Firman tentang Bagaimana Memperlakukan Kebenaran dan Tuhan (Kutipan 3)
Sejumlah besar orang-orang percaya gagal mementingkan perubahan dalam watak hidup. Sebaliknya mereka lebih berfokus dan menaruh perhatian pada bagaimana sikap Tuhan terhadap diri mereka dan apakah mereka memiliki tempat di hati Tuhan atau tidak. Mereka selalu berusaha mengira-ngira bagaimana penampilan mereka di mata Tuhan dan apakah mereka memiliki posisi di hati-Nya. Banyak orang menyimpan pemikiran-pemikiran seperti ini dan apabila mereka berhadapan muka dengan Tuhan, mereka selalu mengamati apakah Dia gembira atau marah ketika Dia berbicara kepada mereka. Berikutnya ada orang-orang yang selalu bertanya kepada orang lain, "Apakah Tuhan telah menyebutkan kesulitan-kesulitanku? Apa yang Dia pikirkan tentangku? Apakah Dia memperlihatkan perhatian kepadaku?" Ada orang-orang bahkan memiliki masalah yang lebih serius, yaitu apabila Tuhan melirik mereka saja, seolah-olah mereka telah mendeteksi masalah baru: "Oh tidak, Tuhan baru saja melirikku dan pandangan mata-Nya tampak tidak terlalu senang, ini bukan pertanda baik." Orang-orang sangat mementingkan hal-hal seperti itu. Ada orang-orang yang berkata: "Tuhan yang kami percayai adalah Tuhan yang berinkarnasi, jadi jika Dia tidak memperhatikan kita, bukankah itu berarti akhir bagi kita?" Yang mereka maksud dengan pernyataan tadi adalah, "Jika kita tidak memiliki tempat di hati Tuhan, mengapa kita harus repot-repot percaya? Sebaiknya kita berhenti percaya!" Bukankah ini tidak masuk akal? Apakah engkau tahu mengapa orang harus percaya kepada Tuhan? Manusia tidak pernah merenungkan apakah Tuhan memiliki tempat di dalam hati mereka, tetapi mereka ingin tempat di dalam hati Tuhan. Betapa congkak dan sombongnya mereka! Inilah bagian dalam diri mereka yang tak bernalar. Ada orang-orang yang bahkan sangat tak bernalar sehingga ketika Tuhan menanyakan tentang orang lain dan tidak menyebut nama mereka, atau ketika Tuhan memperlihatkan perhatian dan peduli kepada orang lain dan bukan kepada diri mereka, orang-orang ini merasa tidak puas dan mulai menggerutu dan mengeluh mengenai Tuhan dengan berkata bahwa Dia tidak benar, tidak adil dan tidak masuk akal. Inilah masalah dengan nalar mereka dan secara psikologi mereka juga agak tidak normal. Dalam situasi normal, orang-orang selalu berkata bahwa mereka akan tunduk pada penataan dan pengaturan Tuhan. Mereka tidak akan pernah mengeluh seperti apa pun cara Tuhan memperlakukan mereka dan tidak ada masalah ketika Tuhan memangkas, menghakimi, atau menghajar mereka. Namun, sewaktu menghadapi hal-hal seperti itu di dunia nyata, mereka tidak bisa menerimanya. Apakah orang-orang memiliki nalar? Orang-orang menganggap diri mereka sendiri terlalu tinggi dan menganggap diri mereka begitu penting sehingga jika mereka merasa Tuhan sedang melihat mereka dengan cara yang salah, orang-orang ini merasa bahwa mereka tidak lagi memiliki harapan untuk memperoleh keselamatan, apalagi jika Tuhan benar-benar memangkas mereka. Atau, jika Tuhan berbicara kepada mereka dengan nada bicara yang lebih keras sampai menghunjam hati mereka, orang-orang ini menjadi negatif dan mulai berpikir bahwa percaya kepada Tuhan adalah hal yang tak berarti. Mereka berpikir, "Bagaimana aku bisa terus percaya kepada Tuhan jika Dia mengabaikanku?" Ada orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengenali orang seperti ini dan berpikir: "Lihat betapa mereka sungguh percaya kepada Tuhan. Tuhan sangatlah penting bagi mereka. Mereka bahkan dapat menafsirkan makna Tuhan hanya dengan sekali pandang. Mereka sangat setia kepada Tuhan, mereka benar-benar melihat Tuhan di bumi seperti melihat Tuhan di surga." Apakah seperti ini yang terjadi? Orang-orang ini sangat bingung dan sangat tidak memiliki wawasan dalam segala hal; tingkat pertumbuhan mereka sangat rendah dan mereka benar-benar memperlihatkan segala jenis keburukan. Manusia memiliki nalar yang rendah, mereka memiliki terlalu banyak tuntutan terhadap Tuhan dan meminta terlalu banyak kepada-Nya, mereka bahkan tidak memiliki sedikit pun nalar. Manusia selalu menuntut agar Tuhan melakukan ini atau itu dan tidak mampu tunduk sepenuhnya kepada-Nya atau menyembah-Nya. Sebaliknya, mereka mengajukan tuntutan-tuntutan yang tidak masuk akal kepada Tuhan berdasarkan preferensi mereka sendiri. Mereka menuntut agar Dia bersikap sangat bermurah hati, tidak pernah marah oleh apa pun, dan ketika Dia melihat manusia, Dia harus selalu tersenyum, berbicara dan membekali mereka dengan kebenaran dan mempersekutukan kebenaran kepada mereka. Mereka juga menuntut agar Dia selalu sabar dan mempertahankan ekspresi yang menyenangkan di sekitar mereka. Orang-orang memiliki terlalu banyak tuntutan; mereka terlalu pilih-pilih! Engkau semua harus memeriksa hal-hal ini. Nalar manusia sangatlah rendah, bukan? Orang-orang ini bukan saja tidak mampu tunduk sepenuhnya pada pengaturan dan penataan Tuhan ataupun menerima semua yang berasal dari Tuhan, tetapi sebaliknya, mereka membebankan tuntutan tambahan terhadap Tuhan. Bagaimana mungkin orang-orang dengan tuntutan seperti itu bisa setia kepada Tuhan? Bagaimana mereka dapat tunduk pada penataan Tuhan? Bagaimana mereka dapat mengasihi Tuhan? Semua orang memiliki tuntutan tentang bagaimana seharusnya Tuhan mengasihi mereka, menoleransi mereka, menjaga mereka, melindungi mereka dan memelihara mereka, tetapi tak seorang pun dari mereka yang memiliki tuntutan tentang bagaimana mereka sendiri harus mengasihi Tuhan, memikirkan Tuhan, memperhatikan Tuhan, memuaskan Tuhan, memiliki Tuhan di dalam hati mereka dan menyembah Tuhan. Apakah hal-hal ini ada di dalam hati manusia? Semua ini adalah hal-hal yang seharusnya dicapai oleh manusia, jadi mengapa mereka tidak berusaha keras dengan tekun dalam hal-hal ini? Ada orang-orang bisa menjadi antusias selama beberapa waktu dan dapat meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri mereka, tetapi ini tidak berlangsung lama; mengalami sedikit kemunduran dapat menyebabkan mereka patah semangat, kehilangan harapan dan mengeluh. Manusia memiliki begitu banyak kesulitan dan hanya sedikit sekali orang yang mengejar kebenaran dan berusaha mengasihi dan memuaskan Tuhan. Manusia sama sekali tidak bernalar, mereka berdiri di posisi yang salah dan memandang diri mereka sangat berharga. Ada pula orang-orang yang berkata: "Tuhan memandang kita seperti biji mata-Nya. Dia tidak ragu-ragu membiarkan Anak-Nya yang tunggal disalib untuk menebus manusia. Tuhan membayar mahal untuk membeli kita kembali. Kita sangat berharga dan kita semua memiliki tempat di dalam hati Tuhan. Kita adalah sekelompok orang istimewa dan memiliki status yang jauh lebih tinggi daripada orang tidak percaya. Kita adalah umat kerajaan surga." Mereka menganggap diri mereka cukup tinggi dan mulia. Dahulu, banyak pemimpin yang memiliki mentalitas seperti ini, yang meyakini bahwa mereka memiliki status dan kedudukan tertentu di rumah Tuhan setelah dipromosikan. Mereka berpikir, "Tuhan memandangku terhormat dan menganggapku baik, dan Dia telah mengizinkanku melayani sebagai pemimpin. Aku harus berupaya sebaik mungkin untuk menyibukkan diri dan bekerja untuk-Nya." Mereka sangat senang akan diri mereka sendiri. Namun, setelah beberapa waktu, mereka melakukan sesuatu yang buruk dan memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya. Kemudian mereka diganti dan mereka menjadi sedih dan tertunduk malu. Ketika perilaku mereka yang tidak pantas disingkapkan dan dipangkas, mereka menjadi makin negatif dan tidak dapat terus percaya. Mereka berpikir, "Tuhan tidak memperhatikan perasaanku, Dia sama sekali tidak peduli untuk menyelamatkan harga diriku. Mereka berkata Tuhan itu bersimpati terhadap kelemahan manusia, jadi mengapa aku digantikan hanya karena beberapa pelanggaran kecil?" Kemudian mereka menjadi berkecil hati dan ingin meninggalkan iman mereka. Apakah orang-orang semacam ini memiliki iman yang sejati di dalam Tuhan? Jika mereka bahkan tidak dapat menerima diri mereka dipangkas, maka tingkat pertumbuhan mereka sangat rendah dan tidak dapat dipastikan apakah kelak mereka akan mampu menerima kebenaran atau tidak. Orang-orang yang semacam ini berada dalam bahaya.
Manusia tidak menuntut banyak dari dirinya sendiri, tetapi mereka menuntut banyak dari Tuhan. Mereka memohon kepada-Nya untuk menunjukkan kebaikan khusus dan bersabar serta menahan diri terhadap mereka, menghargai, menyediakan bagi mereka, dan tersenyum kepada mereka, bersikap toleran kepada mereka, memberikan kelonggaran bagi mereka, serta merawat mereka dengan berbagai cara. Mereka berharap Dia sama sekali tidak bersikap tegas atau melakukan apa pun yang akan membuat mereka kecewa sedikit pun, dan hanya puas jika Dia membujuk mereka setiap hari. Manusia memiliki nalar yang begitu rendah! Manusia tidak jelas tentang apa yang harus mereka lakukan, apa yang harus mereka capai, sudut pandang apa yang harus mereka miliki, posisi apa yang harus mereka ambil untuk melayani Tuhan, dan posisi apa yang cocok bagi mereka untuk menempatkan diri mereka. Manusia yang memiliki sedikit status memiliki pendapat yang sangat tinggi tentang diri mereka sendiri dan mereka yang tidak memiliki status juga berpikir sangat tinggi tentang diri mereka sendiri. Manusia tidak pernah mengenal diri mereka sendiri. Engkau harus sampai pada suatu titik dalam kepercayaanmu kepada Tuhan bahwa bagaimana pun Dia berbicara kepadamu, betapa tegasnya Dia denganmu, dan seberapa banyak Dia mungkin mengabaikanmu, engkau dapat terus percaya tanpa mengeluh dan terus melaksanakan tugasmu seperti biasa. Maka engkau akan menjadi orang yang dewasa dan berpengalaman, dan engkau akan benar-benar mengalami beberapa tingkat pertumbuhan dan memiliki sedikit nalar orang normal. Engkau tidak akan membuat tuntutan kepada Tuhan, engkau tidak akan lagi memiliki keinginan yang berlebihan, dan engkau tidak akan lagi meminta dari orang lain atau dari Tuhan sesuai keinginanmu sendiri. Ini akan menunjukkan bahwa sampai tingkat tertentu, engkau memiliki keserupaan dengan manusia. Saat ini, engkau semua memiliki terlalu banyak tuntutan, tuntutan ini terlalu berlebihan dan engkau memiliki terlalu banyak niat manusia. Ini membuktikan bahwa engkau tidak sedang berdiri di posisi yang tepat, posisimu terlalu tinggi, dan engkau telah memandang dirimu terlalu terhormat, seakan-akan posisimu tidak lebih rendah dari Tuhan. Oleh karena itu, engkau sulit untuk ditangani dan inilah tepatnya natur Iblis. Jika keadaan seperti ini ada dalam dirimu, engkau pasti akan lebih sering menjadi negatif dan makin jarang bersikap normal, sehingga perkembangan hidupmu akan lambat. Sebaliknya, orang yang murni hatinya dan tidak terlalu bertingkah akan mudah menerima kebenaran dan mengalami kemajuan yang lebih cepat. Mereka yang murni hatinya tidak mengalami banyak penderitaan, tetapi engkau memiliki perasaan yang memenuhi pikiranmu, terlalu bertingkah, dan selalu mengajukan tuntutan terhadap Tuhan, sehingga engkau menghadapi hambatan besar dalam menerima kebenaran dan perkembangan hidupmu berjalan dengan lambat. Ada orang-orang yang mengejar hal yang sama tanpa menghiraukan bagaimana orang lain menyerang dan mengucilkan mereka, dan tidak terpengaruh sedikit pun oleh hal itu. Orang-orang seperti ini murah hati, sehingga mereka tidak terlalu menderita dan menghadapi lebih sedikit hambatan untuk jalan masuk kehidupan mereka. Engkau bertingkah dan selalu terpengaruh oleh satu dan lain hal. Engkau terpengaruh jika ada orang yang melihatmu dengan cara yang salah, memandang rendah dirimu, mengabaikanmu, atau apa yang Tuhan katakan yang memicumu, atau perkataan kasar-Nya yang menghunjam hatimu dan melukai harga dirimu, atau sesuatu yang baik diberikan-Nya kepada orang lain dan bukan diberikan kepadamu, kemudian engkau menjadi negatif dan bahkan salah paham terhadap Tuhan. Orang-orang seperti ini bertingkah dan kebal terhadap nalar. Seperti apa pun cara orang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak akan menerimanya dan masalah mereka akan tidak terselesaikan. Orang-orang ini paling sulit untuk ditangani.
Aku sering mendengar engkau semua bersekutu seperti ini: "Aku tersandung ketika sedang melakukan sesuatu dan kemudian, setelah mengalami beberapa penderitaan, aku mendapatkan sedikit pemahaman." Sebagian besar orang memiliki pengalaman seperti ini, pengalaman yang sangat dangkal. Pemahaman seperti ini kemungkinan muncul setelah bertahun-tahun mengalaminya, dan orang mungkin telah mengalami banyak penderitaan dan telah melewati serangkaian pengalaman yang sangat sulit atau tidak menyenangkan hanya untuk memperoleh sedikit pemahaman dan perubahan ini. Betapa menyedihkannya! Ada begitu banyak ketidakmurnian dalam iman manusia, sangatlah berat bagi mereka untuk percaya kepada Tuhan! Sampai hari ini, masih ada banyak ketidakmurnian dalam diri setiap orang dan mereka masih saja mengajukan banyak tuntutan terhadap Tuhan. Semua ini adalah ketidakmurnian manusia. Memiliki ketidakmurnian seperti ini adalah bukti bahwa ada masalah dalam kemanusiaan mereka dan ini adalah penyingkapan watak mereka yang rusak. Ada perbedaan antara tuntutan yang layak dan tidak layak yang diajukan manusia terhadap Tuhan. Ini harus dibedakan dengan jelas. Orang harus jelas di posisi apa dia seharusnya berdiri dan nalar apa yang harus dimilikinya. Aku telah mendapati bahwa ada orang-orang yang selalu berfokus pada ekspresi seperti apa yang Kuperlihatkan di sekeliling orang dan selalu menyelidiki siapa yang Tuhan perlakukan dengan baik dan siapa yang Dia perlakukan dengan buruk. Jika mereka melihat Tuhan sedang memandang mereka dengan ekspresi negatif, atau mendengar-Nya menyingkapkan atau mengutuk mereka, orang-orang ini tidak bisa melupakannya. Seperti apa pun caramu bersekutu kepada mereka, ini tidak akan berhasil, dan entah berapa lama pun waktu berlalu, mereka tidak dapat berbalik. Mereka menjatuhkan hukuman atas diri mereka sendiri, berpegang pada satu ungkapan sepintas dan menggunakannya untuk menentukan sikap Tuhan terhadap mereka. Mereka berkubang dalam hal-hal negatif, dan seperti apa pun cara orang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak bersedia menerimanya. Ini sama sekali tidak masuk akal. Sudah jelas bahwa manusia tidak memiliki sedikit pun pengetahuan akan watak Tuhan yang benar dan sama sekali tidak memahaminya. Asalkan manusia mampu bertobat dan berubah, sikap Tuhan terhadap mereka juga akan berubah. Jika sikapmu terhadap Tuhan tidak berubah, dapatkah sikap Tuhan terhadapmu berubah? Jika engkau berubah, cara Tuhan memperlakukanmu juga akan berubah, tetapi jika engkau tidak berubah, perlakuan Tuhan terhadapmu juga tidak akan berubah. Ada orang-orang yang masih tidak memiliki pengetahuan tentang apa saja yang Tuhan benci, apa yang Dia sukai, sukacita, kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, kemahakuasaan, dan hikmat-Nya, dan mereka bahkan tidak dapat berbicara tentang beberapa pengetahuan persepsi. Inilah yang menyebabkan manusia sangat sulit untuk ditangani. Manusia melupakan semua perkataan Tuhan yang bermaksud baik kepadanya, tetapi ketika Dia mengucapkan perkataan yang keras satu kali saja atau mengucapkan satu kalimat pemangkasan atau penghakiman, ini menghunjam hati manusia. Mengapa orang tidak menganggap serius perkataan bimbingan yang positif, sedangkan mereka menjadi marah, negatif dan tidak mampu bangkit kembali setelah mendengar perkataan penghakiman dan pemangkasan? Pada akhirnya, mungkin dibutuhkan waktu perenungan yang lama sebelum mereka berbalik, dan mereka baru akan bangkit kembali setelah menggabungkan perkataan negatif ini dengan firman Tuhan yang menenangkan. Tanpa firman yang menenangkan ini, mereka tidak akan mampu keluar dari kenegatifan mereka. Ketika manusia baru mulai mengalami pekerjaan Tuhan, mereka memiliki banyak pengenalan yang keliru dan kesalahpahaman tentang Tuhan. Mereka selalu percaya bahwa mereka benar, selalu berpaut pada gagasan-gagasan mereka sendiri dan mereka tidak menerima perkataan orang lain. Hanya setelah mereka memiliki pengalaman selama tiga hingga lima tahun, barulah mereka secara berangsur mulai memahami, memperoleh wawasan, menyadari bahwa mereka salah dan merasakan betapa sulitnya menangani mereka. Seakan-akan mereka baru saja dewasa. Seiring bertambahnya pengalaman, mereka mulai memahami Tuhan, dan kesalahpahaman mereka tentang Tuhan berkurang, mereka tidak lagi mengeluh, dan mulai memiliki iman yang normal kepada Tuhan. Dibandingkan dengan masa lalu, tingkat pertumbuhan mereka makin menyerupai orang dewasa. Dahulu mereka seperti anak-anak, mudah merajuk, menjadi negatif dan menjauhkan diri dari Tuhan pada waktu-waktu tertentu. Mereka mungkin mengeluh ketika dihadapkan dengan hal-hal tertentu, firman Tuhan tertentu bisa saja menjadi topik dari gagasan terbaru mereka dan mereka mungkin mulai meragukan Tuhan pada waktu-waktu tertentu. Inilah yang terjadi jika tingkat pertumbuhan orang terlalu rendah. Kini, setelah mereka mengalami banyak hal dan telah membaca firman Tuhan selama beberapa tahun, mereka telah mengalami kemajuan dan menjadi jauh lebih stabil dibandingkan waktu lalu. Semua ini adalah hasil dari memahami kebenaran. Ini adalah kebenaran yang bekerja di dalam diri mereka. Jadi, asalkan orang memahami kebenaran dan mampu menerimanya, tidak ada kesulitan yang tidak dapat mereka selesaikan, dan mereka akan selalu mendapatkan sesuatu, entah berapa lama pun mereka mengalaminya. Tentu saja, hal itu tidak akan terjadi apabila mereka tidak mengalaminya dalam waktu yang cukup lama, tetapi asalkan mereka mendapatkan hasil dari setiap pengalaman, mereka akan bertumbuh dengan cepat dalam kehidupan.
Kenyataan bahwa engkau semua sekarang sedang dibina untuk menjadi pemimpin, pekerja, atau pengawas, atau melaksanakan tugas-tugas penting, tidak membuktikan bahwa engkau memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Artinya adalah bahwa engkau semua memiliki kualitas yang sedikit lebih baik daripada rata-rata orang, bahwa engkau sedikit lebih tekun dalam pengejaranmu dan ada sedikit nilai lebih dalam membinamu. Ini bukanlah berarti bahwa engkau semua mampu tunduk kepada Tuhan atau taat pada pengaturan Tuhan, dan juga bukan berarti engkau semua telah mengesampingkan prospek dan harapanmu. Orang masih belum memiliki nalar seperti ini. Engkau semua masih memiliki kenegatifan, serta niat dan aspirasi untuk memperoleh berkat, juga bahkan gagasan dan imajinasi manusia saat engkau bekerja. Pada waktu yang sama, engkau memikul sejumlah barang bawaan saat engkau sedang melakukan pekerjaanmu, seakan-akan engkau sedang menebus dosa-dosa masa lalu melalui perbuatan-perbuatan baik daripada melakukannya dengan sukacita dan kerelaan. Engkau juga belum mencapai suatu taraf di mana seperti apa pun Tuhan memperlakukanmu, yang kaupikirkan hanyalah bertindak sesuai dengan maksud dan tuntutan-Nya. Mampukah engkau semua melakukan ini? Orang tidak memiliki nalar ini. Mereka ingin bisa mengetahui isi hati Tuhan dengan berpikir: "Seperti apa sebenarnya sikap Tuhan terhadapku? Apakah Dia memakaiku untuk melakukan pelayanan ataukah menyelamatkan dan menyempurnakan diriku?" Mereka semua ingin mengetahui dengan cara seperti ini, hanya saja mereka tidak berani mengatakannya. Kenyataan bahwa mereka tidak berani mengatakannya membuktikan bahwa masih ada suatu gagasan yang menguasai mereka: "Tidak ada gunanya membahas ini—sudah seperti ini naturku dan tidak mungkin untuk mengubahnya. Asalkan aku bisa menahan diriku untuk tidak berbuat jahat, itu sudah cukup—aku tidak terlalu banyak menuntut diriku sendiri." Mereka membatasi diri mereka sendiri di posisi yang terendah mungkin dan pada akhirnya tidak mengalami kemajuan, serta memiliki cara berpikir yang asal-asalan selagi mereka melakukan pekerjaan mereka. Hanya setelah beberapa kali dipersekutukan engkau semua mulai memahami secuil kebenaran dan mengenal sedikit kenyataan kebenaran. Entah engkau sedang dipakai atau tidak, atau seperti apa sikap Tuhan terhadap dirimu–hal-hal ini tidaklah penting. Kuncinya terletak pada upaya proaktifmu, jalan yang kaupilih untuk kauambil dan entah pada akhirnya engkau dapat berubah atau tidak–inilah hal-hal yang paling penting. Sebaik apa pun sikap Tuhan terhadapmu, hal ini tidak akan ada gunanya jika engkau tidak berubah. Jika engkau tersandung kapan pun sesuatu menimpamu, dan engkau bahkan tidak memiliki sedikit kesetiaan, maka sebaik apa pun sikap Tuhan terhadap dirimu, itu tidak akan ada gunanya. Hal yang penting adalah jalan yang kaupilih untuk kautempuh. Tuhan mungkin telah mengutukmu dan mengucapkan kata-kata kebencian dan kemuakan kepadamu di masa lalu, tetapi jika sekarang engkau telah berubah, sikap Tuhan terhadapmu akan berubah juga. Orang selalu ketakutan, gelisah dan tidak memiliki iman sejati, yang menunjukkan bahwa mereka tidak memahami maksud Tuhan. Setelah engkau semua memahami ini, akankah engkau tetap negatif dan lemah ketika sesuatu menimpamu kelak? Mampukah engkau menerapkan kebenaran dan berdiri teguh dalam kesaksianmu? Akan mampukah engkau benar-benar tunduk kepada Tuhan? Jika engkau mampu mencapai hal-hal ini, engkau akan memiliki nalar kemanusiaan yang normal. Bukankah sekarang engkau semua telah memahami watak rusak manusia dan penyelamatan serta maksud Tuhan? Setidaknya engkau memiliki gagasan kasar. Jika, suatu hari, engkau dapat masuk ke dalam sejumlah kenyataan dari seluruh aspek kebenaran, engkau akan sepenuhnya hidup dalam kemanusiaan yang normal.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.