Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Perbedaan penting antara Tuhan yang berinkarnasi dan orang yang dipakai oleh Tuhan

101

5. Perbedaan penting antara Tuhan yang berinkarnasi dan orang yang dipakai oleh Tuhan

Ayat Alkitab untuk Referensi:

“Sesungguhnya Aku membaptis engkau dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Dia yang datang sesudah aku lebih berkuasa daripada aku, aku pun tidak layakmembawakan kasut-Nya. Dia akan membaptis engkau dengan Roh Kudus, dan dengan api” (Matius 3:11).

Firman Tuhan yang Relevan:

Tuhan yang berinkarnasi disebut Kristus, dan Kristus adalah daging yang dikenakan oleh Roh Tuhan. Daging ini tidak seperti manusia mana pun yang terbuat dari daging. Perbedaan ini dikarenakan Kristus bukanlah daging dan darah, melainkan inkarnasi Roh. Ia memiliki kemanusiaan yang normal sekaligus keilahian yang lengkap. Keilahian-Nya tidak dimiliki oleh manusia mana pun. Kemanusiaan-Nya yang normal menunjang semua kegiatan normal-Nya dalam daging, sementara keilahian-Nya melaksanakan pekerjaan Tuhan sendiri. Baik kemanusiaan-Nya maupun keilahian-Nya, keduanya berserah pada kehendak Bapa surgawi. Substansi Kristus adalah Roh, yaitu keilahian. Oleh karena itu, substansi-Nya adalah substansi Tuhan sendiri. Substansi ini tidak akan menyela pekerjaan-Nya sendiri, dan Ia tidak mungkin melakukan apa pun yang merusak pekerjaan-Nya sendiri, ataupun mengucapkan perkataan yang bertentangan dengan kehendak-Nya sendiri. …

… Tuhan itu sendiri tidak memiliki unsur ketidaktaatan. Substansi-Nya baik. Ia merupakan pengungkapan segala keindahan dan kebaikan, juga segenap kasih. Bahkan dalam daging, Tuhan tidak melakukan apa pun yang tidak menaati Bapa. Ia bahkan bersedia mengorbankan nyawa-Nya dengan sepenuh hati dan tidak mengambil pilihan lain. Tuhan tidak memiliki unsur pembenaran diri atau mementingkan diri sendiri, atau unsur kesombongan dan keangkuhan. Ia tidak memiliki unsur kecurangan. Semua orang yang tidak menaati Tuhan berasal dari Iblis. Iblis adalah sumber segala keburukan dan kejahatan. Alasan mengapa manusia memiliki kualitas yang serupa dengan Iblis adalah karena manusia telah dicemari dan dipengaruhi oleh Iblis. Kristus tidak dicemari oleh Iblis, sehingga Ia hanya memiliki karakter Tuhan dan tidak satu pun karakter Iblis.

Dikutip dari “Substansi Kristus adalah

Ketaatan pada Kehendak Bapa Surgawi”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Daging yang dikenakan Roh Tuhan adalah daging Tuhan sendiri. Roh Tuhan itu paling berkuasa; Dia mahakuasa, kudus, dan benar. Dengan demikian, daging-Nya pun paling berkuasa, mahakuasa, kudus, dan benar. Hanya daging seperti itulah yang dapat melakukan hal yang benar dan berguna bagi umat manusia, yang kudus, mulia, dan besar, dan yang tidak sanggup melanggar kebenaran atau moralitas serta keadilan, apalagi hal apa pun yang mengkhianati Roh Tuhan. Roh Tuhan itu kudus, dan dengan demikian daging-Nya tak dapat dirusak oleh Iblis; daging-Nya memiliki hakikat yang berbeda daripada daging manusia. Karena itulah, yang dirusak Iblis adalah manusia, bukan Tuhan; Iblis tidak mungkin bisa merusak daging Tuhan. Maka, meskipun nyatanya manusia dan Kristus hidup di ruang yang sama, hanya manusia yang dikuasai, diperalat, dan dijebak Iblis. Sebaliknya, Kristus selamanya bebas dari perusakan Iblis, karena Iblis tak akan pernah bisa naik ke tempat yang tertinggi, dan tak akan pernah bisa mendekat kepada Tuhan. Kini, engkau sekalian semestinya memahami bahwa hanya umat manusialah, yang telah dirusak Iblis, yang mengkhianati Aku, dan bahwa masalah ini akan selalu tidak relevan bagi Kristus.

Dikutip dari “Masalah yang Sangat Serius: Pengkhianatan (2)”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Tuhan yang berinkarnasi secara substantif berbeda dengan manusia yang dipakai oleh Tuhan. Tuhan yang berinkarnasi mampu melakukan pekerjaan ilahi, sementara orang-orang yang dipakai oleh Tuhan tidak. Di awal setiap zaman, Roh Tuhan berbicara secara pribadi untuk membuka era baru dan membawa manusia masuk ke awal yang baru. Ketika Dia sudah selesai berbicara, ini menandakan pekerjaan Tuhan dalam keilahian-Nya sudah selesai. Setelah itu, semua orang mengikuti pimpinan mereka yang dipakai oleh Tuhan untuk masuk ke dalam pengalaman hidup mereka.

Dikutip dari “Perbedaan Mendasar Antara Tuhan yang Berinkarnasi

dan Orang-Orang yang Dipakai oleh Tuhan”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Meskipun Tuhan yang berinkarnasi memiliki pikiran manusia normal, pekerjaan-Nya tidak tercemar oleh pikiran manusia. Ia melakukan pekerjaan dalam kemanusiaan dengan pikiran yang normal, dengan prasyarat bahwa Ia memiliki kemanusiaan dengan pikiran, bukan bertindak berdasarkan pikiran manusia normal. Tak peduli seluhur apa pun pikiran daging-Nya, pekerjaan-Nya tidak memiliki tanda logika atau pemikiran manusia. Dengan kata lain, pekerjaan-Nya itu bukan merupakan buah dari pemikiran daging-Nya, melainkan ungkapan langsung dari pekerjaan ilahi di dalam kemanusiaan-Nya. Semua pekerjaan-Nya adalah pelayanan yang perlu Ia genapi dan tak satu pun dari pekerjaan itu merupakan hasil dari pemikiran-Nya. Sebagai contoh, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan penyaliban, semua itu bukan hasil dari pikiran manusia-Nya, semua itu tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia pun dengan pikirannya. Sama halnya dengan pekerjaan penaklukan di zaman sekarang, itu merupakan pelayanan yang harus dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi, tetapi bukan merupakan pekerjaan atas kehendak manusia, itu merupakan pekerjaan yang harus dilakukan oleh keilahian-Nya, pekerjaan yang tidak mampu dilakukan oleh seorang manusia pun.

Dikutip dari “Esensi Daging yang Didiami oleh Tuhan”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Selama berabad-abad, manusia yang dipakai oleh Tuhan mampu berpikir dan bernalar dengan normal. Mereka semua tahu prinsip tindakan manusia. Mereka memiliki ide manusia normal dan mereka diperlengkapi dengan segala hal yang harus dimiliki manusia normal. Kebanyakan dari mereka memiliki talenta luar biasa dan kecerdasan bawaan. Dalam bekerja lewat orang-orang ini, Roh Tuhan mengasah talenta mereka, yang adalah karunia pemberian Tuhan. Roh Tuhan membuat talenta mereka keluar, menggunakan kekuatan mereka untuk melayani Tuhan. Akan tetapi, esensi Tuhan tidak terpengaruh oleh ide atau pemikiran manusia, tidak tercemar dengan niat manusia, dan bahkan tidak memiliki hal-hal yang memperlengkapi manusia normal. Bisa dikatakan, Dia bahkan tidak memahami prinsip tindakan manusia. Itulah yang terjadi ketika Tuhan zaman sekarang datang ke bumi. Firman dan pekerjaan-Nya tidak tercemar oleh niat atau pemikiran manusia, tetapi adalah manifestasi langsung dari pemikiran Roh, dan Dia bekerja secara langsung atas nama Tuhan. Ini berarti Roh berfirman secara langsung, yaitu, keilahian secara langsung melakukan pekerjaan, tanpa tercampur dengan sedikit pun niat manusia. Dengan kata lain, Tuhan yang berinkarnasi adalah perwujudan langsung dari keilahian, tanpa campuran pemikiran atau gagasan manusia, dan tidak memiliki pemahaman tentang prinsip perilaku manusia. Jika hanya keilahian saja yang bekerja (maksudnya hanya Tuhan sendiri yang bekerja), maka tidak mungkin pekerjaan Tuhan dikerjakan di bumi. Jadi ketika Tuhan datang ke bumi, Dia harus memiliki sejumlah kecil orang yang Dia pakai untuk melakukan pekerjaan-Nya di antara umat manusia bersamaan dengan pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam keilahian. Dengan kata lain, Dia memakai pekerjaan manusia untuk menopang pekerjaan ilahi-Nya. Jika tidak, maka tidak mungkin manusia bisa bersentuhan langsung dengan pekerjaan ilahi.

Dikutip dari “Perbedaan Mendasar Antara Tuhan yang Berinkarnasi

dan Orang-Orang yang Dipakai oleh Tuhan”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Pekerjaan Tuhan itu sendiri adalah pekerjaan Roh Kudus; pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi sama sekali tidak kurang dari pekerjaan Roh Kudus. Pekerjaan orang-orang yang dipakai juga merupakan pekerjaan Roh Kudus. Namun, pekerjaan Tuhan adalah ungkapan sempurna dari Roh Kudus, dan tidak ada perbedaan. Sebaliknya, pekerjaan manusia yang dipakai bercampur dengan banyak unsur manusia, dan itu bukan ungkapan langsung dari Roh Kudus, apalagi ungkapan sempurnanya. … Ketika Roh Kudus bekerja dalam diri manusia yang sedang dipakai, bakat dan kualitas mereka yang sebenarnya dipergunakan dan tidak dikekang. Kualitas mereka yang sebenarnya semua digunakan untuk melayani pekerjaan. Dapat dikatakan bahwa Dia bekerja dengan menggunakan unsur-unsur manusia yang tersedia untuk mencapai hasil kerja. Sebaliknya, pekerjaan yang dilakukan oleh daging inkarnasi secara langsung mengungkapkan pekerjaan Roh dan tidak bercampur dengan pikiran dan gagasan manusia, tidak dapat dijangkau oleh kemampuan manusia, pengalaman manusia, atau keadaan bawaan manusia.

Dikutip dari “Pekerjaan Tuhan dan Pekerjaan Manusia”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Khotbah-Ku menggambarkan keberadaan-Ku, tetapi apa yang Kufirmankan berada di luar jangkauan manusia. Apa yang Aku firmankan bukanlah apa yang manusia alami, dan itu bukanlah sesuatu yang dapat dilihat oleh manusia, itu juga bukan sesuatu yang dapat disentuh manusia, tetapi itulah Aku. Sebagian orang hanya mengakui bahwa apa yang Aku bahas dalam persekutuan adalah apa yang telah Kualami, tetapi mereka tidak mengakui bahwa itu adalah ungkapan langsung Roh. Tentu saja, apa yang Kukatakan adalah apa yang Kualami. Akulah yang telah melakukan pekerjaan pengelolaan selama enam ribu tahun. Aku telah mengalami segalanya sejak awal penciptaan manusia sampai sekarang; bagaimana Aku tidak dapat membicarakannya? Ketika menyangkut sifat manusia, Aku telah melihatnya dengan jelas, dan Aku sudah lama mengamatinya; bagaimana Aku tidak dapat membicarakannya dengan jelas? Karena Aku telah melihat hakikat manusia dengan jelas, maka Aku memenuhi syarat untuk menghajar manusia dan menghakiminya karena semua manusia berasal dari-Ku tetapi telah dirusak oleh Iblis. Tentu saja, Aku juga memenuhi syarat untuk menilai pekerjaan yang telah Kulakukan. Meskipun pekerjaan ini tidak dilakukan oleh daging-Ku, itu adalah ungkapan langsung Roh, dan inilah yang Aku miliki dan siapa Aku. Karena itu, Aku memenuhi syarat untuk mengungkapkannya dan melakukan pekerjaan yang seharusnya Aku lakukan. Apa yang dikatakan manusia adalah apa yang telah mereka alami. Itu adalah apa yang telah mereka lihat, apa yang dapat dijangkau oleh pikiran mereka, dan apa yang dapat dirasakan oleh indera mereka. Itulah yang dapat mereka bahas dalam persekutuan. Firman yang diucapkan oleh daging Tuhan yang berinkarnasi adalah ungkapan langsung Roh dan mengungkapkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh Roh. Daging itu belum mengalami atau melihatnya, tetapi tetap mengungkapkan keberadaan-Nya karena substansi daging adalah Roh, dan Dia mengungkapkan pekerjaan Roh. Meskipun daging tidak dapat menjangkaunya, itu adalah pekerjaan yang sudah dilakukan oleh Roh. Setelah inkarnasi, melalui pengungkapan daging, Dia memampukan manusia untuk mengetahui keberadaan Tuhan dan membuat manusia dapat melihat watak Tuhan dan pekerjaan yang telah Dia lakukan. Pekerjaan manusia membuat manusia dapat lebih memahami apa yang harus mereka masuki dan apa yang harus mereka pahami; pekerjaan ini membuat manusia dapat memahami dan mengalami kebenaran. Pekerjaan manusia adalah membantu manusia; pekerjaan Tuhan adalah membuka jalan baru dan membuka zaman baru bagi umat manusia dan mengungkapkan kepada manusia apa yang tidak diketahui oleh manusia, sehingga membuat mereka dapat mengetahui watak-Nya. Pekerjaan Tuhan adalah memimpin semua umat manusia.

Dikutip dari “Pekerjaan Tuhan dan Pekerjaan Manusia”

dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Manusia yang dipakai Tuhan bukanlah Tuhan yang berinkarnasi, dan Tuhan yang berinkarnasi bukanlah manusia yang dipakai Tuhan. Ada perbedaan substansial dalam hal ini. … Firman Tuhan yang berinkarnasi memulai zaman yang baru, membimbing seluruh umat manusia, mengungkapkan misteri, dan mengarahkan manusia menuju zaman yang baru. Pencerahan yang diperoleh manusia hanyalah pengalaman atau pengetahuan semata. Pencerahan ini tidak dapat membimbing seluruh umat manusia menuju zaman baru atau mengungkapkan misteri Tuhan itu sendiri. Bagaimanapun juga, Tuhan tetaplah Tuhan dan manusia tetaplah manusia. Tuhan memiliki hakikat Tuhan dan manusia memiliki hakikat manusia. Jika manusia menganggap perkataan yang diucapkan Tuhan hanya sebagai pencerahan dari Roh Kudus, dan menganggap perkataan para rasul dan nabi sebagai perkataan yang diucapkan langsung oleh Tuhan, manusia itu salah.

Dikutip dari “Kata Pengantar, Firman Menampakkan

Diri dalam Rupa Manusia”

media terkait