Cara Mengejar Kebenaran (8) Bagian Dua

Apa natur dari cita-cita dan keinginan yang muncul dari minat dan hobi orang? Kita tidak sedang mengungkapkan minat dan hobi orang, lalu apa sebenarnya yang sedang kita ungkap dan telaah? Bukankah yang sedang kita ungkap dan telaah adalah pengejaran, cita-cita, dan keinginan yang muncul dari minat dan hobi tertentu yang orang miliki? (Ya.) Bukankah kita sedang mengungkapkan berbagai perilaku yang orang perlihatkan dan jalan yang mereka tempuh sebagai hasil dari pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka? Bukankah ini esensi yang sedang kita ungkapkan? (Ya.) Jadi, jalan apa yang orang tempuh demi pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka? Ke jalan seperti apa pengejaran, cita-cita, dan keinginan orang membawa mereka? Tujuan seperti apa yang mereka capai? Ketika orang mewujudkan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka, selain mengerahkan tenaga dan waktu mereka, serta menanggung lebih banyak penderitaan dan segala jenis pekerjaan kasar, kelelahan, stres, dan kesukaran serupa lainnya, yang terpenting adalah, jalan apa yang mereka tempuh? Dengan kata lain, ketika orang mengejar terwujudnya cita-cita mereka dan keinginan mereka sendiri, jalan apa yang harus mereka tempuh agar dapat mencapai terwujudnya pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka? Yang terpenting, agar orang dapat mencapai terwujudnya pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka di dunia ini, apa yang harus mereka pelajari sebagai langkah pertama? (Segala macam ilmu pengetahuan.) Benar, mereka harus belajar dan membekali diri mereka dengan segala macam ilmu pengetahuan. Makin melimpah, menyeluruh, dan mendalam pengetahuan mereka, makin dekat mereka dengan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Makin menyeluruh, melimpah, dan mendalam pengetahuan mereka, makin besar kemungkinan mereka untuk diakui sebagai orang yang berpengalaman, dan makin tinggi pula status yang akan mereka nikmati di tengah masyarakat. Dan demikian juga halnya, makin melimpah, mendalam, dan menyeluruh pengetahuan mereka, ini berarti bahwa mereka harus mengerahkan lebih banyak waktu dan tenaga. Ini berbicara tentang tenaga secara fisik. Selain itu, setelah memperoleh landasan ilmu pengetahuan, orang selangkah makin dekat untuk mewujudkan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Memiliki pengetahuan yang cukup hanyalah langkah pertama, landasan awal. Setelah ini, orang harus membaurkan diri mereka di tengah masyarakat, di tengah orang banyak, ke dalam pengaruh dan tren industri yang berkaitan dengan cita-cita dan keinginan mereka, bersaing, berjuang, dan berkompetisi dengan kekuatan dari semua pihak, serta mengikuti berbagai lomba, kompetisi, dan seminar. Selain mengerahkan banyak tenaga, orang juga harus beradaptasi dengan berbagai keadaan dan lingkungan untuk mewujudkan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Dan demikian juga halnya, dalam pengaruh ini, orang harus mengandalkan pengetahuan mereka, dan terlebih lagi, mengandalkan apa yang telah mereka pelajari dari orang banyak, serta dari metode, falsafah, dan cara bertahan hidup yang telah mereka miliki, agar dapat beradaptasi dengan orang banyak dan dengan mekanisme serta aturan main di tengah masyarakat. Melalui proses ini, orang secara berangsur makin dekat dengan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Setelah melewati begitu banyak kesengsaraan dan begitu banyak liku-liku, apa hasil akhirnya? Sebagai pemenang, mereka menerima mahkota, dan yang kalah tidak mendapat apa pun. Pada akhirnya, dengan hasil ini, mereka mewujudkan pengejaran, cita-cita, dan keinginan hidup mereka, mewujudkan tujuan hidup mereka dan memiliki kedudukan yang kokoh di industri mereka. Pada saat itu, orang-orang biasanya sudah mencapai usia paruh baya atau usia tua, dan bahkan ada yang sudah memasuki usia lanjut, dengan daya penglihatan yang makin menurun, kepala yang menjadi botak, daya pendengaran yang makin menurun, dan giginya menjadi goyang. Di usia tersebut, meski cita-cita dan keinginan mereka sudah terwujud, mereka juga telah melakukan banyak hal yang merugikan. Mereka telah menghabiskan seluruh hidup mereka untuk hal ini. Sepanjang hidup mereka, agar dapat mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka, mereka telah mengatakan banyak hal meskipun mereka tidak ingin mengatakannya, melakukan banyak perbuatan yang melanggar etika dan hati nurani serta melampaui batas-batas tertentu, bahkan banyak melakukan tindakan yang tak berakal sehat dan tak bermoral. Mereka telah menipu orang lain dan ditipu lebih dari beberapa kali, mereka telah mengalahkan orang lain dan juga dikalahkan. Mereka cukup beruntung bisa bertahan hidup serta memiliki kedudukan yang kokoh, dan hidup mereka tampak sempurna, seolah-olah mereka telah mewujudkan keberhargaan diri mereka dan tidak hidup dalam kesia-siaan. Mereka telah berjuang sepanjang hidup mereka untuk cita-cita dan keinginan mereka, dan tampaknya telah menjalani kehidupan yang berharga dan bermakna. Namun, mereka tidak mengetahui jalan berperilaku yang sebenarnya harus mereka tempuh, mereka tidak memiliki moto apa pun dalam hidup mereka, dan telah berjuang sepanjang hidup mereka semata-mata demi mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka, berjuang melawan umat manusia, masyarakat, dan bahkan diri mereka sendiri. Mereka telah kehilangan hati nurani, batasan, dan prinsip-prinsip yang diperlukan untuk berperilaku. Meskipun cita-cita dan keinginan mereka telah terwujud, dan tujuan hidup yang mereka tetapkan di setiap tahap telah tercapai setelah melewati banyak liku-liku, di dalam hatinya, mereka tidak merasa tenang ataupun puas. Bahasa kasarnya, pengejaran, cita-cita, dan keinginan yang telah mereka tetapkan untuk kepentingan dan hobi mereka sendiri pada akhirnya membawa mereka ke jalan mengejar ketenaran dan keuntungan. Meskipun mereka mungkin merasa bahwa, setelah mencapai tujuan akhirnya, mereka telah mewujudkan keberhargaan diri mereka, mendapatkan pengakuan, dan memperoleh serta memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka tetap tidak tahu apa pun tentang masa depan, tempat tujuan mereka, dan nilai keberadaan manusia yang seharusnya benar-benar dipahami orang-orang. Ketika mencapai usia lanjut, mereka makin merasa bahwa segala sesuatu yang mereka kejar sangatlah tidak jelas dan hampa. Kehampaan dan ketidakjelasan ini membawa serta gelombang kehampaan dan ketakutan. Pada usia lanjut, barulah orang menyadari bahwa cita-cita dan keinginan yang mereka kejar hanya bertujuan untuk memuaskan kesombongan mereka serta memberikan ketenaran dan keuntungan sementara, yang tidak lebih dari sekadar penghiburan sesaat. Penghiburan seperti itu dengan cepat berubah menjadi semacam kegelisahan dan ketakutan, karena ketika orang mencapai usia lanjut, mereka lebih cenderung merenungkan masa depan mereka, apa yang akan terjadi pada diri mereka, dan apa yang akan terjadi pada mereka setelah kematian, dan jika semua pertanyaan ini tetap tidak terjawab, jika mereka tidak memiliki pemikiran dan sudut pandang yang benar mengenai hal ini, orang akan mulai merasa takut dan gelisah. Kegelisahan dan ketakutan ini terus menghantui mereka sampai mereka menutup mata dan meninggal dunia. Kegembiraan yang berasal dari ketenaran dan keuntungan dengan cepat lenyap dari hati manusia, dan makin orang berusaha menggenggam serta mempertahankannya, makin mudah hal itu memudar, dan perasaan gembira ini makin dengan mudah berubah menjadi kegelisahan dan ketakutan. Akibatnya, apa pun cita-cita dan keinginan yang muncul dari berbagai minat dan hobi orang, semua itu pada akhirnya membawa kepada jalan mengejar ketenaran dan keuntungan, dan tujuan akhir yang dicapai, apa yang orang peroleh, tidak lebih dari ketenaran dan keuntungan. Ketenaran dan keuntungan ini hanya memberikan penghiburan sementara dan kepuasan sesaat dari kesombongan daging. Jika orang tidak memahami kebenaran, mereka merasa bahwa pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka adalah nyata, membuat mereka merasa tenang, merasa bahwa mereka makin mampu untuk menemukan tempat mereka di dunia, makin mampu mengendalikan arah dan mempertahankan genggaman atas hidup mereka, untuk menentukan nasib mereka sendiri. Namun ketika cita-cita dan keinginan mereka terwujud, akhirnya orang tersadarkan. Apa penyebab kesadaran ini? Kesadaran bahwa hal-hal yang berusaha mereka dapatkan dengan mengerahkan tenaga untuk mendapatkannya ternyata adalah sesuatu yang hampa dan tidak dapat digenggam oleh tangan atau dirasakan oleh hati mereka. Makin mereka berusaha menggenggam dan mempertahankannya, makin hal itu terlepas, meninggalkan mereka dengan perasaan kehilangan dan kehampaan yang makin besar, dan tentu saja, meninggalkan mereka dengan perasaan takut dan penyesalan yang makin besar. Karena manusia memiliki minat dan hobi, mereka menetapkan cita-cita dan keinginan, dan cita-cita serta keinginan ini menciptakan ilusi yang membuat orang yakin bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan kehidupan mereka, mengarahkan jalan hidup mereka, serta menentukan cara dan tujuan hidup mereka. Sumber dari ilusi ini adalah kenyataan bahwa orang tidak mengejar kebenaran, mereka tidak mencintai kebenaran, dan tentu saja dapat dikatakan bahwa hal itu disebabkan karena orang yang tidak memahami kebenaran. Jika orang tidak memahami kebenaran, mereka sering secara naluriah mengejar hal-hal yang dapat membuat daging atau roh mereka merasa puas. Betapa pun jauhnya hal-hal tersebut dari mereka, asalkan mereka merasa dapat memperoleh dan mendapatkannya, mereka bersedia membayar harganya, bahkan menghabiskan tenaga dan waktu seumur hidup. Karena orang tidak memahami kebenaran, mereka dengan mudah dan secara keliru menganggap minat dan hobi mereka sebagai landasan atau semacam kualifikasi atau modal untuk mengejar tujuan hidup mereka, dan untuk itu, mereka rela membayar berapa pun harganya. Engkau tidak menyadari bahwa begitu engkau membayar harga ini, begitu engkau memulai jalan ini, engkau ditakdirkan untuk menempuh jalan yang dikendalikan oleh Iblis dan oleh tren serta aturan main dunia. Dan demikian juga halnya, engkau ditakdirkan untuk tanpa sadar membenamkan dirimu ke dalam pengaruh dan tren di tengah masyarakat. Pengaruh apa pun yang kauterima, tren apa pun yang kauikuti, betapa pun menyimpangnya kemanusiaanmu, engkau menghibur dirimu sendiri dengan berkata, "Agar dapat mewujudkan cita-cita dan keinginanku, dan demi masa depanku, aku harus bertahan!" Engkau juga terus-menerus berkata dalam hatimu, "Aku harus beradaptasi dengan masyarakat ini, pengaruh apa pun yang kuterima, aku harus menerima dan beradaptasi dengannya." Saat engkau beradaptasi dengan segala macam lingkungan ini, engkau juga beradaptasi dengan berbagai pengaruh yang sedang kauterima, dan terus-menerus menerima berbagai versi dirimu dengan gaya dan karakter yang berbeda-beda. Dengan cara seperti ini, orang tanpa sadar menjadi makin mati rasa, makin tidak punya rasa malu, dan hati nurani serta nalar mereka makin tidak mampu membimbing atau mengendalikan pemikiran, keinginan, dan pilihan mereka. Pada akhirnya, pada taraf yang berbeda, kebanyakan orang mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka sembari mengejarnya. Tentu saja, ada orang-orang yang, seperti apa pun cara mereka mengejar, atau sebanyak apa pun upaya dan kesukaran yang mereka lalui, masih belum mampu mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka. Apa pun hasil akhirnya, apa yang manusia peroleh? Mereka yang berhasil memperoleh ketenaran dan keuntungan, sedangkan mereka yang gagal mungkin tidak mampu memperoleh ketenaran dan keuntungan tersebut, tetapi apa yang mereka terima sama dengan orang-orang sukses. Mereka menerima berbagai pemikiran yang buruk dan negatif yang diilhami oleh Iblis, oleh umat manusia yang jahat ini, dan oleh seluruh mekanisme sosial serta pengaruh jahat masyarakat. Jika tidak, mengapa orang sering menggunakan frasa seperti: "aku telah mengalaminya", "rubah tua yang licik", "ular yang berpengalaman dan cerdik", atau "telah melewati banyak badai", dan seterusnya? Ini karena ketika engkau mengejar cita-cita dan keinginanmu, engkau juga "belajar" banyak di tengah pengaruh dan tren masyarakat ini. Engkau "belajar" hal-hal yang tidak ada dalam naluri fisikmu. Istilah "belajar" di sini harus diberi tanda petik. Apa yang dimaksud dengan "belajar"? Itu berarti masyarakat, Iblis, dan orang jahat mengindoktrinasimu dengan berbagai pemikiran yang bertentangan dengan hati nurani dan nalar manusia normal, membuatmu makin hidup tanpa hati nurani dan nalar, makin tidak memiliki rasa malu, dan makin membenci orang normal serta mereka yang menempuh jalan yang benar. Pada saat yang sama, apa akibat terburuknya? Engkau bukan hanya akan makin memandang rendah orang-orang yang memiliki kemanusiaan yang normal, hati nurani, dan nalar, tetapi pada saat yang sama, engkau juga akan iri dan mengagumi tindakan tercela dari mereka yang mengkhianati hati nurani dan moralitas mereka, dan iri terhadap kekayaan materi atau keuntungan ekonomi yang mereka peroleh dari tindakan tercela dan perilaku buruk mereka. Bukankah ini konsekuensinya? (Ya.) Ini adalah konsekuensi yang lebih mengerikan, yaitu, ketika orang mengejar dan mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka, wajah mereka menjadi makin suram dan menakutkan, hati nurani serta nalar mereka berangsur-angsur hilang, dan pandangan moral, pandangan hidup, serta perilaku mereka menjadi makin jahat, buruk, tercela, dan kotor.

Dari saat orang memiliki minat dan hobi hingga mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka, selama proses ini, jalan yang mereka tempuh dan aktivitas yang mereka lakukan adalah keseluruhan keadaan hidup mereka saat ini. Dapat dikatakan bahwa mereka dipengaruhi oleh masyarakat dan tren jahat. Sebenarnya, ini juga merupakan proses di mana orang dengan begitu saja menerima diri mereka dimanipulasi, diinjak-injak, dan dieksploitasi oleh Iblis sembari mengejar dan mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka. Tentu saja, ini juga merupakan proses di mana Iblis merusak manusia lebih lanjut dan secara lebih spesifik dalam segala hal. Dalam setiap keadaan yang kauhadapi, Iblis terus-menerus menanamkan dalam dirimu gagasan bahwa agar dapat mencapai tujuanmu, engkau harus menghalalkan segala cara, meninggalkan hal-hal yang positif dan yang seharusnya dijunjung oleh manusia normal, seperti martabat manusia, integritas pribadi, batasan moral, hati nurani, dan standar untuk berperilaku. Karena Iblis menyesatkanmu agar secara berangsur melepaskan hal-hal tersebut, Iblis juga menantang hati nurani, nalar, dan batasan moralmu, serta sedikit rasa malu yang masih kaumiliki. Setelah Iblis selesai menantang hal-hal tersebut, dia mengarahkanmu untuk terus-menerus berkompromi di tengah penyesatan, godaan, kendali, dan injakan tren jahat. Selama berkompromi terus-menerus, engkau memilih untuk menggunakan pemikiran dan sudut pandang yang Iblis tanamkan mengenai cara memandang orang dan hal-hal serta cara berperilaku dan bertindak, dan engkau secara aktif menerapkan pemikiran dan sudut pandang yang telah Iblis berikan kepadamu serta cara dan metode untuk berperilaku dan bertindak. Engkau dengan enggan dan tanpa sadar melakukan semua ini, tetapi pada saat yang sama, agar dapat mewujudkan cita-cita dan keinginanmu, engkau dengan rela dan secara aktif melakukan semuanya dengan sikap yang sangat akomodatif. Singkatnya, selama proses ini, orang tetap pasif, tetapi dari sudut pandang lain, mereka secara aktif menyesuaikan diri dengan kendali dan perusakan Iblis. Ketika mengejar dan mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka, mereka selalu hidup dalam pengaruh tren jahat masyarakat, dalam cengkeraman mereka. Demikian pula, mereka hidup dalam pola pikir yang kompleks dan kontradiktif, yaitu mau dan tidak mau, dan dalam lingkungan nyata yang kompleks dan kontradiktif. Melalui proses ini, ketika orang makin dekat dengan cita-cita, keinginan, dan tujuan hidup yang selama ini mereka kejar, mereka menjadi makin tidak manusiawi, hati nurani mereka makin mati rasa, dan nalar mereka melemah. Namun, jauh di lubuk hati mereka, orang-orang yakin bahwa mereka memiliki cita-cita dan keinginan, bahkan ada yang berkata bahwa cita-cita dan keinginan mereka adalah keyakinan mereka, bahwa memiliki keyakinan di dalam hati berarti mereka memiliki kepercayaan, dan bahwa orang harus memiliki kepercayaan dalam hidup. Mereka yakin bahwa mereka adalah manusia normal karena mereka memiliki kepercayaan, dan oleh karena itu, mereka harus melanjutkan pengejaran mereka berdasarkan metode dan hukum kelangsungan hidup mereka yang sebelumnya, dan selama hal ini membuahkan hasil yang baik dan mendekatkan mereka kepada cita-cita serta tujuan hidup mereka, maka berapa pun harga yang mereka bayar untuk hal ini sepadan, sekalipun itu berarti kehilangan segalanya. Akibatnya, dalam pola pikir yang kontradiktif, yaitu mau dan tidak mau, orang akan terus menerima kendali, pemikiran, serta manipulasi dan tipu daya Iblis. Sekalipun orang-orang sadar bahwa mereka telah dirusak oleh masyarakat dan tren jahat, dalam keadaan seperti ini, mereka akan terus melakukan pengejaran tanpa henti untuk mewujudkan cita-cita mereka dan mencapai tujuan hidup mereka. Bahkan mungkin mereka memberi selamat pada diri mereka sendiri atas kenyataan bahwa mereka mampu menghalalkan segala cara dan tidak pernah menyerah, bersukacita atas kemampuan mereka untuk bertahan hingga sekarang. Berdasarkan perilaku yang orang-orang perlihatkan dalam mengejar cita-cita dan keinginan mereka, serta jalan yang mereka tempuh dan berbagai perubahan mereka, jalan seperti apa yang orang tempuh dalam mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka? (Ini adalah jalan menuju kehancuran.) Ini adalah jalan di mana engkau tidak dapat berbalik kembali, di mana makin jauh orang menempuhnya, makin mereka menjauh dari Tuhan. Dapat juga dikatakan bahwa ini adalah jalan kehancuran. Cita-cita dan keinginan yang telah orang tetapkan mengarah pada tujuan hidup di mana Iblis sedang menunggu di sana. Dan dalam perjalanan menuju tujuan hidup ini, yang menyertai dan mengikutinya bukanlah kebenaran, bukan firman Tuhan. Lalu siapakah itu? (Itu adalah Iblis, beserta tren jahatnya dan berbagai falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain.) Tujuan hidup ini disertai oleh Iblis, dengan kendali, perusakan, tipu daya, dan godaannya yang berulang-ulang. Ini adalah jalan di mana engkau yang tidak dapat berbalik kembali, jalan menuju kehancuran, bukan? (Ya.) Karena ketika orang mengejar cita-cita dan keinginan mereka, yang sebenarnya mereka kejar bukanlah perwujudan dari cita-cita dan keinginan mereka sebagai tujuan, melainkan mereka menggunakan pengejaran hal-hal tersebut sebagai kekuatan pendorong dan landasan untuk memperoleh ketenaran dan keuntungan. Itulah esensinya dan yang sebenarnya sedang terjadi. Jalan ini hanya membuat orang makin mendambakan ketenaran dan keuntungan, mendambakan tren jahat dunia. Jalan ini hanya akan membuat orang makin terpuruk, makin bejat, makin kehilangan rasionalitas dan kehilangan hati nurani, menjauhkan mereka dari hal-hal yang positif. Dan demikian juga halnya, ini menjauhkan mereka dari cara hidup dan tujuan hidup yang lebih nyata yang seharusnya dimiliki oleh orang yang memiliki kemanusiaan normal. Hal ini hanya akan membuat watak rusak manusia makin berakar begitu dalam, dan itu hanya akan makin menjauhkan mereka dari kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Tentu saja hal ini juga membuat orang makin sulit membedakan antara hal positif dan hal negatif. Ini adalah fakta. Jadi, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini? Setelah kita memahami esensi pengejaran, cita-cita, dan keinginan manusia, apa yang seharusnya kita persekutukan? Kita seharusnya mempersekutukan tentang bagaimana orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka, bukan? (Ya.)

Kita baru saja mempersekutukan bahwa mengejar dan mewujudkan cita-cita dan keinginan diri sendiri adalah jalan di mana engkau tidak dapat berbalik kembali, jalan menuju kehancuran. Jadi, haruskah orang meninggalkan cara hidup seperti itu? (Ya.) Mereka harus melepaskan dan mengubah cara hidup mereka: ini bukanlah cara hidup yang benar atau jalan yang benar dalam hidup. Karena ini bukan jalan hidup yang benar, orang harus melepaskannya, mengubah cara hidup mereka dan menggunakan cara yang benar untuk bertahan hidup. Tentu saja, mereka harus menggunakan cara yang benar dalam cara mereka memperlakukan minat dan hobi orang lain, dan cara mereka memperlakukan pengejaran, cita-cita, dan keinginan orang lain. Bakat dan karunia orang, beserta minat dan hobi mereka, menentukan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka, dan demikian juga halnya, hal-hal itu memunculkan tujuan yang ingin mereka kejar. Tujuan-tujuan ini tidaklah benar, dan akan membawa orang ke jalan di mana mereka tidak dapat berbalik kembali, makin menjauhkan mereka dari Tuhan dan pada akhirnya membawa mereka kepada kehancuran. Karena tujuan-tujuan tersebut tidak benar, lalu apa tindakan yang benar? Mari kita lihat terlebih dahulu apakah orang boleh memiliki minat dan hobi atau tidak, dengan kata lain, dapatkah minat dan hobi mereka digolongkan ke dalam kategori hal-hal yang negatif? (Tidak.) Minat dan hobi orang pada dasarnya tidak salah, dan tentu saja kita tidak dapat mengatakan bahwa itu adalah hal-hal yang negatif. Minat dan hobi tidak boleh dikecam atau dikritik. Orang memiliki minat, hobi, dan bakat di bidang tertentu—setiap orang memilikinya—ini merupakan bagian dari kemanusiaan yang normal. Ada yang suka menari, ada yang suka menyanyi, melukis, berakting, mekanik, ekonomi, teknik, kedokteran, pertanian, berlayar, atau olahraga tertentu. Ada pula yang suka belajar geografi, geologi, atau penerbangan, dan tentu saja, ada pula yang suka mempelajari hal-hal yang tidak jelas. Apa pun minat dan hobi orang, semua itu adalah bagian dari kemanusiaan dan kehidupan manusia normal. Hal-hal tersebut tidak boleh dianggap sebagai hal-hal yang negatif, juga tidak boleh dikritik, apalagi dilarang. Dengan kata lain, minat dan hobi apa pun yang mungkin kaumiliki adalah hal yang dapat dibenarkan. Karena minat atau hobi apa pun yang kaumiliki adalah hal yang dapat dibenarkan dan diperbolehkan ada, bagaimana seharusnya kita memperlakukan hal-hal yang berkaitan dengan cita-cita dan keinginan? Sebagai contoh, ada orang-orang yang menyukai musik. Mereka berkata, "Aku ingin menjadi seorang musisi atau dirigen," lalu mengabaikan segala hal lainnya untuk belajar dan mengembangkan diri mereka dalam bidang musik, menetapkan tujuan dan arah hidup mereka untuk menjadi musisi. Apakah ini hal yang benar untuk dilakukan? (Itu bukan hal yang benar untuk dilakukan.) Jika engkau tidak percaya kepada Tuhan, jika engkau adalah bagian dari dunia dan menghabiskan hidupmu dengan mewujudkan cita-cita dan keinginan yang ditetapkan oleh minat dan hobimu sendiri, kita tidak akan mengomentarinya. Sekarang, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, jika engkau memiliki minat dan hobi seperti itu dan ingin mengabdikan seluruh hidupmu, membayar harga seumur hidup untuk mewujudkan cita-cita dan keinginan yang ditetapkan oleh minat dan hobimu sendiri, apakah ini jalan yang baik ataukah buruk? Apakah itu layak untuk dipromosikan? (Ini tidak layak untuk dipromosikan.) Mari kita tidak membahas dahulu apakah itu layak untuk dipromosikan atau tidak; segala sesuatunya harus ditanggapi dengan serius, jadi bagaimana caranya agar engkau dapat mengetahui apakah hal ini benar atau salah? Engkau harus memikirkan apakah pengejaran, cita-cita, dan keinginan yang telah kautetapkan ada hubungannya atau tidak dengan ajaran Tuhan dan keselamatan-Nya serta harapan-Nya bagimu, apakah ada hubungannya atau tidak dengan maksud Tuhan untuk menyelamatkan manusia, dengan misimu, dan dengan tugasmu, apakah hal tersebut akan membantumu menyelesaikan misimu dan melaksanakan tugasmu dengan lebih efektif atau tidak, atau apakah hal tersebut akan meningkatkan peluangmu untuk diselamatkan dan membantumu memenuhi maksud Tuhan atau tidak. Sebagai orang biasa, pengejaran akan cita-cita dan keinginanmu adalah hakmu, tetapi ketika engkau mewujudkan cita-cita dan keinginanmu sendiri dan menempuh jalan ini, akankah hal-hal tersebut membawamu ke jalan keselamatan? Akankah hal-hal tersebut menuntunmu ke jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Akankah hal-hal tersebut pada akhirnya akan membuatmu memiliki ketundukan mutlak dan penyembahan kepada Tuhan? (Tidak.) Itu sudah pasti. Karena hal-hal tersebut tidak akan membawamu ke sana, maka sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, cita-cita dan keinginan yang ditetapkan karena minat, hobi, bahkan karena bakat dan karuniamu, apakah itu hal yang positif atau negatif? Haruskah engkau memilikinya atau tidak? (Itu adalah hal yang yang negatif; kita seharusnya tidak memilikinya.) Engkau seharusnya tidak memilikinya. Oleh karena itu, menjadi apakah natur dari cita-cita dan keinginan orang? Apakah hal-hal tersebut menjadi hal yang positif atau negatif? Apakah hal-hal tersebut menjadi hak yang seharusnya kaumiliki atau sesuatu yang tidak seharusnya kaumiliki? (Hal-hal tersebut menjadi hal yang negatif, sesuatu yang seharusnya tidak kumiliki.) Hal-hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak seharusnya kaumiliki. Ada orang-orang yang berkata, "Kalau begitu, jika aku tidak seharusnya memiliki cita-cita dan keinginan, itu berarti Engkau sedang mengambil hakku!" Aku tidak sedang mengambil hakmu; Aku sedang berbicara tentang jalan seperti apa yang seharusnya orang tempuh dan cara mengejar kebenaran. Aku tidak sedang mengambil hakmu; kebebasan memilih berada di tanganmu, engkau diperbolehkan untuk memilih. Namun, mengenai apa natur dari hal ini dan bagaimana seharusnya cara untuk menilai hal ini, kita memiliki dasar untuk argumen kita, dan kita tidak berbicara sembarangan. Jika engkau mengambil firman Tuhan sebagai dasar dan berbicara dari sudut pandang kebenaran, itu berarti cita-cita dan keinginan orang bukanlah hal yang positif. Tentu saja, lebih tepatnya, jika sebagai orang yang percaya kepada Tuhan engkau ingin mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan, jika engkau ingin mengejar kebenaran dan memiliki rasa takut akan Tuhan, menjauhi kejahatan, dan tunduk kepada Tuhan, engkau tidak boleh memiliki cita-cita dan keinginan yang sama dengan orang-orang dunia. Dengan kata lain, jika engkau ingin mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan, engkau harus melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginanmu sendiri. Dengan kata lain, jika engkau ingin mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan, engkau tidak boleh mengejar cita-cita dan keinginanmu sendiri, dan khususnya, engkau tidak boleh menggunakan pengejaran akan cita-cita dan keinginan ini untuk memperoleh ketenaran dan keuntungan. Dapatkah dikatakan seperti ini? (Ya.) Semuanya sudah jelas sekarang. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, karena engkau bersedia mengejar kebenaran dan ingin memperoleh keselamatan, maka engkau harus melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginanmu, engkau harus meninggalkan jalan ini, yaitu jalan mencari ketenaran dan keuntungan, dan melepaskan cita-cita dan keinginan tersebut. Engkau tidak boleh memilih perwujudan cita-cita dan keinginanmu sebagai tujuan hidupmu; melainkan, yang harus dilakukan adalah mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan.

Ada orang-orang yang bertanya, "Karena aku tidak bisa mewujudkan pengejaran, cita-cita, dan keinginanku, dan aku sudah melepaskan semua itu, apa yang harus kulakukan dengan minat dan hobiku?" Itu adalah urusanmu sendiri. Meskipun engkau mungkin memiliki minat dan hobi, asalkan hal-hal tersebut tidak mengganggu aktivitasmu sehari-hari, tidak mengganggu pelaksanaan tugas serta penyelesaian misimu, dan tidak memengaruhi tujuan hidupmu atau jalan yang kautempuh, maka engkau boleh mempertahankan minat dan hobi tersebut. Tentu saja, dapat juga dipahami seperti ini: karena minat dan hobi ini adalah bagian dari kemanusiaanmu, maka dapat dikatakan bahwa hal-hal tersebut diberikan kepadamu oleh Tuhan. Segala aspek, seperti penampilan seseorang, keluarga, latar belakang, dan lingkungan hidupnya, telah ditentukan dari semula oleh Tuhan. Oleh karena itu, tidak dapat kita pungkiri bahwa minat dan hobi yang kita miliki juga diberikan oleh Tuhan. Fakta ini tidak bisa dipungkiri, itu sudah pasti. Sebagai contoh, ada orang-orang yang terampil dalam bidang bahasa, seni lukis, seni musik, terampil membedakan suara, warna, dan sebagainya. Entah hal-hal tersebut merupakan keahlian khusus atau minat dan hobimu atau tidak, dapat dikatakan bahwa semua itu adalah bagian dari kemanusiaan. Mengapa Tuhan memberi manusia minat dan hobi tertentu? Hal ini bertujuan untuk membuat hidupmu sedikit lebih kaya dan berwarna, agar hidupmu dapat disertai dengan unsur-unsur hiburan dan kesenangan tertentu tanpa memengaruhi kemampuanmu untuk menempuh jalan yang benar dalam hidup, membuat hidupmu tidak terlalu kering, membosankan, dan monoton. Sebagai contoh, ketika tiba saatnya menyanyikan lagu-lagu pujian di pertemuan, orang yang mampu memainkan alat musik dapat mengiringi nyanyian tersebut dengan memainkan piano atau gitar. Jika tak seorang pun mampu memainkan alat musik, semua orang akan kehilangan kenikmatan ini. Jika ada orang yang bisa memainkan alat musik untuk mengiringi, hasilnya akan jauh lebih baik daripada bernyanyi tanpa diiringi alat musik, dan semua orang akan menikmatinya. Ini sekaligus memperluas wawasan, memperkaya pengalaman, membuat hidup menjadi lebih bermakna, membuat orang merasa bahwa hidup lebih indah, dan membuat suasana hati mereka menjadi lebih ceria. Hal ini bermanfaat bagi kemanusiaan normal mereka dan jalan yang mereka tempuh dalam kepercayaan kepada Tuhan. Sebagai contoh, jika engkau suka melukis, ketika kehidupan saudara-saudari menjadi makin monoton, engkau bisa membuat gambar karikatur jenaka dan lucu yang menampilkan wajah-wajah orang tertentu dengan ekspresi negatif dan komentar-komentar negatif mereka, kemudian membuatnya menjadi sebuah buklet kecil dan membagikannya kepada semua orang, termasuk kepada saudara-saudari yang bersikap negatif tersebut. Ketika mereka melihatnya dan berkata, "Wah, bukankah ini gambarku?" mereka akan tertawa cekikikan dan merasa senang, dan mereka tidak akan lagi bersikap negatif. Bukankah ini hal yang baik? Hal ini tidak membutuhkan banyak upaya, tetapi ini membantu mereka keluar dari sikap negatif dengan lebih mudah. Di waktu luangmu, melukis, memainkan alat musik, berdiskusi tentang seni, atau mengeksplorasi akting dan menampilkan berbagai karakter, termasuk berbagai jenis orang negatif, berbagai jenis orang congkak, dan berbagai perwujudan antikristus yang bertindak semaunya, dapat membantu orang meningkatkan kemampuan untuk mengenali dan memperluas wawasan mereka. Bukankah ini hal yang baik? Bagaimana bisa dikatakan bahwa minat dan hobi ini tidak berguna? Kedua-duanya bermanfaat bagi manusia. Akan tetapi, jika engkau memunculkan cita-cita dan keinginan karena minat dan hobimu, dan hal-hal tersebut membawamu ke jalan yang tidak dapat berbalik kembali, itu berarti minat dan hobi ini tidak baik bagimu. Namun, jika engkau menerapkan minat dan hobimu ke dalam hidupmu dengan cara yang membuat kemanusiaanmu lebih berwawasan, membuat hidupmu lebih kaya dan berwarna, serta membuatmu lebih cerdas dan ceria, hidup lebih sejahtera, terpelihara, bebas, dan merdeka, itu berarti minat dan hobimu akan berdampak positif, bermanfaat bagi semua orang dan mendidik kerohanianmu, tetapi tidak memengaruhi pelaksanaan tugasmu dan penyelesaian misimu. Tentu saja, pada taraf tertentu, minat dan hobimu akan membantumu dalam pelaksanaan tugasmu. Saat engkau merasa sedih atau putus asa, menyanyikan sebuah lagu, memainkan alat musik, atau memainkan musik yang gembira dan berirama dapat mengangkat suasana hatimu, memungkinkanmu untuk datang ke hadapan Tuhan dalam doa. Engkau tidak akan lagi menyimpan hal-hal negatif, mengeluh, atau ingin menyerah. Dan pada saat yang sama, engkau akan menemukan kelemahan serta kekuranganmu, menyadari bahwa engkau terlalu rapuh dan tidak mampu menahan kesukaran atau rintangan. Memainkan alat musik akan membantumu mengangkat suasana hatimu; ini disebut mengetahui cara untuk hidup. Bukankah minat dan hobi tersebut memberikan dampak positif? (Ya.) Bila digunakan dengan benar, minat dan hobi dapat dipandang sebagai sarana yang dapat mengubah suasana hatimu, memungkinkanmu untuk menjalani kehidupan yang lebih normal dan rasional. Pada taraf tertentu, minat dan hobi dapat mempercepat atau memfasilitasi jalan masukmu ke dalam kenyataan kebenaran dan memberikan sarana tambahan untuk membantumu melaksanakan tugasmu. Tentu saja, sebagian kemanusiaan orang buruk dan jahat; mereka selalu ambisius, memiliki watak antikristus, atau mereka adalah antikristus. Bagi mereka, memiliki minat dan hobi dapat menjadi hal yang menyusahkan, karena mereka bisa saja menggunakannya sebagai modal dan merasa dirinya paling penting, yang tentu saja mengobarkan keagresifan dan keberanian mereka untuk melakukan perbuatan jahat. Oleh karena itu, minat dan hobi itu sendiri pada dasarnya bukanlah hal yang buruk atau negatif. Orang yang baik dan normal menggunakannya untuk hal-hal yang positif, sedangkan orang yang jahat dan negatif menggunakannya untuk melakukan perbuatan jahat dan buruk. Jadi, minat dan hobi bisa membuatmu menjadi lebih baik atau lebih buruk, bukankah demikian? (Ya.) Mari kita kembali ke topik tentang bagaimana orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Setelah memahami esensi minat dan hobi, orang tidak boleh memandang minat dan hobi seseorang dengan berprasangka buruk, dan tentu saja mereka tidak boleh menolak orang yang memiliki minat atau hobi apa pun. Minat dan hobi adalah bagian dari kemanusiaan yang normal, dan orang harus memperlakukannya dengan benar. Jika minat dan hobimu mulai memengaruhi kehidupan orang lain atau menyebabkan ketidaknyamanan bagi orang lain, atau jika engkau memengaruhi atau mengganggu orang lain demi mempertahankan minat dan hobimu, hal ini tidak benar. Selain hal ini, minat dan hobimu adalah hal yang dapat dibenarkan, dan diharapkan bahwa orang dapat memperlakukannya dengan benar serta menggunakan dan menerapkannya secara wajar. Tentu saja, cara yang paling baik dan benar untuk menggunakan dan menerapkannya adalah dengan membiarkan minat dan hobimu memiliki pengaruh terbesar pada pekerjaan yang kaulakukan dan tugas yang kaulaksanakan, serta menerapkannya semaksimal mungkin tanpa membiarkannya terbuang percuma. Ada orang-orang yang berkata, "Minat dan hobiku dapat memainkan peranan penting dalam pelaksanaan tugasku, tetapi aku merasa bahwa pengetahuanku di bidang ini belum cukup dan menyeluruh saat ini. Aku ingin mengembangkan diri dan melakukan kajian yang lebih baik dan sistematis terhadap topik yang berkaitan dengan bidang ini, kemudian menerapkannya dalam tugasku. Bolehkah aku melakukan hal itu?" Ya, boleh. Rumah Tuhan berulang kali mendorongmu untuk terus belajar. Pengetahuan adalah sarana, dan jika tidak mengandung apa pun yang merusak atau mengikis pemikiran orang, engkau boleh mempelajari dan memperdalam pemahamanmu tentangnya. Engkau dapat menggunakannya sebagai sarana yang positif dan bermanfaat untuk melaksanakan tugasmu, menjadikannya efektif dan berdampak. Bukankah itu hal yang baik? Bukankah ini pendekatan yang benar? (Ya.) Tentu saja, cara penerapan ini juga merupakan cara yang benar untuk memperlakukan minat dan hobimu, dan ini sekaligus merupakan cara yang benar bagi orang untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Engkau menggunakan dan menerapkan minat dan hobimu dengan benar, bukan menggunakannya untuk mencapai tujuan pribadi atau untuk mencapai tujuan mengejar kepuasan ambisi dan keinginan pribadi. Tentu saja, ini adalah cara penerapan yang dapat dibenarkan dan akurat, dan ini juga merupakan cara penerapan yang benar dan positif. Selain itu, ini juga menjadi jalan spesifik untuk bagaimana orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp