggung jawab atas tindakanmu. Kesudahan akhirmu bukan didasarkan pada penilaian dan definisi pribadimu, melainkan Tuhan menyimpan catatan tentang dirimu. Setelah Tuhan mengungkapkan sangat banyak kebenaran, dan setelah orang-orang mendengar kebenaran yang sangat banyak ini, Tuhan akan secara ketat mengukur benar dan salahnya masing-masing orang serta menentukan kesudahan akhir setiap orang berdasarkan apa yang telah Dia firmankan, apa yang Dia tuntut, dan prinsip-prinsip yang telah Dia rumuskan bagi orang-orang. Dalam hal ini, pemeriksaan Tuhan, serta pengaturan dan penataan Tuhan bukanlah berarti bahwa Tuhan itu sedang memanipulasi orang, atau bahwa Dia sedang mengikat orang—engkau bebas. Engkau tidak perlu bersikap waspada terhadap Tuhan, dan engkau juga tidak perlu merasa takut atau gelisah. Engkau adalah orang yang bebas dari awal hingga akhir. Tuhan memberimu lingkungan yang bebas, kehendak bebas untuk memilih, dan ruang untuk memilih dengan bebas, yang memungkinkanmu untuk memilih bagi dirimu sendiri, dan kesudahan apa pun yang akhirnya kaudapatkan sepenuhnya ditentukan oleh jalan yang kautempuh. Ini adil, bukan? (Ya.) Jika pada akhirnya engkau diselamatkan, engkau menjadi orang yang tunduk kepada Tuhan dan sesuai dengan Tuhan, dan engkau menjadi orang yang diterima oleh Tuhan, itulah yang kaudapatkan karena pilihan-pilihanmu yang benar; jika pada akhirnya engkau tidak diselamatkan, engkau tidak mampu sesuai dengan Tuhan, engkau tidak didapatkan oleh Tuhan, dan engkau bukan orang yang diterima oleh Tuhan, itu pun tergantung pada pilihanmu sendiri. Oleh karena itu, dalam pekerjaan-Nya, Tuhan memberi orang banyak ruang untuk memilih, dan Dia juga memberi orang kebebasan mutlak" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Setelah membaca firman Tuhan, akhirnya aku sadar: "Tuhan telah memberiku kehendak untuk memilih dengan bebas, dan ketika tugas datang kepadaku, Tuhan sedang memperhatikan pilihanku dan jalan yang kuambil—apakah aku memilih untuk tunduk kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan, atau memilih untuk mengesampingkan tugasku dan tinggal di rumah untuk merawat istriku. Para pemimpin telah memintaku untuk menjadi penanggung jawab pekerjaan penginjilan. Ini akan memberiku kesempatan untuk berlatih dalam tugasku, dan ada maksud Tuhan di balik hal ini. Bencana telah menjadi makin parah, dan banyak orang masih belum mendengar suara Tuhan, juga masih menderita di bawah siksaan serta kerusakan dari Iblis. Tuhan tidak ingin melihat mereka jatuh ke dalam bencana, dan Dia berharap lebih banyak orang akan memberitakan Injil serta bersaksi tentang pekerjaan-Nya pada akhir zaman." Namun, meskipun aku tahu bahwa pekerjaan penginjilan sangat membutuhkan orang-orang untuk bekerja sama di dalamnya, aku khawatir istriku akan jatuh sakit, jadi aku ingin tinggal di rumah dan merawatnya; aku ingin menolak dan menghindari tugasku. Aku bahkan ingin dia ikut bersamaku sehingga dia bisa melaksanakan tugas sebagai tuan rumah, meskipun aku tahu kondisinya tidak akan memungkinkannya untuk melaksanakan tugas ini. Perilakuku benar-benar menunjukkan tidak adanya ketundukan kepada Tuhan sama sekali. Jika aku tidak bisa melaksanakan tugasku karena ingin merawat istriku, bukan saja aku akan gagal membalas hati dan usaha yang telah Tuhan curahkan untukku, melainkan juga akan kehilangan kesempatan untuk berlatih dalam melaksanakan tugasku dan memperoleh kebenaran, dan jalan masuk kehidupanku juga akan dirugikan. Aku harus memprioritaskan pekerjaan gereja dan secara aktif menerima tugasku, karena inilah yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan.

Kemudian, aku berpikir, "Mengapa aku tidak bisa melepaskan istriku di hatiku? Aku bahkan berpikir untuk menghindari tugasku hanya demi merawatnya." Setelah merenung, aku menyadari bahwa ini karena aku hidup dalam perasaan daging. Aku membaca firman Tuhan: "Aku tidak akan memberi kesempatan kepada manusia untuk mengungkapkan perasaan mereka, karena Aku tidak memiliki perasaan daging, dan Aku telah membenci perasaan manusia sampai tingkat yang ekstrem. Karena perasaan di antara manusia, Aku telah dikesampingkan dan karena itulah Aku menjadi 'pihak ketiga' di mata mereka; karena perasaan di antara manusia, Aku telah dilupakan; karena perasaan manusia, ia mengambil kesempatan untuk memungut 'hati nuraninya'; karena perasaan manusia, ia selalu muak akan hajaran-Ku; karena perasaan manusia, ia selalu menyebut-Ku tidak adil, dan mengatakan bahwa Aku tidak menghiraukan perasaan manusia dalam menangani segala sesuatu. Memangnya Aku juga punya kerabat di bumi? Siapa yang seperti Aku, bekerja siang dan malam, tanpa memikirkan makanan atau tidur, demi seluruh rencana pengelolaan-Ku? Bagaimana bisa manusia dibandingkan dengan Tuhan? Bagaimana mungkin manusia menjadi sesuai dengan Tuhan? Bagaimana mungkin Tuhan, yang menciptakan, sejenis dengan manusia, yang diciptakan? Bagaimana mungkin Aku selalu hidup dan bertindak bersama dengan manusia di bumi? Siapa yang mampu merasa peduli akan hati-Ku?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 28"). "Ada orang-orang yang sangat sentimental. Setiap hari, dalam semua yang mereka katakan, dan dalam cara mereka berperilaku serta menangani berbagai hal, mereka hidup berdasarkan perasaan mereka. Mereka merasakan sesuatu kepada orang ini dan orang itu, dan mereka menghabiskan hari-hari mereka untuk mengurus masalah hubungan dan perasaan. Dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, mereka hidup dalam alam perasaan. ... Dia terlalu sentimental. Dapat dikatakan bahwa perasaan adalah kelemahan fatal orang ini. Dia dikekang oleh perasaannya dalam segala hal, dia tidak mampu menerapkan kebenaran atau bertindak sesuai dengan prinsip, dan dia sering memberontak terhadap Tuhan. Perasaan adalah kelemahan terbesarnya, kelemahan fatalnya, dan perasaannya sepenuhnya mampu membawanya pada kehancuran dan menghancurkannya. Orang yang terlalu sentimental tidak mampu menerapkan kebenaran atau tunduk kepada Tuhan. Dengan perasaan yang begitu kuat, yang bisa mereka lakukan hanyalah memuaskan daging; mereka adalah orang-orang yang bodoh dan bingung. Menjadi sangat sentimental adalah natur orang semacam itu. Mereka hidup berdasarkan perasaan mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti mengapa Tuhan sangat membenci perasaan yang ada di antara manusia. Itu karena ketika orang hidup di tengah perasaan, mereka tidak sedikit pun memikirkan tugas mereka dan bahkan mampu mengkhianati Tuhan. Sekarang, pekerjaan penginjilan Tuhan sedang menyebar ke segala bangsa, dan saudara-saudari secara aktif memberitakan Injil serta bersaksi tentang Tuhan. Aku memiliki beberapa pemahaman tentang kebenaran dan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan pemberitaan Injil, dan aku telah mendapatkan beberapa hasil dalam pekerjaan penginjilanku, jadi aku harus melaksanakan tugasku. Namun, aku tidak memikirkan maksud Tuhan, dan malah mengkhawatirkan kesehatan istriku. Aku khawatir dia akan kesepian di rumah sendirian dan tidak ada yang merawatnya jika dia jatuh sakit. Aku dikendalikan oleh perasaanku dan sama sekali tidak memikirkan pekerjaan penginjilan. Demi merawat istriku di rumah, aku ingin menulis surat kepada para pemimpin untuk mengatakan bahwa aku tidak akan pergi keluar lagi untuk melaksanakan tugasku, atau bertanya apakah istriku bisa ikut denganku untuk melaksanakan tugas sebagai tuan rumah sehingga aku bisa merawatnya. Kalau dipikir-pikir, karena kesehatan istriku sangat buruk, pelaksanaan tugasnya sebagai tuan rumah sepenuhnya bertentangan dengan prinsip, tetapi karena perasaan dalam pernikahanku, aku tidak memikirkan prinsip-prinsip penggunaan orang di rumah Tuhan. Yang kupikirkan hanyalah, jika kami bisa bersama dan jika aku bisa merawatnya, itu sudah cukup. Aku menyadari bahwa perasaanku terhadap istriku terlalu kuat. Di dalam hatiku, perasaan yang kumiliki untuk istriku melebihi kepentingan rumah Tuhan dan tugasku. Lalu, masihkah Tuhan memiliki tempat di dalam hatiku? Aku hidup berdasarkan perasaanku, dan aku dikekang olehnya dalam segala hal. Aku tidak bisa melaksanakan tugasku, apalagi menerapkan kebenaran serta tunduk kepada Tuhan. Perilaku seperti itu sangat dibenci Tuhan. Aku segera berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, karena perasaanku, aku tidak mampu benar-benar tunduk kepada-Mu, dan bahkan ingin menghindari tugasku. Aku tidak punya hati nurani! Tuhan, aku ingin bertobat, dan kumohon bimbinglah aku untuk melepaskan diri dari kekangan perasaanku dan melaksanakan tugasku."

Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan, dan hatiku menjadi lebih cerah. Tuhan berfirman: "Tuhan telah menetapkan pernikahan untukmu dan memberimu pasangan hidup. Engkau masuk ke dalam pernikahan, tetapi identitas dan statusmu di hadapan Tuhan tidak berubah. Entah engkau laki-laki atau perempuan, ada satu hal yang sama dari engkau semua, yaitu, engkau semua adalah makhluk ciptaan di hadapan Sang Pencipta. Di dalam kerangka pernikahan, engkau berdua saling menoleransi, menghargai dan melindungi, engkau saling membantu dan mendukung, dan ini artinya memenuhi tanggung jawabmu. Namun di hadapan Tuhan, tanggung jawab yang harus kaupenuhi dan misi yang harus kauselesaikan tidak dapat digantikan oleh tanggung jawab yang kaupenuhi terhadap pasanganmu. Oleh karena itu, ketika ada konflik antara tanggung jawabmu kepada pasanganmu dan tugas yang seharusnya dilaksanakan oleh makhluk ciptaan di hadapan Tuhan, yang harus kaupilih adalah melaksanakan tugas makhluk ciptaan dan bukan memenuhi tanggung jawabmu kepada pasanganmu. Inilah arah dan tujuan yang harus kaupilih dan, tentu saja, ini juga merupakan misi yang harus kauselesaikan. Namun, ada orang-orang yang secara keliru menjadikan pengejaran akan kebahagiaan pernikahan, atau hal memenuhi tanggung jawab mereka terhadap pasangannya, dan menjaga, mengurus, dan menyayangi serta melindungi pasangan mereka sebagai misi hidup mereka, dan mereka menganggap pasangan mereka adalah seluruh dunia mereka, sebagai hidup mereka—ini salah. ... Oleh karena itu, ketika salah satu pasangan dalam kerangka pernikahan melakukan segala upaya atau melakukan pengorbanan apa pun dalam mengejar kebahagiaan pernikahan, itu tidak diingat oleh Tuhan. Sebaik apa pun atau sesempurna apa pun engkau memenuhi kewajiban dan tanggung jawabmu terhadap pasanganmu, atau seadil apa pun engkau memperlakukan pasanganmu—dengan kata lain, sebaik apa pun atau sesempurna apa pun engkau mempertahankan kebahagiaan pernikahanmu atau betapapun pernikahanmu itu membuat orang lain iri—hal ini tidak berarti bahwa engkau telah memenuhi misi sebagai makhluk ciptaan, juga tidak membuktikan bahwa engkau adalah makhluk ciptaan yang memenuhi standar. Mungkin engkau adalah seorang istri yang sempurna atau seorang suami yang sempurna, tetapi hal itu masih terbatas pada kerangka pernikahan. Sang Pencipta menilai orang seperti apa dirimu berdasarkan bagaimana engkau melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan di hadapan-Nya, seperti apa jalan yang kautempuh, bagaimana pandanganmu tentang hidup, apa yang kaukejar dalam hidup, dan sebaik apa engkau menyelesaikan misi sebagai makhluk ciptaan. Berdasarkan hal-hal inilah Tuhan menilai jalan yang kautempuh sebagai makhluk ciptaan dan tempat tujuanmu kelak, bukan berdasarkan sebaik apa engkau memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu sebagai istri atau suami, atau berdasarkan apakah kasihmu kepada pasanganmu menyenangkan dirinya" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (11)"). Firman Tuhan dengan jelas mempersekutukan tanggung jawab yang harus dipenuhi pasangan terhadap satu sama lain. Ketika penundaan tugas dapat dihindari, pasangan seharusnya saling memikirkan, merawat, membantu, dan mendukung. Di masa lalu ketika aku tidak menunda tugasku, ketika kesehatan istriku buruk, aku menemani dan merawatnya, dan dalam hal ini, aku memenuhi tanggung jawab dan kewajibanku sebagai seorang suami. Namun, ini tidak berarti aku melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai makhluk ciptaan. Ketika gereja memintaku untuk melaksanakan pekerjaan gereja, aku wajib memprioritaskan pekerjaan gereja, dan memenuhi tanggung jawab sebagai makhluk ciptaan. Itu berarti, ketika merawat istriku bertentangan dengan tugasku, aku harus memilih untuk melaksanakan tugasku. Ini adalah pilihan yang tepat dan tugas serta tanggung jawab yang harus kulaksanakan. Saat ini, pekerjaan penginjilan sangat membutuhkan kerja sama orang-orang, dan memberitakan Injil serta bersaksi tentang Tuhan juga adalah tanggung jawab dan misiku. Aku harus dengan tegas memilih untuk melaksanakan tugasku. Namun, aku malah hidup dalam pandangan Iblis tentang "suami istri harus saling mencintai secara mendalam" dan "sahabat di masa muda, pasangan di hari tua", dan aku menempatkan ikatan emosional antara pasangan di atas segalanya, berpikir bahwa seiring menuanya kami, kami harus tetap bersama, saling menemani, merawat, membantu, dan saling mendukung, dan bahwa kami harus selalu bersama. Terutama dengan kesehatan istriku yang memburuk, aku mengira dengan merawat istriku, aku memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang suami, dan hanya dengan adanya aku di sisinya, dia akan merasa nyaman, dan kami akan merasakan kebahagiaan di hari tua kami. Pikiranku dipenuhi dengan pemikiran tentang penyakit istriku dan kehidupan masa depannya, dan aku sama sekali tidak memikirkan pekerjaan penginjilan gereja, juga tidak berpikir tentang bagaimana menyelesaikan misi memberitakan Injil dan bersaksi tentang Tuhan. Aku bahkan ingin menolak tugasku. Aku menganggap pemenuhan tanggung jawab di antara pasangan sebagai penerapan kebenaran, dan aku memandang perawatan terhadap istriku dan menemaninya sebagai satu-satunya tujuan dalam hidup. Meskipun firman Tuhan telah mencerahkanku untuk memahami maksud-Nya, aku tetap memilih untuk tinggal di rumah di sisi istriku untuk merawatnya. Di dalam hatiku, aku menempatkan istriku di atas segalanya, bahkan di atas Tuhan. Aku benar-benar memberontak! Aku memandang segala sesuatu berdasarkan perspektif Iblis tentang "sahabat di masa muda, pasangan di hari tua". Aku bahkan memilih untuk menghindari tugasku demi bisa tinggal di rumah untuk merawat istriku. Betapa egoisnya diriku! Sebaik apa pun aku merawat istriku, ini hanyalah memenuhi tanggung jawab dan kewajiban seorang pasangan, bukan menerapkan kebenaran. Namun, melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan, memenuhi tanggung jawabku dalam pekerjaan penginjilan, dan menyelesaikan misiku adalah hal-hal yang memberi nilai dan makna pada hidupku, serta tujuan yang harus kukejar. Tuhan memberiku kesempatan untuk percaya kepada-Nya dan diselamatkan, juga kesempatan untuk berlatih dalam tugasku dan memperoleh kebenaran, tetapi aku masih belum bisa melaksanakan tugasku dengan semestinya untuk membalas kasih Tuhan. Aku bahkan berpegang pada pandangan Iblis, dan tidak memiliki kesetiaan atau ketundukan kepada Tuhan. Aku benar-benar tidak punya nurani dan kemanusiaan. Ini bukan hanya akan membuat Tuhan membenciku, tetapi pada akhirnya akan membawaku ke dalam kehancuran.

Kemudian, aku menyadari bahwa ketidakmampuanku untuk melepaskan istriku, dan cara berpikirku bahwa hanya dengan berada di sisinya, barulah aku bisa merawatnya dengan baik, menunjukkan kurangnya imanku pada kedaulatan Tuhan. Aku teringat firman Tuhan: "Nasib manusia dikendalikan oleh tangan Tuhan. Engkau tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri. Sekalipun manusia selalu terburu-buru dan menyibukkan diri demi dirinya sendiri, dia tetap tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Jika engkau dapat mengetahui prospekmu sendiri, jika engkau mampu mengendalikan nasibmu sendiri, apakah engkau masih akan disebut makhluk ciptaan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Memulihkan Kehidupan Normal Manusia dan Membawanya ke Tempat Tujuan yang Indah"). "Siapa yang sungguh-sungguh mampu mengorbankan diri mereka sepenuhnya bagi-Ku dan mempersembahkan seluruh keberadaan mereka demi Aku? Engkau semua setengah hati; pikiranmu berputar-putar, memikirkan keluarga, dunia luar, makanan dan pakaian. Walaupun engkau berada di sini di hadapan-Ku, bekerja bagi-Ku, di dalam hatimu engkau masih memikirkan istrimu, anak-anakmu, dan orang tuamu di rumah. Apakah mereka adalah hartamu? Mengapa engkau tidak memercayakan mereka ke dalam tangan-Ku? Apakah engkau tidak memercayai-Ku? Atau apakah engkau takut Aku akan membuat pengaturan yang tidak pantas bagimu? Mengapa keluarga lahiriahmu dan orang-orang yang kaukasihi selalu ada dalam pikiranmu? Apakah Aku menempati tempat tertentu dalam hatimu?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 59"). Firman Tuhan membuatku menyadari bahwa nasibku ada di tangan Tuhan, bahwa nasib istriku juga ada di tangan Tuhan, dan bahwa aku tidak dapat mengendalikan nasibnya. Tentang kondisi fisiknya, apakah dia akan jatuh sakit atau tidak, atau apakah penyakitnya akan memburuk atau tidak, semua berada di bawah kedaulatan Tuhan, dan bukan berarti dengan mendampingi di sisinya serta merawatnya, dia akan terbebas dari penyakit. Saat itu, aku menghabiskan setiap hari di sisinya untuk merawatnya, tetapi bukankah pada kenyataannya dia masih menderita tekanan darah tinggi dan sangat pusing sampai tidak bisa bergerak? Aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar memahami kedaulatan Tuhan, aku juga tidak benar-benar percaya atau tunduk, dan bahwa ketika menyangkut masalah penyakit istriku, aku selalu ingin mencoba mengendalikannya sendiri dan melepaskan diri dari kedaulatan Tuhan. Betapa tidak bernalarnya aku! Biasanya, aku hanya meneriakkan slogan, mengatakan bahwa Tuhan berdaulat atas segalanya, tetapi Tuhan tidak memiliki tempat di hatiku, dan aku tidak benar-benar memahami kedaulatan atau otoritas Tuhan, dan ketika Tuhan benar-benar mengujiku, aku tidak memberi kesaksian sama sekali. Aku tidak berani memercayakan istriku kepada Tuhan. Masihkah aku memiliki iman yang nyata kepada Tuhan? Tuhan mengendalikan dan berdaulat atas segalanya, dan sebanyak apa penderitaan yang akan ditanggung istriku, apa yang akan dia alami, berapa banyak rintangan yang akan dia hadapi, entah penyakitnya akan memburuk, atau dia akan lumpuh, semua itu berada di tangan Tuhan. Jika Tuhan telah menetapkan bahwa penyakitnya akan memburuk atau dia akan lumpuh, maka sekalipun aku tinggal di sisinya, aku tidak akan berdaya. Jika dia ditetapkan untuk lumpuh, dia akan lumpuh. Jika Tuhan tidak menetapkan bahwa penyakitnya akan memburuk atau menyebabkan kelumpuhan, maka sekalipun aku tidak ada di sana untuk merawatnya, kondisinya tidak akan memburuk. Aku teringat akan seorang direktur rumah sakit yang pernah kukenal. Suatu hari istrinya baik-baik saja, tapi keesokan harinya, dia merasa tidak enak badan dan dirawat di rumah sakit, dan setelah diperiksa, ternyata dia menderita kanker stadium lanjut. Direktur ini adalah seorang ahli medis, dan meskipun dia tetap berada di sisi istrinya, dia tidak berdaya, dan akhirnya istrinya meninggal setelah pengobatan itu gagal. Ada juga seorang saudara yang pernah bekerja sama denganku. Dia berusia 70 tahun. Dia telah kehilangan istrinya, dan anak-anaknya bekerja di tempat lain. Terkadang ketika dia sakit, tak seorang pun berada di sisinya, tetapi dia mengandalkan Tuhan untuk memetik pelajaran, melaksanakan tugasnya dengan normal, dan kesehatannya tetap baik. Dari sini, aku melihat bahwa orang tidak dapat mengendalikan nasib mereka sendiri, juga tidak dapat mengendalikan nasib orang lain. Nasib setiap orang ada di tangan Tuhan. Aku berpikir kembali bahwa istriku juga sudah percaya kepada Tuhan, yang berarti bahwa ketika dia dalam keadaan buruk atau ketika sakit, dia dapat berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran, dan hanya dengan bimbingan serta pencerahan firman Tuhan hatinya dapat menemukan kedamaian dan kestabilan, sebaik apa pun aku merawatnya, ketika dia sakit, aku tidak akan berdaya untuk membantu. Aku harus memercayakan istriku ke dalam tangan Tuhan. Di bawah bimbingan firman Tuhan, aku tidak lagi khawatir dan cemas tentang penyakit istriku, dan hatiku menjadi ringan dan bebas. Jadi aku menulis surat kepada para pemimpin, mengungkapkan kesediaanku untuk pergi dan melaksanakan tugasku.

Kemudian, kesehatan istriku sedikit membaik, dia juga menyadari bahwa dia tidak memiliki tempat bagi Tuhan di dalam hatinya dan bahwa dia tidak percaya pada kedaulatan Tuhan. Dia tidak ingin aku pergi karena dia hanya merasa aman dengan memilikiku sebagai pendukungnya. Dia juga merenungkan dirinya, dan bersedia tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Ke mana pun aku pergi untuk melaksanakan tugasku, dia akan mendukungku, dan menyuruhku untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Dia berkata dia akan berdoa kepada Tuhan, mengandalkan-Nya untuk mengalami firman-Nya, dan berfokus pada jalan masuk kehidupannya. Kemudian, aku pergi untuk menjadi penanggung jawab pekerjaan penginjilan, dan tak lama kemudian, aku mendengar bahwa penyakit istriku telah sangat membaik, dan bahwa dia sedang melaksanakan tugasnya sebaik mungkin.

Melalui pengalaman ini, aku menyadari bahwa aku terlalu banyak mementingkan perasaanku, dan bahwa karena perasaanku, aku bahkan mampu menolak tugasku dan mengkhianati Tuhan, yang menunjukkan bahwa aku tidak memiliki kesetiaan atau ketundukan kepada Tuhan. Aku juga telah mengerti bagaimana memandang penyakit istriku, dan aku pun bersedia untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan serta memprioritaskan tugasku. Syukur kepada Tuhan atas kasih dan keselamatan-Nya bagiku!

Sebelumnya: 92. Apakah Kebaikan Orang Tua Merupakan Utang yang Takkan Pernah Terbayar?

Selanjutnya: 94. Akibat dari Memilih yang Mudah dan Menghindari yang Sulit dalam Tugas

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

15. Setelah Kebohongan

Oleh Saudari Chen Shi, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Engkau harus tahu bahwa Tuhan menyukai mereka yang jujur. Secara hakikat,...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp