Hanya dengan Menyelesaikan Gagasannya Orang Dapat Memasuki Jalur yang Benar dalam Kepercayaan kepada Tuhan (1) Bagian Dua

Gagasan apa lagi yang ada di dalam hatimu yang dapat memengaruhi pelaksanaan tugasmu? Gagasan apa yang sering memengaruhi dan menguasaimu dalam kehidupanmu? Ketika hal-hal tertentu yang tidak sesuai dengan keinginanmu terjadi pada dirimu, gagasanmu dengan sendirinya muncul, dan kemudian engkau mengeluh kepada Tuhan, berdebat dan bersaing dengan Tuhan, dan hal-hal tersebut menghasilkan perubahan yang cepat dalam hubunganmu dengan Tuhan: engkau berubah dari keadaanmu yang semula, merasa bahwa engkau sangat mengasihi Tuhan dan sangat setia kepada-Nya, dan ingin mengabdikan seluruh hidupmu kepada-Nya, menjadi tiba-tiba berubah pikiran, tidak ingin lagi melaksanakan tugasmu atau setia kepada Tuhan, dan engkau menyesali kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau menyesal telah memilih jalan ini, dan bahkan mengeluh karena dipilih oleh Tuhan. Gagasan apa lagi yang dapat tiba-tiba menyebabkan hubunganmu dengan Tuhan berubah? (Ketika Tuhan mengatur sebuah situasi untuk menguji dan menyingkapkanku, dan aku merasa bahwa aku tidak akan mendapatkan hasil yang baik, aku pun membentuk gagasan tentang Tuhan. Aku merasa bahwa aku percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, dan aku selalu melaksanakan tugasku, jadi asalkan aku tidak meninggalkan Tuhan, maka tidak seharusnya Dia meninggalkanku.) Itu adalah sejenis gagasan. Apakah engkau semua sering memiliki gagasan seperti itu? Apa yang engkau semua pahami tentang ditinggalkan oleh Tuhan? Apakah engkau berpikir bahwa jika Tuhan meninggalkanmu, artinya Tuhan tidak menginginkanmu dan tidak akan menyelamatkanmu? Ini adalah jenis gagasan lain. Lalu, bagaimana gagasan seperti itu muncul? Apakah itu berasal dari imajinasimu atau apakah itu memiliki dasar? Bagaimana engkau tahu bahwa Tuhan tidak akan memberikan kesudahan yang baik kepadamu? Apakah Tuhan memberitahumu secara pribadi? Pemikiran seperti itulah yang sepenuhnya kaugambarkan. Sekarang engkau tahu bahwa ini adalah gagasan; pertanyaan pentingnya adalah bagaimana cara meluruskannya. Orang sebenarnya memiliki banyak gagasan tentang kepercayaan kepada Tuhan. Jika engkau dapat menyadari bahwa engkau memiliki gagasan, maka engkau harus tahu bahwa itu salah. Jadi, bagaimana seharusnya gagasan-gagasan ini diluruskan? Pertama-tama, engkau harus melihat dengan jelas apakah gagasan-gagasan ini berasal dari pengetahuan atau falsafah Iblis, atau bukan, di mana letak kesalahannya, di mana letak bahayanya, dan setelah engkau memahaminya dengan jelas, engkau akan dengan sendirinya mampu melepaskan gagasan tersebut. Namun, ini bukan berarti engkau telah meluruskannya secara menyeluruh; engkau harus tetap mencari kebenaran, melihat apa saja tuntutan Tuhan dan kemudian menelaah gagasan tersebut berdasarkan firman Tuhan. Ketika engkau dapat dengan jelas memahami bahwa gagasan tersebut salah, bahwa itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal, dan bahwa itu sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran, itu berarti pada dasarnya engkau telah meluruskan gagasan tersebut. Jika engkau tidak mencari kebenaran, jika engkau tidak membandingkan gagasan tersebut terhadap firman Tuhan, engkau tidak akan mampu mengerti dengan jelas betapa kelirunya gagasan tersebut, sehingga engkau tidak akan mampu benar-benar melepaskan gagasan itu; sekalipun engkau tahu bahwa itu adalah gagasan, engkau belum tentu mampu melepaskannya sepenuhnya. Dalam keadaan seperti itu, ketika gagasanmu bertentangan dengan tuntutan Tuhan, dan meskipun engkau mungkin menyadari bahwa gagasanmu keliru, tetapi hatimu masih berpaut pada gagasanmu, dan engkau mengetahui dengan pasti bahwa gagasanmu bertentangan dengan kebenaran, tetapi di dalam hatimu, engkau tetap meyakini bahwa gagasanmu dapat dipertahankan, itu berarti engkau tidak akan menjadi orang yang memahami kebenaran, dan orang-orang sepertimu tidak memiliki jalan masuk kehidupan dan benar-benar tidak memiliki tingkat pertumbuhan. Misalnya, orang-orang sangat sensitif terhadap kesudahan dan tempat tujuan mereka sendiri, serta terhadap penyesuaian tugas mereka dan digantikan dalam tugas mereka. Beberapa orang sering mengambil kesimpulan yang keliru tentang hal-hal semacam itu, berpikir bahwa segera setelah mereka digantikan dalam tugas mereka dan mereka tidak memiliki status lagi, atau Tuhan berkata Dia tidak menyukai atau menginginkan mereka lagi, maka semuanya berakhir bagi mereka. Inilah kesimpulan yang mereka dapatkan. Mereka meyakini, "Tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan, Tuhan tidak menginginkanku, dan kesudahanku sudah ditentukan, jadi apa gunanya hidup?" Orang lain yang mendengar pemikiran seperti itu menganggapnya masuk akal dan bermartabat—tetapi pemikiran macam apa itu sebenarnya? Ini adalah pemberontakan terhadap Tuhan, membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh keputusasaan. Mengapa mereka membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh keputusasaan? Itu karena mereka tidak memahami maksud Tuhan, mereka tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana Tuhan menyelamatkan manusia, dan mereka tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan. Apakah Tuhan mengetahuinya ketika manusia membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh keputusasaan? (Ya.) Tuhan mengetahuinya, lalu bagaimana Dia memperlakukan orang-orang semacam itu? Orang-orang yang memiliki semacam gagasan dan berkata, "Tuhan telah membayar harga yang sangat mahal bagi manusia, Dia telah melakukan banyak pekerjaan dalam diri setiap orang dan mengerahkan banyak upaya; tidak mudah bagi Tuhan untuk memilih dan menyelamatkan seseorang. Tuhan akan sangat terluka jika seseorang membiarkan dirinya dipengaruhi oleh keputusasaan dan akan berharap setiap hari agar dia dapat bangkit." Ini adalah makna pada tingkat yang dangkal, tetapi sebenarnya, ini juga merupakan gagasan manusia. Tuhan memiliki sikap tertentu terhadap orang-orang semacam itu: jika engkau membiarkan dirimu sendiri dipengaruhi oleh keputusasaan dan tidak berusaha untuk bergerak maju, Dia akan membiarkanmu membuat pilihan sendiri; Dia tidak akan memaksamu melakukan apa pun yang bertentangan dengan kehendakmu. Jika engkau berkata, "Aku tetap ingin melaksanakan tugas makhluk ciptaan, melakukan yang terbaik untuk melakukan penerapan sesuai yang Tuhan tuntut dan memuaskan maksud Tuhan. Aku akan menggunakan semua karunia dan bakatku, dan jika aku tidak mampu melakukan apa pun, aku akan belajar untuk tunduk dan taat; aku tidak akan meninggalkan tugasku," Tuhan berfirman, "Jika engkau ingin hidup dengan cara seperti ini, teruslah mengikuti, tetapi engkau harus melakukannya sesuai tuntutan Tuhan; standar yang dituntut oleh Tuhan dan prinsip-prinsip-Nya tidak berubah." Apa arti dari perkataan ini? Itu berarti bahwa hanya manusia yang bisa menyerah pada diri mereka sendiri; Tuhan tidak akan pernah menyerah terhadap manusia. Bagi siapa pun yang akhirnya dapat memperoleh keselamatan dan melihat Tuhan, yang membangun hubungan yang normal dengan Tuhan, serta yang bisa datang ke hadapan Tuhan, ini bukanlah sesuatu yang dapat dicapai setelah gagal atau dipangkas sekali saja, atau setelah dihakimi dan dihajar sekali saja. Sebelum Petrus disempurnakan, dia dimurnikan ratusan kali. Dari orang yang tetap bertahan sampai akhir setelah berjerih payah, tidak akan ada seorang pun yang hanya mengalami ujian dan pemurnian delapan atau sepuluh kali sebelum berhasil mencapai akhir. Berapa kali pun seseorang diuji dan dimurnikan, bukankah itu adalah kasih Tuhan? (Ya, benar.) Jika engkau dapat melihat kasih Tuhan, maka engkau akan mampu memahami sikap Tuhan terhadap manusia.

Ketika orang membaca firman Tuhan dan melihat Tuhan mengutuk manusia dalam firman-Nya, mereka memiliki gagasan dan merasakan pergumulan dalam batin mereka. Sebagai contoh, firman Tuhan berkata bahwa engkau tidak menerima kebenaran, sehingga Tuhan tidak menyukaimu atau menerimamu, bahwa engkau adalah pelaku kejahatan, antikristus, bahwa Dia merasa kesal hanya dengan melihatmu dan Dia tidak menginginkanmu. Orang membaca firman ini dan berpikir, "Firman ini ditujukan kepadaku. Tuhan telah memutuskan bahwa Dia tidak menginginkanku, dan karena Tuhan telah meninggalkanku, aku juga tidak mau lagi percaya kepada Tuhan." Ada orang-orang yang, ketika membaca firman Tuhan, sering memiliki gagasan dan kesalahpahaman karena Tuhan menyingkapkan keadaan manusia yang rusak dan mengatakan hal-hal tertentu yang menghukum manusia. Mereka menjadi negatif dan lemah, mengira firman Tuhan ditujukan kepada mereka, mengira Tuhan menganggap mereka sudah tidak ada harapan dan tidak akan menyelamatkan mereka. Mereka menjadi negatif sampai menangis dan tidak mau lagi mengikuti Tuhan. Ini sebenarnya adalah kesalahpahaman terhadap Tuhan. Jika engkau tidak memahami makna firman Tuhan, engkau tidak boleh berusaha membatasi Tuhan. Engkau tidak tahu orang macam apa yang Tuhan tinggalkan, atau dalam keadaan apa Dia menganggap orang tidak ada harapan, atau dalam keadaan apa Dia mengesampingkan orang; ada prinsip dan konteks untuk semua ini. Jika engkau tidak memiliki pemahaman penuh tentang hal-hal mendetail ini, engkau akan sangat mudah menjadi terlalu sensitif dan engkau akan membatasi dirimu berdasarkan satu firman dari Tuhan. Bukankah itu masalah? Ketika Tuhan menghakimi manusia, apa aspek utama dari mereka yang dikutuk-Nya? Yang Tuhan hakimi dan singkapkan adalah watak dan esensi manusia yang rusak, Dia mengutuk watak dan natur Iblis dalam diri mereka, Dia mengutuk berbagai perwujudan dan perilaku pemberontakan dan penentangan mereka terhadap Tuhan, Dia mengutuk mereka karena tak mampu tunduk kepada Tuhan, karena selalu menentang Tuhan, dan karena selalu memiliki motivasi dan tujuan mereka sendiri—tetapi kutukan semacam itu bukan berarti Tuhan telah meninggalkan orang yang memiliki watak Iblis dalam diri mereka. Jika hal ini tidak jelas bagimu, artinya engkau tidak memiliki kemampuan memahami, yang membuatmu agak seperti orang sakit jiwa, selalu curiga terhadap segala sesuatu dan salah memahami Tuhan. Orang-orang semacam itu tidak memiliki iman yang sejati, jadi bagaimana mereka bisa mengikuti Tuhan sampai akhir? Mendengar satu pernyataan yang mengutuk dari Tuhan, engkau berpikir bahwa, setelah dikutuk oleh Tuhan, orang telah ditinggalkan Tuhan, dan tidak lagi akan diselamatkan, dan karena hal ini engkau menjadi negatif, dan menganggap dirimu sudah tidak ada harapan. Ini artinya salah memahami Tuhan. Sebenarnya, Tuhan tidak meninggalkan manusia. Mereka telah salah memahami Tuhan dan mereka menganggap diri mereka sendiri tidak ada harapan. Tidak ada yang lebih mematikan daripada ketika orang menganggap dirinya sendiri tidak ada harapan, sebagaimana digenapi dalam firman dari Perjanjian Lama: "Orang bodoh mati karena kekurangan hikmat" (Amsal 10:21). Tidak ada perilaku yang lebih bodoh daripada ketika orang menganggap diri mereka sendiri tidak ada harapan. Terkadang engkau membaca firman Tuhan yang tampaknya menentukan orang; sebenarnya, firman Tuhan tidak menentukan siapa pun, tetapi merupakan ungkapan dari maksud dan pendapat Tuhan. Semua ini adalah perkataan kebenaran dan prinsip, semua ini tidak menentukan siapa pun. Firman yang diucapkan oleh Tuhan pada saat marah atau murka juga merepresentasikan watak Tuhan, firman ini adalah kebenaran dan, terlebih lagi, merupakan prinsip. Orang harus memahami hal ini. Tujuan Tuhan mengatakan hal ini adalah untuk membuat orang memahami kebenaran, dan memahami prinsip-prinsipnya; ini sama sekali tidak bertujuan untuk membatasi siapa pun. Ini tidak berkaitan dengan tempat tujuan akhir dan upah orang, apalagi berkaitan dengan hukuman akhir bagi manusia. Ini hanyalah firman yang diucapkan untuk menghakimi dan memangkas manusia, firman ini diucapkan sebagai akibat dari kemarahan terhadap manusia yang tidak hidup sesuai dengan harapan-Nya, dan firman ini diucapkan untuk menyadarkan manusia, untuk mengingatkan mereka, dan itu adalah firman dari hati Tuhan. Namun, ada orang-orang yang mundur dan meninggalkan Tuhan hanya karena satu pernyataan penghakiman dari Tuhan. Orang-orang semacam ini tidak tahu apa yang baik bagi diri mereka, mereka tidak bernalar, mereka sama sekali tidak menerima kebenaran. Ada orang-orang yang merasa lemah selama beberapa waktu dan kemudian kembali datang ke hadapan Tuhan, dan berpikir, "Ini tidak benar, aku harus terus mengikuti Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan tuntut. Jika aku tidak mengikuti Tuhan atau tidak melaksanakan tugasku dengan baik, maka hidupku tidak akan ada artinya. Demi menjalani kehidupan yang bermakna, aku harus mengikuti Tuhan." Jadi, bagaimana mereka mengikuti Tuhan? Mereka harus mengalami pekerjaan Tuhan. Hanya mengatakan orang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengalami pekerjaan Tuhan bukanlah mengikuti Tuhan. Sebelumnya, orang tidak loyal dalam melaksanakan tugas dan tidak mau menerima sedikit pemangkasan—inikah sikap yang seharusnya orang miliki ketika menerima pekerjaan Tuhan? Tidak menerima diri mereka dipangkas serta selalu mengeluh jika mengalami sedikit penderitaan—watak macam apa ini? Orang harus merenungkan diri mereka sendiri dan memahami apa yang Tuhan tuntut, dan mereka harus melakukan apa yang Tuhan tuntut. Jika Tuhan berkata engkau tidak cukup baik, artinya engkau tidak cukup baik, dan engkau tidak boleh menggunakan gagasan dan imajinasimu untuk membatasi segala sesuatu atau menentang Tuhan; engkau harus tunduk dan mengakui bahwa engkau tidak cukup baik. Bukankah setelah itu engkau memiliki jalan penerapan? Dapatkah orang tetap meninggalkan Tuhan jika mereka mampu menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan? Tidak. Ada kalanya ketika engkau yakin Tuhan menganggapmu sudah tidak ada harapan—tetapi sebenarnya, Tuhan tidak menganggapmu sudah tidak ada harapan, Dia hanya menyampingkanmu agar engkau dapat merenungkan dirimu sendiri. Tuhan mungkin menganggapmu menjijikkan, dan tidak ingin mengindahkanmu, tetapi sebenarnya Dia tidak meninggalkanmu. Ada orang-orang yang berupaya melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan, tetapi karena esensi mereka dan berbagai hal yang diwujudkan dalam diri mereka, Tuhan melihat bahwa mereka tidak mencintai kebenaran dan sama sekali tidak menerima kebenaran, jadi Tuhan benar-benar meninggalkan mereka; mereka tidak benar-benar dipilih, tetapi hanya melakukan pelayanan selama beberapa waktu. Sedangkan bagi sebagian orang, Tuhan berupaya semaksimal mungkin untuk mendisiplinkan, menghajar, menghakimi, dan bahkan menghukum dan mengutuk, memperlakukan mereka dengan berbagai cara yang bertentangan dengan gagasan manusia. Ada orang-orang yang tidak memahami maksud Tuhan, dan merasa bahwa Tuhan mengganggu dan menyakiti mereka. Mereka merasa hidup tanpa martabat di hadapan Tuhan, mereka tidak ingin lagi menyakiti Tuhan sehingga mereka meninggalkan gereja. Mereka bahkan menganggap bahwa tindakan seperti ini beralasan, dan dengan demikian mereka berpaling dari Tuhan—tetapi sebenarnya, Tuhan tidak meninggalkan mereka. Orang-orang semacam ini tidak memahami maksud Tuhan. Mereka agak terlalu sensitif, sampai-sampai menganggap diri mereka tidak ada harapan untuk diselamatkan oleh Tuhan. Apakah mereka benar-benar memiliki hati nurani? Ada kalanya saat Tuhan menjauhi manusia dan ada kalanya saat Dia mengesampingkan mereka selama beberapa waktu sehingga mereka dapat merenungkan diri mereka sendiri, tetapi Tuhan sebenarnya tidak meninggalkan mereka; Dia memberi mereka kesempatan untuk bertobat. Tuhan hanya benar-benar meninggalkan orang-orang jahat yang melakukan banyak perbuatan jahat, pengikut yang bukan orang percaya, dan antikristus. Beberapa orang berkata, "Aku merasa tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus dan aku sudah lama tidak mendapatkan pencerahan Roh Kudus. Apakah Tuhan telah meninggalkanku?" Ini adalah kesalahpahaman. Ada juga masalah watak di sini: orang-orang terlalu emosional, mereka selalu mengikuti nalar mereka sendiri, selalu keras kepala, dan tidak memiliki rasionalitas—bukankah ini masalah watak? Engkau berkata bahwa Tuhan telah meninggalkanmu, bahwa Dia tidak akan menyelamatkanmu, jadi, sudahkah Dia telah menetapkan kesudahanmu? Tuhan hanya mengucapkan beberapa kata bernada marah kepadamu. Bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa Dia telah menganggapmu tidak ada harapan, bahwa Dia tidak lagi menginginkanmu? Ada saat-saat ketika engkau tidak dapat merasakan pekerjaan Roh Kudus, tetapi Tuhan tidak merampas hakmu untuk membaca firman-Nya, atau menentukan kesudahanmu, ataupun menutup jalanmu menuju keselamatan—jadi mengapa engkau begitu sedih? Engkau berada dalam keadaan yang buruk, ada masalah dengan motifmu, ada masalah dengan pemikiran dan sudut pandangmu, keadaan pikiranmu kacau—tetapi engkau tidak berusaha untuk memperbaiki hal-hal ini dengan mencari kebenaran, sebaliknya selalu salah paham dan mengeluh mengenai Tuhan, serta melemparkan tanggung jawab kepada Tuhan, dan bahkan berkata, "Tuhan tidak menginginkanku, jadi aku tidak lagi percaya kepada-Nya." Bukankah engkau sedang bersikap tidak rasional? Bukankah engkau sedang bersikap tidak masuk akal? Orang semacam ini terlalu emosional, sama sekali tidak berakal sehat, sama sekali tidak bernalar. Mereka adalah orang yang paling kecil kemungkinannya untuk menerima kebenaran dan akan merasa sangat sulit untuk memperoleh keselamatan.

Ingatlah perkataan ini: Petrus disempurnakan dengan dimurnikan ratusan kali. Dalam gagasan dan imajinasimu, dimurnikan ratusan kali berarti menjalani kehidupan yang spektakuler dengan kesukaran yang tak terhitung dalam mengikuti Tuhan, dan pada akhirnya disalib terbalik. Ini tidak benar; ini hanyalah gagasan manusia. Mengapa Kukatakan ini adalah gagasan manusia? Itu karena manusia tidak memahami apa yang dimaksud dengan ujian Tuhan dan bahwa setiap ujian diatur dan dilakukan oleh tangan Tuhan; orang tidak memahami hal "ratusan kali" ini, atau alasan Tuhan memurnikan Petrus ratusan kali, atau bagaimana "ratusan kali" ini tercapai, atau apa sumber penyebabnya. Orang tidak memahami hal-hal ini, dan malah selalu mengandalkan gagasan dan imajinasi mereka untuk memahami segala sesuatu, dan akibatnya mereka salah paham terhadap Tuhan. Orang tidak mampu memahami firman Tuhan tertentu yang belum mereka alami. Dalam kehidupan nyata, jika yang Tuhan lakukan dalam diri setiap orang adalah memberkati mereka, membimbing mereka, dan berfirman dengan tenang kepada mereka, maka ujian selamanya hanya akan menjadi kata-kata kosong bagi orang, dan tidak lebih dari sebuah perkataan, definisi, atau konsep. Namun, Tuhan sering kali melakukan pekerjaan ini dalam dirimu: sekarang membuatmu sakit, sekarang membuatmu menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan yang membuatmu menjadi putus asa dan lemah, sekarang membuatmu menghadapi situasi sulit yang sukar kauhadapi dan engkau tidak tahu apa hal yang benar yang harus dilakukan. Apa arti hal-hal ini bagimu? Mengenai semua hal yang tidak menyenangkan ini, semua penderitaan, kesulitan, atau kesukaran ini, dan bahkan pencobaan Iblis, jika engkau selalu dapat menganggapnya sebagai ujian yang diberikan Tuhan kepadamu, masing-masing adalah satu dari antara ratusan ujian, dan engkau dapat menerimanya dan mencari kebenaran di dalamnya, maka keadaanmu akan mengalami perubahan dan hubunganmu dengan Tuhan akan meningkat. Namun, jika saat menghadapi ujian, engkau menolaknya, terus-menerus berusaha bersembunyi darinya, menentangnya, dan melawannya, maka "ratusan ujian" ini selamanya hanya akan menjadi perkataan kosong bagimu yang tidak akan pernah digenapi. Sebagai contoh, seseorang bersikap buruk terhadapmu dan karena engkau tidak mengetahui alasannya, engkau merasa tidak senang. Jika engkau hidup dengan sifat pemarah dan dalam kedaginganmu, maka engkau pun memiliki alasan untuk bersikap buruk terhadapnya—gigi ganti gigi, mata ganti mata. Namun, jika engkau hidup di hadapan Tuhan dan ingin menerima dirimu disempurnakan dan diselamatkan oleh Tuhan, engkau harus menganggap semua ini sebagai ujian dari Tuhan dan menerimanya. Sebenarnya, ini adalah salah satu cara yang Tuhan gunakan untuk mengujimu. Setelah bersekutu dengan cara ini, apakah sekarang hatimu terasa lebih dibebaskan dan lebih lega? Jika engkau semua mampu melakukan penerapan berdasarkan firman ini, membandingkan perilaku dan pandanganmu dengan firman tersebut, ini akan sangat membantumu untuk tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan dalam kehidupanmu sehari-hari.

Apa sajakah aspek-aspek utama yang berkaitan dengan pembahasan hari ini mengenai gagasan orang tentang kepercayaan kepada Tuhan? Aspek pertama adalah perilaku lahiriah seseorang, yang bersikap munafik seperti orang Farisi, bersikap sangat sopan dan lembut; aspek lainnya adalah pangan, sandang, papan, dan transportasi; aspek lainnya adalah pemahaman orang tentang kepercayaan kepada Tuhan, menganggap bahwa dengan percaya kepada Tuhan, mereka harus diberkati dan diberi keuntungan. Apa pengalaman Ayub mengenai aspek ini? Ketika ujian menimpa Ayub, dia mampu meyakini bahwa ujian tersebut berasal dari Tuhan, bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa pun dan bahwa ini bukanlah hukuman dari Tuhan, melainkan Tuhan yang sedang mengujinya dan Iblis yang sedang mencobainya. Itulah yang dia pahami. Dan bagaimana teman-teman Ayub memahaminya? Mereka meyakini bahwa bencana ini pasti menimpa Ayub karena dia telah melakukan kesalahan dan menyinggung Tuhan. Mereka bisa berpikir seperti ini menunjukkan bahwa mereka memiliki gagasan tentang kepercayaan kepada Tuhan. Mengapa pemahaman Ayub berbeda dengan pemahaman orang lain? Itu karena Ayub telah melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi, sehingga dia tidak memiliki gagasan apa pun tentang hal itu. Saat Tuhan melakukan pekerjaan-Nya di dalam diri Ayub, Ayub memperoleh pengalaman dan mulai memahami pekerjaan Tuhan, dan gagasan serta pemikiran manusia ini tidak lagi ditemukan dalam diri Ayub. Jadi, ketika tangan Tuhan menimpa Ayub, apakah dia salah paham? (Tidak.) Dia tidak salah paham sehingga dia tidak mengeluh; dia tidak salah paham sehingga dia tidak memberontak; dia tidak salah paham, sehingga dia mampu benar-benar tunduk. Bukankah benar demikian? (Ya.) Mengapa benar demikian? Jika orang berkata "Amin" di dalam hati terhadap firman Tuhan, menganggap firman Tuhan sebagai kenyataan dari hal-hal yang positif, sebagai hal yang benar, sebagai standar, sebagai yang tertinggi, dan sebagai prinsip yang harus dia terapkan, dia akan tunduk dan tidak salah paham. Ketika orang salah memahami firman yang Tuhan ucapkan atau perbuatan yang Tuhan lakukan, wujudnya selalu ada—apa wujudnya? (Mereka enggan menerimanya.) Dan apa yang ada di balik keengganan mereka untuk menerima firman dan perbuatan Tuhan? Di balik keengganan mereka, mereka memiliki gagasan sendiri, dan gagasan tersebut berlawanan dan bertentangan dengan firman Tuhan, dan kemudian manusia salah paham dan memiliki gagasan tentang Tuhan, beranggapan bahwa apa yang Tuhan firmankan belum tentu benar. Terkadang, meskipun orang-orang tampak menerimanya, tetap saja itu hanya kepura-puraan dan mereka tidak benar-benar menerimanya. Dengan mencari kebenaran, orang harus berpikir sepenuhnya sesuai dengan firman dan tuntutan Tuhan, dan sepakat dengan firman Tuhan di dalam hatinya, baru setelah itulah dia dapat menjadi sesuai dengan Tuhan. Jika engkau tidak menerima hal-hal ini di dalam hatimu, dan engkau salah paham, bahkan menolak serta menentangnya, ini menunjukkan bahwa ada sesuatu di dalam dirimu. Jika engkau dapat menganalisis hal ini di dalam dirimu dan mencari kebenaran, maka gagasanmu dapat diluruskan; jika pemahamanmu menyimpang, jika engkau tidak memiliki pemahaman rohani, atau engkau tidak memiliki kemampuan untuk memahami, engkau bahkan tidak mampu membandingkan gagasanmu dengan firman Tuhan, tidak mampu memahami dan menganalisisnya, dan engkau tidak sadar ketika gagasan muncul dalam dirimu, maka gagasanmu tidak akan diluruskan. Ada orang-orang yang tahu betul bahwa mereka memiliki gagasan tentang Tuhan di dalam hati mereka, tetapi mereka tetap berkata bahwa mereka tidak memiliki gagasan, takut bahwa jika mereka mengakuinya, mereka akan kehilangan muka dan dipandang rendah. Jika seseorang bertanya kepada mereka, "Jika engkau tidak salah paham terhadap Tuhan, mengapa engkau tidak mampu tunduk kepada-Nya?" lalu mereka menjawab, "Aku tidak tahu bagaimana cara menerapkannya." Perwujudan macam apa ini? Jika engkau tidak memiliki pemahaman rohani, jika engkau tidak mampu mengenali, dan tidak tahu caranya merenungkan dirimu sendiri ketika engkau memiliki masalah, engkau tidak akan mampu meluruskan gagasan atau kesalahpahamanmu tentang Tuhan. Ketika sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan gagasanmu terjadi, engkau merasa sangat tenang, dan engkau tidak terlihat memiliki masalah apa pun. Namun, saat sesuatu yang menyentuh gagasanmu terjadi, perasaan bertentangan dengan Tuhan muncul dalam dirimu. Bagaimana pertentangan ini terlihat? Terkadang engkau mungkin merasa kesal, dan seiring berjalannya waktu, jika perasaan ini tidak diatasi, kesalahpahamanmu tentang Tuhan menjadi jauh lebih berakar dan watak rusakmu membesar, dan engkau akan mulai melampiaskan gagasanmu dan menghakimi Tuhan. Saat engkau menghakimi Tuhan, maka itu bukan lagi masalah pemikiran atau perilaku, melainkan penyingkapan watak Iblis. Jika seseorang menunjukkan sedikit pertentangan atau perilaku tidak tunduk hanya karena ketidaktahuan, maka Tuhan tidak mengutuk hal ini; jika seseorang secara langsung bertentangan dengan Tuhan dari wataknya dan dengan sengaja bertentangan dengan-Nya, ini akan menimbulkan masalah bagi mereka, dan itu berarti mereka sedang menentang Tuhan. Jika seseorang dengan sengaja menentang Tuhan, ini adalah pelanggaran terhadap watak Tuhan. Oleh karena itu, ketika orang memiliki gagasan, mereka harus meluruskannya; hanya jika mereka telah meluruskan gagasan mereka, barulah mereka dapat meluruskan kesalahpahaman antara diri mereka sendiri dan Tuhan; dan hanya ketika kesalahpahaman antara mereka dan Tuhan diluruskan, barulah mereka dapat benar-benar tunduk kepada Tuhan. Ada orang-orang yang berkata, "Aku tidak memiliki gagasan, dan kesalahpahaman antara diriku dan Tuhan telah diluruskan. Aku tidak lagi memikirkan apa pun." Apakah ini sudah cukup? Tujuan meluruskan gagasan bukan hanya untuk meluruskan gagasan, melainkan untuk melakukan penerapan sesuai dengan tuntutan dan kebenaran Tuhan, untuk mencapai ketundukan kepada Tuhan dan memuaskan Tuhan. Ada orang-orang yang berkata, "Selama aku tidak memiliki kesalahpahaman tentang Tuhan, itu sudah cukup, segalanya akan baik-baik saja, dan aku akan aman." Ini bukan sungguh-sungguh menerapkan kebenaran, dan ini juga bukan ketundukan yang sejati—masalahnya masih belum diselesaikan. Jika masalahnya benar-benar diselesaikan, maka orang bukan saja tidak akan memiliki kesalahpahaman tentang Tuhan, tetapi mereka juga akan mengetahui apa yang Tuhan tuntut dan apa maksud-Nya atas hal-hal yang terjadi pada mereka. Mereka tidak hanya mampu menganalisis gagasan mereka sendiri, tetapi juga mampu membantu orang-orang yang memiliki gagasan untuk belajar bagaimana mencari kebenaran, mampu menerapkan kebenaran dan memenuhi tuntutan Tuhan. Dengan demikian, bukankah mereka akan sesuai dengan maksud Tuhan? Tujuan akhir meluruskan gagasan adalah untuk memahami maksud Tuhan dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Inilah kuncinya. Engkau berkata bahwa engkau belum membentuk kesalahpahaman apa pun tentang Tuhan, jadi apakah engkau memahami kebenaran? Jika engkau tidak memahami kebenaran, meskipun engkau tidak memiliki gagasan atau kesalahpahaman tentang Tuhan, engkau tetap bukan orang yang tunduk kepada Tuhan. Tidak memiliki kesalahpahaman bukan berarti engkau memahami Tuhan, terlebih lagi, itu bukan berarti engkau mampu tunduk kepada-Nya. Orang tidak memiliki gagasan atau kesalahpahaman tentang Tuhan ketika semuanya baik-baik saja, tetapi ini bukan berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki gagasan atau kesalahpahaman tentang Tuhan. Ketika sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan pribadi mereka terjadi pada mereka, gagasan mereka dengan sendirinya muncul dan mereka akan memiliki kesalahpahaman tentang Tuhan dan bahkan mengeluh. Dapatkah manusia tunduk kepada Tuhan ketika mereka menganggap kepentingan pribadi mereka begitu penting? Mengapa ketika sesuatu yang memengaruhi kepentingan pribadi seseorang terjadi, gagasan dan kesalahpahaman mereka muncul dan mereka memberontak serta menentang Tuhan? Demikian pula halnya dengan orang-orang yang memiliki natur Iblis dan watak Iblis. Ketika sesuatu yang memengaruhi kepentingan pribadinya terjadi, mereka tidak lagi mampu tunduk kepada Tuhan, dan mereka juga tidak mampu tunduk kepada Tuhan ketika sesuatu yang bertentangan dengan gagasan dan imajinasi mereka sendiri terjadi. Gagasan dan kesalahpahaman manusia tentang Tuhan muncul bersama dengan situasi mereka. Jika mereka tidak mampu mencari dan menerima kebenaran, gagasan mereka tidak akan pernah diluruskan dan hubungan mereka dengan Tuhan tidak akan pernah kembali normal. Mereka yang memiliki gagasan tetapi tidak mencari kebenaran untuk meluruskannya tidak akan diselamatkan oleh Tuhan, seberapa pun lamanya mereka sudah percaya kepada-Nya.

Penyelamatan Tuhan terhadap manusia bukan sekadar kata-kata kosong. Dia mengungkapkan semua kebenaran ini untuk membahas berbagai hal dari manusia yang rusak yang bertentangan dengan kebenaran—gagasan, imajinasi, pengetahuan, falsafah, budaya tradisional mereka, dll. Dengan menganalisis hal-hal ini, Dia memungkinkan manusia untuk memahami apa yang termasuk hal-hal positif, apa yang termasuk hal-hal negatif, mana hal-hal yang berasal dari Tuhan, mana hal-hal yang berasal dari Iblis, apa yang dimaksud dengan kebenaran, dan apa yang dimaksud dengan falsafah dan logika Iblis. Ketika orang mampu melihat yang sebenarnya mengenai hal-hal ini, mereka akan secara alami memilih untuk mengejar jalan hidup yang benar, dan mereka akan mampu menerapkan kebenaran, melakukan apa yang Tuhan tuntut, dan mengenali hal-hal yang negatif. Inilah yang Tuhan tuntut dari manusia, dan ini juga merupakan standar yang Dia gunakan untuk menyempurnakan dan menyelamatkan manusia. Ada orang-orang yang berkata, "Tuhan menelaah gagasan manusia, tetapi aku tidak memiliki gagasan. Orang yang memiliki gagasan biasanya adalah orang yang licik, atau para ahli teologi dan orang-orang Farisi. Aku tidak seperti itu." Apa masalah dari orang yang bisa mengatakan hal seperti itu? Mereka tidak mengenal diri mereka sendiri. Seperti apa pun kebenaran dipersekutukan, mereka tidak menerapkannya pada diri mereka sendiri, menganggap bahwa mereka tidak seperti itu. Ini adalah kebodohan, dan mereka tidak memiliki pemahaman rohani. Dapatkah engkau semua berpikir dengan cara seperti ini? Sekarang ini, kebanyakan orang tidak berpikir seperti itu. Ketika orang telah makan dan minum banyak firman Tuhan dan mampu memahami beberapa kebenaran, dia kemudian dapat melihat dengan jelas bahwa semua orang memiliki gagasan dan imajinasi serta semua orang memiliki watak yang rusak. Tidak ada yang memalukan dalam menganalisis hal-hal ini. Selain itu, setelah menganalisisnya, mereka yakin bahwa ini akan membantu orang lain memiliki kearifan, dan mereka sendiri akan bertumbuh, serta mampu memahami kebenaran dengan lebih cepat. Oleh sebab itu, mereka semua mampu menganalisis diri mereka sendiri secara terbuka. Apa tujuannya menganalisis gagasan? Tujuannya adalah untuk mengesampingkan gagasan-gagasan ini, untuk membereskan kesalahpahaman antara manusia dan Tuhan, dan kemudian memungkinkan manusia untuk berfokus pada apa yang Tuhan tuntut dari manusia, untuk mengetahui cara masuk ke jalan keselamatan, dan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menerapkan kebenaran. Dengan sering melakukan penerapan seperti ini, pada akhirnya hasil yang diinginkan akan tercapai: salah satu aspeknya, orang akan memahami maksud Tuhan dan mampu tunduk kepada Tuhan, sedangkan aspek lainnya, mereka akan memiliki kekebalan untuk menolak dan menentang banyak hal-hal negatif, seperti gagasan dan imajinasi jahat, dan hal-hal yang muncul dari pengetahuan. Ketika berhadapan dengan seorang cendekiawan agama, ahli teologi, atau pendeta atau penatua agama, engkau dapat mengetahui diri mereka yang sebenarnya dengan berbicara dengan mereka, dan mampu menggunakan kebenaran untuk membantah banyak sekali gagasan, imajinasi, ajaran sesat, dan kekeliruan mereka. Ini memperlihatkan bahwa engkau mampu mengenali hal-hal negatif, bahwa engkau telah memahami beberapa kebenaran, bahwa engkau memiliki tingkat pertumbuhan tertentu, sehingga tidak terintimidasi ketika berhadapan dengan para pemimpin dan tokoh agama tersebut. Pengetahuan, pembelajaran, dan falsafah yang mereka bicarakan—bahkan semua ideologi dan teori mereka—tidak dapat dipertahankan, karena engkau telah memahami kata-kata dan doktrin, gagasan dan imajinasi, agama, dan hal-hal tersebut tidak lagi dapat menyesatkanmu. Namun, engkau semua belum sampai di tahap itu. Ketika engkau bertemu dengan para penipu agama dan orang-orang Farisi ini, atau siapa pun yang memiliki sedikit status, engkau terintimidasi; engkau tahu bahwa perkataan mereka salah, bahwa itu mengandung gagasan dan imajinasi, muncul dari pengetahuan, tetapi engkau semua tidak tahu bagaimana cara menolaknya, engkau tidak tahu dari mana harus mulai menelaahnya, atau firman mana yang harus digunakan untuk menyingkapkan orang-orang ini. Bukankah ini menunjukkan bahwa engkau masih belum memahami kebenaran? (Ya.) Jadi, engkau semua harus memperlengkapi dirimu dengan kebenaran dan, setelah engkau memahami kebenaran, barulah engkau mampu menganalisis dirimu sendiri dan engkau akan mengetahui cara membedakan orang. Ketika engkau telah memahami kebenaran, engkau akan mampu melihat orang lain dengan jelas, tetapi jika engkau tidak memahami kebenaran, engkau tidak akan pernah mampu melihat mereka dengan jelas. Untuk mengetahui yang sebenarnya mengenai orang dan hal-hal, engkau harus memahami kebenaran. Tanpa kebenaran sebagai landasanmu, sebagai hidupmu, engkau tidak akan mampu memahami apa pun secara mendalam.

Ketika orang telah meluruskan berbagai gagasan dan imajinasi, mereka memiliki pemahaman dan pengalaman tentang firman Tuhan, dan pada saat yang sama, mereka juga telah masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan. Dalam proses masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan, berbagai gagasan dan imajinasi yang muncul dalam diri orang diluruskan satu demi satu, dan ada perubahan dalam pemahaman orang tentang pekerjaan Tuhan, esensi Tuhan, dan berbagai sikap Tuhan terhadap manusia. Bagaimana perubahan ini terjadi? Perubahan ini terjadi ketika orang mengesampingkan berbagai gagasan mereka dan imajinasi manusia, ketika mereka mengesampingkan berbagai gagasan dan perspektif yang berasal dari pengetahuan, falsafah, budaya tradisional atau dunia, dan sebaliknya, menerima berbagai sudut pandang yang berasal dari Tuhan dan yang terhubung dengan kebenaran. Ketika orang menerima firman Tuhan sebagai kehidupan mereka, mereka juga masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan, dan mampu memandang dan memikirkan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan kebenaran, dan menyelesaikan masalah dengan menggunakan kebenaran. Setelah orang meluruskan berbagai gagasan dan kesalahpahaman mereka tentang Tuhan, barulah mereka dapat segera meningkatkan hubungan mereka dengan Tuhan dan sekaligus membuka jalan menuju jalan masuk kehidupan. Ketika orang mencapai perubahan seperti itu, hubungan seperti apa yang terjadi antara mereka dengan Tuhan? Itu menjadi hubungan antara makhluk ciptaan dan Pencipta. Dalam hubungan pada taraf ini, tidak ada persaingan, tidak ada ujian, dan sangat sedikit pemberontakan; orang lebih tunduk kepada Tuhan, lebih memahami, lebih banyak beribadah, lebih setia, lebih jujur terhadap Tuhan, dan mereka benar-benar takut akan Tuhan. Inilah perubahan yang terjadi pada kehidupan orang-orang ketika mereka telah meluruskan gagasan mereka. Jika engkau mampu mencapai perubahan seperti ini, apakah engkau bersedia meluruskan gagasanmu? (Ya.) Namun, meluruskan gagasan orang adalah proses yang sangat menyakitkan. Orang harus menyangkal dirinya sendiri, mereka harus mengesampingkan gagasan-gagasan mereka, mengesampingkan hal-hal yang mereka yakini benar, mengesampingkan hal-hal yang terus-menerus mereka cari, mengesampingkan hal-hal yang mereka yakini benar dan yang mereka kejar serta dambakan sepanjang hidup mereka. Artinya, orang harus memberontak terhadap dirinya sendiri, harus mengesampingkan pengetahuan, falsafah—bahkan cara hidup mereka—yang dipelajari dari dunia Iblis, dan menggantikannya dengan cara hidup yang lain, yang landasan dan sumbernya adalah kebenaran. Karena itu, orang harus menanggung penderitaan yang sangat besar. Penderitaan tersebut mungkin bukan berupa penyakit fisik atau kesukaran dan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi itu dapat berasal dari perubahan dalam segala jenis pandangan terhadap berbagai hal dan terhadap manusia di dalam hatimu, atau itu mungkin bahkan berasal dari perubahan dalam berbagai aspek pemahaman yang kaumiliki tentang Tuhan, yang menjungkirbalikkan pemahaman dan pandanganmu tentang dunia, kehidupan manusia, umat manusia, dan bahkan Tuhan.

Kita baru saja mempersekutukan gagasan orang tentang kepercayaan kepada Tuhan dan memberikan beberapa contoh agar engkau dapat memiliki konsep dasar tentang aspek kebenaran ini. Setelah itu, engkau semua dapat merenungkannya lagi dan mempersekutukannya bersama-sama, menarik kesimpulan, dan secara bertahap merenungkan, memahami, dan menelaah berbagai gagasan tentang kepercayaan kepada Tuhan, sebelum kemudian meluruskannya selangkah demi selangkah. Singkatnya, orang memiliki banyak imajinasi dan gagasan tentang kepercayaan kepada Tuhan. Sebagai contoh, baik dalam kehidupan orang, pernikahan, keluarga, atau pekerjaan, pada saat sejumlah kesulitan muncul, orang memiliki gagasan tentang Tuhan dan kemudian mereka mengeluh dan mengkritik-Nya, selalu berpikir dalam hati mereka, "Mengapa Tuhan tidak melindungi atau memberkatiku?" Sebagaimana yang selalu dikatakan oleh orang-orang tidak percaya, "Surga tidak adil" dan "Surga itu buta"; tetapi hal-hal ini tidak terjadi secara kebetulan. Ketika kehidupan terasa nyaman dan bahagia, orang tidak pernah mengucapkan sepatah kata syukur pun kepada Tuhan dan bahkan dapat menyangkal Tuhan dan meragukan keberadaan-Nya. Namun, ketika bencana melanda, mereka meminta Tuhan bertanggung jawab atas bencana tersebut, dan mereka mulai menghakimi dan menghujat Tuhan. Ada orang-orang yang bahkan beranggapan bahwa mereka tidak perlu lagi mempelajari apa pun atau bekerja setelah mereka percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhan akan mempersiapkan segalanya bagi mereka ketika saatnya tiba, dan jika mereka mengalami kesulitan, mereka dapat berdoa kepada Tuhan dan memercayakan masalah tersebut kepada-Nya, dan Dia akan menyelesaikannya untuk mereka. Mereka yakin jika mereka sakit, Tuhan akan menyembuhkan mereka, jika bencana menimpa, Tuhan akan melindungi mereka, bahwa ketika hari Tuhan tiba, mereka semua akan berubah wujud, dan bahwa jika Tuhan melakukan tanda-tanda dan mukjizat, semuanya akan baik-baik saja. Ini adalah imajinasi dan gagasan yang orang-orang miliki. Mengenai pengetahuan profesional yang berkaitan dengan tugas yang seharusnya orang pelajari, orang harus mempelajarinya sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk tugas mereka; ini disebut pragmatisme dan pengabdian orang dalam melaksanakan tugas dengan benar, dan orang tidak boleh hanya berkhayal dan mengandalkan imajinasinya. Apa yang Tuhan tuntut untuk orang lakukan adalah apa yang harus orang lakukan, itulah tugas yang harus orang laksanakan. Hal ini sama sekali tidak dapat diubah dan harus diperlakukan dengan teliti—ini sesuai dengan kebenaran dan merupakan perspektif yang harus orang miliki terhadap tugas mereka. Ini bukanlah gagasan, ini adalah kebenaran dan itulah yang Tuhan tuntut. Ada kalanya ketika hal-hal yang Tuhan lakukan bertentangan dengan imajinasi manusia. Jika orang mampu mengesampingkan gagasan mereka, mencari maksud Tuhan dan mencari prinsip-prinsip kebenaran, mereka akan mampu melewati hal-hal tersebut. Jika engkau keras kepala dan bersikeras berpaut pada gagasanmu, itu sama saja dengan tidak menerima kebenaran, tidak menerima hal-hal yang benar, dan tidak menerima tuntutan Tuhan. Jika engkau tidak menerima kebenaran atau hal-hal yang benar, bukankah dapat dikatakan bahwa engkau bertentangan dengan Tuhan? Kebenaran dan hal-hal yang positif berasal dari Tuhan. Jika engkau tidak menerimanya dan malah berpaut pada gagasanmu, jelaslah bahwa engkau menentang kebenaran. Kita akan mengakhiri persekutuan kita mengenai gagasan orang tentang kepercayaan kepada Tuhan di sini. Engkau semua tinggal menerapkannya pada dirimu sendiri berdasarkan prinsip-prinsip ini dan firman yang hari ini telah kita persekutukan di sini. Gagasan tentang kepercayaan orang kepada Tuhan merupakan gagasan yang paling umum dan paling mendasar dari ketiga jenis gagasan. Kebenaran yang berkaitan dengan gagasan-gagasan ini sebenarnya tidak begitu mendalam, jadi gagasan-gagasan ini seharusnya mudah untuk diluruskan.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp