Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Perkataan Kristus pada Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Keluhan Yang Mahakuasa

Ada rahasia yang sangat besar di dalam hatimu, yang belum pernah kausadari, karena selama ini engkau hidup dalam dunia tanpa cahaya. Hati dan rohmu telah direnggut oleh si jahat. Matamu dikaburkan oleh kegelapan, dan engkau tidak dapat melihat baik matahari di langit maupun bintang yang berkelap-kelip di malam hari. Telingamu tersumbat oleh kata-kata dusta dan engkau tidak mendengar suara Yahweh yang bergemuruh, maupun suara air terjun yang mengalir dari takhta. Engkau telah kehilangan segala sesuatu yang seharusnya menjadi hak milikmu, semua hal yang telah dianugerahkan Yang Mahakuasa kepadamu. Engkau telah memasuki lautan penderitaan tak bertepi, tanpa kuasa pertolongan, tanpa harapan untuk kembali hidup-hidup, dan satu-satunya yang kaulakukan hanyalah berjuang dan senantiasa bergerak .... Sejak saat itu, engkau ditakdirkan untuk disengsarakan oleh si jahat, dijauhkan dari berkat-berkat Yang Mahakuasa, berada di luar jangkauan pembekalan Yang Mahakuasa, menapaki jalan tanpa bisa kembali. Jutaan panggilan pun sulit membangunkan hati dan rohmu. Engkau tertidur lelap di tangan si jahat, yang telah memikatmu ke dalam alam tanpa batas, tanpa tujuan, dan tanpa petunjuk jalan. Selanjutnya, engkau kehilangan kemurnian dan kesucianmu yang mula-mula, dan mulai bersembunyi dari pemeliharaan Yang Mahakuasa. Di dalam hatimu, si jahat mengarahkanmu dalam segala hal dan ia telah menjadi hidupmu. Engkau tak lagi takut terhadapnya, atau menghindarinya, atau meragukannya; engkau justru memperlakukannya sebagai Tuhan dalam hatimu. Engkau mulai memuja dan menyembahnya, kalian berdua menjadi tidak terpisahkan, bagaikan tubuh dan bayangannya, saling berkomitmen sehidup semati. Engkau sama sekali tidak tahu dari mana asalmu, alasan engkau dilahirkan, atau alasan engkau akan mati. Engkau memandang Yang Mahakuasa seperti sosok asing; engkau tidak mengenal asal-usul-Nya, apalagi segala sesuatu yang telah Dia lakukan untuk engkau. Semua hal yang berasal dari-Nya telah menjadi semakin memuakkan bagimu. Engkau tidak menghargainya maupun memahami nilainya. Engkau berjalan berdampingan dengan si jahat, semenjak hari engkau mulai menerima perbekalan Yang Mahakuasa. Engkau dan si jahat berjalan bersama-sama melewati ribuan tahun penuh angin ribut dan badai, dan bersama dengannya, engkau berdiri melawan Tuhan, yang merupakan sumber kehidupanmu. Engkau tidak mengetahui apa pun tentang pertobatan, apalagi mengetahui bahwa engkau telah tiba di ambang kebinasaan. Engkau lupa bahwa si jahat telah mencobai engkau dan membuatmu sengsara; engkau telah melupakan asal-usulmu. Dengan demikian, si jahat telah menghancurkanmu, selangkah demi selangkah, bahkan sampai hari ini. Hati dan rohmu mati rasa dan membusuk. Engkau telah berhenti mengeluhkan tentang gangguan dunia manusia, dan tidak lagi percaya bahwa dunia ini tidak adil. Engkau bahkan lebih tidak memedulikan apakah Yang Mahakuasa itu ada. Ini terjadi karena engkau telah menganggap si jahat sebagai bapamu yang sejati, dan tidak dapat terpisah lagi darinya. Inilah rahasia di dalam hatimu.

Ketika fajar menyingsing, bintang fajar mulai bersinar di timur. Bintang ini belum pernah ada di sana sebelumnya. Bintang itu menyinari langit yang masih berbintang dan menyalakan kembali cahaya yang padam di hati manusia. Umat manusia tidak lagi kesepian karena cahaya ini, yang menyinarimu juga orang-orang yang lain. Namun, hanya engkau sendirilah yang tetap terlelap di tengah malam yang gelap. Engkau tidak dapat mendengar suara maupun melihat cahaya itu, tidak menyadari datangnya langit dan bumi yang baru, tibanya zaman baru, karena bapamu memberitahukan kepadamu, "Anakku, jangan bangun, sekarang masih terlalu pagi. Hawanya dingin, jangan pergi ke luar, jika tidak, pedang dan tombak akan menusuk matamu." Engkau hanya percaya pada peringatan bapamu, karena engkau percaya bahwa hanya bapamulah yang benar, karena bapamu lebih tua daripada engkau, dan bahwa bapamu begitu mengasihimu. Peringatan dan kasih yang seperti itu membuat engkau berhenti percaya pada legenda bahwa ada cahaya di dunia, dan berhenti memedulikan apakah kebenaran masih ada di dunia ini. Engkau tidak lagi berani mengharapkan pertolongan dari Yang Mahakuasa. Engkau puas dengan keadaanmu sekarang, tidak lagi menanti-nantikan datangnya cahaya, dan tidak lagi mencari kedatangan Yang Mahakuasa sebagaimana dikisahkan dalam legenda. Sejauh yang kauketahui, semua yang indah tidak dapat dihidupkan kembali, maupun dapat tetap ada. Hari esok umat manusia, masa depan umat manusia, sirna dan sepenuhnya binasa di depan matamu. Engkau mencengkeram pakaian bapamu sekuat tenaga, bahagia bisa berbagi kesukaran dengannya, takut kehilangan teman seperjalanan dan "arah" perjalananmu yang jauh. Dunia manusia yang luas dan berkabut telah membentuk banyak di antaramu, pantang mundur dan berani mengisi berbagai peran di dunia ini. Hal itu telah menciptakan banyak "pejuang" yang sama sekali tidak takut mati. Lebih dari itu, keadaan itu telah menciptakan kumpulan demi kumpulan manusia yang mati rasa dan lumpuh, yang tidak mengetahui tujuan penciptaan mereka. Mata Yang Mahakuasa mengamat-amati tiap-tiap umat manusia yang begitu sengsara. Hal yang didengar-Nya adalah ratapan mereka yang menderita, yang dilihat-Nya adalah sikap tidak tahu malu mereka yang sengsara, dan yang dirasakan-Nya adalah keputusasaan dan ketakutan umat manusia yang telah kehilangan anugerah keselamatan. Umat manusia menolak pemeliharaan-Nya, memilih berjalan di jalan mereka sendiri, dan berusaha menghindari pengawasan mata-Nya, lebih suka menikmati kepahitan laut yang dalam, hingga tetes terakhir, ditemani oleh si musuh. Keluhan Yang Mahakuasa tidak dapat terdengar lagi oleh umat manusia. Tangan Yang Mahakuasa tidak bersedia lagi membelai umat manusia yang memilukan ini. Dia mengulangi pekerjaan-Nya, berkali-kali menangkap kembali, dan berulang kali kehilangan lagi, dan sejak saat itu, Dia mulai merasa lelah, merasa jemu, sehingga Dia akhirnya menghentikan pekerjaan yang sedang dilakukan-Nya, dan berhenti berkelana di tengah umat manusia .... Umat manusia sama sekali tidak menyadari tentang perubahan-perubahan ini, tidak menyadari kedatangan dan kepergian, kepiluan dan kemurungan Yang Mahakuasa.

Segala sesuatu yang ada di dunia ini dengan cepat berubah seiring pemikiran Yang Mahakuasa dan di bawah tatapan-Nya. Hal-hal yang belum pernah didengar umat manusia dapat mendadak terjadi, sedangkan hal-hal yang sudah lama dimiliki umat manusia dapat menghilang tanpa disadari. Tidak seorang pun dapat menyelami di mana Yang Mahakuasa berada, dan terlebih lagi, tidak seorang pun dapat merasakan transendensi dan kehebatan daya kehidupan Yang Mahakuasa. Dia transenden karena mampu memahami apa yang tidak dapat dipahami manusia. Dia hebat karena Dialah sosok yang ditinggalkan oleh umat manusia, namun menyelamatkan umat manusia. Dia memahami arti kehidupan dan kematian, dan terlebih lagi, Dia tahu aturan yang tepat untuk mengendalikan kehidupan umat manusia yang diciptakan-Nya. Dialah landasan yang menjadi tumpuan keberadaan hidup umat manusia, dan Dialah Sang Penebus yang membangkitkan kembali umat manusia. Dia menekan hati yang bahagia dengan dukacita dan mengangkat hati yang bersedih dengan kebahagiaan, semua ini demi pekerjaan-Nya, dan demi rencana-Nya.

Umat manusia, setelah meninggalkan pembekalan kehidupan dari Yang Mahakuasa, tidak mengetahui tujuan keberadaan hidup mereka, tetapi tetap saja takut akan kematian. Mereka tanpa bantuan maupun dukungan, tetapi tetap enggan menutup mata mereka, dan mereka menguatkan diri untuk menjalani keberadaan hidup mereka yang hina di dunia ini, sekarung daging tanpa jiwa di dalamnya. Engkau hidup dengan cara seperti ini, tanpa harapan, sama halnya dengan orang lain, tanpa tujuan. Di dalam legenda, hanya Yang Mahakuduslah yang akan datang untuk menyelamatkan mereka yang mengerang di tengah penderitaan dan sangat mendambakan kedatangan-Nya. Sejauh ini, keyakinan ini belum terwujud dalam diri mereka yang kurang memiliki kesadaran. Kendati demikian, orang-orang masih begitu merindukannya. Yang Mahakuasa memiliki belas kasihan untuk orang-orang yang sudah sangat menderita ini. Sementara itu, Dia muak dengan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran karena Dia sudah terlalu lama menunggu jawaban dari umat manusia. Dia ingin mencari, Dia hendak mencari hati dan rohmu, untuk membawakanmu air dan makanan, serta membangunkanmu, agar engkau tidak akan haus dan lapar lagi. Ketika engkau letih dan ketika engkau mulai merasakan adanya kehampaan suram di dunia ini, jangan kebingungan, jangan menangis. Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Penjaga, akan menyambut kedatanganmu kapan pun. Dia berjaga di sampingmu, menunggumu untuk berbalik. Dia menunggu hari ketika engkau tiba-tiba memperoleh kembali ingatanmu: menyadari kenyataan bahwa engkau berasal dari Tuhan, tetapi entah bagaimana, engkau kehilangan arah, entah bagaimana engkau jatuh tidak sadarkan diri di tepi jalan, kemudian entah bagaimana, engkau mendapatkan seorang "bapa". Lebih dari itu, engkau menyadari bahwa Yang Mahakuasa selama ini selalu ada di sana, mengamati, menantikan engkau kembali, sudah begitu lama. Dia telah mengamati dengan kerinduan memilukan, menunggu respons tanpa jawaban. Penjagaan-Nya begitu tidak ternilai dan dilakukan demi hati dan roh manusia. Mungkin penjagaan ini tidak berbatas waktu, dan mungkin penjagaan ini sedang berakhir. Namun, engkau harus tahu persis di mana hati dan rohmu berada saat ini juga.

28 Mei 2003

Sebelumnya:Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia

Selanjutnya:Manusia Hanya Dapat Diselamatkan dalam Pengelolaan Tuhan

media terkait