Apa Arti Pelaksanaan Tugas yang Memadai? (Bagian Empat)
Apa standar untuk menentukan apakah seseorang sudah melaksanakan tugasnya secara memadai atau belum? Jika jalan yang ditempuh orang dalam melaksanakan tugas itu benar, arahnya benar, dan niatnya benar; jika asal-usul dan prinsipnya benar; jika aspek-aspek ini benar, berarti tugas yang dilaksanakan orang sudah memadai. Banyak orang memahaminya secara teori, tetapi menjadi bingung ketika benar-benar terjadi sesuatu pada mereka. Singkatnya, Aku akan memberitahukan kepadamu suatu prinsip: Janganlah bertindak sewenang-wenang dan secara sepihak ketika menghadapi suatu situasi. Mengapa engkau tidak boleh bertindak sewenang-wenang dan secara sepihak? Di satu sisi, tindakan seperti itu tidak sejalan dengan prinsip pelaksanaan tugas. Di sisi lain, sebuah tugas bukanlah urusan pribadimu sendiri; engkau tidak sedang menguntungkan dirimu sendiri, engkau bukan sedang mengurus pekerjaanmu sendiri, ini bukanlah usaha pribadimu sendiri. Di rumah Tuhan, apa pun yang kaulakukan, engkau tidak sedang mengerjakan usahamu sendiri; itu adalah pekerjaan rumah Tuhan, itu adalah pekerjaan Tuhan. Engkau harus selalu mengingat pengetahuan dan kesadaran ini dan berkata, "Ini bukan urusanku sendiri; aku sedang melakukan tugasku dan memenuhi tanggung jawabku. Aku sedang melakukan pekerjaan gereja. Ini adalah tugas yang Tuhan percayakan kepadaku dan aku melakukannya untuk Dia. Ini adalah tugasku, bukan urusan pribadiku sendiri." Inilah hal pertama yang harus orang pahami. Jika engkau memperlakukan tugas sebagai urusan pribadimu sendiri, dan tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran ketika engkau bertindak, serta melaksanakannya sesuai dengan motif, pandangan, dan maksudmu sendiri, maka kemungkinan besar engkau akan melakukan kesalahan. Jadi, bagaimana seharusnya engkau bertindak jika engkau ingin membuat perbedaan yang sangat jelas antara tugasmu dan urusan pribadimu sendiri, dan sadar bahwa ini adalah sebuah tugas? (Carilah apa yang Tuhan tuntut, dan carilah prinsip.) Benar. Jika sesuatu terjadi pada dirimu dan engkau tidak memahami kebenaran, dan engkau memiliki gagasan tertentu tetapi segala sesuatunya masih belum jelas bagimu, engkau harus mencari saudara-saudari yang memahami kebenaran untuk diajak bersekutu; inilah artinya mencari kebenaran, dan inilah sikap yang harus terlebih dahulu kaumiliki terhadap tugasmu. Engkau tidak boleh memutuskan segala sesuatu berdasarkan apa yang menurutmu benar, dan kemudian membuat keputusan akhir—ini dengan mudah menyebabkan masalah. Tugas bukanlah urusan pribadimu sendiri; entah besar atau kecil, urusan rumah Tuhan bukanlah urusan pribadi seseorang. Selama itu berkaitan dengan tugas, itu bukan urusan pribadimu—ini berkaitan dengan kebenaran dan prinsip. Jadi, apa hal pertama yang harus kaulakukan? Engkau harus mencari kebenaran dan mencari prinsip-prinsipnya. Dan jika engkau tidak memahami kebenaran, engkau harus mencari prinsip-prinsipnya terlebih dahulu; jika engkau sudah memahami kebenaran, mengidentifikasi prinsip-prinsip akan mudah. Apa yang harus kaulakukan jika tidak memahami prinsip? Ada satu cara: Engkau dapat bersekutu dengan orang-orang yang memahaminya. Jangan selalu beranggapan bahwa engkau selalu benar dan memahami segalanya; ini mudah menyebabkan kesalahan. Seperti apa watakmu ketika engkau selalu ingin mengambil keputusan akhir? Itu adalah watak congkak, sikap merasa diri benar, serta bertindak sewenang-wenang dan secara sepihak. Ada orang-orang yang berpikir, "Aku ini lulusan perguruan tinggi, aku lebih terpelajar daripadamu, aku punya kemampuan untuk memahami, sementara engkau semua punya tingkat pertumbuhan yang rendah dan tidak memahami kebenaran, jadi engkau harus mendengarkan apa pun yang kukatakan. Aku bisa mengambil keputusan sendiri!" Bagaimanakah pandangan ini? Jika engkau punya pandangan seperti ini, engkau akan mendapat masalah; engkau tidak akan pernah melaksanakan tugasmu dengan baik. Bagaimana engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik ketika engkau selalu ingin menjadi orang yang mengambil keputusan akhir, tanpa kerja sama yang harmonis? Melaksanakan tugasmu dengan cara seperti ini sama sekali tidak akan memenuhi standar. Mengapa Kukatakan demikian? Engkau selalu ingin mengekang orang lain dan membuat mereka mendengarkanmu; engkau tidak mau menerima apa pun yang dikatakan orang lain. Ini bias dan keras kepala, juga congkak dan merasa diri benar. Dengan cara ini, engkau tidak hanya akan gagal melaksanakan tugasmu dengan baik, tetapi engkau juga akan menghalangi orang lain agar mereka tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Inilah konsekuensi dari watak yang congkak. Mengapa Tuhan menuntut orang untuk bekerja sama dengan harmonis? Di satu sisi, hal ini berguna untuk menyingkapkan watak rusak orang, sehingga memungkinkan mereka untuk mengenal diri sendiri dan menyingkirkan watak rusaknya. Hal ini bermanfaat bagi jalan masuk kehidupannya. Di sisi lain, kerja sama yang harmonis juga bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Karena setiap orang kurang memahami kebenaran dan memiliki watak yang rusak, jika tidak ada kerja sama yang harmonis, mereka tidak akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, yang akan berdampak pada pekerjaan gereja. Konsekuensinya akan parah. Ringkasnya, agar dapat melaksanakan tugas secara memadai, orang harus belajar bekerja sama dengan harmonis, dan ketika menghadapi situasi tertentu, mereka harus mempersekutukan kebenaran untuk menemukan solusi. Hal ini penting dan bermanfaat, tidak hanya bagi pekerjaan gereja, tetapi juga bagi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Ada orang-orang yang tidak dapat memahaminya; mereka selalu berpikir bahwa kerja sama yang harmonis itu terlalu merepotkan, dan terkadang mempersekutukan kebenaran tidak mudah membuahkan hasil. Kemudian muncul keraguan dalam diri orang-orang ini, dan mereka berkata, "Apakah kerja sama yang harmonis benar-benar diperlukan untuk mencapai pelaksanaan tugas yang memadai? Ketika diperhadapkan pada suatu situasi, apakah bersekutu bersama yang lainnya pasti akan membuahkan hasil? Menurutku, semua ini hanyalah sekadar formalitas; mengikuti peraturan ini tidak ada gunanya." Apakah pandangan ini benar? (Tidak.) Masalah apa yang disingkapkan oleh pandangan ini? (Sikap mereka terhadap pelaksanaan tugas itu bermasalah.) Ada orang-orang yang mempunyai watak congkak dan merasa diri benar; mereka tidak mau mempersekutukan kebenaran dan selalu ingin mengambil keputusan akhir. Bisakah seseorang yang begitu congkak dan merasa diri benar bekerja sama secara harmonis dengan orang lain? Tuhan menuntut manusia untuk bekerja sama dengan harmonis dalam melaksanakan tugas untuk mengatasi watak rusak mereka, membantu mereka belajar tunduk pada pekerjaan Tuhan dalam melaksanakan tugas, dan menyingkirkan watak rusak mereka, sehingga mencapai pelaksanaan tugas yang memadai. Menolak bekerja sama dengan orang lain serta ingin bertindak sewenang-wenang dan secara sepihak, dan membuat semua orang mendengarkanmu, apakah seharusnya engkau bersikap seperti ini terhadap tugasmu? Sikapmu terhadap pelaksanaan tugasmu berhubungan dengan jalan masukmu ke dalam kehidupan. Tuhan tidak peduli dengan apa yang terjadi padamu setiap hari, atau berapa banyak pekerjaan yang kaulakukan, berapa banyak upaya yang kaulakukan—yang Dia lihat adalah bagaimana sikapmu terhadap hal-hal ini. Berkaitan dengan apakah sikap yang dengannya engkau melakukan hal-hal ini, dan caramu melakukannya? Itu berkaitan dengan apakah engkau mengejar kebenaran atau tidak, dan juga berkaitan dengan jalan masuk kehidupanmu. Tuhan melihat jalan masuk kehidupanmu dan jalan yang kautempuh. Jika engkau menempuh jalan mengejar kebenaran, dan engkau memiliki jalan masuk kehidupan, engkau akan mampu bekerja sama secara harmonis dengan orang lain saat engkau melaksanakan tugasmu, dan engkau akan dengan mudah melaksanakan tugasmu sesuai standar. Namun jika, saat melaksanakan tugasmu, engkau selalu menekankan bahwa engkau memiliki modal, bahwa engkau memahami bidang pekerjaanmu, bahwa engkau berpengalaman, dan memperhatikan maksud Tuhan, dan mengejar kebenaran lebih daripada siapa pun, dan jika kemudian engkau menganggap bahwa karena hal-hal ini, engkau memenuhi syarat untuk menjadi penentu keputusan, dan engkau tidak mendiskusikan apa pun dengan orang lain, dan selalu bertindak sekehendak hatimu sendiri, dan mengurus pekerjaanmu sendiri, serta selalu ingin menjadi "pusat perhatian", maka apakah engkau sedang menempuh jalan menuju jalan masuk kehidupan? Tidak—ini adalah mengejar status, ini menempuh jalan Paulus, ini bukan jalan menuju jalan masuk kehidupan. Cara Tuhan menghendaki manusia menempuh jalan masuk kehidupan dan jalan mengejar kebenaran tidak melibatkan perilaku yang demikian atau menunjukkan perwujudan seperti ini. Apa standar pelaksanaan tugas yang memadai? (Mencari kebenaran dalam segala hal, mampu bertindak sesuai dengan prinsip.) Benar. Untuk melaksanakan tugasmu secara memadai, berapa tahun pun engkau telah percaya kepada Tuhan, betapa pun banyaknya tugas yang telah kaulaksanakan, atau betapa pun banyaknya kontribusi yang telah kauberikan bagi rumah Tuhan, terlebih lagi, betapa pun berpengalamannya dirimu dalam tugasmu, itu bukan masalah. Hal utama yang Tuhan lihat adalah jalan yang orang tempuh. Dengan kata lain, Dia melihat sikap seseorang terhadap kebenaran dan prinsip, arah, sumber, dan titik awal di balik tindakan orang tersebut. Tuhan berfokus pada hal-hal ini; semua itulah yang menentukan jalan yang kautempuh. Jika, selama engkau melaksanakan tugasmu, hal-hal positif ini sama sekali tidak dapat terlihat dalam dirimu, dan prinsip, jalan, dan dasar dari tindakanmu adalah pemikiran, tujuan dan rencanamu sendiri; titik awalmu adalah untuk melindungi kepentinganmu sendiri serta menjaga reputasi dan kedudukanmu, caramu melakukan sesuatu adalah dengan membuat keputusan dan bertindak sendiri serta menjadi penentu keputusan, tidak pernah mendiskusikan segala sesuatu dengan orang lain atau bekerja sama secara harmonis, dan tidak pernah mendengarkan nasihat ketika engkau telah melakukan kesalahan, apalagi mencari kebenaran, lalu bagaimana Tuhan akan memandang dirimu? Engkau belum memenuhi standar jika engkau melakukan tugasmu dengan cara demikian, dan engkau belum menginjakkan kaki di jalan pengejaran akan kebenaran, karena, ketika engkau melaksanakan tugasmu, engkau tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran dan selalu bertindak sesukamu, melakukan apa pun yang kauinginkan. Inilah alasan mengapa kebanyakan orang tidak melaksanakan tugas mereka dengan memadai. Jadi, bagaimana cara mengatasi masalah ini? Menurutmu, apakah sulit untuk orang melaksanakan tugasnya secara memadai? Sebenarnya, tidak sulit; orang hanya harus dapat mengambil sikap rendah hati, memiliki sedikit nalar, dan mengambil posisi yang tepat. Betapa pun terpelajarnya dirimu, penghargaan apa pun yang telah kaumenangkan, atau apa pun yang telah kaucapai, dan setinggi apa pun status dan pangkatmu, engkau harus melepaskan semua hal ini, engkau harus melepaskan kecongkakanmu—semua ini tidak ada artinya. Di rumah Tuhan, sehebat apa pun hal-hal ini, semua itu tidak bisa lebih tinggi daripada kebenaran, karena hal-hal dangkal ini bukanlah kebenaran, dan tak dapat menggantikan posisi kebenaran. Engkau harus jelas mengenai masalah ini. Jika engkau berkata, "Aku sangat berbakat, aku memiliki pikiran yang sangat tajam, aku memiliki refleks yang cepat, aku orang yang cepat belajar, dan aku memiliki daya ingat yang sangat baik, jadi aku memenuhi syarat untuk menjadi penentu keputusan," jika engkau selalu menggunakan hal-hal ini sebagai modal, menganggapnya hal berharga, menganggapnya hal positif, maka ini berarti masalah. Jika hatimu dipenuhi hal-hal ini, jika semua ini telah berakar di dalam hatimu, akan sulit bagimu untuk menerima kebenaran—dan akibatnya akan sangat mengerikan. Oleh karena itu, engkau harus terlebih dahulu melepaskan dan menyangkal hal-hal yang kaucintai itu, yang tampaknya baik, yang berharga bagimu. Hal-hal itu bukanlah kebenaran; sebaliknya, semua itu dapat menghalangimu untuk memasuki kebenaran. Hal paling mendesak sekarang ini adalah engkau harus mencari kebenaran dalam melaksanakan tugasmu, dan menerapkan sesuai dengan kebenaran, lakukanlah sedemikian rupa hingga pelaksanaan tugasmu itu menjadi memadai, karena pelaksanaan tugas yang memadai hanyalah langkah pertama menuju jalan masuk kehidupan. Apa arti "langkah pertama" di sini? Artinya memulai suatu perjalanan. Dalam segala hal, ada sesuatu yang digunakan untuk memulai perjalanan, sesuatu yang paling mendasar, yang paling fundamental, dan mencapai pelaksanaan tugas yang memadai adalah sebuah jalan masuk kehidupan. Jika pelaksanaan tugasmu hanya tampak sesuai dengan cara tugas itu dilaksanakan, tetapi tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, berarti engkau tidak sedang melaksanakan tugasmu dengan memadai. Jadi, bagaimana seharusnya orang berusaha mencapainya? Orang harus berusaha mencapai dan mencari prinsip-prinsip kebenaran; diperlengkapi dengan prinsip-prinsip kebenaran adalah hal yang terpenting. Jika engkau sekadar memperbaiki perilaku dan temperamenmu, tetapi tidak diperlengkapi dengan kenyataan kebenaran, itu tidak ada gunanya. Engkau mungkin memiliki bakat atau keahlian tertentu. Itu hal yang baik—tetapi hanya dengan menggunakan hal itu dalam pelaksanaan tugasmulah yang berarti bahwa engkau memanfaatkan hal itu dengan tepat. Mampu melaksanakan tugasmu dengan baik tidak menuntut peningkatan dalam kemanusiaan atau kepribadianmu, juga tidak menuntutmu untuk mengesampingkan bakat atau talentamu. Bukan itu yang dituntut darimu. Yang terpenting adalah engkau memahami kebenaran dan belajar untuk tunduk kepada Tuhan. Hampir tak terhindarkan bahwa watak rusakmu akan terlihat pada saat engkau melaksanakan tugasmu. Apa yang harus kaulakukan pada saat-saat seperti itu? Engkau harus mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah dan bertindak sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika engkau melakukannya, melaksanakan tugas dengan baik tidak akan menjadi masalah bagimu. Di bidang apa pun bakat atau keahlianmu, atau di bidang apa pun pengetahuan kejuruan yang mungkin kaumiliki, menggunakan hal-hal ini dalam melaksanakan tugas adalah yang paling tepat. Itulah satu-satunya cara untuk melaksanakan tugasmu dengan baik. Salah satu pendekatannya adalah dengan mengandalkan hati nurani serta nalar untuk melaksanakan tugasmu, dan pendekatan lainnya adalah engkau harus mencari kebenaran untuk membereskan watak rusakmu. Orang memperoleh jalan masuk kehidupan dengan melaksanakan tugasnya menggunakan cara ini, dan dia menjadi mampu melaksanakan tugasnya secara memadai.
Seperti yang terlihat sekarang, pelaksanaan tugas yang memadai tak dapat lepas dari mencari kebenaran dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika orang tidak dapat mencari kebenaran untuk mengatasi masalah dan bertindak berdasarkan prinsip, dia tidak dapat mencapai pelaksanaan tugas yang memadai. Definisi pelaksanaan tugas yang memadai sudah dijelaskan. Apakah tuntutan Tuhan terhadap manusia itu tinggi? Sebenarnya, tidak tinggi. Tuhan hanya memintamu untuk memiliki sikap, niat, dan pandangan yang benar dalam tindakanmu. Berdasarkan ini, engkau dapat memperoleh pekerjaan Roh Kudus dan mengenal dirimu sendiri secara lebih mendalam. Kemudian engkau akan mampu menjalani ujian dan pemurnian, yang memungkinkanmu untuk memasuki kebenaran yang lebih dalam dan mengalami perubahan watak. Sebelum engkau menjalani ujian dan pemurnian, berdasarkan pemahamanmu akan kebenaran, Tuhan akan memberimu penghakiman dan hajaran. Namun, apa dasar dari penghakiman dan hajaran, serta ujian dan pemurnian? Berdasarkan apakah engkau sudah melaksanakan tugasmu secara memadai atau belum. Dengan kata lain, apakah engkau sudah mencapai jalan masuk kehidupan atau belum. Jalan masuk kehidupanmu tak terpisahkan dari pekerjaan dan tanggung jawabmu di gereja. Jika engkau menghabiskan sepanjang hari di rumah dengan membaca firman Tuhan dan beromong kosong tentang pelaksanaan tugas dan jalan masuk kehidupanmu, ini tidak realistis dan sia-sia. Ini seperti merancang rencana dan strategi perang tanpa terlibat langsung di medan perang; engkau berbicara sepanjang hari tentang pelaksanaan tugasmu secara memadai dan tentang menerima amanat Tuhan, tetapi tanpa dedikasi atau pengorbanan apa pun, dan tentu saja tanpa menanggung penderitaan ataupun mengalami kesukaran. Sekalipun terkadang hatimu tersentuh sehingga engkau menitikkan air mata saat sedang menyanyikan lagu pujian atau membaca firman Tuhan, ini tidak akan membuahkan hasil apa pun. Dari sudut pandang ini, apakah ada hubungan antara melaksanakan tugas secara memadai dengan memperoleh keselamatan? Atau, apakah pelaksanaan tugas yang memadai berhubungan dengan menerima penghakiman dan hajaran Tuhan? Ya, keduanya berhubungan. Agar dapat menerima penghakiman dan hajaran Tuhan, orang harus mencapai pelaksanaan tugas yang memadai. Mengapa Tuhan menetapkan standar seperti itu, yang menuntut orang untuk mencapai pelaksanaan tugas yang memadai? Karena Tuhan menggunakan pelaksanaan tugasmu untuk mengukur taraf jalan masuk kehidupanmu. Jika engkau sudah mencapai pelaksanaan tugas yang memadai, itu berarti jalan masuk kehidupanmu sudah mencapai standar yang membuatmu memenuhi syarat untuk menerima penghakiman dan hajaran, yang juga berarti engkau memenuhi syarat untuk menerima pekerjaan penyempurnaan Tuhan atasmu. Jadi, apa syarat yang telah Tuhan ajukan kepada manusia untuk mencapainya? Pelaksanaan tugasmu harus dipandang memadai di mata Tuhan, yang berarti, dengan kata lain, ada jalan dan arah yang mendasar menuju jalan masuk kehidupanmu yang diakui dan dianggap memenuhi syarat oleh Tuhan. Bagaimana Tuhan mengujinya? Terutama melalui pelaksanaan tugasmu. Begitu engkau sudah mendapatkan penegasan Tuhan dengan melaksanakan tugasmu secara memadai, langkah selanjutnya langsung dimulai: Tuhan akan mulai memberimu penghakiman dan hajaran. Kesalahan apa pun yang kaulakukan, engkau akan didisiplinkan, seolah-olah Tuhan mulai mengawasimu dengan ketat. Ini adalah hal yang baik. Artinya, engkau telah disahkan oleh Tuhan, engkau tidak lagi dalam bahaya, dan engkau adalah jenis orang yang sama sekali tidak akan melakukan tindakan yang jelas-jelas jahat. Di satu sisi, Tuhan akan melindungimu; di sisi lain, jika berbicara secara subjektif, jalan yang sedang kautempuh dan tujuan serta arah hidupmu sudah berakar pada jalan yang benar. Engkau tidak akan meninggalkan Tuhan dan tidak akan menyimpang. Selanjutnya, Tuhan pasti akan menyempurnakanmu; berkat ini akan datang kepadamu. Jadi, jika seseorang berharap menerima berkat ini dan menempuh jalan disempurnakan, tuntutan pertamanya adalah mencapai pelaksanaan tugas yang memadai. Tuhan mengamati berbagai kinerjamu di rumah Tuhan, juga tugas, amanat, dan misi yang Dia berikan kepadamu, untuk memahami sikapmu terhadap-Nya dan kebenaran. Melalui sikap ini, Tuhan menilai dengan tepat jalan mana yang sedang kautempuh. Jika engkau sedang menempuh jalan mengejar kebenaran, pelaksanaan tugasmu akan memenuhi standar, dan engkau pasti juga akan memiliki jalan masuk kehidupan dan mengalami perubahan watak dalam tingkat yang berbeda-beda. Ini semua dicapai selama proses pelaksanaan tugasmu. Sebelum Tuhan secara formal menyempurnakanmu, sampai sejauh inilah yang dapat kaucapai dengan mengandalkan upaya manusiawi. Tanpa pekerjaan Tuhan, engkau hanya dapat mencapai tingkat ini, dan akan sulit untuk berjuang lebih jauh. Engkau hanya dapat mengandalkan dirimu sendiri untuk mencapai apa yang sesuai dengan kemampuanmu dan kapasitas manusia, seperti mengendalikan diri melalui kemauan keras, menanggung penderitaan, membayar harga, meninggalkan daging, memangkas perasaan, meninggalkan dunia, mengenali tren jahat, memberontak melawan daging, melaksanakan tugas dengan setia, dapat menilai, dan tidak mengikuti manusia. Ketika sudah mencapai semua ini, engkau memenuhi syarat untuk disempurnakan oleh Tuhan. Tuhan pada dasarnya tidak mencampuri apa yang dapat dicapai manusia. Dia terus membekalimu dengan kebenaran, terus menyiramimu, mendukungmu untuk memahami kebenaran, memberitahumu cara untuk memahami kebenaran dalam berbagai aspek, dan cara untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Setelah engkau memahami dan memasukinya, Tuhan akan memberimu sertifikat kualifikasi, dan kesempatanmu untuk diselamatkan akan menjadi 80 persen. Namun, sebelum mencapai 80 persen, engkau harus mengerahkan seluruh tenaga dan upayamu; engkau tidak boleh menjalani hidup ini dengan sia-sia. Ada orang-orang yang berkata: "Sekarang aku sudah percaya kepada Tuhan selama dua puluh tahun; sudahkah aku mengerahkan seluruh tenagaku?" Ini tidak diukur dengan jumlah tahun. Ada orang-orang yang berkata: "Sekarang aku sudah percaya kepada Tuhan selama lima tahun, dan aku mulai memahami kebenaran. Aku tahu bagaimana cara melaksanakan tugas secara memadai, dan aku berjuang ke arah ini; aku tahu beberapa cara sekarang, dan sepertinya hatiku terasa sedikit damai dan terhibur." Perasaan ini pada dasarnya akurat, tetapi apakah itu berarti engkau memiliki peluang sebesar 80 persen untuk diselamatkan? Tidak; seberapa banyak yang sebenarnya sudah kaucapai? Antara 10 hingga 15 persen. Karena dalam proses melaksanakan tugasmu secara memadai, engkau masih harus mengalami pemangkasan berulang kali; engkau harus mengalami banyak keadaan. Dalam keadaan-keadaan itu, pada sisi positifnya, Tuhan akan memperkaya pengalamanmu. Dalam proses pengayaan pengalaman melalui orang, peristiwa, dan berbagai hal itu—yaitu, dalam keadaan yang nyata—Tuhan membuatmu memahami kebenaran. Mengapa Dia membuatmu memahami kebenaran melalui orang, peristiwa, dan berbagai hal ini? Jika engkau tidak mengalaminya, pemahamanmu tentang kebenaran akan selamanya hanya sebatas kata-kata, doktrin, dan slogan. Begitu engkau mengalami berbagai keadaan dalam hidup, doktrin-doktrin yang sebelumnya mulai kaupahami atau sudah mampu kaupahami dan mengerti dalam ingatanmu akan menjadi semacam kenyataan. Kenyataan ini adalah sisi nyata dari kebenaran, dan itulah yang harus kaupahami dan masuki.
Seberapa besar peluang seseorang untuk diselamatkan ketika dia belum memenuhi standar dalam melaksanakan tugas secara memadai? Paling banyak, antara 10 sampai 15 persen, karena dia tidak memahami kebenaran dan sama sekali tidak dapat memiliki ketundukan sejati. Dapatkah orang yang tidak memahami kebenaran bertindak berdasarkan prinsip? Dapatkah mereka melaksanakan tugas dengan serius dan bertanggung jawab? Sama sekali tidak. Semua orang yang tidak memahami kebenaran pasti bertindak sekehendak hatinya sendiri, melakukan segala sesuatunya secara asal-asalan, bercampur dengan banyak motif egois, dan bertindak berdasarkan kesukaannya sendiri. Sekalipun engkau dapat mengucapkan banyak doktrin, dan dapat melontarkan teori serta slogan, itu bukan berarti engkau memiliki kenyataan kebenaran, jadi peluangmu untuk diselamatkan tidaklah tinggi. Untuk memperoleh keselamatan sejati, dan melepaskan diri dari pengaruh Iblis serta hidup berdasarkan firman Tuhan, langkah selanjutnya adalah mengerahkan upaya dalam berbagai kebenaran. Apa tujuannya? Yakni masuk ke dalam kenyataan kebenaran dengan lebih akurat dan mantap. Hanya ketika engkau sudah masuk ke dalam kebenaran, engkau dapat mulai menempuh jalan hidup yang benar. Jika engkau hanya tahu cara mengucapkan doktrin dan slogan, tetapi tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran dalam melaksanakan tugasmu, dan bahkan dapat bertindak sembarangan berdasarkan keinginan sesaat, berarti engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran; dan perjalananmu masih jauh. Setelah seseorang mengalami banyak hal selama melaksanakan tugasnya dan menyadari bahwa dia tidak memahami kebenaran serta memiliki begitu banyak kekurangan, dia mulai berupaya untuk masuk ke dalam kebenaran. Lambat laun, dia berubah dari mengucapkan doktrin dan slogan menjadi memiliki pemahaman yang benar, menerapkan kebenaran secara akurat, dan benar-benar tunduk kepada Tuhan. Dengan demikian, harapannya untuk diselamatkan akan meningkat, dan peluangnya menjadi lebih tinggi. Berdasarkan apakah peningkatan ini? (Berdasarkan sejauh mana mereka memahami kebenaran.) Sejauh mana seseorang memahami kebenaran bukanlah faktor yang paling penting; yang paling penting adalah menerapkan dan memasuki kenyataan kebenaran. Hanya dengan menerapkan kebenaranlah engkau dapat memahaminya; engkau tidak akan pernah memahami kebenaran jika tidak menerapkannya. Sekadar memahami kata-kata dan doktrin tidak sama dengan memahami kebenaran. Makin sering engkau menerapkan kebenaran, maka makin banyak kenyataan yang kaumiliki, makin engkau berubah, dan makin baik pemahamanmu akan kebenaran. Oleh karena itu, harapanmu untuk diselamatkan akan meningkat. Dalam proses melaksanakan tugasmu, pada sisi positifnya, jika engkau dapat memperlakukan tugasmu dengan cara yang benar, tidak pernah meninggalkannya apa pun keadaan yang kauhadapi, dan bahkan ketika orang lain kehilangan iman dan berhenti melaksanakan tugasnya, engkau tetap berpegang teguh pada tugasmu dan tidak pernah meninggalkannya dari awal hingga akhir, tetap teguh dan setia pada tugasmu sampai akhir, berarti engkau benar-benar memperlakukan tugasmu sebagai tugas dan menunjukkan kesetiaan penuh. Jika engkau dapat memenuhi standar ini, pada dasarnya engkau sudah memenuhi standar pelaksanaan tugas dengan memadai; ini adalah sisi positifnya. Namun, sebelum mencapai standar ini, pada sisi negatifnya, orang harus mampu bertahan dalam menghadapi berbagai pencobaan. Masalah macam apa yang muncul ketika seseorang tidak dapat bertahan dalam menghadapi pencobaan dalam proses pelaksanaan tugasnya, sehingga dia meninggalkan tugasnya dan melarikan diri, mengkhianati tugasnya? Itu sama dengan mengkhianati Tuhan. Mengkhianati amanat Tuhan berarti mengkhianati Tuhan. Masih bisakah orang yang mengkhianati Tuhan diselamatkan? Orang ini sudah tamat; semua harapannya sirna, dan tugas yang sebelumnya dia laksanakan hanyalah jerih payah, yang lenyap bersama pengkhianatannya. Jadi, sangatlah penting untuk berpegang teguh pada tugas; dengan demikian, masih ada harapan. Dengan setia melaksanakan tugas, orang dapat diselamatkan dan mendapatkan perkenanan Tuhan. Menurut semua orang, apa bagian yang paling sulit dalam berpegang teguh pada tugas? Yakni apakah mereka mampu berdiri teguh saat menghadapi pencobaan. Meliputi apa sajakah pencobaan ini? Uang, status, hubungan yang intim, dan perasaan. Apa lagi? Jika beberapa tugas memiliki risiko, bahkan berisiko kehilangan nyawa, dan pelaksanaan tugas itu mungkin dapat menyebabkan penangkapan dan pemenjaraan atau bahkan penganiayaan hingga kematian, apakah engkau tetap bisa melaksanakan tugasmu? Mampukah engkau bertekun? Apakah pencobaan ini dapat diatasi dengan mudah atau tidak, itu tergantung pada apakah orang mengejar kebenaran. Itu tergantung pada kemampuan orang untuk secara perlahan-lahan mengerti dan mengenali pencobaan ini saat mengejar kebenaran, serta kemampuan untuk mengenali esensinya dan tipu muslihat Iblis di baliknya. Orang juga dituntut untuk mengenali watak rusak, esensi natur, dan kelemahannya sendiri. Orang juga harus terus memohon kepada Tuhan untuk melindunginya supaya dia dapat bertahan menghadapi pencobaan ini. Jika orang dapat bertahan menghadapi ini, dan berpegang teguh pada tugasnya tanpa berkhianat atau melarikan diri dalam keadaan apa pun, berarti peluangnya untuk diselamatkan mencapai 50 persen. Apakah 50 persen ini mudah dicapai? Setiap langkah adalah tantangan, yang penuh risiko; ini tidak mudah dicapai! Adakah orang yang merasa bahwa mengejar kebenaran itu sangat sulit sehingga dia merasa bahwa hidup ini terlalu melelahkan dan lebih memilih mati? Orang macam apa yang merasa seperti itu? Begitulah yang dirasakan para pengikut yang bukan orang percaya. Demi sekadar bertahan hidup, orang bisa memutar otak, menanggung kesukaran apa pun, dan tetap bertahan hidup dengan gigih dalam bencana, tidak menyerah hingga napas terakhir. Jika mereka percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran dengan semangat seperti ini, mereka pasti akan mencapai hasil. Jika orang tidak mencintai kebenaran dan tidak mau memperjuangkannya, mereka tidak berguna! Mengejar kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat dicapai melalui upaya manusia belaka; perlu adanya usaha manusia yang dipadukan dengan pekerjaan Roh Kudus. Ini memerlukan Tuhan yang mengatur berbagai lingkungan untuk menguji dan memurnikan manusia, dan Roh Kudus yang bekerja untuk mencerahkan, menerangi, dan membimbing mereka. Penderitaan yang dialami orang untuk memperoleh kebenaran mutlak diperlukan. Seperti para pendaki gunung yang mempertaruhkan nyawa demi mencapai puncak, mereka tidak takut menghadapi kesukaran dalam upaya mereka untuk menantang batas, bahkan hingga titik mempertaruhkan nyawa. Apakah percaya kepada Tuhan dan mendapatkan kebenaran lebih sulit daripada mendaki gunung? Orang macam apa yang menginginkan berkat tetapi tidak mau menderita? Mereka tidak berguna. Engkau tidak dapat mengejar dan memperoleh kebenaran tanpa kemauan yang kuat; engkau tidak dapat melakukannya tanpa kemampuan untuk menanggung penderitaan. Engkau harus membayar harga untuk memperolehnya.
Orang sudah mulai memahami definisi memadai, standar memadai, alasan mengapa Tuhan telah menetapkan standar memadai ini, hubungan antara pelaksanaan tugas secara memadai dan jalan masuk kehidupan, serta faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kebenaran tentang pelaksanaan tugas secara memadai. Jika mereka dapat mencapai titik di mana mereka dapat berpegang teguh pada tugas mereka tanpa memandang waktu ataupun tempat, tanpa menyerah, dan dapat bertahan menghadapi segala macam pencobaan, dan kemudian memahami serta memperoleh pengetahuan dan jalan masuk ke dalam berbagai kebenaran yang Tuhan tuntut dalam segala situasi berbeda yang Dia atur bagi mereka, di mata Tuhan, mereka pada dasarnya sudah mencapai taraf memadai. Ada tiga unsur mendasar agar seseorang dapat mencapai taraf memadai dalam melaksanakan tugasnya: Pertama, memiliki sikap yang benar terhadap tugasnya, dan tidak meninggalkan tugasnya kapan pun; kedua, mampu bertahan menghadapi segala macam pencobaan saat melaksanakan tugasnya, dan tidak tersandung; ketiga, mampu memahami setiap aspek kebenaran saat melaksanakan tugasnya, dan masuk ke dalam kenyataan. Ketika orang mencapai ketiga hal ini dan telah memenuhi standar, maka prasyarat pertama agar dapat menerima penghakiman dan hajaran serta agar disempurnakan—dengan melaksanakan tugas secara memadai—telah terpenuhi.
Mengenai pelaksanaan tugas secara memadai, beberapa konten mengenai istilah "memadai" sudah dibahas sebelumnya. Bagaimana pada dasarnya "memadai" didefinisikan di pembahasan sebelumnya? (Didefinisikan sebagai tindakan yang sesuai dengan prinsip.) "Memadai" yang dibahas sekarang ini sudah naik ke pembahasan tentang maksud Tuhan dan standar yang Tuhan tuntut terhadap manusia. Mengapa Tuhan menuntut orang-orang melaksanakan tugasnya dengan standar memadai? Ini berkaitan dengan maksud Tuhan untuk menyelamatkan manusia dan standar-Nya dalam menyelamatkan serta menyempurnakan manusia. Jika engkau tidak mencapai taraf memadai dalam melaksanakan tugasmu, Tuhan tidak akan menyempurnakanmu; itu adalah syarat terpenting bagi Tuhan untuk menyempurnakan manusia. Oleh karena itu, apakah seseorang dapat disempurnakan oleh Tuhan atau tidak, itu sangat bergantung pada memadai atau tidaknya pelaksanaan tugasnya. Jika pelaksanaan tugasmu tidak memadai, pekerjaan Tuhan untuk menyempurnakan manusia tidak ada hubungannya denganmu. Sekarang, sebagian orang berada di jalan yang benar dalam melaksanakan tugasnya, dan arahnya juga benar, tetapi mereka masih belum dapat dianggap melaksanakan tugas secara memadai. Mengapa? Karena orang-orang memahami terlalu sedikit kebenaran. Ini seperti anak-anak yang ingin berbagi tugas rumah tangga dengan orang tuanya, tetapi mereka mungkin belum memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup untuk melakukannya. Pada tahap manakah mereka akan memiliki tingkat pertumbuhan agar benar-benar bisa berbagi tugas rumah tangga? Yakni, saat mereka mampu melakukan berbagai hal tanpa membuat orang dewasa khawatir; maka mereka dapat ikut ambil bagian dalam tugas rumah tangga. Saat itulah mereka dapat melakukannya. Meskipun sekarang engkau mampu melakukan beberapa hal, engkau masih berada pada tahap mengerahkan upaya dan berjerih payah karena kebenaran yang kaupahami terlalu dangkal, kebenaran yang dapat kauterapkan terlalu sedikit, dan prinsip yang dapat kaupahami terlalu sedikit. Engkau sering kali meraba-raba, sering kali bertindak dalam keadaan kabur, sehingga sangat sulit bagimu untuk memastikan apakah yang sedang kaulakukan itu sejalan dengan maksud Tuhan; pikiranmu selalu tidak jernih. Jadi, apakah pelaksanaan tugasmu dapat dianggap memadai? Masih belum bisa, karena pemahamanmu akan kebenaran terlalu sedikit, dan jalan masuk kehidupanmu belum mencapai tingkat yang Tuhan tuntut; tingkat pertumbuhanmu terlalu rendah. Apa yang dimaksud dengan tingkat pertumbuhan yang terlalu rendah? Ada orang-orang yang berkata bahwa tingkat pertumbuhan yang terlalu rendah adalah pemahaman yang dangkal akan kebenaran, tetapi sebenarnya itu bukan hanya mengenai pemahaman yang dangkal akan kebenaran. Ini juga berhubungan langsung dengan kemanusiaan orang yang belum dewasa atau kualitasnya yang buruk dan hal negatif yang terlalu banyak di dalam dirinya. Misalnya, jika sekarang suatu tugas diserahkan kepadamu dan engkau tidak tahu cara melaksanakannya, engkau mungkin merasa tidak berguna dan merasa tidak dapat memperhatikan maksud Tuhan. Ini membuatmu menjadi negatif dan lemah, serta merasa bahwa pengaturan Tuhan itu buruk, bahwa engkau tidak dapat melakukan apa pun, dan bahwa engkau pasti akan disingkirkan. Lalu engkau tidak mau lagi melaksanakan tugasmu. Bukankah ini adalah perwujudan dari tingkat pertumbuhan yang rendah? Terlebih lagi, sekarang ada banyak saudara-saudari muda yang belum menikah. Jika mereka bertemu dengan seorang pemuda atau pemudi yang berparas elok, mereka bisa merasa jatuh cinta. Dengan saling bertukar pandang saja, perasaan di antara mereka bisa tumbuh; dengan berkembangnya kasih sayang yang kuat seperti itu, apakah mereka masih mampu melaksanakan tugasnya dengan baik saat mereka mulai berkencan? Ini namanya terjerumus dalam pencobaan. Bukankah ini menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah? Memang benar. Selain itu, ada orang-orang yang memiliki karunia khusus, dan mereka melaksanakan tugas khusus di rumah Tuhan. Ini membuat mereka merasa punya modal, sehingga mereka ingin berlagak, selalu ingin pamer. Begitu mereka pamer, mereka kehilangan prinsip dalam melakukan berbagai hal. Dan jika orang lain sedikit saja memuji mereka, pastilah mereka akan kehilangan prinsip dalam melakukan berbagai hal, menjadi berpuas diri dan melupakan tugasnya. Ini juga berarti jatuh dalam pencobaan. Bukankah ini menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah? Bahkan perkara remeh bisa menyebabkan orang yang tingkat pertumbuhannya rendah tersandung. Misalnya, beberapa orang bekerja sebagai aktor di dalam rumah Tuhan; dengan penampilan dan karismanya, mereka muncul di beberapa film dan kemudian merasa sudah menjadi sedikit terkenal. Mereka berpikir, "Sekarang aku sudah mulai sedikit terkenal; jika ini adalah dunia sekuler, bukankah orang-orang akan meminta tanda tanganku? Mengapa tak seorang pun di rumah Tuhan menginginkan tanda tanganku? Sepertinya lebih baik aku membintangi film bagus yang lain." Namun, ketika mereka tidak mendapatkan peran utama di film berikutnya, mereka merasa ingin melepaskan tugas mereka, menganggapnya tidak berguna. Mereka selalu ingin memainkan peran utama dan menjadi aktor terkenal. Ketika tidak berhasil mencapainya, mereka menjadi patah semangat, murung, dan bahkan berpikir untuk berhenti. Ini berarti memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah. Memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah berarti engkau tidak mampu memikul tanggung jawab yang penting. Sekalipun engkau diberi tugas oleh Tuhan, engkau masih belum mampu memperoleh kepercayaan dari-Nya. Dengan satu pemikiran yang salah atau satu hal yang bertentangan dengan keinginanmu, engkau bisa melepaskan tugasmu dan berbalik melawan Tuhan. Bukankah ini juga menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah? (Ya.) Tingkat pertumbuhan yang sangat rendah. Dengan tingkat pertumbuhan yang rendah dan perilaku seperti itu, seberapa jauhkah seseorang dari pelaksanaan tugas secara memadai? Di manakah letak kesenjangannya? Kesenjangannya terletak pada seberapa besar orang mencintai kebenaran. Ada pula orang-orang yang dalam proses melaksanakan tugas mengetahui bahwa anggota keluarga terdekatnya jatuh sakit. Mereka kemudian tidak lagi menghadiri pertemuan dan melalaikan tugas mereka, berpikir bahwa melewatkan tugas selama beberapa hari bukanlah masalah penting. Lagi pula, jika anggota keluarga mereka itu meninggal, anggota keluarga tersebut akan pergi untuk selamanya. Namun, mereka tidak menganggap pelaksanaan tugas sebagai masalah yang sangat penting yang berkaitan dengan memperoleh kehidupan, dan inilah satu-satunya kesempatan mereka untuk memperoleh keselamatan. Mereka mementingkan perasaan serta keluarga daripada tugas mereka dan daripada memperoleh keselamatan. Bukankah ini menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah? Tingkat pertumbuhan mereka terlalu rendah! Ini menunjukkan bahwa mereka tidak memahami urusan hidup yang benar, dan mereka tidak tahu bagaimana cara melaksanakan tugas dengan benar. Apakah tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan orang tergantung pada usianya? Tidak. Manusia yang rusak, entah pria ataupun wanita, dan tanpa memandang usia, tempat lahir, ataupun kebangsaan, semuanya memiliki watak rusak yang sama. Mereka semua memiliki natur Iblis dan dapat memberontak terhadap Tuhan dan menentang-Nya, melakukan segala macam kejahatan. Jika orang tidak mengejar kebenaran, dapatkah mereka bertobat dengan sungguh-sungguh? Tidak akan pernah; mereka tidak akan berubah. Ada orang-orang yang jatuh sakit dan berseru bahwa dia mengandalkan Tuhan dan tidak takut mati, tetapi mereka juga merasa tidak bisa hanya berpangku tangan dan tidak melakukan apa-apa. Mereka beranggapan jika mereka tidak melaksanakan tugasnya, mereka pasti akan mati, dan karenanya mereka segera berangkat melaksanakan tugasnya. Mereka melihat tugas mana yang paling sibuk dan paling penting, yang dihargai oleh Tuhan, dan bergegas mendaftar. Sepanjang proses melaksanakan tugas, mereka terus bertanya-tanya, "Apakah penyakit ini bisa disembuhkan? Aku benar-benar berharap demikian. Aku sudah membaktikan hidupku; bukankah seharusnya aku disembuhkan?" Sebenarnya, penyakit yang mereka derita itu mematikan; entah mereka melaksanakan tugas atau tidak, mereka akan mati. Meski sekarang mereka sudah datang untuk melaksanakan tugasnya, Tuhan mengamati hati manusia. Dengan tingkat pertumbuhan yang rendah dan motif yang seperti itu, dapatkah mereka melaksanakan tugasnya dengan baik? Sama sekali tidak. Orang-orang seperti ini tidak mengejar kebenaran, dan kemanusiaan mereka tidak baik. Mereka selalu memikirkan rencana kecilnya sendiri. Begitu penyakitnya kambuh atau mereka merasa sedikit tidak enak badan, mereka mulai berpikir, "Apakah Tuhan benar-benar memberkatiku? Apakah Dia benar-benar memelihara dan melindungiku? Sepertinya tidak, jadi aku tidak akan melaksanakan tugasku lagi." Ketika merasa sedikit tidak nyaman, mereka ingin melepaskan tugasnya. Apakah mereka memiliki tingkat pertumbuhan? (Tidak.) Oleh karena itu, jangan berpikir bahwa karena beragam orang bisa duduk di sini dan mendengarkan khotbah, atau karena mereka mampu meninggalkan keluarga dan karier mereka untuk melaksanakan tugas di posisi tertentu dalam rumah Tuhan—melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan keterampilan profesional atau bidang keahlian mereka sendiri—mereka pasti melaksanakan tugasnya. Itu juga bukan berarti bahwa setiap orang yang melaksanakan tugasnya melakukannya dengan sukarela, apalagi semua orang yang melaksanakan tugasnya itu memiliki tingkat pertumbuhan tertentu. Dari luar, orang-orang kelihatan sibuk dan tampak dengan sukarela melakukan berbagai hal dan mengorbankan diri untuk Tuhan atas dasar kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Pada kenyataannya, di lubuk hati mereka, semua orang sering kali lemah. Mereka kerap memendam pemikiran untuk melepaskan tugasnya, kerap mempunyai rencana sendiri, dan bahkan lebih sering berharap pekerjaan Tuhan lekas selesai supaya mereka dapat segera menerima berkat. Hanya itulah tujuan mereka. Tuhan bermaksud mengatasi kelemahan manusia, pemberontakannya, dan tingkat pertumbuhannya yang rendah, juga pemikiran serta tindakan manusia yang bodoh. Ketika semua masalah ini teratasi dan tidak lagi menjadi masalah, ketika tak ada suatu hal pun yang muncul yang dapat memengaruhi kemampuanmu dalam melaksanakan tugasmu, itu sudah cukup, dan tingkat pertumbuhanmu sudah meningkat. Jalan yang pada akhirnya akan ditempuh orang, dan sejauh mana mereka akan menempuhnya, tidak ditentukan oleh seberapa keras mereka menyerukan slogan-slogan, juga bukan ditentukan oleh emosi ataupun hasrat sesaat mereka. Sebaliknya, hal ini bergantung pada pengejaran mereka dan besarnya cinta mereka pada kebenaran.
Dalam situasi seperti apa engkau semua akan melepaskan tugasmu? Apakah di saat engkau menghadapi kematian? Ataukah ketika engkau merasakan sedikit kekecewaan dalam hidup? Ada orang-orang yang mempunyai banyak tuntutan dalam hal pelaksanaan tugas mereka. Di satu sisi, mereka tidak mau terkena angin ataupun kepanasan, dan lingkungan kerja mereka harus nyaman. Mereka tidak dapat menanggung keluhan bahkan sekecil apa pun. Selain itu, mereka harus bisa sering bersama suami (atau istri) mereka, menjalani hidup berdua, dan juga memiliki kehidupan pribadi sendiri, seperti pergi keluar untuk mencari hiburan, pergi berlibur, dan sebagainya, dan semuanya harus memuaskan mereka. Jika mereka tidak puas sedikit saja, hati mereka akan merasa tidak nyaman dan terus-menerus merasa kesal, dan mereka bahkan akan mengganggu orang lain dengan menyebarkan gagasan. Sebagian orang yang memahami kebenaran dapat menilai bahwa orang-orang ini tidak baik dan merupakan para pengikut yang bukan orang percaya, dan mereka akan menjauhkan diri dari orang-orang ini. Namun, ada sebagian orang yang tidak memahami kebenaran; mereka memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah dan tidak dapat menilai, dan mereka akan terpengaruh oleh gangguan orang-orang ini. Katakan kepada-Ku, haruskah para pelaku kejahatan seperti itu dikeluarkan dari gereja? (Ya.) Orang seperti ini, yang terus-menerus mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja, harus dikeluarkan untuk melindungi mereka yang tingkat pertumbuhannya rendah dan yang kurang berpengetahuan. Dalam keadaan apakah engkau sendiri mungkin akan meninggalkan tugasmu dan pergi tanpa pamit? Misalnya, saat menyebarkan Injil, engkau melihat seseorang yang berparas sangat elok dan berbicara dengan karismatik, dan makin engkau melihatnya, makin besar kekagumanmu, dan engkau berpikir, "Alangkah baiknya jika aku tidak melaksanakan tugasku dan menemukan pasangan yang seperti ini!" Begitu engkau berpikir seperti ini, engkau berada dalam bahaya; akan mudah bagimu untuk menyerah pada pencobaan. Dan begitu engkau terlalu memikirkannya, engkau bertekad untuk mengejar hubungan ini. Namun, ketika engkau pada akhirnya memenangkan hatinya, engkau menyadari bahwa dia juga manusia yang rusak dan sama sekali tidak sehebat itu, tetapi pada saat itu sudah terlambat untuk menyesalinya. Begitu seseorang jatuh ke dalam pencobaan jalinan asmara, tidak mudah untuk keluar. Tidak akan mudah untuk berbalik tanpa menghabiskan satu atau dua tahun, atau tiga sampai lima tahun. Selama tiga sampai lima tahun yang telah kaulewatkan, berapa banyak kebenaran yang akan kaulewatkan? Betapa besar kerugiannya bagi hidupmu? Berapa banyak pertumbuhan hidupmu akan tertunda? Sebagian orang lainnya melihat orang-orang menghasilkan banyak uang di dunia sekuler, mengenakan pakaian bermerek, makan dan minum enak, dan hati mereka pun bergejolak; mereka ingin pergi menghasilkan uang juga. Begitulah pencobaan muncul. Siapa pun yang pikirannya mulai berpacu ketika menghadapi situasi tertentu, dan berpikir untuk meninggalkan tugasnya, tidak akan mampu bertahan menghadapi pencobaan; dia berada dalam bahaya. Ini menandakan tingkat pertumbuhan yang rendah. Engkau merasa kesal dan tidak puas saat melihat orang lain makan makanan enak. Engkau juga merasa tidak puas saat melihat orang lain memiliki pasangan yang baik. Dan engkau menjadi tidak senang saat melihat orang yang sebaya denganmu dan sama menariknya denganmu, tetapi berpakaian lebih bagus daripadamu dan bahkan dia terkenal. Engkau mulai berpikir, seandainya engkau tidak meninggalkan pendidikanmu dan seandainya engkau lulus serta meniti karier, keadaanmu pasti akan lebih baik daripadanya. Setiap kali menghadapi situasi ini, engkau merasa gundah selama berhari-hari. Pencobaan ini adalah semacam kekangan, semacam kekesalan bagimu, yang menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhanmu itu rendah. Ketika engkau semua sedang menyebarkan Injil dan bertemu dengan lawan jenis yang cocok, tipe pria yang "tinggi, kaya, dan tampan" atau wanita berkulit putih, kaya, dan cantik, engkau mungkin tidak akan mampu menghindari pencobaan. Apa artinya engkau mungkin tidak akan mampu menghindarinya? Artinya, tingkat pertumbuhanmu belum mencapai tingkat di mana engkau mampu mengatasi berbagai pencobaan; engkau tidak dapat menghindarinya, sehingga hatimu terjerat dan tergoda bujuk rayu. Apa yang kaupikirkan, apa yang kaurenungkan di dalam benakmu, dan bahkan apa yang kauimpikan dan bicarakan dengan orang lain, semuanya adalah tentang masalah ini. Hal ini mempengaruhi pelaksanaan tugasmu; ketika mempersekutukan kebenaran, orang lain punya banyak hal yang hendak dikatakan sementara kontribusimu makin sedikit saja, dan engkau kehilangan minat untuk percaya kepada Tuhan. Bukankah ini namanya tergoda bujuk rayu? Ini terjerumus ke dalam pencobaan, dan ini berbahaya. Ada orang-orang yang berpendapat bahwa engkau baru terjerumus ke dalam pencobaan hanya ketika engkau sudah mulai berkencan dengan seseorang atau pergi bersamanya, tetapi ketika engkau sudah mencapai titik itu, sudah tamatlah dirimu. Bisakah situasi seperti ini muncul jika engkau semua menghadapi masalah seperti itu? (Aku tidak tahu.) Jika engkau tidak tahu, itu membuktikan bahwa tingkat pertumbuhanmu rendah. Mengapa hal ini membuktikan bahwa tingkat pertumbuhanmu rendah? Di satu sisi, engkau belum pernah menghadapi masalah yang seperti itu, jadi engkau tidak tahu bagaimana harus bereaksi; engkau tidak memiliki kendali atas dirimu sendiri. Di sisi lain, ketika menghadapi situasi seperti itu, engkau tidak memiliki sikap dan pendekatan yang tepat untuk menangani masalah seperti itu. Jika engkau tidak dapat mencari kebenaran untuk mengatasi masalah, itu berarti engkau pasif. Bersikap pasif membuktikan bahwa engkau memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah, dan engkau kurang berpengetahuan. Meski engkau mungkin tidak secara aktif membujuk orang lain, mereka pasti bisa membujukmu, sehingga mendatangkan pencobaan kepadamu. Jika engkau tidak dapat mengatasinya, itu adalah masalah. Misalnya, bagaimana jika seseorang menawarimu uang dan status, atau bagaimana jika seseorang yang bahkan lebih baik datang dan mencoba memikatmu? Apakah akan mudah untuk mengatasinya? Seberapa besar peluangmu untuk dapat mengatasinya? Konon, ada orang-orang yang setelah menerima dua batang coklat saja dari seseorang yang menyukai mereka, menjadi tergila-gila dan berpikir untuk menjalin hubungan dengan orang itu. Serendah itulah tingkat pertumbuhan mereka. Apakah ini karena belum cukup lama percaya kepada Tuhan? Belum tentu. Ada orang-orang yang sudah percaya selama lebih dari satu dekade dan masih bisa terjerumus ke dalam pencobaan ketika menghadapi situasi seperti itu. Entah itu pertama, kedua, atau ketiga kalinya mereka menghadapi ini, mereka masih bisa terpikat. Apa alasannya? Tingkat pertumbuhan mereka rendah, dan mereka benar-benar tidak memahami beberapa kebenaran. Mengapa mereka tidak memahaminya? Karena mereka tidak mengejar kebenaran; mereka selalu bingung. Di mata mereka, hal-hal seperti itu tidaklah penting. Mereka berpikir, "Jika jodoh yang cocok benar-benar datang, mengapa aku tidak boleh menikah? Hanya saja aku belum menemukan orang yang cocok, dan aku tidak terkesan oleh siapa pun, jadi aku akan menjalaninya saja." Menjalani saja bukanlah sikap mengejar kebenaran, bukan menempuh jalan untuk memperoleh keselamatan dan disempurnakan. Itu bukanlah pola pikir ini. Mereka hanya ingin bertahan hidup, menjalani masa kini, dan hidup mengikuti arus. Dan jika memang ada hari di mana mereka tidak bisa terus lanjut, ya sudah. Mereka tidak tertarik pada maksud Tuhan untuk menyelamatkan manusia atau pekerjaan yang Tuhan lakukan untuk keselamatan ini. Terlebih lagi, mereka tidak sungguh-sungguh mencari berbagai kebenaran yang berhubungan dengan penyelamatan manusia oleh Tuhan, dan mereka juga tidak menganggapnya serius. Ada orang-orang yang mungkin berkata: "Namun, mereka selalu datang untuk mendengarkan khotbah; bagaimana Engkau bisa berkata bahwa mereka tidak menganggapnya serius?" Namun, sekadar menjalankan ritual menghadiri pertemuan dan mendengarkan khotbah berbeda dari menerima kebenaran. Ada banyak orang yang mendengarkan khotbah, tetapi berapa banyak yang benar-benar menerapkan kebenaran? Bahkan lebih sedikit lagi orang yang mulai menempuh jalan mengejar kebenaran. Ada banyak orang yang hanya fokus memahami doktrin dan memperkaya gagasan serta imajinasi mereka sendiri ketika mendengarkan khotbah. Mereka yang mencintai kebenaran mendengarkan dengan tujuan mencari dan menerimanya. Mereka mampu mendengarkan khotbah dan merenungkan diri, membandingkan apa yang sudah mereka dengar dengan keadaan mereka sendiri, dan fokus membereskan watak rusak mereka. Mereka berpegang pada aspek-aspek nyata kebenaran; mereka menekankan penerapan dan pengalaman aspek-aspek ini, serta memperoleh kebenaran. Oleh karena itu, mereka yang mencintai kebenaran mendengarkan khotbah untuk memperoleh kehidupan, untuk memahami kebenaran dan berubah. Mereka menerima kebenaran di dalam hati mereka, dan ketika mereka menerapkannya, kebenaran yang mereka pahami itu bermanfaat bagi mereka; memahami kebenaran membuka jalan. Adapun mereka yang tidak mengejar kebenaran, mereka mendengarkan khotbah dengan kacau. Mereka akan mendengarkan seluruh khotbah dari awal hingga akhir, dan ketika engkau bertanya apa yang sudah mereka pahami setelahnya, mereka akan menjawab, "Aku memahami semuanya. Aku mencatat dengan jelas semuanya." Namun, jika engkau menanyakan bagaimana manfaatnya bagi mereka, mereka hanya akan berkata dengan tidak jelas bahwa khotbah itu cukup bermanfaat. Apakah ini benar-benar bermanfaat? Tidak, karena mereka belum memperoleh kebenaran khotbah itu. Mengapa belum? Karena mereka belum menerimanya, bagaimana mereka bisa memperolehnya? Ada orang-orang yang berkata: "Bagaimana mungkin mereka belum memperolehnya? Bagaimana mungkin mereka belum menerimanya? Mereka mendengarkan dengan sangat saksama dan bahkan membuat catatan." Ada orang-orang yang membuat catatan hanya demi formalitas, bukan karena mereka mendambakan kebenaran. Sebagian orang yang mempersekutukan kebenaran mungkin belum tentu menerimanya; itu tergantung pada apakah hati mereka benar-benar mendambakan kebenaran. Kalau begitu, apa artinya menerima kebenaran dengan sungguh-sungguh? Artinya, setelah membaca firman Tuhan, orang dapat menyelaraskannya dengan keadaannya sendiri, tingkah laku dan perbuatannya, prinsip-prinsip percaya kepada Tuhan, amanat dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan, serta jalan yang mereka tempuh. Mereka dapat merenungkan diri sehubungan dengan semua hal ini, mengenalinya dengan jelas, mencapai pemahaman akan kebenaran, dan kemudian menerapkan serta memasukinya. Hanya orang seperti inilah yang menerima kebenaran; hanya orang seperti inilah yang mengejar kebenaran.
Perwujudan dari orang-orang dengan tingkat pertumbuhan yang rendah baru saja dibahas. Dalam proses memahami kebenaran secara bertahap, lambat laun orang-orang akan mengatasi masalah tingkat pertumbuhan mereka yang rendah, seperti kebodohan, ketidaktahuan, sifat takut-takut, dan kelemahan. Apa yang dimaksud dengan kelemahan? Artinya, komponen kepercayaanmu kepada Tuhan sangatlah rendah; kepercayaanmu kepada Tuhan sangat minim. Dalam doktrin, engkau percaya bahwa Tuhan mampu menyelesaikan segala sesuatu dan bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu, tetapi ketika menghadapi situasi nyata, engkau tidak berani percaya kepada Tuhan; engkau tidak berani dengan sepenuh hati menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, dan engkau tidak mampu untuk tunduk. Inilah kelemahan. Kebodohan, ketidaktahuan, sifat takut-takut, dan pemberontakan orang, hal-hal negatif ini hanya dapat diatasi secara bertahap atau diperbaiki hingga taraf yang berbeda-beda dengan mencari kebenaran dalam melaksanakan tugas. Apa yang dimaksud dengan perbaikan? Artinya, hal-hal negatif ini secara bertahap diatasi; hasil pelaksanaan tugasmu menjadi makin baik, dan ketika menghadapi berbagai situasi, engkau mampu menanggung lebih banyak hal dibandingkan sebelumnya. Misalnya, di masa lalu, ketika menghadapi situasi seperti itu, karena tingkat pertumbuhanmu yang rendah, engkau menjadi lemah, engkau menjadi pasif, dan itu bahkan memengaruhi sikapmu dalam melaksanakan tugas. Engkau membuat ulah, melepaskan tugas, bersikap asal-asalan, dan tidak menunjukkan kesetiaan. Sekarang, ketika menghadapi situasi seperti itu, tingkat kesetiaanmu dalam melaksanakan tugas tidak berkurang; jika engkau memiliki kesulitan atau kelemahan di hatimu, engkau dapat mencari kebenaran untuk mengatasinya. Dengan kata lain, masalah jalan masuk kehidupan tidak akan lagi memengaruhi pelaksanaan tugasmu. Suasana hatimu, keadaanmu, dan kelemahanmu tidak akan lagi memengaruhi pekerjaan yang diserahkan kepadamu, juga tidak akan memengaruhi tanggung jawab, tugas, dan kewajibanmu. Bukankah ini merupakan peningkatan dalam kemampuanmu menangani masalah dan menghadapi peristiwa eksternal? Ini adalah peningkatan dalam tingkat pertumbuhan. Ada orang-orang, yang jika diminta untuk memainkan peran utama, menjadi sangat senang, dan bahkan berjalan seolah-olah melayang di udara; tetapi jika diminta untuk memainkan peran tambahan, mereka enggan, menjadi murung, serta berjalan dengan kepala tertunduk. Ada orang-orang yang selalu ingin tampil menonjol ketika menyebarkan Injil, tetapi tidak mampu mempersekutukan kebenaran. Mereka tidak menerapkan pelatihan tetapi tetap selalu ingin tampil di posisi yang tinggi dan menampilkan wajah mereka. Apakah ini ketundukan sejati? Apakah ini sikap yang benar dalam melaksanakan tugas? Ketika orang memiliki pola pikir yang tidak benar dan keadaannya salah, mereka harus mencari kebenaran untuk mengatasinya, dan pada akhirnya mampu mencari serta menerapkan kebenaran terlepas dari apa pun situasi yang muncul; ini berarti memiliki pengalaman hidup. Begitu engkau dapat mengerti segala macam masalah, berarti engkau sudah mendapatkan kekebalan. Apa pun yang kauhadapi atau kapan pun itu terjadi, itu tidak akan memengaruhi pelaksanaan tugasmu; pelaksanaan tugasmu juga tidak akan terpengaruh oleh masalah kecil, suasana hati, atau perubahan apa pun pada orang, peristiwa, hal-hal, dan keadaan; kapasitasmu untuk mengatasi dosa dan mengatasi berbagai keadaan serta suasana hati akan menjadi lebih kuat. Ini berarti tingkat pertumbuhanmu sudah meningkat. Bagaimana tingkat pertumbuhan meningkat? Ini adalah hasil yang dicapai ketika orang secara bertahap masuk ke dalam kenyataan kebenaran dengan mencari kebenaran untuk mengatasi masalah. Setelah engkau memahami kebenaran, dan kebenaran ini menjadi kehidupanmu, menjadi landasan tingkah lakumu, menjadi pandanganmu dalam mengamati masalah, dan menjadi terang yang membimbingmu, engkau menjadi tangguh; engkau tidak akan terlalu sering menjadi lemah. Misalnya, sebelumnya engkau sangat senang jika dipilih menjadi pemimpin; jika engkau digantikan, engkau bersikap negatif selama satu atau dua bulan, tidak mau melakukan apa pun yang diminta untuk kaulakukan, melaksanakan tugas apa pun dengan sikap negatif, bertindak asal-asalan, bahkan sampai pada titik menyerah sepenuhnya. Sekarang, jika engkau akan digantikan, engkau akan berkata, "Sekalipun aku digantikan, itu tidak akan memengaruhiku. Aku tidak akan bersikap negatif bahkan sehari pun. Jika aku digantikan hari ini, aku akan melanjutkan apa yang seharusnya kulakukan besok. Aku menerima dan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan." Ini berarti tangguh. Bagaimana terbentuknya ketangguhan ini? Jika engkau tidak mengejar kebenaran, dan ketika menghadapi masalah engkau tidak mencari kebenaran untuk mengatasinya, dan tidak fokus untuk bertindak sesuai dengan prinsip, akankah engkau memiliki tingkat pertumbuhan ini? Engkau tidak akan pernah bisa tangguh jika engkau hidup berdasarkan falsafah orang-orang tidak percaya tentang cara berinteraksi dengan orang lain. Hanya jika engkau hidup berdasarkan kebenaran, engkau dapat secara bertahap melepaskan kesombongan, status, dan keangkuhan, sehingga pada akhirnya, tidak ada yang dapat menjatuhkanmu dan tidak ada yang dapat memengaruhimu dalam melaksanakan tugasmu dengan baik. Ini berarti memiliki tingkat pertumbuhan; ini berarti menjadi tangguh. Ketika engkau tangguh dan tingkat pertumbuhanmu sudah meningkat, bukankah pelaksanaan tugasmu akan makin sesuai dengan standar? Ketika engkau melaksanakan tugasmu secara memadai, bukankah itu berarti engkau sudah memiliki tingkat pertumbuhan tertentu? Apa saja yang termasuk dalam tingkat pertumbuhan ini? Iman yang sejati kepada Tuhan, ketundukan yang sejati kepada Tuhan, dan kesetiaan kepada Tuhan, serta kemampuan memperlakukan tugasmu dengan benar; menerima segala sesuatu dari Tuhan, dan mampu untuk tunduk kepada Tuhan, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Ini adalah perwujudan dari peningkatan tingkat pertumbuhan.
Sekarang, pernahkah engkau semua menyadari bahwa keselamatan perlu dimasukkan ke dalam agenda, dan bahwa engkau tidak boleh lagi bingung mengenainya? Memahami setiap kebenaran sangatlah penting agar dapat diselamatkan; engkau tidak boleh bingung tentang kebenaran apa pun. Percaya kepada Tuhan bukan sekadar mengerahkan upaya, berlari kian kemari, menanggung penderitaan, dan mampu bertekun melalui pencobaan tanpa tersandung. Jika orang yang percaya kepada Tuhan benar-benar menganggap keselamatan sebagai perkara yang penting dalam hidup dan memperlakukan memperoleh kebenaran sebagai perkara yang penting dalam hidup, mereka dapat melepaskan apa pun; melepaskan akan menjadi hal mudah bagi mereka. Jika seseorang belum merasakan betapa pentingnya keselamatan, berarti dia bodoh dan kurang pengetahuan; imannya terlalu kecil, dan dia masih hidup dalam situasi yang sangat buruk. Jika seseorang tidak mencintai kebenaran, akan sulit baginya untuk mencapai pelaksanaan tugas yang memadai. Ini karena untuk mencapai pelaksanaan tugas yang memadai, orang perlu memahami banyak kebenaran dan juga masuk ke dalam banyak kebenaran. Dalam proses memahami dan memasuki kebenaran, tugas yang dilaksanakan orang secara bertahap akan menjadi memadai; berbagai kelemahan serta suasana hatinya akan berangsur-angsur berubah, dan berbagai keadaannya juga akan berangsur-angsur membaik. Dalam proses memahami kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran, visi mengenai kepercayaan kepada Tuhan dan keselamatan dalam diri orang akan menjadi makin jelas, dan pada saat yang sama, hasrat serta tuntutan orang untuk diselamatkan akan menjadi makin mendesak. Apa yang dimaksud dengan mendesak? Artinya, engkau dapat merasakan bahwa keselamatan adalah suatu perkara yang mendesak, suatu perkara yang luar biasa penting; dan jika engkau tidak membereskan watak rusakmu, itu bisa menjadi sangat berbahaya dan engkau tidak akan dapat memperoleh keselamatan. Pola pikir seperti inilah yang membawa rasa mendesak. Pada awalnya, engkau tidak memiliki konsep tentang diselamatkan atau disempurnakan. Perlahan-lahan, engkau mulai memahami bahwa manusia memiliki watak rusak dan membutuhkan Tuhan untuk menyelamatkan mereka. Engkau mendapati bahwa manusia hidup dalam dosa, terjebak dalam watak yang rusak tanpa kebebasan, menjalani kehidupan yang sangat menderita, dan cepat atau lambat mereka akan binasa oleh tren jahat Iblis. Engkau menyadari bahwa manusia tidak dapat berdiri teguh sendiri—tidak peduli betapa tangguhnya dirimu atau betapa kuatnya tekadmu, engkau tidak dapat menjamin akan mengikut Tuhan hingga akhir—dan bahwa engkau harus mengejar kebenaran, engkau harus mengalami penghakiman, hajaran, ujian, serta pemurnian guna memahami kebenaran dan mengenal dirimu sendiri, dan hanya saat itulah engkau akan memiliki tekad untuk mengikut Tuhan hingga akhir. Pada tahap inilah engkau mulai merasakan mendesaknya keselamatan. Memahami kebenaran sangatlah penting agar orang dapat diselamatkan. Mengejar kebenaran adalah perkara penting yang tidak boleh orang tinggalkan atau abaikan. Apakah engkau mengejar kebenaran atau tidak, hal itu berhubungan langsung dengan keselamatan, dan itu terkait erat dengan apakah engkau dapat disempurnakan oleh Tuhan. Dalam proses pelaksanaan tugas, semua masalah dan kesulitan yang kauhadapi harus diatasi dengan mencari kebenaran; kelemahan, ketidaktahuan, dan kebodohanmu perlahan-lahan akan berubah juga. Apa maksud perubahan ini? Artinya, kemampuanmu untuk mengatasi dosa sudah menjadi makin kuat, dan engkau menjadi makin peka terhadap watak rusakmu dan terhadap hal-hal jahat. Engkau memperoleh lebih banyak ketajaman budi dan perasaan terhadap hal-hal ini di dalam hatimu. Sekarang ini, ada orang-orang yang masih belum memiliki kesadaran ini, dan tidak merasakan apa-apa saat mereka melihat dosa, kejahatan, atau hal-hal yang bersifat Iblis. Ini tidak dapat diterima dan menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan mereka masih jauh. Orang-orang yang lain tidak memiliki perasaan, tidak memiliki ketajaman budi, dan bahkan tidak memiliki sedikit pun kebencian yang sungguh-sungguh terhadap berbagai perilaku dosa dan berbagai aspek buruk Iblis. Mereka juga tidak memiliki kesadaran atau ketajaman budi, apalagi kebencian, terhadap tindakan mereka sendiri dan kerusakan yang mereka perlihatkan, juga watak rusak serta hal-hal buruk di dalam lubuk hati mereka. Orang-orang ini masih jauh dari memiliki tingkat pertumbuhan. Namun, sejauh apa pun jaraknya, selemah apa pun seseorang, atau serendah apa pun tingkat pertumbuhannya saat ini, itu bukanlah masalah, karena Tuhan telah membekali manusia dengan jalan dan arah untuk mengatasi masalah ini. Sementara engkau secara perlahan-lahan mencapai standar pelaksanaan tugas secara memadai, engkau juga mengejar pemahaman akan kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran. Sementara engkau mengejar pemahaman akan kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran, kemampuanmu untuk mengatasi dosa bertambah kuat, dan kemampuanmu untuk mengenali hal-hal yang jahat juga bertambah, sehingga mengatasi kelemahan dan pemberontakanmu dalam berbagai taraf. Misalnya, ketika tingkat pertumbuhanmu rendah dan engkau menghadapi suatu situasi, sekalipun engkau tahu bahwa itu tidak baik, engkau mungkin masih terkekang dan terikat olehnya, dan bahkan terlibat di dalamnya. Ketika engkau memahami kebenaran dan mampu menerapkan kebenaran, selain membenci hal-hal seperti itu di dalam hatimu, engkau juga akan menolak dan tidak mau terlibat di dalamnya; pada saat yang sama, engkau juga akan membantu orang lain agar terbebas darinya. Ini adalah kemajuan; ini adalah peningkatan tingkat pertumbuhan. Apa saja tanda peningkatan tingkat pertumbuhan? Pertama-tama, orang memiliki kesetiaan dalam pelaksanaan tugas, tanpa berperilaku asal-asalan lagi. Selain itu, imannya kepada Tuhan menjadi lebih sejati serta lebih nyata, dan dia juga memiliki ketundukan sejati kepada Tuhan. Kemudian, orang dapat mengenali dan mengatasi pencobaan serta gangguan Iblis; Iblis tidak dapat lagi menyesatkan atau mengendalikannya, dan dia dapat terbebas dari pengaruh Iblis. Dengan ini, orang sudah benar-benar memenuhi standar untuk diselamatkan.
Setelah persekutuan hari ini, apakah engkau semua tahu bagaimana cara mengukur apakah tugas yang kaulaksanakan sudah memenuhi standar? Jika engkau tahu, itu membuktikan bahwa engkau memahami kebenaran ini dan sudah membuat kemajuan; jika engkau tidak tahu, itu membuktikan bahwa engkau belum memahami apa yang telah dikatakan, dan engkau belum mencapainya. Engkau harus memahami dua aspek: Yang pertama adalah kemampuan mengevaluasi dirimu sendiri, dan yang kedua adalah mengetahui cara melaksanakan tugasmu agar memenuhi standar dan mengetahui jalannya. Di masa lalu, pembahasan kita sering kali berfokus pada pelaksanaan tugas, dengan sedikit menyinggung pelaksanaan yang memadai. Sekarang, pembahasan utamanya adalah tentang standar pelaksanaan tugas yang memadai. Standar memadai dan berbagai kebenaran yang terlibat dalam aspek ini pada dasarnya sudah dipersekutukan dengan cukup jelas. Selain itu, masalah apa saja yang harus dihindari dan prinsip-prinsip apa saja yang harus dijunjung tinggi dalam proses melaksanakan tugas, serta kesalahan-kesalahan yang tidak boleh dilakukan, semua ini sangatlah penting. Khususnya, jangan mencuri persembahan, jangan dengan gegabah terlibat dalam hubungan romantis, dan jangan menentang pengaturan kerja. Jika engkau melakukannya, engkau benar-benar akan tamat; tidak ada harapan untuk diselamatkan. Jadi, jangan menempuh jalan yang salah, jangan menempuh jalan orang jahat. Begitu engkau menjejakkan kaki di jalan itu, benar-benar tidak ada harapan; tidak ada yang dapat menyelamatkanmu. Jika Tuhan tidak menyelamatkanmu, engkau pasti juga tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri. Jika orang mencapai titik itu, dia akan mendapat masalah serius; tidak mudah untuk berbalik. Pada dasarnya, itu adalah jalan buntu.
28 November 2018
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.