Manusia Adalah Penerima Manfaat Terbesar dari Rencana Pengelolaan Tuhan (Bagian Dua)

Ada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, telah mendengarkan banyak khotbah, dan memahami banyak doktrin, sehingga mereka mengira bahwa mereka telah memperoleh jalan yang benar, memperoleh Tuhan, dan mereka mengira bahwa mereka telah memperoleh hidup. Namun, dalam persoalan sehari-hari, mereka masih memperjuangkan ketenaran dan keuntungan. Mereka bahkan menyakiti dan mengucilkan orang lain, menyingkapkan keegoisan dan keburukan mereka yang tercela secara total. Mengapa mereka tidak mampu menerima kebenaran atau menerapkannya sama sekali? Mereka hanya tahu cara mengucapkan beberapa perkataan dan doktrin, dan mereka secara keliru mengira bahwa mereka telah memperoleh kehidupan. Bukankah keadaan manusia ini sangat menyedihkan? Mereka tidak mampu mengesampingkan kepentingan mereka sendiri, mereka juga tidak mampu menanggung penderitaan sekecil ini; jadi apa yang mampu mereka derita? Sejak awal hingga akhir, mereka menganggap kepentingan mereka sendiri dan keinginan mereka yang egois lebih penting daripada apa pun. Keadaan mereka sudah seperti ini ketika mereka mulai percaya kepada Tuhan, dan tidak pernah berubah hingga saat ini; mereka tetap menganggap diri mereka baik. Mengapa demikian? Karena mereka mengira bahwa mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, telah melaksanakan tugas mereka hingga saat ini; mereka mengira bahwa mereka telah cukup menderita, dan bahwa mereka telah memberikan kontribusi yang sangat besar, bahwa mereka lebih unggul dibandingkan orang lain dalam segala hal. Khususnya, orang-orang yang telah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun ini merasa diri lebih unggul, dan mereka secara keliru mengira bahwa mereka telah memperoleh Tuhan. Sumpah yang mereka ucapkan dan tekad yang mereka ungkapkan sama persis dengan saat mereka pertama kali mulai percaya kepada Tuhan. Baik tekad maupun sumpah mereka sama sekali tak berubah, begitu juga dengan semangat atau kemauan mereka. Mereka masih mengorbankan banyak tenaga untuk Tuhan, meski demikian ada juga hal-hal yang belum berubah. Watak mereka yang congkak, suka memberontak, curang, dan keras kepala sama sekali tidak berubah. Jadi Aku bertanya-tanya, apa saja yang telah dilakukan orang-orang ini selama bertahun-tahun? Mereka percaya kepada Tuhan dan setiap hari melakukan tugas mereka sejak fajar hingga senja, mengorbankan sebagian besar hidup mereka, jadi mereka mengira bahwa mereka telah memperoleh Tuhan dan jalan yang benar. Apakah kenyataannya memang demikian? Apakah Tuhan membenarkan perasaan mereka? Apa yang Tuhan inginkan? Bukankah ini persoalan yang patut direnungkan? Jika terdapat konflik yang jelas antara anggapan seseorang bahwa dirinya baik dengan pandangan Tuhan terhadapnya, manakah yang bermasalah? (Orang tersebut.) Itu sudah pasti, karena Tuhan tidak mungkin salah. Standar yang Tuhan tuntut dari manusia tidak pernah berubah. Sebaliknya, manusia terus-menerus menafsirkannya secara keliru, terus-menerus memahaminya dengan cara yang menguntungkan mereka sendiri. Ada yang berpikir, "Orang-orang ini telah percaya kepada Tuhan hampir sepanjang hidup mereka. Jika Tuhan benar-benar tidak berkenan terhadap mereka, bukankah mereka patut dikasihani?" Apakah orang-orang seperti itu patut dikasihani dan layak mendapatkan simpati? Jika engkau mengatakan bahwa mereka tidak patut dikasihani dan tidak layak mendapatkan simpati, bukankah ini terlalu kejam bagi mereka? Tidak. Mengapa Aku berkata demikian? (Karena Tuhan telah memberi manusia cukup banyak kesempatan. Mereka sendirilah yang tidak mau berusaha, dan rasa sakit yang mereka tanggung adalah kesalahan mereka sendiri.) Dengan bahasa yang lebih kasar, mereka pantas mendapatkannya, dan mereka tidak patut dikasihani. Jika Aku berbicara tentang orang lain, engkau semua akan berpikir: "Kau pantas mendapatkannya! Rasa sakit yang kautanggung adalah kesalahanmu sendiri. Tak ada seorang pun yang mencegahmu untuk mendengarkan firman Tuhan! Tuhan tidak menginginkanmu, dan aku pun tidak bersimpati atau mengasihanimu. Kau pantas mendapatkannya!" Namun jika hal ini terjadi pada diri engkau semua, akankah engkau memeriksa hati nuranimu sendiri dan mengoreksi diri? Apa yang seharusnya kaupikirkan? Bagaimana seharusnya engkau berpikir dengan rasional, dengan nalar dan hati nurani, sesuai dengan peran makhluk ciptaan yang seharusnya, dan dengan pemikiran serta sikap yang seharusnya makhluk ciptaan miliki? Bagaimana seharusnya engkau berpikir dan bertindak agar dapat memberikan alasan yang selogis dan seadil mungkin kepada Tuhan dan manusia? (Ya Tuhan, aku ingin sedikit mengungkapkan perasaanku. Kupikir aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi aku belum memperoleh kebenaran. Ini bukan karena Tuhan telah melakukan kesalahan, juga bukan karena pekerjaan Tuhan belum membuahkan hasil, tetapi karena aku belum mengejar kebenaran. Aku merenungkan contoh yang Tuhan Yesus berikan: Upah dari orang-orang yang masuk ke kebun anggur lebih awal sama dengan upah mereka yang masuk ke kebun anggur belakangan. Tuhan sangat adil dan masuk akal dalam apa yang Dia berikan kepada mereka yang menerima pekerjaan-Nya lebih awal dan mereka yang menerima pekerjaan-Nya belakangan. Jika orang tidak mengejar kebenaran, dan pada akhirnya tidak memperoleh kebenaran yang Tuhan anugerahkan kepada manusia, ini bukan disebabkan Dia tidak memberi mereka cukup waktu, melainkan karena mereka tidak menghargai atau menerima kebenaran. Satu demi satu, mereka kehilangan hak dan kesempatan yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Beberapa orang percaya kepada Tuhan dalam waktu yang singkat, meski demikian mereka mampu menerima dan mengejar kebenaran. Setelah mengalami penghakiman, hajaran, dan pemangkasan oleh firman Tuhan selama beberapa tahun, mereka mengalami cukup perubahan, dan dapat diselamatkan. Semua yang Tuhan lakukan ini benar. Inilah sebagian dari yang kurasakan setelah mendengarkan persekutuan dari Tuhan.) Bagus sekali! Pertama-tama mari kita bahas masalah ini dari sudut pandang manusia. Jika Tuhan tidak berinkarnasi untuk menyelamatkan manusia, lalu apa situasi yang akan dialami semua orang yang percaya kepada Tuhan? Mereka akan sepenuhnya hidup di bawah kekuasaan Iblis, di tengah gelombang kejahatan, dan di antara manusia yang rusak. Hidup di antara manusia yang rusak sama saja dengan tinggal di penjara Iblis, tinggal di sarang setan, atau tinggal di tengah-tengah kebusukan yang merusak. Jika seseorang tidak percaya kepada Tuhan, pasti dia akan melakukan apa pun yang diinginkannya, berbuat hal-hal buruk atau jahat. Kerusakan mereka menjadi makin dalam, dan mereka menjadi makin jahat, makin tidak masuk akal, dan pada akhirnya, mereka menjadi setan yang berwujud manusia. Dari perkataan dan perbuatannya, mereka tampak seperti manusia, tetapi seluruh mentalitas dan watak mereka telah menjadi watak Iblis. Apa kesudahan dari orang-orang seperti itu? Bukankah mereka akan menemui kesudahan yang sama seperti Iblis? (Ya.) Mereka telah sepenuhnya ditawan oleh Iblis. Mereka adalah sekutu Iblis, telah menjadi kaki tangan dan antek Iblis, dan mereka menentang Tuhan sama kerasnya seperti Iblis. Dengan demikian mereka tidak lagi memiliki ruang untuk bersiasat, dan pada akhirnya, kesudahan mereka adalah penghukuman dan pemusnahan. Yang kita bicarakan di sini adalah manusia. Jika engkau tidak percaya kepada Tuhan, Tuhan tidak akan menyelamatkanmu. Engkau mungkin sangat bebas di dunia ini, engkau dapat melakukan apa pun yang kauinginkan, dan bertindak sesukamu; engkau mungkin tidak perlu dibatasi oleh hati nurani dan nalarmu, juga tidak perlu menerima atau pun menerapkan kebenaran, apalagi menerima pemangkasan dan disiplin. Engkau hanya hidup berdasarkan pilihanmu sendiri, hidup dengan mengikuti tren dunia sampai akhirnya engkau benar-benar berubah menjadi tidak memiliki nalar dan persepsi akan hati nurani. Engkau secara total dan menyeluruh mengalami kemunduran menjadi setan yang berwujud manusia, Iblis yang berwujud manusia, baik di dalam dirimu maupun apa yang tampak dari luar; engkau tidak perlu menyamar atau menyelubungi diri—engkau benar-benar Iblis, si setan. Inilah kesudahan dari orang-orang tidak percaya yang hidup di bawah kekuasaan Iblis, dan pada akhirnya mereka harus dimusnahkan oleh bencana. Katakanlah ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak pernah mampu menerima kebenaran, tidak pernah mampu memahami dirinya sendiri, dan tidak sungguh-sungguh bertobat; mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi mereka sama sekali tidak berubah; hati nurani dan nalar mereka belum dipulihkan, dan cara hidup mereka sama dengan cara hidup orang tidak percaya. Tidak soal bagaimana Tuhan menghakimi dan menghajar orang, dan tidak soal bagaimana rumah Tuhan mempersekutukan kebenaran, mereka sama sekali tidak memerhatikan hal itu. Orang-orang seperti itu adalah pengikut yang bukan orang percaya, orang jahat yang telah menyusup ke dalam rumah Tuhan. Tuhan telah memberikan banyak kesempatan untuk memperoleh kebenaran dan keselamatan, dan orang telah bertahun-tahun percaya tanpa sedikit pun menaruh perhatian pada maksud Tuhan; mereka masih mengejar kenikmatan daging seperti biasanya, masih makan, minum, dan bersenang-senang. Mereka tidak memiliki hati nurani, tidak memiliki unsur-unsur kemanusiaan yang positif. Mereka sudah tidak mungkin lagi untuk diselamatkan, tidak mungkin lagi untuk kembali. Tuhan telah menyerah pada mereka, dan tidak menyelamatkan mereka; kesudahan mereka tidak perlu dijelaskan lagi. Pada titik ini, kehidupan mereka dalam memercayai Tuhan telah berakhir; perjalanan mereka dalam memercayai Tuhan sudah selesai. Kesudahan mereka telah ditentukan—inilah kesudahan mereka. Perasaan apa yang ada dalam hati seseorang ketika mengalami kesudahan seperti ini? Hatinya akan terasa sakit, dia akan benar-benar putus asa dan sedih, merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan dirinya, seolah-olah dia sedang berada di lautan yang tak berujung, tak mampu meraih pengharapan terakhirnya, benar-benar malang dan sama sekali tak berdaya. Ketika engkau belum tenggelam sedalam itu, engkau tidak mungkin merasakan penderitaan seperti itu. Namun, begitu engkau mencapai titik tersebut, engkau tidak mampu kembali. Dalam situasi di mana Tuhan tidak akan menyelamatkan manusia inilah, manusia pada akhirnya akan berjalan menuju takdir seperti ini, dan menuju kesudahan seperti ini. Namun apakah Tuhan akan kehilangan sesuatu jika manusia mengalami takdir seperti ini, kesudahan seperti ini? Apakah Tuhan akan kehilangan sesuatu jika manusia yang Dia ciptakan dirusak oleh Iblis, jika mereka sama sekali tidak menerima keselamatan-Nya, dan menempuh jalan menuju kehancuran? Sama sekali tidak. Apakah Tuhan tidak akan lagi menjadi Tuhan karena salah satu makhluk ciptaan-Nya dimusnahkan? Akankah Dia kehilangan identitas dan status-Nya sebagai Tuhan, esensi-Nya sebagai Tuhan? Akankah ini mengubah fakta bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu? (Tidak.) Tidak akan. Apa artinya ini? Baik manusia menerima pekerjaan Tuhan ataupun tidak, baik mereka mampu memperoleh keselamatan ataupun tidak, Tuhan tidak kehilangan apa pun. Ini adalah salah satu aspeknya. Sekalipun manusia tidak percaya kepada Tuhan dan Tuhan tidak bekerja untuk menyelamatkan manusia, Tuhan tidak kehilangan apa pun. Iblis tetaplah Iblis; Tuhan tetaplah Tuhan. Dia yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu tetaplah Tuhan, Dia yang menciptakan segala sesuatu tetaplah Tuhan, dan Dia yang berdaulat atas segala sesuatu tetaplah Tuhan. Takdir manusia, takdir Iblis, dan takdir segala sesuatu berada dalam tangan Tuhan. Status Tuhan, keunikan Tuhan, watak Tuhan, dan esensi Tuhan tidak mungkin berubah. Kekudusan Tuhan juga tidak akan tercemar, dan pekerjaan-Nya tidak akan terpengaruh. Tuhan tetaplah Tuhan. Hal ini memungkinkan manusia untuk memahami sebuah kenyataan: Sebanyak apa pun jumlah manusia, di mata Tuhan, itu hanyalah angka. Itu bukan merupakan kekuatan yang signifikan dan tidak menimbulkan ancaman apa pun terhadap Tuhan. Apa pun jalan yang manusia ikuti, semua itu berada dalam tangan Tuhan. Apa pun kesudahan yang manusia hadapi, baik mereka percaya kepada Tuhan ataupun tidak, mengakui keberadaan atau kedaulatan-Nya ataupun tidak, semua itu tidak akan mampu memengaruhi identitas atau status Tuhan yang hakiki, juga tidak akan mampu memengaruhi esensi Tuhan. Ini adalah fakta yang tak dapat diubah oleh siapa pun. Namun ada sesuatu yang mungkin belum dipahami dengan jelas atau dialami orang. Jika ada siapa pun di antara manusia yang ditinggalkan oleh Tuhan, dan Dia tidak menyelamatkan mereka, maka kesudahan akhir mereka adalah pemusnahan, dan hal itu tidak dapat diubah. Di seluruh alam semesta dan dalam segala hal, sebesar apa pun itu, sebanyak apa pun benda-benda angkasa yang ada, sebanyak apa pun kehidupan yang ada, semua itu tidak dapat mengubah fakta tentang keberadaan Tuhan, dan takdir dari alam semesta dan segala sesuatu hanya berada dalam tangan Yang Maha Esa. Mulai dari organisme hidup hingga planet, tidak ada apa pun yang mampu memengaruhi keberadaan Tuhan, juga tidak ada apa pun yang memengaruhi kedaulatan Tuhan, terlebih lagi mengendalikan gagasan apa pun yang Tuhan miliki. Inilah kenyataannya. Ada orang-orang yang meyakini, "Aku tidak percaya kepada-Mu, jadi engkau bukanlah Tuhan." "Tidak banyak orang yang percaya kepada-Mu, jadi Engkau bukanlah Tuhan." Apakah ini perkataan yang logis? (Tidak.) Ada pula orang-orang yang berkata: "Hanya kami yang percaya kepada-Mu, jadi kedaulatan-Mu atas segala sesuatu dan atas manusia hanya sebesar ini, hanya sejauh ini." Apakah memang demikian? (Tidak.) Orang yang memiliki pandangan seperti itu sangatlah bodoh dan dungu!

Aku baru saja mempersekutukan tentang bagaimana jika Tuhan tidak menyelamatkan manusia, maka manusia akan menuju kemusnahan, tetapi identitas dan status Tuhan tidak akan terpengaruh sama sekali, terlebih lagi esensi-Nya. Engkau melihat fakta ini dengan jelas, bukan? (Ya.) Entah manusia menerima kebenaran ataupun tidak, mampu memperoleh keselamatan ataupun tidak, Tuhan tetaplah Tuhan—status, identitas, dan esensi-Nya tidak akan berubah. Meskipun demikian, terdapat beragam kemungkinan dalam hal takdir umat manusia. Siapa yang mengendalikan beragam kemungkinan itu? Apakah manusia itu sendiri? Apakah negara? Apakah penguasa? Apakah sebuah kekuatan? Tidak. Yang bertanggung jawab atas takdirmu dan takdir umat manusia adalah Tuhan—semuanya ada di dalam tangan-Nya. Jadi, engkau harus memahami kebenaran ini dengan jelas: Dengan menyelamatkan manusia dan menyelamatkan dirimu, Tuhan sedang menunjukkan kasih karunia-Nya kepadamu. Ini adalah keselamatan yang besar, dan merupakan kasih karunia yang terbesar. Mengapa kukatakan ini adalah kasih karunia terbesar? Karena penyelamatan Tuhan terhadap umat manusia bukanlah sebuah hukum yang tak dapat ditawar-tawar, bukan sebuah jalan yang tak dapat dihindari, juga bukan sebuah keharusan. Tuhan memutuskan untuk melakukan hal itu secara bebas. Apakah tidak masalah jika Tuhan tidak menyelamatkanmu? Tentu, Dia tidak berkewajiban untuk menyelamatkanmu. Pada awalnya, Tuhan mungkin telah menentukan takdirmu, tetapi jika Dia tidak ingin memilihmu sekarang, dan Dia tidak menyelamatkanmu, maka engkau tidak mungkin mendapatkan kasih karunia ini. Jadi, apa yang seharusnya kaulakukan? Engkau harus melaksanakan tugas dengan baik, dan berusaha dengan segala cara untuk menggunakan tindakanmu, hatimu, serta imanmu yang sejati untuk menggerakkan hati Tuhan dan mendapatkan kasih karunia-Nya. Tentunya ini bukan hal yang tidak mungkin. Ketika Tuhan Yesus mengabarkan Injil pada zaman dahulu, ada seorang perempuan Kanaan—apa yang dia lakukan? (Anak perempuannya kerasukan setan, jadi dia meminta Tuhan Yesus untuk menolongnya. Tuhan Yesus berfirman, "Tidaklah pantas mengambil roti anak-anak dan memberikannya kepada anjing." Perempuan itu berkata, "Anjing pun boleh memakan sisa makanan yang jatuh dari meja tuannya." Tuhan Yesus berkata bahwa iman perempuan itu sangat besar, dan mengabulkan permintaannya.) Hal apa dari perempuan itu yang diperkenan Tuhan Yesus? (Imannya.) Apa sesungguhnya yang diimani perempuan itu? Bagaimana seharusnya kita memahami imannya? (Dia mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan.) Tuhan Yesus menyebut perempuan itu sebagai anjing, jadi mengapa perempuan itu tidak marah? Engkau semua tidak mampu membicarakan masalah ini dengan jelas. Inilah faktanya: Mengapa Tuhan Yesus berkenan atas iman perempuan ini? Tuhan Yesus bukan berkenan akan kenyataan bahwa perempuan itu rela disebut sebagai anjing, Dia juga bukan berkenan akan kerelaan perempuan itu untuk makan remah-remah—semua itu tidak terlalu penting. Jadi, apa yang diperkenan Tuhan Yesus? Yang diperkenan Tuhan Yesus adalah perempuan itu tidak peduli apakah Tuhan Yesus memperlakukannya sebagai anjing, manusia, setan, atau Iblis, dia tidak mempermasalahkan bagaimana Tuhan Yesus memperlakukan dirinya. Yang terpenting adalah dia memperlakukan Tuhan Yesus sebagai Tuhan, percaya dengan teguh bahwa Yesus adalah Tuhan, dan bahwa ini adalah kebenaran dan fakta yang tidak akan pernah berubah. Yesus adalah Tuhan, dan Dia adalah Pribadi yang dikenalnya dalam hatinya. Itu sudah cukup. Entah Tuhan Yesus menyelamatkannya ataupun tidak, entah Dia memperlakukan dirinya sebagai orang yang makan bersama-Nya, sebagai murid, sebagai pengikut, atau memperlakukannya seperti anjing, itu tidak menjadi masalah baginya. Singkatnya, kenyataan bahwa dia mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan di dalam hatinya sudah cukup—itulah imannya yang terbesar. Apakah engkau semua memiliki iman seperti ini? Jika suatu hari Aku mengatakan bahwa engkau semua adalah anjing penjaga rumah Tuhan, relakah engkau menerima perkataan ini? Jika Aku mengatakan bahwa engkau adalah anak-anak kesayangan rumah Tuhan, umat Tuhan, dan malaikat, engkau akan merasa sangat puas, tetapi jika Aku menyebutmu anjing, engkau tidak akan senang. Mengapa engkau tidak senang? Karena engkau menganggap dirimu sendiri sangat penting. Engkau berpikir, "Aku mengakui-Mu sebagai Tuhan, jadi bagaimana mungkin Engkau menyebutku anjing? Aku mengakui Engkau sebagai Tuhan, jadi apa pun yang Kaulakukan, Engkau harus bersikap adil dan masuk akal. Kita berdua setara, kita adalah sahabat! Aku percaya kepada-Mu, dan itu menunjukkan keberanian, kasih, dan iman yang sangat besar di pihakku. Bagaimana Engkau bisa mengatakan bahwa aku adalah anjing? Engkau tidak mengasihi manusia! Kita adalah sahabat, kita seharusnya memiliki kedudukan yang setara. Aku menghormati Engkau, aku takut akan Engkau, dan aku mengagumi Engkau—jadi Engkau harus menghormatiku, dan memperlakukanku sebagai manusia. Aku ini manusia!" Bagaimana pendapatmu tentang sikap semacam ini? (Ini tidak bernalar.) Ketika orang ingin memiliki kedudukan yang setara dengan Tuhan dan memperlakukan Tuhan sebagai sahabat mereka, bukankah ini akan membawa masalah? Engkau berkata kepada Tuhan, "Engkau terlihat biasa-biasa saja. Sebenarnya aku terlihat lebih baik daripada-Mu, dan aku lebih tinggi daripada-Mu. Engkau juga batuk ketika Engkau masuk angin, dan Engkau juga menjadi lelah ketika Engkau banyak berbicara—aku lebih sehat daripada-Mu. Engkau hanya memiliki kebenaran, dan dalam hal itu Engkau lebih kuat daripada aku. Namun, jika aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, dan memahami lebih banyak kebenaran, aku tidak akan lebih buruk daripada-Mu. Terlebih lagi, aku memiliki keterampilan yang tidak Engkau miliki! Jika dibandingkan seperti itu, Engkau tidak jauh lebih hebat daripada aku." Apa pendapatmu tentang sudut pandang ini? (Ini salah.) Apa pendapatmu tentang metode perbandingan ini? Tidak mungkin manusia dapat dibandingkan dengan Tuhan. Kesalahan macam apa yang dilakukan melalui metode perbandingan ini? (Kesalahannya adalah manusia tidak menempati kedudukan mereka yang seharusnya dan tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Mereka memperlakukan Dia sebagai manusia biasa. Mereka hanya melihat kemanusiaan dari Tuhan yang berinkarnasi, tetapi mereka tidak melihat keilahian-Nya.) Sederhananya, mereka tidak memiliki hati nurani dan tidak bernalar—mereka tidak memiliki kemanusiaan. Selain itu, manusia belum melihat wujud rohani Tuhan, sehingga mereka memperlakukan inkarnasi-Nya sebagai manusia dan mengira bahwa orang yang biasa-biasa saja ini tidak hebat ataupun mengesankan, dan Dia mudah dirundung serta dibodohi. Seperti itulah keadaannya. Manusia benar-benar makhluk yang sangat rusak. Jika engkau tidak mengejar kebenaran, inilah yang akan terjadi seiring berjalannya waktu; engkau tidak akan memiliki hati yang menghormati Tuhan maupun hati yang takut akan Tuhan. Tujuan orang mengejar kebenaran adalah agar mereka mampu tunduk kepada Tuhan. Tidak soal apa tindakan-Nya, dalam wujud apa Dia menampakkan diri, atau dengan cara apa Dia berbicara kepadamu, kedudukan Tuhan dalam hatimu tidak akan berubah, begitu pula rasa takutmu akan Tuhan, begitu pula hubunganmu dengan-Nya, begitu pula imanmu yang sejati kepada-Nya. Esensi dan status Tuhan dalam hatimu tidak akan berubah. Dalam hubunganmu dengan Tuhan, engkau akan dapat menanganinya dengan sangat baik, secara tepat, masuk akal, sesuai standar, dan mampu menahan diri. Namun jika engkau tidak mengejar kebenaran, engkau akan sangat sulit mencapai hal ini—tidak akan mudah bagimu untuk melakukannya. Jika orang tidak mengejar kebenaran, mereka tidak akan mampu memahami esensi Tuhan maupun keilahian-Nya. Mereka tidak akan mengetahui hal-hal apa yang membentuk watak-Nya atau pencurahan diri-Nya yang sebenarnya. Orang tidak akan mampu memahami hal-hal ini. Sekalipun hal itu diberitahukan kepadamu, engkau tidak akan mampu memahaminya, dan engkau juga tidak akan mampu menyadarinya.

Kita baru saja membicarakan tentang bagaimana kesudahan manusia jika Tuhan tidak menyelamatkan mereka. Apa kesudahannya? (Kemusnahan.) Bagaimana dengan Tuhan? (Ini tidak akan memberikan pengaruh apa pun terhadap Tuhan.) Ini meninjau dari sudut pandang Tuhan tidak menyelamatkan manusia; Tuhan tidak akan terpengaruh sama sekali, tetapi takdir dan kesudahan manusia akan menjadi menyedihkan—jauh berbeda dari kesudahan orang-orang seperti Ayub dan Abraham. Jika Tuhan tidak menyelamatkan manusia, mereka akan terhitung di antara kekuatan musuh-musuh-Nya dan barisan lawan-lawan-Nya. Kesudahan semacam ini jelas sangat buruk. Sekarang mari kita bicarakan mengenai apa yang akan orang dapatkan dari keinginan Tuhan untuk menyelamatkan mereka dan melakukan pekerjaan atas mereka. Mengapa orang percaya kepada Tuhan? Apa yang dikejar oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan? Apakah mereka mengejar kepuasan Tuhan? Apakah mereka mengejar pelaksanaan tugas mereka sebagai makhluk ciptaan? Apakah mereka mengejar dipermalukannya Iblis dan bersaksi bagi Tuhan? Semua alasan ini kedengaran terlalu muluk-muluk, dan sangat sulit dipercaya. Jika sekarang Aku memintamu untuk mengatakan tujuanmu ketika engkau pertama kali mulai percaya kepada Tuhan, hati nuranimu akan merasa bersalah dan engkau akan tersipu ketika mengucapkan perkataan ini; engkau akan sulit untuk mengatakannya karena bukan itu kenyataannya. Jadi, apa sebenarnya kenyataannya? (Orang percaya kepada Tuhan karena mereka mengejar berkat.) (Mereka mengejar tempat tujuan yang baik, atau sumber pemeliharaan rohani.) Singkatnya, tujuan seperti itu agak kurang pantas dan sangat tidak layak. Namun, jika pada mulanya mereka tidak mengejar tujuan ini, akankah orang percaya kepada Tuhan? Tentu saja mereka tidak memiliki niat atau keinginan untuk percaya kepada Tuhan; jika mereka tidak mendapatkan keuntungan apa pun darinya, siapa yang mau percaya kepada Tuhan? Orang berpikir bahwa jika mereka tidak mendapatkan sedikit pun keuntungan dari percaya kepada Tuhan, setidaknya mereka harus mendapatkan sebuah janji. Janji apa? Ada orang yang berkata, "Janji Tuhan adalah kita akan menerima seratus kali lipat di kehidupan ini dan menerima hidup yang kekal di dunia yang akan datang—ini berarti kita akan hidup selamanya, tidak akan pernah mengalami kematian. Itu adalah kebahagiaan dan berkat yang tak pernah dinikmati atau diterima seorang pun sepanjang masa. Terlebih lagi, jika orang percaya kepada Tuhan, Dia akan mencurahkan anugerah, berkat, dan perlindungan kepada mereka dalam kehidupan ini." Singkatnya, ketika orang baru mulai percaya kepada Tuhan, hatinya tidak murni dan kotor. Kepercayaannya kepada Tuhan bukan untuk melakukan tugas sebagai seorang makhluk ciptaan, bukan untuk hidup selayaknya manusia dan pada akhirnya hidup menurut gambar manusia sejati yang Tuhan kasihi, bukan untuk hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan dan bersaksi bagi-Nya, bukan untuk tidak mempermalukan-Nya, dan bukan untuk tetap bersaksi bagi-Nya bahkan setelah kematiannya. Sebaliknya, dengan segenap hati dan jiwanya, dia ingin diberkati, dan ingin menikmati lebih banyak anugerah dan berkat Tuhan dalam hidup ini. Dia berpikir bahwa jika dia dapat mencapai dunia yang akan datang, maka dia ingin memperoleh berkat yang lebih besar lagi di sana. Ketika orang pertama kali mulai percaya kepada Tuhan, inilah keinginan, maksud, dan tujuan yang dimilikinya; dia percaya kepada Tuhan untuk memperoleh berkat kerajaan surga serta janji Tuhan. Bagi manusia yang rusak, hal ini wajar-wajar saja, dan Tuhan tidak akan mempersalahkan manusia atas hal ini. Ketika orang mulai percaya kepada Tuhan, mereka semua bodoh dan tidak memahami apa pun. Setelah membaca firman Tuhan dan mengalami pencerahan dari-Nya, sedikit demi sedikit mereka mulai memahami kebenaran tentang percaya kepada Tuhan, pentingnya percaya kepada Tuhan, serta tuntutan Tuhan terhadap manusia. Selama proses ini, orang menikmati pemeliharaan dan perlindungan Tuhan; ada orang-orang yang disembuhkan penyakitnya, tubuh mereka cukup sehat, keluarga mereka hidup damai, dan pernikahan mereka bahagia. Mereka menikmati anugerah dan berkat Tuhan dalam takaran yang berbeda-beda, dengan cara yang berbeda-beda. Tentu saja, semua ini bukan yang utama. Dari sudut pandang Tuhan, ini bukanlah hal terbesar yang diupayakan-Nya. Apa upaya terbesar-Nya? (Pengharapan-Nya atas manusia dan upaya-Nya yang penuh dengan kesungguhan.) "Upaya-Nya yang penuh dengan kesungguhan" berisi sesuatu yang nyata, sedangkan "pengharapan" itu agak kosong. Apa manfaat paling nyata, hal paling berharga yang pernah engkau semua terima dari Tuhan? (Persediaan berupa kebenaran.) (Memahami sebagian kebenaran dan kemampuan untuk memahami beberapa hal.) Tentu saja manfaat-manfaat ini bukanlah apa yang disebut anugerah dan berkat. Bukankah hal paling berharga yang manusia terima dari Tuhan adalah kehidupan, firman, dan kebenaran-Nya, serta jalan yang harus manusia tempuh sebagai makhluk ciptaan, yang mampu mereka pahami karena Tuhan? Singkatnya, manusia telah memperoleh jalan, kebenaran, dan hidup dari Tuhan—bukankah ini adalah hal-hal yang paling berharga di antara segalanya? (Ya.) Sudahkah engkau semua memperolehnya? (Kami belum benar-benar memperolehnya.) Manfaat-manfaat ini mungkin tidak terasa senyata jika ada orang yang memberimu seratus dolar ketika engkau miskin, atau ada orang yang memberimu dua roti gulung saat engkau lapar, tetapi kebenaran, jalan, dan hidup yang berasal dari Tuhan benar-benar dianugerahkan kepada setiap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Bukankah itu faktanya? (Ya.) Itulah faktanya. Sebanyak apa pun firman Tuhan yang telah kaudengar, sebanyak apa pun kebenaran yang mampu kauterima dan telah kaupahami, sebanyak apa pun kenyataan yang telah kaujalani, atau sebanyak apa pun hasil yang telah kauperoleh, ada sebuah fakta yang harus kaupahami: Kebenaran, jalan, dan hidup dari Tuhan dianugerahkan secara cuma-cuma secara adil kepada setiap orang. Tuhan tidak akan pernah pilih kasih antara satu orang dengan yang lainnya berdasarkan telah berapa lama mereka percaya kepada Tuhan atau sebesar apa penderitaan mereka. Dia tidak akan pernah lebih menyukai atau lebih memberkati seseorang karena dia telah percaya kepada Tuhan untuk waktu yang lama, atau karena dia telah banyak menderita. Tuhan juga tidak akan pilih kasih terhadap siapa pun oleh karena usia, penampilan, jenis kelamin, latar belakang keluarganya, dan sebagainya. Setiap orang mendapatkan hal yang sama dari Tuhan. Dia tidak mengizinkan siapa pun untuk mendapatkan lebih sedikit, atau mendapatkan lebih banyak. Tuhan memperlakukan setiap orang secara adil dan masuk akal. Dia memberi manusia apa yang benar-benar mereka butuhkan, pada saat mereka membutuhkannya. Dia tidak membiarkan mereka kelaparan, kedinginan, atau kehausan, dan Dia memuaskan semua kebutuhan hati manusia. Ketika Tuhan melakukan hal-hal ini, apa yang Tuhan tuntut dari manusia? Tuhan menganugerahkan hal-hal ini kepada manusia, jadi apakah Tuhan memiliki motif yang mementingkan diri? (Tidak.) Tuhan sama sekali tidak memiliki motif mementingkan diri sendiri. Seluruh firman Tuhan dan pekerjaan Tuhan adalah demi kepentingan umat manusia dan dimaksudkan untuk memecahkan semua kesulitan dan kesukaran manusia, agar mereka dapat memperoleh hidup yang sesungguhnya dari Dia. Inilah faktanya. Namun dapatkah engkau semua membuktikan hal ini dengan fakta-fakta? Jika engkau semua tidak mampu membuktikan hal ini dengan fakta-fakta, maka engkau sangat keliru saat mengatakan hal ini, dan pernyataan ini hanyalah basa-basi. Dapatkah Kukatakan demikian? Sebagai contoh, Tuhan meminta manusia untuk bersikap jujur, berbicara dengan jujur, dan melakukan hal-hal yang jujur serta tidak curang. Pentingnya perkataan Tuhan ini adalah agar manusia mampu memiliki keserupaan dengan manusia sejati dan tidak menjadi seperti Iblis yang cara bicaranya seperti ular yang merayap di tanah, selalu berdalih dan mencegah orang lain untuk memahami masalah yang sebenarnya. Artinya, Tuhan mengatakan hal ini agar manusia, baik dalam perkataan maupun perbuatan, akan hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati, bermartabat, jujur, dan terhormat, tidak menyembunyikan sisi gelapnya atau hal-hal yang memalukan, dan memiliki hati yang bersih. Tuhan mengatakan hal ini agar orang menunjukkan hal yang sama di luarnya sebagaimana yang ada di dalam batinnya, mengatakan apa pun yang dipikirkannya di dalam hatinya, tidak menipu Tuhan maupun orang lain, tidak menyembunyikan apa pun, dengan hati yang bagaikan sebidang tanah yang suci. Inilah yang Tuhan minta, dan inilah tujuan Tuhan dalam menuntut orang untuk jujur. Dengan menuntut orang untuk jujur, Tuhan ingin mereka mendapatkan apa? Tuhan ingin agar mereka hidup dalam keserupaan dengan apa? Siapa penerima manfaat terbesar dari hal ini? (Manusia.) Ada orang-orang yang tidak pernah mampu memahami maksud Tuhan. Mereka selalu meragukan Tuhan, dan berkata: "Tuhan ingin kita jujur dan berbicara kepadanya secara terus-terang dan terbuka agar dia dapat mengetahui keadaan kita yang sebenarnya, lalu mengendalikan dan memanipulasi kita, membuat kita tunduk sepenuhnya pada penataan dan pengaturannya." Apakah pemikiran ini benar? Pemikiran ini sangat jahat dan tak tahu malu. Hanya Iblis yang berspekulasi tentang Tuhan dan meragukan Dia dengan cara seperti ini. Mengapa Tuhan menuntut orang untuk jujur, menjadi orang yang tidak memiliki motif, tujuan, keinginan, atau kepalsuan yang mementingkan diri, serta tidak memiliki sisi gelap? Tujuannya adalah agar orang dapat ditahirkan dari watak rusak mereka, sedikit demi sedikit mencapai kekudusan, hidup dalam terang, hidup dengan lebih bebas dan merdeka, penuh dengan kegembiraan, serta meluap dengan sukacita dan damai—mereka itulah orang-orang yang paling diberkati dari antara semuanya. Tujuan Tuhan adalah untuk menyempurnakan manusia, agar mereka dapat menikmati berkat-berkat terbesar. Jika engkau menjadi orang seperti ini, manfaat apa yang bisa Tuhan dapatkan darimu? Apakah Tuhan memiliki motif tersembunyi? Apakah Dia mendapatkan keuntungan sama sekali dari hal ini? (Tidak.) Jadi jika orang bersikap jujur, siapa penerima manfaat terbesar dari hal ini? (Orang itu sendiri.) Manfaat dan keuntungan apa yang bisa orang dapatkan dari hal ini? (Hati mereka akan menjadi bebas dan lepas, dan hidup mereka akan menjadi makin mudah; mereka akan makin dipercaya oleh orang lain yang berinteraksi dengan mereka, dan mereka akan memiliki hubungan yang normal dengan orang lain.) Apa lagi? (Ketika manusia berperilaku sesuai dengan firman dan tuntutan Tuhan, mereka tidak akan menderita lagi. Sebaliknya mereka akan menjalani kehidupan yang tenang, damai, dan bahagia.) Perasaan ini benar-benar nyata. Jadi, apa tujuan Tuhan menyelamatkan manusia? (Untuk mengubah dan mentahirkan manusia, agar pada akhirnya Dia bisa mendapatkan mereka.) Apa hasil dari didapatkan oleh Tuhan? Hasilnya adalah memperoleh tempat tujuan indah yang telah Tuhan janjikan. Jadi, siapa penerima manfaat terbesar dari hal ini? (Manusia.) Manusialah penerima manfaat terbesarnya!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp