Hanya Dengan Ketundukan Sejati Orang Dapat Memiliki Iman yang Sejati (Bagian Tiga)

Dalam perjalanan orang-orang untuk memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, apa yang Tuhan lakukan? (Dia mencerahkan, membimbing, mengatur lingkungan, dan kemudian mengerjakan kebenaran di dalam diri orang-orang.) Ketika Petrus menerima hardikan dari Tuhan Yesus, di situlah Tuhan sedang menyingkapkan, menghakimi, dan mengutuknya. Apakah orang harus mengalami hal-hal ini sebelum mereka memperoleh kepercayaan yang sejati kepada Tuhan? (Ya.) Mengapa mereka harus mengalami hal-hal ini? Apakah tidak mungkin jika tidak melalui hal-hal ini? Apakah mungkin untuk melewati penghakiman, pengungkapan, teguran, disiplin, hardikan, dan bahkan kutukan? (Tidak.) Seandainya alih-alih menghardik, Tuhan Yesus mendiskusikan hal ini dengan Petrus dengan cara yang bersahabat, dengan berkata, "Petrus, Aku tahu maksud dari perkataanmu itu baik, tetapi di masa mendatang, jangan berkata seperti itu lagi. Jangan menghalangi rencana-Ku hanya karena niat baik manusia. Jangan berbicara atas nama Iblis dan bertindak sebagai saluran Iblis. Di masa mendatang, lebih berhati-hatilah dan jangan sembarangan berbicara. Sebelum bicara, pertimbangkanlah dengan saksama apakah perkataanmu benar dan apakah itu akan mendukakan atau membuat Tuhan marah." Apakah berbicara dengan cara ini akan berhasil? (Tidak.) Mengapa tidak? Manusia telah dirusak terlalu dalam oleh Iblis, dan akar dari watak mereka yang rusak sudah terlalu dalam. Mereka hidup dengan watak mereka yang rusak. Semua pikiran, tindakan, imajinasi, gagasan, tujuan dan arah hidup mereka, serta motif dari segala sesuatu yang mereka katakan dan lakukan berasal dari watak mereka yang rusak. Apakah baik jika Tuhan tidak menghardik mereka? Akankah mereka menyadari betapa seriusnya masalah ini? Dapatkah akar penyebab dosa mereka diberantas? (Tidak.) Jika akar penyebab dosa mereka tidak dapat diberantas, dapatkah orang tunduk kepada Tuhan? (Tidak.) Sudah jelaskah sekarang bagimu, apakah baik atau buruk saat Tuhan mengecam dan mengutuk seseorang? (Itu hal yang baik.) Apakah menyingkapkan orang-orang itu hal yang baik bagi Tuhan? (Ya.) Apa yang Dia singkapkan dalam diri mereka? (Dia menyingkapkan kelemahan, tingkat pertumbuhan, dan kepercayaan mereka kepada Tuhan.) Dia menyingkapkan orang-orang sepenuhnya. Doktrin yang kaupegang, slogan yang sering kauucapkan, keyakinanmu, semangat lahiriahmu, dan maksud baikmu bukanlah hal yang Tuhan setujui. Bukan itu yang Dia inginkan. Tidak peduli seberapa bersemangatnya engkau atau seberapa jauh perjalananmu, dapatkah ini menunjukkan bahwa engkau memiliki kebenaran? Dapatkah ini menunjukkan bahwa engkau memiliki iman yang sejati kepada Tuhan? (Tidak.) Ini bukanlah hal-hal yang Tuhan setujui. Kebaikan dan imajinasi manusia tidak berguna. Untuk mendapatkan perkenan Tuhan dan memiliki iman sejati kepada-Nya, engkau harus mengalami berbagai cara kerja yang Tuhan gunakan: mengungkapkan, menghakimi, mengecam, mengutuk—terkadang bahkan mendisiplinkan dan menghukum jika perlu. Apakah hal-hal ini harus ditakuti? Itu semua bukanlah hal yang harus ditakuti. Di dalamnya ada maksud, pertimbangan yang bijaksana, dan kasih Tuhan. Menanggung penderitaan ini sangat berharga! Tuhan melakukan hal-hal ini dan menggunakan metode-metode ini untuk bekerja dalam diri orang. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan mengharapkan sesuatu dari orang-orang ini dan ingin mendapatkan hasil dari mereka. Tuhan tidak melakukan ini secara sembarangan, tanpa alasan, atau berdasarkan khayalan. Semua itu sepenuhnya mencerminkan maksud Tuhan. Apa maksud Tuhan itu? Dia ingin membawa orang-orang kepada iman yang sejati di dalam Tuhan sehingga orang dapat menerima kebenaran, menyingkirkan watak mereka yang rusak, dan memperoleh keselamatan.

Katakan kepada-Ku, setelah Petrus menyangkal Tuhan tiga kali, apakah dia merenungkan imannya sendiri? (Ya.) Orang yang memiliki kemanusiaan yang normal, mereka yang mengejar kebenaran akan merenungkan diri mereka sendiri ketika menghadapi kegagalan dan kemunduran. Petrus pasti akan merenungkan dirinya sendiri dengan cara ini. Orang yang tidak mencintai kebenaran tidak akan pernah merenungkan dirinya sendiri. Jika mereka menghadapi situasi seperti Petrus, mereka akan berkata, "Meskipun aku telah menyangkal Tuhan tiga kali, ini adalah keadaan yang luar biasa. Siapa yang tidak akan khawatir, takut, dan lemah dalam keadaan luar biasa seperti itu? Itu bukan masalah besar. Kasihku kepada Tuhan masih tetap besar, semangat di hatiku masih berkobar, rohku tetap kuat, dan aku tidak akan pergi, aku tidak akan meninggalkan Tuhan! Menyangkal Tuhan tiga kali hanyalah noda kecil, dan Tuhan mungkin tidak akan mengingatnya. Lagi pula, kepercayaanku kepada Tuhan masih cukup besar." Perenungan seperti apa ini? Apakah ini sikap yang menerima kebenaran? Apakah ini cara untuk mendapatkan kepercayaan yang sejati? (Tidak.) Bagaimana jika Petrus berpikir, "Tuhan Yesus, Engkau mengenal orang dengan sangat baik, tetapi bagaimana bisa Engkau bertaruh bahwa aku akan melakukan hal seperti itu? Tidak seharusnya Engkau meramal bahwa aku akan menyangkal-Mu. Sebaliknya, Engkau seharusnya meramalkan bahwa aku akan mengakui-Mu tiga kali. Itu akan sangat bagus, dan aku bisa mengikuti-Mu dengan kepala tegak. Selain itu, hal itu akan menunjukkan kepercayaanku yang besar kepada-Mu, dan prediksi-Mu juga akan terbukti akurat. Kita berdua akan puas dengan hal itu. Betapa aku benar-benar percaya kepada-Mu. Engkau harus menyempurnakanku dan menjaga martabatku! Engkau seharusnya tidak menegurku. Engkau tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Aku adalah Petrus yang bermartabat. Aku seharusnya tidak mengucapkan kata-kata yang menyangkal Tuhan. Itu terlalu memalukan dan hina! Mengapa Engkau menimpakan hal seperti itu kepadaku? Mengapa bukan orang lain saja? Apa yang Engkau lakukan itu tidak adil! Meskipun aku mengakui bahwa aku memang menyangkal-Mu, haruskah Engkau menyingkapkan aku seperti ini sehingga semua orang dapat melihat aibku? Ke mana aku akan pergi setelah ini? Apakah aku masih bisa mendapatkan tempat yang baik untuk dituju di masa depan? Bukankah ini berarti Engkau telah menyerah padaku? Dalam hatiku, aku merasa ini tidak adil." Apakah benar atau salah berargumen seperti ini kepada Tuhan? (Itu salah.) Keadaan seperti apa ini? Yang Petrus tunjukkan di sini adalah ketidaktaatan dan keluhan. Petrus mengeluhkan pekerjaan Tuhan yang tidak sesuai dengan gagasan dan seleranya. Hal itu menyebabkan dia kehilangan muka dan harga diri sehingga dia tidak dapat mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Di sini, terdapat pilihan manusia, keluhan, ketidaktaatan, perlawanan, dan pemberontakan manusia.. Semua ini merupakan watak yang rusak. Berpikir seperti ini, bertindak dengan cara ini, serta memiliki sikap dan keadaan seperti itu tentu saja salah. Jika orang berpikir dan bertindak seperti ini dan Tuhan tidak menegur mereka, dapatkah mereka mengembangkan iman yang sejati setelah disingkapkan? Dapatkah mereka memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan? (Tidak.) Hasil seperti apa yang menanti orang-orang yang mengeluh, memberontak, menentang, dan menolak apa yang Tuhan nyatakan pada diri mereka dan perlakuan Tuhan terhadap mereka yang demikian? Apa akibatnya bagi kehidupan orang-orang seperti itu? Hal pertama yang ditimbulkan adalah kerugian. Apa implikasi dari "kerugian"? Seperti yang Tuhan lihat, engkau terlalu merepotkan untuk dihadapi. Apa pun yang terjadi padamu, engkau selalu memiliki pilihan dan engkau selalu memiliki selera, kehendak, pendapat, imajinasi, gagasan, dan kesimpulanmu sendiri. Lalu, mengapa engkau masih percaya pada Tuhan? Bagimu, Tuhan hanyalah objek dari keyakinan dan dukungan rohanimu. Engkau tidak membutuhkan Tuhan, firman Tuhan, kebenaran Tuhan, atau pembekalan hidup dari-Nya, dan engkau tentu saja tidak membutuhkan Tuhan untuk melakukan pekerjaan penghakiman padamu dalam hal apapun, yang membuatmu sangat menderita. Sebagai tanggapan, Tuhan berkata, "Itu mudah, Aku tidak perlu melakukannya padamu. Namun, ada satu hal: Engkau harus meninggalkan-Ku. Engkau berhak atas pilihanmu, dan Aku juga memiliki hak untuk membuat pilihan. Engkau dapat memilih untuk tidak menerima cara-Ku menyelamatkanmu, sama seperti Aku dapat memilih untuk tidak menyelamatkanmu." Apakah ini berarti engkau dan Tuhan tidak lagi punya hubungan satu sama lain? Apakah ini kebebasan Tuhan? (Ya.) Apakah Tuhan memiliki hak untuk melakukan ini? (Ya.) Apakah orang memiliki hak untuk memilih tidak menerima keselamatan dari Tuhan? (Ya.) Orang juga memiliki hak ini. Engkau bisa menyerah atau menolak keselamatan yang Tuhan sediakan bagimu, tetapi pada akhirnya, engkaulah yang akan mengalami kerugian. Bukan hanya engkau tidak akan disempurnakan oleh Tuhan, tetapi Tuhan juga akan membenci dan menolakmu serta menyingkirkanmu. Pada akhirnya, engkau akan dihukum dua kali lipat. Inilah akibatnya bagimu. Itulah masalah yang menantimu! Oleh karena itu, orang yang ingin diselamatkan harus memilih untuk tunduk pada pekerjaan Tuhan. Hanya dengan cara inilah orang dapat mengembangkan kepercayaan sejati kepada Tuhan dan mencapai iman yang sejati kepada-Nya. Iman semacam itu secara bertahap akan dihasilkan melalui proses ketundukan kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan.

Watak orang-orang yang rusak tersembunyi dalam niat di balik perkataan dan tindakan mereka, dalam cara pandang mereka terhadap berbagai hal, dalam setiap pemikiran dan ide mereka, serta dalam sikap, pemahaman, gagasan, pandangan, harapan, dan tuntutan mereka mengenai kebenaran, Tuhan, dan pekerjaan Tuhan. Hal itu tersingkap dari perkataan dan tindakan yang tidak mereka sadari. Lalu, bagaimana Tuhan memperlakukan hal-hal ini di dalam diri orang? Dia mengatur berbagai situasi untuk menyingkapkanmu. Dia tidak hanya akan menyingkapkan dirimu, tetapi Dia juga akan menghakimimu. Ketika engkau menyingkapkan watakmu yang rusak, ketika engkau memiliki pemikiran dan gagasan yang menentang Tuhan, ketika keadaan dan sudut pandangmu bertentangan dengan Tuhan, ketika engkau memiliki keadaan di mana engkau salah memahami Tuhan, atau menentang dan melawan-Nya, Tuhan akan menegurmu, menghakimimu, menghajarmu, dan bahkan Dia kadang akan mendisiplinkan dirimu serta menghukummu. Apa tujuan engkau didisiplinkan dan ditegur? (Agar kita bertobat dan berubah.) Ya, tujuan itu semua adalah agar engkau bertobat. Apa yang dicapai dengan mendisiplinkan dan menegurmu adalah agar engkau kembali ke jalan yang benar. Ini demi membuatmu memahami bahwa pemikiranmu adalah gagasan manusia, memahami bahwa hal itu salah; niatmu berasal dari Iblis, berasal dari kehendak manusia, tidak sesuai dengan kebenaran, tidak sesuai dengan Tuhan, tidak dapat memuaskan maksud Tuhan, itu menjijikkan dan dibenci Tuhan, membangkitkan murka-Nya, dan bahkan membangkitkan kutukan-Nya. Setelah menyadari hal ini, engkau harus mengubah niat dan sikapmu. Dan bagaimana cara mengubahnya? Pertama-tama, engkau harus tunduk pada cara Tuhan memperlakukanmu, dan tunduk pada lingkungan, juga orang-orang, peristiwa, dan hal-hal yang Dia tetapkan bagimu. Jangan mencari-cari kesalahan, jangan memberikan alasan objektif, dan jangan melalaikan tanggung jawabmu. Kedua, carilah kebenaran yang harus orang praktikkan dan masuki di dalam hal yang Tuhan sedang kerjakan. Tuhan memintamu untuk memahami hal-hal ini. Dia ingin engkau mengenali watakmu yang rusak dan esensi Iblismu, agar engkau dapat tunduk pada lingkungan yang Dia atur untukmu dan, pada akhirnya, agar engkau dapat bertindak sesuai dengan maksud dan tuntutan-Nya terhadapmu. Maka engkau akan lulus ujian. Setelah engkau berhenti menentang dan melawan Tuhan, engkau tidak akan lagi berdebat dengan Tuhan dan akan dapat tunduk. Ketika Tuhan berkata, "Enyahlah kau, Iblis," engkau akan menjawab, "Jika Tuhan berkata aku adalah Iblis, aku adalah Iblis. Meskipun aku tidak mengerti apa kesalahan yang telah kulakukan, atau mengapa Tuhan mengatakan aku adalah Iblis, Dia memerintahkanku untuk enyah dari-Nya, jadi aku tidak boleh ragu. Aku harus mencari kehendak Tuhan." Ketika Tuhan mengatakan bahwa natur dari tindakanmu adalah natur Iblis, engkau berkata, "Aku mengakui apa pun yang Tuhan katakan, aku menerima semuanya." Sikap apakah ini? Inilah ketundukan. Apakah bisa disebut tunduk ketika engkau dapat dengan berat hati menerima bahwa Tuhan menyebutmu Iblis dan setan, tetapi tidak dapat menerimanya—dan tidak mampu tunduk—ketika Dia mengatakan bahwa engkau adalah binatang buas? Ketundukan artinya kepatuhan dan penerimaan total, tidak berdebat atau menetapkan persyaratan. Ketundukan berarti tidak menganalisa sebab dan akibat, tidak soal alasannya objektif, dan hanya memedulikan soal penerimaan. Ketika orang telah mencapai ketundukan seperti ini, mereka sudah dekat dengan iman yang sejati kepada Tuhan. Semakin banyak Tuhan bertindak dan semakin banyak engkau mengalami, semakin engkau merasakan bahwa kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu sangat nyata, semakin besar kepercayaanmu kepada Tuhan dan semakin engkau akan merasa, "Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah baik, tidak ada yang buruk. Aku tidak boleh memilih-milih, tetapi harus tunduk. Tanggung jawabku, kewajibanku, tugasku, adalah untuk tunduk. Inilah yang harus aku lakukan sebagai makhluk ciptaan. Jika aku bahkan tidak bisa tunduk kepada Tuhan, lalu siapakah aku ini? Aku ini binatang buas, aku ini setan!" Bukankah ini menunjukkan bahwa engkau sekarang memiliki iman yang sejati? Begitu engkau sampai di titik ini, engkau akan tidak bernoda, sehingga akan mudah bagi Tuhan untuk memakaimu, dan juga akan mudah bagimu untuk tunduk pada pengaturan Tuhan. Ketika engkau mendapatkan perkenan Tuhan, engkau akan bisa mendapatkan berkat-Nya. Jadi, ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ketundukan.

Petrus memiliki ketundukan sejati kepada Tuhan. Ketika Tuhan berkata, "Enyahlah kau, Iblis," dia diam dan merenungkan dirinya sendiri. Orang-orang zaman sekarang tidak dapat melakukan ini. Jika Tuhan berkata, "Enyahlah kau, Iblis," mereka akan berkata, "Siapa yang Engkau panggil Iblis? Engkau tidak boleh mengatakan aku adalah Iblis. Katakan saja aku dipilih oleh Tuhan—itu lebih bagus. Barulah aku bisa menerima dan tunduk. Jika Engkau menyebutku Iblis, aku tidak bisa tunduk." Jika engkau tidak bisa tunduk, apakah engkau memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan? Apakah engkau memiliki ketundukan yang sejati? (Tidak.) Apa hubungan antara ketundukan dan kepercayaan yang sejati? Hanya ketika engkau memiliki iman yang sejati, engkau dapat memiliki ketundukan yang sejati. Hanya ketika engkau dapat benar-benar tunduk kepada Tuhan, maka kepercayaan sejati kepada Tuhan secara bertahap akan muncul di dalam dirimu. Engkau mendapatkan kepercayaan sejati dalam proses penundukan diri yang sejati kepada Tuhan, tetapi jika engkau tidak memiliki kepercayaan sejati, apakah engkau dapat benar-benar tunduk kepada Tuhan? (Tidak.) Ini adalah hal yang saling berkaitan, dan ini bukan masalah peraturan atau logika. Kebenaran bukanlah filosofi, kebenaran bukanlah logika. Kebenaran itu saling berkaitan dan sama sekali tidak terpisahkan. Jika engkau berkata, "Untuk tunduk kepada Tuhan, engkau harus memiliki iman kepada-Nya, dan jika engkau memiliki iman kepada-Nya, engkau harus tunduk kepada-Nya," ini adalah peraturan, sebuah ungkapan, sebuah teori, sebuah pandangan yang terdengar hebat! Hal-hal dalam hidup bukanlah peraturan. Engkau terus mengaku dengan mulutmu bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah satu-satunya Juruselamat dan satu-satunya Tuhan yang benar, tetapi apakah engkau memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan? Apa yang engkau andalkan agar bisa terus berdiri teguh ketika kesulitan datang? Banyak orang menerima Tuhan Yang Mahakuasa karena Dia telah mengungkapkan begitu banyak kebenaran. Mereka menerima-Nya agar dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Namun, ketika dihadapkan pada penangkapan dan kesengsaraan, banyak orang menarik diri, banyak orang bersembunyi di rumah mereka dan tidak berani menjalankan tugas mereka. Pada saat seperti ini, kata-kata yang engkau ucapkan—"Aku percaya pada kedaulatan Tuhan, aku percaya pada kendali Tuhan atas nasib manusia, dan bahwa takdirku ada di tangan Tuhan"—telah lama menghilang tanpa jejak. Itu hanyalah slogan bagimu. Karena engkau tidak berani melakukan dan mengalami firman ini, dan engkau tidak hidup berdasarkan firman ini, apakah engkau memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan? Esensi dari beriman kepada Tuhan bukanlah sekadar percaya pada nama Tuhan, tetapi percaya pada fakta bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu. Engkau harus mengubah fakta ini ke dalam hidupmu, mengubahnya menjadi kesaksian nyata dalam hidupmu. Engkau harus hidup menurut firman ini. Itu berarti mengizinkan kata-kata ini memandu perilakumu dan memandu arah serta tujuan tindakanmu ketika situasi menghadangmu. Mengapa engkau harus hidup dengan kata-kata ini? Misalnya, katakanlah engkau dapat pergi ke negeri asing untuk percaya kepada Tuhan dan melakukan tugasmu, dan engkau berpikir ini cukup baik. Kekuasaan si naga merah yang sangat besar tidak ada di luar negeri, dan tidak ada penganiayaan terhadap kepercayaan; percaya kepada Tuhan tidak membahayakan hidupmu, jadi engkau tidak perlu mengambil risiko. Padahal, orang-orang yang percaya kepada Tuhan di Tiongkok daratan berada dalam bahaya ditangkap kapan saja; mereka tinggal di sarang Iblis, dan itu sangat berbahaya! Lalu suatu hari, Tuhan berkata, "Engkau telah percaya kepada Tuhan di luar negeri selama beberapa tahun, dan memperoleh beberapa pengalaman hidup. Ada sebuah tempat di Tiongkok daratan, saudara-saudari di sana belum dewasa dalam hidupnya. Engkau harus kembali dan menggembalakan mereka." Apa yang akan kaulakukan ketika dihadapkan dengan tanggung jawab ini? (Tunduk dan menerimanya.) Engkau mungkin menerimanya secara lahiriah, tetapi hatimu merasa tidak nyaman. Di tempat tidurmu pada malam hari, engkau menangis dan berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, Engkau tahu kelemahanku. Tingkat pertumbuhanku terlalu kecil. Bahkan jika aku kembali ke Tiongkok daratan, aku tidak akan mampu menggembalakan umat pilihan Tuhan! Tidak bisakah Engkau memilih orang lain untuk pergi? Amanat ini telah datang kepadaku, dan aku ingin pergi, tetapi aku takut, jika aku pergi, aku tidak akan melaksanakannya dengan baik, aku tidak akan dapat melaksanakan tugasku dengan memuaskan, dan aku akan gagal memenuhi maksud-Mu! Tidak bisakah aku tinggal di luar negeri selama dua tahun lagi?" Apa pilihanmu? Engkau memang tidak sepenuhnya menolak untuk pergi, tetapi engkau juga tidak sepenuhnya setuju untuk pergi. Ini adalah penghindaran yang tak diucapkan. Apakah ini tunduk kepada Tuhan? Ini adalah pemberontakan yang paling jelas terhadap Tuhan. Ketika engkau tidak ingin kembali, berarti engkau memiliki emosi menentang. Apakah Tuhan mengetahui hal ini? (Dia tahu.) Tuhan akan berkata, "Jangan pergi. Aku tidak akan memaksamu, Aku hanya sedang mengujimu." Dengan cara ini, Dia telah menyingkapkan dirimu. Apakah engkau mengasihi Tuhan? Apakah engkau tunduk kepada Tuhan? Apakah engkau memiliki kepercayaan yang sejati? (Tidak.) Apakah ini kelemahan? (Bukan.) Ini adalah pemberontakan, ini menentang Tuhan. Ujian ini telah mengungkapkan bahwa engkau tidak memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan, engkau tidak memiliki ketundukan yang sejati, dan engkau tidak percaya bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu. Engkau berkata, "Selama aku takut, aku dibenarkan untuk memilih tidak pergi. Selama hidupku dalam bahaya, aku bisa menolak. Aku tidak harus menerima amanat ini dan dapat memilih jalanku sendiri. Aku bisa saja dipenuhi dengan rasa tidak puas dan keluhan." Kepercayaan macam apa ini? Tidak ada kepercayaan yang nyata di sini. Tidak peduli seberapa mulia slogan-slogan yang kauucapkan, apakah itu akan berpengaruh sekarang? Tidak sama sekali. Apakah sumpahmu akan berpengaruh? Akankah ada gunanya jika orang lain mempersekutukan kebenaran dan melakukan pekerjaan ideologis untukmu? (Tidak.) Bahkan jika engkau dengan enggan pergi ke Tiongkok daratan, apakah ini ketundukan sejati? Bukan seperti ini ketundukan yang Tuhan inginkan darimu. Jika engkau pergi dengan tidak rela, engkau akan pergi dengan sia-sia. Tuhan tidak akan bekerja di dalam dirimu, dan engkau tidak akan mendapatkan apa pun darinya. Tuhan tidak memaksa orang untuk melakukan sesuatu. Engkau harus bersedia dan rela. Jika engkau tidak ingin pergi, ingin mengambil jalan tengah, dan selalu berusaha melarikan diri, menolak, dan menghindar, engkau tidak perlu pergi. Ketika tingkat pertumbuhanmu cukup besar dan engkau memiliki iman seperti itu, engkau akan dengan sukarela meminta untuk pergi, dengan mengatakan, "Aku akan pergi, bahkan jika tidak ada orang lain yang pergi. Kali ini aku benar-benar tidak takut, dan aku akan mempertaruhkan nyawaku! Bukankah hidup ini pemberian Tuhan? Apa yang menakutkan dari Iblis? Iblis adalah mainan di tangan Tuhan, dan aku tidak takut padanya! Jika aku tidak ditangkap, itu adalah berkat kasih karunia dan belas kasihan Tuhan. Jika keadaan membuatku ditangkap, itu karena Tuhan mengizinkannya. Bahkan jika aku mati di penjara, aku harus tetap bersaksi bagi Tuhan! Aku harus memiliki tekad ini—aku akan menyerahkan hidupku kepada Tuhan. Aku akan membagikan apa yang telah kupahami, kualami, dan kuketahui dalam hidupku dan mempersekutukannya dengan saudara-saudari yang kurang pemahaman dan pengetahuan. Dengan demikian, mereka dapat memiliki kepercayaan dan tekad yang sama sepertiku, dan dapat menghadap ke hadirat Tuhan dan bersaksi bagi-Nya. Aku harus memerhatikan maksud Tuhan dan memikul beban berat ini. Meski memikul beban berat ini mengharuskanku untuk mengambil risiko dan mengorbankan hidupku, aku tidak takut. Aku tidak lagi memikirkan diriku sendiri; aku memiliki Tuhan, hidupku ada di tangan-Nya, dan aku rela tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya." Setelah engkau kembali, engkau harus menderita di lingkungan itu. Engkau mungkin akan menua dengan cepat, rambutmu beruban dan wajahmu menjadi keriput. Engkau mungkin jatuh sakit atau ditangkap dan dianiaya, atau bahkan berada dalam bahaya maut. Bagaimana engkau harus menghadapi masalah-masalah ini? Sekali lagi, ini melibatkan kepercayaan yang sejati. Beberapa orang dapat kembali dengan tekad kuat, tetapi apa yang akan mereka lakukan ketika berhadapan dengan kesulitan-kesulitan ini setelah kembali? Engkau harus berani mengambil risiko dan percaya pada kedaulatan Tuhan. Meskipun engkau terlihat sedikit menua atau sedikit sakit, ini adalah masalah kecil. Jika engkau berdosa terhadap Tuhan dan menolak amanat-Nya, engkau akan kehilangan kesempatan untuk disempurnakan oleh Tuhan dalam kehidupan ini. Jika dalam hidupmu engkau berdosa kepada Tuhan dan menolak amanat-Nya, itu akan menjadi noda yang kekal! Kehilangan kesempatan ini adalah sesuatu yang tidak dapat engkau gantikan dengan berapa pun tahun masa mudamu. Apa gunanya memiliki tubuh yang sehat dan kuat? Apa gunanya memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang bagus? Bahkan jika engkau hidup sampai usia delapan puluh tahun dan pikiranmu masih tajam, jika engkau tidak dapat memahami arti dari satu kalimat pun yang diucapkan oleh Tuhan, bukankah itu menyedihkan? Itu akan sangat menyedihkan! Jadi, apa hal yang paling penting dan berharga yang harus diperoleh orang ketika mereka menghadap ke hadirat Tuhan? Iman yang sejati kepada Tuhan. Apa pun yang menimpamu, jika engkau terlebih dahulu tunduk, meskipun engkau sedikit salah paham tentang Tuhan pada saat itu, atau engkau tidak begitu mengerti mengapa Tuhan bertindak seperti itu, engkau tidak akan menjadi negatif dan lemah. Seperti yang dikatakan Petrus, "Bahkan jika Tuhan mempermainkan manusia seolah-olah mereka adalah mainan, keluhan apa yang akan dimiliki manusia?" Jika engkau tidak memiliki sedikit pun kepercayaan semacam ini, mungkinkah engkau masih bisa tunduk seperti Petrus? Sering kali, apa yang Tuhan lakukan kepadamu adalah tepat dan masuk akal, sesuai dengan tingkat pertumbuhan, imajinasi, dan gagasanmu. Tuhan bekerja sesuai dengan tingkat pertumbuhanmu. Jika engkau masih tidak dapat menerimanya, dapatkah engkau mencapai ketundukan seperti Petrus? Itu bahkan lebih tidak mungkin. Oleh karena itu, engkau harus mengejar ke arah dan tujuan ini. Hanya dengan demikianlah engkau dapat mencapai iman yang sejati kepada Tuhan.

Jika orang tidak memiliki iman yang sejati, dapatkah mereka tunduk kepada Tuhan? Sulit untuk memastikannya. Hanya dengan memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan, mereka dapat benar-benar tunduk kepada-Nya. Itulah tepatnya. Jika engkau tidak sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan, engkau tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk menerima pencerahan, bimbingan, atau penyempurnaan dari Tuhan. Engkau telah menolak semua kesempatan untuk disempurnakan oleh Tuhan. Engkau tidak menginginkannya. Engkau menolak, menghindar, dan terus-menerus mengelak. Engkau selalu memilih lingkungan yang nyaman bagi daging dan bebas dari penderitaan. Ini adalah masalah! Engkau tidak dapat mengalami pekerjaan Tuhan. Engkau tidak dapat mengalami bimbingan, pimpinan, dan perlindungan Tuhan. Engkau tidak dapat melihat perbuatan Tuhan. Akibatnya, engkau tidak akan mendapatkan kebenaran dan kepercayaan yang sejati—engkau tidak akan mendapatkan apa-apa! Jika engkau tidak dapat memperoleh kebenaran dan tidak dapat menjadikan firman Tuhan sebagai hidupmu, bisakah engkau didapatkan oleh Tuhan? Tentu tidak. Apa hal utama yang ingin kauperoleh dengan dicerahkan, dibimbing, dan disempurnakan oleh Tuhan? Engkau ingin memperoleh kebenaran dan firman Tuhan. Artinya, firman Tuhan menjadi kenyataanmu, sumber kehidupanmu, dan prinsip, dasar, serta kriteria untuk tindakanmu. Jika demikian, apakah yang kautunjukkan dari hidupmu? Masihkah watak yang rusak? (Tidak.) Akankah Tuhan berkata kepadamu, "Enyahlah kau, Iblis"? (Tidak.) Apa yang akan Tuhan katakan? Apa definisi yang Tuhan berikan mengenai Ayub? (Dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dia adalah orang yang sempurna.) Sangatlah cocok untuk mengutip kata-kata itu di sini. Jika engkau ingin memperoleh gelar dan definisi yang Tuhan berikan kepada Ayub, akankah mudah untuk melakukannya? (Tidak.) Tidak mudah. Engkau harus memuaskan hati Tuhan dalam segala hal, mencari maksud Tuhan di mana pun, bertindak sesuai dengan maksud Tuhan, dan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Jika engkau hanya berkata bahwa engkau akan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, tetapi kemudian berusaha menganalisis mengapa keadaan, orang, peristiwa, dan hal-hal tertentu menimpamu, mengeluh dan salah paham, dan keliru menafsirkan maksud Tuhan, hal itu akan sangat menyedihkan bagi Tuhan! Jika engkau tidak menginginkan Tuhan, Tuhan tidak akan menginginkanmu. Engkau tidak akan punya hubungan satu sama lain. Bukankah akan menjadi masalah jika keadaannya terus berlanjut seperti ini? Karena engkau tidak dianggap sebagai makhluk ciptaan Tuhan, Tuhan bukanlah Penguasamu, dan Tuhan bukanlah Tuhanmu. Bagaimana Tuhan akan mendefinisikanmu pada akhirnya? "Pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan." Apakah engkau semua ingin kata-kata ini diucapkan kepadamu? (Tidak.) Apa artinya jika hal ini dikatakan kepadamu? (Artinya kita dikutuk, disingkirkan, dan dihukum oleh Tuhan.) Itu sama sekali tidak baik! Begitu engkau dikutuk dan disingkirkan oleh Tuhan, itu tidak seperti dikutuk oleh seorang pemimpin atau orang yang memiliki otoritas—ini adalah Tuhan! Tuhan menganugerahkan kehidupan kepadamu dan menopang kehidupanmu. Jika Tuhan tidak menginginkanmu, bisakah engkau tetap hidup? (Tidak.) Apa artinya ini? Ini menandakan hasil akhir untukmu, dan itu bukan hal yang baik. Itu sama sekali bukan pertanda baik. Jika Aku berkata bahwa seseorang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan serta menjadi orang yang sempurna, ini adalah pertanda baik, dan berkat Tuhan pasti akan datang kepada orang seperti itu. Apa yang harus engkau semua lakukan terhadap firman yang digunakan Tuhan untuk menilai Ayub? Jika engkau memikirkan apa yang Ayub makan, apa yang dia kenakan, cara dia berjalan, dan temperamen apa yang dia miliki kemudian mencoba menirunya, engkau salah kaprah. Engkau harus segera merenungkan dan mencari, dengan berpikir, "Bagaimana Ayub melakukannya? Apa yang dia jalani untuk menerima perkenan Tuhan? Tuhan berkata bahwa Ayub takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dia adalah orang yang sempurna. Itu bukanlah hal kecil. Tuhan sendiri yang mengatakannya. Aku harus mengikuti teladan Ayub, mencari jalan untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, serta berusaha menjadi orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan juga. Dengan demikian, Tuhan akan berkenan kepadaku dan memanggilku dengan sebutan ini. Aku ingin menjadi orang yang sempurna di mata Tuhan." Pemikiran ini sejalan dengan maksud Tuhan.

30 Desember 2016

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp