Sikap yang Seharusnya Dimiliki Manusia terhadap Tuhan (Bagian Dua)
Ketika berbagai hal terjadi pada orang-orang, ada segala macam perwujudan di dalamnya yang menunjukkan perbedaan antara kemanusiaan yang baik dan kemanusiaan yang buruk. Jadi, apa kriteria untuk menilai kemanusiaan? Bagaimana seharusnya menilai orang macam apakah seseorang itu, dan apakah mereka dapat diselamatkan atau tidak? Ini tergantung pada apakah mereka mencintai kebenaran dan apakah mereka mampu menerima dan menerapkan kebenaran atau tidak. Semua orang memiliki gagasan dan pemberontakan dalam diri mereka, mereka semua memiliki watak yang rusak, dan karenanya akan menghadapi saat-saat ketika apa yang Tuhan tuntut bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri, dan mereka harus membuat pilihan—semua ini adalah hal-hal yang akan sering mereka semua alami, tak seorang pun dapat menghindarinya. Semua orang juga akan mengalami saat-saat ketika mereka salah memahami Tuhan dan memiliki gagasan tentang Tuhan, atau ketika mereka mengeluh tentang Dia dan menentang atau memberontak terhadap-Nya—tetapi karena orang memiliki sikap yang berbeda terhadap kebenaran, cara mereka memperlakukan hal itu berbeda. Ada orang yang tidak pernah membicarakan tentang gagasan mereka, tetapi mencari kebenaran dan menyelesaikannya sendiri. Mengapa mereka tidak membicarakan gagasan mereka sendiri? (Mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan.) Benar: mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan. Mereka takut membicarakannya akan berdampak negatif, dan mereka hanya berusaha menyelesaikannya di dalam hati mereka, tanpa memengaruhi orang lain. Ketika mereka bertemu dengan orang lain yang memiliki keadaan yang sama, mereka menggunakan pengalaman mereka sendiri untuk membantu mereka. Ini artinya berbaik hati. Orang yang baik hati bersikap penuh kasih terhadap orang lain, mereka bersedia membantu orang lain menyelesaikan kesulitan mereka. Ada prinsip-prinsipnya saat mereka melakukan segala sesuatu dan membantu orang lain, mereka membantu orang lain menyelesaikan masalah agar bermanfaat bagi orang-orang tersebut, dan mereka tidak mengatakan apa pun yang tidak bermanfaat bagi orang-orang itu. Inilah arti kasih. Orang-orang semacam itu memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan tindakan mereka berprinsip dan bijaksana. Inilah kriteria untuk menilai apakah kemanusiaan seseorang itu baik atau buruk. Mereka tahu bahwa hal-hal negatif tidak bermanfaat bagi siapa pun, dan bahwa hal-hal ini akan memengaruhi orang lain jika mereka membicarakannya, jadi mereka memilih untuk berdoa kepada Tuhan di dalam hati mereka dan mencari kebenaran untuk mendapatkan solusi. Gagasan macam apa pun yang mereka miliki, mereka mampu memperlakukan dan menyelesaikan gagasan tersebut dengan hati yang tunduk kepada Tuhan, dan kemudian memperoleh pemahaman akan kebenaran, dan kemampuan untuk tunduk kepada Tuhan secara mutlak; dengan melakukan ini, gagasan mereka akan semakin sedikit. Namun, ada orang yang tidak bernalar. Ketika mereka memiliki gagasan, mereka suka mempersekutukan gagasan-gagasan itu dengan siapa pun dan semua orang. Namun, ini tidak menyelesaikan masalah, dan membuat orang lain memiliki gagasan—dan bukankah ini merugikan mereka? Ada orang-orang yang tidak memberi tahu saudara-saudari ketika mereka memiliki gagasan, mereka takut orang-orang lain akan mengetahui bahwa mereka memiliki gagasan, dan menggunakan gagasan-gagasan ini untuk menentang mereka—tetapi di rumah, mereka berbicara tanpa sedikit pun perasaan bersalah, mereka mengatakan apa pun yang mereka inginkan, memperlakukan orang-orang tidak percaya dalam keluarga mereka seperti memperlakukan saudara-saudari di gereja. Mereka tidak memikirkan konsekuensi seperti apa yang akan terjadi jika mereka melakukan hal itu. Apakah ini bertindak sesuai dengan prinsip? Sebagai contoh, di antara kerabat mereka mungkin ada orang yang percaya kepada Tuhan dan ada yang tidak, atau ada orang yang setengah percaya dan setengah skeptis; ketika mereka memiliki gagasan, mereka menyebarkannya di antara anggota keluarga yang mengakibatkan semua orang ini terseret bersama mereka, dan mulai memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan. Gagasan dan kesalahpahaman pada dasarnya sangat berbahaya, dan begitu menyebar, orang-orang yang tidak mampu membedakannya dapat dirugikan. Khususnya orang-orang yang bingung, cenderung menjadi semakin kacau setelah mendengarnya. Hanya mereka yang memahami kebenaran dan mampu mengenalinya yang mampu menolak hal-hal buruk ini—yakni hal-hal yang merupakan gagasan, kenegatifan, dan kesalahpahaman—dan mereka dilindungi oleh Tuhan. Kebanyakan orang tidak memiliki tingkat pertumbuhan seperti itu. Beberapa orang dapat merasakan bahwa hal-hal ini salah—yang mana ini sudah cukup mengesankan—tetapi mereka tidak mampu membedakan semua itu. Oleh karena itu, ketika ada orang yang sering menyebarkan gagasan dan kenegatifan, kebanyakan orang akan terganggu oleh hal-hal yang merugikan ini, dan menjadi lemah dan negatif. Ini pasti terjadi. Hal-hal negatif dan merugikan ini memiliki kekuatan sangat besar untuk menyesatkan dan merugikan orang-orang percaya baru. Terhadap mereka yang sudah memiliki dasar, pengaruhnya kecil; setelah beberapa waktu, ketika orang-orang seperti itu memahami kebenaran, mereka akan berbalik. Namun, begitu orang-orang percaya baru yang tidak memiliki dasar mendengar hal-hal yang merugikan ini, mereka akan dengan mudah menjadi negatif dan lemah; mereka yang tidak mencintai kebenaran bahkan akan mundur dan berhenti percaya kepada Tuhan; orang-orang jahat itu bahkan mungkin menyebarkan gagasan dan mengganggu pekerjaan rumah Tuhan. Orang macam apa yang menyebarkan kenegatifan dan gagasan tanpa sedikit pun rasa bersalah? Mereka semua adalah orang jahat, mereka semua adalah setan-setan, dan mereka semua akan disingkapkan dan disingkirkan. Ada orang yang berkata: "Aku tidak menyebarkan hal ini kepada orang asing; aku hanya membicarakannya di rumah." Terlepas dari apakah engkau membicarakannya di luar atau di rumah, natur masalahnya tetap sama. Fakta bahwa engkau dapat membicarakannya di rumah berarti engkau mempunyai gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan. Menyuarakan hal ini dengan lantang membuktikan bahwa engkau tidak mencari atau mencintai kebenaran. Engkau belum mencari kebenaran untuk membantumu menghilangkan gagasan ini, juga tidak berniat untuk meninggalkannya. Jadi, kepada siapa pun engkau membicarakannya, natur ucapanmu tetap sama. Ada juga orang yang menyebarkan gagasannya ke mana pun mereka pergi dan dengan siapa pun yang ditemui. Misalnya, seseorang dipulangkan karena menyebabkan gangguan dan kekacauan saat melaksanakan tugasnya. Ketika ditanya mengapa disuruh pulang, dia menjawab: "Aku cenderung berterus terang. Aku mengatakan apa yang ada di pikiranku. Aku kelepasan bicara dan menceritakan beberapa hal buruk yang biasa aku lakukan; ketika para pemimpin dan pekerja mendengarnya, mereka mencap aku jahat dan menyuruhku pulang. Engkau semua harus belajar dari pengalamanku; engkau tidak boleh berbicara sembarangan di rumah tuhan. Meskipun tuhan memerintahkan kita untuk jujur, engkau juga harus memperhitungkan pendengarmu. Boleh saja jujur pada keluargamu, tetapi jujur pada orang luar bisa membawa kerugian. Bukankah aku baru saja dirugikan karenanya? Ambillah ini sebagai pelajaran." Sebagian orang, setelah mendengar cerita seperti ini, mulai merenungkan: "Apakah hal seperti ini terjadi di rumah Tuhan? Aku pikir kita semua sebaiknya berhati-hati dengan perkataan kita mulai sekarang!" Bukankah orang-orang ini bingung? Meskipun sudah mendengarkan firman Tuhan selama lebih dari satu dekade, mereka tidak dapat mengingat satu kalimat pun—tetapi, ketika orang jahat mengatakan sesuatu, mereka dengan kuat mengingatnya, menanamkannya dalam hati mereka, dan kemudian menjadi waspada dalam perkataan dan tindakannya. Mereka sudah disesatkan dan diracuni. Mengapa mereka bisa diracuni? Di satu sisi, kualitas mereka buruk, dan mereka terlalu bingung, tidak mampu menilai perkataan dan perilaku orang lain, dan tidak memiliki pendiriannya sendiri. Mereka tidak memahami dan tidak mampu menjunjung tinggi kebenaran. Di sisi lain, mereka tidak punya iman kepada Tuhan dan pada dasarnya tidak memahami cara Tuhan memperlakukan manusia. Akibatnya, mereka mudah disesatkan oleh orang lain. Mereka juga tentunya bukan orang baik sebab mereka mau menerima perkataan setan. Apakah maksud dan tujuan setan ketika menyebarkan gagasan? Mereka ingin semua orang bersimpati kepadanya. Mereka akan sangat gembira jika semua orang mengeluh tentang Tuhan. Bukankah ini adalah orang yang menimbulkan kekacauan dan gangguan? Bukankah mereka secara membabi buta menyulut masalah? Bagaimanakah seharusnya orang-orang seperti ini ditangani? Apakah itu perlu dijelaskan? Segera keluarkan mereka dari gereja; jangan biarkan mereka tinggal bahkan satu hari pun. Membiarkan orang jahat seperti itu tetap tinggal di rumah Tuhan hanya akan mengakibatkan malapetaka; mereka adalah ancaman tersembunyi, sebuah bom waktu. Tindakan yang terbaik adalah mengeluarkannya. Biarkan mereka memercayai apa yang mereka suka di luar gereja—itu tidak ada hubungannya dengan rumah Tuhan. Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang paling berbahaya dan tidak dapat ditebus. Katakan pada-Ku, siapakah di rumah Tuhan yang pernah dikeluarkan karena kesalahan bicara sesaat? Siapa yang pernah dikeluarkan karena menjadi seorang yang jujur dan secara terbuka mengakui jati dirinya? Rumah Tuhan selalu melakukan pekerjaan pembersihan gereja, dan siapa saja yang dikeluarkan? Semua orang jahat, antikristus, dan pengikut yang bukan orang percaya, yang terus-menerus tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, dan bahkan melakukan kejahatan dan menimbulkan kekacauan. Tidak seorang pun pernah dikeluarkan karena pelanggaran atau penyingkapan kerusakan sesaat, apalagi yang dikeluarkan karena menerapkan kebenaran demi menjadi seorang yang jujur. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Ada yang mengatakan: "Orang-orang yang mengejar kebenaran hanyalah minoritas dalam gereja. Mereka yang tidak mengejar kebenaran adalah mayoritas. Jika mayoritas dikeluarkan, siapakah yang akan berjerih payah? Jika mayoritas dikeluarkan, berapa banyakkah orang yang masih dapat diselamatkan?" Ini bukanlah cara berpikir yang benar. Seperti yang pernah difirmankan, "Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." Ini karena umat manusia sangat rusak sehingga orang yang mencintai kebenaran sangatlah sedikit. Bukan besarnya jumlah manusia yang Tuhan kehendaki, melainkan manusia yang unggul. Mereka yang tetap tinggal di rumah Tuhan adalah mereka yang dapat mendengarkan dan tunduk, yang dapat menjaga pekerjaan rumah Tuhan; kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang dapat menerima kebenaran. Sebagian orang memiliki kualitas buruk dan mungkin tidak memahami kebenaran, tetapi mereka mampu mendengarkan, tunduk, dan tidak melakukan perbuatan jahat sehingga orang-orang seperti itu dapat dipertahankan untuk berjerih payah. Mereka yang berhasil bertahan di antara orang yang berjerih payah semuanya setia. Entah seberapa keras mereka berjerih payah, mereka tidak mengeluh; mereka adalah orang-orang yang mendengarkan dan tunduk. Mereka yang tidak mendengarkan dan tidak tunduk, bukankah mereka hanya akan menimbulkan kekacauan jika mereka tetap tinggal? Sekalipun mereka sedikit berjerih payah, mereka selalu membutuhkan pengawasan; saat mereka tidak diawasi, mereka bisa melakukan kesalahan dan menimbulkan masalah. Jerih payah dari orang-orang seperti itu lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Orang yang berjerih payah seperti ini harus dikeluarkan, jika tidak, umat pilihan Tuhan akan terganggu, begitu pula kehidupan bergereja. Jika orang jahat tidak dikeluarkan dari gereja, umat pilihan Tuhan akan benar-benar dirugikan dan dirusak. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menjamin bahwa umat pilihan Tuhan dapat mengalami kehidupan bergereja tanpa gangguan adalah dengan mengeluarkan orang jahat; inilah satu-satunya cara untuk memastikan umat pilihan Tuhan memasuki jalur yang benar dalam percaya kepada Tuhan dan memperoleh keselamatan. Mengeluarkan orang-orang jahat sepenuhnya sesuai dengan maksud Tuhan.
Ada tipe orang yang penuh kasih dan toleran terhadap semua orang, dan bersedia membantu siapa saja. Satu-satunya hal yang tidak menarik baginya adalah kebenaran. Mereka selalu menentang Tuhan dan tidak dapat berdamai dengan-Nya. Mereka adalah musuh bebuyutan Tuhan. Orang macam apakah ini? Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya dan mereka adalah setan. Setan adalah orang yang paling muak akan kebenaran dan membenci kebenaran. Selama sesuatu itu menyangkut kebenaran, atau apa yang difirmankan atau dituntut Tuhan, mereka bukan hanya tidak menerimanya, tetapi mereka juga meragukannya, menentangnya, dan mereka menyebarkan gagasannya tentang apa yang difirmankan atau dituntut Tuhan tersebut. Mereka juga melakukan banyak hal yang merugikan pekerjaan gereja, bahkan secara terang-terangan berteriak melawan Tuhan ketika kepentingan pribadinya dirugikan. Orang seperti ini adalah setan; mereka adalah orang yang membenci kebenaran dan membenci Tuhan. Dalam natur setiap orang, ada watak yang membenci kebenaran; oleh karenanya, setiap orang punya esensi yang membenci Tuhan. Satu-satunya perbedaannya adalah tingkat kebencian ini, apakah rendah atau parah. Sebagian orang mampu berbuat jahat untuk menentang Tuhan, sementara yang lainnya hanya memperlihatkan watak yang rusak atau emosi yang negatif. Jadi mengapa ada orang yang bisa membenci Tuhan? Peran apakah yang dimainkan? Mereka bisa membenci Tuhan karena mempunyai watak yang membenci kebenaran. Memiliki watak seperti ini berarti mereka adalah setan dan musuh Tuhan. Apakah setan itu? Setan adalah semua orang yang membenci kebenaran dan membenci Tuhan. Dapatkah setan diselamatkan? Sama sekali tidak. Saat Tuhan menyelamatkan umat manusia, banyak orang yang akan bangkit dan menentang-Nya serta mengganggu pekerjaan rumah Tuhan. Orang-orang seperti ini adalah setan. Mereka juga bisa disebut setan yang hidup. Di gereja-gereja di mana pun, siapa saja yang mengganggu pekerjaan gereja adalah para Iblis dan setan yang hidup. Dan siapa pun yang melakukan tirani terhadap gereja dan tidak menerima kebenaran sama sekali adalah setan yang hidup. Oleh karena itu, jika engkau dengan tepat mengidentifikasi bahwa seseorang adalah setan yang hidup, engkau harus cepat bertindak untuk mengeluarkannya. Jika ada sebagian orang yang perilakunya biasanya sangat baik, tetapi ada kalanya keadaannya buruk, atau tingkat pertumbuhannya terlalu rendah, tidak memahami kebenaran, dan mereka melakukan sesuatu yang mengganggu dan mengacaukan, tetapi itu bukanlah kebiasaannya dan dari naturnya mereka bukanlah orang seperti itu, mereka ini bisa tetap tinggal. Kemanusiaan sebagian orang tidak terlalu baik; jika ada yang menyinggungnya, mereka tidak akan pernah melepaskannya. Mereka akan mendebatnya habis-habisan, tidak menunjukkan belas kasihan saat mereka merasa dibenarkan. Namun, orang-orang ini memiliki satu kelebihan, yaitu mereka bersedia berjerih payah dan menanggung kesulitan. Orang-orang seperti ini bisa diperbolehkan tetap tinggal untuk sementara waktu. Namun, jika mereka sering berbuat jahat dan mengganggu pekerjaan gereja, mereka berasal dari setan dan Iblis serta sama sekali tidak dapat diselamatkan. Itu seratus persen pasti. Orang seperti ini harus dikeluarkan dari gereja; mereka sama sekali tidak bisa dibiarkan tinggal. Mengapa harus dikeluarkan? Atas dasar apa mereka dikeluarkan? Sebagian dikeluarkan untuk memberi mereka kesempatan bertobat dan memberi mereka pelajaran; ada pula yang dikeluarkan karena dari naturnya sudah kelihatan siapa mereka, dan tidak dapat diselamatkan. Seperti yang kaulihat, orang-orang itu berbeda satu sama lain. Sebagian yang sudah dikeluarkan, kendati mereka sangat negatif dan hatinya gelap, mereka tidak meninggalkan tugasnya dan terus melaksanakannya—mereka berada dalam keadaan yang berbeda dengan orang-orang yang tidak melakukan tugasnya sama sekali setelah dikeluarkan, dan jalan yang ditempuh juga tidak sama. Bagaimanakah keadaan batin orang yang terus melaksanakan tugasnya setelah dikeluarkan? Apakah yang mereka kejar? Ini berbeda dengan orang-orang yang tidak melaksanakan tugasnya. Jika engkau tidak dapat menilainya, itu berarti kualitasmu buruk, engkau tidak punya pemahaman akan hal-hal rohani, dan engkau tidak dapat melakukan pekerjaan gereja. Jika engkau dapat melihat perbedaannya, engkau akan memperlakukan mereka secara berbeda. Di manakah letak perbedaan kedua tipe orang ini? Apa yang membedakan jalan yang mereka tempuh? Apakah perbedaan sikap mereka dalam melaksanakan tugas? Dapatkah engkau memahami perbedaan-perbedaan ini? (Ada orang-orang yang masih bisa melanjutkan tugas-tugas tertentu setelah dikeluarkan, yang menunjukkan bahwa mereka masih memiliki hati nurani. Mereka mungkin juga merasa tidak dapat diselamatkan lagi, tetapi mereka berpikir: "Aku percaya kepada Tuhan. Aku yakin bahwa Tuhan ini adalah Sang Pencipta. Meskipun gereja sudah mengeluarkanku, aku harus tetap percaya kepada Tuhan. Aku masih makhluk ciptaan, dan aku mengakui Pencipta-ku." Mereka masih memiliki sedikit hati nurani yang bekerja dalam dirinya. Sebaliknya, jika mereka tidak melakukan tugasnya setelah dikeluarkan dan bahkan tidak lagi percaya kepada Tuhan, mereka menunjukkan diri mereka sebagai pengikut yang bukan orang percaya.) Siapa yang ingin berbicara selanjutnya? (Mungkin beberapa orang dapat terus melaksanakan tugasnya setelah dikeluarkan karena jauh di lubuk hati, mereka sudah menyadari bahwa mereka berhutang kepada Tuhan atas segala sesuatu yang dilakukan sebelumnya, dan ingin memperbaiki kesalahan mereka. Namun, jika seseorang berhenti melaksanakan tugasnya setelah dikeluarkan, ini menunjukkan bahwa dia tidak melakukan tugasnya untuk memuaskan Tuhan, tetapi berusaha membuat kesepakatan dengan Tuhan dengan harapan menerima berkat. Dan sesudah memutuskan bahwa dia tidak akan menerima berkat apa pun, dia tidak merasa perlu untuk terus melaksanakan tugas, jadi dia berhenti berjerih payah.) Dari dua tipe orang ini, yang manakah yang punya hati nurani? (Orang yang masih melaksanakan tugasnya setelah dikeluarkan.) Tipe orang yang melanjutkan tugasnya masih punya hati nurani dan dasar untuk menjadi seorang manusia. Sebagai manusia, terlepas dari bagaimana Tuhan memperlakukan mereka dan apakah Tuhan menghendakinya, mereka tetaplah makhluk ciptaan Tuhan. Mereka tidak dapat lepas dari tangan-Nya; ke mana pun mereka pergi, mereka tetap makhluk ciptaan, jadi mereka harus tetap melaksanakan tugasnya. Ini menunjukkan bahwa mereka punya hati nurani dan dasar untuk menjadi seorang manusia. Lagi pula, ke mana pun mereka pergi, setidaknya mereka bisa mengakui bahwa mereka percaya kepada Tuhan dan mengakui keberadaan Tuhan. Iman dalam hati inilah yang memungkinkan mereka melaksanakan tugas mereka. Tipe orang ini benar-benar beriman, dan mungkin mampu bertobat. Sedangkan mereka yang berhenti melaksanakan tugasnya setelah dikeluarkan, yang dipikirkan adalah, "Jika tuhan tidak menghendakiku, aku tidak akan percaya lagi kepadanya. Lagi pula, keyakinanku tidak ada gunanya." Mereka berhenti percaya dan menyangkal keberadaan Tuhan, dan bahkan meninggalkan dasarnya untuk menjadi seorang manusia, menyangkal segala sesuatu yang mereka lakukan sebelumnya. Orang seperti ini tidak punya hati nurani dan nalar, dan di situlah letak perbedaan antara kedua tipe ini. Katakan pada-Ku, apakah Tuhan mengetahui hal ini? Dia mengetahui semuanya dengan sangat baik. Tuhan menciptakan segala sesuatu, Dia dapat memeriksa segala sesuatu dan berdaulat atas semuanya. Pengikut yang bukan orang percaya yang tidak punya hati nurani berpikir, "Di manakah tuhan? Mengapa aku belum melihat dia? Jadi siapa yang peduli jika gereja mengeluarkanku? Aku toh bisa hidup ke mana pun aku pergi. Engkau pikir aku tidak bisa terus hidup hanya karena aku meninggalkanmu? Tidak melaksanakan tugasku justru memberiku lebih banyak kebebasan!" Ini adalah sikap mereka yang menunjukkan mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya, dan ini membuktikan bahwa mengeluarkan mereka adalah tindakan yang benar. Pengikut yang bukan orang percaya seperti ini harus dikeluarkan—bagusnya mereka sudah dikeluarkan. Orang-orang yang memiliki kepercayaan yang kuat kepada Tuhan bereaksi berbeda jika mereka dikeluarkan. Misalnya, setelah dikeluarkan, ada orang yang mungkin berkata, "Aku tidak dapat hidup tanpa melakukan tugasku. Aku tidak dapat hidup tanpa percaya kepada Tuhan. Aku tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Ke mana pun aku pergi, aku berada di tangan-Nya." Jadi mereka terus melaksanakan tugasnya. Pilihan ini tidak didorong oleh kepercayaan buta atau kebodohan; sebaliknya, kepatuhan mereka terhadap pemikiran inilah yang memungkinkan mereka melaksanakan tugasnya dengan cara ini. Mereka juga punya ketidakpuasan, gagasan, dan ada juga keluhan, tetapi mengapa mereka masih dapat melaksanakan tugasnya? Karena masih ada hati nurani yang bekerja dalam kemanusiaannya. Mereka yang tidak punya hati nurani mungkin mengabaikan tugas dan kepercayaan mereka kepada Tuhan. Inilah perbedaannya. Orang memang berbeda satu sama lain; ada perbedaan di antara setiap orang. Pada saat-saat penting, ada atau tidaknya hati nurani dan nalar, dapat menentukan dan mempengaruhi begitu banyak hal.
Sebelumnya, Aku bersekutu tentang niat kaitannya dengan keadaan seseorang. Selanjutnya, Aku akan bersekutu tentang pendirian dan sikap. Baik itu aspek terminologi atau aspek kebenaran, ada banyak detail yang terlibat di sini; tidak sesederhana kata atau kalimat yang diucapkan di permukaan saja. Jika engkau membatasi pemahamanmu hanya pada satu kata, satu konsep, atau arti harfiah dari kalimat, itu hanya akan selalu menjadi suatu tipe doktrin. Namun, jika engkau mengintegrasikan dan membandingkan frasa atau kalimat literal ini dengan keadaan yang sebenarnya dan gagasan, pandangan, atau metode yang orang perlihatkan dalam kehidupan nyata mereka, engkau akan mampu menemukan banyak dari masalahmu sendiri. Ada masalah-masalah yang bertentangan dengan kebenaran. Masalah yang lain tampaknya sejalan dengan doktrin, peraturan, serta gagasan dan metode manusia, tetapi pada kenyataannya tidak sesuai dengan kebenaran atau maksud Tuhan. Misalnya, ada pandangan dan pendirian orang yang hanya sesuai dengan gagasan dan imajinasi manusia, tetapi tidak sesuai dengan prinsip kebenaran. Jika hal tersebut tidak diukur dan dikenali berdasarkan firman Tuhan, semua itu akan dapat diterima oleh banyak orang. Namun begitu diperiksa berdasarkan firman Tuhan, pemikiran dan pandangan manusia, semua hal tersebut menjadi sesuatu yang salah dan negatif. Masalah apa lagikah yang engkau dapati? (Tuhan, aku memikirkan gagasan dan pandangan dari budaya tradisional seperti "berbakti kepada orang tua" dan "menjadi istri yang baik dan ibu yang penuh kasih," yang dianggap benar dan pantas oleh orang-orang, tetapi dari sudut pandang kebenaran tidak sesuai dengan kebenaran.) Semua hal tersebut tidak sesuai dengan kebenaran, yang artinya bertentangan dengan keinginan Tuhan. Misalnya, ada orang yang dapat menunjukkan berbakti kepada orang tua atau menjadi istri yang baik dan ibu yang penuh kasih—dalam hal perilaku dan perbuatannya, tampaknya tidak ada masalah di sini; tetapi mampukah mereka tunduk kepada Tuhan? Mampukah mereka menerima kebenaran? Sekadar memperlihatkan kedua perilaku ini secara lahiriah tidak menjadi masalah; namun, dalam hal mengevaluasi esensi naturnya, apakah mereka memiliki ketundukan dalam caranya memperlakukan Tuhan? Apakah mereka mampu menerima kebenaran? Jika ada masalah dengan kedua aspek ini, akankah mereka mampu memperoleh keselamatan? Tentu saja tidak. Jadi, meskipun kedua perilaku ini tampak sebagai kebaikan, keduanya tidak dapat mewakili esensi manusia. Tidak peduli seberapa berbaktinya seseorang atau seberapa baik dia sebagai istri dan ibu yang penuh kasih di luarnya, itu tidak berarti mereka adalah orang yang tunduk kepada Tuhan, apalagi yang sudah terbebas dari pengaruh Iblis. Tidak ada hubungan apa pun antara kedua kebaikan ini dengan kebenaran. Oleh karena itu, manusia yang memiliki kedua kebaikan ini jelas bukan yang diperkenan oleh Tuhan, dan jauh dari standar manusia yang benar. Hati manusia yang rusak penuh dengan filosofi Iblis. Mereka suka menerima pujian dan pengakuan dari orang lain. Mereka suka menjaga hubungan antarpribadi mereka untuk melindungi dirinya sendiri. Mereka suka menjadi yang paling unggul dan memamerkan dirinya agar orang lain mengaguminya. Hidup berdasarkan filosofi Iblis ini semuanya dimulai dari titik awal tertentu. Apakah tujuan yang ingin dicapai oleh titik awal ini? (Agar orang-orang memuji mereka sebagai individu yang baik dan mengatakan bahwa mereka penuh kasih dan perhatian sehingga orang-orang akan mendukung dan menyetujui mereka.) Dengan hidup menurut filosofi Iblis, orang memiliki semacam gagasan dan imajinasi: "Orang yang baik mendapatkan upah" dan "Orang yang baik memiliki kehidupan yang damai". Namun, tak seorang pun dapat mengatakan dengan jelas apa yang dimaksud dengan "Orang yang baik mendapatkan upah" dan "Orang yang baik memiliki kehidupan yang damai". Sebaliknya, mengingat orang-orang baik tidak berumur panjang sedangkan mereka yang jahat berumur panjang, tidak ada seorang pun yang benar-benar dapat memahami akar permasalahan dari keadaan ini. Namun, ada satu aturan yang diterima secara umum di antara orang-orang dan yang tetap berlaku: "Kebaikan dibalas dengan kebaikan, dan kejahatan dibalas dengan kejahatan." Tuhan memberi balasan kepada setiap individu berdasarkan perbuatannya sendiri. Ini sudah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan dan tidak seorang pun yang dapat mengubahnya, tetapi tidak banyak orang yang menyadarinya. Jadi, apakah mudah manusia berubah ketika mereka hidup menurut falsafah Iblis? (Tidak.) Mengapa tidak? (Falsafah ini sudah menjadi hukum kelangsungan hidupnya. Tanpa mencari kebenaran dan tanpa mampu mengenali gagasan-gagasan ini, manusia sulit berubah.) Tidak sesederhana itu. Sebenarnya, ketika menghadapi situasi dengan niat dan tindakan ini, jika engkau mengatakan bahwa engkau tidak merasakan apa-apa, itu tidak benar. Bagi orang yang tidak percaya, tidak merasakan apa pun adalah normal karena dia hidup sepenuhnya sesuai falsafah dan hukum Iblis. Mereka menganggap semua hal itu berharga dan tidak menganggapnya salah. Sekarang, engkau semua sudah lama percaya kepada Tuhan dan mendengarkan begitu banyak khotbah; jauh di lubuk hati, engkau harus memiliki penilaian akan hal ini. Apakah semua hal itu benar atau salah? Engkau harus mampu menyadari bahwa ini keliru; sikapmu terhadapnya seharusnya menentang, bukan menyetujui. Jadi mengapa engkau tidak dapat melepaskannya meskipun engkau tahu betul bahwa itu keliru? Di manakah letak masalahnya? (Kami terlalu egois dan hina, dan tidak mau memberontak terhadap daging. Ketika dihadapkan pada sesuatu, kami tidak berpikir untuk memuaskan Tuhan dan kurang memedulikan kepentingan rumah Tuhan, justru hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kami tidak dapat memberontak terhadap niat batin kami.) Tidak mau memberontak terhadap daging—ini salah satu aspek. Jika menyangkut kepentingan besar, engkau merasa tertekan dan sedih, dan tidak dapat melepaskannya. Jadi, dalam interaksi antarpribadi di kehidupanmu sehari-hari yang tidak melibatkan kepentingan besar, pernahkah engkau memeriksa falsafah dan hukum Iblis ini? Sudahkah engkau mencari kebenaran untuk mengatasinya? Apakah engkau mengalami perubahan? (Beberapa hal yang aku periksa dan apa yang kukenali, aku berusaha mengubahnya. Namun, sering kali aku tidak memperlakukannya sebagai suatu hal yang serius dan aku tidak memeriksanya.) Jika demikian, tidak mudah untuk mengubahnya. Setiap gerakanmu, setiap perkataan dan tindakan, bahkan tatapanmu semuanya merupakan perwujudan watak yang rusak, semuanya dikendalikan oleh watak yang rusak. Jika engkau masih tidak mencari kebenaran untuk mengatasi masalah ini, akan sangat sulit untuk menerima keselamatan. Jika engkau berpikir dibutuhkan upaya dan energi yang luar biasa untuk memberontak terhadap daging, seolah-olah mengharuskanmu untuk membagi kepribadianmu menjadi dua, engkau dalam masalah; tidak akan mudah untuk mengubahnya. Jika engkau dapat memeriksa dirimu dan mencari kebenaran—mulai dari kehidupan sehari-hari, dari setiap perkataan dan perbuatanmu, dan terutama dalam hal-hal yang berhubungan dengan ketenaran, keuntungan, dan status—dan jika engkau dapat memberontak terhadap dagingmu, engkau akan mampu melakukan perubahan. Sekarang, engkau merasa sulit untuk melepaskan falsafah dan hukum Iblis ini; jadi, dalam kehidupanmu sehari-hari, apakah ada perubahan nyata dalam pandangan atau perilaku dan tindakan ini yang tidak sesuai dengan kebenaran? (Kadang-kadang ketika aku berbicara atau bertindak, aku menyadari bahwa aku punya niat yang keliru dan ingin memperbaikinya. Sesudah berdoa, aku memahami maksud Tuhan dan dapat menerapkannya, tetapi sesudah melakukannya aku mendapati bahwa niat di balik tindakanku sebenarnya belum teratasi, hanya cara lahiriahku saja yang berubah. Misalnya, jika aku berbohong untuk melindungi kepentinganku sendiri, sesudah menyadarinya aku akan segera memberontak terhadap daging, terbuka dan membuka diri kepada orang lain dengan berkata, "Niatku ketika berbicara tadi adalah tidak benar. Aku bersikap licik." Namun, pada kesempatan lain aku menghadapi situasi serupa, niat itu masih memegang kendali atasku dan aku masih ingin melindungi kepentinganku sendiri dan berbohong. Niat itu tampaknya begitu mengakar sehingga muncul lagi dan lagi dalam hatiku.) Jadi, dari manakah niat untuk memuaskan kepentingan diri sendiri ini berasal? Dari watakmu yang rusak. Niat yang dihasilkan oleh berbagai watak yang rusak, semuanya berbeda naturnya; ada yang jahat dalam naturnya, ada yang kejam, ada yang tidak masuk akal, ada yang menggelikan, dan ada yang keras kepala. Masing-masing memiliki naturnya sendiri. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika niat yang sama dihasilkan dalam situasi yang berbeda karena watak rusak dalam dirimu belum berubah. Jika watak yang satu itu dapat menghasilkan niat yang berbeda dalam situasi yang berbeda, itu akan menyebabkan sangat banyak masalah bagi manusia dan akan mengacaukan pikirannya! Bahkan satu jenis niat saja bisa sulit diatasi, membutuhkan waktu perubahan yang panjang; jika satu watak menghasilkan berbagai macam niat, itu akan semakin sulit diubah. Engkau perlu bekerja terus-menerus pada satu jenis niat, menangani dan mengatasinya dalam berbagai situasi dan keadaan, dan di antara orang, peristiwa, serta hal yang berbeda. Ini adalah bertempur dengan satu aspek dari watak yang rusak. Ada orang-orang yang menjadi cemas dan bahkan menyimpulkan bahwa mereka tidak mampu berubah sesudah kalah dalam beberapa pertempuran. Tidak ada gunanya cemas; watak yang rusak tidak dapat diubah dalam sekejap. Engkau mungkin berpikir bahwa memberontak terhadap daging satu atau dua kali akan membawa beberapa perubahan, tetapi kemudian engkau mendapati bahwa engkau masih selalu menyingkapkan dan tidak memahami alasannya. Ini menunjukkan bahwa engkau tidak paham proses perubahan watak. Mengubah watak bukanlah perkara mudah. Tidak akan cukup jika pemahamanmu akan kebenaran terlalu dangkal. Ketika engkau benar-benar mengenali esensi watak rusakmu, engkau akan dapat sepenuhnya memberontak terhadapnya. Cara penerapan yang engkau lakukan sekarang, meskipun engkau masih memperlihatkan watak rusakmu saat menghadapi suatu situasi, tidak dapat disangkal bahwa engkau sudah berubah. Setidaknya, watak rusakmu tidak terlalu tersingkap dan niat serta ketidakmurnianmu jauh lebih sedikit. Saat ini, engkau tidak lagi berbicara dengan banyak kemunafikan dan ketidakjujuran; sebaliknya, engkau sering berbicara dari hatimu dan mengatakan kebenaran. Ini menunjukkan bahwa engkau sudah berubah. Namun, engkau mungkin berpikir, "Hanya ada perubahan dalam penerapan dan caraku. Niatku tetap tidak berubah, jadi aku belum benar-benar berubah, bukan? Apakah ini berarti aku jauh dari keselamatan?" Apakah pemikiran ini benar? (Tidak.) Ini pemikiran yang bias. Mengubah watakmu mengharuskanmu untuk mengalami banyak proses; memang benar bahwa penerapan dan caramu harus terlebih dahulu berubah. Adapun niat batin orang, hanya dapat diubah dengan mencari kebenaran untuk mengatasinya. Mampu berubah dalam segi penerapan dan cara membuktikan bahwa seseorang sudah mulai berubah. Jika engkau bertekun dalam mencari kebenaran untuk membereskan niat dan ketidakmurnian manusiawimu, engkau akan makin sedikit memperlihatkan watak rusakmu. Jika engkau sudah mengenal Tuhan, memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan mampu tunduk kepada-Nya, itu membuktikan watak hidupmu sudah mengalami perubahan. Ini adalah cara yang tepat untuk melihat segala sesuatu. Jika cara penerapanmu benar, dan engkau mampu menerapkan kebenaran dan bertindak sesuai prinsip, itu berarti engkau sudah berubah. Berpikir bahwa engkau belum berubah sama sekali hanya karena terkadang engkau masih memperlihatkan kerusakanmu adalah sesuatu yang salah. Engkau mungkin berkata, "Lalu, mengapa aku masih memperlihatkan kerusakan dan kembali pada kebiasaan lamaku? Ini membuktikan bahwa aku belum berubah." Ini adalah cara yang keliru dalam memandang sesuatu. Masalah perwujudan kerusakan tidak dapat diatasi sepenuhnya hanya dalam beberapa tahun pengalaman. Dibutuhkan ketekunan jangka panjang dalam menerapkan kebenaran untuk menyelesaikannya secara menyeluruh. Berkurangnya watakmu yang tersingkap sudah cukup membuktikan bahwa terjadi perubahan pada dirimu; mengatakan tidak ada perubahan sama sekali adalah tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Engkau harus jelas mengenai ini dalam hatimu, engkau tidak boleh memiliki pemahaman yang bias. Memperoleh keselamatan dengan mengalami pekerjaan Tuhan merupakan upaya jangka panjang yang sama sekali tidak dapat dicapai hanya dalam waktu beberapa tahun. Engkau harus punya kesadaran ini.
Kita baru saja bersekutu tentang pendirian, niat, dan sikap. Pendirian menentukan sikap, bukan? Memang benar, pendirian dan sudut pandang menentukan sikap orang. Demikian pula, sudut pandangmu ketika menghadapi suatu keadaan atau situasi tertentu bergantung pada di mana engkau berpihak. Jika engkau tidak berpihak pada Tuhan tetapi berpihak pada manusia, berusaha memelihara hubungan antarpribadimu, semua pandangan dan caramu pasti untuk melindungi dan menjamin kepentingan dan harga dirimu, serta memberi jalan bagi dirimu sendiri. Namun, jika pendirianmu adalah untuk melindungi kepentingan rumah Tuhan, melaksanakan tugasmu dengan baik dan mengerahkan kesetiaanmu, yang akan menjadi sikapmu adalah menerapkan sesuai kebenaran dalam setiap keadaan, melaksanakan tugasmu dengan baik, mengerahkan kesetiaan, dan menyelesaikan amanat Tuhan—semua unsur ini selaras. Ketika berada dalam persekutuan bersama-sama, engkau tidak mempersekutukan doktrin-doktrin yang sudah engkau dengar atau ingat, teori-teori rohani yang sudah kaupahami, tetapi justru mampu mempersekutukan keadaanmu belakangan ini, cara-cara di mana sudut pandang dan pendirianmu dalam suatu peristiwa sudah mengalami perubahan dan engkau sudah mendapatkan penemuan dan pemahaman baru, tentang hal-hal dalam dirimu yang bertentangan dengan tuntutan Tuhan dan kebenaran, pada saat di mana engkau mampu mempersekutukan semua hal itulah, engkau akan memiliki tingkat pertumbuhan. Jika engkau belum pernah memeriksa aspek apa pun dari sudut pandang, pendirian, niat, dan pemikiranmu, atau jika sesudah memeriksanya, engkau tidak dapat mengetahui apakah hal tersebut benar atau salah, dan perhitunganmu tentang hal tersebut kacau, kemudian jika engkau bertindak sebagai pemimpin gereja, dengan apakah engkau akan menyirami orang lain? (Kata-kata dan doktrin.) Menurut-Ku engkau akan menyirami orang lain tidak hanya dengan kata-kata dan doktrin, teori rohani, dan pengetahuan teologis, tetapi juga mungkin dengan pandanganmu yang bias, gagasan dan penilaian pribadimu tentang Tuhan, dan lebih dari itu, dengan pandangan dan pemahamanmu yang sepihak tentang Tuhan yang sepenuhnya bertentangan dengan firman dan tuntutan-Nya. Apakah yang terjadi pada semua orang yang dididik di bawah kepemimpinan seperti itu? Mereka hanya mampu mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin. Jika Tuhan ingin melakukan pekerjaan ujian dan penyucian dalam dirinya, mereka tidak menolaknya saja akan menjadi hasil yang memuaskan; tetapi mereka tidak akan mampu memperlakukannya dengan benar, apalagi dengan tulus tunduk padanya. Apakah yang ditunjukkan oleh hal tersebut? Ini menunjukkan bahwa apa yang engkau tanamkan pada mereka hanyalah gagasan dan imajinasi. Jika orang-orang itu belum meningkatkan pemahaman mereka dan mengurangi kesalahpahaman mereka tentang Tuhan karena penyiraman dan kepemimpinanmu, bagaimanakah pelaksanaan tugasmu selama ini? Apakah engkau melakukannya dengan memadai atau tidak? (Tidak memadai.) Apakah engkau sekarang dapat menentukan bagian mana dari pekerjaan yang kaulakukan dan kebenaran manakah yang engkau persekutukan yang benar-benar berguna dan bermanfaat bagi orang-orang, yang tidak hanya mengatasi kenegatifan dan gagasan serta kesalahpahaman mereka terhadap Tuhan, tetapi juga memungkinkan mereka memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan dan memiliki hubungan yang normal dengan-Nya? Jika engkau dapat mencapai hasil ini dalam pekerjaanmu, engkau mampu melakukan pekerjaan nyata dan melaksanakan tugasmu dengan memadai. Jika engkau tidak mampu melaksanakan pekerjaan ini, lalu apakah yang sudah kaulakukan selama ini dalam gereja? Apakah engkau mampu menilai bagian-bagian mana dari pekerjaan yang kaulakukan dan kata-kata mana yang kauucapkan yang benar-benar bermanfaat dan membangun umat pilihan Tuhan? Apakah pekerjaan yang kaulaksanakan dan kata-kata yang kauucapkan sama dengan yang dilakukan Paulus—hanya berbicara tentang teori rohani, memberikan kesaksian bagi dirimu sendiri dan pamer—atau mungkin bahkan lebih terang-terangan dan buruk daripada apa yang dikatakan Paulus? Bisakah engkau menilainya? Jika engkau sungguh-sungguh dapat menilainya engkau benar-benar sudah mengalami kemajuan. Misalnya saja, seseorang yang sejauh ini percaya kepada Tuhan baru selama satu atau dua tahun, memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan yang mempengaruhi pelaksanaan tugasnya, oleh sebab itu, engkau terus-menerus memberitahunya, "Engkau harus mengasihi Tuhan. Engkau tidak bisa tanpa hati yang mengasihi Tuhan. Engkau harus belajar bagaimana tunduk kepada Tuhan, engkau tidak boleh punya tuntutan dan keinginan pribadi." Namun, masalahnya bukan itu; sebenarnya, itu karena seseorang yang sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun diusir, dan orang percaya baru ini tidak memahami esensi orang tersebut sehingga mereka menjadi was-was tentang bagaimana rumah Tuhan menangani masalah ini. Mereka merasa khawatir, jadi kekhawatiran inilah yang harus kauatasi. Bukannya mereka tidak mau melaksanakan tugasnya, atau menjadi malas atau tidak tahan menanggung kesulitan, tetapi engkau selalu mengatakan padanya, "Anak muda harus sanggup menanggung kesulitan, rajin, dan tekun." Kata-kata ini benar, tetapi tidak sesuai untuk keadaan orang tersebut, jadi mereka tetap tidak bersemangat sesudah mendengarnya. Mengatasi kesalahpahaman tentang Tuhan tidak dapat dilakukan hanya dengan menyampaikan doktrin; engkau harus memahami fakta dan mengklarifikasi akar masalah. Inilah yang disebut mencari akar permasalahan. Hanya dengan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mencari kebenaran untuk mengatasinya, maka masalah dapat benar-benar diatasi. Engkau mungkin menyelidikinya: "Dalam hal apa engkau salah memahami Tuhan? Kesalahpahaman apa yang ada padamu? Tuhan begitu baik kepadamu dan sangat memperhatikanmu, dan engkau masih salah memahami-Nya; engkau kurang punya hati nurani!" Namun, hal ini tidak dapat menyelesaikan masalah; ini adalah menasihati dan mengajar, bukan mempersekutukan kebenaran. Jadi, apa yang harus dikatakan untuk dapat benar-benar mempersekutukan kebenaran? (Membantunya percaya bahwa Tuhan itu benar. Katakan: "Meski engkau tidak bisa mengerti orang yang diusir itu, engkau harus memelihara hati yang tunduk. Ketika engkau memahami kebenaran, engkau secara alami akan mengerti orang itu.") Ini adalah cara yang cukup bagus, cara yang paling mudah yang dapat mengatasi sejumlah masalah meskipun tidak menjelaskan semuanya. Katakan pada-Ku, apakah yang pada umumnya dipikirkan orang ketika muncul salah paham dalam dirinya? Mengapa hal itu membuat mereka merasa tidak nyaman? Karena berkenaan dengan kepentingannya sendiri; mereka menempatkan dirinya pada posisi orang itu dan berpikir bagaimana hal tersebut bisa mempengaruhi dirinya sendiri: "Mereka tetap saja diusir bahkan sesudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Aku percaya kepada Tuhan belum selama mereka; apakah Tuhan tidak menginginkanku juga?" Kesalahpahaman ini muncul dalam diri mereka. Ini adalah kesalahpahaman tentang watak benar Tuhan dan cara Dia memperlakukan manusia. Bagaimanakah seharusnya kedua kesalahpahaman tentang Tuhan ini diselesaikan? Ketika dalam diri orang ada kesalahpahaman tentang Tuhan, apakah natur dari kesalahpahaman ini? Apakah ini suatu penegasan terhadap pekerjaan Tuhan, atau suatu pertanyaan tentangnya? (Pertanyaan.) Apakah pertanyaan ini benar atau salah? Pertama-tama, pertanyaan ini salah. Jadi, apakah rasionalitasmu akan memungkinkanmu menyadari bahwa ada kesalahpahaman tentang Tuhan dalam dirimu, dan bahwa perilaku, sikap, atau keadaanmu yang seperti ini adalah salah? Jika engkau memiliki rasionalitas ini, engkau akan mampu menyadari dengan jelas bahwa engkau salah dan bahwa Tuhan pasti benar. Dengan dasar ini, engkau akan mampu dengan mudah menerima kebenaran apa pun yang dipersekutukan selanjutnya. Namun, jika engkau secara tidak sadar berpikir, "Apa yang Tuhan lakukan belum tentu benar. Tuhan juga memiliki area di mana manusia dapat menemukan kesalahan. Tuhan juga melakukan kesalahan dan memperlakukan manusia dengan tidak adil; kurangnya perhatian-Nya terhadap manusia adalah tidak adil"—jika pemikiran ini bisa muncul dalam dirimu, apakah itu berarti engkau secara tidak sadar menegaskan atau menyangkal apa yang Tuhan lakukan? (Menyangkal.) Engkau menyangkal apa yang Tuhan lakukan. Lalu, apakah engkau secara tidak sadar percaya bahwa kesalahpahamanmu tentang Tuhan itu benar atau salah? Jika engkau secara tidak sadar percaya bahwa engkau benar, ini adalah masalah, sesuatu yang tidak dapat diatasi oleh persekutuan dalam aspek kebenaran apa pun. Dari kedua jenis sudut pandang ini, kedua jenis pola pikir bawah sadar ini, tipe manakah yang menempatkan dirimu pada posisi makhluk ciptaan yang mengakui bahwa Sang Pencipta adalah Sang Pencipta, manusia adalah manusia, dan Tuhan adalah Tuhan? (Tipe pertama.) Dan tipe kedua? Mampukah seseorang dengan sudut pandang kedua ini menerima kenyataan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta? (Tidak.) Bagaimana hal ini diperlihatkan? Apa indikasinya? Mereka tidak mempertahankan sikap percaya, ketundukan, dan menerima Tuhan; sebaliknya, mereka justru memendam sikap yang selalu mengamati, menyelidiki, menganalisis, dan menilai. Mereka memandang semua tindakan Tuhan dari posisi setara dengan-Nya. Jadi, ketika mereka tiba-tiba mendapati bahwa Tuhan telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan gagasan dan imajinasinya, mereka berani mencoba mendapatkan sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk melawan Tuhan, menghakimi dan mengutuk Tuhan. Mereka tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan, tetapi sebagai manusia, bukan? Mereka berani mencoba mendapatkan sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk melawan Tuhan, mencari-cari kesalahan-Nya dan menghakimi-Nya—apakah ini berbicara dari posisi sebagai makhluk ciptaan? (Tidak.) Ketika orang salah paham tentang Tuhan, mereka seharusnya mengerti bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan tidak terselami. Sebagai makhluk ciptaan, manusia tidak memiliki pembenaran atau kualifikasi untuk mengkritik dan menghakimi Tuhan. Ketika ini terjadi, bagaimana seharusnya engkau bersekutu dengan orang yang seperti itu? Engkau harus mengatakan: "Engkau memiliki kesalahpahaman tentang Tuhan, dan itu sendiri sudah salah. Apa pun yang Tuhan lakukan yang tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau seharusnya memiliki hati yang takut akan Tuhan. Jika engkau tidak dapat memahami sesuatu, jangan secara membabi buta menghakimi dan mengutuk; engkau harus berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran karena kita ini manusia, manusia yang rusak, dan kita tidak akan pernah bisa menjadi Tuhan. Sekalipun kita menerima dan memahami semua kebenaran yang Tuhan ungkapkan, tetap saja kita menjadi manusia yang rusak, dan Tuhan akan selalu menjadi Tuhan. Meskipun kita benar-benar mencapai kebenaran dan disempurnakan oleh-Nya, jika Tuhan tidak menyukai kita dan ingin menghancurkan kita, tetap saja, kita tidak boleh mengeluh—inilah ketundukan yang harus dilakukan makhluk ciptaan. Jika sesuatu yang sekecil itu masih membuat kita memiliki gagasan tentang Tuhan dan menghakimi-Nya, itu membuktikan betapa rusak, congkak, jahat, dan tidak bernalarnya kita sebagai manusia. Pertama-tama, kita tidak pernah menempatkan diri kita pada posisi makhluk ciptaan dan kemudian memperlakukan Sang Pencipta dengan cara yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan; ini adalah kesalahan pertama. Kesalahan kedua adalah kita selalu mengawasi Tuhan, memikirkan cara untuk mendapatkan sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk melawan Tuhan, lalu mengamati, menyelidiki, dan menganalisis—ini bahkan lebih salah lagi. Bukan saja kita tidak percaya kepada Tuhan dan tidak menerima atau tunduk pada kebenaran; kita justru berpihak pada Iblis dan bertindak sebagai kaki tangannya, menggabungkan kekuatan dengannya untuk berseru melawan Tuhan, untuk bersaing dan menentang-Nya—ini bukanlah yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan. Apa yang sedang Tuhan lakukan sekarang, terlepas dari apakah manusia menganggapnya benar atau salah, terlepas dari aspek kebenaran mana yang sesuai dengannya, dan terlepas dari bagaimana hal itu selaras dengan watak benar Tuhan, tak ada satu pun dari semua itu yang berkaitan dengan manusia. Kita adalah makhluk ciptaan; apakah yang seharusnya menjadi tanggung jawab, kewajiban, dan tugas kita? Tunduk dan menerima tanpa syarat. Jika kita percaya bahwa kita adalah makhluk ciptaan, apa pun yang Tuhan lakukan adalah benar, dan kita harus menerimanya terlepas dari apakah kita merasa itu akan menguntungkan, merasa Tuhan mengambilnya, mencelakai, atau menyakiti kita, maka inilah yang disebut ketundukan, inilah yang disebut memiliki hati yang takut akan Tuhan. Seperti inilah seharusnya makhluk ciptaan yang sejati. Bagaimana kita membandingkannya dengan Abraham, Ayub, dan Petrus? Kita jauh dari standar mereka. Jika kita berbicara tentang kualifikasi, kita tidak memiliki kualifikasi untuk berbicara kepada Tuhan, tidak memiliki kualifikasi untuk bisa salah paham tentang Tuhan, dan tidak memiliki kualifikasi untuk menilai atau menghakimi satu hal pun yang Tuhan lakukan." Tentu saja manusia tidak akan senang mendengar bahwa mereka tidak memiliki satu pun dari kualifikasi tersebut, tetapi inilah yang harus kaukatakan kepada manusia yang rusak karena mereka tidak dapat diajak berpikir. Berani berbicara tentang kualifikasi dan pembenaran dengan Sang Pencipta—bukankah ini congkak, merasa benar sendiri, dan kebal terhadap nalar? Oleh karena itu, hanya dengan berbicara secara blakblakan seperti ini, mereka akan mampu memahaminya; persekutuan seperti ini dapat menyelesaikan suatu permasalahan.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.