Apa Arti Pelaksanaan Tugas yang Memadai? (Bagian Dua)

Mengapa kita bersekutu tentang perbedaan antara melaksanakan tugas dan melakukan pekerjaan duniawi? Apakah ini penting? (Ya.) Di manakah letak pentingnya? Ini berkaitan dengan sikap orang terhadap pelaksanaan tugasnya. Jangan membawa sikap dan prinsip yang kaumiliki dalam pekerjaan duniawimu ke dalam dunia pelaksanaan tugas. Apa konsekuensinya jika engkau melakukan itu? (Bertindak sesuka hati.) Bertindak sesuka hati adalah masalah yang umum; itu berarti tidak mau berunding dengan orang lain ketika menjalankan tugas, ingin menjadi penentu keputusan akhir, dan melakukan apa saja yang diinginkan, karena merasa bahwa bertindak seperti ini membawa kenyamanan dan kepuasan yang bebas dari perasaan tertekan atau tidak bahagia. Di samping itu, sikap ini sering kali menyebabkan tipu daya, kecemburuan, perselisihan, dan perpecahan, juga menyebabkan orang mengejar upah dan pengakuan, pamer, bertindak asal-asalan, tidak bertanggung jawab, menipu orang-orang yang berada di atas dan di bawahnya, serta membangun kerajaannya sendiri. Singkat kata, melaksanakan tugas berbeda dari melakukan pekerjaan duniawi; melaksanakan tugas adalah tuntutan dari Tuhan dan pengaturan oleh Tuhan. Inilah perbedaan terbesar antara melaksanakan tugas dan melakukan pekerjaan duniawi. Pelaksanaan tugas harus dilakukan sesuai dengan tuntutan Tuhan dan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Pelaksanaan tugas bukanlah pengelolaan pribadi, bukan masalah pribadi, dan tentu saja bukan urusan pribadi siapa pun. Pelaksanaan tugas tidak ada hubungannya dengan kepentingan pribadi, harga diri, status, pengaruh, ataupun prospek masa depan; pelaksanaan tugas hanya berkaitan dengan jalan masuk kehidupan dan perubahan watak orang, dan ini berhubungan dengan pekerjaan pengelolaan Tuhan. Sebaliknya, ketika engkau melakukan pekerjaan duniawi, engkau sepenuhnya terfokus pada pengelolaan pribadi. Entah engkau sedang melakukan suatu pekerjaan atau menjalankan bisnis, betapa pun banyaknya biaya yang kaubayar, betapa pun banyaknya yang dapat kautinggalkan, atau betapa pun besarnya penderitaan yang kautanggung—entah aspek emosional ataupun fisik—atau apakah engkau dirundung dan dipermalukan atau disalahpahami, atau bahkan menghadapi tekanan publik yang dahsyat, semua yang kaulakukan berkisar pada kehendak, harapan, ambisi, dan keinginan pribadimu. Semuanya bernatur ini saja. Natur ini hanya berkisar seputar pengelolaan pribadi dan menjalankan usaha pribadi. Di antara umat manusia, tidak ada seorang pun yang melangkah maju dan berkata, "Aku melakukan pelayanan publik demi umat manusia; aku ingin bertindak sesuai ajaran dan prinsip ilahi yang diberikan oleh Surga." Tidak ada orang yang seperti itu. Sekalipun sungguh ada orang yang melangkah maju dan berkata, "Aku ingin melakukan upaya yang paling altruistik dan yang paling besar bagi umat manusia, untuk menciptakan kesejahteraan dan berbuat baik bagi umat manusia," tujuannya tidak begitu murni; orang melakukannya demi ketenaran. Bukankah ini melakukan pengelolaan pribadi? Semua itu demi pengelolaan pribadi. Tak peduli terdengar sebaik apa pun perkataan mereka, betapa pun banyaknya penderitaan yang sudah mereka tanggung, betapa pun mahalnya harga yang sudah mereka bayar, atau betapa pun besarnya kontribusi yang sudah mereka berikan, atau apakah mereka sudah mengubah umat manusia, mengubah suatu era, atau membuka suatu zaman baru, apa pun yang mereka lakukan, tujuan mereka bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk diri mereka sendiri. Semua manusia yang rusak melakukan hal-hal seperti ini. Entah orang melakukan sesuatu yang besar ataupun kecil, maksud dia adalah entah demi ketenaran atau demi keuntungan. Apa natur dari tindakannya? Naturnya adalah melakukan pengelolaan pribadi. Apakah pengelolaan pribadi ada hubungannya dengan pengelolaan Tuhan? Sama sekali tidak ada hubungannya. Ada orang-orang yang berkata, "Itu tidak benar. Ada orang-orang yang datang ke dunia ini dan mengubah suatu zaman; bukankah itu juga telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan? Bukankah itu juga berkaitan dengan pengelolaan-Nya?" Apakah hal-hal ini berkaitan? (Tidak.) Mengapa kau berkata demikian? (Karena hal itu tidak berkaitan dengan pekerjaan pengelolaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia.) Baik; jika tidak berkaitan dengan pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, berarti hal itu tidak ada hubungannya dengan pengelolaan Tuhan. Namun, pernyataan ini hanya setengah benar; ada satu prasyarat lain di sini, yaitu masalah esensi. Jika tidak berkaitan dengan rencana pengelolaan Tuhan, berarti itu semua hanya pengelolaan manusia. Itu adalah satu aspeknya, tetapi biar Kutambahkan sesuatu untukmu: Natur dari apa yang sedang mereka lakukan adalah untuk ketenaran dan keuntungan pribadi; pada akhirnya, yang mendapatkan keuntungan adalah diri mereka sendiri. Natur, prinsip, dan hasil akhir dari semua yang mereka lakukan itu demi siapa? (Demi mereka sendiri.) Semua itu untuk diri mereka sendiri. Lalu, dalam arti yang lebih tersembunyi, semua itu untuk siapa? (Iblis.) Benar, untuk Iblis. Apa natur dari melakukan sesuatu untuk Iblis? (Menjadi musuh Tuhan.) Dan apa esensi pokok di balik menjadi musuh Tuhan? Mengapa kita katakan bahwa naturnya adalah menjadi musuh Tuhan? (Titik awal, asal-usul, dan prinsip dari tindakan mereka semuanya bertentangan dengan firman Tuhan.) Ini adalah satu aspeknya, dan ini adalah masalah yang mendasar. Titik awal, asal-usul, dan prinsip dari apa yang sedang mereka lakukan semuanya berasal dari Iblis, dan semua itu jahat, lalu apa hasil akhirnya? Untuk siapa mereka memberikan kesaksian? (Iblis.) Benar, mereka memberikan kesaksian bagi Iblis. Sepanjang sejarah manusia, adakah sejarawan atau penulis yang mengaitkan pencapaian dari apa yang sudah dilakukan manusia di setiap zaman dengan Sang Pencipta? (Tidak ada.) Mereka hanya akan berkata bahwa itu adalah warisan atau pencapaian besar yang didapatkan dari usaha besar umat manusia. Di mata umat manusia, siapa yang direpresentasikan oleh orang-orang hebat dan tokoh-tokoh terkenal yang meninggalkan warisan ini? Tokoh terkenal atau orang hebat, atau mereka yang sudah berjasa besar bagi umat manusia, semuanya disembah oleh manusia yang rusak. Tempat yang mereka duduki dalam hati manusia adalah tempat yang dianggap orang sebagai kedudukan Tuhan. Bukankah ini esensi dari masalahnya? (Ya.) Kita baru saja membahas bahwa asal-usul, motif, titik awal, dan prinsip di balik tindakan manusia, semuanya berasal dari logika Iblis dan tidak sejalan dengan kebenaran. Manusia mencapai sesuatu melalui cara manusia atau melalui karunia mereka dan menjadi terkenal di antara orang-orang lain, dan konsekuensi akhirnya adalah umat manusia mengaitkan semua ini dengan Iblis; sama halnya dengan banyak orang yang sekarang menyembah tokoh-tokoh terkenal dan orang-orang hebat dalam sejarah seperti Konfusius dan Guan Yu. Betapa pun hebatnya perbuatan yang telah dilakukan orang-orang ini, pada dasarnya, Tuhan-lah yang sebenarnya mengatur agar berbagai tokoh ini datang ke dunia ini dan melakukan perbuatan tertentu di zaman yang berbeda. Namun, dalam semua catatan sejarah umat manusia, baik kuno maupun modern, tidak ada satu pun yang memberikan kesaksian tentang perbuatan Sang Pencipta. Hanya Alkitab yang mencatat beberapa unsur dari dua tahap pekerjaan Tuhan di Zaman Hukum Taurat dan di Zaman Kasih Karunia, tetapi bahkan firman Tuhan yang dicatat di sana pun sangat terbatas. Sebenarnya, Tuhan telah menyampaikan banyak firman dan melakukan banyak perbuatan, tetapi apa yang telah dicatat oleh manusia sangatlah terbatas. Sebaliknya, tak terhitung banyaknya buku yang mencatat, memberikan kesaksian, atau memuji orang-orang yang hebat dan terkenal. Bukankah ini memperjelas esensi masalah yang baru saja kita bahas? Kita baru saja menyebutkan bahwa orang-orang hebat dan terkenal sepanjang sejarah telah bertindak untuk diri mereka sendiri; pada dasarnya, mereka bertindak untuk Iblis. Ini menunjukkan bahwa mereka bukan melaksanakan tugas mereka, melainkan melakukan pengelolaan diri sendiri atau melakukan usaha mereka sendiri. Apa natur dan esensi dari pekerjaan apa pun yang dilakukan manusia di dunia? (Melakukan pengelolaan pribadi.) Mengapa itu dianggap sebagai melakukan pengelolaan pribadi? Apa sumber penyebabnya? Karena mereka memberikan kesaksian bagi Iblis; prinsip dan motivasi mereka dalam bertindak semuanya berasal dari Iblis, dan tidak ada hubungannya dengan kebenaran atau tuntutan Tuhan. Namun, apa natur dari tugas? Ini mengacu pada pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan tuntutan Tuhan, artinya pekerjaan itu harus didasarkan pada kebenaran, dilaksanakan sesuai dengan prinsip kebenaran, dan dilakukan sejalan dengan tuntutan Tuhan. Alhasil, manusia dapat memberikan kesaksian bagi Tuhan, memiliki ketundukan kepada Tuhan, dan memiliki pengetahuan akan Dia; mereka memiliki pemahaman yang lebih mendalam akan Sang Pencipta dan ketundukan yang lebih tulus kepada-Nya, dan terlebih lagi, mereka dapat melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan. Inilah perbedaan terbesar antara keduanya. Ketika orang melaksanakan tugas mereka sesuai dengan tuntutan Tuhan, hubungan mereka dengan Tuhan menjadi makin normal. Dan dapatkah pekerjaan apa pun yang dilakukan manusia di dunia mencapai efek ini? Tentu saja tidak, akibatnya justru sebaliknya. Makin banyak tahun-tahun yang orang habiskan untuk melakukan pekerjaan duniawi, makin mereka memberontak terhadap Tuhan dan makin mereka menjauh dari-Nya. Makin baik pengelolaan pribadi orang, makin jauh mereka dari Tuhan; makin sukses pengelolaan pribadi orang, makin jauh mereka menyimpang dari tuntutan Tuhan. Oleh karena itu, melaksanakan tugas dan melakukan pekerjaan duniawi memiliki dua natur yang sama sekali berbeda.

Kita baru saja membahas perbedaan antara orang yang melaksanakan tugas dan orang yang melakukan pekerjaan duniawi. Aspek kebenaran apakah yang dimaksudkan oleh diskusi ini untuk membantu agar orang-orang paham? Apa pun tugas yang kauterima, engkau harus melaksanakannya sesuai dengan yang diminta Tuhan. Misalnya, ketika engkau dipilih sebagai pemimpin sebuah gereja, tugasmu adalah melaksanakan pekerjaan seorang pemimpin gereja. Apa yang seharusnya kaulakukan begitu engkau menerima pekerjaan ini sebagai tugasmu? Pertama, ketahuilah bahwa hanya dengan menyelesaikan pekerjaanmu sebagai seorang pemimpin, barulah engkau melaksanakan tugasmu. Engkau tidak melayani sebagai pejabat di dunia luar; jika engkau menjadi seorang pemimpin dan kemudian menganggap dirimu sebagai seorang pejabat, berarti engkau sudah sesat. Namun jika engkau berkata, "Sekarang setelah menjadi pemimpin gereja, aku tidak boleh merendahkan orang lain. Sebaliknya, aku harus menempatkan diriku di bawah yang lainnya, aku harus membuat mereka lebih tinggi dan lebih penting daripadaku," mentalitas ini juga salah; berpura-pura tidak ada gunanya jika engkau tidak memahami kebenaran. Sesungguhnya, tidak ada yang lebih diperlukan selain pemahaman yang benar akan tugasmu. Pertama-tama, engkau harus memahami pentingnya pekerjaan pemimpin gereja: Sebuah gereja bisa saja mempunyai puluhan anggota, dan engkau harus memikirkan cara untuk memimpin orang-orang ini di hadapan Tuhan, serta cara untuk memungkinkan sebagian besar dari mereka memahami kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran. Engkau juga harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyirami dan mendukung mereka yang bersikap negatif dan lemah, membuat mereka berhenti bersikap demikian, serta memungkinkan mereka melaksanakan tugas mereka. Engkau juga harus membimbing semua orang yang mampu melaksanakan tugas agar mereka dapat memahami kebenaran dan memasuki kenyataan, bertindak sesuai prinsip, dan melaksanakan tugas mereka dengan benar sehingga menghasilkan dampak yang lebih besar. Ada orang-orang tertentu yang sudah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun tetapi memiliki kemanusiaan yang cukup jahat, yang selalu mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Orang-orang ini harus dipangkas sesuai kebutuhan; mereka yang dengan keras kepala menolak untuk bertobat harus dikeluarkan. Mereka harus ditangani sesuai dengan prinsip dan diatur dengan benar. Ada juga hal yang terpenting dari semuanya: Ada orang-orang di gereja yang memiliki kemanusiaan yang relatif baik dan sedikit kualitas, serta mampu melakukan aspek pekerjaan tertentu; semua orang yang seperti itu harus dibina sesegera mungkin; mereka memerlukan pelatihan agar bisa menjadi kompeten, dan mereka tidak akan mampu melakukan apa pun dengan baik jika tidak pernah menerima pelatihan apa pun. Bukankah ini pekerjaan yang harus segera dilaksanakan dengan baik oleh seorang pemimpin atau pekerja? Jika engkau sudah menjadi pemimpin dan tidak mengingat hal-hal ini, dan tidak melaksanakan pekerjaan dengan cara ini, dapatkah engkau melaksanakan tugasmu dengan baik? (Tidak.) Sebagai seorang pemimpin, penting untuk memilah setiap aspek pekerjaan gereja: Pertama, hal yang terpenting adalah membina orang-orang yang berbakat. Tinggikan mereka yang memiliki kemanusiaan yang baik dan yang memiliki kualitas, serta bina dan latih mereka. Kedua, memimpin saudara-saudari untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan memampukan mereka melakukan perenungan diri, mengenal diri sendiri, membedakan kesesatan dan kekeliruan, mengenali orang, dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Ini adalah bagian dari jalan masuk kehidupan. Ketiga, memungkinkan mayoritas orang-orang yang dapat melaksanakan tugas mereka untuk benar-benar melakukannya (kecuali orang-orang yang memiliki kemanusiaan yang rendah), dan memastikan bahwa mereka berhasil dalam melaksanakan tugas mereka dan bukan sekadar bertindak asal-asalan. Keempat, segera menangani orang-orang yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Jika mereka menolak kebenaran pada persekutuan, mereka harus dipangkas. Dan jika sementara itu mereka tetap tidak bertobat, mereka harus diasingkan untuk merenung, dan bahkan dapat dikeluarkan atau diusir. Kelima, memampukan umat pilihan Tuhan untuk mengenali para pengikut yang bukan orang percaya, para pemimpin palsu, dan antikristus, memastikan bahwa mereka tidak disesatkan dan dapat sesegera mungkin masuk ke jalan yang benar dalam percaya kepada Tuhan. Kelima poin di atas itu penting dan merupakan tugas yang melekat pada kepemimpinan. Orang yang memenuhi kelima aspek pekerjaan ini adalah pemimpin gereja yang berkualitas. Selain itu, keadaan khusus juga harus ditangani dengan benar. Misalnya, sikap negatif dan kelemahan orang mungkin sifatnya sementara, dan engkau harus memperlakukannya dengan tepat. Engkau tidak boleh membuat penilaian yang menggeneralisasi; jika seseorang sementara waktu bersikap negatif dan engkau melabelinya sebagai "orang yang sangat negatif" atau "selalu negatif" dan mengatakan bahwa Tuhan tidak lagi menginginkannya, itu tidaklah tepat. Di samping itu, setiap orang harus melakukan perannya masing-masing dan berkontribusi sesuai dengan kemampuannya. Pengaturan untuk pelaksanaan tugas harus dibuat dengan tepat berdasarkan karunia, bakat, kualitas, usia, dan berapa lama mereka sudah percaya kepada Tuhan. Pendekatan ini harus disesuaikan dengan berbagai jenis orang agar mereka mampu melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan dan memaksimalkan fungsi mereka. Jika engkau selalu mempertimbangkan semua itu dalam benakmu, akan timbul rasa tanggung jawab dalam dirimu, dan engkau akan selalu fokus mengamati. Mengamati apa? Bukan mengamati orang yang berparas elok agar engkau dapat lebih banyak berinteraksi dengannya; bukan mengamati orang yang menurutmu buruk rupa supaya engkau dapat mengecualikannya; bukan mengamati orang yang tampaknya memiliki kemampuan dan status supaya engkau dapat mengambil hatinya; dan pastinya bukan mengamati orang yang tidak membungkuk kepadamu supaya engkau bisa mencoba menghukumnya. Bukan mengamati mereka semua. Jadi, apa yang harus kauamati? Engkau harus menilai orang berdasarkan firman Tuhan, berdasarkan sikap serta tuntutan Tuhan terhadap berbagai jenis orang, dan memperlakukan mereka berdasarkan prinsip; ini sejalan dengan kebenaran. Pertama, kelompokkan semua jenis orang di gereja: masukkan orang-orang yang berkualitas baik dan mampu menerima kebenaran ke dalam satu kelompok, orang-orang yang berkualitas buruk dan tidak mampu menerima kebenaran ke dalam kelompok yang lain, orang-orang yang mampu melaksanakan tugas mereka ke dalam satu kelompok, dan orang-orang yang belum mampu melaksanakan tugas mereka ke dalam kelompok yang lain. Terakhir, para pengikut yang bukan orang percaya yang selalu mengeluh, menyebarkan gagasan, terjerumus ke dalam hal-hal negatif, dan menimbulkan kekacauan juga harus ditempatkan ke dalam kelompok yang sama. Setelah mengelompokkan semua orang dan memahami secara menyeluruh keadaan yang sebenarnya dari tiap-tiap kelompok berdasarkan firman Tuhan, melihat dengan jelas siapa yang dapat diselamatkan dan siapa yang tidak, engkau akan mampu mengerti segala jenis orang; engkau akan memahami maksud Tuhan, dan tahu siapa yang ingin Tuhan selamatkan dan siapa yang ingin Tuhan singkirkan. Bukankah semua ini muncul karena rasa tanggung jawabmu? Bukankah ini sikap yang benar terhadap tugas? Jika engkau memiliki sikap yang benar ini, dan rasa tanggung jawab muncul dalam dirimu, engkau akan mampu melakukan pekerjaanmu dengan baik. Jika engkau tidak memperlakukan tugasmu seperti itu dan justru memandang pelaksanaan tugasmu seolah-olah engkau menduduki jabatan resmi, dengan selalu berpikir, "Menjadi seorang pemimpin itu seperti memegang jabatan; ini adalah berkat dari Tuhan! Karena sekarang aku punya status, orang-orang harus mendengarkanku, dan itu bagus!"—jika engkau berpikir bahwa menjadi seorang pemimpin itu sama dengan menjadi pejabat, berarti engkau berada dalam masalah. Engkau pasti akan memimpin dengan gaya pejabat dan berdasarkan cara kerja pejabat; kalau begitu, dapatkah engkau melaksanakan pekerjaan gereja dengan benar? Dengan pandangan seperti itu, sudah pasti engkau akan disingkapkan dan disingkirkan. Engkau akan selalu membayangkan dirimu sebagai seorang pejabat, yang dikelilingi oleh orang-orang di mana pun engkau berada, dan mereka akan menuruti apa pun yang kaukatakan. Engkau juga akan berhak menjadi orang pertama yang mendapatkan manfaat apa pun di gereja. Apa pun pekerjaan gereja, engkau hanya perlu memberikan perintah tanpa harus melakukannya sendiri. Pola pikir macam apa ini? Bukankah ini menikmati manfaat dari status? Bukankah ini watak yang rusak? Semua orang yang tidak mengejar kebenaran melaksanakan tugasnya berdasarkan watak Iblis. Banyak pemimpin dan pekerja sudah disingkapkan dan disingkirkan karena selalu melaksanakan tugas mereka berdasarkan watak Iblis, tanpa menerima sedikit pun kebenaran. Saat ini, ada pemimpin-pemimpin yang masih berperilaku seperti ini. Setelah menjadi pemimpin, mereka merasa sangat gembira di dalam hati, dan sedikit berpuas diri. Perasaan itu sulit dilukiskan, tetapi bagaimanapun, mereka pikir mereka sudah berlaku sangat baik. Namun kemudian, mereka merenung, "Aku tidak boleh sombong. Kesombongan adalah tanda kecongkakan, dan kecongkakan adalah awal kegagalan. Aku harus rendah hati." Dari luar, mereka tampak bertindak rendah hati dan mengatakan kepada semua orang bahwa mereka sudah ditinggikan oleh Tuhan, ini adalah amanat dari-Nya, dan mereka tidak punya pilihan selain melakukan itu. Namun, di dalam hati mereka diam-diam bersukacita: "Akhirnya, aku dipilih. Siapa bilang kualitasku tidak baik? Jika kualitasku buruk, bagaimana mungkin aku dipilih? Mengapa bukan orang lain yang dipilih? Sepertinya aku memiliki keunggulan dibandingkan yang lainnya." Itulah hal pertama yang mereka pikirkan ketika mendapatkan tugas ini. Mereka tidak merenungkan, "Sekarang tugas ini telah menjadi tanggung jawabku, lalu bagaimana aku harus melaksanakannya? Siapa yang sudah melakukan pekerjaan dengan baik di masa lalu yang harus kujadikan contoh? Apa tuntutan Tuhan untuk pelaksanaan tugas ini? Adakah tuntutan seperti itu dalam pengaturan kerja gereja? Dahulu aku tidak pernah khawatir tentang aspek-aspek pekerjaan gereja ini, tetapi sekarang setelah dipilih menjadi pemimpin, apa yang harus kulakukan?" Sebenarnya, selama engkau memiliki tekad dan dapat mencari kebenaran, pasti akan ada jalan. Jika engkau memperlakukan pekerjaan itu sebagai tugasmu, akan mudah untuk melakukannya dengan baik. Ada orang-orang yang menjadi pemimpin dan berkata, "Orang-orang ini sekarang dipercayakan kepadaku? Bagaimana mereka berkumpul dan pengaturan kerja mereka akan ditentukan olehku? Ya ampun, sekarang aku merasakan beban yang berat di hatiku." Apa yang tersirat dari kata-kata ini? Seolah-olah mereka dapat melakukan hal-hal besar; itu semua hanyalah omong kosong dan doktrin. Bukankah orang seperti ini sedikit munafik? Adakah di antaramu yang pernah berkata seperti itu? (Ya.) Kalau begitu, engkau juga cukup munafik. Namun demikian, wajar jika orang berperilaku seperti itu. Bahkan mereka yang menjadi pejabat rendahan pun sedikit berlagak. Mereka tiba-tiba merasa nilai pribadi mereka meningkat dan, begitu mencicipi nikmatnya status, ketenaran, dan keuntungan, hati mereka bergejolak bagaikan lautan yang bergelora, dan mereka menjadi seperti orang yang berbeda. Watak rusak dan keinginan yang berlebihan, semuanya muncul. Setiap orang mempunyai perilaku yang negatif dan pasif ini. Perilaku ini adalah kesamaan di antara umat manusia yang rusak. Siapa pun yang merupakan manusia rusak memilikinya. Setelah menjadi pemimpin, ada orang-orang yang tidak tahu bagaimana harus berjalan; ada pula yang setelah menjadi pemimpin, tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan orang lain. Tentu saja, ini bukan karena ketakutan bahwa mereka tidak yakin bagaimana seharusnya mereka berbicara, melainkan karena tidak yakin bagaimana seharusnya seorang pemimpin berperilaku. Adapun yang lainnya, setelah menjadi pemimpin, mereka tidak yakin apa yang harus mereka makan atau kenakan. Ada berbagai macam perilaku. Adakah di antaramu yang memperlihatkan perilaku seperti ini? Pada tingkat yang berbeda-beda, engkau semua pasti melakukannya. Jadi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi keadaan dan perilaku seperti ini? Satu atau dua tahun, tiga atau lima tahun, atau sepuluh tahun? Itu tergantung pada tekad orang dalam mengejar kebenaran dan sampai sejauh mana mereka melakukannya.

Dalam proses mengejar kebenaran, pemahaman sebagian orang mengenai kebenaran berbanding lurus dengan jalan masuk mereka; keduanya setara. Mereka dapat masuk ke dalam kebenaran sesuai dengan berapa banyak yang dapat mereka pahami; kedalaman pemahaman mereka akan kebenaran juga merupakan kedalaman jalan masuk mereka, juga kedalaman pengertian, perasaan, dan pengalaman mereka. Namun, ada orang-orang yang memahami banyak doktrin, tetapi penerapan dan jalan masuk mereka sama sekali tidak ada. Oleh karena itu, kendati sudah mendengarkan banyak khotbah, mereka tidak pernah mampu mengatasi kesulitan batin mereka. Ketika diperhadapkan pada masalah kecil, sisi buruk mereka langsung muncul, dan mereka tidak dapat mengendalikannya, tidak peduli seperti apa pun mereka mencoba; seperti apa pun mereka menyamarkannya, kerusakan mereka tetap tersingkap. Mereka tetap tidak mampu menerima kebenaran atau mencari kebenaran untuk mendapatkan solusi. Mereka bahkan belajar bermuka dua, menipu, dan berpura-pura baik. Selama ini, mereka tidak menyingkirkan watak rusak mereka dan tidak berubah; ini adalah akibat dari tidak mengejar kebenaran. Jadi, kesimpulannya, semuanya kembali ke kalimat yang sama: Mengejar kebenaran sangatlah penting. Hal yang sama berlaku untuk pelaksanaan tugas. Apa pun tugas yang kauterima, apa pun tugas yang menjadi tanggung jawabmu, entah itu tugas yang membutuhkan tanggung jawab berat atau tugas yang lebih ringan, atau bahkan jika tugas itu tidak terlalu menonjol, jika engkau mampu mencari kebenaran dan memperlakukan tugas sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, engkau akan mampu melaksanakan tugasmu dengan baik. Di samping itu, dalam proses pelaksanaan tugas, engkau akan mengalami berbagai tingkat pertumbuhan, baik pada jalan masuk kehidupan maupun perubahan watak. Namun, jika engkau tidak mengejar kebenaran dan hanya memperlakukan tugasmu sebagai pengelolaanmu sendiri, tugasmu sendiri, atau memperlakukannya sebagai pekerjaan pilihan atau pekerjaan pribadimu sendiri, engkau berada dalam masalah. Memperlakukan tugas sebagai urusanmu sendiri dan memperlakukan tugas sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran adalah hal yang berbeda. Ketika engkau memperlakukan tugasmu sebagai pengelolaanmu sendiri, apa yang kaukejar? Engkau mengejar ketenaran, keuntungan, dan status, mengharapkan orang lain untuk memenuhi tuntutanmu. Bagaimana hasil akhirnya jika engkau melaksanakan tugas dengan cara ini? Di satu sisi, pelaksanaan tugas dengan cara ini tidak akan memenuhi standar; itu adalah usaha yang sia-sia. Sekalipun engkau tampak mengerahkan upaya yang besar, engkau belum mencari kebenaran, sehingga tugasmu akan berhasil buruk, dan Tuhan tidak akan berkenan. Di sisi lain, engkau akan sering melakukan pelanggaran, sering mengacau dan mengganggu, serta sering melakukan kesalahan yang menghasilkan konsekuensi yang merugikan. Sekarang banyak orang yang gagal dalam melaksanakan tugas. Mereka bertindak semaunya dan sewenang-wenang, pada dasarnya tidak mencapai hasil sama sekali, dan kadang-kadang bahkan menyebabkan kerugian pada pekerjaan gereja. Melaksanakan tugas dengan cara seperti itu sungguh mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja; itu adalah perilaku orang yang benar-benar jahat. Mereka yang selalu melaksanakan tugas dengan asal-asalan harus disingkapkan supaya mereka bisa merenungkan diri. Jika mereka benar-benar dapat merenungkan diri, menyadari kesalahan mereka, dan membenci diri sendiri, mereka dapat bertahan dan terus melaksanakan tugas mereka. Namun, jika mereka tidak pernah mengakui kesalahan mereka dan tetap membela serta membenarkan diri, mengeklaim bahwa tidak ada kasih di rumah Tuhan dan mereka diperlakukan tidak adil, ini menandakan bahwa mereka keras kepala dan tidak mau bertobat, dan mereka harus dikeluarkan dari gereja. Apa sumber penyebab kekacauan dan gangguan yang diperbuat orang-orang ini? Apakah karena mereka sengaja berencana untuk mengacau dan mengganggu? Tidak, alasan utamanya adalah karena mereka tidak mencintai kebenaran sama sekali, dan kemanusiaan mereka sangat buruk. Sebagian dari orang-orang ini mempunyai kualitas dan dapat memahami kebenaran, tetapi mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun, apalagi menerapkannya. Kemanusiaan mereka sangat tercela. Apa pun tugas yang mereka laksanakan, mereka selalu menyebabkan kekacauan dan gangguan, merusak pekerjaan gereja, dan mendatangkan banyak akibat buruk dengan pengaruh yang mengerikan. Tak diragukan lagi bahwa orang-orang ini adalah para pengikut yang bukan orang percaya, dan mereka semua adalah orang jahat. Inilah alasan utama mengapa mereka disingkirkan. Sekarang, kebanyakan orang dapat mengenali para pengikut yang bukan orang percaya. Mereka merasa marah ketika melihat berbagai perilaku individu-individu ini. Bagaimana orang-orang itu bisa dianggap percaya kepada Tuhan? Mereka adalah antek-antek Iblis, yang diutus untuk mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Ada orang-orang yang benar-benar "parasit", yakni mereka yang suka hidup enak dan benci kerja; mereka tidak mau melakukan pekerjaan apa pun tetapi tetap ingin makan enak setiap hari. Bukankah mereka itu parasit? Mereka bahkan lebih rendah dari anjing penjaga. Dengan demikian, orang-orang ini telah disingkirkan. Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan adalah orang yang bersedia dan bersemangat untuk melaksanakan tugasnya. Meskipun sebagian besar orang tidak tahu apa sebenarnya arti tugas, setidaknya mereka tahu di dalam hati bahwa orang harus melaksanakan tugas, dan mereka bersedia melakukannya. Namun, apakah bersedia melaksanakan tugas berarti bahwa orang itu menerapkan kebenaran? Apakah kesediaan batin ini berarti bahwa orang sudah melaksanakan tugasnya dengan baik? Sama sekali tidak. Orang harus menerapkan kebenaran dan memenuhi standar bertindak sesuai dengan prinsip agar dapat dianggap sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Sebelum engkau menerapkan kebenaran, sebesar apa pun iman yang menurutmu kaumiliki, atau sebesar apa pun semangat dan kesediaan yang menurutmu kaumiliki—sanggup mempertaruhkan nyawa, tak ragu melintasi segala rintangan—ini semua sekadar slogan yang tak ada gunanya. Berdasarkan kesediaan ini, engkau juga harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Engkau berkata, "Aku tidak terlalu mencintai kebenaran, aku juga tidak mengejarnya, dan watakku tidak banyak berubah ketika aku melaksanakan tugasku. Namun, ada satu hal yang telah kupegang teguh: Aku melakukan apa pun yang diperintahkan kepadaku. Aku tidak menyebabkan kekacauan ataupun gangguan; aku mungkin tidak mampu mencapai ketundukan, tetapi aku sungguh mendengarkan." Bukankah orang yang dapat melakukan ini bisa tetap tinggal di gereja dan melaksanakan tugasnya dengan normal? Namun, orang-orang jahat dan para pengikut yang bukan orang percaya yang telah dikeluarkan itu bahkan tidak dapat memenuhi persyaratan terendah ini, dan mereka bahkan menimbulkan gangguan. Orang-orang jahat atau para pengikut yang bukan orang percaya seperti itu tidak boleh dibiarkan tetap tinggal di gereja untuk melaksanakan tugas mereka. Umat pilihan Tuhan harus mengenali orang-orang jahat dan para pengikut yang bukan orang percaya; jika tidak, mereka akan mudah disesatkan oleh orang-orang itu. Siapa pun yang memiliki hati nurani dan nalar harus bersikap menolak orang-orang jahat serta para pengikut yang bukan orang percaya.

Aspek terpenting dalam kepercayaan seseorang kepada Tuhan adalah pelaksanaan tugasnya. Pertama, orang harus memahami apa itu tugas, dan kemudian secara bertahap memperoleh pengalaman dan pemahaman sejati mengenainya. Sikap apa yang setidaknya harus dimiliki orang terhadap tugasnya? Jika engkau berkata, "Rumah Tuhan memberikan tugas ini kepadaku, maka ini adalah tugasku. Aku boleh berbuat sesukaku, karena ini adalah urusanku dan tak seorang pun boleh ikut campur," apakah sikap ini dapat diterima? Sama sekali tidak. Jika engkau bersikap seperti ini saat melaksanakan tugas, berarti engkau dalam masalah, karena sikapmu tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Sikapmu adalah melakukan apa pun yang kauinginkan dan bukan mencari kebenaran, apalagi memiliki hati yang takut akan Tuhan. Jika orang terlalu keras kepala, mereka akan agak lalai dalam melakukan pekerjaan yang semestinya saat melaksanakan tugas mereka. Sikap apa yang harus dimiliki orang ketika melaksanakan tugas? Mereka harus memiliki keinginan untuk tunduk kepada Tuhan dan memuaskan-Nya. Jika mereka tidak menyelesaikan amanat yang telah Tuhan percayakan kepada mereka, mereka merasa sudah mengecewakan Tuhan; dan jika mereka belum melaksanakan tugas dengan baik, mereka merasa tidak layak disebut manusia. Memiliki sikap seperti ini saat melaksanakan tugas akan membuatmu setia. Untuk melaksanakan tugas dengan baik, pertama-tama engkau harus tahu apa yang Tuhan tuntut, mencari kebenaran, dan mencari prinsip. Begitu engkau sudah tahu pasti bahwa amanat yang Tuhan berikan kepadamu adalah tugasmu, engkau harus mencarinya dengan berpikir, "Bagaimana aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik? Prinsip kebenaran manakah yang harus kuterapkan? Apa yang Tuhan tuntut dari manusia? Pekerjaan apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus bertindak agar dapat menjadi orang yang setia dan menjalankan tanggung jawabku?" Kepada siapakah engkau setia? Kepada Tuhan. Engkau harus setia kepada Tuhan dan melaksanakan tanggung jawabmu terhadap orang lain. Engkau harus melaksanakan tugasmu sesuai dengan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran, serta berpegang teguh pada tugasmu. Apakah artinya berpegang teguh pada tugas? Misalnya, jika suatu tugas sudah diberikan kepadamu selama satu atau dua tahun, tetapi, sejauh ini, tidak ada seorang pun yang mengecek pekerjaanmu, apakah yang harus engkau lakukan? Jika tidak ada seorang pun yang mengecek pekerjaanmu, apakah itu berarti tugas itu sudah tidak ada? Bukan. Jangan pikirkan apakah ada orang yang mengecek pekerjaanmu atau menginspeksi apa yang engkau lakukan; tugas ini dipercayakan kepadamu, jadi itu adalah tanggung jawabmu. Engkau harus memikirkan bagaimana pekerjaan ini seharusnya dilakukan dan bagaimana agar dapat dilakukan dengan baik, dan begitulah seharusnya caramu melakukannya. Jika engkau selalu menunggu orang lain untuk memeriksamu, untuk mengawasi dan mendorongmu, apakah ini sikap yang seharusnya kaumiliki dalam tugasmu? Sikap macam apa ini? Ini adalah sikap negatif; ini bukanlah sikap yang seharusnya kaumiliki dalam melaksanakan tugasmu. Jika engkau bersikap seperti ini, pelaksanaan tugasmu pasti tidak akan memadai. Agar dapat melaksanakan tugasmu secara memadai, pertama-tama engkau harus memiliki sikap yang benar, dan sikapmu harus sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ini adalah satu-satunya cara untuk menjamin bahwa engkau melaksanakan tugasmu dengan baik.

Sekarang persekutuan kita mengenai apa itu tugas, sikap orang terhadap tugas, juga perbedaan antara melaksanakan tugas dan melakukan pekerjaan duniawi apa pun akan berakhir di sini. Engkau semua harus merenungkan apa yang sudah kita persekutukan. Misalnya, mengapa kita membahas hubungan antara melaksanakan tugas dan melakukan pengelolaan pribadi? Apa hasil yang diharapkan dengan membahas topik-topik ini? Sisi positifnya, pembahasan ini dapat membekali orang dengan jalan, arah, dan prinsip-prinsip yang benar dalam pelaksanaan tugas mereka. Sisi negatifnya, pembahasan ini juga dapat membantu orang mengenali perilaku mana yang dianggap melakukan pengelolaan pribadi. Kedua aspek ini saling berhubungan sekaligus berbeda satu sama lain. Memahami kedua sisi ini bukan berarti memahami kata-kata kebenaran, melainkan engkau harus memahami keadaan dan perwujudan mana yang terlibat. Setelah memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai keadaan serta perwujudan ini dan dapat mengenalinya, di lain waktu engkau menunjukkan keadaan dan perwujudan yang tidak benar ini, jika engkau adalah orang yang mengejar kebenaran, engkau akan mencari kebenaran untuk mendapatkan jalan keluar dari sini. Jika tidak memahami aspek kebenaran ini, engkau mungkin akan melakukan pengelolaan pribadi dengan berpikir bahwa engkau mengorbankan diri untuk Tuhan, dan bahkan percaya bahwa engkau sangat setia dan sedang melaksanakan tugasmu. Konsekuensi seperti itu akan muncul karena engkau tidak memahami kebenaran. Misalnya, selama proses pelaksanaan tugas, saat sebagian pemikiran dan caramu, serta maksud dan motif di balik tindakanmu, terungkap, engkau sadar bahwa engkau tidak sedang melaksanakan tugasmu dan sudah menyimpang dari prinsip serta cakupan pelaksanaan tugas; naturnya sudah berubah, dan sebenarnya engkau sedang melakukan pengelolaan pribadi. Hanya ketika engkau memahami kebenaran ini, barulah engkau dapat menemukan jalan keluar dari sini dan mengakhiri pemikiran, tindakan, dan perwujudan seperti itu. Akan tetapi, jika engkau tidak memahami kebenaran dan melakukan pengelolaan pribadimu sendiri saat melaksanakan tugasmu, engkau tidak akan menyadari kenyataan bahwa engkau sudah melanggar prinsip. Seperti Paulus, misalnya; setelah bekerja dan sibuk kian kemari selama bertahun-tahun, pada akhirnya dia berteriak kepada Tuhan, dengan berkata, "Jika engkau tidak memberiku mahkota, berarti engkau bukanlah tuhan!" Lihatlah, dia masih bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Jika orang-orang zaman sekarang telah memahami kebenaran tetapi tetap mengikuti jalan Paulus, mereka bukanlah orang yang mencintai kebenaran. Jika engkau adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, memahami kebenaran sangatlah penting bagimu. Tanpa memahami kebenaran, engkau pasti hidup berdasarkan watak Iblis. Paling-paling, engkau hanya akan mematuhi beberapa aturan dan menghindarkan diri agar tidak melakukan perbuatan yang jelas-jelas salah, sementara masih berpikir bahwa engkau sedang menerapkan kebenaran. Itu sangatlah menyedihkan. Jadi, jika orang ingin mengejar kebenaran dan bertujuan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, pertama-tama mereka harus memahami kebenaran. Tujuan memahami kebenaran adalah agar orang dapat secara akurat memahami orang lain dan peristiwa, dapat mengenali sesuatu, memiliki prinsip dalam bertindak, memiliki jalan penerapan, dan mencapai ketundukan kepada Tuhan. Ketika memahami kebenaran, engkau dapat mengenali segala jenis orang, peristiwa, dan hal-hal, memilih jalan penerapan yang benar, berbicara serta bertindak sesuai dengan prinsip, menyingkirkan watak rusak, dan mencapai ketundukan kepada Tuhan. Jika tidak memahami kebenaran, engkau pasti akan menempuh jalan yang salah, engkau tidak akan memiliki jalan masuk kehidupan, dan engkau tidak akan dapat diselamatkan. Ada orang-orang yang sangat pandai menyamarkan diri, tampil seolah-olah mereka mengejar kebenaran, tetapi mereka tidak memiliki prinsip dalam tindakan mereka, dan semua yang mereka lakukan menyebabkan kekacauan dan gangguan, menimbulkan banyak masalah bagi pekerjaan gereja; orang-orang seperti itu tidak dapat diselamatkan. Oleh karena itu, tujuan dari sering mendengarkan khotbah dan sering makan dan minum firman Tuhan bukanlah untuk keterlibatan yang dangkal atau memuaskan hati, juga bukan untuk membekali diri dengan doktrin atau menerapkan kefasihan, melainkan untuk membekali diri dengan kebenaran dan mencapai pemahaman akan kebenaran. Apa yang baru saja kita bahas sebenarnya tidak terlalu mendalam kaitannya dengan kebenaran tentang mengenal Tuhan; itu adalah kebenaran yang paling mendasar. Pemahaman orang tentang kebenaran terbatas dan bervariasi tingkat kedalamannya, dan pemahaman ini bergantung pada kualitas individu. Ada orang-orang yang memahaminya secara lebih mendalam; artinya, mereka memiliki kemampuan pemahaman. Orang lain memahaminya secara dangkal. Terlepas dari kedalaman pemahaman orang, yang paling penting adalah penerapan kebenaran. Namun, kebenaran tidak dapat dibagi menjadi besar atau kecil, mulia atau hina, juga tidak dapat dibagi menjadi dalam atau dangkal. Artinya, kebenaran dapat diklasifikasikan sebagai yang paling mendasar atau yang paling sederhana, tetapi kebenaran tidak dapat dibagi berdasarkan tingkat kedalamannya; hanya saja, orang-orang memahami dan mengalaminya hingga kedalaman yang berbeda-beda. Apa pun yang menyangkut esensi kebenaran sama mendalamnya dan bukan sesuatu yang dapat dialami atau dimiliki sepenuhnya oleh siapa pun. Apa pun aspek kebenarannya, orang harus mulai dari lapisan yang paling dangkal dalam pemahaman dan penerapan mereka, dan kemudian secara bertahap berkembang dari yang dangkal ke yang dalam, mencapai pemahaman sejati akan kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan. Bagian yang paling dangkal dari kebenaran adalah apa yang dapat dipahami secara harfiah. Jika orang tidak dapat menerapkan atau masuk ke dalamnya, berarti mereka hanya memahami kata-kata dan doktrin. Memahami kata-kata dan doktrin saja tidak memenuhi standar dari esensi kebenaran. Orang yang tidak memahami kebenaran selalu menganggap kemampuan untuk menjelaskan makna harfiah sebagai memahami kebenaran; ini adalah ketidaktahuan manusia. Jika dalam menerapkan kebenaran engkau sekadar mengikuti aturan dan menerapkannya secara kaku tanpa prinsip apa pun, jangan berpikir bahwa engkau sedang menerapkan kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan; engkau masih jauh dari itu. Jika engkau terus menerapkan dan mengalaminya selama beberapa tahun lagi, serta menemukan jauh lebih banyak terang, yang akan cukup bagimu untuk menerapkan dan mengalaminya selama beberapa bulan atau tahun lagi, dan kemudian, dengan lebih banyak pengalaman, engkau dapat menemukan terang yang lebih baru, yang berkembang seperti ini dari dangkal menjadi dalam, selangkah demi selangkah, berarti engkau sudah sepenuhnya masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Hanya orang yang sudah sepenuhnya masuk ke dalam kenyataan kebenaranlah yang sudah memperoleh kebenaran. Sekalipun suatu hari engkau hidup dalam kenyataan kebenaran, dan dapat dikatakan bahwa engkau sudah memperoleh kebenaran, sebenarnya apa yang telah kaualami dan ketahui masih terbatas. Engkau tidak dapat mengatakan bahwa engkau adalah kebenaran, dan engkau juga tidak dapat menyatakan seperti Paulus, "bagiku hidup adalah kristus" (Filipi 1:21), karena kebenaran itu terlalu mendalam, dan apa yang dapat dialami serta dipahami orang selama beberapa dekade masa hidupnya sangatlah terbatas. Jadi, jelas, orang dapat memahami kebenaran hingga taraf tertentu, tetapi memperoleh kebenaran sama sekali bukan perkara yang mudah. Jika orang tidak dapat memahami atau menerapkan kebenaran yang paling dangkal sekalipun, berarti orang itu tidak mencintai kebenaran, dan jelas tidak memiliki pemahaman rohani; orang-orang yang jauh dari kebenaran tidak dapat diselamatkan. Orang yang tidak pernah memahami kebenaran tidak dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik; mereka adalah sampah masyarakat, binatang buas dalam rupa manusia. Ada orang-orang yang berpikir bahwa mereka memahami kebenaran hanya karena memahami beberapa doktrin. Jika mereka benar-benar memahami kebenaran, lalu mengapa mereka tidak dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik? Mengapa mereka tidak memiliki prinsip dalam tindakan mereka? Ini menunjukkan bahwa memahami doktrin itu tidak ada gunanya; memahami lebih banyak doktrin tidak berarti memahami kebenaran.

Setelah mempersekutukan topik tentang tugas, kini kita akan beralih ke masalah pelaksanaan tugas yang memadai. Sehubungan dengan pelaksanaan tugas yang memadai, penekanannya terletak pada kata "memadai". Jadi, bagaimana seharusnya "memadai" ini didefinisikan? Dalam hal ini pun, ada kebenaran yang perlu dicari. Apakah memadai berarti sekadar melakukan pekerjaan yang lumayan? Untuk detail yang spesifik tentang bagaimana memahami dan memandang kata "memadai", engkau harus memahami banyak kebenaran dan bersekutu lebih banyak tentang kebenaran. Seiring pelaksanaan tugasmu, engkau harus memahami kebenaran dan prinsip-prinsip; baru sesudah itu engkau dapat mencapai pelaksanaan tugas yang memadai. Mengapa orang harus melaksanakan tugas mereka? Sesudah percaya kepada Tuhan dan menerima amanat-Nya, orang memiliki bagian tanggung jawab dan kewajiban dalam pekerjaan di rumah Tuhan dan di lapangan pekerjaan Tuhan, dan, pada gilirannya, karena tanggung jawab dan kewajiban ini, mereka sudah menjadi unsur dalam pekerjaan Tuhan—seorang dari penerima pekerjaan-Nya dan seorang dari penerima penyelamatan-Nya. Jadi, ada hubungan yang sangat substansial antara keselamatan orang dan bagaimana orang itu melaksanakan tugasnya, apakah dia dapat melakukannya dengan baik, dan apakah dia dapat melakukannya secara memadai. Karena engkau sudah menjadi bagian dari rumah Tuhan dan menerima amanat-Nya, engkau sekarang memiliki tugas. Engkau tidak berhak untuk mengatakan bagaimana seharusnya tugas ini dilaksanakan; Tuhan-lah yang berhak untuk mengatakannya; kebenaranlah yang berhak mengatakannya; dan itu ditentukan oleh standar kebenaran. Oleh karena itu, manusia hendaknya tahu, mengerti, dan memahami dengan jelas bagaimana Tuhan mengukur tugas manusia, dan berdasarkan apa Dia mengukurnya. Ini adalah hal yang patut dicari. Dalam pekerjaan Tuhan, beragam orang menerima beragam tugas. Artinya, orang-orang dengan karunia, kualitas, usia, dan kondisi yang berbeda-beda menerima tugas yang berbeda pada waktu yang berbeda. Tugas apa pun yang telah kauterima, dan kapan pun atau dalam keadaan apa pun engkau menerimanya, tugasmu hanyalah tanggung jawab dan kewajiban yang harus kaulaksanakan, bukan pengelolaanmu, apalagi urusanmu. Standar yang Tuhan tuntut padamu dalam melaksanakan tugas adalah "memadai". Apa yang dimaksud dengan "memadai"? Yakni memenuhi tuntutan Tuhan dan memuaskan-Nya. Tuhan harus mengatakan bahwa pelaksanaan tugasmu memadai dan engkau harus menerima perkenanan-Nya. Hanya dengan demikianlah engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan memadai. Jika Tuhan berfirman bahwa pelaksanaan tugasmu tidak memadai, berapa lama pun engkau telah melaksanakan tugasmu, atau berapa pun harga yang sudah kaubayar, semua itu tetap tidak memadai. Lalu apa hasilnya? Semua itu akan dikelompokkan sebagai jerih payah. Hanya sebagian kecil dari orang-orang berjerih payah yang berhati setia yang akan diselamatkan. Jika tidak setia dalam berjerih payah, mereka tidak punya harapan untuk diselamatkan. Bahasa kasarnya, mereka akan binasa dalam bencana. Jika orang tidak pernah memenuhi standar dalam melaksanakan tugasnya, haknya untuk melaksanakan tugas akan dicabut. Setelah hak ini dicabut, sebagian orang akan diasingkan. Setelah diasingkan, orang akan ditangani dengan cara lain. Apakah "ditangani dengan cara lain" ini berarti disingkirkan? Belum tentu. Tuhan terutama melihat apakah orang bertobat atau tidak. Oleh karena itu, caramu melaksanakan tugasmu sangatlah penting, dan orang harus menanggapinya dengan serius dan bersungguh-sungguh. Karena pelaksanaan tugasmu berhubungan langsung dengan jalan masuk kehidupan dan jalan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, juga dengan masalah besar seperti diselamatkan dan disempurnakan, engkau harus memperlakukan pelaksanaan tugasmu sebagai tugas yang terutama dan terpenting ketika percaya kepada Tuhan. Engkau tidak boleh bingung mengenainya. Dalam proses pelaksanaan tugas, beragam orang akan menunjukkan berbagai perilaku yang berbeda-beda. Perilaku yang berbeda-beda ini bukan hanya terlihat oleh manusia, melainkan juga oleh Tuhan. Bukan hanya gereja yang menilai dan mengevaluasi; pada akhirnya, Tuhan juga akan menilai dan mengevaluasi semua orang yang melaksanakan tugas mereka. Ada orang-orang yang pada dasarnya memenuhi standar, sementara yang lainnya sama sekali tidak memadai. Orang-orang yang tidak memadai akan tetap diawasi, sementara yang lainnya sudah dikelompokkan secara pasti oleh Tuhan. Siapa saja orang-orang yang dianggap tidak memadai oleh Tuhan? Mereka adalah orang yang memiliki kemanusiaan yang buruk dan tidak memiliki hati nurani serta nalar, yang selalu melaksanakan tugas mereka secara asal-asalan. Sebanyak apa pun kasih karunia Tuhan yang mereka nikmati, mereka tidak tertarik untuk membalasnya dan tidak memiliki rasa syukur. Tentu saja, ini pada dasarnya mencakup orang-orang jahat juga. Dapat dikatakan bahwa siapa pun yang memiliki kemanusiaan yang buruk dan tidak memiliki hati nurani serta nalar melaksanakan tugasnya secara tidak memadai. Mereka yang jelas-jelas jahat pasti akan melakukan tindakan jahat yang tak terhitung banyaknya saat melaksanakan tugas mereka. Selama tidak dikeluarkan, mereka akan terus melakukan kejahatan. Orang-orang seperti ini harus segera dikeluarkan. Tentu saja, ada juga orang-orang yang tampak memiliki kemanusiaan dan sepertinya bukan orang jahat, tetapi mereka melaksanakan tugas dengan asal-asalan dan tidak membuahkan hasil. Setelah mereka dipangkas dan menerima persekutuan tentang kebenaran, semua akan bergantung pada cara mereka melaksanakan tugas pada akhirnya dan apakah mereka sudah benar-benar bertobat atau belum. Tuhan masih menanti dan mengamati orang-orang seperti itu. Adapun mereka yang memiliki kemanusiaan yang buruk dan tidak memiliki hati nurani serta nalar, juga mereka yang jelas-jelas jahat, Tuhan telah menentukan keputusan akhir bagi mereka: Mereka harus disingkirkan sepenuhnya.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp