Cara Mengejar Kebenaran (14) Bagian Empat

Mengenai pembelajaran dan pembiasaan keluarga, selain pemikiran dan sudut pandang yang telah kita sebutkan, apakah ada hal lainnya? Silakan rangkumkan. Ada banyak hal yang berasal dari keluarga, dan di Tiongkok, orang menyebutnya "budaya meja makan". Sebagai contoh, di meja makan, seorang anak mungkin berkata, "Pengawas kelas kami, anak perempuan yang di lengan bajunya terdapat tiga garis itu, selalu memeriksa pekerjaan rumahku dan berkata bahwa aku belum menyelesaikannya, padahal aku sudah menyelesaikannya. Dia selalu mencari-cari kesalahanku." Orang tuanya mungkin menjawab, "Kau kan anak laki-laki, dan dia anak perempuan. Mengapa kau merasa terganggu olehnya? Berfokuslah pada studimu dan buatlah ibumu bangga. Saat kelak kau menjadi pengawas kelas, kaulah yang akan memeriksa pekerjaan rumahnya, dan masalahnya akan beres, bukan?" Setelah mendengarnya, anak itu mungkin berpikir, "Masuk akal. Aku anak laki-laki, dan sekalipun dia adalah pengawas kelas, dia tetaplah anak perempuan. Aku tidak boleh merasa terganggu olehnya. Jika dia mulai menggangguku lagi, aku hanya akan mengabaikannya, dan masalahnya selesai. Makin dia menggangguku, aku akan makin giat belajar. Aku akan mengunggulinya, dan di semester berikutnya, aku akan menjadi pengawas kelas dan menjadi pemimpinnya. Itu akan menyelesaikan masalah." Ini adalah sebuah contoh budaya meja makan. Di meja makan, jika seorang anak laki-laki mulai menangis, orang tuanya mungkin berkata, "Tahanlah tangismu! Mengapa kau menangis? Anak tidak berguna!" Apakah menangis berarti bahwa engkau tidak berguna? Apakah itu berarti bahwa orang yang tidak menangis adalah orang yang menjanjikan? Apakah setiap anak laki-laki yang belum pernah menangis adalah individu yang menjanjikan? Lihatlah orang-orang yang sukses itu. Ketika mereka masih kecil, apakah mereka menangis atau tidak? Apakah mereka memiliki emosi? Apakah mereka mengalami sukacita, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan? Mereka mengalami semua ini. Entah seseorang itu adalah tokoh terkemuka atau orang biasa, setiap orang memiliki sisi kerapuhan manusia atau naluri manusia. Karena didikan orang tua dan latar belakang sosial, orang sering menganggap sisi ini sebagai sisi yang lemah, pengecut, tidak cakap, atau mudah untuk ditindas. Mereka tidak pernah berani mengungkapkannya secara terbuka; sebaliknya, mereka diam-diam mengungkapkannya di sudut ruangan. Ketika menghadapi masa-masa yang paling menantang dalam karier mereka, tanpa ada seorang pun yang menolong atau menyokong mereka, beberapa tokoh terkemuka mungkin akan menunggu sampai semua prajurit, bawahan, dan pelayan di sekitar mereka telah pergi. Lalu, mereka melampiaskan emosi mereka dengan meraung-raung seperti serigala di bak mandi. Setelah berteriak, mereka memikirkannya, "Apakah ada orang yang mendengarnya? Apakah suaraku terlalu keras? Sebaiknya aku sedikit memelankan suaraku!" Namun, memelankan suara sepertinya tidak cukup untuk melegakan perasaan mereka, sehingga mereka menutup mulut mereka dengan handuk dan terus meraung-raung seperti serigala. Manusia normal perlu melepaskan dan mengungkapkan berbagai emosi. Namun, karena tekanan kuat masyarakat ini dan tekanan dari berbagai opini publik, tak seorang pun berani mengungkapkan emosi mereka secara normal. Karena, bermula dari pembelajaran dan pembiasaan keluarga, di dalam diri setiap orang telah diindoktrinasikan keyakinan tertentu yang keliru, seperti "Pria harus mandiri", "Untuk dapat menempa besi, orang harus kuat", "Orang tidak perlu mengkhawatirkan gunjingan jika dirinya lurus hati", dan "Jika hati nuranimu bersih, kau tak perlu takut akan hantu yang mengetuk pintu rumahmu". Ada juga pepatah, "Orang baiklah yang ditindas, sama seperti kuda, kuda lembutlah yang ditunggangi", yang menyampaikan pesan bahwa orang harus menghindarkan dirinya agar tidak menjadi sasaran empuk, tetapi sebaliknya, merekalah yang harus menindas orang lain. Apa arti "baik" dalam konteks "Orang baiklah yang ditindas, sama seperti kuda, kuda lembutlah yang ditunggangi"? Baik di sini berarti polos, apa adanya, setia, dan jujur. Artinya, engkau disarankan untuk tidak menjadi tipe orang semacam ini, karena orang semacam ini adalah sasaran empuk. Jadi, sebaiknya engkau menjadi orang seperti apa? Sebaiknya engkau menjadi orang yang bengis, seorang bajingan, bergajul, penjahat, orang jahat, kriminal, sehingga tak seorang pun akan berani macam-macam denganmu. Ke mana pun engkau pergi, jika penalaran tidak berhasil, engkau harus bertindak seperti seorang bergajul, dan mampu membuat keributan, mengamuk, bersikap tidak masuk akal, dan membuat kekacauan. Orang akan bertahan hidup jika berperilaku seperti ini. Di tempat kerja atau di kelompok sosial mana pun, kebanyakan orang takut kepada orang-orang semacam ini, dan tak seorang pun berani memancing kemarahan mereka. Mereka bagaikan kotoran anjing yang bau atau kutu busuk, dan begitu engkau terkena olehnya, baunya susah dihilangkan. Engkau harus menjadi tipe orang seperti ini. Jangan biarkan orang menganggapmu sebagai sasaran empuk atau orang yang mudah terprovokasi. Harus ada duri di sekujur tubuhmu. Jika engkau tidak memiliki duri sama sekali, engkau tidak akan mampu menempatkan dirimu sendiri di tengah masyarakat ini. Akan selalu ada orang yang menindasmu. Didikan keluarga berfungsi sebagai panduan bagi jalan hidupmu, serta menjadi ajaran yang spesifik dan prinsip yang ditanamkan dalam dirimu tentang cara berperilaku. Artinya, orang tua menggunakan pemikiran dan pepatah ini untuk mendidikmu dalam hal caramu berperilaku, bertindak, dan menangani segala sesuatu. Menjadi orang seperti apakah yang mereka anjurkan? Di luarnya, orang tua mungkin mengatakan hal-hal yang terdengar baik, seperti, "Anakku tidak perlu menjadi tokoh terkemuka atau menjadi selebritas; menjadi orang baik saja sudah cukup." Namun, mereka juga mengatakan berbagai pepatah kepada anak-anak mereka, seperti, "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu", "Orang baiklah yang ditindas, sama seperti kuda, kuda lembutlah yang ditunggangi", dan "Pria harus mandiri". Jadi, setelah begitu banyak berbicara, apakah mereka menyuruh anak-anak mereka untuk menjadi orang baik atau menjadi yang lainnya? (Mereka mendorong anak-anak mereka untuk menjadi garang, atau untuk setidaknya mampu melindungi diri mereka sendiri.) Katakan kepada-Ku, apakah kebanyakan orang tua lebih ingin melihat anak mereka menindas orang lain ataukah melihat anak mereka menjadi orang yang jujur dan menempuh jalan yang benar tetapi sering ditindas dan dikucilkan orang? Anak harus menjadi orang semacam apa agar orang tua mereka menjadi orang yang paling bahagia, paling bangga, dan membuat wajah mereka bersinar paling berseri? (Orang tua merasa bangga jika anak-anak mereka mampu menindas orang lain, tetapi mereka menganggap anak-anak mereka memalukan jika mereka sering dianiaya saat menempuh jalan yang benar.) Jika engkau menempuh jalan yang benar tetapi sering dianiaya, orang tuamu akan merasa susah, sedih, sakit hati, dan tidak mau membiarkan hal seperti itu terjadi. Apa alasan mereka sebenarnya? Apa pun alasannya, setiap pemikiran dan sudut pandang yang orang tua ajarkan kepada anak-anak mereka tentang cara mereka berperilaku dan bertindak, semua itu tidak benar dan bertentangan dengan kebenaran. Singkatnya, pemikiran dan sudut pandang yang orang tua tanamkan dalam dirimu tidak akan pernah menuntunmu ke hadirat Tuhan, dan tidak akan menuntunmu untuk menempuh jalan mengejar kebenaran. Tentu saja, orang tidak akan pernah memperoleh keselamatan jika dituntun oleh pemikiran dan sudut pandang seperti ini. Ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Jadi, apa pun niat dan motivasi orang tuamu, apa pun pengaruh mereka terhadapmu, jika apa yang kaujalani bertentangan dengan kebenaran, melawan kebenaran, serta menghalangimu sehingga engkau tidak tunduk kepada Tuhan dan kebenaran, berarti engkau harus melepaskannya.

Mengenai berbagai pemikiran yang keluarga tanamkan yang telah dibahas di beberapa sesi persekutuan terakhir ini, meskipun pemikiran ini digunakan secara luas dan dianjurkan di tengah masyarakat, sekalipun pemikiran itu telah diterima secara luas, atau sekalipun banyak orang telah menerimanya, dan sekalipun banyak orang mengandalkannya, mengingat kerugian yang ditimbulkannya terhadap orang-orang, sangatlah penting bagi orang untuk melepaskan pemikiran dan sudut pandang tersebut. Mereka harus memeriksa ulang atau menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan pemikiran dan sudut pandang ini, mencari jalan penerapan dan prinsip kebenaran yang tepat di dalam firman Tuhan, serta masuk ke dalam kenyataan kebenaran dengan syarat mereka harus melepaskan pemikiran yang ditanamkan tersebut, sehingga dengan demikian, akan ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan. Melalui sesi persekutuan tentang pemikiran dan sudut pandang serta berbagai pepatah khusus yang keluarga tanamkan dalam dirimu ini, Aku bertanya-tanya sampai sejauh mana engkau semua mampu mengenali berbagai pemikiran dan sudut pandang yang ada di lubuk hatimu. Singkatnya, apa pun yang terjadi, sesi persekutuan ini haruslah berfungsi sebagai peringatan, memberi orang pemahaman yang segar tentang konsep keluarga, serta pemahaman dan pengertian yang baru tentang pembelajaran dan pembiasaan yang ditanamkan oleh kerabat keluarga, pemikiran keluarga, dan budaya keluarga, memberi mereka cara baru untuk menanganinya serta memampukan mereka untuk menggunakan sudut pandang dan pendirian yang benar dalam cara mereka memperlakukan keluarga mereka. Singkatnya, seperti apa pun caramu memperlakukan keluargamu, mengenai pemikiran dan sudut pandang keliru tentang cara memandang orang dan berbagai hal, serta cara berperilaku dan bertindak yang orang tuamu tanamkan dalam dirimu, engkau harus mengenali masing-masing dari pemikiran itu, kemudian melepaskan pemikiran itu satu demi satu, agar engkau mampu menerima pemahaman yang murni akan sudut pandang dan cara-cara yang Tuhan ajarkan kepada manusia, serta menerima berbagai sudut pandang dan cara-cara benar yang Tuhan berikan kepada manusia mengenai cara memandang orang dan berbagai hal, serta cara berperilaku dan bertindak. Inilah yang harus dilakukan oleh orang yang sungguh-sungguh mengejar kebenaran.

Salah satu pemikiran dan sudut pandang penting yang keluarga tanamkan dalam diri orang-orang adalah bahwa mereka harus bersikap garang dan menggunakan berbagai cara untuk melindungi diri mereka sendiri. Mengingat bahwa orang melindungi kepentingan, daging dan keselamatan pribadi mereka setelah memperoleh metode dan cara berinteraksi dengan orang lain dari berbagai pemikiran serta sudut pandang yang ditanamkan ini, apa tujuan utama di balik keluarga menanamkan pemikiran ini? Tujuannya adalah untuk melindungi orang dari penindasan. Jadi, mari kita membahas esensi dari penindasan. Apakah ditindas adalah hal yang baik? Dapatkah penindasan dihindari? Adakah orang yang tidak pernah ditindas? Apa yang dimaksud dengan penindasan? Selain berharap anak-anak mereka mampu berpadu dan membangun diri mereka di tengah masyarakat secara normal, orang tua juga selalu takut anak-anak mereka akan ditindas. Oleh karena itu, orang tuamu sering mengajarimu kiat dan cara tertentu untuk kaugunakan dalam berinteraksi dengan orang lain, agar engkau menggunakannya untuk melindungi dirimu sendiri dan menghindarkan dirimu agar tidak ditindas. Karena orang tuamu tidak dapat menemanimu atau melindungimu sepanjang waktu, ketika engkau harus mulai mandiri dan terjun ke tengah masyarakat, mereka mempersenjataimu dengan pemikiran dan sudut pandang tertentu untuk memastikan agar dirimu tidak mengalami penindasan. Apakah pemikiran dan sudut pandang ini benar? Apakah engkau semua takut ditindas? Apakah engkau semua berpaut pada pemikiran dan sudut pandang: "Ketika aku mulai terjun ke tengah masyarakat dan kelompok sosial, dan khususnya ketika aku berinteraksi dengan orang tidak percaya, aku takut akan ditindas. Inilah yang paling kukhawatirkan. Jika aku bertemu seseorang yang kira-kira setara denganku, aku masih mampu membela diriku sendiri. Namun, jika aku bertemu seseorang yang lebih garang daripadaku, aku tidak akan berani melawan. Aku hanya akan menerima penindasan apa pun yang dia perbuat terhadapku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa mengenai hal itu. Dia memiliki para pendukung dan ada orang-orang di balik layar, dan aku terpaksa harus menanggungnya." Seperti inikah pemikiran dan sudut pandang umum kebanyakan orang? (Dahulu, aku memiliki sudut pandang semacam itu. Setelah percaya kepada Tuhan, aku mulai bergaul secara harmonis dengan saudara-saudariku. Ketika berinteraksi dengan orang-orang tidak percaya, sekalipun dihadapkan dengan penindasan dan penganiayaan, aku tahu bahwa ini diizinkan oleh Tuhan, dan ada pelajaran yang perlu kupetik. Jadi, aku tidak terlalu takut, dan aku justru belajar mengandalkan Tuhan ketika mengalaminya.) Orang seperti apa yang penuh ketakutan? (Mereka yang kurang beriman kepada Tuhan.) Selain orang-orang ini, yang penuh ketakutan antara lain adalah mereka yang sifatnya penakut, yang tertutup dan memiliki harga diri yang rendah, yang lemah dan berhati lembut, yang kurang menarik secara fisik atau yang bertubuh lebih kecil, yang latar belakang keluarganya miskin—terutama mereka yang latar belakang keluarganya pernah mendapat ejekan dan mengalami diskriminasi—yang menyandang status sosial yang rendah, tidak memiliki keterampilan ataupun keahlian, bekerja sebagai buruh kasar, dan mereka yang bertubuh cacat. Semua orang ini lebih rentan mengalami penindasan dan mereka takut mengalaminya. Apakah penindasan merupakan masalah yang umum di tengah masyarakat? (Ya.) Di mana terdapat manusia, hal-hal ini akan terjadi di sana. Mengapa penindasan terjadi? (Karena, setelah manusia dirusak oleh Iblis, mereka menjadi sangat jahat, mereka ingin menindas orang lain tetapi mereka sendiri tidak ingin ditindas. Dengan demikian, penindasan pun terjadi di mana-mana.) Ini adalah salah satu aspeknya. Ada orang-orang yang tidak ingin ditindas oleh orang lain, sehingga mereka mengambil inisiatif, menindas dan mengintimidasi orang lain terlebih dahulu agar tak seorang pun berani menindas mereka. Sebenarnya, di lubuk hatinya, mereka tidak ingin berperilaku seperti ini; ini juga melelahkan bagi mereka. Ketika engkau memukul orang lain, bukankah engkau sendiri juga merasa lelah? Ada pepatah, "Membunuh seribu musuh, tetapi kehilangan delapan ratus kawananmu sendiri." Sebagai contoh landak, setelah mengeluarkan duri-durinya, bukankah sistem sarafnya kelelahan luar biasa? Landak melukai orang dengan menusukkan durinya, dan dia juga merasa kelelahan. Jadi, mengapa landak melakukannya jika hal itu sedemikian melelahkan baginya? Karena landak ingin mempertahankan dirinya. Dia harus berupaya melindungi dirinya sendiri. Karena dunia yang jahat ini tidak memiliki prinsip yang positif dan tepat untuk memperlakukan berbagai macam orang, dan orang digolongkan berdasarkan falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain serta berdasarkan hierarki sosial, maka perbedaan dan hierarki pun muncul di antara orang-orang berdasarkan prinsip dan standar pembagian yang tidak setara ini. Ketika ini terjadi, orang-orang menjadi tak mampu berinteraksi dengan adil dan harmonis. Mereka bersaing untuk berada di eselon atas, menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Mereka yang berada di puncak mampu berkuasa atas orang lain, dan menindas serta mengendalikan orang lain sekehendak hati. Karena masyarakat ini tidak adil, prinsip tentang cara memperlakukan orang pun menjadi tidak adil. Dengan demikian, interaksi di antara orang-orang tentu tidak akan harmonis, dan prinsip, metode, serta cara-cara yang orang gunakan dalam berinteraksi satu sama lain menjadi tidak adil. Ketidakadilan ini secara khusus mengajarkan kepada orang-orang untuk membandingkan kekuasaan, latar belakang keluarga, keterampilan, kemampuan, penampilan fisik, tinggi badan, serta taktik, rencana, dan strategi. Dari manakah hal-hal ini berasal? Hal-hal ini bukan berasal dari kebenaran atau dari Tuhan, melainkan dari Iblis. Hal-hal dari Iblis ini menjadi tertanam dalam diri orang, dan mereka hidup berdasarkannya, jadi bagaimana menurutmu orang-orang akan berinteraksi satu sama lain? Akankah mereka memperlakukan semua orang dengan adil? (Tidak.) Sama sekali tidak. Dapatkah prinsip pemilihan di rumah Tuhan yang paling sederhana berfungsi di dunia jahat yang dikuasai oleh Iblis? (Tidak.) Mengapa pada dasarnya prinsip ini tidak akan berfungsi? Karena dunia yang jahat ini bukan dikuasai oleh kebenaran, melainkan dikuasai oleh tren-tren jahat, serta berbagai pemikiran Iblis dan falsafahnya. Jadi, manusia hanya dapat saling menindas dan mengendalikan. Inilah satu-satunya kemungkinan yang terjadi di antara manusia. Penindasan tidak mungkin dihindari. Ini adalah hal yang sangat normal. Karena dunia bukan berada di bawah kendali kebenaran, di dunia yang jahat ini, ketika orang saling berinteraksi, jika engkau bukan orang yang menindas, berarti engkau adalah orang yang ditindas. Peranmu hanya dapat terdiri dari dua hal ini. Sebenarnya, setiap orang menindas orang lain dan ditindas oleh orang lain. Ini karena selalu ada orang yang di atas dan di bawah dirimu. Engkau menindas orang lain karena statusmu lebih tinggi daripada mereka, tetapi pada saat yang sama, sementara engkau menindas mereka, ada orang-orang yang status dan kedudukannya jauh lebih tinggi daripadamu, dan mereka akan menindasmu, dan engkau harus menanggung penindasan mereka. Segolongan orang menindas golongan lainnya: seperti inilah hubungan di antara manusia, yaitu mereka menindas dan ditindas. Inilah satu-satunya hubungan yang ada. Tidak ada kasih sayang keluarga yang murni, tidak ada kasih, toleransi, kesabaran, dan tidak ada kemungkinan untuk memperlakukan setiap orang dengan adil dan setara berdasarkan prinsip. Karena dunia ini bukan dikendalikan oleh kebenaran, melainkan oleh Iblis, hubungan yang terbentuk di antara manusia hanya dapat berupa hubungan antara yang menindas dan ditindas, memanfaatkan dan dimanfaatkan. Ini tidak terhindarkan, dan tak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Katakanlah engkau adalah seorang kepala di dunia kriminal, dan memiliki banyak antek serta kaki tangan, yang semuanya kautindas dan kaukendalikan. Namun, bahkan kepala di dunia kriminal pun punya atasan, dan juga ada pemerintah. Sekalipun dikatakan bahwa para pejabat dan para bandit adalah satu keluarga, terkadang pemerintah secara sengaja mencari masalah, berusaha mendapatkan pengaruh, dan tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja. Engkau diharuskan untuk membayar sejumlah uang ke kantor polisi dan menyuap mereka. Jadi, sekalipun kepala di dunia kriminal tampak hebat, ketika mereka berada di kantor polisi, mereka tetap harus membungkuk-bungkuk. Mereka tidak berani bersikap congkak. Seperti kata pepatah, "Selalu ada yang lebih jahat dan lebih berkuasa," dan "Selalu ada ikan yang lebih besar." Ini berarti bahwa setiap orang menindas orang lain dan ditindas, dan seperti inilah esensi dan fenomena penindasan itu.

Mengenai masalah penindasan, karena ini adalah sesuatu yang tak seorang pun dapat menghindarinya, bagaimana orang harus menanganinya? Di gereja, sekalipun engkau mungkin tidak takut ditindas, apakah hal seperti ini terjadi? Mungkinkah penindasan terjadi? Ketika engkau berinteraksi dengan orang tidak percaya, engkau mungkin ditindas oleh mereka. Lalu, apakah penindasan tidak akan terjadi di dalam gereja? (Itu terjadi.) Penindasan dapat terjadi pada taraf yang berbeda-beda, karena semua orang dirusak oleh Iblis. Sebelum orang memperoleh keselamatan, mereka sering memperlihatkan kerusakan, dan salah satu aspek kerusakan yang mereka perlihatkan adalah dengan memperlakukan orang lain sekehendak hati mereka, tidak memperlakukan mereka dengan adil. Ketika terjadi perlakuan tidak adil terhadap orang lain, tindakan menindas dan ditindas pun terjadi. Jadi, hal-hal ini kadang kala terjadi, dan orang tidak dapat melepaskan diri ataupun menghindarinya. Bagaimanakah prinsip yang benar untuk menangani dan mengatasi masalah ini? (Dengan berdasarkan firman Tuhan, dengan berdasarkan prinsip.) Secara teori, begitulah caranya. Bagaimana cara yang spesifik untuk menerapkannya? Bagaimana pemahamanmu mengenai masalah orang menindas dan ditindas? Sebagai contoh, seandainya engkau akan menulis surat untuk melaporkan masalah tentang seorang pemimpin palsu, dan pemimpin palsu itu ingin menindasmu dengan berkata, "Jika kau macam-macam, jika kau terus melaporkan masalahku kepada para atasan, mengadukanku, atau menulis sesuatu yang negatif dalam penilaianmu tentangku, aku akan membunuhmu! Aku punya kuasa untuk mengeluarkanmu. Masa kau tidak takut?" Bagaimana engkau akan menangani situasi seperti ini? Orang itu sedang mengancammu; lebih tepatnya, orang itu sedang menindas dirimu. Dia memiliki kuasa, sedangkan engkau adalah orang percaya biasa, jadi dia secara sewenang-wenang menyiksamu tanpa prinsip atau dasar apa pun. Dia memperlakukanmu seperti cara Iblis memperlakukan manusia. Bukankah dia jelas-jelas sedang menindasmu? Bukankah dia sedang berusaha menyiksamu? (Ya.) Lalu, bagaimana engkau akan menangani masalah ini? Apakah engkau akan berkompromi ataukah berpegang pada prinsip? (Berpegang pada prinsip.) Secara teori, orang harus berpegang pada prinsip dan tidak takut kepada pemimpin palsu ini. Atas dasar apa orang tidak perlu takut? Mengapa engkau tidak perlu takut kepadanya? Jika dia benar-benar mengeluarkanmu, akankah engkau takut? Karena dia benar-benar mampu mengeluarkanmu, engkau mungkin tidak berani berpegang pada prinsip, dan engkau mungkin merasa takut. Apa sebenarnya masalahmu? Mengapa engkau merasa takut? (Karena aku tidak percaya bahwa di rumah Tuhan, kebenaranlah yang berkuasa.) Itu adalah salah satu aspeknya. Engkau perlu memiliki keyakinan ini dan berkata, "Kau adalah orang jahat. Jangan mengira bahwa karena sekarang ini kau adalah pemimpin, kau memiliki kuasa untuk mengeluarkanku. Mengeluarkanku adalah tindakan yang keliru. Masalah ini akan terungkap cepat atau lambat. Rumah Tuhan bukan berada di bawah otoritasmu sendiri. Jika kau mengeluarkanku hari ini, pada akhirnya kau akan dihukum. Jika kau tidak percaya, tunggu dan lihat saja nanti. Rumah Tuhan dikuasai oleh kebenaran, oleh Tuhan. Manusia mungkin tidak dapat menghukummu, tetapi Tuhan mampu menyingkapkanmu dan mengusirmu. Ketika perbuatan jahatmu terungkap, pada saat itulah engkau akan menghadapi hukumanmu." Apakah engkau memiliki keyakinan ini? (Ya.) Benarkah? Lalu, mengapa engkau tidak mampu berkata seperti ini? Sepertinya engkau merasa berada dalam bahaya jika mengalami situasi seperti ini; engkau tidak punya keberanian dan tidak benar-benar memiliki keyakinan. Jika engkau menghadapi masalah seperti ini, jika engkau bertemu dengan orang jahat dan antikristus yang sejahat ini, yang cara-caranya dalam menyiksa orang sebanding dengan cara yang digunakan oleh si naga merah yang sangat besar, apa yang akan kaulakukan? Engkau akan mulai menangis, berkata, "Oh, tingkat pertumbuhanku begitu rendah, aku begitu penakut, aku selalu takut akan masalah, aku bahkan takut jika kepalaku terkena sehelai daun yang gugur. Aku benar-benar berharap tidak perlu menghadapi orang-orang seperti itu. Apa yang akan kulakukan jika dia menindasku?" Apakah orang itu sedang menindasmu? Bukan dia yang sedang menindasmu, Iblislah yang sedang menyiksamu. Jika melihatnya dari sudut pandang manusia, engkau akan berkata, "Orang ini tangguh, memiliki status dan menindas orang-orang lugu yang tidak memiliki status." Inikah yang sedang terjadi? Dari sudut pandang kebenaran, bukan penindasan yang sedang terjadi, melainkan Iblis sedang membuat manusia menderita, menyiksa, menipu, merusak, dan menginjak-injak mereka. Bagaimana seharusnya engkau menghadapi dan menangani tindakan-tindakan Iblis tersebut? Perlukah engkau takut? (Aku tidak perlu takut; aku harus melaporkan dan menyingkapkan orang itu.) Di dalam hatimu, engkau tidak perlu takut kepadanya. Jika melaporkan masalah orang itu dan melawannya tidaklah tepat pada saat itu, engkau harus menahan diri untuk sementara waktu dan mencari waktu yang tepat untuk melaporkannya nanti. Jika di antara saudara-saudari terdapat orang-orang sepertimu yang mampu mengenali orang itu, engkau semua harus bersatu untuk melaporkan dan menyingkapkan perbuatan jahatnya. Jika tak seorang pun mampu mengenalinya, dan ketika engkau mengambil langkah untuk melaporkannya, semua orang menolakmu, bersabarlah untuk sementara waktu. Ketika para pemimpin tingkat atas mengunjungi gerejamu untuk memeriksa dan menindaklanjuti pekerjaan, carilah waktu yang tepat untuk melaporkan orang yang bermasalah itu kepada para pemimpin, beritahukan perbuatan jahat orang itu dengan jelas dan secara mendetail, serta biarkan para pemimpin mengeluarkan orang itu. Bijaksanakah cara ini? (Ya.) Di satu sisi, engkau harus memiliki keyakinan dan tidak takut kepada orang jahat, antikristus, atau Iblis. Di sisi lain, engkau tidak boleh menganggap tindakannya terhadapmu sebagai tindakan manusia yang sedang menindas manusia lainnya; engkau harus melihat bahwa esensi dari hal ini adalah Iblis sedang menipu, menyiksa, dan menginjak-injak manusia. Kemudian, tergantung pada keadaannya, engkau harus dengan berhikmat menghadapi penyiksaan orang itu, mencari waktu yang tepat untuk menyingkapkan dan melaporkannya, serta melindungi kepentingan rumah Tuhan dan pekerjaan gereja. Inilah kesaksian yang di dalamnya engkau harus tetap teguh dan inilah tugas serta kewajiban yang harus kaulaksanakan sebagai manusia. Sekalipun dia menindasmu atau memperlakukanmu secara tidak adil, jangan menganggapnya sebagai penindasan. Ini bukanlah dia sedang menindasmu; ini adalah Iblis yang sedang menipu, menginjak-injak, dan menyiksa manusia. Apakah menurutmu si naga merah yang sangat besar sedang menindasmu ketika dia menganiaya orang yang percaya kepada Tuhan? (Tidak.) Dia tidak sedang menindasmu. Mengapa dia menganiaya dirimu? (Karena esensi Iblis adalah menentang Tuhan.) Esensi Iblis adalah menentang Tuhan. Iblis menganggap Tuhan sebagai musuh dan menganggap semua pekerjaan Tuhan sebagai paku di matanya dan duri di dagingnya. Iblis juga menganggap orang-orang yang dipilih Tuhan sebagai musuh. Jika engkau mengikuti Tuhan, Iblis akan membencimu, sebagaimana dikatakan dalam Alkitab: "Jika dunia membenci engkau, ketahuilah bahwa ia sudah membenci Aku lebih dahulu sebelum ia membenci engkau" (Yohanes 15:18). Si naga merah yang sangat besar membenci manusia, membenci Tuhan, menganggap Tuhan sebagai musuh, dan terlebih lagi, menganggap mereka yang mengikuti Tuhan, khususnya mereka yang menerapkan kebenaran, sebagai musuh. Karena itulah mereka ingin menganiaya dirimu, membunuhmu, menghalangimu agar engkau tidak mengikuti Tuhan, membuatmu menyembah dan mengikuti mereka, dan membuatmu mengutuk Tuhan. Jika engkau berkata, "Aku tidak akan mengutuk Dia," mereka akan mengancammu, "Jika kau tidak mengutuk Tuhan, kau akan mati!" Mereka akan berusaha memaksamu untuk berkata, "Partai Komunis itu bagus," dan jika engkau menjawab, "Aku tidak akan mengatakan hal itu," mereka akan berkata, "Jika kau tidak mengatakannya, aku akan menyulitkanmu, aku akan memperlakukanmu dan membalasmu dengan siksaan yang kejam!" Apakah mereka sedang menindasmu? Bukan, itu adalah Iblis yang sedang menganiaya manusia. Mengertikah engkau? (Aku mengerti.) Engkau harus memiliki pemahaman yang benar ketika menghadapi masalah penindasan. Di tengah masyarakat dan di antara kelompok sosial, jika engkau melihat hal ini dari sudut pandang manusia, setiap orang memegang peranan, baik sebagai yang menindas maupun sebagai yang ditindas. Namun, jika engkau melihatnya dari sudut pandang kebenaran, engkau tidak boleh melihatnya dengan cara seperti ini. Esensi perilaku siapa pun yang ingin menindas dan mengendalikanmu jangan dianggap sebagai penindasan, tetapi anggaplah itu sebagai tindakan Iblis yang sedang menipu, menganiaya, memanipulasi, menginjak-injak, dan merusak. Secara spesifik, itu berarti bahwa mereka tidak memperlakukanmu berdasarkan cara-cara yang masuk akal dan manusiawi, mereka tidak sedang memperlakukanmu dengan adil, tetapi mereka sedang menggunakan sudut pandang dan pendirian Iblis, serta menggunakan pemikiran Iblis sebagai panduan dalam cara mereka memperlakukanmu, berbicara kepadamu, dan berinteraksi denganmu. Sebagai contoh, misalkan engkau dan seseorang yang jahat menginap di kamar yang sama. Engkau tiba terlebih dahulu, jadi engkau memilih ranjang yang cocok terlebih dahulu, dan engkau memilih ranjang yang bawah. Begitu orang itu tiba dan melihatnya, dia berkata, "Mengapa kau seenaknya saja memilih ranjang yang bawah? Aku bahkan belum memilih, memangnya ini giliranmu untuk memilih? Kau berani tidur di ranjang yang bawah jika aku tidak mengizinkannya? Berani sekali kau! Kau bahkan tidak mendiskusikannya denganku, dan langsung memilih ranjang yang bawah. Cepat pindah ke ranjang yang atas!" Engkau menjawab, "Mengapa bukan kau saja yang tidur di ranjang yang atas? Kau tiba sesudah aku; menurut antrean, kau seharusnya tidur di ranjang yang atas." Dia berkata: "Antrean? Aku tidak pernah mengikuti antrean apa pun! Aku tidak mengantre di mana pun; aku bahkan tidak perlu mengantre untuk bertemu presiden! Apa kau tidak tahu siapa aku? Berani sekali kau berbicara kepadaku tentang mengantre! Kau mau mati, ya? Naik ke ranjang atas!" Jadi, engkau pun terpaksa menurut dan pindah ke ranjang atas. Apakah ini penindasan terhadapmu? Dari sudut pandang manusia, ini terlihat sebagai penindasan. Dia menganggapmu sebagai orang lugu, orang yang dapat dimanipulasi. Dia terlebih dahulu unjuk kekuatan yang mengintimidasi dirimu dan memberimu pelajaran agar engkau tahu siapa dirinya. Seperti inilah jika memandangnya dari sudut pandang manusia atau dari sudut pandang daging atau perasaan manusia. Namun, jika engkau memandangnya dari sudut pandang kebenaran, dapatkah engkau melihatnya dengan cara yang sama? Engkau memilih ranjang yang bawah terlebih dahulu, semuanya sesuai dengan urutan kedatanganmu, tetapi dia bersikeras bahwa engkau harus pindah, memaksamu pindah ke ranjang yang atas. Bukankah ini tidak masuk akal? Bukankah dia sedang menyiksamu? Bukankah dia tidak memperlakukanmu sebagai manusia? Bukankah dia tidak bersikap hormat terhadapmu? Bukankah dia sedang bertindak seolah-olah dia adalah bos, dan memperlakukanmu seperti pelayan atau budak? Seperti apakah cara berpikirnya? Setiap orang yang tidak setangguh dirinya adalah pelayannya, seseorang yang dapat dia perintah, seseorang yang dapat dia siksa. Dari sudut pandang kebenaran, ini tidak dapat disebut sebagai penindasan; ini adalah tentang menyiksa manusia. Siapakah yang mampu menyiksa manusia? Orang jahat, setan, preman, pengacau, bajingan, orang-orang yang tidak masuk akal, tidak memiliki kemanusiaan dan tidak menghormati siapa pun. Mereka tidak mengikuti aturan di mana pun mereka berada. Mereka bertindak seolah-olah mereka adalah bosnya, seolah-olah apa pun yang baik, menguntungkan, atau bermanfaat, adalah milik mereka sendiri. Orang lain tidak boleh turut menikmati hal-hal tersebut atau bahkan berpikir untuk mengambilnya. Bukankah orang ini adalah bajingan? (Ya.) Inilah yang dilakukan oleh para bajingan dan setan. Mereka menyiksamu seperti ini, jadi bukankah engkau akan merasa takut? Engkau akan berpikir, "Ya ampun, ternyata ada orang yang setangguh ini. Dia bahkan menganggapku berbuat salah jika aku tidur di ranjang bawah. Apa yang sedang terjadi?" Engkau akan merasa takut, dan sejak saat itu, ketika berbicara dengannya, engkau harus memilih kata-katamu. Engkau harus merenungkannya, berpikir, "Aku tidak boleh membuatnya kesal, dan aku tidak boleh memancing kemarahannya. Jika aku memancing kemarahannya, dia akan menyulitkanku." Jika engkau memiliki pola pikir seperti ini, berarti dia telah mencapai tujuannya. Apa tujuannya? Dia ingin menakutimu, membuatmu takut kepadanya, menciptakan perbedaan hierarki antara dia dengan dirimu, di mana dia adalah bosnya, dan engkau adalah pelayannya, dan ke mana pun engkau pergi, engkau harus menuruti perkataannya serta mengalah kepadanya. Bukankah ini adalah prinsip Iblis dalam caranya melakukan segala sesuatu? Dia harus menjadi bosmu, dan engkau harus menjadi pelayannya. Engkau harus didisiplinkan secara sewenang-wenang, diperintah dan dipermainkan olehnya; engkau harus mengalah kepadanya dalam segala hal. Engkau tidak boleh berdiri sejajar dengannya; jika engkau ingin sejajar dengannya, satu-satunya keadaan di mana engkau dapat sejajar dengannya adalah setelah dia mati. Engkau hanya pantas sejajar dengan orang mati. Katakan kepada-Ku, sampai sejauh mana engkau telah ditindas olehnya? Di lubuk hatimu, apakah perbuatannya yang jahat dan sikapnya yang mendominasi itu telah membuatmu takut? (Ya.) Engkau telah menerima fakta ini, engkau telah berkompromi, jadi dapatkah dikatakan bahwa sebagai akibatnya, engkau telah dirusak olehnya? Dia telah mencengkeram erat dirimu; ketika dia melakukan hal-hal jahat dan melanggar prinsip, engkau tidak akan berani angkat bicara karena waktu itu dia memindahkanmu dari ranjang bawah ke ranjang atas dengan satu tendangan. Engkau tidak akan berani memancing kemarahannya lagi; ketika bertemu dengannya, engkau akan menghindar, dan mendengar namanya saja sudah membuatmu berkeringat dingin. Bukankah ini berarti engkau takut kepadanya? Engkau tidak berani memperlakukannya dengan adil berdasarkan prinsip; dia telah mencengkeram erat dirimu. Apa artinya dia mencengkeram erat dirimu? Itu berarti dia telah memilikimu dan mengendalikanmu. Bukankah ini yang terjadi? (Ya.) Lalu, bagaimana seharusnya engkau menangani situasi ini agar tidak dikendalikan olehnya? Engkau harus menganggap masalah orang jahat yang menindas orang lain sebagai fenomena Iblis yang merusak dan menganiaya manusia. Setelah engkau memahami esensi yang sebenarnya dari hal ini, bagaimana engkau harus memperlakukan orang itu? Di lubuk hatimu, engkau harus membenci dan menolak orang jahat ini, bukan takut kepadanya. Engkau harus berpikir, "Oh, kau ingin aku tidur di ranjang atas? Baiklah, aku akan tidur di ranjang atas. Namun, hari ini, aku telah melihat satu lagi tindakan orang jahat, aku telah mengenali esensi satu lagi orang jahat, dan mulai sekarang aku akan mampu mengenali satu lagi jenis perilaku yang orang jahat lakukan dalam kehidupannya sehari-hari dan di belakang orang lain. Mulai hari ini, aku akan mengamati dengan saksama apa yang dia katakan dan lakukan, dan apakah dia sedang melakukan penipuan atau tidak. Jika rumah Tuhan menggunakan dia, aku akan melihat apakah dia bertindak berdasarkan prinsip, apakah dia melindungi kepentingan rumah Tuhan, apakah dia menghamburkan uang persembahan, dan apakah dia tetap saja menyiksa orang lain." Di lubuk hatimu, engkau harus berdoa: "Tuhan, mohon singkapkanlah orang jahat ini, mampukan aku untuk mengenali perbuatan jahatnya dan esensi dirinya. Bantulah aku untuk mengumpulkan bukti atas perbuatan jahatnya, dan berilah aku keberanian, mampukan aku untuk tidak takut kepada orang jahat, berilah aku keyakinan serta kekuatan untuk melawannya." Meskipun engkau tetap sekamar dengannya, dan dari luar tidak terlihat adanya perubahan, di lubuk hatimu, engkau tidak akan takut kepadanya karena semua yang dia lakukan kepadamu bukanlah penindasan, melainkan perwujudan dan penyingkapan natur Iblis dalam dirinya. Jika engkau memandangnya seperti ini, akankah engkau tetap merasa takut kepadanya? Atas setiap perbuatan jahat yang dia perlihatkan, dan setiap perkataan tak masuk akal yang dia katakan, engkau akan mengutuknya di dalam hatimu, dengan berkata, "Kau adalah setan, kau adalah Iblis, kau melakukan kejahatan serta menentang Tuhan, dan cepat atau lambat, kau akan dikutuk. Tuhan tidak akan membiarkanmu lolos; pada akhirnya engkau akan tersingkap!" Dengan cara inilah engkau harus memperlakukan orang jahat. Engkau harus memiliki keyakinan serta kekuatan untuk melawannya, dan engkau harus berdoa kepada Tuhan, sehingga hatimu akan memiliki kekuatan, dan engkau tidak akan takut kepadanya. Bagaimana menurutmu cara ini? Bukankah taktik ini efektif? (Ya, ini efektif.) Ketika engkau mengenali orang itu dengan cara seperti ini dari sudut pandang kebenaran, bukankah ini lebih nyata daripada apa yang orang tua ajarkan kepadamu, yaitu "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu"? Apa gunanya bersikap waspada? Engkau tidak dapat bersikap waspada terhadap perbuatan Iblis yang menganiaya dan merusakmu. Perusakan dan penganiayaan Iblis terhadapmu tidak dapat kaucegah. Hal itu terjadi di mana-mana. Perusakan Iblis terhadap manusia bukan hanya di luarnya, bukan hanya secara lahiriah; Iblis juga merusak pemikiranmu. Dapatkah engkau bersikap waspada terhadap perusakan ini? Hal terpenting adalah engkau harus memperlengkapi dirimu dengan kebenaran dan mengandalkan Tuhan. Engkau bukan saja harus mengenali tindakan orang jahat, tetapi juga esensi orang jahat, dan engkau sekaligus harus memahami yang sebenarnya tentang pemikiran serta sudut pandang yang diungkapkan orang jahat. Kemudian, perlengkapi dirimu dengan kebenaran, gunakan firman Tuhan dan kebenaran untuk menyingkapkan dan menelaah hal-hal itu, sehingga saudara-saudarimu juga akan mampu memperoleh pemahaman. Kemudian, semua orang dapat bangkit untuk menolaknya bersama-sama. Betapa indahnya hal itu, bukan? Jika engkau selalu bertahan, selalu berwaspada, selalu menolak atau menghindar, itu adalah sikap yang pengecut, itu bukanlah perwujudan dari seorang pemenang.

Setelah mempersekutukan semua ini, apakah kini engkau semua memiliki pandangan baru tentang masalah orang yang ditindas? Apakah penindasan itu benar? (Tidak.) Pada dasarnya, apa yang dimaksud dengan penindasan? (Penindasan adalah penyiksaan yang orang jahat lakukan terhadap orang-orang lainnya.) Pada dasarnya, penindasan adalah penyiksaan dan penipuan yang orang jahat dan Iblis lakukan terhadap orang lain. Lalu pada dasarnya, apa yang dimaksud dengan tertindas? (Tertindas berarti lemah, tidak menerapkan kebenaran, tidak berani bangkit dan melawan.) Benar, takut kepada orang jahat, takut pada kekuatan jahat, tidak memiliki keyakinan untuk melawan Iblis, tidak memiliki keyakinan untuk mengenal, memahami, dan mengetahui wajah buruk Iblis yang sebenarnya, dan tidak memiliki keyakinan untuk melawan Iblis yang menginjak-injak dan menganiaya dirimu. Bukankah seperti itulah tertindas itu pada dasarnya? (Ya.) Mereka yang tidak memiliki keyakinan selalu memiliki ganjalan dalam hati mereka; mereka selalu takut, berpikir, "Aku tidak mau ditindas oleh orang lain. Aku tidak menindas orang lain, dan aku tidak mau ditindas oleh orang lain, sebagaimana perkataan ibuku, 'Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu.'" Mereka berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, kumohon jangan biarkan aku bertemu dengan orang-orang jahat; aku ini penakut, aku adalah orang yang selalu lugu dan apa adanya. Aku percaya kepada-Mu dan mengikuti-Mu; Engkau harus melindungiku!" Ini adalah sikap yang tidak berdaya. Engkau telah mendengar begitu banyak kebenaran, dan telah memahami begitu banyak kebenaran. Engkau tidak takut kepada para setan dan Iblis, jadi apakah engkau takut kepada orang jahat? Apakah engkau semua takut kepada si naga merah yang sangat besar? (Jika tertangkap, aku akan takut, tetapi aku dapat berdoa kepada Tuhan dan mengandalkan Dia.) Artinya, engkau belum merasa takut akan kejahatan mereka. Ini juga merupakan perwujudan yang hanya muncul jika orang memiliki landasan keyakinan tertentu. Ada orang-orang yang berkata, "Engkau berkata bahwa aku takut kepada si naga merah yang sangat besar. Jika aku takut kepada mereka, bagaimana mungkin aku sampai sejauh ini? Bukankah inilah kenyataannya? Namun, jika aku diminta untuk mengatakan bahwa aku tidak takut kepada si naga merah yang sangat besar, aku masih merasa agak takut untuk melakukannya. Bagaimana jika mereka mendengar perkataanku?" Masih ada sedikit ketakutan di sana. Orang-orang seperti ini masih agak takut untuk terang-terangan berkata bahwa si naga merah yang sangat besar itu jahat dan kejam; mereka tidak memiliki keyakinan itu, dan tingkat pertumbuhan mereka masih terlalu rendah. Aku tidak memintamu untuk melawan si naga merah yang sangat besar secara terbuka atau memancing kemarahan mereka. Namun, di lubuk hatimu, setidaknya, engkau harus tahu bahwa si naga merah yang sangat besar, si setan ini, memperlakukan manusia dengan cara menganiaya, merusak, menipu, menginjak-injak, dan kemudian menelan mereka. Ini bukanlah penindasan; ini bukanlah seolah-olah mereka menindas dan menyiksa orang-orang percaya karena mereka lugu, mengikuti aturan, dan menaati hukum. Itu omong kosong, itu adalah pernyataan yang menunjukkan tidak adanya pemahaman rohani. Si naga merah yang sangat besar sedang menganiaya dirimu. Bagaimana cara mereka menganiayamu? Mereka mengancam, mengintimidasi, menganiaya, dan menyiksamu. Apa tujuan mereka menganiaya dirimu? Agar engkau melepaskan imanmu, agar engkau menyangkal Tuhan, meninggalkan Tuhan, lalu berkompromi dengan mereka, dan pada akhirnya, agar engkau menyembah serta mengikuti mereka, tunduk kepada mereka, menerima berbagai pemikiran mereka, dan bersujud menyembah mereka. Mereka senang melakukan hal ini; inilah tujuan mereka menganiaya dirimu. Karena mereka melihat bahwa engkau mengikuti Tuhan dan bukan mereka, mereka menjadi iri dan tidak akan melepaskanmu. Tentu saja, jika engkau tidak mengikuti Tuhan, akankah mereka melepaskanmu? (Tidak, karena mereka juga menganiaya orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan.) Benar, dalam bahasa sehari-hari, mereka memang seperti itu; lebih tepatnya, ini sudah menjadi esensi natur mereka. Bahkan orang-orang yang mengikuti mereka, yang menyanyikan pujian bagi mereka, orang-orang itu juga tetap dianiaya, ditipu, dan diinjak-injak oleh mereka, dan setelah memanfaatkan orang-orang itu, mereka membuang, bahkan membunuh beberapa dari orang-orang itu untuk menutup mulut mereka, dan pada akhirnya menelan orang-orang itu sepenuhnya. Bagaimanapun juga, semuanya tidak berakhir baik bagi orang-orang itu. Apa pun yang terjadi, orang harus mengetahui dengan jelas bahwa tujuan utama keluarga menanamkan dan mengindoktrinasikan berbagai pemikiran dan sudut pandang dalam diri orang bukanlah benar-benar untuk melindungi mereka atau menuntun mereka menuju jalan yang benar. Sebaliknya, tujuan mereka adalah untuk menjauhkan orang dari Tuhan, agar mereka hidup berdasarkan falsafah Iblis, dan agar mereka secara berulang-ulang dan terus-menerus menerima diri mereka diinjak-injak oleh berbagai pemikiran serta pembelajaran dan pembiasaan berbagai tren jahat yang berasal dari masyarakat dan Iblis. Apa pun niat dan tujuan awal keluarga melakukan hal ini, pada akhirnya, semua ini tidak dapat menuntun orang menuju jalan yang benar ataupun menuntun mereka masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan untuk mereka pada akhirnya memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, berbagai pemikiran dan sudut pandang yang berasal dari keluarga adalah sesuatu yang harus orang lepaskan, sesuatu yang harus mereka lepaskan selama proses dan selama perjalanan mereka mengejar kebenaran. Baiklah, sampai di sinilah persekutuan kita hari ini. Sampai jumpa!

4 Maret 2023

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp