Lampiran Satu: Apa Arti Kebenaran (Pasal Empat)

Antara kesukaran dan penghinaan, yang manakah yang positif? Adakah perbedaan antara keduanya? (Ya, ada.) Kesukaran bersifat positif. Jika engkau dengan rela menerima penghakiman, hajaran, pemangkasan, serta dengan rela menderita kesukaran itu, engkau akan menafsirkannya seperti ini, "Aku harus menderita kesukaran. Apa pun yang Tuhan lakukan, bahkan sekalipun aku tidak memahaminya, hatiku kesulitan untuk menerimanya, dan aku negatif dan lemah, segala yang dilakukan-Nya itu tepat. Aku memiliki watak rusak dan tidak boleh berbantah dengan Tuhan. Sesulit apa pun bagi hatiku untuk menerimanya, kesukaran itu terjadi karena kesalahan-kesalahanku sendiri. Tuhan tidak salah; segala yang Tuhan lakukan itu tepat. Aku pantas menderita kesukaran. Siapakah yang menyebabkanku memiliki watak rusak? Siapakah yang menyebabkanku menentang Tuhan? Siapakah yang menyebabkanku berbuat jahat? Hal-hal itu tidak diberikan oleh Tuhan kepadaku, tetapi ditimbulkan oleh naturku sendiri. Aku harus menderita kesukaran itu." Lalu, jika orang menderita kesukaran itu, apakah itu bersifat positif? (Ya.) Jika orang memahaminya dengan cara yang positif dan memahami bahwa hal itu dari Tuhan, kesukaran itu bersifat positif. Namun, seandainya mereka berkata, "Aku sanggup tunduk, tetapi, meskipun tunduk, aku harus memaparkan argumenku dengan jelas serta membagikan hal-hal yang kupikirkan dalam hati dan yang kuperbuat dengan jelas. Aku tidak dapat tunduk begitu saja seperti pengecut yang kebingungan. Jika tidak, aku akan mati karena memendam begitu banyak hal dalam batin." Mereka selalu ingin menjelaskan berbagai hal dengan jelas dan lugas, menjelaskan berbagai hal secara luar-dalam, membicarakan alasan mereka, membicarakan hal-hal yang mereka pikirkan, membicarakan bagaimana mereka membayar harga, dan membicarakan betapa benarnya mereka. Mereka tidak bersedia menjadi orang yang tunduk kepada Tuhan untuk menahan diri dari membenarkan diri sendiri, membela diri sendiri, atau membicarakan argumen mereka sendiri. Mereka tidak rela bertindak seperti itu. Dalam keadaan seperti itu, mereka memperlakukan ketundukan sebagai apa? Mereka memperlakukannya sebagai sikap menanggung perlakuan yang merendahkan. Apakah yang mereka pikirkan dalam hati? "Aku harus menanggung segala perendahan itu agar Tuhan berkenan kepadaku dan berkata bahwa aku telah tunduk." Apakah penghinaan itu benar-benar ada? Jika tidak pernah ada penghinaan sama sekali, mengapa mereka masih saja menjelaskan berbagai hal secara jelas dan lugas untuk menyingkirkan "penghinaan" itu? Itu bukanlah ketundukan yang sejati. Bahkan sekalipun niatmu dalam melakukan sesuatu benar, Tuhan ingin mengatur berbagai hal dengan cara demikian. Engkau tidak perlu membela diri dan tidak perlu membantah. Apakah Ayub melakukan berbagai hal dengan lebih baik daripada engkau atau tidak? (Lebih baik.) Ketika Ayub diuji, jika dia berargumen dan membela dirinya sendiri, akankah Tuhan mendengarkan? Tidak, Dia tidak akan mendengarkan. Itulah faktanya. Tahukah Ayub bahwa Tuhan tidak mendengarkan pembelaan orang? Ayub tidak tahu, tetapi Ayub tidak membela diri. Itulah tingkat pertumbuhan yang dia miliki. Dia benar-benar telah tunduk. Hal buruk apakah yang Ayub lakukan sehingga Tuhan memperlakukannya seperti itu? Dia tidak melakukan apa pun yang buruk. Tuhan berkata bahwa Ayub takut akan Dia dan menjauhi kejahatan, dan bahwa Ayub adalah orang yang sempurna. Dalam kaitannya dengan konteks "penghinaan", Tuhan seharusnya tidak membuat Ayub menderita perlakuan yang merendahkan itu, tidak menyerahkannya kepada Iblis, serta tidak membiarkan Iblis mencobainya dan membuatnya kehilangan segala kepunyaannya. Jika dilihat dari sudut pandang orang-orang yang tidak tunduk, Ayub menderita kesukaran dan perlakuan merendahkan luar biasa, dan ketika menerima segala ujian itu, dia menanggung penghinaan dan memikul beban berat demi memperoleh berkat yang bahkan lebih besar lagi dari Tuhan setelahnya. Apakah itu benar? (Tidak.) Seperti itukah cara Ayub berpikir dan melakukan penerapan? (Tidak.) Bagaimana dia melakukan penerapan? Bagaimana dia menyikapi ujian itu? Dia tidak perlu menanggung. Dia pun tidak berpikir bahwa dia menderita perlakuan yang merendahkan. Apa yang dia pikirkan? (Tuhan memberi, dan Dia mengambil kembali.) Itu benar. Manusia berasal dari Tuhan. Tuhan memberimu hidup dan menganugerahimu napas. Engkau sepenuhnya berasal dari Tuhan, jadi bukankah segala hal yang engkau peroleh adalah pemberian Tuhan kepadamu? Apa yang dapat engkau sombongkan? Segalanya diberikan oleh Tuhan, jadi jika Tuhan ingin mengambilnya kembali, apakah ada yang perlu dibantah? Ketika Dia memberimu sesuatu, engkau gembira, dan ketika Dia tidak memberimu sesuatu, engkau tidak gembira, mengeluh tentang Tuhan, memintanya kepada Tuhan, dan berseteru dengan Tuhan. Terserah Tuhan apakah Dia memberimu sesuatu. Tidak ada yang bisa diperdebatkan manusia. Begitukah cara Ayub bertindak? (Ya.) Begitulah cara Ayub bertindak. Adakah rasa diperlakukan tidak adil dalam hatinya? (Tidak.) Tidak ada. Jika dilihat dari luar, Ayub memiliki argumen yang cukup untuk menyuarakan ketidakadilan, membuat pembenaran, membela diri, melawan Tuhan, dan menjelaskan segalanya kepada Tuhan secara jelas dan lugas. Dialah orang yang paling pantas melakukan hal-hal itu, tetapi apakah dia melakukannya? Tidak. Dia tidak berkata apa pun, dan hanya sedikit bertindak: Dia mengoyak jubahnya, mencukur kepalanya, kemudian tersungkur di tanah dan menyembah. Semua tindakan di atas membuat orang melihat Ayub sebagai orang yang seperti apa? Orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan serta orang yang sempurna. Apa definisi dari orang yang sempurna? Seseorang yang tidak menghakimi tindakan Tuhan dan justru memuji dan tunduk kepadanya, dan seberapa berat pun kesukaran yang mereka derita, tidak berkata, "Aku telah mengalami ketidakadilan. Ini adalah tindakan yang merendahkan." Seberapa berat pun kesukaran yang mereka derita, mereka tidak pernah menunjukkan atau mengucapkan satu patah kata pun yang seperti itu. Hal itu disebut apa? Orang tidak percaya menyebutnya "penyangkalan diri". Di mana letak logikanya? Apakah begitu kenyataannya? (Tidak.) "Penyangkalan diri" adalah penyakit jiwa, dan itu omong kosong. Tidak peduli seberapa besar atau pedihnya perkara yang Ayub hadapi, dia tidak pernah berargumen atau melawan Tuhan. Dia hanya tunduk. Apakah alasan pertamanya untuk tunduk? Takut akan Tuhan. Kemampuannya untuk tunduk berasal dari pemahamannya tentang Tuhan. Dia percaya bahwa segalanya berasal dari Tuhan dan bahwa segala yang Tuhan lakukan itu tepat.

Sejumlah pemimpin dan pengawas kelompok yang digantikan menangis tidak henti-hentinya, mengamuk, dan menjadi emosional. Mereka berpikir bahwa mereka mengalami ketidakadilan, mengeluh bahwa Tuhan tidak benar, dan merasa bahwa saudara-saudari seharusnya merasa bersalah karena telah menyingkapkan dan melaporkan mereka, sambil berkata, "Kalian tidak memiliki hati nurani. Aku sudah begitu baik kepada kalian, dan beginilah cara kalian membalasku! Tuhan tidak benar. Aku telah menderita begitu banyak ketidakadilan, tetapi Tuhan tidak melindungiku. Mereka memberhentikanku begitu saja dengan kasar. Kalian semua memandangku rendah, dan Tuhan memandangku rendah juga!" Mereka berpikir bahwa mereka telah diperlakukan secara sangat tidak adil dan mengamuk. Katakan kepada-Ku, dapatkah orang semacam itu tunduk? Menurut-Ku, itu tidak mudah. Jadi, tidakkah segalanya telah berakhir bagi mereka? Untuk apa engkau mengamuk? Jika engkau dapat menerimanya, terimalah itu. Jika engkau tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat tunduk kepada kebenaran, keluarlah dari rumah Tuhan! Jangan percaya kepada Tuhan—tidak ada yang memaksamu. Ketidakadilan apa yang ditimpakan kepadamu? Mengapa engkau mengamuk? Ini adalah rumah Tuhan. Jika engkau sanggup, pergilah dan mengamuklah di tengah masyarakat. Carilah raja-raja setan dan Iblis-Iblis, lalu mengamuklah di hadapan mereka. Jangan mengamuk di rumah Tuhan. Jika engkau diberhentikan dari jabatan sebagai pemimpin kelompok, lantas kenapa? Engkau masih dapat hidup meskipun tidak menjadi pemimpin kelompok, bukan? Apakah engkau tidak akan percaya kepada Tuhan jika engkau tidak menjadi pemimpin kelompok? Ayub menderita kesukaran yang begitu dahsyat, tetapi apa yang dia ucapkan? Dia tidak mengucapkan satu keluhan pun dan bahkan memuji Tuhan dengan berkata, "Terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). Apakah dia memuji nama Yahweh karena dia menerima ganjaran dan manfaat yang berlimpah-ruah? Tidak. Memang begitulah pemahaman Ayub dan caranya melakukan penerapan. Tidakkah itu terkait dengan karakter seseorang juga? (Ya.) Sejumlah orang berintegritas rendah, dan ketika sedikit saja disakiti, mereka berpikir bahwa mereka telah diperlakukan dengan sangat tidak adil dan bahwa semua orang di bawah kolong langit harus merasa bersalah dan meminta maaf kepada mereka. Orang-orang itu sangat menyusahkan! Bagaimana engkau menjelaskan kata "perlakuan yang merendahkan"? Menderita perlakuan yang merendahkan adalah kejadian umum di antara orang-orang tidak percaya, tetapi rumah Tuhan memiliki cara yang berbeda dalam menggambarkannya: menderita kesukaran dan perlakuan yang merendahkan demi memperoleh kebenaran adalah kesukaran yang harus diderita oleh manusia. Entah mereka dipangkas atau digantikan, orang yang memahami kebenaran tidak berpikir bahwa itu adalah perlakuan yang merendahkan. Mereka berpikir bahwa mereka layak menderita kesukaran dan bahwa orang tidak dapat tunduk kepada hal itu karena memiliki watak-watak rusak, tetapi itu bukan perlakuan yang merendahkan. Siapakah yang benar-benar mengalami perlakuan yang merendahkan? Tuhanlah yang menderita hal itu. Tuhan menyelamatkan umat manusia, tetapi mereka tidak mengerti. Begini, setelah Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka menyembah berhala. Ketika mereka tidak mempunyai apa pun untuk dimakan, mereka mengeluhkan Tuhan, dan Tuhan pun harus menurunkan manna dan makanan lain kepada mereka. Setelah beberapa hari yang baik-baik saja, mereka tidak lagi memedulikan Tuhan, tetapi ketika mereka menghadapi kesulitan, mereka mencari-Nya lagi. Jadi, bukankah Tuhan yang menderita penghinaan besar? Bukankah Tuhan yang berinkarnasilah yang menderita perlakuan yang luar biasa merendahkan ketika Dia ditolak dari masa ke masa? Manusia itu bukan apa-apa dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mereka menikmati banyak sekali kasih karunia dan kebenaran yang diberikan dan disediakan oleh Tuhan, tetapi mereka merasa diperlakukan secara sangat tidak adil ketika sedikit saja menderita kesukaran yang layak mereka terima. Ketidakadilan apakah yang mereka derita? Ada orang yang biasanya memiliki cukup ketangguhan, tetapi ketika sedikit saja menderita kesukaran, ketika saudara-saudari memangkas mereka, atau ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada mereka, atau ketika tidak ada yang mendukung atau menyanjung mereka, mereka tersinggung karena merasa bahwa mereka telah menderita kesukaran besar dan diperlakukan dengan tidak adil. Mereka pun mengeluh, "Kalian semua memandangku rendah, dan tidak ada yang memperhatikanku. Aku telah ditakdirkan untuk diperlakukan dengan buruk!" Untuk apa engkau mengamuk? Apakah gunanya mengatakan hal-hal seperti itu? Apakah ada dari kata-kata itu yang sejalan dengan kebenaran? (Tidak.) Jadi, apa itu sebenarnya? Apakah itu penghinaan? Engkau tidak mampu melihat kesukaran yang layak engkau derita secara jelas dan tidak menerimanya. Engkau sudah mendengarkan banyak sekali khotbah, tetapi tidak memahami cara orang seharusnya menerapkan kebenaran dan ketundukan. Engkau tidak mengetahui hal-hal itu dan masih saja berpikir bahwa engkau telah menderita semacam perlakuan yang sangat merendahkan. Bukankah engkau tidak masuk akal? Bagi orang yang menerima penyelamatan Tuhan, apakah perlakuan yang merendahkan itu ada? (Tidak.) Bahkan jika saudara-saudari jelas-jelas memperlakukanmu secara tidak adil, bagaimana seharusnya engkau mengalaminya? Misal, ada uang lima puluh dolar tergeletak di suatu tempat, dan, setelah engkau berjalan melewatinya, uang itu hilang, dan semua orang curiga bahwa engkaulah yang mengambilnya. Apa yang akan engkau lakukan? Dalam hati, engkau akan merasa frustrasi dan kesal: "Meskipun miskin, aku masih mempunyai martabat dan harga diri. Aku masih peduli dengan martabatku. Aku tidak pernah mengambil apa pun milik orang lain. Tanganku sepenuhnya bersih. Kalian selalu memandang rendah aku, dan akulah orang pertama yang kaucurigai ketika itu terjadi. Tuhan tidak menjernihkan keadaan untukku. Kelihatannya, Dia tidak menyukaiku juga!" Engkau mengamuk. Apakah itu termasuk penghinaan? (Tidak.) Jadi, engkau harus berbuat apa dalam keadaan seperti itu? Jika engkau yang mengambil, akuilah itu, dan berjanjilah untuk tidak pernah mengambil apa pun lagi. Jika tidak, katakanlah, "Aku tidak mengambilnya. Tuhan mengetahui relung hati manusia yang terdalam. Siapa pun yang mengambil uang itu mengetahuinya, dan Tuhan pun mengetahuinya. Aku tidak akan mengatakan apa pun lagi." Engkau tidak perlu berkata, "Kalian memandang rendah aku. Kalian semua ingin memperlakukanku dengan tidak adil." Apa gunanya mengatakan hal-hal seperti itu? Baikkah jika engkau mengatakan banyak hal semacam itu? (Tidak.) Mengapa tidak? Jika engkau mengatakan banyak hal semacam itu, itu membuktikan suatu fakta, yakni bahwa Tuhan tidak ada dalam hatimu, engkau tidak percaya kepada Tuhan, dan engkau tidak memiliki iman sejati kepada Tuhan. Ketika engkau mengatakan keadaan yang sebenarnya, Tuhan tahu. Dia mengetahui relung hati manusia yang terdalam dan memeriksa segala perkataan dan perbuatan orang. Seperti apa pun orang memandangnya, itu terserah mereka. Engkau percaya bahwa Tuhan mengetahui segala hal itu, dan engkau tidak perlu banyak berkata-kata. Apakah engkau perlu merasa tersinggung? Tidak, tidak perlu. Apakah pentingnya hal ini? Engkau merasa telah menderita ketidakadilan ketika engkau difitnah dan dihakimi karena percaya kepada Tuhan. Namun, dapatkah engkau membicarakan hal itu secara jelas? Dengan membela dirimu sendirian di hadapan mereka, engkau menunda hal yang sesungguhnya. Itu tidak ada gunanya, bukan? Apa gunanya membantah mereka? Itu bukanlah penerapan kebenaran.

Orang menderita banyak kesukaran dalam proses mengalami penyelamatan Tuhan. Apakah kesukaran yang orang derita itu adalah perlakuan yang merendahkan? (Bukan.) Jelas bukan. Mengapa Aku mengatakannya? (Karena memiliki watak-watak rusak, manusia harus menderita kesukaran itu.) Manusia memiliki watak-watak rusak. Itulah salah satu alasannya. Selain itu, tidak peduli aspek kebenaran mana pun yang tidak engkau pahami dan sisi mana pun dalam dirimu yang masih bersifat negatif, engkau dapat menyebutkannya dan bersekutu tentangnya. Engkau tidak perlu memendamnya dalam batinmu. Apa tujuan persekutuan? (Menyelesaikan masalah.) Mencari kebenaran, memahami kebenaran, dan menyelesaikan masalah yang ada di dalam batin. Engkau tidak perlu memendamnya dalam batinmu. Engkau tidak perlu menderita perlakuan yang merendahkan. Engkau tidak perlu menanggung dan berkata, "Aku tidak paham, tetapi aku masih saja dibuat tunduk. Aku harus paham sebelum tunduk." Jika tidak paham, engkau dapat bersekutu. Mencari kebenaran adalah jalan yang benar. Itu tidak salah. Ketika beberapa hal dipersekutukan dan dipaparkan secara jelas, orang akan mengetahui apa yang harus dilakukannya. Engkau harus menyimpan sikap dan menyelesaikan masalah dengan mencari kebenaran. Jika engkau tidak memahami kebenaran dan hanya menerapkan ketundukan, pada akhirnya engkau akan tetap tidak dapat menyelesaikan masalahmu. Oleh karena itu, sekalipun engkau dituntut untuk tunduk, engkau tidak dituntut untuk tunduk dengan cara yang membingungkan dan tanpa prinsip. Namun, ada prinsip paling dasar yang terkandung di dalam ketundukan, yaitu, ketika engkau tidak paham, engkau pertama-tama harus tunduk, memiliki hati yang tunduk, dan mempunyai sikap ketundukan. Itulah kerasionalan yang harus orang miliki. Setelah mencapai tahap itu, barulah engkau dapat mencari perlahan-lahan. Dengan cara itu, engkau akan terhindar dari perbuatan menyinggung watak Tuhan, dapat dilindungi, dan berhasil sampai ke ujung jalan. Apakah segala firman yang Tuhan gunakan untuk menyingkapkan, mengutuk, menghakimi, dan bahkan melaknat orang dimaksudkan untuk menghina mereka? (Tidak.) Apakah orang perlu kesabaran luar biasa untuk menanggung semua itu? (Tidak.) Tidak, tidak perlu. Sebaliknya, orang memerlukan iman yang luar biasa untuk menerima semua itu. Hanya dengan menerima hal inilah engkau sungguh dapat memahami natur rusak Iblis yang sebenarnya, esensi rusak manusia yang sebenarnya, apa sebenarnya sumber permusuhan manusia terhadap Tuhan, dan penyebab ketidaksesuaian antara manusia dengan Tuhan. Engkau harus mencari kebenaran dalam firman Tuhan sebelum dapat menyelesaikan masalah-masalah itu. Jika engkau tidak menerima kebenaran dan, tidak peduli sejelas apa pun firman Tuhan menyatakan berbagai hal, engkau tidak menerimanya, engkau tidak akan pernah menyelesaikan masalah-masalah itu. Bahkan sekalipun engkau memahami bahwa "firman Tuhan tidak menghina kita, tetapi hanya menyingkapkan kita untuk kebaikan kita sendiri", engkau hanya mengakuinya dari segi doktrin. Engkau tidak akan pernah memahami makna sesungguhnya dari segala hal yang Tuhan katakan atau hasil yang ingin Tuhan capai lewat kata-kata itu. Engkau juga tidak akan memahami kebenaran apa yang sesungguhnya Tuhan bicarakan. Setelah bersekutu dengan cara demikian, bukankah mungkin, sampai taraf tertentu, untuk membuat orang memiliki sikap proaktif dan positif terhadap menerima pemangkasan, menerima penggantian, dan menerima pekerjaan, penataan, dan kedaulatan yang Tuhan lakukan, yang tidak selaras dengan gagasan-gagasan manusia? (Ya.) Setidak-tidaknya, orang akan berpikir bahwa segala hal yang Tuhan lakukan itu benar, bahwa mereka tidak boleh memahaminya secara negatif, dan bahwa sikap yang terlebih dahulu harus mereka miliki adalah secara aktif menerima, tunduk, dan kemudian bekerja sama dengannya. Segala yang Tuhan lakukan kepada manusia tidak menuntut mereka untuk memiliki kesabaran yang luar biasa. Artinya, engkau tidak perlu menanggung semua hal itu. Apa yang perlu engkau lakukan? Yang perlu engkau lakukan adalah menerima, mencari, dan tunduk. Istilah "menanggung penghinaan" yang digunakan oleh orang tidak percaya jelas-jelas adalah istilah yang merendahkan manusia. Tidak ada perbuatan Tuhan yang menuntutmu untuk menanggung penghinaan. Engkau dapat menerapkan kesabaran, kasih, kerendahan hati, serta ketundukan, penerimaan, kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan untuk mencari. Hal-hal itu cukup positif. Jadi, apa logika di balik perkataan orang tidak percaya itu? Itu adalah falsafah Iblis dan tipuan setan. Simpulannya, menanggung penghinaan bukanlah prinsip yang harus ditaati oleh mereka yang percaya kepada Tuhan. Itu bukanlah kebenaran. Itu adalah hal yang bersifat Iblis. Menanggung penghinaan bukanlah sesuatu yang Tuhan tuntut untuk dilakukan oleh manusia karena tidak ada penghinaan yang di dalamnya. Segala perbuatan Tuhan terhadap manusia adalah tindakan yang mengasihi, menyelamatkan, menjaga, dan melindungi mereka. Hal-hal yang Tuhan katakan dan pekerjaan yang Dia lakukan bagi manusia semuanya bersifat positif dan semuanya adalah kebenaran. Tidak ada sedikit pun di antaranya yang sama dengan perkataan serta pekerjaan Iblis, dan di situ tidak terdapat metode-metode dan cara-cara Iblis. Orang baru dapat disucikan dan diselamatkan hanya dengan menerima firman Tuhan.

Dengan cara apa tindakan "menanggung penghinaan" yang disampaikan oleh Iblis terwujud dalam diri manusia? Pandangan itu terwujud dalam bentuk tindakan yang melukai, melecehkan, merusak, dan menginjak-injak. Intinya, pandangan itu membawa malapetaka bagimu. Tidak peduli apakah engkau telah menderita kesukaran atau perlakuan yang merendahkan, pendek kata, apa pun yang akhirnya orang dapatkan dari hal-hal yang ditentukan oleh Iblis bagi mereka pastilah bukan kebenaran. Apa yang mereka dapatkan? Kepedihan. Pengaruh Iblis dalam diri manusia adalah beraneka macam bentuk penghinaan dan cemoohan serta pelecehan dan kerusakan. Jadi, dampak dan perasaan seperti apa yang diakibatkan oleh ungkapan di atas dalam diri manusia? Ungkapan itu mendorong manusia untuk menanggung perlakuan tidak adil dan menyesuaikan diri agar dapat melindungi diri sendiri, dan bahkan membuat batin mereka kacau. Orang belajar untuk menggunakan segala macam taktik dan metode untuk menangani dan menyikapi semua hal itu serta belajar untuk bermulut manis pada orang lain, berpura-pura, dan berkata palsu. Ketika orang mengungkapkan dan mewujudkan semua hal itu, apakah hati mereka ikhlas, gembira, dan damai, atau marah dan pedih? (Marah dan pedih.) Makin mereka menanggung penghinaan di dunia ini, apakah kemarahan dalam hati mereka makin bertambah atau berkurang? (Bertambah.) Lalu, apakah orang memandang umat manusia dengan cara yang makin memusuhi, atau mengasihi? (Memusuhi.) Orang memandang umat manusia dengan sikap memusuhi yang makin besar dan membenci setiap orang yang mereka jumpai. Ketika masih muda dan baru saja terjun ke masyarakat, orang melihat bahwa segalanya indah, dan mereka mudah sekali memercayai orang. Ketika menginjak usia tiga puluhan, mereka tidak semudah itu lagi memercayai orang. Ketika menginjak usia empat puluhan, mereka tidak memercayai kebanyakan orang, dan ketika menginjak usia lima puluhan, hati mereka penuh dengan kebencian dan mereka cenderung mudah berubah dan menyakiti orang. Sebelum dipenuhi oleh kebencian, hal-hal apakah yang mereka tanggung? Semuanya adalah perlakuan yang merendahkan dan kepedihan. Jika engkau tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki oleh orang lain, ketika mereka mengatakan sesuatu tentang dirimu, engkau harus secepatnya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Lalu, ketika mereka mencacimu, engkau harus mendengarkan. Tidak ada yang dapat engkau lakukan, tetapi apa yang engkau pikirkan dalam hati? "Suatu hari, ketika berkuasa, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri dan memusnahkan keluargamu hingga tiga keturunan!" Kebencian dalam hatimu tumbuh makin kuat dan makin kuat. Itulah dampak dari menanggung penghinaan dan memikul beban berat terhadap umat manusia yang rusak. Orang menganggap bahwa menanggung penghinaan dan memikul beban berat, yang dipuji dan didukung oleh masyarakat, sebagai hal positif, dan bahwa mentalitas dan pola pikir semacam itu memungkinkan orang untuk bekerja keras dan berusaha menjadi lebih kuat. Jadi, mengapa prinsip itu pada akhirnya mengakibatkan kemarahan dan kebencian dalam diri manusia? (Karena itu bukanlah kebenaran.) Itu benar. Prinsip itu menghasilkan dampak negatif karena itu bukanlah kebenaran. Hal apa yang menimbulkan kebencian dan pembunuhan akibat dendam selama bergenerasi-generasi dalam masyarakat dan kalangan gangster? (Setelah orang direndahkan, kebencian dalam hati mereka berkembang dan mereka membunuh karena dendam.) Itu benar. Seperti itulah timbulnya pembunuhan karena dendam. Dari generasi ke generasi, orang-orang membunuh satu sama lain secara brutal hingga umat manusia hancur karena bencana. Itulah dampaknya. Umat manusia hidup menurut falsafah dan logika Iblis serta perlahan berkembang hingga saat ini berada di bawah kuasa Iblis. Hubungan antar manusia makin kacau, makin jauh, makin penuh kecurigaan, dan makin dingin. Sudah sampai ke titik manakah keadaannya sekarang? Keadaannya telah mencapai titik di mana hati dua manusia tidak lagi terpaut satu sama lain dan dipenuhi oleh rasa saling benci dan memusuhi. Dahulu, tetangga sering berhubungan dan kerap berinteraksi satu sama lain. Namun, kini seseorang mungkin telah meninggal selama lima hingga enam hari, dan tetangganya tidak mengetahuinya. Tidak ada yang memeriksa keadaan mereka. Mengapa keadaannya bisa sampai ke titik itu? Sebabnya adalah rasa saling benci. Engkau tidak ingin orang lain memusuhimu, tetapi pada saat yang sama, engkau memusuhi orang lain. Itu adalah lingkaran setan. Itulah dampak negatif dan bencana yang ditimbulkan oleh hukum Iblis pada umat manusia. Pandangan dan kesan dalam hati orang terhadap sesamanya makin negatif sehingga mereka makin ahli dalam menanggung penghinaan dan memikul beban berat, lalu kemarahan dan kebencian dalam hati mereka berkembang hingga akhirnya mereka berkata, "Akan lebih baik jika mereka semua mati saja dan tidak ada seorang pun yang hidup!" Tidakkah hati semua orang penuh dengan kebencian semacam itu? Mereka berharap dunia ini dimusnahkan secepat mungkin, "Kejahatan semua orang telah mendarah daging. Mereka pantas dimusnahkan!" Engkau berkata bahwa kejahatan orang lain telah mendarah daging, tetapi bagaimana dengan dirimu sendiri? Mungkinkah engkau telah benar-benar berubah? Sudahkah engkau memperoleh keselamatan? Jika membenci orang lain karena kejahatan mereka yang telah mendarah daging, engkau seharusnya lebih baik daripada mereka. Jika engkau ternyata sama jahatnya seperti orang-orang dunia, engkau tidak mempunyai nalar. Ketika seseorang yang bernalar melihat bahwa kejahatan umat manusia telah mendarah daging, dia harus mencari kebenaran dan hidup dalam keserupaan dengan manusia untuk menyenangkan Tuhan. Itulah perbuatan yang pantas. Dengan demikian, ketika Tuhan memusnahkan umat manusia yang jahat, mereka akan diselamatkan.

Apakah engkau semua membenci umat manusia yang jahat ini? (Ya.) Sebagian besar orang yang percaya kepada Tuhan memiliki sejumlah kemanusiaan dan nalar. Hati mereka lebih baik, mereka mendambakan terang, dan mereka sangat ingin agar Tuhan dan kebenaran berkuasa. Mereka tidak menyukai hal-hal yang jahat dan tidak adil. Seharusnya, mereka penuh dengan harapan, kasih, dan toleransi terhadap umat manusia, jadi bagaimana bisa mereka membenci umat manusia? Ada yang berkata, "Dahulu, saat aku masih sekolah, ada guru yang merundungku, tetapi aku tidak berani mengungkapkannya. Aku hanya dapat menanggungnya. Jadi, kubulatkan tekadku untuk belajar dengan keras dan masuk universitas nanti. Akan kutunjukkan kepada kalian diriku yang sebenarnya, lalu akulah yang akan merundung kalian!" Ada yang berkata, "Saat dahulu aku bekerja, orang-orang kuat di perusahaan selalu merundungku, dan aku berpikir, 'Tunggu saja hingga tiba saatnya aku mengalahkan kalian dengan prestasiku. Lalu, akan kubuat hidup kalian menderita!'" Ada juga yang berkata, "Dahulu saat aku menjalankan usaha, manajer vendor selalu menggelapkan uangku, dan aku berpikir, 'Ketika tiba saatnya aku menghasilkan keuntungan besar, akan kubalas kau!'" Tidak ada orang yang hidupnya enak, dan selalu ada masanya ketika mereka dirundung. Selalu ada orang yang mereka benci dalam hati dan yang ingin mereka balas. Seperti itulah perkembangan dunia saat ini: penuh kebencian dan permusuhan. Permusuhan manusia terhadap sesamanya begitu ekstrem sehingga mereka tidak dapat hidup bersama dengan rukun dan saling bersahabat. Dunia ini akan dihabisi sebentar lagi. Dunia ini telah mencapai batas akhirnya. Setiap orang mempunyai kisah memilukan dalam hatinya dari masa ketika dia dirundung oleh seseorang di suatu tempat, atau ketika dia dihina, dipandang rendah, ditipu, atau dirugikan oleh orang lain di suatu perusahaan, lembaga, atau kelompok. Hal-hal itu terjadi di mana-mana. Itu membuktikan apa? Itu membuktikan bahwa umat manusia tidak lagi memiliki orang seperti Nuh di antara mereka. Begitukah kenyataannya? (Ya.) Hati setiap orang penuh kejahatan serta permusuhan terhadap kebenaran, hal-hal positif, dan keadilan. Manusia sudah tidak mungkin diselamatkan. Tidak ada orang, ajaran, dan teori yang dapat menyelamatkan manusia. Itulah kenyataannya. Sejumlah orang masih berharap, "Kapan perang dunia terjadi? Setelah perang itu, semuanya yang layak mati akan mati, dan orang yang tersisa dapat memulai lembaran baru. Era baru akan dimulai, dan negara baru akan berdiri." Mungkinkah itu? Tidak, tidak mungkin. Sejumlah orang menaruh harapan mereka pada berbagai macam agama, tetapi agama-agama itu hampir runtuh, dan mereka sedang sekarat. Setiap agama busuk hingga ke akarnya dan memiliki reputasi yang buruk. Apa yang Kumaksudkan dengan kata-kata itu? Kata-kata itu dimaksudkan untuk membuat orang memahami satu fakta, yakni jika Tuhan tidak menggunakan firman dan kebenaran untuk menyelamatkan kemanusiaan, watak kebencian dan kekejian dalam batin manusia hanya akan makin parah dan bertumbuh subur. Pada akhirnya, kemungkinan satu-satunya bagi umat manusia adalah bahwa mereka akan memusnahkan diri mereka sendiri karena orang saling bunuh satu sama lain secara keji. Saat ini, banyak orang ingin menghindari kumpulan ras manusia jahat itu dan pergi untuk hidup sendirian jauh di pegunungan dan hutan, atau di tempat-tempat yang tidak ada jejak manusianya. Apakah dampak dari hal itu? Umat manusia tidak akan lagi berlipat ganda dan tidak akan ada lagi generasi baru. Umat manusia akan punah setelah generasi yang sekarang. Tidak akan ada lagi keturunan. Perlawanan umat manusia terhadap Tuhan terlalu parah, yang sudah memancing murka-Nya sejak awal. Mereka akan dihabisi tidak lama lagi. Mengapa ada begitu banyak orang yang tidak menikah? Karena mereka takut ditipu, tidak percaya lagi bahwa masih ada orang baik, dan dipenuhi oleh sikap permusuhan terhadap pernikahan. Siapakah yang harus disalahkan? Salahkanlah orang-orang yang terlalu rusak, salahkanlah Iblis dan setan-setan, dan salahkanlah orang-orang yang bersedia menerima kerusakan. Engkau membenci orang lain, tetapi apakah engkau benar-benar lebih baik daripada mereka? Engkau tidak memiliki kebenaran dan membenci orang lain itu tidak ada gunanya. Jika orang tidak memiliki kebenaran dan tidak memahami kebenaran, mereka akhirnya akan mencapai jalan buntu, jatuh ke dalam bencana, dan dimusnahkan. Itulah akhir yang akan menimpa mereka. Jika Tuhan tidak menyelamatkan umat manusia, tidak akan ada satu orang pun di antara umat manusia yang rusak yang dapat memahami kebenaran.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp