Firman Tuhan | "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I Otoritas Tuhan (I)" (Bagian Satu)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan? Apakah menganut agama setara dengan percaya kepada Tuhan? Menganut agama berarti mengikuti Iblis; percaya kepada Tuhan berarti mengikuti Tuhan—dan hanya mereka yang mengikuti Kristus yang adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Orang yang sama sekali tidak menerima firman Tuhan sebagai hidup mereka bukanlah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya, dan sekalipun mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, itu tidak ada gunanya. Jika seseorang yang percaya kepada Tuhan hanya melakukan upacara keagamaan tetapi tidak menerapkan kebenaran, berarti dia bukanlah orang yang percaya kepada Tuhan, dan Tuhan tidak mengakuinya. Apa yang perlu kaumiliki, agar Tuhan mengakuimu sebagai pengikut-Nya? Tahukah engkau standar apa yang Tuhan gunakan untuk menilai seseorang? Tuhan menilai apakah engkau melakukan segala sesuatu berdasarkan tuntutan-Nya, dan apakah engkau menerapkan kebenaran dan tunduk pada kebenaran berdasarkan firman-Nya atau tidak. Inilah standar yang Tuhan gunakan untuk menilai seseorang. Penilaian Tuhan tidak didasarkan pada sudah berapa tahun engkau percaya kepada-Nya, sejauh mana engkau telah menempuh perjalanan, berapa banyak perilaku baikmu, atau berapa banyak kata-kata dan doktrin yang kaupahami. Dia menilai dirimu berdasarkan apakah engkau mengejar kebenaran atau tidak dan jalan apa yang kaupilih. Banyak orang mengatakan bahwa mereka percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya, tetapi di dalam hatinya, mereka tidak mencintai firman yang Tuhan ucapkan. Mereka tidak tertarik pada kebenaran. Mereka selalu yakin bahwa hidup berdasarkan falsafah Iblis atau berbagai teori duniawi adalah hal yang biasa orang lakukan, bahwa ini adalah cara untuk melindungi diri mereka sendiri, dan bahwa ini adalah cara menjalani hidup yang bermakna di dunia ini. Seperti inikah orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan mengikuti Dia? Tidak. Perkataan tokoh-tokoh besar dan ternama terdengar sangat bijaksana dan mudah sekali menyesatkan orang lain. Engkau mungkin menganggap perkataan mereka sebagai kebenaran atau semboyan yang harus dipatuhi. Namun, jika dalam hal firman Tuhan, tuntutan sederhana Tuhan terhadap manusia, seperti menjadi orang jujur, atau menempati tempatmu sendiri dengan patuh dan saksama, melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan, serta memiliki perilaku yang stabil dan jujur, engkau tidak mampu untuk menerapkan firman ini dan tidak menganggapnya sebagai kebenaran, maka engkau bukanlah pengikut Tuhan. Engkau menyatakan bahwa engkau menerapkan kebenaran, tetapi jika Tuhan bertanya kepadamu, "Apakah 'kebenaran' yang kauterapkan itu adalah firman Tuhan? Apakah prinsip-prinsip yang kaujunjung tinggi itu berdasarkan firman Tuhan?"—bagaimana engkau akan menjelaskan hal itu? Jika landasanmu bukanlah firman Tuhan, maka itu adalah perkataan Iblis. Engkau sedang hidup dalam perkataan Iblis, tetapi engkau menyatakan bahwa engkau sedang menerapkan kebenaran dan menyenangkan hati Tuhan. Bukankah itu menghujat Tuhan? Sebagai contoh, Tuhan memerintahkan agar orang bertindak jujur, tetapi sebagian orang tidak merenungkan apa sajakah yang harus mereka lakukan untuk menjadi orang jujur, bagaimana bersikap sebagai orang jujur, apa sajakah dari hal-hal yang mereka jalani dan perlihatkan yang tidak jujur, dan apa sajakah dari hal-hal yang mereka jalani dan perlihatkan yang jujur. Alih-alih merenungkan esensi kebenaran di dalam firman Tuhan, mereka justru berpaling pada buku-buku orang tidak percaya. Mereka berpikir, "Perkataan orang-orang tidak percaya juga sangat baik—perkataan itu juga mengajar orang untuk menjadi orang baik! Sebagai contoh, 'Orang yang baik memiliki kehidupan yang damai,' 'Orang jujurlah yang akan bertahan,' 'Memaafkan orang lain bukan sesuatu yang bodoh, itu akan ada manfaatnya di kemudian hari.' Perkataan ini juga benar, dan selaras dengan kebenaran!" Jadi, mereka mematuhi perkataan ini. Orang seperti apa yang bisa mereka hidupi dengan mematuhi pepatah-pepatah dari orang-orang tidak percaya ini? Mampukah mereka hidup dalam kenyataan kebenaran? (Tidak). Bukankah ada banyak orang yang seperti ini? Mereka memperoleh sedikit pengetahuan; mereka telah membaca beberapa buku dan beberapa karya terkenal; mereka telah mendapatkan wawasan tertentu, serta mendengar beberapa pepatah dan peribahasa rakyat yang terkenal, lalu mereka menganggap semua itu sebagai kebenaran, bertindak dan melaksanakan tugas mereka berdasarkan perkataan-perkataan ini, menerapkannya dalam hidup mereka sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan mengira bahwa mereka sedang memuaskan hati Tuhan. Bukankah ini artinya menggantikan kebenaran dengan kepalsuan? Bukankah ini merupakan tipu muslihat? Bagi Tuhan, ini adalah penghujatan! Hal-hal ini terwujud dalam diri setiap orang, dalam jumlah yang tidak sedikit. Mengenai orang yang menganggap perkataan yang menyenangkan dan doktrin yang benar dari manusia sebagai kebenaran yang harus mereka patuhi, sedangkan terhadap firman Tuhan mereka mengesampingkan dan mengabaikannya, tidak mampu menerimanya betapapun seringnya mereka membaca firman Tuhan, atau mereka tidak mampu menganggap firman Tuhan sebagai kebenaran, apakah mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan? Apakah mereka pengikut Tuhan? (Bukan). Orang-orang seperti itu hanyalah penganut agama; mereka masih mengikuti Iblis! Mereka menganggap perkataan yang Iblis ucapkan filosofis, menganggapnya sangat mendalam dan klasik. Mereka menganggapnya perkataan terkenal yang paling benar. Mereka mampu melepaskan hal-hal lain, tetapi mereka tidak mampu melepaskan perkataan itu. Melepaskan perkataan itu akan membuat mereka seperti kehilangan landasan hidup, membuat hati mereka terasa seperti hampa. Orang-orang macam apakah mereka? Mereka adalah para pengikut Iblis, dan itulah sebabnya mereka menerima ucapan-ucapan terkenal dari Iblis sebagai kebenaran. Mampukah engkau semua menelaah dan mengenali keadaan dirimu dalam berbagai konteks berbeda? Sebagai contoh, ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan sering membaca firman-Nya, tetapi ketika sesuatu menimpa mereka, yang selalu mereka ucapkan adalah, "Kata ibuku", "Kata kakekku", "Kata orang terkenal itu", atau "Menurut buku ini dan itu." Mereka tidak pernah berkata, "Firman Tuhan mengatakan demikian," "Tuntutan Tuhan terhadap kita adalah seperti ini," "Tuhan mengatakan hal ini." Mereka tidak pernah mengucapkan kata-kata tersebut. Jadi, apakah mereka sedang mengikuti Tuhan? (Tidak). Apakah mudah bagi seseorang untuk mengetahui keadaan-keadaan ini? Tidak, tetapi keadaan dalam diri manusia yang seperti ini sangat merugikan mereka. Engkau mungkin telah percaya kepada Tuhan selama tiga, lima, delapan, atau sepuluh tahun, tetapi masih belum tahu bagaimana cara tunduk kepada Tuhan atau menerapkan firman Tuhan. Apa pun yang terjadi padamu, engkau masih menggunakan perkataan Iblis sebagai landasanmu, engkau masih mencari landasan dalam budaya tradisional. Seperti itukah percaya kepada Tuhan? Bukankah engkau sedang mengikuti Iblis? Engkau hidup berdasarkan perkataan Iblis dan berdasarkan watak Iblis dalam dirimu, jadi bukankah engkau sedang menentang Tuhan? Karena engkau tidak menerapkan atau hidup berdasarkan firman Tuhan, tidak mengikuti jejak langkah Tuhan, tak mampu mengindahkan apa pun yang Tuhan firmankan, dan tak mampu tunduk pada apa pun yang Tuhan atur atau tuntut darimu, itu artinya engkau tidak mengikuti Tuhan. Engkau masih mengikuti Iblis. Di manakah Iblis berada? Iblis berada di dalam hati manusia. Falsafah, logika, aturan, dan berbagai perkataan jahat Iblis telah lama berakar di dalam hati manusia. Ini adalah masalah yang paling serius. Jika engkau tak mampu menyelesaikan masalah ini dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau tidak akan dapat diselamatkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, engkau semua harus sering memeriksa semua yang kaulakukan, pemikiran dan pandanganmu, dan apa yang mendasarimu melakukan sesuatu dengan menggunakan firman Tuhan sebagai perbandingannya, dan menelaah segala sesuatu yang ada dalam pikiranmu. Engkau harus tahu mana dari hal-hal di dalam dirimu yang merupakan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, pepatah populer, budaya tradisional, dan mana yang berasal dari pengetahuan intelektual. Engkau semua harus mengetahui yang mana dari semua ini yang selalu engkau yakini benar dan sesuai dengan kebenaran, yang engkau patuhi seolah-olah itu adalah kebenaran, dan mana yang kauizinkan untuk menggantikan kebenaran. Engkau harus menganalisis hal-hal ini. Terutama, jika engkau memperlakukan hal-hal yang kauyakini benar dan berharga ini sebagai kebenaran, tidak akan mudah bagimu untuk mengenali hal-hal ini—tetapi jika engkau benar-benar mampu mengenalinya, engkau sudah menerobos sebuah rintangan yang besar. Hal-hal ini adalah penghalang yang membuat orang tidak memahami firman Tuhan, tidak menerapkan kebenaran, dan tidak tunduk kepada Tuhan. Jika engkau menghabiskan sepanjang hari dalam keadaan bingung dan tak tahu apa yang harus kaulakukan, dan tidak memikirkan hal-hal ini ataupun berfokus untuk menyelesaikan masalah ini, maka inilah sumber perasaan tidak enak di dalam hatimu, inilah racun di dalam hatimu. Jika ini tidak disingkirkan, engkau tidak akan mampu untuk benar-benar mengikut Tuhan dan tidak akan mampu menerapkan kebenaran atau tunduk kepada Tuhan, dan tidak akan mungkin bagimu untuk memperoleh keselamatan.
Setelah kita mempersekutukan hal-hal ini, sudahkah engkau semua memikirkan apa sajakah keadaan, gagasan, atau pandangan menyimpang dalam dirimu yang bertentangan dengan keinginan Tuhan, tuntutan Tuhan, dan kebenaran, tetapi yang kauanggap sebagai kebenaran dan kauterapkan serta kaupatuhi sebagai kebenaran? (Aku berpandangan bahwa sebagai manusia, orang harus berusaha untuk menjadi baik, menjadi orang yang membuat semua orang menyukainya dan ingin bergaul dengannya. Ketika aku belum memahami kebenaran, kupikir pengejaran ini tampaknya cukup beralasan dan dapat dibenarkan. Namun sekarang, setelah menilainya berdasarkan kebenaran, aku sadar bahwa orang semacam itu adalah penyenang orang. Terutama setelah membaca penyingkapan Tuhan tentang orang yang licik, kusadari bahwa aku memiliki niat yang licik dalam hal ini, aku berusaha dengan segala cara untuk menjaga reputasi dan statusku sendiri dengan menyenangkan orang lain, dengan memberikan kesan yang palsu dan menyesatkan mereka. Terkadang, aku bahkan mengorbankan kepentingan rumah Tuhan demi menyenangkan orang lain. Aku sama sekali bukan orang yang baik, dan aku juga tidak memiliki keserupaan dengan orang yang tulus. Setelah menyadari hal ini, aku rindu untuk mencari kebenaran, untuk menjadi orang yang jujur sesuai dengan tuntutan Tuhan, daripada menjadi penyenang orang. Aku ingin menjadi orang yang berbicara jujur dan berdasarkan fakta, yang berterus-terang dalam segala hal, karena hal ini sesuai dengan maksud Tuhan.) (Selama periode ini aku telah mengamati bahwa aku hanya berfokus pada perubahan perilaku yang tampak di luarnya saja. Sebagai contoh, ketika beberapa saudara-saudari mengatakan kepadaku bahwa aku congkak dan tidak mudah diajak bekerjasama, aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri dan mendiskusikan berbagai hal bersama mereka dengan sikap yang lembut dan ramah. Aku melakukan apa pun yang mereka katakan kepadaku, dan jika aku melihat ada orang yang melakukan kesalahan saat melaksanakan tugasnya, aku tidak menunjukkan hal itu, sebaliknya aku menjaga perdamaian dan keharmonisan. Selagi mendengarkan apa yang Tuhan persekutukan tadi, aku sadar bahwa aku tidak bertindak berdasarkan firman Tuhan. Aku bertindak berdasarkan falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain. Aku menggunakan perilaku baikku yang tampak dari luar untuk menyesatkan orang lain, padahal sebenarnya, aku belum menyingkirkan watak rusakku. Aku bukanlah orang yang mengejar kebenaran, dan aku menyia-nyiakan banyak waktu). Sekarang engkau semua mampu memahami dan menyadari beberapa pandangan dan penerapan yang salah di masa lalumu, tetapi berat bagimu untuk menerapkan kebenaran. Setelah mengenali dan memahami keadaan-keadaan ini, bagaimana pendapat dan perasaanmu mengenai keadaan yang menyedihkan dari manusia yang rusak? Sudahkah engkau menyadari bahwa manusia yang rusak ini dikendalikan oleh Iblis dengan kuat dan ketat? Sudahkah engkau menyadari hal ini? (Ya). Kapan engkau menyadarinya? (Ketika aku ingin menerapkan kebenaran, natur Iblis mengendalikan dan memenjarakanku dari lubuk hatiku. Aku bergumul dalam hatiku tetapi tidak mampu menerapkan kebenaran, seolah-olah aku sedang memakai semacam belenggu. Itu benar-benar menyiksa). Apakah saat itu engkau merasa bahwa Iblis itu benar-benar penuh kebencian? Ataukah seiring berjalannya waktu engkau menjadi mati rasa dan tidak lagi mampu merasakan kebencian itu? (Aku bisa merasakan bahwa Iblis itu penuh kebencian). Sudahkah engkau menyadari betapa pentingnya pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia? Mampukah engkau memahami bahwa firman dan kebenaran yang Tuhan ungkapkan, termasuk firman yang menyingkapkan manusia, semuanya adalah kenyataan, tanpa satu frasa pun yang tidak nyata, dan bahwa semua itu sepenuhnya sesuai dengan fakta serta merupakan firman yang paling dibutuhkan manusia agar mereka menerima kebenaran dan diselamatkan? Manusia sangat membutuhkan keselamatan dari Tuhan! Jika Tuhan tidak berinkarnasi untuk melakukan pekerjaan-Nya, jika Tuhan tidak mengungkapkan begitu banyak kebenaran, di manakah manusia dapat menemukan jalan menuju keselamatan? Semua orang yang mengandalkan Iblis dan roh-roh jahat untuk memberikan tanda-tanda dan mukjizat akan dihancurkan. Orang-orang yang hidup berdasarkan falsafah, logika, dan hukum Iblis semuanya akan menjadi sasaran pemusnahan. Apakah sekarang engkau semua menyadari hal ini? Jika engkau hanya menyadarinya saja, itu masih belum cukup. Itu hanyalah hati yang merindukan keselamatan dari Tuhan. Namun apakah engkau mampu menerima kebenaran atau tidak, mampu menerima penghakiman dan hajaran atau tidak, dan apakah engkau mampu menyingkirkan watak rusakmu atau tidak—inilah pertanyaan pentingnya. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan harus mencintai kebenaran dan hal-hal yang positif, dan mereka juga harus membenci kejahatan dan segala sesuatu yang berasal dari Iblis. Mereka harus berfokus merenungkan diri mereka dan mengenal diri mereka sendiri, serta mengenali perwujudan dari watak rusak mereka sendiri. Mereka harus memahami dengan jelas bahwa esensi natur mereka mengerikan dan jahat, bertentangan dengan Tuhan dan dibenci oleh Tuhan, mereka harus mampu merasa jijik pada diri sendiri dan membenci diri sendiri dari lubuk hati mereka. Hanya setelah itulah, mereka akan mampu memiliki tekad dan kekuatan untuk melepaskan diri dari perbudakan dan belenggu natur Iblis dan menyingkirkannya, serta menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan. Tanpa tekad ini, akan sulit bagimu untuk menerapkan kebenaran, meskipun engkau dituntut untuk melakukannya. Orang harus berjuang mati-matian di tengah berbagai keadaan seperti perbudakan, manipulasi, siksaan, perusakan, dan penindasan karena watak rusak mereka. Setelah orang merasakan semua penderitaan ini, barulah mereka mampu membenci Iblis dan memiliki ketetapan hati dan tekad untuk mengubah semua ini. Hanya setelah menanggung cukup banyak penderitaan barulah mereka mampu membangun tekad mereka serta memiliki motivasi untuk mengejar kebenaran dan membebaskan diri dari semua hal ini. Jika engkau merasa bahwa hal-hal yang berasal dari Iblis itu sangatlah baik, bahwa semua itu mampu memuaskan keinginan daging serta memenuhi gagasan dan imajinasi manusia, hasrat mereka yang berlebihan, dan berbagai kesukaan mereka, tanpa sedikit pun merasa sakit atau tanpa menyadari betapa Iblis menganiaya manusia, maka apakah engkau bersedia melepaskan diri dari semua ini? (Tidak). Seandainya seseorang yang licik menyadari bahwa dirinya licik, menyadari dirinya suka berbohong dan tidak suka mengatakan yang sebenarnya, dan menyadari dirinya selalu menyembunyikan sesuatu saat berinteraksi dengan orang lain, tetapi dia menikmati hal ini, berpikir dalam hatinya, "Hidup seperti ini luar biasa. Aku selalu mengelabui orang lain, tetapi mereka tidak dapat melakukan hal yang sama terhadapku. Sejauh menyangkut kepentingan, harga diri, status, dan keangkuhanku, aku hampir selalu puas. Segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencanaku, tanpa cela, mulus, dan tak seorang pun yang dapat mengetahui yang sebenarnya." Apakah orang semacam itu mau bersikap jujur? Dia tidak mau. Orang ini menganggap kelicikan dan kebengkokan sebagai kecerdasan dan kebijaksanaan, sebagai hal yang positif. Dia menghargai hal-hal ini dan tidak bisa hidup tanpanya. "Ini adalah cara berperilaku yang sempurna, dan satu-satunya cara hidup yang memuaskan," pikirnya. "Ini adalah satu-satunya cara hidup yang bernilai, satu-satunya cara hidup yang menyebabkan orang lain iri terhadapku dan menghormatiku. Tentu saja aku bodoh dan dungu jika tidak hidup berdasarkan falsafah Iblis. Aku akan selalu dirugikan—diintimidasi, didiskriminasi, dan diperlakukan seperti pesuruh. Tidak ada gunanya hidup seperti itu. Aku tidak akan pernah menjadi orang yang jujur!" Apakah orang semacam ini akan melepaskan wataknya yang licik dan bertindak dengan jujur? Sama sekali tidak. Seberapa pun lamanya dia telah percaya kepada Tuhan, sebanyak apa pun khotbah yang telah dia dengarkan, dan sebanyak apa pun kebenaran yang telah dia pahami, orang semacam itu tidak akan pernah benar-benar mengikuti Tuhan. Dia tidak akan pernah dengan senang hati mengikut Tuhan, karena dia merasa untuk melakukannya, dia harus mengorbankan begitu banyak hal, meninggalkan begitu banyak, dan mengalami rasa sakit dan kerugian. Hal seperti ini, dia benar-benar tidak mau menerimanya. Dia berpikir, "Percaya kepada Tuhan itu adalah menganut agama. Menjadi orang percaya secara sebutannya saja, memiliki sedikit perilaku yang baik, dan memiliki sesuatu sebagai makanan rohani, itu sudah cukup. Tidak perlu membayar harga, menderita, atau meninggalkan apa pun. Asalkan orang percaya di dalam hatinya dan berkata bahwa mereka mengakui Tuhan, maka kepercayaan kepada Tuhan yang seperti ini akan memungkinkan mereka untuk diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan surga! Betapa luar biasanya iman yang seperti itu!" Akan mampukah orang-orang semacam itu mendapatkan kebenaran pada akhirnya? (Tidak.) Apa alasan mereka tidak akan mampu memperoleh kebenaran? Karena mereka tidak menyukai hal-hal yang positif, mereka tidak merindukan terang, dan mereka tidak mencintai jalan Tuhan atau kebenaran. Mereka suka mengikuti tren-tren duniawi, mereka terpikat oleh ketenaran, keuntungan, dan status, mereka senang menjadi lebih unggul dari orang lain, mereka memuja ketenaran, keuntungan, dan status, dan mereka memuja tokoh-tokoh besar dan ternama, tetapi mereka sebenarnya memuja setan-setan dan Iblis-Iblis. Yang mereka kejar di dalam hatinya bukanlah kebenaran atau hal-hal positif; sebaliknya, mereka mengejar pengetahuan. Dalam hatinya, dia tidak menyetujui orang-orang yang mengejar kebenaran dan bersaksi tentang Tuhan; sebaliknya, mereka menyetujui dan mengagumi orang-orang yang memiliki bakat dan karunia khusus. Dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, mereka tidak menempuh jalan mengejar kebenaran, melainkan jalan yang mengejar ketenaran, keuntungan, status, dan kekuasaan; mereka berusaha menjadi seseorang sangat licik, yang menang karena menggunakan siasat yang brillian; mereka berusaha menggabungkan diri ke tingkat kekuasaan tinggi di masyarakat untuk menjadi tokoh besar dan ternama. Mereka ingin disambut dengan penuh pemujaan dan diterima di semua kesempatan yang mereka hadiri; mereka ingin menjadi berhala bagi orang-orang. Menjadi orang yang semacam itulah yang mereka inginkan. Cara macam apakah ini? Ini adalah cara setan, jalan kejahatan. Ini bukanlah cara yang dipakai oleh orang yang percaya kepada Tuhan. Mereka menggunakan falsafah Iblis, logika Iblis, mereka menggunakan setiap taktiknya, setiap tipu muslihatnya, setiap siasatnya untuk menipu orang melalui kepercayaan pribadi orang terhadap mereka, untuk membuat orang memuja dan mengikuti mereka. Ini bukanlah jalan yang boleh ditempuh oleh orang yang percaya kepada Tuhan; orang semacam itu bukan saja tidak akan diselamatkan, tetapi mereka juga akan menghadapi hukuman Tuhan—tidak ada keraguan sedikit pun mengenai hal ini. Apa yang menjadi dasar apakah seseorang bisa diselamatkan atau tidak? Dasarnya adalah apakah mereka mampu menerima kebenaran, tunduk pada pekerjaan Tuhan, dan menempuh jalan mengejar kebenaran atau tidak. Itu ditentukan berdasarkan faktor-faktor ini. Jalan apa yang harus ditempuh agar seseorang dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan melalui iman? Mereka harus mengikuti Tuhan, mengindahkan firman-Nya, tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya, serta hidup sesuai dengan tuntutan-Nya dan kebenaran. Inilah satu-satunya jalan yang melaluinya seseorang dapat memperoleh keselamatan.
4 Januari 2018
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...