Firman Tuhan Harian: Mengenal Tuhan | Kutipan 43

16 Februari 2021

Iblis Sekali Lagi Mencobai Ayub (Bisul yang Busuk Bermunculan di Sekujur Tubuh Ayub) (Bagian-bagian Pilihan)

a. Perkataan yang Diucapkan oleh Tuhan

Ayub 2:3 Lalu Yahweh berkata kepada Iblis, "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Dia tetap memegang teguh kesalehannya, sekalipun engkau telah membujuk Aku untuk melawannya, menghancurkannya tanpa alasan."

Ayub 2:6 Maka Yahweh berfirman kepada Iblis: "Lihat dia ada dalam tanganmu; tetapi sayangkan nyawanya."

b. Perkataan yang Diucapkan oleh Iblis

Ayub 2:4-5 Dan Iblis menjawab Yahweh, dan berkata: "Kulit ganti kulit! Ya, semua yang dimiliki manusia akan diberikannya ganti nyawanya. Tetapi ulurkan tangan-Mu dan sentuhlah tulang dan dagingnya, maka dia pasti akan mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

c. Bagaimana Ayub Menangani Ujian

Ayub 2:9-10 Lalu kata istrinya kepadanya: "Apakah engkau masih mempertahankan kesalehanmu? Kutukilah Tuhan dan matilah!" Tetapi dia menjawab istrinya: "Engkau berbicara seperti perempuan bodoh. Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" Dalam semua ini Ayub tidak berdosa dengan bibirnya.

Ayub 3:3 Kiranya hari kelahiranku lenyap, dan malam yang mengatakan, Ada anak lelaki sedang dikandung.

Cinta Ayub akan Jalan Tuhan Melampaui Segalanya

Alkitab mencatat perkataan yang diucapkan antara Tuhan dan Iblis sebagai berikut: "Lalu Yahweh berkata kepada Iblis, Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Dia tetap memegang teguh kesalehannya, sekalipun engkau telah membujuk Aku untuk melawannya, menghancurkannya tanpa alasan" (Ayub 2:3). Dalam percakapan ini, Tuhan mengulangi pertanyaan yang sama kepada Iblis. Ini adalah pertanyaan yang menunjukkan kepada kita penilaian tegas Tuhan Yahweh mengenai apa yang ditunjukkan dan dihidupi oleh Ayub selama ujian pertama, dan penilaian yang tidak berbeda dengan penilaian Tuhan tentang Ayub sebelum dia mengalami pencobaan Iblis. Dengan kata lain, sebelum pencobaan itu menimpanya, di mata Tuhan, Ayub tak bercela, dan dengan demikian Tuhan melindungi dia dan keluarganya, dan memberkatinya; dia layak diberkati di mata Tuhan. Setelah pencobaan, Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya karena dia telah kehilangan harta benda dan anak-anaknya, tetapi terus memuji nama Yahweh. Perilaku nyata yang ditunjukkannya membuat Tuhan memujinya, dan karena itu, Tuhan memberinya nilai sempurna. Karena di mata Ayub, keturunannya atau kekayaannya tidak cukup untuk membuatnya meninggalkan Tuhan. Dengan kata lain, tempat Tuhan di dalam hatinya tidak dapat digantikan oleh anak-anaknya atau harta benda apa pun. Selama pencobaan pertama Ayub, dia menunjukkan kepada Tuhan bahwa kasihnya kepada Tuhan dan cintanya pada jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan melampaui segalanya. Ujian ini semata-mata memberi Ayub pengalaman menerima upah dari Tuhan Yahweh serta harta benda dan anak-anaknya diambil oleh-Nya.

Bagi Ayub, ini adalah pengalaman sejati yang mencuci bersih jiwanya, ini adalah baptisan kehidupan yang memenuhi keberadaannya, dan selain itu, ini adalah pesta mewah yang menguji ketaatannya dan rasa takutnya akan Tuhan. Pencobaan ini mengubah kedudukan Ayub dari orang kaya menjadi orang yang tidak punya apa-apa, dan ini juga membuat Ayub mengalami penyiksaan Iblis terhadap umat manusia. Kemelaratannya tidak menyebabkan dia membenci Iblis; sebaliknya, dalam tindakan keji Iblis dia melihat keburukan dan kehinaan Iblis, serta permusuhan dan pemberontakan Iblis terhadap Tuhan, dan ini semakin mendorongnya untuk selamanya berpegang teguh pada jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dia bersumpah bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Tuhan dan berpaling dari jalan Tuhan oleh karena faktor lahiriah seperti harta benda, anak-anak atau kerabat, dan dia juga tidak akan pernah menjadi budak Iblis, budak harta, atau budak siapa pun; selain Tuhan Yahweh, tidak ada yang bisa menjadi Tuannya atau Tuhannya. Begitulah harapan Ayub. Di sisi lain, Ayub juga memperoleh sesuatu dari pencobaan ini: dia memperoleh kekayaan besar di tengah ujian yang diberikan Tuhan kepadanya.

Selama hidup Ayub di sepanjang beberapa puluh tahun sebelumnya, dia telah melihat perbuatan Yahweh dan memperoleh berkat Tuhan Yahweh untuk dirinya. Semua itu adalah berkat yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman dan berutang, karena dia percaya bahwa dia belum melakukan apa pun untuk Tuhan, tetapi telah diwariskan dengan berkat yang begitu besar dan menikmati begitu banyak kasih karunia. Karena alasan ini, dia sering berdoa di dalam hatinya, berharap bahwa dia akan mampu membalas kebaikan Tuhan, berharap bahwa dia akan mendapat kesempatan untuk memberi kesaksian tentang perbuatan dan kebesaran Tuhan, dan berharap bahwa Tuhan akan menguji ketaatannya, dan selain itu, berharap imannya dapat dimurnikan, sampai ketaatan dan imannya memperoleh perkenanan Tuhan. Kemudian, ketika ujian menimpa Ayub, dia percaya bahwa Tuhan telah mendengar doanya. Ayub menghargai kesempatan ini lebih dari apa pun, dan dengan demikian dia tidak berani menyepelekannya, karena keinginannya yang terbesar seumur hidup dapat terwujud. Datangnya kesempatan ini berarti bahwa ketaatan dan takutnya akan Tuhan dapat diuji, dan dapat disucikan. Selain itu, itu berarti bahwa Ayub mendapat kesempatan untuk memperoleh perkenanan Tuhan, sehingga membuatnya semakin dekat dengan Tuhan. Selama ujian, iman dan pengejaran seperti ini memungkinkan Ayub untuk menjadi lebih tidak bercela, dan mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang kehendak Tuhan. Ayub juga menjadi lebih bersyukur atas berkat dan kasih karunia Tuhan, di dalam hatinya dia memberikan pujian yang lebih besar atas perbuatan Tuhan, dan dia semakin takut dan hormat kepada Tuhan, dan lebih rindu akan keindahan, kebesaran, dan kekudusan Tuhan. Pada saat ini, meskipun di mata Tuhan Ayub tetap merupakan orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, sehubungan dengan pengalamannya, iman dan pengetahuan Ayub telah maju dengan pesat: imannya telah meningkat, ketaatannya semakin mantap, dan rasa takutnya akan Tuhan menjadi semakin mendalam. Meskipun ujian ini mengubah roh dan kehidupan Ayub, perubahan semacam ini tidak memuaskan Ayub, dan perubahan ini juga tidak memperlambat kemajuannya. Pada saat yang sama ketika menghitung apa yang telah dia peroleh dari ujian ini, dan mempertimbangkan kekurangannya sendiri, dia diam-diam berdoa, menunggu ujian berikut untuk dialaminya, karena dia sangat ingin iman, ketaatan, dan rasa takutnya akan Tuhan menjadi semakin meningkat selama ujian dari Tuhan selanjutnya.

—Firman, Vol. 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"

All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.

Lihat lebih banyak

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Bagikan

Batalkan

Hubungi kami via WhatsApp