Cara Mengejar Kebenaran (13) Bagian Tiga

Selain membesarkanmu dan memberimu makanan, pakaian dan pendidikan, apa yang telah keluargamu berikan kepadamu? Yang keluargamu berikan hanyalah masalah, bukan? (Ya.) Jika engkau tidak dilahirkan dalam keluarga semacam itu, seluruh pengaruh pembelajaran dan pembiasaan yang keluargamu tanamkan dalam dirimu mungkin tidak ada. Pembelajaran dan pembiasaan dari keluargamu mungkin tidak ada, tetapi pengaruh pembelajaran dan pembiasaan dari masyarakat akan tetap ada. Engkau tidak dapat menghindarinya. Dari sudut pandang mana pun engkau melihatnya, entah pengaruh pembelajaran dan pembiasaan ini berasal keluarga ataupun dari masyarakat, gagasan dan pandangan ini pada dasarnya berasal dari Iblis. Hanya saja, setiap keluarga menerima berbagai pepatah dari masyarakat ini dengan tingkat keyakinan yang berbeda dan memberi penekanan pada poin yang berbeda. Mereka kemudian menggunakan cara yang sesuai untuk mendidik dan menanamkan pembelajaran dan pembiasaan pada generasi penerus keluarga mereka. Setiap orang menerima segala macam pembelajaran dan pembiasaan hingga taraf yang berbeda, tergantung keluarga tempat mereka berasal. Namun sebenarnya, pengaruh pembelajaran dan pembiasaan ini berasal dari masyarakat dan dari Iblis. Hanya saja pengaruh pembelajaran dan pembiasaan ini ditanamkan secara mendalam di benak orang melalui perantaraan perkataan dan tindakan orang tua yang lebih konkret, dengan menggunakan cara-cara yang lebih langsung yang membuat orang lebih mampu menerimanya, sehingga orang menerima pembelajaran dan pembiasaan ini dan semua itu menjadi prinsip serta cara mereka dalam berinteraksi dengan orang lain, dan itu juga menjadi landasan bagi mereka dalam memandang orang dan berbagai hal, dan dalam berperilaku serta bertindak. Sebagai contoh, gagasan dan pandangan yang baru saja kita bahas—"Ketika orang menabuh gong, dengarkan bunyinya; ketika orang berbicara, dengarkan suaranya"—juga merupakan pengaruh pembelajaran dan pembiasaan yang berasal dari keluargamu. Seperti apa pun pengaruh pembelajaran dan pembiasaan yang keluarga tanamkan dalam diri mereka, orang-orang memandangnya dari sudut pandang anggota keluarga dan karena itu, mereka menerimanya sebagai hal yang positif, dan sebagai jimat pribadi mereka, yang mereka gunakan untuk melindungi diri mereka sendiri. Hal ini karena orang menganggap bahwa segala sesuatu yang berasal dari orang tua mereka adalah hasil dari penerapan dan pengalaman orang tua mereka. Di antara semua orang di dunia ini, hanya orang tua mereka yang tidak akan pernah mencelakakan mereka, dan hanya orang tua mereka yang ingin mereka menjalani kehidupan yang lebih baik dan melindungi mereka. Oleh karena itu, orang-orang menerima berbagai gagasan dan pandangan dari orang tua mereka tanpa memahami yang sebenarnya tentang semua itu. Dengan demikian, mereka tentu saja menerima berbagai gagasan dan pandangan yang ditanamkan tersebut. Setelah berbagai gagasan dan pandangan ini tertanam dalam diri mereka, mereka tidak pernah meragukannya atau memahami yang sebenarnya tentang semua itu, karena mereka sering mendengar orang tua mereka mengatakan hal-hal seperti itu. Sebagai contoh, "Orang tua selalu benar." Lalu, apa maksud pepatah ini? Maksudnya, entah orang tuamu benar atau salah, pada dasarnya karena orang tuamu melahirkanmu dan membesarkanmu, engkau harus berpendapat bahwa semua yang orang tuamu lakukan adalah benar. Engkau tidak boleh menilai apakah semua itu benar atau salah, engkau juga tidak boleh menolaknya, apalagi menentangnya. Inilah yang disebut berbakti. Sekalipun orang tuamu melakukan kesalahan, dan sekalipun beberapa gagasan dan pandangan mereka sudah ketinggalan zaman atau keliru, atau cara mereka mendidikmu serta gagasan dan pandangan yang mereka gunakan dalam mendidikmu tidak benar ataupun positif, engkau tidak boleh meragukannya atau menolaknya karena ada pepatah tentang hal ini, yaitu "Orang tua selalu benar". Berkenaan dengan orang tua, engkau tidak boleh membedakan atau menilai apakah mereka benar atau salah, karena anak-anak harus berpendapat bahwa hidup mereka dan segala sesuatu yang mereka miliki berasal dari orang tua mereka. Tak seorang pun lebih tinggi daripada orang tuamu, jadi jika engkau berhati nurani, engkau tidak boleh mengkritik mereka. Betapa pun keliru, tidak benar, atau tidak sempurnanya orang tuamu, mereka tetaplah orang tuamu. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat denganmu, yang membesarkanmu, orang-orang yang memperlakukanmu dengan paling baik, dan orang-orang yang memberimu kehidupan. Bukankah semua orang menerima pepatah ini? Dan justru karena memiliki mentalitas seperti ini, orang tuamu menganggap bahwa mereka dapat memperlakukanmu dengan tidak bermoral, dan menggunakan segala macam cara untuk mengarahkanmu melakukan segala macam hal, serta menanamkan berbagai gagasan dalam dirimu. Dari sudut pandang mereka, mereka berpikir, "Motifku benar, ini adalah untuk kebaikanmu sendiri. Semua yang kaumiliki diberikan kepadamu olehku. Kau dilahirkan dan dibesarkan olehku, jadi seperti apa pun caraku memperlakukanmu, aku tidak mungkin salah, karena semua yang kulakukan adalah untuk kebaikanmu sendiri dan aku tidak akan melukai atau mencelakakanmu." Dari sudut pandang anak, apakah benar bahwa sikap mereka terhadap orang tua mereka haruslah didasarkan pada pepatah "Orang tua selalu benar"? (Salah.) Tentu saja salah. Jadi, bagaimana caramu memahami yang sebenarnya mengenai pepatah ini? Dari berapa banyak aspek kita dapat menganalisis kekeliruan dari pepatah ini? Jika kita melihatnya dari sudut pandang anak, kehidupan dan tubuh mereka berasal dari orang tua mereka, yang juga telah berbaik hati membesarkan dan mendidik mereka, sehingga anak sudah seharusnya mematuhi setiap perkataan mereka, melaksanakan kewajiban mereka untuk berbakti, dan tidak mencari-cari kesalahan orang tua mereka. Makna tersembunyi dari perkataan ini adalah engkau tidak boleh mengetahui yang sebenarnya tentang orang tuamu. Jika kita menganalisisnya dari sudut pandang ini, apakah pandangan ini benar? (Tidak.) Bagaimana seharusnya kita memperlakukan hal ini berdasarkan kebenaran? Bagaimana cara yang benar untuk menjelaskan hal ini? Apakah tubuh dan kehidupan anak diberikan kepada mereka oleh orang tua mereka? (Tidak.) Tubuh jasmani seseorang dilahirkan dari orang tuanya, tetapi berasal dari manakah kemampuan orang tua untuk melahirkan anak? (Kemampuan itu diberikan oleh Tuhan dan berasal dari Tuhan.) Bagaimana dengan jiwa seseorang? Dari manakah jiwa berasal? Jiwa juga berasal dari Tuhan. Jadi pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Tuhan, dan semua ini ditetapkan sejak semula oleh-Nya. Tuhanlah yang menetapkanmu sejak semula untuk dilahirkan di keluarga ini. Tuhan mengirimkan satu jiwa ke keluarga ini, dan kemudian dilahirkan di keluarga ini, dan engkau telah ditentukan sejak semula untuk memiliki hubungan ini dengan orang tuamu. Ini telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan. Karena kedaulatan dan penetapan Tuhan sejak semula, orang tuamu mampu melahirkanmu, dan engkau terlahir di keluarga ini. Ini adalah melihatnya dari sumbernya. Namun, bagaimana jika Tuhan tidak menetapkan hal-hal ini dengan cara seperti ini? Maka orang tuamu tidak akan pernah melahirkanmu, dan engkau tidak akan pernah memiliki hubungan orang tua-anak ini dengan mereka. Tidak akan ada hubungan darah, tidak ada kasih sayang keluarga, dan tidak ada hubungan sama sekali. Oleh karena itu, adalah keliru mengatakan bahwa kehidupan seseorang diberikan kepadanya oleh orang tuanya. Aspek lainnya adalah, jika melihatnya dari perspektif anak, orang tuanya adalah satu generasi lebih tua daripadanya. Namun, bagi semua manusia, orang tua adalah sama seperti semua orang lainnya, sejauh mereka semua adalah bagian dari umat manusia yang rusak, dan semuanya memiliki watak rusak Iblis dalam diri mereka. Mereka tidak ada bedanya dengan semua orang lainnya, dan tidak ada bedanya denganmu. Meskipun mereka secara jasmani melahirkanmu, dan dalam hal hubungan darah dan daging denganmu, mereka satu generasi lebih tua daripadamu, dalam hal esensi watak manusia, engkau semua sedang hidup di bawah kuasa Iblis, dan engkau semua telah dirusak oleh Iblis serta memiliki watak rusak Iblis dalam dirimu. Mengingat fakta bahwa semua orang memiliki watak rusak Iblis dalam diri mereka, esensi semua orang adalah sama. Sekalipun ada perbedaan dalam senioritas, atau usia, atau dalam hal apakah orang dilahirkan lebih awal atau lahir di kemudian hari di dunia ini, manusia pada dasarnya memiliki esensi watak rusak yang sama, mereka semua adalah manusia yang telah dirusak oleh Iblis, dan tidak ada bedanya dalam hal ini. Entah kemanusiaan mereka baik atau jahat, karena mereka memiliki watak yang rusak, mereka menggunakan perspektif dan sudut pandang yang sama dalam cara mereka memandang orang serta hal-hal, dan dalam cara mereka memperlakukan kebenaran. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan di antara mereka. Selain itu, setiap orang yang hidup di tengah umat manusia yang jahat ini menerima berbagai gagasan dan pandangan yang berlimpah di dunia yang jahat ini, entah dalam bentuk perkataan ataupun pemikiran, atau dalam bentuk ideologi, dan menerima segala macam gagasan dari Iblis, baik melalui pendidikan negara ataupun dari pembelajaran dan pembiasaan dari norma-norma sosial. Hal-hal ini sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Tidak ada kebenaran dalam hal-hal ini, dan orang tentunya tidak memahami apa yang dimaksud dengan kebenaran. Dari sudut pandang ini, orang tua dan anak-anak mereka adalah setara dan memiliki gagasan serta pandangan yang sama. Hanya saja, orang tuamu menerima gagasan dan pandangan ini 20 atau 30 tahun sebelumnya, sedangkan engkau menerimanya tidak lama kemudian. Artinya, karena latar belakang sosial yang sama, selama engkau adalah manusia yang normal, baik engkau maupun orang tuamu telah menerima kerusakan yang sama dari Iblis, pembelajaran dan pembiasaan dari norma sosial, serta gagasan dan pandangan yang sama yang berasal dari berbagai tren jahat di tengah masyarakat. Dari sudut pandang ini, anak-anak adalah tipe yang sama dengan orang tua mereka. Dari sudut pandang Tuhan, dengan mengesampingkan dasar pemikiran bahwa Dia telah menetapkan, menentukan, dan memilih dari semula, di mata Tuhan, baik orang tua maupun anak-anak mereka adalah sama, yaitu bahwa mereka adalah makhluk ciptaan, dan mengenai apakah mereka adalah makhluk ciptaan yang menyembah Tuhan atau tidak, mereka semua sama-sama dikenal sebagai makhluk ciptaan, dan semuanya menerima kedaulatan, pengaturan dan penataan Tuhan. Dari sudut pandang ini, orang tua dan anak-anak mereka sebenarnya memiliki status yang setara di mata Tuhan, dan mereka semua menerima kedaulatan dan pengaturan Tuhan secara sama dan setara. Ini adalah fakta objektif. Jika mereka semua dipilih oleh Tuhan, mereka semua memiliki kesempatan yang setara untuk mengejar kebenaran. Tentu saja, mereka juga memiliki kesempatan yang setara untuk menerima hajaran dan penghakiman Tuhan, dan kesempatan yang setara untuk diselamatkan. Selain kesamaan di atas, hanya ada satu perbedaan antara orang tua dan anak-anak mereka, yaitu bahwa kedudukan orang tua dalam apa yang disebut sebagai hierarki keluarga adalah lebih tinggi daripada kedudukan anak-anak mereka. Apa yang dimaksud dengan kedudukan mereka dalam hierarki keluarga? Maksudnya, mereka hanya satu generasi yang lebih tua 20 atau 30 tahun, tidak lebih dari perbedaan usia yang jauh. Dan karena status istimewa orang tua, anak harus berbakti dan memenuhi kewajibannya kepada orang tuanya. Ini adalah satu-satunya tanggung jawab yang orang miliki terhadap orang tuanya. Namun, karena anak-anak dan orang tua semuanya adalah bagian dari umat manusia yang sama-sama rusak, orang tua bukanlah teladan moral bagi anak-anak mereka, juga bukan tolok ukur dan contoh bagi anak-anak mereka dalam mengejar kebenaran, juga bukan teladan bagi anak mereka dalam hal menyembah dan tunduk kepada Tuhan. Tentu saja, orang tua bukanlah inkarnasi kebenaran. Orang tidak memiliki kewajiban atau tanggung jawab untuk menganggap orang tua mereka sebagai teladan moral atau sebagai orang-orang yang harus ditaati tanpa syarat. Anak tidak boleh takut untuk mengetahui yang sebenarnya tentang esensi dari perilaku, tindakan, dan watak orang tua mereka. Artinya, dalam hal memperlakukan orang tua, orang tidak boleh berpaut pada gagasan dan pandangan seperti "Orang tua selalu benar". Pandangan ini didasarkan pada fakta bahwa orang tua memiliki status istimewa, yaitu mereka melahirkan dirimu di bawah penetapan Tuhan sejak semula, dan mereka 20, 30, atau bahkan 40 atau 50 tahun lebih tua daripadamu. Hanya dari perspektif hubungan darah dan daging ini, dalam hal status dan kedudukan mereka dalam hierarki keluarga, mereka berbeda dengan anak-anak mereka. Namun, karena perbedaan ini, orang menganggap orang tua mereka tidak memiliki kesalahan sama sekali. Apakah benar demikian? Ini keliru, tidak masuk akal, dan tidak sesuai dengan kebenaran. Ada orang yang bertanya-tanya bagaimana orang seharusnya memperlakukan orang tuanya, mengingat bahwa orang tua dan anak memiliki hubungan darah dan daging seperti ini. Jika orang tua percaya kepada Tuhan, mereka harus diperlakukan sebagaimana mestinya sebagai orang percaya; jika mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka harus diperlakukan sebagaimana mestinya sebagai orang tidak percaya. Orang macam apa pun orang tua, mereka harus diperlakukan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang sesuai. Jika mereka adalah para setan, engkau harus menganggap mereka setan. Jika mereka tidak memiliki kemanusiaan, engkau harus menganggap mereka tidak memiliki kemanusiaan. Jika gagasan dan pandangan yang mereka ajarkan kepadamu tidak sesuai dengan kebenaran, engkau tidak perlu mendengarkan hal-hal ini ataupun menerimanya, dan engkau bahkan boleh mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal ini dan menyingkapkannya. Jika orang tuamu berkata, "Aku melakukannya demi kebaikanmu sendiri," lalu mengamuk dan membuat keributan, akankah engkau peduli? (Tidak.) Jika orang tuamu tidak percaya, jangan pedulikan perkataan mereka, dan biarkan saja. Jika mereka membuat keributan besar, engkau akan melihat bahwa mereka adalah setan dan tidak kurang dari itu. Kebenaran tentang iman kepada Tuhan ini adalah gagasan dan pandangan yang paling perlu untuk orang terima. Karena mereka tidak mampu menerimanya atau tidak memahami dan menerimanya, orang macam apakah mereka? Mereka tidak memahami firman Tuhan, jadi mereka bukan manusia, bukan? Engkau harus berpikir seperti ini: "Walaupun kau adalah orang tuaku, kau tidak memiliki kemanusiaan. Aku merasa sangat malu terlahir sebagai anakmu! Kini, aku dapat mengetahui dirimu yang sebenarnya. Kau tidak memiliki roh manusia di dalam dirimu, kau tidak memahami kebenaran, kau bahkan tak mampu mendengarkan doktrin yang sedemikian jelas dan sederhana, tetapi kau masih melontarkan komentar yang tidak bijaksana dan mengatakan hal-hal yang memfitnah. Kini, aku memahaminya dan benar-benar memutus hubungan denganmu di dalam hatiku. Namun, di luarnya, aku tetap akan menyenangkanmu, dan aku tetap akan memenuhi beberapa tanggung jawab dan kewajibanku sebagai anakmu. Jika aku mampu melakukannya, aku akan membelikanmu beberapa produk kesehatan, tetapi jika aku tidak mampu melakukannya, aku akan pulang untuk mengunjungimu, dan itu saja. Aku tidak akan menyanggah pendapatmu, apa pun yang kaukatakan. Kau tidak masuk akal, dan aku akan membiarkanmu seperti itu saja. Apa yang bisa dikatakan kepada setan sepertimu, yang tidak bernalar? Mengingat fakta bahwa kau telah melahirkanku dan menghabiskan bertahun-tahun untuk membesarkanku, aku akan terus mengunjungimu dan merawatmu. Jika bukan karena fakta tersebut, aku tidak akan memperhatikanmu sama sekali, dan aku tidak ingin bertemu denganmu seumur hidupku." Mengapa engkau tidak ingin bertemu lagi dengan mereka atau berhubungan dengan mereka? Karena engkau memahami kebenaran, dan engkau telah mengetahui yang sebenarnya tentang esensi mereka, dan tentang semua gagasan serta pandangan mereka yang keliru, dan dari gagasan serta pandangan yang keliru ini, engkau melihat kebodohan, sikap keras kepala, serta kejahatan mereka, dan melihat dengan jelas bahwa mereka adalah setan, sehingga engkau merasa muak dan jijik terhadap mereka, dan tidak ingin bertemu mereka. Hanya karena sedikit hati nurani di dalam dirimu, engkau merasa terdorong untuk memenuhi beberapa tanggung jawab dan tugasmu untuk berbakti sebagai anak, jadi engkau mengunjungi mereka selama Tahun Baru dan selama hari raya, dan itu saja. Selama mereka tidak menghalangimu untuk percaya kepada Tuhan atau melaksanakan tugasmu, kunjungilah mereka ketika engkau punya waktu. Jika engkau benar-benar tidak ingin bertemu mereka, telepon saja mereka untuk menanyakan kabar mereka, sesekali kirimkan sedikit uang kepada mereka melalui pos, dan belikan mereka beberapa barang yang berguna. Baik itu merawat mereka, mengunjungi mereka, membelikan mereka pakaian, menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan mereka, atau merawat mereka ketika mereka sakit, semua ini orang lakukan hanya untuk memenuhi kewajibannya untuk berbakti dan memenuhi kebutuhannya sendiri dalam hal perasaan dan hati nuraninya. Itu saja, dan itu tidak diperhitungkan sebagai menerapkan kebenaran. Semuak apa pun engkau terhadap mereka, atau sebaik apa pun engkau mampu mengetahui esensi mereka yang sebenarnya, selama mereka masih hidup, engkau harus memenuhi kewajiban yang perlu kaulakukan sebagai anak dan memikul tanggung jawab yang perlu kaupenuhi. Orang tuamu merawatmu ketika engkau masih kecil, dan saat mereka sudah tua, engkau harus merawat mereka selama engkau mampu melakukannya. Biarkan mereka mengomelimu jika mereka ingin. Asalkan engkau tidak mendengarkan gagasan dan pandangan yang berusaha mereka tanamkan dalam dirimu, tidak menerima apa yang mereka katakan, dan tidak membiarkan mereka mengganggu atau mengekangmu, maka itu sama sekali tidak masalah, dan itu membuktikan bahwa engkau telah bertumbuh dalam tingkat pertumbuhanmu dan engkau tetap teguh dalam kesaksianmu di hadapan Tuhan. Dia tidak akan mengutukmu karena engkau merawat mereka, dan Dia tidak akan berkata, "Mengapa engkau begitu sentimental? Engkau telah menerima kebenaran dan sedang mengejarnya, jadi mengapa engkau tetap merawat mereka?" Ini adalah tanggung jawab dan kewajiban paling dasar yang harus kaulakukan, yaitu bahwa engkau harus memenuhi kewajibanmu selama keadaannya memungkinkan. Ini bukan berarti bahwa engkau sedang bersikap sentimental, dan Tuhan tidak akan mengutukmu karenanya. Tentu saja, di dunia ini, selain orang tuamu, yang kepadanya engkau harus memenuhi kewajiban dan tanggung jawabmu, engkau tidak memiliki tanggung jawab dan kewajiban kepada siapa pun—tidak kepada saudara kandungmu, teman-temanmu, atau kepada berbagai paman dan bibimu. Engkau tidak berkewajiban atau bertanggung jawab untuk melakukan apa pun untuk menyenangkan mereka, atau membantu mereka. Bukankah demikian? (Ya.)

Apakah penjelasan-Ku tentang pernyataan bahwa "Orang tua selalu benar" sudah jelas? (Ya.) Siapakah orang tua? (Manusia yang rusak.) Benar, orang tua adalah manusia yang rusak. Jika terkadang engkau merindukan orang tuamu dan berpikir, "Bagaimana kabar orang tuaku selama dua tahun terakhir ini? Apakah selama ini mereka merindukanku? Apakah mereka sudah pensiun? Apakah mereka menghadapi kesulitan dalam hidup ini? Adakah seseorang yang merawat mereka saat mereka sakit?" Misalkan engkau sedang memikirkan hal-hal ini dan engkau juga merenung, "Orang tua selalu benar. Dahulu, orang tuaku memukuli dan memarahiku karena mereka jengkel atas ketidakmampuanku memenuhi harapan mereka, dan karena mereka sangat menyayangiku. Orang tuaku lebih baik daripada siapa pun, mereka adalah orang-orang yang paling menyayangiku di dunia ini. Kini, saat memikirkan sifat-sifat buruk orang tuaku, aku tidak lagi menganggapnya sebagai sifat yang buruk, karena orang tua selalu benar." Dan makin engkau memikirkan hal ini, makin engkau ingin bertemu mereka. Apakah baik berpikir seperti ini? (Tidak.) Tidak baik. Bagaimana seharusnya engkau berpikir? Engkau harus merenungkannya seperti ini: "Ketika aku masih kecil, orang tuaku memukuliku, memarahiku, dan melukai harga diriku. Mereka tidak pernah mengucapkan perkataan yang baik ataupun mendorongku. Mereka memaksaku untuk belajar, dan juga memaksaku untuk belajar menari serta menyanyi, dan belajar untuk Olimpiade Matematika—semua hal yang tidak kusukai. Orang tuaku sangat menyebalkan. Kini, aku percaya kepada Tuhan dan aku telah dibebaskan. Aku meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku bahkan sebelum aku menyelesaikan kuliahku. Tuhanlah yang baik. Aku tidak merindukan orang tuaku. Mereka menghalangiku agar aku tidak percaya kepada Tuhan. Orang tuaku adalah setan." Lalu, engkau kembali merenung, "Itu tidak benar. Orang tua selalu benar. Orang tuaku adalah orang yang paling dekat denganku, jadi wajar jika aku merindukan mereka." Benarkah berpikir seperti ini? (Tidak.) Lalu, bagaimana cara berpikir yang benar? (Dahulu, kami menganggap bahwa apa pun yang orang tua kami lakukan, mereka melakukannya dengan memikirkan kami, dan menganggap bahwa mereka baik kepada kami dalam semua hal yang mereka lakukan, dan mereka tidak akan pernah mencelakakan kami. Persekutuan yang baru saja Tuhan sampaikan menyadarkanku bahwa orang tuaku juga adalah manusia yang rusak, yang telah menerima berbagai gagasan dan pandangan dari Iblis. Tanpa kami sadari, orang tua kami telah menanamkan banyak pandangan Iblis ke dalam diri kami, menyebabkan kami menyimpang begitu jauh dari kebenaran dalam perilaku serta tindakan kami, dan menyebabkan kami hidup berdasarkan falsafah Iblis. Kini, setelah aku mengetahui yang sebenarnya tentang apa yang ada di dalam hati orang tuaku, aku tidak akan terlalu merindukan dan memikirkan mereka.) Dalam bersikap terhadap orang tuamu, engkau harus terlebih dahulu keluar dari hubungan darah ini secara rasional dan mengenali yang sebenarnya tentang orang tuamu dengan menggunakan kebenaran yang telah kauterima dan pahami. Ketahuilah yang sebenarnya tentang orang tuamu berdasarkan pemikiran, pandangan, dan motif mereka dalam berperilaku, dan berdasarkan prinsip serta cara mereka berperilaku, yang akan menegaskan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang telah dirusak oleh Iblis. Pandanglah mereka dan kenalilah mereka dari sudut pandang kebenaran, bukan dari sudut pandang yang selalu menganggap orang tuamu luhur, tanpa pamrih, dan baik kepadamu, karena jika engkau memandang mereka dengan cara seperti itu, engkau tidak akan pernah menemukan masalah apa yang mereka miliki. Jangan pandang orang tuamu dari sudut pandang ikatan keluargamu, atau dari peranmu sebagai anak. Keluarlah dari lingkup ini dan lihatlah bagaimana cara mereka berinteraksi dengan orang lain, cara mereka memperlakukan kebenaran, orang, peristiwa, dan berbagai hal. Selain itu, yang lebih spesifik, lihatlah gagasan dan pandangan yang telah orang tuamu tanamkan dalam dirimu tentang bagaimana engkau harus memandang orang serta berbagai hal, dan bagaimana engkau harus berperilaku dan bertindak. Dengan cara inilah engkau harus mengenali dan mengetahui yang sebenarnya tentang mereka. Dengan cara ini, kualitas kemanusiaan mereka dan fakta bahwa mereka telah dirusak oleh Iblis akan menjadi jelas sedikit demi sedikit. Orang macam apa mereka? Jika mereka bukan orang percaya, bagaimana sikap mereka terhadap orang yang percaya kepada Tuhan? Jika mereka adalah orang percaya, bagaimana sikap mereka terhadap kebenaran? Apakah mereka orang-orang yang mengejar kebenaran? Apakah mereka mencintai kebenaran? Apakah mereka menyukai hal-hal positif? Apa pandangan mereka terhadap kehidupan dan dunia? Dan sebagainya. Jika engkau dapat mengenali orang tuamu berdasarkan hal-hal ini, engkau akan memiliki pemahaman yang jelas. Setelah hal-hal ini jelas, status orang tuamu yang luhur, mulia, dan tak tergoyahkan di benakmu akan berubah. Dan setelah itu berubah, kasih sayang keibuan dan kebapakan yang diperlihatkan oleh orang tuamu—beserta dengan perkataan dan tindakan spesifik mereka, dan citra luhur yang kaumiliki tentang mereka—tidak akan lagi terpatri sedemikian dalamnya di benakmu. Sikap tanpa pamrih dan kebesaran kasih orang tuamu kepadamu, serta pengabdian mereka dalam merawatmu, melindungimu, dan bahkan menyayangimu, tanpa kausadari tidak akan lagi menempati posisi yang penting di dalam benakmu. Orang sering berkata, "Orang tuaku sangat menyayangiku. Setiap kali aku berada jauh dari rumah, ibuku selalu bertanya, 'Kau sudah makan? Apakah kau makan dengan teratur?' Ayah selalu bertanya, 'Apa kau punya cukup uang? Kalau kau tak punya cukup uang, akan kukirimkan lagi sedikit uang untukmu.' Dan aku menjawab, 'Aku masih ada uang, tidak perlu mengirimiku lagi,' dan Ayah menjawab, 'Tidak apa-apa, meskipun kau berkata bahwa kau masih ada uang, aku akan tetap mengirimkannya kepadamu.'" Sebenarnya, orang tuamu hidup hemat dan enggan mengeluarkan uang untuk diri mereka sendiri. Mereka menggunakan uang mereka untuk mendukungmu, sehingga engkau memiliki lebih banyak uang yang dapat kaubelanjakan saat engkau berada jauh dari rumah. Ayah dan ibumu selalu berkata, "Berhematlah ketika di rumah, tetapi bawalah sedikit uang tambahan saat bepergian. Bawalah sedikit lebih banyak saat kau pergi keluar. Jika kau tidak punya cukup uang, beri tahu saja aku, dan akan kukirimkan uangnya padamu atau kutambahkan ke kartumu." Kekhawatiran, perhatian, kepedulian dan bahkan sikap yang menyayangi dan memanjakan yang tanpa pamrih dari orang tuamu itu akan selalu menjadi tanda akan pengabdian mereka yang tanpa pamrih dan tak terhapuskan di matamu. Pengabdian yang tanpa pamrih ini telah menjadi perasaan yang kuat dan hangat di dalam lubuk hatimu yang mengikat hubungan antara mereka dan dirimu. Perasaan itu membuatmu tak mampu melepaskan mereka, dan membuatmu mengkhawatirkan mereka, terus mencemaskan mereka, selalu merindukan mereka, dan bahkan membuatmu selalu rela terperangkap dalam perasaan ini dan diperas oleh kasih sayang mereka. Sebenarnya fenomena macam apa hal ini? Kasih orang tuamu memang tanpa pamrih. Betapa pun besarnya kepedulian orang tuamu terhadapmu, atau sekalipun mereka hidup dengan sangat hemat dan menabung hanya untuk dapat memberimu uang untuk kaubelanjakan, atau membelikanmu semua barang yang kaubutuhkan, itu mungkin merupakan berkat bagimu pada saat ini, tetapi tidak akan menjadi hal yang baik bagimu dalam jangka panjang. Makin tanpa pamrih mereka, makin baik mereka memperlakukanmu, dan makin mereka memedulikanmu, makin engkau tidak mampu melepaskan dirimu dari kasih sayang ini, melepaskannya atau melupakannya, dan makin engkau merindukan mereka. Ketika engkau tidak mampu melaksanakan tugasmu untuk berbakti kepada mereka atau memenuhi kewajibanmu kepada mereka, engkau akan merasa jauh lebih kasihan kepada mereka. Dalam keadaan seperti ini, engkau tak sampai hati untuk mengenali diri mereka yang sebenarnya, atau melupakan kasih dan pengabdian mereka serta segala sesuatu yang pernah mereka lakukan untukmu, atau menganggap semua itu sama sekali tidak penting. Ini adalah pengaruh dari hati nuranimu. Apakah hati nuranimu merepresentasikan kebenaran? (Tidak.) Mengapa orang tuamu bersikap seperti ini terhadapmu? Karena kasih sayang mereka terhadapmu. Lalu, dapatkah kasih sayang mereka kepadamu merepresentasikan esensi kemanusiaan mereka? Dapatkah itu merepresentasikan sikap mereka terhadap kebenaran? Tidak. Ini sama seperti para ibu yang selalu berkata, "Kau adalah darah dagingku sendiri, aku berkeringat dan bekerja keras untuk membesarkanmu. Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa yang kaupikirkan di dalam hatimu?" Mereka baik kepadamu karena ikatan keluarga yang dekat ini dan karena hubungan darah dan daging ini, tetapi apakah mereka benar-benar baik kepadamu? Apakah ini benar-benar merupakan diri mereka yang sebenarnya? Apakah ini merupakan ungkapan sebenarnya dari esensi kemanusiaan mereka? Belum tentu. Karena engkau berhubungan darah dengan mereka, mereka berpikir bahwa mereka harus baik kepadamu karena merasa wajib melakukannya. Namun, sebagai anak mereka, engkau menganggap bahwa mereka baik kepadamu karena kebaikan hati mereka, dan engkau merasa tak pernah mampu membalasnya. Jika engkau tak mampu membalas kebaikan mereka sepenuhnya, atau bahkan sedikit saja dari kebaikan mereka, hati nuranimu akan menuduhmu. Apakah perasaan yang kaurasakan ketika hati nuranimu menuduhmu sesuai dengan kebenaran? Dengan kata lain, jika mereka bukan orang tuamu, melainkan hanya orang biasa yang berinteraksi denganmu secara normal dalam sebuah kelompok, akankah mereka memperlakukanmu dengan cara seperti ini? (Tidak.) Mereka pasti tidak akan melakukannya. Jika mereka bukan orang tuamu dan tidak memiliki hubungan darah denganmu, perilaku dan sikap mereka terhadapmu akan berbeda dalam berbagai hal. Mereka pasti tidak akan memedulikanmu, melindungimu, menyayangimu, menjagamu, atau mengabdikan apa pun untukmu tanpa pamrih. Lalu, bagaimana mereka akan memperlakukanmu? Mungkin mereka akan menindasmu karena engkau masih muda dan belum berpengalaman dalam bersosialisasi, atau mendiskriminasi dirimu karena kedudukan dan statusmu yang rendah, dan selalu berbicara kepadamu dengan nada birokratis dan berusaha mendidikmu; atau mungkin mereka akan menganggapmu berpenampilan biasa-biasa saja, dan jika engkau berbicara kepada mereka, mereka tidak akan memberimu perhatian, dan engkau merasa tak sepadan dengan mereka; atau mereka mungkin tidak akan menganggapmu berguna, dan mereka tidak akan bersosialisasi denganmu atau berhubungan denganmu; atau mungkin mereka akan menganggapmu polos, sehingga jika mereka ingin tahu tentang sesuatu, mereka akan selalu mulai dengan menanyakannya kepadamu dan mencoba mendapatkan jawabannya darimu; atau mereka mungkin ingin mengambil keuntungan secara tidak adil darimu bagaimanapun caranya, misalnya, setiap kali engkau membeli sesuatu dengan harga murah, mereka selalu ingin engkau membaginya dengan mereka, atau ingin mengambil sebagian darinya; atau mungkin ketika engkau terjatuh di jalan dan membutuhkan bantuan mereka agar kau bisa berdiri, mereka bahkan tidak mau melihatmu, dan malah menendangmu; atau mungkin ketika engkau berada dalam bus, jika engkau tidak memberikan tempat dudukmu kepada mereka, mereka akan berkata, "Aku sudah sangat tua, mengapa kau tidak memberikan tempat dudukmu untukku? Mengapa sebagai anak muda kau begitu bodoh? Apakah orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun!" Dan mereka bahkan akan mengumpatmu. Jika mereka mungkin seperti ini, engkau perlu menyelidiki apakah kasih keibuan dan kasih kebapakan yang tersembunyi di dalam lubuk hatimu adalah ungkapan kemanusiaan mereka yang sebenarnya. Engkau sering merasa terharu karena pengabdian mereka yang tanpa pamrih kepadamu dan karena kasih keibuan serta kasih kebapakan mereka yang besar, dan engkau sangat terikat dengan mereka, merindukan mereka, dan selalu ingin membalas mereka dengan nyawamu sendiri. Apa penyebab hal ini? Jika penyebabnya hanyalah karena hati nuranimu, masalahnya tidak terlalu mendalam dan dapat diatasi. Namun, jika penyebabnya adalah karena kasih sayang terhadap mereka, ini akan sangat merepotkan. Engkau akan makin terjebak di dalamnya dan tidak akan mampu melepaskan dirimu. Engkau akan sering terjebak dalam kasih sayang ini dan merindukan orang tuamu, dan terkadang engkau bahkan akan mengkhianati Tuhan demi membalas kebaikan orang tuamu. Sebagai contoh, apa yang akan kaulakukan jika mendengar bahwa orang tuamu sakit parah di rumah sakit, atau sesuatu yang serius telah terjadi pada mereka dan mereka berada dalam kesulitan tertentu yang tak dapat mereka atasi dan mereka sangat sedih serta hancur hati, atau jika engkau mendengar kabar bahwa orang tuamu akan segera meninggal dunia? Pada saat itu, tidak mungkin diketahui apakah kasih sayangmu akan mendominasi hati nuranimu, atau apakah kebenaran dan firman Tuhan yang telah Dia ajarkan kepadamu akan mengarahkan hati nuranimu untuk mengambil keputusan tertentu. Hasil dari masalah seperti ini akan tergantung pada bagaimana kecenderunganmu dalam memandang hubungan antara orang tua dan anak, berapa banyak engkau telah masuk ke dalam kebenaran tentang cara memperlakukan orang tua, berapa banyak engkau mampu mengetahui diri mereka yang sebenarnya, berapa banyak pemahamanmu dalam hal esensi natur umat manusia, dan berapa banyak pemahamanmu mengenai karakter dan esensi kemanusiaan orang tuamu, serta watak rusak mereka. Yang terpenting, hasil dari masalah ini tergantung pada bagaimana engkau memperlakukan hubungan pada tingkat keluarga, dan pandangan yang benar yang harus kaupegang. Hal-hal ini adalah berbagai kebenaran yang dengannya engkau harus memperlengkapi dirimu sebelum masalah-masalah seperti ini menimpamu. Semua orang lainnya—kerabat dan teman, para bibi dan paman, kakek nenek, dan orang luar lainnya—dapat dilepaskan dengan mudah, karena mereka tidak menempati posisi yang penting dalam kasih sayang seseorang. Orang-orang ini dapat dilepaskan dengan mudah, tetapi orang tua adalah pengecualian. Hanya orang tualah yang merupakan kerabat terdekat seseorang di dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang berperan penting dalam kehidupan seseorang dan memiliki pengaruh yang penting di sepanjang hidupnya, sehingga tidaklah mudah untuk melepaskan mereka. Jika hari ini engkau telah memperoleh pemahaman yang jelas tentang berbagai pemikiran yang muncul akibat pembelajaran dan pembiasaan dari keluarga, pemahaman ini akan membantumu melepaskan perasaan kasih sayangmu terhadap orang tua, karena pengaruh pembelajaran dan pembiasaan yang keluarga tanamkan dalam dirimu secara keseluruhannya hanya merupakan pernyataan yang tidak berwujud, sedangkan pembelajaran dan pembiasaan yang paling spesifik sebenarnya berasal dari orang tuamu. Satu kalimat dari orang tuamu, atau sikap mereka dalam melakukan sesuatu, atau cara dan sarana yang mereka gunakan dalam menangani sesuatu—hal-hal ini adalah cara yang paling akurat untuk menggambarkan bagaimana pembelajaran dan pembiasaan ditanamkan dalam dirimu. Setelah engkau mampu dengan berbagai cara memahami dan mengenali secara spesifik gagasan, tindakan dan pepatah yang telah orang tuamu tanamkan dalam dirimu, engkau akan memiliki penilaian dan pengetahuan yang akurat tentang esensi dari peran, karakter, pandangan hidup, dan cara-cara orang tuamu dalam bertindak. Setelah engkau memiliki penilaian dan pengetahuan yang akurat ini, tanpa kausadari, persepsimu tentang peran orang tuamu akan secara berangsur-angsur berubah di benakmu, dari positif menjadi negatif. Setelah engkau menyadari bahwa peran orang tuamu sepenuhnya negatif, engkau akan mampu secara berangsur-angsur melepaskan penopang sentimentalmu, keterikatan rohanimu, dan berbagai macam kasih sayang yang besar dari orang tuamu terhadapmu. Pada saat itu, engkau akan merasa bahwa selama ini citra orang tuamu di lubuk hatimu begitu luhur, bagaikan kisah dalam esai berjudul "Punggung Ayahku", yang kaupelajari dalam buku pelajaran sekolahmu, serta bagaikan lagu yang populer bertahun-tahun lalu, yang berjudul, "Ibu adalah yang Terbaik di Dunia Ini", yang menjadi lagu tema film Taiwan dan populer di seluruh kalangan masyarakat berbahasa Mandarin. Dengan cara-cara inilah masyarakat dan dunia mendidik umat manusia. Jika engkau tidak menyadari esensi atau fakta sebenarnya di balik hal-hal ini, engkau akan merasa bahwa metode pendidikan ini adalah positif. Berdasarkan kemanusiaanmu saat ini, hal-hal ini memberimu pengakuan dan keyakinan yang lebih besar akan kebesaran kasih sayang orang tuamu kepadamu, dan akibatnya, timbullah kesan yang mendalam di hatimu bahwa kasih sayang orang tuamu itu tanpa pamrih, luar biasa, dan suci. Oleh karena itu, seburuk apa pun orang tuamu, kasih sayang mereka tetaplah tanpa pamrih dan luar biasa. Bagimu, ini adalah fakta yang tidak terbantahkan yang tak dapat disangkal oleh siapa pun, dan tak seorang pun boleh mengatakan hal yang buruk tentang orang tuamu. Akibatnya, engkau tidak ingin mengetahui yang sebenarnya tentang mereka atau menyingkapkan mereka, dan engkau juga sekaligus ingin menyediakan tempat tertentu bagi mereka di lubuk hatimu, karena engkau yakin bahwa untuk selamanya kasih orang tua itu di atas segalanya, tak bercela, luar biasa, dan suci, dan tak seorang pun dapat menyangkal hal itu. Ini menjadi landasan bagi hati nuranimu dan bagi caramu dalam berperilaku. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kasih orang tua itu tidak luar biasa atau penuh cela, engkau akan menyanggah perkataan itu mati-matian. Ini adalah sikap yang tidak rasional. Sebelum orang memahami kebenaran, pengaruh hati nurani mereka akan mendorong mereka untuk berpaut pada gagasan dan pandangan tradisional tertentu, atau juga memunculkan gagasan dan pandangan baru tertentu. Padahal, jika melihatnya dari perspektif kebenaran, gagasan dan pandangan ini sering kali tidak rasional. Setelah engkau memahami kebenaran, engkau akan mampu memperlakukan hal-hal ini dalam lingkup rasionalitas yang normal. Jadi, manusia memiliki hati nurani dan juga nalar. Jika hati nurani tidak mampu mencapai atau memenuhi hal-hal ini, atau hal-hal ini tidak dapat diatur atau positif di bawah pengaruh hati nurani, orang dapat menggunakan rasionalitas untuk mengatur dan mengoreksi hal-hal tersebut. Lalu, bagaimana cara agar orang memiliki rasionalitas? Orang harus memahami kebenaran. Setelah orang memahami kebenaran, mereka akan memperlakukan, memilih dan memahami segala sesuatu secara lebih tepat dan akurat. Dengan demikian, mereka akan memiliki rasionalitas yang benar, dan mencapai titik di mana nalar melampaui hati nurani. Ini adalah perwujudan dari apa yang terjadi setelah orang masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Sekarang ini, engkau semua mungkin tidak benar-benar memahami perkataan ini, tetapi engkau akan memahaminya setelah engkau memiliki pengalaman yang nyata dan memahami kebenaran. Apakah pepatah "Orang tua selalu benar" berasal dari rasionalitas atau dari hati nurani? Pepatah itu tidak rasional dan berasal dari kasih sayang orang di bawah pengaruh hati nuraninya. Jadi, apakah pepatah ini rasional? Tidak. Mengapa tidak rasional? Karena pepatah ini berasal dari kasih sayang orang dan tidak sesuai dengan kebenaran. Jadi, pada saat apakah engkau mampu memandang dan memperlakukan orang tua secara rasional? Pada saat engkau memahami kebenaran dan telah mengetahui yang sebenarnya tentang esensi dan sumber dari masalah ini. Setelah engkau memahaminya, engkau tidak akan lagi memperlakukan orang tuamu berdasarkan pengaruh hati nuranimu, kasih sayang tidak akan lagi memegang peranan, demikian pula hati nuranimu, dan engkau akan mampu memandang dan memperlakukan orang tuamu berdasarkan kebenaran. Seperti inilah sikap yang rasional itu.

Jelaskah persekutuan-Ku tentang masalah cara memperlakukan orang tua? (Jelas.) Ini adalah masalah penting. Karena semua anggota keluarga berpendapat, "Orang tua selalu benar", dan engkau tidak tahu apakah pepatah itu benar atau salah, engkau menerimanya begitu saja. Dengan demikian, setiap kali orang tuamu melakukan sesuatu yang tidak sesuai, engkau merenung dan berpikir, "Orang-orang berkata 'Orang tua selalu benar', jadi bagaimana mungkin aku berkata bahwa orang tuaku tidak benar? Apa yang terjadi di keluarga harus menjadi rahasia keluarga, jangan beritahukan kepada orang lain, sembunyikan saja." Selain pengaruh pembelajaran dan pembiasaan dari pepatah—"Orang tua selalu benar"—yang keliru ini, ada pepatah lain: "Apa yang terjadi di keluarga harus menjadi rahasia keluarga". Jadi, engkau berpikir, "Masa aku menyalahkan orang tuaku sendiri? Aku tidak boleh memberi tahu orang luar tentang hal yang memalukan ini. Aku harus merahasiakannya. Apa gunanya menganggap serius kesalahan orang tuaku?" Pengaruh pembelajaran dan pembiasaan dari keluarga ini selalu hadir dalam kehidupan orang sehari-hari, dalam jalan hidup mereka, dan selama proses kelangsungan hidup mereka. Sebelum orang memahami kebenaran dan memperoleh kebenaran, mereka memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak berdasarkan berbagai gagasan dan pandangan yang ditanamkan dalam diri mereka ini oleh keluarga mereka. Mereka sering dipengaruhi, diganggu, dikekang dan diikat hingga tak berkutik oleh pemikiran ini. Mereka bahkan dituntun oleh pemikiran ini, sering salah menilai orang dan melakukan hal-hal yang salah, serta sering melanggar firman Tuhan dan kebenaran. Sekalipun orang telah mendengarkan banyak firman Tuhan, dan sekalipun mereka sering mendoa-bacakan firman Tuhan dan mempersekutukannya, karena pandangan yang telah keluarga tanamkan ini telah berakar kuat di pikiran dan hati mereka, mereka tak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang pandangan ini, juga tidak memiliki kemampuan untuk menentangnya. Bahkan pada saat mereka sedang menerima pengajaran dan perbekalan firman Tuhan, mereka tetap dipengaruhi oleh pemikiran ini, yang juga menuntun perkataan, perbuatan dan cara hidup mereka. Oleh karena itu, di bawah tuntunan pemikiran yang keluarga tanamkan dalam diri mereka yang tidak mereka sadari ini, orang sering tak mampu menahan diri untuk tidak melanggar firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran. Namun, mereka masih mengira bahwa mereka sedang menerapkan dan mengejar kebenaran. Mereka tidak tahu bahwa berbagai pepatah yang keluarga tanamkan dalam diri mereka ini sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Yang jauh lebih parah adalah bahwa pepatah yang keluarga tanamkan dalam diri orang ini menuntun orang berulang kali menuju jalan melanggar kebenaran, tetapi mereka bahkan tidak menyadarinya. Oleh karena itu, jika engkau ingin mengejar kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, engkau harus terlebih dahulu memahami dan mengenali dengan jelas berbagai pengaruh pembelajaran dan pembiasaan yang berasal dari keluargamu, dan kemudian berusaha untuk melepaskan dirimu dari berbagai pemikiran yang keluargamu tanamkan dalam dirimu tersebut. Tentu saja, dapat dikatakan dengan pasti bahwa engkau harus memisahkan dirimu dari pembelajaran dan pembiasaan keluargamu. Jangan menganggap karena engkau berasal dari keluarga ini, maka engkau harus melakukan hal ini atau hidup dengan cara seperti itu. Engkau tidak memiliki tanggung jawab atau kewajiban untuk mewarisi tradisi keluargamu atau mewarisi berbagai cara dan sarana keluargamu dalam melakukan berbagai hal dan dalam bertindak. Hidupmu berasal dari Tuhan. Sekarang ini, engkau telah dipilih oleh Tuhan, dan tujuan yang ingin kaukejar adalah memperoleh keselamatan, jadi engkau tidak boleh menggunakan berbagai gagasan yang keluargamu tanamkan dalam dirimu sebagai landasan bagi caramu memandang orang serta berbagai hal dan bagi caramu berperilaku serta bertindak. Sebaliknya, engkau harus memandang orang dan berbagai hal, serta berperilaku dan bertindak berdasarkan firman Tuhan dan berbagai ajaran-Nya. Hanya dengan cara ini, engkau akan mampu memperoleh keselamatan pada akhirnya. Tentu saja, pengaruh pembelajaran dan pembiasaan yang keluargamu tanamkan tidak terbatas pada hal-hal yang tercantum di sini. Aku hanya menyebutkan beberapa di antaranya. Ada berbagai macam didikan keluarga yang berasal dari berbagai keluarga, berbagai suku, berbagai masyarakat, berbagai ras, berbagai agama, dan yang ditanamkan dalam pemikiran manusia dengan berbagai macam cara. Berasal dari ras atau budaya agama apa pun pemikiran yang ditanamkan ini, selama itu tidak sesuai dengan kebenaran, dan selama itu tidak berasal dari Tuhan melainkan dari manusia, pemikiran itu harus dilepaskan, dan merupakan sesuatu yang harus orang tinggalkan. Mereka tidak boleh mematuhinya, apalagi mewarisinya. Semua hal ini harus orang tinggalkan dan singkirkan. Hanya dengan cara inilah orang akan mampu benar-benar menempuh jalan mengejar kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran.

Pepatah-pepatah yang telah kita persekutukan yang berasal dari pembelajaran dan pembiasaan keluarga ini, di satu sisi, bersifat mewakili, dan di sisi lain, merupakan pepatah yang sering orang bicarakan. Sedangkan mengenai beberapa pepatah khusus yang tidak bersifat mewakili, kita tidak akan membahasnya sekarang. Bagaimana menurutmu persekutuan kita tentang topik keluarga ini? Apakah bermanfaat dalam hal tertentu? (Ya.) Perlukah mempersekutukan topik ini? (Ya.) Setiap orang memiliki keluarga dan ditanamkan pembelajaran dan pembiasaan oleh keluarga mereka. Hal-hal yang keluarga tanamkan ke dalam dirimu semuanya adalah racun dan candu rohani, dan membuatmu sangat menderita. Ketika orang tuamu menanamkan hal-hal ini dalam dirimu, engkau merasa sangat senang pada saat itu, seolah-olah engkau sedang mengonsumsi candu. Segenap perasaanmu terasa nyaman, seolah-olah engkau telah masuk ke dalam dunia yang penuh kebahagiaan. Namun, tak lama kemudian, efeknya menghilang secara berangsur-angsur, jadi engkau harus terus mencari rangsangan semacam ini. Candu rohani ini menimbulkan masalah dan gangguan yang tiada akhirnya bagimu. Hingga saat ini, hal itu sangat sulit untuk kauhilangkan, dan itu bukanlah sesuatu yang dapat kausingkirkan dalam waktu singkat. Jika orang ingin melepaskan gagasan dan pandangan yang ditanamkan ini, mereka harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengidentifikasi hal-hal tersebut, mengupas lapisan-lapisannya agar dapat mengenalinya dengan jelas dan mengetahui yang sebenarnya tentangnya. Dengan demikian, setiap kali masalah yang sama muncul, mereka harus mampu melepaskan hal-hal ini, melawannya, dan tidak bertindak berdasarkan prinsip dari gagasan dan pandangan semacam itu, melainkan melakukan penerapan dan melakukan segala sesuatu berdasarkan cara yang Tuhan ajarkan kepada manusia. Beberapa perkataan ini terdengar sederhana, tetapi mungkin orang akan membutuhkan waktu 20 atau 30 tahun, atau bahkan seumur hidup agar mampu menerapkannya. Mungkin saja engkau akan menghabiskan seumur hidupmu berjuang melawan gagasan dan pandangan yang dihasilkan oleh pepatah-pepatah yang keluargamu tanamkan dalam dirimu, dan menjauhkan dirimu dari gagasan dan pandangan ini, serta melepaskan dirimu darinya. Untuk dapat melakukan ini, engkau harus melepaskan perasaanmu dan mengerahkan tenagamu, dan juga mengalami sedikit kesukaran jasmani. Engkau juga harus memiliki kerinduan yang besar akan Tuhan dan kehendak untuk haus akan kebenaran dan mengejar kebenaran. Hanya dengan memiliki hal-hal ini, barulah engkau dapat secara berangsur-angsur mencapai perubahan dan secara berangsur-angsur masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Sesulit inilah memperoleh kebenaran dan hidup itu. Setelah orang mendengarkan banyak khotbah, mereka memahami beberapa doktrin tentang iman kepada Tuhan, tetapi tidak mudah bagi mereka untuk benar-benar memperoleh pemahaman akan kebenaran dan mampu mengetahui yang sebenarnya tentang pengaruh pembelajaran dan pembiasaan dari keluarga mereka serta gagasan dan pandangan orang tidak percaya. Sekalipun engkau mampu memahami kebenaran setelah mendengarkan khotbah, masuk ke dalam kenyataan kebenaran bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam, bukan? (Benar.) Baiklah, sampai di sini persekutuan kita hari ini. Sampai jumpa!

25 Februari 2023

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp