Cara Mengejar Kebenaran (14) Bagian Satu
Terakhir kali, kita mempersekutukan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga di dalam topik yang lebih luas, yaitu tentang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan orang. Bagian apakah dari topik tentang keluarga yang kita persekutukan? (Terakhir kali, Tuhan mempersekutukan beberapa pepatah yang berasal dari pembelajaran dan pembiasaan keluarga, seperti "Di antara tiga orang yang berjalan bersama, setidaknya ada seseorang yang dapat menjadi guruku", "Jika kau ingin terlihat bermartabat ketika orang lain melihatmu, kau harus mau menderita saat mereka tidak melihatmu", "Sama seperti pagar membutuhkan topangan tiga pasak, manusia yang cakap membutuhkan dukungan tiga orang lainnya", "Wanita akan mempercantik diri demi mereka yang mengagumi dirinya, sementara pria akan mengorbankan nyawa demi mereka yang memahami dirinya", "Anak perempuan harus dibesarkan seperti anak orang kaya, dan anak laki-laki seperti anak orang miskin", "Orang tidak perlu memiliki IQ yang tinggi, melainkan hanya perlu memiliki EQ yang tinggi", "Ketika orang menabuh gong, dengarkan bunyinya; ketika orang berbicara, dengarkan suaranya", dan "Orang tua selalu benar". Totalnya, delapan pepatah inilah yang dibahas.) Kita bersekutu tentang melepaskan pembelajaran dan pembiasaan keluarga, yang pokok bahasannya mencakup pembelajaran dan pembiasaan serta didikan yang keluarga tanamkan dalam pemikiran orang. Pepatah-pepatah tertentu dipersekutukan secara mendetail, sementara pepatah lainnya hanya disebutkan secara singkat dan tidak dipersekutukan secara khusus. Keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan setiap individu. Keluarga adalah tempat orang menciptakan kenangan, bertumbuh, dan tempat berbagai pemikiran mereka mulai terbentuk. Cara orang bertindak, berperilaku, menangani segala sesuatu, berinteraksi dengan orang lain, menghadapi berbagai situasi, dan ketika menghadapi situasi-situasi tersebut, cara membuat penilaian dan dari sudut pandang serta pendirian apa mereka harus menangani hal-hal ini, dan sebagainya, entah pemikiran dan sudut pandang itu baru berupa pendahuluan atau sudah menjadi lebih konkret, semua ini kebanyakan didasarkan pada pembelajaran dan pembiasaan keluarga. Artinya, sebelum orang secara resmi terjun ke tengah masyarakat dan bergabung dalam kelompok sosial, tahap embrio dari pemikiran dan sudut pandang mereka semuanya berasal dari keluarga mereka. Oleh karena itu, keluarga sangatlah penting bagi setiap orang. Pentingnya keluarga lebih dari pentingnya pertumbuhan jasmani; yang lebih penting, sebelum orang terjun ke tengah masyarakat, di rumah, mereka belajar banyak pemikiran dan sudut pandang yang harus mereka terapkan dalam cara mereka menghadapi masyarakat, kelompok sosial, dan kehidupan masa depan mereka. Meskipun pemikiran dan sudut pandang ini tidak secara khusus atau akurat terdefinisikan saat seseorang tumbuh dewasa, berbagai pemikiran dan sudut pandang ini, serta berbagai metode, aturan, dan bahkan cara berinteraksi dengan orang lain ini, pada dasarnya dan terutama telah ditanamkan, dijadikan pengaruh, dan diindoktrinasikan dalam diri orang oleh orang tua mereka, oleh orang-orang yang lebih tua, atau anggota keluarga lainnya sebelum mereka terjun ke tengah masyarakat. Tindakan penanaman, memberi pengaruh, dan indoktrinasi ini dilakukan selama masa pertumbuhan orang di tengah keluarga mereka; itulah sebabnya keluarga sangatlah penting bagi setiap orang. Tentu saja, pentingnya keluarga hanya ditujukan pada taraf masuknya orang ke tengah masyarakat dan bergabungnya orang dengan kelompok sosial, serta masuknya orang ke dalam kehidupan dan keberadaan mereka sebagai orang dewasa—hanya terbatas pada tingkat kelangsungan hidup jasmani. Ini memperlihatkan betapa pentingnya pembelajaran dan pembiasaan keluarga bagi orang yang sedang memasuki masyarakat dan kehidupan sebagai orang dewasa. Artinya, ketika orang mencapai usia dewasa dan terjun ke tengah masyarakat, kebanyakan dari falsafah mereka tentang cara berinteraksi dengan orang lain berasal dari warisan orang tua dan pengaruh dari keluarga mereka. Dari sudut pandang ini, dapat juga dikatakan bahwa keluarga, sebagai unit masyarakat terkecil, adalah yang pertama dan yang terutama memainkan peran pembentukan dalam membentuk pemikiran orang serta berbagai metode dan prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain, dan bahkan pandangan hidup mereka. Mengingat bahwa berbagai pemikiran, sudut pandang, cara berinteraksi dengan orang lain dan pandangan mengenai kelangsungan hidup ini bersifat negatif, tidak sesuai dengan kebenaran, tidak ada kaitannya dengan kebenaran, atau bahkan dapat dikatakan bertentangan dengan kebenaran, dan bukan berasal dari Tuhan, maka sangatlah perlu bagi orang untuk melepaskan pembelajaran dan pembiasaan dari keluarga mereka tersebut. Jika mempertimbangkan akibat pembelajaran dan pembiasaan keluarga, kita dapat melihat bahwa hal tersebut bertentangan dan tidak sesuai dengan kebenaran, menentang Tuhan, dan pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa keluarga adalah tempat Iblis merusak manusia, menuntun manusia untuk menyangkal Tuhan, menentang-Nya, dan mengikuti jalan yang salah dalam hidup ini. Dari sudut pandang ini, dapatkah dikatakan bahwa sebagai unit masyarakat terkecil, keluarga adalah tempat orang pertama kali dirusak? Dari sudut pandang yang luas, dapat dikatakan bahwa Iblis dan tren-tren sosial merusak manusia, sedangkan dari sudut pandang yang spesifik, keluarga dapat dianggap sebagai tempat di mana orang pertama kali menerima perusakan dan pemikiran yang negatif, tren-tren jahat, dan sudut pandang Iblis. Secara lebih spesifik lagi, perusakan yang orang terima berasal dari orang tua mereka, orang-orang yang lebih tua, anggota keluarga lainnya, serta dari adat istiadat, nilai, tradisi, dan sebagainya, dari seluruh keluarga mereka. Dalam hal apa pun, keluarga adalah titik awal tempat orang mengalami perusakan, menerima pemikiran serta tren jahat Iblis, dan keluarga adalah tempat orang mulai menerima berbagai pemikiran yang rusak dan jahat selama tahun-tahun pertumbuhan mereka. Keluarga memainkan peran yang tidak dapat dimainkan baik oleh masyarakat secara keseluruhan, tren sosial, maupun Iblis dalam merusak manusia, karena keluargalah yang memperkenalkan kepada orang berbagai pemikiran dan sudut pandang dari tren sosial Iblis sebelum mereka terjun ke tengah masyarakat dan bergabung dengan kelompok-kelompok sosial. Seperti apa pun cara terbentuknya, keluarga adalah sumber utama pemikiran dan sudut pandangmu yang berasal dari Iblis. Oleh karena itu, untuk membantu orang melepaskan diri dari berbagai pemikiran dan sudut pandang yang keliru, sangatlah perlu bagi mereka untuk mengenali dan menganalisis bukan saja pemikiran dan sudut pandang keliru yang tersebar luas di tengah masyarakat tersebut, melainkan juga berbagai pemikiran dan sudut pandang, serta prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari pembelajaran dan pembiasaan keluarga. Keluarga itu sendiri adalah bagian dari masyarakat secara keseluruhan, keluarga bukanlah gereja atau rumah Tuhan, dan tentu saja bukanlah kerajaan surga. Keluarga hanyalah unit masyarakat terkecil yang tercipta di antara manusia yang rusak, dan unit terkecil ini juga dibentuk oleh manusia yang rusak. Oleh karena itu, jika orang ingin melepaskan diri mereka dari kekangan, belenggu, dan kesulitan akibat berbagai pemikiran dan sudut pandang yang keliru ini, mereka harus terlebih dahulu merenungkan, memahami, dan menganalisis berbagai pemikiran dan sudut pandang yang mereka terima dari pembelajaran dan pembiasaan keluarga, sampai mencapai titik di mana mereka mampu melepaskan semua itu. Ini adalah prinsip penerapan yang akurat untuk melepaskan pembelajaran dan pembiasaan keluarga.
Sebelumnya, kita telah mempersekutukan pembelajaran dan pembiasaan yang keluarga tanamkan dalam diri orang, yang berkaitan dengan hal-hal seperti pandangan hidup mereka, aturan untuk bertahan hidup, prinsip dan cara berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain, serta beberapa aturan main tak tertulis ketika terjun ke tengah masyarakat. Apa saja pandangan hidup yang berkaitan dengan pokok bahasan ini? Sebagai contoh, "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang" dan "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya". Apa saja prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang keluarga indoktrinasikan dalam diri orang? Contoh-contohnya mencakup: "Keharmonisan adalah harta karun; kesabaran adalah kecerdikan" dan "Kompromi akan membuat konflik jauh lebih mudah untuk diselesaikan". Apa lagi? ("Sama seperti pagar membutuhkan topangan tiga pasak, manusia yang cakap membutuhkan dukungan tiga orang lainnya", dan "Ketika orang menabuh gong, dengarkan bunyinya; ketika orang berbicara, dengarkan suaranya". Ini juga merupakan cara dan prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain.) Apakah ada yang berupa aturan main sosial? Seperti misalnya, "Burung yang menjulurkan lehernya adalah burung yang tertembak"? (Ya.) "Orang yang banyak bicara, banyak melakukan kesalahan". Apa lagi? (Kuperlakukan dirimu sama seperti caramu memperlakukanku.) Itu juga salah satunya, tetapi terakhir kali, kita tidak mempersekutukannya. Selain itu, orang tuamu sering memberitahumu, "Di dunia ini, penilaianmu harus tajam, bicaramu harus manis, dan matamu harus tajam. Kau harus 'perhatikan baik-baik segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu'. Jangan terlalu kaku dengan cara-caramu sendiri." Juga ada perkataan, "Tidak ada salahnya memuji seseorang", dan "Kau harus mengikuti arus di mana pun kau berada. Hukum tidak dapat ditegakkan jika semua orang adalah pelanggarnya. Jika ragu, ikuti saja apa yang semua orang lakukan". Semua ini adalah jenis aturan main. Lalu, ada pepatah yang berbunyi, "Wanita akan mempercantik diri demi mereka yang mengagumi dirinya, sementara pria akan mengorbankan nyawa demi mereka yang memahami dirinya" dan "Tidak ada wanita yang jelek, yang ada hanya wanita yang malas". Termasuk kategori apakah pepatah ini? Pepatah ini termasuk kategori kehidupan sehari-hari; pepatah ini memberitahumu cara untuk hidup dan cara untuk memperlakukan tubuh jasmanimu. Lalu, ada pepatah seperti. "Orang tua selalu benar", "Ibu adalah yang terbaik di dunia ini", "Induk harimau tidak akan melahirkan anak kambing", dan "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah". Pepatah-pepatah ini ada kaitannya dengan pemikiran dan sudut pandang kasih sayang serta perasaan keluarga. Orang juga sering berkata, "Orang mati adalah orang hebat di mata orang hidup." Setelah orang mati, mereka menjadi orang hebat. Jika engkau ingin statusmu menjadi lebih tinggi, jika engkau ingin orang memuji dan menghormatimu, engkau harus mati. Setelah engkau mati, engkau akan menjadi orang hebat. "Orang mati adalah orang hebat di mata orang hidup." Bukankah cara berpikir ini sangat konyol? Mereka berkata, "Jangan katakan hal buruk tentang seseorang setelah orang itu meninggal. Orang mati adalah orang hebat di mata orang hidup. Tunjukkan rasa hormatmu!" Sebanyak apa pun hal buruk yang orang ini telah lakukan, dia menjadi orang hebat setelah dia mati. Bukankah ini memperlihatkan tidak adanya kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat serta tidak adanya prinsip dalam cara orang berperilaku? (Ya.) "Orang tua selalu benar." Terakhir kali, kita telah mempersekutukan pepatah ini secara mendetail. Pepatah lain, seperti "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah", dan "Induk harimau tidak akan melahirkan anak kambing", bukanlah bagian yang dipersekutukan, tetapi bukankah pepatah tersebut mudah untuk dipahami? Apakah pepatah "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah" ini benar? Pepatah ini membuat didikan ayah tampak sangat penting. Menuju jalan seperti apakah seorang ayah mampu menuntun orang? Mampukah dia menuntunmu menuju jalan yang benar? Mampukah dia memimpinmu untuk menyembah Tuhan dan menjadi orang yang benar-benar baik? (Tidak.) Ayahmu memberitahumu, "Laki-laki tidak boleh gampang menangis", padahal engkau masih muda, dan engkau menangis ketika merasa diperlakukan tidak adil. Ayahmu menegurmu dengan berkata, "Tahan air matamu! Jadilah laki-laki sejati. Kau menangis karena hal-hal kecil, anak tidak berguna!" Setelah ini terjadi, engkau berpikir, "Aku tidak boleh menangis. Jika aku menangis, berarti aku tidak berguna." Engkau pun menahan air matamu, tidak berani menangis, dan diam-diam menangis di balik selimutmu pada malam hari. Sebagai laki-laki, engkau bahkan tidak berhak untuk mengungkapkan atau meluapkan emosimu secara alami; engkau bahkan tidak berhak memilih untuk menangis, engkau harus menahan tangismu setiap kali engkau merasa diperlakukan tidak adil. Inilah didikan yang kauterima dari ayahmu, dan inilah maksud sebenarnya dari pepatah "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah". Ayahmu, ibumu, dan generasi yang lebih tua semuanya berpaut pada didikan ini dengan berkata, "Kau kan anak laki-laki, sedikit-sedikit menangis, kau menangis setiap kali merasa diperlakukan tidak adil, dan ketika kau dipukuli di luar rumah. Anak tidak berguna! Kalau mereka memukulmu, mengapa kau tidak balas memukul mereka? Kalau mereka memukulmu, jangan bermain lagi dengan mereka. Kalau kau bertemu lagi dengan mereka, jika kau yakin mampu menghajar mereka, balas saja; jika kau merasa tidak mampu, larilah. Lihatlah bagaimana Han Xin[a] menanggung penghinaan dengan dipaksa merangkak di antara kedua kaki seseorang. Dia tidak menangis; seperti itulah laki-laki sejati!" Dengan cara inilah para ayah mendidik putra mereka dan mengindoktrinasikan pemikiran tentang menjadi laki-laki sejati ke dalam diri mereka. Laki-laki tidak boleh membicarakan masalah mereka dan tidak boleh menangis; mereka harus menahannya. Katakan kepada-Ku, berapa banyak ketidakadilan yang harus ditanggung laki-laki? Di tengah masyarakat ini, laki-laki harus menafkahi keluarga, berbakti kepada orang tua, dan mereka tidak berani mengeluh betapa pun lelahnya mereka. Mereka bahkan tidak boleh meluapkan perasaan mereka betapa pun besarnya ketidakadilan yang telah mereka alami. Bukankah ini tidak adil bagi laki-laki? (Ya.) Ketika ayahmu mendidikmu seperti ini, bagaimana perasaanmu? Ketika sesekali engkau ingin menangis, apa yang ayahmu katakan? "Selama ini, aku adalah orang yang bijak dan sangat bersemangat untuk menjadi orang yang unggul di sepanjang hidupku. Bagaimana mungkin aku membesarkan orang lemah sepertimu? Ketika aku seusiamu, aku sudah menafkahi keluargaku seorang diri. Sedangkan kau, kau ini terlalu manja dan dimanjakan, kau anak yang tidak berguna!" Bagaimana perasaanmu? Orang tua dan kakek nenekmu mendidikmu dengan berkata: "Laki-laki adalah pilar keluarga. Mengapa kami menyokongmu? Mengapa kami menyekolahkanmu di universitas? Itu adalah agar kau membantu menafkahi keluarga, bukan agar kau menangis atau merasa diperlakukan tidak adil setiap kali terjadi sesuatu." Bagaimana perasaanmu ketika ayahmu dan orang-orang yang lebih tua mengatakan hal seperti ini? Apakah kau merasa diperlakukan tidak adil atau menerimanya dengan tenang? (Aku merasa depresi, aku merasa diperlakukan tidak adil.) Apakah engkau merasa tak punya pilihan selain menerimanya, atau engkau merasakan kebencian di dalam hatimu? (Aku merasakan kebencian, tetapi aku harus menerimanya.) Mengapa engkau menerimanya? (Karena aku merasa bahwa di lingkungan atau sistem sosial seperti ini, aku tidak punya pilihan.) Seperti inilah masyarakat memosisikan laki-laki. Mereka dilahirkan di lingkungan sosial semacam ini, dan tak seorang pun punya pilihan. Didikan yang kauterima dari ayahmu dan dari orang-orang yang lebih tua berasal dari masyarakat; setelah mereka menerima didikan ideologis ini, mereka kemudian mengindoktrinasikan pemikiran dari masyarakat ini ke dalam dirimu. Sebenarnya, ketika mereka menerima pemikiran dan sudut pandang ini selama tahun-tahun pertumbuhan mereka, mereka juga enggan menerimanya. Seiring bertambahnya usia, mereka mewariskan pemikiran ini ke generasi selanjutnya. Mereka tidak mempertimbangkan apakah generasi selanjutnya seharusnya menerima pemikiran dan sudut pandang ini atau tidak, atau apakah semua itu benar atau tidak, karena mereka sendiri dibesarkan dengan cara seperti itu. Mereka mengira bahwa orang sudah seharusnya hidup dengan cara seperti ini; tidak penting jika engkau diperlakukan tidak adil, yang penting, menerima pemikiran ini akan membantumu untuk memperoleh kedudukan yang stabil di tengah masyarakat dan tidak ditindas oleh orang lain. Mereka juga menanggung keluhan ini, dan merasa tertekan dan benci sama sepertimu, tetapi mengapa mereka tetap mewariskan pemikiran dan sudut pandang ini kepadamu? Salah satu alasannya adalah karena mereka tentu saja menerima berbagai pemikiran dan sudut pandang dari masyarakat yang memungkinkan mereka untuk meleburkan diri dengan tren-tren sosial, membantu mereka untuk memperoleh kedudukan yang stabil di tengah masyarakat. Semua orang mengikuti pemikiran dan sudut pandang ini sebagai pedoman dan standar bagi hidup mereka, tanpa seorang pun mempertanyakannya atau ingin melanggar ataupun meninggalkannya. Ini adalah salah satu alasannya, yaitu agar dapat bertahan hidup. Alasan lainnya, yaitu alasan utamanya, adalah karena orang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan antara hal yang positif dan hal yang negatif. Mengapa demikian? Karena orang tidak memahami kebenaran, dan mereka tidak memiliki pemikiran serta sudut pandang yang benar mengenai cara bertahan hidup, cara berinteraksi dengan orang lain, atau jalan apa yang harus mereka tempuh. Agar dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat, diterima dan bertahan hidup di tengah masyarakat serta di kelompok sosial ini, orang harus secara aktif dan pasif menerima berbagai prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan aturan main yang telah masyarakat tetapkan. Tujuan penyesuaian diri ini adalah agar orang memiliki kedudukan yang stabil di tengah masyarakat dan agar bisa bertahan hidup. Namun, karena orang tidak memahami kebenaran, mereka tidak punya pilihan selain memilih prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan aturan main yang masyarakat tetapkan ini. Jadi, sebagai laki-laki, ketika ayahmu mengajarimu bahwa "Laki-laki tidak boleh gampang menangis", meskipun engkau merasa diperlakukan tidak adil dan ingin meluapkan rasa frustrasimu, engkau sama sekali tidak mampu membantah, juga tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang perkataan tersebut. Pada akhirnya, alasanmu menerima perkataan ini di dalam hatimu adalah karena, "Meskipun perkataan ayahku agak kasar dan tidak enak didengar, dan meskipun menerima perkataan ini bertentangan dengan keinginanku, dia melakukan ini untuk kebaikanku sendiri, jadi aku harus menerimanya." Karena hati nurani mereka dan karena merasa harus berbakti sebagai anak, orang harus setuju dan menerima pemikiran dan sudut pandang ini. Entah dengan aspek mana pun keluarga menanamkan pembelajaran dan pembiasaan ini, orang selalu berada dalam keadaan seperti ini, terus-menerus diindoktrinasi melalui cara-cara ini hingga akhirnya mereka menerimanya sekalipun tidak ingin. Melalui proses penerimaan yang terus-menerus ini, pemikiran serta sudut pandang yang keliru dan negatif ini secara berangsur-angsur meresap di lubuk hati orang, atau secara perlahan dan terus-menerus menyusup ke dalam pemikiran serta sudut pandang mereka, menjadi berbagai landasan bagi cara mereka berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain. Proses ini dapat dengan tepat digambarkan sebagai seseorang yang sedang mengalami perusakan, karena proses menerima pemikiran dan sudut pandang yang keliru juga merupakan proses perusakan. Jadi, siapakah orang yang rusak itu? Secara abstrak, mereka dirusak oleh Iblis, oleh tren-tren jahat; secara spesifik, mereka dirusak oleh keluarga mereka, dan secara lebih spesifik lagi, mereka dirusak oleh orang tua mereka. Jika Aku mengatakan hal-hal ini sepuluh tahun yang lalu, mungkin tak seorang pun di antaramu mampu menerimanya, dan engkau semua mungkin memusuhi-Ku. Namun kini, kebanyakan darimu mampu secara rasional menerima bahwa pernyataan ini benar adanya, dan "mengamininya", bukankah benar demikian? (Ya.) Mengapa pernyataan ini benar? Untuk memahaminya, orang harus secara berangsur memahaminya melalui pengalaman mereka. Makin spesifik dan mendalam pemahamanmu, dan makin pengalamanmu mencerminkan hal ini, engkau akan makin mampu setuju dengan pernyataan ini.
Pembelajaran dan pembiasaan keluarga kemungkinan besar mencakup lebih banyak aturan main tentang cara berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain. Sebagai contoh, orang tua sering berkata, "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu; engkau terlalu bodoh dan mudah percaya." Orang tua sering mengulang perkataan semacam ini, dan bahkan orang-orang yang lebih tua sering mengomelimu dengan berkata, "Jadilah orang yang baik, jangan mencelakakan orang lain, tetapi kau harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu. Semua orang itu jahat. Engkau mungkin melihat ada seseorang yang di luarnya mengatakan hal-hal baik kepadamu, tetapi kau tidak tahu apa yang dia pikirkan. Hati manusia tersembunyi di balik kulitnya, dan ketika menggambar seekor macan, engkau menggambar kulitnya, tetapi sulit untuk menggambar tulang di bawah kulitnya; dalam mengenal seseorang, engkau mungkin mengenal wajahnya, tetapi tidak hatinya." Apakah ada sisi yang benar dalam ungkapan ini? Jika melihat masing-masing darinya secara harfiah, tidak ada yang salah dengan ungkapan semacam ini. Apa yang sebenarnya orang pikirkan di lubuk hatinya, apakah hatinya kejam atau baik, itu tidak dapat diketahui. Adalah mustahil untuk mengenal kedalaman jiwa seseorang. Makna di balik ungkapan-ungkapan ini seolah-olah benar, tetapi ini hanyalah semacam doktrin. Seperti apakah prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang akhirnya orang peroleh dari kedua ungkapan ini? Prinsip yang orang peroleh adalah "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu." Inilah yang dikatakan oleh generasi yang lebih tua. Orang tua dan orang-orang yang lebih tua sering mengatakan hal ini, dan mereka selalu menasihatimu dengan berkata, "Berhati-hatilah, jangan bodoh dan mengungkapkan semua yang ada dalam hatimu. Belajarlah untuk bersikap waspada dan menjaga dirimu sendiri. Bahkan terhadap sahabatmu, jangan ungkapkan dirimu yang sebenarnya atau menceritakan isi hatimu. Jangan pertaruhkan hidupmu dengan mengatakannya kepada mereka." Apakah nasihat dari orang tuamu ini benar? (Tidak, karena itu mengajarkan orang cara-cara yang menipu.) Secara teori, nasihat tersebut memiliki tujuan utama yang baik: untuk melindungimu, menghindarkanmu agar tidak terjerumus dalam keadaan berbahaya, melindungimu agar tidak dicelakakan atau ditipu orang lain, melindungi kepentingan jasmanimu, keselamatan pribadimu, dan hidupmu. Tujuannya adalah agar engkau terhindar dari masalah, tuntutan hukum, dan pencobaan, serta memungkinkanmu untuk hidup dengan damai, lancar, dan bahagia setiap harinya. Tujuan utama orang tua dan orang-orang yang lebih tua hanyalah untuk melindungimu. Namun, cara mereka melindungimu, prinsip yang mereka sarankan untuk kauikuti, dan pemikiran yang mereka indoktrinasikan dalam dirimu sama sekali tidak benar. Sekalipun tujuan utama mereka benar, pemikiran yang mereka indoktrinasikan dalam dirimu tanpa sadar menuntunmu untuk bertindak berlebihan. Pemikiran yang mereka indoktrinasikan dalam dirimu menjadi prinsip dan landasan dalam caramu berinteraksi dengan orang lain. Ketika berinteraksi dengan teman sekelasmu, kolega, rekan kerja, atasan, semua jenis orang di tengah masyarakat, dan dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat, pemikiran protektif yang orang tuamu indoktrinasikan ini tanpa sadar telah menjadi jimat dan prinsipmu yang paling dasar setiap kali engkau menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan hubungan antar pribadi. Prinsip apakah ini? Yaitu: aku tidak akan mencelakakanmu, tetapi aku harus selalu bersikap waspada terhadapmu agar jangan sampai aku ditipu dan dicurangi olehmu, jangan sampai aku mendapat masalah atau tuntutan hukum, jangan sampai kekayaan keluargaku ludes dan anggota keluargaku kehilangan nyawa, dan jangan sampai aku akhirnya masuk penjara. Hidup di bawah kendali pemikiran dan sudut pandang seperti itu, hidup di tengah kelompok sosial ini dengan sikap seperti ini dalam berinteraksi dengan orang lain, engkau hanya menjadi makin tertekan, makin lelah, dan makin letih, baik pikiran maupun tubuhmu. Selanjutnya, engkau menjadi makin menentang dan muak akan manusia dan dunia ini, makin membenci mereka. Saat membenci orang lain, engkau juga mulai menganggap dirimu makin tidak berarti, merasa engkau tidak menjalani kehidupan layaknya manusia, tetapi sebaliknya, engkau menjalani kehidupan yang melelahkan dan depresi. Agar engkau tidak dicelakakan orang lain, engkau harus selalu bersikap waspada, melakukan dan mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginanmu. Dalam upayamu melindungi kepentinganmu sendiri dan keselamatan pribadimu, engkau mengenakan topeng kepalsuan dalam setiap aspek kehidupanmu dan menyamarkan dirimu, tidak pernah berani mengatakan yang sebenarnya. Dalam keadaan ini, dalam keadaan bertahan hidup ini, batinmu tidak dapat menemukan kelepasan atau kebebasan. Engkau sering membutuhkan seseorang yang tidak akan mencelakakan dirimu dan yang tidak akan pernah mengancam kepentinganmu, seseorang yang kepadanya engkau dapat membagikan pikiran terdalammu dan meluapkan rasa frustrasimu, tanpa perlu bertanggung jawab atas perkataanmu, tanpa takut dia akan mengejek, menghina, dan mencemooh dirimu, atau tanpa takut akan akibat apa pun. Dalam keadaan di mana pemikiran dan sudut pandang bahwa "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu" menjadi prinsipmu dalam berinteraksi dengan orang lain, batinmu dipenuhi dengan ketakutan dan perasaan tidak aman. Tentu saja, engkau merasa depresi, tak mampu menemukan kebebasan, dan engkau membutuhkan seseorang untuk menghiburmu, seseorang untuk menjadi tempatmu mencurahkan isi hati. Jadi, dinilai dari aspek-aspek ini, meskipun prinsip tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang orang tuamu ajarkan, yakni "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu", mampu melindungimu, prinsip ini juga merupakan pedang bermata dua. Sementara prinsip ini melindungi kepentingan jasmani dan keselamatan pribadimu hingga taraf tertentu, prinsip ini juga membuatmu merasa depresi dan sengsara, tidak mampu merasa lega, bahkan membuatmu makin membenci manusia dan dunia ini. Pada saat yang sama, di lubuk hatimu, engkau juga mulai sedikit merasa muak karena terlahir di zaman yang jahat seperti ini, di antara sekelompok orang yang sedemikian jahatnya. Engkau tidak mampu memahami mengapa orang harus hidup, mengapa hidup begitu melelahkan, mengapa mereka harus mengenakan topeng dan menyamarkan diri ke mana pun mereka pergi, atau mengapa engkau harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain demi kepentinganmu sendiri. Engkau ingin dapat mengatakan yang sebenarnya, tetapi engkau tidak bisa melakukannya karena takut akan akibatnya. Engkau ingin menjadi orang yang apa adanya, berbicara dan berperilaku secara terbuka, dan menghindarkan dirimu agar tidak menjadi orang yang hina atau orang yang diam-diam melakukan kejahatan dan hal memalukan, hidup terpisah dalam kegelapan, tetapi engkau tidak dapat melakukan satu pun dari hal-hal ini. Mengapa engkau tidak mampu hidup dengan jujur? Saat merenungkan tindakanmu di masa lalu, engkau merasa sedikit jijik. Engkau benci dan muak akan tren jahat ini serta dunia yang jahat ini, dan di saat yang sama, engkau juga sangat membenci dirimu sendiri serta memandang rendah dirimu yang telah menjadi orang semacam ini. Namun, tidak ada yang dapat kaulakukan. Meskipun orang tuamu, melalui perkataan dan tindakan mereka, mewariskan jimat ini kepadamu, itu tetap membuatmu merasa bahwa tidak ada kebahagiaan atau rasa aman di dalam hidupmu. Ketika engkau merasakan tidak adanya kebahagiaan, rasa aman, integritas, dan martabat, engkau mendapati dirimu berterima kasih kepada orang tuamu karena memberimu jimat ini, tetapi engkau juga membenci belenggu yang mereka ikatkan pada dirimu. Engkau tidak mengerti mengapa orang tuamu menyuruhmu untuk berperilaku dengan cara seperti ini, mengapa engkau harus berperilaku seperti ini agar dapat memperoleh kedudukan yang stabil di tengah masyarakat, agar dapat melebur dalam kelompok sosial ini, dan melindungi dirimu sendiri. Meskipun itu adalah semacam jimat, itu juga merupakan semacam belenggu yang membuatmu merasakan cinta sekaligus kebencian di dalam hatimu. Namun, apa yang dapat kaulakukan? Engkau tidak memiliki jalan yang benar dalam hidup ini, tak seorang pun memberitahumu cara untuk menjalani hidup atau cara untuk menangani hal-hal yang terjadi dalam hidupmu, dan tak seorang pun memberitahumu apakah yang kaulakukan itu benar atau salah, atau bagaimana engkau harus menempuh jalan yang terbentang di depanmu. Engkau hanya bisa menjalani hidupmu dengan kebingungan, kebimbangan, penderitaan, dan kegelisahan. Inilah akibat dari falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang orang tua dan keluarga indoktrinasikan dalam dirimu, yang membuatmu tak mampu mewujudkan keinginanmu yang paling sederhana untuk menjadi orang yang apa adanya, yaitu keinginanmu untuk mampu berperilaku dengan jujur, tanpa menggunakan cara-cara semacam itu dalam berinteraksi dengan orang lain. Engkau hanya dapat hidup dengan cara yang hina, berkompromi dan hidup demi reputasimu, membuat dirimu menjadi orang yang sangat keras dalam berwaspada terhadap orang lain, berpura-pura keras, tinggi, dan kuat, berkuasa dan luar biasa agar jangan sampai orang menindas dirimu. Engkau hanya dapat hidup seperti ini berlawanan dengan keinginanmu, yang membuatmu membenci dirimu sendiri, tetapi engkau tidak punya pilihan. Karena engkau tidak memiliki kemampuan atau jalan untuk melepaskan cara dan strategi untuk berinteraksi dengan orang lain ini, engkau hanya dapat membiarkan dirimu dimanipulasi oleh pemikiran yang ditanamkan dalam dirimu oleh keluarga dan orang tuamu. Orang dibodohi dan dikendalikan oleh pemikiran yang diindoktrinasikan oleh keluarga dan orang tua mereka selama proses yang tidak mereka sadari ini, karena mereka tidak memahami kebenaran atau bagaimana mereka seharusnya hidup, sehingga mereka hanya dapat menerimanya begitu saja. Sekalipun hati nurani mereka masih memiliki sedikit perasaan, atau mereka bahkan memiliki sedikit keinginan untuk hidup serupa dengan manusia, untuk bergaul dan bersaing secara adil dengan orang lain, apa pun keinginan mereka, mereka tidak dapat melepaskan diri dari pembelajaran dan pembiasaan serta kendali berbagai pemikiran dan sudut pandang yang berasal dari keluarga mereka, dan pada akhirnya, mereka hanya dapat kembali pada pemikiran dan sudut pandang yang keluarga mereka tanamkan dalam diri mereka bahwa "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu", karena tidak ada jalan lain yang dapat mereka tempuh. Mereka tidak punya pilihan. Semua ini disebabkan karena orang tidak memahami kebenaran dan tidak mampu memperoleh kebenaran. Tentu saja, orang tua juga memberitahumu bahwa, "Ketika menggambar seekor macan, engkau menggambar kulitnya, tetapi sulit untuk menggambar tulang di bawah kulitnya; dalam mengenal seseorang, engkau mungkin mengenal wajahnya, tetapi tidak hatinya"; mereka memberitahumu tentang seni untuk bersikap waspada terhadap orang lain, dan menyuruhmu untuk melakukannya karena semua orang itu licik; engkau akan mudah ditipu jika tidak mampu mengetahui diri orang yang sebenarnya, pikiran mereka mungkin tidak sama dengan penampilan luar mereka, orang mungkin di luarnya terlihat adil dan baik hati, tetapi hatinya sama berbisanya dengan ular atau kalajengking; atau orang di luarnya mungkin berbicara tentang kebajikan, keadilan, kesopanan, kebijaksanaan, dan kepercayaan, mengatakan semua hal yang benar, ucapan mereka penuh dengan keadilan dan moralitas, tetapi di lubuk hati dan jiwa mereka sangat kotor, tercela, rendah, dan jahat. Oleh karena itu, engkau hanya dapat memperlakukan dan berinteraksi dengan orang lain berdasarkan pemikiran dan sudut pandang yang orang tuamu indoktrinasikan dalam dirimu.
"Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu", dan "Ketika menggambar seekor macan, engkau menggambar kulitnya, tetapi sulit untuk menggambar tulang di bawah kulitnya; dalam mengenal seseorang, engkau mungkin mengenal wajahnya, tetapi tidak hatinya" adalah prinsip paling dasar tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang orang tua indoktrinasikan dalam dirimu, serta standar paling mendasar tentang cara memandang orang dan bersikap waspada terhadap mereka. Tujuan utama orang tua adalah untuk melindungimu dan membantumu untuk melindungi dirimu sendiri. Namun, dari sudut pandang lain, perkataan, pemikiran, dan sudut pandang ini mungkin akan membuatmu makin merasa bahwa dunia ini berbahaya dan bahwa orang-orang tidak dapat dipercaya, membuatmu sama sekali tidak memiliki perasaan positif terhadap orang lain. Namun, bagaimana engkau dapat mengetahui diri orang yang sebenarnya dan memandang orang lain? Orang seperti apa yang dengannya engkau dapat bergaul, dan seperti apa seharusnya hubungan yang benar di antara orang-orang? Bagaimana seharusnya orang berinteraksi dengan orang lain berdasarkan prinsip, dan bagaimana orang dapat berinteraksi dengan adil serta harmonis dengan orang lain? Orang tua tidak tahu apa pun tentang hal-hal ini. Mereka hanya tahu bagaimana menggunakan tipu muslihat, rencana licik, dan berbagai aturan main serta strategi berinteraksi dengan orang lain untuk bersikap waspada terhadap orang-orang, dan untuk memanfaatkan serta mengendalikan orang lain, agar dapat melindungi diri mereka sendiri sehingga tidak dicelakakan orang lain, sebanyak apa pun mereka sendiri mencelakakan orang lain. Sementara mengajarkan pemikiran dan sudut pandang ini kepada anak-anak mereka, hal-hal yang orang tua indoktrinasikan dalam diri mereka hanyalah strategi tertentu tentang cara berinteraksi dengan orang lain. Semua itu tidak lebih dari strategi. Apa sajakah yang termasuk dalam strategi tersebut? Segala macam tipu muslihat, aturan main, cara menyenangkan orang lain, cara melindungi kepentingan sendiri, dan cara memaksimalkan keuntungan pribadi. Apakah prinsip-prinsip ini merupakan kebenaran? (Bukan.) Apakah semua ini adalah jalan yang benar untuk orang tempuh? (Bukan.) Tak satu pun darinya merupakan jalan yang benar. Jadi, apa esensi dari pemikiran yang orang tuamu tanamkan dalam dirimu ini? Semua itu tidak sesuai dengan kebenaran, bukan merupakan jalan yang benar, dan bukan hal yang positif. Lalu, apakah hal-hal tersebut? (Hal-hal tersebut seluruhnya adalah falsafah Iblis yang merusak kami.) Jika melihat akibatnya, semua itu merusak manusia. Jadi, apa esensi dari pemikiran ini? Seperti misalnya "Orang tidak boleh berniat mencelakakan orang lain, tetapi harus selalu bersikap waspada terhadap orang lain sebab mereka mungkin saja akan mencelakakan dirimu"—apakah ini merupakan prinsip yang benar dalam berinteraksi dengan orang lain? (Tidak, ini sepenuhnya hal negatif yang berasal dari Iblis.) Ini adalah hal-hal negatif yang berasal dari Iblis. Jadi, apa natur dan esensi hal ini? Bukankah ini adalah tipu muslihat? Bukankah ini adalah strategi? Bukankah ini adalah taktik untuk membujuk orang lain agar mau memberi dukungan? (Ya.) Ini bukanlah prinsip penerapan untuk masuk ke dalam kebenaran, ataupun prinsip dan arah positif yang Tuhan ajarkan kepada manusia tentang bagaimana cara berperilaku; ini adalah strategi tentang cara berinteraksi dengan orang lain, ini adalah tipu muslihat. Terlebih lagi, apakah natur dari ungkapan seperti "Ketika menggambar seekor macan, engkau menggambar kulitnya, tetapi sulit untuk menggambar tulang di bawah kulitnya; dalam mengenal seseorang, engkau mungkin mengenal wajahnya, tetapi tidak hatinya" juga sama? (Ya.) Bukankah ungkapan-ungkapan ini menyuruhmu untuk menjadi licik, tidak apa adanya, tidak berterus terang, ataupun tidak jujur, untuk menjadi sulit ditebak, dan membuat orang lain kesulitan untuk mengetahui dirimu yang sebenarnya? Bukankah prinsip spesifik tentang cara berinteraksi dengan orang lain, yang ditanamkan dalam dirimu melalui pemikiran dan sudut pandang ini, menganjurkanmu untuk menggunakan strategi ketika berinteraksi dengan orang lain, untuk belajar cara membujuk orang lain agar mendukungmu, dan untuk mempelajari aturan main yang beredar di kalangan masyarakat di setiap zaman? (Ya.) Ada orang-orang yang berkata, "Orang tua memberitahukan ungkapan-ungkapan ini kepada orang-orang untuk mengajarkan mereka bersikap waspada terhadap orang lain dan belajar cara memandang orang." Apakah mereka memberitahumu cara memandang orang lain? Mereka tidak memberitahumu cara memandang orang lain, mereka tidak menyuruhmu untuk memperlakukan berbagai orang berdasarkan prinsip yang benar, tetapi menggunakan tipu muslihat dan rencana licik yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan dan strategi dalam menghadapi berbagai orang. Sebagai contoh, bos atau atasanmu adalah orang jahat dan seorang penggoda wanita. Engkau berpikir, "Atasanku di luarnya tampak terhormat, dia tampak jujur, tetapi di balik semua itu, dia sebenarnya adalah seorang penggoda wanita. Seberengsek itulah jiwanya yang sebenarnya. Kalau begitu, aku akan memenuhi kesukaan atasanku, mencari wanita mana yang terlihat cantik, mendekatinya, dan memperkenalkannya kepada atasanku untuk menyenangkannya." Apakah ini adalah strategi untuk berinteraksi dengan orang lain? (Ya.) Sebagai contoh, ketika engkau bertemu seseorang yang bernilai untuk kaumanfaatkan dan kauanggap layak untuk diajak berinteraksi, tetapi dia bukanlah orang yang mudah untuk dimanfaatkan, engkau berpikir, "Aku harus mengucapkan perkataan yang menyanjungnya, mengatakan apa pun yang ingin didengarnya." Jika orang itu berkata, "Cuaca hari ini bagus." Engkau akan berkata, "Cuaca hari ini sangat bagus, besok juga cuaca akan bagus." Jika dia berkata, "Cuaca hari ini sangat dingin." Engkau berkata, "Benar, cuaca dingin. Mengapa kau tidak mengenakan pakaian yang lebih hangat? Mantelku hangat, silakan kenakan saja mantelku." Begitu orang itu menguap, engkau segera memberinya bantal; saat dia mengeluarkan botol obat, engkau segera menuangkan air untuknya; ketika dia duduk setelah makan, engkau segera menyeduhkan teh untuknya. Bukankah ini adalah strategi untuk berinteraksi dengan orang lain? (Ya.) Ini adalah strategi untuk berinteraksi dengan orang lain. Mengapa engkau mampu menggunakan strategi ini? Mengapa engkau ingin menjilat orang itu? Jika engkau tidak membutuhkan orang itu dan dia tidak menguntungkan bagimu, akankah engkau memperlakukannya seperti ini? (Tidak.) Tidak, ini sama seperti apa yang cenderung orang katakan. "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya." Ini seperti membawa sebotol air ke kebun sayuran—engkau hanya menyirami yang berguna. Engkau secara aktif menjilat orang yang ada gunanya bagimu. Begitu orang itu mundur atau diberhentikan dari jabatannya, antusiasmemu terhadapnya langsung padam, dan engkau pun mengabaikannya. Ketika dia meneleponmu, engkau mematikan teleponmu atau berpura-pura bahwa saluranmu sibuk dan tidak menjawabnya. Ketika engkau bertemu dengannya, dia menyapamu dan berkata, "Cuaca hari ini bagus." Engkau mengabaikannya dengan berkata, "Oh, iya. Sampai jumpa. Kita ngobrol lagi nanti kalau sempat, ya. Kapan-kapan aku akan mentraktirmu." Janji-janji kosong, dan setelah itu engkau mengabaikannya, tidak menghubunginya, dan bahkan memblokirnya. Berbagai pemikiran dan sudut pandang yang orang tua tanamkan dalam diri orang membentuk dinding pelindung tak kasatmata di hati mereka. Pada saat yang sama, mereka juga menanamkan cara-cara dasar tertentu untuk berinteraksi dengan orang lain atau untuk bertahan hidup, mengajari orang cara untuk memanipulasi kedua belah pihak yang berlawanan demi keuntungan pribadi dan cara untuk melebur dalam kelompok sosial, cara untuk memiliki kedudukan yang stabil di tengah masyarakat, dan cara agar tidak ditindas di tengah sekelompok orang. Meskipun, sebelum engkau terjun ke tengah masyarakat, orang tuamu tidak secara khusus membimbingmu tentang cara menangani situasi khusus, pembelajaran dan pembiasaan orang tua atau keluarga dalam hal cara dan prinsip untuk berinteraksi dengan orang lain ini telah memberimu pandangan dan prinsip dasar dalam caramu berinteraksi dengan orang lain. Apa sajakah pandangan dan prinsip dasar tentang cara berinteraksi dengan orang lain ini? Mereka mengajarimu cara untuk mengenakan topeng setiap kali engkau berinteraksi dengan orang-orang, cara untuk hidup dengan mengenakan topeng di setiap kelompok sosial, dan pada akhirnya cara untuk mencapai tujuan, yakni menjaga agar ketenaran dan keuntunganmu tidak dirugikan, dan sekaligus cara untuk memperoleh ketenaran serta keuntungan yang kauinginkan, atau memperoleh jaminan dasar akan keselamatan pribadimu. Dari pemikiran, sudut pandang dan berbagai strategi untuk berinteraksi dengan orang lain yang orang tuamu tanamkan dalam dirimu, dapat dilihat bahwa orang tuamu selama ini tidak mengajarimu cara untuk menjadi orang yang lebih bermartabat, cara untuk menjadi orang yang apa adanya, cara untuk menjadi makhluk hidup yang baik, atau cara untuk menjadi orang yang memiliki kebenaran. Sebaliknya, mereka memberitahumu cara untuk menipu orang lain, cara untuk berwaspada terhadap orang lain, cara untuk menggunakan strategi dalam berinteraksi dengan berbagai orang, serta seperti apa hati orang dan seperti apa manusia. Dengan memiliki pemikiran dan sudut pandang yang orang tuamu tanamkan ini, batinmu terus-menerus menjadi makin jahat, dan engkau menjadi makin tidak suka terhadap orang lain. Di dalam hatimu yang masih muda, bahkan sebelum engkau memiliki strategi apa pun untuk berinteraksi dengan orang lain, engkau sudah memiliki definisi tentang manusia yang dasar dan dangkal, serta prinsip yang dasar dan dangkal tentang cara berinteraksi dengan orang lain. Jadi, apa peran orang tuamu dalam caramu berinteraksi dengan orang lain? Mereka tidak diragukan lagi telah berperan menuntunmu ke jalan yang salah; mereka tidak menuntunmu untuk menempuh jalan yang benar, atau membimbingmu menuju jalan hidup manusia yang benar dengan cara yang positif dan proaktif, tetapi sebaliknya, mereka justru menyesatkanmu.
Catatan kaki:
a. Han Xin adalah seorang jenderal terkenal dari dinasti Han, yang pernah dipaksa untuk merangkak di antara kedua kaki seorang tukang daging yang mengejeknya karena kepengecutannya sebelum dia kemudian menjadi terkenal.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.