Cara Mengejar Kebenaran (19) Bagian Tiga
Pengharapan orang tua terhadap anak-anak mereka mencakup dua aspek: aspek pertama berkaitan dengan pengharapan selama masa pertumbuhan anak, dan aspek kedua berkaitan dengan pengharapan ketika anak-anak mereka menjadi dewasa. Sebelumnya, persekutuan kita secara singkat membahas pengharapan-pengharapan ketika anak-anak menjadi dewasa. Apa yang kita persekutukan? (Tuhan, sebelumnya kita bersekutu tentang orang tua yang berharap agar anak-anak mereka yang sudah dewasa memiliki lingkungan kerja yang lancar, pernikahan yang bahagia dan memuaskan, serta karier yang sukses.) Kira-kira itulah yang kita persekutukan. Setelah orang tua membesarkan anak-anak mereka hingga dewasa, anak-anak mereka menjadi dewasa, menghadapi keadaan yang berkaitan dengan pekerjaan, karier, pernikahan, keluarga, dan hidup sendiri secara mandiri, bahkan membesarkan anak-anak mereka sendiri. Mereka akan meninggalkan ayah dan ibu mereka dan hidup mandiri, menghadapi sendiri semua masalah yang mungkin mereka hadapi dalam hidup mereka. Karena anak-anak mereka kini telah bertumbuh dewasa, orang tua tidak lagi memikul tanggung jawab untuk menjaga kesehatan fisik anak-anak mereka atau terlibat langsung dalam kehidupan, pekerjaan, pernikahan, keluarga anak-anak mereka, dan sebagainya. Tentu saja, karena ikatan emosional dan kekeluargaan, orang tua dapat merawat anak-anak mereka untuk formalitas, memberikan nasihat sesekali, memberikan sedikit saran atau bantuan dari peran seseorang yang berpengalaman, atau memberikan perawatan yang diperlukan untuk sementara. Singkatnya, setelah anak-anak menjadi dewasa, orang tua pada dasarnya telah memenuhi tanggung jawab mereka terhadap anak-anak mereka. Oleh karena itu, ada pengharapan-pengharapan yang mungkin dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa, setidaknya dari sudut pandang-Ku, yang tidak diperlukan. Mengapa itu tidak diperlukan? Karena, apa pun yang orang tua harapkan dari anak-anak mereka, pernikahan, keluarga, pekerjaan, atau karier seperti apa yang mereka harapkan dari anak-anak mereka, entah anak-anak mereka akan menjadi kaya atau miskin, atau apa pun pengharapan orang tua, semua ini tidak lain hanyalah pengharapan, dan sebagai orang dewasa, kehidupan anak-anak mereka pada akhirnya berada di tangan mereka sendiri. Tentu saja, pada dasarnya, nasib seluruh hidup putra atau putri mereka, entah mereka kaya atau miskin, semua itu telah ditentukan oleh Tuhan. Orang tua tidak memiliki tanggung jawab atau kewajiban untuk mengontrol hal-hal ini, dan mereka juga tidak punya hak untuk campur tangan. Oleh karena itu, pengharapan orang tua hanyalah semacam harapan baik yang didasarkan pada kasih sayang mereka. Tidak ada orang tua yang rela anak-anak mereka menjadi miskin, tidak menikah, bercerai, memiliki keluarga yang bermasalah, atau mengalami kesukaran dalam pekerjaan. Tak ada seorang pun dari mereka yang mengharapkan hal-hal ini terjadi pada anak-anak mereka. Mereka pasti mengharapkan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Namun, jika pengharapan orang tua bertentangan dengan kenyataan hidup anak-anak mereka, atau jika kenyataan tersebut bertentangan dengan pengharapan mereka, bagaimana mereka harus memperlakukannya? Inilah yang perlu kita persekutukan. Sebagai orang tua, mengenai sikap yang harus orang miliki terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa, selain memberkati mereka secara diam-diam dalam hati dan memiliki pengharapan yang baik terhadap mereka, mata pencaharian apa pun yang dijalani anak-anak mereka, nasib atau kehidupan seperti apa pun yang mereka jalani, orang tua hanya bisa membiarkannya terjadi. Tidak ada orang tua yang dapat mengubah hal ini, dan mereka juga tidak dapat mengendalikannya. Meskipun engkau melahirkan anak-anakmu dan membesarkan mereka, seperti yang telah kita bahas sebelumnya, orang tua bukanlah penguasa atas nasib anak-anak mereka. Orang tua mengandung tubuh fisik anak-anak mereka dan membesarkan mereka hingga dewasa, tetapi mengenai seperti apa nasib anak-anak mereka kelak, itu bukanlah sesuatu yang diberikan atau dipilih oleh orang tua mereka, dan orang tua mereka tentu saja tidak memutuskannya. Engkau ingin anak-anakmu sukses, tetapi apakah itu menjamin bahwa mereka akan sukses? Engkau tidak ingin mereka mengalami kemalangan, nasib buruk, dan segala macam peristiwa yang tidak menguntungkan, tetapi apakah itu berarti mereka dapat menghindari semua itu? Apa pun yang anak-anakmu hadapi, semua hal tersebut tidak bergantung pada kehendak manusia, juga tidak ditentukan oleh kebutuhan atau pengharapanmu. Jadi, apa maksud perkataan-Ku ini bagimu? Karena anak-anak telah menjadi dewasa, sudah mampu mengurus diri mereka sendiri, memiliki pemikiran sendiri, pandangan terhadap hal-hal, prinsip-prinsip berperilaku, dan pandangan hidup, serta tidak lagi dipengaruhi, dikuasai, dikekang, atau diatur oleh orang tua mereka, itu artinya mereka benar-benar orang dewasa. Apa yang dimaksud dengan mereka sudah menjadi orang dewasa? Artinya, orang tua mereka harus melepaskan. Secara tertulis, ini disebut "melepaskan", memungkinkan anak-anak untuk bereksplorasi secara mandiri dan menempuh jalan hidup mereka sendiri. Apa yang kita katakan dalam bahasa sehari-hari? "Menyingkir". Dengan kata lain, orang tua harus berhenti memberikan perintah kepada anak-anak mereka yang sudah dewasa, dengan mengatakan hal-hal seperti, "Kau harus mencari pekerjaan ini, kau harus bekerja di industri ini. Jangan lakukan itu, itu terlalu berisiko!" Pantaskah bagi orang tua untuk memberikan perintah kepada anak-anak mereka yang sudah dewasa? (Tidak.) Mereka selalu ingin menjaga kehidupan, pekerjaan, pernikahan, dan keluarga anak-anak mereka yang sudah dewasa agar tetap berada dalam kendali serta pengawasan mereka, dan mereka menjadi gelisah, cemas, takut, dan khawatir jika mereka tidak mengetahui tentang sesuatu atau tidak bisa mengendalikannya, berkata, "Bagaimana jika putraku tidak mempertimbangkan hal itu dengan saksama? Mungkinkah dia terkena masalah hukum? Aku tak punya uang jika dia digugat! Jika dia digugat dan tidak ada uang, mungkinkah dia bisa dipenjara? Jika dia masuk penjara, mungkinkah dia dituduh bersalah oleh orang jahat, dan menjalani hukuman delapan atau sepuluh tahun? Akankah istrinya meninggalkannya? Siapa yang akan merawat anak-anak?" Makin mereka memikirkannya, makin mereka merasa khawatir. "Pekerjaan putriku tidak berjalan dengan baik: orang-orang selalu memperlakukannya dengan buruk, dan atasannya juga tidak baik kepadanya. Apa yang bisa kita lakukan? Haruskah kita mencarikannya pekerjaan lain? Haruskah kita lewat jalan belakang, memakai koneksi, mengeluarkan sejumlah uang, dan membantunya mendapatkan pekerjaan di departemen pemerintah di mana dia bisa memiliki beban yang ringan setiap hari sebagai pegawai pemerintah? Meski gajinya tidak tinggi, setidaknya dia tidak akan diperlakukan dengan buruk. Kita saja tidak sanggup memukulnya ketika dia masih kecil dan kita memanjakannya seperti seorang putri raja; sekarang, dia ditindas oleh orang lain. Apa yang harus kita lakukan?" Mereka khawatir hingga tidak nafsu makan atau sulit tidur, dan mulut mereka sariawan karena kecemasan. Setiap kali anak-anak mereka menghadapi sesuatu, mereka menjadi cemas dan menanggapinya dengan serius. Mereka ingin terlibat dalam segala hal, mengambil alih di setiap situasi. Setiap kali anak-anak mereka jatuh sakit atau menghadapi kesulitan tertentu, mereka merasa khawatir dan sedih, berkata, "Aku hanya ingin kau sehat. Mengapa kau tidak sehat? Aku ingin semuanya berjalan lancar untukmu, aku ingin semuanya berjalan sesuai keinginanmu, sesuai rencanamu. Aku ingin kau menikmati kesuksesan, tidak bernasib buruk, ditipu, atau dijebak dan terkena masalah hukum!" Ada anak-anak yang mengambil pinjaman dari bank untuk membeli sebuah rumah, dan pinjaman mereka harus dilunasi selama tiga puluh atau bahkan lima puluh tahun. Orang tua mereka mulai khawatir, "Kapan semua pinjaman ini akan lunas? Bukankah ini sama seperti menjadi budak bank? Generasi kami tidak membutuhkan pinjaman dari bank untuk membeli rumah. Kami tinggal di apartemen yang disediakan perusahaan dan membayar sewa sebesar ratusan ribu rupiah setiap bulan. Situasi kehidupan kami terasa begitu tenang. Sekarang ini, sangatlah sulit bagi anak-anak muda ini. Itu benar-benar tidak mudah bagi mereka. Mereka harus mengambil pinjaman dari bank, dan meskipun mereka hidup berkecukupan, mereka bekerja sangat keras setiap hari. Mereka kelelahan! Mereka sering begadang hingga larut malam saat bekerja lembur, jadwal makan dan tidur mereka tidak teratur, dan mereka selalu mengonsumsi makanan cepat saji. Perut mereka menderita, dan begitu pula kesehatan mereka. Aku harus memasak untuk mereka dan membersihkan rumah mereka. Aku harus merapikan rumah mereka karena mereka tidak punya waktu. Hidup mereka berantakan. Sekarang aku sudah tua dan lemah, dan aku tidak bisa berbuat banyak, jadi aku akan menjadi pembantu mereka saja. Jika mereka mempekerjakan pembantu, mereka harus mengeluarkan uang, dan pembantu tersebut mungkin tidak bisa dipercaya. Jadi, aku akan menjadi pembantu mereka secara cuma-cuma." Jadi, dia menjadi seorang pembantu, membersihkan rumah anak-anaknya setiap hari, merapikan rumah, memasak ketika waktunya makan, membeli sayur-sayuran dan gandum, serta memikul tanggung jawab yang tiada habisnya. Dia berubah dari orang tua menjadi pelayan tua, seorang pembantu. Ketika anak-anaknya pulang ke rumah dan suasana hati mereka sedang tidak baik, dia harus memperhatikan ekspresi wajah mereka dan berbicara dengan hati-hati sampai anak-anaknya kembali bahagia, dan barulah dia bisa bahagia. Dia bahagia jika anak-anaknya bahagia, dan khawatir jika anak-anaknya khawatir. Apakah ini cara hidup yang bernilai? Ini tidak ada bedanya dengan kehilangan diri sendiri.
Mungkinkah orang tua menanggung nasib anak-anak mereka? Demi mengejar ketenaran, keuntungan, dan kesenangan duniawi, anak-anak rela menanggung kesukaran apa pun yang menghadang mereka. Selain itu, sebagai orang dewasa, pantaskah jika mereka harus menghadapi kesukaran apa pun demi kelangsungan hidup mereka? Sebanyak mereka menikmatinya, sebanyak itulah mereka harus siap untuk menderita. Hal ini wajar. Orang tua telah memenuhi tanggung jawab mereka, jadi apa pun yang ingin anak-anak mereka nikmati, mereka tidak boleh menanggung biayanya. Sebaik apa pun kehidupan yang diinginkan orang tua bagi anak-anak mereka, jika anak-anak ingin menikmati hal-hal yang baik, merekalah yang harus menanggung semua tekanan dan penderitaan itu sendiri, bukan orang tua mereka. Oleh karena itu, jika orang tua selalu ingin melakukan semuanya untuk anak-anak mereka dan menanggung kesukaran mereka, dengan rela menjadi budak mereka, bukankah ini berlebihan? Hal ini tidak perlu, karena ini melampaui apa yang seharusnya orang tua lakukan. Alasan utama lainnya adalah, apa pun atau sebanyak apa pun yang kaulakukan untuk anak-anakmu, engkau tidak dapat mengubah nasib mereka ataupun meringankan penderitaan mereka. Setiap orang yang berusaha bertahan hidup di tengah masyarakat, entah mereka mengejar ketenaran dan keuntungan atau menempuh jalan hidup yang benar, sebagai orang dewasa, mereka harus bertanggung jawab atas keinginan serta cita-cita mereka sendiri, dan mereka harus membiayainya sendiri. Tak seorang pun boleh melakukan apa pun bagi mereka; bahkan orang tua mereka, orang yang melahirkan dan membesarkan mereka, orang-orang terdekat mereka, tidak diwajibkan untuk membiayai atau ikut menanggung penderitaan mereka. Orang tua pun demikian dalam hal ini karena mereka tidak dapat mengubah apa pun. Oleh karena itu, apa pun yang kaulakukan untuk anak-anakmu adalah sia-sia. Karena ini sia-sia, sebaiknya engkau menghentikan tindakan ini. Meskipun orang tua mungkin sudah tua dan telah memenuhi tanggung jawab serta kewajiban mereka terhadap anak-anak mereka, meskipun segala sesuatu yang dilakukan orang tua tidak berarti apa-apa di mata anak-anak mereka, orang tua harus tetap memiliki martabat, pengejaran, dan misi mereka sendiri yang harus dilaksanakan. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan serta mengejar kebenaran dan keselamatan, waktu dan tenaga yang tersisa dalam hidupmu harus digunakan untuk melaksanakan tugasmu dan melakukan apa pun yang telah Tuhan percayakan kepadamu; engkau tidak boleh menghabiskan waktumu untuk anak-anakmu. Hidupmu bukanlah milik anak-anakmu, dan hidupmu tidak boleh dihabiskan untuk kehidupan atau kelangsungan hidup mereka, ataupun untuk memenuhi pengharapanmu terhadap mereka. Sebaliknya, waktu dan tenagamu harus didedikasikan untuk kewajiban dan tugas yang telah Tuhan berikan kepadamu, serta misi yang harus kaulaksanakan sebagai makhluk ciptaan. Di sinilah letak nilai dan makna hidupmu. Jika engkau bersedia kehilangan martabatmu sendiri dan menjadi budak bagi anak-anakmu, mengkhawatirkan mereka, dan melakukan apa pun untuk mereka agar dapat memenuhi pengharapanmu terhadap mereka, semua ini tidak ada artinya dan tidak ada nilainya, dan itu tidak akan diingat. Jika engkau bersikeras melakukannya dan tidak melepaskan gagasan serta tindakan ini, itu hanya berarti bahwa engkau bukanlah orang yang mengejar kebenaran, bahwa engkau bukanlah makhluk ciptaan yang layak, dan bahwa engkau sangat memberontak. Engkau tidak menghargai kehidupan ataupun waktu yang diberikan Tuhan kepadamu. Jika hidupmu dan waktumu dihabiskan hanya untuk dagingmu serta kasih sayangmu, dan bukan untuk tugas yang telah Tuhan berikan kepadamu, berarti hidupmu tidak diperlukan dan tidak ada nilainya. Engkau tidak layak untuk hidup, engkau tidak layak untuk menikmati kehidupan yang telah Tuhan berikan kepadamu, dan engkau tidak layak untuk menikmati semua yang telah Tuhan berikan kepadamu. Tuhan memberimu anak-anak hanya agar engkau dapat menikmati proses membesarkan mereka, untuk memperoleh pengalaman hidup dan pengetahuan darinya sebagai orang tua, agar engkau dapat mengalami sesuatu yang istimewa dan luar biasa dalam kehidupan manusia, dan kemudian agar keturunanmu bertambah banyak .... Tentu saja, itu juga untuk memenuhi tanggung jawab makhluk ciptaan sebagai orang tua. Inilah tanggung jawab yang Tuhan tetapkan untuk kaupenuhi terhadap generasi berikutnya, serta peranmu sebagai orang tua bagi generasi berikutnya. Di satu sisi, ini bertujuan agar engkau dapat menjalani proses yang luar biasa dalam membesarkan anak, dan di sisi lain, ini bertujuan agar engkau berperan dalam memperbanyak generasi berikutnya. Setelah kewajiban ini dipenuhi, dan anak-anakmu bertumbuh menjadi orang dewasa, entah mereka menjadi orang yang sangat sukses atau tetap menjadi orang biasa, tidak menonjol, dan sederhana, itu tidak ada hubungannya denganmu, karena nasib mereka tidak ditentukan olehmu, juga tidak dipilih olehmu, dan tentu saja, itu bukan diberikan olehmu, melainkan ditentukan oleh Tuhan. Karena nasib mereka ditentukan oleh Tuhan, engkau tidak boleh mencampuri atau ikut campur dalam kehidupan atau kelangsungan hidup mereka. Kebiasaan, rutinitas sehari-hari, dan sikap mereka terhadap kehidupan, apa pun strategi bertahan hidup yang mereka miliki, apa pun pandangan hidup mereka, apa pun sikap mereka terhadap dunia, semua ini adalah pilihan mereka sendiri, dan itu bukanlah urusanmu. Engkau tidak berkewajiban untuk mengoreksi mereka atau menanggung penderitaan apa pun mewakili mereka untuk memastikan agar mereka bahagia setiap hari. Semua hal ini tidak perlu. Nasib setiap orang ditentukan oleh Tuhan; oleh karena itu, sebesar apa pun berkat atau penderitaan yang mereka alami dalam hidup, seperti apa pun keluarga, pernikahan, dan anak-anak mereka, pengalaman apa pun yang mereka alami di tengah masyarakat, dan peristiwa apa pun yang mereka alami dalam hidup, mereka sendiri tidak dapat meramalkan atau mengubah hal-hal tersebut, dan orang tua bahkan lebih tidak memiliki kemampuan untuk mengubahnya. Oleh karena itu, jika anak-anak menghadapi kesulitan apa pun, orang tua harus membantu secara positif dan proaktif jika mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya. Jika tidak, sebaiknya orang tua bersikap tenang dan memandang hal-hal ini dari sudut pandang makhluk ciptaan, memperlakukan anak-anak mereka secara setara sebagai makhluk ciptaan. Penderitaan yang kaualami, mereka pun harus alami; kehidupan yang kaujalani, mereka pun harus jalani; proses yang telah kaulalui dalam membesarkan anak kecil, mereka pun akan lalui; liku-likunya, penipuan dan kecurangan yang kaualami di tengah masyarakat dan di antara orang, keterikatan emosi, konflik antarpribadi, dan semua hal serupa yang pernah kaualami, mereka pun akan mengalaminya. Seperti dirimu, mereka semua adalah manusia yang rusak, semuanya terbawa oleh arus kejahatan, dirusak oleh Iblis. Engkau tidak mampu melepaskan diri darinya, begitu pun mereka. Oleh karena itu, keinginan untuk membantu mereka menghindari semua penderitaan dan menikmati semua berkat di dunia adalah khayalan yang konyol dan gagasan yang bodoh. Betapa pun lebarnya sayap seekor elang, dia tidak dapat melindungi anak elang di sepanjang hidupnya. Anak elang pada akhirnya akan mencapai suatu titik di mana dia harus bertumbuh dewasa dan terbang sendiri. Saat anak elang memilih untuk terbang sendirian, tak ada seorang pun yang tahu di mana hamparan langit tempat dia akan mengepakkan sayapnya, atau di mana dia akan memilih untuk terbang. Oleh karena itu, sikap orang tua yang paling rasional setelah anak-anak mereka menjadi dewasa adalah melepaskan, membiarkan anak-anak mereka menjalani hidup mereka sendiri, membiarkan anak-anak mereka hidup secara mandiri, serta menghadapi, menangani, dan menyelesaikan berbagai tantangan dalam hidup secara mandiri. Jika mereka mencari bantuan darimu dan engkau memiliki kemampuan serta kondisi untuk melakukannya, tentu saja engkau boleh menolong dan memberi bantuan yang diperlukan. Namun, syaratnya adalah, apa pun bantuan yang kauberikan, baik itu bersifat finansial maupun psikologis, bantuan tersebut hanyalah sementara dan tidak dapat mengubah masalah penting apa pun. Mereka harus menempuh jalan hidup mereka sendiri, dan engkau tidak berkewajiban untuk menanggung setiap urusan mereka atau konsekuensinya. Inilah sikap yang seharusnya orang tua miliki terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa.
Setelah memahami sikap yang seharusnya dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa, haruskah orang tua juga melepaskan pengharapan mereka terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa? Ada orang tua yang bodoh dan tidak bisa memahami kehidupan atau nasib, tidak mengakui kedaulatan Tuhan, dan cenderung melakukan hal-hal yang bodoh jika menyangkut anak-anak mereka. Sebagai contoh, setelah anak-anak menjadi mandiri, mereka mungkin menghadapi situasi khusus, kesukaran, atau peristiwa besar tertentu; ada yang terkena penyakit, ada yang terlibat dalam gugatan hukum, ada yang bercerai, ada yang ditipu, dan ada yang diculik, dilukai, dipukuli dengan kejam, ataupun menghadapi kematian. Bahkan ada orang-orang yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya. Apa yang harus dilakukan orang tua dalam situasi khusus dan penting ini? Apa reaksi khas kebanyakan orang tua? Apakah mereka melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sebagai makhluk ciptaan dengan identitas orang tua? Sangat jarang orang tua yang mendengar kabar seperti itu bereaksi seperti yang akan mereka lakukan jika hal itu terjadi pada orang tak dikenal. Kebanyakan orang tua begadang semalaman hingga rambut mereka beruban, kurang tidur malam demi malam, tidak nafsu makan di siang hari, memutar otak mereka, dan bahkan ada yang menangis dengan getir, hingga mata mereka memerah dan air mata mereka mengering. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, agar Tuhan mempertimbangkan iman mereka dan melindungi anak-anak mereka, menunjukkan kebaikan kepada mereka, memberkati mereka, menunjukkan belas kasihan, dan menyelamatkan nyawa mereka. Sebagai orang tua yang berada dalam situasi seperti ini, kelemahan, kerentanan, dan perasaan kemanusiaan mereka terhadap anak-anak mereka semuanya tersingkap. Apa lagi yang tersingkap? Pemberontakan mereka terhadap Tuhan. Mereka memohon kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya, memohon agar Dia melindungi anak-anak mereka dari malapetaka. Sekalipun terjadi bencana, orang tua berdoa agar anak-anak mereka tidak mati, agar mereka dapat terhindar dari bahaya, tidak dilukai oleh orang jahat, penyakit mereka tidak bertambah parah, tetapi akan sembuh, dan seterusnya. Apa sebenarnya yang mereka doakan? (Tuhan, dengan doa-doa ini, mereka sedang mengajukan tuntutan terhadap Tuhan, dengan nada suara mengeluh.) Di satu sisi, mereka sangat tidak puas dengan keadaan buruk anak-anak mereka, mengeluh bahwa Tuhan seharusnya tidak membiarkan hal seperti itu terjadi pada anak-anak mereka. Ketidakpuasan mereka bercampur dengan keluhan, dan mereka memohon agar Tuhan mengubah pikiran-Nya, agar tidak bertindak seperti ini, agar Dia melepaskan anak-anak mereka dari bahaya, menjaga mereka tetap aman, menyembuhkan penyakit mereka, membantu mereka lolos dari gugatan hukum, menghindari bencana jika hal itu terjadi, dan seterusnya. Singkatnya, mereka memohon agar Tuhan membuat segalanya berjalan dengan lancar. Dengan berdoa seperti ini, di satu sisi, mereka mengeluh kepada Tuhan, dan di sisi lain, mereka mengajukan tuntutan terhadap-Nya. Bukankah ini merupakan perwujudan dari pemberontakan? (Ya.) Sebenarnya, mereka bermaksud berkata bahwa apa yang Tuhan lakukan tidaklah benar ataupun baik, bahwa Dia tidak seharusnya bertindak seperti ini. Karena ini adalah anak-anak mereka, dan mereka adalah orang percaya, mereka menganggap bahwa Tuhan tidak seharusnya membiarkan hal seperti itu terjadi pada anak-anak mereka. Anak-anak mereka berbeda dari anak-anak yang lain; mereka seharusnya menerima berkat istimewa dari Tuhan. Karena iman mereka kepada Tuhan, Dia seharusnya memberkati anak-anak mereka, dan jika Dia tidak memberkati anak-anak mereka, mereka menjadi tertekan, mereka menangis, mengamuk, dan tidak mau lagi mengikuti Tuhan. Jika anak mereka meninggal, mereka merasa bahwa mereka juga tidak bisa melanjutkan hidup. Apakah itu perasaan yang ada dalam benak mereka? (Ya.) Bukankah ini suatu bentuk protes terhadap Tuhan? (Ya.) Ini adalah protes terhadap Tuhan. Ini ibarat anjing yang menuntut diberi makan pada waktu makan, dan mengamuk jika ditunda sebentar saja. Dia mengambil mangkuk makan dengan mulutnya dan membentur-benturkannya ke lantai. Bukankah ini tidak masuk akal? (Ya.) Terkadang, jika engkau memberinya daging selama beberapa hari berturut-turut, tetapi kadang-kadang melewatkan satu hari tanpa daging, anjing yang berwatak binatang mungkin akan membuang makanannya ke lantai, atau mengambil mangkuk itu dengan mulutnya dan membentur-benturkannya ke lantai, memberitahumu bahwa mereka ingin diberi daging, bahwa daginglah yang harus diberikan kepada mereka, dan bahwa tidak memberi mereka daging adalah hal yang tidak dapat diterima. Orang bisa bersikap sama tidak masuk akalnya. Ketika anak-anak mereka menghadapi masalah, mereka mengeluh kepada Tuhan, mengajukan tuntutan terhadap-Nya, dan memprotes-Nya. Bukankah ini mirip dengan perilaku binatang? (Ya.) Binatang tidak memahami kebenaran atau apa yang orang sebut sebagai doktrin dan perasaan manusia. Jika mereka mengamuk atau bertingkah, itu dapat dimengerti. Namun, jika orang-orang memprotes Tuhan dengan cara seperti ini, apakah mereka sedang bersikap masuk akal? Dapatkah mereka dimaafkan? Jika binatang berperilaku seperti ini, orang mungkin akan berkata, "Anjing ini pemarah. Dia bahkan tahu bagaimana cara memprotes; dia cukup cerdas. Kurasa kita tidak boleh meremehkannya." Mereka menganggapnya lucu, dan menganggapnya bukan binatang biasa. Jadi, ketika seekor binatang mengamuk, orang-orang akan menghormatinya. Jika seseorang memprotes Tuhan, haruskah Tuhan juga memberikan penghormatan yang sama kepadanya dan berkata, "Orang ini mengajukan tuntutan seperti itu; dia sama sekali bukan orang biasa!" Apakah Tuhan akan menghormatimu seperti ini? (Tidak.) Jadi, bagaimana Tuhan menggolongkan perilaku ini? Bukankah itu adalah pemberontakan? (Ya.) Apakah orang yang percaya kepada Tuhan tidak mengetahui bahwa perilaku ini salah? Bukankah zaman "Kepercayaan satu orang kepada Tuhan mendatangkan berkat bagi seluruh keluarga" sudah lama berlalu? (Ya, sudah.) Lalu, mengapa orang-orang masih berpuasa dan berdoa seperti ini, memohon tanpa tahu malu kepada Tuhan untuk melindungi dan memberkati anak-anak mereka? Mengapa mereka masih berani memprotes dan menentang Tuhan, dengan berkata, "Jika Engkau tidak melakukannya seperti ini, aku akan terus berdoa; aku akan berpuasa!" Apa yang dimaksud dengan berpuasa? Berpuasa artinya melakukan mogok makan, yang dengan kata lain adalah bertindak tanpa tahu malu dan mengamuk. Ketika orang bertindak tanpa tahu malu terhadap orang lain, mereka mungkin akan mengentak-entakkan kaki mereka dan berkata, "Oh, anakku sudah tiada; aku tidak mau hidup lagi, aku tidak bisa melanjutkan hidup!" Mereka tidak melakukan ini ketika mereka berada di hadapan Tuhan; mereka berbicara dengan sangat sopan, berkata, "Tuhan, kumohon lindungilah anakku dan sembuhkanlah penyakitnya. Tuhan, Engkau adalah tabib ajaib yang menyelamatkan manusia. Engkau mampu melakukan segala hal. Kumohon jaga dan lindungilah mereka. Roh-Mu ada di mana-mana, Engkau benar, Engkau adalah Tuhan yang menunjukkan belas kasihan kepada manusia. Engkau memedulikan dan menyayangi mereka." Apa maksud semua ini? Tidak ada yang salah dengan apa yang mereka katakan, hanya saja ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Sebenarnya, maksud perkataan tersebut adalah jika Tuhan tidak menyelamatkan anakmu dan melindunginya, jika Dia tidak mengabulkan keinginanmu, itu berarti bahwa Dia bukan Tuhan yang pengasih, Dia tidak memiliki kasih, Dia bukan Tuhan yang penuh belas kasihan, dan Dia bukanlah Tuhan. Bukankah benar demikian? Bukankah ini bertindak tanpa tahu malu? (Ya.) Apakah orang yang bertindak tanpa tahu malu menghormati Tuhan sebagai Tuhan yang agung? Apakah mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan? (Tidak.) Orang yang bertindak tanpa tahu malu adalah sama seperti para bajingan. Mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Mereka berani menentang dan memprotes Tuhan, bahkan bertindak secara tidak masuk akal. Bukankah ini sama dengan mencari kematian? (Ya.) Mengapa anak-anakmu begitu istimewa? Ketika Tuhan mengatur atau mengendalikan nasib orang lain, engkau menganggapnya tidak masalah selama itu tidak ada hubungannya denganmu. Namun, menurutmu Dia tidak seharusnya bisa mengendalikan nasib anak-anakmu? Di mata Tuhan, seluruh umat manusia berada di bawah kedaulatan Tuhan, dan tak ada seorang pun yang mampu melepaskan diri dari kedaulatan dan pengaturan yang ditetapkan oleh tangan Tuhan. Mengapa anak-anakmu harus dikecualikan? Kedaulatan Tuhan ditetapkan dan direncanakan oleh-Nya. Bolehkah jika engkau ingin mengubahnya? (Tidak.) Tidak boleh. Oleh karena itu, orang tidak boleh melakukan hal-hal yang bodoh atau tidak masuk akal. Apa pun yang Tuhan lakukan didasarkan pada sebab dan akibat dari kehidupan sebelumnya. Apa hubungannya itu denganmu? Jika engkau menentang kedaulatan Tuhan, berarti engkau sedang mencari kematian. Jika engkau tidak ingin anak-anakmu mengalami hal-hal ini, yang berasal dari kasih sayang, bukan keadilan, belas kasihan, ataupun kebaikan, itu hanya karena pengaruh kasih sayangmu. Kasih sayang adalah juru bicara keegoisan. Kasih sayang yang kaumiliki tidak layak untuk diperlihatkan; engkau bahkan tidak dapat membenarkannya pada dirimu sendiri, tetapi engkau tetap ingin menggunakannya untuk memeras Tuhan. Ada orang-orang yang bahkan berkata, "Anakku sedang sakit, dan jika dia meninggal, aku tidak mau melanjutkan hidup!" Apakah engkau benar-benar berani mati? Cobalah mati kalau begitu! Apakah iman orang-orang seperti itu sejati? Akankah engkau benar-benar berhenti percaya kepada Tuhan jika anakmu meninggal? Apa yang mungkin bisa diubah oleh kematian mereka? Jika engkau tidak percaya kepada Tuhan, baik identitas Tuhan maupun status-Nya tidak akan berubah. Tuhan tetaplah Tuhan. Dia adalah Tuhan bukan karena engkau percaya kepada-Nya, dan Dia tidak berhenti menjadi Tuhan karena ketidakpercayaanmu. Sekalipun semua manusia tidak percaya kepada Tuhan, identitas dan esensi Tuhan tidak akan berubah. Statusnya tidak akan pernah berubah. Dia akan selalu menjadi Pribadi yang berdaulat atas nasib semua manusia dan seluruh alam semesta. Ini tidak ada hubungannya dengan apakah engkau percaya atau tidak. Jika engkau percaya, engkau akan diberi kemurahan. Jika engkau tidak percaya, engkau tidak akan memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan, dan engkau tidak akan memperolehnya. Engkau mengasihi dan melindungi anak-anakmu, engkau memiliki kasih sayang terhadap anak-anakmu, engkau tidak mampu melepaskan mereka, jadi engkau tidak mengizinkan Tuhan melakukan apa pun. Apakah ini masuk akal? Apakah ini sesuai dengan kebenaran, dengan moralitas, atau dengan kemanusiaan? Itu tidak sesuai dengan apa pun, bahkan tidak sesuai dengan moralitas, bukankah demikian? Engkau tidak sedang menyayangi anak-anakmu, engkau sedang melindungi mereka. Engkau berada di bawah pengaruh kasih sayangmu. Engkau bahkan berkata bahwa jika anakmu meninggal, engkau tidak mau lagi melanjutkan hidup. Karena engkau sangat tidak bertanggung jawab terhadap hidupmu sendiri dan tidak menghargai kehidupan yang telah Tuhan berikan kepadamu, jika engkau ingin hidup untuk anak-anakmu, silakan saja dan matilah bersama-sama dengan mereka. Apa pun penyakit yang mereka derita, engkau seharusnya segera terjangkit penyakit yang sama dan mati bersama-sama; atau cari saja seutas tali untuk gantung diri, bukankah itu mudah? Setelah engkau meninggal, akankah engkau dan anak-anakmu menjadi orang yang sama jenisnya? Akankah engkau tetap memiliki hubungan fisik yang sama? Akankah engkau tetap saling menyayangi? Ketika engkau kembali ke dunia lain, engkau akan berubah. Bukankah akan seperti itu? (Ya.) Ketika orang melihat hal-hal dengan mata mereka dan menilai apakah hal-hal itu baik atau buruk, atau apa naturnya, apa yang mereka andalkan? Mereka mengandalkan pemikiran mereka. Hanya dengan melihat hal-hal dengan mata mereka, mereka tidak mampu melihat melampaui dunia materiel; mereka tidak dapat melihat ke alam roh. Apa yang akan orang-orang pikirkan di benak mereka? "Di dunia ini, orang yang melahirkan dan membesarkanku adalah orang yang terdekat dan paling kusayangi. Aku juga mengasihi orang-orang yang melahirkan dan membesarkanku. Kapan pun juga, anakku selalu yang terdekat denganku, dan aku selalu paling menyayangi anakku." Inilah jangkauan pandangan dan cakrawala mental mereka; inilah seberapa "luas"-nya pandangan mental mereka. Apakah ini perkataan yang bodoh atau tidak? (Bodoh.) Bukankah ini kekanak-kanakan? (Kekanak-kanakan.) Sungguh kekanak-kanakan! Anak-anakmu hanya memiliki hubungan darah denganmu dalam kehidupan ini. Bagaimana dengan kehidupan masa lalu mereka? Bagaimana hubungan mereka denganmu pada waktu itu? Ke mana mereka akan pergi setelah mereka mati? Setelah mereka mati, tubuh mereka mengembuskan napas terakhir mereka, jiwa mereka pergi, dan mereka mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Mereka tidak akan lagi mengenalimu, mereka bahkan tidak akan tinggal sedetik pun, mereka benar-benar akan kembali ke dunia lain. Ketika mereka kembali ke dunia lain itu, engkau menangis, engkau merindukan mereka, merasa sedih serta tersiksa, dan berkata, "Oh, anakku sudah tiada, dan aku tidak akan lagi bisa bertemu dengannya!" Apakah orang mati memiliki kesadaran? Mereka tidak memiliki kesadaran tentangmu, mereka tidak merindukanmu sedikit pun. Begitu mereka meninggalkan tubuh mereka, mereka segera menjadi orang ketiga, dan mereka tidak lagi memiliki hubungan denganmu. Bagaimana mereka memandangmu? Mereka berkata, "Wanita tua itu, pria tua itu, siapa yang sedang mereka tangisi? Oh, mereka sedang menangisi mayat. Aku merasa seperti baru saja dipisahkan dari tubuh itu: aku tidak terlalu berat sekarang, dan aku tidak lagi merasakan sakit karena penyakit. Aku bebas." Itulah yang mereka rasakan. Setelah mereka mati dan meninggalkan tubuh mereka, mereka pergi ke dunia lain dan terus ada di sana, menampakkan diri dalam wujud yang berbeda, dan mereka tidak lagi memiliki hubungan apa pun denganmu. Engkau menangis dan merindukan mereka di sini, menderita demi mereka, tetapi mereka tidak merasakan apa pun, mereka tidak mengetahui apa pun. Setelah bertahun-tahun, karena takdir atau kebetulan, mereka mungkin menjadi rekan kerjamu, atau rekan senegaramu, atau mereka mungkin tinggal jauh darimu. Meskipun engkau semua hidup di dunia yang sama, engkau akan menjadi dua orang berbeda yang tidak memiliki hubungan di antaramu. Sekalipun ada orang-orang yang mungkin mengenali bahwa mereka adalah si itu di kehidupan sebelumnya karena keadaan khusus atau karena sesuatu yang istimewa yang dikatakan, tetapi mereka tidak merasakan apa pun saat melihatmu, dan engkau tidak merasakan apa pun saat engkau melihat mereka. Sekalipun mereka adalah anakmu di kehidupan sebelumnya, engkau tidak merasakan apa pun terhadap mereka sekarang. Engkau hanya memikirkan tentang anakmu yang telah meninggal. Mereka juga tidak merasakan apa pun terhadapmu: mereka memiliki orang tua mereka sendiri, keluarga mereka sendiri, dan nama marga yang berbeda. Mereka tidak memiliki hubungan denganmu. Namun, engkau masih di sana merindukan mereka. Kehilangan apakah engkau? Engkau hanya kehilangan tubuh fisik dan nama yang pernah ada hubungannya denganmu melalui darah. Itu hanyalah sebuah gambaran, bayangan yang melekat dalam pemikiran atau benakmu. Itu tidak memiliki nilai yang nyata. Mereka telah bereinkarnasi, berubah menjadi manusia atau makhluk hidup lainnya. Mereka tidak ada hubungannya denganmu. Oleh karena itu, ketika ada orang tua berkata, "Jika anakku meninggal, aku pun tidak mau melanjutkan hidup!" itu hanyalah kebodohan belaka! Masa hidup mereka telah mencapai akhirnya, tetapi mengapa engkau harus berhenti hidup? Mengapa engkau berbicara dengan tidak bertanggung jawab? Masa hidup mereka telah berakhir, Tuhan telah "mengakhiri hidup mereka", dan mereka memiliki tugas lain. Apa urusannya bagimu? Jika engkau memiliki tugas lain, Tuhan juga akan "mengakhiri hidupmu"; tetapi engkau belum memiliki tugas lain, jadi engkau harus tetap hidup. Jika Tuhan ingin engkau hidup, engkau tidak bisa mati. Entah itu menyangkut orang tua, anak-anak, sanak saudara lainnya ataupun orang-orang yang memiliki hubungan darah dalam kehidupan mereka, jika menyangkut perasaan, orang seharusnya memiliki pandangan dan pengertian sebagai berikut: mengenai perasaan yang ada di antara orang, jika mereka memiliki hubungan darah, memenuhi tanggung jawab saja sudah cukup. Selain memenuhi tanggung jawab mereka, orang tidak memiliki kewajiban ataupun kemampuan untuk mengubah apa pun. Oleh karena itu, tidaklah bertanggung jawab jika orang tua berkata, "Jika anak-anak kami sudah tiada, jika kami sebagai orang tua harus menguburkan anak-anak kami sendiri, kami tidak mau melanjutkan hidup." Jika anak-anak benar-benar dikuburkan oleh orang tua mereka, itu hanya dapat dikatakan bahwa waktu mereka di dunia ini hanya sebentar, dan mereka harus pergi. Namun, orang tua mereka masih hidup, jadi mereka harus terus menjalani hidup dengan baik. Tentu saja, berdasarkan kemanusiaan mereka, adalah wajar jika orang memikirkan anak-anak mereka, tetapi mereka tidak boleh membuang-buang waktu yang tersisa untuk merindukan anak-anak mereka yang telah meninggal. Ini bodoh. Oleh karena itu, ketika menangani hal ini, di satu sisi, orang harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, dan di sisi lain, mereka harus memahami sepenuhnya hubungan kekeluargaan. Hubungan di antara manusia sebenarnya bukanlah hubungan yang didasarkan pada ikatan darah dan daging, melainkan itu adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lain yang diciptakan oleh Tuhan. Hubungan seperti ini tidak memiliki ikatan darah dan daging; ini hanyalah hubungan antara dua makhluk hidup yang berdiri sendiri. Jika dipikir dari sudut pandang ini, sebagai orang tua, ketika anak-anakmu mengalami nasib yang cukup malang hingga jatuh sakit atau nyawa mereka berada dalam bahaya, engkau harus menghadapi hal-hal ini dengan benar. Engkau tidak boleh menyerahkan waktumu yang tersisa, tidak boleh melepaskan jalan yang harus kautempuh, ataupun tanggung jawab dan kewajiban yang harus kaupenuhi, karena kemalangan atau kematian anakmu. Engkau harus menghadapi hal ini dengan benar. Jika engkau memiliki pemikiran dan sudut pandang yang benar serta mampu memahami hal-hal ini, engkau akan mampu dengan segera mengatasi keputusasaan, kesedihan, dan kerinduan. Namun, bagaimana jika engkau tidak mampu memahaminya? Maka hal itu mungkin akan menghantuimu seumur hidupmu, hingga hari kematianmu. Namun, jika engkau mampu memahami yang sebenarnya mengenai keadaan ini, musim hidupmu ini akan ada batasnya. Keputusasaan, kesedihan, dan kerinduan ini tidak akan berlangsung selamanya, juga tidak akan menyertaimu di bagian akhir hidupmu. Jika engkau mampu memahami hal ini, engkau akan mampu melepaskan sebagian darinya, yang mana ini merupakan hal yang baik bagimu. Namun, jika engkau tidak mampu memahami ikatan kekeluargaan yang dimiliki bersama dengan anak-anakmu, engkau tidak akan mampu melepaskan, dan ini akan menjadi hal yang kejam bagimu. Tidak ada orang tua yang tanpa emosi ketika anak-anak mereka meninggal dunia. Ketika ada orang tua yang harus menguburkan anak-anak mereka, atau ketika mereka melihat anak-anak mereka berada dalam situasi yang tidak menguntungkan, mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka dengan memikirkan dan mengkhawatirkan anak-anak mereka, terjebak dalam penderitaan. Tak seorang pun dapat melarikan diri darinya: ini adalah bekas luka dan bekas yang tak terhapuskan dalam jiwa. Tidak mudah bagi manusia untuk melepaskan keterikatan emosional ini sementara hidup dalam daging, jadi mereka menderita karenanya. Namun, jika engkau mampu memahami keterikatan emosional dengan anak-anakmu ini, penderitaan itu akan menjadi makin berkurang intensitasnya. Tentu saja, penderitaanmu akan menjadi jauh lebih sedikit; tidak mungkin untuk tidak menderita sama sekali, tetapi penderitaanmu akan jauh berkurang. Jika engkau tidak mampu memahaminya, penderitaan ini akan menjadi sangat kejam terhadapmu. Jika engkau mampu memahaminya, hal ini akan menjadi pengalaman khusus yang menyebabkan trauma emosional yang parah, memberimu penghargaan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan, ikatan keluarga, dan kemanusiaan, serta memperkaya pengalaman hidupmu. Tentu saja, tak ada seorang pun yang ingin memiliki atau menghadapi jenis pengayaan spesifik seperti ini. Tak ada seorang pun yang mau menghadapinya, tetapi jika hal ini muncul, engkau harus menanganinya dengan benar. Jika engkau tidak ingin bersikap kejam terhadap dirimu sendiri, engkau harus melepaskan pemikiran dan sudut pandang tradisional yang buruk dan keliru yang kaumiliki sebelumnya. Engkau harus menghadapi ikatan emosional dan hubungan darahmu dengan cara yang benar, serta memandang kematian anak-anakmu dengan benar. Setelah engkau benar-benar memahami hal ini, engkau akan mampu melepaskan hal itu sepenuhnya, dan hal ini tidak akan lagi menyiksamu. Engkau mengerti, bukan? (Ya, aku mengerti.)
Ada orang-orang yang berkata, "Anak-anak adalah harta yang diberikan Tuhan kepada orang tua, jadi mereka adalah milik pribadi orang tua." Apakah pernyataan ini benar? (Tidak.) Ketika mendengar perkataan ini, ada orang tua yang berkata, "Pernyataan ini benar. Tidak ada yang lain yang menjadi milik kami, yang ada hanyalah anak-anak kami, yang merupakan darah daging kami sendiri. Merekalah yang paling kami sayangi." Apakah pernyataan ini benar? (Tidak.) Apa yang salah dengan pernyataan ini? Silakan jelaskan alasanmu. Apakah pantas memperlakukan anak sebagai milik pribadi? (Tidak, itu tidak pantas.) Mengapa tidak pantas? (Karena hak milik pribadi adalah milik diri sendiri dan bukan milik orang lain. Namun, hubungan antara anak dan orang tua sebenarnya tidak lebih daripada hubungan daging. Hidup manusia berasal dari Tuhan, itu adalah napas yang diberikan oleh Tuhan. Jika ada orang yang meyakini bahwa mereka telah memberi kehidupan kepada anak-anak mereka, berarti cara pandang serta pendirian mereka salah, dan mereka juga sama sekali tidak percaya pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan.) Bukankah demikian? Selain hubungan fisik, di mata Tuhan, hidup anak dan orang tua adalah terpisah. Mereka tidak saling memiliki dan tidak mempunyai hubungan hierarki. Tentu saja, mereka tentu tidak memiliki hubungan memiliki ataupun dimiliki. Hidup mereka berasal dari Tuhan, dan Tuhan berdaulat atas nasib mereka. Sederhananya, anak-anak dilahirkan dari orang tua mereka, orang tua lebih tua daripada anak-anak mereka, dan anak-anak lebih muda daripada orang tua mereka; tetapi, berdasarkan hubungan ini, fenomena yang dangkal ini, orang-orang menganggap bahwa anak-anak adalah aksesori dan milik pribadi orang tua mereka. Ini bukan memandang hal tersebut dari sumbernya, melainkan hanya memandangnya secara luaran, secara daging, dan kasih sayang orang. Oleh karena itu, cara memandang seperti ini sendiri salah, dan perspektif seperti ini juga keliru. Bukankah demikian? (Ya.) Karena anak-anak bukanlah aksesori atau milik pribadi orang tua mereka, melainkan orang-orang yang terpisah, apa pun pengharapan yang orang tua miliki terhadap anak-anak mereka setelah dewasa, pengharapan-pengharapan ini harus tetap menjadi gagasan di dalam pikiran mereka. Itu tidak boleh menjadi kenyataan. Tentu saja, meskipun orang tua memiliki pengharapan terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa, mereka tidak boleh berusaha mewujudkannya, dan mereka juga tidak boleh menggunakannya untuk menepati janji mereka sendiri atau melakukan pengorbanan atau membayar harga apa pun demi pengharapan tersebut. Jadi, apa yang harus dilakukan orang tua? Mereka harus memutuskan untuk melepaskan setelah anak-anak mereka yang sudah dewasa dapat hidup mandiri dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Melepaskan adalah satu-satunya cara yang benar untuk memperlihatkan kepada mereka rasa hormat dan bertanggung jawab atas mereka. Selalu menguasai anak-anak mereka, mengendalikan mereka, atau ingin ikut campur dan terlibat dalam kehidupan serta kelangsungan hidup mereka adalah perilaku yang bodoh dan tidak masuk akal dari pihak orang tua, dan itu adalah tindakan yang kekanak-kanakan. Setinggi apa pun pengharapan orang tua terhadap anak-anak mereka, hal itu tidak dapat mengubah apa pun dan tidak akan mungkin menjadi kenyataan. Oleh karena itu, jika orang tua bijaksana, mereka seharusnya melepaskan semua pengharapan yang realistis atau yang tidak realistis tersebut, mengambil sudut pandang dan sikap yang benar yang berdasarkannya mereka menangani hubungan mereka dengan anak-anak mereka dan memperlakukan setiap tindakan yang diambil oleh anak-anak mereka yang sudah dewasa atau peristiwa yang menimpa mereka. Itulah prinsipnya. Apakah itu tepat? (Ya, itu tepat.) Jika engkau mampu mencapainya, ini membuktikan bahwa engkau menerima kebenaran ini. Jika engkau tidak mampu, dan engkau bersikeras melakukan segala sesuatunya dengan caramu sendiri, menganggap bahwa kasih sayang keluarga adalah hal yang terbesar dan terpenting, serta hal yang paling bermakna di dunia, seolah-olah engkau mampu mengendalikan nasib anak-anakmu dan memegang nasib mereka di tanganmu, silakan saja dan cobalah. Lihatlah apa hasil akhirnya. Jelaslah bahwa hal ini hanya akan berakhir dengan kekalahan yang menyedihkan, tanpa hasil yang baik.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.