Hanya di dalam Menerapkan Kebenaran Terdapat Jalan Masuk Kehidupan (Bagian Tiga)

Mengejar kebenaran bukanlah hal yang mudah. Manusia harus belajar melihat segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan. Di masa lalu, orang memiliki banyak pandangan keliru. Jika mereka tidak mencari kebenaran, mereka tidak akan menyadarinya, dan akan terus melanjutkan seperti sebelumnya, menganggap bahwa mereka benar, serta bersikap congkak dan merasa diri benar. Sekalipun engkau memangkas mereka, mereka tetap tidak akan mengakui kesalahan mereka. Sangat sulit untuk mengubah perspektif yang digunakan orang yang tidak mengejar kebenaran dalam memandang sesuatu. Sebagai contoh, ketika beberapa orang melihat ada seseorang di gereja yang pernah memimpin sebuah perusahaan, perasaan hormat dan kekaguman muncul di hati mereka. Mereka merasa iri, mengagumi, menghormati, dan bahkan memuja orang-orang seperti ini. Orang ini memiliki status di hati mereka. Apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini? Engkau harus mengenali orang ini dan memperlakukannya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan melihat apakah dia adalah orang yang mencintai kebenaran dan mengejar kebenaran atau tidak, dan apakah dia adalah orang yang patut dihormati atau tidak. Jika, setelah berinteraksi dengan mereka dan mengenali mereka, engkau mendapati bahwa dia bukan orang semacam itu, engkau tidak akan lagi menghormati orang tersebut di dalam hatimu, dan tidak akan memujanya. Engkau harus memperlakukannya dan berinteraksi dengannya secara normal. Apa yang dimaksud dengan memperlakukannya secara normal? Itu berarti mampu memperlakukannya dengan benar. Hati manusia penuh dengan preferensi, keinginan, dan pengejaran mereka sendiri, serta nilai-nilai mereka terlihat dalam banyak detail perilaku mereka. Jika ada seseorang yang mereka hormati, ketika mereka membicarakannya, perkataan mereka akan sangat bijaksana dan sopan, dan mereka akan menyapa orang tersebut dengan penuh hormat. Hal ini menunjukkan apa? Bahwa orang ini memiliki status di hati mereka, dan mereka menghormati orang ini. Selain itu, ada hal lain yang mereka katakan. Mereka sering berkata, "Orang ini dulunya adalah seorang pejabat. Jika dia datang ke rumah Tuhan dan diperlakukan sebagai orang biasa, itu tidak pantas." Dalam pikirannya, mereka menganggap rumah Tuhan tidak mementingkan orang-orang yang berbakat. Tokoh terkemuka seperti itu mampu merendahkan dirinya sendiri dan masuk ke dalam rumah Tuhan, menjadi orang percaya dan melaksanakan tugas, tetapi tak ada seorang pun yang menghormati atau mempromosikannya, dan Yang di Atas tidak secara khusus memperkenalkannya kepada saudara-saudari. Engkau bertanya kepada mereka bagaimana pelaksanaan tugas orang ini, dan mereka berkata, "Orang ini dulunya memiliki sebuah perusahaan, dan memiliki beberapa ribu pegawai. Melakukan pekerjaan kecil seperti ini tidaklah sulit baginya. Tak ada seorang pun di rumah tuhan yang berkualitas lebih baik daripada dia. Dia adalah orang terkemuka. Tidak ada orang terkemuka di rumah tuhan." Perkataan macam apa ini? Mereka menganggap dunia sekuler memiliki orang terkemuka, tetapi rumah Tuhan tidak. Orang-orang di rumah Tuhan memiliki kebenaran. Apakah orang-orang di dunia sekuler memiliki kebenaran? Engkau berkata dunia sekuler memiliki orang terkemuka, lalu mengapa engkau tidak percaya kepada orang terkemuka? Mengapa engkau datang ke sini untuk percaya kepada Tuhan? Engkau memiliki gagasan tentang Tuhan, dan harus segera kembali ke dunia sekuler. Bukankah fakta bahwa mereka mampu mengatakan hal seperti ini berarti itu adalah suara Iblis? Itu adalah suara Iblis. Mereka percaya kepada Tuhan dan masuk ke dalam rumah Tuhan, tetapi meninggikan Iblis. Mereka hampir berkata, "Jika orang terkenal tertentu percaya kepada tuhan, dia akan menjadi orang yang memiliki kualitas tertinggi. Jika dia tidak dapat disempurnakan, maka tidak ada harapan bagi kita semua. Di matanya, kita bukan siapa-siapa." Di dalam hati dan di mata mereka, orang yang percaya kepada Tuhan tidaklah sebaik orang-orang terkenal, pengusaha dan pejabat di dunia sekuler. Hanya orang-orang itulah yang terkemuka dan orang yang memiliki pengaruh. Ketika engkau memahami makna tersirat dari apa yang mereka katakan, apakah mereka adalah orang yang mengejar kebenaran? (Tidak.) Sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengarkan, pandangan dan pemikiran mereka, opini mereka tentang dunia, dan pendapat serta pandangan mereka terhadap orang-orang terkenal dan terkemuka tidak berubah. Sudahkah mereka memperoleh kebenaran? Apakah mereka memiliki jalan masuk kehidupan? (Tidak.) Siapakah orang ini? (Pengikut yang bukan orang percaya.) Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Mereka adalah Yudas dan pengkhianat! Dalam pikiran mereka, Tuhan bukanlah yang maha tinggi dan kebenaran bukanlah yang maha tinggi. Sebaliknya, kekuasaan duniawi, gengsi, ketenaran, dan keuntungan adalah yang paling tinggi. Orang ini adalah pengkhianat. Ini adalah pemikiran dan pandangan Yudas. Itu adalah pemikiran dan logika Iblis. Meskipun orang-orang ini mampu memahami kebenaran, pemikiran dan pandangan mereka tidak akan berubah. Yang mereka kejar adalah reputasi, status, dan kekuasaan. Ketika engkau berada di sekitar seseorang yang seperti ini, ungkapan yang dia miliki ketika berbicara denganmu tidaklah benar, dan itu memberimu perasaan tertentu: bahwa orang ini sulit untuk didekati dan orang biasa tidak terlihat olehnya. Itu sebabnya dia mampu memiliki begitu banyak gagasan tentang Tuhan. Sebanyak apa pun kebenaran yang Tuhan ungkapkan, selalu ada penghalang di hatinya di antara dirinya dan Tuhan. Dia menganggap kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi adalah hal yang biasa, dan sama sekali tidak hebat atau berkuasa. Itulah sebabnya dia dapat memuja pengetahuan dan karunia, serta mengidolakan tokoh-tokoh besar. Jika orang yang congkak, merasa diri penting, dan sombong seperti ini yang dipenuhi dengan watak Iblis melihat Kristus yang memiliki kemanusiaan yang normal dan penuh dengan kebenaran, bagaimana mungkin dia dapat sujud dan menyembah Dia? Di dalam hatinya, dia berpikir, "Engkau adalah tuhan. Engkau hanya memiliki kebenaran. Engkau tidak memiliki pengetahuan. Aku memiliki karunia; pengetahuanku lebih maju daripada pengetahuanmu; bakatku lebih baik daripada bakatmu; kemampuanku untuk menangani berbagai hal lebih kuat daripada kemampuanmu, dan aku lebih baik dalam berbicara dengan dunia luar daripada engkau." Ketika dia melakukan pekerjaan tertentu di gereja, memiliki beberapa modal, atau memberi beberapa kontribusi, dia bahkan tidak lagi memikirkan Tuhan. Apakah ini adalah orang yang mengejar kebenaran? (Tidak.) Orang yang tidak mengejar kebenaran memperlihatkan banyak sekali perilaku buruk, dan tidak memiliki nalar sedikit pun. Jadi, orang ini sering terjebak dalam fenomena lahiriah dari orang, peristiwa, dan hal-hal. Terkadang dia menganggap Tuhan benar, terkadang dia menganggap Dia salah; terkadang dia menganggap Tuhan itu ada, terkadang dia menganggap Tuhan itu tidak ada; terkadang dia menganggap Tuhanlah yang berdaulat atas langit dan bumi serta segala sesuatu, terkadang dia ragu bahwa Tuhan berdaulat atas langit dan bumi serta segala sesuatu. Hatinya selalu bertentangan dan berkecamuk. Meskipun tipe orang yang kedua ini memiliki pemahaman rohani dan memahami kebenaran dalam arti yang paling dangkal, yaitu sekadar kata-kata dan doktrin, dia masih dianggap memiliki beberapa kemampuan pemahaman. Meskipun mereka mampu memahami beberapa kebenaran, mereka tidak pernah menerapkannya. Apa saja perwujudannya? Dia mengejar pekerjaan, mengejar untuk diberkati, mengejar untuk memuaskan iman mereka yang samar, mengejar makanan rohani, serta mengejar reputasi dan status. Inilah tipe orang yang kedua.

Tipe orang yang ketiga adalah orang yang memiliki pemahaman rohani dan mengejar kebenaran. Orang yang memiliki pemahaman rohani mampu memahami apa yang firman Tuhan katakan, mengambil berbagai keadaan yang disingkapkan dalam firman Tuhan dan membandingkannya terhadap dirinya sendiri, serta mengenali apa yang bermasalah dengan keadaannya. Namun, mampu membandingkan dirimu sendiri terhadap firman Tuhan bukan berarti engkau adalah orang yang mengejar kebenaran. Jika setelah membandingkan firman Tuhan terhadap dirimu sendiri, engkau melakukan penerapan dan masuk ke dalamnya, barulah engkau disebut orang yang mengejar kebenaran. Jika orang mampu memahami firman Tuhan, dan menggunakan prinsip-prinsip firman Tuhan yang mereka pahami sebagai landasan untuk benar-benar masuk, apa yang diwujudkan dari orang-orang seperti ini dalam mengejar kebenaran? Di satu sisi, mereka mampu menerima amanat Tuhan dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Di sisi lain, mereka mampu mencari kebenaran ketika menghadapi keadaan yang Tuhan atur dan mencapai ketundukan. Aspek lainnya adalah, mereka mementingkan pemeriksaan setiap aspek dari keadaan dan penyingkapan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dan kemudian mampu membandingkan diri mereka sendiri berdasarkan firman Tuhan, menyelesaikan masalah, dan mampu mencapai titik di mana mereka memiliki prinsip dalam cara mereka memperlakukan berbagai hal, dan memiliki jalan penerapan dalam berbagai hal. Sebagai contoh, terakhir kali Aku mempersekutukan dan menelaah ketujuh dosa besar Paulus, engkau semua harus mampu membandingkannya terhadap dirimu sendiri, benar-benar memahaminya, lalu menerapkan dan masuk ke dalamnya. Membandingkan diri sendiri dan jalan masuk kehidupan berkaitan erat satu sama lain. Mampu membandingkan dirimu sendiri terhadap firman Tuhan adalah pintu gerbang menuju jalan masuk kehidupan. Caramu masuk setelah melewati pintu gerbang akan bergantung pada apakah engkau memahami aspek kebenaran ini atau tidak. Ketika engkau memahami satu aspek kebenaran, engkau dapat masuk ke dalam satu aspek kenyataan, dan jika engkau memahami dua aspek kebenaran, engkau dapat masuk ke dalam dua aspek kenyataan. Jika engkau hanya memahami doktrin dan tidak memiliki prinsip-prinsip jalan masuk, engkau tidak akan mampu masuk ke dalam kenyataan. Oleh karena itu, penting bagimu untuk terlebih dahulu memahami banyak kebenaran. Bagaimana engkau dapat memahami kebenaran? Engkau harus membaca banyak firman Tuhan, merenungkan firman-Nya, menghubungkan antara firman Tuhan dan kehidupan nyatamu dan tugas-tugas yang kaulaksanakan, mencari prinsip-prinsip untuk kauterapkan, dan mencari jalan penerapan. Setelah itu, akan mudah untuk masuk ke dalam kenyataan. Jika ada beberapa masalah nyata, engkau harus membandingkannya terhadap bagian-bagian firman Tuhan yang relevan dan menyelesaikannya. Jika engkau memiliki gagasan atau kesalahpahaman tentang Tuhan, maka engkau terlebih lagi harus membandingkannya terhadap firman Tuhan, mampu mengenali di mana sebenarnya letak kesalahan gagasan atau kesalahpahaman tersebut, dan apa natur masalahnya. Engkau harus mampu menelaah masalah-masalah tersebut, lalu mencari kebenaran yang relevan untuk menyelesaikannya. Inilah jalan masuk menuju jalan masuk kehidupan. Paulus melakukan begitu banyak pekerjaan, tetapi apakah dia memiliki jalan masuk menuju jalan masuk kehidupan? Sama sekali tidak. Apa dosa pertama dari ketujuh dosa besar Paulus? Dia memperlakukan pengejaran akan mahkota dan mengejar berkat sebagai tujuan yang benar. Dalam hal apakah memperlakukan pengejaran berkat sebagai tujuan itu salah? Ini sepenuhnya bertentangan dengan kebenaran dan tidak sesuai dengan maksud Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Karena diberkati bukan tujuan yang tepat untuk dikejar orang, lalu apa tujuan yang tepat? Mengejar kebenaran, mengejar perubahan watak, dan mampu tunduk pada semua pengaturan dan penataan Tuhan: inilah tujuan yang harus orang kejar. Katakanlah, sebagai contoh, dipangkas menyebabkanmu memiliki gagasan dan kesalahpahaman, dan engkau menjadi tidak mampu tunduk. Mengapa engkau tidak mampu tunduk? Karena engkau merasa bahwa tempat tujuan atau impianmu untuk diberkati telah ditantang. Engkau menjadi negatif dan kesal, dan ingin meninggalkan tugasmu. Apa penyebab hal ini? Ada masalah dengan pengejaranmu. Jadi bagaimana memecahkan masalah ini? Sangatlah penting untuk engkau segera meninggalkan pemikiran yang salah ini, dan segera mencari kebenaran untuk memecahkan masalah watak rusakmu. Engkau harus berkata kepada diri sendiri, "Aku tidak boleh berhenti, aku harus tetap melaksanakan dengan baik tugas yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan Tuhan, dan mengesampingkan keinginanku untuk diberkati." Ketika engkau melepaskan keinginan untuk diberkati dan engkau menempuh jalan mengejar kebenaran, beban akan terangkat dari pundakmu. Akankah engkau masih negatif? Meski ada kalanya engkau masih bersikap negatif, jangan biarkan hal ini mengekangmu, dan dalam hatimu, engkau tetap berdoa dan berjuang, mengubah tujuan pengejaranmu, dari mengejar berkat dan memiliki tempat tujuan, menjadi pengejaran akan kebenaran, dan engkau harus menganggap dalam hatimu, "Mengejar kebenaran adalah tugas makhluk ciptaan Tuhan. Bisa memahami kebenaran tertentu pada zaman sekarang—tidak ada tuaian yang lebih besar daripada itu, ini adalah berkat yang paling luar biasa. Bahkan seandainya Tuhan tidak menginginkan aku, dan aku tidak memiliki tempat tujuan yang baik, dan harapanku untuk diberkati musnah, aku akan tetap melaksanakan tugasku dengan benar, aku wajib melakukannya. Apa pun alasannya, aku tidak akan membiarkannya memengaruhi pelaksanaan tugasku dengan baik, aku tidak akan membiarkannya memengaruhi pencapaianku akan amanat Tuhan; ini adalah prinsip hidupku." Dan dalam hal ini, bukankah engkau sudah melepaskan dirimu dari kekangan daging? Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Bagaimana jika aku tetap saja negatif?" Maka carilah lagi kebenaran untuk mengatasinya. Berapa kali pun engkau jatuh ke dalam kenegatifan, jika engkau terus mencari kebenaran untuk mengatasinya, dan terus berjuang untuk kebenaran, engkau akan perlahan-lahan keluar dari kenegatifanmu. Dan suatu hari nanti, engkau akan merasa bahwa engkau tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan berkat dan tidak dikekang oleh tempat tujuan dan kesudahanmu, karena engkau lebih mudah dan lebih bebas hidup tanpa hal-hal itu. Engkau akan merasa bahwa kehidupan yang kaumiliki sebelumnya, yang setiap hari kaujalani dengan tujuan untuk mendapatkan berkat dan tempat tujuan, sangatlah melelahkan. Setiap hari, berbicara, bekerja, dan memeras otak demi mendapatkan berkat—dan pada akhirnya, apa yang akan kauperoleh? Bernilaikah kehidupan seperti itu? Engkau tidak mengejar kebenaran, tetapi menyia-nyiakan hari-hari terbaikmu untuk hal-hal yang tidak penting. Pada akhirnya, engkau tidak memperoleh kebenaran apa pun, dan engkau tak mampu berbicara tentang kesaksian pengalaman apa pun. Engkau membodohi dirimu sendiri, benar-benar dipermalukan dan gagal. Apa sebenarnya penyebabnya? Itu karena niatmu untuk mendapatkan berkat terlalu kuat, karena kesudahan dan tempat tujuanmu menguasai hatimu dan mengikatmu terlalu erat. Namun, ketika saatnya tiba engkau keluar dari belenggu prospek dan nasibmu, engkau akan mampu meninggalkan segalanya dan mengikuti Tuhan. Kapan engkau bisa melepaskan prospek dan nasibmu sepenuhnya? Saat jalan masuk kehidupanmu makin dalam, engkau akan mencapai perubahan dalam watakmu, dan pada saat itulah, engkau akan dapat melepaskan hal-hal itu sepenuhnya. Ada orang-orang yang berkata, "Aku dapat melepaskan hal-hal itu kapan pun aku mau." Apakah ini sesuai dengan hukum alam? (Tidak.) Orang lain akan berkata, "Aku memahami semua ini dalam semalam. Aku adalah orang yang sederhana, tidak rumit atau rapuh seperti engkau semua. Ambisi dan keinginan engkau semua terlalu besar, dan itu menunjukkan bahwa engkau lebih rusak daripadaku." Begitukah keadaannya? Tidak. Semua manusia memiliki natur rusak yang sama, tidak berbeda kedalamannya. Satu-satunya perbedaan di antara mereka terletak pada apakah mereka memiliki kemanusiaan atau tidak, dan orang seperti apakah mereka. Mereka yang mencintai dan menerima kebenaran mampu memiliki pengetahuan yang relatif dalam dan jelas tentang watak rusak mereka sendiri, dan orang lain secara keliru mengira orang-orang seperti itu sangatlah rusak. Mereka yang tidak mencintai atau menerima kebenaran selalu menganggap bahwa mereka tidak memiliki kerusakan, bahwa dengan sedikit lagi berperilaku baik, mereka akan menjadi orang suci. Sudut pandang ini jelas tak bisa dibenarkan—sebenarnya, bukan karena kerusakan mereka dangkal, tetapi karena mereka tidak memahami kebenaran dan tidak memiliki pengetahuan yang jelas tentang esensi dan kebenaran tentang kerusakan mereka. Singkatnya, untuk percaya kepada Tuhan, orang haruslah menerima kebenaran, menerapkan kebenaran, dan masuk ke dalam kenyataan, dan mencapai perubahan dalam watak hidupnya sebelum mereka dapat mengubah arah dan jalan pengejaran mereka yang salah, dan sebelum mereka dapat sepenuhnya menyelesaikan masalah mengejar berkat dan menempuh jalan antikristus. Dengan cara inilah, orang dapat diselamatkan dan disempurnakan oleh Tuhan. Semua kebenaran yang diungkapkan Tuhan untuk menghakimi dan menyucikan manusia bekerja untuk tujuan ini.

Sekarang, adakah di antara engkau semua yang masih memiliki keinginan untuk menjadi Tuhan? (Tidak.) Apakah alasanmu tidak memiliki keinginan ini karena engkau tidak berani atau karena engkau tidak memiliki harapan atau latar belakang dan lingkungan yang sesuai? Sulit untuk dikatakan. Pertama, sudah pasti bahwa tak ada seorang pun yang ingin secara aktif mengejar untuk menjadi Tuhan. Namun, jika dalam situasi khusus, ada orang-orang yang memujamu, meninggikanmu, sering memujimu, engkau memiliki status di hati mereka, dan tanpa sadar mereka menganggapmu sebagai sosok yang sempurna dan kuat. Meskipun mereka tidak bersaksi bahwa engkau adalah Tuhan, dan mereka tahu bahwa engkau adalah manusia, mereka tetap memujamu, menaatimu, dan memperlakukanmu seolah-olah engkau adalah Tuhan, bagaimana perasaanmu di dalam hati? Tidakkah engkau akan merasakan kenikmatan dan kepuasan yang luar biasa? (Ya.) Ini cukup untuk membuktikan bahwa engkau masih memiliki keinginan ini. Setiap orang yang memiliki watak rusak memiliki keinginan untuk menjadi Tuhan. Hanya saja, ketika tidak ada seorang pun yang memperlakukanmu seperti Tuhan, engkau merasa bahwa engkau tidak memenuhi syarat. Ketika engkau merasa bahwa engkau memenuhi syarat, lingkungannya tepat, dan kondisinya memadai, engkau akan meninggikan dirimu ke posisi tersebut. Atau, mungkin engkau tidak akan meninggikan dirimu sendiri, tetapi ketika orang lain bersikeras meninggikanmu, akankah engkau tetap rendah hati? Engkau akan menerima peninggian tersebut "tanpa keberatan". Apa yang sedang terjadi di sini? Natur Iblis telah berakar begitu dalam di dalam diri manusia dan masih belum dibereskan. Manusia tidak pernah ingin menjadi manusia, mereka selalu ingin menjadi Tuhan. Dapatkah seseorang menjadi Tuhan hanya dengan menginginkannya? Iblis selalu ingin menjadi Tuhan dan apa yang terjadi kepadanya? Dia dilemparkan dari Surga ke Bumi. Begitulah nasib Iblis karena ingin menjadi Tuhan. Katakan kepada-Ku, bagaimana perasaan-Ku terhadap identitas, status, dan esensi-Ku sendiri? Engkau semua tentu saja tidak tahu. Aku tidak merasakan apa pun; semuanya sangat normal. Tuhan yang berinkarnasi sangatlah nyata dan normal. Tak ada apa pun yang supernatural tentang diri-Nya, Dia tidak memiliki perasaan tertentu. Engkau tahu apa yang kaupikirkan; engkau tahu apa yang kausukai; engkau tahu di keluarga mana engkau dilahirkan, berapa usiamu, dan berapa banyak pendidikan yang kauterima; engkau tahu bagaimana penampilanmu. Namun, apakah normal jika mengetahui apa esensi batinmu, atau normalkah jika tidak mengetahuinya? (Adalah normal jika kami tidak mengetahuinya.) Adalah normal jika kita tidak memiliki perasaan apa pun mengenai hal ini. Memiliki perasaan tentang hal itu akan menjadi supernatural. Itu bukan berasal dari daging dan bukan dari kemanusiaan yang normal. Hal-hal yang supernatural tidaklah normal. Mereka yang selalu berperilaku dengan cara yang tidak normal dan memiliki perasaan yang tidak normal adalah roh-roh jahat, bukan makhluk fana. Ada orang-orang yang bertanya kepada-Ku apakah Aku tahu siapa diri-Ku. Katakan kepada-Ku, akankah Aku tahu? Haruskah Aku tahu? Aku memiliki logika dan cara berpikir kemanusiaan yang normal. Aku memiliki pemikiran yang normal dan kehidupan rutin daging yang normal. Aku memiliki hati nurani, rasionalitas, dan penilaian kemanusiaan yang normal, serta memiliki prinsip-prinsip berperilaku, menangani hal-hal, dan berinteraksi dengan orang lain dari kemanusiaan yang normal. Semua hal ini sudah jelas. Mengenai bagaimana melakukan segala sesuatu, bagaimana memperlakukan orang yang berbeda, bagaimana membantu orang, dan orang mana yang harus ditolong, Aku memiliki semua prinsip ini. Hidup dalam kemanusiaan yang normal dan melakukan hal-hal yang seharusnya Kulakukan adalah kemanusiaan yang normal. Tidak ada yang supernatural tentang hal itu. Tuhan tidak melakukan hal-hal supernatural. Adalah normal jika Aku tidak tahu. Jika Aku tahu, itu akan menimbulkan masalah. Mengapa hal itu akan menimbulkan masalah? Jika Aku mengetahuinya, Aku akan memiliki beban, ada terlalu banyak hal yang akan terlibat, dan semuanya akan bertentangan satu sama lain, karena bagian yang Kuketahui bukanlah bagian dari daging atau dunia materiel, itu bersifat supernatural dan akan bertentangan dengan hal-hal dari dunia ini. Sama seperti bagaimana beberapa orang dapat melihat hal-hal yang terjadi di alam roh. Mereka hidup dalam daging dan dalam dunia materiel, tetapi melihat dunia non-manusia yang non-materiel. Mereka dapat melihat dua dunia dan dapat mengatakan beberapa hal aneh. Ini tidak normal. Ini akan memengaruhi pemikiran dan pekerjaan orang lain. Selain itu, bagi orang yang percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran, mereka tetap perlu mengetahui sesuatu tentang hal-hal dari alam roh. Ada banyak hal yang tidak mungkin orang ketahui, tetapi sebenarnya tidak ada ruginya jika tidak mengetahuinya; mengetahui atau tidak, itu tidak menjadi masalah. Tuhan telah membatasi berbagai hal yang dapat dipahami, diketahui, dan dirasakan oleh makhluk fana. Tuhan tidak mengurangi satu kalimat pun dari apa yang perlu kauketahui. Dia memberitahumu segalanya dan tidak membiarkan pengetahuanmu kurang. Namun, Dia menutup rapat sepenuhnya apa yang tidak perlu kauketahui. Dia tidak akan memberitahumu dan tidak akan mengganggu pemikiran dan pikiranmu. Di sisi lain, bagi makhluk fana, hal-hal dari alam roh adalah semacam misteri, fenomena yang aneh, atau hal-hal dari dunia yang berbeda. Dalam hati mereka, orang-orang ingin mengetahui sedikit tentang semua itu, tetapi apa yang dapat kaulakukan dengan pengetahuan seperti itu? Dapatkah engkau memverifikasinya? Dapatkah engkau menjadi bagian darinya? Banyak hal di alam roh yang bersifat rahasia dan tidak dapat disingkapkan sebelum waktunya. Ini adalah sesuatu yang tak seorang pun dapat ambil bagian di dalamnya. Mengetahui sejumlah hal saja sudah cukup. Tuhan berdaulat atas dunia ini dan manusia, dan ada terlalu banyak misteri. Yang harus kita pahami adalah firman Tuhan dan kebenaran, serta maksud-Nya; kita harus masuk ke dalam kenyataan kebenaran, mencapai ketundukan pada seluruh kedaulatan Tuhan yang dapat manusia akses, memahami dan mengenalinya, dan kemudian mampu takut akan Tuhan, mengakui Tuhan sebagai Penciptamu, mengakui fakta bahwa Tuhan berdaulat atas segalanya, dan akhirnya mampu mengucapkan perkataan yang Ayub ucapkan: "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). Apa yang harus orang alami untuk mencapai hasil ini? Mereka harus mengalami penghakiman dan hajaran, dipangkas, diuji, dan dimurnikan, serta mengalami segala macam keadaan yang Tuhan atur, dan melaluinya, mereka dapat mengetahui perbuatan Tuhan, mengetahui watak-Nya, memahami esensi Sang Pencipta, dan mampu membandingkan diri mereka terhadap firman Tuhan yang telah mereka baca atau khotbah yang telah mereka dengar. Pada akhirnya, seperti apa pun cara Tuhan memperlakukan mereka, entah Dia mengambil atau memberi, mereka memperoleh pemahaman yang cukup dan akurat tentang perbuatan Tuhan, dan tunduk serta menerimanya dengan cara yang sesuai dengan rasionalitas makhluk ciptaan. Inilah yang ingin Tuhan capai.

Mari kita kembali ke topik persekutuan untuk hari ini. Perwujudan orang yang mengejar kebenaran dan perwujudan orang yang tidak mengejar kebenaran pada dasarnya adalah ketiga tipe tersebut. Aku telah membuat perbedaan yang terperinci di antara ketiga tipe orang ini: tipe yang pertama adalah orang yang tidak memiliki pemahaman rohani; tipe yang kedua adalah orang yang memiliki pemahaman rohani tetapi tidak mengejar kebenaran; dan tipe yang ketiga adalah orang yang memiliki pemahaman rohani dan mengejar kebenaran. Dari ketiga tipe orang tersebut, manakah yang memiliki harapan untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan dapat memperoleh keselamatan? (Tipe yang ketiga.) Tipe orang yang manakah yang memiliki harapan untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran, artinya mereka dapat berkembang dan berubah menjadi orang yang memiliki kenyataan kebenaran? (Tipe yang kedua.) Dalam hal ini, apakah tipe orang yang pertama telah secara efektif dijatuhi hukuman mati? Dapatkah orang yang tidak memiliki pemahaman rohani berubah menjadi orang yang memiliki pemahaman rohani, atau yang memiliki setengah pemahaman? Ada sedikit harapan bagi mereka yang tidak memiliki pemahaman rohani untuk menjadi orang yang memiliki setengah pemahaman; ini lebih baik daripada tidak memiliki pemahaman rohani sama sekali. Dari ketiga tipe orang ini, manakah yang memiliki harapan yang lebih besar untuk diselamatkan? (Tipe yang ketiga.) Bagaimana dengan tipe orang yang kedua? (Itu tergantung pada pengejaran pribadi mereka. Jika mereka mampu sungguh-sungguh berbalik, bertobat, dan mengejar kebenaran, mereka dapat memiliki harapan untuk diselamatkan.) Biar Kukatakan sejujurnya kepada engkau semua. Engkau semua masih belum sepenuhnya memahami tipe orang yang kedua. Meskipun tipe orang yang kedua memiliki pemahaman rohani, mereka semua adalah orang-orang yang tidak mengejar kebenaran, dan ini sangat penting. Entah mereka memiliki pemahaman rohani atau tidak, selama mereka tidak mengejar kebenaran, mereka sama sekali tidak dapat memperoleh keselamatan. Hal yang ingin Kutekankan di sini adalah tipe orang yang pertama, yaitu mereka yang tidak memiliki pemahaman rohani. Misalkan saja mereka tidak memiliki pemahaman rohani tetapi mereka memiliki kemanusiaan yang baik, dan mereka mengorbankan diri mereka untuk Tuhan dengan sukarela, mengindahkan apa pun yang Tuhan katakan, dan memiliki hati yang tunduk, hanya saja mereka tidak memiliki kemampuan memahami dalam hal kebenaran, tetapi mereka dapat memahami beberapa firman Tuhan dan memeriksa diri mereka sendiri dengan firman Tuhan, lalu menerapkan dan masuk ke dalamnya. Orang-orang semacam itu memiliki harapan untuk diselamatkan. Perlahan-lahan mereka dapat memiliki pemahaman rohani dengan menjalani pengalaman seperti itu selama beberapa waktu. Makin dengan sungguh-sungguh mereka membaca firman Tuhan, makin Roh Kudus mencerahkan mereka; mereka mampu membandingkan apa pun yang mereka pahami tentang firman Tuhan dengan keadaan mereka sendiri, menerima pemangkasan Tuhan, penghakiman, hajaran, ujian dan pemurnian Tuhan, membayar harga untuk hal ini, dan pada akhirnya, mencapai beberapa perubahan yang sesuai dalam watak mereka. Orang-orang semacam itu juga terhitung sebagai orang-orang yang mengejar kebenaran. Jika mereka dianggap sebagai orang yang mengejar kebenaran, apakah mereka memiliki harapan untuk diselamatkan? (Ya.) Tentu saja, maka orang-orang semacam itu tidak dapat diserahkan kepada kematian. Sebaliknya, sulit untuk mengatakan apa kesudahan orang-orang yang mampu memahami kebenaran dan membandingkan diri mereka terhadap kebenaran, tetapi tidak pernah masuk ke dalamnya. Apa sumber masalah ini? (Sikap mereka terhadap kebenaran.) Sikap mereka terhadap kebenaran adalah sikap tidak hormat dan menghina. Apa yang dimaksud dengan "menghina"? Itu berarti tidak menerima kebenaran; itu berarti memandang rendah kebenaran. Itu berarti tidak mengakui firman Tuhan sebagai kebenaran dan tidak menganggapnya serius. Sebanyak apa pun mereka memahami apa yang mereka dengar, mereka tidak menerapkan kebenaran; dan sejauh mana pun mereka membandingkan diri mereka sendiri terhadap kebenaran, sekalipun mereka mengetahui orang macam apa mereka, mereka tetap tidak bertobat. Meskipun mereka tahu bahwa aspek terpenting dalam percaya kepada Tuhan adalah menerapkan kebenaran, kata "menerapkan" tidak relevan bagi orang-orang semacam itu. Orang-orang semacam itu tidak mudah untuk diselamatkan.

Sekarang, bagaimana kita mendefinisikan mengejar kebenaran? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mengejar kebenaran? Siapa yang bisa memberitahu-Ku? (Mampu menerima firman Tuhan, menggunakan firman Tuhan untuk merenungkan diri sendiri dan membandingkannya dengan diri sendiri, serta memiliki jalan masuk kehidupan. Hanya ini yang terhitung sebagai mengejar kebenaran.) Benar. Hanya dengan mampu menerima kebenaran dan menerapkan kebenaran, barulah seseorang menjadi orang yang mengejar kebenaran. Jika dia tidak menerima firman Tuhan dan tidak mampu merenungkan dirinya sendiri, dia tidak akan memiliki jalan masuk kehidupan, dan bukan orang yang mengejar kebenaran. Oleh karena itu, ada hubungan langsung antara mengejar kebenaran dan jalan masuk kehidupan. Jika seseorang mampu mengucapkan banyak kata-kata dan doktrin, tetapi tidak pernah menerapkan kebenaran, tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, dan sekalipun dia tahu betul bahwa sesuatu adalah kedaulatan dan pengaturan Tuhan serta berasal dari Tuhan, dia tidak tunduk, dan dia menentang, menghakimi, dan terus memberontak, serta tetap hidup berdasarkan falsafah Iblis, dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan preferensinya sendiri, itu berarti dia bukanlah orang yang mengejar kebenaran. Ada orang yang memiliki pemahaman rohani dan mampu memahami firman Tuhan, tetapi tidak mencintai kebenaran, sehingga dia tidak menerapkan kebenaran. Orang semacam itu bukanlah orang yang mengejar kebenaran. Ada orang yang mau mengejar kebenaran, tetapi kualitasnya terlalu buruk, dan dia tidak mampu mencapai kebenaran. Akibatnya, dia percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi tidak mampu memahami kebenaran. Apakah orang semacam ini adalah orang yang mengejar kebenaran? Tidak. Apa perwujudan utama dari orang yang tidak mengejar kebenaran? Perwujudan utamanya adalah dia tidak membaca firman Tuhan dan tidak mau berdoa kepada Tuhan, apalagi mempersekutukan kebenaran, dan bahkan tidak mau menghadiri pertemuan atau mendengarkan khotbah. Ketika dia mendengarkan khotbah, dia merasa seolah-olah setiap kata ditujukan kepadanya, dan menyingkapkannya, sehingga membuatnya merasa terhimpit dan tidak nyaman. Jadi, setiap kali tiba waktunya untuk mendengarkan khotbah, dia hanya ingin tidur atau mengobrol ke sana kemari. Ada banyak orang seperti ini. Mereka hanya percaya kepada Tuhan agar diberkati, bukan untuk menerima kebenaran, memperoleh kebenaran, membuang kerusakan mereka, hidup dalam keserupaan dengan manusia, atau memperoleh keselamatan dari Tuhan. Sumber permasalahannya terutama adalah karena mereka tidak mencintai kebenaran dan tidak tertarik akan kebenaran. Mereka percaya kepada Tuhan hanya untuk memperoleh berkat. Inilah satu-satunya fokus kerinduan mereka. Demi memperoleh berkat, mereka dapat melakukan pelayanan dan menyerahkan segalanya, tetapi mereka tidak mampu menerima kebenaran dan tidak tertarik akan kebenaran. Mereka menganggap bahwa memahami doktrin saja sudah cukup, bahwa mengurangi perbuatan jahat berarti mereka telah berubah, dan bahwa berjerih payah, menyerahkan segalanya, dan terlebih lagi, menderita, membuat mereka memenuhi syarat untuk diberkati. Inilah pandangan mereka tentang kepercayaan kepada Tuhan. Oleh karena itu, seberapa pun lamanya mereka percaya, sebanyak apa pun doktrin yang mereka pahami dan mampu khotbahkan, dan sebanyak apa pun perkataan yang selaras dengan kebenaran yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak pernah mampu menerapkan kebenaran, watak yang mereka perlihatkan tetap keras kepala, menuruti keinginannya sendiri, dan tak terkendali, mereka melindungi harga diri dan kepentingan mereka di setiap kesempatan, mereka sangat egois dan hina, dan bahkan ketika mereka ditegur atau dipangkas, mereka tidak dapat menerimanya, dan tidak memiliki sedikit pun ketundukan. Orang-orang semacam itu berbuat sekehendak hati mereka; mereka tidak berunding dengan orang lain sebelum mengambil tindakan, dan sekalipun mereka berunding dengan orang lain, itu hanya jika mereka tidak memiliki pilihan lain dan hanya sekadar formalitas. Mereka berbicara berputar-putar, bertele-tele, dan pada akhirnya tetap membuat orang lain melakukan apa yang mereka katakan. Watak apakah yang tersingkap ketika bertindak dengan cara seperti ini? (Watak yang licik dan suka menipu.) Ini bukan hanya watak yang licik dan suka menipu; ada sesuatu yang jauh lebih parah. Betapapun menyenangkannya perkataan mereka saat menasihati orang lain, menjelaskan bahwa ini adalah pengaturan rumah Tuhan dan membuat orang lain tunduk, jika menyangkut diri mereka sendiri, ini bukanlah cara mereka melakukannya. Sebaliknya, mereka keras kepala dan memberontak, tidak tunduk, dan tidak mampu tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Selain itu, bagaimana perwujudan mereka ketika berinteraksi dengan orang lain? Mereka bertindak berdasarkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, mencari keuntungan di setiap kesempatan dan melindungi hubungan pribadi mereka. Orang tipe ini memiliki watak yang sangat berbahaya dan licik. Apa hasil akhir dari watak yang sangat berbahaya dan licik ini? Hasil akhirnya adalah kejahatan. Biasanya tidak mudah bagi orang untuk mengenali watak yang jahat. Ketika orang dengan watak yang jahat berbicara dengan orang lain, selalu ada unsur pencobaan dan menggali informasi. Dia tidak mengatakan apa pun secara langsung, dan meskipun dia membuka diri, tujuannya hanya untuk membuatmu mengutarakan isi hatimu. Dia tidak pernah mengungkapkan apa pun yang nyata tentang dirinya sendiri. Ada orang-orang yang berkata, "Bagaimana mungkin Engkau bisa berkata bahwa dia tidak pernah mengungkapkan apa pun yang nyata tentang dirinya? Dia selalu bersekutu dengan orang-orang mengenai watak rusak yang dia perlihatkan." Apa gunanya sedikit persekutuan itu? Dia tidak memberi tahu siapa pun tentang apa yang sebenarnya dia pikirkan di dalam hatinya. Selain itu, dia menggunakan segala macam taktik dan metode, atau segala macam ungkapan untuk menutupi dan menyamarkan siapa dirinya, serta menampilkan citra palsu kepada orang-orang. Jika ada orang-orang yang mengetahui seperti apa dirinya sebenarnya, dan mengetahui hal-hal buruk yang dia lakukan, dia hanya berpura-pura dan mengucapkan beberapa kata penyesalan, menggunakan metode yang menyesatkan untuk membuat orang percaya bahwa dia telah bertobat dan berubah. Jika dia kembali melakukan sesuatu yang buruk dan perbuatan buruknya tersingkap, membiarkan orang lain melihat bahwa dia sebenarnya adalah orang yang jahat, dia akan memutar otak dan memikirkan segala cara untuk menutupi perbuatan buruknya dan membuat orang tetap memperlakukannya sebagai saudara atau saudari. Watak apakah ini? Ini adalah watak yang jahat. Orang-orang yang memiliki watak yang jahat seperti ini bukan saja tidak menerima kebenaran dengan cara apa pun, tetapi mereka juga ahli dalam berpura-pura, dan selalu pandai berdalih atau membenarkan diri mereka sendiri. Mereka adalah orang Farisi yang munafik. Yang paling ditakuti oleh tipe orang seperti ini adalah orang-orang yang mempersekutukan kebenaran, orang-orang membuka hati mereka untuk mengetahui dan menelaah diri mereka sendiri, atau orang-orang yang menyingkapkan fakta yang sebenarnya dari suatu hal dan dengan demikian menyingkapkan dirinya. Setiap kali seseorang mempersekutukan kebenaran, dia menjadi sangat terganggu dan tidak ingin mendengarkan; hatinya menentangnya dan merasa jijik terhadapnya. Ini sepenuhnya menyingkapkan aspek buruk mereka yang muak akan kebenaran. Selain memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya, tipe orang seperti ini juga memiliki masalah lain, yaitu mereka memiliki sikap yang menentang dan memandang rendah hal-hal positif dan pandangan yang benar, khususnya terhadap perkataan yang sesuai dengan kebenaran. Jika menyangkut hal positif apa pun atau perkataan apa pun yang sesuai dengan kebenaran, selama itu bukan hal yang dia anggap baik atau tidak diucapkan olehnya, melainkan oleh orang lain, dia tidak akan menerimanya. Watak apakah ini? Watak yang bodoh, keras kepala, dan bebal. Bagaimana seharusnya engkau menilai apakah seseorang mengejar kebenaran atau tidak? Hal utama yang harus dilihat adalah apa yang mereka singkapkan dan wujudkan dalam pelaksanaan tugas dan tindakan mereka sehari-hari. Berdasarkan hal ini, engkau dapat melihat watak seseorang. Dari wataknya, engkau dapat melihat apakah dia telah mencapai perubahan apa pun atau memperoleh jalan masuk kehidupan. Jika seseorang tidak memperlihatkan apa pun kecuali watak rusaknya ketika bertindak dan sama sekali tidak memiliki kenyataan kebenaran, dia pasti bukan orang yang mengejar kebenaran. Apakah orang yang tidak mengejar kebenaran memiliki jalan masuk kehidupan? Tidak, tentu saja tidak. Hal-hal yang dia lakukan setiap hari, kesibukannya, pengorbanan, penderitaan, harga yang dia bayar, apa pun yang dia lakukan, semua hanyalah berjerih payah dan dia adalah orang yang berjerih payah. Seberapa pun lamanya seseorang telah percaya kepada Tuhan, yang terpenting adalah apakah dia mencintai kebenaran atau tidak. Apa yang dicintai dan dikejar seseorang dapat dilihat dari apa yang paling dia suka lakukan. Jika sebagian besar hal yang seseorang lakukan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan tuntutan Tuhan, dia adalah orang yang mencintai dan mengejar kebenaran. Jika dia mampu menerapkan kebenaran, dan hal-hal yang dia lakukan setiap hari adalah melaksanakan tugasnya, itu berarti dia memiliki jalan masuk kehidupan, dan memiliki kenyataan kebenaran. Tindakannya mungkin tidak tepat dalam hal-hal tertentu, atau dia mungkin tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran secara akurat atau dia mungkin sedikit prasangka yang keras kepala dalam hal ini, atau terkadang dia mungkin congkak dan merasa diri benar, bersikeras dengan caranya sendiri, dan tidak mau menerima kebenaran, tetapi jika kemudian dia mampu bertobat dan menerapkan kebenaran, ini membuktikan tanpa keraguan bahwa dia memiliki jalan masuk kehidupan dan mengejar kebenaran. Jika apa yang seseorang perlihatkan dalam pelaksanaan tugasnya tak lain hanyalah watak rusaknya, mulut yang penuh kebohongan, kesombongan, memuaskan keinginannya sendiri, keangkuhan yang berlebihan, bertindak sekehendak hatinya, dan melakukan apa pun yang dia sukai, dan sebagainya. Seberapa pun lamanya dia telah percaya kepada Tuhan atau sebanyak apa pun khotbah yang telah dia dengar, pada akhirnya tidak ada perubahan sedikit pun dalam watak rusak tersebut, maka orang ini pasti bukan orang yang mengejar kebenaran. Ada banyak orang yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, yang secara lahiriah bukanlah orang yang jahat dan bahkan memiliki beberapa perilaku yang baik. Mereka percaya kepada Tuhan dengan sangat penuh semangat, tetapi watak hidup mereka tidak berubah sama sekali, dan mereka bahkan tidak memiliki sedikit pun kesaksian pengalaman untuk dibagikan. Bukankah orang-orang semacam itu menyedihkan? Setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka tidak mampu menyampaikan bahkan sedikit pun kesaksian pengalaman mereka. Ini murni orang yang berjerih payah. Mereka sungguh menyedihkan! Singkatnya, untuk menilai apakah seseorang mengejar kebenaran dan memiliki jalan masuk kehidupan atau tidak, engkau harus melihat watak dan esensinya sebagaimana yang diperlihatkan dan disingkapkan oleh mereka, dan melihat apakah ada perubahan dalam wataknya. Selalu mengucapkan kata-kata dan doktrin, serta terlibat dalam penyamaran dan penipuan, tidak dapat dipertahankan untuk waktu yang lama. Dia hanya merugikan dirinya sendiri, tanpa menipu orang lain. Mereka yang tidak menerima kebenaran dan tidak mengejar kebenaran cepat atau lambat akan disingkapkan dan disingkirkan. Hanya mereka yang menerima dan menerapkan kebenaran yang dapat memperoleh jalan masuk kehidupan dan mengalami perubahan watak.

Aku telah selesai bersekutu tentang apa yang dimaksud dengan jalan masuk kehidupan, apa yang dimaksud dengan mengejar kebenaran, dan berbagai perwujudan dari orang yang mengejar kebenaran. Orang-orang harus memeriksa diri mereka berdasarkan hal-hal ini, dan ketika mereka memahami kebenaran, mereka harus menerapkannya. Apa kesulitan terbesar bagi sebagian besar orang yang percaya kepada Tuhan? Mereka memahami kebenaran, tetapi tidak menerapkannya. Meskipun mereka mampu membandingkan diri mereka sendiri terhadap firman Tuhan setelah membacanya dan mampu memperoleh sedikit pengenalan akan diri mereka sendiri, mengapa mereka tidak mampu menerapkan kebenaran? Sebagian besar orang tidak dapat menemukan alasannya. Sebagai contoh, semua orang memiliki watak yang congkak, mereka semua sangat congkak dan merasa diri benar. Sebagian besar orang mampu mengenali hal ini, tetapi dapatkah mereka menghindarkan diri mereka memperlihatkan kecongkakan mereka? Hal ini tidak mudah untuk dicapai. Meskipun mereka mampu membandingkan diri mereka sendiri terhadap firman Tuhan setelah membacanya, mereka mengakui bahwa mereka memiliki watak yang congkak, dan mereka memiliki jalan untuk penerapan, hal yang sulit adalah bahwa setiap kali mereka melakukan sesuatu, mereka sering kali memiliki preferensi, niat, dan tujuan mereka sendiri, serta tidak dapat melihat bahwa semua ini ada kaitannya dengan watak rusak mereka. Mereka harus belajar untuk mengenali yang sebenarnya mengenai hal-hal ini, dan harus memahami kebenaran, memperbaiki apa yang harus diperbaiki, dan melepaskan apa yang harus dilepaskan. Artinya, mereka tidak boleh lagi melakukan segala sesuatu demi niat, keinginan, harga diri, status, dan kepentingan mereka. Mereka harus menghentikan perbuatan jahat mereka, dan menahan diri agar tidak mengucapkan kalimat lain atau melakukan perbuatan lain untuk kepentingan mereka sendiri. Jika engkau melakukannya, engkau sudah memperoleh hati yang bertobat dan mulai mengubah sisi negatifmu. Jika engkau lebih berinisiatif, dan selain tidak berbicara demi kepentinganmu sendiri, engkau juga mampu menelaah dirimu sendiri, membiarkan saudara-saudari melihat perwujudan watak congkakmu agar mereka dapat belajar darinya, memetik beberapa pelajaran, mengambil manfaat darinya, dan menemukan jalan penerapan, itu akan jauh lebih baik. Apa hal yang sulit? Hal yang sulit adalah melepaskan semua niat, tujuan, ambisi, keinginan dan kepentingan, tidak melakukan segala sesuatu demi kepentingan dirimu sendiri, dan tidak menyibukkan diri atau terburu-buru demi kepentingan dirimu sendiri. Paulus berkata bahwa dia telah menyelesaikan perlombaannya. Untuk siapa dia menjalankan perlombaan ini? (Dia menjalankannya agar dia dapat diberkati dan memperoleh mahkota.) Namun, Paulus tidak memiliki pemahaman ini. Sangatlah mungkin dia masih menganggap bahwa dia menjalankan perlombaan untuk Tuhan dan menyelesaikan amanat Tuhan, tentu saja bukan demi kepentingan dirinya sendiri. Itu sebabnya dia berani pamer dan bersaksi tentang dirinya sendiri dengan cara yang sombong dan tidak tahu malu. Jelas sekali, dia membela dan membenarkan dirinya sendiri. Ini juga sekaligus merupakan bukti terbaik bahwa dia bersaksi bahwa baginya hidup adalah kristus. Dia secara terang-terangan bersaksi tentang dirinya sendiri dan menentang kebenaran; dia menghujat kebenaran. Kini ada banyak orang yang memuja Paulus, yang hatinya dipenuhi dengan ambisi dan keinginan, yang semuanya ingin bersaksi tentang diri mereka sendiri: "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Dengan melakukannya, bukankah mereka memberikan kebebasan pada keinginan dan ambisi mereka, membiarkannya terus berkembang, memperlihatkannya dalam setiap situasi agar dapat diwujudkan? Jika engkau tidak dapat mengatasi keinginanmu, maka semuanya sudah berakhir bagimu; engkau tidak akan dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Apa inti dari masalah ini? (Kami harus memberontak terhadap niat kami.) Memberontak terhadap niatmu adalah cara penerapan yang negatif. Engkau juga harus mampu secara aktif menyingkapkannya, sama seperti menyingkapkan orang lain. Jika engkau mengatakan sesuatu seperti, "Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang diriku yang sebenarnya: aku memiliki ambisi yang sangat berlebihan dan aku ingin memenangkan hati kalian. Saat ini aku membuka diriku untuk kalian semua. Aku bersedia memberontak terhadap daging; aku tidak akan menjadi kaki tangan Iblis. Tujuanku menyingkapkan diriku dengan cara ini adalah agar kalian dapat melihat diriku yang sebenarnya dengan jelas, jadi kau tidak akan memujaku." Apa dampak dari melakukan penerapan seperti ini? Semua orang pasti akan mengagumimu. Bukankah ini jauh lebih baik daripada pemujaan dan penghormatan yang kauperoleh sebagai ganti karena menggunakan segala macam taktik yang tercela? (Ya.) Setidaknya ini positif. Meskipun semua orang akan sedikit mengagumimu, akankah mereka menghormatimu? Mungkin ada beberapa orang yang akan menghormatimu, tetapi engkau harus menemukan cara untuk membuat mereka meninggalkan perilaku ini. Selalu menyingkapkan dirimu, dengan berkata, "Aku pun pemberontak dan pemberontakanku lebih parah daripada pemberontakan kalian. Aku juga licik dan jahat. Ketika aku berbicara pada waktu itu, aku memiliki tujuan dalam pikiranku, yaitu membuat kalian menghormatiku dan tidak memandang rendah diriku." Setelah semua orang mendengar perkataanmu, mereka bukan saja tidak akan memandang rendah dirimu di dalam hati mereka, tetapi mereka juga akan makin menghormatimu. Ini adalah cara penerapan yang tulus. Hanya orang yang mencintai kebenaran yang akan melakukannya; orang yang tidak mencintai kebenaran tidak mampu melakukannya apa pun yang terjadi. Jika, di dalam hatimu, engkau menganggap bahwa melakukannya benar-benar baik dan merupakan hak istimewa yang luar biasa, bahwa itu menyenangkan hati Tuhan, dan engkau bercita-cita untuk bertindak seperti itu; jika engkau memiliki keinginan yang kuat di dalam hatimu, meyakini bahwa engkau harus melakukannya dan bahwa engkau harus menjadi orang yang semacam ini, yaitu orang yang tulus, jujur, dan di mana tidak ada kebohongan dalam perkataannya, orang yang benar-benar memberontak terhadap watak rusaknya dan Iblis, baru setelah itulah engkau akan menjadi jenis orang yang benar-benar hidup dalam terang. Dan jika engkau tertarik dan suka menjadi orang semacam ini, engkau akan mampu mencintai kebenaran, masuk ke dalam kebenaran, dan melepaskan hal-hal yang berasal dari Iblis. Namun, jika engkau masih tertarik pada niat, tujuan, ambisi, keinginan, dan kepentinganmu, serta masih terikat dengan kegemaran mengejar pengetahuan, ketenaran, keuntungan, dan status, maka hal-hal tersebut masih memiliki tempat di hatimu. Engkau berkata, "Bersabarlah. Lihat saja nanti sampai aku memiliki tingkat pertumbuhan yang benar." Ini disebut memuaskan keinginanmu sendiri dan tidak mampu memberontak terhadap dirimu sendiri. Dengan memuaskan keinginanmu sendiri seperti ini, jalan masuk kehidupanmu melambat, dan bukan hanya masalah nafsu keinginan daging dan keinginan akan manfaat status yang tidak dibereskan, tetapi semua hal ini telah menjadi makin keras kepala. Jadi, dapatkah hal-hal yang ada di hatimu yang merupakan milik Iblis ditahirkan sepenuhnya? Masih dapatkah pengalaman hidupmu diperdalam dan hidupmu terus bertumbuh? Masih dapatkah engkau mencapai penyempurnaan oleh Tuhan? Engkau telah terjerumus ke dalam kesenangan daging, dan manfaat status telah mengikatmu erat-erat, masih dapatkah engkau melepaskan diri dari semua hal tersebut? Engkau tidak ingin melepaskan dirimu; perlahan-lahan, engkau menjadi seseorang yang menyesatkan orang. Itu akan menyusahkan dan dosamu akan serius. Mengapa semuanya berakhir seperti itu bagi Paulus? Itu karena dia sama sekali tidak mengejar kebenaran. Dia selalu mengejar cita-cita dan kerinduannya, serta ingin mengendalikan umat pilihan Tuhan agar mereka semua mengikutinya dan melakukan apa yang dia lakukan. Dia juga ingin menggunakan kerja keras dan membayar harga sebagai pengaruh untuk bertransaksi dengan Tuhan, dan memperoleh upah serta mahkota. Pada akhirnya, dia dihukum oleh Tuhan. Jika jalan yang seseorang tempuh sama persis dengan jalan yang Paulus tempuh, maka dia sudah tidak dapat ditolong dan sudah tamat riwayatnya. Siapa pun yang sejenis dengan Paulus adalah antikristus yang tidak akan bertobat apa pun yang terjadi. Jika engkau hanya memiliki beberapa keadaan yang Paulus miliki, tetapi tujuan yang kaukejar sedikit berbeda dengan tujuan Paulus, maka engkau harus segera bertobat, dan mungkin engkau belum terlambat. Jika engkau melakukan seperti yang Paulus lakukan, memuja Paulus, dan sama persis seperti Paulus, maka engkau bukan saja pengikut yang bukan orang percaya, tetapi engkau juga ingin menjadi Tuhan dan menjadi Kristus. Bukankah ini ingin menjadi setara dengan Tuhan? Di dalam hatimu, engkau menyembah tuhan yang samar di Surga; engkau ingin menjadi setara dengan Kristus, dan bahkan memperlakukan karunia dan pengetahuanmu sebagai kehidupan, serta memperlakukan pengejaran yang tidak benar sebagai pengejaran yang benar. Tujuan yang kaukejar, dan cara pengejaranmu makin lama makin dekat dengan cara pengejaran Paulus, serta makin sempurna menyamai pengejaran Paulus. Ini akan menjadi masalah bagimu; engkau benar-benar tidak ada harapan dan engkau tidak dapat diselamatkan. Engkau harus melakukan seperti yang Petrus lakukan dan mengikuti jalan mengejar kebenaran, sepenuhnya memberontak terhadap daging, dan memberontak terhadap hal-hal yang berasal dari Iblis, dan hanya dengan cara demikianlah engkau akan memiliki harapan untuk diselamatkan. Apakah sekarang engkau semua memiliki jalan untuk menerima keselamatan? (Terus-menerus menyingkapkan diri kami sendiri dan melepaskan diri kami sendiri.) Pertama, engkau harus melepaskan niat, tujuan, ambisi, dan keinginan pribadimu. Baik engkau mengejar secara aktif, maupun mengejar secara negatif dan pasif, engkau harus melepaskan hal-hal ini dan belajar untuk tunduk. Ini adalah hal yang terpenting. Jika engkau memutuskan untuk bertindak dengan cara tertentu ketika sesuatu menimpamu, engkau harus terlebih dahulu mengevaluasi untuk apa engkau bertindak seperti itu. Jika itu demi harga diri dan status, maka berhentilah di sana, dan perlambatlah langkah yang kauambil untuk bertindak. Engkau harus berdoa: "Tuhan, aku tidak bersedia melakukannya. Aku ingin memberontak terhadapnya, tetapi aku tidak memiliki kekuatan. Kumohon berilah aku kekuatan, lindungilah aku, dan hentikanlah perbuatan jahatku." Lalu, tanpa sadar, engkau akan memiliki kekuatan. Terkadang kemampuan manusia untuk mengalahkan dosa, memberontak terhadap daging, dan memberontak terhadap watak rusak mereka berasal dari keinginan dan tekad mereka, serta hasrat mereka untuk mencintai kebenaran. Terkadang, hal ini membutuhkan pekerjaan Tuhan, dan mengandalkan Tuhan. Manusia tidak dapat meninggalkan Tuhan. Terkadang engkau memahami kebenaran, engkau memiliki jalan untuk ditempuh, dan engkau menganggap bahwa engkau dapat hidup secara mandiri, tetapi ketika engkau dihadapkan dengan keadaan yang baru, engkau tidak tahu bagaimana melakukan penerapan. Engkau harus berdoa kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya. Kehidupan manusia penuh dengan pasang surut. Dapat dikatakan bahwa manusia tidak akan pernah dapat hidup tanpa Tuhan. Sebanyak apa pun kebenaran yang mereka pahami, mereka tidak dapat meninggalkan-Nya. Sebanyak apa pun momen kenegatifan yang mereka miliki, atau sebanyak apa pun momen kepasifan yang mereka miliki, pada akhirnya mereka tidak dapat meninggalkan kepemimpinan dan bimbingan Tuhan. Makin sering engkau tunduk kepada Tuhan, makin kenyataan kebenaranmu akan meningkat. Ketika kenyataan kebenaranmu meningkat, ini menyiratkan bahwa jalan masuk kehidupanmu menjadi makin dalam. Ketika jalan masuk kehidupanmu menjadi makin dalam, ini berarti watakmu makin berubah. Ketika watakmu telah banyak berubah, itu berarti engkau telah memperoleh tingkat pertumbuhan. Tingkat pertumbuhanmu merepresentasikan jalan masuk kehidupanmu. Ketika engkau memiliki tingkat pertumbuhan, engkau dapat mengatasi kendali dan belenggu dari watakmu yang rusak terhadap dirimu, kemampuanmu untuk mengatasi dosa akan bertumbuh makin kuat, dan hatimu akan memiliki kekuatan. Engkau tidak hanya akan memiliki keinginan, harapan, dan cita-cita yang afektif; engkau tidak akan berlama-lama di tingkat ini. Sebaliknya, engkau akan naik, dan tumbuh menjadi dewasa, menjadi seseorang yang memiliki kebenaran dan kemanusiaan. Inilah jalan mengejar kebenaran dan juga merupakan hasil dari mengejar kebenaran. Dapatkah engkau semua melihat arahnya? Dapatkah engkau melihat harapan? (Ya.) Itu adalah hal yang baik.

Jalan masuk kehidupan adalah proses yang tidak pernah berakhir. Engkau harus mengalaminya seumur hidup untuk memperoleh manfaat darinya dan mengalami perubahan. Sekalipun engkau menempuh jalan mengejar kebenaran, jika engkau masih mendambakan kesenangan daging dan manfaat status, engkau tetap akan tersandung dan gagal. Sekarang jalanmu benar dan engkau telah menemukan arahmu. Engkau telah membedakan dengan jelas hal-hal yang tidak benar, pasif, bertentangan, dan negatif. Ada batasan antara dirimu dan semua hal ini. Mengenai hal-hal positif, engkau juga telah memahami dan memperoleh sangat banyak darinya, serta telah mampu memahami dan menerima sangat banyak. Yang tersisa setelah memperoleh kemampuan membedakan hal-hal dan tindakan yang salah, jahat, dan negatif ini, adalah membuang sepenuhnya hal-hal ini dari hatimu, sepenuhnya meninggalkan dan memberontak terhadapnya, serta kemudian menerapkannya berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Dengan demikian, engkau akan memiliki jalan masuk kehidupan. Jalan masuk kehidupan sebenarnya tidaklah sulit; itu hanya tergantung pada apakah engkau benar-benar mencintai kebenaran atau tidak. Jika engkau benar-benar mencintai kebenaran, semua hal negatif ini tidak akan mampu mengalahkanmu. Engkau mungkin pasif dan lemah selama beberapa waktu, tetapi tetap mampu terus bergerak maju. Jika engkau tidak mencintai kebenaran, atau engkau tidak begitu mencintai kebenaran, hanya berfokus pada formalitas lahiriah, mengorbankan sedikit dari dirimu dan memberikan sedikit dari dirimu, mampu bangun pagi-pagi dan tidur larut malam untuk melaksanakan tugasmu; jika engkau hanya berlama-lama pada tahap berjerih payah, tidak ingin memperoleh pemahaman tentang kebenaran atau masuk ke dalam kenyataan, hanya puas dengan mengorbankan dirimu untuk Tuhan dan tidak melakukan pelanggaran besar, dan engkau terhenti serta tidak bergerak maju, apa yang akan menjadi konsekuensi dari semua ini? Engkau pasti tidak akan menerima perkenanan Tuhan. Jika engkau ingin pengejaranmu akan kebenaran berhasil, dan benar-benar ingin memperoleh hidup, itu bukanlah hal yang mudah. Engkau harus melepaskan kepentinganmu sendiri dan meninggalkan semua pengejaran yang tidak benar, seperti mengejar ketenaran, keuntungan, dan status, mengejar berkat, atau mengejar mahkota atau upah. Semua ini harus dilepaskan. Jika engkau benar-benar mencintai kebenaran dan suka merenungkan firman Tuhan, jalan masuk kehidupan tidak akan menjadi hal yang sulit bagimu. Asalkan engkau memahami kebenaran, engkau akan dengan sendirinya memiliki jalan dan tidak akan mengalami banyak kesulitan.

21 Juni 2018

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp