Cara Mengejar Kebenaran (15) Bagian Satu

Sudahkah engkau semua mempersekutukan topik-topik yang telah kita bahas belakangan ini di pertemuanmu? (Tuhan, kami telah mempersekutukan topik-topik ini selama pertemuan kami.) Apa hasil dari persekutuanmu? Apakah engkau memperoleh penemuan atau pemahaman yang baru? Apakah topik-topik yang telah kita persekutukan ini ada dalam kehidupan orang sehari-hari? (Semua itu ada. Setelah beberapa kali mendengarkan persekutuan yang Tuhan sampaikan tentang topik-topik ini, aku mendapati bahwa didikan orang tua serta pembelajaran dan pembiasaan yang keluarga tanamkan dari generasi ke generasi telah merusak kami sedemikian dalamnya. Sejak kecil, orang tua kami telah sedikit demi sedikit mengindoktrinasikan pemikiran ini dalam diri kami, seperti pepatah, "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang". Setelah pemikiran ini terindoktrinasi dalam diriku, aku yakin bahwa agar tidak ditindas dan diremehkan, orang haruslah lebih unggul dan lebih menonjol daripada orang lain dalam kehidupan ini. Dahulu, kukira pemikiran yang orang tua kami ajarkan ini adalah demi kebaikan dan perlindungan kami sendiri. Melalui beberapa kali persekutuan dan uraian yang Tuhan sampaikan, akhirnya aku sadar bahwa pemikiran ini negatif dan merupakan cara yang Iblis gunakan untuk merusak manusia. Pemikiran ini makin menjauhkan kami dari Tuhan dan membuat kami makin terjerumus dalam perusakan Iblis, membuat kami makin jauh dari keselamatan.) Singkatnya, sangatlah penting untuk mempersekutukan topik-topik ini, bukan? (Ya.) Setelah mempersekutukan hal-hal ini beberapa kali, orang memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pemikiran dan sudut pandang yang keluarga indoktrinasikan dalam diri mereka, dan mereka memahaminya dengan lebih akurat. Setelah mempersekutukan hal-hal ini, bukankah hubungan orang dengan keluarga dan orang tua mereka akan menjadi makin jauh? (Tidak. Sebelumnya, aku selalu merasa bahwa orang tuaku telah menunjukkan kebaikan mereka terhadapku, tetapi setelah mendengarkan persekutuan yang Tuhan sampaikan, aku sadar bahwa sudah menjadi tugas orang tuaku untuk melahirkan dan membesarkanku. Selain itu, pemikiran yang telah mereka indoktrinasikan dalam diriku sejak usia dini telah merusakku. Setelah menyadari hal ini, aku tidak lagi terlalu dikekang oleh keterikatan kasih sayang dengan mereka.) Yang terutama dan terpenting, dalam hal pemikirannya, kini orang telah memiliki pemahaman yang akurat tentang tanggung jawab orang tua dan kebaikan yang orang tua tunjukkan dengan membesarkan mereka; mereka tidak lagi mengandalkan perasaan kasih sayang, sikap yang gampang marah, atau ikatan darah jasmaniah ketika berinteraksi dengan orang tua mereka. Sebaliknya, mereka mampu memperlakukan keluarga dan orang tua mereka secara rasional dari sudut pandang dan posisi yang benar. Dengan cara ini, orang mengalami perubahan yang signifikan dalam cara mereka memperlakukan masalah ini, dan perubahan ini memungkinkan mereka untuk melakukan lompatan besar dalam hal jalan masuk kehidupan mereka dan tuntutan Tuhan terhadap mereka. Jadi, mempersekutukan topik-topik ini bermanfaat dan perlu bagi manusia, karena semua ini adalah hal-hal yang manusia butuhkan dan hal-hal yang kurang dalam diri mereka.

Topik-topik yang sebelumnya kita persekutukan tentang pembelajaran dan pembiasaan yang keluarga tanamkan terutama berkisar antara lain pada tujuan dan prinsip tentang cara berperilaku, metode dan cara berinteraksi dengan orang lain, serta pandangan orang tentang kehidupan dan kelangsungan hidup, serta aturan dan cara bertahan hidup. Semua ini adalah topik yang berkaitan dengan pemikiran yang ditanamkan dalam diri orang, serta pemikiran dan sudut pandang mereka. Secara keseluruhan, tak satu pun dari berbagai pemikiran dan sudut pandang yang keluarga dan orang tua indoktrinasikan ini yang positif, dan tak satu pun darinya yang benar-benar dapat menuntun orang untuk menempuh jalan yang benar atau menolong mereka untuk memiliki pandangan hidup yang benar, ataupun memampukan mereka untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajiban mereka sebagai makhluk ciptaan di hadirat Pencipta mereka. Semua yang orang tua dan keluarga ajarkan kepadamu adalah untuk menuntunmu ke arah dunia dan tren-tren jahatnya. Tujuan mereka menanamkan pemikiran dan sudut pandang ini adalah untuk membantumu agar mampu berintegrasi dengan lebih lancar ke tengah masyarakat dan tren-tren jahat, agar engkau lebih mampu menyesuaikan diri dengan tren-tren jahat dan berbagai tuntutan masyarakat. Sekalipun ajaran-ajaran ini mungkin memberimu cara dan metode perlindungan tertentu, serta cara tertentu untuk mendapatkan status, reputasi, kenikmatan materiel yang lebih baik, dan hal-hal lainnya di tengah masyarakat dan di antara kelompok masyarakat, pemikiran yang keluargamu indoktrinasikan dalam dirimu ini telah menuntunmu ke dalam satu tren jahat ke tren jahat lainnya, menyebabkanmu makin terjerumus dalam dunia, masyarakat, dan tren-tren jahat, sampai engkau tidak lagi mampu melepaskan dirimu. Pemikiran itu membuatmu menghadapi masalah demi masalah dan berulang kali menempatkanmu dalam dilema, membuatmu tidak yakin tentang bagaimana cara menghadapi dunia manusia dan bagaimana menjadi orang yang tulus, orang yang hidup dalam terang, orang yang jujur, baik hati, dan memiliki rasa keadilan. Jadi, pembelajaran dan pembiasaan keluargamu tidak memungkinkanmu untuk hidup di dunia ini dengan lebih bermartabat, berkarakter, dan memiliki keserupaan dengan manusia. Sebaliknya, semua itu menyebabkanmu hidup di tengah berbagai konflik dan pergumulan yang rumit, di tengah berbagai hubungan antarpribadi yang rumit, dan membuatmu berada dalam banyak keterikatan, belenggu dan bahkan kekacauan duniawi. Ketika engkau meminta nasihat orang tuamu dan mencurahkan isi hatimu kepada mereka tentang semua ini, mereka akan menggunakan berbagai taktik untuk menasihatimu tentang bagaimana cara menjadi lebih licik, curang, lihai, dan sulit ditebak saat engkau hidup di tengah masyarakat, bukannya menunjukkan kepadamu arah yang benar, bukannya membantumu untuk melepaskan semua hal ini dan membebaskan dirimu, datang ke hadapan Sang Pencipta dan tunduk pada pengaturan-Nya, serta menyadari dengan jelas bahwa takdir manusia dan segala sesuatu tentang mereka berada di tangan Tuhan, bahwa mereka harus tunduk pada setiap tuntutan yang berasal dari Tuhan, kedaulatan dan pengaturan-Nya. Seperti inilah keadaan hidup orang yang ke dalam dirinya telah ditanamkan berbagai pemikiran ini oleh keluarga mereka. Singkatnya, entah pemikiran yang keluargamu tanamkan menekankan tentang ketenaran atau keuntungan, tentang bersaing dengan orang lain atau bersikap ramah kepada mereka, apa pun fokusnya, pada akhirnya pemikiran itu hanya membuat cara, metode dan aturanmu untuk bertahan hidup di dunia manusia menjadi makin rumit, jahat, licik, dan kejam, bukannya membuatmu makin jujur, baik hati, dan lurus, atau membantumu makin memahami cara untuk tunduk pada pengaturan Sang Pencipta. Jadi, pembelajaran dan pembiasaan keluargamu hanya dapat menjauhkanmu dari Tuhan, dari kebenaran, dan dari hal-hal positif, membuatmu tidak yakin tentang bagaimana hidup dengan cara yang sudah seharusnya manusia jalani, dengan cara yang bermartabat. Selain itu, pemikiran yang kauperoleh dari pembelajaran dan pembiasaan keluargamu akan membuatmu makin mati rasa, tumpul, atau dalam bahasa sehari-harinya, makin tidak sensitif. Pada awalnya, berbohong kepada rekan kerja, teman sekelas dan teman-temanmu sudah membuat wajahmu merah padam, jantungmu berdebar kencang, dan hati nuranimu merasa bersalah. Seiring berjalannya waktu, reaksi hati nurani ini semuanya akan memudar: wajahmu tidak lagi memerah, jantungmu tidak lagi berdebar kencang, dan hati nuranimu tidak lagi mengganggumu. Agar dapat bertahan hidup, engkau akan menggunakan segala cara, bahkan menipu orang-orang terdekatmu, termasuk orang tuamu, saudara kandungmu, dan sahabatmu. Engkau akan mencari keuntungan dari mereka untuk meningkatkan kehidupanmu sendiri serta meningkatkan kehormatan dan kenikmatanmu—seperti inilah mati rasa itu. Pada awalnya, engkau mungkin sedikit menyalahkan dirimu sendiri dan hati nuranimu mungkin sedikit gemetar. Seiring berjalannya waktu, sensasi ini akan lenyap, dan engkau akan menggunakan alasan yang lebih meyakinkan untuk menenangkan dirimu sendiri dengan berkata, "Manusia itu memang seperti ini. Kita tidak boleh berhati lembut di dunia ini. Berhati lembut kepada orang lain berarti kejam pada diri kita sendiri. Di dunia ini, yang lemah akan menjadi mangsa yang kuat. Yang kuat akan maju dan yang lemah akan binasa, pemenang menjadi raja dan pecundang menjadi kriminal. Jika kita berhasil, tak seorang pun akan menyelidiki bagaimana cara kita berhasil, tetapi jika kita gagal, kita tidak akan punya apa-apa lagi." Pada akhirnya, orang akan menggunakan pemikiran dan sudut pandang ini untuk meyakinkan diri mereka sendiri, menjadikannya landasan bagi mereka dalam mengejar segala sesuatu, dan tentu saja, sebagai cara bagi mereka untuk mencapai tujuan. Jadi, berada dalam keadaan apakah engkau sekarang ini? Apakah engkau sudah mencapai titik mati rasa, atau belum? Seandainya engkau akan melakukan suatu bisnis, dan bisnis ini berkaitan dengan masa depanmu, kualitas kehidupanmu, dan reputasimu di tengah masyarakat, jika cara-caramu cukup licik dan engkau mampu menipu siapa pun, maka engkau akan menjalani kehidupan yang lebih unggul daripada orang lain, engkau akan memiliki banyak uang, dan engkau tidak perlu lagi menuruti kemauan siapa pun. Apa yang akan kaulakukan? Akankah engkau menjadi sangat mati rasa, sangat tak punya perasaan, sehingga engkau mampu menipu siapa pun dan menghasilkan uang dari siapa pun? (Mungkin aku akan seperti itu.) Engkau mungkin akan seperti itu. Ini harus berubah; ini adalah watak rusak yang ada dalam diri manusia. Ketika kemanusiaan tidak ada dalam diri seseorang, yang tersisa hanyalah kehidupan yang dijalani berdasarkan watak rusak orang tersebut, serta berbagai pemikiran dan sudut pandang yang Iblis indoktrinasikan dalam dirinya. Tanpa hati nurani, nalar dan rasa malu, kehidupan orang hanya tinggal cangkang, bejana yang kosong, dan telah kehilangan nilainya. Jika engkau masih memiliki sedikit rasa malu, dan ketika engkau berbohong, menipu, atau menyakiti orang lain, engkau masih mampu memilih kepada siapa engkau akan melakukannya, engkau tidak menyakiti sembarang orang, itu berarti engkau masih memiliki sedikit hati nurani dan kemanusiaan. Namun, jika engkau mampu menipu atau menyakiti siapa pun tanpa batasan, berarti engkau benar-benar manusia Iblis sepenuhnya. Jika engkau berkata, "Aku tidak sanggup menipu orang tua, kerabat, teman, orang-orang yang lugu, dan terutama saudara-saudariku di rumah Tuhan, dan aku tidak sanggup menyalahgunakan uang persembahan milik Tuhan," berarti engkau masih memiliki sedikit batasan moral, dan engkau masih dapat dianggap orang yang memiliki sedikit hati nurani. Namun, jika hati nurani dan batasan yang sekecil ini pun tidak kaumiliki, berarti engkau tidak layak disebut manusia. Jadi sudah mencapai titik apakah engkau semua? Apakah engkau semua memiliki batasan? Jika engkau memiliki kesempatan atau kebutuhan nyata, sanggupkah engkau menipu orang tua, saudara kandung, dan teman-teman terdekatmu? Mampukah engkau menipu saudara-saudarimu, mengeksploitasi mereka, atau bahkan menyalahgunakan uang persembahan milik Tuhan? Jika kesempatan semacam itu diberikan kepadamu, dan tak seorang pun akan mengetahuinya, mampukah engkau melakukannya? (Kini, rasanya aku tidak mampu lagi melakukan hal seperti itu.) Mengapa engkau tidak mampu lagi melakukannya? (Karena aku takut akan Tuhan, aku memiliki sedikit hati yang takut akan Tuhan, dan juga karena hati nuraniku tidak mengizinkannya.) Sikapmu adalah engkau merasa takut di dalam hatimu, engkau memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan hati nuranimu tidak akan mengizinkannya. Silakan yang lain menambahkan. Apakah engkau semua memiliki sikap tertentu mengenai hal ini? Jika tidak, jika engkau tidak pernah memikirkan masalah ini dan tidak merasakan apa pun ketika melihat orang lain melakukannya, engkau berada dalam bahaya. Jika engkau melihat seseorang melakukan hal semacam ini dan tidak merasakan kebencian, tidak memiliki sikap tertentu terhadapnya, dan merasa mati rasa, berarti engkau tidak ada bedanya dengan mereka dan engkau mungkin akan bertindak serupa. Namun, jika sikapmu terhadap hal ini jelas, jika engkau mampu membenci dan menegur orang-orang yang seperti itu, berarti engkau mungkin tidak akan melakukan tindakan tersebut. Jadi, bagaimana sikapmu? (Aku harus memiliki sedikit hati yang takut akan Tuhan. Uang persembahan milik Tuhan harus dianggap kudus dan sama sekali tidak boleh disalahgunakan atau diambil untuk keperluan pribadi.) Uang persembahan tidak boleh diambil untuk keperluan pribadi: ini dilakukan karena takut akan hukuman. Namun, bagaimana mengenai masalah lainnya? Jika engkau terlibat dalam skema piramida, sanggupkah engkau mengambil keuntungan dari teman-teman terdekatmu, menipu mereka dengan perkataan yang muluk-muluk, dan menyuruh mereka bergabung, mendapatkan keuntungan dan menghasilkan uang dari hal ini? Sanggupkah engkau melakukan ini kepada teman-teman terdekatmu, kerabatmu, bahkan kepada orang tua atau saudara-saudarimu? Jika sulit bagimu untuk menjawabnya, maka ketika kaukatakan bahwa engkau tidak akan mengambil uang persembahan untuk keperluan pribadi, bukankah hal itu mungkin saja kaulakukan, bukan? Silakan yang lain menyampaikan pendapatnya. (Di satu sisi, kami harus memahami watak benar Tuhan dalam hal ini. Uang persembahan milik Tuhan tidak pernah boleh disentuh. Di sisi lain, kami merasa jika orang mampu melakukan hal seperti ini, berarti mereka tidak memiliki kemanusiaan. Setidaknya, dasar terendah yang harus orang miliki adalah apa yang diizinkan oleh hati nurani mereka.) Sikapmu adalah bahwa melakukan hal-hal seperti ini berarti tidak memiliki kemanusiaan dan orang harus bertindak sesuai dengan apa yang diizinkan oleh hati nurani mereka. Yang lain, ada yang mau menambahkan? (Menurutku, sebagai manusia, sekalipun orang tidak percaya kepada Tuhan, jika mereka adalah manusia di dunia ini yang memiliki hati nurani dan landasan moral, mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang merugikan keluarga mereka sendiri. Kini karena kami telah percaya kepada Tuhan dan memahami beberapa kebenaran, jika ada orang yang masih mampu melakukan hal-hal yang merugikan saudara-saudari, merugikan teman, atau menyalahgunakan uang persembahan Tuhan, maka orang tersebut bahkan lebih buruk daripada orang tidak percaya. Selain itu, terkadang orang mungkin mengungkapkan pemikiran dan gagasan tertentu, tetapi setelah mereka memikirkan esensi watak Tuhan, dan menyadari bahwa meskipun tak seorang pun melihat mereka, atau tak seorang pun mengetahui tindakan ini, Tuhan tetap memeriksa segala sesuatunya, sehingga mereka pun tidak berani melakukan hal-hal tersebut. Itu berarti mereka masih memiliki sedikit hati yang takut akan Tuhan.) Di satu sisi, orang yang melakukan hal ini memperlihatkan bahwa dia tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan; di sisi lain, orang yang mampu melakukan hal ini tidak memiliki kemanusiaan yang paling dasar sekalipun. Ini karena sebagai manusia, meskipun engkau tidak percaya kepada Tuhan, engkau tidak boleh melakukan tindakan semacam itu. Ini adalah kualitas yang sudah seharusnya dimiliki orang yang berhati nurani dan memiliki kemanusiaan. Menipu, merugikan, dan mencuri adalah hal-hal yang pada dasarnya tidak dilakukan oleh orang yang baik dan normal. Bahkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan pun masih memiliki batasan tertentu dalam cara mereka berperilaku, apalagi engkau yang percaya kepada Tuhan dan telah mendengar begitu banyak khotbah: jika engkau masih mampu melakukan hal-hal ini, berarti engkau sudah tidak mungkin dapat diperbaiki. Orang semacam ini adalah orang yang tidak memiliki kemanusiaan. Mereka adalah setan. Engkau telah mendengarkan begitu banyak khotbah, tetapi engkau masih mampu melakukan segala macam perbuatan jahat yang berkaitan dengan mencurangi dan menipu. Inilah yang dimaksud dengan pengikut yang bukan orang percaya. Siapakah pengikut yang bukan orang percaya itu? Mereka adalah orang yang tidak percaya akan pengamatan Tuhan atau tidak percaya bahwa Dia benar. Jika engkau tidak percaya akan pengamatan Tuhan, bukankah itu berarti engkau tidak percaya akan keberadaan-Nya? Engkau berkata, "Tuhan sedang mengawasiku, tetapi di manakah Tuhan? Mengapa aku belum pernah melihat-Nya? Mengapa aku tidak merasakan Dia? Aku telah bertahun-tahun mencurangi dan menipu orang; mengapa aku belum pernah dihukum? Aku masih menjalani kehidupan yang lebih nyaman daripada orang lain." Ini adalah salah satu aspek perilaku pengikut yang bukan orang percaya. Aspek lainnya adalah sebanyak apa pun kebenaran yang dipersekutukan kepada mereka, mereka menolak semuanya. Mereka tidak pernah menerima kebenaran, jadi apa yang mereka terima? Mereka menerima pemikiran dan sudut pandang yang menguntungkan mereka. Apa pun yang menguntungkan mereka dan melindungi kepentingan mereka, itulah yang mereka lakukan. Mereka hanya percaya pada kepentingan pribadi yang sesaat, bukan pada pengamatan Tuhan, bukan pada konsep pembalasan. Inilah yang dimaksud dengan pengikut yang bukan orang percaya. Apa gunanya percaya kepada Tuhan bagi pengikut yang bukan orang percaya? Para pengikut yang bukan orang percaya di rumah Tuhan memiliki satu ciri: melakukan kejahatan. Namun, kita tidak akan membahas kesudahan akhir orang-orang ini; mari kita kembali ke topik yang sedang kita persekutukan.

Berbagai pemikiran yang keluarga tanamkan dan indoktrinasikan dalam diri orang tidak dimaksudkan untuk membawa mereka ke hadapan Tuhan, dan keluarga mereka juga tidak mengindoktrinasikan pemikiran yang positif ke dalam diri mereka. Sebaliknya, keluarga mereka mengindoktrinasikan berbagai pemikiran yang negatif, cara, prinsip dan metode berperilaku yang negatif, yang pada akhirnya akan menuntun orang untuk menempuh jalan yang akan sangat mereka sesali. Singkatnya, berbagai pemikiran yang keluarga indoktrinasikan dalam diri orang tidak dapat memenuhi bahkan standar terdasar kemanusiaan, nalar, dan hati nurani yang seharusnya manusia miliki. Jika orang memiliki sedikit saja hati nurani dan nalar, maka hanya yang sedikit itulah yang masih tersisa dan yang belum dirusak atau dikikis oleh Iblis. Berbagai cara dan metode mereka dalam berperilaku yang selebihnya adalah berasal dari keluarga mereka, dan bahkan dari masyarakat. Oleh karena itu, sebelum orang diselamatkan, apa pun pemikiran atau sudut pandang yang keluarga mereka tanamkan dalam diri mereka, apa pun itu, semua itu bertentangan dengan apa yang Tuhan ajarkan kepada manusia. Semua itu tidak dapat membuat mereka memahami kebenaran, juga tidak dapat menuntun mereka untuk menempuh jalan keselamatan; semua itu hanya dapat menuntun mereka untuk menempuh jalan kehancuran. Dengan demikian, ketika orang datang ke rumah Tuhan, berapa pun usia mereka, didikan apa pun yang telah mereka terima, apa pun latar belakang keluarga mereka, dan seluhur apa pun mereka menganggap status mereka, mereka harus memulai dari awal untuk belajar cara berperilaku, cara berinteraksi dengan orang lain, cara menangani berbagai hal, cara memperlakukan berbagai orang dan segala sesuatu. Proses belajar ini mencakup menerima dan memahami berbagai pemikiran positif yang sesuai dengan kebenaran dan sudut pandang dari Tuhan, serta prinsip tentang cara menerapkan dan menangani berbagai hal. Hasilnya hanya akan berdasarkan penerimaanmu akan kebenaran. Jika engkau tidak menerima kebenaran, pemikiran dan sudut pandangmu yang semula tetap tidak akan berubah. Karena engkau tidak menerima pemikiran dan sudut pandang yang positif dan benar yang berasal dari Tuhan, prinsip, cara dan metodemu dalam berinteraksi dengan orang lain akan tetap sama dan tidak berubah. Orang mulai belajar cara menjadi manusia sejati, manusia yang normal, manusia yang bernalar dan berhati nurani pada saat mereka mulai menerima pemikiran dan sudut pandang yang positif, kebenaran dan ajaran Tuhan. Ada orang-orang yang berkata, "Aku telah percaya kepada Tuhan selama sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun, dan aku belum pernah menerima satu pun pemikiran atau sudut pandang dari Tuhan, dan aku juga belum pernah menerima kebenaran apa pun dari firman Tuhan." Ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kepercayaanmu kepada Tuhan tidak sungguh-sungguh, bahwa engkau masih tidak tahu apa yang dimaksud dengan kebenaran, dan engkau belum belajar cara berperilaku. Jika engkau berkata, "Dari sejak aku mulai percaya kepada Tuhan, aku secara resmi mulai menerima ajaran Tuhan tentang berbagai tuntutan terhadap manusia, serta pemikiran, sudut pandang, prinsip, dan perkataan yang seharusnya manusia miliki," itu berarti engkau telah belajar cara untuk menjadi manusia sejati dari sejak engkau mulai percaya kepada Tuhan, dan dari sejak engkau mulai belajar cara menjadi manusia sejati, engkau mulai menempuh jalan keselamatan. Dari sejak saat engkau mulai menerima pemikiran dan sudut pandang yang berasal dari Tuhan, pada saat itulah engkau mulai menempuh jalan menuju keselamatan, bukankah benar demikian? (Ya.) Jadi, apakah engkau semua sudah memulainya? Apakah engkau sudah memulainya, belum memulainya, ataukah sudah memulainya sejak lama? (Melalui persekutuan dan uraian yang Tuhan sampaikan selama dua tahun terakhir ini tentang pemikiran dan sudut pandang keliru yang ada dalam diri manusia, termasuk pembelajaran dan pembiasaan keluarga, dan sebagainya, aku telah mulai merenungkan diriku sendiri dan perlahan-lahan aku menolak falsafah Iblis yang selama ini kupegang, dan merenungkan bagaimana seharusnya aku berusaha mengejar firman Tuhan. Sebelumnya, aku tidak banyak memperhatikan perlunya melakukan introspeksi yang sedalam ini.) Pernyataan ini cukup realistis. Engkau baru memulainya dalam dua tahun terakhir ini; sulit bagimu untuk menentukan kapan tepatnya tahun atau hari engkau memulainya, tetapi kapan pun itu, engkau memulainya dalam satu atau dua tahun terakhir ini. Ini cukup objektif. Bagaimana yang lainnya? (Sebelumnya, aku tidak benar-benar memikirkan tentang bagaimana berusaha mengubah pemikiran dan sudut pandang yang keluargaku tanamkan. Baru-baru ini, setelah mendengarkan persekutuan Tuhan tentang hal ini, pemikiranku telah secara berangsur-angsur mulai sedikit berubah, tetapi aku belum secara khusus berfokus mengejar perubahan di bidang ini.) Kesadaranmu telah menjadi makin perseptif. Dalam kehidupanmu sehari-hari, jika engkau terus-menerus mencari dan masuk lebih dalam lagi, jika engkau mampu lebih teliti, dan tajam dalam hal-hal tertentu, jika engkau masuk ke dalamnya dengan lebih akurat, maka akan ada harapan bagimu untuk mengalami perubahan. Bukankah itu yang akan terjadi? (Ya.) Jika engkau memiliki harapan untuk melepaskan pemikiran dan sudut pandang lamamu, kemudian mampu memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak dengan sikap dan sudut pandang yang benar, maka dengan cara ini, engkau akan mampu memperoleh keselamatan. Dalam jangka panjang, engkau akan mampu memperoleh keselamatan, tetapi sebenarnya pada saat ini, engkau bisa cocok untuk melaksanakan tugasmu, dan sangat cocok untuk menjadi pemimpin dan pekerja; tetapi ini tergantung apakah engkau sendiri bersedia berupaya keras untuk setiap bagian dari kebenaran, dan apakah engkau bersedia berupaya dan membayar harga bagi hal-hal positif dan berbagai hal yang berkaitan dengan prinsip. Jika engkau hanya ingin mengubah diri dalam kesadaranmu tetapi tidak mengerahkan upaya dan tidak serius dalam hal kebenaran dalam kehidupanmu sehari-hari, jika engkau tidak memiliki hati yang haus akan hal-hal positif, maka kesadaran ini akan memudar dan hilang dengan cepat. Setiap pemikiran dan sudut pandang yang berkaitan dengan setiap topik yang Kupersekutukan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nyata manusia. Ini bukanlah semacam teori atau slogan; ini adalah tentang seperti apa pemikiran dan sudut pandangmu dalam menghadapi segala sesuatu dalam kehidupanmu sehari-hari. Pemikiran dan sudut pandangmu menentukan arah yang kautuju saat engkau mengambil tindakan. Jika pemikiran dan sudut pandangmu positif, maka cara dan prinsipmu dalam menangani segala sesuatu akan cenderung positif, dan hasil dari cara penanganan yang seperti itu akan relatif baik dan sesuai dengan maksud Tuhan. Sedangkan jika pemikiran dan sudut pandangmu berlawanan dengan kebenaran dan hal-hal positif, atau bertentangan dengan hal-hal ini, berarti pendorong dalam caramu menangani sesuatu akan negatif, dan hasil akhir penanganan masalah yang seperti itu pasti tidak akan baik. Sebanyak apa pun harga yang kaubayarkan atau sebanyak apa pun pemikiran yang kaukerahkan untuk menangani masalah ini, apa pun niatmu, bagaimana Tuhan akan memandang hasilnya? Bagaimana Tuhan akan menggolongkan masalah ini? Jika Tuhan menggolongkan masalah ini sebagai sesuatu yang mengacaukan, menyebabkan gangguan, kerusakan, atau menyebabkan kerugian di dalam rumah Tuhan, maka tindakanmu itu adalah jahat. Jika perbuatan jahatmu ringan, itu mungkin akan menyebabkanmu mengalami hajaran, penghakiman, teguran, dan pemangkasan, sedangkan perbuatan jahat yang lebih berat akan mengakibatkanmu mendapat hukuman. Jika engkau tidak mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, sebaliknya engkau justru cenderung bertindak berdasarkan pemikiran dan sudut pandang keliru orang-orang tidak percaya, mendasarkan tindakanmu pada hal-hal ini, maka upayamu akan sia-sia. Sekalipun engkau telah banyak membayar harga dan menginvestasikan banyak upaya, hasil akhirmu akan tetap sia-sia. Bagaimana Tuhan akan memandang masalah ini? Bagaimana Dia menggolongkannya? Bagaimana Dia menanganinya? Setidaknya, perbuatanmu itu tidak baik, tidak menjadi kesaksian bagi Tuhan atau tidak memuliakan Dia, dan harga yang telah kaubayarkan serta upaya mental yang telah kaukerahkan tidak akan diingat; semua itu sia-sia. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Sebelum engkau melakukan apa pun, luangkan waktu untuk memikirkannya dengan saksama, lebih banyaklah bersekutu dengan orang lain, berusahalah memahami prinsip sebelum bertindak, dan jangan bertindak dengan sikap yang gampang marah atau impulsif, yang didorong oleh keegoisan dan keinginanmu sendiri. Apa pun hasilnya, pada akhirnya, engkau harus menanggungnya sendiri, dan apa pun hasilnya, akan ada keputusan dari Tuhan. Jika engkau berharap bahwa tindakanmu tidak sia-sia, berharap bahwa semua itu akan diingat oleh Tuhan, atau yang lebih baik lagi, bahwa semua itu akan menjadi perbuatan baik yang diperkenan oleh Tuhan, maka engkau harus lebih sering mencari prinsip. Jika engkau tidak memedulikan hal-hal ini, jika tidak masalah bagimu apakah perbuatanmu itu baik atau apakah Tuhan berkenan atau tidak, dan engkau bahkan tidak peduli apakah engkau akan dihukum atau tidak, tetapi berpikir, "Tidak masalah, bagaimanapun juga, aku tidak akan dapat melihat atau merasakannya sekarang," jika engkau memiliki pemikiran dan sudut pandang seperti ini, maka ketika engkau bertindak, engkau tidak akan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Engkau akan bersikap lancang, tidak terkendali, dan ceroboh, tidak peduli atau tidak menahan diri untuk melakukan apa pun. Tanpa hati yang takut akan Tuhan, arah yang kauambil ketika engkau bertindak kemungkinan besar akan menyimpang. Berdasarkan natur dan naluri manusia, hasil akhirnya kemungkinan besar adalah tindakanmu itu bukan saja tidak akan diperkenan atau diingat oleh Tuhan, melainkan akan menjadi kekacauan, gangguan, dan perbuatan jahat. Jadi, cukup jelas akan seperti apa kesudahan akhirmu, dan bagaimana itu akan diperlakukan dan ditangani oleh Tuhan. Oleh karena itu, sebelum engkau melakukan apa pun, sebelum engkau menangani masalah apa pun, engkau harus terlebih dahulu merenungkan apa yang kauinginkan, pikirkan secara menyeluruh akan seperti apa hasil akhir dari masalah ini, baru kemudian engkau melanjutkannya. Jadi, berkaitan dengan apakah masalah ini? Masalah ini berkaitan dengan sikapmu dan prinsip yang kauikuti ketika engkau melakukan apa pun. Sikap yang terbaik adalah lebih sering mencari prinsip dan tidak mendasarkan penilaianmu pada perasaan, kesukaan, niat, keinginan, atau kepentingan sesaatmu; sebaliknya, engkau harus lebih sering mencari prinsip, lebih sering berdoa dan mencari di hadapan Tuhan, lebih sering membawa masalah ke hadapan saudara-saudari, serta bersekutu dan mencari bersama saudara-saudari yang bekerja bersamamu untuk melaksanakan tugas. Perolehlah prinsip-prinsipnya sebelum engkau bertindak; jangan bertindak impulsif, jangan bingung. Mengapa engkau percaya kepada Tuhan? Engkau tidak percaya kepada Tuhan untuk mendapatkan makanan, menghabiskan waktumu, mengikuti perkembangan zaman, atau memuaskan kebutuhan rohanimu. Engkau percaya kepada Tuhan agar dapat diselamatkan. Jadi, bagaimana engkau dapat diselamatkan? Ketika engkau melakukan apa pun, semua itu harus kaukaitkan dengan keselamatan, dengan tuntutan Tuhan, dan dengan kebenaran, bukan?

Mengenai topik melepaskan pembelajaran dan pembiasaan keluarga, persekutuan kita sebelumnya berkaitan dengan aturan dan berbagai pemikiran dan sudut pandang yang ada kaitannya dengan cara berperilaku, yang merupakan pemikiran yang keluarga tanamkan dalam diri orang. Namun, selain menanamkan berbagai macam ajaran dan pengaruh dalam diri orang, keluarga juga menanamkan banyak pembelajaran dan pembiasaan lainnya. Artinya, pembelajaran dan pembiasaan keluarga mencakup lebih dari sekadar menanamkan pemikiran. Selain dari apa yang baru saja kita bahas, pembelajaran dan pembiasaan tersebut juga mencakup hal rohani, takhayul, dan tradisi, yang akan kita persekutukan. Hal-hal ini berkaitan dengan gaya hidup, adat istiadat, kebiasaan, dan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai pembelajaran dan pembiasaan keluarga dalam kehidupan orang sehari-hari, kita sekarang akan beralih ke pembahasan tentang tradisi. Apa sajakah contoh tradisi? Sebagai contoh, ada keluarga yang mungkin berpaut pada hal-hal khusus, pepatah, atau pantangan tertentu yang berkaitan dengan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ini berkaitan dengan tradisi? (Ya.) Tradisi sedikit berkaitan dengan takhayul, jadi kita akan membahas keduanya secara bersamaan. Ada aspek-aspek dalam tradisi yang dapat dianggap sebagai takhayul, dan ada hal-hal dalam takhayul yang tidak terlalu bersifat tradisional dan hanya merupakan kebiasaan atau cara hidup masing-masing keluarga atau kelompok etnis. Mari kita mulai dengan menelusuri apa sajakah yang termasuk tradisi dan takhayul. Engkau semua sudah terbiasa dengan banyak tradisi dan takhayul karena ada banyak aspek dalam kehidupanmu sehari-hari yang berkaitan dengannya. Silakan sebutkan beberapa darinya. (Meramal nasib, membaca garis tangan, dan mengundi.) Mengundi, meramal nasib, meramal masa depan, membaca garis tangan, membaca wajah, meramal nasib melalui waktu kelahiran, dan pemanggilan arwah—hal-hal ini tidak disebut takhayul; hal-hal ini merupakan kegiatan yang bersifat takhayul. Yang dimaksud dengan takhayul adalah penjelasan spesifik yang terdapat dalam kegiatan-kegiatan ini. Sebagai contoh, memeriksa kalender sebelum meninggalkan rumah untuk menentukan kegiatan apa yang akan membawa kemujuran atau kesialan pada hari ini, apakah semua kegiatan akan membawa sial, apakah pindah rumah, menikah, dan mengatur pemakaman semuanya akan membawa sial, atau apakah semua kegiatan itu akan mendatangkan kemujuran jika dilakukan pada hari itu—inilah yang dimaksud dengan takhayul. Mengertikah engkau? (Ya.) Sebutkan beberapa contoh lainnya. (Keyakinan bahwa kedutan di mata kiri menandakan keberuntungan sedangkan kedutan di mata kanan menandakan bencana.) "Kedutan di mata kiri menandakan keberuntungan sedangkan kedutan di mata kanan menandakan bencana"—apakah ini? (Takhayul.) Ini adalah takhayul. Semua yang baru saja Kusebutkan, seperti meramal masa depan, mengundi, membaca garis tangan, dll, termasuk kegiatan yang bersifat takhayul. "Kedutan di mata kiri menandakan keberuntungan sedangkan kedutan di mata kanan menandakan bencana" adalah pepatah khusus yang berkaitan dengan kegiatan yang bersifat takhayul. Pepatah ini adalah takhayul. Berasal dari manakah pepatah ini? Semua pepatah seperti ini pada dasarnya berasal generasi sebelumnya. Ada yang diwariskan oleh orang tua, ada yang diwariskan oleh kakek-nenek, buyut, dan sebagainya. Ada lagikah? (Tuhan, apakah adat istiadat hari raya termasuk?) Ya, adat istiadat hari raya juga termasuk: ada yang termasuk tradisi, dan ada juga yang termasuk tradisi sekaligus pepatah yang bersifat takhayul. Dari selatan hingga utara Tiongkok, dari Timur ke Barat, terdapat banyak adat istiadat hari raya. Sebagai contoh, adat istiadat hari raya tertentu di Tiongkok Selatan: orang sering kali makan kue keranjang selama Tahun Baru Imlek. Melambangkan apakah kue keranjang ini? Apa tujuan sebenarnya orang makan kue keranjang? (Mereka yakin bahwa dengan makan kue keranjang mereka akan dipromosikan setiap tahunnya.) Tujuan makan kue keranjang adalah memastikan mereka akan dipromosikan setiap tahunnya. Kata "promosi" di sini merupakan homofon dari kata dalam bahasa Mandarin yang berarti "kue". Jadi tujuan makan kue keranjang adalah memastikan bahwa engkau akan dipromosikan setiap tahunnya. Lalu, pernahkah dalam setahun engkau tidak makan kue keranjang dan tidak dipromosikan? Adakah orang yang dipromosikan setiap tahunnya karena mereka makan kue keranjang setiap tahun? Dapatkah engkau benar-benar "dipromosikan"? Orang tahu bahwa makan kue keranjang bukan berarti mereka akan dipromosikan, tetapi sekalipun tidak dipromosikan, setidaknya melakukannya akan menghindarkanmu mengalami kegagalan. Jadi, mereka harus memakannya. Memakannya membuat mereka merasa tenang, sedangkan tidak memakannya membuat mereka merasa gelisah. Inilah takhayul dan tradisi. Singkatnya, kebiasaan dan tradisi dari keluargamu ini telah membentuk semacam pengaruh terhadapmu, dan tanpa sadar, engkau telah menyetujui dan menerima tradisi dan kebiasaan ini hingga taraf tertentu; dengan demikian, engkau juga telah menyetujui dan menerima takhayul atau pemikiran serta sudut pandang yang dianjurkan oleh tradisi-tradisi tersebut. Ketika engkau akhirnya hidup mandiri, engkau mungkin melanjutkan tradisi dan kebiasaan ini. Hal ini tidak dapat disangkal. Jadi, mari kita membahas beberapa pepatah yang berkaitan dengan tradisi. Ada orang-orang yang sering melakukan hal berikut: ketika ada orang yang akan melakukan perjalanan jauh, mereka memasakkan pangsit untuk orang itu, dan ketika orang itu pulang, mereka menyiapkan mi untuknya. Bukankah ini adalah tradisi? (Ya.) Ini adalah tradisi, dan merupakan adat istiadat yang tidak tertulis. Mari kita membahas terlebih dahulu apa tujuan orang melakukan hal ini. Pertama, mari kita membahas pernyataan yang akurat untuk tindakan tersebut. ("Keluar makan pangsit, masuk makan mi". Atau dapat juga dikatakan, "Sebelum pergi makan pangsit, setelah pulang makan mi".) Apa maksud pepatah "Sebelum pergi makan pangsit, setelah pulang makan mi"? Artinya, jika ada orang yang akan pergi pada hari ini, engkau harus membuatkan pangsit untuk dimakannya; apa makna hal ini? Pangsit adalah isian yang dibungkus dengan kulit pangsit, dan kata "bungkus" terdengar mirip dengan kata dalam bahasa Mandarin yang berarti "melindungi". Jadi, maksudnya adalah untuk melindungi nyawanya, memastikan orang itu tidak mengalami kecelakaan apa pun setelah dia berangkat, memastikan dia tidak akan mati ketika berada jauh dari rumah, dan memastikan dia akan pulang kembali. Memakannya melambangkan keberangkatan yang aman. "Sebelum pergi makan pangsit, setelah pulang makan mi" berarti bahwa dia akan kembali dengan selamat dan segala sesuatunya akan berjalan dengan lancar baginya—kira-kira seperti inilah maknanya. Pada umumnya, keluarga tertentu mengikuti tradisi ini. Jika ada anggota keluarga yang akan pergi, mereka membuatkan pangsit untuknya, dan sekembalinya orang tersebut, mereka menyajikan mi untuknya. Entah engkau yang memakan atau yang menyiapkan hidangan ini, semua itu dilakukan untuk membawa keberuntungan, baik pada masa sekarang maupun pada masa mendatang, untuk kesejahteraan semua orang. Apakah engkau semua setuju bahwa tradisi ini adalah hal yang positif dan sesuatu yang harus orang lakukan dan lanjutkan dalam hidup mereka? (Aku tidak setuju.) Ada saudara-saudari yang harus pergi, dan seseorang yang bertanggung jawab atas makanan membuatkan mereka pangsit, lalu Aku bertanya kepadanya, "Apa kaitannya kepergian mereka dengan membuat pangsit?" Dan dia berkata, "Begini, ketika ada orang yang akan pergi, kita harus membuat pangsit." Aku menjawab, "Kau membuat pangsit ketika mereka pergi; lalu bagaimana ketika mereka pulang?" Dia menjawab, "Sekembalinya mereka, mereka harus makan mi." Aku berkata, "Ini adalah pertama kalinya Aku mendengar hal ini. Berasal dari manakah tradisi ini?" Jawabnya, "Memang seperti inilah di tempat asalku. Jika ada orang yang akan pergi, kami membuatkan pangsit untuknya, dan sekembalinya orang tersebut, kami menyajikan mi." Setelah mendengar perkataannya, kesan apa yang tertinggal di hati-Ku? Kupikir: Orang ini telah percaya kepada Tuhan, tetapi dia tidak mendasarkan tindakannya pada firman Tuhan. Sebaliknya, dia mengandalkan tradisi dan apa yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Dia yakin bahwa nyawa orang dapat dilindungi oleh bungkus pangsit, yang berarti jika sesuatu terjadi pada seseorang, itu bukan berada di tangan Tuhan; itu berada di tangan manusia. Dia yakin bahwa dengan membungkus pangsit, orang yang akan pergi itu akan selamat, dan jika dia tidak membungkus pangsit, orang itu tidak akan selamat dan dia mungkin saja akan mati selama dalam perjalanan dan tidak akan pernah kembali. Dalam pemikiran dan sudut pandangnya, nyawa seseorang itu bagaikan isian di dalam pangsit, yang nilainya sama dengan isian pangsit. Nyawa mereka tidak berada di tangan Tuhan, dan Tuhan tidak mampu mengendalikan nasib orang itu. Hanya dengan menggunakan bungkus pangsit, barulah dia mampu mengendalikan nasib seseorang. Orang macam apa dia? (Pengikut yang bukan orang percaya.) Dia adalah pengikut yang bukan orang percaya. Ada banyak orang semacam itu di gereja. Mereka tidak menganggap hal seperti ini takhayul. Mereka menganggapnya bagian dari kebiasaan mereka, sesuatu yang secara alami harus mereka patuhi sebagai hal yang positif. Mereka melakukannya secara terang-terangan dan bertindak seolah-olah mereka masuk akal dan memiliki dasar untuk melakukannya. Engkau tidak dapat menghentikan mereka: jika engkau menghalangi mereka untuk melakukannya, mereka akan berkata, "Akulah yang memasak. Ada orang yang akan pergi hari ini: jika aku tidak membuatkan pangsit untuknya, siapa yang akan bertanggung jawab jika dia ternyata mati? Bukankah itu akan menjadi kesalahanku?" Mereka yakin bahwa tradisi leluhur mereka adalah yang paling dapat diandalkan: "Jika aku tidak mengikuti tradisi dan melanggar pantangan ini, nyawamu akan berada dalam bahaya, dan engkau mungkin akan mati karenanya." Bukankah ini adalah sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya? (Ya.) Dengan sangat berakarnya pemikiran dan sudut pandang seperti ini di lubuk hati manusia, masih dapatkah mereka menerima kebenaran? (Tidak.) Engkau berkata bahwa engkau mengikuti Tuhan, engkau berkata bahwa engkau percaya kepada Tuhan sebagai kebenaran, tetapi mana buktinya? Engkau berkata dengan mulutmu, "Aku percaya bahwa Tuhan itu berdaulat, dan nasib manusia berada di tangan Tuhan." Namun, ketika ada orang yang akan pergi, engkau bergegas membuatkan pangsit untuknya, bahkan sekalipun engkau tidak ada waktu untuk membeli daging, engkau tetap harus membuat pangsit dengan isian sayur—pokoknya engkau harus membuatnya. Apakah tindakan dan perilaku seperti ini menjadi kesaksian bagi Tuhan? Apakah ini memuliakan Tuhan? (Tidak.) Jelas tidak. Tindakan dan perilaku seperti ini menghina Tuhan dan nama-Nya. Mengenai apakah engkau menerima kebenaran atau tidak, itu masalah kecil. Masalah terbesarnya adalah engkau mengaku percaya kepada Tuhan dan mengikuti Dia, tetapi engkau masih mematuhi tradisi yang Iblis indoktrinasikan dalam dirimu. Dalam hal-hal kecil dalam kehidupanmu sehari-hari, engkau dengan ketat mematuhi pemikiran dan kebiasaan yang leluhurmu indoktrinasikan dalam dirimu, dan tak seorang pun mampu mengubahnya. Apakah ini adalah sikap orang yang menerima kebenaran? Ini adalah sikap yang menghina Tuhan; ini adalah sikap yang mengkhianati Tuhan. Siapakah leluhurmu? Berasal dari manakah tradisi mereka? Merepresentasikan siapa tradisi-tradisi ini? Apakah merepresentasikan kebenaran? Apakah merepresentasikan hal-hal positif? Siapakah yang membuat tradisi-tradisi ini? Apakah Tuhan? Tuhan memberi manusia kebenaran bukan untuk memulihkan tradisi, melainkan untuk menghapuskan semua tradisi. Namun, engkau bukan saja tidak mau meninggalkan semua itu, engkau malah memperlakukannya sebagai kebenaran dan sebagai sesuatu yang positif untuk kaupatuhi. Bukankah ini berarti cari mati? Bukankah ini berarti terang-terangan menentang kebenaran dan Tuhan? (Ya.) Ini berarti secara terang-terangan melawan dan menentang Tuhan. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Bagaimana jika aku tidak membuat pangsit atau mi untuk saudara-saudariku tetapi aku membuatkannya untuk anggota keluargaku sendiri? Ketika ada anggota keluargaku yang akan pergi, aku akan membuatkan pangsit untuknya, dan sekembalinya dia, aku akan memasakkan mi untuknya. Apakah boleh melakukannya?" Menurutmu, apakah boleh melakukannya? Bagaimana jika engkau mengatakan hal ini: "Jika aku mau menipu seseorang, aku tidak akan menipu saudara-saudariku, melainkan anggota keluargaku sendiri. Apakah boleh melakukannya?" Apakah boleh melakukannya? (Tidak.) Masalahnya bukan siapa yang menerima tindakanmu; masalahnya adalah apa yang kaujalani dan kauperlihatkan tentang dirimu sendiri, dan masalahnya adalah sudut pandang apa yang kaupatuhi. Masalahnya bukan siapa yang kautipu; masalahnya adalah seperti apakah tindakan dan prinsip-prinsipmu, bukan? (Ya.)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp