Cara Mengejar Kebenaran (2) Bagian Tiga

Setiap orang pasti mengalami kemunduran dan kegagalan dalam hidupnya. Siapa yang hidupnya hanya dipenuhi kepuasan? Siapa yang tidak pernah mengalami kegagalan atau kemunduran? Ketika terkadang segala sesuatu tidak berjalan lancar bagimu, atau engkau mengalami kemunduran dan kegagalan, ini bukanlah ketidakberuntungan, ini adalah sesuatu yang harus kaualami. Seperti halnya makan—engkau harus makan yang asam, manis, pahit, dan pedas. Orang tidak bisa hidup tanpa garam dan harus makan makanan asin, tetapi jika engkau makan terlalu banyak garam, itu akan membahayakan ginjalmu. Engkau harus makan sedikit makanan asam pada musim-musim tertentu, tetapi makan terlalu banyak asam tidak ada gunanya, karena itu tidak baik untuk gigi dan perutmu. Semuanya harus dimakan secukupnya. Engkau harus makan makanan asam, makanan asin, dan makanan manis, dan engkau juga harus makan sedikit makanan pahit. Makanan pahit baik untuk beberapa organ dalam, jadi engkau harus memakannya sedikit. Demikian pula dengan kehidupan manusia. Sebagian besar orang, peristiwa, dan hal-hal yang kautemui di setiap tahap kehidupanmu tidak akan sesuai dengan keinginanmu. Mengapa? Karena orang mengejar hal-hal yang berbeda. Jika engkau mengejar ketenaran dan keberuntungan, status dan kekayaan, ingin menjadi lebih unggul daripada orang lain dan mencapai keberhasilan luar biasa, dan seterusnya, maka 99 persen dari apa yang kaualami tidak akan sesuai dengan keinginanmu. Sebagaimana orang katakan: semua itu adalah ketidakberuntungan dan kemalangan. Namun, jika engkau melepaskan gagasan tentang beruntung atau tidak beruntungnya dirimu, dan memperlakukan hal-hal ini dengan tenang dan benar, engkau akan mendapati bahwa sebagian besar hal yang terjadi tidaklah terlalu buruk atau terlalu sulit untuk ditangani. Jika engkau melepaskan ambisi dan keinginanmu, jika engkau tidak lagi menolak atau menghindari kemalangan apa pun yang menimpamu, dan engkau tidak lagi mengukur hal-hal semacam itu berdasarkan beruntung atau tidak beruntungnya dirimu, maka banyak hal yang sebelumnya kauanggap tidak beruntung dan buruk, sekarang akan kauanggap baik—hal-hal buruk itu akan berubah menjadi hal-hal baik. Mentalitas dan caramu dalam memandang segala sesuatu akan berubah, dan ini akan memampukanmu merasakan hal yang berbeda tentang pengalaman hidupmu, dan engkau juga akan sekaligus menuai hasil yang berbeda. Ini adalah pengalaman yang luar biasa, pengalaman yang akan membuahkan hasil yang tak pernah kaubayangkan. Ini adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk. Sebagai contoh, ada seseorang yang selalu mendapatkan penghargaan, selalu dipromosikan, selalu menerima pujian dan dorongan, sering kali mendapatkan penerimaan dari saudara-saudarinya, dan semua orang memandangnya dengan rasa iri. Apakah ini hal yang baik? Kebanyakan orang menganggap hal-hal ini terjadi karena orang itu adalah orang yang beruntung. Mereka berkata: "Lihat, orang itu memiliki kualitas yang baik, dia dilahirkan sebagai orang yang beruntung dan dia berhasil dalam hidupnya—dia mendapatkan peluang yang bagus dan mendapatkan promosi. Dia benar-benar sangat beruntung!" Mereka merasa sangat iri. Namun, pada akhirnya, setelah beberapa tahun, orang itu diberhentikan dan menjadi orang percaya biasa. Dia menangis karenanya dan mencoba gantung diri, dan dalam waktu beberapa hari, dia dikeluarkan. Apakah ini adalah keberuntungan? Jika engkau melihatnya seperti itu, dia sangat tidak beruntung. Namun, apakah ini benar-benar merupakan ketidakberuntungan? (Bukan.) Sebenarnya, dia mengalami hal itu bukan karena dia tidak beruntung, melainkan karena dia tidak menempuh jalan yang benar. Karena dia tidak menempuh jalan yang benar, ketika sesuatu yang orang anggap "beruntung" terjadi pada dirinya, itu menjadi godaan, perangkap, dan katalisator yang mempercepat kehancurannya. Apakah ini hal yang baik? Dia selalu bercita-cita untuk dipromosikan, terlihat lebih unggul dibandingkan yang lain, menjadi pusat perhatian, ingin segala sesuatunya berjalan lancar dan sesuai dengan keinginannya, tetapi apa yang terjadi pada akhirnya? Bukankah dia disingkirkan? Inilah akibatnya jika orang tidak menempuh jalan yang benar. Mengejar keberuntungan itu sendiri bukanlah jalan yang benar. Orang-orang yang mengejar keberuntungan pasti akan menolak dan menghindari semua hal yang buruk, semua hal yang cenderung dianggap orang tidak diinginkan, hal-hal yang tidak sesuai dengan suasana hati dan kepentingan daging manusia. Mereka takut, menghindari, dan menolak terjadinya hal-hal tersebut. Ketika hal-hal ini terjadi, mereka menggambarkannya sebagai "ketidakberuntungan". Mampukah mereka mencari kebenaran jika mereka menganggap diri mereka tidak beruntung? (Tidak.) Apakah menurutmu orang yang tak mampu mencari kebenaran dan yang selalu menganggap diri mereka tidak beruntung bisa menempuh jalan yang benar? (Tidak.) Mereka pasti tidak bisa. Jadi, orang yang selalu mengejar keberuntungan, yang selalu berfokus hanya pada keberuntungan mereka dan merenungkan keberuntungan mereka, adalah orang yang tidak menempuh jalan yang benar. Orang-orang seperti itu tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik dan tidak menempuh jalan yang benar, jadi mereka selalu tenggelam dalam depresi. Ini adalah kesalahan mereka sendiri, dan mereka pantas mendapatkannya! Itu karena mereka menempuh jalan yang salah! Mereka pantas tenggelam dalam depresi. Mudahkah untuk keluar dari perasaan depresi ini? Sebenarnya mudah. Lepaskan saja cara pandangmu yang salah, jangan berharap semuanya berjalan baik, atau tepat seperti yang kauinginkan, atau berharap semuanya berjalan lancar. Jangan takut, menentang, atau menolak hal-hal yang tidak berjalan lancar. Sebaliknya, lepaskan penentanganmu, tenangkan dirimu, dan datanglah ke hadapan Tuhan dengan sikap yang tunduk, dan terimalah semua yang Tuhan atur. Jangan mengejar apa yang disebut "keberuntungan", dan jangan menolak apa yang disebut "ketidakberuntungan". Serahkan hatimu dan seluruh keberadaanmu kepada Tuhan, biarkan Dia bertindak dan mengatur, dan tunduklah pada pengaturan dan penataan-Nya. Tuhan akan memberimu apa yang kaubutuhkan sesuai dengan jumlah yang kauperlukan. Dia akan mengatur lingkungan, orang, peristiwa, dan hal-hal yang kauperlukan, sesuai dengan kebutuhan dan kekuranganmu, sehingga engkau dapat memetik pelajaran yang seharusnya kaupetik dari orang, peristiwa, dan hal-hal yang kautemui. Tentu saja, prasyarat semua ini adalah engkau harus memiliki mentalitas ketundukan pada pengaturan dan penataan Tuhan. Jadi, jangan mengejar kesempurnaan; jangan menolak atau takut akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, memalukan, atau hal-hal yang tidak menguntungkan; dan di dalam hatimu, jangan gunakan perasaan depresimu untuk menentang terjadinya hal-hal yang buruk. Sebagai contoh, jika suatu hari seorang penyanyi menderita sakit tenggorokan dan tidak mampu tampil dengan baik, dia akan berpikir, "Aku sangat tidak beruntung! Mengapa Tuhan tidak menjaga suaraku? Biasanya aku menyanyi dengan sangat baik saat aku seorang diri, tetapi hari ini aku mempermalukan diriku sendiri saat bernyanyi di depan semua orang. Nada yang kunyanyikan tidak tepat, dan temponya tidak sesuai. Aku telah sangat mempermalukan diriku sendiri!" Mempermalukan dirimu sendiri adalah hal yang baik. Ini membantumu menyadari kekuranganmu sendiri dan kecintaanmu akan keangkuhan. Ini memperlihatkan kepadamu di mana letak masalah dalam dirimu dan membantumu memahami dengan jelas bahwa engkau bukanlah orang yang sempurna. Tidak ada orang yang sempurna dan mempermalukan dirimu sendiri adalah hal yang sangat normal. Semua orang mengalami saat-saat di mana mereka mempermalukan diri mereka sendiri atau merasa malu. Semua orang pernah gagal, mengalami kemunduran, dan memiliki kelemahan. Mempermalukan dirimu sendiri tidaklah buruk. Jika engkau mempermalukan dirimu sendiri, tetapi tidak merasa malu dan di dalam hatimu engkau tidak merasa depresi, itu bukan berarti engkau tebal muka; itu artinya engkau tidak peduli apakah mempermalukan dirimu sendiri akan memengaruhi reputasimu dan itu berarti keangkuhanmu tidak lagi menguasai pemikiranmu. Itu berarti engkau telah dewasa dalam kemanusiaanmu. Ini luar biasa! Bukankah ini hal yang baik? Ini adalah hal yang baik. Jangan menganggap dirimu belum melaksanakan tugasmu dengan baik atau menganggap dirimu tidak beruntung, dan jangan mencari penyebab objektif di baliknya. Itu adalah hal yang normal. Engkau mungkin mempermalukan dirimu sendiri, orang lain mungkin mempermalukan diri mereka sendiri, semua orang mungkin mempermalukan diri mereka sendiri—pada akhirnya, engkau akan mendapati bahwa semua orang sama, semuanya adalah orang biasa, semuanya adalah manusia fana, dan tak seorang pun lebih hebat daripada yang lain, dan tak seorang pun lebih baik daripada yang lain. Setiap orang terkadang mempermalukan dirinya sendiri, jadi tak seorang pun boleh mengolok-olok orang lain. Setelah engkau mengalami banyak kegagalan, engkau akan secara berangsur menjadi dewasa dalam kemanusiaanmu; jadi setiap kali engkau kembali menghadapi hal-hal ini, engkau tidak akan lagi terkekang, dan semua itu tidak akan memengaruhi pelaksanaan normal tugasmu. Kemanusiaanmu akan menjadi normal, dan ketika kemanusiaanmu normal, nalarmu juga akan menjadi normal.

Orang-orang yang senang mengejar keberuntungan ini adalah orang-orang yang mengejar berkat dalam hidup ini, yang suka bertindak ekstrem. Apa yang dikejar orang-orang ini adalah salah dan mereka harus melepaskannya. Kita baru saja bersekutu tentang bagaimana menangani dan memperlakukan hal-hal yang tidak diinginkan ini dengan benar—apakah engkau semua memahaminya sekarang? Bagaimana kita mempersekutukan hal ini? (Orang harus tunduk pada semua yang Tuhan atur. Mereka tidak boleh berusaha menjadi manusia sempurna, mereka juga tidak boleh takut akan apa pun yang membuat mereka merasa malu atau takut terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan, dan orang tidak boleh menggunakan emosi depresi mereka untuk menentang hal-hal ini ketika itu terjadi.) Tenangkan pikiranmu dan hadapi semua itu dengan pola pikir yang benar. Ketika hal buruk terjadi padamu, engkau harus memiliki cara yang benar untuk memperlakukan dan menyelesaikannya, dan sekalipun engkau tidak menanganinya dengan benar, engkau tetap tidak boleh tenggelam dalam depresi. Jika engkau gagal, engkau bisa mencobanya lagi; seburuk-buruknya, kegagalan akan menjadi pelajaran, dan meskipun engkau gagal, itu masih lebih baik daripada engkau melawan, menentang, menolak, dan melarikan diri. Jadi, apa pun yang terjadi atau apa pun yang harus kauhadapi kelak, engkau jangan pernah menolaknya atau berusaha menghindarkan dirimu darinya, apalagi mengukurnya dengan pandangan beruntung atau tidak beruntungnya dirimu. Karena engkau telah meyakini bahwa segala sesuatu diatur oleh tangan Tuhan, engkau tidak boleh mengukur semua hal ini berdasarkan pandangan dan pola pikir beruntung atau tidak beruntungnya dirimu, apalagi menolak hal-hal buruk yang terjadi. Tentu saja, engkau juga tidak boleh memperlakukan hal-hal ini dengan emosi depresi. Sebaliknya, engkau harus memiliki sikap yang proaktif dan suasana hati yang positif untuk menghadapi dan memperlakukan hal-hal ini, dan melihat pelajaran apa yang dapat kaupetik dan pemahaman apa yang dapat kauperoleh dari semua itu—inilah yang harus kaulakukan. Bukankah dengan demikian pemikiran dan pandanganmu akan menjadi benar? (Ya.) Dan ketika engkau sekali lagi menghadapi beberapa hal yang buruk dan tidak menguntungkan, engkau mampu memperlakukannya berdasarkan firman Tuhan, engkau akan memiliki pemikiran dan pandangan yang benar, dan dengan cara ini, kemanusiaan dan nalarmu akan menjadi normal. Jika engkau melihatnya seperti ini, bukankah sangat penting untuk memiliki pandangan yang benar? Bukankah sangat penting untuk memahami dengan jelas masalah nasib berdasarkan firman Tuhan? (Ya.) Sekarang karena kita hampir menyelesaikan persekutuan kita tentang keberuntungan dan ketidakberuntungan, apakah engkau semua memahaminya sekarang? (Ya.) Jika engkau mampu memahami esensi dari masalah semacam ini dengan jelas, engkau akan memiliki pandangan yang benar mengenai masalah nasib.

Ada juga penyebab lain orang tenggelam dalam emosi depresi, yaitu karena beberapa hal tertentu yang terjadi pada mereka sebelum mereka berusia dewasa atau setelah mereka dewasa, yaitu mereka melakukan pelanggaran tertentu, atau melakukan hal yang idiot, hal yang tolol, dan hal yang bodoh. Mereka tenggelam dalam perasaan depresi karena pelanggaran ini, karena hal-hal idiot dan bodoh yang pernah mereka lakukan. Depresi semacam ini menjadi penghukuman terhadap diri mereka sendiri, dan itu juga menjadi semacam penentuan tentang orang seperti apa mereka. Pelanggaran semacam ini tentunya bukan sekadar mengumpat orang atau menjelek-jelekkan orang di belakang mereka, atau hal remeh seperti itu, melainkan sesuatu yang berkaitan dengan rasa malu, kepribadian dan martabat orang, dan bahkan dengan hukum. Saat mereka terus-menerus teringat akan peristiwa itu di benak mereka, emosi depresi terkumpul sedikit demi sedikit di lubuk hati mereka, hingga saat ini. Apa sajakah pelanggaran ini? Seperti yang baru saja Kukatakan, itu adalah hal yang tolol, idiot dan bodoh yang pernah orang lakukan saat mereka kanak-kanak atau saat mereka dewasa. Tahukah engkau semua mencakup hal apa sajakah itu? Hal-hal idiot, tolol dan bodoh—ini mencakup hal-hal yang merugikan orang lain tetapi menguntungkan dirimu sendiri, hal-hal yang sulit untuk dibicarakan, dan hal-hal yang membuatmu merasa malu. Hal itu mungkin sesuatu yang kotor, hina, cabul, atau tidak senonoh, yang menyebabkanmu tenggelam dalam emosi depresi ini. Emosi depresi ini bukan sekadar celaan terhadap diri sendiri, tetapi merupakan penghukuman terhadap diri sendiri. Dapatkah engkau semua memikirkan apa yang termasuk dalam cakupan yang telah Kuuraikan ini? Berikan sebuah contoh. (Percabulan.) Benar, percabulan adalah salah satunya. Sebagai contoh, ada orang yang pernah mengkhianati suami atau istrinya dalam pikiran atau perbuatan; ada orang yang pernah berzina dan terlibat dalam percabulan, tetapi mereka belum melepaskan hal itu dan masih selalu memikirkan dengan siapa mereka ingin berzina; ada orang yang pernah menipu orang lain demi uang, bahkan mungkin demi uang yang sangat banyak; ada orang yang pernah mencuri barang milik orang lain; dan ada orang yang pernah memfitnah atau membalas dendam kepada orang lain. Ada dari hal-hal ini yang nyaris melanggar hukum, dan ada yang memang melanggar hukum; ada yang mungkin hampir melanggar batasan moral, dan ada yang mungkin benar-benar melanggar etika kemanusiaan normal. Hal-hal ini terkubur jauh di ingatan terdalam orang, dan hal-hal ini terlintas di benak mereka dari waktu ke waktu. Saat engkau seorang diri, saat engkau tidak bisa tidur di tengah malam, engkau pasti teringat hal-hal ini. Ingatan itu diputar di depan mata pikiranmu bagaikan film, adegan demi adegan, dan engkau tak mampu menghapusnya atau menghilangkannya. Setiap kali engkau memikirkan hal-hal ini, engkau merasa depresi, wajahmu merah padam, hatimu bergetar, engkau merasa malu, dan rohmu dipenuhi kegelisahan. Meskipun engkau percaya kepada Tuhan, engkau masih merasa seolah hal-hal yang telah kaulakukan ini baru terjadi kemarin. Engkau tak mampu melarikan diri darinya, engkau tak mampu menyembunyikan diri darinya, dan engkau tidak tahu bagaimana cara meninggalkannya. Meskipun hanya sedikit orang yang tahu apa yang telah kaulakukan, atau mungkin tak seorang pun mengetahuinya, engkau merasakan sedikit kegelisahan di dalam hatimu. Dari kegelisahan ini muncullah depresi, dan perasaan depresi ini membuatmu merasa tertuduh sementara engkau mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasmu. Engkau tidak tahu dengan pasti apakah perasaan tertuduh ini berasal dari hati nuranimu sendiri, dari hukum, atau dari moralitas dan etikamu. Bagaimanapun, orang yang pernah melakukan hal-hal ini sering kali merasakan kegelisahan yang tiba-tiba muncul, saat hal khusus tertentu terjadi, atau saat berada di lingkungan dan konteks tertentu. Perasaan gelisah ini membuat mereka tanpa sadar terjerumus ke dalam perasaan depresi yang mendalam, dan mereka menjadi dibelenggu dan dikekang oleh perasaan depresi mereka. Setiap kali mereka mendengarkan khotbah atau persekutuan tentang kebenaran, perasaan depresi ini menyusup perlahan-lahan ke dalam pikiran dan lubuk hati mereka, membuat mereka bertanya tanpa henti kepada diri mereka sendiri, "Dapatkah aku melakukan hal ini? Mampukah aku mengejar kebenaran? Dapatkah aku memperoleh keselamatan? Orang seperti apakah aku ini? Aku pernah melakukan hal itu, aku dahulu adalah orang yang seperti itu. Apakah aku tak mungkin dapat diselamatkan? Akankah Tuhan menyelamatkanku?" Ada orang-orang yang terkadang mampu melepaskan perasaan depresi ini dan meninggalkannya. Mereka mengerahkan ketulusan mereka dan segenap kekuatan yang mampu mereka kerahkan dalam melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawab mereka, dan bahkan mampu mencurahkan segenap hati dan pikiran mereka dalam mengejar kebenaran dan merenungkan firman Tuhan, dan mereka berusaha keras memahami firman Tuhan. Namun, begitu situasi atau keadaan khusus terjadi, emosi depresi kembali menguasai mereka dan kembali membuat mereka merasa tertuduh di lubuk hati mereka. Mereka berpikir, "Kau pernah melakukan hal itu sebelumnya, dan kau memang orang seperti itu. Dapatkah kau memperoleh keselamatan? Apakah ada gunanya menerapkan kebenaran? Apa yang akan Tuhan pikirkan tentang hal yang pernah kaulakukan ini? Akankah Tuhan mengampunimu atas apa yang pernah kaulakukan? Dapatkah membayar harga seperti ini sekarang menutupi pelanggaran tersebut?" Mereka sering kali mencela diri mereka sendiri dan merasa tertuduh di lubuk hati mereka, dan mereka selalu ragu, selalu bertanya tanpa henti kepada diri mereka sendiri. Mereka tak pernah mampu meninggalkan perasaan depresi ini atau membuangnya, dan mereka terus-menerus merasa gelisah atas tindakan memalukan yang pernah mereka lakukan. Jadi, meskipun telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka seolah-olah tak pernah mendengar apa pun yang Tuhan firmankan ataupun memahaminya. Mereka seolah-olah tidak tahu apakah memperoleh keselamatan ada kaitannya dengan mereka, apakah mereka dapat diampuni dan ditebus, atau apakah mereka memenuhi syarat untuk menerima penghakiman dan hajaran Tuhan serta keselamatan-Nya. Mereka tidak mengetahui semua ini. Karena mereka tidak menerima jawaban apa pun dan karena mereka tidak mendapatkan kesimpulan yang akurat, mereka selalu merasa depresi di lubuk hati mereka. Di lubuk hati, mereka berulang kali mengingat apa yang pernah mereka lakukan, mereka mengulanginya di pikiran mereka berulang kali, mengingat bagaimana semua itu dimulai dan bagaimana berakhirnya, mengingat semuanya dari awal sampai akhir. Bagaimanapun mereka mengingatnya, mereka selalu merasa berdosa, sehingga mereka selalu merasa depresi tentang masalah ini selama bertahun-tahun. Bahkan saat mereka melaksanakan tugas, saat mereka memimpin pekerjaan tertentu, mereka tetap merasa tidak ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan. Oleh karena itu, mereka tidak pernah menghadapi masalah mengejar kebenaran dengan benar dan tidak menganggapnya sebagai hal yang paling benar dan paling penting. Mereka yakin bahwa kesalahan atau hal yang pernah mereka lakukan di masa lalu dianggap buruk oleh kebanyakan orang, atau semua itu mungkin akan dikutuk dan dibenci oleh orang lain, atau bahkan dikutuk oleh Tuhan. Pada tahap pekerjaan Tuhan mana pun atau sebanyak apa pun firman yang telah Dia sampaikan, mereka tidak pernah menghadapi masalah mengejar kebenaran dengan cara yang benar. Mengapa? Karena mereka tak punya keberanian untuk meninggalkan perasaan depresi mereka. Ini adalah kesimpulan akhir yang ditarik tipe orang seperti ini setelah mengalami hal semacam ini, dan karena mereka tidak menarik kesimpulan yang benar, mereka tak mampu meninggalkan perasaan depresi mereka.

Pasti ada banyak orang yang pernah melakukan pelanggaran tertentu, entah besar atau kecil, tetapi kemungkinan besar hanya ada sangat sedikit orang yang pernah melakukan pelanggaran serius, jenis pelanggaran yang melampaui batas-batas moral. Kita tidak akan membahas tentang mereka yang pernah melakukan berbagai pelanggaran lain di sini, kita hanya akan membahas tentang apa yang harus dilakukan oleh orang yang pernah melakukan pelanggaran serius, dan yang pernah melakukan jenis pelanggaran yang melampaui batas-batas moral dan etika. Mengenai orang-orang yang pernah melakukan pelanggaran serius, di sini Aku sedang membahas tentang pelanggaran yang melampaui batas-batas moral, bukan membahas tentang pelanggaran yang berkaitan dengan menyinggung watak Tuhan dan melanggar ketetapan administratif-Nya. Mengertikah engkau? Aku bukan sedang membahas tentang pelanggaran yang menyinggung watak Tuhan, esensi-Nya, atau identitas dan status-Nya, dan Aku bukan sedang membahas tentang pelanggaran yang menghujat Tuhan. Yang sedang Kubahas sekarang adalah tentang pelanggaran yang melampaui batas-batas moral. Hal lain yang juga Kubahas adalah tentang bagaimana agar orang yang pernah melakukan pelanggaran seperti ini mampu membereskan emosi depresi mereka. Orang-orang semacam itu memiliki dua jalan yang dapat mereka tempuh, dan ini adalah masalah yang sederhana. Pertama, jika di dalam hatimu, engkau merasa engkau mampu melepaskan hal yang pernah kaulakukan tersebut, atau ada kesempatan bagimu untuk meminta maaf kepada orang itu dan menebus kesalahanmu, maka tebuslah kesalahanmu dan minta maaflah kepadanya, dan engkau akan kembali merasakan kedamaian dan ketenangan di dalam rohmu; jika engkau tidak punya kesempatan untuk minta maaf, jika tidak memungkinkan bagimu untuk melakukannya, jika engkau benar-benar mengetahui masalahmu sendiri di lubuk hatimu, jika engkau sadar betapa seriusnya hal yang telah kaulakukan ini, dan engkau benar-benar merasa menyesal, maka engkau harus datang ke hadapan Tuhan untuk mengaku dan bertobat. Setiap kali engkau teringat akan hal yang telah kaulakukan ini dan merasa tertuduh, pada saat itulah engkau harus datang ke hadapan Tuhan untuk mengaku dan bertobat, engkau harus membawa ketulusan dan perasaanmu yang sesungguhnya untuk menerima pengampunan Tuhan. Dan bagaimana engkau dapat dinyatakan tidak bersalah dan diampuni oleh Tuhan? Ini tergantung pada hatimu. Jika engkau sungguh-sungguh mengaku, sungguh-sungguh menyadari kesalahan dan masalahmu, dan entah itu pelanggaran atau dosa yang telah kauperbuat, jika sikapmu sungguh-sungguh mengakuinya, jika engkau merasa benar-benar membenci apa yang pernah kaulakukan itu, dan jika engkau benar-benar mau berubah, sehingga engkau tidak akan pernah lagi melakukan hal yang salah tersebut, maka suatu hari nanti, engkau akan menerima pengampunan Tuhan, yang berarti, Tuhan tidak akan lagi menentukan kesudahanmu berdasarkan hal bodoh, dungu dan kotor yang telah kaulakukan sebelumnya. Setelah engkau mencapai taraf ini, Tuhan akan melupakan masalah ini sepenuhnya; engkau akan menjadi sama seperti orang normal lainnya, tanpa sedikit pun perbedaan. Namun, syaratnya adalah engkau harus tulus dan memiliki sikap yang sungguh-sungguh bertobat, seperti Daud. Berapa banyakkah air mata yang Daud curahkan karena pelanggaran yang telah dilakukannya? Air matanya tak terbendung. Berapa kali dia menangis? Tak terhitung banyaknya. Air mata yang dicurahkannya dapat digambarkan dengan perkataan ini: "Setiap malam, kubanjiri tempat tidurku dengan air mata." Aku tidak tahu seberapa serius pelanggaranmu. Jika pelanggaran tersebut sangat serius, engkau mungkin perlu membanjiri tempat tidurmu dengan air matamu—engkau mungkin harus mengaku dan bertobat hingga mencapai taraf itu sebelum engkau dapat menerima pengampunan Tuhan. Jika engkau tidak melakukan hal ini, Aku khawatir pelanggaranmu akan menjadi dosa di mata Tuhan, dan engkau tidak akan diampuni atas pelanggaran tersebut. Kemudian engkau akan mendapat masalah dan tidak ada gunanya mengatakan apa-apa lagi mengenai hal ini. Jadi, langkah pertama untuk menerima pengampunan Tuhan adalah engkau harus tulus dan mengambil tindakan nyata untuk sungguh-sungguh mengaku dan bertobat. Ada orang-orang yang bertanya, "Apakah aku perlu memberi tahu semua orang tentang hal ini?" Tidak perlu; pergi dan berdoalah seorang diri kepada Tuhan. Setiap kali engkau merasa tidak tenang dan tertuduh di dalam hatimu, engkau harus segera datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan menerima pengampunan-Nya. Ada orang-orang yang bertanya, "Berapa kali aku harus berdoa sebelum aku tahu bahwa Tuhan telah mengampuniku?" Saat engkau tidak lagi merasa tertuduh oleh hal ini, saat engkau tidak lagi terjerumus dalam depresi karena hal ini, pada saat itulah engkau telah mencapai hasil, dan itu akan menunjukkan bahwa Tuhan telah mengampunimu. Saat tak seorang pun, tak ada kuasa, dan tidak ada kekuatan luar apa pun yang dapat mengganggumu, dan saat engkau tidak berada di bawah pengaruh orang, peristiwa, atau hal apa pun, pada saat itulah engkau telah mencapai hasil. Inilah langkah pertama yang harus kauambil. Langkah kedua adalah, sembari terus memohon pengampunan kepada Tuhan, engkau juga harus secara aktif mencari prinsip-prinsip yang harus kauikuti saat engkau melaksanakan tugasmu—hanya dengan melakukannya, barulah engkau akan mampu melaksanakan tugasmu dengan benar. Tentu saja, ini juga merupakan tindakan nyata, ungkapan dan sikap nyata yang menebus pelanggaranmu, dan yang membuktikan bahwa engkau telah bertobat dan telah mengubah dirimu; ini adalah sesuatu yang harus kaulakukan. Seberapa baikkah engkau melaksanakan tugasmu, amanat yang Tuhan berikan kepadamu? Apakah engkau memperlakukannya dengan sikap yang depresi, ataukah berdasarkan prinsip yang Tuhan ingin untuk kauikuti? Apakah engkau mempersembahkan kesetiaanmu? Atas dasar apa Tuhan harus mengampunimu? Apakah engkau telah sungguh-sungguh menyatakan pertobatanmu? Apa yang kautunjukkan kepada Tuhan? Jika engkau ingin menerima pengampunan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu bersikap tulus: di satu sisi, engkau harus memiliki sikap yang sungguh-sungguh bertobat, dan di sisi lain, engkau harus menunjukkan ketulusanmu dan melaksanakan tugasmu dengan baik, jika tidak, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Jika engkau mampu melakukan kedua hal ini, jika engkau dapat menggerakkan hati Tuhan dengan ketulusan dan itikad baikmu, dan memohon agar Tuhan mengampuni dosa-dosamu, engkau akan menjadi sama seperti orang lain. Tuhan akan memandangmu dengan cara yang sama seperti cara-Nya memandang orang lain, Dia akan memperlakukanmu dengan cara yang sama seperti cara-Nya memperlakukan orang lain, dan Dia akan menghakimi dan menghajarmu, menguji dan memurnikanmu sama seperti yang dilakukan-Nya kepada orang lain—engkau tidak akan diperlakukan secara berbeda. Dengan cara ini, engkau bukan saja akan memiliki tekad dan keinginan untuk mengejar kebenaran, tetapi Tuhan juga akan mencerahkanmu, membimbingmu, dan membekalimu dengan cara yang sama dalam pengejaranmu akan kebenaran. Tentu saja, karena engkau sekarang memiliki keinginan yang tulus dan murni dan sikap yang sungguh-sungguh, Tuhan akan memperlakukanmu dengan cara yang sama seperti terhadap orang lain dan, sama seperti orang lain, engkau akan memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan. Engkau memahami hal ini, bukan? (Ya.) Pernah melakukan pelanggaran serius adalah kasus khusus. Kita tidak bisa mengatakan bahwa ini tidak menakutkan; ini adalah masalah yang sangat serius. Hal ini tidak sama dengan watak rusak biasa atau seseorang yang memiliki pemikiran dan pandangan yang keliru. Ini adalah sesuatu yang benar-benar sudah terjadi, sudah menjadi kenyataan, dan yang menimbulkan akibat yang serius. Itulah sebabnya, hal ini harus diperlakukan secara khusus. Namun, entah diperlakukan secara khusus atau secara normal, selalu ada jalan ke depan dan cara untuk menyelesaikannya, dan ini tergantung pada apakah engkau mampu melakukan penerapan sesuai dengan cara dan metode yang Kuberitahukan kepadamu dan yang Kutuntun untuk kaulakukan. Jika engkau benar-benar menerapkannya dengan cara ini, pada akhirnya, harapanmu untuk memperoleh keselamatan akan sama seperti harapan orang lain. Tentu saja, menyelesaikan semua ini bukan hanya agar orang mampu meninggalkan emosi depresi mereka. Tujuan utamanya adalah, dengan membereskan emosi depresi mereka, mereka mampu untuk memperlakukan semua ini dengan benar dalam lingkup hati nurani dan nalar manusia normal ketika mereka menghadapi orang, peristiwa, dan hal-hal yang mereka jumpai. Mereka tidak boleh bertindak ekstrem, dan mereka tidak boleh keras kepala; mereka harus melangkah lebih jauh dalam mencari maksud Tuhan dan mencari kebenaran, memenuhi tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang sudah seharusnya dilaksanakan makhluk ciptaan, sampai mereka akhirnya mampu memandang orang dan hal-hal serta berperilaku dan bertindak sepenuhnya berdasarkan firman Tuhan, dengan kebenaran sebagai standar mereka. Setelah orang masuk ke dalam kenyataan ini, mereka secara berangsur akan makin dekat dengan jalan keselamatan, dan dengan cara demikian, akan ada harapan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan. Apakah sekarang cara untuk membereskan emosi depresi yang muncul akibat pelanggaran serius sudah jelas bagimu? (Ya.)

Apakah membereskan emosi depresi adalah masalah yang sulit? Menurut-Ku ini sangat sulit, karena ini berkaitan dengan hal-hal penting dalam hidup, berkaitan dengan jalan yang orang tempuh dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dengan apakah mereka mampu memperoleh keselamatan atau tidak di masa depan atau apakah kepercayaan mereka akan menjadi sia-sia atau tidak—ini adalah masalah besar. Di luarnya, yang terlihat hanyalah suatu emosi, padahal sebenarnya, ada penyebab yang memunculkan emosi ini. Aku telah mempersekutukan dengan jelas mengenai penyebab tersebut pada hari ini, Aku telah memberimu jalan ke depan untuk menyelesaikan masalah penyebab ini sekarang, jadi, bukankah emosi depresi dapat segera dibereskan sekarang? (Ya.) Itu telah dibereskan secara teorinya. Dengan memiliki pemahaman doktrinal, kemudian membandingkan doktrin ini dengan apa yang pernah kaulakukan di masa lalu, menggunakan doktrin ini sebagai landasan untuk secara berangsur menyelesaikan kesulitan dalam hidupmu, kesulitan dalam pemikiranmu, dan dengan mengikuti jalan ini secara konsisten, engkau akan dapat secara berangsur memulai jalanmu dalam mengejar kebenaran. Bagaimana menurutmu menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini? (Bagus.) Dengan cara seperti inilah orang harus menyelesaikan masalah ini. Jika mereka tidak menyelesaikannya dengan cara seperti ini, masalah rumit dalam diri mereka—masalah dalam pemikiran mereka, masalah dalam hati mereka, masalah mental mereka, serta watak rusak dalam diri mereka—hal-hal ini akan mengikat mereka dengan erat. Mereka akan menjadi terikat dan terperangkap seperti ini, mereka akan menderita dan merasa kelelahan sepanjang waktu, mereka tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, dan mereka tidak akan mampu menemukan jalan keluar. Setelah engkau selesai mendengarkan persekutuan hari ini, engkau dapat merenungkannya dengan saksama dan akhirnya memiliki pemahaman doktrinal mengenainya. Kemudian, melalui pengalaman nyatamu dan pengalaman pribadimu dalam kehidupanmu sehari-hari, engkau dapat secara berangsur keluar dari emosi negatif ini dan dari berbagai keadaan watak rusak dalam dirimu. Setelah engkau meninggalkan semua itu, engkau bukan saja akan benar-benar bebas dan lepas, dan engkau bukan saja telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran, tetapi, yang paling penting, engkau telah memahami kebenaran, engkau telah memperoleh kebenaran, dan engkau akan mampu hidup dalam kenyataan kebenaran. Dengan demikian, engkau akan menjadi sangat berguna, engkau akan menjalani kehidupan yang bernilai. Apakah engkau semua ingin hidup seperti itu? (Ya.) Kebanyakan orang ingin memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan mereka tidak ingin menghabiskan hidup mereka dalam emosi daging yang negatif, keinginan daging yang penuh nafsu, tren-tren duniawi, dan watak yang rusak—kehidupan seperti ini sangat berat dan melelahkan. Akankah hidupmu membuahkan hasil yang baik jika engkau hidup dalam watak rusak dan emosi negatif ini? Hidup dalam emosi negatif ini berarti hidup di bawah kuasa Iblis. Itu seperti hidup dalam penggiling daging—cepat atau lambat engkau akan digiling habis, dan akan sulit bagimu untuk menemukan jalan keluar. Namun, jika engkau mampu menerima kebenaran, ada harapan bagimu untuk meninggalkan kebingungan dan penderitaan, dan engkau akan mampu melepaskan diri dari penderitaan yang muncul akibat dirimu dijerat dan dibingungkan oleh emosi negatif.

Awalnya, Aku berencana mempersekutukan lebih dari satu topik pada hari ini, tetapi akhirnya Aku bersekutu tentang depresi dalam waktu yang lama. Ada banyak hal yang harus disampaikan mengenai hal apa pun; semua hal tidak dapat dipaparkan dengan jelas hanya dengan beberapa patah kata. Apa pun yang Kubahas, Aku tidak dapat sekadar menjelaskan doktrin tentang suatu hal dan kemudian mengakhirinya. Hal apa pun berkaitan dengan banyak aspek kebenaran dan kenyataan; itu berkaitan dengan pemikiran dan pandangan orang, jalan dan cara yang mereka gunakan dalam berperilaku, jalan yang mereka tempuh, dan semua ini berkaitan dengan apakah engkau dapat memperoleh keselamatan atau tidak. Aku tidak boleh sembarangan saat mempersekutukan suatu kebenaran atau suatu topik, dan itulah sebabnya Aku berusaha dengan segala cara, seperti nenek tua yang suka mengomel, untuk mengatakan hal-hal ini berulang kali kepadamu. Jangan mengeluh tentang betapa merepotkan atau betapa bertele-telenya hal ini. Aku mungkin pernah membahas suatu topik sebelumnya, jadi mengapa Aku kembali membahasnya? Jika Aku kembali membahas topik tersebut, engkau dapat mendengarkannya kembali dan menganggapnya sebagai tinjauan ulang. Itu tidak masalah, bukan? (Ya.) Singkatnya, engkau harus memperlakukan hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran dan jalan yang orang tempuh dengan hati-hati, dan engkau tidak boleh sembrono. Makin mendetail dan makin spesifik pembahasan-Ku, akan menjadi makin mendetail dan jelas pemahamanmu tentang hubungan antara berbagai kebenaran, serta perbedaan dan hubungan mendetail di antara berbagai kebenaran, dan di antara aspek-aspek lainnya. Seandainya Aku membahasnya secara umum dan hanya membahas tentang beberapa hal secara keseluruhan, engkau semua akan mendapati betapa sulitnya memahami dan memasuki hal-hal itu, dan akan sangat melelahkan bagimu saat berusaha merenungkan dan memahami hal-hal ini seorang diri, bukan? (Ya.) Sebagai contoh, topik kita hari ini—emosi negatif yang muncul akibat nasib, keberuntungan, dan pelanggaran tertentu yang pernah orang lakukan di masa lalu—engkau semua tidak akan mampu memikirkan hal-hal ini seorang diri, dan sekalipun engkau mampu, engkau tidak akan memiliki jalan keluarnya. Karena engkau tidak memahami kebenaran dalam hal-hal ini, engkau tidak akan pernah mampu menemukan jawaban yang benar mengenai masalah pernah melakukan pelanggaran tertentu di masa lalu, dan itu akan tetap menjadi sebuah misteri bagimu, selamanya mengganggumu dan menjeratmu, merampas kedamaian, sukacita, kemerdekaan dan kebebasan dari lubuk hatimu. Atau mungkin karena engkau tidak menangani masalah ini dengan benar dan engkau tidak mengikuti jalan yang benar, ini telah memengaruhimu dalam hal memperoleh keselamatan. Pada akhirnya, ada orang-orang yang ditinggalkan dan disingkirkan. Mengapa hal ini terjadi? Karena mereka melakukan hal-hal yang tidak terkatakan di masa lalu dan mereka tidak menanganinya dengan benar dan tidak menerima pengampunan atas hal tersebut. Hati mereka terus-menerus dijerat oleh hal-hal ini; mereka tidak merasa ingin mengejar kebenaran, mereka melaksanakan tugas mereka dengan cara yang sembrono, mereka tidak masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan merasa tidak ada harapan bagi mereka untuk mengejar kebenaran. Mereka membawa pandangan negatif ini hingga akhir, mereka tidak pernah membicarakan tentang kesaksian pengalaman, dan mereka tidak memperoleh kebenaran. Baru pada saat itulah, mereka mulai merasa menyesal, tetapi itu sudah terlambat. Oleh karena itu, apakah semua hal ini berkaitan dengan kebenaran dan memperoleh keselamatan? (Ya.) Jangan mengira hanya karena hal-hal ini tidak terjadi pada dirimu, atau tidak terjadi pada orang lain, atau tidak terjadi pada orang-orang di sekitarmu, berarti hal-hal ini tidak ada. Biar Kuberitahukan kepadamu, engkau mungkin pernah melakukan beberapa hal buruk sebelumnya yang belum menimbulkan konsekuensi yang menakutkan, atau engkau mungkin pernah terjerumus ke dalam emosi negatif semacam ini sebelumnya, atau engkau sedang terjerumus di dalamnya sekarang, hanya saja engkau tidak memperhatikannya dan tidak menyadarinya, dan kemudian ketika suatu hari, sesuatu yang nyata terjadi dan emosi ini sangat memengaruhimu dan menimbulkan akibat yang serius. Hanya setelah engkau memeriksa dirimu secara mendalam, barulah engkau mendapati bahwa engkau telah terjerumus ke dalam emosi negatif ini selama bertahun-tahun atau bahkan lebih lama dari itu tanpa menyadarinya. Itulah sebabnya orang harus terus-menerus merenungkan, memahami, menyadari, dan mengalami hal-hal ini agar dapat secara perlahan menemukannya. Tentu saja, menemukan hal-hal ini pada akhirnya berarti kabar yang sangat baik bagimu dan kesempatan yang luar biasa bagimu untuk memperoleh keselamatan. Saat engkau menemukan emosi-emosi negatif tersebut, ini akan menjadi saat engkau memiliki kesempatan atau harapan untuk meninggalkannya, dan apa yang telah Kusampaikan pada hari ini tidak Kusampaikan dengan sia-sia. Tidak ada kebenaran, topik, dan firman yang dapat dipahami dan dialami sepenuhnya dalam satu atau dua hari. Karena ini berkaitan dengan kebenaran, ini berkaitan dengan kemanusiaan, watak rusak manusia, jalan yang orang tempuh, dan keselamatan mereka. Oleh karena itu, engkau tidak boleh mengabaikan kebenaran mana pun, melainkan harus memperlakukan semua kebenaran dengan saksama. Sekalipun engkau belum memahami kebenaran ini dengan sangat baik dan tidak tahu bagaimana cara memeriksa dirimu untuk melihat masalah apa yang kaumiliki berdasarkan kebenaran ini, maka mungkin setelah engkau mengalaminya selama beberapa tahun, kebenaran ini akan menyelamatkanmu dari cengkeraman watak rusak dalam dirimu, dan kebenaran ini akan menjadi kebenaran berharga yang menyelamatkan dirimu. Ketika itu terjadi, kebenaran ini akan menuntunmu ke jalan yang benar dalam menjalani hidupmu, dan mungkin dalam sepuluh tahun atau lebih, firman dan kebenaran ini akan sepenuhnya mengubah pemikiran dan pandanganmu dan akan sepenuhnya mengubah tujuan dan arah hidupmu.

Demikianlah akhir dari persekutuan kita hari ini. Sampai jumpa!

1 Oktober 2022

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp