Firman tentang Mencari dan Menerapkan Kebenaran (Kutipan 15)

Jika orang memiliki hati yang mencintai kebenaran, mereka akan memiliki kekuatan untuk mengejar kebenaran, dan akan mampu bekerja keras untuk menerapkan kebenaran. Mereka mampu meninggalkan apa yang harus ditinggalkan, dan melepaskan apa yang harus dilepaskan. Secara khusus, hal-hal yang berkaitan dengan ketenaran, keuntungan, dan statusmu sendiri, semua itu harus kaulepaskan. Jika engkau tidak melepaskan semua itu, artinya engkau tidak mencintai kebenaran dan tidak memiliki kekuatan untuk mengejar kebenaran. Ketika sesuatu terjadi padamu, engkau harus mencari kebenaran dan menerapkan kebenaran. Jika, pada saat-saat engkau seharusnya menerapkan kebenaran, engkau selalu memiliki hati yang egois dan tidak mampu melepaskan kepentingan dirimu sendiri, engkau tidak akan mampu menerapkan kebenaran. Jika engkau tidak pernah mencari atau menerapkan kebenaran dalam keadaan apa pun, engkau bukanlah orang yang mencintai kebenaran. Seberapa pun lamanya engkau telah percaya kepada Tuhan, engkau tidak akan memperoleh kebenaran. Ada orang-orang yang selalu mengejar ketenaran, keuntungan, dan kepentingan pribadi. Pekerjaan apa pun yang gereja atur untuk mereka, mereka selalu berpikir, "Apakah ini akan menguntungkanku? Jika menguntungkan, aku akan melakukannya; jika tidak, aku tidak akan melakukannya." Orang semacam ini tidak menerapkan kebenaran—jadi dapatkah mereka melaksanakan tugas mereka dengan baik? Tentu saja tidak. Meskipun engkau belum pernah melakukan kejahatan, engkau tetap bukan orang yang menerapkan kebenaran. Jika engkau tidak mengejar kebenaran, tidak menyukai hal-hal yang positif, dan apa pun yang menimpamu, engkau hanya memedulikan reputasi dan statusmu sendiri, kepentingan dirimu sendiri, dan apa yang baik untukmu, artinya engkau adalah orang yang hanya didorong oleh kepentingan diri sendiri, orang yang egois dan hina. Orang semacam ini percaya kepada Tuhan untuk mendapatkan sesuatu yang baik atau bermanfaat bagi mereka, bukan untuk memperoleh kebenaran atau keselamatan Tuhan. Jadi, orang semacam ini adalah pengikut yang bukan orang percaya. Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan adalah orang yang mampu mencari dan menerapkan kebenaran, karena mereka mengakui dalam hati mereka bahwa Kristus adalah kebenaran, dan bahwa mereka harus mendengarkan firman Tuhan dan percaya kepada Tuhan seperti yang Dia tuntut. Jika engkau ingin menerapkan kebenaran ketika sesuatu terjadi padamu, tetapi engkau mempertimbangkan reputasi dan statusmu sendiri, serta memikirkan nama baikmu sendiri, maka menerapkan kebenaran akan sulit kaulakukan. Dalam situasi seperti ini, melalui doa, mencari, dan merenungkan dirinya dan setelah mulai mengenal dirinya sendiri, mereka yang mencintai kebenaran akan mampu melepaskan apa yang menjadi kepentingan mereka atau apa yang baik bagi mereka, menerapkan kebenaran, dan tunduk kepada Tuhan. Orang semacam itu adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan mencintai kebenaran. Dan apa akibatnya jika orang selalu memikirkan kepentingan dirinya sendiri, jika mereka selalu berusaha untuk melindungi harga diri dan kesombongan mereka, jika mereka memperlihatkan watak yang rusak, tetapi tidak mencari kebenaran untuk memperbaikinya? Akibatnya, mereka tidak memiliki jalan masuk kehidupan, akibatnya, mereka tidak memiliki kesaksian dari pengalaman nyata. Dan ini berbahaya, bukan? Jika engkau tidak pernah menerapkan kebenaran, jika engkau tidak memiliki kesaksian dari pengalamanmu, maka pada waktunya, engkau akan disingkapkan dan disingkirkan. Apakah orang yang tidak memiliki kesaksian dari pengalamannya berguna di rumah Tuhan? Mereka pasti akan melakukan tugas apa pun dengan buruk, dan tak mampu melakukan apa pun dengan benar. Bukankah mereka hanya sampah? Jika orang tidak pernah menerapkan kebenaran setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya; mereka orang-orang jahat. Jika engkau tidak pernah menerapkan kebenaran, dan jika pelanggaranmu makin banyak, maka kesudahanmu telah ditentukan. Jelaslah bahwa semua pelanggaranmu, jalan salah yang kautempuh, dan penolakanmu untuk bertobat—semua ini menambah sekumpulan besar perbuatan jahatmu; dengan demikian, kesudahanmu adalah engkau akan masuk neraka—engkau akan dihukum. Apakah menurutmu ini masalah sepele? Jika engkau belum dihukum, engkau tidak akan merasakan betapa mengerikannya hal ini. Ketika hari itu tiba, saat engkau benar-benar menghadapi bencana, dan engkau dihadapkan dengan kematian, akan terlambat bagimu untuk menyesal. Jika, dalam imanmu kepada Tuhan, engkau tidak menerima kebenaran, dan jika engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada perubahan dalam dirimu, konsekuensi akhirnya adalah engkau akan disingkirkan dan ditinggalkan. Semua orang melakukan pelanggaran. Yang terpenting adalah orang harus mampu mencari kebenaran untuk membereskan pelanggaran tersebut dan ini akan memastikan pelanggaran mereka akan menjadi makin sedikit. Kapan pun itu, jika engkau memperlihatkan watak rusakmu, dan engkau selalu mampu untuk berdoa dan mengandalkan Tuhan, mencari kebenaran untuk membereskannya, dan membersihkan dirimu dari watak rusakmu, maka engkau tidak akan melakukan kejahatan. Dengan cara inilah orang-orang percaya harus menyelesaikan masalah watak rusak mereka, dan inilah cara untuk mengalami pekerjaan Tuhan. Jika engkau tidak pernah berdoa kepada Tuhan dan tidak pernah mencari kebenaran ketika berbagai peristiwa menimpamu, atau jika engkau memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya, apa terutama akibatnya? Akibatnya akan terlihat dengan sendirinya. Selicik dan sepandai apa pun engkau dalam berbicara, mampukah engkau luput dari pemeriksaan mata Tuhan? Mampukah engkau menghindari pengaturan tangan Tuhan? Tidak mungkin. Orang yang bijak harus datang ke hadapan Tuhan dan bertobat, memandang kepada-Nya, mengandalkan-Nya, membereskan watak rusak mereka, dan menerapkan kebenaran. Dengan melakukannya, engkau akan mengalahkan daging, dan mengalahkan pencobaan Iblis. Meskipun engkau berulang kali gagal, engkau harus bertekun. Jika engkau bertekun sekalipun menghadapi banyak kesulitan, akan tiba waktunya engkau berhasil, dan engkau akan memperoleh kasih karunia Tuhan, belas kasihan-Nya, dan berkat-Nya, dan engkau akan mampu menempuh jalan mengejar kebenaran, melaksanakan tugasmu dengan baik, dan memuaskan Tuhan.

Ketika berbagai peristiwa menimpamu, seberapa sering engkau memilih untuk menerapkan kebenaran dan melindungi pekerjaan Tuhan? (Tidak sering. Aku sering kali memilih untuk melindungi citra diriku atau kepentinganku sendiri, dan aku menyadari hal ini sesudahnya, tetapi tidaklah mudah untuk memberontak terhadap diri sendiri. Jika ada orang yang mempersekutukan kebenaran kepadaku, itu akan memberiku kekuatan, dan aku mampu untuk sedikit memberontak terhadap diriku sendiri. Namun, jika tidak ada seorang pun yang mempersekutukan kebenaran kepadaku, aku menjadi jauh dari Tuhan dan selalu hidup dalam keadaan ini.) Sulit untuk memberontak terhadap daging, dan bahkan lebih sulit lagi untuk menerapkan kebenaran, karena engkau memiliki natur Iblis dalam dirimu yang menghalangimu, dan watak rusak yang mengganggumu, dan hal-hal ini tidak dapat diselesaikan tanpa memahami kebenaran. Berapa banyak waktu dalam sehari yang dapat kaugunakan untuk bersaat teduh di hadirat Tuhan? Berapa hari yang dapat kaulalui tanpa membaca firman Tuhan sebelum engkau merasa kering secara rohani? (Aku merasa tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa membaca firman Tuhan. Aku harus membaca satu bagian firman Tuhan pada pagi hari, lalu merenungkannya. Ini membuatku merasa lebih dekat dengan Tuhan. Jika suatu hari aku hanya sibuk bekerja, tanpa makan dan minum firman Tuhan, atau tanpa banyak berdoa, aku merasa sangat jauh dari Tuhan.) Jika engkau dapat merasakan bahwa engkau tidak sanggup jika jauh dari Tuhan, maka masih ada harapan bagimu. Jika engkau adalah orang percaya dan ingin memperoleh kebenaran, engkau tidak boleh bersikap pasif dan selalu menunggu seseorang untuk mempersekutukan kebenaran kepadamu. Engkau harus belajar untuk secara aktif makan dan minum firman Tuhan, berdoa kepada Tuhan, dan mencari kebenaran. Jika engkau menunggu sampai rohmu menjadi gelap dan engkau tidak dapat merasakan Tuhan sebelum makan dan minum firman-Nya serta berdoa kepada-Nya, maka engkau hanya dapat terus berada dalam keadaanmu yang sama tersebut. Mampu mempertahankan sedikit "iman" saja sudah cukup baik, tetapi tidak akan ada pertumbuhan dalam hidupmu, dan ketika rohmu menjadi kering dan mati rasa, dan engkau menjadi sangat jauh dari Tuhan, engkau akan berada dalam bahaya. Begitu satu pencobaan menimpamu, engkau terjatuh; engkau sangat mudah dijerat oleh Iblis. Jika engkau sama sekali tidak mempunyai pengalaman, tidak memahami kebenaran, tidak berfokus membaca firman Tuhan maupun mendengarkan khotbah, dan tidak memiliki kehidupan rohani yang normal, maka akan sulit bagimu untuk bertumbuh dalam tingkat pertumbuhanmu, dan kemajuanmu pasti akan sangat lambat. Apa alasan kemajuan yang lambat ini? Apa saja konsekuensinya? Engkau harus memahami hal-hal ini dengan jelas. Bagaimanapun cara Tuhan mengungkapkan kerusakan manusia, mereka harus tunduk dan menerimanya. Mereka harus merenungkan diri mereka dan membandingkan diri mereka dengan firman Tuhan, sehingga mereka dapat mengenal diri mereka sendiri dan secara berangsur memahami kebenaran. Ini yang paling diperkenan oleh Tuhan, dan Roh Kudus pasti akan bekerja dalam diri mereka, dan mereka pasti akan memahami maksud Tuhan. Engkau harus selalu mengingat firman Tuhan dan kebenaran di dalam hatimu sepanjang waktu, sehingga saat engkau menghadapi masalah dalam kehidupan nyata, engkau dapat mengaitkan dan membandingkannya dengan firman Tuhan dan kebenaran. Dengan demikian, masalah tersebut akan mudah kauselesaikan. Sebagai contoh, setiap orang menginginkan tubuh yang sehat tanpa penyakit; itu adalah cita-cita semua orang, tetapi bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Pertama-tama, engkau harus memiliki rutinitas yang teratur, tidak mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau makanan pantanganmu, dan cukup berolahraga. Ketika metode-metode ini digabungkan, dan semua yang kaulakukan ditujukan untuk mencapai tujuanmu memiliki tubuh yang sehat, maka engkau akan secara berangsur melihat hasilnya. Setelah beberapa tahun, engkau akan lebih sehat dibandingkan orang lain, dan mendapatkan hasil yang baik. Mengapa engkau mendapatkan hasil tersebut? Karena tindakan dan tujuanmu selaras, serta penerapan dan teorimu selaras. Sama halnya dengan percaya kepada Tuhan. Jika engkau berusaha menjadi orang yang mencintai kebenaran dan menerapkan kebenaran, serta menjadi orang yang wataknya berubah, maka ketika berbagai peristiwa menimpamu, engkau harus mengaitkannya dengan tujuan yang ingin kaucapai dan kebenaran yang berkaitan dengan hal itu. Apa pun tujuan yang hendak kaucapai, selama tujuan itu adalah apa yang Tuhan tuntut terhadap manusia, maka itulah arah dan tujuan yang harus kaukejar sebagai orang percaya. Misalnya, mengikuti jalan Tuhan: takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Setelah engkau memiliki arah dan tujuan ini, engkau harus memiliki cara untuk menerapkannya segera setelah engkau memiliki arah dan tujuan tersebut. Ketika Kukatakan "mengikuti jalan Tuhan," apa yang dimaksud dengan "jalan Tuhan"? Jalan Tuhan artinya takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dan apa arti takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Sebagai contoh, ketika engkau memberikan penilaianmu tentang seseorang—ini berkaitan dengan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Bagaimana caramu menilai mereka? (Kami harus jujur, benar, dan adil, dan perkataan kami tidak boleh didasarkan pada perasaan kami.) Ketika engkau mengatakan apa yang sebenarnya kaupikirkan dan apa yang sebenarnya telah kaulihat, itu artinya engkau sedang bersikap jujur. Pertama-tama, bersikap jujur adalah selaras dengan mengikuti jalan Tuhan. Inilah yang Tuhan ajarkan kepada manusia; inilah jalan Tuhan. Apa yang dimaksud dengan jalan Tuhan? Jalan Tuhan adalah takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Bukankah bersikap jujur adalah bagian dari takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Dan bukankah itu berarti mengikuti jalan Tuhan? (Ya.) Jika engkau tidak jujur, maka apa yang kaulihat dan apa yang kaupikirkan tidak sama dengan perkataanmu. Jika ada orang yang bertanya kepadamu, "Apa pendapatmu tentang orang itu? Apakah dia bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan gereja?" dan engkau menjawab, "Dia bagus. Dia lebih bertanggung jawab daripadaku, dan kualitasnya lebih baik daripada kualitasku, dan kemanusiaannya juga baik. Dia dewasa dan stabil." Namun, inikah yang kaupikirkan di dalam hatimu? Yang sebenarnya kaulihat adalah walaupun orang ini memang memiliki kualitas, dia tidak dapat diandalkan, agak licik, dan sangat penuh perhitungan. Inilah yang sebenarnya kaupikirkan dalam benakmu, tetapi ketika tiba saatnya untuk berbicara, engkau berpikir bahwa, "Aku tidak boleh mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak boleh menyinggung siapa pun," jadi engkau dengan segera mengatakan sesuatu yang lain, dan memilih untuk mengatakan hal-hal yang baik tentang dirinya, tetapi tak satu pun dari apa yang kaukatakan adalah apa yang sebenarnya kaupikirkan; semua yang kaukatakan bohong dan palsu. Apakah ini menunjukkan bahwa engkau mengikuti jalan Tuhan? Tidak. Engkau telah menempuh jalan Iblis, jalan setan. Apa yang dimaksud dengan jalan Tuhan? Jalan Tuhan adalah kebenaran, jalan Tuhan adalah landasan yang berdasarkannya orang berperilaku, dan jalan Tuhan adalah jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Meskipun engkau sedang berbicara kepada manusia, Tuhan juga sedang mendengarkan; Dia sedang mengawasi hatimu, dan memeriksa hatimu. Orang mendengar apa yang kaukatakan, tetapi Tuhan memeriksa hatimu. Apakah orang mampu memeriksa hati manusia? Paling-paling, orang dapat melihat bahwa engkau tidak sedang mengatakan yang sebenarnya; mereka bisa melihat apa yang tampak di luarnya, tetapi hanya Tuhan yang mampu melihat lubuk hatimu. Hanya Tuhan yang mampu melihat apa yang sedang kaupikirkan, apa yang sedang kaurencanakan, dan apa rencana picik, cara-cara jahat, dan pemikiran aktif yang ada di dalam hatimu. Ketika Tuhan melihat bahwa engkau tidak sedang mengatakan yang sebenarnya, apa pendapat-Nya tentang dirimu, dan apa penilaian-Nya terhadap dirimu? Bahwa dalam hal ini, engkau belum mengikuti jalan Tuhan karena engkau tidak mengatakan yang sebenarnya. Jika engkau menerapkan sesuai dengan tuntutan Tuhan, engkau harus mengatakan yang sebenarnya: "Dia adalah orang yang berkualitas, tetapi dia tidak dapat diandalkan." Entah evaluasimu itu akurat atau tidak, evaluasimu itu jujur dan berasal dari hatimu, itu adalah sudut pandang dan posisi yang harus kauungkapkan. Namun, engkau tidak melakukannya—jadi apakah engkau sedang mengikuti jalan Tuhan? (Tidak.) Jika engkau tidak mengatakan yang sebenarnya, apa gunanya engkau menekankan bahwa engkau sedang mengikuti jalan Tuhan dan memuaskan Tuhan? Apakah Tuhan memperhatikan slogan yang kauteriakkan? Apakah Tuhan memperhatikan caramu berteriak, seberapa keras engkau berteriak, dan seberapa besar kehendakmu? Apakah Dia melihat berapa kali engkau berteriak? Bukan hal-hal ini yang Dia lihat. Tuhan melihat apakah engkau menerapkan kebenaran, dan Dia melihat pilihan yang kauambil dan bagaimana engkau menerapkan kebenaran ketika berbagai peristiwa menimpamu. Jika engkau memilih untuk menjaga hubungan, melindungi kepentinganmu dan citra dirimu sendiri, semuanya adalah tentang melindungi dirimu sendiri, dan Tuhan melihat bahwa ini adalah sudut pandang dan sikapmu ketika suatu peristiwa menimpamu, maka Dia akan membuat penilaian ini terhadapmu: Dia akan menganggapmu bukan orang yang mengikuti jalan-Nya. Engkau berkata ingin mengejar kebenaran dan mengikuti jalan Tuhan, lalu mengapa engkau tidak menerapkan kebenaran ketika berbagai peristiwa menimpamu? Kata-kata yang kauucapkan mungkin berasal dari hatimu, dan mungkin menyatakan keinginan dan harapanmu, atau mungkin saja hatimu tersentuh, dan sembari menangis pedih engkau mengucapkan kata-kata yang tulus, tetapi apakah berbicara dengan tulus berarti engkau menerapkan kebenaran? Apakah itu berarti engkau memiliki kesaksian yang benar? Belum tentu. Jika engkau orang yang mengejar kebenaran, engkau akan mampu menerapkan kebenaran; jika engkau bukan orang yang mencintai kebenaran, engkau hanya akan mengatakan hal-hal yang enak didengar, dan hanya sampai di situ. Orang-orang Farisi adalah yang terbaik dalam mengkhotbahkan doktrin dan meneriakkan slogan. Mereka sering kali berdiri di sudut jalan dan berseru, "Ya tuhan yang penuh kuasa!" atau "Tuhan yang layak disembah!" Bagi orang lain, mereka terlihat sangat saleh, dan tidak melakukan apa pun yang melanggar hukum Taurat, tetapi apakah Tuhan memperkenan mereka? Tidak. Bagaimana Dia mengutuk mereka? Dengan memberi mereka sebutan: orang-orang Farisi yang munafik. Pada zaman itu, orang-orang Farisi adalah kaum terhormat di Israel, lalu kenapa nama tersebut kini menjadi julukan? Ini karena orang Farisi telah menjadi representasi dari suatu jenis orang. Apa ciri khas jenis orang seperti ini? Mereka ahli memalsukan diri mereka, ahli menyamarkan diri mereka, ahli berpura-pura; mereka berlagak sangat mulia, sangat kudus dan sangat jujur, serta memancarkan kesopanan, dan slogan yang mereka teriakkan terdengar baik, tetapi sebenarnya, mereka sama sekali tidak menerapkan kebenaran. Perilaku baik apa yang mereka perlihatkan? Mereka membaca kitab suci dan berkhotbah, mereka mengajar orang lain untuk menjunjung tinggi hukum Taurat dan aturan, dan untuk tidak menentang Tuhan. Semua ini adalah perilaku yang baik. Semua yang mereka katakan terdengar bagus, tetapi ketika orang lain membalikkan punggung, mereka diam-diam mencuri persembahan. Tuhan Yesus berkata bahwa "membuang nyamuk dari minumanmu namun menelan unta yang ada di dalamnya" (Matius 23:24). Ini berarti bahwa semua perilaku mereka tampak baik di luarnya saja—mereka mengumandangkan slogan-slogan secara mencolok, mereka mengucapkan teori yang muluk-muluk, dan perkataan mereka terdengar menyenangkan, tetapi perbuatan mereka kacau dan berantakan, dan sepenuhnya menentang Tuhan. Perilaku lahiriah mereka semuanya kepura-puraan, semuanya tipu daya; di dalam hatinya, mereka sama sekali tidak mencintai kebenaran, ataupun hal-hal yang positif. Mereka muak akan kebenaran, hal-hal positif dan semua yang berasal dari Tuhan. Apa yang mereka cintai? Apakah mereka mencintai keadilan dan kebenaran? (Tidak.) Bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa mereka tidak mencintai keadilan dan kebenaran? (Tuhan Yesus mengabarkan Injil kerajaan surga, dan mereka bukan saja menolaknya, tetapi mereka juga mengutuknya.) Jika mereka tidak mengutuknya, mungkinkah orang mengetahui diri mereka yang sebenarnya? Tidak. Penampakan dan pekerjaan Tuhan Yesus menyingkapkan semua orang Farisi, dan hanya melalui kutukan dan penentangan mereka terhadap Tuhan Yesus, barulah orang lain dapat melihat kemunafikan mereka. Jika bukan karena penampakan dan pekerjaan Tuhan Yesus, tidak seorang pun yang akan mengenali orang Farisi yang sebenarnya, dan jika orang hanya melihat perilaku luar orang Farisi, itu bahkan akan membuat mereka iri. Bukankah orang Farisi tidak tulus dan licik, menggunakan perilaku baik yang palsu untuk memperoleh kepercayaan orang lain? Dapatkah orang-orang licik seperti itu mencintai kebenaran? Tentu saja tidak bisa. Apa tujuan mereka memperlihatkan perilaku baik mereka? Di satu sisi, tujuannya adalah untuk mengelabui orang. Di sisi lain, adalah untuk menyesatkan dan memikat hati orang, agar orang-orang memuja dan menghormati mereka. Dan pada akhirnya, mereka ingin memperoleh upah. Sungguh suatu penipuan! Apakah trik-trik yang mereka gunakan ini terampil? Apakah orang-orang semacam itu mencintai keadilan dan kebenaran? Tentu saja tidak. Yang mereka cintai adalah status, ketenaran, dan keuntungan, dan mereka menginginkan upah dan mahkota. Mereka tidak pernah menerapkan firman yang Tuhan ajarkan, dan mereka tidak pernah sedikit pun hidup dalam kenyataan kebenaran. Mereka selalu menyamarkan diri dengan berperilaku baik, dan mengelabui, serta memikat orang dengan cara-cara munafik demi memantapkan status dan reputasi mereka sendiri, yang kemudian mereka pakai untuk memperoleh modal dan penghasilan. Bukankah perbuatan mereka sangat hina? Dari semua perilaku mereka ini, kita dapat melihat bahwa, dalam esensi mereka, mereka tidak mencintai kebenaran, karena mereka tidak pernah menerapkannya. Hal apa yang menunjukkan bahwa mereka tidak menerapkan kebenaran? Hal yang terbesar: bahwa Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan penebusan, dan bahwa semua firman yang Tuhan Yesus ucapkan adalah kebenaran dan berotoritas. Bagaimanakah reaksi orang Farisi terhadap hal ini? Meskipun mereka mengakui bahwa firman yang Tuhan Yesus ucapkan berotoritas dan berkuasa, bukan saja mereka tidak menerimanya, tetapi mereka juga mengutuk dan menghujatnya. Mengapa mereka melakukannya? Karena mereka tidak mencintai kebenaran, dan di dalam hatinya, mereka muak dan membenci kebenaran. Mereka mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah benar dalam semua yang dikatakan-Nya, bahwa perkataan-Nya berotoritas dan berkuasa, bahwa Dia tidak salah dalam hal apa pun, dan mereka tidak memiliki apa pun yang dapat mereka gunakan untuk melawan Dia. Namun, mereka ingin mengutuk Tuhan Yesus, jadi mereka berdiskusi dan bersekongkol, dan berkata, "Salibkan dia. Pilih dia atau kami," dan dengan cara itulah orang Farisi menyangkal Tuhan Yesus. Pada saat itu, tak seorang pun memahami kebenaran, dan tak seorang pun mampu mengenali Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang berinkarnasi. Namun, dari sudut pandang manusia, Tuhan Yesus mengungkapkan banyak kebenaran, mengusir setan, dan menyembuhkan orang sakit. Dia melakukan banyak mukjizat, memberi makan 5.000 orang dengan lima potong roti dan dua ekor ikan, melakukan banyak perbuatan baik, dan mengaruniakan begitu banyak anugerah kepada orang-orang. Hanya ada sangat sedikit orang yang baik dan benar seperti ini, lalu mengapa orang Farisi ingin mengutuk Tuhan Yesus? Mengapa mereka begitu ingin menyalibkan Dia? Bahwa mereka lebih memilih untuk membebaskan penjahat daripada Tuhan Yesus menunjukkan betapa jahat dan kejamnya orang-orang Farisi dari dunia keagamaan. Mereka sangat jahat! Perbedaan antara wajah jahat orang Farisi yang tersingkap dengan kebajikan mereka yang pura-pura sangatlah besar, sehingga banyak orang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi penampakan dan pekerjaan Tuhan Yesus menyingkapkan semua itu. Orang Farisi selalu sangat baik dalam menyamarkan diri mereka dan di luarnya mereka terlihat sangat saleh, sehingga tak seorang pun menduga bahwa mereka mampu menentang dan menganiaya Tuhan Yesus dengan begitu kejam. Jika fakta-fakta ini tidak disingkapkan, tak seorang pun akan mampu mengenali diri mereka yang sebenarnya. Kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan yang berinkarnasi sungguh menyingkapkan manusia!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp