Sikap yang Seharusnya Dimiliki Manusia terhadap Tuhan (Bagian Tiga)

Mereka yang dengan tulus tunduk kepada Tuhan dan menerima kebenaran tidak seharusnya mengembangkan kesalahpahaman tentang Tuhan dan memberikan penilaian atau penghakimannya pada apa pun yang Tuhan lakukan. Pada Zaman Hukum Taurat, Tuhan berfirman Dia akan memberi Abraham seorang anak laki-laki. Apa yang Abraham katakan tentang hal itu? Dia tidak mengatakan apa pun—dia percaya apa yang Tuhan firmankan. Inilah sikap Abraham. Apakah dia mengkritik sedikit pun? Apakah dia mencemooh? Apakah dia melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi? Tidak, dia juga tidak melakukan rencana kecil apa pun. Inilah yang disebut ketundukan; inilah yang disebut berpegang teguh pada posisinya dan tugasnya. Adapun istrinya, Sara—bukankah sikapnya berbeda dengan sikap Abraham? Apa sikapnya terhadap Tuhan? Dia mempertanyakan, mencemooh, tidak percaya—dan dia mengkritik serta melakukan manuver kecil, memberi Abraham hamba perempuannya sebagai gundik, melakukan begitu banyak hal yang tidak masuk akal. Ini berasal dari kehendak manusia. Sara tidak berpegang teguh pada perannya; dia meragukan firman Tuhan dan tidak percaya akan kemahakuasaan-Nya. Apakah penyebab ketidakpercayaannya? Ada dua alasan dan konteks. Yang pertama adalah bahwa Abraham kala itu sudah cukup tua. Alasan lainnya adalah bahwa Sara sendiri juga sudah cukup tua dan tidak dapat melahirkan anak, jadi pikirnya, "Ini tidak mungkin. Bagaimana Tuhan akan mewujudkannya? Bukankah ini tidak masuk akal? Bukankah ini seperti mencoba mempermainkan seorang anak kecil?" Sara tidak menerima atau pun memercayai apa yang Tuhan katakan sebagai kebenaran tetapi menganggapnya sebagai lelucon, berpikir bahwa Tuhan sedang bercanda dengan manusia. Apakah ini sikap yang benar? (Tidak.) Inikah sikap bagaimana seharusnya manusia memperlakukan Sang Pencipta? (Bukan.) Jadi, apakah Sara berpegang teguh pada perannya? (Tidak.) Dia tidak berpegang teguh. Sara menganggap firman Tuhan sebagai lelucon dan bukan sebagai kebenaran, dan tidak memercayai apa yang Tuhan firmankan atau apa yang akan Dia lakukan, Sara bertindak tidak masuk akal, menyebabkan serangkaian konsekuensi yang semuanya berasal dari kehendak manusia. Intinya, dia berkata, "Bisakah Tuhan melakukan hal ini? Jika Dia tidak bisa, aku harus mengambil tindakan untuk membantu menggenapi firman Tuhan ini." Di dalam dirinya, ada kesalahpahaman, kritik, spekulasi, dan pertanyaan, yang semuanya merupakan pemberontakan terhadap Tuhan oleh orang yang berwatak rusak. Abraham melakukan hal-hal ini? Dia tidak melakukannya, dan jadi berkat ini dianugerahkan kepadanya. Tuhan melihat sikap Abraham terhadap-Nya, hatinya yang takut akan Tuhan, kesetiaannya, dan ketundukannya yang sejati, dan Tuhan akan memberikan seorang anak laki-laki kepadanya sehingga dia akan menjadi bapa banyak bangsa. Inilah yang dijanjikan kepada Abraham dan Sara ikut mendapatkan keuntungan darinya. Oleh karena itu, ketundukan sangatlah penting. Apakah ada pertanyaan dalam ketundukan? (Tidak.) Jika ada, apakah itu dianggap sebagai ketundukan sejati? (Bukan.) Jika ada analisis dan penghakiman di dalamnya, apakah itu lalu dianggap sebagai ketundukan sejati? (Tidak.) Dan jika orang mencoba mencari-cari kesalahan? Maka, itu dianggap bahkan lebih rendah lagi. Lalu, apa yang diwujudkan dan disingkapkan—dan apa perilaku—di dalam ketundukan yang sepenuhnya membuktikan bahwa itu benar? (Kepercayaan.) Kepercayaan sejati adalah satu hal. Orang harus memahami dengan benar apa yang Tuhan katakan dan lakukan, dan menegaskan bahwa semua yang Tuhan lakukan adalah benar dan kebenaran; tidak perlu mempertanyakannya atau bertanya kepada orang lain tentangnya, dan tidak perlu menimbang atau menganalisisnya di dalam hati. Inilah satu aspek dari ketundukan. Percaya bahwa semua yang Tuhan lakukan itu benar. Ketika seseorang melakukan sesuatu, orang dapat melihat siapa yang melakukannya, bagaimana latar belakangnya, apakah dia pernah melakukan perbuatan yang buruk, dan bagaimana karakternya. Hal-hal ini membutuhkan analisis. Sebaliknya, jika sesuatu berasal dari Tuhan dan dilakukan oleh-Nya, engkau harus segera menutup mulutmu dan tidak berpikir dua kali—jangan mempertanyakannya dan jangan mengajukan pertanyaan, tetapi menerimanya secara keseluruhan. Dan apa yang harus dilakukan selanjutnya? Ada kebenaran yang terlibat di sini yang tidak dipahami orang, dan mereka tidak mengenal Tuhan. Meskipun mereka percaya bahwa adalah Tuhan yang melakukannya dan mereka mampu untuk tunduk, mereka tidak sungguh-sungguh memahami kebenaran. Apa yang mereka pahami agaknya masih dari natur doktrin, dan mereka masih ragu di hati. Pada saat seperti itu, mereka harus mencari, bertanya, "Kebenaran apa yang ada di dalam hal ini? Di mana kekeliruan dalam pemikiranku? Bagaimana aku menjadi jauh dari Tuhan? Yang manakah dari sudut pandangku yang bertentangan dengan apa yang Tuhan firmankan?" Selanjutnya, mereka seharusnya mencari jawabannya. Ini adalah sikap dan penerapan ketundukan. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tunduk, tetapi ketika kemudian sesuatu menimpa mereka, mereka berpikir, "Siapa yang tahu apa yang Tuhan lakukan? Kami makhluk ciptaan tidak bisa ikut campur. Biarkan Tuhan melakukan apa pun yang Dia inginkan!" Apakah ini ketundukan? (Bukan.) Sikap macam apa ini? Ini adalah keengganan untuk mengambil tanggung jawab; sikap tidak peduli akan apa yang Tuhan lakukan; dan sikap masa bodoh yang acuh tak acuh. Abraham mampu tunduk karena dia menerapkan prinsip-prinsip, dan dia bertekad dalam kepercayaannya bahwa apa yang Tuhan firmankan pasti dilakukan dan pasti digenapi—dia yakin 100 persen akan kedua "pasti" ini. Karena itu, dia tidak mempertanyakannya, dia tidak membuat penilaian apa pun, juga tidak terlibat dalam manuver kecil apa pun. Begitulah Abraham berperilaku dalam ketundukannya.

Abraham menerima berkat dari Tuhan. Dia tidak ragu sedikit pun, dan tidak mencampurkan kehendak manusia ke dalam apa pun yang dilakukannya. Namun, situasi yang dialami Ayub sama sekali berbeda dari situasi Abraham. Apanya yang berbeda? Yang dialami Abraham adalah berkat, sesuatu yang baik; di usianya yang hampir 100 tahun dia tidak memiliki anak dan mengharapkannya ketika Tuhan berjanji untuk memberinya seorang anak laki-laki. Bagaimana mungkin Abraham tidak bahagia? Dia tentu saja bersedia untuk tunduk. Namun, apa yang dialami Ayub adalah kemalangan; mengapa dia masih bisa tunduk? (Ayub percaya dalam hatinya bahwa segala sesuatu adalah pekerjaan Tuhan.) Ini salah satu aspek. Ada yang lain, sering kali manusia mampu tunduk ketika tidak mengalami terlalu banyak penderitaan, dan mampu tunduk ketika Tuhan menganugerahkan berkat; tetapi ketika Tuhan mengambil, tidak mudah baginya untuk tunduk lagi. Adapun Ayub, sudut pandang apakah yang dimilikinya, rasionalitas apakah yang dia punyai, kebenaran apakah yang dipahaminya, atau aspek pemahaman apa tentang Tuhan yang dimiliki hingga dia mampu menerima dan tunduk pada kemalangan itu? (Dia percaya bahwa semua yang Tuhan lakukan adalah baik. Ayub percaya dalam hatinya bahwa semua yang dimiliki dianugerahkan oleh Tuhan, bukan hasil jerih payahnya sendiri—jika Tuhan mengambilnya, itu juga otoritas-Nya. Ayub memiliki rasionalitas seperti itu, jadi dia mampu menerima dan tunduk.) Jika orang percaya bahwa semua yang Tuhan lakukan itu baik, maka mudah baginya untuk tunduk. Namun apakah masih mudah untuk tunduk ketika tampaknya semua yang Tuhan lakukan mendatangkan kemalangan baginya? Manakah yang lebih menunjukkan ketundukan sejati? (Masih mampu tunduk ketika tampaknya semua yang Tuhan lakukan mendatangkan kemalangan baginya.) Jadi, rasionalitas dan kebenaran seperti apakah yang dimiliki Ayub untuk mampu menerima kemalangan itu? (Ayub benar-benar memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Ayub mengerti bahwa Tuhan bukan hanya menganugerahkan berkat dan kasih karunia—tetapi bahkan ketika Tuhan mengambil pun, Dia tetap Tuhan; Ayub juga memahami bahwa meski orang mengalami musibah, itu karena Tuhan mengizinkannya. Apa pun yang Tuhan lakukan, Dia tetap Tuhan, dan manusia harus selalu menyembah-Nya.) Terutama, karena Ayub memiliki pemahaman tentang Tuhan dan menempatkan diri pada posisinya dengan baik. Ayub mengakui bahwa esensi Tuhan tidak akan berubah meskipun orang, peristiwa, dan keadaan eksternal berubah; esensi Tuhan selalu dan selamanya tidak berubah. Bukan berarti jika Tuhan menganugerahkan berkat kepada manusia, Dia adalah Tuhan, dan jika semua yang Dia lakukan mendatangkan kemalangan pada manusia, menyebabkan penderitaan dan hukuman, atau membinasakan manusia, esensi-Nya berubah dan Dia tidak lagi menjadi Tuhan. Esensi Tuhan tidak pernah berubah. Esensi manusia juga tidak berubah; artinya, status dan esensi manusia sebagai makhluk ciptaan tidak akan pernah berubah. Bahkan jika engkau mampu takut akan Tuhan dan mengenal-Nya, engkau tetap makhluk ciptaan; esensimu tidak berubah. Tuhan menguji Ayub dengan sangat berat, tetapi Ayub masih mampu tunduk dan tidak mengeluh. Selain memiliki sejumlah pengetahuan tentang Tuhan, apakah kekuatan terbesar yang membuatnya mampu untuk tunduk dan menahan diri untuk tidak mengeluh? Ayub tahu bahwa manusia akan selalu menjadi manusia; bagaimanapun Tuhan memperlakukan mereka sepenuhnya benar. Sederhananya, bagaimanapun Tuhan memperlakukanmu, demikianlah seharusnya engkau diperlakukan. Bukankah ini menjelaskan segala sesuatunya? Janganlah menuntut bagaimana Tuhan seharusnya memperlakukanmu, berkat apakah yang seharusnya Dia berikan kepadamu, atau bagaimanakah Dia seharusnya mengujimu, dan apa arti penting pekerjaan-Nya bagimu. Engkau tidak dapat menuntut hal ini, mengajukan tuntutan-tuntutan itu adalah tidak bernalar. Ada orang-orang di masa damai dan aman mengatakan bahwa apa pun yang Tuhan lakukan adalah baik, tetapi kemudian mereka tidak dapat menerima ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan gagasannya. Ini harus diatasi dengan kebenaran. Kebenaran apakah itu? Berdiri teguh pada posisimu sendiri; bagaimanapun Tuhan memperlakukanmu adalah sebagaimana mestinya dan tanpa kesalahan. Tidak peduli bagaimana Tuhan memperlakukanmu, Dia tetap Tuhan; manusia tidak seharusnya menuntut kepada-Nya. Jangan mengevaluasi kebenaran Tuhan, dan janganlah mengevaluasi alasan, tujuan, atau makna penting tindakan-Nya. Semua ini tidak memerlukan evaluasimu. Tanggung jawab dan tugasmu adalah berdiri teguh pada posisimu sebagai makhluk ciptaan dan membiarkan Tuhan mengatur menurut kehendak-Nya. Itulah cara yang benar. Ini mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan; meski demikian manusia harus memahami kebenaran ini. Hanya dengan memahami kebenaran, engkau mampu memiliki ketundukan sejati ketika sesuatu menimpamu.

Sebagian orang yang selama ini percaya kepada Tuhan dan mendengarkan khotbah, berpikir: "Ayub mampu tunduk pada ujian yang Tuhan berikan kepadanya karena Ayub tahu bahwa semuanya berasal dari tangan Tuhan. Betapa pun banyak ternak dan domba, atau betapa pun banyak harta benda, kekayaan, dan keturunan yang dimiliki seseorang, itu semua dianugerahkan Tuhan—tidak tergantung pada orang-orang. Manusia bagaikan budak di hadapan Tuhan, mereka harus menanggungnya bagaimana pun Dia memperlakukan mereka." Manusia menggunakan sikap negatif semacam ini untuk mengenal Tuhan; apakah mengenal Tuhan dengan cara ini benar? Tentu saja tidak. Kalau begitu, bagaimanakah cara yang benar untuk mengenal Tuhan? (Manusia adalah makhluk ciptaan, dan Tuhan selamanya adalah Tuhan. Tidak peduli bagaimana Tuhan bertindak, manusia harus membiarkan Tuhan mengaturnya sesuai yang Dia kehendaki.) Tepat sekali. Janganlah menuntut agar Tuhan harus bertindak dengan suatu cara tertentu. Jangan menuntut agar Tuhan menjelaskan semuanya untukmu dalam persekutuan. Jika Dia tidak menjelaskannya, engkau tidak seharusnya menentang Tuhan dengan berpikir bahwa engkau punya alasan. Ini keliru. Ini luar biasa congkak dan merasa diri paling benar, sama sekali tidak punya hati nurani dan nalar; ini bukanlah apa yang seharusnya dikatakan oleh makhluk ciptaan. Bahkan Iblis pun tidak berani berbicara kepada Tuhan dengan cara histeris seperti itu—engkau adalah manusia yang rusak, bagaimana engkau bisa lebih congkak daripada Iblis? Posisi apakah yang seharusnya diambil manusia ketika berbicara kepada Tuhan? Bagaimana seharusnya orang memahami hal ini? Sebenarnya pernyataan Ayub, "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" sudah menjelaskan mengapa Ayub mampu tunduk kepada Tuhan, dan ada kebenaran yang harus dicari di dalamnya. Apakah Ayub mengungkapkan keluhan atau ketidakpuasan saat membuat pernyataan ini? (Tidak.) Apakah ada ambiguitas atau implikasi negatifnya? (Tidak.) Jelas tidak ada. Ayub pada akhirnya menyadari melalui pengalamannya bahwa cara Sang Pencipta memperlakukan manusia bukanlah manusia yang menentukan. Mungkin kedengarannya sedikit kurang menyenangkan, tetapi itulah kenyataannya. Tuhan telah mengatur nasib setiap orang sepanjang hidupnya; apakah engkau menerimanya atau tidak, itulah kenyataannya. Engkau tidak dapat mengubah nasibmu. Tuhan adalah Sang Pencipta, dan engkau harus tunduk pada penataan dan pengaturan-Nya. Bagaimanapun tindakan Tuhan adalah benar karena Dia adalah kebenaran, Dialah Penguasa atas segala sesuatu, dan manusia harus tunduk kepada-Nya. "Segala sesuatu" ini meliputi engkau dan semua makhluk ciptaan. Kalau begitu, salah siapakah sehingga engkau selalu ingin menentang? (Salah kami sendiri.) Ini masalahmu. Engkau selalu ingin memberikan alasan dan mencari-cari kesalahan; apakah ini benar? Engkau selalu ingin menerima berkat dan keuntungan dari Tuhan; apakah ini benar? Tidak ada satu pun yang benar. Sudut pandang yang demikian menunjukkan pengetahuan dan pemahaman yang keliru tentang Tuhan. Justru karena sudut pandangmu mengenai kepercayaan kepada Tuhan keliru, engkau pasti akan berbenturan, menantang, dan menentang Tuhan setiap kali engkau menghadapi suatu situasi, selalu berpikir, "Tuhan salah melakukan ini; aku tidak bisa terima. Semua orang akan memprotes tindakan-Nya yang seperti itu. Sepertinya bukan Tuhan yang melakukan hal itu!" Namun, masalahnya di sini bukan Tuhan itu seperti apa; apa pun yang Tuhan lakukan, Dia tetaplah Tuhan. Jika engkau tidak punya nalar dan pemahaman ini, selalu menyelidiki dan membuat penafsiran sendiri ketika sesuatu menimpamu setiap hari, akibatnya engkau hanya akan melawan dan menentang Tuhan di setiap kesempatan, dan engkau tidak akan dapat keluar dari keadaan ini. Namun, jika engkau mempunyai pemahaman ini dan engkau dapat mengambil posisi sebagai makhluk ciptaan, dan saat menghadapi situasi engkau membandingkan dirimu dengan aspek kebenaran dan penerapan ini dan masuk ke dalamnya, rasa takut batinmu terhadap Tuhan akan meningkat seiring berjalannya waktu. Tanpa disadari, engkau akan mulai merasa: "Ternyata apa yang Tuhan lakukan itu tidak salah; apa yang Tuhan lakukan itu semuanya baik. Orang tidak perlu menyelidiki dan menganalisisnya; serahkan saja dirimu pada belas kasih penataan Tuhan!" Dan ketika engkau mendapati dirimu tidak mampu tunduk kepada Tuhan atau menerima penataan-Nya, hatimu akan merasa ditegur: "Aku bukanlah makhluk ciptaan yang baik. Mengapa aku tidak dapat tunduk saja? Bukankah ini membuat Sang Pencipta sedih?" Makin engkau ingin menjadi makhluk ciptaan yang baik, makin bertumbuh pemahaman dan kejelasanmu akan aspek kebenaran ini. Namun, makin engkau menganggap dirimu sebagai orang penting, percaya bahwa Tuhan tidak seharusnya memperlakukanmu seperti ini, Dia tidak seharusnya menegurmu dengan cara begitu, Tuhan tidak seharusnya memangkas dan mengaturmu seperti itu, engkau berada dalam masalah. Jika engkau punya banyak tuntutan kepada Tuhan di dalam hatimu, jika engkau merasa ada banyak hal yang tidak seharusnya Tuhan lakukan, engkau berada di jalan yang salah; gagasan, penilaian, dan hujatan akan muncul, dan engkau tidak jauh dari melakukan kejahatan. Ketika orang-orang yang tidak mencintai kebenaran mendengar firman Tuhan, mereka mulai menganalisis dan menyelidiki, lambat laun akan muncul keraguan dan ejekan. Lalu mereka mulai menghakimi, menyangkal, dan mengutuk—inilah hasilnya. Terlalu banyak orang yang memperlakukan Tuhan seperti ini, semuanya disebabkan oleh watak rusak mereka.

Ada orang yang selalu berpikir, "Aku ini manusia. Memang benar bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, tetapi Dia harus menghormati dan memahamiku, Dia harus mengasihi dan melindungiku." Apakah sudut pandang ini benar? Tuhanlah penentu keputusan mengenai bagaimana Dia mengasihi manusia. Tuhan adalah Sang Pencipta; bagaimana Dia memperlakukan makhluk ciptaan adalah urusan-Nya. Tuhan memiliki prinsip dan watak-Nya; percuma saja orang menuntut. Sebaliknya mereka harus belajar bagaimana memahami Tuhan dan tunduk kepada-Nya, inilah nalar yang seharusnya dimiliki manusia. Ada orang yang mengatakan: "Tuhan terlalu kasar terhadap manusia. Bertindak seperti ini bukanlah mengasihi manusia. Dia tidak menghormati manusia atau memperlakukannya sebagai manusia!" Sejumlah orang yang bukan manusia, mereka adalah setan. Segala cara untuk memperlakukan mereka dapat diterima; mereka pantas dikutuk dan tidak layak dihormati. Ada juga yang mengatakan, "Aku orang yang cukup baik, aku tidak melakukan sesuatu pun yang menentang Tuhan, dan aku banyak menderita demi Dia. Mengapa Dia masih memangkasku sedemikian rupa? Mengapa Dia selalu mengabaikanku? Mengapa Dia tidak pernah mengakuiku atau meninggikanku?" Ada lagi yang berkata, "Aku orang yang sederhana dan jujur; Aku sudah percaya kepada Tuhan sejak dalam kandungan, dan aku masih percaya kepada-Nya sampai sekarang. Aku sangat murni! Aku meninggalkan keluargaku dan berhenti dari pekerjaanku demi mengorbankan diri untuk Tuhan, dan aku berpikir betapa Tuhan sangat mengasihiku. Sekarang, tampaknya Tuhan tidak begitu mengasihi manusia, dan aku merasa diabaikan, kecewa, dan putus asa terhadap-Nya." Bukankah ini masalah? Apa kesalahan orang-orang ini? Mereka tidak berada pada tempatnya yang semestinya, tidak tahu siapa diri mereka, selalu beranggapan bahwa mereka adalah orang yang penting, yang harus dihormati dan ditinggikan, atau dihargai dan disayangi Tuhan. Jika orang selalu punya kesalahpahaman serta tuntutan yang menyimpang dan menggelikan seperti ini, sangatlah berbahaya. Setidaknya, mereka tidak akan disukai dan akan dibenci oleh Tuhan, dan jika tidak bertobat, mereka berisiko disingkirkan. Jadi apa yang harus dilakukan manusia, bagaimana mereka seharusnya mengenal diri sendiri, dan bagaimana mereka seharusnya memperlakukan dirinya sendiri agar sesuai dengan tuntutan Tuhan, mengatasi kesulitan-kesulitan ini, dan melepaskan tuntutan mereka terhadap Tuhan? Ada orang-orang yang diatur oleh rumah Tuhan untuk menjadi pemimpin dan mereka sangat antusias. Sesudah bekerja selama beberapa waktu, didapati bahwa mereka dapat melakukan tugas luar dengan cukup baik tetapi tidak dapat menangani penyelesaian masalah—mereka tidak dapat mempersekutukan kebenaran untuk mengatasi masalah sehingga peran kepemimpinannya di gereja digantikan. Bukankah ini sangat tepat? Namun, mereka mulai berdebat dan mengeluh dengan mengatakan, "Para pemimpin palsu dan antikristus itu tidak melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka dengan baik; yang mereka lakukan hanyalah menimbulkan gangguan dan kekacauan. Mereka memang seharusnya diganti dan disingkirkan. Namun, aku tidak melakukan sesuatu pun yang buruk, mengapa aku juga digantikan?" Mereka merasa sedikit kesal. Mengapa? Mereka merasa tidak melakukan sesuatu yang buruk, maka mereka seharusnya tetap menjadi pemimpin dan tidak sepantasnya digantikan. Mereka merasa rumah Tuhan sangat tidak adil. Hati mereka penuh keluhan dan perlawanan, dan gagasan tentang Tuhan muncul dalam diri mereka yang menyebabkan ketidakseimbangan batin: "Bukankah dikatakan bahwa ada prinsip untuk pemilihan dan penyingkiran pemimpin? Tampak bagiku bahwa tidak ada prinsip atas apa yang terjadi, Tuhan telah membuat kesalahan!" Singkatnya, sepanjang Tuhan melakukan sesuatu yang merugikan kepentingan mereka dan menyakiti perasaan mereka, mereka mulai mencari-cari kesalahan. Apakah ini masalah? Bagaimana masalah ini bisa diselesaikan? Engkau harus mengenali identitasmu sendiri, engkau harus tahu siapa dirimu. Apa pun bakat atau kekuatan yang kaumiliki, atau sebanyak apa pun keterampilan atau kemampuan yang kaumiliki, atau bahkan sebanyak apa pun jasa yang telah kauperoleh di rumah Tuhan, atau sebanyak apa pun engkau telah berlari ke sana kemari, atau sebanyak apa pun modal yang telah kaukumpulkan, hal-hal ini tidak ada artinya bagi Tuhan, dan jika semuanya itu tampak penting dari posisimu, maka bukankah telah muncul kesalahpahaman dan pertentangan antara dirimu dan Tuhan? Bagaimana seharusnya masalah ini diselesaikan? Jika engkau ingin memperkecil jarak antara dirimu dan Tuhan dan mengatasi semua pertentangan ini, apa yang harus dilakukan? Engkau harus melepaskan hal-hal yang kauanggap benar dan yang kaupegang teguh. Dengan melakukan itu, tidak akan ada lagi jarak antara dirimu dan Tuhan, dan engkau akan berdiri dengan tepat di posisimu, dan engkau akan mampu tunduk, mampu mengenali bahwa semua yang Tuhan lakukan adalah benar, mampu menyangkal diri dan melepaskan dirimu sendiri. Engkau tidak akan lagi memperlakukan jasa yang telah kauperoleh sebagai sejenis modal, engkau juga tidak akan lagi mencoba untuk menetapkan syarat-syarat kepada Tuhan, atau membuat tuntutan kepada-Nya, atau meminta upah kepada-Nya. Pada saat ini, engkau tidak akan lagi memiliki kesulitan. Mengapa semua kesalahpahaman manusia akan Tuhan muncul? Kesalahpahaman muncul karena manusia tidak dapat mengukur kemampuannya sendiri; tepatnya, mereka tidak tahu seperti apa diri mereka di mata Tuhan. Mereka menilai diri mereka terlalu tinggi dan memperkirakan posisi mereka di mata Tuhan terlalu tinggi, dan mereka memandang apa yang mereka anggap sebagai nilai dan modal seseorang sebagai kebenaran, sebagai standar yang dengannya Tuhan mengukur apakah mereka akan diselamatkan atau tidak. Ini keliru. Engkau harus mengetahui tempat seperti apa yang engkau miliki di hati Tuhan, bagaimana Tuhan memandangmu, dan sikap yang pantas untuk engkau gunakan ketika mendekati Tuhan. Engkau harus mengetahui prinsip ini; dengan begitu, pandanganmu akan selaras dengan kebenaran dan sesuai dengan pandangan Tuhan. Engkau harus memiliki nalar ini dan mampu tunduk kepada Tuhan, bagaimana pun Dia memperlakukanmu, engkau harus tunduk. Tidak akan ada lagi pertentangan antara engkau dan Tuhan. Ketika Tuhan kembali memperlakukanmu sesuai cara-Nya, apakah engkau tidak akan mampu tunduk? Apakah engkau masih akan menentang dan melawan Tuhan? Tidak. Meskipun engkau merasa tidak nyaman dalam hatimu, atau merasa perlakuan Tuhan terhadapmu tidak seperti yang kauinginkan dan engkau tidak mengerti mengapa Dia memperlakukanmu seperti itu, karena engkau sudah memahami sedikit kebenaran dan memiliki sejumlah kenyataan dan mampu berdiri teguh pada posisimu, maka engkau tidak akan lagi melawan Tuhan, yang berarti bahwa tindakan dan perilakumu yang akan menyebabkanmu binasa tidak akan ada lagi. Jika demikian, tidakkah engkau akan aman? Begitu engkau aman, engkau akan merasa tenang, yang berarti engkau sudah mulai menempuh jalan Petrus. Seperti yang kauketahui, Petrus percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, mencari-cari jalannya selama bertahun-tahun, dan begitu banyak menderita. Hanya sesudah mengalami banyak ujian akhirnya dia memahami kebenaran dan memiliki kenyataan kebenaran. Bagi engkau semua sekarang, Aku sudah berbicara begitu banyak, menjelaskan semuanya dengan jelas—itu sama seperti mendapatkan semuanya tersaji di piringmu, bukan? Engkau telah mencapai banyak hal tanpa mengambil jalan memutar, engkau semua mendapatkan penawaran yang bagus. Jadi mengapa engkau masih belum puas? Engkau seharusnya tidak punya tuntutan tambahan apa pun lagi.

Apakah hal utama yang sudah kita persekutukan hari ini? Salah satu aspeknya adalah secara teratur memberikan perhatian pada pemeriksaan berbagai aspek keadaanmu dan kemudian menganalisisnya untuk mengetahui apakah aspek tersebut benar. Aspek lainnya adalah mengatasi berbagai kesalahpahaman tentang Tuhan yang muncul dalam dirimu. Ketika ada padamu kesalahpahaman tentang Tuhan, ada unsur-unsur keras kepala dan bias dalam dirimu yang akan menghalangimu mencari kebenaran. Jika kesalahpahamanmu tentang Tuhan disingkirkan, engkau akan mampu mencari kebenaran; jika tidak, akan ada perasaan terasing dalam hatimu, dan engkau akan berdoa asal-asalan; ini menipu Tuhan, dan Dia tidak akan mendengarkannya sama sekali. Jika ada padamu kesalahpahaman tentang Tuhan, yang membuat jarak dan keterasingan antara engkau dan Dia, dan hatimu tertutup bagi-Nya, engkau tidak akan mau mendengarkan firman-Nya ataupun mencari kebenaran. Apa pun yang engkau lakukan, itu hanya akan sekadar asal-asalan, menyamarkan diri dan menipu. Ketika kesalahpahaman orang tentang Tuhan teratasi dan mereka sudah melewati rintangan ini, mereka akan memperhatikan setiap firman dan tuntutan Tuhan dengan tulus, dan datang ke hadirat-Nya dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang jujur. Jika di antara manusia dan Tuhan terdapat pertentangan, jarak, dan kesalahpahaman, peran apakah yang dimainkan manusia? Ini adalah peran Iblis, dan ini bertentangan dengan Tuhan. Apakah akibat dari menentang Tuhan? Dapatkah orang-orang seperti itu tunduk kepada Tuhan? Dapatkah mereka menerima kebenaran? Tidak. Jika mereka tidak dapat melakukan satu pun dari semua hal ini, mereka pada akhirnya tidak akan mendapat apa-apa, dan perubahan wataknya akan terhenti. Oleh karena itu, ketika orang memeriksa berbagai keadaannya, di satu sisi, itu dilakukan untuk mengenal dirinya sendiri, sementara di lain sisi, itu mengharuskan adanya fokus untuk memeriksa kesalahpahaman apa yang dimilikinya terhadap Tuhan. Apa yang terkait dengan kesalahpahaman ini? Gagasan, imajinasi, pembatasan, keraguan, penyelidikan, dan spekulasi—terutama hal-hal ini. Ketika hal-hal ini ada pada orang, dia salah paham tentang Tuhan. Ketika engkau terjebak dalam semua keadaan ini, muncul masalah dalam hubunganmu dengan Tuhan. Engkau harus segera mencari kebenaran untuk menyelesaikannya—dan engkau harus menyelesaikannya. Ada orang yang berpikir, "Aku sudah salah paham tentang Tuhan, jadi aku tidak dapat melaksanakan tugasku sampai aku mengatasi masalah ini." Apakah ini dapat diterima? Tidak, tidak dapat diterima. Jangan menunda melaksanakan tugasmu, tetapi laksanakan tugasmu dan selesaikan masalahmu secara bersamaan. Sementara engkau melaksanakan tugasmu, kesalahpahamanmu tentang Tuhan akan mulai berubah menjadi baik tanpa engkau menyadarinya, dan engkau akan menemukan di mana masalahmu berasal dan seberapa seriusnya hal itu. Suatu hari, engkau semua mungkin dapat menyadari, "Manusia adalah makhluk ciptaan, dan Sang Pencipta untuk selamanya adalah Tuhanku; esensi ini tidak berubah. Status manusia tidak berubah, pun status Tuhan tidak berubah. Apa pun yang Tuhan lakukan, dan bahkan jika semua manusia melihat apa yang Dia lakukan adalah salah, aku tidak dapat menyangkal apa yang telah Dia lakukan, aku juga tidak dapat menyangkal bahwa Dia adalah kebenaran. Tuhan adalah kebenaran tertinggi, selamanya tidak bisa salah. Manusia harus berpegang teguh pada posisinya yang pantas; dia seharusnya tidak menyelidiki Tuhan, tetapi menerima pengaturan Tuhan dan menerima semua firman-Nya. Semua yang Tuhan katakan dan lakukan adalah benar. Manusia tidak boleh mengajukan berbagai tuntutan kepada Tuhan—makhluk ciptaan tidak memenuhi syarat untuk melakukannya. Bahkan jika Tuhan memperlakukanku sebagai mainan, aku harus tetap tunduk, dan jika aku tidak tunduk, itu adalah masalahku, bukan masalah Tuhan." Ketika engkau memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang aspek kebenaran ini, engkau akan benar-benar masuk ke dalam ketundukan kepada Tuhan, dan engkau tidak akan lagi memiliki kesulitan besar, dan, apakah engkau sedang melaksanakan tugasmu atau menerapkan berbagai aspek kebenaran, banyak kesulitan akan terselesaikan. Ketundukan kepada Tuhan adalah kebenaran terbesar, adalah kebenaran yang paling mendalam. Sering kali, ketika manusia dihadapkan dengan berbagai kesulitan, ketika ada berbagai hambatan, atau ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak dapat mereka terima, apakah penyebabnya? (Mereka tidak berdiri pada posisi yang benar.) Mereka sedang berdiri di posisi yang salah. Mereka memiliki kesalahpahaman akan Tuhan; mereka ingin menyelidiki Tuhan dan tidak mau memperlakukan Dia sebagai Tuhan; mereka ingin menyangkal ketepatan Tuhan; dan mereka ingin menyangkal bahwa Tuhan adalah kebenaran. Ini menyiratkan bahwa manusia tidak mau menjadi makhluk ciptaan, tetapi ingin menjadi setara dengan Tuhan, untuk mencari-cari kesalahan-Nya. Ini akan menimbulkan masalah. Jika engkau dapat memenuhi tugasmu dengan pantas dan berpegang teguh pada posisimu sebagai makhluk ciptaan, pada dasarnya tidak ada pertentangan terhadap apa yang Tuhan lakukan akan muncul dalam dirimu. Engkau mungkin memiliki beberapa kesalahpahaman, dan engkau mungkin memiliki beberapa gagasan, tetapi, setidaknya, sikapmu akan menjadi sebuah sikap kerelaan untuk menerima pengaturan Tuhan, dan engkau akan datang dari suatu posisi kerelaan untuk tunduk kepada Tuhan, sehingga tidak ada pertentangan terhadap Tuhan akan muncul dalam dirimu.

Meskipun Ayub memiliki iman, apakah dia pada awalnya menyadari apa yang terjadi ketika ujian Tuhan menimpanya? (Tidak.) Manusia tidak memiliki kemampuan untuk secara langsung menembus alam roh; Ayub tidak tahu apa pun tentang yang sedang terjadi di sana—dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Jadi, ketika ujian Tuhan menimpanya, dia pasti bingung, berpikir, "Oh, apakah yang terjadi? Semuanya begitu damai, mengapa tiba-tiba ini terjadi? Mengapa aku tiba-tiba kehilangan seluruh ternak dan harta milikku?" Dia bingung pada awalnya, tetapi kebingungan tidak sama dengan salah paham tentang Tuhan, kebingungan tidak sama dengan tidak mampu memahami apa yang sedang Tuhan lakukan. Hanya saja, semuanya terjadi begitu tiba-tiba; Ayub tidak tahu sebelumnya, dan tidak seorang pun memberitahunya sebelumnya—Ayub sama sekali tidak siap. Namun, ini tidak berarti dia akan membuat pilihan yang salah, mengambil jalan yang salah, atau tidak mampu tunduk. Jadi, apa yang dilakukan Ayub selanjutnya? Dia tentu menenangkan hatinya, merenungkan tindakannya dengan serius dan berdoa kepada Tuhan. Sesudah beberapa hari mencari, Ayub sampai pada kesimpulan, "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). Ayub membuat pernyataan ini yang mewakili sudut pandangnya dan jalan yang ditempuh. Meski Ayub pada awalnya merasa bingung saat ujian menimpa, dia tahu bahwa itu adalah perbuatan Tuhan dan bukan kehendak manusia. Tanpa izin Tuhan, tidak seorang pun akan dapat menyentuh apa yang telah Tuhan berikan kepada manusia, bahkan Iblis pun tidak. Di permukaan, Ayub tampaknya punya kesalahpahaman tentang apa yang sedang Tuhan lakukan; dia tidak tahu mengapa hal ini terjadi padanya atau apakah maksud Tuhan dengan hal ini. Ayub tidak sepenuhnya mengerti, tetapi kesalahpahamannya bukanlah suatu penyangkalan atau pertanyaan tentang apa yang sedang Tuhan lakukan; kesalahpahaman Ayub adalah apa yang diperbolehkan oleh Tuhan. Sesudahnya, dia segera menyadari bahwa Yahweh Tuhan bermaksud merenggut semua yang dia miliki, dan bahwa apa yang Tuhan lakukan adalah benar; Ayub segera berlutut untuk menerimanya. Bisakah orang biasa mencapai tingkat ini? Tidak bisa. Betapa bingung Ayub saat itu, atau berapa lama waktu yang dibutuhkannya sebelum dia bisa berlutut dan menerima semua yang telah menimpanya, sikapnya selalu berdiri di posisi makhluk ciptaan. Menghadapi kejadian ini, dia tidak berkata, "Aku kaya dan punya banyak pembantu, bagaimana bisa semua ini direnggut begitu saja? Aku perlu menyuruh para pelayanku untuk segera mendapatkannya kembali." Apakah Ayub melakukan itu? Tidak. Dalam hatinya dia yakin bahwa itu adalah perbuatan Tuhan, dan manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Ikut campur tangan akan berarti menentang apa yang telah Tuhan lakukan dan menentang semua yang menimpanya. Ayub tidak menyampaikan keluhan satu pun saat itu, juga tidak menghakimi apa yang terjadi atau ikut campur tangan untuk berusaha memutarbalikkan semuanya. Ayub hanya menanti dan diam-diam mengamati bagaimana segala sesuatunya akan terjadi, melihat apa yang akan Tuhan lakukan. Dari awal hingga akhir, yang dilakukan Ayub adalah berpegang teguh pada tempatnya yang pantas, yakni berpegang teguh pada tempat seorang makhluk ciptaan. Inilah yang dilakukannya. Meskipun Ayub agak bingung saat peristiwa-peristiwa ini menimpanya, dia mampu mencari dan mengakui bahwa semua yang dilakukan Sang Pencipta adalah benar, dan kemudian dia tunduk. Ayub tidak menggunakan cara manusia untuk mengatasi masalah ini. Ketika para bandit datang, Ayub membiarkan mereka merampas apa yang mereka mau; dia tidak bertindak berdasarkan sikap gampang marah untuk berjuang melawan mereka. Dalam hatinya, Ayub berpikir, "Tanpa izin Tuhan, mereka tidak bisa merampas apa pun. Sekarang sesudah mereka mengambil semuanya, jelas bahwa Tuhan mengizinkannya. Campur tangan apa pun dari manusia tidak akan berguna. Manusia tidak dapat bertindak berdasarkan sikap mereka yang gampang marah, mereka tidak dapat ikut campur." Tidak ikut campur bukan berarti dia menoleransi para bandit; itu bukanlah tanda kelemahan atau takut kepada para bandit. Sebaliknya, Ayub takut akan tangan Tuhan dan punya hati yang takut akan Tuhan. Ayub berkata, "Biarkan mereka mengambilnya. Bagaimanapun, semuanya itu diberikan oleh Tuhan." Bukankah ini yang seharusnya dikatakan oleh makhluk ciptaan? (Ya.) Ayub sama sekali tidak mengeluh. Dia tidak menyuruh siapa pun untuk melawan atau mendapatkan kembali barang-barangnya atau melindungi barang-barangnya. Bukankah ini perwujudan sejati dari ketundukan kepada Tuhan? (Ya.) Ayub mampu melakukan ini karena dia memiliki pemahaman yang benar tentang kedaulatan Tuhan. Tanpa pemahaman ini, Ayub akan menggunakan cara-cara manusia untuk berjuang melawan dan merebut kembali barang-barangnya, dan bagaimana Tuhan akan memandang ini? Itu bukan tunduk pada pengaturan Tuhan. Itu berarti tidak punya pemahaman akan hal-hal yang dilakukan oleh tangan Tuhan, dan percaya kepada-Nya selama bertahun-tahun akan sia-sia saja. Senang saat Tuhan memberi, tapi marah saat Dia mengambil, merasa tidak terima dan ingin merebutnya kembali secara paksa; tidak puas dengan apa yang Tuhan lakukan, tidak ingin kehilangan hal-hal tersebut; hanya menerima upah dari Tuhan tetapi tidak mau sesuatu diambil oleh-Nya; tidak mau tunduk pada pengaturan tangan Tuhan—apakah ini bertindak dari posisi makhluk ciptaan? (Tidak.) Ini memberontak, melawan. Bukankah orang sering menunjukkan perilaku ini? (Ya.) Benar-benar kebalikan dari apa yang dilakukan Ayub. Bagaimana Ayub mengungkapkan bahwa dia mampu takut akan Yahweh pada posisi sebagai makhluk ciptaan, tunduk dan menerima ujian dari Tuhan, dan menerima apa yang Tuhan timpakan kepadanya? Apakah Ayub mengamuk? Apakah dia mengeluh? Apakah Ayub menggunakan segala macam cara dan sarana manusia untuk mendapatkan kembali semuanya? Tidak—dia mengizinkan Tuhan untuk mengambilnya dengan bebas. Bukankah ini memiliki iman? Ayub memiliki iman yang sejati, pemahaman yang sejati, dan ketundukan yang sejati. Tidak satu pun dari semua hal ini mudah; dibutuhkan kurun waktu tertentu untuk mengalami, mencari, dan merangkulnya. Ayub hanya dapat memperlihatkan perwujudan ini sesudah dia memiliki tingkat pemahaman tertentu tentang Sang Pencipta. Apakah yang dikatakan Ayub pada akhirnya? ("Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21).) Dan apakah yang dikatakan istri Ayub? "Kutuklah tuhan dan matilah!" (Ayub 2:9). Yang dimaksudkannya adalah, "Berhentilah percaya. Jika memang tuhan yang kaupercayai, mengapa engkau menghadapi malapetaka? Bukankah ini pembalasan? Engkau tidak melakukan kesalahan apa pun, mengapa ini terjadi padamu? Mungkin imanmu tidak benar?" Bagaimanakah Ayub menanggapi istrinya? Dia berkata: "Engkau berbicara seperti perempuan bodoh" (Ayub 2:10). Ayub mengatakan istrinya bodoh; dia tidak memiliki iman sejati dan pemahaman akan Tuhan, itulah sebabnya dia bisa mengucapkan kata-kata yang menentang Tuhan. Istri Ayub tidak mengenal Tuhan. Ketika suatu hal besar terjadi yang jelas-jelas adalah perbuatan Tuhan, dia secara mengejutkan tidak dapat mengenalinya, dan bahkan menasihati Ayub, dan berkata, "Engkau telah mengambil jalan yang salah. Berhentilah percaya dan tinggalkan tuhanmu." Sungguh suatu hal yang menyebalkan untuk didengar! Mengapa dia mendesak Ayub untuk meninggalkan Tuhan? Karena dia sudah kehilangan harta miliknya dan tidak lagi dapat menikmatinya. Dari seorang wanita kaya berubah menjadi orang miskin yang tidak punya apa-apa. Dia tidak puas Tuhan telah mengambil miliknya, jadi dia menyuruh Ayub untuk berhenti percaya, yang implikasinya adalah: "Aku tidak percaya lagi, dan engkau juga seharusnya tidak percaya. Rumah tangga yang sempurna sudah dirampas, menjadikan kita tidak punya apa-apa. Dalam sekejap mata, kita kehilangan segalanya, kekayaan kita berubah menjadi kemelaratan. Apa gunanya percaya kepada tuhan yang seperti itu? Berhentilah percaya!" Bukankah ini kata-kata yang bodoh? Beginilah kelakuannya. Apakah Ayub mendengarkannya? Tidak; Ayub tidak disesatkan atau dikacaukan olehnya, dia pun tidak menerima sudut pandangnya. Mengapa tidak? Ayub berpegang pada satu pernyataan: "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" (Ayub 2:10). Ayub berpikir, "Semua ini sangat normal. Bagaimanapun, tindakan Tuhan itu benar; manusia harus menerimanya saja. Manusia tidak seharusnya percaya kepada Tuhan hanya untuk mencari berkat. Aku sudah menikmati berkat Tuhan selama bertahun-tahun tanpa melakukan apa pun untuk Tuhan—sekarang saatnya untuk memberikan kesaksian tentang Dia. Apa yang diambil Tuhan adalah milik-Nya, Dia boleh mengambilnya kapan pun Dia kehendaki. Manusia tidak seharusnya menuntut, mereka hanya perlu menerima dan tunduk." Jadi, apakah engkau harus menerima berkat karena percaya kepada Tuhan? Apakah seharusnya demikian? Ketika manusia mampu sepenuhnya memahami masalah ini, maka saat itulah mereka memiliki iman.

Apa pun yang dilakukan Sang Pencipta adalah benar dan merupakan kebenaran. Apa pun yang Dia lakukan, identitas dan status-Nya tidak berubah. Semua orang harus menyembah-Nya. Dialah Tuhan yang kekal, Penguasa yang kekal bagi umat manusia. Fakta ini tidak akan pernah dapat berubah. Manusia tidak dapat hanya mengakui Dia sebagai Tuhan ketika Dia melimpahkan anugerah kepada mereka, dan tidak mengakui-Nya sebagai Tuhan ketika Dia mengambil sesuatu dari mereka. Ini adalah sudut pandang salah manusia, bukan salah dalam tindakan Tuhan. Jika manusia memahami kebenaran, mereka akan mampu melihatnya dengan jelas, dan jika jauh di lubuk hatinya, manusia mampu menerima bahwa ini adalah kebenaran, hubungan mereka dengan Tuhan akan menjadi makin normal. Jika engkau mengatakan bahwa engkau mengakui firman Tuhan adalah kebenaran, tetapi ketika sesuatu terjadi engkau tidak memahami-Nya, engkau bahkan menyalahkan-Nya, dan tidak benar-benar tunduk kepada-Nya, tidak ada artinya engkau mengatakan bahwa engkau mengakui firman Tuhan adalah kebenaran. Yang terpenting adalah hatimu harus mampu menerima kebenaran, dan apa pun yang terjadi, engkau harus mampu melihat bahwa tindakan Tuhan itu benar dan Dia itu benar. Inilah tipe orang yang memahami Tuhan. Ada banyak orang percaya yang hanya berfokus pada memahami doktrin. Mereka mengakui teori rohani, tetapi ketika sesuatu menimpa, mereka tidak menerima kebenaran dan tidak tunduk. Ini adalah orang-orang munafik. Hal-hal yang biasanya engkau katakan semuanya benar, tetapi ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan gagasanmu sendiri, engkau tidak dapat menerimanya. Engkau berdebat dengan Tuhan, berpikir bahwa Tuhan seharusnya tidak melakukan ini atau itu. Engkau tidak dapat tunduk pada pekerjaan Tuhan, dan tidak mencari kebenaran atau merenungkan pemberontakanmu. Ini berarti engkau tidak tunduk kepada Tuhan. Engkau selalu suka berdebat dengan Tuhan; engkau selalu berpikir bahwa argumentasimu lebih unggul dari kebenaran, jika engkau dapat sampai ke tahap membagikan argumentasimu, maka banyak orang akan mendukungmu. Namun, meski banyak orang mendukungmu, mereka semua adalah manusia yang rusak. Bukankah orang-orang yang mendukung dan yang didukung semuanya adalah manusia yang rusak? Bukankah mereka semuanya tidak memiliki kebenaran? Sekalipun seluruh umat manusia mendukungmu dan menentang-Nya, Tuhan akan tetap benar. Tetap umat manusialah yang salah, yang memberontak dan melawan Tuhan. Apakah ini sekadar ungkapan? Tidak. Ini kenyataan; ini adalah kebenaran. Orang harus sering merenungkan dan mengalami aspek kebenaran ini. Tuhan telah melakukan pekerjaan-Nya dalam tiga tahap, dan pada setiap tahap ada banyak orang yang menentangnya. Seperti ketika Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan penebusan-Nya, seluruh Israel bangkit melawan Dia. Namun kini, umat manusia memiliki miliaran orang yang semuanya mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Orang-orang yang percaya kepada-Nya tersebar di seluruh dunia. Tuhan Yesus telah menebus seluruh umat manusia. Ini kenyataan. Tidak peduli rakyat negara mana yang hendak menyangkalnya, itu tidak akan ada gunanya. Betapa pun rusaknya manusia menilai pekerjaan Tuhan, pekerjaan Tuhan dan kebenaran yang Tuhan firmankan selalu benar dan tepat. Betapa pun banyak orang di seluruh ras manusia bangkit melawan Tuhan, itu akan sia-sia belaka. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar; Dia tidak melakukan bahkan kesalahan terkecil sekali pun. Manusia yang rusak tidak memiliki kebenaran dan sama sekali tidak mampu melihat makna penting dan esensi pekerjaan Tuhan dengan jelas sehingga tidak ada suatu pun yang mereka katakan sesuai dengan kebenaran. Bahkan jika engkau merangkum semua teori manusia, tetap saja itu bukan kebenaran. Semuanya itu tidak dapat mengungguli satu pun dari firman Tuhan, atau satu pun dari kebenaran. Ini kenyataannya. Jika tidak memahami hal ini, manusia harus perlahan-lahan mengalaminya. Apakah prasyarat dari pengalaman ini? Engkau harus pertama-tama mengakui dan menerima bahwa firman Tuhan adalah kebenaran. Selanjutnya, engkau harus menerapkan dan mengalaminya. Sebelum engkau sadari, engkau akan mendapati bahwa firman Tuhan adalah kebenaran—ini mutlak benar. Pada titik ini, engkau akan mulai menghargai firman Tuhan, mementingkan mengejar kebenaran, mampu menerima kebenaran ke dalam hatimu, dan menjadikannya hidupmu.

10 September 2018

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp