Firman Tuhan | "Apa yang Dimaksud dengan Sungguh-sungguh Percaya kepada Tuhan"
Beberapa materi dalam video ini berasal dari:【All Bible quotations in this video are translated freely from English...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Beragam topik yang sedang kita persekutukan berkaitan dengan hal-hal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mendengarkan pembahasan ini, bukankah engkau semua dapat merasakan bahwa kebenaran itu tidak kosong, bahwa kebenaran itu bukan slogan, bukan semacam teori, dan terutama bukan semacam pengetahuan? Berkaitan dengan apakah kebenaran itu? (Kebenaran berkaitan dengan kehidupan nyata kita.) Kebenaran berkaitan dengan kehidupan nyata, dengan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Kebenaran berkaitan dengan semua aspek kehidupan manusia, berkaitan dengan berbagai masalah yang orang hadapi dalam kehidupan sehari-hari, dan terutama berkaitan dengan tempat tujuan yang orang kejar dan jalan yang mereka tempuh. Tak satu pun dari kebenaran-kebenaran ini yang kosong, dan semuanya tentu saja tidak boleh diabaikan; semua ini adalah sesuatu yang harus orang miliki. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika menghadapi masalah nyata tertentu, jika engkau mampu memperlakukan, menyelesaikan, dan menangani hal-hal ini berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang kita persekutukan, itu berarti engkau sedang masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Jika dalam kehidupanmu sehari-hari, engkau berpaut pada pemikiran dan sudut pandangmu yang semula tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran dan itu tidak berubah, jika engkau memandang hal-hal ini dari sudut pandang manusia, dan jika prinsip serta dasar yang kaugunakan untuk memandang hal-hal ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran, maka jelaslah bahwa engkau bukanlah orang yang masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan engkau juga bukan orang yang mengejar kebenaran. Apa pun aspek kebenaran yang sedang kita persekutukan, semua topik yang dibahas adalah tentang mengoreksi dan membalikkan pemikiran, sudut pandang, gagasan, dan imajinasi keliru yang orang miliki mengenai berbagai hal, sehingga mereka akan mampu memiliki pemikiran dan sudut pandang yang benar terhadap berbagai hal yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari, dan agar mereka mampu memandang segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan nyata dari perspektif dan sudut pandang yang benar, kemudian menggunakan kebenaran sebagai standar untuk membereskan dan menangani hal-hal tersebut. Mendengarkan khotbah bukanlah untuk memperlengkapi diri dengan doktrin atau pengetahuan, bukan juga untuk memperluas wawasan atau mendapatkan pengetahuan baru—mendengarkan khotbah adalah untuk memahami kebenaran. Tujuan memahami kebenaran bukanlah agar orang memperkaya pemikiran atau rohnya, bukanlah agar orang memperkaya kemanusiaannya, melainkan agar orang dimampukan untuk tidak melepaskan diri dari kehidupan nyata pada saat menempuh jalan kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan agar setiap kali mereka menghadapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, mereka mampu memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak dengan menjadikan firman Tuhan sebagai dasar mereka dan kebenaran sebagai standar mereka. Jika engkau telah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun dan telah mengalami kemajuan dalam doktrin dan pengetahuan, dan engkau merasa diperkaya secara rohani dan pemikiranmu menjadi lebih tinggi, tetapi ketika engkau menghadapi banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, engkau tetap tidak mampu memandang hal-hal ini dari sudut pandang yang benar, dan engkau juga tidak mampu terus melakukan penerapan, memandang orang dan hal-hal, berperilaku, dan bertindak berdasarkan prinsip kebenaran, maka jelaslah bahwa engkau bukan orang yang mengejar kebenaran, juga bukan orang yang masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Yang lebih parah lagi, engkau belum mencapai taraf tunduk pada kebenaran, tunduk kepada Tuhan, atau takut akan Dia. Tentu saja, dapat dipastikan dengan jelas bahwa engkau belum menempuh jalan menuju keselamatan. Bukankah demikian? (Ya.)
Berdasarkan tingkat pertumbuhan yang sebenarnya dan keadaanmu sekarang ini, dalam aspek apa sajakah engkau semua merasa telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran? Dalam aspek apa sajakah engkau merasa ada harapan bagimu untuk diselamatkan? Di area mana sajakah engkau belum masuk ke dalam kenyataan kebenaran tetapi masih jauh dari memenuhi standar untuk diselamatkan? Dapatkah engkau mengukurnya? (Dalam situasi di mana antikristus dan orang jahat mengganggu pekerjaan gereja, merugikan kepentingan rumah Tuhan, aku tidak memiliki rasa keadilan dan tidak sungguh-sungguh setia kepada Tuhan. Aku tak mampu mengambil sikap untuk membela kepentingan rumah Tuhan, dan aku tidak memiliki kesaksian mengenai hal-hal yang sangat penting ini. Dalam hal ini, jelaslah bahwa aku belum memenuhi standar untuk diselamatkan.) Ini adalah masalah nyata. Silakan semua orang mendiskusikan hal ini lebih lanjut. Selain mengenali tingkat pertumbuhanmu yang berkaitan dengan masalah mengenali dan menolak antikristus, di sisi lain, hal-hal apa sajakah yang pernah engkau hadapi dalam kehidupanmu sehari-hari yang membuatmu merasa engkau belum masuk ke dalam kenyataan, merasa engkau tak mampu menerapkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan meskipun engkau memahami doktrin, engkau tetap tak mampu memahami kebenaran dengan jelas, engkau tidak memiliki jalan yang jelas, dan engkau tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu sesuai dengan maksud Tuhan, atau bagaimana mematuhi prinsip? (Setelah melaksanakan tugasku selama bertahun-tahun, kupikir aku mampu meninggalkan keluargaku, meninggalkan karierku, dan melepaskan sebagian perasaanku terhadap orang tua dan kerabatku. Namun, terkadang aku diperhadapkan dengan situasi nyata tertentu yang menyadarkanku bahwa masih ada perasaan dalam diriku, dan aku ingin berada di sisi orang tuaku, merawat dan berbakti kepada mereka. Jika aku tidak mampu melakukan ini, aku merasa berutang kepada mereka. Dengan mendengarkan persekutuan Tuhan baru-baru ini bahwa orang tua bukanlah orang yang kepadanya kita berutang, aku menyadari bahwa aku tidak memahami aspek kebenaran ini, dan aku belum tunduk pada kebenaran atau kepada Tuhan.) Siapa lagi yang mau melanjutkan? Bukankah engkau menghadapi kesulitan dalam kehidupanmu sehari-hari? Atau apakah engkau semua hidup seorang diri dan tidak pernah menghadapi masalah apa pun? Apakah engkau semua menghadapi kesulitan ketika melaksanakan tugasmu? Apakah engkau pernah bersikap asal-asalan? (Ya.) Pernahkah engkau memanjakan diri dalam kesenangan dan kenyamanan daging? Apakah engkau bekerja demi ketenaran dan status? Apakah engkau sering merasa khawatir atau cemas tentang prospek dan masa depanmu? (Ya.) Jadi, bagaimana engkau menangani situasi ini ketika menghadapinya? Apakah engkau mampu menggunakan kebenaran untuk menyelesaikannya? Engkau memiliki rencana cadangan ketika dipromosikan, dan mengkhawatirkan masa depan dan tempat tujuanmu, salah paham dan menyalahkan Tuhan, atau memamerkan kualifikasimu saat diberhentikan dari jabatanmu—apakah engkau memiliki masalah-masalah ini? (Ya.) Bagaimana engkau menangani dan mengatasi situasi ini ketika menghadapinya? Apakah engkau mengikuti keinginanmu yang egois, atau mampukah engkau mematuhi prinsip-prinsip kebenaran, memberontak terhadap daging, dan memberontak terhadap watak rusakmu agar dapat menerapkan kebenaran? (Tuhan, setiap kali aku menghadapi situasi-situasi ini, secara doktrin aku paham bahwa aku tidak boleh bertindak berdasarkan keinginan dagingku atau watak rusakku. Terkadang hati nuraniku tergerak dan merasa tertegur, dan aku sedikit mengubah perilakuku. Namun, itu kulakukan bukan karena sudut pandangku tentang masalah ini telah berubah, juga bukan karena aku mampu menerapkan kebenaran. Terkadang, jika keinginanku yang egois relatif kuat, dan aku merasa kesulitan ini terlalu besar, maka meskipun aku merasa sangat bersemangat, aku tetap tidak mampu menerapkan kebenaran. Pada saat itu, aku akan hidup berdasarkan watak rusakku, dan bahkan perilaku baik lahiriahku pun lenyap.) Situasi macam apa ini? Apakah engkau akhirnya menerapkan kebenaran dan tetap teguh dalam kesaksianmu, atau engkau gagal? (Aku gagal.) Apakah engkau merenungkan dirimu setelahnya dan merasa menyesal? Mampukah engkau melakukan perbaikan ketika kembali menghadapi situasi yang sama? (Setelah gagal, aku akan merasa sedikit tidak nyaman dalam hati nuraniku, dan ketika aku makan dan minum firman Tuhan, aku dapat mengaitkannya pada diriku sendiri, tetapi ketika aku kembali menghadapi situasi ini, watak rusak yang sama tetap muncul dengan sendirinya. Hanya ada sedikit kemajuan dalam aspek ini.) Bukankah kebanyakan orang mendapati diri mereka berada dalam keadaan ini? Bagaimana engkau semua memandang masalah ini? Setiap kali orang menghadapi situasi yang sama, cara mereka menanganinya, selain dari perilaku mereka yang membaik karena pengaruh hati nurani mereka, atau perilaku mereka terkadang relatif luhur atau terkadang relatif tercela berdasarkan situasi dan keadaan mereka pada waktu itu, dan berdasarkan berbagai suasana hati mereka—selain dari semua ini, penerapan mereka tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Apa yang menjadi masalahnya? Apakah itu merepresentasikan tingkat pertumbuhan mereka? Seperti apa tingkat pertumbuhan mereka? Apakah ini menunjukkan tingkat pertumbuhan mereka yang rendah, atau ada kelemahan, kekurangan dalam kemanusiaan mereka, atau menunjukkan bahwa mereka tidak menerapkan kebenaran? Menunjukkan apakah hal ini? (Tingkat pertumbuhan yang rendah.) Orang yang tingkat pertumbuhannya rendah tidak akan mampu menerapkan kebenaran, dan karena mereka tidak mampu menerapkan kebenaran, tingkat pertumbuhan mereka menjadi rendah. Serendah apa tingkat pertumbuhannya? Itu berarti engkau belum memperoleh kebenaran dalam hal ini. Apa maksudnya engkau belum memperoleh kebenaran? Itu berarti firman Tuhan belum menjadi hidupmu; bagimu firman Tuhan masih berupa tulisan, doktrin, atau argumen. Firman Tuhan belum tertanam kuat dalam dirimu atau belum menjadi hidupmu. Akibatnya, apa yang disebut kebenaran yang kaupahami ini hanyalah semacam doktrin atau slogan. Mengapa Aku mengatakan hal ini? Karena engkau tidak dapat mengubah doktrin ini menjadi kenyataanmu. Ketika engkau menghadapi segala sesuatu dalam kehidupanmu sehari-hari, engkau tidak menanganinya berdasarkan kebenaran; engkau masih melakukannya dan menanganinya berdasarkan watak rusak Iblis dan di bawah pengaruh hati nuranimu. Jadi jelaslah bahwa setidaknya dalam hal ini, engkau tidak memiliki kebenaran, dan engkau belum memperoleh hidup. Tidak memperoleh hidup berarti tidak memiliki hidup; tidak memiliki hidup berarti dalam hal ini, engkau sama sekali belum diselamatkan, dan engkau masih hidup di bawah kuasa Iblis. Sekalipun apa yang dilakukan di bawah pengaruh hati nurani adalah perilaku yang baik atau semacam perwujudan, itu tidak merepresentasikan hidup; itu hanyalah perwujudan manusia normal. Jika perwujudan ini muncul karena pengaruh hati nurani, paling-paling, itu adalah perilaku yang baik. Jika hati nurani bukan faktor yang dominan, tetapi yang dominan adalah watak rusak orang, maka perilaku ini tidak dapat dianggap sebagai perilaku yang baik; itu adalah perilaku yang memperlihatkan watak rusak orang tersebut. Jadi, dalam hal apa sajakah engkau semua telah menjadikan kebenaran menjadi kenyataan, dan memperoleh hidup? Dalam hal apa sajakah engkau semua belum memperoleh kebenaran dan menjadikannya sebagai hidupmu, dan belum menjadikan kebenaran sebagai kenyataanmu? Dengan kata lain, dalam hal apa sajakah engkau hidup dalam firman Tuhan dan menjadikannya sebagai standarmu, dan dalam hal apa sajakah engkau masih belum menjadikannya sebagai standarmu? Hitunglah jumlahnya. Jika engkau sudah menghitungnya, tetapi sayangnya tidak ada satu hal pun yang di dalamnya engkau bertindak atau hidup berdasarkan firman Tuhan, melainkan engkau bertindak berdasarkan sikapmu yang gampang marah, berdasarkan gagasan, kesukaanmu atau keinginan dagingmu, atau watak rusakmu, lalu apa hasil akhirnya? Hasilnya akan buruk, bukan? (Ya.) Sampai hari ini, engkau semua telah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun, meninggalkan keluargamu, meninggalkan kariermu, mengalami kesukaran, dan membayar harga. Jika ini adalah hasilnya, apakah ini adalah sesuatu yang menggembirakan dan layak dirayakan atau sesuatu yang menyedihkan dan mengkhawatirkan? (Menyedihkan dan mengkhawatirkan.) Orang yang tidak menjadikan kebenaran sebagai kenyataan, yang tidak menjadikan firman Tuhan sebagai hidupnya, orang macam apakah itu? Bukankah itu adalah orang yang hidup di bawah kendali penuh watak rusak Iblis, yang tidak ada harapan untuk diselamatkan? (Ya.) Pernahkah engkau memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini ketika engkau biasanya membaca firman Tuhan dan memeriksa dirimu sendiri? Kebanyakan orang belum memikirkannya, bukan? Kebanyakan orang hanya berpikir, "Aku mulai percaya kepada Tuhan pada usia tujuh belas tahun, dan sekarang aku berusia empat puluh tujuh tahun. Aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, dan aku telah diburu beberapa kali, tetapi Tuhan telah melindungiku dan membantuku untuk meloloskan diri. Aku pernah tinggal di gua-gua dan gubuk, pernah berhari-hari tidak makan, dan terjaga selama berjam-jam tanpa tidur sedikit pun. Aku telah menanggung begitu banyak penderitaan dan melakukan perjalanan yang sangat jauh, semuanya demi melaksanakan tugasku, melakukan pekerjaanku, dan menyelesaikan tugasku. Ada harapan yang sangat besar bagiku untuk diselamatkan, aku sudah mulai menempuh jalan keselamatan. Aku sangat beruntung! Aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah kasih karunia-Nya! Aku tidak berharga di mata dunia, dan semua orang memandang rendah diriku, dan aku tak pernah menganggap diriku istimewa, tetapi karena peninggian Tuhan, karena Dia mengangkatku—orang yang miskin ini—keluar dari tumpukan sampah, aku ditempatkan di jalan menuju keselamatan, dan diberi kehormatan untuk melaksanakan tugasku di rumah-Nya. Dia meninggikanku dan Dia mengasihiku! Kini setelah aku memahami begitu banyak kebenaran dan bekerja selama bertahun-tahun, kelak aku pasti akan menerima upahku. Siapa yang dapat merebutnya?" Jika hanya inilah yang dapat kaupikirkan ketika engkau memeriksa dirimu sendiri, bukankah itu akan menimbulkan masalah? (Ya.) Katakan kepada-Ku, engkau semua sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, telah mengalami banyak penderitaan, melakukan perjalanan sejauh ini, dan melakukan begitu banyak pekerjaan. Mengapa setelah percaya kepada Tuhan sampai sejauh ini, ada banyak orang yang dipindahkan ke Kelompok B? Mengapa ada banyak pemimpin dan pekerja yang kini harus mengembalikan uang persembahan dan dibebani utang? Apa yang sedang terjadi? Bukankah mereka sudah diselamatkan? Bukankah mereka sudah memiliki kebenaran dan telah memperoleh hidup? Ada orang-orang yang menganggap diri mereka sokoguru dan orang penting di rumah Tuhan, orang yang sangat berbakat di sini. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Jika penderitaan dan pengorbanan selama bertahun-tahun ini telah membuat mereka menerima hidup dan mendapatkan kenyataan kebenaran, membuat mereka tunduk pada firman Tuhan, membuat mereka benar-benar takut akan Tuhan, dan setia melaksanakan tugas mereka, akankah orang-orang ini diberhentikan atau dipindahkan ke Kelompok B? Akankah mereka dibebani oleh utang atau mengalami kerugian yang besar? Akankah masalah-masalah ini terjadi? Ini cukup memalukan bukan? (Ya.) Pernahkah engkau memikirkan apa masalahnya? Sebanyak apa pun penderitaan yang mampu orang tanggung atau sebesar apa pun harga yang telah mereka bayar karena kepercayaan mereka kepada Tuhan, itu tidak menandakan bahwa mereka telah diselamatkan, tidak menandakan bahwa mereka sedang masuk ke dalam kenyataan kebenaran, juga tidak menandakan bahwa mereka memiliki hidup. Lalu, apa tandanya orang telah memiliki hidup dan kenyataan kebenaran? Secara umum, lihatlah apakah mereka mampu menerapkan kebenaran dan menangani masalah berdasarkan prinsip; terutama, lihatlah apakah mereka memandang orang dan hal-hal, berperilaku dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, apakah mereka mampu bertindak berdasarkan prinsip kebenaran. Jika, ketika melaksanakan tugasmu, engkau mampu menaklukkan dirimu sendiri, menanggung penderitaan, dan membayar harga dalam segala sesuatu yang kaulakukan, tetapi sayangnya engkau tidak mampu melakukan hal yang terpenting, yaitu, engkau tidak mampu menjunjung tinggi prinsip kebenaran; jika apa pun yang kaulakukan, engkau selalu memikirkan kepentinganmu sendiri, selalu mencari jalan keluar untuk dirimu sendiri, selalu ingin melindungi dirimu sendiri; dan jika engkau tidak pernah menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran, dan bagimu firman Tuhan hanyalah doktrin, maka tak perlu membahas apakah engkau berharga, atau apakah hidupmu berharga atau tidak; pada dasarnya, engkau tidak memiliki hidup. Orang yang tidak memiliki hidup adalah orang yang paling menyedihkan. Orang yang percaya kepada Tuhan tetapi tidak masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan tidak memperoleh hidup adalah jenis orang yang paling menyedihkan dan itu adalah hal yang paling tragis. Bukankah demikian? (Ya.) Aku tidak meminta agar engkau semua mampu menerapkan prinsip-prinsip kebenaran dalam segala sesuatu, tetapi setidaknya, dalam tugas-tugas penting yang kaulaksanakan dan dalam hal-hal penting dalam kehidupanmu sehari-hari yang melibatkan prinsip, engkau harus mampu bertindak berdasarkan prinsip kebenaran. Setidaknya engkau harus mencapai standar ini agar ada harapan bagimu untuk diselamatkan. Namun untuk sekarang ini, engkau semua bahkan belum memenuhi persyaratan yang paling mendasar, engkau belum memenuhi satu pun darinya. Ini adalah hal yang sangat menyedihkan dan sangat mengkhawatirkan.
Dalam tiga tahun pertama setelah orang percaya kepada Tuhan, mereka merasa bahagia dan penuh sukacita. Setiap hari mereka berpikir tentang menerima berkat dan mendapatkan tempat tujuan yang indah. Mereka yakin bahwa perilaku yang terlihat baik di luarnya, seperti menderita bagi Tuhan, sibuk ke sana kemari dan lebih banyak membantu orang lain, melakukan lebih banyak perbuatan baik, dan mempersembahkan lebih banyak uang, adalah hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang yang percaya kepada Tuhan. Setelah percaya kepada Tuhan selama tiga sampai lima tahun, meskipun mereka memahami beberapa doktrin, orang tetap percaya kepada Tuhan berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka. Mereka hidup berdasarkan perilaku yang baik, hati nurani mereka, dan kemanusiaan yang baik, dan bukan hidup berdasarkan prinsip kebenaran, atau menjadikan firman Tuhan sebagai hidup dan standar yang berdasarkannya mereka memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak. Jalan apa yang ditempuh orang-orang semacam itu? Bukankah mereka menempuh jalan yang Paulus tempuh? (Ya.) Bukankah saat ini engkau semua mendapati dirimu berada dalam keadaan ini? Jika engkau sering mendapati dirimu berada dalam keadaan ini, apakah mendengarkan banyak khotbah ada gunanya? Apa pun jenis khotbah yang kaudengar, engkau tidak mendengarkannya agar dapat memahami kebenaran, atau agar engkau dapat memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak berdasarkan prinsip kebenaran dalam kehidupanmu sehari-hari, sebaliknya, engkau mendengarkan khotbah demi memperkaya dunia rohanimu dan pengalaman manusiawimu. Jika demikian, engkau tidak perlu mendengarkan khotbah, bukan? Ada orang-orang yang berkata, "Aku harus mendengarkan khotbah. Jika aku tidak mendengarkan khotbah, aku tidak bersemangat dalam kepercayaanku kepada Tuhan, dan aku tidak memiliki semangat atau motivasi untuk melaksanakan tugasku. Dengan sesekali mendengarkan khotbah, aku memiliki sedikit semangat dalam kepercayaanku, aku merasa lebih puas dan diperkaya, jadi ketika aku menghadapi kesulitan atau keadaan negatif dalam tugasku, aku memiliki sedikit motivasi, dan aku jarang bersikap negatif." Apakah tujuanmu mendengarkan khotbah adalah untuk memperoleh efek tersebut? Setelah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun, kebanyakan orang tidak meninggalkan gereja, seperti apa pun cara mereka dipangkas, didisiplinkan, atau dihajar. Memperoleh efek ini ada kaitannya dengan mendengarkan khotbah, tetapi yang ingin Kulihat bukan hanya api yang akan padam di hatimu kembali berkobar setelah mendengarkan setiap khotbah. Bukan hanya tentang itu. Semangat belaka tidak ada gunanya. Semangat tidak boleh digunakan untuk melakukan kejahatan atau melanggar prinsip kebenaran. Semangat adalah untuk membuatmu memiliki tujuan dan arah yang lebih jelas ketika mengejar kebenaran—tetapi yang terutama harus kaulakukan adalah berusaha memahami prinsip-prinsip kebenaran dan menerapkannya. Jadi, dapatkah engkau memperoleh efek ini ketika engkau mendengarkan khotbah? Setelah mendengar khotbah, rasanya seperti ada api di hatimu, engkau seperti diisi dengan daya listrik atau dipompa penuh dengan udara. Engkau kembali merasa bersemangat, engkau tahu di area mana engkau harus bekerja keras selanjutnya, tanpa pernah bermalas-malasan atau bersikap negatif, dan jarang bersikap lemah. Namun, perwujudan ini bukanlah syarat untuk memperoleh keselamatan. Ada beberapa syarat untuk memperoleh keselamatan: pertama, engkau harus bersedia membaca firman Tuhan dan mendengarkan khotbah; kedua, dan ini juga merupakan syarat yang terpenting, sebesar atau sekecil apa pun masalah yang kauhadapi dalam kehidupanmu sehari-hari, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tugasmu dan pekerjaan besar rumah Tuhan, engkau harus mampu mencari prinsip kebenaran, dan tidak boleh bertindak berdasarkan gagasanmu sendiri, melakukan apa pun sesuai keinginanmu, atau bertindak semaunya dan ceroboh. Tujuan-Ku tanpa lelah mempersekutukan kebenaran kepadamu dan menjelaskan prinsip-prinsip berbagai hal seperti ini bukanlah untuk membuatmu melakukan hal yang mustahil atau memaksamu melampaui kemampuanmu, dan itu bukan sekadar untuk membuatmu merasa bersemangat. Sebaliknya, tujuan-Ku adalah untuk membuatmu memahami maksud Tuhan dengan lebih akurat, memahami prinsip-prinsip dasar yang harus kaugunakan untuk melakukan segala sesuatu, dan memahami bagaimana seharusnya orang bertindak untuk memenuhi maksud Tuhan. Ketika menghadapi masalah, bukan bertindak berdasarkan watak rusak, pemikiran, sudut pandang, dan pengetahuan mereka, tetapi dengan menggantikannya dengan prinsip-prinsip kebenaran. Inilah salah satu cara utama Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Tujuannya adalah agar engkau mampu menjadikan firman Tuhan sebagai dasar dan prinsip dalam segala hal yang kauhadapi, dan agar firman-Nya berkuasa dalam segala hal. Dengan kata lain, tujuannya adalah agar engkau mampu menangani dan menyelesaikan setiap masalah berdasarkan firman Tuhan, bukan dengan mengandalkan kecerdasan dan pilihan manusia, atau menanganinya berdasarkan selera, ambisi, dan keinginan manusia. Melalui cara mengkhotbahkan dan mempersekutukan kebenaran seperti ini, firman Tuhan dan kebenaran dapat ditanamkan dalam diri manusia, memungkinkan mereka untuk memiliki kehidupan di mana kebenaran adalah kenyataan mereka. Ini menandakan bahwa mereka telah diselamatkan. Apa pun hal-hal yang kauhadapi, engkau harus lebih berupaya untuk memahami prinsip kebenaran dan firman Tuhan. Orang semacam ini adalah orang yang mengejar keselamatan dan bijaksana. Mereka yang selalu berfokus pada perilaku lahiriah, formalitas, doktrin, dan slogan, adalah orang bodoh. Mereka bukanlah orang yang mengejar keselamatan. Engkau semua tidak pernah memikirkan hal-hal semacam ini sebelumnya, atau jarang memikirkannya, jadi, dalam hal menerapkan prinsip-prinsip kebenaran, pikiranmu pada dasarnya kosong. Engkau semua tidak menganggap hal ini sangat penting, jadi setiap kali engkau menghadapi situasi yang ada kaitannya dengan prinsip kebenaran, khususnya saat menghadapi situasi besar tertentu, saat engkau menghadapi antikristus atau orang jahat yang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja, engkau semua selalu bersikap sangat pasif. Engkau tidak tahu cara menangani masalah-masalah ini, dan engkau menanganinya berdasarkan motif dan perasaan egoismu sendiri. Engkau tidak mampu mengambil sikap untuk membela pekerjaan gereja, dan pada akhirnya, engkau selalu mengalami kegagalan, engkau ceroboh dan tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah ini. Jika tidak dilakukan penyelidikan mengenai masalah ini, engkau bisa saja bersikap asal-asalan. Jika penyelidikan dilakukan untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab, engkau mungkin akan diberhentikan dari jabatanmu atau dipindahtugaskan; atau lebih buruk lagi, engkau mungkin akan dipindahkan ke Kelompok B, atau beberapa orang bahkan mungkin dikeluarkan. Apakah ini hasil yang ingin kaulihat? (Tidak.) Jika suatu hari engkau benar-benar diberhentikan dari jabatanmu atau dipaksa berhenti melaksanakan tugasmu, atau dalam kasus yang lebih parah, jika engkau dikirim ke gereja biasa atau ke Kelompok B, akankah engkau merenungkan dirimu sendiri? "Apakah aku percaya kepada Tuhan hanya untuk berakhir di sini? Apakah aku melepaskan pekerjaanku, masa depanku, keluargaku, dan meninggalkan begitu banyak hal hanya untuk ditempatkan di Kelompok B atau dikeluarkan? Apakah aku percaya kepada Tuhan untuk menentang-Nya? Bukankah sudah pasti bukan itu tujuanku percaya kepada Tuhan? Kalau begitu, untuk apa aku percaya kepada Tuhan? Bukankah aku harus merenungkan hal ini? Sekalipun untuk saat ini aku belum percaya kepada Tuhan untuk memenuhi maksud-Nya, setidaknya, aku harus memperoleh hidup dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Setidaknya, aku harus mampu merasakan aspek mana dari firman Tuhan dan kebenaran yang telah menjadi hidupku. Aku seharusnya mampu hidup berdasarkan kebenaran, dan menang atas Iblis dan watak rusakku sendiri, dan aku seharusnya mampu memberontak terhadap dagingku dan melepaskan gagasanku sendiri. Ketika sesuatu menimpaku, aku seharusnya benar-benar menjunjung tinggi prinsip kebenaran. Aku tidak boleh bertindak berdasarkan watak rusakku, aku harus mampu bertindak berdasarkan firman Tuhan dengan lancar dan wajar, tanpa kesulitan atau hambatan apa pun. Aku harus merasakan secara mendalam bahwa firman Tuhan dan kebenaran telah tertanam kuat dalam diriku, menjadi hidupku, dan menjadi bagian dari kemanusiaanku. Ini adalah hal yang menyenangkan dan patut dirayakan." Apakah engkau semua biasanya merasa seperti ini? Ketika engkau menghitung penderitaan yang telah kautanggung dan harga yang telah kaubayar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan selama bertahun-tahun, engkau akan merasa nyaman di hatimu, engkau akan merasakan bahwa ada harapan bagimu untuk diselamatkan, dan bahwa engkau telah merasakan manisnya memahami kebenaran dan mengorbankan dirimu untuk Tuhan. Pernahkah engkau semua merasakan atau mengalami hal-hal semacam itu? Jika belum, apa yang harus kaulakukan? (Kami harus mulai mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh mulai dari sekarang.) Mulailah mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh mulai dari sekarang—tetapi bagaimana seharusnya engkau mengejarnya? Engkau harus merenungkan dalam hal-hal apa engkau sering memberontak terhadap Tuhan. Tuhan telah berulang kali mengatur lingkungan bagimu agar engkau dapat memetik pelajaran, untuk mengubahmu melalui hal-hal ini, untuk membuat firman-Nya masuk ke dalam dirimu, untuk membuatmu masuk ke dalam aspek kenyataan kebenaran, dan untuk membuatmu tidak lagi hidup berdasarkan watak rusak Iblis dalam hal-hal itu, dan agar engkau hidup berdasarkan firman Tuhan, agar firman-Nya tertanam kuat dalam dirimu dan menjadi hidupmu. Namun, engkau sering kali memberontak terhadap Tuhan dalam hal-hal ini, tidak tunduk kepada Tuhan, tidak mau menerima kebenaran, tidak menganggap firman-Nya sebagai prinsip yang harus kaupatuhi, dan tidak hidup dalam firman-Nya. Hal ini menyakiti hati Tuhan, dan engkau telah berulang kali kehilangan kesempatanmu untuk diselamatkan. Jadi, bagaimana seharusnya engkau berbalik? Mulai hari ini, dalam hal-hal yang dapat kaukenali melalui perenungan dan perasaan yang jelas, engkau harus tunduk pada pengaturan Tuhan, menerima firman-Nya sebagai kenyataan kebenaran, menerima firman-Nya sebagai hidupmu, dan mengubah cara hidupmu. Ketika engkau menghadapi situasi seperti ini, engkau harus memberontak terhadap dagingmu dan kesukaanmu, dan bertindak berdasarkan prinsip kebenaran. Bukankah ini jalan penerapannya? (Ya.) Jika engkau hanya berniat untuk sungguh-sungguh mengejar kebenaran di masa depan, tetapi tidak memiliki jalan penerapan yang spesifik, itu tidak ada gunanya. Jika engkau memiliki jalan penerapan yang spesifik ini dan bersedia memberontak terhadap dagingmu dan memulai dari awal seperti ini, maka masih ada harapan bagimu. Jika engkau tidak bersedia melakukan penerapan dengan cara seperti ini dan malah tetap berpaut pada jalan usang yang sama, berpaut pada gagasan-gagasan lama, dan hidup berdasarkan watak rusakmu, maka tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Jika engkau puas hanya dengan menjadi orang yang berjerih payah, lalu apa lagi yang perlu dikatakan? Hal keselamatan tidak ada kaitannya denganmu, dan engkau juga tidak tertarik dengan hal itu, jadi tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Jika engkau benar-benar ingin mengejar kebenaran dan keselamatan, maka langkah pertamanya adalah mulailah dengan menyingkirkan watak rusakmu, berbagai pemikiran, gagasan, dan tindakanmu yang keliru. Terimalah lingkungan yang telah Tuhan atur bagimu dalam kehidupanmu sehari-hari, terimalah pemeriksaan, ujian, hajaran, dan penghakiman-Nya, berusahalah untuk secara berangsur melakukan penerapan berdasarkan prinsip kebenaran ketika sesuatu menimpamu, dan secara berangsur ubahlah firman Tuhan menjadi prinsip-prinsip dan standar yang berdasarkannya engkau berperilaku dan bertindak dalam kehidupanmu sehari-hari, dan menjadi hidupmu. Inilah yang seharusnya terwujud dalam diri orang yang mengejar kebenaran, dan inilah yang seharusnya terwujud dalam diri orang yang mengejar keselamatan. Kedengarannya mudah, langkah-langkahnya sederhana, dan tidak ada penjelasan yang panjang lebar, tetapi menerapkannya tidaklah semudah itu. Ini karena ada terlalu banyak hal-hal yang rusak dalam diri manusia: kepicikan, tipu muslihat, keegoisan, dan kehinaan mereka, watak rusak mereka, dan segala macam tipu daya. Selain itu, ada orang-orang yang memiliki pengetahuan, mereka telah mempelajari beberapa falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan taktik manipulatif di masyarakat, serta mereka memiliki beberapa kekurangan dan kelemahan dalam hal kemanusiaan mereka. Sebagai contoh, ada orang yang rakus dan malas, ada yang licik dan munafik dalam perkataannya, ada yang sifatnya sangat tercela, ada yang suka berdandan, ada yang angkuh, gegabah dan impulsif dalam tindakannya, dan masih banyak kekurangan lainnya. Ada banyak kekurangan dan masalah yang harus orang atasi dalam hal kemanusiaan mereka. Namun, jika engkau ingin memperoleh keselamatan, jika engkau ingin menerapkan dan mengalami firman Tuhan, serta memperoleh kebenaran dan hidup, engkau harus lebih banyak membaca firman Tuhan, memahami kebenaran, mampu melakukan penerapan dan tunduk pada firman-Nya, dan mulailah dengan menerapkan kebenaran dan menjunjung tinggi prinsip kebenaran. Ini hanyalah beberapa kalimat sederhana, tetapi orang tidak tahu bagaimana menerapkan atau mengalaminya. Apa pun kualitas atau pendidikanmu, dan berapa pun usia atau seberapapun lamanya engkau telah percaya kepada Tuhan, bagaimanapun juga, jika engkau berada di jalan yang benar yaitu jalan menerapkan kebenaran, jika engkau memiliki tujuan dan arah yang benar, dan jika apa yang kaukejar dan kerahkan semuanya adalah demi menerapkan kebenaran, yang pada akhirnya akan kauperoleh tentunya adalah kenyataan kebenaran dan firman Tuhan akan menjadi hidupmu. Tentukan terlebih dahulu tujuanmu, kemudian secara bertahap lakukan penerapan berdasarkan jalan ini, dan pada akhirnya engkau pasti akan memperoleh hasil. Apakah engkau semua memercayainya? (Ya.)
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari:【All Bible quotations in this video are translated freely from English...