Jalan untuk Mengatasi Watak yang Rusak (Bagian Satu)
Apa pun yang kaulakukan, engkau harus belajar bagaimana mencari dan tunduk pada kebenaran; siapa pun yang memberimu nasihat, jika itu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, maka sekalipun nasihat itu berasal dari seorang anak kecil, engkau harus menerimanya dan tunduk padanya. Masalah apa pun yang seseorang hadapi, jika perkataan dan nasihatnya sepenuhnya sesuai dengan prinsip kebenaran, engkau harus menerimanya dan tunduk padanya. Hasil dari bertindak seperti ini akan baik dan sesuai dengan maksud Tuhan. Yang terpenting adalah engkau harus melihat motifmu, serta prinsip dan caramu dalam menangani segala sesuatu. Jika prinsip dan caramu dalam menangani segala sesuatu berasal dari kehendak manusia, dari pikiran dan gagasan manusia, atau dari falsafah Iblis, maka prinsip dan cara itu tidak praktis, dan pasti tidak akan efektif. Ini karena sumber prinsip dan caramu itu tidak benar dan tidak sesuai dengan prinsip kebenaran. Jika pandanganmu berdasarkan prinsip kebenaran, dan engkau menangani segala sesuatu sesuai dengan prinsip kebenaran, tak diragukan lagi engkau akan menanganinya dengan cara yang benar. Sekalipun ada orang-orang yang tidak menerima caramu dalam menangani sesuatu saat itu, atau mereka mempunyai gagasan tertentu mengenainya, atau mereka menentangnya, sesudah beberapa waktu, caramu akan terbukti benar. Segala sesuatu yang sesuai dengan prinsip kebenaran membuahkan hasil yang makin positif, sedangkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip kebenaran menimbulkan akibat yang makin negatif, sekalipun itu sesuai dengan gagasan orang pada saat itu. Semua orang akan menerima penegasan akan hal ini. Engkau tidak boleh tunduk pada batasan manusia dalam apa pun yang kaulakukan, dan engkau tidak boleh mengambil keputusanmu sendiri; engkau harus terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran, kemudian mengeksplorasi dan mempersekutukan masalah ini dengan semua orang. Apakah tujuan dari persekutuan? Tujuannya adalah agar engkau dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan maksud Tuhan dan bertindak sejalan dengan maksud Tuhan. Ini adalah cara yang agak muluk untuk mengatakannya, dan orang-orang tidak akan dapat memenuhinya. Secara konkret, tujuannya adalah agar engkau dapat melakukan segala sesuatu tepat sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Itu lebih nyata. Jika orang memenuhi standar ini, itu berarti mereka menerapkan kebenaran dan mengikuti kehendak Tuhan; mereka memiliki kenyataan kebenaran dan tidak akan ada keberatan dari siapa pun.
Ketika menghadapi suatu masalah, daripada berdebat, sebaiknya engkau mengesampingkan gagasan, imajinasi, dan keputusanmu terlebih dahulu—inilah akal sehat yang seharusnya orang miliki. Jika ada sesuatu yang tidak Kumengerti, dan itu bukan bidang keahlian-Ku, Aku akan berkonsultasi dengan seseorang yang ahli dalam bidang tersebut. Sesudah berkonsultasi dengannya, Aku akan mendapatkan gambaran dasar tentang hal tersebut. Namun, Aku harus mencari cara untuk menangani masalah itu sendiri, Aku tidak dapat sepenuhnya mendengarkan orang lain, dan Aku juga tidak boleh menangani masalah sepenuhnya berdasarkan imajinasi-Ku sendiri. Aku harus mencari cara untuk bertindak dengan cara yang bermanfaat bagi pekerjaan gereja dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Bukankah ini cara yang masuk akal dalam menangani segala sesuatu? Bukankah nalar seperti inilah yang harus dimiliki oleh orang yang normal? Mencari dan meminta nasihat dengan cara ini adalah benar. Misalkan engkau berpengetahuan dalam suatu bidang tertentu dan Aku berkonsultasi denganmu mengenainya, tetapi sesudah itu, engkau menuntut-Ku untuk mematuhi apa yang sudah kaukatakan dan bertindak sesuai dengan rencanamu—watak macam apa itu? Itu adalah watak yang congkak. Jadi, cara bertindak yang masuk akal seperti apa yang harus kaulakukan? Engkau seharusnya berkata: "Aku memiliki sedikit pengetahuan dalam bidang ini, tetapi itu tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Engkau dapat menganggap ini sebagai saran untuk dipertimbangkan, tetapi mengenai bagaimana tepatnya engkau harus bertindak, engkau harus lebih banyak mencari maksud Tuhan." Jika Aku meminta nasihat darimu dan engkau benar-benar menganggap dirimu memahami masalahnya, dan engkau menganggap dirimu luar biasa, maka ini adalah watak yang congkak. Natur congkak dapat memunculkan tanggapan dan perwujudan seperti ini dalam dirimu—ketika orang meminta nasihat darimu, engkau tiba-tiba kehilangan akal sehatmu; engkau kehilangan nalarmu sebagai manusia normal, dan tidak mampu memberikan penilaian yang benar. Ketika seseorang memperlihatkan watak yang rusak, nalar mereka tidak normal. Oleh karena itu, apa pun yang menimpamu, meskipun orang meminta nasihatmu, engkau tidak boleh lancang dan engkau harus memiliki nalar yang normal. Bagaimanakah cara yang normal untuk bertindak? Pada saat ini, engkau harus mempertimbangkan: "Meskipun aku memahami masalah ini, aku tidak boleh lancang. Aku harus menanganinya dengan menggunakan nalar kemanusiaan yang normal". Dengan datang ke hadirat Tuhan, engkau akan memiliki nalar kemanusiaan yang normal. Meskipun, terkadang engkau memperlihatkan perasaan berpuas diri tertentu, akan ada pengendalian diri dalam hatimu—watak rusak yang kauperlihatkan akan berkurang sebagian, dan pengaruh negatifmu terhadap orang lain akan jauh lebih sedikit. Namun, jika engkau bertindak berdasarkan watak congkakmu, selalu yakin bahwa engkau benar dan akibatnya memaksa orang lain untuk mendengarkanmu, ini menunjukkan bahwa engkau sangat tidak bernalar. Jika jalan yang kautunjukkan kepada orang lain adalah benar, mungkin segala sesuatunya akan baik-baik saja, tetapi jika jalanmu itu salah, itu akan mencelakai mereka. Jika seseorang meminta nasihat darimu mengenai masalah pribadi dan engkau mengarahkannya ke jalan yang salah, engkau hanya akan mencelakai satu orang. Namun, jika orang bertanya kepadamu tentang suatu masalah penting yang berkaitan dengan pekerjaan gereja dan engkau salah mengarahkan mereka, engkau akan mencelakai pekerjaan gereja, dan kepentingan rumah Tuhan akan dirugikan. Jika masalahnya serius dan menyinggung watak Tuhan, konsekuensinya tidak terbayangkan.
Dalam keadaan apa pun, begitu pemikiran dan gagasan yang rusak mulai muncul dalam diri orang, dan watak rusak mereka disingkapkan, itu bukanlah masalah sepele. Jika mereka tidak mencari kebenaran untuk membereskan kerusakan mereka, kerusakan tersebut tidak mungkin dapat disucikan. Namun, jika mereka mampu secara rasional mencari kebenaran dan memahami sumber penyebab perwujudan kerusakan mereka dengan menggunakan firman Tuhan, akan mudah bagi mereka untuk menyelesaikan masalah watak rusak mereka. Makin engkau kembali merenungkan dirimu untuk menanti dan mencari, akan makin mudah bagimu untuk menemukan firman Tuhan yang relevan untuk memahami esensi masalahnya. Dengan cara ini, perwujudan kerusakanmu akan makin berkurang, engkau akan mampu tunduk kepada Tuhan, engkau tidak akan lagi berbicara atau bertindak berdasarkan gagasan dan imajinasimu, dan kemanusiaanmu akan menjadi makin normal. Apa arti kemanusiaan yang normal? Itu berarti berbicara dan bertindak dengan cara yang sesuai dengan standar kemanusiaan normal, sesuai dengan hati nurani dan akal sehat, sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan standar yang Tuhan tuntut—seperti itulah perwujudan kemanusiaan yang normal. Oleh karena itu, apa pun yang menimpamu, engkau harus terlebih dahulu tenang, menenangkan dirimu di hadirat Tuhan, dan berdoa kepada-Nya, mencari cara untuk bertindak sesuai dengan maksud-Nya dalam masalah tersebut. Orang dengan kemanusiaan yang normal memiliki rasionalitas ini—apakah mereka mampu mengendalikan diri dan melakukan hal ini atau tidak, itu tergantung pada apakah engkau bersedia untuk menerapkan dengan cara ini atau tidak. Jika engkau selalu berusaha untuk pamer, menyombongkan diri, menonjolkan diri, dan menjadikan dirimu sebagai idola di hati orang lain, maka engkau sudah menyimpang dari Tuhan. Engkau tidak akan bisa kembali ke hadirat-Nya, dan di dalam hatimu, engkau sudah menentang-Nya. Engkau selalu ingin melakukan segala sesuatu berdasarkan gagasanmu sendiri, dan sesudah mencapai sesuatu, engkau merasa seolah-olah engkau sudah mencapai suatu prestasi besar, ambil bagian dalam suatu upaya besar, merasa dirimu mampu, bukan sekadar orang biasa, dan engkau berusaha menjadi manusia super dan tokoh yang hebat. Bertindak seperti ini menyusahkan dan engkau sedang tidak menempuh jalan yang benar. Orang yang tidak mengejar kebenaran adalah seperti ini; mereka bahkan tidak memiliki sedikit pun kemanusiaan yang normal dan mereka dipenuhi natur Iblis dalam diri mereka. Mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan mampu menerima kebenaran, mereka mau berusaha keras untuk memahami kebenaran, dan mereka menikmati hidup dalam keserupaan dengan manusia normal. Hal ini mengharuskanmu untuk berusaha mengejar kebenaran, sering membaca firman Tuhan, dan lebih banyak membaca firman-Nya, membiarkan firman itu meresap ke dalam hatimu, dan mencapai pemahaman akan kebenaran. Hatimu harus selalu dalam keadaan tenang, dan ketika sesuatu menimpamu, engkau tidak boleh gegabah, berprasangka buruk, keras kepala, bersikap ekstrem, dibuat-buat, atau munafik, sehingga engkau mampu bertindak secara rasional. Ini adalah perwujudan yang tepat dari kemanusiaan yang normal.
Sekarang ini, kebanyakan orang tidak mampu bersikap rasional. Mereka ceria ketika orang memuji mereka dan mulai menganggap diri mereka bukan orang biasa. Watak macam apa yang mereka perlihatkan? Bukankah mereka memperlihatkan watak yang congkak? Jika engkau merasa tidak nyaman sesudah seseorang sedikit memangkas dirimu, dan engkau ingin berdebat dengannya dan menyangkal apa yang sudah mereka katakan, watak macam apa yang kauperlihatkan? Engkau juga sedang memperlihatkan watak yang congkak. Katakanlah, ketika segala sesuatu yang kaulakukan berjalan lancar untuk sementara waktu dan orang-orang memujimu, mengatakan bahwa pelaksanaan tugasmu baik dan memandangmu dengan kagum, engkau mulai mengira engkau mampu melakukan apa pun, dan bahwa engkau lebih unggul daripada yang lain. Engkau merasa senang, dan saat melangkahkan kaki di jalan, engkau merasa seolah-olah engkau sedang dipanggul di atas tandu. Namun, ketika engkau mengalami kemunduran dalam hal-hal yang kaulakukan, suasana hatimu menjadi buruk, dan engkau sama sekali tak mampu membangkitkan semangatmu saat berbicara dengan orang lain. Orang seperti ini sangat keras kepala dan tidak dewasa, dan mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal. Perwujudan seperti apa yang diperlihatkan oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal? Ketika mereka mengalami kemunduran atau dipangkas, mereka tidak menjadi negatif dan tidak membiarkan hal tersebut memengaruhi tugas mereka. Sekalipun mereka menanggung penderitaan besar selama melaksanakan tugas mereka atau mencapai hasil yang signifikan, mereka tidak menganggap diri mereka layak dipuji, atau mengharapkan imbalan apa pun, dan mereka juga tidak menuntut orang lain untuk menghormati mereka. Mereka tidak memiliki perasaan seperti itu. Mereka mampu menangani hal-hal ini dengan benar dan mereka memiliki nalar manusia normal. Inilah yang dimaksud dengan memiliki kemanusiaan yang normal. Jika orang hidup berdasarkan watak rusak mereka, terkadang mereka akan menjadi congkak dan sombong, tenggelam dalam kesombongan mereka, dan ketika mereka mengalami kegagalan dan kemunduran, mereka akan putus asa, dan nalar mereka menjadi tidak normal. Hanya dengan memahami kebenaran, membuang watak rusak mereka, dan bertumbuh dalam hidup, barulah kemanusiaan mereka dapat menjadi dewasa. Memahami kebenaran dan menjalankan urusan berdasarkan prinsip adalah syarat mendasar yang harus orang penuhi agar kemanusiaannya menjadi dewasa. Jika orang tidak memahami kebenaran dan tidak menjalankan urusannya berdasarkan prinsip, mereka akan cenderung selalu berubah sikap, dan mengambil salah satu dari dua sikap ekstrem yang bertolak belakang. Jika orang memuji, mereka akan menjadi congkak, tetapi jika seseorang memangkas mereka, mereka akan menjadi negatif. Ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang belum dewasa. Bukankah seperti inilah keadaanmu? Engkau selalu berubah sikap, tidak stabil sedikit pun, tidak pernah mampu mempertahankan keadaan yang normal. Ketika suasana hatimu sedang baik dan engkau merasa senang, engkau penuh semangat dan bahkan rela mempersembahkan hidupmu untuk Tuhan. Namun, ketika dihadapkan pada kemunduran, kegagalan, atau engkau dipangkas, engkau langsung menjadi negatif. Engkau membiarkan dirimu putus asa, merasa dirimu sama sekali sudah berakhir, dan merasa tidak ada harapan bagimu untuk memperoleh keselamatan, dan hati nurani, nalar, dan penilaianmu sama sekali tidak berguna bagimu. Inilah yang terjadi jika orang tidak memiliki kebenaran—mereka hanya bisa hidup berdasarkan watak Iblis dalam diri mereka, tanpa sadar hidup dalam dosa. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dengan mengandalkan pengetahuan dan kecerdasannya sendiri; jika manusia tidak memiliki kebenaran, mereka tidak memiliki hidup—seolah-olah mereka tidak memiliki jiwa. Oleh karena itu, mendapatkan kebenaran adalah mutlak perlu. Jadi, ketika engkau dihadapkan pada pencobaan Iblis, mengalami kemunduran dan kegagalan, atau menemui kesulitan, pelajaran apakah yang harus kaupetik? Apa maksud Tuhan? Apa yang Dia ingin untuk kaupahami? Dia ingin engkau semua memahami kebenaran dan memperoleh hidup, sehingga dengan melakukannya, engkau pada dasarnya akan mampu menyelesaikan semua masalahmu. Saat ini, pemahamanmu akan kebenaran terlalu dangkal dan tingkat pertumbuhanmu terlalu rendah. Akibatnya, engkau terus-menerus berada dalam keadaan tidak normal dan watakmu tidak stabil. Ketika engkau berada dalam keadaan yang baik, engkau mampu maju dan bergerak selangkah lebih jauh, tetapi ketika engkau berada dalam keadaan yang buruk, engkau mundur dua langkah dan menjadi negatif selama beberapa hari. Engkau terus saja berada dalam keadaan seperti ini, itulah sebabnya kemajuanmu lambat. Sering kali lemah dan negatif merupakan hambatan terbesar dalam memasuki jalan masuk kehidupan, dan masalah ini harus dibereskan agar orang dapat mencapai kemajuan dalam hidupnya. Ada orang-orang yang merasa senang akan dirinya sendiri sesudah membuahkan hanya sedikit hasil dalam tugasnya, dan mereka menjadi congkak sesudah mendapatkan pujian, dan memandang rendah orang lain. Orang-orang ini adalah yang paling tidak bernalar dan tidak memiliki sedikit pun kenyataan kebenaran. Ada orang yang mulai menikmati manfaat dari status mereka segera sesudah mereka menyelesaikan sedikit pekerjaan. Apa pun yang mereka lakukan, mereka selalu ingin dipuji dan jika tidak mendapatkan pujian orang, mereka merasa tak punya kekuatan untuk melaksanakan tugas. Mereka terus-menerus dikekang oleh hal-hal ini, dan mereka hanya merasa puas jika mereka lebih menonjol dibandingkan yang lain dan dihujani pujian. Jika mereka tidak melakukan sesuatu dengan baik, atau mereka mengalami kegagalan dan tersandung, mereka merasa diri mereka terlalu rusak dan sedemikian rusaknya hingga tak mungkin dapat diperbaiki. Mereka selalu hidup di antara kedua ekstrem ini. Jika, apa pun tugas yang kaulaksanakan atau apa pun yang menimpamu, engkau selalu dapat memetik pelajaran, mencari kebenaran untuk menemukan prinsip penerapan, dan menerapkan kebenaran, engkau sudah bertumbuh dan tidak perlu lagi dibimbing dan dipimpin oleh orang lain. Jika, dengan makan dan minum firman Tuhan, dengan mempersekutukan kebenaran, dan mengalami beberapa hal di lingkungan yang telah Tuhan atur bagimu, engkau dapat melihat ke mana tangan Tuhan menuntunmu, apa yang Tuhan ingin untuk kaupelajari, dalam bidang apa Dia ingin engkau memperoleh pemahaman, dan pengetahuan praktis apa yang Dia ingin engkau peroleh melalui hal-hal dan lingkungan ini, dan mampu memperoleh sesuatu melalui tiap-tiap pengalaman ini, itu berarti engkau sudah bertumbuh. Jika engkau selalu memerlukan dukungan dan bantuan orang lain untuk maju, jika engkau menjadi lumpuh dan stagnan, atau terhuyung-huyung di antara kedua sikap ekstrem, dan engkau cenderung jatuh dan tidak mampu bangkit kembali setiap saat tanpa ada seorang pun yang mendorongmu, membimbingmu, atau mendukungmu, semua ini adalah perwujudan tingkat pertumbuhanmu yang belum dewasa. Mereka yang memiliki tingkat pertumbuhan yang belum dewasa tidak mampu makan dan minum firman Tuhan seorang diri, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran melalui mendengarkan khotbah atau persekutuan. Mereka hanya berfokus pada mengikuti peraturan dan mengira asalkan mereka bisa menaati peraturan, mereka akan baik-baik saja. Mereka selalu membutuhkan seseorang untuk memimpin, membimbing mereka dalam segala hal, dan mengajari mereka serta menuntun mereka supaya mereka dapat mengikutinya, dan tanpa bantuan dan dukungan orang lain, mereka menjadi lumpuh, negatif dan lemah. Mereka sama sekali tidak berguna, dan lambat laun, mereka akan mati; mereka adalah sampah, dan mereka tidak mampu memperoleh keselamatan dari Tuhan. Ada yang bertanya: "Apakah ada cara untuk mengatasi masalah tingkat pertumbuhanku yang rendah?" Ada cara untuk mengatasinya. Apa pun yang menimpamu, entah itu masalah serius atau sepele, atau apakah itu adalah tugas yang sedang kaulaksanakan, engkau harus ingat satu hal: jangan mengandalkan perasaan dagingmu, gagasan dan imajinasimu, atau sikapmu yang gampang marah, sebaliknya, segeralah mencari kebenaran dan mencari tahu apa tuntutan Tuhan kepada manusia. Hanya dengan memahami maksud Tuhan, barulah engkau akan menemukan jalan untuk maju.
Perwujudan seperti apa yang orang perlihatkan saat mereka bertindak berdasarkan perasaan? Perwujudan paling umum adalah orang selalu membela dan mendukung siapa pun yang pernah berbuat baik kepada mereka, atau orang-orang yang dekat dengan mereka. Misalnya, katakanlah temanmu telah tersingkap melakukan sesuatu yang buruk dan engkau membelanya dengan berkata: "Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu, dia orang yang baik! Dia pasti dijebak." Apakah pernyataan ini adil? (Tidak.) Ini berarti engkau sedang bertindak dan berbicara berdasarkan perasaanmu. Sebagai contoh lain, misalkan engkau terlibat konflik dengan seseorang dan engkau akhirnya membencinya, dan ketika dia mengatakan sesuatu yang benar dan sesuai dengan prinsip, engkau tidak mau mendengarkan, perwujudan apakah ini? (Tidak menerima kebenaran.) Mengapa engkau tidak bisa menerima kebenaran? Dalam hatimu engkau tahu bahwa apa yang dia katakan itu benar, tetapi karena engkau berprasangka terhadapnya, engkau tidak mau mendengarkan, meskipun engkau tahu bahwa dia benar. Masalah apakah ini? (Dikuasai oleh perasaan.) Engkau sangat dikuasai oleh perasaanmu. Ada orang yang mudah dipengaruhi oleh kesukaan pribadi dan emosinya. Jika dia tidak akur dengan seseorang, sekalipun orang itu mampu berbicara dengan sangat baik dan benar, dia tidak mau mendengar perkataannya. Dan jika dia bergaul baik dengan seseorang, dia mau mendengar apa pun yang orang itu katakan, entah perkataannya itu benar atau salah, atau entah itu sesuai dengan kebenaran atau tidak. Bukankah ini berarti orang itu mudah dipengaruhi oleh kesukaan pribadi dan emosinya? Jika orang memiliki watak seperti itu, mampukah mereka berbicara dan bertindak secara rasional? Mampukah mereka menerima kebenaran dan tunduk padanya? (Tidak.) Karena mereka dikekang oleh perasaan dan mudah dipengaruhi oleh emosi mereka, ini memengaruhi kepatuhan mereka terhadap prinsip kebenaran dalam tindakan mereka. Ini juga memengaruhi mereka dalam menerima dan tunduk pada kebenaran. Jadi, apa yang memengaruhi kemampuan mereka untuk menerapkan kebenaran dan tunduk pada kebenaran? Oleh hal apa mereka dikekang? Oleh perasaan dan emosi mereka. Hal-hal inilah yang mengekang dan membelenggu mereka. Jika engkau lebih mengutamakan hubungan pribadi dan kepentingan pribadi daripada kebenaran, maka perasaanmu akan menghalangimu untuk menerima kebenaran. Oleh karena itu, engkau tidak boleh bertindak atau berbicara berdasarkan perasaan. Apakah hubunganmu dengan seseorang itu baik atau buruk, atau apakah perkataannya lembut atau tegas, selama perkataannya itu sesuai dengan kebenaran, engkau harus mendengarkannya dan menerimanya. Seperti inilah sikap yang menerima kebenaran itu. Jika engkau berkata, "Persekutuan yang disampaikannya sesuai dengan kebenaran dan dia juga mengalaminya sendiri, tapi dia terlalu lancang dan congkak, dan dia tidak menyenangkan dan tidak enak dilihat. Jadi, sekalipun dia benar, aku tidak mau menerimanya," watak macam apa ini? Secara khusus, itu adalah perasaan. Jika engkau memperlakukan orang dan hal-hal berdasarkan kesukaan dan emosimu sendiri, ini adalah perasaan, dan ini semua termasuk dalam kategori perasaan. Segala hal yang berkaitan dengan perasaan termasuk dalam watak yang rusak. Semua manusia yang rusak mempunyai perasaan, dan mereka semua dikekang oleh perasaan mereka pada taraf berbeda. Jika orang tidak mampu menerima kebenaran, akan sulit baginya untuk mengatasi masalah perasaan. Ada orang-orang yang melindungi para pemimpin palsu, melindungi antikristus, dan membela serta mendukung orang jahat. Ada perasaan yang terlibat dalam semua kasus ini. Tentu saja, dalam beberapa kasus, orang-orang sekadar bertindak seperti itu karena natur jahat mereka. Masalah ini perlu sering dipersekutukan supaya engkau memahami hal-hal ini dengan jelas. Ada orang yang mungkin berkata, "Aku hanya punya perasaan terhadap keluarga dan teman-temanku, tapi tidak terhadap orang lain." Pernyataan ini tidak akurat. Jika orang lain sedikit saja membantumu, perasaanmu terhadap orang itu akan berkembang. Akan ada tingkat kedekatan dan keakraban berbeda, tetapi tetap saja itu adalah perasaan. Jika orang tidak mengatasi perasaan mereka, akan sulit bagi mereka untuk menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan.
Sekarang, mari kita membahas tentang gagasan dan imajinasi. Ada gagasan dan imajinasi yang berasal dari didikan keluarga, ada yang berasal dari kondisi sosial, dan ada yang berasal dari pendidikan di sekolah. Perwujudan seperti apa yang diperlihatkan orang yang memperlakukan orang lain dan menjalankan urusannya berdasarkan gagasan dan imajinasinya? Aku akan memberimu sebuah contoh. Ada seseorang yang, setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mampu meninggalkan segala sesuatunya dan melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat, dan dia kemudian dipilih untuk menjadi pemimpin. Setelah mendapatkan status baru ini, dia bahkan lebih bersemangat dalam melaksanakan tugasnya dan sering mengadakan pertemuan untuk mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang. Ketika saudara-saudari mempunyai masalah, dia segera mengatasinya dan semua orang memiliki kesan yang baik tentang dirinya. Namun, sesudah menjadi pemimpin selama beberapa waktu, orang ini mulai berupaya untuk mempertahankan status dan kekuasaannya, pamer dan menyombongkan dirinya di setiap kesempatan. Yang paling menyedihkan, dia mempromosikan dan membina orang-orang jahat untuk melayani sebagai pemimpin dan pekerja. Yang paling menjijikkan, dia menindas dan mengucilkan saudara-saudari yang mengejar kebenaran. Pada akhirnya, karena dia sudah melakukan banyak perbuatan jahat dan mengganggu pekerjaan gereja, dia dikategorikan sebagai antikristus dan diusir. Mendengar berita tersebut, ada orang yang tanpa berpikir, berkata: "Itu tidak mungkin! Dahulu kami sangat akrab. Bersama-sama kami berhasil mengabarkan Injil kepada cukup banyak orang. Bagaimana mungkin dia menjadi antikristus?" Mereka membangun gagasan tertentu mengenai cara rumah Tuhan menangani situasi ini, menganggap rumah Tuhan telah memperlakukan orang baik dengan tidak adil. Katakan kepada-Ku, mengapa mereka membela antikristus ini dan mengeluh tentang perlakuan yang mereka anggap tidak adil terhadapnya? Karena mereka akrab dengan orang itu—mereka biasa mengabarkan Injil bersama-sama. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa setelah menjadi pemimpin, dia akan memperlihatkan dirinya yang sebenarnya, dengan melakukan segala macam kejahatan dan menjadi seorang antikristus. Mereka tidak mau menerima sesuatu yang tidak terbayangkan oleh mereka. Jadi, katakan kepada-Ku, bukankah mereka sedang memandang orang ini berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka? Mereka menyimpulkan bahwa dia tidak mungkin menjadi seorang antikristus berdasarkan kesan samar yang mereka miliki tentang dirinya di masa lalu. Apakah ini sudut pandang yang benar? Mengapa mereka berpikir seperti itu dan menarik kesimpulan seperti itu? Mengapa mereka membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan memiliki keyakinan yang gegabah seperti ini padahal mereka tidak memahami kenyataannya? Ini adalah semacam watak. Orang memperlakukan dan menangani orang, peristiwa, dan hal-hal berdasarkan imajinasi mereka—watak macam apakah ini? Sebagian adalah watak congkak dan sebagian lagi adalah watak keras kepala. Apa yang kauperlihatkan dalam kehidupanmu sehari-hari, baik itu pemikiran dan kepercayaanmu, tindakanmu atau prinsip yang mendasari caramu dalam memperlakukan orang lain, semua ini berasal dari watak rusakmu dan engkau harus membereskan semua itu dengan memperbandingkannya terhadap kebenaran. Jika, saat diminta untuk melakukan hal ini, engkau malah bingung, ini sangat menyusahkan; itu berarti engkau sama sekali tidak memahami kebenaran. Seperti apakah efek kebenaran? (Kebenaran mampu membereskan watak rusak orang.) Bagaimana cara kebenaran membereskannya? Engkau harus memeriksa pemikiran, keyakinan, perkataan, dan perbuatan nyatamu sehari-hari dengan memperbandingkannya terhadap kebenaran; setelah engkau menemukan kebenaran yang relevan untuk kauperbandingkan, engkau akan dapat mengidentifikasi di mana letak masalahmu. Jika engkau tidak mampu mengidentifikasi masalahmu, atau jika engkau tidak menerima firman Tuhan dan kebenaran, dan engkau membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab berdasarkan gagasan dan imajinasimu, masalah apakah yang kaumiliki? Masalahmu adalah engkau congkak dan tidak masuk akal, dan ini berkaitan dengan watak rusakmu. Tanpa mengetahui faktanya, engkau sekadar berbicara sembarangan berdasarkan imajinasimu sendiri, dan bahkan berpikir, "Kalian tidak mengenal dia, tapi aku mengenalnya—aku memahami dirinya." Yang sebenarnya kaumaksudkan adalah engkau mampu mengetahui yang sebenarnya tentang orang itu dengan lebih jelas dan lebih akurat dibandingkan orang lain. Bukankah ini watak yang congkak? Bukankah ini watak yang merasa diri benar? Watak seperti inilah yang ada di lubuk hatimu, jadi engkau selalu berbicara dan bertindak berdasarkan gagasan dan imajinasimu sendiri. Sebagai contoh, katakanlah gereja ingin melaksanakan suatu proyek dan bertanya kepadamu berapa perkiraan biayanya, dan tanpa benar-benar memahami situasinya, tanpa pikir panjang engkau langsung berkata, "Paling sedikit biayanya 215 juta rupiah!" Semua orang terkejut mendengarnya, berpikir bahwa biayanya tidak mungkin sebesar itu, dan engkau pasti melebih-lebihkannya. Kerugian seperti apa yang harus ditanggung pekerjaan gereja akibat watakmu yang berbicara sembarangan dan melontarkan pernyataan tidak bertanggung jawab seperti itu? Sebenarnya sama sekali tidak perlu biaya sebesar itu untuk menyelesaikan pekerjaan itu, tetapi engkau mengeklaim bahwa biayanya akan mencapai 215 juta rupiah—bukankah ini pernyataan yang tidak bertanggung jawab? Bukankah ini merugikan gereja? Inikah cara yang dapat diandalkan untuk berbicara dan menangani berbagai urusan? Tidak, ini sangat tidak bisa diandalkan. Rumah Tuhan sama sekali tidak boleh menggunakan orang seperti ini dalam pekerjaannya. Adakah pelajaran yang dapat kaupetik dari situasi ini? Orang harus belajar bersikap jujur dan mengatakan yang sebenarnya—inilah hal terpenting agar orang dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Jika orang tidak jujur dan mengucapkan pernyataan yang tidak bertanggung jawab, mereka tidak layak untuk melaksanakan tugas dan tidak pantas untuk melaksanakan tugas di rumah Tuhan. Jadi, agar dapat melaksanakan tugas dengan baik, orang harus belajar untuk menjadi orang jujur, mempertanggungjawabkan semua perkataannya, dan mengendalikan diri untuk tidak berbicara secara tidak bertanggung jawab, tanpa berpikir, dan hanya berdasarkan imajinasi mereka sendiri. Orang harus akurat dalam cara mereka berbicara dan perkataan mereka harus sesuai dengan kenyataan. Inilah salah satu aspek praktis menjadi orang yang jujur.
Pernahkah engkau semua menyadari bahwa engkau memiliki watak yang congkak? (Ya, terkadang aku melebih-lebihkan dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Aku merasa aku sangat congkak dan ini adalah salah satu aspek dari esensi naturku.) Setelah menyadari bahwa engkau memiliki watak yang congkak, bagaimana engkau harus membereskannya? Engkau tidak akan mampu membereskan watak congkakmu hanya karena engkau sudah menyadari dan mengakuinya. Untuk dapat membereskan watak congkakmu, engkau harus terlebih dahulu menerima kebenaran, menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan, mulai memahami bagaimana engkau memperlihatkan watak congkakmu dengan berbagai cara sebagaimana disingkapkan oleh firman Tuhan, dan racun Iblis mana yang menyebabkannya, dan mengidentifikasi kata-kata jahat apa yang sudah menyesatkanmu dan membuatmu memunculkan watak congkakmu. Inilah hal-hal yang harus mulai kaupahami. Saat membereskan watak congkakmu, engkau harus melakukannya selangkah demi selangkah, segera bereskan begitu engkau mengucapkan sesuatu yang congkak—dengan cara ini, watak congkakmu akan secara bertahap dibereskan. Keadaan paling umum yang terlihat di antara mereka yang hidup berdasarkan watak congkak adalah kecenderungan mereka untuk berbicara berdasarkan imajinasi mereka dan berbicara berlebihan—dengan terlebih dahulu membereskan keadaan yang suka membuat klaim berlebihan ini, watak congkak mereka dapat sedikit berkurang. Jadi, bagaimana agar orang dapat membereskan masalah diri mereka yang suka membuat klaim berlebihan berdasarkan imajinasi mereka? Caranya, orang harus terlebih dahulu memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan membuat klaim berlebihan berdasarkan imajinasi mereka. Pertama, orang harus mengetahui: "Bagaimana imajinasi muncul? Mengapa orang selalu berimajinasi? Berdasarkan apa imajinasi mereka? Apakah imajinasi ini merepresentasikan kenyataannya? Apakah imajinasi ini sesuai dengan kebenaran?" Kemudian, orang harus mengenali dengan jelas masalah membuat klaim berlebihan ini—orang harus tahu mengapa dan dari posisi mana mereka membuat klaim yang berlebihan tersebut, dan tujuan apa yang ingin mereka capai. Sesudah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini ditemukan dan masalahnya dapat diselesaikan berdasarkan kebenaran, keadaan membuat klaim berlebihan berdasarkan imajinasi sendiri ini akan dapat sedikit dibereskan. Pikirkan, misalnya, seorang pemimpin memintamu untuk menyelidiki sesuatu, tetapi karena sibuk melakukan hal lain, engkau lupa melakukannya. Kemudian, ketika pemimpin menanyakan tentang hal itu, engkau malah mengarang kebohongan karena takut engkau akan dipangkas. Watak macam apa yang kauperlihatkan? Ada dua jenis keadaan yang berperan di sini: di satu sisi, engkau berbicara sembarangan berdasarkan imajinasimu, dan di sisi lain, engkau mengarang kebohongan karena engkau tidak dapat menjawab, dan takut dipangkas. Kalaupun engkau tidak berbicara sembarangan, engkau berbohong, dan kalaupun engkau tidak congkak dan sombong, engkau bersikap licik—semua ini menimbulkan masalah dan harus diperiksa. Ketika berbicara dan bertindak, begitu kausadari bahwa engkau akan segera memperlihatkan watak rusakmu, engkau harus mengendalikan diri dan berdoa kepada Tuhan di dalam hatimu. Jadi, bagaimana seharusnya engkau bertindak agar sesuai dengan prinsip kebenaran? Ini berkaitan dengan bagaimana orang melakukan penerapan. (Kami seharusnya berbicara dengan jujur dan hanya mengatakan apa yang kami ketahui.) Benar. Jika engkau tidak tahu jawabannya, engkau seharusnya berkata, "Aku tidak tahu mengenai masalah ini, aku belum menyelidikinya." Misalkan engkau berpikir, "Bagaimana jika pemimpinku bertanya mengapa aku belum menyelidiki masalah ini dan memangkasku, lalu apa yang harus kulakukan?" Katakan kepada-Ku, apa yang harus kaulakukan dalam menghadapi situasi ini? (Jika kami belum menyelidiki masalahnya, kami harus mengatakan yang sejujurnya. Kami tidak boleh berbohong hanya karena takut dipangkas.) Benar. Jika engkau ingin berbohong, mengelabui orang, atau berbicara bertentangan dengan fakta hanya karena takut engkau akan dipangkas, maka engkau harus berdoa kepada Tuhan, merenungkan dirimu sendiri, dan berlatih untuk menjadi orang yang jujur. Dengan cara ini, masalahmu yang suka berbicara berdasarkan imajinasimu akan berkurang. Namun demikian, tidaklah cukup hanya membereskan masalahmu yang suka berbicara berdasarkan imajinasi—engkau juga harus mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dirimu sendiri. Engkau bukan saja harus mengenali watak rusakmu, engkau juga harus memahami natur Iblis dalam dirimu dan sumber kecongkakanmu. Jika engkau mampu mencapai ini, engkau sudah lebih dari separuh jalan untuk membereskan watak congkakmu. Setidaknya, engkau tidak akan menjadi congkak dan akan lebih rendah hati dalam bertindak. Jika engkau dapat selangkah lebih maju dan membereskan masalahmu yang suka berbohong dan mengelabui orang lain, jika engkau mampu berbicara sesuai dengan kebenaran dan fakta, dan menjadi orang jujur dan mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu, engkau sedikit banyak akan hidup dalam keserupaan dengan manusia. Setidaknya, engkau akan berbicara dan bertindak dengan cara yang lebih rasional. Ini menunjukkan bahwa asalkan orang mengejar kebenaran, tunduk pada pekerjaan Tuhan, berdoa dan mengandalkan Dia, mereka akan dapat sepenuhnya menyingkirkan watak rusak mereka. Orang yang berwatak congkak sering kali membuat klaim berlebihan, selalu menganggap diri mereka lebih baik daripada orang lain; mereka menganggap diri mereka sosok yang hebat dan mengesankan dan semua orang berada di bawah mereka, dan mereka berbicara dan bertindak sesuka mereka. Jika mereka juga mampu menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka, sering kali berbohong dan mengelabui orang lain, maka orang-orang seperti ini bukan saja congkak dan sombong, tetapi mereka juga memiliki watak yang licik dan suka berbohong. Membereskan watak yang congkak dan sombong terutama bergantung pada mengenal esensi naturmu sendiri, dan menyadari bahwa engkau sudah menjadi congkak dan sombong karena engkau telah dirusak sedemikian menyeluruhnya dan engkau telah hidup seperti setan dan Iblis. Jika engkau mampu memahami masalah ini dengan jelas, engkau akan merasa bahwa makin congkak seseorang, makin dirinya menjadi seperti Iblis. Atau engkau akan merasa bahwa dengan mengalami kegagalan dan kemunduran, engkau akan berperilaku jauh lebih baik. Mana yang lebih mudah, membereskan watak yang congkak atau membereskan watak yang licik dan suka berbohong? Sebenarnya, keduanya tidak mudah dibereskan, tetapi jika dibandingkan dengan watak yang licik dan suka berbohong watak yang congkak sedikit lebih mudah untuk dibereskan. Membereskan watak yang licik dan suka berbohong akan jauh lebih sulit. Ini karena orang yang licik dan suka berbohong begitu penuh dengan motif dan niat jahat sehingga hati nurani dan nalar mereka tidak dapat mengendalikan diri mereka. Masalahnya adalah esensi natur mereka. Namun, betapapun sulitnya, jika orang ingin membereskan wataknya yang licik dan suka berbohong, mereka harus memulainya dengan berlatih menjadi orang yang jujur. Pada akhirnya, cara paling sederhana untuk berlatih menjadi orang yang jujur adalah cukup dengan mengatakan hal-hal seperti apa adanya, mengucapkan perkataan yang jujur, dan berbicara sesuai fakta. Seperti difirmankan Tuhan Yesus, "Hendaknya perkataanmu demikian, Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak" (Matius 5:37). Menjadi orang jujur mengharuskanmu untuk berlatih berdasarkan prinsip ini—sesudah berlatih seperti ini selama beberapa tahun, engkau pasti akan melihat hasilnya. Jadi, bagaimana caramu berlatih untuk menjadi orang yang jujur? (Aku tidak boleh mengarang kebohongan dalam perkataanku, dan aku tidak boleh mengelabui orang lain.) Apa yang dimaksud dengan "tidak mengarang kebohongan"? Artinya perkataan yang kauucapkan tidak mengandung kebohongan atau niat atau motif pribadi apa pun. Jika engkau memendam tipu daya atau niat dan motif pribadi di dalam hatimu, maka kebohongan dengan sendirinya akan terucap darimu. Jika tidak ada tipu daya, niat atau motif pribadi di dalam hatimu, maka apa yang kaukatakan tidak akan mengandung kebohongan—dengan demikian, komunikasimu akan menjadi: "Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak." Yang terpenting adalah orang harus terlebih dahulu membersihkan hatinya. Setelah hatinya menjadi bersih, kecongkakan dan kelicikannya akan dapat dibereskan. Untuk menjadi orang yang jujur, orang harus membereskan sikapnya yang suka mengarang kebohongan ini. Setelah melakukannya, akan mudah untuk menjadi orang yang jujur. Apakah menjadi orang yang jujur itu rumit? Tidak. Bagaimanapun keadaan batinmu atau watak buruk apa pun yang mungkin kaumiliki, engkau harus menerapkan kebenaran dalam hal menjadi orang yang jujur. Engkau harus terlebih dahulu membereskan masalahmu yang suka berbohong—ini yang paling penting. Pertama, dalam berbicara, engkau harus berlatih mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu, mengucapkan kata-kata yang benar, mengatakannya sebagaimana adanya, dan sepenuhnya menahan diri untuk tidak berbohong; engkau bahkan jangan mengucapkan kata-kata yang mengandung kebohongan, dan engkau harus memastikan bahwa semua yang kaukatakan sepanjang hari adalah benar dan jujur. Dengan berbuat demikian, engkau sedang menerapkan kebenaran dan berlatih menjadi orang yang jujur. Jika engkau mendapati bahwa kebohongan atau kata-kata bohong terlontar darimu, segeralah renungkan dirimu, analisis dan ketahui alasan mengapa engkau berbohong dan apa yang memerintahkanmu untuk berbohong. Kemudian, berdasarkan firman Tuhan, analisislah masalah yang mendasar dan esensial ini. Setelah engkau mendapatkan kejelasan tentang sumber penyebab kebohonganmu, engkau akan mampu memberontak melawan watak Iblis ini dalam ucapan dan tindakanmu. Engkau tidak akan lagi berbohong ketika menghadapi situasi serupa, dan engkau akan mampu berbicara sesuai fakta dan tidak akan lagi mengucapkan perkataan yang menipu. Dengan cara ini, rohmu akan bebas dan merdeka dan engkau akan mampu hidup di hadirat Tuhan. Jika engkau mampu hidup berdasarkan firman Tuhan, engkau akan hidup dalam terang. Sedangkan, jika engkau terus-menerus bersikap licik, bersekongkol, dan berencana licik, selalu bersembunyi seperti pencuri di sudut yang gelap, dan menjalankan urusanmu secara rahasia, maka engkau tidak akan berani hidup di hadirat Tuhan. Karena engkau memiliki motif rahasia, selalu ingin mengelabui orang untuk mencapai tujuanmu sendiri, dan menyembunyikan terlalu banyak hal yang memalukan dan tak terkatakan di dalam hatimu, engkau terus-menerus berusaha menutupi dan menyembunyikannya, membungkus dan menyamarkannya, tetapi engkau tidak dapat menyembunyikan hal-hal ini untuk selamanya. Cepat atau lambat, hal-hal itu akan terungkap. Orang yang memiliki motif rahasia tidak dapat hidup dalam terang. Jika mereka tidak merenungkan dan menganalisis diri mereka sendiri dan tidak menceritakan tentang diri mereka yang sebenarnya, mereka tidak akan mampu melepaskan diri dari kekangan dan belenggu watak rusak mereka. Mereka akan terus terjebak dalam kehidupan penuh dosa, tidak mampu melepaskan diri. Yang terutama, dalam situasi apa pun, engkau tidak boleh berbohong. Jika engkau tahu bahwa berbohong itu salah dan tidak sesuai dengan kebenaran, tetapi engkau bersikeras untuk terus berbohong dan mengelabui orang lain, bahkan mengarang kebohongan untuk menyembunyikan fakta dan kenyataan untuk menyesatkan orang, maka engkau sedang melakukan perbuatan salah secara sengaja. Orang seperti itu tidak dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan. Tuhan menganugerahkan kebenaran kepada manusia, tetapi apakah orang-orang mampu menerima dan menerapkan kebenaran, pada akhirnya itu adalah urusan mereka sendiri. Mereka yang mampu menerima kebenaran, akan dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan, sedangkan mereka yang tidak mampu menerima kebenaran dan tidak menerapkan kebenaran, tidak akan dapat memperoleh keselamatan. Banyak orang sadar bahwa mereka hidup berdasarkan watak rusak mereka dan menyadari bahwa mereka yang hidup berdasarkan watak Iblis tidak serupa dengan manusia ataupun setan, dan tidak dapat hidup dalam keserupaan dengan manusia normal. Mereka bersedia menerapkan kebenaran, tetapi mendapati diri mereka tidak mampu melakukannya, merasa mereka benar-benar tidak berdaya. Dalam situasi seperti ini, orang hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya. Jika orang sama sekali tidak bekerja sama, Tuhan tidak akan bekerja dalam diri mereka. Mereka yang benar-benar mencintai kebenaran pasti akan membenci watak mereka yang licik dan suka berbohong, membenci segala macam niat pribadi, juga kebohongan dan tipu muslihat. Mereka lebih suka menderita kerugian dengan berkata jujur daripada berbohong. Mereka akan memilih berkata jujur meskipun hal itu akan membuat mereka menerima kritikan dan hukuman, daripada menempuh kehidupan yang tercela dengan berbohong. Mereka yang mampu membenci watak Iblis dalam diri mereka dengan cara ini, tentu saja akan mampu memberontak terhadap daging, menerapkan kebenaran, dan berhasil menjadi orang yang jujur.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Konten Terkait
Firman Tuhan | "Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta Bab 17"
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English...