Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (11) Bagian Dua

Berkenaan dengan pepatah tentang perilaku moral dalam budaya tradisional, pepatah mana yang kita persekutukan terakhir kali? (Kita mempersekutukan tiga pepatah, yaitu "Sedikit kebaikan harus dibalas dengan banyak kebaikan", "Jangan memaksa orang lain melakukan apa yang kau sendiri tak ingin melakukannya", dan "Aku bersedia mengorbankan diri untuk seorang teman".) Sebelumnya, kita mempersekutukan tiga tuntutan dan pepatah tentang perilaku moral juga mengenai esensi pepatah tentang perilaku moral. Apa yang telah kita persekutukan mengenai esensi pepatah tentang perilaku moral? (Tuhan berbicara tentang perbedaan antara pepatah tentang perilaku moral dan kebenaran. Pepatah tentang perilaku moral hanya membatasi perilaku orang dan membuat mereka hanya mematuhi aturan, sedangkan kebenaran firman Tuhan memberi tahu manusia prinsip-prinsip kebenaran yang harus dipahami dan menunjukkan jalan penerapan agar mereka memiliki prinsip dan arah dalam penerapannya setiap kali sesuatu menimpa mereka. Ini adalah aspek-aspek di mana pepatah tentang perilaku moral berbeda dari kebenaran.) Sebelumnya, kita telah mempersekutukan bahwa pepatah tentang perilaku moral terutama mengharuskan orang untuk mematuhi penerapan dan aturan tertentu, serta lebih menekankan pada penggunaan aturan untuk membatasi perilaku orang. Sedangkan, tuntutan Tuhan terhadap manusia terutama menunjukkan jalan penerapan bagi mereka berdasarkan apa yang dapat dicapai dengan kemanusiaan yang normal, dan jalan penerapan yang luas ini disebut prinsip. Ini berarti, setiap kali masalah menimpamu, Tuhan akan memberitahukan jalan penerapan yang tepat dan positif, prinsip, tujuan, serta arah untuk tindakanmu. Tuhan tidak ingin engkau mengikuti aturan, tetapi Dia ingin engkau mematuhi prinsip-prinsip ini. Dengan cara ini, orang hidup dalam kenyataan kebenaran dan jalan yang mereka tempuh akan benar. Hari ini, mari kita bahas lebih lanjut apa masalah lain yang bersifat esensial dengan pepatah tentang perilaku moral. Banyak pepatah tentang perilaku moral yang tidak saja membatasi pemikiran orang, tetapi juga menyesatkan dan melemahkan pemikiran mereka. Pada saat yang sama, ada beberapa pepatah yang lebih radikal yang membahayakan nyawa orang. Sebagai contoh, pepatah yang menyeramkan dalam persekutuan terakhir kita, "Aku bersedia mengorbankan diri untuk seorang teman", bukan saja mengendalikan dan membatasi pemikiran orang, melainkan juga membahayakan nyawa mereka, dengan membuat mereka bukan saja tidak mampu menghargai hidup mereka sendiri, tetapi juga cenderung terburu-buru mengorbankan diri mereka dengan cara yang gegabah dan tanpa pikir panjang. Bukankah ini berarti membahayakan nyawa orang? (Ya.) Bahkan sebelum orang memahami apa arti hidup dan menemukan jalan yang benar dalam hidup, mereka dengan sembarangan mengorbankannya demi orang yang mereka anggap teman sebagai imbalan atas kebaikan sekecil apa pun, dan menganggap hidup mereka sendiri sebagai sesuatu yang sangat hina dan tidak berharga. Inilah akibat dari jenis pemikiran yang diajarkan budaya tradisional kepada orang. Melihat bagaimana pepatah tentang perilaku moral dapat membatasi pemikiran orang, tak ada satu hal positif pun tentangnya, dan melihat bagaimana pepatah-pepatah tersebut merenggut nyawa orang dengan sembarangan, tentu saja tidak memiliki efek positif atau memberikan manfaat bagi orang. Selain itu, orang-orang tertipu dan dibuat mati rasa oleh gagasan-gagasan ini. Demi kesombongan dan harga diri mereka dan agar tidak dikecam oleh opini publik, mereka dipaksa untuk bertindak berdasarkan tuntutan perilaku moral. Orang-orang telah sepenuhnya terikat, terkekang, dan terbelenggu oleh berbagai pepatah dan gagasan tentang perilaku moral ini yang membuat mereka tidak punya pilihan lain. Manusia bersedia hidup di bawah belenggu pepatah tentang perilaku moral dan tidak memiliki pilihan bebas semata-mata untuk menjalani kehidupan yang lebih terhormat, terlihat baik di depan orang lain, dihormati, dan mendapat pujian dari orang lain, serta untuk menghindarkan diri dari sasaran fitnah, dan membawa kehormatan bagi keluarga mereka. Melihat gagasan dan pandangan orang ini, serta fenomena di mana mereka dikendalikan oleh pepatah tentang perilaku moral, meskipun pepatah-pepatah seperti itu membatasi dan mengekang perilaku manusia hingga taraf tertentu, pepatah-pepatah tersebut juga secara signifikan menyembunyikan fakta bahwa Iblis merusak manusia serta manusia memiliki watak rusak dan natur Iblis. Mereka menggunakan perilaku lahiriah untuk menutupi orang sehingga di luarnya mereka terlihat menjalani hidup yang bermartabat, berbudaya, elegan, baik hati, terpandang, dan terhormat. Oleh karena itu, orang lain hanya dapat menentukan manusia seperti apa mereka—apakah mereka terhormat atau hina, baik atau jahat—melalui perilaku lahiriahnya. Dalam keadaan seperti itu, semua orang mengukur dan menilai apakah seseorang itu baik atau buruk berdasarkan berbagai tuntutan tentang perilaku moral, tetapi tak seorang pun dapat mengetahui yang sebenarnya mengenai perilaku moral lahiriah orang sampai ke esensi rusak mereka, juga tidak dapat melihat dengan jelas berbagai kelicikan dan kejahatan yang tersembunyi di balik perilaku moral lahiriah. Dengan cara seperti ini, orang menggunakan perilaku moral sebagai kedok untuk menyembunyikan esensi rusak mereka secara lebih luas. Sebagai contoh, seorang wanita secara lahiriah berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral, menerima pujian dan kekaguman dari orang-orang di sekitarnya. Dia berperilaku baik, sopan, khususnya sabar dalam interaksinya dengan orang lain, tidak menyimpan dendam, berbakti kepada orang tuanya, mengurus suami dan membesarkan anak-anaknya, mampu menanggung kesukaran, dan dianggap sebagai teladan bagi para wanita. Tidak ada masalah yang terlihat dari penampilan luarnya, tetapi tak seorang pun tahu apa yang dipikirkannya atau bagaimana dia berpikir di dalam hatinya. Dia tidak pernah mengatakan apa keinginan dan ambisinya, juga tidak berani mengatakannya. Mengapa dia tidak berani mengatakannya? Karena dia ingin menampilkan dirinya sebagai wanita yang berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral. Jika dia benar-benar membuka diri dan membuka hati dan keburukannya, dia tidak akan dapat menjadi wanita yang berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral, dan bahkan akan dikritik dan dicemooh oleh orang lain sehingga dia hanya bisa menyembunyikan diri dan menampilkan kedok. Berada di balik kedok perilaku lahiriah yang berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral berarti orang-orang hanya melihat perbuatan baiknya dan memujinya, dan dengan demikian, dia telah mencapai tujuannya. Namun, bagaimanapun dia menyamarkan dirinya dan menipu orang lain, apakah dia benar-benar sebaik yang orang katakan? Sama sekali tidak. Apakah dia sebenarnya memiliki watak yang rusak? Apakah dia memiliki esensi kerusakan? Apakah dia licik? Congkak? Keras kepala? Jahat? (Ya.) Dia pasti seperti itu, tetapi semuanya tersembunyi—ini adalah fakta. Ada tokoh-tokoh sejarah Tiongkok yang dipuja sebagai orang kudus dan orang bijak. Apa dasar untuk membuat pernyataan ini? Mereka dipuji sebagai orang kudus dan orang bijak hanya berdasarkan beberapa catatan dan legenda yang terbatas dan belum tentu kebenarannya. Faktanya, tak seorang pun tahu apa sebenarnya tindakan dan perilaku yang mendasari mereka melakukannya. Apakah engkau semua telah mempunyai pemahaman yang menyeluruh mengenai masalah ini sekarang? Beberapa dari antaramu setidaknya harus memiliki pemahaman yang relatif menyeluruh karena engkau semua telah mendengarkan begitu banyak khotbah dan melihat dengan sangat jelas esensi dan kebenaran dari kerusakan manusia. Asalkan orang memahami beberapa kebenaran, mereka akan mampu memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai orang-orang, peristiwa, dan hal-hal. Apakah seorang wanita yang berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral—sebaik apa pun perilaku lahiriah dan perilaku moralnya, sebaik apa pun dia menyamarkan diri dan menampilkan kedoknya—akan memperlihatkan watak congkaknya? (Ya.) Pasti dia akan memperlihatkannya. Jadi, apakah dia memiliki watak yang keras kepala? (Ya.) Dia menganggap dirinya benar dan merasa berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, bermoral, dan dia adalah orang yang baik, yang membuktikan bahwa dia sangat merasa dirinya benar dan keras kepala. Sebenarnya di lubuk hatinya, dia mengenali dirinya yang sebenarnya dan kekurangan apa yang dimiliki, tetapi dia tetap dapat membanggakan kebaikannya sendiri. Bukankah ini sikap keras kepala? Bukankah ini kecongkakan? Selain itu, pernyataan dirinya sebagai orang yang berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral sepenuhnya demi meninggalkan reputasi yang baik dan membawa kehormatan bagi keluarganya. Bukankah pemikiran dan pengejaran seperti itu tidak masuk akal dan jahat? Dia dipuji oleh orang dan mendapatkan nama baik, tetapi di lubuk hatinya, dia selalu menyembunyikan niat, pemikiran, dan hal-hal memalukan yang telah dia lakukan, dan tidak mengatakan apa pun tentang hal itu kepada siapa pun. Dia takut begitu orang mengetahui yang sebenarnya mengenai dirinya, mereka akan mengomentarinya, menghakiminya, dan menolaknya. Watak apakah ini? Bukankah itu licik? (Ya.) Jadi, betapa pun baik dan terhormatnya perilaku lahiriahnya, atau betapa pun terhormatnya perilaku moralnya, watak rusaknya memang ada, hanya saja, orang tidak percaya yang tidak pernah mendengar firman Tuhan dan tidak memahami kebenaran, tidak akan dapat melihat atau mengetahuinya. Dia mungkin dapat menipu orang tidak percaya, tetapi dia tidak dapat menipu mereka yang percaya kepada Tuhan dan yang memahami kebenaran. Bukankah demikian? (Ya.) Ini karena dia telah mengalami perusakan Iblis dan memiliki watak dan esensi yang rusak. Ini adalah fakta. Sebaik apa pun perilaku moralnya, atau setinggi apa pun standar yang dia capai, fakta bahwa dia memiliki watak yang rusak tidak dapat disangkal dan tidak dapat diubah. Setelah orang memahami kebenaran, mereka akan mampu mengenali dirinya yang sebenarnya. Namun, Iblis menggunakan pepatah tentang perilaku moral ini untuk menyesatkan manusia, melumpuhkan dan membatasi pemikirannya, membuat mereka secara keliru menganggap jika memenuhi tuntutan dan standar perilaku moral ini, mereka adalah orang yang baik dan sedang menempuh jalan yang benar. Padahal sebaliknya. Meskipun ada orang-orang yang memperlihatkan beberapa perilaku baik yang sesuai dengan pepatah tentang perilaku moral, mereka belum memulai jalan yang benar dalam hidup. Sebaliknya, mereka telah menempuh jalan yang salah dan hidup dalam dosa. Mereka telah memulai jalan kemunafikan dan terperangkap ke dalam jebakan Iblis. Ini karena watak rusak dan esensi manusia yang rusak tidak akan berubah sedikit pun hanya karena mereka memiliki perilaku moral yang baik. Perilaku moral lahiriah hanyalah hiasan, itu hanya untuk pamer, natur dan watak mereka yang sebenarnya akan tetap tersingkap. Iblis bermaksud membatasi dan mengendalikan manusia melalui perilaku dan penampilan lahiriah mereka, membuat orang menyamarkan diri dan mengemas diri mereka sendiri dengan perilaku yang baik, sementara pada saat yang sama, menggunakan perilaku baik manusia untuk menyembunyikan fakta bahwa Iblis telah merusak manusia, dan tentu saja, juga untuk menyembunyikan fakta bahwa manusia memiliki watak yang rusak. Di satu sisi, tujuan Iblis adalah membuat orang-orang tunduk pada kendali pepatah-pepatah tentang perilaku moral ini agar mereka melakukan lebih banyak perbuatan baik dan lebih sedikit perbuatan buruk, dan tentu saja, tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kelas penguasa. Hal ini semakin menguntungkan dominasi dan kendali kelas penguasa atas manusia. Di sisi lain, setelah manusia menerima pepatah tentang perilaku moral ini sebagai dasar teoretis untuk perilaku dan tindakannya, mereka cenderung menjauhkan diri dari kebenaran dan menolak kebenaran dan hal-hal positif. Tentu saja, berkenaan dengan firman yang diucapkan oleh Tuhan dan hal-hal positif atau kebenaran yang Tuhan ajarkan kepada manusia, hal itu kemudian menjadi pergumulan bagi mereka untuk mengerti dan memahaminya, atau mereka mungkin memiliki segala macam penentangan dan gagasan. Setelah orang memiliki gagasan tentang perilaku moral ini, cenderung menjadi lebih sulit bagi mereka untuk menerima firman Tuhan dan kebenaran, serta memahami watak yang rusak dan mengubahnya. Oleh karena itu, semua pepatah dan gagasan tentang perilaku moral telah menghalangi penerimaan dan pemahaman orang terhadap firman Tuhan secara signifikan, dan tentu saja, semua ini juga memengaruhi sejauh mana orang menerima kebenaran. Iblis mengindoktrinasi manusia dengan pepatah tentang perilaku moral untuk membuat mereka memunculkan segala macam gagasan dan sudut pandang yang keliru dan negatif agar mereka memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak berdasarkan gagasan dan sudut pandang ini. Ketika orang menggunakan gagasan di balik pepatah-pepatah tentang perilaku moral ini sebagai landasan teoretis dan standar untuk pandangan mereka tentang orang dan hal-hal, juga perilaku dan tindakan mereka, watak rusak mereka bukan saja tidak dapat dikurangi atau diubah, melainkan juga sampai taraf tertentu, akan jauh lebih parah. Pemberontakan serta penentangan mereka terhadap Tuhan akan jauh lebih buruk. Oleh karena itu, ketika Tuhan menyelamatkan manusia, ketika firman Tuhan disampaikan kepada mereka, rintangan terbesar bukanlah watak rusak manusia, melainkan berbagai falsafah Iblis, pepatah tentang perilaku moral, dan berbagai gagasan dan pandangan jahat yang berasal dari Iblis. Ini adalah akibat dari perusakan manusia oleh Iblis dan dampak negatif dari berbagai pepatah tentang perilaku moral terhadap manusia yang rusak. Inilah tujuan sebenarnya yang ingin Iblis capai dengan mempromosikan dan menganjurkan pepatah-pepatah tentang perilaku moral.

Dalam pertemuan kita sebelumnya, kita secara khusus telah mempersekutukan tiga pepatah tentang perilaku moral, yaitu "Sedikit kebaikan harus dibalas dengan banyak kebaikan", "Jangan memaksa orang lain melakukan apa yang kau sendiri tak ingin melakukannya", dan "Aku bersedia mengorbankan diri untuk seorang teman". Hari ini kita akan mempersekutukan "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa". Pepatah tentang perilaku moral ini juga muncul di antara manusia yang berasal dari gagasan dan pandangan manusia yang rusak. Tentu saja, lebih tepatnya berasal dari perusakan dan penyesatan yang dilakukan Iblis terhadap manusia. Itu memiliki pengaruh dan natur yang sama dengan pepatah tentang perilaku moral yang telah kita persekutukan sebelumnya meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Semua itu adalah pernyataan yang berani dan muluk-muluk, begitu kuat, penuh semangat, dan heroik. Jika orang tidak pernah mendengar firman Tuhan dan tidak memahami kebenaran, mereka akan merasa bahwa pernyataan ini sangat menggetarkan jiwa dan membuat mereka bersemangat. Setelah mendengar kata-kata ini, mereka akan langsung mendapatkan kekuatan dan mengepalkan tangan mereka. Mereka tidak akan bisa duduk diam lebih lama lagi atau menahan suasana kegembiraan batin mereka, dan akan merasa bahwa inilah budaya Tionghoa dan semangat naga. Apakah engkau masih merasa seperti ini sekarang? (Tidak.) Bagaimana perasaanmu saat mendengar kata-kata ini sekarang? (Sekarang aku merasa bahwa kata-kata ini tidak baik ataupun positif.) Mengapa perasaanmu sekarang berbeda dari sebelumnya? Apakah karena setelah orang bertambah usia dan telah melewati begitu banyak penderitaan, mereka kehilangan semangat muda dan keberanian? Ataukah karena setelah orang memahami beberapa kebenaran, mereka memiliki kemampuan mengenali bahwa pepatah tentang perilaku moral ini sangat hampa, tidak realistis, dan tidak berguna? (Itu terutama karena pepatah ini tidak sesuai dengan kebenaran dan tidak realistis.) Memang, pepatah tentang perilaku moral ini sangat hampa dan tidak realistis. Jadi, mengenai pepatah tentang perilaku moral "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa", mari kita menelaah dan menganalisis apa yang salah dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip yang telah kita bahas sebelumnya, untuk secara khusus menyingkapkan ketidakwajaran pepatah ini dan rencana licik Iblis yang tersembunyi di dalamnya. Apakah engkau semua tahu cara menganalisisnya? Katakan kepada-Ku tentang apa arti sebenarnya dari kalimat ini. (Ini adalah tiga kriteria yang dianjurkan oleh Mencius untuk menjadi pria jantan yang maskulin. Penafsiran modernnya adalah: Kemuliaan dan kekayaan tidak boleh mengganggu tekad seseorang, kemiskinan dan keadaan yang hina tidak boleh mengubah kemauan kuat seseorang, serta ancaman kekuasaan dan kekerasan tidak boleh membuat seseorang tunduk.) Pepatah tentang perilaku moral yang kita sebutkan sebelumnya—"Seorang wanita harus berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral"—ditujukan untuk perempuan, tetapi pepatah yang ini jelas ditujukan untuk laki-laki. Entah itu kehidupan yang penuh kemuliaan dan kekayaan, keadaan miskin atau dihadapkan dengan kekuasaan dan kekerasan, tuntutan terhadap para lelaki ada di segala macam situasi. Ada berapa banyak tuntutan terhadap laki-laki seluruhnya? Laki-laki dituntut untuk memiliki kemauan yang kuat, tekad yang teguh, dan tidak tunduk dalam menghadapi kekuasaan dan kekerasan. Renungkanlah tentang apakah tuntutan yang diajukan ini berkaitan dengan kemanusiaan yang normal, dan apakah tuntutan ini mempertimbangkan lingkungan di kehidupan nyata di mana orang hidup. Dengan kata lain, renungkanlah apakah tuntutan terhadap laki-laki ini hampa dan tidak realistis. Tuntutan budaya tradisional untuk perilaku moral perempuan adalah bahwa seorang wanita harus berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, dan bermoral; "berbudi luhur" berarti memiliki kebajikan perempuan, "baik hati" berarti berhati baik, "lemah lembut" berarti menjadi perempuan yang sopan, dan "bermoral" berarti menjadi orang yang memiliki moral dan perilaku moral yang baik. Setiap tuntutan ini relatif ringan. Laki-laki tidak perlu berbudi luhur, baik hati, lemah lembut, atau bermoral, sedangkan perempuan tidak perlu memiliki kemauan yang kuat dan tekad yang teguh, serta mampu tunduk setiap kali dihadapkan pada kekuasaan dan kekerasan. Dengan kata lain, tuntutan tentang perilaku moral, "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa", ini memberikan kelonggaran yang cukup bagi perempuan hingga mencapai taraf sangat toleran dan tenggang rasa terhadap mereka. Apa yang dimaksud dengan toleransi dan tenggang rasa ini? Dapatkah kedua hal ini dipahami secara berbeda? (Keduanya adalah bentuk diskriminasi.) Menurut-Ku juga demikian. Sebenarnya ini adalah diskriminasi terhadap perempuan, keyakinan bahwa perempuan tidak memiliki kemauan yang kuat, pengecut, pemalu, dan cukuplah mengharapkan mereka melahirkan anak, mengurus suami dan membesarkan anak-anak, mengurus pekerjaan rumah tangga, dan tidak bertengkar dengan orang lain atau bergosip. Meminta mereka untuk meniti karier dan memiliki kemauan yang kuat adalah tidak mungkin—mereka tidak mampu melakukannya. Jadi, dilihat dari sudut pandang yang lain, tuntutan bagi perempuan ini benar-benar diskriminatif dan merendahkan. Pepatah tentang perilaku moral, "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa", ini ditujukan kepada para lelaki. Pepatah ini menuntut laki-laki untuk memiliki kemauan yang kuat dan tekad yang teguh, serta menjadi lelaki yang jantan dan maskulin yang tidak tunduk pada kekuasaan dan kekerasan. Apakah tuntutan ini benar? Apakah itu masuk akal? Tuntutan-tuntutan terhadap para lelaki ini memperlihatkan bahwa orang yang menganjurkan pepatah tentang perilaku moral ini menganggap tinggi laki-laki karena tuntutannya terhadap mereka lebih tinggi daripada tuntutan terhadap perempuan. Hal ini dapat dipahami mengingat esensi gender, status sosial, dan naluri mereka, laki-laki harus lebih tinggi daripada perempuan. Apakah pepatah tentang perilaku moral ini dirumuskan dari sudut pandang ini? (Ya.) Jelas sekali, ini adalah hasil dari masyarakat di mana laki-laki dan perempuan tidak setara. Di tengah masyarakat ini, laki-laki terus mendiskriminasi dan merendahkan perempuan, mempersempit ruang lingkup kehidupan mereka, mengabaikan nilai keberadaan perempuan, selalu membesar-besarkan nilai diri mereka sebagai laki-laki, meningkatkan status sosial mereka sendiri, dan membiarkan hak mereka mengesampingkan hak perempuan. Apa pengaruh dan akibat dari hal ini di tengah masyarakat? Akibatnya, masyarakat ini dikendalikan dan didominasi oleh laki-laki. Ini adalah masyarakat patriarkat di mana perempuan harus berada di bawah kepemimpinan, penindasan, dan kendali laki-laki. Demikian juga halnya, laki-laki dapat melakukan pekerjaan apa pun, sedangkan lingkup pekerjaan yang bisa dilakukan perempuan harus dikurangi dan dibatasi. Laki-laki harus sepenuhnya menikmati semua hak di tengah masyarakat, sedangkan ruang lingkup hak yang dinikmati perempuan sangat terbatas. Pekerjaan yang tidak diinginkan atau dipilih laki-laki, atau pekerjaan yang akan membuat mereka didiskriminasi karena melakukannya dapat diberikan kepada perempuan. Misalnya, mencuci pakaian, memasak, industri jasa, dan beberapa pekerjaan dengan penghasilan dan status sosial yang rendah atau yang orang diskriminasi, diperuntukkan bagi perempuan. Dengan kata lain, para lelaki dapat menikmati hak-haknya sebagai laki-laki secara penuh, dalam hal pilihan pekerjaan dan status sosial, serta menikmati hak-hak khusus yang diberikan masyarakat kepada mereka. Di tengah masyarakat seperti itu, laki-laki didahulukan sedangkan perempuan dinomorduakan, bahkan sampai-sampai mereka sama sekali tidak diberikan ruang untuk membuat pilihan, atau bahkan hak untuk memilih. Mereka hanya bisa menunggu secara pasif untuk dipilih, dan pada akhirnya, disingkirkan dan dibuang oleh masyarakat ini. Oleh karena itu, tuntutan masyarakat terhadap perempuan relatif ringan, sedangkan tuntutan terhadap laki-laki relatif ketat dan keras. Meskipun demikian, apakah ditujukan pada laki-laki atau perempuan, motif dan tujuan dalam mengajukan tuntutan perilaku moral ini adalah untuk membuat orang melayani masyarakat, bangsa, negara, dan tentu saja pada akhirnya melayani kelas penguasa dan para penguasa dengan lebih baik. Sangatlah mudah untuk melihat dari pepatah "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa" ini bahwa orang yang menganjurkan tuntutan perilaku moral ini memiliki prasangka buruk terhadap laki-laki. Di mata orang tersebut, laki-laki harus memiliki kemauan yang kuat, tekad yang teguh, dan semangat yang tidak tunduk pada kekuasaan dan kekerasan. Dari tuntutan-tuntutan ini, dapatkah engkau memahami apa tujuan dari orang yang menganjurkan pepatah ini? Tujuannya adalah untuk membuat orang-orang yang berguna dan berkemauan keras di tengah masyarakat ini untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, bangsa, dan negara, dan pada akhirnya mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada mereka yang berkuasa, serta memberikan nilai dan fungsi laki-laki di tengah masyarakat. Hanya lelaki seperti inilah yang bisa disebut jantan dan maskulin. Jika para lelaki gagal memenuhi tuntutan ini, di mata kaum moralis dan penguasa, mereka tidak disebut jantan dan maskulin, tetapi hanya bisa disebut orang yang biasa-biasa saja, sampah masyarakat, serta didiskriminasi. Dengan kata lain, jika seorang laki-laki tidak memiliki kemauan yang kuat, tekad yang teguh, dan semangat yang tidak tunduk pada kekuasaan dan kekerasan seperti yang mereka tuntut, tetapi hanyalah orang kebanyakan yang biasa-biasa saja tanpa memiliki prestasi, hanya mampu menjalani hidupnya sendiri, dan tidak mampu memberikan nilai apa pun kepada masyarakat, bangsa, dan negara, serta tidak dapat ditugaskan untuk menduduki beberapa posisi penting oleh penguasa, negara atau bangsa, yang terjadi adalah orang tersebut tidak akan diterima dan dihargai oleh masyarakat, dan juga tidak akan dihargai oleh mereka yang berkuasa, serta akan dianggap oleh para penguasa atau kaum moralis ini sebagai orang yang biasa-biasa saja, sampah masyarakat, dan orang yang bermoral rendah di antara para laki-laki. Bukankah demikian? (Ya.) Apakah engkau semua setuju dengan pepatah ini? Apakah pepatah ini benar? Apakah itu adil bagi para lelaki? (Tidak, tidak adil.) Haruskah para lelaki mengarahkan pandangan mereka ke seluruh dunia, negara, dan tujuan besar untuk bangsa? Tidak bolehkah mereka hanya menjadi laki-laki biasa yang berbakti? Tidak bolehkah mereka menangis, patah hati, memendam sedikit motif egois, atau menjalani kehidupan yang sederhana bersama orang yang mereka cintai? Haruskah mereka memiliki dunia dalam pandangan mereka untuk disebut sebagai lelaki jantan dan maskulin? Haruskah mereka disebut jantan dan maskulin baru bisa dianggap sebagai laki-laki? Apakah definisi lelaki itu harus jantan dan maskulin? (Tidak.) Gagasan-gagasan ini merupakan penghinaan terhadap para lelaki, itu sama saja dengan serangan pribadi terhadap mereka. Adakah di antaramu yang merasakan hal yang sama? (Ya.) Bolehkah laki-laki tidak memiliki kemauan yang kuat? Bolehkah laki-laki tidak memiliki tekad yang teguh? Ketika para lelaki menentang kekuasaan dan kekerasan, bolehkah mereka tunduk dan berkompromi agar dapat bertahan hidup? (Ya, boleh.) Bolehkah bagi laki-laki untuk tidak memiliki apa pun yang tidak dimiliki perempuan? Bolehkah para lelaki memberi diri mereka kelonggaran dengan tidak menjadi jantan dan maskulin, tetapi hanya menjadi lelaki biasa? (Ya, boleh.) Dengan begitu, manusia akan terbebaskan, jalan untuk menjadi seorang laki-laki akan diperluas, dan para lelaki tidak akan terlalu lelah dalam hidup, tetapi bisa hidup secara normal.

Masih ada cukup banyak negara di mana gagasan budaya tradisional seperti "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa" membatasi kaum laki-laki. Negara-negara ini masih merupakan masyarakat patriarkat di mana laki-laki menjadi penentu keputusan, dan berkuasa mulai dari keluarga hingga masyarakat, dan negara secara luas, diprioritaskan dalam segala aspek, unggul dalam setiap situasi, dan memiliki rasa superioritas di mana-mana. Pada saat yang sama, masyarakat, bangsa, dan negara semacam itu memiliki tuntutan yang tinggi terhadap kaum laki-laki yang memberikan tekanan yang sangat besar kepada mereka dan menimbulkan banyak konsekuensi yang merugikan. Laki-laki yang kehilangan pekerjaan bahkan tidak berani memberi tahu keluarganya. Hari demi hari, mereka memanggul tas dan berpura-pura pergi bekerja, tetapi sebenarnya mereka keluar dan berkeliaran di jalan. Terkadang mereka pulang larut malam dan bahkan berbohong kepada keluarga bahwa mereka bekerja lembur di kantor. Kemudian keesokan harinya, mereka terus berpura-pura dengan kembali keluar untuk mondar-mandir di jalanan. Gagasan budaya tradisional, tanggung jawab sosial, dan kedudukan laki-laki di tengah masyarakat merupakan sumber tekanan dan bahkan penghinaan, dan juga mengubah kemanusiaan mereka, menyebabkan banyak laki-laki merasa resah, tertekan, dan sering berada di ambang kehancuran setiap kali mereka menghadapi kesulitan. Mengapa demikian? Karena mereka menganggap bahwa sebagai laki-laki, mereka harus mencari uang untuk menafkahi keluarga, memenuhi tanggung jawabnya sebagai lelaki, dan laki-laki tidak boleh menangis atau bersedih, tidak boleh menganggur, tetapi harus menjadi tiang penopang masyarakat dan tulang punggung keluarga. Sebagaimana orang tidak percaya katakan, "Laki-laki tidak boleh gampang menangis," seorang lelaki seharusnya tidak memiliki kelemahan atau kekurangan apa pun. Gagasan dan pandangan ini muncul karena laki-laki distereotipkan secara keliru oleh kaum moralis, dan karena status laki-laki yang terus-menerus ditinggikan oleh mereka. Gagasan dan pandangan ini bukan saja membuat laki-laki mengalami segala macam masalah, kekesalan, dan kesedihan, tetapi juga menjadi belenggu dalam pikiran mereka, membuat kedudukan, keadaan, dan pengalaman mereka di tengah masyarakat makin canggung. Ketika tekanan terhadap laki-laki meningkat, dampak negatif dari gagasan dan pandangan ini terhadap laki-laki juga meningkat. Ada lelaki yang bahkan menganggap dirinya sebagai laki-laki hebat karena salah menafsirkan tentang kedudukannya di tengah masyarakat, menganggap laki-laki lebih hebat dan perempuan lebih rendah. Oleh karena itu, laki-laki harus memimpin dalam segala hal dan menjadi kepala rumah tangga, jika segala sesuatunya tidak berhasil, mereka dapat melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap para perempuan. Masalah-masalah ini semua berkaitan dengan cara manusia memosisikan jenis kelamin laki-laki secara keliru, bukankah demikian? (Ya.) Engkau dapat melihat bahwa di sebagian besar negara di dunia, status sosial laki-laki lebih tinggi daripada status sosial perempuan, terutama dalam keluarga. Laki-laki tidak perlu melakukan apa pun selain pergi bekerja dan mencari nafkah, sedangkan perempuan melakukan semua pekerjaan rumah tangga, tidak boleh berdebat atau mengeluh, tidak berani menceritakannya kepada orang lain, betapa pun melelahkan atau sulitnya hal itu. Seberapa rendahkah status perempuan? Sebagai contoh, laki-laki mendapat giliran pertama mengambil makanan terlezat di meja makan, sedangkan perempuan di urutan kedua, dan di kartu keluarga, laki-laki ditulis sebagai kepala rumah tangga, dan perempuan sebagai anggota keluarga. Dari hal-hal sepele ini saja kita bisa melihat perbedaan status antara laki-laki dan perempuan. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan memang berbeda karena perbedaan gender, tetapi bukankah tidak adil jika perbedaan status laki-laki dan perempuan dalam keluarga begitu besar? Bukankah ini disebabkan oleh didikan dalam budaya tradisional? Di tengah masyarakat, perempuan tidak hanya menganggap laki-laki lebih terhormat dan mulia, tetapi para lelaki pun menganggap diri mereka lebih mulia dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perempuan, karena laki-laki mampu memberikan lebih banyak nilai dan kemampuan mereka, memberikan pengaruh yang lebih besar di tengah masyarakat, bangsa, dan negara, sedangkan perempuan tidak mampu. Bukankah ini memutarbalikkan fakta? Bagaimana pemutarbalikan fakta seperti itu bisa terjadi? Apakah itu berkaitan langsung dengan penanaman dan pengaruh didikan masyarakat dan budaya tradisional? (Ya.) Ini berkaitan langsung dengan didikan budaya tradisional. Di antara manusia, entah di tengah masyarakat atau di suatu bangsa atau negara, masalah menyimpang apa pun yang muncul, semuanya disebabkan oleh beberapa gagasan keliru yang dianjurkan oleh segelintir sosiolog atau penguasa, dan berkaitan langsung dengan gagasan keliru yang dianjurkan oleh pemimpin suatu masyarakat, bangsa, atau negara. Jika gagasan dan pandangan yang mereka anjurkan lebih positif dan mendekati kebenaran, masalah di antara manusia akan relatif lebih sedikit; jika gagasan-gagasan yang mereka anjurkan menyimpang dan keliru menggambarkan kemanusiaan, akan banyak hal menyimpang yang terjadi di tengah masyarakat, dalam suatu kelompok etnis, atau di suatu negara. Jika para sosiolog menyokong hak laki-laki, meninggikan nilai mereka, dan menurunkan nilai dan martabat perempuan, pasti di tengah masyarakat akan terjadi perbedaan status sosial yang sangat besar di antara laki-laki dan perempuan, disertai dengan berbagai ketidaksetaraan dalam pekerjaan, status sosial, dan kesejahteraan sosial, serta perbedaan besar dalam status jenis kelamin dalam keluarga dan pembagian kerja yang sama sekali berbeda—di mana semuanya menyimpang. Munculnya masalah-masalah menyimpang ini berkaitan dengan orang-orang yang menganjurkan gagasan dan pandangan tersebut, serta disebabkan oleh para politisi dan sosiolog ini. Jika manusia memiliki sudut pandang dan pepatah yang benar tentang masalah ini sejak awal, masalah-masalah menyimpang ini akan relatif berkurang di berbagai negara atau bangsa.

Berdasarkan apa yang baru saja kita persekutukan, apa seharusnya sudut pandang yang benar dalam memperlakukan laki-laki? Perilaku, kemanusiaan, pengejaran, dan status sosial seperti apa yang seharusnya dimiliki laki-laki agar menjadi normal? Bagaimana seharusnya laki-laki memperlakukan tanggung jawab sosial mereka? Selain perbedaan gender, haruskah ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal tanggung jawab sosial dan status sosial? (Tidak, seharusnya tidak ada.) Jadi, bagaimana seharusnya laki-laki diperlakukan dengan cara yang benar, objektif, manusiawi, dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Inilah tepatnya yang harus kita pahami sekarang. Mari kita membahas tentang bagaimana sebenarnya laki-laki seharusnya diperlakukan. Haruskah tanggung jawab sosial laki-laki dan perempuan dibedakan? Haruskah laki-laki dan perempuan memiliki status sosial yang sama? Apakah adil untuk terlalu meninggikan status laki-laki dan meremehkan status perempuan? (Tidak, ini tidak adil.) Jadi, bagaimana seharusnya status sosial laki-laki dan perempuan diperlakukan dengan cara yang adil dan rasional? Apa prinsipnya untuk ini? (Laki-laki dan perempuan adalah setara dan harus diperlakukan secara adil.) Perlakuan yang adil adalah dasar teoretisnya, tetapi bagaimana hal itu seharusnya diterapkan dengan cara yang mencerminkan keadilan dan rasionalitas? Bukankah ini ada kaitannya dengan masalah nyata? Pertama-tama, kita harus menentukan bahwa status laki-laki dan perempuan adalah setara—ini tak terbantahkan. Oleh karena itu, pembagian kerja sosial antara laki-laki dan perempuan juga harus sama, dan harus dipertimbangkan dan diatur sesuai dengan kualitas dan kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan itu. Harus ada kesetaraan khususnya dalam hal hak asasi manusia karena perempuan juga seharusnya menikmati apa yang dapat dinikmati laki-laki untuk memastikan status yang setara di antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat. Siapa pun yang dapat melakukan pekerjaan itu, atau siapa pun yang cakap untuk menjadi pemimpin harus diizinkan melakukannya, terlepas dari apakah mereka laki-laki atau perempuan. Apa pendapatmu tentang prinsip ini? (Bagus.) Ini mencerminkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, jika ada dua lelaki dan dua perempuan melamar pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran, siapakah yang seharusnya dipekerjakan? Perlakuan yang adil adalah dasar teoretis dan prinsipnya. Jadi, bagaimana seharusnya orang melakukannya? Seperti yang baru saja Kukatakan, biarkan siapa pun yang memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu sesuai dengan kemampuan dan kualitasnya. Lakukan saja pemilihan berdasarkan prinsip ini, dengan melihat siapa di antara kandidat tersebut yang secara fisik memenuhi kriteria dan tidak lamban. Pemadam kebakaran adalah tentang bertindak cepat dalam keadaan darurat. Jika engkau terlalu lamban, bodoh, dan lesu, seperti kura-kura atau sapi tua, engkau akan memperlambat segala sesuatunya. Setelah memastikan ciri masing-masing kandidat, dari segi kualitas, kemampuan, pengalaman, tingkat kompetensi dalam pekerjaan pemadaman kebakaran, dan sebagainya, kesimpulan yang didapat adalah bahwa satu laki-laki dan satu perempuan sangat cocok: si laki-laki berpostur tinggi, secara fisik kuat, memiliki pengalaman sebagai pemadam kebakaran, dan telah berpartisipasi dalam beberapa operasi pemadam kebakaran dan tindakan penyelamatan; si perempuan gesit, telah menjalani pelatihan yang keras, memiliki pengetahuan tentang pemadam kebakaran dan prosedur kerja terkait, memiliki kualitas, dan menonjol dalam pekerjaan lain serta telah menerima penghargaan. Jadi, pada akhirnya keduanya dipilih. Apakah itu benar? (Ya.) Ini disebut memilih yang terbaik dari yang terbaik, tanpa menunjukkan keberpihakan kepada siapa pun. Ini berarti, ketika memilih tipe orang seperti ini, tidak ada aturan bahwa mereka harus laki-laki atau perempuan—laki-laki dan perempuan semuanya sama, dan siapa pun yang memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu, akan cakap melakukannya. Oleh karena itu, ketika memutuskan apakah akan memilih laki-laki atau perempuan untuk melakukan apa pun, selain prinsip utama yaitu perlakuan yang adil, prinsip spesifik yang harus diterapkan adalah membiarkan siapa pun yang cakap dan memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu, entah mereka laki-laki atau perempuan. Dengan demikian, engkau tidak lagi dibatasi atau terikat oleh gagasan bahwa "Laki-laki lebih unggul daripada perempuan", dan tidak ada gagasan usang yang akan memengaruhi penilaian atau pilihanmu dalam hal ini. Dari sudut pandangmu, siapa pun yang memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu harus diizinkan melakukannya, entah mereka laki-laki atau perempuan—bukankah itu adil? Yang terpenting, saat menangani suatu masalah, engkau tidak memiliki prasangka buruk terhadap laki-laki atau perempuan. Engkau yakin bahwa ada banyak perempuan yang luar biasa dan berbakat dan engkau mengenal beberapa orang seperti itu. Oleh karena itu, wawasanmu meyakinkanmu bahwa kemampuan perempuan untuk bekerja tidak kalah dengan laki-laki, dan nilai yang diberikan perempuan di tengah masyarakat tidak kalah dengan laki-laki. Setelah engkau memiliki wawasan dan pemahaman ini, engkau kelak akan membuat penilaian dan pilihan yang akurat berdasarkan fakta ini setiap kali engkau bertindak. Dengan kata lain, jika engkau tidak menunjukkan kebaikan kepada siapa pun, dan tidak memiliki prasangka terhadap gender, kemanusiaanmu akan relatif normal dalam hal ini, dan engkau mampu bertindak adil. Larangan budaya tradisional, dalam arti laki-laki dianggap lebih unggul daripada perempuan, akan dicabut. Pemikiranmu tidak lagi dibatasi dan engkau tidak akan dipengaruhi oleh aspek budaya tradisional ini lagi. Apa pun tren pemikiran atau kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat, singkatnya, engkau telah melampaui kebiasaan ini, dan tidak akan lagi dibatasi dan dipengaruhi olehnya, serta dapat menghadapi fakta dan kebenaran. Bahkan lebih baik daripada itu, tentu saja, engkau akan mampu memandang orang dan hal-hal, berperilaku dan bertindak berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran sehingga gagasan dan pandangan seperti "laki-laki itu harus bersikap jantan dan kuat, sedangkan perempuan itu pemalu", sejauh yang kauketahui, pernyataan itu tidak ada. Jadi, apakah pemikiran dan pandanganmu relatif berkembang di antara manusia? (Ya.) Secara keseluruhan, ini adalah kemajuan. Terlepas dari apakah laki-laki atau perempuan, tua atau muda, semua orang dapat menerima perlakuan yang adil ketika mereka menemuimu. Hal ini sebenarnya justru mendidik kerohanian orang, bukan merugikan mereka. Jika engkau tetap berpaut pada pandangan budaya tradisional dengan menyatakan bahwa "Sejak zaman dahulu, laki-laki memiliki status yang lebih tinggi daripada perempuan, dan di seluruh lapisan masyarakat ada lebih banyak laki-laki yang hebat dan berbakat daripada perempuan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa laki-laki lebih kuat daripada perempuan, dan nilai laki-laki bagi masyarakat lebih besar daripada nilai perempuan. Jika nilai laki-laki bagi masyarakat lebih besar, bukankah seharusnya status sosial mereka lebih tinggi? Oleh karena itu, di tengah masyarakat ini, laki-laki harus menjadi penentu keputusan dan mengambil posisi yang dominan, sedangkan perempuan harus mendengarkan laki-laki, diatur dan diperintah oleh mereka"—pemikiran seperti ini terlalu terbelakang dan merosot, serta tidak sesuai prinsip-prinsip kebenaran sedikit pun. Jika engkau memang memiliki gagasan dan pandangan seperti ini, engkau hanya akan mendiskriminasi dan menindas perempuan, dan akan dikutuk serta disingkirkan oleh tren sosial. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan merupakan pandangan yang benar yang sudah diakui secara universal, dan sepenuhnya sesuai dengan maksud Tuhan. Orang harus diperlakukan dengan adil, laki-laki tidak boleh dipandang tinggi, perempuan tidak boleh dipandang rendah, dan nilai perempuan tidak boleh diabaikan, kemampuan dan kualitas kerja mereka juga tidak boleh diabaikan. Ini sudah menjadi konsensus dasar di antara orang yang berpendidikan di semua negara. Jika gagasan-gagasan dominanmu masih dipengaruhi oleh budaya tradisional, dan engkau masih merasa laki-laki dimuliakan sedangkan perempuan direndahkan, setiap kali engkau bertindak, pandangan dan pilihanmu akan condong ke arah laki-laki, dan engkau akan memberi laki-laki kesempatan yang relatif lebih banyak. Engkau akan menganggap bahwa meskipun ada lelaki yang sedikit kurang cakap, mereka masih lebih kuat daripada perempuan, dan perempuan tidak mampu menandingi atau mencapai apa yang mampu laki-laki capai. Jika engkau berpikir dengan cara seperti ini, sudut pandangmu akan bias, penilaian serta keputusan akhirmu akan tidak tepat karena cara berpikirmu. Sebagai contoh, tentang pemilihan petugas pemadam kebakaran yang baru saja kita bahas, engkau bingung memikirkannya, bertanya-tanya "Dapatkah perempuan menaiki tangga? Berapa banyak yang mampu perempuan lakukan? Apa gunanya kegesitan pada seorang perempuan? Sekalipun dia telah melewati pelatihan yang keras, itu sama sekali tidak ada gunanya." Namun, kemudian engkau berpikir tentang memperlakukan orang dengan adil, dan akhirnya engkau memilih dua lelaki dan satu perempuan. Sebenarnya, dengan memilih seorang wanita dalam kasus ini, engkau sedang membuat isyarat untuk menenangkan dan menyelamatkan harga diri perempuan itu. Bagaimana pendekatan dengan cara ini? Engkau bukan saja memilih orang dengan cara seperti ini, tetapi saat memberi tugas, engkau menggunakan sudut pandang yang meremehkan perempuan, bahkan memberinya tugas-tugas yang sepele dan ringan. Engkau masih menganggap dirimu memiliki sentuhan manusiawi dan menjaga perempuan itu dengan memberikan perlakuan istimewa kepadanya dan melindunginya. Sebenarnya, dari sudut pandang wanita tersebut, engkau telah sangat melukai harga dirinya. Bagaimana engkau menyakitinya? Karena engkau menganggap bahwa perempuan itu lemah, rentan, pemalu, sedangkan laki-laki itu jantan, maka perempuan harus dilindungi. Bagaimana gagasan-gagasan ini muncul? Apakah gagasan-gagasan ini muncul karena pengaruh budaya tradisional? (Ya.) Di sinilah letak sumber masalahnya. Apa pun yang kaukatakan tentang memperlakukan orang secara adil, dilihat dari tindakanmu, tidak dapat disangkal bahwa engkau masih terbelenggu dan terkurung oleh gagasan dalam budaya tradisional bahwa "Laki-laki lebih unggul daripada perempuan". Jelas sekali terlihat dari tindakan-tindakanmu bahwa engkau belum melepaskan dirimu dari gagasan ini. Bukankah demikian? (Ya.) Jika engkau ingin melepaskan diri dari belenggu ini, engkau harus mencari kebenaran, memahami sepenuhnya esensi gagasan-gagasan ini, dan tidak bertindak di bawah pengaruh atau kendali gagasan budaya tradisional ini. Engkau harus melepaskan dan memberontak terhadapnya sekali untuk selamanya, dan tidak lagi memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak berdasarkan gagasan dan pandangan budaya tradisional, juga tidak membuat penilaian dan pilihan apa pun berdasarkan budaya tradisional; sebaliknya, memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran. Dengan cara seperti ini, engkau akan menempuh jalan yang benar dan akan menjadi makhluk ciptaan sejati yang diperkenan oleh Tuhan. Jika tidak, engkau akan tetap dikendalikan oleh Iblis dan hidup di bawah kekuasaan Iblis, serta engkau tidak akan dapat hidup dalam firman Tuhan. Inilah faktanya.

Sekarang, apakah engkau semua memahami esensi dari pepatah tentang perilaku moral, "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa" ini? Dan apakah engkau juga memahami konteks sosial di mana pepatah ini dikemukakan? (Ya.) Untuk meningkatkan status sosial laki-laki dan memberi mereka hak yang lebih besar, adalah perlu untuk memberikan tuntutan yang lebih tinggi kepada laki-laki, membangun citra lelaki di benak orang, dan membentuk citra itu menjadi kejantanan dan kekuatan. Inilah gambaran yang disampaikan oleh pepatah "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa" yang orang katakan. Salah satu aspek dari apa yang dikatakan oleh kaum moralis yang mengemukakan pepatah tentang perilaku moral ini kepada orang-orang adalah bahwa mereka yang hidup berdasarkan pepatah ini adalah laki-laki sejati yang jantan, artinya mereka sedang memberi tahu orang tentang definisi seorang laki-laki; aspek lainnya adalah mereka menganjurkan bahwa para lelaki harus memiliki kedudukan dan diperhitungkan di masyarakat, menjadi berbeda, memiliki pengaruh atas status sosial mereka, dan memiliki kekuasaan di masyarakat pada umumnya. Pemikiran bahwa "Laki-laki lebih unggul daripada perempuan" ini telah bertahan sampai sekarang. Meskipun beberapa negara atau etnis telah melakukan perbaikan dalam hal ini, pemikiran semacam itu masih menempati tempat dominan di banyak negara dan bangsa lainnya, di mana itu masih mengendalikan dan mendominasi tren nasional dan masyarakat, serta mendominasi pembagian kerja di antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat, serta status dan nilai sosial mereka, bahkan hingga saat ini tidak banyak yang berubah. Dengan kata lain, di banyak negara dan bangsa, para perempuan masih didiskriminasi dan dibedakan. Ini adalah hal yang sangat disesalkan dan merupakan ketidaksetaraan terbesar di dunia. Fakta ada atau tidaknya diskriminasi dan pembedaan terhadap perempuan, atau justru disetarakan dengan laki-laki, merupakan penanda yang jelas untuk mengukur maju atau mundurnya suatu negara atau bangsa.

Kita baru saja mempersekutukan bagaimana seharusnya memperlakukan laki-laki dan perempuan yang Tuhan ciptakan, dan pandangan benar apa yang harus dimiliki orang terhadap mereka. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kemanusiaan yang normal dan memiliki hati nurani dan nalar manusia yang normal—semua hal ini dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Kecuali perbedaan gender, laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara dalam hal pemikiran, naluri, respons mereka terhadap berbagai hal, kualitas dan kemampuan mereka, serta aspek-aspek lainnya. Mereka tidak bisa dikatakan persis sama, tetapi pada dasarnya mereka kurang lebih sama. Kebiasaan dan aturan hidup, gagasan, pandangan, dan sikap mereka terhadap masyarakat, tren dunia, orang, peristiwa, hal-hal, dan semua ciptaan Tuhan, serta respons mereka terhadap beberapa hal tertentu, termasuk respons fisik dan mental mereka, semuanya sama. Mengapa hal ini sama? Karena laki-laki dan perempuan diciptakan oleh satu-satunya Sang Pencipta, nafas hidup, kehendak bebas, berbagai aktivitas yang mampu mereka lakukan, rutinitas hidup mereka dan sebagainya, semuanya berasal dari Sang Pencipta. Berdasarkan fenomena tersebut, tidak ada perbedaan di antara laki-laki dan perempuan kecuali perbedaan gender, dan juga berbagai hal atau keterampilan profesional yang mereka kuasai. Sebagai contoh, banyak pekerjaan yang mampu dilakukan laki-laki juga mampu dilakukan oleh perempuan. Ada ilmuwan, pilot, dan astronaut perempuan, dan juga presiden dan pejabat pemerintah perempuan, yang membuktikan bahwa pekerjaan yang mampu dilakukan laki-laki dan perempuan kurang lebih sama, terlepas dari perbedaan gender. Dalam hal ketahanan fisik dan mengungkapkan emosi, laki-laki dan perempuan kurang lebih sama. Ketika kerabat seorang perempuan meninggal, dia menangis dengan getir karena kesedihan yang menyayat hati; ketika orang tua atau kekasih seorang laki-laki meninggal, dia juga meratap dengan sangat keras hingga mengguncang bumi; ketika perempuan dihadapkan dengan perceraian, mereka menjadi kecewa, tertekan, dan sedih, bahkan mungkin melakukan bunuh diri, sementara laki-laki juga akan menjadi sedih jika istrinya meninggalkan mereka, bahkan ada yang menangis diam-diam di bawah selimut. Karena mereka adalah lelaki, mereka tidak berani mengeluh tentang penderitaan ini di depan orang lain, dan harus berpura-pura kuat di luarnya, tetapi ketika tidak ada orang di sekitarnya, mereka akan menangis seperti orang normal. Setiap kali hal tertentu terjadi, baik laki-laki maupun perempuan menjadi emosional seperti yang seharusnya, entah itu menangis atau tertawa. Selain itu, di antara personel yang melaksanakan berbagai tugas dan pekerjaan di rumah Tuhan, perempuan memiliki kesempatan untuk dipromosi, dilatih, dan ditempatkan pada posisi penting, sedangkan laki-laki juga memiliki kesempatan yang sama untuk dipromosikan, dilatih, dan diberikan pekerjaan penting—peluangnya sama dan setara. Berbagai kerusakan yang diperlihatkan oleh perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam melaksanakan tugas mereka tidak berbeda dengan yang diperlihatkan oleh laki-laki. Bahkan di antara perempuan ada orang jahat dan antikristus yang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja—bukankah laki-laki juga sama? Itu karena watak rusak manusia adalah sama. Jika mereka adalah orang-orang jahat yang melakukan kejahatan, mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja, dan berusaha mendirikan kerajaan mereka sendiri, lalu ketika mereka dikeluarkan, akankah ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan? Tidak, mereka semua akan dikeluarkan dengan cara yang sama. Menurutmu, di antara mereka yang dikeluarkan, apakah ada lebih banyak laki-laki daripada perempuan? Masing-masing hampir sama. Semua orang yang melakukan kejahatan, mengganggu, mengacaukan, dan dianggap sebagai antikristus dan orang jahat, entah mereka adalah laki-laki atau perempuan, harus dikeluarkan. Ada orang-orang yang berkata: "Perempuan tidak boleh melakukan hal-hal yang mengganggu dan mengacaukan, betapa memalukannya jika perempuan melakukan hal-hal semacam itu, perempuan harus lebih peduli untuk menjaga martabatnya! Bagaimana mungkin perempuan mampu melakukan kejahatan sebesar itu? Mereka tidak mampu, mereka harus diberi kesempatan untuk bertobat. Laki-laki itu berani, mereka dilahirkan untuk melakukan hal-hal buruk, menjadi antikristus, dan pelaku kejahatan. Sekalipun mereka melakukan sedikit kejahatan, dan meskipun kita tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang keadaannya, mereka tetap harus dikeluarkan." Apakah rumah Tuhan melakukan ini? (Tidak.) Rumah Tuhan tidak melakukan ini. Rumah Tuhan mengeluarkan orang berdasarkan prinsip. Rumah Tuhan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, juga tidak berkaitan dengan menjaga martabat perempuan atau laki-laki, tetapi memperlakukan mereka dengan adil. Jika engkau adalah orang yang telah melakukan kejahatan dan memenuhi prinsip untuk dikeluarkan dan diusir, rumah Tuhan akan mengeluarkanmu berdasarkan prinsip; jika engkau adalah seorang perempuan yang telah menyebabkan gangguan dan kekacauan, dan engkau adalah orang jahat atau antikristus, engkau juga akan dikeluarkan atau diusir, dan tidak akan diampuni hanya karena engkau adalah perempuan dan engkau menangis atau meneteskan air mata. Rumah Tuhan harus menangani segala sesuatu berdasarkan prinsip. Perempuan yang percaya kepada Tuhan akan mengejar berkat, dan memiliki keinginan dan niat untuk diberkati. Dan apakah laki-laki juga memilikinya? Ya mereka memilikinya, laki-laki juga memiliki ambisi dan keinginan yang sama untuk diberkati seperti perempuan. Siapakah yang memiliki sikap menentang terhadap Tuhan yang lebih parah, laki-laki atau perempuan? Keduanya sama. Ada orang-orang yang akan berkata: "Akhirnya, kini aku mengerti yang sebenarnya, ternyata laki-laki dan perempuan sama-sama rusak! Dahulu, kupikir laki-laki itu jantan dan kuat, harus berperilaku sebagai laki-laki bermartabat, melakukan segala sesuatu secara adil dan terhormat, juga terbuka, tidak seperti perempuan, banyak di antara mereka berpikiran sempit, terus-menerus meributkan hal-hal sepele, selalu bergosip di belakang orang, dan tidak terbuka dalam bertindak. Namun, aku tidak pernah menyangka kebanyakan orang jahat adalah laki-laki, dan hal-hal buruk yang mereka lakukan bahkan lebih besar dan lebih banyak." Sekarang engkau memahami hal ini. Singkatnya, entah laki-laki atau perempuan, watak rusak semua orang adalah sama, hanya kemanusiaan orang yang berbeda—inilah satu-satunya cara yang adil untuk memandang laki-laki dan perempuan. Apakah ada bias dalam sudut pandang ini? (Tidak.) Apakah ini dipengaruhi oleh gagasan bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan? (Tidak.) Itu sama sekali tidak dipengaruhi oleh hal-hal ini. Dalam menilai apakah seseorang itu baik atau buruk, pertama-tama orang harus melihat bukan pada apakah dia adalah laki-laki atau perempuan, tetapi pada kemanusiaannya, dan kemudian menilai esensinya berdasarkan perwujudan watak rusaknya dalam berbagai aspek—seperti inilah cara memandang orang secara akurat.

Berdasarkan fenomena yang kita bahas sebelumnya, selain perbedaan gender, tidak ada perbedaan apa pun di antara laki-laki dan perempuan, entah dalam perwujudan naluri mereka, dalam penyingkapan berbagai watak rusak mereka, atau dalam esensi natur mereka. Dalam hal esensi tubuh manusia, watak mereka, naluri, tekad, dan kehendak bebas yang Tuhan anugerahkan kepada manusia ketika Dia menciptakan mereka, tidak ada perbedaan di antara manusia. Oleh karena itu, ketika orang memandang laki-laki dan perempuan, mereka seharusnya memandang laki-laki dan perempuan bukan berdasarkan penampilannya, apalagi berdasarkan gagasan budaya tradisional yang diajarkan dunia ini kepada manusia, melainkan berdasarkan firman Tuhan. Mengapa orang harus memandang mereka berdasarkan firman Tuhan? Mengapa tidak memandang mereka berdasarkan gagasan dan pandangan budaya tradisional? Ada orang-orang yang berkata: "Di sepanjang ribuan tahun sejarah manusia, begitu banyak pernyataan telah dibuat dan ditulis dalam buku. Apakah pandangan dan pepatah manusia tidak ada yang benar? Apakah tidak ada kebenaran sama sekali di dalamnya?" Dalam hal apa kata-kata ini tidak masuk akal? Manusia dianggap sebagai makhluk ciptaan, mereka telah dirusak oleh Iblis selama ribuan tahun, dan mereka penuh dengan watak Iblis yang menyebabkan masyarakat menjadi begitu gelap dan jahat. Tak seorang pun dapat melihat dengan jelas sumber penyebabnya, mengenali Iblis, ataupun benar-benar mengenal Tuhan. Oleh karena itu, pandangan manusia yang rusak tidak sesuai dengan kebenaran, dan hanya Sang Pencipta yang mengetahui segalanya tentang hal ini. Ini adalah fakta yang nyata. Kebenaran hanya dapat diperoleh dari firman Tuhan, sedangkan kebudayaan dunia manusia dihasilkan oleh perusakan Iblis. Manusia tidak pernah mengalami pekerjaan Tuhan, dan tak seorang pun dapat mengenal Tuhan sehingga tidak mungkin menghasilkan kebenaran dalam budaya tradisional manusia, karena semua kebenaran berasal dari Tuhan dan diungkapkan oleh Kristus. Setelah dirusak oleh Iblis, semua manusia memiliki natur dan watak Iblis. Mereka semua memuja selebritas dan tokoh besar, dan semuanya mengikuti Iblis. Manusia memiliki motif dan tujuan tersembunyi mereka sendiri ketika memandang atau mendefinisikan hal-hal tertentu. Di satu sisi, untuk siapa pun motif dan tujuan ini, atau apa tujuan yang dimaksud, semuanya dikendalikan oleh watak yang rusak. Oleh karena itu, hal-hal yang didefinisikan oleh manusia yang rusak dan pemikiran yang mereka anjurkan pasti dipengaruhi oleh rencana licik Iblis. Itu salah satu aspeknya. Di sisi lain, dari sudut pandang objektif adalah, betapa pun cakapnya manusia, tak seorang pun memahami fungsi, naluri, dan esensi manusia ciptaan. Karena manusia tidak diciptakan oleh siapa pun, bukan diciptakan oleh orang-orang yang disebut tokoh besar, raja setan, Iblis, atau roh jahat, manusia sama sekali tidak memahami naluri, fungsi, dan esensi manusia. Jadi, siapa yang paling memahami naluri, fungsi, dan esensi manusia? Hanya Sang Pencipta yang paling memahaminya. Siapa pun yang menciptakan manusia paling memahami fungsi, naluri, dan esensi mereka dan, tentu saja, paling memenuhi syarat untuk mendefinisikan manusia dan menentukan nilai, identitas, dan esensi laki-laki atau perempuan. Bukankah ini fakta yang objektif? (Ya.) Yang Tuhan gunakan untuk menciptakan manusia, naluri yang Dia berikan kepada manusia ketika Dia menciptakan mereka, fungsi dan hukum-hukum tubuh mereka, apa yang cocok atau tidak cocok untuk mereka lakukan, dan bahkan berapa lama masa hidup mereka seharusnya—semua ini telah ditentukan dari semula oleh Tuhan. Hanya Tuhan yang memiliki pemahaman terbaik tentang manusia yang Dia ciptakan, dan tidak ada yang lain yang lebih memahami tentang manusia ciptaan. Bukankah ini fakta? (Ya.) Oleh karena itu, Tuhan paling memenuhi syarat untuk mendefinisikan manusia, dan menentukan identitas, status, nilai, dan fungsi laki-laki atau perempuan, serta jalan yang benar yang orang harus tempuh. Tuhan paling tahu apa yang dibutuhkan manusia ciptaan-Nya, apa yang mampu mereka capai, dan apa yang ada di dalam kemampuan mereka. Dari sudut pandang lain, yang paling dibutuhkan manusia ciptaan adalah firman yang diucapkan oleh Sang Pencipta. Hanya Tuhan sendiri yang mampu memimpin, membekali, dan menggembalakan manusia. Semua pepatah manusia rusak yang bukan berasal dari Tuhan itu menyesatkan, terutama pepatah budaya tradisional, yang semuanya menyesatkan, melumpuhkan, dan membatasi orang, dan tentu saja, berfungsi sebagai semacam pengekangan dan kendali. Ada satu aspek lagi, yaitu Tuhan menciptakan manusia dan perhatian terbesar Tuhan bagi manusia adalah apakah mereka dapat menempuh jalan yang benar dalam hidup. Sedangkan, masyarakat, bangsa, dan negara hanya memperhatikan kepentingan kelas penguasa dan stabilitas rezim politik, tanpa memedulikan kehidupan kelas bawah. Akibatnya, hal ini menyebabkan beberapa hal ekstrem dan kacau terjadi. Mereka tidak membimbing orang ke jalan yang benar agar orang dapat menjalani kehidupan yang bernilai dan jelas, serta tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, tetapi sebaliknya, mereka ingin mengeksploitasi orang untuk melayani pemerintahan mereka, karier, ambisi, dan keinginan mereka sendiri. Pernyataan, atau gagasan dan pandangan apa pun yang mereka kemukakan, tujuan dari semua ini adalah untuk menyesatkan orang, membatasi pemikiran mereka, dan mengendalikan manusia sehingga orang akan melayani mereka dan setia kepada mereka. Mereka tidak memikirkan masa depan atau prospek manusia, ataupun memikirkan bagaimana manusia dapat bertahan hidup dengan lebih baik. Sebaliknya, yang Tuhan lakukan sama sekali berbeda, di mana semua yang Tuhan lakukan adalah berdasarkan rencana-Nya. Setelah menciptakan manusia, Dia membimbing mereka untuk memahami lebih banyak kebenaran dan prinsip untuk berperilaku, dan membuat mereka melihat dengan jelas fakta yang sebenarnya tentang perusakan Iblis terhadap manusia. Di atas landasan ini, berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang Tuhan ajarkan dan gunakan untuk memperingatkan manusia, barulah mereka dapat memulai jalan yang benar dalam hidup.

Aturan dan ketentuan tentang perilaku moral dalam budaya tradisional ini sangat luas dan memengaruhi pemikiran orang dari segala aspek, menyesatkan dan membatasi pemikiran mereka. Yang telah kita persekutukan hari ini adalah beberapa pepatah dan pandangan budaya tradisional yang menyimpang tentang gender, yang telah memengaruhi pandangan benar orang tentang gender sampai tingkat yang signifikan, dan juga telah membuat laki-laki dan perempuan tunduk pada begitu banyak belenggu, ikatan, pembatasan, diskriminasi, dan sejenisnya. Semua ini adalah fakta yang dapat dilihat orang, dan itu juga merupakan pengaruh dan akibat budaya tradisional terhadap manusia.

14 Mei 2022

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp