Cara Mengejar Kebenaran (2) Bagian Dua

Dengan mempersekutukannya seperti ini, sudah mengertikah engkau apakah pemikiran dan pandangan orang yang selalu menganggap dirinya bernasib buruk itu benar atau salah? (Salah.) Yang jelas, orang-orang ini mengalami emosi depresi karena mereka terperosok dalam keekstreman. Karena memiliki pemikiran dan pandangan yang ekstrem ini, mereka memiliki emosi depresi yang ekstrem, sehingga membuat mereka tak mampu menghadapi hal-hal yang terjadi dalam hidup dengan benar, mereka tak mampu secara normal menjalankan fungsi yang seharusnya mampu manusia lakukan, mereka juga tak mampu melaksanakan tugas, tanggung jawab atau kewajiban sebagai makhluk ciptaan. Oleh karena itu, mereka sama saja dengan berbagai macam orang yang tenggelam dalam emosi negatif yang kita bahas dalam persekutuan kita sebelumnya. Meskipun orang-orang yang menganggap diri mereka bernasib buruk ini percaya kepada Tuhan, dan mampu melepaskan segala sesuatunya, mengorbankan diri mereka dan mengikut Tuhan, mereka juga tak mampu melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan dengan santai, lepas, dan bebas. Mengapa mereka tak mampu melakukannya? Karena di dalam hatinya, mereka memendam sejumlah pemikiran dan pandangan yang ekstrem dan tidak normal yang menyebabkan munculnya emosi ekstrem dalam diri mereka. Emosi ekstrem ini menyebabkan cara mereka menilai segala sesuatu, cara berpikir, dan pandangan mereka tentang segala sesuatu berasal dari sudut pandang yang ekstrem, tidak benar dan menyimpang. Mereka memandang masalah dan orang-orang dari sudut pandang yang ekstrem dan keliru ini, sehingga mereka berulang kali hidup, memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak di bawah dampak dan pengaruh emosi negatif ini. Pada akhirnya, bagaimanapun cara mereka menjalani hidup, mereka terlihat begitu lelah sampai-sampai tak mampu membangkitkan semangat mereka dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan dalam mengejar kebenaran. Pilihan apa pun yang mereka ambil tentang cara mereka menjalani hidup, mereka tak mampu melaksanakan tugas mereka dengan positif dan aktif, dan sekalipun mereka telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka tak pernah berfokus melaksanakan tugas mereka dengan segenap hati dan jiwa mereka atau melaksanakan tugas mereka dengan memuaskan, dan tentu saja, mereka terlebih lagi tak pernah berfokus mengejar kebenaran, atau melakukan penerapan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Mengapa? Kesimpulannya, itu karena mereka selalu menganggap diri mereka bernasib buruk, dan ini membuat mereka mengalami perasaan depresi yang mendalam. Mereka menjadi sangat putus asa, tak berdaya, bagaikan mayat hidup, tanpa daya hidup, tidak memperlihatkan perilaku yang positif atau optimistis, dan terutama tidak memiliki tekad atau stamina untuk mengabdikan kesetiaan yang seharusnya mampu mereka curahkan dalam tugas, tanggung jawab dan kewajiban mereka. Sebaliknya, mereka berjuang dengan enggan dari hari ke hari dengan sikap yang asal-asalan, tanpa tujuan, dan kacau, bahkan tanpa sadar menjalani setiap harinya begitu saja. Mereka tidak tahu berapa lama mereka akan terus kacau seperti itu. Pada akhirnya, tidak ada jalan lain bagi mereka selain menegur diri mereka sendiri, dengan berkata, "Oh, aku hanya akan terus kacau seperti ini selama aku bisa! Jika suatu hari aku tak sanggup lagi, dan gereja ingin memberhentikanku dan menyingkirkanku, biarlah mereka menyingkirkanku. Itu karena aku bernasib buruk!" Lihatlah, bahkan apa yang mereka katakan pun begitu mengecewakan. Emosi depresi ini bukan sekadar suasana hati yang sederhana, tetapi yang terlebih penting adalah, emosi ini berdampak buruk pada pemikiran, hati, dan pengejaran orang. Jika engkau tak mampu membalikkan perasaan depresimu secara cepat dan tepat waktu, itu bukan saja akan memengaruhi seluruh hidupmu, tetapi itu juga akan menghancurkan hidupmu dan membawamu menuju kematian. Sekalipun engkau benar-benar percaya kepada Tuhan, engkau tak akan mampu memperoleh kebenaran dan keselamatan, dan pada akhirnya, engkau akan binasa. Itulah sebabnya, mereka yang yakin dirinya bernasib buruk harus sadar sekarang; selalu memikirkan apakah nasib mereka baik atau buruk, selalu mengejar nasib tertentu, selalu mengkhawatirkan nasib mereka—ini bukanlah hal yang baik. Jika engkau selalu sangat serius memikirkan nasibmu, saat engkau menghadapi sedikit gangguan atau kekecewaan, atau ketika kegagalan, kemunduran, atau rasa malu kaualami, engkau akan segera meyakini bahwa ini disebabkan oleh nasib burukmu sendiri, dan kesialanmu sendiri. Jadi, engkau akan berulang kali mengingatkan dirimu sendiri bahwa engkau adalah orang yang bernasib buruk, bahwa engkau tidak bernasib baik seperti orang lain, dan engkau akan berulang kali membenamkan diri dalam depresi, diliputi, dibelenggu, dan diperangkap oleh emosi negatif depresi, tanpa mampu melepaskan diri darinya. Sangat menakutkan dan berbahaya jika ini yang terjadi. Meskipun emosi depresi ini mungkin tidak membuatmu menjadi lebih congkak atau licik, atau membuatmu memperlihatkan watak yang jahat dan keras kepala, atau watak rusak lainnya yang seperti itu; meskipun itu mungkin tidak akan membuatmu mencapai taraf di mana engkau memperlihatkan watak rusak tertentu dan menentang Tuhan, atau engkau memperlihatkan watak rusak tertentu dan melanggar prinsip-prinsip kebenaran, atau engkau menyebabkan gangguan dan kekacauan, atau melakukan kejahatan, tetapi pada dasarnya, emosi depresi ini adalah perwujudan paling serius dari ketidakpuasan orang akan kenyataan yang terjadi. Pada dasarnya, perwujudan ketidakpuasan akan kenyataan yang terjadi adalah juga ketidakpuasan akan kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Dan apa akibatnya jika orang tidak puas akan kedaulatan dan pengaturan Tuhan? Akibatnya tentu sangat serius dan setidaknya akan menyebabkanmu memberontak dan menentang Tuhan, dan membuatmu tak mampu menerima firman dan perbekalan Tuhan, dan membuatmu tak mampu memahami dan tak mau mendengarkan ajaran, nasihat, peringatan, dan teguran Tuhan. Karena engkau dipenuhi oleh emosi depresi, engkau tak mampu menerima firman Tuhan saat ini, dan sama sekali tak mampu menerima pekerjaan nyata Tuhan ataupun pencerahan, bimbingan, pertolongan, dukungan, dan perbekalan Roh Kudus bagimu. Meskipun Tuhan sedang bekerja, engkau tak mampu merasakannya; meskipun Tuhan dan Roh Kudus sedang bekerja, engkau tak mampu menerimanya. Engkau tak mampu menerima hal-hal positif ini, tuntutan ini dan perbekalan dari Tuhan ini, hatimu dipenuhi dan dikuasai hanya oleh emosi depresi, dan apa pun yang Tuhan lakukan tidak berdampak pada dirimu. Pada akhirnya, engkau akan kehilangan setiap langkah pekerjaan Tuhan, engkau akan kehilangan setiap tahap firman-Nya, dan engkau bahkan akan kehilangan setiap tahap pekerjaan Tuhan dan perbekalan-Nya bagimu. Saat semua firman Tuhan dan langkah-langkah pekerjaan-Nya telah berakhir, engkau masih belum mampu membereskan perasaan depresimu, engkau masih belum mampu meninggalkannya, engkau akan tetap dilingkupi dan dipenuhi dengan emosi depresi, dan engkau kemudian akan sepenuhnya kehilangan pekerjaan Tuhan. Setelah engkau sepenuhnya kehilangan pekerjaan Tuhan, pada akhirnya engkau akan menghadapi penghakiman terbuka dan hukuman Tuhan terhadap manusia, dan pada saat itulah Tuhan akan mengumumkan kesudahan manusia. Baru pada saat itulah, engkau akan sadar, "Oh, aku seharusnya merenungkan diriku sendiri, aku seharusnya meninggalkan emosi depresi ini, lebih banyak membaca firman Tuhan, datang ke hadapan Tuhan untuk mencari pertolongan dan dukungan-Nya, mencari perbekalan-Nya, berusaha menerima hajaran dan penghakiman-Nya dan ditahirkan, sehingga aku mampu tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Nya." Itu sudah terlambat! Semua itu sudah berlalu sekarang. Sekarang sudah terlambat bagimu untuk bangun, dan apa yang menantimu? Engkau akan memukul dadamu, meratap, dan dipenuhi penyesalan. Meskipun depresi hanyalah sejenis emosi, karena natur dan akibat yang ditimbulkannya sangat serius, engkau harus memeriksa dirimu dengan saksama dan tidak membiarkan emosi depresi ini menguasai atau mengendalikan pemikiran dan tujuan yang kaukejar. Engkau harus membereskannya dan tidak membiarkannya menjadi batu sandungan di jalanmu dalam mengejar kebenaran atau menjadi tembok yang menghalangimu untuk datang ke hadapan Tuhan. Jika engkau mampu menyadarinya dengan jelas, atau engkau menemukan emosi depresi yang serius ini melalui pemeriksaan diri, maka engkau harus segera berubah haluan, melepaskannya dan meninggal emosi depresi ini. Jangan bersikukuh mempertahankannya, dengan keras kepala berpikir, "Apa pun yang Tuhan firmankan dan lakukan, aku tahu nasibku buruk. Karena bernasib buruk, sudah seharusnya aku merasa depresi. Aku hanya perlu menerima nasib burukku dan melepaskan semua harapanku." Menghadapi segala sesuatu yang terjadi dengan sikap negatif seperti itu berarti bertekad untuk keras kepala. Jika engkau menyadari bahwa engkau memiliki emosi depresi, engkau harus membalikkan keadaanmu dan membereskannya secepat mungkin. Jangan tunggu sampai emosi itu menguasaimu sepenuhnya, karena akan terlambat bagimu untuk menyadarinya.

Katakan kepada-Ku, apakah percaya akan nasib adalah ungkapan mengejar kebenaran? (Bukan.) Jadi, sikap benar seperti apa yang harus orang miliki terhadap nasib? (Mereka harus percaya akan pengaturan dan penataan Tuhan dan tunduk padanya.) Benar. Jika orang selalu berfokus pada apakah nasibnya baik atau buruk, masalah apa yang dapat diselesaikan dengan bersikap seperti itu? Mengakui bahwa nasib mereka buruk tetapi meyakini bahwa nasib buruk mereka diatur dan ditata oleh Tuhan dan mereka mau tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan—apakah sudut pandang ini benar atau salah? (Salah.) Mengapa salah? (Karena sudut pandang itu masih berdasarkan penafsiran bahwa mereka bernasib baik atau buruk.) Apakah ini sebuah aturan? Kebenaran apa yang seharusnya orang pahami di sini? (Nasib tidak dapat dikatakan baik atau buruk. Segala sesuatu yang Tuhan tentukan sejak semula adalah baik, dan orang harus tunduk pada semua pengaturan Tuhan.) Orang harus percaya bahwa nasib diatur dan ditata oleh Tuhan, dan karena semua itu diatur dan ditata oleh Tuhan, mereka tidak boleh mengatakan nasib itu baik atau buruk. Manusia menilai baik atau buruknya nasib berdasarkan sudut pandang, kesukaan dan perasaan mereka dan penilaian ini didasarkan pada imajinasi dan pandangan mereka dan itu tidak sesuai dengan kebenaran. Ada orang-orang yang berkata, "Nasibku sangat baik, aku terlahir di keluarga orang percaya. Aku tak pernah terpengaruh oleh lingkungan dunia orang-orang tidak percaya dan aku tak pernah terpengaruh, tergoda, atau disesatkan oleh tren-tren orang tidak percaya. Meskipun aku juga memiliki watak yang rusak, aku dibesarkan di gereja dan tak pernah tersesat. Nasibku sangat baik." Apakah yang dikatakannya benar? (Tidak.) Mengapa tidak benar? (Lahirnya orang itu di keluarga orang percaya ditentukan sejak semula oleh Tuhan, itu adalah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Itu tidak ada kaitannya dengan apakah nasibnya baik atau buruk.) Benar, jawabanmu sangat tepat. Ini adalah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Ini adalah salah satu cara Tuhan mengatur dan berdaulat atas nasib manusia, dan ini adalah salah satu bentuk nasib—orang tidak boleh menggunakan pemikiran apakah mereka bernasib baik atau buruk untuk menilai hal ini. Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka bernasib baik karena dilahirkan dalam keluarga Kristen, lalu bagaimana caramu menyanggah perkataan ini? Engkau bisa berkata, "Kau dilahirkan dalam keluarga Kristen dan menganggap dirimu bernasib baik, jadi berarti semua orang yang tidak dilahirkan di keluarga Kristen pasti bernasib buruk. Apa kau bermaksud mengatakan bahwa nasib yang telah Tuhan atur untuk semua orang itu buruk?" Tepatkah menyanggah dengan cara seperti ini? (Ya.) Menyanggah dengan cara seperti ini adalah tepat. Dengan menyanggah seperti ini, engkau menunjukkan bahwa pendapat mereka tentang orang yang terlahir di keluarga Kristen bernasib baik tidak dapat dibenarkan dan tidak sesuai dengan kebenaran. Apakah sekarang pendapatmu tentang nasib baik dan nasib buruk sudah menjadi sedikit lebih akurat? (Ya.) Pandangan apa yang paling benar, paling tepat, dan sesuai dengan kebenaran yang harus orang miliki tentang kepercayaan akan nasib? Pertama, engkau tidak boleh menilai nasib itu baik atau buruk dari sudut pandang orang-orang dunia. Selain itu, engkau harus percaya bahwa nasib siapa pun di antara umat manusia diatur oleh tangan Tuhan. Ada orang-orang yang bertanya, "Apakah diatur oleh tangan Tuhan berarti diatur oleh Tuhan sendiri?" Tidak. Ada sangat banyak cara, sarana dan saluran yang Tuhan gunakan untuk mengatur nasib manusia dan ada detail rumit dalam hal ini di alam roh yang tidak akan Kubahas di sini. Ini adalah hal yang sangat rumit, tetapi secara umum, semua itu diatur oleh Sang Pencipta. Ada dari pengaturan ini yang dibuat oleh Tuhan sendiri bagi berbagai jenis orang, dan ada dari pengaturan ini yang berkaitan dengan pengelompokan berbagai jenis orang dan kelompok orang menurut aturan, ketetapan administratif, prinsip, dan sistem yang ditetapkan oleh Tuhan; berdasarkan kategori dan perjalanan nasib mereka yang ditetapkan oleh Tuhan, nasib orang diatur dan dirumuskan di alam roh, dan kemudian mereka dilahirkan. Ini adalah hal yang sangat mendetail, tetapi secara umum, Tuhan mengatur dan berdaulat atas semua itu. Kedaulatan dan pengaturan Tuhan mencakup prinsip, hukum, dan aturan kedaulatan dan pengaturan-Nya. Tidak ada baik atau buruk di sini, semuanya adalah hal yang wajar bagi Tuhan, semuanya berkaitan dengan sebab akibat. Mengenai bagaimana perasaan orang tentang nasib, mereka boleh memiliki perasaan baik dan perasaan buruk, boleh ada nasib yang berjalan lancar, nasib yang penuh rintangan, nasib yang sulit, dan nasib yang tidak bahagia—tidak ada nasib baik atau nasib buruk. Bagaimana seharusnya sikap orang terhadap nasib? Engkau harus mematuhi pengaturan Sang Pencipta, secara aktif dan sungguh-sungguh mencari tujuan dan maksud Sang Pencipta dalam pengaturan-Nya atas semua hal ini dan memperoleh pemahaman akan kebenaran, menjalankan fungsimu semaksimal mungkin dalam kehidupan yang telah Tuhan atur bagimu, melaksanakan tugas, tanggung jawab, dan kewajiban sebagai makhluk ciptaan, dan menjadikan hidupmu lebih bermakna dan lebih bernilai, sampai akhirnya Sang Pencipta berkenan akan engkau dan mengingatmu. Tentu saja, yang jauh lebih baik adalah engkau akan memperoleh keselamatan melalui pencarian dan upayamu yang sungguh-sungguh—ini tentunya adalah hasil yang terbaik. Bagaimanapun juga, dalam hal nasib, sikap paling tepat yang harus manusia ciptaan miliki bukanlah sikap yang menghakimi dan mendefinisikan secara sembarangan, atau menggunakan cara-cara ekstrem untuk menanganinya. Tentu saja, terlebih dari itu, orang tidak boleh berusaha menentang, memilih, atau mengubah nasibnya, melainkan mereka harus menggunakan hati mereka untuk menghargainya, serta mencari, mengeksplorasi dan mematuhinya, sebelum menghadapinya secara positif. Akhirnya, di lingkungan dan perjalanan hidup yang Tuhan tetapkan bagimu dalam kehidupan ini, engkau harus mencari cara berperilaku yang Tuhan ajarkan kepadamu, mencari jalan yang Tuhan tuntut untuk kautempuh, dan mengalami nasib yang telah Tuhan atur bagimu dengan cara ini, dan pada akhirnya, engkau akan diberkati. Saat engkau mengalami nasib yang telah Sang Pencipta atur bagimu dengan cara ini, yang akan kauhargai bukan saja duka, kesedihan, air mata, rasa sakit, perasaan frustasi, dan kegagalan, tetapi, yang lebih penting dari itu, engkau akan mengalami sukacita, kedamaian, dan penghiburan, serta pencerahan dan penerangan kebenaran yang Tuhan karuniakan kepadamu. Selain itu, saat engkau tersesat dalam perjalanan hidupmu, saat engkau dihadapkan dengan perasaan frustasi dan kegagalan, dan saat engkau harus membuat pilihan, engkau akan mengalami bimbingan Sang Pencipta, dan pada akhirnya, engkau akan memperoleh pemahaman, pengalaman dan penghargaan tentang bagaimana menjalani kehidupan yang paling bermakna. Dengan demikian, engkau tidak akan pernah lagi tersesat, engkau tidak akan pernah lagi selalu berada dalam keadaan cemas, dan tentu saja, engkau tidak akan pernah lagi mengeluh bahwa engkau bernasib buruk, dan terlebih lagi, engkau tidak akan tenggelam dalam emosi depresi karena merasa nasibmu buruk. Jika engkau memiliki sikap seperti ini dan engkau menggunakan cara ini untuk menghadapi nasib yang telah Tuhan atur bagimu, maka kemanusiaanmu bukan saja akan menjadi normal, engkau bukan saja akan memiliki kemanusiaan yang normal, dan memiliki cara berpikir, pandangan dan prinsip manusia normal dalam caramu memandang segala sesuatu, tetapi engkau juga tentu saja akan memiliki pandangan dan pemahaman tentang makna hidup yang tidak pernah dimiliki oleh orang-orang tidak percaya. Orang-orang tidak percaya selalu berkata, "Dari mana kita berasal? Ke mana kita akan pergi? Mengapa kita hidup?" Selalu ada orang yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini, dan jawaban apa yang pada akhirnya mereka dapatkan? Hidup mereka berakhir dengan tanda tanya, bukan dengan jawaban. Mengapa mereka tak dapat menemukan jawaban atas semua pertanyaan ini? Meskipun ada orang-orang cerdas yang percaya akan nasib, mereka sama sekali tidak tahu bagaimana memperlakukan masalah nasib atau bagaimana menangani berbagai kesulitan, perasaan frustasi, kegagalan, dan ketidakbahagiaan yang muncul dalam nasib mereka; mereka juga tidak tahu bagaimana menangani hal-hal yang terjadi dalam nasib mereka yang menyebabkan mereka merasa bersukacita dan bahagia—mereka tidak tahu bagaimana menangani semua ini. Pada satu saat mereka berkata mereka bernasib baik, pada saat berikutnya mereka berkata mereka bernasib buruk; pada satu saat mereka berkata hidup mereka bahagia, pada saat berikutnya mereka berkata hidup mereka tidak beruntung—mereka mengatakan hal-hal ini dengan mulut yang sama. Mereka mengatakan satu hal saat mereka senang, dan hal lain saat mereka tidak senang; mereka mengatakan satu hal saat semuanya berjalan lancar bagi mereka, dan hal lain saat semuanya tidak berjalan lancar; merekalah yang mengatakan mereka tidak beruntung, dan merekalah yang mengatakan nasib mereka baik. Yang jelas, mereka hidup tanpa kejelasan atau pemahaman. Mereka selalu meraba-raba di tengah kabut, hidup dalam kebingungan, tanpa jalan keluar. Oleh karena itu, orang haruslah memiliki pemahaman yang jelas, dan jalan ke depan yang jelas dalam hal cara mereka memperlakukan nasib dengan benar, apa yang harus mereka lakukan, dan bagaimana seharusnya mereka menghadapi masalah besar ini dalam hidup mereka. Setelah masalah ini diselesaikan, sikap dan pandangan orang terhadap nasib seharusnya menjadi relatif benar, dan sesuai dengan prinsip kebenaran, sehingga mereka tidak akan pernah lagi bersikap ekstrem dalam hal ini.

Apakah perkataan tentang nasib yang baru saja Kupersekutukan sesuai dengan kebenaran? (Ya.) Tahukah engkau semua apa ciri-ciri perkataan yang sesuai dengan kebenaran? (Setelah orang mendengarnya, mereka merasa lebih jelas dan lebih tenang.) (Perkataan itu cukup praktis dan terdapat jalan penerapan di dalamnya.) Benar, perkataan itu cukup praktis; jawaban ini yang lebih akurat. Ada cara yang jauh lebih akurat untuk menjelaskan hal ini. Siapa berikutnya yang akan menjawab? (Perkataan itu mampu menyelesaikan masalah yang orang hadapi saat ini.) Ini adalah dampak dari kepraktisan perkataan ini. Perkataan ini mampu menyelesaikan masalah karena perkataan ini praktis. Orang percaya akan nasib, tetapi pikiran mereka selalu dijerat oleh gagasan tentang nasib baik dan nasib buruk, jadi, katakan kepada-Ku, apakah di lubuk hatinya, mereka merasa bebas dan lepas, ataukah merasa terbelenggu? (Mereka terbelenggu.) Jika engkau tidak memahami kebenaran, engkau akan selalu dibelenggu oleh gagasan ini. Setelah engkau memahami kebenaran, selain merasa bahwa perkataan ini praktis dan engkau memiliki jalan ke depan, apa lagi yang akan kaurasakan? (Bebas.) Benar, engkau akan merasa lepas dan bebas. Ketika engkau memiliki jalan penerapan dan tidak lagi terperangkap, bukankah rohmu akan bebas dan lepas? Pandangan yang menyimpang dan tak masuk akal itu tidak akan mampu lagi membelenggu pemikiranmu, atau tangan dan kakimu; engkau akan memiliki jalan untuk kauikuti, dan engkau tidak akan lagi dikendalikan oleh pandangan tersebut. Setelah engkau mendengar persekutuan yang Tuhan sampaikan tentang nasib manusia, engkau akan merasa lepas dan bebas dan engkau akan berkata, "Oh, jadi begitu! Wow, pemahamanku sebelumnya tentang nasib begitu menyimpang dan ekstrem! Sekarang aku mengerti, dan aku tidak lagi terganggu dengan gagasan yang keliru tentang nasib baik atau buruk. Aku tidak lagi terganggu dengan hal itu. Jika aku tidak memahami hal ini, aku akan selalu menganggap nasibku baik pada satu saat, dan tiba-tiba pada saat berikutnya aku menganggap nasibku buruk, dan bertanya-tanya apakah nasibku baik atau buruk! Aku akan selalu mengkhawatirkan nasibku." Setelah engkau memahami kebenaran ini, engkau akan memiliki jalan untuk kauikuti, engkau akan memiliki pendapat yang akurat tentang masalah ini, dan engkau akan memiliki jalan penerapan yang tepat—ini berarti engkau lepas dan bebas. Jadi, untuk membedakan apakah perkataan seseorang sesuai dengan prinsip kebenaran atau tidak, dan apakah itu kebenaran atau bukan, engkau harus mendengar apakah perkataan ini praktis atau tidak; dan engkau juga harus sekaligus mengamati apakah kesulitan dan masalahmu terselesaikan setelah engkau mendengar perkataan ini—jika ya, maka engkau akan merasa lepas dan bebas, seperti sebuah beban berat telah terangkat darimu. Jadi, setiap kali engkau mulai memahami suatu prinsip kebenaran, engkau akan mampu menyelesaikan beberapa masalah terkait, dan engkau akan menerapkan kebenaran tersebut, dan ini akan membuatmu merasa bebas dan lepas. Bukankah inilah yang akan menjadi hasilnya? (Ya.) Apakah sekarang engkau benar-benar mengerti apa dampak dari kebenaran? (Ya.) Apa sajakah dampak dari kebenaran? (Kebenaran mampu membuat roh manusia merasa lepas dan bebas.) Apakah kebenaran hanya memiliki satu dampak ini? Hanya satu perasaan ini? (Yang terutama, kebenaran meluruskan pandangan orang yang radikal dan keliru tentang segala sesuatu. Setelah orang memandang sesuatu dengan cara yang murni dan sesuai dengan kebenaran, mereka akan merasa bebas dan lepas dalam roh mereka, dan mereka tidak akan lagi merasa terbelenggu atau terganggu oleh hal-hal negatif yang berasal dari Iblis.) Selain merasa lepas dan bebas dalam rohmu, hal terpenting adalah kebenaran itu dapat memampukanmu untuk masuk ke dalam kenyataan suatu kebenaran tertentu, sehingga engkau tidak akan lagi terbelenggu atau terombang-ambing oleh pemikiran dan pandangan yang keliru dan menyimpang. Tempatnya telah digantikan oleh prinsip-prinsip penerapan kebenaran dan kemudian engkau akan mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran tersebut. Aku akan mengakhiri persekutuan-Ku tentang perwujudan orang yang merasa depresi karena menganggap diri mereka bernasib buruk.

Alasan lain mengapa orang menjadi depresi adalah karena, meskipun mereka menganggap nasib mereka tidak terlalu buruk, mereka merasa bahwa mereka selalu tidak beruntung dan tidak pernah ada hal baik yang terjadi pada diri mereka, seperti yang dikatakan orang tidak percaya: "Dewa Keberuntungan selalu melewati diriku." Meskipun dia merasa keadaannya tidak terlalu buruk, dan dia bertubuh tinggi dan berwajah tampan, berpendidikan dan berbakat, dan dia seorang pekerja yang cakap, dia merasa heran mengapa Dewa Keberuntungan tidak pernah berpihak pada dirinya. Hal ini selalu membuatnya merasa tidak puas, dan dia selalu menganggap dirinya tidak beruntung. Dimulai pada tahun ketika dia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, hatinya dipenuhi harapan untuk diterima di perguruan tinggi tersebut, tetapi ketika hari ujian tiba, dia terserang flu dan demam. Ini memengaruhi kinerjanya dalam ujian, dan nilai yang diperolehnya untuk bisa diterima di perguruan tinggi hanya kurang dua atau tiga poin. Dia berpikir: "Mengapa aku bisa begitu tidak beruntung? Aku pandai dalam studiku dan aku selalu bekerja sangat keras. Mengapa aku harus terserang demam justru pada hari ujian masuk perguruan tinggi? Aku tidak beruntung. Ya ampun! Peristiwa besar pertama dalam hidupku dan aku mengalami kemalangan ini. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kuharap kelak, aku akan lebih beruntung." Namun di kemudian hari dalam hidupnya, dia menghadapi berbagai macam kesulitan dan masalah. Sebagai contoh, sebuah perusahaan sedang merekrut karyawan baru dan dia baru saja bersiap untuk mengirimkan surat lamarannya saat mendapati ternyata semua lowongan pekerjaan tersebut telah terisi dan perusahaan itu tidak lagi membutuhkan karyawan. Dia bertanya-tanya, "Mengapa aku bisa begitu tidak beruntung? Setiap kali ada sesuatu yang baik, mengapa hal yang baik itu melewatiku begitu saja? Sungguh sial nasibku!" Dan pada hari pertama dia mulai bekerja di sebuah perusahaan, banyak orang baru saja dipromosikan menjadi manajer, wakil manajer, dan kepala departemen. Sekeras apa pun dia bekerja, tidak ada gunanya; dia harus menunggu periode berikutnya untuk dipromosikan. Karena dia melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan atasannya menganggapnya cukup baik, dia mengira dirinya akan dipromosikan pada periode berikutnya, tetapi pada akhirnya, atasannya merekrut manajer dari tempat lain, dan dia diberhentikan. Dia berpikir, "Ya ampun! Sepertinya aku benar-benar tidak beruntung. Aku tidak pernah beruntung—Dewa Keberuntungan tidak pernah berpihak pada diriku." Belakangan, orang ini percaya kepada Tuhan, dan karena dia senang menulis, dia berharap dapat melaksanakan tugas di bidang tulis-menulis, tetapi pada akhirnya, hasil tesnya tidak terlalu bagus dan dia gagal dalam tesnya tersebut. Dia berpikir, "Biasanya aku menulis dengan sangat baik, jadi mengapa aku tidak berhasil dalam tesku? Tuhan tidak mencerahkan atau menuntunku! Kupikir dengan melaksanakan tugas tulis-menulis, aku akan dapat lebih banyak makan dan minum firman Tuhan dan lebih memahami kebenaran. Sayang sekali aku tidak beruntung. Walaupun rencananya bagus, rencana itu tidak berjalan dengan baik." Pada akhirnya, dari banyak tugas lainnya, dia memilih, "Aku akan mengabarkan Injil bersama dengan tim penginjilan." Pada awalnya, segala sesuatunya berjalan sangat baik dengan tim penginjilan dan dia merasa kali ini dia telah menemukan tempatnya, merasa dia dapat memanfaatkan keterampilannya. Dia menganggap dirinya pintar, dia cakap dalam pekerjaannya, dan dia mau melakukan pekerjaan nyata. Dengan berusaha keras, dia berhasil membuahkan sedikit hasil, dan dia menjadi seorang pengawas. Namun, dia melakukan kesalahan dan pemimpinnya mengetahui hal itu. Dia diberi tahu bahwa apa yang dilakukannya bertentangan dengan prinsip dan itu telah merugikan pekerjaan gereja. Setelah timnya dipangkas, seseorang berkata kepadanya, "Hasil kerja kami sangat baik sebelum kau datang. Lalu kau datang dan kami dipangkas untuk pertama kalinya." Dia bertanya-tanya, "Bukankah ini tetap karena ketidakberuntunganku?" Beberapa waktu kemudian, orang-orang dipindahtempatkan karena adanya perubahan dalam pekerjaan penginjilan dan dia yang tadinya menjadi pengawas, sekarang hanya menjadi anggota tim, dan dia dipindahkan ke daerah yang baru untuk mengabarkan Injil. Dia berpikir, "Oh tidak, jabatanku malah turun bukannya naik. Tak seorang pun dipindahkan sebelum aku tiba di sana, jadi mengapa pemindahan besar-besaran ini terjadi setelah aku tiba? Sekarang setelah aku dipindahkan ke sini, tidak ada harapan bagiku untuk dipromosikan." Hanya ada sedikit gereja dan sedikit anggota gereja di daerah baru tersebut. Dia mengalami kesulitan dalam memulai pekerjaannya dan tidak memiliki pengalaman apa pun. Dia harus mencari tahu cara mengatasinya selama beberapa waktu, dan juga ada kesulitan bahasa, jadi apa yang dapat dia lakukan? Dia ingin menyerah dan pergi, tetapi dia tidak berani; dia ingin melaksanakan tugasnya dengan baik tetapi rasanya sangat sulit dan melelahkan dan dia berpikir, "Oh, itu karena aku sangat tidak beruntung! Bagaimana aku dapat mengubah keberuntunganku?" Dia selalu menghadapi rintangan di mana pun dia berada, selalu merasa dirinya tidak beruntung, selalu ada sesuatu yang menghalangi setiap gerakannya, dan setiap langkah yang diambilnya sangat sulit. Butuh banyak upaya baginya untuk mencapai sedikit hasil, dan untuk melihat sedikit harapan, dan kemudian lingkungannya berubah, dan harapannya pun lenyap, dan dia tak punya pilihan selain memulai lagi dari awal. Dia menjadi makin depresi, berpikir, "Mengapa begitu sulit bagiku untuk mencapai sedikit hasil dan memperoleh penerimaan dari orang lain? Mengapa begitu sulit untuk memiliki kedudukan yang kokoh dan stabil di tengah sekelompok orang? Mengapa begitu sulit menjadi orang yang diterima dan disukai orang lain? Mengapa begitu sulit untuk semuanya berjalan baik dan lancar bagiku? Mengapa ada begitu banyak hal yang salah dalam hidupku? Mengapa ada begitu banyak kendala? Mengapa aku selalu menghadapi rintangan dalam segala sesuatu yang kulakukan?" Khususnya, ada orang-orang yang tidak pernah melaksanakan tugas mereka dengan baik di mana pun mereka berada, dan mereka selalu digantikan dan disingkirkan. Mereka menjadi sangat depresi dan selalu menganggap diri mereka tidak beruntung, berpikir, "Aku ini seperti kuda gesit yang tidak pernah diperhatikan. Seperti kata pepatah, 'Ada banyak kuda gesit, tetapi hanya sedikit orang yang mampu mengenali mereka.' Aku ini seperti kuda gesit yang belum ditemukan. Pada akhirnya, aku memang tidak beruntung dan aku tidak dapat mencapai apa pun atau berhasil di bidang apa pun di mana pun aku berada. Aku tak pernah dapat memanfaatkan kelebihanku atau memamerkan diriku, atau mendapatkan apa yang kuinginkan. Oh, aku sangat tidak beruntung! Apa yang terjadi di sini?" Karena selalu merasa tidak beruntung, mereka menghabiskan setiap harinya dalam keadaan yang cemas, berpikir, "Oh tidak! Kumohon jangan biarkan aku dipindahkan ke tugas lainnya," atau "Oh tidak! Kumohon jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi," atau, "Oh tidak! Kumohon jangan biarkan apa pun berubah," atau "Oh tidak! Kumohon jangan sampai terjadi lagi masalah besar." Mereka bukan saja menjadi depresi, tetapi mereka juga merasa sangat gelisah, tidak tenang, mudah tersinggung, dan cemas. Mereka selalu merasa tidak beruntung, jadi mereka merasa sangat depresi dan perasaan depresi ini muncul dari perasaan subjektif mereka yang merasa diri mereka tidak beruntung. Mereka selalu merasa tidak beruntung, mereka tidak pernah dipromosikan, mereka tidak pernah dapat menjadi pemimpin tim atau pengawas, dan mereka tak pernah mendapat kesempatan untuk terlihat paling menonjol. Hal-hal yang baik ini tak pernah terjadi pada diri mereka, dan mereka tidak tahu mengapa ini terjadi. Mereka berpikir, "Aku tidak kekurangan dalam hal apa pun, jadi mengapa tak seorang pun menyukaiku di mana pun aku berada? Aku tak pernah menyinggung siapa pun atau ingin mempersulit siapa pun, jadi mengapa aku begitu tidak beruntung?" Karena mereka selalu berpaut pada perasaan seperti itu, emosi depresi ini selalu mengingatkan mereka, "Kau ini tidak beruntung, jadi jangan berpuas diri, jangan sombong, dan jangan selalu ingin paling menonjol. Kau tidak beruntung, jadi jangan pernah berpikir kau akan menjadi pemimpin. Kau tidak beruntung, jadi kau harus lebih berhati-hati saat melaksanakan tugasmu dan kau harus sedikit menahan diri, untuk berjaga-jaga seandainya suatu hari kau tersingkap dan digantikan, atau seandainya ada yang melaporkanmu di belakangmu dan menggunakan sesuatu untuk merugikanmu, atau seandainya engkau selalu berinisiatif terlebih dahulu, lalu melakukan kesalahan dan dipangkas. Meskipun kau telah menjadi pemimpin, engkau tetap harus berhati-hati dan waspada sepanjang waktu, seolah-olah kau sedang berjalan di ujung pisau. Jangan congkak, kau harus bersikap rendah hati." Emosi negatif ini mengingatkan mereka sepanjang waktu untuk bersikap rendah hati, untuk menyembunyikan diri dengan penuh rasa malu dan untuk tidak pernah lagi berperilaku dengan bermartabat. Gagasan, pemikiran, sudut pandang, atau kesadaran bahwa mereka tidak beruntung mengingatkan mereka sepanjang waktu untuk tidak bersikap positif atau aktif, untuk tidak memaksa diri, dan tidak menonjolkan diri. Sebaliknya, mereka harus tetap dalam keadaan depresi, tidak berani hidup di hadapan orang lain. Meskipun semua orang berada di rumah yang sama, mereka harus mencari tempat duduk yang tidak mencolok agar tidak terlalu terlihat. Mereka tidak boleh terlihat terlalu congkak, karena begitu mereka mulai memperlihatkan kecongkakan sedikit pun, ketidakberuntungan akan mereka alami. Karena emosi depresi selalu melingkupi mereka dan selalu mengingatkan mereka akan hal-hal ini di lubuk hatinya, mereka menjadi penakut dan waspada dalam semua yang mereka lakukan. Di dalam hatinya, mereka selalu merasa gelisah, tak pernah menemukan tempat mereka yang tepat, dan mereka tak pernah mampu mencurahkan segenap hati, pikiran dan kekuatan mereka dalam memenuhi tanggung jawab dan kewajiban mereka. Seolah-olah mereka sedang bersikap waspada terhadap sesuatu dan menunggu sesuatu terjadi. Mereka bersikap waspada terhadap datangnya ketidakberuntungan, terhadap hal-hal buruk dan rasa malu yang disebabkan oleh ketidakberuntungan mereka. Oleh karena itu, selain pergumulan di lubuk hati mereka, emosi depresilah yang lebih mendominasi cara dan metode yang mereka gunakan dalam memandang orang dan hal-hal, dan dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. Mereka selalu menggunakan keberuntungan dan ketidakberuntungan mereka untuk mengukur perilaku mereka sendiri, dan untuk mengukur apakah cara mereka memandang orang dan hal-hal, dan cara mereka berperilaku dan bertindak benar atau salah, dan itulah sebabnya mereka berulang kali tenggelam dalam emosi depresi ini dan tak mampu melepaskan diri, dan itulah sebabnya mereka tak mampu menggunakan pemikiran dan pandangan yang benar untuk menghadapi apa yang mereka sebut hal-hal "tidak beruntung" ini, atau untuk menangani dan membereskan apa yang mereka sebut sebagai ketidakberuntungan. Dalam lingkaran setan seperti ini, mereka selalu dikendalikan dan dipengaruhi oleh emosi depresi ini. Dengan susah payah, mereka berhasil membuka hati mereka dan bersekutu tentang keadaan dan gagasan mereka dengan orang lain, tetapi kemudian, di pertemuan, perkataan yang diucapkan saudara-saudari dalam persekutuan telah secara sengaja atau tidak sengaja menyentuh keadaan dan inti permasalahan mereka, yang membuat mereka merasa harga diri dan martabat mereka telah dilukai. Mereka tetap yakin bahwa ini adalah perwujudan ketidakberuntungan mereka sendiri, dan mereka berpikir, "Benar bukan? Sangat sulit bagiku untuk mengutarakan isi hatiku, dan begitu aku melakukannya, seseorang menggunakan kesempatan itu dan berusaha melukaiku. Aku sangat tidak beruntung!" Mereka yakin ini disebabkan karena ketidakberuntungan mereka dan meyakini bahwa jika orang tidak beruntung, maka segala sesuatu pasti akan merugikan mereka.

Apa masalahnya dengan orang yang selalu menganggap diri mereka tidak beruntung? Mereka selalu menggunakan keberuntungan sebagai standar untuk mengukur apakah tindakan mereka benar atau salah, untuk mempertimbangkan jalan mana yang harus mereka tempuh, hal-hal apa yang harus mereka alami, dan masalah apa pun yang harus mereka hadapi. Apakah itu benar atau salah? (Salah.) Mereka menggambarkan hal-hal buruk sebagai ketidakberuntungan dan hal-hal baik sebagai keberuntungan atau keuntungan. Apakah sudut pandang ini benar atau salah? (Salah.) Mengukur segala sesuatu dari sudut pandang seperti ini adalah salah. Ini adalah cara dan standar yang tidak benar dan ekstrem untuk mengukur segala sesuatu. Cara seperti ini sering kali membuat orang tenggelam dalam depresi, dan sering kali membuat mereka merasa gelisah, dan merasa semua hal tidak berjalan sesuai keinginan mereka, dan merasa mereka tak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan, yang pada akhirnya membuat mereka selalu merasa cemas, mudah tersinggung, dan gelisah. Jika emosi-emosi negatif ini tidak dibereskan, orang-orang ini akan selalu tenggelam dalam perasaan depresi dan merasa Tuhan tidak berkenan akan mereka. Mereka menganggap Tuhan memperlakukan orang lain dengan kasih karunia tetapi tidak kepada mereka, dan Tuhan memedulikan orang lain tetapi tidak memedulikan mereka. "Mengapa aku selalu merasa gelisah dan cemas? Mengapa hal-hal buruk selalu menimpaku? Mengapa hal-hal baik tak pernah terjadi pada diriku? Aku hanya minta satu kali saja mengalami hal yang baik!" Jika engkau memandang segala sesuatu dengan cara berpikir dan sudut pandang yang keliru seperti ini, engkau akan terjerumus ke dalam perangkap beruntung dan tidak beruntung. Jika engkau terus-menerus terjerumus ke dalam perangkap ini, engkau akan selalu merasa depresi. Di tengah perasaan depresi ini, engkau akan sangat sensitif terhadap apakah hal-hal yang menimpamu adalah keberuntungan atau ketidakberuntungan. Ketika hal ini terjadi, ini membuktikan bahwa sudut pandang dan gagasan tentang beruntung dan tidak beruntung ini telah mengendalikan dirimu. Ketika engkau dikendalikan oleh sudut pandang seperti ini, pandangan dan sikapmu terhadap orang, peristiwa dan hal-hal tidak lagi berada dalam lingkup hati nurani dan nalar manusia normal, melainkan telah jatuh ke dalam keadaan ekstrem. Ketika engkau telah jatuh ke dalam keadaan ekstrem seperti ini, engkau tidak akan terbebas dari perasaan depresimu. Engkau akan terus merasa depresi berulang kali, dan meskipun engkau biasanya tidak merasa depresi, begitu sesuatu tidak berjalan lancar, begitu engkau merasa ketidakberuntungan telah terjadi, engkau akan langsung tenggelam dalam depresi. Perasaan depresi akan memengaruhi penilaian normalmu dan pengambilan keputusanmu, dan bahkan memengaruhi kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan sukacitamu. Ketika perasaan depresi memengaruhi kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan sukacitamu, itu akan mengganggu dan menghancurkan pelaksanaan tugasmu, serta kemauan dan keinginanmu untuk mengikut Tuhan. Setelah hal-hal positif ini hancur, sedikit kebenaran yang telah kaupahami akan hilang begitu saja dan menjadi sama sekali tidak berguna bagimu. Itulah sebabnya, jika engkau terjerumus ke dalam lingkaran setan ini, akan sulit bagimu untuk menerapkan sedikit prinsip kebenaran yang telah kaupahami. Hanya pada saat engkau merasa beruntung, pada saat engkau merasa tidak tertekan oleh perasaan depresi, barulah engkau mampu dengan enggan sedikit membayar harga, sedikit mengalami kesukaran, dan sedikit memperlihatkan ketulusan saat melakukan hal-hal yang bersedia kaulakukan. Begitu engkau merasa keberuntungan telah meninggalkanmu dan kemalangan akan kembali menimpamu, perasaan depresimu segera kembali menguasaimu, dan ketulusan, kesetiaan, dan kemauanmu untuk menanggung kesukaran langsung hilang dari dirimu. Oleh karena itu, orang-orang yang menganggap diri mereka tidak beruntung atau yang menganggap serius keberuntungan adalah seperti orang-orang yang menganggap diri mereka bernasib buruk. Mereka sering kali memiliki emosi yang sangat ekstrem—khususnya, mereka sering terjerumus ke dalam emosi-emosi negatif seperti perasaan depresi. Mereka sangat negatif dan lemah, dan bahkan suasana hati mereka cenderung cepat berubah. Jika mereka merasa beruntung, mereka dipenuhi sukacita, dipenuhi tenaga, dan mereka mampu menanggung kesukaran dan membayar harga; mereka mampu tidur lebih sedikit pada malam hari, dan makan lebih sedikit pada siang hari, mereka rela menderita kesukaran apa pun, dan jika mereka merasa bersemangat untuk sesaat saja, mereka dengan senang hati menyerahkan nyawa mereka. Namun, saat mereka merasa tidak beruntung baru-baru ini, saat semuanya tampak tidak berjalan baik bagi mereka, emosi depresi langsung menguasai hati mereka. Sumpah dan tekad yang mereka buat sebelumnya semuanya diingkari; mereka tiba-tiba menjadi seperti bola yang kempis, sama sekali tak mampu membangkitkan tekad mereka, atau menjadi seperti genangan lumpur, sama sekali tak mau melakukan apa pun atau mengatakan apa pun. Mereka berpikir, "Prinsip-prinsip kebenaran, mengejar kebenaran, memperoleh keselamatan, tunduk kepada Tuhan—semua ini tidak ada kaitannya denganku. Aku tidak beruntung dan sebanyak apa pun kebenaran yang kuterapkan atau sebanyak apa pun harga yang kubayar, itu tidak ada gunanya, aku tidak akan pernah memperoleh keselamatan. Hidupku sudah berakhir. Aku ini orang yang selalu sial, orang yang tidak beruntung. Jadi, ya sudahlah, bagaimanapun, aku ini tidak beruntung!" Lihatlah, pada satu saat mereka seperti bola yang penuh dengan udara hingga hampir meledak, dan pada saat berikutnya mereka seperti bola yang kempis. Bukankah ini menyusahkan? Bagaimana masalah ini bisa terjadi? Apa sumber penyebabnya? Mereka selalu mengamati keberuntungan mereka sendiri, seolah-olah mereka sedang mengamati pasar saham, untuk melihat apakah pasar akan naik atau turun, apakah indeks harga saham akan naik atau turun. Mereka selalu merasa sangat gelisah, sangat sensitif akan masalah nasib mereka, dan sangat keras kepala. Orang yang ekstrem seperti ini akan sering tenggelam dalam emosi depresi karena mereka terlalu mementingkan keberuntungan mereka sendiri dan hidup berdasarkan suasana hati mereka. Jika suasana hati mereka sedang buruk ketika bangun pada pagi hari, mereka berpikir, "Oh tidak! Aku yakin hari ini bukan hari yang beruntung. Kelopak mata kiriku sudah beberapa hari berkedut, lidahku terasa kaku, dan otakku lemot. Ketika makan lidahku tergigit, dan mimpiku tidak indah tadi malam." Atau mereka berpikir, "Perkataan pertama yang kudengar diucapkan seseorang hari ini sepertinya sebuah pertanda buruk." Mereka selalu curiga, terus-menerus mengoceh tentang omong kosong ini, dan mempelajari hal-hal seperti ini. Mereka sangat memperhatikan keberuntungan, arahan, dan suasana hati mereka sendiri setiap hari dan di setiap periode. Mereka juga mengamati ekspresi wajah, sikap dan bahkan nada suara semua saudara-saudari di gereja saat berbicara kepada mereka. Hati mereka dikuasai oleh hal-hal ini, yang membuat mereka selalu merasa depresi. Mereka tahu bahwa mereka tidak sedang berada dalam keadaan yang baik, tetapi mereka tidak berdoa kepada Tuhan, ataupun mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, dan watak rusak apa pun yang mereka perlihatkan, mereka sama sekali tidak memperhatikannya ataupun menganggapnya serius. Bukankah ini masalah? (Ya.)

Orang-orang yang selalu memikirkan apakah mereka beruntung atau tidak beruntung—apakah cara mereka memandang segala sesuatu benar? Apakah keberuntungan dan ketidakberuntungan itu ada? (Tidak ada.). Atas dasar apa engkau mengatakan bahwa itu tidak ada? (Orang-orang yang kami jumpai dan hal-hal yang terjadi pada kami setiap hari ditentukan oleh kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Tidak ada yang namanya keberuntungan dan ketidakberuntungan; semua yang terjadi adalah hal yang perlu terjadi dan ada makna di balik semua itu.) Benarkah demikian? (Ya.) Pandangan ini benar, dan ini adalah dasar teoretis untuk mengatakan bahwa keberuntungan itu tidak ada. Apa pun yang terjadi padamu, entah itu baik atau buruk, semua itu normal, sama seperti cuaca selama empat musim—cuaca tidak mungkin cerah setiap harinya. Engkau tidak dapat mengatakan bahwa hari-hari yang cerah diatur oleh Tuhan, sedangkan hari-hari berawan, hujan, berangin, dan badai tidak diatur oleh Tuhan. Segala sesuatu ditentukan oleh kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan dihasilkan oleh lingkungan alam. Lingkungan alam muncul sesuai dengan hukum dan aturan yang telah Tuhan atur dan tetapkan. Semua ini perlu dan harus ada, jadi apa pun cuacanya, itu dihasilkan dan disebabkan oleh hukum alam. Tidak ada baik atau buruk di dalam hal ini—hanya perasaan orang tentangnya yang baik dan buruk. Orang tidak merasa baik ketika hari hujan, berangin atau berawan, atau ketika terjadi hujan es. Orang terutama sangat tidak senang ketika hari hujan dan lembab; persendian mereka sakit dan mereka merasa lemah. Engkau mungkin merasa buruk ketika hari selalu hujan, tetapi dapatkah engkau mengatakan bahwa hari-hari hujan adalah ketidakberuntungan? Ini hanyalah perasaan yang ditimbulkan cuaca dalam diri orang—keberuntungan tidak ada kaitannya dengan fakta bahwa hari sedang hujan. Engkau mungkin mengatakan hari-hari cerah itu baik. Jika hari cerah selama tiga bulan, tanpa hujan setetes pun, orang merasa baik. Mereka dapat melihat sinar mentari setiap hari, dan cuaca kering dan hangat, disertai angin sepoi-sepoi yang sesekali bertiup, dan mereka bisa keluar rumah kapan pun mereka mau. Namun, tanaman tidak dapat bertahan di tengah cuaca yang selalu cerah, dan tanaman pun mati karena kekeringan, sehingga tidak ada panen pada tahun itu. Jadi, apakah perasaan baikmu berarti bahwa itu benar-benar baik? Saat musim gugur tiba, saat tidak ada makanan yang bisa kaumakan, engkau akan berkata, "Ya ampun, terlalu banyak hari cerah pun tidak baik. Jika tidak ada hujan, tanaman menjadi kering dan mati, tidak ada makanan yang bisa dipanen, dan orang-orang menjadi kelaparan." Pada saat inilah engkau sadar bahwa hari-hari cerah yang tiada hentinya juga tidak baik. Sebenarnya, apakah seseorang merasa baik atau buruk tentang sesuatu, itu didasarkan pada motif, keinginan, dan kepentingan mereka sendiri, dan bukan didasarkan pada esensi dari hal itu sendiri. Jadi, dasar yang orang gunakan untuk mengukur apakah sesuatu itu baik atau buruk tidaklah tepat. Karena dasarnya tidak tepat, kesimpulan yang mereka tarik pun tidak tepat. Kembali ke topik tentang keberuntungan dan ketidakberuntungan, sekarang semua orang sudah mengerti bahwa perkataan tentang keberuntungan ini tidak masuk akal, dan tidak ada yang namanya beruntung atau tidak beruntung. Orang, peristiwa, dan hal-hal yang kautemui, entah baik atau buruk, semuanya ditentukan oleh kedaulatan dan pengaturan Tuhan, jadi engkau harus menghadapi semua itu dengan benar. Terimalah apa yang baik sebagai sesuatu dari Tuhan, dan terimalah juga apa yang buruk sebagai sesuatu dari Tuhan. Jangan berkata engkau beruntung ketika hal-hal baik terjadi, dan engkau tidak beruntung ketika hal-hal buruk terjadi. Engkau hanya dapat berkata bahwa ada pelajaran yang dapat orang petik dalam semua hal ini, dan mereka tidak boleh menolak atau menghindarinya. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk hal-hal baik, tetapi bersyukurlah juga kepada Tuhan untuk hal-hal buruk, karena semua itu diatur oleh-Nya. Orang, peristiwa, hal-hal, dan lingkungan yang baik menyediakan pelajaran yang harus mereka petik, tetapi ada jauh lebih banyak pelajaran yang dapat dipetik dari orang, peristiwa, hal-hal, dan lingkungan yang buruk. Semua ini adalah pengalaman dan peristiwa yang harus menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Orang tidak boleh menggunakan gagasan tentang keberuntungan untuk mengukur semua itu. Jadi, seperti apakah pemikiran dan sudut pandang orang yang menggunakan keberuntungan untuk mengukur apakah sesuatu itu baik atau buruk? Apakah esensi orang-orang semacam itu? Mengapa mereka sangat memperhatikan keberuntungan dan ketidakberuntungan? Apakah orang yang sangat berfokus pada keberuntungan berharap mereka beruntung atau berharap mereka tidak beruntung? (Mereka berharap mereka beruntung.) Benar. Sebenarnya, mereka berusaha agar mereka beruntung dan agar hal-hal baik terjadi pada diri mereka, dan mereka hanya ingin mendapatkan manfaat dan mengambil keuntungan dari keberuntungan dan hal-hal baik tersebut. Mereka tidak peduli seberapa banyak orang lain menderita atau seberapa banyak kesukaran dan kesulitan yang harus orang lain alami. Mereka tidak ingin apa pun yang mereka anggap sebagai ketidakberuntungan menimpa mereka. Dengan kata lain, mereka tidak mau hal-hal buruk terjadi pada diri mereka: tidak mau mengalami kemunduran, kegagalan atau rasa malu, tidak mau mengalami pemangkasan, kehilangan, dan kerugian, dan tidak mau tertipu. Jika salah satu hal tersebut terjadi, mereka menganggapnya sebagai ketidakberuntungan. Siapa pun yang mengaturnya, jika terjadi hal yang buruk, itu berarti ketidakberuntungan. Mereka berharap semua hal yang baik—mulai dari dipromosikan, terlihat paling menonjol, dan mendapatkan manfaat sekalipun mengorbankan orang lain, mendapatkan keuntungan dari sesuatu, menghasilkan banyak uang, atau menjadi pejabat tinggi—terjadi pada diri mereka, dan mereka menganggap itulah keberuntungan. Mereka selalu mengukur orang, peristiwa, dan hal-hal yang mereka temui berdasarkan keberuntungan. Mereka berusaha menjadi orang yang beruntung, bukan orang yang tidak beruntung. Begitu terjadi kesalahan sekecil apa pun, mereka menjadi marah, kesal dan tidak puas. Bahasa kasarnya, jenis orang seperti ini egois. Mereka berusaha memperoleh keuntungan bagi diri mereka sendiri sekalipun mengorbankan orang lain, menjadi unggul dari yang lain, dan terlihat paling menonjol. Mereka akan merasa puas jika semua hal baik terjadi hanya pada diri mereka. Inilah natur dan esensi mereka; seperti inilah diri mereka yang sebenarnya.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp